[Freelance] (EVENTUALLY) From The Past Be The Last

FF COVER publish

Title : [EVENTUALLY] From The Past Be The Last
Author/Twitter : WhiteFlow / @nisrinaap
Cast :
– Kris [EXO-M] as Kevin Wu
– Shin Luna (OC)
– Baekhyun [EXO-K]
– Xi Luhan [EXO-M]
– Manager Lee as Baekhyun’s manager
– Cooming Soon
Genre : Romance, Life
Rating : Teen
Length : Chapter
Disclaimer :NO PLAGIARISM!!! Murni ide gak jelas author sendiri akibat frustasi sama sekolah *peace*. Let’s check it out! 😉

 

Author POV
Seorang anak kecil berada di ujung zebracross bersama ibunya hendak menyeberang jalan.Terlihat lampu merah traffic-light untuk kendaraan mulai menyala dan lampu traffic-light untuk pejalan kaki berganti menjadi warna hijau.Ibunya sudah menggandeng tangan anak kecil itu erat bersiap untuk mulai menyeberangi zebracross tersebut.Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.Pada saat langkah keempat, ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang menerobos lampu merah tersebut.
BRUK.Seketika anak kecil itu menangis histeris melihat kejadian itu.
Dia berjongkok dan mengguncang-guncangkan tubuh ibunya yang sudah berlumuran dengan darah sambil meneriakinya. Terlihat orang-orang yang sedang berada di dekat TKP mulai berhamburan menuju TKP untuk melihat apa yang terjadi, sementara si anak kecil itu masih tetap mengguncang-guncang tubuh ibunya dengan tangis yang semakin menjadi karena ibunya tak meresponnya.
Luna terbangun. Wajahnya terlihat kusut dan mimik wajahnya mengisyaratkan akan sebuah kesedihan pada dirinya. Mimpi itu datang lagi.Setelah bertahun-tahun mimpi itu tak mengusik hidupnya, tetapi sekarang mimpi itu datang kembali.Luna turun dari tempat tidurnya menuju ke dapur mencari air mineral untuk menenangkan dirinya. Tidak ada air mineral, dia hanya menemukan botolair mineral yang kosong di kulkasnya.Luna menghela napas dalam dan duduk di meja makan.Dia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Dengan malas ia beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya.
“Halo?”
“Apakah anda nona Shin Luna?”
“Ah, ya, ada apa?”
“Maaf mengganggu anda, hanya saja saya menemukan pemilik ponsel ini sedang mabuk berat, apa anda tidak keberatan untuk membawanya pulang?”Luna menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu membaca identitas si penelpon yang tertera pada layar ponselnya.Luna menghembuskan napas panjang lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya lagi.
“Ah, tentu saja.Tolong kirimkan alamatnya melalui pesan singkat, terima kasih telah menghubungi saya.”
Drtt..drtt..
Luna segera membuka pesan singkat yang ia terima barusan, tentu saja itu pesan singkat yang berisikan sebuah alamat dari si penelpon tadi. Ia segera beranjak ke kamar, berganti baju, dan keluar dari apartemennya menuju parking area yang berada di lantai basement dengan langkah sedikit berlari mengingat sudah tengah malam. Tak lupa ia membawa kunci mobilnya. Dengan terburu-buru ia membuka kunci pintu mobilnya agar dapat masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobilnya dan dengan sekejap melesat jauh dengan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, Luna terlihat banyak mengumpat karena kesal.Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saking kesalnya, tentunya dengan menyelipkan berbagai umpatan yang bisa keluar dengan asal dari mulutnya.Di malam yang selarut ini dia yang seorang perempuan harus keluar dengan melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat untuk menjemput seseorang yang sedang mabuk berat, itu hal yang tak wajar.Seharusnya seorang laki-laki lah yang pantas untuk melakukan pekerjaan itu.Luna semakin mempercepat laju mobilnya.
”Paman, biarkan saya yang membawanya sampai ke mobil.Terima kasih karena tadi telah menghubungi saya.”Ji-Ah membungkukkan badannya 90° sebelum paman itu menyerahkan tubuh si pemabuk yang telah tak sadarkan diri itu kepadanya.Paman itu membantu Luna untuk memindahkan tubuh si pemabuk itu untuk diposisikan sebenar mungkin agar Luna tidak kesulitan ketika membopongnya.
“Nona, apakah nona yakin akan membopongnya sendiri? Saya rasa―”
“Ah, saya sudah terbiasa dengan hal ini.” Luna menambahkan senyuman untuk meyakinkan paman itu bahwa dirinya tak apa-apa sebelum akhirnya ia membalikkan badan untuk kembali ke mobil sambil membopong tubuh si pemabuk tersebut.

“Hah, Kevin Wu, berat badanmu naik berapa kilo, kau lebih berat dari terakhir kali aku melakukan ini.”Luna menggerutu sendiri setelah mendudukkan Kevin di kursi sebelah pengemudi.Ia membenarkan posisi Kevin hingga benar. Luna sedikit menurunkan sandaran jok Kevin, memasangkannya sabuk pengaman, dan sedikit melonggarkan dasinya agar Kevin tak kesulitan bernapas.
“Terus saja kau menaruh nomor ponselku di speed dialmu yang pertama.” Lagi-lagi ia menggerutu, lalu ia menutup pintunya dengan dorongan yang terdengar seperti sebuah ‘bantingan’ ringan. Segera ia beralih ke sisi pengemudi, menyalakan mesin mobil tersebut, dan melajukan mobilnya.

“Lepaskan aku…” Kevin mengomel saat Luna membopongnya menuju apartemen mereka.Ia menggeliat kecil sehingga membuat Luna semakin kesulitan untuk membopongnya. Luna hanya bisa diam sambil terus membopongnyanya hingga sampai di apartemen mereka dan membaringkan tubuh Kevin di sofa ruang tamu.Kevin tampak sadar meskipun masih dalam keadaan mabuk berat. Luna menuju ke dapur untuk memasak sup rumput laut.
“Hoek..hoek..” Kevin memuntahkan seluruh isi perutnya, efek dari mabuk beratnya.Luna yang belum sempat menyalakan kompornya segera kembali ke ruang tamu untuk melihat keadaan Kevin.Raut wajah Luna semakin suram ketika melihat muntahan Kevin yang berceceran di sekitar sofa tempat dimana Luna membaringkan tubuh Kevin.Tak bisa berkata lagi, Luna dengan diam mengambil kain pel untuk membersihkan muntahan tersebut.Saat Luna membersihkan, Kevin sedang berusaha untuk bangun duduk.Diam Kevin menatap Luna sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.Ia memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bersandar di sandaran sofa.

Luna selesai membersihkan muntahan Kevin tanpa sisa sedikitpun.Ia bangkit untuk mencuci kain pel itu tetapi ada sebuah tangan yang menahan tangannya dengan lemah tanpa tenaga. Luna refleks membalikkan tubuhnya dan berusaha melepaskan tangannya.
“Ah,terima kasih dan…..maaf.” Kevin yang masih dalam keadaan mabuk berat mengatakan itu dengan jelas. Luna yang emosinya sedaritadi sudah tersulut oleh api mendadak mereda ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kevin. Seolah tak peduli, Luna kembali melangkahkan kakinya menuju wastafel untuk mencuci kain pel itu.Ia mencucinya dengan sabun cuci tangan hingga bersih dan menjemurnya di balkon apartemen mereka. Setelah itu Luna menuju ke dapur untuk membuat sup rumput laut untuk Kevin.
“Bahkan aku bukan kekasihnya, tetapi aku diharuskan untuk melakukan ini untuknya.” Luna kembali menggerutu sambil menunggu air yang ia rebus untuk membuat sup rumput laut mendidih.

Puluhan gumpalan kertas yang telah diremas-remas berceceran di mana-mana. Tak hanya itu saja, remasan-remasan kertas itu semakin bertambah. Luna menggambar lagi, tetapi ia kembali meremas kertasnya lalu membuangnya sembarangan. Ia mengacak-acak frustasi rambutnya lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja.
“Kau mengotori rumahku.” ujar suara seorang laki-laki yang sontak membuat Luna mengangkat kepalanya.
“Bisakah kau menghentikan kebiasaan burukmu dan belajarlah untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum kau masuk kamar tidur seorang perempuan?Bisa saja ketika kau membukanya mereka sedang………ah lupakan.Apa kau sudah makan supnya?”
“Apa yang kau lakukan hingga tak sadar ini sudah jam berapa?” datar, tak ada yang tergambar di mimik wajah seorang Kevin Wu ketika mengutarakan pertanyaan kepada Luna. Bahkan intonasi sebagai pertanda bahwa kalimat itu adalah kalimat tanya tidak ia tunjukkan, kalimat itu nyaris terdengar seperti kalimat yang berakhiran dengan tanda baca titik.
“Ah, maaf.Bisakah kau keluar dari kamarku?Aku mau tidur.” tak ada suara yang keluar dari mulut Kevin.Dia hanya berjalan keluar dari kamar Luna menuruti perintahnya. Tak peduli, tak pernah peduli, dan bahkan tak akan pernah peduli soal Luna.
Luna kembali menyandarkan kepalanya di atas mejanya, mencoba untuk mencari pikiran jernihnya agar ia dapat memulai untuk menggambar sketsa bajunya yang baru. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, barangkali ada secercah sinar yang menerangi pikirannya yang sekarang sedang seperti langit yang dipenuhi oleh awan hitam.
Tiba-tiba Luna teringat sesuatu.Ia beranjak dari duduknya menuju nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah amplop berwarna cokelat muda yang ia simpan di laci nakasnya lalu membawanya keluar dari kamarnya.
“Oppa…apa kau ada di dalam?”Luna mengetuk pintu kamar Kevin.
Tak ada jawaban.
“Oppa…apa kau―” pintu kamar Kevin terbuka dan muncul Kevin dari baliknya dengan muka bangun tidurnya. Luna ingin tertawa, tetapi ini bukan saatnya untuk tertawa dan mengingat orang itu adalah seorang Kevin Wu, seseorang yang selama 15 tahun ini tak pernah sekalipun menunjukkan senyumnya kepada Luna walau sekecil apapun itu.
Luna menyodorkan amplop berwarna cokelat muda yang ia bawa kepada Kevin.
“Terima Kasih.” hanya 2 kata itu yang keluar dari mulut seorang Kevin Wu lalu ia menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras sehingga menimbulkan suara dentuman kecil. Wajah Luna nyaris saja terpukul oleh pintu itu jika ia tak mundur selangkah.

Luna POV
Aku berjalan kembali ke kamarku setelah menyerahkan amplop berwarna cokelat muda itu kepada Kevin.Amplop itu dari teman Kevin, hmm…seperti rekan kerjanya. Kemarin siang ia menitipkan amplop itu kepadaku karena Kevin sedang tak ada di rumah.
Aku membuka pintu kamarku dan berhenti tepat di ambang pintu.Ku telusuri ruang kamarku dari sudut ke sudut, nyaris tak terlihat seperti kamar seorang perempuan.Kertas berserakan di mana-mana, jaket-jaket yang ku taruh sembarangan, tempat tidur yang tak tertata, dan beberapa barang yang kuletakkan tak sesuai dengan tempatnya.Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil masuk ke dalam.Tak pernah ku sadari bahwa kamarku seberantakan ini.Di dinding sebelah pintu terpasang mading kecil yang tertempel beberapa karyaku yang menurutku terbaik.Aku tersenyum melihat itu.Entah mengapa gambar-gambar yang tertempel di mading kecil itu selalu membuatku semangat untuk melewati masa kuliahku ini yang sudah ku jalani separuh jalannya.Aku menghela napas pelan dan menghempaskan diriku di atas tempat tidurku.
“Aku benar-benar butuh istirahat yang cukup.”
Aku memejamkan mataku dan akhirnya terlelap masuk ke alam mimpiku.

“Duduk dan makanlah, aku sudah membuatkanmu sandwich.”
Aku terbangun karena mimpi buruk itu datang kembali menghiasi alam bawah sadarku.Tadinya aku berniat untuk mengambil air putih, tapi ku urungkan. Aku membalik arah menuju ke meja makan untuk menghampiri Kevin yang duduk manis di salah satu kursi meja makan kecil berbentuk lingkaran dengan 2 kursi yang nyaris mirip dengan meja yang ada di café. Dalam situasi seperti itu aku yang masih dalam ambang antara mimpiku tadi dengan dunia nyata duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang di duduki Kevin, yang merupakan kursi kosong satu-satunya.Kevin menyodorkan padaku piring yang diatasnya ada sandwich telur dengan keju tumpuk 2, kombinasi sandwich kesukaanku.Aku menerimanya lalu memakannya dengan lahap.
“Kau tak bekerja? Ini sudah jam 9.” tanyaku yang baru sadar bahwa Kevin masih berada di rumah ketika jam sudah menunjukkan jam 9 tepat. Kevin tak menjawab pertanyaanku.Dia hanya diam sambil meneruskan membaca majalah fotografi edisi terbaru miliknya tanpa memalingkan wajahnya dari majalah itu barang sekali pun.Aku yang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Kevin hanya bisa diam dan melanjutkan memakan sandwichku hingga habis tak tersisa.

“Kau ingin ikut denganku ke tempat pemotretan? Kudengar seorang artis yang akan ku potret sedang membutuhkan seorang fashion stylish untuk sementara waktu.” Kevin yang masih menatap pekat majalahnya tiba-tiba membuka suara dan berbicara kepadaku panjang lebar.Tak biasanya Kevin berbicara kepadaku dengan panjang lebar.
Aku yang sedaritadi terdiam di meja makan sambil bermain khayal dengan diriku sendiri mencoba keluar dari ruang khayalku dan mencerna dengan baik perkataan Kevin.Aku diam sejenak untuk memikirkan matang-matang tawaran yang ditawarkan Kevin kepadaku.
“Apakah jadwal kerjanya di luar jam kuliahku?” aku mulai angkat bicara.
“Hmm, tentu.” kembali kepada Kevin yang seperti biasanya, ia yang masih setia membaca halaman demi halaman majalah miliknya menjawab pertanyaanku dengan sangat singkat.
“Aku ikut.” tak kalah singkatnya aku menjawab tawaran Kevin dan segera beranjak pergi ke kamarku untuk mandi.

Author POV
Kilatan-kilatan blitz kamera menghiasi satu per tiga bagian ruangan yang berukuran 10 x 15 meter. Terlihat seorang aktris dan seorang aktor dengan lihainya berpose di depan kamera untuk pemotretan cover sebuah drama baru yang akan ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi ternama di Korea Selatan.
“BREAK!Matikan lampu flashnya dan waktu istirahat 15 menit.”Kevin menghentikan pemotretan dan menyuruh seluruh kru untuk istirahat.

“Eh, kau fashion stylishku yang baru?” tanya aktor yang juga sebagai penyanyi itu kepada Luna. Luna yang masih merasa kaku hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu menundukkan kepalanya.
“Aku Byun Baekhyun, senang bekerja denganmu!!” dengan senyumnya aktor itu memperkenalkan dirinya kepada Luna dan membungkukkan badannya 90° sebagai salam perkenalan.
“Aku Shin Luna, mahasiswa semester 4 jurusan Art & Design Korea University.” Luna ganti memperkenalkan dirinya kepada aktor itu dan membalas membungkukkan badannya 90°.Tak lupa Luna juga membalas senyum aktor itu.
Setelah menyapa dan memperkenalkan diri kepada Luna, Baekhyun berlalu dari pandangan Luna menuju ke luar ruang pemotretan, entah pegi ke mana. Luna yang sedang tak ada pekerjaan menuju ke ruang ganti untuk mengambil beberapa pakaian yang akan dipakai Baekhyun di sesi pemotretan yang selanjutnya.

Seluruh peralatan pemotretan diusung dimasukkan ke dalam mobil van milik sudio foto untuk menuju ke lokasi pemotretan outdoor yang berada di pusat fashion terbesar yang ada di Seoul. Seluruh kru pemotretan sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang akan dibawa ke lokasi pemotretan, tak terkecuali Luna. Luna sibuk memindahkan satu per satu pakaian milik Baekhyun ke mobil van Baekhyun. Sepuluh kotak sepatu yang berisi sepatu milik Baekhyun ia angkat seorang diri untuk dimasukkan ke mobil van juga. Tiba-tiba ada seseorang yang mengambil lima kotak sepatu milik Baekhyun itu dari tangannya.
“Kau seharusnya memindahkannya satu per satu agar tak kesulitan begini.”Baekhyun tersenyum dan pindah ke sebelah Luna untuk mensejajarkan langkah mereka.Ia tak mendahului langkah Luna maupun berjalan di belakang Luna, Baekhyun benar-benar berjalan beriringan dengan Luna.

Kevin POV
Aku melepaskan lensa panjang kameraku dan menggantinya dengan lensa berukuran standar. Kumasukkan kameraku bersama dengan 2 lensa panjangku ke dalam tas kamera lalu menutupnya. Segera aku beranjak pergi dari ruang pemotretan yang sudah sepi dengan menjinjing tas kameraku dan bergegas menuju mobilku untuk menyusul para kru yang sudah berangkat mendahuluiku.
Aku menyalakan mesin mobilku dan menginjak pedal gasku. Saat aku akan keluar dari gerbang aku melihat Luna dan Baekhyun sedang jalan beriringan dengan membawa kotak-kotak sepatu sambil tertawa, sepertinya mereka sedang bercanda. Aku mengerem mobilku dan lama memandang mereka berdua hingga akhirnya mereka menghilang dari pandangku. Sepertinya memang benar kata kebanyakan orang, sekalipun orang itu baru mengenal Baekhyun pasti akan penuh dengan tawa jika sedang bersama Baekhyun. Mereka berdua belum sehari mengenal satu sama lain, tetapi sudah terlihat sangat akrab. Aku tak pernah melihat Luna tertawa segembira itu.
Drtt…drtt..
Luhan Hyung, itu yang tertulis di layar ponselku. Aku segera memasang headsetku dan mengangkatnya.
“Iya, hyung, aku sedang dalam perjalanan.”
Aku melepas rem dan menginjak pedal gas untuk segera menuju ke lokasi pemotretan yang letaknya agak jauh dari studio fotoku.

Luna POV
Aku memasukkan password apartemen dan segera masuk.Aku menyalakan semua lampu agar tak gelap.Fajar sudah lama tenggelam tetapi Kevin belum saja datang. Memang dia lebih sibuk daripada aku karena dia adalah pemotret sekaligus pemilik studio foto itu, tentu ia harus mengatur anak buahnya sampai semuanya selesai. Aku menyalakan pemanas ruangan karena hawa di dalam apartemen sudah semakin dingin.Aku memutuskan untuk duduk di sofa ruang santai.Tak ada yang bisa kulakukan.Aku meregangkan otot-ototku karena seharian ini aku bekerja mengangkat-angkat barang dan berjalan kesana kemari untuk mengambil pakaian.
Tiba-tiba aku tersenyum.
Aku benar-benar bahagia hari ini.Untuk pertama kalinya aku mencari pengalaman kerja dan aku dengan beraninya menerima tawaran Kevin untuk bekerja dengan seorang artis yang sangat terkenal, awalnya aku memang gugup tak tahu harus bagaimana memulainya. Begitu aku tahu aku akan bekerja untuk Byun Baekhyun, seorang aktor dan penyanyi terkenal, aku semakin gugup dan tak tahu harus bagaimana. Kupikir akan sulit untukku bekerja, apalagi aku bekerja untuk artis yang benar-benar terkenal.
Sebelumnya aku tak pernah menginjakkan kakiku di studio foto milik Kevin.Sejak pertama kali menginjakkan kakiku di lantai studio foto milik Kevin, perasaan gugupku semakin tak terkontrol.Berkali-kali aku mengambil napas dalam dan melepaskannya untuk mengontrol perasaan gugupku dan mencoba untuk tenang. Lalu di ruang pemotretan, saat Kevin membawaku kepada Manajer Lee yang tak lain adalah manajer Baekhyun, di situ aku hampir tak bisa bernapas dengan semestinya karena kegugupanku yang semakin tinggi. Setelah itu Baekhyun yang menyapa dan memperkenalkan diri di hadapanku, saat itu adalah titik puncak kegugupanku.Aku berani bersumpah bahwa aku hampir saja jatuh tergeletak di lantai karena Baekhyun tersenyum padaku. Aku bukan fans Baekhyun, aku benar-benar tak pernah terpikir untuk menjadi seorang fangirl dari dulu. Tapi sungguh, kesan pertamaku saat melihat Baekhyun secara langsung dengan jarak tak sampai 1 meter, dia benar-benar terlihat sangat tampan. Dan yang terakhir saat Baekhyun menghampiriku yang sedang membawa kotak-kotak sepatu miliknya dan ia membantuku untuk membawakan setengah bawaanku. Entah, di situ tak ada yang tahu seberapa gugupnya diriku. Tetapi ketika Baekhyun mengajakku mengobrol dan bercanda,rasa gugupku berangsur-angsur memudar, mungkin karena aku sudah berhasil beradaptasi dengannya. Benar kata kebanyakan orang, jika sedang berada di dekat Baekhyun walau baru mengenalnya sekalipun ia akan membuat orang yang di sekitarnya tertawa. Dia mempunyai banyak sekali bahan untuk dijadikan candaan.
Aku tersadar dan mulai merasa bosan karena tidak ada yang bisa aku lakukan.Akhirnya aku memutuskan untuk mendengarkan lagu.Aku mengeluarkan iPodku dan memasangkan headset ke telingaku. Aku menyalakan shuffle di playlistiPodku dan memejamkan mata menikmati alunan musik yang terputar.

Ting tong… Ting tong… Ting tong…
Berkali-kali bel berbunyi.Aku membuka mataku.Sepertinya aku tadi tertidur. Aku melihat jam dinding yang terpasang di atas televisi. Jam 11.30 malam.
Ting tong… Ting tong… Ting tong…
Belnya berbunyi kembali, sepertinya ada tamu. Tapi siapa yang akan bertamu di hari yang selarut ini. Jangan-jangan ada sesuatu.Aku beranjak dari sofa dan berlari menuju pintu.Aku melihat ke layar untuk melihat siapa yang datang di hari yang larut ini.Luhan seonsaengnim dan……………….Kevin?Aku segera membukakan pintu untuk mereka.
“Luna-ssi, mengapa kau di sini?Ini apartemen Kevin, kan?”Luhan seonsaengnim terkejut karena melihatku yang membuka pintu apartemen Kevin.Aku menepuk dahiku karena lupa bahwa tak ada yang tahu aku tinggal bersama Kevin.
“Annyeonghaseyo Luhan seonsaengnim.” aku membungkukkan badanku untuk memberi hormat kepadanya.Aku sengaja tak menjelaskannya kepada Luhan seonsaengnim karena sekarang yang terpenting adalah Kevin yang terlihat mabuk.
Aku mengunci mulutku rapat-rapat dan memberi isyarat lewat mata untuk membawa Kevin masuk.Aku berjalan menuju kamar Kevin dan Luhan seonsaengnim mengikutiku di belakang sambil membopong tubuh Kevin yang semerbak dengan bau alcohol yang menyengat di hidungku.Kubukakan pintu kamar Kevin dan Luhan seonsaengnim masuk ke dalamnya untuk membaringkan Kevin.Tak lama kemudian Luhan seonsaengnim keluar dari kamar Kevin dan menghampiriku.
“Aku sudah mengganti atasannya dan melepaskan sepatu serta kaos kakinya jadi kau tak perlu khawatir.”Luhan seonsaengnim tersenyum padaku.
“Ah, terima kasih, seonsaengnim telah mengantar kakakku.” aku membungkukkan badanku lagi untuk berterima kasih padanya.
“Kevin kakakmu?Selama ini dia tak pernah cerita padaku.”Luhan seonsaengnim terkejut saat mendengarku menyebut Kevin dengan sebutan kakak.
“Bukan kakak kandung.” jawabku singkat. Luhan seonsaengnim mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia mengerti dengan apa yang sudah aku katakan kepadanya. Luhan seonsaengnim seperti ingin bertanya lagi tetapi aku mendahuluinya untuk berbicara.
“Ini sudah malam.” selaku.
“Ah, iya, aku pulang dulu. Dan…..panggil aku oppa, jangan panggil aku seonsaengnim. Aku tak setua itu hehe” benar-benar, teman Kevin selalu mempunyai kepribadian ganda.Pertama kali aku bertemu dengan Luhan seonsaengnim, ah salah, Luhan oppa, di dalam pikiranku hanya terbesit julukan cold man.Di studio foto Luhan oppa benar-benar menakutkan, hanya tersenyum simpul, tegas, dan wajahnya selalu menampilkan mimik yang serius.Nyaris seperti Kevin, tetapi Luhan oppa masih bisa tersenyum.

Aku tersenyum membalas lambaian tangan Luhan oppa dan menatap punggungnya yang semakin menjauh.Aku masuk ke dalam dan menutup pintu dengan pelan agar tak menimbulkan suara. Seperti insomnia atau aku ini memang sedang insomnia, aku tak merasakan kantuk sama sekali. Aku berjalan menuju loker dengan 12 pintu yang isinya seluruh barang milikku, tak terkecuali barang peninggalan kedua orang tuaku. Kevin sengaja menaruhnya di ruang santai dengan tidak memperbolehkanku untuk membawa kunci dari kedua belas loker itu, entah dengan alasan apa ia begitu. Aku membuka loker nomor 1 dan mengambil sebuah album foto yang setebal kamus.Aku tetap setia untuk berdiri dan membuka album foto itu.Aku membuka halaman demi halaman dan tak jarang aku memandangnya dengan tatapan sendu.Andai waktu bisa diputar kembali.Mereka meninggalkanku dengan cepat tanpa melihatku tumbuh dewasa.

Author POV
Luna mengembalikan album foto itu ke dalam loker karena sudah tak bisa menahan kesedihannya.Ia kembali duduk di sofa. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, menekuk lututnya sambil mendekapnya, dan membenamkan wajahnya. Menangis tanpa suara.
EPILOG:
“Kau seharusnya memindahkannya satu per satu agar tak kesulitan begini.”Baekhyun tersenyum dan pindah ke sebelah Luna untuk mensejajarkan langkah mereka.Ia tak mendahului langkah Luna maupun berjalan di belakang Luna, Baekhyun benar-benar berjalan beriringan dengan Luna.
“Akan lebih cepat jika aku membawanya sekaligus, aku lelah harus kesana-kemari terus.” ujar Luna kepada Baekhyun sambil terus berjalan menuju mobil van Baekhyun.
“Tadi pagi, ketika aku turun dari mobil van, aku meihatmu turun dari mobil bersama Kevin, kau siapanya Kevin?” sambil terus berjalan Baekhyun menanyai Luna dengan tatapan intimidasinya.Luna masih diam belum menjawab pertanyaan Baekhyun.Ia bimbang antara akan memberitahu Baekhyun tentang hubungannya dengan Kevin atau tidak. Luna terus saja berjalan dan tatapannya menghadap ke depan dengan menempelkan dagunya di atas kotak-kotak sepatu yang ia bawa.
“Baru kali ini aku melihat Kevin memperbolehkan seorang gadis selain mantannya menaiki mobilnya.”Baekhyun menambahkan.Luna sedikit terkejut dengan perkataan Baekhyun bahwa Kevin memiliki mantan. Luna tertawa dalam hati mendengar pernyataan konyol bahwa Kevin pernah memiliki seorang gadis yang ia cintai. Tetapi segera Luna menghapus wajah terkejutnya dan berlagak biasa saja.
“Tentu saja, aku adiknya.” dengan senyum unjuk giginya Luna menatap dan memberitahu Baekhyun bahwa dia adalah adik Kevin. Wajah Baekhyun terlihat terkejut mendengar pernyataan Luna. Sebelum Luna menerima serentetan pertanyaan dari Baekhyun, ia sudah lebih dulu menjawab keterkejutan Baekhyun.
“Aku anak dari teman ibu dan ayahnya Kevin oppa.Ayahku sudah meninggal 15 tahun yang lalu karena penyakit kanker dan 3 bulan berikutnya ibuku menyusul ayahku karena kecelakaan.Aku sudah tak punya keluarga lagi di Korea, jadi ibu dan ayah Kevin oppa membawaku ke rumahnya dan mengasuhku.”Luna menceritakannya dengan panjang lebar sedangkan Baekhyun mendengarkan cerita Luna dengan serius dan seksama. Wajah Luna berubah menjadi sendu ketika ia selesai bercerita mengenai riwayat hidupnya itu.
“Ah, maaf, seharusnya kau tak perlu menceritakan itu kepadaku.Kau pasti sedih ketika mengingat itu.Tapi Kevin selama ini tak pernah bercerita tentangmu kepadaku.”Baekhyun membuka bagasi mobil van dan menaruh kotak-kotak sepatunya dengan rapi disusul dengan Luna.Setelah itu mereka menutup bagasi itu bersama-sama.
“Ah, itu tak masalah.” ujar Luna.Jika dilihat, Luna dan Baekhyun tak terlihat seperti seorang artis dengan fashion stylishnya, mereka terlalu dekat jika disebut seorang artis dengan fashion stylishnya.
Baekhyun terlihat berfikir.Ia mengernyitkan dahinya. Luna yang menunggu Baekhyun masuk mobil van ikut berfikir menebak apa yang dipikirkan oleh Baekhyun. Lama Baekhyun diam berfikir.
“Kau tahu aktor Cina yang bernama Huang Zitao?” tanya Baekhyun.
“Aktor yang pintar bermain wushu itu, kan?” jawab Luna menebak sambil berharap bahwa tebakannya benar.
“Kau tahu bahwa sebenarnya ia takut dengan hantu dan…….serangga?” ujar Baekhyun dengan wajah agak mengejek.
“Ahahahahaha benarkah? Tetapi ia terlihat sangat berkarisma saat di filmnya ahahahahaha” Luna tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Baekhyun kepadanya.
“Saat itu aku sedang bersamanya di tempat pemotretan outdoor dan tiba-tiba saja ia berteriak hampir menangis. Ku kira terjadi sesuatu yg serius dan ketika aku menghampirinya ia berkata bahwa ada kumbang yang singgah di lengannya. Lalu ketika aku bermain bersamanya di taman bermain, aku mengajaknya masuk ke rumah hantu. Ia menarik-narik lenganku dan berkata “aku tak mau masuk, aku tak mau masuk” dan dia menangis seperti anak kecil yang tak dibelikan permen oleh ibunya.” Baekhyun bercerita dengan semangat sampai-sampai ia juga memperagakan gerakannya. Bahkan ia mengimitasi suara seorang Huang Zitao yang sedang ketakutan itu dengan sempurna.
“Ahahahahaha Baekhyun-ssi, kau jangan bercanda ahahaha” Luna terus saja tertawa tak bisa berhenti.
“Ahahahaha aku tak bercanda.”Baekhyun mengacak-acak rambut Luna.
“Dia temanku, jadi aku tahu segalanya.”Baekhyun berbisik ketika mengatakan bahwa Huang Zitao adalah temannya.
“Uwaaa, heol… ahahaha. Sudahlah Baekhyun-ssi, cepat masuk.”
“Panggil aku Baekhyun oppa, kau mengerti??”
“Ya, ya, ya aku mengerti.”
To Be Continued…
Note: Gimana?? Maaf ya kalo masih ada typo hehe. Maklumi ini FF chapter ku yg pertama dan FF pertama yg aku publish comment please ya, butuh banget kritik & saran buat referensi kesalahan biar gak terjadi lagi buat penulisan di chapter selanjutnya hehe. THANKS FOR READING <3<3

13 responses to “[Freelance] (EVENTUALLY) From The Past Be The Last

    • Sebagus itukah?? Makasih ya udah comment dan makasih udah baca ffku hehe ;;) tunggu next chap nya yaaa 😉

    • Makasih lo dibilang keren soalnya ini ff pertamaku yg aku post dan aku sempet gak pede hehe tunggu chap selanjutnya yaaa ^^

  1. 안녕하세요 thor.

    aku masih belum ngerti jalan ceritanya nih, hehehe mian, mungkin karena q nya yang lemot…

    ini chapter tho? aku kira oneshoot…

    b(^O^) keren, ditunggu kelanjutannya ya

    p(`O`)q fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s