[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 11)

LuseraDBM152

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 11)

Author :: Sangheera

Title :: Devil Beside Me (Chapter 11)

Cast :: Luhan of EXO as Angel, Kris of EXO as Devil, and Sera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao

Genre :: Sad, Romance, Fantasy

Length :: Multi Chapter

Rating :: PG-17

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

 

-o0o0o0o-

Everyone asks me if I changed
It’s like you’re nailed into my heart
My world is filled with you
I can’t stop, I’m already filled with you
Right now, this moment, you’re in my heart
(EXO – OVERDOSE)

Wajah dingin Suho. Tawa melengking Kris. Kelebatan bayangan hitam dan putih. Bibir yang membentuk sebuah kata. Apa? Orang itu bilang apa?

Lalu, lantai marmer seputih pualam itu kotor karena bercak-bercak berwarna merah kehitaman. Menetes. Mendesis pelan. Lalu tubuh itu ambruk. Menggelepar. Tubuhnya melengkung. Menekan bagian perut.

“S-sakittt…”

Gadis berambut hitam legam dan bergaun putih itu mengerang kesakitan. Airmatanya meleleh disela-sela kelopak matanya yang menutup rapat. Tubuhnya bergetar hebat. Darah yang mengotori lantai marmer itu berasal dari bibir ranum sang gadis. Terbatuk. Lebih banyak lagi darah menetes.

“Sera!! SERA!!!”

Gadis itu memutar tubuhnya. Menjulurkan tangan, berusaha menggapai. Matanya menatap nanar. Meminta tolong. Tapi kemudian ia tersedak. Lagi. Darah tercecer. Mengerang. Lalu tubuh itu tak bergerak. Sekarat.

“Tidak…”terdengar suara mendesis putus asa. “Jangan sakiti dia…”

“Lu…”

“Tidak… Bangun! Kumohon Sera, bangun…”

“Luhan… heii…”

“Sera…”

“Iya… aku disini. Buka matamu, Lu…”

“SERA!!”

Luhan tersentak. Matanya membuka lebar ditengah deru napasnya yang memacu tak teratur. Jantungnya berdetak ratusan kali lebih cepat. Membuatnya sesak.

“Lu…”sebuah suara lembut membuat Luhan menoleh. Ia mendapati seraut wajah cantik yang nampak cemas menunduk kearahnya. “Mimpi buruk, eh?”

Luhan sejenak terpana. Jadi, tadi itu hanya mimpi? Tergesa, Luhan menarik tubuh Sera dan merebahkan tubuh polos yang hanya tertutup selimut itu keatas dadanya. Memeluknya erat. Mengucap syukur beribu-ribu kali.

“Mimpi buruk tentangku?”tanya Sera lagi. Gadis itu mendengar denyut jantung Luhan yang tak beraturan.

“Tidak, baby…”jawab Luhan bohong. Tidak mungkin ia menceritakan mimpi mengerikan itu pada Sera. Mimpi yang muncul tadi mirip seperti visi yang dilihat Lay ketika ia berada diatap bersama Suho dan keempat kawannya. Visi yang kata Suho adalah buah dari keputusannya.

Sera menaikkan tubuhnya, menumpu berat tubuhnya didada bidang Luhan. “Lalu? Kenapa kau memanggil-manggil namaku seperti itu?”

“Bukan apa-apa, baby. Sungguh…”

“Kau tidak mau bilang padaku?”

“Aku hanya bermimpi kau meninggalkanku pulang kedunia bawah…” Luhan berbohong. Setidaknya agar Sera tidak bertanya lagi.

“Itu tidak akan terjadi, Lu…”kata Sera pasti.

Luhan tersenyum dan merapikan helai rambut Sera yang menutupi wajahnya. “Aku tahu…”

Sera menyusupkan kepalanya keleher Luhan dan bergumam lirih disana. “Kau seharusnya bermimpi indah saat tidur bersamaku.”

Luhan tertawa kecil. “Maaf… aku kan tidak bisa mengatur mimpi apa yang akan muncul saat aku tidur, Sera…”

“Uh, kau benar…”

Luhan menarik napas panjang. Mimpi tadi, Luhan tidak pernah meragukan kemampuan Lay dalam melihat masa depan. Jika ini sebuah pertanda. Luhan harus sebisa mungkin melakukan pencegahan.
Lantai marmer… gaun putih… setidaknya aku harus menghindari hal-hal itu…

Entah kenapa visi yang dikirimkan Lay beberapa hari yang lalu menginvasi tidur Luhan hari ini. Membuat mood-nya jatuh ketitik terendah. Tapi Luhan adalah aktor hebat. Dia bisa bersikap biasa saat bersama dengan Sera, seolah tidak ada yang terjadi. Hari ini, mereka berdua habiskan dengan mengeksplor apa yang ada dipulau terpencil itu. Terbang dari satu pohon ke-pohon lain, berkejaran dengan monyet dan melihat burung Cendrawasih menari.

Pantai dipulau itu masih sangat perawan. Lautnya jernih, ombaknya halus menyentuh kaki dan pasir putih terhampar luas sepanjang bibir pantai. Sera seharian itu asyik bermain, gadis itu benar-benar sangat menyukai tempat ini. Sementara itu Luhan selalu memasang mode siaga. Radarnya ia pasang dengan jangkauan seluas mungkin. Ia tidak akan membiarkan siapapun melukai Sera. Tidak, selama dirinya masih hidup.

Tapi, mimpi itu terus saja menghantui Luhan tiap malam. Bahkan sekarang Luhan enggan sekali untuk tidur. Setiap malam, ia hanya memandangi wajah tidur Sera, takut untuk sejenak saja memejamkan mata. Kenyataan bahwa ia pada akhirnya tetap kembali pada Sera membuat mimpi itu terasa makin mungkin untuk terwujud. Itu juga alasan yang membuat Luhan enggan meninggalkan pulau ini. Karena jelas didalam pulau ini tidak ada satupun bangunan kecuali rumah pohonnya. Tidak ada lantai marmer disini, tidak ada gaun putih.

Gadis itu sungguh tidak tahu bahaya apa yang mengancamnya. Setiap hari Sera nampak bahagia sekali tinggal dipulau ini hanya berdua saja dengan Luhan. Sera gadis yang aktif dan dia bisa dengan mudah menemukan kegiatan menyenangkan ditempat ini.

Luhan memang tidak menceritakan pada Sera tentang seorang iblis yang hendak memanahnya hari itu. Luhan juga tidak menceritakan secara detil bagaimana ia bisa kabur dari dunia atas. Sehingga, gadis itu sama sekali tidak berprasangka kalau mereka sedang menjadi buronan sekarang ini. Sera pikir kaburnya ia dengan Luhan sama kasusnya seperti saat ia kabur dari dunia bawah. Jadi ketika para malaikat dan iblis mencarinya, itu tidak lain adalah untuk membawanya kembali kedunia asalnya. Padahal sekarang, jika Tuan Kris dan Suho mencari Luhan dan Sera, itu adalah untuk menghukum kedua makhluk yang membangkang itu.

Malam membungkus pulau kecil yang mengambang ditengah samudera itu. Langit begitu bersih, bertaburan dengan jutaan bintang-bintang. Sayangnya, bulan beberapa hari ini tidak nampak karena berada dalam fase bulan mati. Jika saja hari ini purnama, pasti malam ini akan lebih indah lagi.

Api dari obor-obor dan lampu minyak meliuk pelan. Cahayanya menerangi rumah pohon tempat Luhan dan Sera berada. Dua makhluk astral itu sedang duduk bersama diteras. Menikmati kilauan sinar yang berasal dari hewan bernama kunang-kunang. Mengambang diudara, berpendar-pendar, melesat kesana kemari, memencar, terbang beriringan… astaga, mereka makhluk malam yang cantik sekali. Seekor burung hantu hinggap diatas dahan, memandangi Sera dan Luhan dengan mata besarnya. Dibawah dahan tempat burung hantu itu hinggap, terbentang layar putih seukuran 5m x 3m yang diikat ujung-ujungnya dengan tali lalu diikatkan dibatang-batang pohon. Sebuah proyektor menyorotkan cahaya-nya dilayar itu.

Mata Sera berbinar, sama berbinarnya seperti cahaya kunang-kunang. Bibirnya tak henti membentuk senyuman dan terkadang bibir itu mengeluarkan tawa kecil. Luhan yang memeluk tubuhnya dari belakang, tersenyum puas melihat ekspresi senang Sera. Bangga pada karya yang ia persembahkan untuk gadis-nya itu.

Malam ini, sembari bersandar didinding rumah pohonnya, dan memeluk Sera yang duduk membelakanginya dan menyandarkan tubuhnya dengan nyaman didada Luhan, Luhan memutarkan sebuah film untuk Sera. Film dokumentari, tentang kebersamaannya dengan Sera diapartemennya di Seoul.

Lengkap dari saat pertama kali Sera muncul diapartemennya, menawarkan pada Luhan kesempatan untuk menjadi milik Sera, usaha-usaha gadis itu untuk merayu Luhan, ciuman-ciuman mereka, pelukan-pelukan hangat saat mereka terlelap, candaan-candaan, kata-kata cinta, nyanyian, sikap manja… semua ditayangkan oleh proyektor dan layar putih itu.

“Bagaimana kau mendapatkan semua rekaman ini, Lu?? Apa kau memasang kamera CCTV eo dikamarmu?”

Luhan terkekeh pelan mendengar pertanyaan Sera. “Aniya… apa kau ingat kaktus yang aku taruh dijendela kamarku? Kaktus yang sempat kau tarik sari kehidupannya, yang sempat mati lalu kuhidupkan kembali itu? (Chapter 1)”

Sera mengangguk kecil. “Eo…”

“Aku meminjam memorinya…”jawab Luhan singkat. Sera menolehkan kepalanya pada Luhan, tidak mengerti. Luhan balas menatap Sera lalu menambahkan, “Barang-barang disekitar kita sebenarnya ‘melihat’ Sera, dan mereka semua juga menyimpan memori tentang apa yang mereka lihat. Jadi aku meminjam memori mereka untuk kubagi bersamamu sekarang. Ini adalah kemampuan kecilku yang paling kusukai…”

“Jadi bisa dibilang semua barang—apapun itu—adalah kamera CCTV yang merekam kejadian apapun disekitarnya, begitu?”

Luhan mengangguk. “Yep. Tapi karena kaktus itu kuletakkan dijendela samping kamar tidur, jadi hanya sebatas ruang tidur itu yang bisa kita lihat…”

“Astaga, ini keren, Lu. Menyenangkan jika semua bisa didokumentasikan seperti ini. Kita bisa melihat kenangan-kenangan kita dimasa lalu tanpa harus repot-repot mengingatnya. Tapi…”Sera melepas pelukan Luhan, dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah Luhan. “Bagaimana kau bisa mengambil kaktus itu? Kau menerbangkannya? Dari Korea kesini?”

“Eo…”

“Kau bisa melakukannya? Maksudku, bahkan untuk makhluk ajaib seperti kita, telekinetis itu hal sulit.”

“Aku bisa… hanya butuh sedikit konsentrasi ekstra untuk itu. Aku hanya harus menaruhnya dilipatan udara kosong, lalu mentransfernya secepat mungkin dengan arah yang sudah diperhitungkan. Seperti suara yang dihubungkan dengan sambungan kabel telepon, aku hanya harus memastikan arahnya benar…”

Sera ternganga. Oh kalian pasti tidak mengerti. Kemampuan iblis dan malaikat memang jauh diatas kemampuan manusia, tapi bukan berarti tidak ada batasnya. Sehingga tidak semua hal bisa dilakukan oleh makhluk-makhluk itu. Termasuk urusan memunculkan sesuatu dan mengambil benda dengan kemampuan pikiran atau telekinetis. Jika itu benda yang elemennya sengaja ditanam ditubuh, seperti halnya pedang yang Sera biasa gunakan, urusan memunculkannya akan mudah sekali. Tinggal pikirkan saja, lalu pedang itu akan benar-benar berada digenggaman tangan.

Tapi jika itu materi yang berasal dari suatu tempat, maka perlu kemampuan khusus untuk mengambilnya. Hal yang paling biasa dilakukan adalah telekinetis, tapi itu jika benda berada dalam jarak pandang atau bisa dibilang jaraknya dekat. Tapi jika jauh, apalagi jaraknya hingga ribuan mil, diperlukan kemampuan yang benar-benar tinggi. Setahu Sera, salah satu makhluk yang bisa melakukan itu adalah kakaknya—Baekhyun, bahkan ayah Sera tidak memiliki kemampuan setinggi itu. Tapi ternyata, Luhan pun bisa.

“Wahhh…”Sera terkagum-kagum.

“Itu hanya kaktus Sera, benda kecil. Tidak sesulit yang kau bayangkan kok.”

“Kau harus mengajariku bagaimana caranya, Lu. Harus! Oke?”

Luhan tertawa kecil. Aduh, Sera-nya ini memang tidak suka kalah. “Arasseo, baby…”

Sera kembali mengalihkan tatapannya di-white screen yang kali ini sedang memutar gambar ketika Sera dan Luhan sedang tidur lalu 4 malaikat datang dan menghampiri mereka. Xiumin, Chen, D.O dan Lay.

“Apa yang mereka lakukan, Lu?”tanya Sera.

Luhan yang ikut menonton tayangan itu, menyandarkan dagunya dibahu Sera dan berujar pelan.

“Mereka hanya ingin berbicara denganku dan membujukku pulang…”

Sera terdiam. Sampai pada tayangan saat Luhan menggendong Sera yang terlelap dan menidurkan gadis itu, Sera tercekat ketika melihat Luhan yang sedang mencium bibirnya dan mengucapkan kata cintanya pada gadis itu. Lalu pria itu mengembangkan sayapnya dan menghilang.

“Jadi, itu yang terjadi…”gumam Sera. Luhan mengangguk kecil dan mengeratkan pelukannya ditubuh Sera.

Luhan dan Sera sama-sama kehilangan kata-katanya saat adegan demi adegan dilayar menunjukkan bagaimana Sera begitu kalut mencari Luhan keesokan harinya.

Lalu… kejadian itu… Sera seketika membulatkan matanya saat ia melihat ruangan kamar apartemen itu kosong tapi terdengar suara-suara disana. Suara yang berasal dari ruangan yang tidak terjangkau pandangan si kaktus. Suara Sera dan… Tuan Kris.

“Aku tidak mengedit ini karena aku ingin meminta penjelasan darimu…”ujar Luhan pelan, namun jelas terdengar nada marah didalamnya. Sera meneguk ludah. Apalagi saat Kris muncul didalam tayangan dan terlihat sedang menarik Sera menuju ketempat tidur.

“Lu… bisakah kita hentikan ini?”Sera sungguh tidak suka jika Luhan melihat seluruh adegan itu. Itu adegan yang paling mengerikan sekaligus menjijikkan menurut Sera. Karena saat itu Kris berusaha untuk menyetubuhinya. Sera tidak sanggup melihat bagaimana ekspresi Luhan melihat hal itu.

“Kenapa dia melakukan hal itu padamu?”desis Luhan. mata pria itu telah gelap oleh amarah. Brengsek. Jika ia bertemu dengan Kris, Luhan sungguh akan memastikan pria iblis itu remuk ditangannya. Luhan ingin sekali mengiris bibir kotor Kris yang telah kurang ajar mencium bibir Sera-nya. Luhan juga ingin sekali memotong jari-jari Kris yang telah dengan kurang ajar menyentuh tubuh Sera. Sera adalah milik Luhan, dan tidak ada yang boleh menyentuh gadis itu kecuali dirinya.

“Tuan Kris marah karena aku menamparnya…”Sera menghembuskan napas berat. “Aku tidak akan melarangmu marah padanya karena hal ini, karena jujur aku sendiri juga sangat tidak terima diperlakukan seperti itu.”

“Karena itu kau menangis?”tanya Luhan ketika melihat Kris bangun dari atas tubuh Sera dan meninggalkan gadis itu. Sera nampak menangis terisak dilayar.

“Yahh… aku memikirkanmu saat itu, Lu…”

Adegan bersama benda-benda kecil bercahaya yang mengirimkan pesan dari Luhan membuat Sera mendengus sebal. “Kau benar-benar pengecut karena hanya mengirimkan benda-benda itu untuk berpamitan denganku. Apa kau tahu betapa merananya aku saat hanya mendengar suaramu tanpa bisa melihat wajahmu saat itu. Kau membuatku menangis menyedihkan seperti itu, Lu. Lihat! Astaga, aku jelek sekali ketika menangis…”

Luhan meringis mendengar omelan Sera. “Aku takut aku akan merubah keputusanku jika mendengar kau memohon padaku untuk tidak meninggalkanmu, Sera. Jadi aku tidak bisa berpamitan secara langsung padamu.”

“Cih, alasan! Memangnya apa sih alasanmu meninggalkanku saat itu?! Apa yang rajamu bilang hingga kau akhirnya memutuskan untuk pergi, eo?”

Luhan kesulitan menjawab pertanyaan Sera. Ia sejenak teringat dengan visi Lay. Oh, tidak mungkin lah Luhan menceritakan hal itu pada Sera. Sera pasti akan ketakutan. Luhan tidak ingin gadisnya merasa takut, biarlah nanti dirinya yang mencari cara agar visi itu tidak menjadi kenyataan.

“Suho bilang ia akan membawaku secara paksa dan akan melukaimu jika aku menolak…”jawab Luhan tidak sepenuhnya bohong, tidak juga sepenuhnya jujur.

Sera menoleh menatap Luhan. “Hanya karena itu?”

“Sera…”

“Aku tidak akan semudah itu terluka, Lu. Lagipula, memangnya kenapa jika aku terluka? Toh aku akan dengan cepat sembuh kembali. Kau seharusnya tidak berpikiran meninggalkanku hanya karena mencemaskan hal itu!”

Uh, bagaimana aku tidak cemas jika aku melihatmu sekarat, Sera. Visi Lay terlalu mengerikan, batin Luhan miris.

“Suho juga bilang, Kris akan turut campur tangan untuk memisahkan kita. Aku ingat bagaimana rajamu itu mencekikmu sampai meninggalkan bekas dilehermu Sera, dan itu membuatku takut…”

Sera menggembungkan pipinya sebal. Gadis itu merasa benar-benar bukan masalah jika ia harus disiksa asal Luhan tidak meninggalkannya. Karena kenyataannya Sera lebih tersiksa ketika Luhan pergi. Ia toh sudah terbiasa menerima perlakuan kasar entah itu dari ayahnya atau dari Baekhyun. Sera yakin siksaan Tuan Kris tidak akan jauh berbeda rasanya. Pasti akan sakit sebentar, tidak akan sampai membuat Sera mati. Oh, itu sungguh jauh lebih baik daripada rasa sakit dihatinya karena kepergian Luhan.

“Sekarang aku sangat menyesali keputusanku itu, Sera. Karena aku pergi, Kris bisa dengan mudah berbuat seenaknya padamu. Aku sungguh tidak akan membiarkan kau lepas dari pengawasan dan perlindunganku kali ini. Raja-mu satu itu benar-benar membuatku marah karena telah berani menyentuhmu…”

“Kau cemburu?”

“Eo. Kau adalah milikku, jadi yang berhak menyentuhmu, hanya aku, ara?!”

“Cih…”Sera tertawa geli. “Apa kau ini benar-benar malaikat, eo?”

“Aku harus bersikap seperti ini agar tidak kehilanganmu, Sera. Aku tidak peduli lagi apakah aku malaikat atau bukan…”

Sera memicingkan matanya. Agak tidak nyaman dengan kata-kata Luhan. “Kata-katamu tadi sungguh berbahaya, Lu.”

Luhan mengedikkan bahunya tidak peduli. Oh, Gosh. Malaikat satu ini benar-benar sudah berbelok kejalan yang salah hanya karena seorang gadis.

“Tapi, Lu… aku jadi teringat sesuatu…”Sera mengeryitkan dahinya. Ya, saat itu ada yang aneh. Saat Kris menciumnya, laki-laki itu mengatakan sesuatu yang benar-benar aneh bukan? “Hari itu… aku yakin aku tidak salah dengar. Ya, aku yakin sekali…”

“Mwo?”tanya Luhan penasaran.

“Hari itu Tuan Kris memanggilku dengan nama ‘Seraphim’…”

Luhan membulatkan matanya mendengar kata-kata Sera. Seraphim?

“Apa itu karena nama kita mirip? Atau bagaimana? Sera dan Seraphim…”

“Dia benar-benar menyebutmu dengan nama itu?”tanya Luhan memastikan. Kenapa? Kenapa raja iblis itu memanggil Sera seperti itu?

“Iya. Tidak hanya satu kali…”

“Kau tidak bertanya padanya mengapa dia memanggilmu begitu?”

Sera menggelengkan kepalanya. Aduh, bagaimanalah Sera akan bertanya kalau saat itu Kris sedang gencar melayangkan ciuman memabukkan padanya.

“Seraphim…”Luhan menggumam dan sekarang pria itu nampak berpikir keras. Mungkinkah? Tapi tidak mungkin, bukankah dalam buku disebutkan bahwa Seraphim akan lahir kembali sebagai keturunan hawa yang berarti ia adalah anak manusia? Jadi tidak mungkin Sera…

Lalu kenapa Kris bisa memanggil nama Seraphim saat itu. Kris mengenal malaikat itu? Ataukah Kris…
Mata Luhan membulat. Ataukah, Kris itu sebenarnya adalah Lucifer? Ini random!! Tapi entah mengapa terdengar sangat masuk akal. Bukankah para manusia sering bilang kalau Lucifer berubah menjadi iblis ketika diusir dari surga. Dan lagi, didunia atas dan bawah tidak ada penjelasan dimana Lucifer sekarang.

Penjelasan Xiumin kemarin juga tidak jelas. Xiumin hanya bilang kalau Lucifer terkunci disuatu tempat. Apakah maksud terkunci itu benar-benar terkunci dalam arti sebenarnya ataukah yang dimaksud adalah terkunci dalam arti ia tidak akan bisa lepas dari nasibnya sekarang menjadi seorang iblis??

“Lu…”panggil Sera memecah lamunan Luhan.

“E-eo… baby.”

“Kau berpikir terlalu keras hingga keningmu keriting…”Sera menekan daerah diantara alis Luhan.

“Film-nya sudah habis…”kata Sera kemudian sambil mengedikkan dagunya kearah layar yang sekarang telah sepenuhnya putih tanpa gambar apapun yang ditampilkan.

“Kau mau tidur?”tanya Luhan saat Sera menyandarkan tubuhnya lagi dengan nyaman didadanya. Luhan menghirup wangi rambut Sera diwajahnya. Membuat rongga-rongga dadanya penuh seketika dengan aroma memabukkan gadis iblis itu.

“Kau mau membiarkanku tidur begitu saja?”tanya Sera balik, usil.

Luhan tersenyum geli. “Jika kau mau tidur, aku sungguh akan membiarkanmu tidur tanpa gangguan, Sera. Tapi jika kau menggodaku seperti itu, aku tidak yakin akan membiarkanmu tidur malam ini…”

Sera membalik posisinya menghadap Luhan. “Aku memilih untuk tidak tidur, lagipula iblis tidak butuh tidur…”

“Aku tidak tanggung jawab jika kau menyesal nantinya…”ujar Luhan sembari mendekatkan wajahnya kewajah Sera. Tangan pria itu sudah melingkar dipinggang gadis itu, menarik Sera agar duduk dipangkuannya.

Sera tersenyum sembari menatap mata Luhan dalam. “Aku tidak akan menyesal. Anggap saja ini permintaan maafku karena telah membiarkan pria lain menyentuhku, Lu…”

Wajah Luhan mengeras. Pria itu teringat lagi bagaimana Kris telah mencium dan menyentuh kekasihnya. Dadanya diliputi rasa cemburu dan itu membuatnya segera melumat bibir Sera kasar.

“Kau adalah milikku…”gumam Luhan disela ciumannya yang terasa sangat menuntut.

“Ya. Aku adalah milikmu…”

Pria itu memejamkan matanya erat, membiarkan sesuatu dalam tubuhnya kembali mendidih dan membuatnya gelisah. Luhan mengakui fakta bahwa hanya dengan menyentuh gadis itu mampu membuatnya gila.

Kehilangan kendali dan menuntut lebih, wajar bagi seorang pria, bukan? Bahkan mungkin jika pria itu adalah malaikat sekalipun.

You and I will become one with the uncontrollable attraction
Without this feeling, it’s like I am dead
The reason I live is because of my addiction to the sweetness that is you
(EXO – Overdose)

Luhan menghisap rakus setiap belahan bibir gadis itu, menahan tengkuk Sera agar ia bisa terus mengunci bibir Sera dengan bibirnya. Luhan harus rela mengakui jika ia begitu kecanduan dengan bibir merah itu. Sementara Sera mengernyitkan kening, tangannya meremas kuat lengan Luhan, saat pria itu mulai memperdalam ciuman mereka. Melesakkan lidahnya kedalam mulut Sera dan menggelitik rongga dalam mulutnya. Menimbulkan bunyi decakan yang cukup jelas terdengar, mengisi keheningan hutan malam itu.

Zzztt…

“Ummh…”Sera tersentak saat tiba-tiba bagian perut bawahnya serasa tersengat oleh sesuatu. Rasa sakit itu tepat berada dibawah lambungnya. Seolah ada lebah dengan sengatan sepanjang jari tangan menusuk organ dalam perutnya. Merobeknya sekali hentakan. Bibirnya masih dikuasai oleh Luhan. Dan pria itu terlalu asyik dalam kegiatannya hingga tidak sadar Sera telah meremas kuat-kuat bagian depan bajunya karena rasa sakit yang tak tertahankan diperutnya.

Tapi rasa sakit itu kemudian menghilang begitu saja. Secepat datangnya, secepat itu pulalah rasa sakit itu pergi. Sera terpaku beberapa saat. Tapi keterpakuannya mencair dengan segera setelah ia merasakan tangan Luhan meremas bagian dadanya hingga membuat sebuah desahan lolos dari bibir gadis itu.

Pikiran Sera sejenak teralihkan. Tapi, rasa sakit tadi begitu nyata dan membuatnya sulit dilupakan. Seumur hidupnya Sera tidak pernah merasakan rasa sakit seperti itu didalam perutnya.

Perlahan Sera mengarahkan tangan yang semula berada didada Luhan untuk mengelus daerah tempat rasa sakit itu semula berada. Mengelusnya pelan. Heran. Rasa sakit apa itu tadi?

“Ini sudah lebih dari 10 hari dan tidak ada bawahanku yang memberikan kabar baik. Sera dan Luhan masih belum juga mereka temukan. Iblis tidak berguna semuanya…”kesal Kris sambil menegak birnya sampai tandas. Mengalirkan cairan panas itu ketubuhnya. Bar tempatnya berada masih memutarkan musik-musik berisik yang memekakkan telinga. Manusia-manusia disekitarnya telah terbius dalam suasana gelapnya. Abai sama sekali dengan 2 pria yang nampak terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa. Kris dan Suho duduk bersisian didepan meja bartender. Raja dari dunia yang berlawanan itu siapa sangka bisa nampak begitu akrab.

“Bagaimana denganmu? Apa kau menemukan titik terang dimana keberadaan Luhan sekarang?”

Suho menggeleng. “Kami melacak semua tempat yang pernah didatangi Luhan. Jika ia menggunakan teleport, itu berarti ia pergi ketempat yang pernah ia kunjungi. Tapi ternyata melacaknya bukan hal mudah. Luhan jenius, ada data-data yang ia simpan dengan password yang sulit dipecahkan. Kebanyakan lokasi yang ditunjukkan oleh catatan perjalanannya adalah lokasi palsu. Apalagi Luhan sudah lama sekali tinggal didunia manusia, sehingga terlalu banyak tempat yang ia datangi sehingga membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mengeceknya satu persatu.”

“Akan merepotkan jika harus menelusuri seluruh dunia manusia…”

“Ya. Luhan pasti sudah memberi mantera pelindung, sehingga sinyal keberadaan mereka sama sekali tidak terdeteksi. Saat Luhan masih di Korea aku bisa dengan mudah menembus mantera pelindung itu, tapi sepertinya kali ini ia memakai kekuatan penuh. Aku terkejut saat mengetahui bahwa aku pun kesulitan menemukannya…”Suho tersenyum masam.

“Kau pasti tidak menyangka hal ini akan terulang kembali…”

“Yahhh… seharusnya aku tidak usah terkejut melihat Luhan seperti ini. Xiumin sudah memprediksi ini akan terjadi, aku saja yang terlalu percaya diri. Aku terlalu yakin bahwa aku bisa mengubah Luhan…”Suho berujar pelan.

Kris tersenyum sengit. “Walau kau mengganti namanya, Lucifer tetaplah Lucifer…”

Suho memejamkan matanya. Mendesah panjang untuk melepaskan beban berat dihatinya. “Dia adalah sahabatku, aku tidak suka melihatnya terlalu lama menderita. Kupikir setelah sekian ribu tahun berlalu dan ingatannya yang telah memudar, aku bisa membentuknya dari awal.”

“Suatu saat mungkin Luhan akan menghancurkan dunia atas lagi, Gabriel…”lanjut Kris. Suho tersenyum tipis saat Kris memanggil nama aslinya. Sudah lama sekali ia tidak dipanggil dengan nama itu. “Entah apa tujuan Yang Maha Mengetahui menciptakan makhluk itu. Bukankah tidak ada kebetulan didunia ini? Bahkan suatu kesalahan pun pasti ada maksud didalamnya.”

“Kau benar. Semua pasti telah Ia rancang dengan sempurna. Bahkan kita, makhluk yang bisa dikatakan paling dekat dengan Yang Maha Agung, tidak tahu sama sekali dengan apa maksud dari rencana-Nya. Kau pasti sama penasarannya denganku tentang mengapa Seraphim terlahir kembali sebagai makhluk yang sangat bertolak belakang dengan dirinya, ya kan Kris?”tanya Suho sambil menoleh menatap Kris.

Suho mengamati wajah Kris yang dingin, menimbang-nimbang sebelum akhirnya kalimat itu terlontar dari bibirnya. “Bukankah dulu kau juga menaruh hati pada malaikat Seraphim? Tapi mengapa kau begitu membenci Sera dan begitu ingin membunuh gadis itu, Kris?”

Mata Kris berubah merah dengan percikan berwarna oranye menyala. Panas. Raja Iblis itu sangat tersinggung dengan kata-kata Suho. “Tutup mulutmu, Suho!”desisnya tajam.

Suho mengangkat bahunya tak peduli. “Aku tahu kau lah orang yang sebenarnya paling menyesal saat Seraphim dilenyapkan. Karena kau-lah yang menghasut Lucifer agar menolak bersujud pada Adam. Kau senang saat Lucifer dijebloskan kepenjara, tapi kau tidak menyangka sama sekali gadis itu rela berkorban agar Lucifer diampuni…”

Amarah Kris meluap. Suho benar-benar menyentuh titik tersensitif pria itu. Dengan kecepatan yang tidak akan mampu diterima oleh nalar manusia, Kris mencengkeram kerah kemeja putih Suho. Menatap Raja Malaikat itu dengan tatapan bengis, seolah siap menelan malaikat itu hidup-hidup.

“Ah, benar. Kau membenci Sera karena membuatmu merasa lemah, karena itu kau ingin melenyapkan gadis itu…”

“KUBILANG TUTUP MULUTMU, SUHO!!!!”

“Karena gadis itu tidak pernah memilihmu…”

Buakk!!

Sebuah pukulan mendarat dipipi Suho. Membuat sang malaikat jatuh tersungkur dari kursinya. Beberapa manusia menoleh melihat keributan yang terjadi, tapi tidak ada yang berminat ikut campur pada masalah 2 makhluk itu.

“Kau benar-benar malaikat brengsek, Suho!”umpat Kris.

Suho terkekeh, sambil mengelap darah disudut bibirnya. Dalam hitungan detik, luka disudut bibir itu telah lenyap begitu saja. “Aku malaikat brengsek yang paling mengenal dirimu, ya kan?”ujar Suho santai, tidak tersinggung sama sekali dengan kelakuan Kris. Toh, dirinya yang salah karena menyinggung-nyinggung daerah sensitif Raja Iblis itu. Suho malahan merasa senang, karena tebakannya benar. Kris sama sekali belum berubah. Ia selalu nampak tenang dan dingin diluar, tapi perasaannya sebenarnya penuh sekali dengan gejolak. Ada banyak hal yang tidak Kris mengerti, termasuk tentang bagaimana ia harus bersikap mengenai Seraphim.

Kris mendengus dan mengulurkan tangannya untuk membantu Suho berdiri. Ia mengeryit tidak suka saat Suho menepis tangannya sambil masih tertawa dan berdiri sendiri tanpa bantuan Kris.

Persahabatan yang aneh.

Jika mau jujur, kata-kata Suho sama sekali tidak salah. Kris memang menaruh hati pada malaikat Seraphim. Ketika itu, iblis pun hidup disurga. Ia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Yang Maha Pencipta saat itu yang berdarah panas. Terbuat dari api dan dipanggil devil –iblis. Iblis memiliki sayap berwarna hitam, berbeda sekali dengan sembilan malaikat yang memiliki sayap putih. Karena berbeda itu, Kris selalu sendirian. Sampai akhirnya, suatu hari, seorang malaikat jelita menawarkan persahabatan dengannya. Kepribadian Seraphim yang unik, pembawaannya yang santai, dan berbeda dari malaikat lainnya membuat Kris nyaman dengan gadis itu.

Hingga akhirnya Kris tahu bahwa bukan hanya dirinya yang jatuh pada pesona Seraphim. Ada malaikat lain, yang juga memuja Seraphim—Lucifer. Kris kesal. Ia ingin rival-nya itu pergi dari gadisnya. Lalu, keinginan itu memperoleh jalannya saat Adam diciptakan.

“Lucifer benar-benar terhasut saat itu. Dia dipenjara. Dijatuhi hukuman selama beribu-ribu tahun…”Kris tersenyum pahit. “Tapi Tuhan benar-benar Maha Adil, si penghasut diusir dari surga dan dikutuk menjadi penghuni dunia bawah. Maka jadilah diriku sekarang.”

“Kau ingin membalas dendammu dan merebut Sera dari sisi Luhan?”tanya Suho hati-hati.
Kris tertawa. “Aku bahkan tidak memikirkan hal itu, buddy. Kau tahu kan aku sibuk mengurusi para manusia itu agar mereka nanti mau menemaniku dineraka. Itu tugas yang diberikan padaku agar aku tidak menjadi makhluk yang sia-sia. Aku bahkan membiarkan Sera dibawa kedunia bawah dan tidak peduli pada gadis itu selama ia tinggal didunia bawah.”

“Karena kau tidak mau ‘terjatuh’ lagi? Kau kapok dengan perasaanmu…”

Kris terdiam. Sejenak ia menghela napas panjang sebelum menjawab, “Ya. Aku tidak mau menjadi lemah…”

“Cinta itu anugerah, Kris…”

“Ya, manusia bilang cinta itu anugerah. Tapi, anugerah itu tidak berlaku untukmu dan diriku, Suho. Jika kau mencintai sesuatu kau juga harus mencintai yang lain juga untuk menjaga sikap obyektifmu. Seperti halnya kau mencintai manusia-manusia baik dan selalu meluangkan banyak waktu untuk mendoakan mereka. Sehingga cintamu tidak akan berbalik melukaimu, karena kau menjaganya tetap murni dan apa adanya. Tanpa keinginan untuk mendapatkan apapun.

Tapi, saat aku tahu gadis itu jatuh cinta pada malaikat, lagi-lagi aku merasakan sakit itu. Karena dalam pikirku, Seraphim sekarang adalah makhluk yang sama denganku sehingga akulah yang pantas untuk mendapatkannya. Tapi kenyataannya ternyata lain.Yang aku pikirkan setelah itu hanyalah bagaimana cara agar Sera lenyap. Aku ingin membunuh gadis itu untuk membuatnya berhenti membuatku merasa lemah, menyiksa orang yang telah membuatnya lahir didunia dan aku juga tidak akan membiarkan Luhan hidup damai.”

“Lakukan jika itu maumu…”ujar Suho kalem. Pria itu menyesap minumannya yang semanis madu dengan ekspresi sulit ditebak.

“Ya. Kali ini biar aku yang menangani semua dan menyelesaikan ini dengan caraku…”

“Sebenarnya, aku tidak suka idemu tentang membunuh titisan Seraphim itu. Tapi, jika kau tidak segera turun tangan, aku takut gadis itu mungkin akan mati dengan sendirinya. Dengan cara yang tidak kau duga sama sekali…”

Kris membulatkan matanya, terkejut dengan ucapan Suho. “Apa maksudmu?”

“Kau pasti lebih tidak suka lagi jika Seraphim mati tanpa persetujuanmu kan? Jika Sera mati, gadis itu haruslah mati ditanganmu, apa aku salah?”tanya Suho tanpa menjawab pertanyaan Kris. Kris hanya diam, masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Suho sebenarnya. Jika Iblis memiliki kekuatan yang lebih besar daripada malaikat, malaikat juga punya kelebihan dibandingkan iblis. Malaikat selalu lebih tahu, mereka selalu mendapatkan informasi lebih dulu dibandingkan iblis. “Hal yang pertama kau lakukan adalah menemukan mereka. Ahhh… aku lupa kalau ada cara ini, Kris…”

Kris menatap Suho dengan tatapan bertanya.

“Kau mau aku beri tips bagaimana cara menemukan mereka dengan cepat?”tanya Suho retoris. Tentu saja Kris mau.

“Katakan bagaimana caranya!”

“Aku tidak bisa melakukannya karena tidak punya materinya. Tapi kau bisa.” Suho balas menatap Kris.

“Jejak darah…”

“Minimalkan kekuatanmu, sayang!!”teriak Luhan mengingatkan saat lagi-lagi ia melihat Sera berlompatan dari satu dahan kedahan lain. Gadis itu tak ubahnya Tarzan dalam versi wanita ditempat ini.

“Aku tahu, Lu!!”balas Sera.

“Tahu apa, eo? Kalau kau tahu, seharusnya kau tidak mengembangkan sayapmu seperti itu!”

Sera berhenti disebuah pohon, menatap Luhan sebal. Sayapnya yang semula mengembang megah, dalam sedetik terhisap masuk kepunggungnya. “Aku tahu,”ulang Sera penuh penekanan. “Tapi, aku juga tidak sengaja mengembangkan sayapku. Ini kan reflek kalau aku ingin terbang…”

Luhan menghela napas berat. Susah sekali meminta Sera untuk tidak sembarangan mengembangkan sayap dan menggunakan kekuatan iblisnya ditempat ini. Gadis itu terlalu tidak bisa diam. Lihat saja, Luhan baru saja selesai mengingatkan, tapi selang beberapa menit Sera sudah menghilang lagi. Entah masuk kepelosok hutan mana. Mengejar burung cenderawasih atau tupai apalah. Gadis itu benar-benar susah sekali diatur. Padahal Luhan takut sekali jika semua kekuatan itu akan menghantarkan sinyal yang memudahkan orang-orang dunia atas dan bawah untuk mengidentifikasi posisi mereka sekarang.

Luhan sendiri tidak terlalu suka beraktivitas dialam terbuka. Ia lebih suka duduk diteras rumah pohon, menjuntaikan kakinya kebawah, sambil mendengar suara alam. Kicauan burung, gesekan daun yang terterpa angin, derik serangga, suara sigung dan tupai didahan pohon, dan auman harimau dikejauhan.

Yahh… Sera dan Luhan memang sangat berbeda dalam banyak hal.

Sementara Sera entah dimana, Luhan sibuk mengupas-ngupas kulit pohon dengan belati kecilnya seharian tadi. Ia ingin membuat patung kayu berbentuk wajah cantik Sera. Sembari memahat, Luhan masih harus tetap berkonsentrasi untuk mengawasi Sera dan memasang inderanya setajam mungkin untuk mendeteksi jika ada yang datang ketempat ini.

Saat Luhan sedang berkonsentrasi tinggi dengan bentuk mulut pahatan kayu-nya, telinga laki-laki itu mendengar suara pekikan tertahan lalu disusul dengan suara bedebam ditanah. Luhan sontak berdiri dan mengedarkan pandangannya.

“SERA!!!”teriaknya memecah keheningan hutan siang itu.

Luhan semakin panik ketika gadis yang ia panggil tidak menjawab. Tanpa pikir panjang, malaikat klan Azrael itu mengembangkan 99 sayapnya. Mengepakkannya hingga membuatnya melayang diudara. Sebodoh amat dengan keberadaannya yang mungkin terdeteksi dunia atas karena ia mengembangkan sayapnya, Luhan sedang sangat khawatir. Mata Luhan nyalang menatap tanah dan dahan-dahan pohon, mencari-cari sosok Sera.

“SERA!!!”teriaknya sekali lagi. Astaga, sebenarnya kemana gadis itu? Apa yang terjadi?

“SERAAAA!!!!!”suara Luhan menggema, membuat burung-burung yang semula santai bertengger dipepohonan, terbang dengan tergesa. Monyet-monyet memekik, bersahut-sahutan. Membuat suasana hutan itu gaduh seketika.

Sampai dibelahan hutan yang lebih lebat, hingga sinar mataharipun sulit menembus dedaunan pohon yang menjulang tinggi, Luhan melihat sesosok tubuh dikejauhan. Dengan matanya yang tajam, ia bisa melihat tubuh itu tergeletak begitu saja ditanah. Jantung Luhan nyaris pecah saat sosok itu semakin jelas terlihat.

“Sera…”panggilnya gusar. Luhan berteleport, hingga dalam waktu sepersekian detik ia telah sampai ditempat Sera tergeletak tak berdaya. Luhan mengangkat tubuh Sera, menepuk pipi gadis itu dan memanggil namanya berulang-ulang. Tapi Sera tak sadarkan diri.

“Ada apa denganmu, eo?”Luhan menaruh tangannya dipunggung dan lipatan kaki Sera, mengangkat tubuh gadis itu. Dalam sedetik Luhan telah berpindah kedalam rumah pohonnya, meletakkan tubuh Sera perlahan ke-tempat tidur.

“Sera… bangunlah…”pinta Luhan dengan suara gemetar. Ketakutan melanda dirinya, membuatnya sulit mengontrol tubuhnya untuk tidak gemetaran. Jemarinya menyentuh helaian rambut yang menutupi kening Sera. “Sera, apa yang terjadi padamu? Buka matamu, sayang…”

Tapi Sera tetap tak bergeming. Hanya hembusan napasnya yang menandakan bahwa gadis itu masih hidup. “Sera… astaga, apa yang harus aku lakukan?”Luhan panik, jemarinya meremas-remas jemari tangan Sera, berharap gadis itu akan balas menggenggam tangannya.

“Luhh…”

Luhan membulatkan matanya. Buru-buru ia mendekatkan wajahnya kewajah Sera. Memastikan suara yang barusan ia dengar benar-benar berasal dari bibir gadis itu. “Sera… Sera sayang…”

Kelopak mata Sera bergetar, lalu perlahan membuka. Sera mengerjap saat cahaya menyerbu masuk kematanya. Bibirnya mengerang kecil.

“Sera…”panggil Luhan lagi sembari membelai lembut kepala Sera.

“Aku tertidur?”tanya Sera dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Aku menemukanmu tak sadarkan diri, sayang. Apa yang terjadi? Kau bertemu dengan seseorang dari dunia bawah? Apa dia menyerangmu?”

Sera mengeryit bingung mendengar kata-kata Luhan. “Aku tidak sadarkan diri?”

“Eo.”

Keryitan dikening Sera semakin dalam. Ukh, apa yang terjadi padaku? tanyanya dalam hati. Sera mengingat-ngingat kembali apa yang barusan terjadi padanya. Seingatnya, dirinya sedang asyik mengamati seekor tupai lucu diatas pohon. Tupai itu begitu lucu saat gigi depannya berusaha menyerut lapisan kulit luar biji. Hingga kemudian Sera merasakannya lagi. Nyeri tak tertahankan dibagian perut bawahnya. Lalu semua gelap.

“Sepertinya aku terjatuh dari pohon…”ujar Sera. “Kepalaku sakit, pasti terbentur saat aku jatuh…”

“Bagaimana mungkin kau bisa jatuh dari pohon?”Luhan tak percaya.

“Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga kan, Lu? Aku harus mulai mendengarkan laranganmu untuk tidak bertingkah seperti tarzan sekarang. Ukh, kalau aku manusia, saat ini aku pasti sudah mati…”

“Sera, sayang… apa benar kau pingsan karena kau jatuh, tidak ada alasan lain? Jika ada, katakan padaku, eo? Disaat seperti ini, kau tidak boleh menyimpan masalahmu sendiri. Berbagilah denganku. Aku sungguh tidak mau hal seperti ini terjadi lagi. Aku takut kau terluka…”

Sera menimbang-nimbang, apakah ia harus menceritakan soal sakit diperutnya atau tidak. Tapi akhirnya Sera memutuskan untuk mengabaikannya. Toh, sakit diperutnya baru muncul 2 kali, dalam jeda waktu yang lama pula. Dan lagi, sakitnya hanya sekejap. Walaupun yang sekejap itu ternyata bisa langsung membuatnya tak tahan dan kehilangan kesadaran. Tapi Sera merasa ini tidak begitu darurat untuk diceritakan pada Luhan. Sera tahu Luhan sedang banyak pikiran sekarang karena pria itu sedang berusaha menyembunyikan keberadaan mereka dari pihak dunia atas dan bawah. Sera sungguh tidak ingin menambah beban Luhan dengan menceritakan rasa sakit yang tidak penting ini. Sera merasa bisa mengatasinya sendiri.

“Aku hanya terlalu lelah…”pikir Sera. Padahal dia sendiri tidak yakin terlalu lelah karena apa.

“Aku tidak apa-apa, Lu. Besok-besok ingatkan aku untuk tidak memanjat pohon lagi, ya?”

“Kau juga tidak boleh melompat dari atas air terjun lagi!”kata Luhan tegas. Jika Sera benar-benar bisa lalai hingga membuatnya jatuh dari pohon, berarti ada kemungkinan ia juga bisa jatuh dari tempat-tempat tinggi lain dan menyebabkan kepalanya terbentur. Siapa tahu?

Sera mengerutkan bibirnya, agak keberatan dengan larangan Luhan satu itu. Tapi demi melihat mata Luhan yang menyiratkan betapa cemasnya pria itu, Sera urung memrotes. “Baiklah…”

Baekhyun berontak, tapi tenaganya telah terkuras banyak selama ia tinggal dipenjara. Tenaganya tidak cukup untuk mengimbangi tenaga 2 orang yang menyeretnya sekarang—Tao dan Sehun. Baekhyun menyumpah-nyumpah dalam hati. Jika saja saat ini tangan dan kakinya tidak dirantai, ia pasti sudah menghabisi Tao dan Sehun saat itu juga.

Tubuh babak belur Baekhyun dihempaskan begitu saja kelantai saat mereka telah sampai didepan singgasana Sang Raja. Baekhyun mendongak dan mendapati tatapan dingin Kris terarah kepadanya. Kris memberikan perintah lewat pikirannya pada Tao dan Sehun. Lalu 2 iblis itu menarik kembali tubuh Baekhyun dan menyeretnya kehadapan sebuah bejana berdiameter +1 meter berisi cairan kental berwarna putih jernih. Baekhyun tahu bejana apa itu. Yang dia tidak tahu adalah tujuan Kris membawanya kedepan bejana itu.

Kris berjalan mendekat. Sampai didepan Baekhyun dan bejana itu, Kris mencelupkan jemarinya kedalam bejana dan mengaduknya memutar pelan.

“Apa yang kau inginkan dariku, tuan?”tanya Baekhyun yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Kris masih terus memutar tangannya didalam bejana itu. Jika kau ingin tahu, bejana itu berisi refleksi dari dunia manusia. Semacam GPS atau google map. Kau bisa mencari lokasi manapun yang kau inginkan dibumi atau men-zoomnya dengan kualitas terbaik yang belum mampu dicapai teknologi manusia. Nama bejana dan cairan didalamnya itu Mapcroice.

“Sehun…”perintah Kris tanpa menyebut apa perintahnya. Sehun sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Pria dengan rambut blonde dan kulit seputih susu itu mengambil belati dari sakunya dan tanpa babibu langsung menyayat kulit Baekhyun.

“Akh!”seru Baekhyun saat rasa perih muncul dari kulit tangannya yang tersayat. Darah segar keluar dari luka yang dibuat Sehun. Pria itu tidak mau membuang waktu, ia lalu mengarahkan tangan Baekhyun yang terluka keatas bejana.

Mata Baekhyun membulat saat darahnya yang menetes didalam bejana bercampur dengan cairan kental yang terputar itu. Menimbulkan warna merah yang melayang bagai kabut. Darah Baekhyun mula-mula menyebar diseluruh lapisan cairan, berputar-putar mengikuti arus. Tapi kemudian cairan merah itu menyusut membentuk suatu titik yang berfokus ditengah.

Kris menyeringai.

Baekhyun sekarang tahu apa yang telah Kris lakukan dengan darahnya.

“Sebuah pulau di Samudera Pasifik…”gumam Kris.

Didalam bejana itu, cairan kental tadi telah berubah seperti sebuah peta 3D yang berada dibawah air. Lalu darah Baekhyun menggumpal menjadi 1 titik berwarna merah menyala. Titik dari darah Baekhyun itu berada disebuah gundukan hijau ditengah lautan.

Jejak Darah.

Darah yang mencari darah keturunannya. Cara yang Suho usulkan pada Kris agar bisa menemukan Sera dan Luhan.

Baekhyun menatap bejana itu dengan tatapan nanar. Pasukan para iblis benar-benar handal untuk bekerja cepat. Setelah menerima perintah yang dikirimkan Kris lewat pikiran, mereka sudah bergerak keluar istana dan pergi menyeberang kedunia manusia. Memburu buronan Sang Raja.

“Uh… Sera… LARI !!!!”teriak Baekhyun didalam hati.

TBC

:: Preview for the next Chapter ::

Baekhyun terdiam.

Matanya menatap lurus kearah kobaran api yang saat ini belum puas melahap hingga habis sebuah rumah yang terbuat dari kayu itu. Merambati pohon yang menjadi tempat rumah itu menempel. Suara percikan api mengambang diudara.

“Sera…”gumamnya pelan.

 


Minna-san, o genki desuka??

Pertama-tama author mau meminta maaf karena lamanya Chapter 11 muncul, alasannya karena pas ngepost eh bertepatan bgt pas blog ini tutup FREELANCE. Joseonghamnida yeoreobuuun, karena telah membuat kalian semua menunggu #bow. Eh? Eh? Ada kan ya yang nungguin nasib LuSEra selanjutnya?

Atau hanya authoa aja nih yang ge-er? Hehe…

Ada yang bisa nebak itu Sera kenapa?? Dan kira-kira apa ya yang terjadi di Chapter 12?? Ujujuuu… author seneeeeng banget kalo bisa bikin kalian penasaran.. kekeke~

Jangan lupa kritik saran komentarnyaaa yaaa… maaf author gak bisa bales komen-an kalian atu-atu, tapi author baca semua kok komen kalian. Jeongmal gamsahamnidaaa…komen kalian itu motivator author buat nulis. Yehettt~~ sampai jumpa lagi di Chapter 12 ya minna-sannn…

254 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 11)

  1. WoW……WOW……WOW…..sungguh aku kagum sekali dgn penemuanmu itu dear….
    Wah jika benar MAPCROICE itu nyata dan ada….mungkin saya akan pesan alat itu ke author sangheera 😀
    Gileee ajaib banget sih pikirannya…

  2. Kenapa nasib my bacon ngenes bnget sih… hihi
    Dan my kris juga… jahatnya gk ketulungan… kasih jeda dulu ke atau apa gtu… biar mereka puas ngelepas kerinduan mreka… jngn diganggu… kasian… 😔😔😔😔

  3. mungkin sera lagi dtang bulan mkanya perutnya sakit???#iblis_dtg_bulan,,,

    kyaknya KRIS INI STENGAH BAIK STEBGAH JAHAT YAHH,,
    NEXTTT

  4. Sera hamil? Kalo Sera hamil anak Luhan darah yang tertanam pada anak mereka apa? Sama kayak Sera yang darahnya campuran antara manusia-iblis-malaikat?
    Tuh kan lucifer itu beneran Luhan.
    Ah, kenapa ketauannya harus secepat ini sih? Mereka pasti kepisah lagi deh -_-

  5. Waduh ketahuan kris ya ? Hahaha .. Smoga gak ketangkep .. Konfliknya lebih berbelit belit ya ? Tapi aku suka ..

  6. yaampun yaampun luhan sera selamatkan mereka siapapun itu 😦 lagi romantic2nya ada aja yang halangin huffttt sabar ya lusera semua akan indah pada saat ending kok 😀 semoga happy ending dehh

  7. Seumur hidup bru sekali denger klo evil sma angel bsa sahabatan
    Keren bget
    Sebenarny aku agak bingung sma sera
    Dia kenpa sih? Perut ny knpa bisa skit?
    Aneh bget, kn iblis ga bisa sakit

  8. Sera itu kayanya mulai muncul gejala2 dari sifat manusianya. Mulai merasakan skt kaya gt. Tapi…..masa hamil??? Baca slnjutnya aj ya :v

  9. Duh.. Kelacak da lokasinya sma Kris omonaa.. Itu alat canggih amat yah :v
    Trus Sera koq sakit perut gtu sih? Kenapaa?? Duhhh penasarannn lanjut eon~ fighting~

  10. Aku kira di ep sebelumnya rahasia udh terbongkar semua. Eh taunya muncul misteri lagi. Imajinasinya author itu susah dibayangin deh-_- hehe tp ttp aja keren..

  11. chap. yg ini greget abis:3
    itu sera ada apa dengan perutnya, hamilkah/?
    jadi luhan beneran si-lucifer
    jadi.. suho-kris komplotan biar lusera…duh so saad 😦
    baekhyun..:D, yang tabah yaa :’| *ada aku kok/\

    keep writing thor! 🙂

  12. Kyak!
    Masa iya Sera kena kangker rahim(?)
    Hoalah pikiran macam apaa itu -,-
    Imajinasimu bener2 perfecto , good-to/? , daebakk-to/?

  13. KYAAAAAA…..kakak author!! >< Ok,aku dah penasarannn…aku bacanya sambil kerja*nyolong2. Next next next…Oh,iya…kakak author,FIGHTING!!!^^

  14. Omooooo apa yg bakal terjadi pada sera dan luhan?
    Apa mereka terpisahkan lagi?

    Apa yg sebebernya d rasakan sera didalam perutnya?

    Author kerennnnn

  15. jangan2 sera hamil? kasian banget klo harus ngerasain sakit sampe pingsan gtu seranya semoga luhan cepet tau yg sebenernya biar bisa ngelindungin lebih
    mana udh ketauan sama kris keberadaan sera sama luhan aduhh was was bacanya

Leave a Reply to putri Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s