[Freelance] CIFA Agents [Welcome Probies! – CHAPTER 2]

Untitled-1-2

Title : CIFA Agents [Welcome Probies! – CHAPTER 2]
Author/twitter : J-007 / @AnneJ_007
Cast : EXO [Wu Yifan, Byun Baekhyun, Xi Luhan], OC, and more
Genre : Action, Friendship, Science, a bit humor and romance
Rating : PG 15
Length : Chapters
Disclaimer : Characters are God’s. Plot is mine. Inspired by NCIS.

WARNING! Do not make any copy or remake from this fanfiction. I need your RCL, and thank you before. Hope you like and enjoy it.

***

 

Jaerin POV

DUAKK!
Pintu kini terbuka lebar, menampilkan ruang kamar yang begitu luas. Kamar ini bernuansa hitam putih dengan 3 ranjang king sized berjejer ‒menandakan kalau 3 pria ini memang tak pernah bisa dipisahkan‒, TV plasma di depan tiap ranjang itu dan 2 AC di dinding atas ranjang. “Bagaimana kita bisa menemukan bom itu di tempat sebesar ini?” Hyunrin menatap frustasi ruangan tadi.

“Use your instinct, Hyunrin-ah.” Aku melangkah semakin ke dalam, masih dengan pistol di tangan. Mataku menelusuri tiap sudut ruangan ini, berjaga kalau-kalau ada orang yang menyusup ke sini. “Clear,” kataku dan Hyunrin bersamaan. Pistol kembali ke dalam sarungnya dengan aman. Kini penyelidikan dilanjutkan dengan pencarian bom. Semua barang dan celah kecil kami telusuri, tak ingin melewatkan setitik ruang apapun tertinggal.

“Nothing here,” kata Hyunrin. Berbeda dengannya, kini mataku teralihkan dengan sebuah kursi di balkon, dimana mereka sering mengobrol menurutku. “Let’s check it out,” aku mengarahkan dagu ke kursi yang kumaksud tadi. Di balkon, aku kembali duduk bersimpuh, mengecek ke bawah dudukan kursi tadi dan menemukan bom yang dicari.

Perlahan kubalikkan kursi tadi hingga kakinya menghadap ke atas. Kini akupun langsung dihadapkan dengan benda mematikan yang dipasangi timer itu, menunjukkan kalau waktu kami hanya tersisa 1 menit. “Apa yang harus kita lakukan, Hyunrin-ah?” tanyaku pada Hyunrin yang memang berpotensi dalam komputer forensik dan kabel-kabel semacam yang tertancap di bom ini. “Um, melihat ada 3 warna di sini, kurasa kau harus memotong yang biru. Oh bukan, yang merah. YA!!”

Merasa waktuku semakin terbuang banyak, langsung saja kupotong kabel hitam di bom itu, tak peduli apa bom itu akan mati ataupun meledak. “I SAID BLUE!!” Hyunrin masih histeris sambil menutup mata dan melindungi kepalanya dengan tangan. Aku yakin ia kini sedang membayangkan bom ini akan meledak, melempar kami ke luar jendela, menghanguskan kami, memecah tubuh kami hingga organ kami berceceran dan sebagainya. Beruntung timer di bom itu mendadak saja berhenti sesaat setelah kabelnya kupotong.

“Hey, Jung Hyunrin,” panggilku, menyadarkan gadis itu kembali ke alam nyata. Matanya menatap horor pisauku yang baru saja memurus kabel tadi. “I said blue… Atau mungkin kabel hitamnya yang harus dipotong, but whatever! We are alive, Jaerin-ah! Kita masih hidup! Oh my God. I thought I would die,” kata Hyunrin. ‘It’s over, Jung Hyunrin,’ kataku pada diri sendiri meski Hyunrin pasti tak bisa mendengarnya.

Berhentinya kerja bom di hadapan kami tentu saja membuat kami mengembangkan senyum puas terukir di wajah kami. Kini giliran Haneul yang akan melakukan tugasnya dalam mengetes kandungan zat dalam bom. Aku dan Hyunrin pun kembali turun ke bawah untuk menemui Mark dan yang lainnya, meninggalkan Haneul dan anggota forensik lainnya menelisik TKP. “Kurasa aku punya ide bagus untuk melindungi mereka.”

“Oh ya? Tell me.”

“Let them stay in our base.”

“You kidding me?”

“No.”

“They would die.”

“Trust me. They won’t.”

Dering ponsel memutus perbincanganku dengan Hyunrin. Tak menaruh curiga sedikitpun aku langsung mengangkatnya, “yes. Jaerin.”

“Halo agent.”

Jaerin terhenyak. Ia sadar kini ia tengah berbicara dengan si pelaku. Ia memberi isyarat pada Hyunrin untuk melacak nomor yang masuk ke ponselnya. “Bagaimana pesta penyambutannya? Meriah, bukan?” Jaerin masih berusaha mengontrol suaranya agar tidak terbawa emosi.

“Ya. Sangat meriah hingga FBI pun datang ke TKP, dan menjadi hot topic di Korea.” Ya. Jaerin tidak mengada-ada. Kini ia berada di tengah orang-orang berseragam FBI yang entah tengah melakukan apa karena ia pun tak peduli. Berita mengenai adanya bom pun telah tersebar ke seluruh Korea hingga mau tak mau nama CIFA pun mengudara.

“Baguslah, karena ini semua hanya permulaan. Setelah ini pasti akan menjadi lebih menyenangkan. Silakan tunggu undangannya. Sampai jumpa. Dan.. Senang melihatmu, Avera Caeli.”

Jaerin menekan layar ponsel touchnya keras-keras ketika memutus telepon tadi, seakan dengan begitu rasa kekesalannya akan berkurang. Hyunrin datang ke arahnya ragu, takut kalau kekesalan Jaerin akan berdampak pada info yang ia bawa. “Sorry I lost him. Sinyal dari ponselnya dipantulkan ke server-server di Eropa.”

“Ada yang lebih buruk, Hyunrin-ah.”

“Apa?”

“That bastard… he knows my real name. It means he know me inside the building. Inside CIFA.”

Jaerin pun hanya bisa menghela napas berat sebelum akhirya memutuskan untuk keluar sebentar, meninggalkan Hyunrin yang masih mencerna perkataannya tadi. Kris yang menunggu di luar pintu menatap gadis itu penuh tanya, “mau ke mana, Song Jaerin?” Yang ditanya pun berbalik malas dan menjawab, “coffee. Hey, Jung Hyunrin! Jangan lupa evakuasi mereka ke paviliun!”

“On it.”

Jaerin POV end

***

Jaerin berjalan pelan menuju taman sambil meneguk kopinya sesekali. Beruntung gelapnya malam itu tertandingi oleh lampu-lampu taman yang bersinar terang hingga ia tak perlu takut lagi dengan penguntit yang senang berada dalam gelap. Gadis itu duduk manis di bangku taman, memandang ke langit yang agak mendung, meski masih tampak purnama di balik awan hitam. Mungkin bagi sebagian orang malam ini terasa menyeramkan. Namun tidak bagi Jaerin.

Gadis itu begitu merindukan malam malam purnama seperti saat ini. Seperti dulu ketika masih ada ‘dia’ di antara mereka. Dia yang selalu menemani harinya, malamnya dan tidurnya. Dia selalu menjaga Jaerin, menyayanginya dan begitu perhatian padanya. Namun karena kebodohannya di masa lalu, tak ada lagi ‘dia’ baginya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Jaerin tersentak ketika sebuah suara seorang lelaki muncul dari belakangnya. “Maaf. Aku tak bermaksud mengagetkanmu,” lelaki itu merasa bersalah. Bagi Jaerin, lelaki ini cukup tampan. Rambut cokelat kemerahan lurus dengan poni pendek menutupi sebagian dahinya, mata yang agak kecil, dan jangan lupakan lesung pipit yang membuat pria itu makin terlihat manis.

“Apa yang seorang Zhang Yixing lakukan di sini? Tak mungkin hanya untuk menemui ku, bukan?” kata Jaerin dengan nada sarkatis. Lelaki tadipun tersenyum, “sayangnya memang itu alasanku.”

‘Cih, tipe pemikat wanita.’

“Eyy, aku serius dengan ucapanku. Tadi itu bukan hanya sekedar untuk‒ you know. Aku hanya mengikuti instingku untuk menghampiri nona manis yang sendirian di taman tengah malam begini.”

“Dan kalau ternyata aku bukan manusia?”

“Mana ada hantu secantikmu?” Ugh, Jaerin mulai jengah dengan lelaki ini, meski tak terelakkan kalau wajahnya memerah mendengar kata-kata manisnya. Tidak. Ini harus dihentikan bukan? Ia tak mau rasa malunya semakin menjadi kalau kalau Lay melihat semburat merah di pipinya. Terima kasih untuk Pangeran Kegelapan. “Tell me what you want.”

“Tadi kau baru saja menyebut namaku. Dan aku yakin kau sudah tahu siapa aku.”

“Sepupu Kris.”

“Yap! 100 untukmu.” Come on, dude!

“Kurasa perkenalan kita cukup sampai di sini. Kris dan yang lainnya ada di pavillion kalau kau ingin bertemu.”

“Jinjja? Baiklah. Tapi kurasa lebih baik kalau kita ke sana bersama.”

“Terserah.” Beriringan mereka menuju tempat Kris dan yang lainnya berada. Hyunrin masih sibuk menanyai beberapa petugas keamanan dan pelayan di rumah ini. Dari ekor matanya, ia melihat Kris dan Yixing langsung berpelukan erat seolah mereka sudah lama tak bertemu. Dan detik di mana ia melihat senyum ‘lelaki itu’ membuat dadanya berdesir tak karuan tanpa bisa ia tahan. Namun tak lama matanya menangkap kedatangan seorang tamu di tengah-tengah mereka. Pria dengan rambut hitam lurus dengan tinggi badan yang tak jauh berbeda dari tinggi Kris.

“Hey!” Untuk kedua kalinya gadis itu terlonjak kaget malam ini. “Kau mengagetkanku, pabo!!” Hyunrin tersenyum penuh maaf karena ia sama sekali tak berniat melakukannya. Ia pikir Jaerin sudah menyadari kedatangannya dan Haneul karena biasanya anak itu sangat peka dengan sekitarnya. “Apa yang kau lihat, hm?” celutuk Haneul.

‘Sial. Sial. Sial. Apa aku sebegitu terpesona dengan senyumannya hingga Haneul berani menggodaku?’ Jaerin buru-buru membekap mulut Haneul dan membawa anak itu ke pojok ruangan. “Kau bilang apa tadi?” Haneul tergagap, mengalihkan matanya ke Hyunrin meminta pertolongan. “I-itu… bukan apa-apa. Aku hanya ingin bilang kalau bom tadi sepertinya ada sedikit kesalahan. Entah dalam pencampuran bahannya atau apa, tapi yang jelas untuk menjinakkan bom itu, tidak peduli kabel mana yang dipotong bom itu akan langsung mati. You first. Who is that guy?”

“Zhang Yixing aka Lay. Sepupunya.”

“How could you be sure about that?”

“I’m an agent. I know everything, including that guy.”

“Oh, jadi lelaki itu yang membuatmu mengeluarkan tampang idiot?” Ugh, Hyunrin memang selalu jujur, atau bahkan terlalu jujur.

“Kejadian langka, huh?” Ya. Benar sekali, Park Haneul.

“Sejak kapan aku punya tampang idiot?” Ayolah Jaerin. Percuma saja kau mengelak.

“Sejak pesona seorang Zhang Yixing mengalihkan duniamu.” Haneul dan Hyunrin memang duo penggoda sepertinya.

“Diam kalian.” Nona Jaerin masih tetap dengan topengnya, huh?

“Lay memang tampan. Benar kan, Haneul-ah?” Nah. Buktinya Haneul mengangguk. Akui saja, Song Jaerin.

“YA! SIKKEURO!!”

“Haha, mukamu memerah, Song Jaerin. Aigoo..”

“Shut up. Now yours.”

“Park Chanyeol. FBI.”

***

Maybach Landaulet milik Jaerin meluncur mulus di jalanan Kota Seoul yang kala itu sangat sepi. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, di mana orang-orang kini tengah terlelap dalam tidur dan hanyut dalam bunga tidur mereka. Kris yang duduk di bangku penumpang kembali merasa tengah dalam masa hukuman karena harus selalu berada dalam jangkauan Jaerin di manapun ia berada.

Seperti halnya saat ini. Mereka hanya berdua dalam mobil yang entah akan melaju ke mana. Berulang kali ia menengok ke arah kaca spion, mengecek apakah mobil Haneul atau Hyunrin ada di belakangnya dan berulang kali juga ia menghembuskan napas lega karena mereka masih setia mengekor. Sungguh ia benar-benar takut Jaerin akan membawanya ke tempat-tempat aneh, menyekapnya, atau lebih parahnya lagi membunuhnya.

“Kau tidak akan membunuhku, bukan? Membuang mayatku ke tempat yang jauh dari kota hingga kau tidak bisa tertangkap?” Bukan kalimat itu yang sebenarnya ingin ia keluarkan. Namun entah karena kegugupan atau ketakutannya lah kata-kata itu yang justru meluncur begitu saja dari bibirnya.

Jaerin menyeringai kecil mendengar pertanyaan Kris yang menurutnya terlalu gila. Bagaimana mungkin ia berani membunuh orang yang menjadi tanggung jawabnya kini? Ah, tapi tak ada salahnya bukan kalau ia sedikit bermain-main kali ini? Lagipula ia juga bosan karena sejak tadi mobilnya terasa hening. Memang pada dasarnya tiap kali ia membawa mobil itu keheninganlah yang selalu menyelimutinya. Itu semua karena ia sendirian di mobil. Lain hal nya kini. Dengan Kris duduk di sampingnya, seharusnya suasanya menjadi sedikit ‘menyenangkan’ bukan?

“Kalau aku bilang memang itu rencanaku, bagaimana? Apa kau akan meloncat turun dari sini sekarang juga agar tidak kubunuh?” Bisa Jaerin lihat tubuh Kris menegang sedikit di tempatnya. Gadis itu yakin seyakin-yakinnya kalau Kris pasti tengah berpikir, ‘Benar juga. Apa aku lebih baik loncat dari sini sekarang juga? Ah tapi mati di jalan sama sekali tidak elit.’

Kris mendelik horor ke arah Jaerin, sedang gadis itu kini tengah menahan tawanya kuat-kuat karena wajah Kris yang menurutnya nampak seperti sapi yang hendak disembelih. “Kau gila! Ya!! Turunkan aku sekarang!!”

“Pabbo-ya. Kenapa tak dari kemarin terlintas di otakku untuk membunuhmu? Sayang sekali saat ini bukan itu rencanaku.”

“Then what?! Apa belum puas dengan semua ini? Maksudku, belum sehari kau resmi menjadi pengawalku dan baru saja ada bom di rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungan kami? Asal kau tahu saja, rumah itu dirancang agar tak satupun- uhmpphhh!!”

“Bisakah kau diam? Cepat turun atau kau akan benar-benar mati ditanganku sekarang juga.” Kris melihat ke luar mobil sambil melepas tangan Jaerin yang membekap bibirnya tadi. Ia sama sekali tidak sadar kalau mobil ini sudah terparkir manis sejak beberapa detik lalu. Mereka telah sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi dengan model bangunan yang cukup modern, berbanding jauh terbalik dengan bayangin Kris sebelumnya.

“Di mana ini?”

“Classified. Ini base CIFA tempat kami bekerja. Ayo jalan. Kita harus cepat sampai ke SHIFT,” kata Jaerin sambil mengambil tas besar dan sebuah koper hitam dari dalam bagasi.

***

Hyunrin POV

Aku dan Baekhyun berjalan santai menyusul Jaerin dan Kris yang sudah lumayan jauh di depan. Tidak seperti sebelumnya, Baekhyun kini menjadi lebih pendiam selama perjalanan tadi. Apa mungkin karena ia masih shock mengetahui ada bom di kamar mereka tadi?

“Hyunrin-ah?”

“Hm?”

“Apa setelah ini semuanya akan berakhir?”

Aku menoleh ke arah Baekhyun. Kulihat mata sipitnya memandang ke atas, ke arah bulan yang kini menampakkan dirinya sepenuhnya. Fullmoon. Ah, aku jadi ingat dulu ketika kami bertiga seringkali menghabiskan malam di atap asrama CIFA, mendirikan tenda di sana, bernyanyi dengan petikan gitar di malam hari ketika fullmoon seperti ini. Benar-benar indah. Namun sayangnya rutinitas manis itu hanya menjadi kenangan bagi kami sekarang.

“Aniyo. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi aku yakin ini semua baru permulaan.” Baekhyun menghela napas berat seolah dengan begitu semua bebannya akan hilang bersama angin. Namun nyatanya tidak semudah itu. Terlalu banyak hal yang mengusik pikirannya, begitu juga denganku.

Mereka, para lelaki manja itu –begitulah aku dan yang lainnya mengecap mereka- tak pernah tahu bahwa semua ini jauh lebih rumit dari yang mereka bayangkan. Aku, Haneul, apalagi Jaerin tentunya juga merasa amat terganggu dengan semua ini. Dan satu-satunya yang dapat kami lakukan hanyalah bertahan.

Ya, bertahan.

“Ah ya, aku ingin menanyakan ini daritadi, tapi sepertinya ada saja kendalanya. Boleh aku tahu berapa umur kalian?”

“Haneul satu tahun di atasku dan Jaerin. Memang seharusnya kami memanggilnya unnie tapi kau tahu kan budaya di Amerika? Bahkan memanggil Ayah atau Ibupun dengan nama mereka.”

“Dan umur kalian..?”

“Ohiya. Haneul? Dia menginjak umur ke 17 tahun ini. Aku dan Jaerin masih-”

“KALIAN MASIH DI BAWAH 17 TAHUN!?”

Mungkin seharusnya aku tak perlu memberitahu si comel ini.

Hyunrin POV End

***

Haneul dan Luhan berlari kecil hingga menyamai langkah Jaerin dan Kris. Mereka berenam menuruni tangga yang membawa mereka cukup jauh ke bawah. Yang mereka lihat hanya gelap, dan hanya lampu redup di sepanjang tangga lah yang menerangi mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang dilengkapi dua kursi dan tombol-tombol rumit serta beberapa layar di depannya.

Awalnya Luhan mengira mereka sampai di ruang kerja gadis-gadis ini sampai akhirnya ia melihat seorang pria tua keluar dari kegelapan di sudut ruangan. “Selamat datang di Jaquiline Hunter.”

“Jacquiline Hunter? Apa itu nama ruangan ini?”

“Bukan, itu nama pesawat.”

“Mwo? Di mana pesawatnya?

“You already in, Luhan.”

ZIIPP.
Tiba-tiba pintu –yang entah datang dari mana- di belakang mereka bergeser menutup, mengeluarkan bunyi desisan yang cukup terdengar. “Jadi… ini… pesawat?” Luhan tercengang ketika ia baru menyadari kalau tangga panjang tadi langsung menggiring mereka memasuki pesawat. Lelaki tua tadipun mengangguk sebagai jawaban. “Kenalkan, ini Ayahku, Mark. Dia yang akan membawa kita ke SHIFT.”

“Dia ayahmu?”

“Ah, I see no difference.”

“Apa ia seberbahaya Jaerin?” cicit Baekhyun. ‘Oh tidak. Aku tak berani menengok ke arah Jaerin’ pikir Luhan karena ia bisa merasakan tatapan Medusa gadis itu menusuk dari belakang mereka. “Hey, hey. Kita harus ke sana secepatnya, bukan? Let’s go,” suara Haneul menyahut, terdengar berusaha menenangkan gadis itu.

“Perjalanan ini akan memakan waktu yang lama, Tuan-Tuan. Biar kutunjukkan di mana kalian bisa beristirahat.”

Luhan masih terlarut dalam lamunannya selama beberapa saat. Ia berdoa semoga pesawat ini tidak seburuk pesawat pengangkut barang yang sering ia lihat di tv, di mana banyak imigran gelap yang ikut menumpang dan fasilitas yang buruk.

Pintu yang terbuka menampilkan sebagian ruang kabin pesawat yang dilengkapi sofa besar yang saling berhadapan dengan jendela di sampingnya. Sebuah meja menjadi pembatas dan tampak beberapa gelas minuman dan berkas tergeletak di atasnya.

“Uwaah, daebakida,” Baekhyun terpekik kagum. “Kalian tahu? Seluruh bagian pesawat ini di desain Haneul dan Jaerin. Teknologi di pesawat ini juga di modifikasi olehku sendiri. Hebat bukan?” kata Hyunrin, memasang wajah paling angkuh yang ia bisa. Mendengarnya, Kris sontak menatap sinis Jaerin, “bocah tengik ini yang mendesainnya? Aku tak percaya.”

“Kurasa aku benar-benar harus membuang makhluk ini ke luar,” kata Jaerin. Syukurlah sebelum Perang Dunia ke III dimulai, ups, maksudnya pertengkaran kecil mereka, suara Mark berhasil menghentikannya dari ruang kokpit. “Wheels are up in five. Get ready, all.”

Melihat Haneul langsung duduk manis di salah satu bangku dan memasang seatbelt, semuanya pun mengikuti. Luhan sama sekali tak berani menoleh ke luar dari jendela di sampingnya mengingat phobianya akan ketinggian. “Kapan kita akan sampai?”

“Sekitar 20 jam dari sekarang. Berdoa saja tidak ada badai.”

“Ya. Terakhir kali kita ke sana, ada badai yang cukup besar. Haneul bahkan sampai muntah karena pesawat terus berguncang.”

“Tidak usah membuka aibku. Kalaupun ada badai lagi, kira-kira akan memakan waktu 4 jam lebih lama.”

Hell.

***

Di dalam pesawat..

Pesawat pun berhasil take off dengan lancar. Setelah lampu tanda seat belt padam, mereka beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Sebuah pintu geser di belakang mereka terbuka, namun kali ini bukan sofa sofa besar nan nyaman lagi yang disuguhkan, melainkan hanya menampakkan beberapa pintu di kanan kiri kabin yang terlihat lebih sempit dari kabin di depan. Haneul membuka salah satunya yang ternyata merupakan sebuah kamar. “Silakan pilih kamar kalian masing-masing. Kamar kami ada di ujung sana.”

Baekhyun langsung saja membuka pintu di dekatnya, melongokan kepalanya dan kembali menatap Jaerin. “Isn’t it a bit too small?”

“Terserah. Kalian bisa tidur di kursi tadi kalau mau,” kata Hyunrin. Kris buru-buru tidur di atas kasur, tak ingin menyia-nyiakan waktu yang mereka punya untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Tak lama, lelaki tinggi itu sudah terlelap dalam tidurnya, meninggalkan orang-orang di sana menatap ia takjub. “Better we getting off from here, buddy,” kata Haneul.

“Out.” Jaerin mengoreksi kalimat Haneul sambil menggiring mereka semua keluar.

“Can you stop using Hanidioms here, please?”

“Great. Now everbody just complaining my English.”

***

Luhan POV

Aku hanya terdiam melihat 3 wanita ini berdebat di depanku. Topiknya pun masalah yang benar-benar sepele. Oh come on, ada masalah yang lebih pelik dari itu. Sebelum mereka kembali berdebat, aku buru-buru membuka pintu di seberang kamar Kris dan langsung masuk ke dalam.

Dari sini aku masih mendengar sayup-sayup suara mereka. Dan tak lama, terdengar suara pintu menutup dari kamar di sebelahku, dan aku yakin itu kamar yang dipilih Baekhyun. Aku berusaha menutup mata, mengusir bayangan-bayangan aneh yang berkelebat tentang apa yang akan terjadi setelah ini.

Aku tak yakin ada yang lebih buruk dari apa yang kualami hari ini. Bermula dari kedatangan mereka, yang ditunjuk Appa sebagai instruktur atau pengawal atau apapun itu, namun semua itu justru membawa bencana bagi kami.

Dalam 24 jam paling buruk dalam hidupku, menghabiskan satu hari penuh di dalam pesawat, aku hanya bisa berharap semoga tak ada kejadian aneh lagi di sini. Lagipula bukankah ada Mark? Lelaki itu pastinya punya lebih banyak pengalaman bukan? Sudah pasti keamanan di sini sudah terjamin.

Pabbo, aku hanya bisa menghibur diri, hal yang sama sekali tak berguna. Bersama orang-orang ini tidak menutup kemungkinan bahaya masih mengancam kami. Atau justru kamilah target sebenarnya?

Luhan POV end.

***

Italia 8 a.m

Sinar matahari yang cukup terik dan suasana pantai menyambut mereka sesampainya di SHIFT. Namun kini bukan saatnya untuk bersenang-senang. Seorang yeoja menghampiri mereka, dengan riangnya masuk begitu saja ke dalam pesawat. “Selamat datang di SHIFT, Tuan-Tuan. How’s the trip?”

Baekhyun menganga melihat pemandangan di depannya. Seorang Song Jaerin menghampiri mereka dan menyambut dengan senyum lebarnya? ‘Bukankah tadi ia masih ada di dalam pesawat?’ pikir Baekhyun. Mata gadis itu yang –oh God. It’s beautiful! Mata yang bulat sempurna, bening dengan manik cokelat madu‒ kini terlihat jelas karena seingat Baekhyun, gadis itu lebih senang menutupi sebagian wajahnya dengan poni panjangnya yang seringkali membuat orang bergidik ngeri. Namun kali ini poninya dijepit ke atas, menampilkan bentuk dahi yang sempurna dan mata cantik yang kini melengkung membentuk bulan sabit membuat siapapun yang melihatnya akan terkesima. Eyesmile yang indah.

“Jaerin? Apa kau salah minum obat?” celutuk lelaki itu. Gadis yang dimaksud hanya menampilkan sederet giginya dan membentuk bibirnya menjadi senyum jenaka. “Dia bukan Song Jaerin,” sahut seseorang dari belakang. Haneul.

“Maksudmu?”

“She is Jaerin’s twin sister. Song Saerin.”

“Yap, benar kata Haneul. By the way, where is Jaerin?” tanya Hyunrin.

“Right here.” Nah. Kalau suara ini sudah familier di telinga mereka. Suara yang dingin, tajam dan tanpa emosi tentunya hanya dimiliki Jaerin. “Uwaaah, Jaerin-ah! Bogoshippoo!!” Saerin langsung saja berlari menghambur ke arah Jaerin sambil membentangkan tangan lebar-lebar, bermaksud memeluk adik kembarnya itu.

Namun Jaerin secepat mungkin menghindar, membungkukkan badannya hingga mau tak mau Saerin hanya memeluk udara kosong di depannya. “Ya! Tega sekali kau! Don’t you know that I really really miss you huh? Sudah berapa tahun sejak aku dipindah tugas ke sini, berpisah denganmu yang masih ingin berlatih di pusat CIFA. How’s Manhattan, anyway?”

Jaerin menatap malas ke arah kakaknya. ‘Kapan sikap hypernya akan berubah, Tuhan,’ runtuknya. “Training, Saerin.”

Seakan baru mengingat sesuatu, Saerin tanpa sadar memukul dahinya sendiri menimbulkan suara yang cukup keras. Tampaknya ia terlalu kuat memukul dahinya hingga kini ia merasa kepalanya sedikit berputar. “Aigoo. Kepalaku…. Ah ya! Pelatihannya! Aku sampai lupa. Setelah ini kalian akan berkeliling untuk melihat seluruh bagian SHIFT. Jaerin, Haneul dan Hyunrin harus mengurus beberapa hal dulu sementara kalian bertiga akan ditemani Mark. Dan setelah itu kalian akan berpencar untuk memulai pelatihan dengan instruktur masing-masing.”

“Pelatihannya dimulai hari ini juga!?” tanya Luhan. Saerin mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya. Berbeda dengan namja-namja itu yang bahunya kini merosot lemas karena sama sekali tak punya waktu luang untuk bersenang-senang. “Tenanglah. Kalian akan tahu nikmatnya bekerja di sini setelah mendapat tugas.”

***

Mark menemani tiga namja tadi berkeliling SHIFT, memberi mereka sebuah tour singkat dengan menjelaskan beberapa hal mengenai tempat yang mereka datangi. “Di SHIFT, mereka bertiga sering terlihat di Base 1, 3, 7, 8, 11 dan 12. Base 1 untuk bagian memanah, 3 untuk pelatihan menyelam, 7 untuk menembak, 8 untuk beladiri, 11 untuk bahasa dan 12 untuk bagian biologi termasuk forensik di dalamnya.”

Mereka sampai di sebuah padang rumput luas, menampilkan hamparan hijau yang menyejukkan mata. Sebuah meja piknik di tempatnya di bawah sebuah pohon besar dan rindang. Apa mungkin mereka yang meletakannya di sana?

“Woah! Lihat itu!” Mark tiba-tiba berteriak antusias ketika melihat seekor kuda putih berlari cepat mengelilingi padang rumput di hadapan mereka. Kuda yang tampak sangat gagah terus menggerakkan badannya seolah ingin memamerkan pesonanya dengan bulu putih bersih dan rambut pirang di kepalanya yang bersinar tertempa sinar matahari. “Itu Eliza, kuda kesayangan Jaerin. Dia sama sekali tak mau ditunggangi siapapun kecuali Jaerin. Dan jangan coba-coba. Terakhir kali Saerin iseng mengelusnya, ia kena depakan Eliza hingga tulangnya retak.”

“Nah, kalau kuda hitam dengan rambut putih itu punya Hyunrin. Sedang yang cokelat muda punya Haneul. 3 kuda itu sering di sini bersama, mencari makan bahkan berlatih bersama dengan sendirinya. Mereka sulit sekali dipisahkan, sama seperti pemilik mereka yang selalu lengket.”

Mereka beralih ke base selanjutnya. Di pintu masuk, mereka diharuskan memakai penutup telinga karena suara bising yang bersumber dari tembakan. “Ini base pelatihan menembak. Kalian lihat yang ada di box nomor 7? Itu Jaerin. Tempat ini seakan menjadi kekuasaannya karena semua waktunya sering dihabiskan di sini.”

Tak ingin merusak konsentrasi dan mood anaknya, Mark kini beralih ke base memanah. “Base ini punya master yang belum pernah terkalahkan. Haneul dan Hyunrin. Meski terlihat, you know, it’s kinda like an old movie, aura di sekitar kalian akan berubah ketika dua gadis itu sudah memegang panah.”

Dari kejauhan, mereka melihat 2 gadis yang dimaksud datang dengan membawa panah masing-masing. Dan memang benar adanya apa yang dikatakan Mark tadi, mereka berdua terlihat… keren. “Hey. Apa yang kau ceritakan pada mereka, Mark?” tanya Hyunrin. “Perhaps, Mark was telling them about our transformers that look like cupin.”

Semua orang kini memandang Haneul dengan dahi berkerut. Lain halnya dengan Hyunrin karena dahinya sama sekali tak berkerut, melainkan matanya yang berkedut. “Cupid, Haneul-ah.”

“Oh yes. That, too.”

“And.. come on. Transformers?” cicit Hyunrin.

“Huh?”

***

-Office Room-

Setelah hampir sejam berkeliling, para namja tadi diberi waktu beristirahat. Tempat-tempat yang mereka kunjungi tadi belum mencapai seperempat dari keseluruhan base ini. Kini mereka dibawa ke ruang pusat di mana kegiatan di balik meja berada. “Thanks to you, setidaknya space kami menjadi lebih luas dari sebelumnya,” kata Hyunrin. Tempat mereka yang tadinya hanya berupa 3 meja kini ditambah menjadi 6 meja membentuk lingkaran yang cukup besar.

“Apa di sini tidak ada tempat untuk berbaring?” tanya Kris.

“Ada. Kalian bisa ke tempat Haneul kalau mau,” sahut Hyunrin.

“Benarkah? Kenapa tidak daritadi. Ayo ke sana.”

“Maksudnya Kamar Mayat. Kalian bisa berbaring di meja autopsi. Dia ahli forensik, ingat?” kata Jaerin.

“YA!!! Bocah tengik!!”

Beberapa jam mereka habiskan untuk merilekskan tubuh di meja kerja masing-masing. Tak jarang salah satu dari 3 namja itu bangkit untuk melihat-lihat sekeliling mereka yang penuh dengan alat-alat yang masih baru di mata orang awam. Merasa cukup dengan waktu istirahat yang diberikan, Jaerin memberi kode pada Hyunrin dan Haneul untuk segera mulai latihan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang waktu setempat, dan mereka harus menyelesaikan sesi pertama latihan sebelum jam makan siang. “Xi Luhan. With me.” Haneul menginstruksikan Luhan untuk ikut dengannya yang langsung dipatuhi tanpa basa-basi.

“And you, Mr. Bacon. You with me.” Hyunrin menggerakkan telunjuk lentiknya seraya tersenyum penuh kemenangan saat mengatakannya. Baekhyun hanya bisa mencibir melihat kelakuan Hyunrin. Tak dapat dielakkan kalau tingkah gadis-gadis ini benar-benar di atas batas keabnormalan. “Kau menantangku duel hah? Aku ini juara taek won do, tahu?” Baekhyun balas menantangnya. “Lalu? Apa kecepatan kakimu bisa lebih cepat dari kecepatan peluruku, Baekhyun?”

Sial. Baekhyun sama sekali tak berkutik mendengar penuturan Hyunrin. ‘Benar juga sih. Percuma aku melawan ia dengan bekal taek won do ku saat menang di kejuaraan waktu SD.’ Mereka pasti akan langsung melawan dengan pistol mereka atau kemungkinan terbaiknya dibalas dengan bantingan. Gadis yang menyeramkan.

“Araseo. Aku kalah.”

“What about me?” Kris menunjuk dirinya sendiri saat hanya dirinya lah yang tersisa di ruangan itu bersama Jaerin. “With me.” Kris menghembuskan napas keras-keras. Apa penderitaan mereka dalam waktu hampir 48 jam ini belum cukup?

*** To Be Continued ***

<<NEXT CHAPTER>>

“YA! PARK HANEUL!! BERHENTI DI SANA!!”

“Kalau aku menolak?”

“Aku.. Aku akan menciummu!!”

“Coba saja kalau berani. Tapi biar kuingatkan kau satu hal.”

“Apa?”

“Sebelum kau berhasil menciumku, kau akan lebih dulu jatuh ke bawah sana.”

“Mwo!? K-kau ingin aku mati ya!?”

“Menurutmu?”

***

“Apa-apaan ini?”

“Itu…”

“Ini ibu jari kaki kanan, Byun Baekhyun! Bukan kelingking tangan kiri!”

“Apa bedanya?!”

“Jelas beda! Lebih besar mana hah? Coba bandingkan dengan telunjukmu sendiri!”

“Andwe!! Jauhkan benda itu dariku!! Aku hanya tak ingin memegangnya lama-lama!”

“Cih.”

***

Beda dengan 2 temannya yang lain, Kris kini di bawa ke sebuah ruangan kecil dan gelap di ujung bangunan SHIFT. Lelaki itu menaruh perhatiannya pada eksterior ruangan itu yang lebih nampak seperti bunker daripada ruang pelatihan.

“Untuk apa kita ke sini?”

Jaerin tersenyum licik. Ia meraba dinding di antara gelap dan menyalakan lampu dalam sekejab. “Selamat datang di Hell Room.”

BONUS:
*Hanidioms*
“…our transformers that look like cupin.”
The real meaning is “…our transformation that look like Cupid.”

18 responses to “[Freelance] CIFA Agents [Welcome Probies! – CHAPTER 2]

  1. jujur aku ngga terlalu ngerti sama ceritanya karna terlalu banyak bahasa inggris. Aku ngga terlalu bisa bahasa inggris-mungkin emang ngga bisa- jadi aku lewatin aja kalo ada kata2 inggris. Dan itu malah buat aku semakin pusing karna ngga nyambung. Aku ngga mungkin mengartikan itu semua apalagi itu banyak bangey. Jadi kalo bisa chingu setiap ada kata2 inggris, disampingnya ditulis kurung dan artinya biar reader yang lain bisa mengerti-khususnya yg ga bisa bahasa inggris- karna aku rasa reader yang lain sependapat. Dan itu juga kalo chingu ngga keberatan. Next part dan fighting untuk part selanjutnya^_^

    • Halo. Sebelumnya maaf kalo di chapter ini terlalu banyak inggrisnya, karena e,g uthor nyesuain sama pperan mereka bertiga yg emg American, kecuali Haneul tentunya. Chapter selanjutnya author usahain ngurangin dialog inggrisnya deh ya. Thanks for reading by the way. Tunggu selanjutnya ya ^^

  2. kyaxny bhsa inggris ny haneul blm trllu bgus ya…

    bgus thor….. aq penasaran hell room it ruangan ap sih???

    next chapny jngn lma’ thor…
    fighting

    • Haha dia emang suka bgt bikin idioms sendiri. Namanya juga masih belajar kayak kita/? Thanks for reading. Ditunggu selanjutnya ya ^^

  3. ceritanya menarik..
    tp yg ini pendekan yah? atau cm perasaanku?

    jgn bnyak bhs inggris yah,, aku faham sbnernya, tp kalo dilanjtin bc stelahnya jd kurang pas..(bingung)..

    next chap jgn lm*,

    fighting

  4. Jgn2 di next chapter luhan nembak haneul lagi o.O
    Bhs.ingg-nya cukup banyak di part ini, untung aja saya ngerti yehetttt
    Hell room? Ruang neraka o.O penasaran
    Next ditunggu ^^

  5. keren..keren..
    sebenarnya aku masih agak bingung dengan alur perkenalannya. ciri fisik tokoh jaerin,haneul dan hyunrin jarang disebut. jadi saat baca percakapan tokoh, gak tahu siapa yg ngomong duluan diantara mereka.
    part ini udah bagus kok, komedinya seru. next chap lebih cepat di post ya author.
    ditunggu next chapnya. keep writing. >o<
    figting!!!
    (^0^)9

  6. Nice post. I learn something new and challenging on sites I stumbleupon every day.
    It’s always interesting to read through articles from other writers and practice something
    from their websites.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s