[Freelance] Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : Two]

Camera 360

Title : Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : Two]
Author : Safira Bella/@fira_bella
Genre : Sad, Romance, Angts, Marriage life, Etc.
Cast :
 Xi Luhan (EXO)
 Alexandra Wu/Xi (OC)
 Xi Ziyo (OC)
 And Others.
Rated : PG-17
Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys 
Kunjungi blog pribadiku http://sbella92.wordpress.com/ disana kalian bisa baca karya-karyaku. Sedikt berantakan karena baru aja buat. Ku tunggu kunjungan kalian ^^
Happy Reading \(^o^)/

 

Gadis itu menggeliyat gelisah dan tak lama sedikit demi sedikit mata almond itu terbuka menampilkan sebuah kegelisahan dan kesedihan yang begitu mendalam.

“Dear”

“Oppa!”

Alex langsung memeluk Luhan begitu melihat suaminya ada di dekatnya.

“Oppa”

“Aku disini dear”

Luhan mengeratkan pelukannya merasakan tubuh sang istri bergetar begitu hebat.

Luhan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas begitu sampai di café, Tao langsung memboyongnya menuju kamar. Sampai di kamar pun Luhan tidak begitu paham dengan kondisi jika saja Suho tidak memberitahu perihalnya.

Tiba-tiba saja Alex berlari meninggalkan Ziyo mengejar entah apa. Yang jelas dari raut wajahnya Alex begitu terkejut. Bahkan Luhan tak sampai pikir Alex sampai pingsan di pinggir jalan. Sehun yang mengatakan karena pemuda itu yang mengejar sosok Alex hingga menggendongnya kembali ke cafe.

“Oppa”

“Katakan apa yang terjadi?”

Luhan membingkai wajah Alex dengan kedua telapak tangannya, Menatap begitu dalam mata istrinya.

“Ak—aku me—lihatnya….” Luhan menyatukan alisnya.

“Melihat siapa dear?”

Luhan semakin bingung dengan sikap istrinya. Wajah Alex begitu pucat dan berkeringat seperti melihat hantu di siang bolong.

“A—aku me—lihatnya…. A—ku me—lihat K-Kim….”

“Atur nafas dear tenanglah?” Luhan menghapus bulir keringat di dahi istrinya.

“K—Kim Jongin…. A—ku melihatnya…. D—dia masih hidup…. Kai masih hidup oppa….”

DEG

Kim Jongin? Kenapa Alex masih menyebut nama namja itu? Bukankah Kai telah tewas karena pendonoran jantung waktu itu? Lalu, kenapa Alex masih menyebutkan nama namja itu dan mengatakan bahwa namja itu masih hidup? Kau bercanda? Jadi, Kai bangkit dari kubur, menjadi sosok hantu lalu mengambil cinta Alex yang selama ini terhalang tembok besar.

“Kai sudah mati Lex? Kau tahu itu kan—“

“Tidak! Kai masih hidup d—dan…. Dan dia berkeliaran di luar sana…. Dia masih hidup oppa….”

Alex mengguncang tubuh Luhan yang kaku tak berdaya. Gadis itu bersikap layaknya seorang pasien rumah sakit jiwa yang depresi karena kehilangan orang terkasihnya dan belum dapat menerima kenyataan yang ada.

“Itu mustahil Lex, Kai sudah lama meninggalkan kita?” Alex menggeleng frustasi.

“Kali ini percaya padaku oppa…. Aku bersumpah Kai masih hidup…. Dia menggunakan kaus yang sama saat kita berlibur di pulau Jeju…. Dia hmmhiks…. Andwe….” Alex meremas rambutnya.

Ia gila mengetahui Kai masih hidup dan berkeliaran di luar sana dengan bebas tanpa peduli perasaannya yang selama ini berdarah karena merasa bersalah telah menggunakan organ penting namja itu. Jika Kai masih hidup, kenapa ia justru hidup berjauhan dengannya. Seharusnya Kai hidup nyaman seperti member lain dan merintis masa depan yang lebih cerah. Kenapa justru namja itu berakting layaknya tidak mengenal pemilik café ini? Dan juga, jika fakta bahwa Kai masih hidup itu artinya jantung yang selama ini berdegup teratur di ruas dadanya bukan milik Kai. Lalu siapa pendonor itu?

“Kau salah orang Lex”

Luhan menatap kosong istrinya. Pikiran Luhan mendadak kosong bak komputer yang terpaksa di restart ulang, blank. Ia yakin dari ekspresi Alex bahwa istrinya itu tidak berbohong. Terlihat dari sorot matanya yang begitu shock dan kosong. Dan lagi, air mata itu tidak dapat mengecoh Luhan bahwa istrinya itu tengah bersandiwara. Luhan tidak tahu harus berbuat apa? Alat geraknya mendadak mati rasa begitu Alex terus menerus meyakinkannya bahwa Kai masih hidup dan ada di sekitar mereka tanpa mereka ketahui.

Luhan bingung. Di satu sisi ia senang jika Kai sungguh masih hidup sehingga ia tidak terus menerus melihat wajah lelah Alex karena terus memikirkan namja itu. Di sisi lain, ia takut Kai kembali namun justru membawa petaka bagi rumah tangga mereka. Luhan hanya tidak mau usahanya selama ini menjadikan Alex miliknya hingga Alex yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia juga mencintainya pupus karena kedatangan Kai. Ia takut perasaan Alex yang dulu kembali dan setelahnya Kai pergi membawa Alex bersamanya.

Katakanlah Luhan egois tapi, apakah salah seorang suami melindungi apa yang menjadi haknya? Termasuk melindungi Alex dari siapapun yang hendak membawanya pergi tak terkecuali Kai.

“Oppa hiks…. Kai hmmhiks….”

Luhan kembali memeluk Alex. “Kau hanya lelah Lex, istirahatlah.”

Luhan mengisyaratkan kepada yang lain untuk segera keluar dari kamar, membiarkan Alex sendiri dan menenangkan pikirannya. Terlebih tangis Ziyo tidak membantu membuat Luhan hendak meledak. Ziyo sudah menangis saat Alex meninggalkannya begitu saja. Hingga saat ini tangis bayi itu belum juga reda bahkan pelukan sang paman –Kris- tak membuatnya gentar untuk terus menangis seolah ikut merasakan kepedihan sang ibu.

“Ta—tapi oppa Kai….”

“Ssst istirahatlah dear”

Luhan membaringkan Alex di ranjang mengucapkan kata-kata menenangkan hingga istrinya itu menutup matanya sejenak berharap beban pikirannya hilang saat ia bangun nanti.

“Aku harap kau salah orang Lex.”

Luhan melingkarkan tangannya di tubuh Alex. Mendaratkan kecupan di keningnya lalu ikut memejamkan matanya.

-ooo-

Semenjak peristiwa itu Alex tidak banyak bicara. Ia akan meresponnya jika itu harus kalau tidak, ia akan diam bak patung hidup. Luhan sebagai sang suami tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu juga tidak dapat memaksakan Alex untuk melupakan peristiwa itu.

“Dear hari ini kita jadi pergi kan?”

Luhan memeluk Alex dari belakang yang sedang sibuk membuat sarapan untuk mereka.

“Iya oppa.”

Luhan tersenyum getir. Dua hari sudah berlalu sejak peristiwa itu dan Alex terus mendiamkannya. Bahkan kata-kata manis yang selalu Alex curahkan untuk Ziyo juga tidak ada. Gadis itu seakan hidup dalam dunianya sendiri.

Luhan tahu bahwa istrinya itu belum sepenuhnya menghapus Kai dari pikirannya. Ia juga tahu Alex masih suka menangis di hadapan Sehun karena namja bermarga Kim itu. Luhan tidak apa-apa, asalkan Alex tetap setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Luhan pun tidak pernah melarang Alex jika foto Kai masih terpajang di salah satu sudut apartemen mereka. Intinya Luhan tidak pernah memaksa Alex untuk memberi hatinya sepenuhnya untuknya. Luhan bukanlah pria yang muluk-muluk dalam artian asalkan Alex di sampingnya ia akan baik-baik saja walaupun hati serta pikiran gadis itu melanglang buana ke suatu tempat. Bukankah Luhan suami yang baik? Mengapa begitu sulit bagi Alex melupakan sosok Kai?

“Kau dengar itu tampan, sebentar lagi kau akan memiliki kamarmu sendiri kau suka?”

Bayi itu bergerak-gerak di kursi mungilnya sebagai bentuk responnya.

“Kalau begitu habiskan makanan mu tampan.”

-ooo-

Sudah hampir 2 jam keluarga kecil itu berkeliling mall demi mencari perlengkapan kamar putra mereka. Semua barang sudah terbeli tinggal bagaimana mereka mengaplikasikannya sendiri.

“Dear kau mau es krim?”

Alex menghentikan dorongan kereta Ziyo ketika Luhan menawarkannya es krim.

“Tidak usah oppa, aku ingin segera sampai di rumah.”

Bukannya ingin menolak tawaran suaminya, hanya saja Alex ingin segera sampai di rumah dan segera mendesain kamar untuk putranya itu.

“Kau yakin? Lihat kedai disana ramai sekali, yakin tidak mau?”

Luhan menunjuk kedai es krim di depan mereka yang begitu ramai oleh pengunjung yang sebagian besar adalah anak muda, sama seperti mereka.

“Baiklah aku akan tunggu.”

“Tunggu sebentar, oke?”

Luhan bergegas mengantri di kedai es krim tersebut sedangkan Alex menunggu di kursi yang tidak jauh dari kedai tersebut.

“Ziyo lelah uhm?”

Alex mengusap pipi Ziyo yang sedari tadi begitu damai dengan boneka carsnya.

Alex meletakan belanjaannya di samping kereta Ziyo dan mencoba menikmati suasana mall yang terlihat begitu ramai. Jelas saja, ini merupakan hari Minggu. Hari dimana orang-orang menghabiskan waktunya dengan bersantai ataupun sekedar berjalan-jalan.

Gadis berambut hitam itu begitu menikmati suasana di sekitarnya. Tanpa sengaja iris matanya menangkap sebuah kedai minuman yang sudah tidak asing baginya. Minuman yang sangat ia sukai. Minuman yang sering kali Sehun dan Kris bawakan saat bertandang ke rumahnya. Minuman yang juga melambangkan sebuah kebahagiaan serta kerapuhan sekaligus. Minuman itulah yang membuatnya tahu siapa orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Dan dengan minuman itulah dimana Alex terakhir kali melihat senyum Kai.

Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air matanya karena ini adalah tempat umum dan juga Alex tidak ingin Luhan melihatnya semakin buruk. Hati Alex kian tersayat di saat sepasang kekasih membawa bubble tea dengan warna hijau dan ungu pucat –rasa lavender dan rumput laut- Alex mengingat Kai pernah memberinya dua bubble tea itu saat mereka sedang berjalan-jalan di taman kota dan pada saat itu kebersamaan mereka lenyap karena kedatangan Sehun.

Dunia Alex seperti berputar pada satu titik yang menenggelamkan isi perut gadis itu. Bahkan munculnya sosok asing yang mirip dengan Kai semakin membuatnya bertambah buruk. Entah bagaimana ceritanya sosok itu dapat muncul di hadapannya setelah sekian lama di nyatakan sebagai pendonor resmi jantungnya waktu itu. Tanpa sadar Alex berharap ia dapat kembali ke bulan Desember. Mulai dari peristiwa perkelahian Kai dan Luhan, ia yang berlari begitu saja menghindari penjelasan Luhan, penembakan di Mokpo, hingga Kai yang mendonorkan jantungnya. Jika saja waktu itu ia tidak berlari begitu saja mungkin Kai tetap hidup bersamanya dan kemungkinan Kai hidup bersamanya sangat besar. Secara tidak langsung Alex lah yang membuat Kai terperosok dalam lubang hitam yang sangat dalam.

Alex mengusap air matanya begitu melihat Luhan baru saja keluar dari kedai es krim dengan kantung berisi es krim di tangannya.

“Maaf lama menunggu. Ayo pulang.”

Luhan membantu mengangkat belanjaan sedangkan Alex mendorong kereta Ziyo menuju mobil Luhan.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Luhan begitu Alex mendudukan tubuhnya di sebelah Luhan. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen mereka.

“Ada apa denganku? Aku baik-baik saja.”

Alex tersentak begitu tangan Luhan mendarat di pipinya lalu mengusapnya lembut.

“Ada air mata di pipimu dear.”

Alex tak mampu membuka mulutnya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia sedang sedih. Ia ingin sekali Luhan menghibur dan memeluknya. Memperlakukannya seperti dulu dimana ia berada dalam masa terpuruk. Namun semua itu tertahan di tenggorokannya yang entah sejak kapan terasa sakit dan perih. Begitu juga dengan hatinya. Ia tidak ingin Luhan tersakiti karena alasan yang membuatnya sedih.

“Tadi ada debu. Mangkanya aku menangis.” Alex membuang pandangannya ke arah luar. Ia tidak ingin bertukar pandang dengan Luhan di saat ia berusaha untuk berbohong. Luhan dengan sangat mudah menebak isi hati dan kepalanya.

Walaupun Alex tidak melihatnya, ia dapat merasakan Luhan sedang memperhatikannya sekarang. Pandangan mata itu. Pandangan akan sorot kecemasan. Ia tahu bahkan sangat tahu Luhan sangat mencemaskannya sekarang. Tapi ia harus bagaimana? Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa kejadian waktu itu masih mengganggunya. Alex sangat yakin Luhan pun tahu alasan mengapa 2 hari ini ia hidup seperti patung. Sehingga membuatnya merasa bersalah jika harus kembali memperjelas perihal kegelisahannya selama 2 hari ini. Ia tidak ingin Luhan tersakiti seperti yang dulu-dulu.

“Kau hanya perlu jujur denganku dear. Aku tidak akan marah.”

Bella memilih menutup matanya daripada harus membeberkan alasan kegelisahannya selama 2 hari ini. Bukannya ia ingin mengacuhkan Luhan. Hanya saja, ia belum siap. Ia belum siap untuk berbagi masalahnya bersama Luhan. Tidak untuk yang satu ini.

-ooo-

Saat terbangun Alex menemukan dirinya berbaring di ranjang empuk di apartemen. Ia tidak menyangka bisa terlelap begitu saja di mobil. Niat awalnya ia hanya ingin menghindari pertanyaan Luhan dengan hanya memejamkan matanya. Tapi siapa sangka ia justru membiarkan rasa lelah memonopoli dirinya. Di dalam benaknya ia bertanya-tanya bagaimana cara Luhan membawanya hingga membaringkannya ke ranjang sedangkan Ziyo ada bersama mereka. Di tambah barang belanjaan yang tidak bisa di bilang ringan dan sedikit. Suaminya itu pasti kesulitan. Kenapa aku harus tertidur gumamnya.

Alex menyapukan pandangannya memperhatikan sekeliling kamar dengan pencahayaan temaram. Ada yang aneh. Walau dengan pencahayaan yang minim Alex dapat mengetahui secara pasti bahwa ada yang berubah. Begitu ia menyadarinya Alex langsung terlonjak dan segera berlarian menuju kamar sebelah.

Begitu sampai, Alex tanpa ragu membuka pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Pemadangan di depannya seketika membuat Alex lega. Ia pikir Ziyo hilang. Sadar akan kebodohannya Alex tersenyum hambar. Bahkan ia lupa bahwa hari ini mereka akan mendekor kamar sebelah menjadi kamar Ziyo. Namun dengan seenaknya ia justru tertidur dan membiarkan suaminya melakukannya seorang diri.

Alex melangkah lebih jauh ke kamar dengan aroma bayi yang begitu kuat. Ia mendapati Luhan sedang tertidur pulas di samping kasur kecil Ziyo. Alex meringis melihat posisi tidur Luhan yang tidak nyaman. Bagaimana ia bisa tidur dalam kondisi seperti itu bisik hatinya.

Alex berjongkok. Berniat membangunkan Luhan untuk segera pindah ke ranjang mereka sebelum ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tapi niat itu segera sirna begitu melihat wajah lelah Luhan. Letupan rasa sakit kembali menaungi rongga dadanya. Matanya kembali memanas melihat ekspresi tidur Luhan yang tidak biasa. Bahkan suaminya itu terlihat tidak tenang dalam tidurnya. Mungkin menurut orang Luhan terlihat begitu menikmati tidurnya. Tapi bagi Alex itu semua salah. Mereka sudah hidup bersama cukup lama. Alex sangat paham ekspresi Luhan.

Tangan yang tadinya hanya diam, kini mulai bergerak merayap ke sisi rambut Luhan. Ia menyisir rambut coklat kemerahan Luhan yang sedikit berantakan. Cairan hangat itu tanpa bisa di tahan meluncur begitu saja. Kembali rasa bersalah itu menghantuinya. Entah sampai kapan rasa bersalah itu selalu hadir dalam hidup Alex. Ia tidak bisa mencegahnya.

Tangan Alex kini merambah mengelus penuh sayang wajah suaminya. Wajah yang menyiratkan kelembutan dan penuh kasih sayang. Wajah yang selalu menampakan ekspresi menenangkan. Tapi tidak pernah membuatnya cukup untuk melepas rasa bersalahnya. Justru rasa bersalah itu kian meletup-letup dan membuatnya sulit bergerak.

“Kenapa kau begitu baik padaku oppa?”

Alex sudah tidak bisa menahan isak tangisnya. Gadis itu memilih meninggalkan ruangan itu tanpa harus membuat suara. Ia tidak ingin mengacaukan mimpi kedua lelaki itu.

Luhan yang sedari sudah terjaga, kini mulai membuka matanya. Pandangan matanya tertuju pada pintu yang baru saja di lewati oleh istrinya. Hatinya berdenyut merasakan pilu yang teramat dalam bertalu-talu hingga membuatnya sesak. Ia pun ikut merasakan rasa sakit yang di alami istrinya itu. Rasa sakit yang sulit di jabarkan hingga membuat siapa saja dapat menangis begitu pilu. Dan bodohnya, Luhan sebagai suaminya tidak melakukan apa-apa.

Luhan bangkit dari posisinya dan mencoba mencari keberadaan istrinya itu. Tanpa perlu bersusah payah, pria manis itu menemukan Alex sedang duduk diam di balkon kamar mereka. Pandangan Luhan tertumbuk oleh sosok gadis yang sedang membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya. Luhan yakin istrinya itu sedang menangis. Bisa di lihat dari bahunya yang naik turun tidak teratur.

“Dear….”

Sentuhan di pundaknya membuat Alex sontak mengangkat kepalanya dengan cepat. Luhan tidak salah mengira bahwa istrinya itu menangis. Lihat saja matanya.

“Op—oppa se—s—sedang apa disini?” Tanya Alex dengan suara seraknya.

Luhan tersenyum tipis lalu duduk di samping Alex.

“Aku terbangun karena mimpi buruk.”

Alex membulatkan mulutnya lalu segera bersuara. “Oppa tidurlah lagi. Besok oppa pergi bekerja kan?”

Luhan menoleh. Di tatapnya Alex yang juga sedang menatapnya. “Bersamamu dear.”

Alex menggeleng. “Oppa duluan saja. Nanti aku menyusul.”

Luhan memasang wajah cemberut. “Kau membiarkan suamimu tidur sendiri? Kau jahat nyonya Xi.”

Luhan berhenti tersenyum begitu menyadari Alex tidak meresponnya. Istrinya itu kembali memasuki dunianya. Luhan yang menyadari perubahan ekspresi istrinya mencoba menenangkan diri. Kali ini ia harus bisa membuat Alex membagi rasa sakitnya bersamanya. Ia tidak ingin membuat Alex terperosok begitu jauh ke dalam lembah hitam karena kecerobohan dirinya.

Luhan tanpa ragu menarik Alex hingga gadis itu bersandar di dadanya. Alex tersentak menerima perlakuan suaminya. Tapi mencoba bersikap wajar dengan menumpukan kedua tangannya di atas dada Luhan.

“Oppa kenapa?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu dear?”

Alex mengigit bibir bawahnya. Menahan rasa sesak yang bergejolak. Ia tidak ingin Luhan mengetahui secara jelas perihal masalahnya. Ia butuh waktu. Jika saja Luhan adalah sosok Sehun, ia tidak perlu berpikir dua kali untuk menceritakannya. Tapi ini Luhan. Xi Luhan, suaminya. Ayah dari Xi Ziyo. Ia harus menjaga perasaan Luhan. Selama ini Luhan begitu baik padanya. Segala bentuk perhatian dan kasih sayangnya, Alex akui membuatnya bahagia. Hingga terkadang dia lupa dengan beban yang selama ini ia tutupi dari suaminya.

“Aku baik-baik saja oppa. Lihat!” Alex memamerkan cengiran lebarnya di depan Luhan. Namun rupanya kali ini Alex harus benar-benar menampar dirinya. Luhan tidak membalas senyumnya. Justru suaminya itu menatapnya datar.

“Jangan sakiti dirimu sendiri Lex.”

“Aku tidak menyakiti diriku sen—“

“TAPI KAU MENYAKITIKU LEX!!”

Alex menatap Luhan kaget. Ia terkejut Luhan bisa berteriak seperti itu dengannya. Biasanya Luhan selalu bersikap lembut padanya. Tidak pernah sedikit pun Luhan pernah menyinggung perasaannya. Namun kali ini Alex hanya bisa memandang Luhan dengan sorot tak percaya. Dia bukan Xi Luhan. Dia bukan suaminya.

“Ke—kenapa?”

“Kau mengacuhkanku. Kau hidup dengan duniamu tanpa peduli dengan perasaanku dan Ziyo. Oke lupakan perasaanku, pikirkan tentang Ziyo. Dia anak mu Lex, anak kita. Jika kau ingin mengacuhkanku itu tidak masalah asalkan kau masih ingat ada Ziyo di sekitarmu. Kau ibunya seharusnya kau yang lebih banyak menyalurkan kasih sayang untuknya. Kau yang mengandungnya selama 5 bulan tanpa aku di sampingmu. Seharusnya kau dekat dengannya Lex!” Luhan langsung mengambil nafas dengan rakus begitu selesai melontarkan kekesalannya selama ini. Alex hanya bisa termangu melihat Luhan yang seperti itu. Semua perkataan Luhan membuatnya tertohok. Ia semakin merasa bersalah. Namun kali ini ia lebih menyesal karena Ziyo ikut andil di dalamnya.

“Oppa hanya tidak mengerti.” Alex mencoba membuka suara. Suaranya lebih mirip seperti tikus terjepit.

“Apa yang tidak ku mengerti eoh?” Luhan memandang Alex tajam. Bisa-bisanya Alex berkata bahwa ia tidak mengerti keadaannya. Luhan tidak habis pikir. Selama ini Luhan sangat mengerti keadaannya. Maka itu ia memilih diam daripada harus memberondong Alex dengan segudang pertanyaan yang justru membuat Alex semakin kacau. Luhan ingin memberi ruang lebih bagi istrinya, tapi siapa sangka Alex justru menanggapinya lain.

“Kau tidak mengerti betapa terpuruknya aku hidup seperti ini! Aku tidak sanggup menjalani hidup seperti ini! Aku tidak sanggup hidup dengan rasa bersalah seperti ini!”

“Kau….tidak bahagia bersamaku?” Untuk kedua kalinya Alex kembali tercengang dengan ucapan Luhan.

“Bu—bukan….”

“Kau tidak bisa menjawabnya kan?” Alex hanya menundukan kepalanya. Dia juga bingung dengan perasaannya.

“Baiklah kalau begitu.”

Luhan berbalik ke dalam kamar. Alex yang mendengar derap langkah menjauh segera mengangkat kepalanya. Luhan tidak ada di depannya. Indera pendengarnya menangkap suara gaduh dari dalam kamarnya. Alex buru-buru masuk dan menemukan Luhan sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper miliknya. Pikiran Alex mendadak kosong. Melihat Luhan dengan wajah tak terbaca mengobrak-ngabrik isi lemari mencari pakaiannya untuk di masukan ke dalam koper. Suara Alex tertahan di ujung lidahnya sampai Luhan menghampirinya dengan tangan yang menggeret koper.

“Op—oppa mau kemana?” Luhan menampilkan senyum terbaiknya. Namun Alex tahu itu bukan senyum tulus yang biasa Luhan tampilkan untuknya. Hanya senyum getir yang membuat dadanya sakit.

Luhan mengusap rambut Alex. “Kau butuh waktu berpikir Lex. Aku tidak ingin mendesakmu. Aku ingin kau mengatakannya sendiri padaku tanpa unsur pemaksaan dariku.” Luhan kembali tersenyum. Alex yang melihat senyum itu, kembali menumpahkan cairan bening dari matanya. Bagaimana ada suami sebaik Luhan?

“Oppa mau kemana? Oppa ma—mau meninggalkanku sendiri? Ziyo bagaimana oppa?”

Luhan menggeleng lalu memeluk istrinya itu erat.

“Aku tidak akan pergi kemana pun dear.”

“Lalu mengapa oppa membawa koper? Oppa ingin pergi kan? Oppa ingin meninggalkanku kan?” Luhan berusaha menahan tangisnya saat mendengar suara parau Alex meraung-raung padanya. Hatinya sakit. Dia tidak pernah bermaksud membuat Alex menangis. Namun ini keputusannya.

“Sudah ku bilang kau butuh waktu berpikir dear? Aku hanya ingin kau hidup bersamaku dengan kebahagiaan bukan karena rasa bersalah.” Luhan merenggangkan pelukannya. Di tatapnya wajah istrinya yang basah oleh air mata lalu tersenyum semanis mungkin padanya.

“Berhenti menangis. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan pulang setelah kau siap. Kau bisa menghubungiku kalau kau butuh bantuan.” Kedua ibu jari Luhan memutus jejak air mata istrinya yang senantiasa terus mengalir.

“Tapi oppa—“

“Sstt ini demi kebaikan keluarga kita dear. Pikirkan masa depan keluarga kita eum.” Kini Luhan bisa merasa lega. Karena Alex mulai menerima keputusannya walaupun terlihat sangat ragu. Tapi Luhan mengacuhkan egonya untuk terus bersama Alex. Setidaknya sampai gadis itu memberi jawabannya.

“Oppa hati-hati.” Alex merapatkan jaket Luhan dan beralih merapikan rambut Luhan.

“Tentu saja. Kau juga dear.” Luhan menarik pinggul Alex. Nafas mereka memburu begitu kedua hidung mereka bertemu. Tak lama Alex bisa merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Luhan menciumnya. Luhan melumat bibir bawah Alex sedangkan Alex melumat bibir atas Luhan. Mereka saling menyalurkan rasa sakit mereka melalui ciuman panas mereka.

Cukup lama mereka berciuman Luhan memilih mengakhirinya sebelum ia meralat keputusannya. Dengan jarak yang masih dekat Luhan memandangi mata Alex yang sedang menatapnya dengan pandangan sayu. Luhan tahu apa arti tatapan itu tapi ia memilih mengabaikannya. Karena ia ingin Alex tahu letak hatinya.

“Aku pergi. Aku mencintaimu.” Luhan mencium sekilas bibir Alex lalu beralih menggeret kopernya.

Alex belum sempat membalas ucapan Luhan tadi. Ia memandangi nanar punggung Luhan yang menghilang di balik pintu kamar mereka.

“Aku juga mencintaimu oppa….”

Tanpa Alex sadari Luhan menangis. Begitu melepaskan ciuman mereka Luhan sudah tidak bisa menahan gejolak di dalam dadanya. Maka itu begitu mengucapkan salam perpisahan Luhan memilih berjalan lurus tanpa harus menoleh ke belakang untuk sekedar tersenyum pada Alex. Ia tidak ingin melihat Alex semakin merasa bersalah karena telah membuatnya menangis.

-ooo-

Jam menunjukan pukul 06.45 pagi. Alex sedang bersiap-siap menuju kampusnya yang akan di mulai jam 8 nanti. Walaupun sudah menikah, Luhan tidak pernah melarang Alex untuk terus melanjutkan kuliahnya. Namun dengan persyaratan Ziyo harus selalu mendapat perhatian dari Alex. Karena bagaimana pun juga Ziyo masih terlalu kecil untuk di tinggal oleh ibunya.

Seperti saat ini Alex sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Iya hanya berdua. Mengingat Luhan sedang tidak ada bersama mereka. Mengingat itu Alex hanya bisa tersenyum pahit. Luhan memang sangat pengertian tapi terkadang membuat Alex sangat khawatir dengan kondisi suaminya itu. Luhan tidak pernah peduli tentang dirinya dan lebih menomor satukan dia dan Ziyo. Luhan benar-benar sosok suami dan ayah yang baik.

“Ayo Ziyo kita makan.” Alex mengangkat Ziyo dari kursinya dan memangkunya. Sebelumnya ia melepas dotnya untuk di beri air putih hangat.

“Pagi ini kau makan bubur wortel dan ayam. Kau suka?” Ziyo tidak merespon pertanyaan ibunya dan memilih memainkan dotnya.

“Wah pangeran Ziyo mencueki ibu. Jahat sekali pangeran ibu ini.” Sifat perhatian Alex tanpa sadar kembali mencuat ke permukaan. Karena sempat beberapa hari yang lalu Alex juga mendiamkan Ziyo.

“Nah buka mulutnya pangeran.” Alex sudah siap menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Ziyo yang bergerak-gerak lucu karena sedang mengigit-gigit dotnya. Tak lupa meniupnya terlebih dahulu agar mulut Ziyo tidak terbakar.

“Aduh pangeran ibu pintar sekali makannya. Makan yang lahap supaya cepat besar.” Tangan Alex mengusap-ngusap rambut tipis Ziyo.

“Hari ini ibu kuliah jadi tidak bisa menemani Ziyo bermain. Tapi ibu janji setelah pulang nanti ibu akan bermain dengan Ziyo.” Awalnya Ziyo hanya mengedip-ngedipkan matanya yang bulat. Lalu tak lama kemudian merangkak berdiri dan bersandar manja di lekukan leher Alex.

“Maaf ya sayang ibu tidak bisa menemanimu setiap saat. Tapi paman Dyo, paman Yixing, paman Minseok pasti mau menemani Ziyo bermain.” Alex menepuk pelan punggung mungil putranya. Kalau Ziyo bersikap seperti ini, ia sangat tahu apa artinya. Putranya itu tidak mau Alex meninggalkannya. Dia ingin Alex menemaninya bermain sepanjang hari lalu tertidur bersama di karpet ruang tv. Tapi Alex tidak bisa. Walau sebenarnya sangat ingin. Ia juga mempunyai kesibukan yang lain yang tidak bisa di tinggalkan.

Alex tidak mungkin bergantung pada Luhan. Suaminya itu sangat sibuk. Bahkan untuk sekedar mengisi perutnya saja ia bisa lupa. Bagaimana jika Alex menyuruhnya menjaga Ziyo juga? Ia tidak mungkin menyuruh Luhan untuk membawa Ziyo ke kantornya sedangkan pekerjaan Luhan jauh dari kata sedikit. Nanti justru Ziyo malah menangis tidak karuan di kantor.

“Ibu janji tidak akan lama. Setelah itu kita bisa bermain sepuasnya.” Alex memeluk Ziyo erat. Walaupun hanya sedetik saja, Alex tidak mau berpisah dengan putranya itu. Ziyo seperti boneka hidup yang selalu membuatnya sakit karena rindu.

“Nah sekarang ayo kita makan.” Alex kembali menyuapkan bubur itu. Di selingi dengan ia yang juga menyantap roti bakar ke mulutnya.

TING TONG

Alex menoleh ke arah pintu. Siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini. Apa itu Luhan? Mungkin ia ingin mengambil barangnya yang tertinggal. Tapi bukankah Luhan tahu password apartemen mereka? Untuk apa repot-repot menekan bel jika ia tahu. Itu artinya itu bukan Luhan. Kalau itu Luhan, pasti suaminya itu sudah masuk sedari tadi. Jadi Alex memilih berdiri setelah menempatkan Ziyo ke kursinya kembali.

“Iya tunggu sebentar!”

Tanpa melihat melalui intercom Alex sudah lebih dulu membuka pintu. Karena sepertinya tamu mereka sedikit tidak sabaran.

“Hallo Lex. Apa kabar?”

Mata Alex membulat. Di kala melihat sosok yang berdiri tegap di depannya. Sosok yang membuatnya enggan untuk sekedar mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Ka—Kai….”
To Be Continued…..

Akhirnya part 2 selesai juga. Maaf ya kalo keluarnya lama banget. Soalnya waktu itu mau mendekati ujian. Karena ujian telah usai, aku jadi leluasa nglanjutin ff yang terbengkalai. Nah ini udah ku usahain cepet loh. Jadi kalian wajib komen oke? Masalahnya gak gampang buat mikir ide di saat otak udah lama vakum dari penghalayan (?) Komennya di tunggu ^^

104 responses to “[Freelance] Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : Two]

  1. ini kesekian kalinya aku baca. Sbelumnya aku lupa udah kmen ato blom . Jadi aku mau komen lagi aja. Hihi

    suka sama tindakannya luhan yg ngasih waktu ke alex biar dia cerita langsung ke luhan 😦 sedih bacanya..

  2. kasian luhan..
    alex knp klo cinta luhan tp gak move on dr kai..
    trus knp kai tiba” muncul lg di kehidupan luhan dan alex!!!!!!! ..
    knp kai gak muncul ajh di kehidupan qu hehe di jamin lebih bahagia 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s