[Freelance] Cofeemilk : Looking Through the Eyes of Love (1)

looking 1

Title : Cofeemilk : Looking Through the Eyes of Love (1)
Author : Xane
Cast :
– Krystal of f(x)
– Kai and Sehun of EXO-K
Starring : Jessica of SNSD
Length : ¼; 3252 words
BGM : Mellisa Manchester – Looking Through the Eyes of Love

 

Sebuah burung besi berwarna putih bersih sedang menukik tajam, menuju hamparan aspal yang membentang luas di bawahnya. Burung besi, atau pesawat, itu meninggalkan gumpalan awan yang sedari tadi menemaninya di perjalanan, telah dinanti kedatangannya oleh bumi pertiwi.

Berbekal kemahiran dan keandalan, pesawat dengan sebuah logo berwarna marine di ekornya itu berhasil memijak bumi. Dengan selamat.

Satu per satu orang mulai keluar dari perut pesawat itu. Kulit albino, Asia, legam; mata biru, hitam, cokelat, hijau; rambut pirang, kecokelatan, abu-abu. Tak peduli bagaimanapun fisik mereka, mereka semua toh sama-sama manusia, bukan begitu?

“Seoul. Here we are.” Seorang lelaki pirang mendorong tas berodanya menjauhi badan pesawat.

Pintu otomatis terbuka.

Rombongan penumpang memasuki sebuah ruangan untuk mengurus segala administrasi–well, biasa, imigrasi. Tindakan preventif kriminalitas.

“Taxi, Sir?” Beberapa pria mulai menawarkan.

“No, thanks,” tolak lelaki itu lembut. “Where is she, Jeby?”

“Did tell her to pick us at 8.” Seorang gadis yang juga berambut pirang menyahut. Pandangannya berkelana, mencari sosok seseorang.

“Like unnie, like dongsaeng. I bet she’s now sleeping,” seloroh lelaki itu. Ia tertawa.

“Chaby.” Gadis itu seperti memprotes. “Ah! There she is!”

Dua pirang itu membawa tas dan koper mereka setelah sang gadis melihat sosok seseorang yang sedari tadi dicarinya. Orang yang dicari gadis itu tersenyum mendapati sosok mereka berdua.

“Had a safe flight?” tanyanya.

Gadis pirang mengangguk, diikuti pria pirang itu dengan candaan, ”Safe. And.. wet?”

“Hey, hey, my sister is innocent,” tegur gadis pirang, meski toh ia tertawa juga. “Kai tidak ikut?”

Sembari berbincang, ketiga orang itu berjalan menuju sebuah mobil yang sudah menanti mereka di sana; Volvo C70 berwarna merah cemerlang yang menyala seolah minta perhatian.

“Ah, how much I want to see the boy possible to steal your heart.” Pria pirang mengeluh.

“Krystal,” panggil si gadis pirang pada gadis di sebelahnya – adiknya. “Mike harus melancarkan bahasa Korea. Berhenti berbicara bahasa Inggris dengannya, setidaknya di sini.”

Krystal mengangguk. “Okay.”

“My Jeby – Jessica-baby,” Mike merajuk.

Gadis yang diketahui bernama Jessica itu menggeleng. “Michael Blake, ini tanahku, kau menurut padaku.”

“Baiklah, Tuan Putri.”

Krystal tersenyum. Kepatuhan Mike pada kakaknya, Jessica, membuatnya teringat akan Kai. Ah, sedang apa kekasihnya itu sekarang?

Memasuki kuartal terakhir di tahun ini, kegiatan pelajaran tambahan mulai berlangsung di beberapa sekolah di Korea Selatan untuk mempersiapkan ujian negara beberapa bulan. Kai – sayang sekali – termasuk salah satu siswa yang nilainya perlu dibantu dengan pelajaran tambahan.

Waktu KaiStal tersita? Jelas. Tapi tersita tiga-empat jam untuk masa depan tidak salah, bukan?

Lagipula beberapa minggu ini Jessica dan Mike – tunangan Jessica akan menghabiskan waktu di Seoul. Sejak Jessica kuliah di California, ia langsung mendapatkan Mike sebagai kekasihnya di tahun pertama. Mereka berdua akan segera menikah setelah Krystal lulus SMA nanti, oleh karena itu Jessica memilih untuk selama mungkin berada bersama adiknya sebelum nantinya ia hidup menjadi istri orang, di negara yang sangat jauh dari negaranya.

Sejauh ini ketidakhadiran Kai.. bisa ditoleransi.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Ini bagaimana?” Jessica membolak-balik sehelai pakaian berwarna putih tulang dengan pita kecil berwarna hitam.

“Bagus,” sahut Krystal.

“Sexy, Jeby,” komentar Mike, disertai dengan kerlingan mata.

Jessica menyikut lengan Mike, lalu menggetil hidung tunangannya dengan mesra. “Want me to look sexy in front of people, eoh?”

“No!” seru Mike cepat. “Jeby. Ck. Kau hanya boleh terlihat seksi di depanku. Ya, meskipun apapun yang kau kenakan tetap saja membuatmu..” Mike memberikan sebuah kerlingan lagi.

Cukup lama mereka berada di mall. Mall adalah lokasi kegemaran Krystal dan Jessica; dapatkah kau menahan lirikan matamu terhadap tas lucu di pojok sana? Atau menahan godaan untuk menyentuh selimut dan karpet hanya untuk menguji kehalusannya? Atau menahan naluri melihat price tag pakaian di toko depan itu? Sulit.

Dering ponsel yang cukup memekakkan gendang telinga sukses membuat perhatian mereka teralih dari sepatu flat putih mutiara beraksen pita yang sedang dicoba oleh Jessica. Sepatu itu sangat serasi dengan dress yang tadi dibelinya.

Ponsel Mike, rupanya.

“Blake’s here, who’s there?” Saking hapalnya, Jessica sampai dapat memparodikan Mike dalam mengangkat telepon.

“Aa. Yeah, I’m still in Seoul with my almost-wife. Why did you call? Hey, what? You kidding! Gosh! I love you, I love you!”

Sejurus kemudian Mike sudah melonjak kegirangan seperti seorang anak lelaki yang baru saja mendapat mainan Gundam terbaru.

“Siapa?” tanya Jessica.

“Anak rekan kerja orangtuaku,” jawab Mike. Ekspresi senangnya kini semakin nyata ketika ia bertemu muka dengan tunangannya.

“Ah, yang kau bilang akan kuliah di California itu?”

“Iya. And guess what?” Seringai Mike melebar, membuat Jessica dan bahkan orang yang tak tahu apa-apa seperti Krystal juga penasaran. Hm. Sepertinya bule 26 tahun itu memiliki bakat sebagai orator atau setidaknya penyiar radio. “Dua passcard VVIP dan backstage konser Seiya!”

“You kidding!!!” Jessica terpekik.

Sepasang insan yang telah terikat janji pertunangan itu terlihat sangat bergembira. Mike menceritakan setiap kalimat yang diucapkan anak rekan kerja orangtuanya itu dengan detail.

Well, tak bisa bohong. Kedua orang itu adalah penggemar Seiya: Sakura, Eiji, Irina, Yamato, dan Akane, group penyanyi asal Jepang yang akhir pekan ini akan menggelar konser perdananya di Korea. Tentu saja kedua orang itu sudah mempersiapkan tiket untuk menontonnya. Tiket festival, di mana seorang penonton akan dapat benar-benar merasakan konser yang sesungguhnya, di mana seorang penonton akan berusaha berada di barisan terdepan, di mana seorang penonton bahkan dapat melihat tetesan keringat sang artis.

Tapi backstage? Apa gunanya berada di jarak semeter kalau bisa berada di jarak sesenti!

“Krystal.” Kali ini Jessica memandang pada adiknya. “Tiket festival kami untukmu saja, ya?”

Dengan segera Krystal menolaknya. Bukannya ia tak suka pada Seiya. Biasa saja sih. Tapi, “Tiketmu festival, unnie.”

Benar juga.

Menyuruh seorang tuan putri berdiri di kerumunan orang yang semuanya berkeringat, bau, bersemangat…. mungkin dapat dikatakan sebagai kriminalitas.

“Kai akan menjagamu,” kata Jessica, meyakinkan.

Kali ini Krystal menerimanya. Kai juga menyukai Seiya, khususnya penyanyi berambut pendek bernama Irina. Pikir Krystal, konser ini bisa membuat Kai rileks sejenak dari rutinitas belajarnya yang keterlaluan padatnya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“IRINA TATSUYA!!!”

Tepat sekali dugaan Krystal.

“Mau! Aku mau sekali!” Kai menyambut dengan antusias ajakan Krystal untuk menonton konser itu – apalagi gratis.

“Nilai tesmu harus baik, janji?”

Kai mengangguk.

Semangat belajar kekasih Krystal sejak 21 bulan yang lalu itu semakin meningkat setelah mengetahui beberapa hari lagi ia dapat menonton pertunjukan idolanya.

Kai pernah bilang, satu-satunya hukuman yang bisa ia berikan pada Krystal adalah menciumnya di depan umum. Lalu bagaimana dengan hadiah?

“Nona,” goda Kai.

“Ini di kantin,” Krystal memperingatkan.

Tetapi bukan Kai namanya kalau tak bisa mengakali. Ia melakukannya senatural mungkin. Klasik sih: dengan berpura-pura menjatuhkan sendok, Kai membuat dirinya dan Krystal berada di bawah meja. Begitu targetnya berada di posisi yang diinginkannya, Kai dengan segera memberikan ciuman kilat yang efeknya cukup dahsyat bagi jantung Krystal.

“Terima kasih,” ucap Kai, tulus.

Krystal mengangkat dirinya, kembali duduk seolah tak ada yang terjadi. “Iya.”

“Bagaimana aku bisa hidup tanpamu, Calon Nyonya Kim!” Untuk sekali ini Kai tak dapat menahan diri untuk memeluk kekasihnya.

Di depan umum, berarti hukuman. Bukan ciuman, berarti bukan hukuman. Jadi apa arti pelukan tiba-tiba itu? Ah, entahlah. Yang jelas Kai sayang pada Krystal, begitu pula sebaliknya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Hari yang dinanti sudah tiba.

Tiket berwarna abu-abu mengkilap – nyaris menyerupai perak – menjadi bekal pemiliknya untuk berdiri di pelataran hall menunggu waktu konser tiba. Tiket berinisial huruf F besar yang menjadi tanda bahwa pemilik tiket itu akan berada di section F itu sedikit terlipat karena pemiliknya memeganginya dengan sedikit panik.

“Uh, Kai, di mana kau?”

Beberapa kali Krystal mencoba menghubungi Kai, namun sampai sekarang Kai belum mengangkatnya. Tak mungkin tidur, ‘kan?

“Belum juga?” Jessica bertanya.

Krystal menggeleng. “Aku tidak jadi menonton saja.”

Ucapan Krystal itu membuat Jessica tak rela. Adiknya sudah lama tak bersikap manusiawi; berteriak dan bersemangat. Ia ingin adiknya tidak selalu melakukan sesuatu yang serius. “Dasar kau, Kai.”

“Mungkin dia sibuk,” bela Krystal.

Pesan yang tiba-tiba masuk ke ponsel Krystal membenarkannya. “Unnie, Kai dilarang orangtuanya,” Krystal memberitahu.

“Chaby-ah,” rayu Jessica, berharap tunangannya memiliki ide.

Dan tunangannya memang memiliki ide. Ia tahu mengapa Jessica begitu ngotot menyuruh adiknya menonton konser. Tapi ia dan Jessica jelas tak akan membiarkan Krystal seorang diri di barisan festival. Kalau begitu yang dibutuhkan adalah teman, bukan?

Jemari Mike mempermainkan layar ponselnya.

Jessica memandanginya dengan senyuman. Sejak awal berkenalan ia selalu tahu pria ini dapat berpikir cepat.

“Oke, bisa,” kata Mike.

“Apa?”

Mike sedikit menggigit bibirnya. “Aku minta tolong anak rekan kerja Dad untuk menemani Krystal. Tidak enak sih, tapi dia setuju.”

“Yang memberi tiket ini pada kita?” tebak Jessica. Memang benar kata Mike. Tidak enak sekali. Tapi apa boleh buat? Kalau begitu nanti setelah anak itu datang sebaiknya Jessica dan Krystal menonton dari festival, biarlah Mike dan anak itu yang menonton dari VVIP. Ya, sebaiknya begitu.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Di mana kau?” Mike berbicara pada ponselnya. “Yeah, sudah mulai bisa bahasa Korea – jangan tertawakan aksenku! Aku, Jessica, dan adiknya ada di depan counter BubbleTea. You see me? Ah, ya, aku juga melihatmu! Come!”

Mike memasukkan kembali ponselnya dalam tas Jessica. Ia tak suka membawa tas, juga merasa tak aman memasukkan ponsel di saku celana. Jung Sibling yang masing-masing membawa dua gelas BubbleTea ikut melihat ke arah yang berada di fokus pandang Mike, mencari sosok seseorang berjas, bersepatu kulit, dan dikelilingi pengawal. Setidaknya begitulah pikiran mereka tentang sosok yang dibanggakan Mike sejak seminggu ini. Bukankah begitu gambaran tentang anak pengusaha sukses yang ayahnya menjadi sponsor terbesar di konser ini?

We know that we shouldn’t judge a book by its cover. And now, well… also don’t judge a cover by its book.

Anak pengusaha itu sama sekali tak terlihat… berada.

Sepatu olahraga berwarna putih yang sepertinya terakhir dicuci adalah tiga bulan yang lalu. Sedikit ke atas, celana jeans yang kelihatannya dibeli di Myeongdong – Krystal bahkan bisa menebak harganya tak sampai lima puluh ribu won. Ke atas lagi, kaus putih yang cukup bagus. Tapi tetap saja, kaus hanyalah kaus. Dan ke atas lagi.. wajahnya..

“Oh. Se. Hun.”

Adalah kata yang seketika terucap di bibir Krystal.

“Krystal?” Orang itu mengucapkan nama Krystal.

Dan, sel-sel dalam otak Krystal sudah mulai bekerja. Astaga. Jadi orang kaya itu adalah Sehun!

“Kau ngapain?” tanya Sehun – sepertinya masih tak dapat menangkap apa yang terjadi. “Oh, hi, Mike! Then, here she is? Jessica.. wait. Jessica…. Jung..”

Setelah mengingat nama calon istri Mike itu pandangan Sehun beralih pada Krystal.

Nama tunangan Mike adalah Jessica Jung. Nama marga Krystal juga Jung. Saat ini mereka sedang berdua, bersebelahan, sama-sama memegang BubbleTea. Kalau begitu..

Otak Sehun juga sudah mulai bekerja.

“Jadi kalian sudah kenal!” Mike terlihat senang.

Krystal mengangguk. “Dia sahabatnya Kai.”

“Ahh, baguslah kalau kalian sudah kenal,” kata Jessica. “Ngomong-ngomong, begini. Bagaimana kalau aku dan Krystal menonton di festival, dan Mike, kau dan anak ini,”

“Tidak,” sela Mike, cepat.

“Michael.” Jessica terlihat memprotes.

Tak mempedulikan protes itu, Mike melanjutkan ucapannya, “Krystal dan Sehun biar saja menonton VVIP. Kami akan melihat dari festival,” ujar Mike. “Tapi backstage pass tetap untukku, ya?” Ia nyengir.

Jessica tak suka. Kalau Sehun memang sahabat Kai, apalagi Sehun itu laki-laki… Well, Krystal ‘kan sayang sekali pada Kai. Tentu tak baik ia sebagai kakak membiarkan adiknya terlibat skandal kecil yang bila ketahuan akan membuat Kai marah. Kai marah, Krystal pasti sedih. Logikanya.

“Mike, please,” mohon Jessica.

“Sehun tidak akan macam-macam pada Krystal.” Mike meyakinkan. “Benar begitu, Sehun?”

Sehun yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara juga. Ia menggaruk rambutnya yang berantakan. “Noona tenang saja. Krystal aman denganku.”

“Nah. Sudah tidak ada alasan lagi!” Kini Mike puas.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Konser bertajuk Say Seiya! sudah berlangsung seperempat jam. Baru satu lagu yang tuntas dibawakan. Dibuka dengan lagu andalan mereka, kini pada penampilan kedua mereka dikejutkan dengan Irina yang bernyanyi solo lagu My Heart will Go On, soundtrack film Titanic. Di group, ia adalah main dancer. Menyanyikan lagu seperti ini seharusnya bukan spesialisasinya.

“Kai harus melihat.”

Dengan kamera ponselnya, Krystal merekam penampilan penyanyi jangkung dengan rambut biru gelap itu. Ia sudah bisa membayangkan histeria Kai melihat ini.

“Idolamu Irina?” tanya Sehun, tiba-tiba.

“Sst.” Krystal menyuruh Sehun diam. Bisa-bisa suara Sehun tertangkap perekam ponselnya. Well, Krystal pun juga tak mau Kai tahu ia nonton bersama Sehun.

Paham, Sehun memilih untuk diam hingga Krystal menghentikan rekamannya.

“Bukan. Kai yang mengidolakan Irina,” jawab Krystal meski terlambat.

Sehun mengangguk-angguk.

“Kau sendiri?”

“Eiji. Dia memiliki range vokal yang luas meskipun suaranya rendah. Dan kemampuannya bermain drum cukup mengesankan. Lagipula dia berani mewarnai rambutnya sesuai pakaian,” sahut Sehun penuh kekaguman. “Kalau kau?”

“Kukira kau menyukai wanita seksi seperti Akane,” Krystal menyimpan ponselnya dalam tas. “Aku tak memiliki idola.”

Jawaban itu seolah jawaban yang memang dinantikan oleh Sehun.

Wajah lesu Sehun seketika menampakkan senyum cerah. “Kalau begitu kita keluar saja. Kita pergi, yuk!”

“Apa?” Krystal tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Benarkah saat itu Sehun mengajak Krystal pergi? Mengajak pacar sahabatnya?

Tapi toh Krystal mengiyakan.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Ahhh. Aku lupa. Aku tidak bawa helm dua.”

Krystal bingung. “Kau.. naik motor?”

“Yap,” jawab Sehun singkat.

Arah langkah Sehun yang semakin menuju parkiran motor membuat Krystal yakin. Tentu saja semula ia tak yakin Sehun naik motor. Oke, penampilannya sederhana. Tapi bukankah seharusnya ia naik mobil?

Yamaha FJR1300 dengan mudah ditemukan.

Jelas, tak ada lagi motor seperti itu di area parkir. Terlebih lagi warnanya silver tua, jarang sekali ditemukan. Dan sudah jelas motor itu bukan motor sembarangan. Motor sport dengan harga…. Ah, sudahlah, tak etis membicarakan masalah harga.

“Aku.. nonton saja,” putus Krystal.

Seumur hidup Krystal belum pernah naik motor.

“Serius, nih?”

“Terlihat berbahaya.” Krystal mengomentari motor Sehun. Itu alasannya tak pernah naik motor. “Apalagi hanya satu helm.”

Sehun mengulum senyum kecil. Diraihnya helm sewarna dengan motor kesayangannya itu, lalu dipasangkannya pada kepala Krystal. “Yang penting kau pakai helm, ‘kan?”

“Kau bagaimana?”

“Tadi aku sudah bilang pada Jessica noona, kau akan aman. Jadi aku harus menepati janjiku.”

“…”

Oke. Ucapan Sehun mampu membuat Krystal speechless.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Lagi-lagi Krystal dibuat takut.

Bukannya Sehun mengendarai motor dengan ugal-ugalan – justru terlalu aman sepertinya. Kecepatan motor ini sebenarnya bisa saja mencapai dua ratus hingga tiga ratus kilometer per jam, tapi bahkan sepertiganya saja Sehun tak sampai. Mungkin ia hanya melajukan motornya enam puluh kilometer per jam.

Dingin? Bukan juga. Motor sport seperti ini memiliki perlengkapan cukup mumpuni. Jaket tebal yang seharusnya dikenakan oleh pengendara justru dibiarkan Sehun dipakai Krystal, seperti nasib helmnya.

Tapi tempat tujuan merekalah yang membuat Krystal takut.

Di mana mereka? Mengapa mereka masuk ke dalam gang? Mengapa jalannya tidak rapi? Mengapa lampunya semakin ke dalam semakin jarang?

Hingga berhentilah mereka di depan sebuah.. apa ini? Penampungan sampah?
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

“Sehun..” bibir Krystal memanggil nama itu dengan ragu, “Sehun, kau.. mau apa?”

Rasa menyesal menjalari sekujur tubuh gadis manis itu. Sehun laki-laki. Krystal perempuan. Apa yang akan mereka lakukan di tempat pembuangan sampah seperti ini? Gelap, kotor…

“Bibi Hyeseok!” seru Sehun.

Seorang wanita paruh baya yang sedang memungut botol plastik menengadah. “Tuan Sehun!” serunya.

“Sehun!”

Sejurus kemudian dari dalam tumpukan sampah dan dari rumah-rumah kardus di sekitar gunung barang buangan itu muncul beberapa orang. Satu, dua, hingga mungkin dua puluhan orang. Orang-orang itu melihat ke sosok yang terlihat paling berkilau di daerah itu; Sehun dan Krystal.

Mereka tersenyum bahagia. Nama Sehun berkumandang berulang-ulang.

“Sehun oppa!” Seorang gadis lusuh menghampirinya.

“Hyewon-ah,” dengan lembut Sehun mengusap rambutnya dan membalas sapaan gadis itu. Tangannya terulur, memberikan uang pada gadis itu sambil berkata, “belilah makanan yang banyak.”

Begitu gadis itu pergi, wanita yang tadi dipanggil dengan sebutan Bibi Hyesok menghampiri Sehun. “Ada apa? Perjodohan lagi? Atau orangtuamu belum pulang juga?”

“Yang pertama,” desah Sehun.

Para penghuni pembuangan sampah itu keluar dan tanpa dikomando merapikan lahan agar bebas sampah.

Yaaah, meski tak bisa bersih, setidaknya mereka berusaha memberikan tempat yang layak. Bahu membahu mereka membersihkan tempat itu, bahkan menghamparkan beberapa helai kain – yang entah bagaimana Krystal yakin kain-kain itu adalah pakaian mereka.

“Tuan dan Nyonya Oh ke Korea membawa seorang gadis?” tebak Bibi Hyeseok.

Sehun mengangguk. Diraihnya tubuh Krystal untuk mengikutinya duduk di tempat yang mereka sediakan. “Sekyung noona malah ikut mendukung ayah.”

“Hani sudah tahu?”

“Belum,” jawab Sehun, letih. “Kyunghee sedang masa ujian.”

Apa yang mereka bicarakan cukup dimengerti oleh Krystal. Intinya Hani adalah kekasih Sehun – sepertinya sudah kuliah. Tapi seperti sewajarnya orang kaya lainnya, Sehun berkali-kali dijodohkan. Kali ini Sehun tak bisa bercerita pada Hani karena Hani sibuk. Satu-satunya yang Krystal tak mengerti adalah mengapa begitu saja Sehun lantas harus ke tempat sekumuh ini untuk bercerita?

Tak lama kemudian, Hyewon kembali lagi dengan beberapa anak seusianya yang sama lusuhnya dengan dirinya. Wajah mereka terlihat gembira dengan kantong-kantong makanan di tangan mereka.

“Ambilkan sendok untuk Tuan Sehun dan temannya,” suruh Bibi Hyeseok.

“Ah,” Sehun tersadar. Rupanya sedari tadi ia belum mengenalkan Krystal pada Bibi Hyeseok. “Krystal, ini Bibi Hyeseok. Gadis tadi Hyewon, anaknya. Semuanya, ini temanku, Krystal.”

Bibi Hyeseok mengulurkan tangannya.

Selama beberapa detik tangan Bibi Hyeseok melayang di udara, menanti Krystal menyambut jabatan tangannya.

“Krys,” bisik Sehun dengan nada menegur.

“Tempat ini kotor,” ujar Krystal, sangat pelan.

Tapi toh Bibi Hyeseok mendengarnya. Ia menarik kembali tangannya. Sudah maklum. Sehun dari kalangan atas, berarti temannya ini juga.

“Sehun oppa! Ini sendoknya!”

Anak-anak lain berebut mengambil sendok dari tangan Hyewon. Mereka semua sepertinya ingin menjadi orang yang memberikan sendok pada Sehun.

“Dia baik sekali,” kata Bibi Hyeseok.

Saat itu Sehun sedang menanggapi anak-anak itu dan makan bersama pemulung lain, membuat Bibi Hyeseok memiliki kesempatan berbicara dengan Krystal.

“Sehun adalah malaikatnya masyarakat Pembuangan Umum.” Bibi Hyeseok memandangi Sehun dengan tatapan syukur. “Kalau ia datang kemari, kami bisa makan seporsi seorang, dengan daging. Bukan seporsi empat orang seperti yang sehari-hari kami nikmati. Terkadang ia datang sekadar berkunjung, terkadang juga bercerita.”

Krystal mengangguk-angguk. “Bagaimana kau bisa mengenalnya?”

Wajah Bibi Hyeseok memperlihatkan senyum sayang. “Ayahnya memiliki pabrik pengolahan sampah. Bisa dibilang kami ini karyawan tidak langsungnya.”

Aku saja tak tahu keluargaku memegang bidang usaha apa saja.

“Kekayaan tak membuatnya sombong.” Seketika Bibi Hyeseok mendesah. “Sayang sekali dia..”

“Dia apa?” tanya Krystal, seketika antusias.

Sehun menarik tangan Krystal. “Krys. Ayo, makan.”

“Apa? Makan?”

“Kata Kai, kau itu jarang makan,” sahut Sehun. Ia memberikan sendok pada Krystal.

Tatapan mata Krystal seolah mengisyaratkan kalimat ‘aku tak mungkin makan di tempat ini.’ Melihat puluhan orang itu makan dengan lahap justru membuat Krystal semakin tertusuk. Mereka rakus sekali. Sebegitu laparkah mereka?

“Krystal noona~” seorang anak laki-laki ikut memegang tangan Krystal.

Tangan anak itu kotor! Dan tangan kotor itu menyentuh tangan Krystal!

“Mari makan bersama kami,” kata anak itu. “Sehun hyung menunggumu makan.”

Orkestra kecil dari perut lelaki jangkung itu membenarkan perkataan si lelaki kecil berambut keriting. “Ya sudah kalau kau tak mau makan. Aku makan dulu. Nanti kubelikan yang lain untukmu.”

“Aku makan di tempat seperti ini?” Pertanyaan Krystal berkumandang dalam benaknya.

Sehun saat ini sudah larut dalam makan malam ala kadarnya bersama para pemulung dan keluarganya. Bibi Hyeseok juga sudah ikut makan.

Makan malam…..

Biasanya, setidaknya potongan buah segar dengan saus mayones menjadi teman makannya. Terkadang sepotong pai ayam juga hadir untuk meramaikan.

Namun… ia selalu sendiri.

“Tidak pernah makan ramai-ramai, ‘kan?” Sehun tersenyum ketika pada akhirnya Krystal membuka kotak makanannya.

Krystal mengangguk. Semoga aku tidak mati. Ini steril, ini steril, gumamnya sebelum menyantap makan malamnya.

“Bisa dibilang aku adalah orang yang paling mengerti dirimu,” Sehun berujar, yang otomatis membuat Krystal tak mengerti. “Maksudku,” kata Sehun, “orangtuaku juga di luar negeri. Noonaku kuliah di luar negeri – sekarang sudah menjadi istri orang. Kita harus pandai-pandai memalsukan jati diri kita, merefleksikan diri menjadi sosok yang dikagumi dan disegani, tidak berkawan dengan banyak orang, karena katanya pebisnis yang baik tidak mempercayai siapapun.”

Ah, rupanya nasib mereka memang sama.

Jujur saja. Baru sekali ini Krystal mengenal sisi ini dari diri Sehun. Di sekolah, Sehun terlihat biasa saja. Sangat biasa, tidak menonjol. Nasib mereka sama, tapi Krystal dikenal orang-orang dan Sehun tidak.

“Satu lagi yang membuat kita sama.”

“Memiliki kekasih yang saat ini sama-sama sedang sibuk?” Krystal menebak.

Sehun menggeleng.

Sehun menghembuskan napas berat. Sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang terlihat letih. “Kita sama-sama… mencintai makhluk… yang disebut lelaki.”

“Apa?”

“Krystal,” desah Sehun dengan bibir gemetaran, “aku gay.”
to be continued….
To be continued…

23 responses to “[Freelance] Cofeemilk : Looking Through the Eyes of Love (1)

  1. whaaaaa…ini kerennn thor^^
    tpi kok sehun gay? ya kok gitu #shock
    tpi ngk ap2lah….
    banyakin kaistal moment yah ^^
    lanjut thor next nya jgn lama2 yah… 🙂

    • kan sesekali sehun dibuat gay, haha (?)
      Siaap. ditunggu ya, kelanjutannya. makasih mumumu ❤

  2. Sehun gay!!?? -_-
    Jadi itu yg mau di omongin sama bibi Hyeseok …
    Gak bayangin reaksi Krystal di chap selanjutnyaa….
    Semangat ngelanjutinnya Thor!!

    • makasih >< iya semangat kok. agak nggak rela juga tapi sehun gay 😐 ditunggu kelanjutannya ya 🙂

  3. kaistal momennya kurang banyak 😀 hihi.. sehun disini beda bgtt, dia gay 😮 lanjut thoor, aku dibikin penasaran bangett

    • kalau kaistal moment-nya dikasih banyak bisa-bisa fanfict-nya 20 halaman nanti xD

      iya? Maafkan kalau Sehunnya melenceng ya ><

  4. Sehun gay?!?!? waahhhh gak nyangka thor XD hani pasti luhan y?kkk~ next nya cepetan ya thor ^_^

  5. waduh.. sehun gay?? ga nyangka.. hehe.
    gimana lanjutannya ya? gimana reaksi kai kalo tau krystal pergi sm sehun? ditunggu..

  6. ini keren parah. .
    Beneran tak terduga ceritanx
    Omaigot,kai uda gedhe,,masak cowok gag boleh nntn konser. . #poorkai

    Wow. .sehun bener2 brhati malaikat,, gag nyangka org kaya masih mau brgaul dgn para pemulung.

    What?ha? Sehun gay? Smoga sehun gag suka ama kai. .huaaaa parah
    Ini keren parah
    Next chapternx cepet ya. .

    • aduhhh berlebihan xD hahaha makasih banyaaak.
      Tapi author sendiri juga lebih tua dari Kai nggak boleh nonton konser 😐

      Sehun suka nggak ya sama Kai…… lihat aja di kelanjutannya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s