[Freelance] Gone

Gone

Title : Gone
Author : Fany
Main Cast : Hwang Saran (OC), Kim Jongin (EXO)
Length : Oneshoot
Rating : 16+
Genre : Romantic, Sad.
Disclaimer : FF ini terinspirasi MV Jin-Gone, tapi beda kok ceritanya. So, do not be plagiator and silent readers. Just give me a reason. Gamsahamnida!
=

 


Matahari pagi bersinar terang dari tempatnya. Tersenyum senang, tanpa beban pikiran. Berbeda dengan seorang gadis yang sedang menyusuri koridor sebuat tempat. Raut mukanya datar, tatapan matanya kosong menggambarkan kepiluan yang dalam. Dia Hwang Saran.
Jelas sekali ia tidak tahu arah. Karena ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di koridor ini, koridor sekolah barunya. Sejak setengah jam yang lalu, Saran hanya bisa mondar-mandir di tempat yang sama. Ia dapat merasakan tatapan-tatapan tidak suka dari murid disekolah ini. Tapi, ia sudah terbiasa. Ia sudah tahu pasti kenapa orang-orang selalu tidak suka padanya. Itu karena tatapan matanya yang tidak jelas. Tapi satu hal yang pasti, Saran tidak akan menghiraukan tatapan-tatapan asing itu.
Benar tebakkannya. Kali ini, langit akan menjadi teman satu-satunya lagi.
Dengan susah payah Saran mencari letak ruang kelasnya. Untung saja, tadi ada seorang karyawan sekolah itu membantunya. Hingga akhirnya sekarang ia berdiri tepat didepan pintu kelasnya, XII-MIA 1 Seoul High School.
Tiba-tiba bel tanda masuk kelas mengejutkannya. Saat ia hendak melangkahkan kakinya memasuki kelas, berbagai cemoohan di sisi kanan dan sisi kiri tubuhnya meluncur bebas. Sejenak, Saran merasakan pilu itu lagi. Pilu karena tidak di inginkan. Tapi, Saran tidak peduli lagi.
“Kenapa tidak masuk kelas?” ucap sebuah suara di sebelah Saran.
Saran menoleh. “Oh. Kau murid baru itu? Kalau begitu ayo masuk dan perkenalkan dirimu didepan teman-teman barumu.” Seru suara laki-laki yang berada di sebelahnya.
Dengan ragu-ragu Saean masuk ke kelas barunya.
“Attention! 30 anak yang baik hati, jumlah kita akan bertambah menjadi 31! Karena kita kedatangan teman baru! Perkenalkan namamu nak.” Perintah suara itu yang diyakini Saran sebagai guru Bahasa Inggrisnya.
“Saya Hwang Saran, pindahan dari Mokpo.” Singkat, padat, dan jelas. Karena perkenalan inilah, suasa kelas semakin canggung. Banyak anak berbisik-bisik menyatakan pendapat tentang Saran.
Seorang anak perempuan dari barisan bangku tengah mengangkat tangan lalu ia berkata, “Hei anak baru! Kalau bicara yang sopan dong! Jangan hanya melihat kosong kedepan. Kau kira kami patung? Apa kau terlalu sombong untuk menghormati kami?”
Suasana kelas berubah menjadi gaduh karena menyetujui ucapan anak itu. 29 anak di kelas itu menyudutkan Saran.
“Benar! Pakai matamu dengan benar dong!”
“Dasar naif.”
“Cantik banget sih, eh tapi matanya itu lo. Kayak nggak bisa lihat apa-apa.” Ya, seperti itulah ucapan-ucapan yang memenuhi ruang kelas XII-MIA1 pagi itu.
Dengan segenap keberanian yang Saran kumpulkan, ia berkata jujur “Ya, benar. Aku buta.”
Saat itu juga keadaan kelas menjadi hening. Guru yang ada disebelah Saran pun juga ikut tercengang, beliau tidak habis pikir anak tuna netra seperti Saran memiliki jurnal prestasi yang sempurna.
Tapi tidak berlangsung lama. Suara yang sama menghakimi Saran lagi, “Kalau buta, kenapa sekolah di sekolah orang normal? Seharusnya, sekolah di SLB bareng sama anak-anak cengoh yang tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak berguna itu.” Sekali lagi. Kelas itu dipenuhi cemoohan dan gelak tawa untuk Saran.
Bingo. Mokpo dan Seoul, semua sama. Orang-orangnya hanya bisa mengejek dan tidak mau menerima Saran. Secuil harapan yang dibawa Saran tadi tentu saja hilang tak bersisa.
“Stop it Soo Hee! Kamu itu sebagai murid berpendidikan seharusnya jaga omongan! Jangan menghina orang dengan seenaknya. Apa kau tahu jika prestasi Saran jauh melebihi prestasimu?” seru guru Bahasa Inggris yang berbaik hati pada Saran tadi.
“Mr. Lee jangan membela seseorang yang tidak seharusnya dibela. Aku yakin Mr. Lee juga baru kali ini menemukan orang cacat sesekolah dengan orang normal!” ucap Soo Hee dengan penuh penekanan di setiap katanya. Dan hampir seisi kelas menyetujui ucapan Soo Hee.
Mr. Lee menggelengkan kepalanya menyadari kemerosotan moral muridnya. Lalu, Mr. Lee mengambil sebuah kertas yang ada di tasnya.
“Ini bukti Saran memiliki prestasi yang jauh lebih baik dari kau, Jung Soo Hee. Dia juga selalu sekolah di sekolah normal seperti orang-orang lain. Memang yang berbeda hanya bukunya saja. Ia memiliki buku rancangan khusus.”
Soo Hee menunjukkan Smirk egoisnya, “Huruf Braile? Dasar tidak tahu diri.”
“Cukup! Saran, kamu boleh duduk di bangku kosong sebelah Jongin. Kalau kamu memiliki kesulitan kami tidak akan keberatan untuk membantu kamu Saran.” Kata Mr. Lee.
Saran diam di tempat. Kenapa nasibnya seburuk ini? Dan kenapa hari ini tongkatnya patah karena anak-anak di depan rumahnya tadi?
“Lain kali bawa tongkat, jangan nyusahin orang! Bisa mikir nggak sih?” seru suara gadis lain di sudut kelas.
Tidak tahan dengan kelakuan muridnya, Mr. Lee menuntun Saran ke tempat duduk kosong itu. Lalu ia memberikan penggaris panjang pada Saran.
“Pelajaran dimulai!”
=
Sejak awal pelajaran Bahasa Inggris tadi, Saran merasa ia sedang diperhatikan seseorang. Namun, kali ini berbeda. Tatapan orang itu bukan tatapan jijik maupun mengejek. Saran tahu benar tentang itu.
Bel istirahat berbunyi dan diakhiri dengan memberi salam pada guru matematika-Mrs. Ahn-
“Haha, Anti mainsteam. Nggak biasanya si Cassanova sediem ini!” Suara laki-laki tiba-tiba tepat di depan mejanya.
Oh. Saran baru sadar, yang sebangku dengannya tadi seorang laki-laki dan ia sama sekali belum berkenalan dengannya.
“Apa kemarin kepalamu tertimpa batu Kai-ya? Biasanya seorang Kai akan berigas kalau ada cewek baru. Hahaha.” Sahut yang lain. Saran merasa dirinya dibawa-bawa lagi. Tindakan yang dilakukannya hanya mematung dan tidak berani bergerak.
“Kelihatannya Jongin sedang demam hari ini.” Bukannya namanya Jongin? Berarti dia mempunyai 2 nama, batin Saran. Tapi yang disebut-sebut daritadi hanya bergeming.
“Makan aja, daripada pertanyaan kalian cuma jadi angin topan. Nih, perut udah nggak bisa diajak kompromi.” Ajak salah satu suara dari 3 orang itu disertai dengan gerakan kaki yang semakin melangkah jauh.
Saran menghembuskan nafas yang secara tidak sadar ia tahan tadi. Selama beberapa detik, Saean merasa dirinya terbebas dari tali-tali yang mengikat lubuk hatinya dari pagi tadi.
“Apa kau selalu di perlakukan seperti itu?” Saran terkesiap. Ternyata Jongin tidak ikut bersama orang-orang tadi.
Saran tidak bisa menjawab, lidahnya tiba-tiba kelu. Ini kali pertama seseorang berbicara padanya dengan nada seperti laki-laki itu. Saran merasa nyaman mendengar suara laki-laki itu.
Lalu ia merasa kursi disebelahnya bergeser, “ Hey, aku tanya.”
Dengan terbata Saran menjawab, “Ya. Sepertinya begitu.”
Saran merasa Kai sedang menghela nafas, “Baru pertama kali ini, aku melihat gadis yang sangat mirip alien.”
Saran menegang. Ia kira suara halus barusan akan menjadi harapan baginya. Tapi ternyata…
“Aku Kim Jongin. Bukannya aku bermaksud untuk melecehkanmu, tapi kau beda dari yang lain.” Kata Jongin.
“Jelas aku berbeda, aku buta.”
Jongin berdeham, “Jangan salah mengartikan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku kau berbeda dari kebanyakan cewek. Dan aku ingin kita berteman. Supaya kau tidak ditindas kayak tadi.”
Astaga! Ini kejadian langka. Seorang Saran ditawari sebuah pertemanan dan pertemanan itu dari seorang laki-laki. Oke, kejadian langka yang kedua. Jantung Saran mendadak dipompa lebih cepat. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Dari sepersekian detik yang ada Saran tidak menyadari ketika tangan kanannya sudah terbungkus sempurna di tangan kanan Jongin, Jongin menjabat tangan Saran dengan tulus.
Kehangatan yang pertama kali dirasakan oleh Saran.
=
Hari-hari berikutnya, neraka yang sering disebut Saran tiba-tiba saja berubah menjadi dunia. Semua berjalan lancar dan biasa. Saran sangat senang akan hal itu.
Walaupun setiap hari ia harus mendapat cemoohan dan tatapan tidak suka dari para penggemar Jongin yang notabenenya seorang cowok yang paling tampan, paling kaya dan paling kurangajar di SMA itu.
Tapi, untuk gossip terakhir Saran sungguh tidak percaya. Baginya Jongin adalah laki-laki sopan dan Jongin ridak mungkin memegang predikat murid paling kurang ajar di sekolahnya. Saran memiliki presepsi seperti itu karena setiap Jongin berada didekatnya Saran tidak pernah sama sekali menemui sikap laki-laki itu yang kurang ajar padanya.
Pagi ini Saran berfikir banyak tentang Jongin, apa mungkin dia yang memberi dampak pada tindakan Jongin? Apa mungkin Jongin hanya bersikap seperti itu padanya? Tapi alih-alih merasa tersanjung, Saran malah menggetukkan kepalanya ke meja.
Jangan besar kepala Hwang Saran! ‘teriaknya dalam hati.
Saat ini tanggal 3 Desember 2013, berarti tepat 3 bulan Saran berkenalan dan berteman dengan Jongin. Berarti tepat 3 bulan pula Saran menemukan secuil harapan itu. Secuil harapan yang dikiranya menghilang dan tidak akan ada tapi malah datang, berkembang berkali-kali lipat dalam diri Jongin.
Jam 06.00 pagi ini Saran sudah berada di bangku kesayangannya-bangku disebelah Jongin. Ia ingin memberikan kejutan untuk Jongin. Hanya kejutan sederhana. Kue buatan tangannya sendiri yang dibuat dari malam dan baru selesai jam 4 pagi tadi. Hasil yang cukup memuaskan didapat Saran, meskipun ia harus beberapa kali mengganti adonan karena kesalahan fatal dan lingkaran hitam di mata Saran yang sangat jelas.
Dibangku itu, Saran menggengam erat kotak yang berisi kue kesukaan Jongin. Rainbow cake. Ia hanya tersenyum menerka-nerka ekspresi Jongin nanti. Tapi lamunannya terhenti karena meja dihadapannya didobrak oleh seseorang.
Kemarin sudah penggemar amatir yang bisa membirukan perut Saran, sekarang apalagi?
“Heh buta, Apa kau tahu kesalahan yang sudah kau perbuat? Jongin sekarang pecah sama geng nya. Jongin, Sehun, Chanyeol, Kris. Geng terpopuler disekolahan sekarang kehilangan ketuanya hanya gara-gara seorang gadis buta! Dan itu kau Hwang Saran!”
Saran diam. Tangannya semakin erat meremas pegangan kotak kue dipangkuannya. Sekali lagi, meja dihadapan Saran menimbulkan suara keras.
“Mulutmu masih normal kan?!” Saran merasa rambutnya ditarik oleh 3 anak. Astaga, sepertinya jumlah mereka lebih dari yang kemarin. 5 mungkin. Saran meyakinkan dirinya. Dia akan baik-baik saja. Tapi..
Plakk.
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. “Dasar perempuan buta! Seorang Hwang Saran itu punya kelebihan apa? Hebatnya dari si buta itu apa?! Kenapa orang cacat bisa sedekat itu sama Kai Oppa?” kali ini ternyata adik kelasnya.
Saran merasakan perih dikepalanya, mungkin rambutnya sudah berpindah kegenggaman adik-adik kelasnya ini.
“Jawab BUTA!”
Dan terakhir kali yang ada dalam ingatan Saran, kepalanya dihantam barang yang lumayan berat, darah mengalir dari dahinya dan ia tidak sadarkan diri. Kue kesukaan Jongin..
=
Saran mengerjapkan matanya beberapa kali. Masih sama. Gelap. Tapi kali ini ia tahu, ia sudah sadar.
“Alien?”
Tanpa aba-aba kedua ujung bibir merah Saran membentuk bulan sabit, ia tersenyum mendengar suara laki-laki itu.
“Apa masih sakit?” tanya Jongin, tapi Saran tidak salah dengarkan? Dalam suara Jongin banyak sekali kekhawatiran yang ditunjukkan padanya.
Saran menelan ludah dan menggeleng. Kemudian menjawab pertanyaan Jongin dengan nada bergurau dan ia juga tersenyum. “Aku baik-baik saja Jongin. Nangwenchana Jongin-ah. Aku kan kuat.”
Tiba-tiba sedetik kemudian ia merasa telapak tangan Jongin didahinya.
“Perbannya sudah pas. Tinggal tunggu lukanya mengering.” Ujar Jongin. Sahutnya acuh tak acuh. Saking terkejutnya Saran hampir berteriak histeris. Astaga. Jantungnya.. Jantungnya..
Saran tersenyum kikuk menanggapi pernyataan Jongin, lalu ia cepat-cepat membuat alibi untuk menormalkan detak jantungnya.
“Jongin, aku ditunjuk mengisi acara festival seni tanggal 13. Ajari aku memainkan piano.” Tutur Saran dengan intonasi memohon yang manja, mungkin?
Jongin tersenyum lalu telapak tangan Jongin yang kelewat besar untuk Saran mengusap kepalanya perlahan. Memang sentuhan ringan tapi dampaknya, sangat besar bagi kondisi jantung Saran, “Kau jauh lebih senior dariku.”
“Tapi, aku ingin memain lagu kesukaanmu. Depapepe yang Time.” Pinta Saran.
“Dasar alien, kenapa baru bilang sekarang? Cuma ada 10 hari dari sekarang lho.” Jongin terkekeh dan Saran yakin, jika sekarang matanya berfungsi ia akan meleleh melihat senyum Jongin.
Dari awal bertemu dengan Jongin, Saran sudah menebak jika Jongin memang sangat tampan dan mempunyai senyum mematikan. “Mulai besok, aku kerumahmu ya. Kita belajar disana. Eommamu tidak keberatankan?”
“Iya, lagipula Eomma masih di proyek. Dan Appa, kamu pasti tahu kan. Jadi dirumah cuma ada aku dan Ahjuma.” Gunam Saran.
Ya, kedua orang Saran memang tidak pernah bersama. Dan semua itu karena Saran. Karena Saran cacat, ayah kandungnya tidak mengakuinya dan meninggalkan keluarga kecil itu.
Tangan Jongin tiba-tiba sudah berada diatas tangan Saran. “Ayo kekelas, Mrs. Ahn pasti sudah menunggu.”
“Haah, Transformasi lagi. Ah! Astaga! Rotimu!!” Jongin hanya tertawa lebar sambil menarik Saran.
“Terimakasih itu.. manis sekali dan aku ingin mencobanya lagi.”
=
“Ya! Kim Jongin kau membawaku kemana?” Saran mengoceh panjang lebar dari perjalanan Seoul High School – tempatnya sekarang berada.
Jongin tidak menjawab, ia hanya menarik tangan Saran untuk mencapai tempat tertinggi tempat itu.
Tiba-tiba, Saran merasa tangannya terangkat di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Dan ia merasa hembusan nafas Jongin menerpa pipinya.
“Apa yang kau lakukan Kim Jongin?!” Saran berteriak histeris
Jongin tidak menggubris, namun ia berkata “Rasakan saja hembusan anginnya. Dan tebak di mana kita sekarang.”
Sejenak, Saran mengikuti perintah Jongin. Ia menutup matanya. Walaupun hasilnya akan sama saja seperti ia membuka mata –gelap- , namun ia tetap menutup matanya dan merasakan angin menerpa wajah dan rambutnya.
“Apa ini digunung?” Saran bertanya dengan polosnya.
Bukannya menjawab, Jongin malah tertawa keras. “Alien, kita tidak berjalan sampai 8 jam kan? Apa mungkin perjalanan 1 jam sampai ke puncak gunung?”
Saran menggembungkan pipinya kesal yang membuatnya semakin lucu dimata Jongin.
“Kalau begitu dimana kita?” tanya Saran
Jongin tangan menarik Saran lagi. Lalu, tangan Saran terasa menyentuh banyak benda dingin yang diyakini Saran berbahan dasar besi. Dan bentuknya seperti huruh “U” dan terdapat batangnya.
Raut wajah Saran berubah drastis, “Namsan Tower?!”
Jongin mengusap kepala Saran, “Ya, kau pintar Alien.”
Oh Astaga. Saran tidak bisa bergerak. Kenapa hari ini sikap Jongin berbeda. Apa dia tidak tahu apabila skinship yang ia timbulkan membuat jantung Saran berdetak sampai kecepatan limit?
“Hari ini tanggal 3. Berarti sudah 3 bulan kita bertemu. Maka dari itu, harus dirayakan.” Suara Jongin melembut
Saran menganggukan kepalanya, ia sangat setuju. Pertemuannya dengan Kim Jongin memang harus dirayakan. Karena sebuah Harapan akan membuahkan kebahagiaankan?
“Padahal, tadi pagi aku sudah membuatkan kue kesukaanmu. Tapi malah hancur karena fans fanatikmu.” Ujar Saran seolah sangat kecewa.
Pipi Jongin tiba-tiba berubah menjadi merah, “Oh roti itu? Tenang waktu kau belum sadar, aku sudah memakannya sampai habis.”
“Apa iya?!” teriak Saran senang
“Ya.”
Jongin mengangkat telapak tangan Saran. Lalu ia meletakkan sebuah gembok dan kunci.
“Kau tahukan apa yang aku tuliskan di gembok itu?”
Awalnya, Saran tidak tahu apa yang di bicarakan Jongin. Namun ketika tangannya mengusap gembok itu, ia mengernyit. Ia dapat mebaca tulisan pada gembok itu.
“Alien Hwang & Pangeran Kim. 눈의 쌍. 색상의 쌍. 신발 한 켤레. ”
Sesuatu meledak dalam hati Saran. Apakah ini artinya.. Tidak, kau terlalu berlebihan Hwang Saran ‘batinnya
Jongin melangkahkan kakinya ke samping tubuh Saran. “Sepasang mata. Sepasang warna. Sepasang sepatu.” Helaan nafas Jongin terdengar sampai telinga Saran, “Aku berharap akan terus seperti itu Alien.”
Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Saran. Ia seperti tersihir dalam perbuatan Jongin. Sebelum ia menanyakan kejelasan semua itu. Tubuhnya sudah tertarik dan dalam sekejap Jonginhilang dari sekitarnya.
Refleks, Saran tidak berfikir secara jernih. Ia berfikir jika Jongin hanya mempermainkannya, hatinya dan harga dirinya.
Ia berputar ditempat dan mencoba meraba dimana keberadaan Jongin. Dan, kehangatan itu kembali dalam genggaman Saran.
“Ahjussi, disini. Tolong fotokan kami berdua.” Ucap Jongin pada seseorang.
Lengan Jongin melingkar sempurna di pundak Saran. “Jam 12 Alien.” Jongin memberi kode pada Saran untuk tatapannya lurus kedepan.
Krek. Saran merasa, hasil foto itu sudah berada di memori kamera Jongin. Lalu, Jongin menghilang dari sekitar Saran untuk menghampiri ahjussi tadi.
Setelah itu, Jongin mengajak Saran untuk mengunci gembok mereka diantara ribuan gembok di Namsan Tower. Mereka mengucapkan doa masing-masing dan melemparkan kunci dari gembok itu bersama.
Sebelum pulang, Jongin memaksa Saran mampir ke toko accessories. Ia mendandani Saran menggunakan bando-bando lucu yang berhiaskan menara Namsan. Kemudia dengan secara paksa mengambil gambar diri Saran.
Terakhir mereka berdua foto Selca berdua. Dimana Saran memakai bando Namsan Tower dan Jongin menggunakan topi bertuliskan I love this girl -> dan panah itu menunjuk kearah Saran.
=
“Whoa, H-4 Jongin-ah, aku deg-deg an.” Saran tersenyum sambil menaruh jari-jarinya diatas tuts piano.
Bagi Jongin senyuman itu adalah obat termanjur baginya. Senyuman itu juga senyuman tercantik dan terpahit yang pernah Jongin lihat. Inilah alasan Jongin menginginkan pertemanan dengan Saran. Karena pertama kali Jongin menatap Saran, jantungnya mengalami gerak berubah beraturan.
Ia merasa, gadis yang dilihatnya seperti alien waktu itu adalah gadis yang berbeda. Tatapannya kosong, tapi dibalik itu semua Jongin menemukan kepahitan yang mendalam. Ketika Jongin melihat senyum Saran pertama kali, ia tidak habis pikir. Bagaimana cara seseorang dapat tersenyum tapi senyum itu penuh dengan tangisan?
Mungkin alasan yang sebenarnya adalah Jongin jatuh cinta pada gadis cantik yang buta ini. Ray jatuh cinta pada Saran.
Ketika permainan piano Saran dimulai, jantung Jongin mengalami percepatan lagi. Jongin perlahan memejamkan matanya membayangkan masa-masa indah bersama Saran. Ia membayangkan wajah Saran yang menyunggingkan senyum berbentuk bulan sabit. Membuat wajah gadis itu berkali-kali lipat semakin cantik.
Di hati kecilnya, ia ingin sekali masa itu akan berlanjut dan tidak berujung. Tapi setiap cerita pasti ada ujungnya. Jongin tau, sebentar lagi ujung ceritanya akan tampak dan mau tidak mau harus di jalaninya. Tapi setidaknya, Jongin akan berusaha membuat ujung cerita itu menjauh dan menjauh.
“Cantik sekali.” Kata Jongin disertai tepuk tangan yang heboh.
Saran tertawa lepas, lalu ia menyenggol bahu Jongin yang berada disebelahnya “Yang cantik aku atau permainanku?”
“Permainan mu lah. Semua alien tidak mungkin cantik.” Ujar Jongin acuh tak acuh. Tentu kamu yang cantik alien.
“Jahat sekali. Aku yang cantik!”
“Tidak, tapi permainanmu yang cantik.”
“Aku!”
“Permainan.. Arghh.” Jongin merintih kesakitan ia mencengkram dada bidangnya.
“Ada apa?” ucap Saran panik. Tanpa ia sadari tangannnya terulur menyentuh tangan Jongin.
Jongin memaksakan senyum. Benarkan, segala tentang Saran adalah obat baginya. “Aku.. ba..ik baik saja…” Jawabnya terbata.
Karena takut terjadi apa-apa dengan Jongin, Saran meminta sopirnya untuk mengantar Jongin pulang kerumahnya dan ia juga menyuruh pegawai ibunya untuk mengantar motor sport Jongin.
Tapi setelah kejadian itu, Saran merasa ada kejanggalan dari Jongin. Jongin bersikap aneh padanya dan sisa 4 hari untuk persiapan Festival seni, Saran lewatkan tanpa Jongin.
=
Aula sekolah Saran yang luas itu disulap menjadi panggung seni yang berwarna-warni dipenuhi lampu sorot.
“Kami persilahkan saudari Hwang Saran.” Ucap MC di atas panggung.
Disaat menegangkan seperti ini, Jongin tidak ada di sampingnya. Dari awal sampai namanya dipanggil saat ini, Jongin sama sekali tidak menunjukkan suaranya. Padahal, Saran sangat membutuhkan sosok laki-laki itu.
Saran naik keatas panggung dengan tongkatnya. Ia sangat cantik dengan setelah minidress warna Peach. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai. Membuatnya semakin mempesona.
Seluruh pengisi ruangan terdiam melihatnya. Ada dua kemungkinan dalam kejadian itu, yang pertama para tamu mungkin kaget dan kasihan jika Saran akan mempermalukan dirinya sendiri dan yang kedua mereka bangga karena seorang tuna netra mau berusaha untuk maju ke atas panggung.
Dengan anggun, Saran duduk di kursi pianis dan mulai memainkan bait demi bait not-not yang tersusun rapi di parnitur di depannya. Depapepe-Time. Lagu yang mengingatkannya pada Jongin.
Sampai pada ketukan terakhir lagu itu, seluruh pengisi ruangan seakan terhipnotis dan tidak ada yang berekspresi. Namun 2 menit kemudian terdengar tepuk tangan yang meriah dari penonton. Tidak sedikit yang meneriakan namanya.
Saran ingin ambruk saat itu juga. Karena ia sangat senang. Ini adalah hari terindah dalam kehidupannya karena ia tidak di cemooh melainkan disanjung. Ia sangat senang.
Ini semua karena Jongin. ‘batin Saran. Cita-citanya saat ini adalah turun dari panggung dan menghambur kepelukan laki-laki itu. Laki-laki yang sekarang menjadi bagian terpenting hidupnya. Tapi, Jongin tidak datang.
=
Keesokan harinya disekolah, Saran merasakan neraka itu lagi. Lebih tepatnya ini neraka yang lebih parah. Cemooh dari teman-temannya berlaku lagi, sekarang malah mereka menyebutnya sebagai gadis buta belagu. Anehnya, Jongin tidak bereaksi sama sekali. Malahan, hari ini Jongin cenderung mengabaikan Saran.
Keadaan itu semakin memburuk. Seminggu berlalu. Puncak bagi Saran pun datang. Tapi puncak itu bukan puncak pada akhir ceritanya, tapi puncak yang menjatuhkan Saran kedasar yang paling dalam. Hingga Saran tidak tahu bisa bangkit lagi atau tidak.
Jongin berpacaran dengan Soo Hee.
=
Liburan menjadi penghambat Saran meminta penjelasan pada Jongin. Berita Jongin dan Soo Hee berpacaran tepat pada tanggal 20 Desember padahal 21 Desember sekolah Saran mengadakan libur natal sampai tanggal 10 Januari. Dan selama liburan, Saran sama sekali tidak bisa menghubungi Jongin. Telefon Jongin memang menyala tapi tidak satupun telefon atau sms yang diterima atau dibalasnya. Semua itu membuat Saran frustasi. Ia merasa rasa sakitnya menjalar dari hati sampai keseluruh tubuh.
Ia tahu, ini tidak benar. Ia membutuhkan Jongin. Maka dari itu, Saran memiliki sebuah rencana. Ia berencana untuk menyatakan perasaanya. Masa bodoh dia dibilang wanita murahan karena ini berhubungan dengan hati. Hatinya yang sekarang sudah dipenuhi harapan dan dia tidak mau harapan itu hilang lagi.
Tepat pada tanggal 14 Januari, Saran menaruh surat secara diam-diam pada loker XII-MIA1 nomor 16 -Milik Jongin-. Hari ini bertepatan dengan ulangtahun Jongin.
=
Jongin berubah menjadi seperti dulu lagi, kebiasaan kurangajarnya semakin menjadi. Malahan ia sekarang berani kurangajar pada guru-guru di sekolah. Ia kembali ke geng playboy gila yang dulu sempat ia tinggalkan karena Saran. Semua ini didasari satu alasan. Saran.
Karena Jongin tidak bisa lagi melindungi Saran, ia melampiaskannya pada gadis-gadis ganjen yang mencari perhatiannya dengan cara menggoda mereka balik. Ketika ia melihat tatapan kosong Saran ia melampiaskan pada guru yang sedang mengajar di kelasnya dengan cara membuat kelas gaduh dan guru itu marah. Dan karena ia tidak duduk sebangku lagi dengan Saran ia melampiaskan pada adik-adik kelas yang diperasnya untuk memberi hadiah-hadiah yang tidak bermutu.
“Hoi, ada yang mau lihat seberapa banyak kado yang ada di loker Cassanova kita?” ucap Sehun salah satu teman geng Ray.
Jongin mengangguk dan melangkahkan kakinya ke loker di sudut ruang kelas XII-A1. Ketika membuka loker itu, satu persatu kotak kado jatuh berhamburan di depan empat orang laki-laki populer itu. Satu yang menarik perhatian Jongin, surat lusuh yang jatuh dibawah kakinya.
“Hahaha, surat udah gak jaman kaleee.” Ejek Kris
Perlahan, Jongin membuka surat itu. Huruf pertama yang di baca Ray sudah membuat saraf tubuhnya berhenti bekerja.
Buat Jongin
Selamat Ulang Tahun. Aku punya kado untukmu. Kalau mau tahu kado itu, datang ke taman kota ya. Jam 5. Ditunggu kehadirannya ^^
Alien 😀
“Hwang Saran?” tanya Luhan
Jongin tidak menjawab, ia meremas kertas ditangannya hingga kertas itu sobek dan tak berbentuk. Ia tidak akan mengikuti apa yang ada dalam surat itu. Dia tidak akan pergi ke taman kota. Tidak akan.
=
Jongin melirik jam tangannya, lalu memandang ke sekeliling. Sudah jam 20.30 malam. Ia meyakinkan diri untuk melihat taman kota. Tapi tepat 20.50 pertahanan yang dibuat Jongin dari tadi runtuh. Ia takut jika gadis itu masih menunggu di taman kota sendirian. Kim Jongin memacu jalan motornya sampai ke kecepatan 120km/jam. Sepanjang perjalanan ia berharap Aliennya sudah tidak ada di sana. Ia berharap gadis itu pulang karena tidak sabar menunggu.
Tapi ketika ia memasuki taman kota dan masuk ke bagian tengahnya, ia melihat Aliennya sendirian. Tidak ada orang lain. Ia merasa hatinya yang terbuat dari kaca sekarang telah hancur berkeping-keping karena pukulan keras dari Saran.
Jongin berdiam diri beberapa meter di belakang Saran. Ia melihat bahu gadis itu naik turun karena kedinginan. Ia berusaha menemukan sisa-sisa kendali dirinya untuk tidak memeluk gadis itu sekarang juga. Lalu ketika ia merasa cukup tenang, ia melangkan mendekati Saran. Ketika mendengar derap langkah Jongin, Saran melukiskan senyuman diwajahnya.
“Kau tahu aku sudah nunggu dari jam berapa?” tanya Saran ketika Jongin sudah berada di depannya.
Aku tahu.. Maaf Alien..
Bibir Saran berwana putih kebiruan, ia kedinginan. Melihat itu, Jongin melepaskan jaket birunya dan menyampirkan ke tubuh kecil Saran. Saran tersenyum berseri-seri.
Dengan tatapan seakan-akan terisi penuh kebahagian, Saran tersenyum dan menambahkan “Aku tahu kau pasti datang, Jongin-ah.” Melihat itu Jongin merasa hatinya seperti di siram air panas. Gadis itu tidak marah padanya walaupun sudah menunggu berjam-jam.
“Ada yang mau kukatakan padamu.” Tegas Jongin.
Tiba-tiba, Saran berdiri dari bangku yang ia duduki. “Tunggu dulu. Aku ingin menyatakan sesuatu Kim Jongin.”
Jongin menahan nafas. Jangan Alien.. Jangan bilang kau menyukaiku..
“Jongin, aku tahu ini memalukan. Aku tahu kalau kau pasti mengira aku ini gadis gampangan yang gampang berkata sayang.”
Deg. Tepat sasaran. Kata-kata Saran barusan menusuk luka lebar di hati Jongin.
“Aku menyayangimu Jongin.” Kalimat yang sangat sederhana tapi mengungkap banyak kebahagiaan.
Sejenak jutaan kupu-kupu berterbangan di perut Jongin ia merasa sangat bahagia karena ternyata wanita yang di sukainya juga berkata suka. Tapi takdir berkata lain.
Jongin menggeleng, “Tidak bisa Ara-ya.”
“Ara” panggilan dari mamanya. Dan hari ini, kali pertama Jongin memanggil namanya. Nama yang sangat berarti baginya.
Seperti mendapat sebuah tinju, tubuh Saran terhuyung. Untung saja, didepannya ada kursi taman dan dia dengan sigap menahan berat badannya disana.
“Aku sekarang bukan Jongin yang dulu lagi. Aku sudah menjadi milik Soo Hee. Dan yang mau ku katakan adalah aku ingin kalau kita sama-sama tidak mengenal satu sama lain. Aku menginginkan kita menjadi dua individu yang tidak berhubungan dan tidak menyusahkan satu sama lain. Karena jujur Ara-ya, selama ini aku terbebani karenamu.”
Bohong.. Jangan percaya..
Jongin melihat mata cantik Saran berkaca-kaca. Sekarang, ia juga mati-matian menahan air matanya dipelupuk mata. Ia berani bersumpah ia tidak pernah merasakan sakit yang seperti sekarang ini. Sakit yang sekarang ini tidak bisa dibandingkan dengan sakit karena tertabrak mobil atau jatuh dari tangga.
Tapi sakit yang dirasakan Jongin kali ini adalah sakit yang dirasakan narapidana yang tidak bersalah. Narapidana itu mengalami kecurangan. Ia tidak diadili. Tapi ia harus patuh pada Hakim. Dikehidupan Jongin juga sama. Kedua manusia itu sama-sama saling mencintai tapi cinta tidak adil. Dan Tuhan memutuskan untuk Jongin dan Saran tidak akan pernah bersatu.
=
Hari-hari setelah kejadian taman kota semakin kelam untuk Saran. Di sekolah, Saran tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Dan sudah 5 hari terakhir ini Jongin tidak masuk sekolah. Keterangan : Alpha.
Tapi walaupun sekolah sangat menyeramkan bagi Saram, ketika ia sampai dirumah ia disambut oleh ibunya yang baru saja pulang dari tugasnya sebagai insinyur untuk menyelesaikan proyek pembangunannya di Canada dan itu membuat suasana hatinya sedikit berubah cerah.
“Ara-ya, mama di telefon dr. Shin katanya donor mata untukmu sudah ada. Katanya ada seorang pasien dr. Shin yang sudah tidak ada harapan lagi dan ingin menyumbangkan bagian tubuhnya.” Ucap Ibu Saran di sertai tangisan bahagia.
Saran tidak kuasa menahan tangisnya. Antara terharu dan senang. Dibenaknya hanya ada satu nama “Jongin”. Setelah ini, ia tidak akan membebani Jongin lagi, tapi ia akan menanggung beban dari Jongin. Apapun yang terjadi, setelah matanya berfungsi hal yang harus ia lakukan adalah melihat Jongin. Melihat alasan ia hidup.
=
Februari Akhir, Saran melakukan operasi.
=
Setelah 1 minggu mata Saran diperban, hari ini adalah jadwal melepas perbannya dan melihat kinerja mata baru Saran.
Gulungan pertama dilepas. Gulungan kedua. Gulungan Ketiga. Saran mengerjapkan matanya beberapa kali. Membiasakan cahaya yang masuk di matanya. Cahaya! Cahaya! Mata ini bekerja! Terimakasih pemilik mata..
“Eomma! Aku bisa melihat! Eomma! Setelah 17 tahun akhirnya kau bisa melihat!” seru Saran senang. Dia menangis saking senangnya.
Ibu Saran berurai airmata, ia memeluk anaknya dengan terus mengucapkan syukur. “Ara-ya.. Kamu bisa lihat Eomma nak?” Saran mengangguk dan menangis dalam bahu ibunya.
Saran merasa untuk kedepannya ia akan menjadi berguna dan tidak menjadi beban lagi. Tapi, semua ini belum sempurna. Setelah pulang dari rumah sakit ia harus mampir ke rumah Jongin dan melihat wajah tampannya. Harus. Walaupun Jongin mengusirnya, ia tetap akan ke rumah Jongin. Itu sudah menjadi ketetapan hati Saran.
=
Tangan Saran gemetar ketika ia akan menyentuh bel didepan rumah Jongin. Ia takut jika Jongin tidak ingin melihatnya. Ia takut jika Jongin tambah membencinya. Ia takut..
Tiba-tiba seorang ibu lansia membuka pagar rumah Jongin. “Cari siapa?” ucap nenek itu.
Saran menelan ludah. Di tenggorokan seperti ada bongkahan batu yang tidak bisa mengeluarkan suara.
“Jongin..” Saran berkata dengan sangat pelan.
Nenek dihadapannya terbelalak. Raut wajahnya yang lelah berubah menjadi raut wajah sedih yang serius. Saran memiliki firasat tidak enak.
Nenek itu tersenyum rapuh dihadapan Saran, “Kamu pasti Hwang Saran? Ayo masuk dulu nak. Helmoni punya banyak cerita.”
Saran menurut. Dan seketika ia masuk kekediaman Jongin, ia merasakan Jongin. Bau parfum Jongin semerbak di ruang tamunya. Membuat Saran tidak bisa bernafas saking rindunya.
“Perkenalkan, Cho Eun Ri. Nenek Jongin.” Nenek Jongin mengenggam tangan Saran erat.
Saran semakin tidak mengerti. Apa yang terjadi pada Jongin? Kenapa Jongin tidak keluar dari kamarnya? Inikan hari minggu? Apa dia keluar untuk Hang out? Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus terngiang dikepala Saran.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah figura yang terletak di meja. Itu Jongin. Dia sangat tampan. ‘ batin Claudia
“Helmoni, Jongin dimana? Aku ingin bertemu dengannya.”
Tidak ada jawaban, yang ada hanya peluh Nenek Eun Ri yang mengalir. Nenek Eun Ri menangis dan Saran tidak tahu apa penyebabnya.
Karena gelisah, Saran bertanya “Ada apa Helmoni?”
Tidak ada sahutan.
“Helmoni? Jongin tidak apa kan?”
Dengan sekali hentakan, nenek Eun Ri memeluk Saran. “Ara-ya. Jongin tidak ada disini. Jongin ada di tubuhmu.” Ucap nenek Eun Ri dengan menangis sesegukan.
Pertama Saran berfikir , bahwa sekarang Jongin sedang memeluknya. Dan kemungkinan kedua..
“Helmoni…” Nenek Eun Ri mengangguk
“Mata yang sekarang kau pakai, itu milik Jongin, Ara-ya.” Jelas nenek Eun Ri
Saran diam seribu bahasa. Dia tidak salah dengar kan?
“Jangan bercanda Helmoni..” Saran melepas pelukan nenek Eun Ri. Ia dengan susah payah menahan air mata. Ia tidak mau mempercayai perkataan Nenek Eun Ri barusan.
Nenek Eun Ri hanya bisa mengangguk dan di wajah tuanya yang cantik terlukis banyak sekali air mata.
“ TIDAK!!!” teriak Saran. Tubuhnya merosot kelantai. Ia menutupi kedua telinganya dengan tangannya. Keadaannya sekarang tidak ada bedannya dengan orang-orang gila yang sedang di karantina. Jiwa mereka hilang. Dan saat ini Jiwa Saran juga hilang. Seutuhnya jiwa yang dimiliki Saran ada di dalam tubuh Jongin. Tapi..
“Jongin mengidap penyakit jantung sejak ia lahir. Awal dia lahir ia mengalami kebocoran 4 bagian jantungnya dan beberapa bulan kemarin kejadiannya lebih parah dan mendadak. Karena itu..”
Saran menepuk-nepuk bagian dadanya. Disitu sakit sekali. Saran semakin berteriak karena perasaan sakit itu tidak mau menghilang.
“Saran, jangan seperti ini! Jongin akan merasa bersalah disana. Berhenti! Jongin sudah ada di dalam tubuhmu!” perintah nenek Eun Ri dengan tangisan yang semakin keras.
“Tidak.. Aku mencintai Jongin nek.. aku sangat mencintainya..”
=
Dua bulan kemudian.
Keadaan Saran memang tidak separah setelah ia mengetahui Jongin meninggal. Sekarang ia bisa tersenyum walaupun ia kemabali menjadi mayat hidup.
Saat ini, Saran membawa sebuah flashdisc yang di bungkus dengan sebuah sarung tangan cantik, permukaannya terdapat tulisan tangan Jongin.
Untuk : Alien
Dengan perasaan yang belum pulih sepenuhnya, Saran menyalakan DVD Player dikamar besarnya. Ia juga menyalakan seluruh loudspeaker yang ada disana.
Ketika flashdisc itu berfungsi, pilu itu kembali. Kim Jongin tersenyum jelas di layar Televisi LCD Claudia. Reflek Saran membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak pecah. Kim Jongin sedang bersantai di rumah sakit waktu itu. Saran yakin, itu waktu dia tidak masuk sekolah.
Jongin tersenyum kearahnya ditumpukkan bantal yang menjadi penyangganya untuk duduk. Senyum pertama yang dapat dilihat Saran. Sungguh, Jongin benar-benar dapat melelehkan banyak gadis.
“Hai Alien Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan?” Tanya laki-laki yang muncul dan terpampang jelas di layar kaca TV Saran. Suara Jongin memenuhi seluruh sudut ruangan Saran.
Air matanya semakin deras mendengar suara dan pertanyaan laki-laki itu, orang yang sangat ingin dia lihat ketika matanya terbuka lebar seperti sekarang ini. Saran mengangkat tangannya ke udara seakan menyentuh pipi Jongin yang tirus.
Kemudian sosok di televisi itu tersenyum. Senyum pahit, “Mungkin, ketika kamu lihat ini di televisi aku sudah pergi jauh.”
Suara tangis Saran semakin kencang. Saran menggeleng. Jongin tidak pergi jauh. Jongin masih di sisinya. Jongin masih hidup dalam hatinya dan tubuhnya.
“Aku melihatmu menangis Alien. Dan kau pasti tahu, kau sangat jelek jika menangis seperti itu.” Jongin tersenyum. Lalu ia membenarkan posisi duduknya dan melanjutkan, “Hm, baiklah aku akan mengakhiri basa – basiku.”
Jongin duduk lebih tegak, “ Alien, aku minta maaf karena menghindarimu.” Jeda sebentar. Kim Jongin menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “ Bukannya aku membencimu atau kau menjadi beban untukku. Semua itu bohong. Di taman kota semuanya berbanding terbalik dengan realita. Aku juga tidak pernah berpacaran dengan Soo Hee. Dalam pikiranku, jika aku terus seperti ini, akan jauh lebih mudah untukku dan untukmu, bisa jadi.” Ucap Jongin lalu dia tersenyum sebentar, “Tapi, ternyata keadaan ini semakin membuatku tersadar bahwa aku orang terbodoh dan terserakah yang ada di dunia ini. Terbodoh karena aku tidak bisa mengatakan bahwa aku menyayangimu malahan aku membiarkanmu mengigil dan menangis ditaman kota waktu itu.” Ia terdiam, kelihatan berfikir. “Terserakah apabila aku menginginkanmu untuk menjadi pacarku. Padahal kondisiku seperti saat ini.”
“Kau bodoh. Kau benar-benar bodoh.” Lirih Saran.
“Jangan menyebutku bodoh, kalau kau meyebutku bodoh, berarti kau menyukai laki-laki bodoh itu dan ternyata laki-laki bodoh itu juga lebih menyukai gadis yang menyebutnya bodoh itu?” jawab sosok di televisi seolah-olah menjawab pernyataan Saran.
“Tapi aku sangat bahagia, Ra-ya.”
Jantung Saran berdegup 2 kali lebih cepat. Panggilan itu lagi.
“Aku bisa mengenalmu. Seorang Hwang Saran gadis supel yang merasa sok kuat. Tapi, terimakasih sudah mau menemani waktuku beberapa bulan ini dan memberi warna indah bagi hidupku. Terimakasih untuk kenangan-kenangan yang terlalu sulit dilupakan, terimakasih untuk perhatian-perhatian yang kamu kasih ke aku dan makasih buat pernyataanmu waktu itu. Benar-benar membuatku malu. Ternyata nyali Kim Jongin tidak sebesar si alien bawel.” Jongin mengusap wajahnya, kelihatan sekali ia menahan tangis.
“Perkiraanku meleset Ara-ya. Sebenarnya, sudah beberapa bulan kemarin aku ingin berbicara denganmu. Mengambil bagian yang seharusnya itu bagian laki-laki. Bagian yang menyatakan. Tapi sebelum itu, aku sudah membuat perhitungan dengan memperhitungkan kondisiku. Akhirnya, aku memiliki rumus yang menyatakan bahwa aku bisa sembuh.” Satu tetes air mata turun ke pipi tirus Jongin.
“Karena rumus dan perhitungan itu, aku punya peluang untuk berdiri di sebelahmu buat jadi benteng pertahanan yang nggak ada duanya. Lucu sih, tapi ini tulus.” Ucapnya mencoba tertawa.
“Aku ingin pantas untukmu Ra-ya. Sangat ingin menjadi kedua mata kamu. Tapi ternyata rumus itu salah total. Dokter menyarankan awal Februari aku harus transplantasi jantung karena kondisinya makin buruk. Karena itu, semuanya kacau dan nyaliku terbang entah kemana. Aku merasa aku bukan benteng perlindungan yang kuat buatmu. Aku juga bukan mata yang jelas buat kamu karena aku juga sakit. Aku nggak pantas untukmu Ra-ya.”
Saran membekap mulutnya semakin kencang, tapi itu tidak membuahkan hasil. Isakkannya terus menerus lolos dari mulutnya.
“Dan untuk saat ini aku memiliki kesimpulan kalau cinta itu sungguh tidak adil.” lanjut Jongin. Kemudian, Ray menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Ia menangis sesegukan.
“Maafin aku Hwang Saran. Aku meminta maaf. Aku tidak bisa berada disamping kamu lagi. Tapi satu hal yang kamu harus tahu dan percaya itu. Satu hal yang membuatku bangga juga. Bahwa hatiku tidak salah memilih. Dan hatiku ini nggak malu-maluin aku sama dunia. Alay.” Jongin tertawa dengan penuh airmata.
Saran mengangkat tangannya seolah menyentuh wajah Jongin sekali lagi. “Aku sayang kamu.. Aku..” Suara tangisan Saran pecah. Tidak bisa dipungkiri lagi, hatinya semakin remuk sekarang.
“Aku juga menyayangimu Saran-ah. Aku sayang kamu melebihi sayangmu ke aku. Walaupun semua ini bener-bener tidak adil untuk kita, walaupun aku udah pergi tapi percaya Ra-ya, aku sayang kamu.” Ucap Jongin lagi. Ia mengusap air matanya.
Ray tersenyum, “Tapi, aku sekarang sudah menjadi matamu kok. Aku hidup dimatamu Hwang Saran.”
“Hehe, aku membuat video ini karena terinspirasi novel yang kau paksa masuk ditas ku sewaktu try out kemarin. Iya, yang aku berkata aku tidak mau baca itu. Tapi akhirnya aku baca itu sampai akhir. Dan aku kira, nasib kita sama kayak Alex Hirano dan Mia Clark.”
Ia menghela nafas, “Hwang Saran. Kalau didunia ini nggak ada yang bisa kamu percaya, percaya kamu masih punya seseorang yang sangat mecintai kamu dibanding dirinya sendiri. Untuk itu bangkitlah untuk dia. Bangkit buat aku Ara-ya. Aku pengen kamu berubah menjadi Hwang Saran yang berbeda. Semangat Saran-ah.”
Kim Jongin mengepalkan tangannya seakan menyemangati Saran secara langsung dan diikuti menghitamnya layar LCD dikamar Saran.
=
Dalam hidup ini pasti ada yang datang dan pergi. Dan takdir menyatakan bahwa Jongin adalah yang datang untuk Saran, dan ia membawa harapan. Harapan yang ditunggu Saran sejak dulu. Takdir memutuskan lagi untuk membuat Jongin menghilang pergi. Tapi untung saja, secuil harapan itu diberikannya pada Saran.
Secuil harapan berbuah menjadi harapan-harapan yang sesungguhnya. Harapan yang dulunya telah terkubur jauh dalam tanah. Walaupun dengan ketidakadilan yang menyiksa, harapan itu adalah harapan yang memberikan sebuah kehidupan.
=
“APA YANG KALIAN LAKUKAN BOCAH?” Teriak seseorang laki-laki yang baru saja masuk keruang kelas.
Orang itu terlihat beku ditempat ketika melihat wanita yang dicintainya tergeletak ditanah dengan pecahan vas bunga di depannya.
5 orang dihadapannya hanya menatap takut dan merapatkan diri mereka, “mm, dia kak..”
Jongin menendang kursi yang ada disebelahnya, “Apa kalian ingin memiliki nasib seperti kursi ini?!”
Bulu kuduk ke5 orang yang menyiksa Saran meremang, mereka tidak menyangkal jika idola mereka mempunyai pengaruh yang membunuh.
“Ma.. maaf oppa..ka..kami..”
Jongin tidak menghiraukan ke 5 bocah tengil itu. Ia segera menghampiri Saran dan menggendong gadis itu. Jongin menyadari jika tangan Saran mencengkram erat sebuah bingkisan unik ditangannya.
Dengan tidak rela, 5 orang fans Jongin membiarkannya menggendong dan mendekap Saran dengan erat. Sepertinya rencana-rencana yang telah disusun 5 bocah itu hilang seketika ketika mengerti siapa Jongin sebernarnya.
=
Sampai ruang UKS, Jongin menidurkan Saran disalah satu tempat tidur disana. Masa bodoh ini pelajaran kimia yang paling ia sukai. Yang terpenting adalah gadis dihadapannya sekarang ini. Ia mengambil peralatan medis dan mulai mengobati luka Saran. Dengan telaten, Jongin memperban dahi Saran yang lecet akibat hantaman penggaris satu meter dikelas itu. Setelah itu Jongin membenarkan posisi tidur Saran.
Ketika Saran nyaman dengan posisi tidurnya, Jongin menaruh perhatian pada bingkisan kecil di tangan Saran. Dengan hati-hati, Jongin mengambil bingkisan itu dan tersenyum lebar ketika melihatnya. Rainbow cake.
Pasti gadis ini ingin memberikan kejutan karena ini 3 bulan..’batin Jongin berpendapat.
Jongin juga dapat membaca tulisan, “For me and for you Kim Jongin .”
Tawa Jongin semakin lebar dan ia tanpa babibu lagi melahpr rainbowcake yang ada ditangannya. Didalam hatinya, ini adalah Rainbow cake terenak yang pernah dimakannya. Entah itu karena memang cakenya enak atau karena pemberinya?
10 menit berselang. Jongin memakan rainbow cake itu sambil memandangi wajah Saran. Jongin merasa, di mulutnya terlukis krim-krim putih. Ia berfikir untuk mengambil tissue disebelah ranjang Saran.
Jongin mengulurkan tangan dan badannya untuk sampai dirak sebelah Saran tanpa mengelilingi ranjangnya.
Tiba-tiba, karena kotak tissue itu jatuh dan Jongin kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh tepat didepan wajah gadis cantik itu.
Jongin menyangga kedua tanggannya di sisi kanan dan kiri Saran. Entah setan apa yang merasukinya, ia ingin berbagi krim dengan Saran. Jarak wajah mereka berdua begitu dekat. 5 cm.. 3cm.. 1cm.. Chu-
Jongin mengecup bibir Saran. Manis. Dada Jongin berdegup begitu cepat sampai ia merasa jantungnya melompat dan berlari keluar dari tubuhnya.
Setelah kejadian itu, Jongin menetapkan bahwa kejadian terpenting dalam hidupnya adalah kejadian diruang UKS itu. Segenap jiwanya utuh dan dia ingin itu terus berlanjut.
SELESAI

14 responses to “[Freelance] Gone

  1. ff nya keren thor :3
    hampir nangis juga 😥 *alay*
    tapi ada beberapa typo ya thor, kayak kai jadi ray, trus saran jadi claudia.
    keren thor ^^ keep writing !! ^^
    aku pembaca baru di sini ^^
    salam kenal ^^

  2. jngan” yg wktu d uks jongin blng manis it mxsudny bibirny saran….. ckckck….
    bgus thor…. feelny dpet….

    aq tnggu yg lainny
    fighting

  3. typonya mengganggu banget thor, jadi ga konsen bacanya 🙂 anyway ini ff nya bagus, bikin aq keluar air mata ^^

  4. sumpah ya. .aq nangis bacanx
    Kai,knpa loe bodoh bgt. .
    Huaaaaaa
    Kasian kai dan saran . .huaaaaaa
    Parah. . Em0si.q dijungkir balikkan. .
    Love u kai. .

  5. huwaaaaahhh sedih hiks hiks… tp bgs thor, mnyentuh bingitttssss
    cm bingung suka nongol claudia sama ray, typo ya?

  6. Cuman kurang terlalu suka sama endingnya, bosen sama endingnya, ending kayak gitu pasaran “jongin mati, jongin jadi pendonor mata” tapi bagus kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s