Paris – Choi Yura

Paris

Title: Paris

Author: Choi Yura a.k.a @JuJuYChoiHan

Cast:-Oh Sehun

-Han Jang Mi (OC)

Genre: Romance, Marriage Life, Fluff.

Rated: PG-17 WARNING!!!

Length: –

Menikah dengan Sehun adalah hal terindah meskipun Sehun memiliki sifat childish yang kadang kala membuat Jang Mi sedikit kesal meski Jang Mi orang yang penyabar dan lembut.

**

Oh Sehun dan Han Jang Mi berjalan beriringan, melangkahkan kaki mereka menuju pintu exit bandara. Ramainya bandara akan orang yang berlalu lalang tak menghalangi gerak langkah Sehun dan Jang Mi. Meski pun koper yang tengah di bawa Sehun tampak cukup berat dan besar untuk ukuran orang yang tengah berbulan madu.

Jang Mi hanya memperhatikan Sehun dari samping. Menggelayut kedua tangannya dilengan kiri Sehun dengan lingkaran yang renggang.

Bulan madu ke Negara yang sangat romantis adalah hal terindah yang memang kedua pasangan itu inginkan.

PARIS, menyandang Negara paling romantis yang banyak di kunjungi oleh para pengunjung untuk memenuhi hasrat mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Semua orang yang telah menikah banyak memilih Paris sebagai Negara yang ingin mereka kunjungi untuk wisata bulan madu. Hal itu juga dilakukan oleh pasangan suami-istri seperti Jang Mi dan Sehun.

Jang Mi tak menyangka kalau kini ia telah menikah dengan lelaki tampan seperti Oh Sehun. Awalnya ia dan Sehun tak saling mengenal. Namun karena perjodohan yang selalu dianggap kuno oleh kebanyakan orang, justru malah membawa keuntungan tersendiri bagi kedua orang itu. Jang Mi pikir Sehun adalah orang yang tak pandai berinteraksi pada orang terdekatnya. Benar saja kalau persepsi wanita itu seratus persen salah.

Untuk sekali lagi, Jang Mi harus merutuki kebodohannya dalam mengangap lelaki itu sebagai lelaki yang dingin dan akan lebih tak acuh padanya. Ternyata TIDAK, Sehun bukanlah orang yang seperti itu.

Sehun bukanlah lelaki dingin yang sudah Jang Mi perkirakan dari awal, lelaki itu bahkan tak memiliki sifat seperti lelaki manly pada umumnya. Sifat Sehun yang asli tertutupi oleh wajahnya yang tampak dingin.

“Apa kau lelah membawa koper itu?”

Sehun mulai memalingkan wajahnya, menatap Jang Mi yang berada disampingnya dengan alis yang sedikit terangkat. Seolah-olah lelaki itu tak mengerti dengan pertanyaan Jang Mi barusan.

“Aku bilang, apa kau tidak lelah membawa koper itu?” ulang Jang Mi dengan suara yang sedikit tinggi.

Tatapan Sehun kembali lurus kedepan dan mulai berdehem dengan bibir yang mengatup.

“Meskipun aku lelaki manja, tapi membawa koper yang cukup berat ini bukanlah hal yang merepotkan bagiku.” Suara Sehun yang tenang seolah berbaur dengan kebisingan orang-orang yang tengah berlalu lalang di sekitar mereka.

Jang Mi hanya bisa tersenyum kecut menanggapi jawaban Sehun. Menghela napas berat dan mulai mengikuti arah pandang Sehun.

Langkah kaki mereka mulai membawa keduanya keluar bandara.

Sesampainya di depan bandara, Jang Mi mulai melepaskan lingkaran tangannya pada lengan Sehun dan mulai berjalan duluan untuk menghampiri mobil sedan yang terparkir tidak jauh dari depan gedung bandara.

Sebelum wanita itu melangkah lebih jauh, Sehun sudah terlebih dahulu menarik lengannya dan membuat Jang Mi menghentikan langkahnya.

Kini mereka saling berhadapan.Wajah Sehun tampak memelas dikala koper yang ada di genggamannya tak lagi berada dalam genggamannya.

“Koper ini benar-benar berat.”

Tentu saja Jang Mi tahu kalau lelaki itu akan mengeluh seperti ini padanya. Sifat Sehun yang childish tak akan pernah hilang meskipun mereka sudah menikah dua hari yang lalu.

Oh Tuhan, kenapa diri Jang Mi bisa menikah dengan lelaki manja seperti Oh Sehun?

Kehidupan Jang Mi selalu baik-baik saja dan tak pernah berbelit-belit seperti ini.

Namun apa ini?

Sehun yang memiliki wajah manly ternyata adalah lelaki yang manja. Lelaki itu bisa dinominasikan sebagai lelaki tampan dengan sifat yang manja. Mungkin kalau ia dinominasikan dan disejajarkan oleh lelaki yang memiliki sifat sama seperti dirinya, mungkin saja Sehun akan menduduki peringkat pertama.

“Tapi katamu kau tak repot membawa koper itu. Kenapa sekarang kau malah mengeluh, Sehun?”

Untuk kali ini Jang Mi masih bisa bersabar, baru saja ia menikah dengan lelaki itu dua hari yang lalu. Tak mungkin ia membentak Sehun dan mengumpat lelaki itu dengan beribu kata yang tak layak untuk diucapkan.

“Tapi aku benar-benar lelah.”

Sehun bahkan tak pernah tahu apa yang Jang Mi inginkan. Lelaki itu tampak bodoh dalam mengerti perasaan seorang wanita. Mungkin lelaki itu lebih memprioritaskan kepentingannya daripada memprioritaskan Jang Mi.

Wajah Sehun tampak memelas, tak ketinggalan mata kucing yang selalu ia pergunakan pada Jang Mi tengah terpancar kembali di matanya.

Entah keberapa kalinya Jang Mi menghela napas berat, menahan kesabarannya dalam menghadapi sifat Sehun yang childish. Bahkan lelaki yang berada di hadapannya benar-benar tak pernah melakukan pekerjaan berat seperti lelaki pada umumnya.

“Baiklah, sini biar akau saja yang membawanya.”

Baik, MEMBAWANYA.

Seharusnya pekerjaan ini adalah pekerjaan seorang suami untuk selalu membuat istrinya tak kesusahan atau pun ingin membuat istrinya bangga akan perhatian dan kepedulian seorang suami.

Tapi SEHUN?

Yang Jang Mi tahu Sehun bukan orang yang seperti itu.

Baru saja Jang Mi mengenal Sehun seminggu yang lalu, memang belum mengenal lebih detail atau pun belum mengenal sifat satu sama lain lebih dalam. Kalau saja bukan paksaan dari kedua orang tua Jang Mi, pasti wanita itu tak akan mau menikah dengan Sehun secepat ini.

Itu sama saja orang tua Jang Mi secara tidak langsung telah menjadikannya seorang baby sitter yang mengasuh anak batita. Sifat Sehun tak kalah jauh dari anak-anak kecil yang masih berumur tiga tahun.

“Kalau begitu terimakasih sayang.”

Tangan Sehun menyolek dagu Jang Mi sekilas sembari tersenyum spesifik. Mulai berlalu dari hadapan Jang Mi dan meninggalkan wanita itu seorang diri bersama koper mereka yang bisa dikatakan cukup besar.

“Dasar menyebalkan.” Desis Jang Mi kesal sembari menolehkan kepalanya dan menatap punggung Sehun yang tengah menghampiri mobil sedan berwarna hitam.

-PARIS-

Apa perlu Jang Mi terjun ke sungai suci agar membuat dirinya lebih bersabar menghadapi sifat Sehun?

Jang Mi terlalu naïf kalau dirinya tak menginginkan seorang suami yang romantis dan sangat memprioritaskan dirinya. Tentu saja Jang Mi menginginkan itu. Namun entah kenapa ia lebih memilih Sehun ketimbang memilih lelaki yang pernah menyatakan cinta padanya. Padahal wanita itu sangat lah sempurna, tidak sulit baginya untuk memilih lelaki yang lebih sempurna – baik itu fisik mau pun materi.

Rasanya sangat sulit untuk tidak menangis sekarang. Demi rasa sayang Jang Mi pada Sehun, ia tak akan menghajar Sehun dengan pukulan kasti atau alat yang semacamnya. Meski Sehun telah mentitah Jang Mi membawa koper mereka yang cukup berat, ia tak akan membenci Sehun. Yang ia tahu Sehun bukan lah orang yang kasar meski pun Sehun kerap kali manja padanya. Justru wanita itu tampak senang bila Sehun sering bermanja ria padanya.

Hatinya telah dimiliki Sehun, mungkin hati wanita itu telah berada di genggaman Sehun secara sempurna. Jadi tak ada alasan lagi bagi Jang Mi untuk meninggalkan Sehun. Kalau pun ada celah baginya untuk meninggalkan Sehun, wanita itu pasti tak akan mau melakukannya.

Jang Mi bukanlah wanita yang kasar atau pun suka berganti-ganti pasangan. Jang Mi masih ingat saat dirinya masih duduk di sekolah menengah ke atas, begitu banyak murid lelaki yang menyukainya dan menyatakan rasa cinta mereka padanya. Namun Jang Mi tak menghiraukannya. Ia tahu kalau lelaki-lelaki itu sungguh tak mencintainya dengan rasa yang tulus.

Entah sudah berapa tahun dirinya diklaim sebagai wanita single karena tak pernah berkencan atau pun berpacaran dengan seorang lelaki. Sampai akhirnya takdir mempertemukannya dengan Sehun secara sengaja. Pertemuan yang tak begitu indah telah Jang Mi dan Sehun lalui saat kedua orang tua mereka tengah mengadakan acara makan malam keluarga. Saat itu lah ia dan Sehun bertemu sebagai kedua orang yang tak saling mengenal yang akan dijodohkan karena penggabungan dua perusahaan.

Tapi Jang Mi masih bisa bersyukur kalau dirinya kini jauh lebih beruntung. Menikah dengan Sehun adalah jalan efektif baginya untuk merasakan keindahan berkeluarga. Meski Sehun tampak tak romantis dan childish, tapi Sehun benar-benar bisa menghargai Jang Mi dan begitu lembut padanya.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur yang membalut di tubuhnya. Lelaki itu berdiri di depan pintu kamar mandi sembari menutup pintu kamar mandi itu dengan perlahan. Memalingkan tubuh ke depan dan mendapati Jang Mi tengah duduk bersila di depan lemari coklat yang berada tidak jauh dari kasur mereka.

Sehun mulai berlalu dari hadapan pintu kamar mandi dan menghampiri Jang Mi yang tengah sibuk berkutat dengan barang-barang yang berada di koper mereka.

“Jang Mi.”

Kepala Jang Mi menoleh ke belakang, wanita itu menengadah dan mendapati Sehun tengah berdiri di belakangnya. Lelaki itu tampak mengenakan piyama tidur, piyama tidur yang Sehun kenakan tampak sama dengan piyama tidur yang Jang Mi kenakan – bermotif bunga-bunga kecil dan berwarna cream.

“Apa kau sudah selesai mandi?”

Setelah Jang Mi rasa barang-barang mereka telah tersusun rapi di dalam lemari dan sudah tak bersisa, akhirnya Jang Mi menutup koper yang telah kosong dan mulai bangkit dari duduknya.

“Aku sudah selesai.” Sehun tersenyum.

Betapa tampannya Sehun ketika lelaki itu tengah tersenyum pada Jang Mi. Dan membuat Jang Mi harus mengakui kalau Sehun jauh lebih tampan daripada actor Korea yang sangat ia gemari.

Sehun menatap Jang Mi dalam-dalam dan mulai menghamburkan tubuhnya ke tubuh Jang Mi. Tentu saja perlakuan Sehun yang sudah biasa kerap kali membuat Jang Mi terkesiap. Memang benar kalau ini bukan lah kali pertama Sehun melakukan ini. Yang sudah Jang Mi tahu, Sehun adalah lelaki manja dan sering membutuhkan kasih sayang Jang Mi.

“Aku mencintaimu.”

Sudah sering Jang Mi mendengar ini dari Sehun. Namun entah kenapa untuk kali ini jantungnya berdegup tak menentu.

“Ak-aku juga mencintaimu.” Jang Mi sedikit gugup dengan perlakuan Sehun. Bahkan wanita itu berujar dengan perkataan yang sedikit terbata-bata.

Tubuh Sehun yang begitu dekat dengannya membuat wanita itu kesulitan untuk bernapas. Sehun yang melingkarkan kedua tangannya di punggung Jang Mi telah membuat tubuh wanita itu melemas.

Sebelumnya Jang Mi tak pernah merasakan ini. Wanita itu tak pernah gugup setiap kali berada di samping Sehun mau pun berada di pelukkan Sehun. Namun tidak untuk kali ini. Jang Mi benar-benar tak bisa membalas pelukkan Sehun, tangannya yang berada di sisi tubuhnya tiba-tiba saja menjadi kaku.

Sehun mulai melepaskan pelukkannya pada Jang Mi, menatap wanita itu dalam diam. Perlakuan Jang Mi padanya tak seperti biasanya. Sebelumnya Jang Mi tak pernah seperti ini dihadapannya, sedikit banyaknya telah membuat Sehun bingung akan sifat Jang Mi yang menurutnya tak biasa.

Setelah saling memandang untuk beberapa detik, akhirnya Sehun memalingkan tubuhnya kebelakang dan berjalan menghampiri kasur mereka yang dilapisi oleh seprai putih. Membaringkan tubuh dengan perlahan sembari menyingkapkan selimut tebal di tubuhnya.

Yang hanya bisa Jang Mi lakukan adalah melihat Sehun yang tengah tertidur di atas kasur mereka. Jang Mi tak tahu, apa Sehun sudah memejamkan kedua matanya atau belum. Lelaki itu dengan cepat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

Kaca etalase berukuran besar yang berada di kamar mereka membuat Jang Mi dapat melihat gelapnya langit malam Kota Paris yang ditaburi oleh bintang-bintang yang terang. Meski kini telah larut malam dan bintang-bintang telah bersinar di atas langit Kota Paris, tak memungkinkan untuk Sehun tidur terlebih dahulu dan meninggalkan Jang Mi seorang diri. Cukup bodoh melewati hal itu dimalam hari yang sangat indah untuk pasangan yang baru menikah dua hari yang lalu.

“Sehun…”

Jang Mi berjalan dan menghampiri Sehun yang tengah tertidur di kasur mereka. Lebih-lebih lagi lelaki itu seperti orang tuli karena tak bergeming dari posisi tidurnya. Selimut tebal itu seolah-olah menelan seluruh tubuh Sehun dan membuat lelaki itu tak bisa lepas dari selimut tebal yang membalut seluruh tubuhnya.

“Apa kau tidur?”

Masih sama, tak ada jawaban dari Sehun.

Kesal, tentu saja Jang Mi kesal karena tak diacuhkan oleh Sehun. Lantas wanita itu menarik selimut tebal yang membalut tubuh Sehun dan membuat wajah Sehun terlihat kembali di mata Jang Mi. lelaki itu tampak memejamkan kedua matanya, seolah-olah tak acuh pada Jang Mi yang berdiri di samping kasur.

“Ada apa denganmu?”

Sangat sulit memarahi Sehun hanya karena sifat Sehun yang sedikit menyebalkan. Apalagi Sehun sama sekali tak mau membuka mulut dan kedua matanya untuk menjawab semua pertanyaan Jang Mi.

Cukup kesal rasanya melihat Sehun yang tetap saja diam. Lebih baik Jang Mi yang mengalah dan tak ingin membuat Sehun bertambah marah padanya. Lelaki itu memang lelaki manja, namun ada sisi berbeda dalam dirinya. Sisi berbeda itu adalah salah satu sifatnya yang sangat sulit untuk Jang Mi tebak.

Sulit ditebak?

Setahu Jang Mi, kalau Sehun sudah tampak diam dan menghindar darinya. Berarti lelaki itu tengah marah padanya. Padahal Jang Mi tak tahu apa yang tengah Sehun protes dalam dirinya. Semua kasih sayangnya telah ia tunjukkan pada Sehun, tapi kerap kali juga Sehun mendiaminya akan kesalahan yang tak pernah Jang Mi tahu. Jang Mi selalu berusaha membuat Sehun kembali seperti semula, meski ia tak tahu apa kesalah yang telah ia lakukan pada Sehun.

“Kalau aku punya salah… aku minta maaf.”

Jang Mi memalingkan tubuhnya ke belakang dan bergegas untuk pergi dari kamarnya. Berniat keluar kamar untuk menikmati udara luar hotel meski malam sudah semakin larut. Dengan begitu, mungkin otak Jang Mi yang panas bisa sedikit ternetralisirkan.

Baru saja Jang Mi melangkahkan kaki kirinya ke depan, tapi langkahnya langsung terhenti karena ada sebuah tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Malam sudah semakin larut. Sebaiknya kau tidur.”

Kepala Jang Mi menoleh ke belakang dan mendapati Sehun tengah menatapnya. Lelaki itu mulai bangkit dari posisi tidurnya dan mulai duduk di kasur dengan kaki yang bersila. Sehun menatap Jang Mi dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Menatap dalam diam sembari menarik pergelangan tangan Jang Mi lembut untuk menuntut wanita itu duduk di tepi kasur.

Sehun memang lelaki yang manja dan tak bisa romantis dalam pernikahannya dengan Jang Mi. Apalagi Jang Mi sering merasa kalau Sehun bukanlah lelaki penyuka lawan jenis. Itu perkiraan sebelum dirinya menikah dengan Sehun, tapi setelah menikah dengan Sehun, ia baru tahu kalau Sehun bisa dikatakan ganas jika ia dan Sehun sudah berada di atas kasur dan bergelung di dalam selimut.

Dengan gerakkan perlahan Sehun menghampiri Jang Mi yang tengah menatap ke arah lain. Wanita itu tampak tak ingin bertemu pandang dengan Sehun, cukup gugup untuk menatap mata Sehun yang tak bisa Jang Mi tebak. Lagipula ini adalah malam pertama mereka berbulan madu di Negara orang.

Meski mereka telah melakukan hubunga suami-sitri di malam pertama mereka, tapi entah kenapa Jang Mi merasa kalau malam ini benar-benar terasa panas dan pengap dari malam-malam sebelumnya ketika ia dan Sehun tengah berada di dalam kamar.

“Aku mencintaimu Jang Mi.”

Sepertinya begitu lucu melakukan hubungan suami-istri untuk kedua kalinya. Umur yang bisa dikatakan masih remaja harus membuat mereka menjalani rumah tangga dan menyandang status sebagai suami-istri yang sah. Menikah diumur 19 tahun harus Jang Mi dan Sehun rasakan, hanya tuntutan dari kedua orang tua mereka yang membuat keduanya kini menyandang status suami-istri.

Terlepas dari perjodohan dan rasa cinta, Jang Mi dan Sehun mengikat janji sakral mereka di depan pendeta yang menikahkan mereka. Baru mengenal satu minggu dan menikah dua hari yang lalu sudah membuat Sehun mencintai Jang Mi. Mungkin karena sifat Jang Mi yang penyayang dan penyabar membuat Sehun semakin bertambah tak ingin melepaskan Jang Mi dan semakin mencintai wanita itu.

Kini wajah Sehun tepat berada di hadapan wajah Jang Mi, tentu saja Jang Mi merasakan gerakkan Sehun yang lambat laun mendekati tubuhnya. Deru napas Sehun begitu terasa di telinganya, sedikit banyaknya telah membuat Jang Mi bergidik ngeri di dalam hati.

“Bukankah ini malam bulan madu kita, Jang Mi?”

Suara Sehun begitu seduktif di pendengaran Jang Mi. Wanita itu tak menyangka kalau Sehun yang memiliki sifat childish akan berubah setiap kali mereka tampak berada di kamar dan tengah berduaan.

“Huh?”

Tak mungkin Jang Mi terlalu frontal atas perkataan Sehun yang baru saja ia dengar. Ia tahu tentang yang baru saja Sehun katakan padanya. Tapi wanita itu lebih memilih berpura-pura tidak tahu.

Setelah wajahnya sudah berpaling ke samping kanan, ia mendapati wajah Sehun yang begitu dekat dengan wajahnya. Yang Jang Mi lihat dari Sehun adalah lelaki itu tengah tersenyum jahil padanya.

“Kau tak bodoh dalam urusan ini kan Jang Mi?”

Yang dimaksud Sehun ‘urusan ini’ adalah sesuatu yang berbau dengan hubungan suami-istri. Jang Mi tahu tentang itu.

Sebelum Jang Mi membuka suara, Sehun sudah terlebih dulu menarik tubuh Jang Mi dan membuat wanita itu terhempas di atas kasur dengan tubuh yang sedikit terpental.

Kini kedua pasang mata itu saling bertemu pandang, posisi Jang Mi yang berada di bawah Sehun tak memudahkan Jang Mi lolos dari kedua lengan Sehun yang berada di sisi-sisi tubuhnya.

“Ayolah Jang Mi.”

“Kau!”

Sebisa mungkin Jang Mi menahan pekikkan yang sebentar lagi akan menyembur dari mulutnya.

Untuk kali ini lagi, Sehun semakin tak bisa berlama-lama menahan rasa inginnya. Tubuh bagian tertentunya terasa panas setiap kali melihat garis-garis tubuh Jang Mi. Kedua mata Sehun sedari tadi menyusuri garis-garis tubuh Jang Mi dan semakin membuat Jang Mi menggigit bibir bawahnya malu.

“Kau cantik.” Ujar Sehun sembari membelai pipi Jang Mi dan mulai menyelipkan untaian rambut Jang Mi kebelakang telinga wanita itu.

Sehun mulai terbawa suasana. Suasana yang begitu tenang dan tak ada penolakan dari mulut Jang Mi membuat Sehun semakin tergoyah. Dan dengan perlahan wajah Sehun mulai mendekat dan membungkam bibir wanita itu dengan lumatan yang cukup cepat.

-PARIS-

“Apa kau lelah?”

“Sedikit.”

Matahari benar-benar sudah keluar dari tempat persembunyiannya dan sinarnya merambat ke penjuru kamar hotel Jang Mi dan Sehun. Sinar mentari itu ikut bergabung di antara kedua pasangan yang tengah berada di atas kasur.

Sehun sedikit bangkit dari tidurnya, mulai menarik bantal yang berada di bawah wajahnya dan menyandarkannya pada kepala tempat tidur. Menyandarkan punggungnya pada bantal itu dan menuntut Jang Mi agar mau berada di dekapannya.

“Kemarilah.”

Jang Mi bergerak dari posisi tidurnya dan menjadikan dada Sehun sebagai bantal darurat. Melingkarkan tangan kanannya ke perut Sehun dan semakin menggerak-gerakkan tubuhnya untuk mencari posisi nyaman di dalam dekapan Sehun.

Tubuh keduanya tampak terlihat polos, tanpa ada rajutan benang yang membalut tubuh keduanya. Dada Sehun yang tak dilapisi apa pun tampak terlihat dimana kala ia membelai punggung Jang Mi yang juga tak dilapisi oleh rajutan benang apa pun. Hanya ada selimut tebal berwarna putih yang mereka pergunakan untuk membalut tubuh mereka yang polos.

“Apa kau ingin melakukannya lagi?” Tanya Sehun diselingi oleh senyum jahil yang mengukir di kedua sudut bibirnya.

“Kau ini.”

Tangan Jang Mi bergerak memukul dada Sehun yang tak terlapisi apa pun. Mulai menelungkupkan tubuhnya di atas badan Sehun dan menatap lelaki itu dengan wajah yang sedikit menengadah.

“Aku tahu kau menginginkannya.”

“Tidak, aku tidak menginginkannya lagi.”

Jang Mi berusaha mengelak untuk ini. Sehun bisa saja berubah dari anak yang memiliki umur tiga tahun menjadi paman-paman paruh baya yang genit. Apalagi saat mereka sudah berada di atas kasur, Jang Mi ingat akan hal yang semalam. Bahkan Sehun tak memberinya ampun saat Sehun tengah membungkam bibirnya dalam-dalam dan tak memberi waktu luang pada Jang Mi saat mereka tengah berciuman di atas kasur.

“Benarkah?” tatapan Sehun semakin jahil.

Dengan cepat Sehun membalikkan tubuh Jang Mi dan membuat wanita itu terkurung di dalam tubuh Sehun yang kini tengah menindih Jang Mi.

“Sehun.”

Jang Mi berusaha mengingatkan Sehun agar kejadian kemarin malam tak terulang kembali. Kejadian dimana kala Sehun tampak terlihat menyeramkan setiap kali Jang Mi melarangnya dan menolaknya.

Sehun benar-benar tak ingin mendengar peringatan Jang Mi. Lantas ia semakin menindih tubuh Jang Mi yang polos dan mulai menyingkapkan selimut tebal yang berada di atas punggungnya. Selimut tebal itu kini sudah menutupi seluruh tubuh mereka berdua. Sehun memulai aksinya dengan bergelung bersama Jang Mi di dalam selimut tebal yang ia pergunakan untuk menutupi seluruh tubuhnya dan Jang Mi.

Selimut itu tampak bergerak rusuh akibat keduanya bergelung di dalam selimut tebal itu.

“Sehun!” Suara pekikkan terdengar dari mulut Jang Mi ketika mereka tampak bergelung di dalam selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Jang Mi dan Sehun.

.

.

.

.

_END_

Gimana?

Gimana?

Gimana?

Kurang dapet feel ya??? Ok deh, kalau kalian beranggapan seperti itu,,, lagian ini hanya menghiburku saja dalam hiatus kali ini. Kan dari awal aku janji kalau aku akan hiatus dari dunia per-FFan untuk menghadapi UAS yang sebentar lagi akan aku hadapi. Tapi untuk kali ini aku ngeluari FF marriage life, cumanya ini singkat banget dan full dengan kemesraan pasangan Jang Mi dan Sehun (alias JangHun couple).

Dan FF lanjutan Cry-Cry dan Husband or Enemy? Akan aku lanjutkan setelah UAS ku berakhir, dan itu juga menulis FF bisa mengisi waktu liburku saat setelah selesai UAS.

Dan kini aku benar-benar telah hiatus untuk sementara waktu…

Oh ya bagi kalian yang suka baca FF buatan tanganku, kalian bisa mention aku di @jujuychoihan .


 oh ya,, kalau kalian suka sama tulisanku. coba ramaikan WP pribadi aku http://fishytelekinetics.wordpress.com

dan FF yang paling banyak peminat itu Cry-Cry dan Husband or Enemy?, kalau mau baca itu bacalah. tapi jangan lupa meninggalkan jejak koment :3

63 responses to “Paris – Choi Yura

  1. ahhh kalau aku sihh thor suka kok dengan ff ini apalagi ff author yanggg itu itu tuhhh cry cry aduhhh ditunggu banget semoga uasnya berjalan dengan baik yahhh hehehehe ^^

  2. ige mwoyaaa? hahaha sehun lebih keliatan pervert daripada childish deh ya ini mah :p aigoo aigooo xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s