[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 13)

Devil Beside Me Chapter 13

 

 

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 13)

Author :: Sangheera
Title :: Devil Beside Me (Chapter 13)
Cast :: Luhan of EXO as Angel, Kris of EXO as Devil, and Sera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao
Genre :: Romance, Fantasy
Length :: Multi Chapter
Rating :: PG-17

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || Chapter 12 ||

 

-o0o0o0o-

Sera terpesona, ya gadis itu untuk pertama kalinya terpesona pada sesuatu yang dipakai oleh manusia.

“Gaun yang indah…”gumam Sera. Iris gadis itu menangkap bayangan seorang wanita yang memakai gaun panjang hingga menutupi kakinya. Gaun itu modelnya sebenarnya sederhana saja. Tapi arti dari gaun itulah yang membuat Sera terpesona.

Gaun pengantin.

Gaun yang membuat pemakainya terlihat bagai seorang malaikat paling bahagia didunia. Gadis yang sedang menaiki tangga menuju kapel itu pastilah gadis yang beruntung karena bisa menikahi pria yang ia cintai. Gadis itu tidak berparas cantik, tapi Sera merasa kalah mempesona daripada gadis yang sedang berbahagia itu. Kebahagiaan dominan ditunjukkan gadis itu membuat auranya berbinar cemerlang. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Dikapel itu semua orang menyambutnya, menjadikannya pusat perhatian dan memberkahinya dengan doa-doa baik.

“Lu…” Sera menarik jaket bagian belakang Luhan. Meminta perhatian pria yang sedang sibuk menawar sekilo apel itu.

“Ya?”Luhan menoleh.

“Kapan kau mau membelikanku gaun seperti itu?”tanya Sera dengan raut wajah polos sambil menunjuk kearah kapel yang berada diseberang jalan tempatnya berada. Luhan yang tidak mengerti gaun apa yang Sera maksud, mengikuti arah yang ditunjuk Sera.

Lalu seketika wajah pria itu berubah pias. Matanya membelalak. Gaun putih?

“Aku tidak akan pernah membelikanmu gaun putih itu, Sera!”

Sera terperangah. Kaget dengan kata-kata Luhan yang terdengar dingin dan kejam ditelinganya. “Kau tidak ingin menikah denganku?”

“Kenapa tiba-tiba membahas pernikahan?”Luhan bingung.

“Karena aku menginginkan gaun pernikahan itu darimu. Apa kita tidak bisa menikah?”

Luhan mengerti sekarang. Sekali lagi ia menoleh kekapel tempat gadis bergaun putih tadi berada. Ya, ditempat itu sedang berlangsung upacara pernikahan. Jadi, maksud Sera menginginkan gaun putih adalah agar ia bisa memakainya saat menikah nanti? Dan ia ingin Luhan yang membelikan karena ingin menikah dengan pria itu?

Tapi tidak… tidak boleh gaun putih…

“Maaf aku tidak menangkap maksudmu tadi, sayang—“

Sera buru-buru memotong. “Apa kita tidak akan menikah nantinya, Lu?”

“Kau menginginkan pernikahan?”

Sera mengangguk. “Kupikir ritual manusia itu boleh juga. Aku ingin mengikatmu dengan sumpah didepan altar. Bukankah itu keren?”

“Ya itu memang keren…”

“Jadi, bagaimana? Kapan kita menikah?”Sera masih tidak henti mengejar Luhan dengan pertanyaannya.

Luhan tersenyum dan mengusap kepala Sera lembut. “Kita pikirkan nanti setelah aku membeli apel ini ya? Frau Francuiz berjanji akan membuatkan pie apel kesukaanmu jika kita pulang dengan membawakan sekeranjang apel, bukan?”

“Lu…”

Luhan sekali lagi menampakkan senyumnya sebelum kembali pada kegiatan transaksi jual belinya tadi. Dia sungguh tidak tahan membahas soal pernikahan ini. Gaun putih, lalu altar? Luhan tidak akan membiarkan Sera memakainya dan memasuki gereja dan kapel manapun disini. Karena lantai gereja dan kapel di Liechtenstein semuanya terbuat dari marmer.

Sesampainya dirumah Luhan merasa lega karena Sera sudah tidak membahas masalah gaun itu lagi. Sementara Luhan pergi kepabrik untuk membantu Herr Francuiz memindahkan tong anggurnya keruang penyimpanan, Sera sibuk membantu Frau Francuiz memasak berloyang-loyang pie. Karena Vardus bisa dibilang hanyalah kota kecil, semua orang disini saling mengenal. Untuk itu Frau Francuiz sering memasak dengan porsi besar hanya agar bisa dibagi-bagikan dengan para tetangga. Sera tidak terlalu suka dengan ide itu, apalagi jika ia sudah susah payah membantu seperti ini. Untuk apa membagikan makanan ketetangga, Sera toh bisa menghabiskannya sendiri.

“Kalau kita sering memberi, kita juga akan sering menerima, Sera. Kau ingat kan? Kemarin kita membuat lasagna, lalu memberikannya sedikit untuk keluarga Rolance. Esok paginya, Frau Rolance mengantarkan sekeranjang buah pir untukmu.”

Benar juga. Jadi karena alasan ingin ‘diberi’ maka Sera mencoba mengikhlaskan diri untuk memberi. Cara itu juga yang ingin ia lakukan untuk mendapatkan pernikahan yang Sera inginkan nanti.

Entahlah, sejak Sera melihat pengantin tadi, Sera begitu terobsesi dengan hal yang bernama pernikahan. Ia bertanya pada Frau Francuiz tentang bagaimana rasanya menikah dengan Herr Francuiz. Memaksa wanita tua yang sudah memiliki 2 orang cucu itu untuk menceritakan pengalamannya saat menikah dulu. Gaun seperti apa yang ia pakai, seperti apa tatanan rambutnya, seperti apa kapel tempat mereka menikah, bagaimana prosesinya, dsb.

Cerita-cerita Frau Francuiz tentang pernikahan terasa begitu indah ditelinga Sera. Bagaimana tidak? Pernikahan adalah sesuatu yang mengikat, ketika kau telah menikah itu berarti pasanganmu akan sah menjadi milikmu. Dunia akan mengakui bahwa kalian saling memiliki. Dan yang terpenting, dalam pernikahan terkandung janji yang indah. Janji untuk selamanya bersama, baik dalam suka maupun duka.

“Kau ingin meresmikan hubunganmu dan Luhan, schade? Ingin menikah?”

Sera yang ditanya, mengangguk cepat.

“Oh, bagus sekali. Jaman sekarang anak-anak muda tidak suka menikah. Astaga, mereka hidup bersama tapi tidak suka terikat satu sama lain. Kalau sudah bosan, seenaknya berpisah.”

“Tante (bibi) pernah bosan dengan Onkel (paman)?”

“Tentu saja. Onkel-mu Seth itu benar-benar keras kepala. Tidak ada yang bisa mencegahnya kalau dia menginginkan sesuatu. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa sering kami bertengkar karena hal-hal sepele…”

“Aku dan Luhan tidak pernah bertengkar…”Sera menimpali sambil mulutnya sibuk menguyah sepotong apel.

“Benarkah?”Frau Francuiz melebarkan matanya. “Ahhh… sudah kuduga kalian berdua pasti pasangan muda yang romantis. Luhan sangat tampan. Seumur hidupku aku tidak pernah melihat pria setampan dan sebaik dia.”Sera mengangguk-angguk mendengar kata-kata Frau Francuiz. Tentu saja, Luhan kan malaikat. “Kau gadis yang beruntung, nak. Luhan pasti merawat dan menjagamu dengan baik.”

Sera tersenyum lebar. “Luhan juga beruntung mempunyai gadis secantik diriku, ya kan tante?”

Frau Francuiz mencubit pipi Sera gemas. “Uuu… kau ini. Luhan benar-benar berhati lapang karena bisa mengendalikan gadis manja dan narsis seperti dirimu, schade.”

“Hehehe…”

“Ngomong-ngomong, apa kalian melakukan program penundaan?”

“Penundaan?”Sera mengeryit, tidak mengerti dengan istilah Frau Francuiz.

“Ja! Kalian berdua tinggal bersama, bukan? tante ini juga pernah muda, jadi tante paham sekali apa yang terjadi dengan dua anak muda yang dimabuk cinta dan tinggal bersama.”Frau Francuiz menyunggingkan senyum usilnya. “Kalian pasti pernah melakukan ‘itu’ kan?”

Sera yang mengerti apa maksud kata-kata Frau Francuiz sontak memerah. “Tante~”rajuknya malu.

“Astaga, schade…”Frau Francuiz terkekeh senang melihat ekspresi Sera. “Ketika kalian menikah nanti, kalian harus memberi orang tua ini setengah lusin cucu lagi, ja?”

Sera tak mengangguk. Gadis itu terdiam sambil tangannya reflek menekan bagian perutnya. Tempat dimana manusia dan iblis menyimpan bayi mereka sebelum dilahirkan. Sera merasakan perutnya yang hangat. Membayangkan bagaimana perutnya nanti membesar karena benih Luhan, lalu ia akan memiliki makhluk mungil yang ia lahirkan sendiri.

Pipi Sera semakin memerah hingga ketelinga. Membuat Frau Francuiz semakin senang menggodanya.

“Bayi kalian nanti pasti akan menjadi bayi tercantik dan tertampan yang pernah aku lihat…”seru Frau Francuiz senang. Sera hanya tersenyum. Dirinya sendiri tidak bisa mencegah angannya yang terus melanglang buana kewaktu yang jauh dimasa depan. Saat mungkin dirinya dan Luhan akan memiliki makhluk kecil yang meramaikan rumah mereka. Vaduz akan menjadi tempat sempurna untuk membesarkan makhluk-makhluk kecil itu. Setengah lusin? Mungkin Sera dan Luhan harus melebarkan rumah dengan membeli lahan milik Herr Bach dibelakang rumah mereka. Setidaknya mereka perlu 6 kamar lagi, bukan?

Sera tersenyum-senyum membayangkannya. Aneh, sekarang ada hal lain juga yang diinginkan Sera selain pernikahan. Gadis itu juga menginginkan makhluk kecil bernama anak, padahal sebelumnya Sera sangat membenci makhluk kecil itu.

Tiba-tiba Sera teringat sesuatu. Perutnya…

“Tante…”panggil Sera. Frau Francuiz yang sedang menaruh potongan apel di atas pie, menoleh. “Bagaimana tanda-tandanya jika seorang manusia hamil? Apa terasa sakit sekali?”tanya Sera polos.

Frau Francuiz sedikit mengeryit mendengar pemilihan kosa kata Sera yang menurutnya aneh. Manusia? Seakan-akan Sera bukan manusia saja (memang bukan, tante J). “Apa maksudmu sakit, schade? Astaga, apa kau mengalami morning sick, uh?”Frau Francuiz bertanya balik sambil mengelus perut Sera. Olala, perutnya masih datar. Apa karena umur janinnya masih muda? Pikir Frau Francuiz. Wanita itu benar-benar mengharapkan Sera sedang mengandung seorang anak. Dia sudah rindu dengan suara tangis bayi.

Sera menggeleng. “Tidak. Sakitnya muncul dan pergi secara tiba-tiba, tante…”

“Uhmm… kurasa itu bukan karena kau hamil, schade. Apa kau punya maag? Coba minta Dokter Lawrence memeriksamu, ya?”kata Frau Francuiz yang nampak kecewa. Begitu pula dengan Sera. Sera mengelus perlahan perutnya yang semalam sempat kambuh. Jadi, benar, ini penyakit? Bukan karena aku hamil. Uh, Apa aku harus bilang Luhan dan memintanya mencari obat untukku? batin Sera.

Oven berdenting, menandakan waktu pembakarannya telah selesai dan seloyang pie siap untuk dinikmati.

“Ah, sudah matang!!”seru Sera senang. Perhatiannya sekarang sepenuhnya teralih pada Oven yang siap menyajikan hasil kerjanya. Frau Francuiz tertawa. Dengan sigap, wanita tua itu memakai sarung tangan anti panas dan membuka pintu oven. Mengeluarkan seloyang pie apel yang masih mengepulkan uap panas. Aroma manis tercium dari pie yang baru saja matang itu, membuat Sera meneguk ludahnya.

“Ini enaaaak!!”puji Sera saat Frau Francuiz memintanya untuk mencicipi sepotong. Mata gadis itu berbinar saat dirasakannya selai apel yang lumer menyatu dengan kue dilidahnya.

“Benarkah? Kau suka?”

Sera mengangguk cepat dengan mulut penuh kue. Frau Francuiz tertawa tergelak melihat Sera begitu menikmati kue buatannya.

“Aku pasti akan merindukan kue buatanmu, tante…”kata Sera dengan nada riang. Tapi kata-kata Sera itu terdengar aneh di telinga Frau Francuiz, membuat kening wanita itu mengeryit.

“Memangnya kau mau pergi kemana, Schade?”

“Eung?”Sera menoleh. Tidak mengerti dengan pertanyaan Frau Francuiz. Dia dan Luhan tidak ada rencana apapun untuk meninggalkan Liechtenstein. Kenapa Frau Francuiz tiba-tiba bertanya hal seperti itu padanya?

“Kau berkata-kata seolah-olah akan pergi jauh saja…”Frau Francuiz berkata pelan sambil mengusap pipi Sera. Membersihkan remah kue yang menempel disana.

Sera sejenak terdiam.

Lalu bibir gadis itu melengkung membentuk senyum,”Aku tidak akan pergi kemana-mana kok…”

Lay menghembuskan napasnya dengan berat ketika sebuah visi memasuki pikirannya. Kemudian matanya yang semula tertutup kini terbuka. Ditatapnya dua wajah dihadapannya bergantian, lalu ia menggeleng pelan.

“Tidak berubah…”

Suho mendesah kecewa, begitu pula Xiumin didekatnya.

“Kau sudah bisa melacak dimana Luhan berada, Soo-a?”tanya Suho pada Kyungsoo yang baru saja hadir di Hall tempat Sang Raja, Xiumin dan Lay berada.

“Liechtenstein, Luhan dan Sera saat ini tinggal di Vaduz. Aku menemukan jejak mereka saat pergi ke Austria dan menemukan brosur wisata Liechtenstein dilantai. Karena curiga, aku mengecek negara itu dan akhirnya menemukan mereka…”

“Kita pergi sekarang?”tanya Xiumin.

“Tidak, aku akan menghubungi seseorang dulu…”jawab Suho.

“Raja para iblis?”tebak Lay.

“Ya… Kali ini, Kris yang akan membereskan masalah ini. Jika tidak, titisan Seraphim itu bisa mati…”

Luhan pulang kerumah saat petang telah turun membungkus Vaduz. Selama dikota ini, dirinya dan Sera tinggal disebuah rumah sederhana dengan cerobong asap diatasnya. Sera sangat menyukai perapian dirumah mereka, gadis itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk sekedar duduk menikmati kehangatan dari api yang menggeliat didalam perapian.

Seperti saat ini.

Luhan tersenyum saat melihat Sera sedang duduk dikursi malas dengan mata terpejam. Pria itu melepas mantelnya dan berjalan mendekat kearah Sera. Memosisikan tubuhnya duduk didepan kaki gadis itu. Mendongak menatap wajah damai Sera.

“Aku pulang, dear…

Perlahan mata Sera membuka, lalu senyum gadis itu mengembang. “Selamat datang, Herr Lu…”sambut Sera sambil memajukan tubuhnya dan sedikit merunduk untuk mencium kening Luhan. “Eum, aku tahu malaikat selalu wangi. Tapi keringat tetap saja keringat. Kau harus mandi untuk mengembalikan kekasihku yang tampan dan kissable, Lu…”

Luhan mencubit pipi Sera, gemas. “Arasseo, my majesty…

“Mau kusiapkan air hangat?”

“Mau menemaniku mandi?”

Sera menggembungkan pipinya. “Ish, jangan mulai deh, mr.pervert!!”

“Lho apa salahku? Aku hanya menanyakan apakah kau mau menemaniku mandi atau tidak, kenapa kau cemberut begitu, eo?”goda Luhan, pura-pura tidak mengerti.

“Pertanyaanmu itu yang salah…”Sera yang sebal, menendang kaki Luhan pelan. “Sudah sana pergi mandi!!”

Luhan tertawa,”Hahaha, ja, schade!!”

Kurang lebih 15 menit, Luhan telah menyelesaikan aktivitas mandinya. Ia menengok kearah Sera yang lagi-lagi terpejam dikursi malas, entah tidur atau tidak. Sambil mengucek-ngucek rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Luhan berjalan menuju kedapur. Menyiapkan panci untuk merebus air dan coklat. Segelas coklat hangat dengan kayu manis pasti akan sangat nikmat. Sambil menunggu airnya masak, Luhan memandangi cuaca diluar Vaduz yang nampak terlalu gelap dan sepi. Ya, ramalan cuaca menyebutkan bahwa hujan salju lebat akan turun di Vaduz malam ini.

“Malam ini pasti akan sangat dingin…”gumam Luhan sambil menyentuh kaca jendelanya yang memutih karena beku.

Asap mengepul dari dua cangkir berisi cairan coklat hangat. Luhan menyicipinya sedikit dan puas dengan rasanya. Sera suka yang manis, sedangkan Luhan suka yang sedikit pahit.

“Aku mencium bau yang enak!”suara ceria Sera membuat pria tampan itu menoleh.

Chocolate, sweetheart. Your favorite…”kata Luhan sambil membawa kedua cangkir itu menuju tempat Sera berada. “Apa kau mau membakar marsmallow juga?”

Sera menggeleng dan meraih satu cangkir yang disodorkan padanya. “Ini cukup…”

Luhan mengangguk dan menyesap lagi coklatnya. Pria itu duduk bersila dikarpet, tepat didepan kaki Sera. “Enak?”

“Hu’um…”

“Akan ada badai salju malam ini…”Luhan berkata pelan. Sera yang mendengarnya, sontak menoleh keluar. Dari jendela yang berderak-derak ia bisa melihat salju yang turun dengan lebat disertai angin.

“Aneh sekali hujan salju turun selebat ini saat seharusnya musim sudah mulai berganti kemusim semi. Anomali cuaca, eh?”

“Entahlah…”Luhan mengedikkan bahunya dan kemudian kembali mengucek-ngucek rambutnya yang masih meneteskan air dari ujungnya. “Aku tidak suka cuaca ini, seperti pembawa pertanda buruk…”

Sera meletakkan gelasnya dimeja yang ada disebelah kursinya. Lalu gadis itu menunduk untuk mengambil alih handuk dari tangan Luhan dan gantian mengeringkan rambut Luhan. Mengucek helaiannya lembut. “Bisa jadi. Elsa mungkin sedang kesal pada Anna karena Anna seenaknya sendiri mau menikah dengan lelaki yang baru ia temui. Childish…”

Luhan terkekeh. Elsa? Anna? Astaga, Sera sepertinya benar-benar sedang terjangkit virus film animasi Disney itu. “Bukankah kau juga? Saat pertama kali bertemu denganku, kau langsung melamarku… Aku mengajukan tawaran padamu, malaikat. Jadilah milikku. Kau akan kuberi kekayaan, kekuasaan bahkan pengikut setia yang tak pernah dimiliki malaikat. Kau hanya perlu menanggalkan sayapmu, lalu hidup bersamaku diduniaku.”Luhan tersenyum-senyum geli saat menirukan ucapan Sera saat itu. “Childish…”

“Ish!! Jangan mengungkit-ungkit hal itu. Aku heran bagaimana mungkin aku bisa setidaktahu-malu itu menggoda pria…kekeke~”

“Tapi, godaanmu ampuh juga. Lihat, sekarang aku benar-benar menjadi milikmu, iblis cantik…”

“Iya kan?? Kekeke~ aku memang keren…”Sera tertawa senang. Membuat malaikat tampan didepannya ikut tertawa bersamanya. Suasana hangat didalam rumah mungil Luhan dan Sera kontras sekali dengan badai salju yang membungkus Vaduz diluar. Melihat bagaimana dua makhluk itu begitu ceria bercanda dan tertawa, siapa yang akan menduga mereka adalah makhluk yang bertolak belakang asal usulnya. Makhluk yang diburu pemimpin dunia atas dan bawah.

“Ummm… lihat… Luhan-ku yang tampan…”Sera menelusuri wajah Luhan dengan jemari lentiknya. Mengagumi pahatan Maha Kuasa yang indah tiada tara. Alis Luhan yang melengkung sempurna pas dengan mata lembutnya. Hidung Luhan yang mancung. Bibir Luhan yang kissable. Rahangnya yang sempurna. Wajah Luhan bisa nampak cantik dan maskulin sekaligus.

“Boleh aku bertanya, hm?”Luhan menginterupsi kegiatan Sera yang masih nampak asyik mengagumi ketampanan Luhan.

“Ya?”

“Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya, Sera?”tanya Luhan sambil tertawa kecil.

“Aku sedang mencoba mengingat setiap detil dari wajahmu…”

Kening Luhan berkerut. “Untuk apa kau melakukan itu, baby?”

“Hmmm… aku hanya ingin melakukannya…”

Luhan merasakan sesuatu yang tidak nyaman dihatinya. Tangan pria itu meraih jemari Sera diwajahnya dan menggenggamnya erat. “Kau bisa melihat wajahku sepuasnya setiap hari, schade…”ujar Luhan. “Tidak perlu repot-repot mengingat wajahku seperti itu.”

“Aku tahu…”Sera tersenyum. Gadis itu tidak mengerti kenapa Luhan nampak gusar sekarang. Ia hanya ingin menyentuh dan merasakan setiap inchi wajah Luhan. Apa salahnya? “Aku tidak akan melakukannya lagi,”tandas Sera sambil menarik tangannya dari genggaman Luhan dan melipatnya didada.

Luhan menghembuskan napas berat dan mengelus lembut lutut Sera. Ia sendiri juga sebenarnya bingung dengan perasaan tak nyaman yang tiba-tiba merambati dadanya. Kata-kata Sera tadi membuatnya berpikir tentang perpisahan. Dan Luhan benci dengan pemikirannya itu.

“Haaaahhh… dinginnnn~!”

Pintu rumah Sera dan Luhan tiba-tiba menjeblak terbuka. Membuat hembusan salju masuk kedalam rumah. Sera dan Luhan menoleh, dan kening mereka kompak mengeryit saat sesosok makhluk asing menampakkan diri didalam rumah mereka. Pria berambut panjang yang sekarang penuh dengan butiran salju.

Pria berambut panjang itu berlari kearah Sera dan Luhan berada. Luhan langsung berdiri dan memasang kuda-kuda. Bersiap membalas jika pria itu menyerang. Tapi pria itu sama sekali tidak berniat menyerang, ia menjatuhkan tubuhnya didepan perapian sambil menjulurkan tangannya kedepan. Menampung kehangatan ditelapak tangannya.

“Heechul-a…”Sera mengenali pria aneh berambut panjang itu. Luhan bingung, menatap pria aneh itu dan Sera bergantian.

“Eo, Sera. Maaf ya malam-malam mengganggu…”balas Heechul santai.

“YA!!! HEECHUL!!!”

Sera dan Luhan menoleh kearah pintu. Heechul yang dipanggil, tidak peduli, masih saja asyik menghangatkan diri didepan perapian. Bahkan ia dengan tanpa permisi menghabiskan segelas coklat Sera yang ditaruh dimeja.

Pria bertubuh jangkung dan satu lagi pria berperawakan sedang berdiri didepan pintu, membuat Sera membulatkan matanya.

“YA!! Vampire gila!! Kenapa kau malah masuk kesini, huh!!”Pria berperawakan tinggi itu menghampiri dan mencengkeram kerah belakang baju Heechul. Ekspresi wajahnya nampak kesal sekali. “Mana ada vampire yang kedinginan!!”

“Kau pikir enak apa berdiri ditengah badai seperti itu, jerapah bodoh! Kulit wajahku bisa mengering karena terlalu dingin, astaga, kau tidak tahu bagaimana aku merawat kecantikanku ini eo? Ini butuh perjuangan ekstra agar terlihat awet muda!”

“Cih, vampire gila…”

Luhan ternganga melihat pertengkaran aneh antara Iblis dan Vampire itu. Sedangkan Sera, mata gadis itu begitu terpaku pada sosok yang saat ini berdiri canggung dihadapannya. Manik matanya menelusuri tubuh pria itu seolah sedang melakukan scanning. Menilai.

Tidak ada luka.

Dia sungguh nampak baik-baik saja.

Gadis iblis itu menghela napas lega. Oh, hell, syukurlah dia baik-baik saja…

“Baekhyun-aa…”panggil Sera lirih.

Baekhyun menarik sedikit ujung bibirnya. “Eo… Sera…”

Sera melangkah mendekat kearah Baekhyun. Kali ini, ia menyentuh pria itu untuk sekali lagi memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. Mungkin saja ada luka yang tersembunyi dibalik treanch coat-nya. Siapa tahu? “Kau baik-baik saja?”

“Ya, seperti yang kau lihat. Aku baik…”

“Baek, kata Chanyeol kau dipenjara. Bagaimana kau bisa sampai disini? Tuan Kris sudah membebaskanmu, eh?”

“Eo…”jawab Baekhyun bohong. Kebohongan itu otomatis saja meluncur dari mulutnya. Baekhyun tidak ingin Sera tahu bahwa Baekhyun kabur dari penjara untuk mencari dirinya. Entah bagaimana reaksi Sera jika mendengar hal itu…

Chanyeol yang tidak paham mengapa Baekhyun berbohong membulatkan matanya dan hendak memprotes. Tapi sikutan Baekhyun yang tepat mengenai ulu hatinya membuat bibirnya terbungkam.

“Tuan Kris tidak membebaskanmu untuk mencariku kan?”

“Tentu saja tidak. Apa aku sudah gila mengumpankan diriku untuk menangkap adikku sendiri.”

Sera beringsut menggamit lengan Baekhyun. Mengetatkan kuncian tangannya disana. Seolah takut Baekhyun akan terbang jika tidak dipegangi.

“Aku benar-benar bersyukur kau baik-baik saja, Baek…”ujar Sera pelan. Semburat merah nampak dipipi gadis itu. Sama merahnya seperti warna pipi Baekhyun. Laki-laki itu terpana. Salah tingkah karena sikap hangat Sera yang tak terduga.

Chanyeol, Heechul dan Luhan yang menyaksikan adegan itu tersenyum simpul.

“A-apaan sih? Bergaul dengan malaikat membuatmu sok manis, eo?”gerutu Baekhyun pura-pura tidak suka dengan tingkah Sera. Padahal didalam hati, pria itu bersorak senang Sera bergelayut dilengannya seperti itu. Perasaan seorang ayah yang melihat kemanjaan anaknya. Uh, memang tidak terlihat seperti itu sebenarnya. Hanya Chanyeol dan Heechul yang bisa melihat arti dari ekspresi Baekhyun.

“Bogoshipo!”Sera malah mengeluarkan aegyo-nya. Membuat Baekhyun nyaris tersedak.

“YAK! Malaikat tengik! Apa yang kau lakukan pada Sera, eo?! Kenapa dia bertingkah aneh seperti ini?”

Luhan menyeringai. Geli melihat wajah malu Baekhyun. “Kau tidak dengar, hyung? Dia kan bertingkah aneh karena merindukanmu…”

“Eh? Lu? Kenapa kau memanggil Baekhyun ‘hyung’, eo? Kau lebih tua 7 abad…”Sera memprotes.

“Benarkah?”Chanyeol kaget. Baekhyun juga menatap Luhan tak percaya. 1500 tahun? Umur Luhan setua itu?

“Ish, umur tidak penting. Bagaimanapun juga Baekhyun kan kakakmu, tentu saja itu berarti dia ‘hyung’-ku…”

Chanyeol menggeleng pelan. Salah, dia bukan hyung tapi appa. Oh betapa konyolnya ini. Menantu yang lebih tua ratusan tahun? Chanyeol nyaris tertawa membayangkan fakta ini.

“Sera jagiyaa~, dimana aku bisa tidur malam ini?”Heechul yang sejak tadi diam saja menikmati kehangatan perapian, tiba-tiba menyeletuk yang keluar dari jalur pembicaraan. Membuat semua kepala tertoleh padanya. Terutama Luhan, pria itu mengeryit tak suka mendengar panggilan Heechul pada Sera. Jagiyaa? Heeiii… siapa pria ini? berani-beraninya ia memanggil Sera dengan panggilan genit seperti itu?

Uh oh… sepertinya Luhan lupa seberapa seringnya ia memanggil Sera dengan panggilan ‘genit’ itu. Bahkan variasi-nya lebih beragam. Baby, honey, schade, my majesty… siapa sekarang yang lebih genit coba?

“Kalian akan bermalam disini?”Sera bertanya. Nada suaranya segirang wajah cantiknya.

“Sepertinya kita memang harus menginap disini. Karena takut Tuan Kris akan melacak, kita bahkan tidak berani menggunakan kekuatan kita. Aku jadi tidak bisa berteleport atau mengeluarkan sayapku…”jawab Chanyeol setengah mengeluh.

“Diluar badai, Sera… boleh kan kita menginap disini?”rajuk Heechul.

“Boleh. Tentu saja boleh. Tapi, disini hanya ada dua kamar. Satu untukku dan Luhan, dan yang satunya bisa kalian pakai. Tidak apa-apa kan kalian berbagi kamar bertiga?”jawab Sera.

“Kenapa kau tidur dengan Luhan, eo?”Baekhyun nampak tidak senang dengan pembagian kamar itu.

“Aku selalu tidur dengan Luhan…”jawab Sera polos yang membuat Baekhyun melempar pandangan tidak suka pada Luhan.

“Kalian berdua ‘hanya’ tidur kan saat dikamar?”Baekhyun bertanya tajam pada Luhan, menekankan setiap suku katanya.

Luhan menjawab dengan mengangkat bahunya dan menyunggingkan senyum miringnya yang nampak menyebalkan dimata Baekhyun. Sedangkan Sera sudah memerah hingga ketelinga. Baekhyun menghela napas berat.

“Biar Sera tidur dikamarnya malam ini…”Baekhyun menambahkan dengan tegas. “Lalu kau dan aku tidur diluar, Lu!”

“Why?!”Sera dan Luhan melayangkan protes.

“Jangan membantah kalian berdua! Ini hak veto-ku sebagai seorang kakak, ara?! Pokoknya kalian tidak boleh tidur bersama mulai saat ini.”

“Aku mau tidur berdua dengan Chanyeol!”seru Heechul.

Chanyeol melotot seram. “Dont dare you, Undertaker!! Lebih baik aku tidur diluar!”

“Good choice! Tidur saja diluar kalau begitu, jerapah tampan.”Heechul menoleh kearah Sera. “Omo, sepertinya tidur bersama Sera lebih menarik…”

Kali ini Luhan yang melotot seram. “Kenapa kau malah mau tidur dengan Sera?! Sebenarnya siapa pria ini, Sera?”

“Aku malu mengakuinya tapi dia kakak sepupuku.”Sera beralih pada Heechul. “Heechul-a, perkenalkan dirimu pada Luhan!”perintah Sera.

Vampire itu menatap Luhan, lalu bibirnya membentuk cekungan. “Hai, Undertaker imnida. Atau kau juga boleh sok akrab denganku dan memanggilku Heechul, makhluk tampan. Aku tidak keberatan.”

“Kau kakak sepupu Sera? Tapi bukankah kau ini vampire??”Luhan tidak mengerti.

“Dia dulu iblis…”Baekhyun angkat bicara untuk menjelaskan. “Tapi jalan pikirannya yang aneh itu membuatnya berakhir dengan memotong sayapnya sendiri dan berubah menjadi Vampire…”

Luhan tercengang. Ia teringat lagi kata-kata Sera dulu. Oh iya, benar, jika iblis kehilangan sayapnya maka ia akan berubah menjadi makhluk rendahan dunia bawah. Salah satunya adalah vampire.

“Menjadi vampire adalah passion-ku…”Heechul menepuk dadanya bangga.

“Passion yang tolol…”cibir Sera.

Chanyeol tertawa tergelak mendengar cibiran Sera. Heechul yang sebal dengan tawa Chanyeol, menghadiahi laki-laki jangkung itu injakan telak dikaki.

Baekhyun membaringkan tubuhnya diatas kasur hangat yang berada dilantai 2 rumah LuSera. Disampingnya Heechul sudah memejamkan mata dengan masker timun diwajahnya, membuat wajahnya nampak mengerikan seperti hantu timun. Lalu Chanyeol, pria yang merupakan sahabat Baekhyun itu masih sibuk membaca sebuah buku. Itu buku yang dicuri Chanyeol 2 hari yang lalu saat mereka menginap tanpa ijin diruang bawah tanah Vaduz Castle. Ya, selama beberapa hari di Vaduz, 3 makhluk itu memang tinggal disana.

Hari ini, sebenarnya mereka berniat mengintai dirumah Sera seperti yang biasa mereka lakukan. Tentu saja niat paling utama adalah diam-diam menjaga rumah itu jika tiba-tiba ada prajurit Tuan Kris datang. Tapi karena badai dan Heechul bodoh itu masuk kerumah Sera, mereka jadi ketahuan.

Sera sempat menanyakan saat mereka berlima mengobrol diatas meja makan ditemani seloyang pie yang tadi siang dibuat Frau Francuiz dan Sera. Sera bertanya mengapa Baekhyun, Chanyeol dan Heechul datang bersama-sama ke Vaduz. Baekhyun hanya menjawab bahwa mereka ingin menemui Sera, ia tidak bilang bahwa mereka bertiga telah beberapa hari di Vaduz untuk diam-diam melindungi gadis itu.

“Lalu bagaimana caranya kau tahu kita ada ditempat ini, Baek?”tanya Sera lagi.

“Mapcroice. Kau tahu kan benda itu? kita menggunakannya untuk mencari dimana lokasimu, ditambah dengan menggunakan jejak darah sebagai penunjuk…”

“Jejak darah?”

Baekhyun dan Chanyeol mengangguk. Heechul yang menjelaskan, “Itu adalah ritual pencarian jejak seseorang dengan menggunakan genetiknya yang berada didalam darah. Darah Baekhyun bisa mencari darahmu karena ikatan genetik kalian, Sera…”

Sera terkesiap. “Ternyata ada cara seperti itu? Berarti Tuan Kris bisa saja menggunakan jejak darah dengan menggunakan darah ayah, kan?”Sera menatap ngeri kearah Baekhyun. “Ayah bisa mencari kita Baek…”

“Tidak bisa…”Heechul menjawab.

Luhan yang juga merasakan kecemasan yang sama dengan Sera gantian bertanya, “Kenapa tidak bisa?”

Heechul terdiam sejenak. Bingung harus menjawab apa. Ia menoleh pada Baekhyun tapi Baekhyun hanya diam. Akhirnya Chanyeol-lah yang menjawab. “Itu hanya berlaku untuk saudara, bukan orangtua-anak…”jawabnya asal yang tentu saja bohong besar. Kenyataan yang sebenarnya, jejak darah hanya bisa dilakukan oleh orangtua-anak karena hubungan genetik itulah yang terdekat. Dan tentu saja Baekhyun bisa mencari Sera dengan jejak darah karena pada kenyataannya ia adalah ayah genetik Sera. Kenyataan yang tidak bisa Baekhyun ungkapkan pada Sera.

Sera tak semudah itu percaya. Tapi gadis itu toh tidak ada ide sama sekali tentang apa itu Jejak Darah. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar metode pencarian seperti itu. Maka, pembicaraan tentang jejak darah itu berakhir sampai disitu.

Baekhyun menatap langit-langit. Membayangkan wajah seseorang disana. Serafina, apa aku harus menyembunyikan kenyataan itu untuk selama-lamanya? Apa tidak masalah jika Sera tidak tahu jika aku adalah ayahnya? Tanya Baekhyun dalam hati. Tidak ada jawaban dan Baekhyun terlalu cemas untuk memikirkan jawabannya. Hari dimana Sera akan tahu segalanya pasti akan datang. Itu pasti. Tapi Baekhyun tidak sanggup membayangkan hari seperti apa itu. Lalu yang terpenting, Baekhyun lebih tidak sanggup lagi membayangkan seperti apa reaksi Sera jika gadis itu tahu?

Pria tampan itu memejamkan matanya erat. Dahinya mengeryit. Otaknya berusaha keras menghentikan pemikiran-pemikiran buruk yang membombardir kepalanya. Lalu tanpa Baekhyun sengaja, pendengaran pria itu menajam. Menangkap suara yang ada dibalik dinding kamarnya. Kamar seberang tempat Luhan dan Sera berada.

Ahhh… karena rengekan Sera yang katanya ia tidak akan bisa tidur jika tidak tidur bersama Luhan, Baekhyun akhirnya merelakan anak gadisnya tidur dengan pria lain. Ia berjanji dalam hati akan langsung mendobrak kamar itu jika Luhan berbuat yang tidak tidak pada Sera!

“Besok hari minggu Lu, Frau Francuiz bilang besok aku harus menemaninya pergi…”suara Sera terdengar sayup. Baekhyun mendengar suara gesekan kain, nampaknya Luhan dan Sera berada dibawah selimut mereka sekarang.

“Berdua saja?”

“Nein, sepertinya ramai-ramai dengan Jeannie dan Sofie Francuiz. Mereka heboh sekali saat ditelepon. Sepertinya ada sesuatu yang mereka rencanakan, Lu…”

Terdengar tawa renyah Luhan, lalu pria itu berkata. “Frau Francuiz dan dua putrinya itu memang selalu penuh kejutan kan? Dan sepertinya mereka semua sangat menyukaimu, kau sudah seperti keluarga mereka sendiri…”

“Hmm… aku tidak tahu bagaimana rasanya punya ibu atau saudara perempuan. Tapi kurasa jika aku punya, pasti menyenangkan…”

“Kau sekarang punya mereka, darling. Oya, Herr Bach juga tadi mengirimiku pesan, katanya besok para lelaki harus bekerja bakti membersihkan salju yang menumpuk karena badai. Besok aku harus mampir ketempat Pierre dulu untuk membeli sekop, sekop yang lama patah.”

Bibir Baekhyun tanpa sadar membentuk sebuah lengkungan. Entah kenapa, dadanya merasa hangat sekali mendengar percakapan santai Luhan dan Sera. Percakapan biasa itu menimbulkan kesan betapa damainya kehidupan Luhan dan Sera sekarang. Dan kedamaian Sera adalah hal yang paling diinginkan Baekhyun.

“Ajak saja Baekhyun dan yang lain…”Sera berkata. “Tenaga mereka lebih besar daripada tenaga 100 manusia digabung jadi satu. Akan menguntungkan sekali mengajak mereka, kau tidak perlu capek-capek, Lu…”

Luhan tertawa. “Memangnya mereka mau?”

“Itu bayaran dari kue pie-ku tadi. Mereka sudah mengambil jatahku dan sekarang mereka juga menempati satu kamar kita. Tidak ada yang gratis didunia manusia kan? Jadi mereka harus mau bekerja untuk membayarnya…”

“Eiii… perhitungan sekali dirimu ini pada kakakmu sendiri, kekeke~”

It’s bussiness, Lu. Who care about relationship, if you talk about bussiness… hehe…”

“Kau senang Baekhyun datang, honey? Syukurlah dia baik-baik saja…”

“Mm…”Sera mengiyakan dengan gumaman. “Aku mencemaskannya setiap hari. Memikirkan apa yang terjadi padanya di penjara bawah tanah. Itu tempat yang tidak bagus, Lu. Lebih buruk daripada Azkaban-nya Harry Potter. Dinding disana bisa meredam kekuatan kita hingga ketitik nol. Kau akan menjadi makhluk lemah tak berdaya disana. Mengerikan. Aku bersyukur Baekhyun sudah bebas dari tempat itu…”

“Kau menyayanginya, eh?”

Pertanyaan Luhan membuat Baekhyun yang ikut mendengarnya terkesiap. Pria itu menajamkan pendengarannya. Ingin sekali mendengar jawaban Sera sejelas-jelasnya. Walaupun ada perasaan ragu dan takut terselip dihatinya, mengingat bagaimana perlakuan Baekhyun yang sangat kasar pada Sera dulu.

Tapi, pada akhirnya Baekhyun sungguh tidak kecewa. Dia benar-benar beruntung telah mendengarnya. Hatinya diluapi rasa syukur tiada tara pada Sang Pencipta.

Sera menjawab. Gadis itu menjawab dengan suaranya yang teredam oleh tubuh Luhan karena gadis itu memeluk sang malaikat erat. Tapi Baekhyun bisa dengan jelas mendengar suara lembut Sera. “Kurasa, Ya. Oh Lu… Baekhyun adalah satu-satunya keluargaku. Dia adalah keluargaku yang berharga, tentu saja aku menyayanginya…”

Jika saja Sera tahu, pria yang disayanginya itu, pria yang menurutnya adalah satu-satunya keluarga, pria yang selama ini dia tahu adalah kakaknya ternyata adalah ayah kandungnya, entah bagaimana gadis itu…

Badai diluar telah reda 30 menit yang lalu. Baekhyun duduk tercenung diteras rumah Sera dengan selimut tebal membungkus tubuhnya seperti kepompong. Diterangi oleh lampu jalan yang bersinar malu-malu dan ngengat yang menempel dilampu teras. Salju menggunduk dimana-mana. Beberapa nampak jatuh bergumpal dari cabang pohon yang digoyang angin.

Barusan Baekhyun mendengar ungkapan perasaan Sera tentangnya, dan itu membuatnya merasa senang sekaligus sedih. Ada banyak hal yang Baekhyun sembunyikan dari gadis itu dan hal itu semakin menjadi beban berat baginya.

“Baek…”

Baekhyun menoleh. Pintu terbuka, lalu Sera muncul dari dalam rumah. Tersenyum dan berjalan menghampirinya. “Apa yang kau lakukan disini sendirian?”tanyanya sambil menempatkan diri duduk disamping Baekhyun.

Baekhyun melebarkan selimut yang ia pakai, merangkum Sera kedalam kehangatannya. Sera tersenyum dan membenarkan sedikit letak selimut yang sekarang tersampir ditubuhnya. Ia tidak keberatan sama sekali duduk berhimpitan dalam satu selimut dengan Baekhyun. Tangannya malah dengan santainya melingkari lengan Baekhyun dan memeluk erat. Baekhyun sedikit terkejut karena tidak terbiasa dengan sikap manja Sera. Tapi perasaan hangat yang mengaliri dadanya membuat pria iblis itu menampakkan senyum lembutnya.

“Kukira kau sudah tidur…”kata Baekhyun.

“Tidak. Aku mendengar suara langkahmu menuruni tangga. Lalu aku menyusulmu karena penasaran mau pergi kemana kau malam-malam begini… hehe…”

Baekhyun mengambil helai rambut Sera yang menutupi wajah gadis itu dan menyelipkannya dibelakang telinga. Memandang gadis yang merupakan darah dagingnya itu dengan tatapan penuh sayang. “Kau sudah banyak berubah, Sera…”

“Benar. Aku sekarang telah menjadi Sera yang lain. How? Apa aku nampak baik sekarang?”

Baekhyun mengangguk. “Ya, kau nampak sangat baik…”

“Dan bahagia?”

“Dan bahagia…”

Thanks to Luhan…”seru Sera. “Aku bersyukur menemukan malaikat seaneh dirinya, kekeke~. Luhan benar-benar mencintaiku seolah ia akan gila jika tidak bersamaku, Baek. Betapa beruntungnya aku!”

“Yaya, dia jauh lebih beruntung karena bisa mendapatkan adikku yang cantik ini…”balas Baekhyun.

“Benar! Itu tetap poin utamanya!!”Sera tergelak senang.

Baekhyun terkekeh mendengar tawa Sera. Pria itu entah dapat ide darimana, tiba-tiba menggerakkan jari-jari lentiknya dengan gerakan anggun yang mengayun diudara. Mengakibatkan butiran-butiran salju memutar dan membentuk sebuah sosok yang membuat Sera memekik senang.

“Olaf!!!!”

Sera bangun dari duduknya dan mendekat kearah manusia salju itu. Dari teras, Baekhyun menggerakkan jemarinya lagi untuk menambah sentuhan terakhirnya. Hidung wortel dan kehidupan.

“Oh… i’m aliveee!!!”teriak Olaf senang sambil menepuk-nepuk pipinya.

“Olafff!!!”Sera menyerukan nama makhluk itu lagi. Olaf menoleh padanya dengan wajah jenakanya yang menggemaskan.

“Hai, Sera!!! I’m Olaf and i like a warm hug… fufufu…”

“Kudengar kau menyukai makhluk itu…”Baekhyun berkata santai. Sera mengangguk-angguk cepat dan Olaf menoleh kearah Baekhyun. Makhluk itu terpana, bibirnya ternganga dan ia menatap Baekhyun dengan tatapan berbinarnya.

My lord…”sembah Olaf pada Baekhyun dengan tubuh membungkuk khas para ksatria jaman inggris kuno. Baekhyun tersenyum.

How are you, Vibe?”sapa Baekhyun. Sera memandang Olaf dan Baekhyun bergantian, bingung dengan cara Olaf memberi salam pada Baekhyun. My lord? Vibe?

“Namanya Olaf, Baekhyun. Kau tidak nonton Frozen, eo?”

“U-u-u… No, honey. My lord menciptakanku lebih dulu daripada Tuan Disney yang termashyur itu. Sungguh. Ya kan, tuan?”Olaf meminta persetujuan dari Baekhyun. Baekhyun mengangguk, mempersilakan Olaf mengatakan apapun pada Sera. “Aku lahir saat perang dunia pertama, Sera. Astaga, kebetulan apa ini? Kita lahir ditahun yang sama! Dan aku mengenal seseorang yang sangat mirip denganmu!”

Sera terkejut dengan kata-kata Olaf. Gadis itu menatap Baekhyun. Matanya mengisyaratkan bahwa ia butuh penjelasan tentang hal ini. Baekhyun tersenyum lemah.

Bukankah ini saatnya Baek? Kau harus menceritakan hal ini kan?

“Mau mendengarkan sebuah kisah membosankan, Sera?”

Olaf yang menjawab duluan sambil melompat-lompat. “Aku mau! Aku mau!”

“Aku akan mempertimbangkan apakah itu membosankan atau tidak, Baek. Silahkan mulai saja ceritanya. Aku akan mendengarkan…”Sera kembali duduk disamping Baekhyun. Sedangkan Olaf duduk didepannya.

Baekhyun memandang Sera dan Olaf bergantian. Lalu ia menghentikan tatapannya pada Olaf. “Vibe, mau membantuku menceritakan tentang gadis itu?”Raut wajah Olaf—atau Vibe—berubah semakin cerah. Baekhyun melanjutkan. “Tentang Serafina…”

TBC

Annyeong haseyoooo~~~~

Joseonghamnida yeoreobun karena lama sekali update-nya#bow90derajat.

Dan kabar buruk karena sepertinya Chapter 14 juga akan lama updatenya. Mungkin baru bisa minggu depan, atau bahkan mungkin akan lebih lama lagi. Karena dikampus sedang musim praktikum, dan selama 1 minggu ini harus jagain adek-adek unyu-ku praktikum jadi yaaa gak bisa pegang laptop sebelum pukul 9 malam… Itu pun kalau badan gak remuk redam dan emosi gak dalam titik terendah. Kalau udah dalam kondisi payah macam itu, author udah gak ada mood buat ngetik apapun, uhuhu…

Ngomong-ngomong ada Olaf di Chapter ini, hahaha, maaf klo aneh, author bener-bener jatuh cinta ma makhluk satu ini. 😀

Ukelah… seperti biasa, tolong beri author kritik, saran dan komennya ya reader-deul. Kalau sekiranya FF-ku mulai membosankan, tolong beritahu apanya yang bikin bosen biar author bisa memperbaikinya.

Oiya, kalau mau contact aku silahkan kenomor ini 089656104247 atau ke akun FB author Melinda Seara Yushie…

C-u for the next chapterrr~~

72 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 13)

  1. biarkan aku berteriak sekencang2nya
    KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    kapan baekkie ungkapin klo dia ayahnya sera trus kapan peperangan sebenarnya terjad
    next chap ditunggu jgn lama2 ya

  2. WAHHHH keren eh apalagi si heechul sama chanyeol koplak bget kelakuannya
    lanjut jan lama” yo penasaran nih….

  3. ayooo cepat cepat dipost ya next chapternyaa 😀 kereeen thor, yaampyun ngakak liat si undertaker -_-

  4. aaaa sumpeh thor harmonis banget kekekekeke ayo ayobaek katakan sesungguhnya kira-kira kris datang gak?dan aduhhh penasaran ntuh perut sera kenapa????

  5. Kris ga jadi dateng? Klo dateng dia akan nge hukum mereka kan?
    Ada olaaafff!!! Sepertinya author kena virus frozen haha *nyanyi let it go*
    Dan akhirnya baek mau menceritakan siapa dia sebenernya yeah! Tapi klo ga salah yeol pernah cerita ke sera deh ttg siapa baek:/

    Lanjut thor lanjut^^

  6. Apa sera bakalan mati ?? Ngomongnya nyeremin sera mah kaya mau kemana aja ..
    Ehm olaf siapa yah aku ngga tau hehehe
    Eh itu baek beneran mau nyeritain serafina ? Dan hubungan baek sm sera ?

  7. sera kayak yang mau pergi jauh deh omongannya,,apa bakalan terjadi sesuatu yang buruk?
    cie..ayah yang lagi bahagia sama anaknya (tunjuk baekhyun dan sera).

  8. semoga semoga semoga kris ga ada di next chapter , masih ga rela kalo kebahagiaan mereka hancur huhuhu
    dan gimana reaksi sera ya pas tau kebenarannya ?

  9. Huuuuaaaaa pngn tau reaksi sera g sabar baca chapter selanjutnya, ini langsung mau cus deh, g tidur semaleman juga g papa kok

  10. KYAAAAAA….akhirnya,akhirnya…Baek mau cerita juga. Aigooo…Eonni,manis bgt sih…ada Olaf juga disitu. Jjang bener deh pokoknya sama imajinasi Eonni!! Aku suka banget sama karakter Baek disini,kebalik bgt sama kenyataannya haahag. Berwibawa,trus cool,lembut…dewasa. Ah,untung kenyataannya,Si Byuntae gak kaya gitu. Bisa2,aku nikung lg nih!! XD POKOKNYA NEOMU JOHAAAAAAA….!!! FIGHTING!!><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s