You’re My Special [Chapter 3]

Story by Serenade

youre-my-spesial

You’re My Special [Chapter 3]

Son Hanun, Byun Baekhyun

Oh Sehun, Do Kyungsoo, Chen [other cast]

Romance, Friendship

PG-17

Series

Credits poster :  Swaaa_ by HSG

also post at my personal wp : exoticbluelight

Read this first : Prologue – Chapter 1Chapter  2

I’ve come with another fanfiction

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh itu hanya hiburan semata. Cerita murni dari otak saya.

Semoga dapat terhibur dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan sebuah komentar.

 

******

Previous :

”Tentang Aerin eonnie. A..aku sudah tahu. Maaf.”, Hanun menunduk dalam takut pria itu akan menatapnya tajam lagi. Karena tak mendapat jawaban, Hanun mendongak dan kaget saat tatapan matanya jatuh pada pandangan Baekhyun. Pria itu sedang manatapnya, hanya saja tidak ada raut kemarahan disana. Hanun salah tingkah mengamati wajah pria yang bisa dibilang. Err.. Tampan.

”Kembalilah ke kamar dan tidurlah. Ini sudah malam..”, pria itu berujar pelan dan lembut membuat Hanun berpikir setan apa yang merasuki tubuh pria itu saat ini. Hanun tahu dia lelah begitu pula pria dihadapannya saat ini. Jam dinding di kamar Baekhyun menunjuk angka 2. Hampir pagi memang. Gadis itu merasa Baekhyun butuh istirahat untuk kuliahnya esok pagi. Sehingga dengan sedikit berat hati, gadis itu melangkah meninggalkan kamar Baekhyun. Hanun telah mencapai pintu, langkahnya terhenti dan dia berbalik.

”Oppa, terima kasih..”, tanpa menunggu respon apapun dari Baekhyun, gadis itu melangkah pergi menuju kamarnya. Menyisakan Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

***

#NP EXO-K – My Turn to Cry

Chapter 3

~I Hate Your Mother~

Seorang gadis sedang berlari dengan napas terengah-engah tak peduli dengan langkahnya yang bisa tersandung batu. Ia hanya berharap waktu melambat dan membawanya tepat di halte sebelum bus meninggalnya. Ia merutuki nasibnya saat alarm di ponselnya tak berdering, dan parahnya tak ada yang membangunkannya pagi ini. Gadis itu memegangi kedua lututnya sambil menstabilkan napasnya yang masih memburu. Ia kembali milirik jam yang melingkar di tangannya 07.25. Tak begitu lama terlihat bus mendekat, segera mungkin gadis itu naik kedalaam bus dan mencari tempat duduk sekenanya saja. Gadis yang meletakkan tasnya diatas pangkuan itu terhenyak saat mendengar suara yang tak asing dalam pendengarannya.

”Hmm.. Nanti tunggu aku saat pulang ya?”, gadis itu mendengar suara perempuan mengetuk gendang telingannya. Dia sama sekali tak berniat menoleh kebelakang tempat orang yang suaranya dia dengar itu.
”Iya sayang.. Aku ada urusan sebentar di kantor guru nanti aku akan menunggumu”, gadis yang mencengkeram kuat tas dipangkuannya makin memanas mendengar suara lain dari seorang pria. Bagaikan ada kepulan asap panas diatas kepalanya, ingin gadis itu meloncat keluar dari bus kalau saja kendaraan itu tidak melaju kencang.
”Terimakasih Oh Sehun sayang..”

Hanun gadis yang matanya telah berkaca-kaca di bangku paling depan. Ingatannya melayang pada saat-saat yang dirinya diposisi gadis yang suaranya dia dengar tadi—Min Ji.
Dalam hatinya, Hanun amat merindukan pria dibangku belakang itu. Setelah hampir satu minggu paska ditinggalkannya dia oleh pria bernama Oh Sehun itu. Baru kali ini dia kembali mendengar suaranya dengan langsung. Jika saja bisa, gadis itu akan berlari memeluknya dan menangis dalam peluknya, berharap mengurangi rasa rindu yang mengepul dari dalam dirinya. Ketika gadis itu larut dalam pikirannya sampai tak menyadari ketika dua orang berdiri dihadapannya saat ini.

”Oh, Hanun-ah.. Kau tidak mau turun?”, gadis itu tercekat menatap orang yang mengajak bicaranya, matanya justru menatap sebuah tangan yang saling menggenggam mesra didepannya. Ia menoleh keluar jendela dan makin kaget saat dirinya telah sampai di depan sekolahnya.
”Oh..a..aku permisi keluar du..dulu. Anyeong Min Ji-ah, Se.. Sehun-ssi…”, dan Hanun berlari sekuat tenaga meninggalkan gadis bernama Min Ji yang menatapnya sendu. ‘Maafkan aku Hanun-ah’.

_____

Seusai menyelesaikan beberapa keperluan di sekolah, Hanun masih betah duduk di kantin yang mulai ramai karena siswa kelas sepuluh dan sebelas sudah waktunya untuk istirahat. Gadis yang kali ini rambutnya dikepang satu itu melamun sambil mengaduk orange jusnya. Tatapannya kosong menerawang kejadian di bus pagi tadi. Tanpa diduga air matanya jatuh membasahi pipi.

”Hey.. Kau menangis nona..”, gadis itu sontak menatap seseorang dihadapannya. Ia lantas menghapus sisa air matanya dipipi dan memaksakan sebuah senyum pada salah satu temannya itu.
”Aku tidak menangis Kyungsoo-ya..”, ucap gadis itu membuat temannya yang bernama Kyungsoo itu semakin terkekeh geli.
”Nampaknya aku sedang berhadapan dengan gadis patah hati..”, ucap Kyungsoo sambil menopang kedua tangannya diatas meja untuk menatap teman sekelasnya itu. Gadis itu menghela napas jengah. Sekuat apa dia menyembunyikan dihadapan temannya yang satu ini, tetap akan terbongkar dengan mudah.
”Sudahlah Hanun-ah, lupakan saja dia. Aku yakin kamu pasti bisa mendapat pria yang lebih darinya?”, ucapan Kyungsoo membuat gadis itu kembali menerawang jauh akan kenangan-kenangannya bersama pria itu selama dua tahun belakangan. Terlalu banyak kenangan sehingga Hanun merasa untuk melepas pria bermarga Oh itu butuh waktu yang sedikit lama. Mungkin.
”Hahh.. Entahlah Soo-ya..”, Hanun pasrah dengan nasib hidupnya. Rasa sakit hatinya ketika melihat Sehun bermesraan dengan Min Ji tadi pagi kembali menimbulkan bercak air mata disudut matanya.
”Oh iya kemarin aku lewat di depan rumahmu..”, Hanun membelalakkan mata kala mengingat kontrakan kecil yang alamatnya pernah dia bagi kepada pria bermata lebar dihadapannya ini.
”I..tu.. Maksudku aku tidak tinggal lagi disana..”,
Lagi dan lagi gadis itu menghembuskan napas dengan pasrah. Selain mengingat rasa sakit terhadap mantan kekasihnya itu, gadis ini juga berpikir tentang satu-satunya orang tua yang dia punya dimana hampir dua bulan tidak ada kabarnya. Ia merindukan suara ibunya, didaratan China.
”Ada masalah lain?”,
”Kupikir aku baik-baik saja Kyungsoo-ya. Jangan khawatir..”, Hanun memaksakan sebuah senyum demi membuat teman yang juga sahabatnya ini tidak terlalu khawatir dengan keadaannya saat ini.
”Berbagilah denganku jika ada masalah..”, gadis itu kembali melempar senyumnya.
”Aku tidak apa-apa Soo-ya..”,
Dalam hati gadis itu bersyukur masih memiliki teman sebaik Do Kyungsoo. Dia bisa berbagi dengannya atau paling tidak dia memiliki sandaran ketika tak ada lagi satupun yang mau peduli dengannya. Pertemanannya dengan pria itu telah terjalin sejak pertama masuk di sekolah menengah atas. Do Kyungsoo menemukan Hanun yang menangis disudut kamar mandi karena seragamnya basah disiram fans Oh Sehun kala itu. Sejak saat itulah mereka menjalin pertemanan, bahkan Hanun menganggap pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu sebagai oppanya.
”Kyungsoo-ya.. Aku harus pulang dulu. Sampai ketemu lain waktu..”, Hanun berdiri sambil menepuk pundak Kyungsoo pelan. Sedangkan pria itu tersenyum.
”Baiklah. Hati-hati di jalan. Hubungi aku jika perlu..”, gadis itu hanya mengangguk tanda setuju. Kemudian meninggalkan Kyungsoo yang masih duduk ditempatnya.

***

Hanun membuka pintu rumah Baekhyun dengan pelan berusaha tidak menimbulkan suara yang keras. Gadis itu melepas sepatunya lantas menaruhnya diatas rak dan mengganti dengan sandal rumah. Dia berjalan dengan melamun menuju lemari es dan menegak air untuk melepas dahaganya.

”Sudah pulang.?”, Hanun tersedak hebat saat mendengar suara seseorang. Hanun pikir tak ada seseorang dirumah Baekhyun dan ternyata pria itu sedang berbaring sambil memainkan ponselnya di sofa ruang tengah.
”Sejak kapan oppa disana?”
”Dasar gadis bodoh. Itulah mengapa jangan berjalan sambil melamun..”, ucapan Baekhyun masih terkesan dingin dan mengejek, sedangkan Hanun hanya mempoutkan bibirnya tanda tak setuju dengan argumen pria itu. Gadis itu melepas tas di gendongannya lantas membawa segelas air lalu duduk diujung kursi yang digunakan Baekhyun untuk berbaring.
”Oppa tidak kuliah..?”, ucap Hanun sambil mencolek lengan Baekhyun.
”Tidak..”, Baekhyun tetap fokus pada ponselnya.
Hanun kembali mengerucutkan bibirnya. Seminggu lebih dia tinggal dirumahnya, tapi masih saja mendapat sikap dingin. Meskipun gadis itu sudah mulai terbiasa dengan rutinitas seorang Byun Baekhyun yang akan menghabiskan waktunya diluar rumah sepanjang hari dan kembali ketika matahari akan terbit demi mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum kembali berangkat ke kampus.
”Oppa tidak membolos kan..?”, Baekhyun yang jengah meletakkan ponselnya di meja lantas mendudukan dirinya dihadapan gadis itu.
”Tidak Son Hanun..”, ucapnya mantap. Hanun sedikit mengulas senyumnya kala pria itu menyebut namanya.
Dua orang yang masih duduk di sofa itu menoleh kearah pintu yang diketuk dari luar. Baekhyun berdiri dan berjalan kearah pintu diikuti oleh Hanun yang mengekor dibelakangnya. Pria bermata sipit itu makin menyipitkan matanya menatap dua pria yang amat dia kenal sedangkan Hanun menatap dua pria berwajah menyeramkan dari balik punggung Baekhyun sambil tangannya mencengkeram kaos yang dikenakan pria itu dari belakang.
”Apa yang kalian lakukan disini?”, Baekhyun berucap sambil menunjukkan wajah malasnya untuk berhubungan dengan orang-orang dihadapannya ini.
”Siapa dia, oppa?”, ucapan lirih Hanun sama sekali tak digabris oleh pria yang masih menatap dua lelaki dihadapannya dengan wajah bengis.
”Nyonya meminta kami untuk menjemput tuan..”, salah satu dari lelaki itu berucap dengan nada santai.
”Aku tidak mau..”, tangan Baekhyun akan menutup pintu tapi kalah satu langkah karena lelaki dihadapannya telah menghadang.
”Tapi ini perintah. Lebih baik tuan ikut dengan kami saja..”, ucap lelaki yang lain menyisakan pertanyaan besar dikepala Hanun.
Gadis itu makin bingung dengan keadaan didepannya. Tiba-tiba dua orang tadi masing-masing meraih lengan kanan dan kiri Baekhyun membuat pria itu tak dapat berkutik sedangkan cengkeraman Hanun pada kaosnya terlepas.
”Oppaaa…”, gadis itu menjerit saat melihat Baekhyun meronta-ronta agar dilepaskan oleh dua lelaki berbadan besar itu. Gadis itu yakin bahwa lelaki itu adalah seorang pengawal.
”Lepaskan aku…”, pria itu makin berontak saat dua pengawalnya mulai berjalan menjauhi pintu. ”Kumohon sebentar saja..”, mohon Baekhyun selanjutnya dan terbukti ketika dua pengawalnya melepasnya. Baekhyun lantas berjalan kearah Hanun yang berdiri mematung di depan pintu, tangannya bergetar dan air di pelupuk matanya hampir jatuh.
”Oppa, jangan tinggalkan aku..”, rintihnya saat pria itu sudah berada tepat dihadapannya.
”Dengarkan aku Hanun-ah. Aku tidak akan lama, jadi tolong jagalah rumah ini dan jangan pernah mencari dimana aku…”, Baekhyun memegang kedua pundak gadis yang telah terisak dihadapannya. Sedangkan Hanun mencengkeram kuat kedua lengan Baekhyun enggan melepas pria itu.
”Tidak oppa. Jangan kemana-mana..”, air matanya makin deras. Dua lelaki dibelakang Baekhyun kembali meraih lengan pria itu membuat Hanun makin membelalakan matanya.
”Kumohon jangan kemana-mana. Aku akan cepat kembali..”, ucap Baekhyun saat dirinya kembali ditarik dua orang berbadang gempal itu. Sosoknya hilang dibalik pintu mobil dan Hanun terduduk menangis di depan pintu.
”Baekhyun oppa..”, gadis itu merintih dengan lirih

***

Baekhyun merasa mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat tidak asing lagi di penglihatannya. Dia begitu jengah untuk menginjakkan kakinya kembali ke tempat itu. Pria itu tahu, kedatangannya hanya akan mendapat perintah ini itu dari ibunya. Pria ini yakin 100%. Kemudian untuk lolos keluar dari tempat ini butuh tenaga ekstra seperti beberapa tahun yang lalu.
Baekhyun berjalan dimuka dan diikuti dua lelaki yang tak lain pengawal ibunya dibelakang. Sejenak Baekhyun merogoh saku celananya baru menyadari ponselnya tertinggal di meja saat mengobrol bersama Hanun tadi.
”Anakku. Akhirnya datang juga..”, ingin rasanya Baekhyun menutup kedua telinganya saat mendengar suara cempreng milik wanita yang telah melahirkannya. Bukan artinya Baekhyun membenci ibunya, hanya saja pria itu merasa jengah dengan rencana-rencana ibunya yang kadang tidak masuk akal.
Baekhyun diam tak berniat membalas ucapan ibunya sama sekali. Matanya kembali menelisik dan menemukan seorang gadis berdiri dibelakang ibunya. Pria itu menghela napas kasar.
”Katakan apa mau Eomma, setelah itu biarkan aku pergi..”, ucap Baekhyun dingin. Ibunya menyerngit, senyumnya yang tadi mengembang tiba-tiba hilang.
”Mulai hari ini kembali ke rumah. Ellisya akan tinggal disini. Yaaa. Hitung-hitung untuk pendekatan kalian sebelum menikah setelah kamu lulus kuliah..”, ucapan yang keluar dari bibir ibu Baekhyun terdengar enteng sedangkan anak bungsunya itu hanya menatap jengah ibunya yang kembali berulah.
”Berhenti mengurusi hidupku eomma. Aku berhak mengurusinya sendiri, dan aku bukan lagi anakmu yang hidup di jaman yang butuh perjodohan..”, pria itu berucap dengan nada keras dengan sedikit sindiran menatap gadis keturunan Korea Inggris bernama Ellisya yang beberapa waktu lalu menyapanya di depan kampus.
Baekhyun tahu Ellisya adalah salah satu temannya di kampus meski beda jurusan tapi Baekhyun mengenal gadis yang terkenal dengan debat bahasa inggrinya di kampus. Pria itu tahu Ellisya memiliki paras yang cantik, postur tubuh yang sempurna, dan otak yang cerdas. Tapi Baekhyun butuh satu hal untuk menjalin sebuah hubungan—Cinta dan pria itu sama sekali tak merasakan perasaan itu selama hampir dua tahun eommanya mencoba menjodohkan mereka berdua.
”Siapa yang mendidikmu menjadi anak yang membentak nasihat orang tuannya Baekhyun-ah? Oh. Apa karena ulah teman-temanmu di arena balap liarmu?”
”Berhenti eomma. Aku berhak mengurusi hidupku..”
”Kamu yang harusnya berhenti dari dunia malammu yang kau habiskan dengan acara tak ada gunanya itu. Kamu bisa mendapat uang lebih jika kembali tinggal disini..”, ibu Baekhyun masih berucap dengan lantang dan menyela ucapan-ucapan anak lelakinya itu.
”Sudah Ahjumma, mungkin Baekhyun masih lelah..”, gadis berambut sebahu itu meraih lengan nyonya Byun mencoba menenangkan, sedangkan Baekhyun menatapnya bosan.
”Aku ingin pulang..”, Baekhyun berbalik untuk melangkah pulang tapi dua lelaki itu menghadang jalannya ”Kalian minggir..”, Baekhyun menatap mereka dengan tatapan membunuh.
”Bawa Baekhyun ke kamar dan kunci dari luar…”, ucapan nyonya Byun membuat Baekhyun membelalakkan mata.
”Apa yang kau kata….. Aish, lepaskan aku…”, belum sempat melanjutkan kata-katanya Baekhyun telah diseret dua orang tadi menuju kamarnya
”Shit…”

***

Hari makin petang saat dirasanya matahari terus berjalan kearah barat. Dengan seragam sekolah yang masih melekat sempurna di tubuhnya, Son Hanun masih memeluk kedua lututnya di depan pintu rumah Baekhyun. Gadis itu hampir tiga jam tidak berpindah posisi, wajahnya amat kusut layaknya seragam sekolahnya ketika tidak di setrika. Pikirannya melayang kepada Baekhyun yang bahkan sampai saat ini belum pulang.

”Kapan oppa pulang..”, lirihnya kepada dirinya sendiri.

Angin sore yang berhembus menerbangkan anak rambutnya yang terlepas dari ikatan. Ada setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya, gadis itu takut terjadi apa-apa pada pria itu. Dia sudah menganggap Baekhyun seperti kakaknya sendiri, sedangkan sampai matahari benar-benar akan kembali ke peraduannya, pria bersurai hitam itu belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Gadis itu kembali berpikir tentang dua orang yang membawa Baekhyun tadi. Dari percakapan yang sempat gadis itu dengar tadi, Baekhyun amat mengenal pria tadi. Kemudian mereka menyebut kata ‘Nyonya’, mungkin saja itu sebutan untuk ibu Baekhyun. Kemudian dengan sisa tenaga yang dia miliki Hanun berlari kedalam rumah Baekhyun mencoba untuk mencari petunjuk apapun tentang keluarga pria itu. Matanya lantas berbinar melihat benda berwarna putih diatas meja. Gadis itu meraih benda yang tak lain adalah ponsel Baekhyun mencari kontak yang dapat membawanya menuju pria itu.
Setelah berkutat dengan ponsel Baekhyun, Hanun menemukan satu nomor yang mungkin bisa membantunya kali ini. Gadis itu memencet tombol call pada seseorang sampai suaranya diseberang sana terdengar.
”Ada apa Baekhyun-ah..”
”To..tolong aku. Datanglah kerumah Baekhyun sekarang..”, ucap Hanun terbata kemudian terdengar orang diseberang sana memutuskan panggilannya.
Hanun kembali berjalan keluar rumah, ia tak lagi peduli ketika langit sudah gelap dan hawa dingin makin menusuk kulitnya. Dia berjalan mondar-mandir sambil menimang ponsel Baekhyun berharap orang yang dihubunginya tadi akan datang menolongnya. Seperti beban dilepas dari kepalanya, gadis itu memancarkan pandangan berbinar saat sebuat motor berhenti di depan rumah Baekhyun. Pemilik motor itu turun dan berjalan melewati pagar besi untuk menemuinya.
”Apa yang terjadi Hanun-ssi?”, ucap seorang pria yang saat ini sudah berdiri dihadapan Hanun.
”Baekhyun dibawa pergi dua orang berbadang besar. Aku tidak tahu kemana perginya..”, pria itu mengacak rambutnya.
”Pasti mereka lagi..”, ucapnya lirih membuat Hanun mengerutkan keningnya.
”Kau tahu dimana Baekhyun oppa, Chen-ssi?”, balas Hanun pada pria yang tak lain adalah Chen.
”Apa mereka memakai baju yang sama?”
”Iya..”, jawab Hanun antusias.
”Kupikir Baekhyun dibawa kerumahnya..”, Chen mencoba menerawang. Kejadian yang sering tejadi batin pria itu.
”Antarkan aku kesana Chen-ssi..”, gadis itu berujar mantap tak peduli dengan Chen yang mematung di depannya.
”Itu tidak mungkin Hanun-ssi. Kau tidak tahu bagaimana sosok ibunya..”, Chen mencoba meyakinkan gadis itu sedangkan Hanun tetaplah gadis keras kepala yang merengek minta diantar ketempat Baekhyun. ”Apa yang Baekhyun katakan sebelum pergi ?”, Ucap Chen mencoba menggali informasi dari gadis itu. Pria itu yakin jika Baekhyun tidak mungkin meminta gadis itu untuk menjemputnya dirumahnya. Akan membahayakan bagi perasaannya jika mendengar penuturan kata ibunya yang setajam belati.
”Aku tak peduli antar aku kesana Chen-ssi, Jebal..”, Chen begitu terkejut saat Hanun memeluh kedua lututnya memohon.
”He..hentikan Hanun-ssi.. Aish, baiklah aku antar kesana..”, pria itu putus asa lalu membawa Hanun menuju rumah Baekhyun yang seperti neraka.

***

Gadis itu berdiri didepan sebuah pagar rumah yang menjulang tinggi. Kakinya bergetar dan tangannya mengepal. Rambut hitamnya sebagian terbang dibawa angin malam. Hatinya sudah mantap untuk masuk kedalam dengan segala konsekwensi yang akan diterima. Dia hanya butuh oppanya pulang dana kembali kerumah yang ditinggalinya. Hanya itu saja.
”Kau yakin akan masuk Hanun-ssi?”, Gadis itu menoleh pada pria yang sudah mengantarnya sampai ditempat ini. Gadis itu hanya tersenyum lantas menyuruh Chen menunggu diluar dan gadis itu akan melangkahkan kakinya seorang diri kesana. Meski jantungnya bergemuruh dan keringat membanjiri wajahnya. Gadis berusia sembilan belas tahun itu memberanikan diri membuka pintu gerbang.

Kakinya mencapai pintu utama dan tangannya yang menggantung di udara masih bergetar enggan untuk mengetuk pintunya. Setelah hampir lima menit berdiri di depan pintu kayu bercat putih itu, Hanun menghela napas sejenak. Memantabkan dirinya dan dalam hitungan ketiga tangannya mengetuk pintu rumah Byun Baekhyun.
”A..aku mencari Baekhyun o..oppa..”, Gadis itu tersentak ketika pintu dibuka dan sosok seorang wanita berbaju hitam yang muncul pertama dihadapannya.
”Maaf tapi tuan Baekhyun..”
”Siapa yang datang ahjumma?”, seseorang yang berdiri didepan Hanun itu menoleh dan mendapati nyonyanya telah berdiri dibelakangnya. Entah apa yang merasuki gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu berjalan melewati pintu dan berdiri dihadapan nyonya Byun.
”A..anyeong haseyo nyonya.. A..aku hanya i..ingin menemui Ba..baekhyun oppa..”, ucapnya terbata setelah membungkuk sejenak pada orang yang dipikirnya sebagai ibu Baekhyun. Hanun terus menunduk saat diketahuinya perempuan yang pertama membuka pintu untuknya tadi telah pergi dan menyisakan dirinya bersama nyonya Byun. Atmosfir terasa mencekam dan keringat dingin semakin membanjiri tubuh Hanun.
”Jadi kamu yang membuat Baekhyun menjadi berandalan? Berapa mahal Baekhyun membayarmu semalam?”, Hanun tercekat lantas mendongakkan kepalanya.

Jadi ibu Baekhyun menyangka dia gadis murahan yang bisa dibayar setiap malam? Oke Hanun memang gadis polos yang cengeng. Tapi untuk masalah harga diri yang diinjak-injak dia tak akan tinggal diam.
”Apa yang anda katakan, nyonya?”, ucap gadis yang kini tengah mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
”BERAPA UANG YANG DIHABISKAN ANAKKU UNTUK MEMBAYAR WANITA MURAHAN SEPERTIMU..”, gadis itu terlampau emosi mendengar ucapan orang dihadapannya yang membentak dengan suara lantang dan mata berkilat.
”Jaga mulut anda nyonya..”, Hanun kehilangan kesabarannya. Dia lantas mengeluarkan suara yang tak kalah lantangnya dengan ibu Baekhyun. ”Aku memang hanya gadis biasa. Tapi anda tidak berhak menghina saya seperti itu..”, ucap gadis itu selanjutnya. Dilihatnya ibu Baekhyun tetap memasang wajah jengah siap melontar kata-kata kasar lagi.
”Oh.. Gadis kecil ini mencoba membela diri rupanya..”.
”YA. dan meskipun aku hanya gadis kecil setidaknya aku lebih baik dari anda yang bertindak semau anda terhadap anak sendiri..”
”Tahu apa kau tentang kehidupanku..”, jawab ibu Baekhyun selanjutnya.
”Aku tahu kalau anda hanyalah seorang ibu yang mementingkan egonya sendiri tanpa berpikir tentang perasaan orang lain..”, Hanun berkata dalam satu helaan napas seiring langkah ibu Baekhyun yang mendekat. Tangannya nyonya Byun yang terangkat melayang diudara dan menimbulkan suara saat menghantam rahang kanan Hanun.

Gadis itu tersungkur di lantai dan keningnya menyentuh pinggiran meja dengan kecepatan yang lebih besar. Ia tak lagi merasakan rahangnya berdenyut meninggalkan bercak darah di ujung bibir serta keningnya yang mungkin membiru. Dia hanya merasakan amarah yang menguasainya melihat wanita dihadapannya ini.
”Jaga mulutmu gadis jalang..”, suara ibu Baekhyun teramat lantang membuat seluruh penghuni rumah mendengarnya. Tak terkecuali pembantu rumah tangga yang miris melihat kejadiannya itu.

Ahjumma yang tak tega melihat gadis yang ditampar nyonyanya itu lantas berjalan kearah kamar Baekhyun. Dia tak peduli jika setelah ini akan dipecat dari tempatnya bekerja, ia hanya ingin memberitahu Baekhyun dan menyelamatkan gadis itu. Jarinya meraih kantong baju dan mengambil kunci kamar Baekhyun. Wanita berumur itu bergetar saat memasukkan kunci kedalam lubang pintu. Setelah menghasilkan bunyi klik nampaklah sosok Baekhyun dari dalam.
”Tu..tuan..”, ucap Ahjumma itu terbata.
”Ada apa ahjumma..”, pembantu itu menunduk tak berani menatap wajah tuannya.
”Ada gadis berseragam Kyunghee SHS bersama nyonya dibawah..”, tanpa menduga siapa sosok itu Baekhyun sudah dapat menebak. Dengan segenap emosi yang menyelimuti dirinya pria itu melangkah keluar kamar melewati pembantunya yang masih mematung didepan pintu kamarnya untuk turun ke lantai bawah.
Pria itu berlari menuruni anak tangga. Sesampainya dibawah betapa semakin bencinya dirinya terhadap sikap ibunya.
”Apa yang kau lakukan, eomma..”, lelaki itu berjalan mendekati Hanun yang masih terduduk dibawah dengan air di pelupuk mata sambil merintih kesakitan.
”Kembali ke kamar Baekhyun.”, pria itu sama sekali tak mendengar ucapan ibunya. Dia merangkul Hanun untuk membantunya berdiri.
”Ayo pulang.”, pria itu justru berkata lirih kepada Hanun lantas berjalan menuju pintu keluar menyisakan ibunya yang menatapnya tajam.
”Mau kemana kau Baekhyun? Kembali ke kamar..”, ucap ibunya saat menatap Baekhyun justru terus melangkah melewati pintu rumahnya.

Pria itu memperhatikan gadis dalam rangkulannya yang menahan sakit karena memar diwajahnya. Dia keluar rumah seiring suara ibunya yang menggema dan membentak-bentak dari dalam. Dilihatnya sosok Chen berdiri didepan pintu gerbang rumahnya. Baru saja Baekhyun ingin meminta Chen untuk membantunya, saat dirasa tubuh gadis dirangkulannya memberat dan jatuh dipelukannya.
”Astaga, Ya! Son Hanun, Bangunlah!!!”

To Be Continue

***

Kawan seperti janjiku aku kembali di chapter 3.
Buat yang request sama kedekatan bakhyun-hanun dan lain-lain mohon bersabar karena di part ini emang aku rencanain buat gak manis-manis dulu..hehehe
Buat yang penasaran sama chapter selanjutnya. Ada apa ya???????
Aku kasih dikit cuplikannya :

……………………………………………
”Aku mau obat yang diteguk saja, oppa..”
”Tapi lukamu butuh dibersihkan agar tidak infeksi..”, ucapan Baekhyun membungkam Hanun. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Hanun memilih untuk memejamkan matanya sambil mencengkeram lengan Baekhyun kuat demi menahan sakit.
”Chaa.. Sudah kan?”, gadis itu membuka mata setelah beberapa menit. Yang pertama kali dia lihat saat membuka mata adalah wajah serius Baekhyun ketika memasang perban pada keningnya. Alis tebalnya mengkerut tanda keseriusan, sedangkan bibirnya mengatup. Rambutnya yang hitam legam terlihat basah sehabis keramas. Gadis itu terdiam memandangi Baekhyun yang terlihat sangat ……………………………………………

Penasaran kaaaan?? Just wait 😉
Leave comment please 😉

Love and Love from Mr. Byun

BoZSBN_IMAAyzYz

322 responses to “You’re My Special [Chapter 3]

  1. Pingback: SERENADE PRESENT: | exoticbluelight·

  2. Eommanya baekkie jahat bangett sihh –” …
    Hanun juga sihh keras kepala..
    kerenn.kerenn eonn ..

  3. Aah hanun dtampar sma ibunya baekki. Knpa ibunya kejam bgt ya? Trus knpa sih ibunya hanun gk mau ngunjungin atau ngelihat keadaan hanun? Dan kpan ya oppa nya hanun dtg k korea? Pnsarn

  4. Baekhyun cem anak tk ya, masih dikurung ama emaknya, wkwkwk.. Hadeh.. Bagus unn!! Lanjut ne!

  5. Aaah.. Sehun oppa disini jadi nappeun namja yeth.. Huhuhu ;(
    hihi Byun Baek udah mulai simpati sama Hanun .. Yehett !!
    Bwt author yg daebak selalu..
    Keep writing ne.. :*

  6. Kok pacarnya sehun minta maaf,knp?
    Ya ampun,, ibu nya baek mah keterlaluan ngomongnya –”
    Btw aku bru sadar sehun jdi cast masa -_-||

  7. Entah kenapa aku jadi ngrasa gimana gitu dgn Sehun.. Aaaa Sehun jahat! *kebawa emosi*
    gk sabar buat nunggu sweet moment’nya ^^

  8. Kasihan banget Hanun. Uh ibu yang jahat!! Mulutnya itu lho dan tindakannya pada Hanun sungguh keterlaluan.

  9. Oh ya ampuunn. ibu macam apa yang kayak gtu. ngomongnya aja kayak sambal yang sangat pedas. huh. Aku suka. akhirnya ada moment hanun deket ma baekhyun juga. ya walaupun sedikit tapi gpp lah. Huh. yaudah cus next chap aja

  10. duh udah makin deket aja nih pasangan terus terus deket aja deh baek sama hanun ntr jatuh cinta gtu kan indah, sebel bgt sama maknya baek kejam bgt orangnya, yauda deh mau baca next chap ya

  11. emaknya baekhyun itu sosok nyata dalam drama yang jadi emaknya go jun pyo BBF sama judesnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s