[Freelance] Beautiful and The Wolf

wolf cover

Title: Beautiful and The Wolf

Main Cast:
– Park Chanyeol
– Hyunri Lee Collins

Support Cast:
– EXO Member
– Jung Jeoseok/Jessica (oc)

Genre: Romantic, Fantasy.

Rating: PG-13.

Length: Chaptered.

Summary: Where the day we meet. You like make me freeze. Even you made me to be yours without you touch my body, just with your gaze eyes

Desclaimer:

Don’t be plagiat and don’t be sidder cause I need your opinion. Thanks ^^

Hey Guys!, makasih udah sempetin mau baca, jangan lupa komentarnya karena aku butuh banget sama komentar kalian karena aku masih belajar untuk membuat fanfiction yang bagus dan baik ^^ Gomawo, Saranghae Readers ❤

#Hyunri-collins.

Dimana hari kita bertemu. Kau seakan membuatku membeku. Kau bahkan menjadikanku milikmu tanpa kau harus menyentuh tubuhku, hanya dengan tatapan matamu.”

Kata-kata itu selalu terngiang di otakku yang entah apa artinya. Aku selalu bermimpi dengan mendengar suara itu, setelah eomma dan appa bercerai 3 tahun yang lalu. Dan kini aku bukan anak kecil lagi dimana aku sudah menjadi remaja berumur 18 tahun yang dimana sebentar lagi aku berumur 19 tahun.

“Hyunri-ya!.., cepat bergegas, eomma dan appamu akan pergi ke California dan kau akan ke Forks 3 jam lagi, kau tak mau ketinggalan pesawat kan?.” Ya.. maksud eomma adalah ayah tiriku, dia baik dan bahkan kami akrab satu sama lain.

Ah, yang eomma katakan itu adalah dimana aku harus sementara pindah di Forks untuk 1 tahun. Mungkin. Ibuku menikah lagi dengan orang Amerika yang tak beda dengan ayah kandungku yang sama-sama berasal dari Amerika.

Namanya Michael. Haha namanya Mainstream bukan?. Tapi aku masih menggunakan marga appa kandungku, Collins. Seperti Edward Collins yang dimana dia adalah seorang Vampire yang mencintai seorang manusia. Yap Bella Swann, dan tentu saja aku bukan kalangan Vampire haha.

Ayahku bernama Joe Charles Collin dan aku Hyunri Lee Collin.

“Mom.. can I go tomorrow?, I wanna go hang out with my friends..” keluhku.

“Nugu? Nira? Atau Ahnrin? Ah apakah Hana?.”

“Eomma..”

“ajak sahabatmu Nira, dia pasti suka berlibur kesana. Kau tau kan orangtuanya selalu pergi keluar negri?.” Dan kali ini eomma benar!, mengapa aku tak mengajaknya saja ya?. Kalau Ahnrin dia pasti sibuk dengan menciptakan komik sedangkan Hana akan sibuk dengan Namjachingunya, Jungkook. Aigoo berarti yang tersisa adalah Nira yang hanya sendirian di rumahnya.

Sebenarnya dari sahabat-sahabatku yang lain aku dan Nira adalah yang paling banyak kesamaan. Kami pemurung, pendiam dan penyendiri.

Entahlah aku menjadi penyendiri setelah perceraian appa dan eomma 5 tahun silam. Cukup lama tapi aku senang sekarang eomma bisa tersenyum lagi bahkan berteman baik dengan appa.

“Nira.., ige naya..”

-Incheon Airport-

Kulihat jam tanganku yang berwarna hitam dengan pinggiran coklat berbentuk kotak dan berlatar belakang gambar Paris, dan Ya! Aku memang ingin pergi kesana, tapi kupikir itu hanya menyusahkan orangtuaku saja dan juga mengapa Nira lama sekali?.

“Hyunri!.” Teriakan itu membuatku lega setelah 15 menit eomma berangkat ke California bersama Michael suami barunya itu. Mereka terlihat seperti ingin bulan madu kau tau?.

Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada temanku yang lebih pendek dariku Ini hahaha.

“Kajja kita akan terlambat!.” Ujarku lalu menarik koper yang berukuran kecil karena sebagian koperku sudah dikirim ke Forks. Ke rumah ayah kandungku.

“Apakah Forks menyenangkan?, aku sangat senang akan bisa melihat langsung suasana Forks yang sesungguhnya, bukan dari film lagi.” Celoteh Nira yang kulihat dia lebih senang dari biasanya.

“Hmmm, aku pernah tinggal disana saat aku SMP dan saat masih kecil, dan menurutku kau akan menyukainya terutama banyak pohon lebat dan sungai yang indah disana.”

“Jeongmal?, bahkan aku sudah siap dengan kamera CLRku yang baru appa berikan dari Kanada.” Ya dia memamerkan sebuah kamera CLR padaku dan aku hanya tersenyum, setelahnya kami tertidur karena perjalanan masih sangat panjang untuk sampai di Forks. Nanti sesampainya disana kami akan langsung di jemput oleh appa yang dimana appa adalah seorang penjaga hutan juga pengusaha kayu.

Aku merindukannya.

‘Pendaratan selanjutnya adalah Forks. Terimakasih telah terbang bersama kami…..’

Ya, singkat aku mendengar pengumuman dari pramugari. Aku sudah sampai di tanah kelahiranku yang dimana aku hanya hidup beberapa bulan setelah lahir disini juga saat liburan dulu dan aku masih menjadi murid SMP kala itu, sebelum eomma menceraikannya di Korea. Setelah perceraian itu appa pindah kembali kesini. Aku tak perlu menceritakan bagaimana mereka bertemu kan?.

Ah.. disinilah aku sekarang dengan jaket hitam dan kaos lengan panjang abu-abu.

“Dimana appamu?.” Tanya Nira.

“Hyunri!.” Dan itulah appa. Aku langsung berlari menghampirinya yang tak jauh dariku lalu memeluknya erat dengan dirinya yang memutar tubuhku sambil memelukku seperti anak kecil.

“You more taller huh?, and who is this?.”

“My friend, she wanna come for holiday in here, can she?.”

“Of course, it will be fun right?.” Dan aku hanya mengangguk lalu mengajak Nira masuk ke mobil. Dia duduk dibelakang dan aku duduk di depan dengan ayahku. My Daddy.

Kota Forks tidak berubah. Aku bahkan masih hafal saat semasih SMP aku berlibur kesini. Makan burger kesukaanku dengan appa yang memakan steak favoritnya lalu menonton film yang dimana appa menerjemahkannya ke bahasa korea untukku. Semua memori itu, aku mengingatnya dengan baik.

“Dad, why they running?.” Aku melihat beberapa orang bergegas masuk kedalam rumah. Dan itu terlihat seperti menyeramkan. Hanya beberapa pria yang berani berada diluar dan sepertinya mereka polisi disini.

“What’s Going on Frank?.” Tanya appaku yang bertanya pada seseorang bernama Frank itu yang memakai seragam polisi dengan jaket tebal yang ia gunakan.

Aku tak mendengar pembicaraan mereka tapi yang jelas dia menyapaku tadi sebelum kami melanjutkan perjalanan kami menuju rumah.

“Waeyo?.” Tanyaku saat kami melanjutkan perjalanan menuju rumah.

“Banyak orang yang tewas akhir-akhir ini dan tidak bisa diselidiki apa penyebabnya, sepertinya binatang buas yang memakan mereka.”

“Appa harus hati-hati.” Ujarku.

“Always dear..” jawabnya sambil mengelus rambutku pelan. Aku melihat ke arah Nira yang tersenyum padaku. Aku tau dia berkata ‘Gwenchana’ saat memberikan senyum itu. Dia pasti merindukan orangtuanya. Sangat.

“Ah.. Selamat datang di rumah Hyunri, dan nama temanmu?.”

“Choi Nira imnida.”

Dan kamipun turun dengan membawa koper masing-masing. Tentu saja appa membantu kami menurunkan barang-barang yang kami bawa dari korea. Aku memandang kagum pada rumah sederhana milikku ini. Milik keluargaku, dimana aku dulu sering bermain dengan appa di depannya. Rumah berwarna abu-abu dengan kayu ini yang sekarang sudah terlapis oleh tembok kokoh agar kuat. Aku merindukannya. Bahkan kamarku tidak berubah dengan warna gelap kesukaanku, biru dongker dengan papan yang dimana aku suka menempelkan apapun yang kusuka juga sebuah tali yang dimana aku akan menjepit banyak foto disana.

“Ini kamarmu? Keren.”

“hmm.” Gumamku pelan.

“Aku tidur dimana?.”

“Kajja, kita ke kamarmu.” Aku menyeretnya beserta kopernya yang ia bawa menuju kamar yang berada di samping kamarku. Haha aku tidak benar-benar menyeretnya.

“Ini kamarmu.” Sebuah kamar yang tak jauh beda dengan warna cream ada disini. Ini kamar tamu tepatnya. Yang biasanya akan diisi oleh paman atau bibiku yang datang kemari untuk berlibur disini bersama keluargaku. Keluarga kecil tentunya.

“Gomawo..”

“Kita akan makan malam diluar. Tempat favoritku dan appa, kau harus membersihkan diri, kamar mandinya disana, aku akan memakainya duluan.”

“Baiklah, aku akan merapihkan barang-barangku dulu. Dan terima kasih sudah mengajakku, aku senang bisa liburan.” Aku tersenyum dan mengangguk lalu segera besiap-siap karena appa mengajakku makan malam di restoran burger tempat biasanya kami makan.
Ah Nira disini hanya seminggu, setelahnya aku akan tinggal disini dan menetap disini. Untuk kembali ke korea? Aku akan memikirkannya karena entah mengapa aku mulai jatuh cinta dengan susasana Forks.

“Ready?.” Tanya appa setelah aku dan Nira turun. Tentu kami menjawab Ready karena kami sudah siap.

“aku merasa mempunyai anak kembar hari ini.” Canda appa dan bahkan dia cepat akrab dengan Nira. Kamipun benar-benar makan di restoran burger favoritku dan appa. Sepertinya Nira juga jatuh cinta dengan rasa saus kejunya juga rasa khasnya. Appa seperti biasa memesan steak kesukaannya.
Hari ini adaalah hari yang menyenangkan.

“Ah, Appa ada kejutan untukmu, kau harus sabar menunggu matahari terbit besok, mungkin siang.”

“Oke Boss!” Jawabku.

“ah Appa sekarang bukan pengusaha kayu lagi, appa bekerja sebagai manager di penerbit Koran. Jadi jika kau mau tau kabar tentang Forks, tanyakan padaku karena aku tau semua.”

“Mwoya appa, kau seperti wartawan sekarang. Did you know?.” Dan appa hanya tertawa kecil karena ulahku dan di tengah tawanya, aku melihat keluar jendela. Sepasang mata berwarna terang seperti mengawasi kami. Tepatnya aku karena aku melihat sepasang mata itu mengarahku. Mahluk apa itu?.

“Hyunri.. kau lihat apa?.” Tanya Nira yang sadar aku diam saja melihat keluar jendela.

“Ah Annio, aku tak melihat apa-apa.” Jawabku dan saat kulihat keluar jendela lagi, mata itu sudah lenyap. Tapi mengapa aku mengingat sekali detail mata itu. Warnanya biru dan sangat tajam bercahaya. Setelahnya aku tak memperdulikannya lagi dan kembali menghabiskan burgerku yang masih tersisa di piring makan malamku ini.

“Hyunri, sepertinya appa ada pekerjaan, kau tau appa masih jadi penjaga hutan bersama polisi disini. Appa akan pulang dengan taksi, kau bawa mobil, kau bisa kan?.”

“Ne.. , hati-hati appa.”

“Jangan menunggu appa pulang, tidurlah lebih dulu.”

“Ne!.”

Dan setelahnya aku dan Nira menaiki mobil yang cukup besar milik appa. Mobil jeep.

“Hyunri.., mengapa saat kau melihat keluar tadi aku seperti merasakan sesuatu yang aneh?. Seperti ada yang mengawasi kita dari jauh. Apa aku benar?.” Nira.. mengapa firasatmu selalu benar dari dulu?.

“Ne. Aku melihat sepasang mata yang entahlah, mungkin hanya binatang yang keluar dari hutan lalu kembali lagi.”

“Begitukah?, apakah disini benar-benar banyak binatang?.”

“Keureom, kau bukan di seoul dan tinggal di rumahmu yang berada di kawasan gangnam lagi Nira, ini Forks dan sekitar kita adalah hutan.”

Nira hanya mengangguk dan melihat lagi ke arah depan. Ya ampun, sungguh Nira, aku juga sangat khawatir sekarang apa lagi di rumah kita hanya akan tinggal berdua. Aku tak percaya ada hantu sungguh, dan yang kutakutkan adalah tiba-tiba seekor binatang datang. Sungguh aku tak pernah melihat binatang dengan mata besar berwarna biru lalu tajam seperti itu. Seakan-akan binatang tadi akan memakanku dalam hitungan detik.

“Hyunri, apakah kau takut?.”

“Darimana kau tau, aku sangat ketakutan Nira-ya.”

“Bagaimana jika kita kembali ke restoran tadi atau ke kantor polisi?.”

“Annio, aku pasti berani jika sudah sampai rumah.” Iya betul! Entahlah semacam rumah adalah tempat perlindungan paling aman untukku.

Sesampai di depan rumah kami turun dan langsung masuk lalu mengunci pintu. Aku dan Nira berada di kamarku dan entah apa yang kutakutkan sirna sedikit demi sedikit, apa lagi Nira sekarang berada di sampingku tertidur. Ia mengeluh tak bisa tidur sendiri dan meminta tidur bersamaku yang tentu saja aku mengizinkannya. Aku sangat takut.

Aku bahkan tak bisa tidur, aku tau aku Insomnia tapi aku tak pernah setakut ini. Sangat takut.
Setelah beberapa lama aku tertidur tepat pukul 2 setelah aku melihat jam dinding. Aku benar-benar tertidur.

“Hey my girl, come on wake up!.” Suara itu. Itu suara appa?.

“Dad?.” Ucapku tepat setelahnya aku mencoba membuka mataku dan melihat senyumnya. Aku tak melihat sosok Nira di sampingku yang sudah jelas dia bangun lebih dulu dariku.

“Come on wake up and take a bath, do you wanna see your present?.”

Setelah rapih dengan celana jeans lalu kaos hitam dan jaket berwarna hijau lumut aku keluar dari rumah dan melihat Nira yang berdiri kagum di depan sebuah mobil Jeep dengan atap yang terbuka. Beda dengan milik appa tentunya, ini jeep keluaran baru aku tau itu.

“Ige..”

“This yours, you like it?.”

“Of course dad!.” Timpalku dengan antusias sambil menghampiri mobil yang appa berikan untukku. Sungguh aku ingin sekali mengendarai mobil ini dari dulu juga memilikinya tentunya. Aku membawa mobil appa saja sudah senang, bagaimana aku memilikinya sekarang. Tentu aku sangat bahagia!.

“Kita bisa jalan-jalan dengan ini?.”

“Tentu saja Nira, aku akan membawamu melihat sesuatu yang sangat indah, kau tak akan menyesalinya.”

“Be careful dear.”

“Always dad!.” Jawabku dan langsung membanting stir mobil lalu membawanya dengan senyum yang lebar dari bibirku dengan mobil baruku ini. Aku akan menunjukkan sungai yang dimana pemandangan alamnya tak terkalahkan. Aku berani taruhan Nira tak pernah melihatnya.

Dan sesampainya di tempat itu kami turun dengan Nira yang melihat pemandangan disana dengan mata terkesan itu, Kutau dia tak pernah kesini.

“Aigoo Nira-ya, kau tak harus melihatnya seperti itu.”

“Tapi ini bagus, dan aku membawa kameraku, aku ingin memamerkannya pada yang lain terutama Hana dan Ahnrin.” Jawabnya sambil mengambil beberapa foto sampai ia…

“AAAAAA!.” Nira berteriak dan tentu saja aku langsung menghampirinya setelah mengambil beberapa fotoku dengan berlatar belakang pemandangan indah ini.

“Ya! Wae geurae Nira-ya?.”

“Aku.. Aku melihat sesuatu…” ujarnya sambil gemetaran.

“Melihat apa?.” Dan akupun merebut kameranya. Aku benar-benar membeku saat melihat seekor serigala yang melihat ke arah kamera dengan tubuh yang mungkin hampir sama dengan kuda besar, atauh lebih besar? Dengan mata yang kulihat persis tadi malam.

Sebenarnya tadi malam aku melihat srigala besar begitu?.

“Ada apa Hyunri?.”

“Annio, kajja! Kita harus pulang sekarang, ayahku pasti khawatir kita belum sampai rumah bukan?.” Ucapku sedikit menenangkannya walau aku sebenarnya takut.

 

Setelahnya, kami benar-benar pulang dengan mobilku tentunya. Entah apa yang ada difikiranku, aku begitu ingin kembali dan melihat srigala dengan mata biru itu secara utuh dan harus dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin sekali melihatnya, bahkan aku tidak merasakan rasa takut lagi sekarang, tapi……. merindukannya?. Ini gila tapi itulah yang kurasakan, aku ingin melihatnya, bahkan merindukannya, merindukan mata itu, mata yang dapat menghipnotisku untuk berlari padanya.

Setelah mobil terparkir rapih di depan rumahku, aku mematikan mesin dan turun dari mobil. Aku dan Nira segera masuk ke rumah dengan cuaca yang entah akan huja atau tidak juga penuh dengan es.

Apa yang kufikirkan sebenarnya membuatku gila!.

“Hyunri, apakah disini memang selalu ada binatang-binatang besar?.”

“Ke..keureom, kau tau kan ini bukan Seoul, hanya saja aku memang jarang melihat binatang-bintang itu berkeliaran, tapi beginilah forks, terlalu banyak hutan.”

“Ah.. geurae?.”

“Ne dan Nira.. boleh aku meminjam kameramu, aku ingin melihat-lihat dan aku ingin keluar sebentar, apakah tidak apa-apa?.”

“Nan gwenchana, cepat kembali, aku benci sendiri, itu akan mengingatkanku pada aku yang tinggal di seoul untuk menunggu appa dan eomma.”

“Aku akan segera kembali, jangan keluar rumah dan jangan menerima tamu jika itu orang asing.”

“Na arrayo, aku bukan anak kecil.”

“Aku pergi.” Segeralah aku menyalakan mobil dan pergi ke pusat kota untuk mencetak foto srigala tadi.

-Toko pencetak foto-

Bapa-bapa tua pemilik toko ini seperti tidak banyak bicara dan bahkan tokonya terlihat sepi tapi penuh dengan beberapa foto yang terpajang di pigura.

“Don’t go from your house if the night come and the moon is full, you maybe in danger.” Tiba-tiba saja bapa tua di depanku ini berseru padaku tanpa melihat ke arahku. Maksudnya apa?.

“What do you mean?.”

“All is 10 dollar.” Dan aku memberikannya uang sesuai harga ang ia beri untuk mencetak foto daalam kamera Nira. Dengan berani aku bertanya kembali.

“Can you explain … “

“JUST GO TO YOUR HOUSE!.” Teriaknya daan memotong ucapanku yang bahkan belum selesai. Aku langsung terdiam dan segera keluar dari toko itu. Sungguh apa yang salah dari kata-kataku tadi sehingga dia marah?. Menyeramkan.

Setelahnya aku langsung masuk kedalam mobilku dan memasang atapnya karena sepertinya akan hujan. Aku melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi, lagi pula aku akan memasuki daerah pegunungan dan aku bukan ada di kota, tak akan ada polisi yang menangkapku kan?.

Dan saat aku sedang merasa ketakutan karena ucapan bapa tua tadi dan aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi, aku tiba-tiba mengerem mobil dengan sekuat tenaga. Seekor srigala berada di depanku. Srigala itu.

Aku menatap matanya beberapa lama dan terdiam. Hujan membasuhi tubuhnya. Sungguh, mengapa ketakutanku sirna seketika.

Dan ketika ia berlari masuk kedalam hutan aku memarkirkan mobilku ke tepi jalan dan menciba mengikutinya. Jejak kakinya tak terlihat karena terhapus oleh hujan tapi aku tetap mencoba mengikutinya ke dalam hutan yang jalanannya saja sudah mulai licin karena tanahnya sudah terkena air hujan yang cukup lebat.

The day we met
Di hari kita berjumpa

Frozen I held my breath
Membeku, aku berdebar

Right from the start
Sejak pertama kali

I knew that I’d found a home for my heart
Aku tahu tlah kutemukan rumah bagi hatiku…

Dan saat aku melihatmu di tepi sungai dengan tubuhku yang sudah basah terkena guyuran air hujan, aku membeku. Kau menatapku dengan mata itu dan kata-kata yang selalu hadir dalam mimpiku terngiang lagi.

“Dimana hari kita bertemu. Kau seakan membuatku membeku. Kau bahkan menjadikanku milikmu tanpa kau harus menyentuh tubuhku, hanya dengan tatapan matamu.”

Dan kau benar-benar membuatku membeku dihadapanmu. Siapakah kau sebenarnya dan apa kau ini sebenarnya?, walau aku tau kau seekor srigala yang besar tapi aku ingin bertanya dan aku ingin kau yang menjawabnya langsung. Siapa kau sebenarnya?.

Beats fast
Berdetak cepat

Colors and promises
Warna-warni dan janji-janji

How to be brave?
Bagaimana agar berani?

How can I love when I’m afraid to fall
Bagaimana mungkin aku mencinta jika aku takut terjatuh

But watching you stand alone?
Tapi melihatmu sendirian

All of my doubt suddenly goes away somehow
Tiba-tiba semua raguku hilang begitu saja

Dan seketika itu petir datang. Aku sangat ingat bagaimana bunyi petir itu. Lalu semuanya gelap dan terasa tenang, bahkan aku tak merasakan ada air hujan yang jatuh ke permukaan kulitku lagi. Dan mengapa aku seperti merasakan hangat ?, lebih hangat dari selimut yang kupakai di rumah. Lebih nyaman dari kasur yang kutiduri di rumah. Aku dimana sekarang…?

Aku bermimpi lagi, aku melihat mata itu dengan jelas dan seorang pria yang hanya bayangannya saja yang dapat kulihat. Dia membelakangiku dan suara itu terdengar lagi, seperti suaraku.

“Dimana hari kita bertemu. Kau seakan membuatku membeku. Kau bahkan menjadikanku milikmu tanpa kau harus menyentuh tubuhku, hanya dengan tatapan matamu.”

Dan tiba-tiba semuanya gelap lagi. Aku sadar dengan melihat appa, Nira dan……
Apakah ini rumah sakit?.

“Hyunri, are you awake?.” Appa berada di sampingku. Dan aku hanya mengerang kecil. Aku mlihat Nira tetidur di sofa kamarku ini.

“What happening?.” Tanyaku sambil menekan-nekan pelipisku yang terasa sangat sakit. Aku merasakan pusing sekarang, mungkin karena aku baru sadar.

“Kau terjatuh, da nada yang menyelamatkanmu dengan membawamu kesini, harusnya appa yang bertanya apa yang terjadi padamu, mengapa kau bisa jatuh di hutan?.”

“Mollayo..” ujarku berbohong. Sebenarnya aku sedang mengingat-ingat apa yang terjadi dan mata itu kembali hadir di fikiranku. Ya aku ingat apa yang terjadi sekarang.

“Gwenchana?.”

“Nan gwenchana, appa.” Ucapku sambil tersenyum dan seorang dokterpun masuk memeriksaku. Setelahnya dia berbincang dengan appa dan aku hanya bisa mengingat-ingat yang terjadi padaku tadi.
Mata itu, akhirnya aku bisa melihatmu secara utuh. Kau seekor srigala.

-Di rumah-

“Hyunri..”

“Ne?.” tanyaku pada Nira yang sedang duduk di lantai bersamaku tepatnya di kamarku.

“Sepertinya aku tak bisa berlama-lama disini walau aku tak ingin pulang tapi appa dan eomma pulang dan mereka mendapatkan libur 2 minggu, aku harus pulang lusa.”

“Baiklah, lagipula aku harus daftar ke sekolah baruku.”

“aku akan berkunjung lagi kesini jika aku punya waktu.”

“baiklah, aku akan merindukan Seoul, dan kimchi buatan Hana terutama juga komik Ahnrin.”

“Aku akan mengirimkannya untukmu nanti, Komik Ahnrin.”

“Geurae, aku akan menunggunya.” Setelah itu kami berpelukan dan makan malam di rumah. Appa membeli ayam bakar yang sangat lezat kali ini.

Ya.. setelah Nira pergi aku akan langsung masuk ke sekolah lagi. Di Forks.

-Lusanya-

“Aku akan merindukanmu Hyunri, dan terima kasih untuk semuanya mr. Collin.”

“Just call me dad, you like my daughter now.” Ucap Ayah padaa Nira dan dia benar-benar pergi sekarang. Aku akan kesepian.

“Now , we go to your school?.”

“Oke!.”

Dan kami pergi ke sekolahku untuk mendaftar. Aku memang telat tapi apa boleh buat daripada aku menganggur dan tidak sekolah?.
Sekarang aku menunggu diluar dan appa berbicara dengan gurunya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi aku melihat seorang pria jalan di hadapanku dengan menatapku lalu tersenyum kecil dan kembali melihat ke arah depan dimana dia berjalan.
Apa yang ia lihat?, mengapa dia tersenyum seperti itu. Seperti sebuah…. Seringai?.

Aku tak peduli dan kembali fokus pada ponselku yang penuh dengan Emain dan SNS dari Hana dan Ahnri yang mengomel rindu padaku haha, aku tau kalian akan merindukanku.

‘krek’ pintu terbuka dan terlihatlah appa tersenyum padaku sambil keluar daari ruangan tempat diaa mendaftarkanku sekolah.

“Is finish?.”

“Of course and you can start tomorrow if you want, your book is already in your locker dear.”

“Dad…”

“Yes?.”

“Thankyou so much.” Ujarku lalu memeluknya. Entahlah aku ingin memeluknya saja, mungkin aku merindukannya setelah perceraian itu. Karena aku baru ketem appa itu sekarang setelah perceraian.

-Besoknya-

“This is first time you go to chool in forks dear.”

“I think it will be fun.”

“Meet me in restaurant when lunch?.”

“Of course.” Jawabku sambil tersenyum dan membetulkan ikatan rambutku lalu pergi dengan mobilku yang appa belikanku untukku dengan atap terbuka. Udaranya sangat segar hari ini. Sekolahku agak jauh jadi aku bisa menikmati udara dan suasana hutan-hutan di sampingku ini. Segar.

Sesampainya di kawasan kota aku tak terjebak macet. Bagaimana bisa disini populasi manusianya tidak sebanyak di Seoul atau di Amerika pusat seperti New York atau Los Angels. Benar-benar menyenangkan.
Tanpa macet, tanpa bunyi klakson yang sangat keras kecuali truk pengangkat pohon-pohon yang besar hasil tebang. Wah aku memang berada di Forks sekarang.

Sesampainya di sekolah, aku memarkirkan mobilku lalu turun dari mobil dengan menggendong tas coklatku dan handphone yang tak akan kulepaskan dari tanganku. Mungkin.

“Hey New Student!.” Seseorang memanggilku dan aku hanya memalingkan wajah dan kembali fokus pada jalan di depanku menuju kelas seni. Ya aku memilih ini agar aku bisa berkarya dalam seni. Aku hanya ingin menjadi penulis lirik lagu yang bagus walau aku lebih suka menulis cerita dan genrenya horror atau ketegangan tentunya. Aku tak terlalu percaya dengan namanya Cinta apa lagi dengan melihat keadaan orangtuaku yang sudaj cerai. Menikah seperti hanya sebuah kertas yang harus kau tanda tangan lalu dilupakan janjinya begitu saja. Jelas bukan? Kau tak setuju? Lihat saja apa yang terjadi pada orangtuaku juga orang tua orang lain yang telah bercerai. Mereka menganggap enteng padahal begitu banyak yang harus mereka tanggung jawabkan.

Aku tidak mau menjadi Munafik dan itulah kenyataanya.

“Ah New Student, Hyunri Lee?.”

“Yes.”

“You have your book, and you can sit besideyour friend Chanyeol, he come from korea too. Now We start our class.”

Dan detik itu aku benar-benar membeku di depan beberapa saat lalu menghampirinya, duduk di sampingnya. Ini gila, mengapa aku gugup pada orang yang pertama kali kutemui?. Matanya, berwarna biru gelap?, apakah dia?.

“Hai, My name Park Chanyeol, and You Hyunri collins?.”

“Yes.” Dan dia hanya tersenyum lalu mengalihkan matanya menuju buku yang ada di hadapannya.

Oh God! Mengapa aku seperti ini?. Aku gugup?!. I can’t believe it, I’m nervous because him?. This is really-really weird. Am I fallin love with him? That impposible, we just meet 5 minutes ago.

“Now Open your book in page 120, and we will see some strange in the picture right?.”

Aku tak bisa fokus pada pelajaran sungguh. Aku bahkan bisa merasakannya yang terus menatapku tanpa melepas pandangannya. Mengapa harus berhubungan dengan mata?. Ya mata. Mengapa kata-kata itu terngiang langi di kepalaku oh my God!.

“Chanyeol, I look you not focus, can you explain what the eyes in the picture mean?.”

“Dimana hari kita bertemu. Kau seakan membuatku membeku. Kau bahkan menjadikanku milikmu tanpa kau harus menyentuh tubuhku, hanya dengan tatapan matamu.” Jawab Namja di sampingku yang dimana aku langsung melihatnya aneh. Ya aku terbingung dengan jawabannya yang sama di dalam mimpiku. Ini gila. Aku bahkan membulatkan mataku saat itu.

“What are you mean?.”

“Where the day we meet. You like make me freeze. Even you made me to be yours without you touch my body, just with your gaze eyes.” Jawab Chanyeol lagi dengan bahasa Inggris. Dia gila, sungguh gila.

Aku tak bisa berhenti terkejut saat mendengarnya menjawab pertanyaan guru kami di depan. Apa aku di dalam mimpi sekarang karena kata-kata itu hanya muncul dalam mimpiku.
Chanyeol, neo micheoseo?.

Dan setelah 3 jam di dalam kelas bell berbunyi. Aku merapihkan bukuku dan bangkit dari kursi. Aku tau dia mengikutiku dan tak usah susah payah aku menariknya kan?.

“Can you explain what are you talking about in the class?.”

“What? I just answer Mr. David, something wrong?.”

“Don’t ask me back , I go.” Dan dengan cekatan dia menarikku. Untung sekali dia kami tidak di tempat ramai yang dimana aku bisa meminta tolong dengan berteriak.

“I just answer that question, just forget that words and go home.”

“Are you kidding me?, you just say something who came in my dream every night. Are you serious didn’t know anything but you just like know anything about this?.”

“I Just, Sorry I must go.” Dan dia pergi begitu saja. Ini menyebalkan. Apa maksudnya aku untuk melupakannya? Apa dia gila? Bagaimana aku bisa lupa kata-kata yang selalu menghantuiku setiap malam bahkan sebelum aku pindah ke Forks kata-kata itu memang sudah menghantuiku.

Dan sekarang aku hanya mematung di belakang sekolah yang berhadapan langsung dengan hutan lebat.
Aku tak bisa takut lagi dan aku tak boleh takut lagi, aku harus mencari tau siapa dia sebenarnya dan mengapa dia bisa menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata yang sama persis ada dalam mimpiku.
Sungguh jika ini lelucon, semuanya tidak lucu sama sekali.

Aku tak bisa menahan ini lagi.

‘kring kring kring….. kring kring kring…..’ Handphoneku berbunyi. Pasti appa.

-Restaurant-

“Appa!.” Dia tersenyum saat aku menghampirinya di meja yang berada di pojok dekat dengan jendela yang bisa melihat ke arah luar. Dia memang tau tempat yang paling nyaman.

“Appa sudah memesan salad sayur untukmu, kau suka?.”

“Na neomu joahae!.” Jawabku dengan senyuman lebar untuknya dan tentu saja appa tersenyum kembali padaku.

“Here , this is your lunch honey. Welcome again to Forks.” Ujar seorang wanita yang sepertinya pelayan disini. Terlihat dia memakai celemek hitam kecil dengan notes kecil dan pulpen juga mengantar makan siangku tentunya.

“Thanks..”

“Did you know dear, your father is just like zombie when he alone, and now he just like children who get they present.”

“Really dad?.” Tanyaku tak percaya.

“Well, should you tell that?.” Dan wanita itu hanya tertawa dan kembali bekerja. Aku hanya bisa menggeleng kepalaku, aku tau appa sangat senang dengan kehadiranku yang biasanya dia tinggal sendirian di rumah kini ada aku yang menyambutnya, walau bukan eomma lagi. Aigoo, mengapa mereka harus dipisahkan?.

“Hey, they look like you Hyunri, go hang out?.”

“Tired , lazy , not have money. Oh come on dad.”

“Just give idea, maybe you bored live alone.”

“I’m not bored, I like it you know?.” Jawabku sambil tertawa kecil dan kami melanjutkan makan siang kami dengan lelucon appa yang dapat membuatku tertawa keras dan seluruh penghun restoran kecil ini melihatku. Ya, aku sangat bahagia, aku merindukan namja paruh baya di sampingku. Appa.

Dan saat makanan sudah selesai kami membayarnya. Aku menunggu appa yang sedang membayar makan siang kami.
HA! Aku melihatnya lagi, aku harus tau kali ini.

“appa, maybe I will late.” Ujarku langsung saja keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobilku. Aku mengejarnya yang memakai mobil juga. Menyebalkan?, sangat.

Dan mengapa arahnya menuju rumah sakit?.

Aku benar-benar mengikutinya walau sampai masuk ke dalam rumah sakit sekalipun. Aku melihat beberapa keluarganya disana. Siapa mereka sebenarnya?, mengapa pengelihatan mereka begitu terlihat tajam?. Lihatlah, sekarang Chanyeol menghampiriku, semua saudara lelakinya melihat ke arahku. Sekitar berempat. 1 dengan mata besar yang tajam dan pipi yang besar, dia terlihat lucu tapi menyeramkan. Yang kedua , terlihat serius dan sepertinya dia yang paling tua bahkan lebih tua dari Chanyeol, terlihat dengan cara berdirinya. Yang terakhir, tangannya lentik tapi matanya tajam. Dan mengapa akhir-akhir ini aku selalu melihat mata tajam.

“Ada apa?.” Tumben sekali dia berkata dengan bahasa korea. Dia baru tau aku orang korea atau bagaimana?. Menyebalkan.

“Jika kau memintaku untuk menjelaskan apa yang tadi..”

“siapa yang menanyakan itu? Dan siapa yang memintamu kemari?, apakah aku memintamu?.”

“Lalu untuk apa kau kemari, sudah jelas bisa di tebak dari kau yang mengikutiku dari tadi.”

“Ah geurae aku mengikutimu, ah dan aku baru tau kita bisa bercakap dengan bahasa korea.” Dan setelah itu aku pergi dari hadapannya dan masuk ke dalam mobil. Menyebalkan, sebenarnya dia itu tujuannya apa?, sial!.

Aku membanting setir dan menuju rumah untuk memarikirkannya. Mengapa sepertinya aku ingin keluar, sungguh aku tak mau berada di rumah sekarang dan kuputuskan untuk pergi ke kota dengan taksi dan berjalan-jalan melewati toko-toko disana. Aku melihat gaun indah yang terpasang di depan toko walau aku merasakan seseorang mengikutiku, tapi setiap aku melihat kebelakang, taka da orang yang mencurigakan. Aneh.

Aku mengangkat bahu dan kembali menikmati malam kota Forks yang jalanannya selalu basah karena air hujan yang kadang-kadang turun dengan tiba-tiba.

Ini hidupku sekarang, ini benar-benar menyenangkan.

“Oh hey.” Tiba-tiba 1 orang gadis menyapaku. Dia sepertinya pernah kulihat.

“New Student?.”

“Yes?.”

“Ah my name Jessica, and you’re from Korea rights?, and you sit beside Chanyeol?.”

“Hmm, Yes is like me.”

“aku juga dari Korea, nama asliku Jung Jeoseok. Kau tinggal disini?.”

“Begitulah.”

“Mau makan malam bersamaku?, sepertinya namjachinguku tidak datang, dia orang korea juga dan termasuk kelompok Chanyeol, tapi dia berbeda.”

“Nugu?.”

“Oh Sehun.” Namanya bagus, tertutama marganya, aku baru kali ini menemukan teman yang mempunyai namjachingu dengan marga Oh, dan dia bilang apa tadi? Termasuk kelompok Chanyeol?.

“Ehmm… Jeoseok-ah, apa yang kau maksud dengan kelompok Chanyeol.”

“Hmm ya seperti itu. Mereka seperti kakak adik tapi mempunyai marga yang berbeda. Mereka selalu bersebelas dan tak pernah terpisah. Selalu bersama dan makan di kantinpun meja yang sama. Kau tau banyak anak yang kesal dengan tingkah aneh mereka, tapi tak bisa dipungkiri mereka pintar dan menawan juga populer. Kau tau populer dalam gosip disekolah. Tapi aku tak tertarik dengan gosip-gosip karena itu semua hanya omong kosong.”

“Mengapa mereka selalu bersebelas?.”

“Tak ada yang tau, dan bahkan yang berhasil menjadi pacar dari salah satu mereka adalah aku haha!.”

“Kau pasti senang.” Tanggapku.

“Entahlah, Sehun seperti nafas untukku, dia sangat melindungiku dan menghargaiku walau terkadang dia selalu terlihat sedih dan berteriak sendiri jika kami sedang berdua.”

“apa dia punya masalah?.”

“annio, dia tak pernah menceritakan apapun padaku, dia bilang itu akan membebaniku.” Lalu aku hanya bisa tersenyum mendengarkan pernyataan namja yang bernama Sehun itu pada Jeoseok teman baruku ini. Jadi apakah aku harus iri mendengarkan cerita Jeoseok dengan namjacingunya?.

“Tapi sekarang mereka hanya bertujuh karena 4 orang sudah lulus lebih cepat. Chanyeol, dia menjalani S2nya disini di kelas seni yang tadinya S1nya dmi jurusan Ipa. Aneh memang tapi begitulah, dan dia lebih tua dari kita 2 tahun. Kau baru lulus SMA kan?.”

“Ne..”

Chanyeol?, apakah ia benar-benar melanjutkan S2nya?, apa cuman alasan?.

“Ehm jeosok, bisakah aku meminta nomor ponselmu?, sepertinya aku harus segera pergi.”

“Ini kartu namaku, nomornya ada disana. Hati-hati.”

“Ne, gomawo.” Dan dengan cepat aku berlari ke balik arah. Aku baru saja melihat toko buku yang aneh, seperti toko buku legenda. Apakah aku harus melakukan ini?, mencari tau?. Mata Chanyeol yang aneh, kau tau walau aku tak yakin tapi matanya berbeda dari mata manusia yang lain. Kulitnya yang terlihat putih tapi sangat hangat. Aku ingat saat aku tak sengaja menyenggol tangannya di kelas saat tangan kami benar-benar bersebelahan di atas meja.

“Excuse me, can I buy a book about anything like legend in this city?.”

“Hold on.” Dan pria itu seperti mengambil sesuatu yang penting dari lantai atas. Sesuatu yang sepertinya tak seharusnya orang sembarang yang membaca. Sebuah buku tua yang berjudulkan Wolf?.

“That is good legend, and many people trust in that story.”

“Ehmm Thanks, how much is it.”

“Just 23 dollar.” Dan aku membayarnya langsung. Aku keluar dan merasakan tatapan mata yang sedang melihatku tapi tak ada yang mencurigakan untuk kubilang aku sedang…. Diikuti?.

Aku berjalan lagi dan tak sengaja aku melewati toko dimana aku mencetak foto yang ada di kamera Nira. Seeekor srigala yang ia dapatkan saat aku berjalan-jalan dengannya.

“Sorry, when this store is closed?.”

“When?, I think one year ago, who have this store death because killed by an animal in the night and nobody knows.”

“Ah thanks.” Ucapku pada seorang pemuda yang berjalan tepat di depanku tadi. Dan apa maksudnya 1 tahun yang lalu?. Aku baru saja kesini beberapa hari yang lalu, apa aku benar-benar di dalam mimpi lagi?, aku bahkan menarruh fotonya di kamarku.

-Rumah-

“Na Wasseo.” Ujarku sambil menyalakan lampu dan ternyata appa belum pulang, langkah kakiku membawaku menuju kamar dan akupun menyalakan lampu kecil di samping kamar tdiurku dan lampu kecil yang menghiasai kamarku saat aku kembali kesini. Appa yang membelikannya. Aku tau itu.

Aku merebahkan diriku di kasu dan melihat keluar jendela. Malam ini mendung lagi, walau malam, awan tebalnya terlihat sekali, karena ada cahaya bulan yang tersembunyi dibaliknya.
Indah sekali, bahkan aku tak menemukannya di Seoul.

Tapi tunggu, apa yang kudengar tadi?, bunyi semak-semak?.

#AuthorPov.

“AWUUUUUU!.”

“Chanyeol! Cepat pergi.” Ujar seekor srigala yang hanya bisa dimengerti oleh srigala bukan seorang manusia. Srigala dengan bulu abu-abu bercampur putih yang bermata biru it uterus melihat ke arah jendela sebuah rumah yang berdiri kokoh di sampingnya, mata birunya menyala-nyala bahkan berubah menjadi biru muda seperti laut karena perubahan musim di Forks yang akan menjadi musim panas.

Diapun lari masuk kedalam hutan dengan kecepatann penuh. Ya, itu Chanyeol. Park Chanyeol.

To be Continue.

Makasih udah mau baca dan jangan lupa komentarnya ^^, ah iya ini emang sengaja ku bikin parody dari twilight dan jika aneh dan gasuka tinggal komentar. Untuk kelanjutannya aku ngikutin para readers deh kalo gak banyak yang suka mungkin hanya sampe sini aja ceritanya. Gomawo sudah mau baca ❤ ^^. Saranghae… ❤

33 responses to “[Freelance] Beautiful and The Wolf

  1. Paporit gue mirip twilight hihi, tapi beda cerita hanya alurnya hampir sma dan Forks tuh tempat bella tinggal kan? ‘-‘ aduh jadi inget film twilight wkwk =)))
    Oke lah ditinggu kelanjutannya. Keep writing^^

    • Iya hehe soalnya rada bingung bagaimana tapi diusahakan agak berbeda. Makasih sudah baca ♡ ^^

  2. Suka thorrrr~
    Aku suka cerita yg misteri gini, menegangkan
    Ditunggu next part , jangan lama2
    Keep writing^^

    • Okey dan maaf jika sudah lama menunggu ‘-‘ karna mikirnya uwow/? Haha gomawo udah baca ffnya ^^ neomuuuu gamshamnidaaa ♡

    • Iyap ^^ maaf ya kalo lama di lanjutnya .-. , gomawo juga semangatnya dan komentarnya makasoh banyak udh baca ff ini ^^ ♡

  3. hoho.. first kah? waaaaaah daebak..keren banget authornim. ngerasa lagi nnton film twilight..pokoknya d tunggu next chap nya ya authornim:-)

    • First buat chapter yg banyak gini hehe, iyap akan di lanjut makasih udh mau baca ^^ ♡ dan makasih juga udah mau komentar lop u muah/?

  4. terinspirasi dari twilight kah ?
    hmmm kalo saran aku, coba buat jalan cerita sendiri thor. Kalo terlalu persis twilight, jadi agak ketebak jalan cerita nya. kata-kata nya udah bagus thor.
    buat next nya, buat bikin lebih penasaran lahi ya thor.
    semangat ngetik nya thor

    • Okey okey sip makasih banget buat komentarnya. Sangat membantu muah ♡ ^^ ntar di usahaka berbeda hehe karena inj baru pertama kali bikin chapter lebih dari 2′-‘ hehe

  5. Walaupun terispirasi dari film twillight tapi ini beda ini versi author wkwk ceriranya seru.Chapter ini panjang lagi,jadi gak terlalu bikinpenasaranbanget,dilanjutnya cepet ya thor

    • Hehe ntar bikin penasaran ah/? , hehe iya sengaja bikin panjang biar enak gitu/?. Thanks komentarnya ♡♡♡♡♡ ^^

    • Hehehe ntar agak beda ko di chapter selanjutnya dan semoga suka. Gomawo komentarnya ♡ ^^

  6. Omooo…
    Kereeennn thoorr…
    Wlau ada bbrpa scene yg sma kyak twilight ..
    But its ok..
    Yg pnting jlan crita n alurnya bedaaa…
    Daebaakk..
    Hwaiting for next chapt..
    ^-^

    • Hehe oya soalnya pas awal2 pengen bikin rada bingung gimanaaaa gitu/? But nanti diusahakan berbeda hehe ^^ thanks for read ♡

    • Ayayayay yg jelas jangan bosen ya baca ffku -okesip pemaksaan /gak. Yap di next ko udh di kirim tinggal tunggu sajah ^^ terimakasih banyak

  7. i just wanna say one word “daebak”. i like your fanfic with fantasy… keep writing thor… readers will support you:)

  8. Uhmm buat readers. Maaf banget ya ini agak mirip Twilight soalnya aku eamng terinspirasi dari film itu soalnya aku suka banget sama alurnya yg romance ‘-‘ sungguh aku buka ngeplagiat. Uhm walau agak sama aku usaha di buat beda ‘-‘ terima kasih buat yg baca dan komentar soalnya komentar SEMUA di ff ini berguna banget ^^ itulah yg dibutuhkan soalnya aku bisa belajar lg jadi penulis yg lebih baik lagi. Thanks and Love i give to All readers even that is silent readers :* ♡ big much thanks who wanna read this story

  9. aq merasa kyax nntn film twilight ulang thor… dan aq lbih gampang ngebayanginny krn critany mrip sma film twilight…..
    cmn kyaxny ad beberapa yg author tambah atau author kurangi.. tpi daebak thor…

    next….

  10. Author ff nya kpn dilanjut aku udh jatuh cinta ama ff yg author buatt
    Lanjut ya thor…
    Ne! ne! ne!
    Jebalyo…..
    ♡♡♡♡☆☆☆☆♥♥♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s