My Old Story

my old story-poster

Prev: [EXO’s First Love] Always Be My Angel || Happy Birthday, Angel

Ziajung’s Storyline©

Recommended Song: My Old Story—IU

————————————————–

 

Do you remember that lonely alleyway?

I still remember now

 

Kaki kurus dengan flat shoes putih itu terus membuat gerakkan menendang udara di depannya. Tetes-tetes air hujan masih mengguyur deras. Sepasang mata berlensa coklat milik seorang gadis, tidak berhenti memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang dengan payung warna-warni. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memperhatikan mereka, well, dia tidak punya payung.

Perlahan, ia mengadahkan sebelah telapak tangannya. Merasakan tetes air hujan yang dengan dingin menyentuh kulitnya. Ia tersenyum. Entah ia harus berterima kasih kepada siapa hari ini. Yang penting hari ini ia sangat bahagia.

Gadis itu refleks menurunkan tangannya saat melihat sosok yang ia tunggu-tunggu sedari tadi mendekat ke arahnya—sepertinya begitu. Senyumnya makin lebar, walau kakinya tidak bergerak sedikitpun dari atap teduh sebuah cafe. Gadis itu tidak mengucapkan apapun untuk menyapa atau paling tidak membuat gerakkan yang membuat pria itu menyadari keberadaannya. Menurutnya, melihat wajahnya yang hampir sebagian tertutup masker dan topi saja, ia sudah sangat senang.

Saat pria itu lewat di hadapannya, dan melaluinya begitu saja, gadis itu mau tidak mau terkekeh. Ternyata ini jauh lebih menyenangkan dari kelihatannya. Ia pikir, ia akan menangis sambil berlutut di bawah guyuran air hujan saat tahu pria ini akan mengabaikannya. Pria itu anti mengabaikannya—sebelumnya. Dan saat keadaan kali ini jauh berbeda dari waktu itu, entah kenapa ini terasa sangat lucu.

Bahkan gadis ini lupa kalau sebelum pria itu memberikan perhatian penuh padanya, ia juga pernah diabaikan. Jauh lebih buruk daripada ini.

Dan kemudian, tanpa memperdulikan hujan yang masih cukup deras itu, Kim Young-Seo—si gadis yang berambut ikal sebahu itu—mulai melangkah mendekati pria itu. Oke, tidak mendekati dengan arti sebenarnya, Young-Seo masih menjaga jarak untuk tidak benar-benar menempel. Punggung itu masih tetap sama, meski sebelumnya Young-Seo tidak pernah memperhatikan benar sosok belakang pria ini. Penyamaran yang pria itu buat sama sekali tidak membuat Young-Seo berpaling begitu saja dan menganggap dia orang asing.

Tentu Young-Seo sangat sangat mengenal pria ini. Bahkan sebelum ia mengetahui namanya, Young-Seo sudah merasa terikat dengannya.

Dengan Oh Se-Hun.

Tidak diperdulikan dress selutut putihnya yang mulai terkena cipratan air kotor di jalan karena saking semangatnya melangkah, Young-Seo tetap memasang senyum sambil mengikuti langkah teratur Oh Se-Hun. Ingin sekali Young-Seo mendekat untuk bisa berteduh di bawah payung coklat itu bersama Se-Hun. Tapi apa daya, yang bisa Young-Seo lakukan hanya menahan diri dan tersenyum.

Young-Seo refleks berhenti saat Se-Hun juga berhenti. Young-Seo tidak bisa bergerak dari tempatnya, nafasnya seolah berhenti. Ia hanya berharap Se-Hun tidak menoleh ke belakang dan mendapatinya di sini yang tengah menguntitnya seperti sasaeng.

Young-Seo lagi-lagi terkekeh. Kalau dipikir-pikir ia memang seperti sasaeng.

Beberapa detik kemudian, Young-Seo hanya bisa menghela nafas lega saat Se-Hun melanjutkan langkahnya setelah melakukan sesuatu dengan ponselnya. Young-Seo tidak tahu apa yang dilakukan pria itu. Tapi baru dua langkah ia berjalan, Young-Seo pun berhenti lagi. Kali ini bukan Se-Hun penyebabnya, tapi sebuah jalan sempit tepat di samping kirinya.

Pikiran Young-Seo sejenak teralihkan dari Se-Hun yang masih melanjutkan langkah teraturnya. Diabaikan jarak dirinya dan Se-Hun yang terus menjauh. Kenangan itu kembali berputar di otaknya. Dan kali ini pun ia baru menyadari kalau jalan sempit ini berada di daerah dekat Se-Hun tinggal.

Entah ini disebut kenangan manis atau pahit, atau juga paling buruk. Seumur hidupnya, baru kali itu Young-Seo berlari—dalam arti sebenarnya. Dirinya dan Se-Hun yang waktu itu baru keluar dari gedung karaoke, tanpa sengaja bertemu segerombolan fans EXO. Sialnya, Se-Hun belum memakai penyamarannya dengan benar, hingga gadis-gadis itu mengenali Se-Hun dan berusaha mengejarnya.

Dan selanjutnya, bisa ditebak, mereka berakhir di jalan sempit itu.

Young-Seo—waktu itu—sungguh ingin tertawa, meskipun ia tidak mampu, saat melihat wajah panik Se-Hun. Oke, bukan wajah panik saat Se-Hun dikejar-kejar para gadis itu, tapi saat Se-Hun memastikan keadaan Young-Seo baik-baik saja.

“G-gwaenchanha? A-apa ada yang sakit? Mianhae… a-aku tidak bermaksud mengajakmu berlari…”

Young-Seo hanya bisa tertawa kecil sambil meringis menahan rasa sakit yang entah kenapa terasa sangat menyenangkan. Jadi begini rasanya berlari, jadi begini rasanya panik, dan begini pula rasanya berkeringat. Menjadi normal tidak seburuk yang dikatakan dokter. Bahkan kalau Young-Seo tidak melihat wajah Se-Hun yang semakin memucat melihat keadaannya, Young-Seo pasti akan mengajak Se-Hun berlari lagi.

“Gwaenchanha, Oh Se-Hun…” balas Young-Seo, masih dengan senyuman.

Y-ya! J-jangan begitu!” Se-Hun malah bertambah panik setelah Young-Seo membalas. “K-kau membuatku tambah takut.”

Young-Seo tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Rasa sakit di dada kirinya makin menjadi. Tapi tetap saja, ia tidak mau mengeluh sakit atau paling tidak meringis.

                “Bisa ambilkan obatku? Di dalam tas.”

Dan akhirnya, hanya itu yang Young-Seo ucapkan untuk mengungkapkan rasa sakitnya. Sesuai dugaan Young-Seo, dengan sigap, Se-Hun melepas tas Young-Seo dan membongkar isi tas gadis itu. Setelah menemukan sebuah botol obat kecil, Se-Hun segera mengeluarkannya, dan menyerahkan sebutir obat pada Young-Seo. Se-Hun pun dengan cuma-cuma membagi minumnya kepada gadis itu—hal yang tidak pernah Se-Hun lakukan pada gadis manapun sebelumnya.

Se-Hun terus memegangi bahu Young-Seo, membuat gadis itu setidaknya bisa berdiri dengan benar. Ia tidak mau membuat pakaian Young-Seo kotor gara-gara terjatuh. Mungkin dengan begini Young-Seo tidak harus ‘dikurung’ lagi karena ketahuan bermain sepulang sekolah, bukannya langsung pulang.

Setelah menelan obat pahit itu, Young-Seo lagi-lagi terkekeh. Se-Hun mau tidak mau mengerutkan dahinya sambil mengeratkan genggaman tangannya di bahu Young-Seo. Sedetik kemudian, tubuh Young-Seo terhuyung ke depan, tepat di pelukan Se-Hun—masih sambil terkekeh.

Y-ya—“

“Sebentar saja, sampai obat ini bekerja.” Potong Young-Seo sambil perlahan menutup matanya. Merasakan kehangatan Se-Hun, dan menghirup secara perlahan aroma pemuda itu. Ia sangat menyukainya.

Young-Seo bisa merasakan saat tangan Se-Hun perlahan mulai memeluk punggungnya. Membawa dirinya ke dalam kehangatan yang lebih manis. Memberikan sensasi aman sekaligus penuh perasaan sayang yang selama ini tidak pernah Young-Seo rasakan.

***

The anxious days when I couldn’t tell you I loved you

Did you know about that?

 

Young-Seo menghela nafas lega saat melihat sosok Se-Hun masih berdiri di halte bus. Kedua tangan Se-Hun menggenggam gagang payung coklat yang sudah ia tutup, sedangkan kepalanya tertunduk memandangi ujung sepatunya. Young-Seo lagi-lagi tidak mendekat meski ia tahu Se-Hun tidak akan menghindarinya. Dan kemudian Young-Seo memiringkan kepalanya, saat menyadari Se-Hun sama sekali tidak berniat memberhentikan sebuah taksi. Jadi pria ini benar-benar akan menaiki bus? Sendirian?

Dan benar saja, saat sebuah bus berhenti di halte itu, Se-Hun langsung mengangkat kepalanya. Young-Seo cepat-cepat mendekat sebelum kehilangan jejak. Tepat pada pintu bus itu ingin menutup, Young-Seo segera melangkah masuk dengan satu langkah lebar. Ia merapikan sebentar dress dan tatanan rambutnya, sebelum akhirnya tersenyum melihat Se-Hun duduk di bangku paling belakang, dekat jendela.

Young-Seo melangkah perlahan sambil terus memperhatikan wajah Se-Hun. Pria itu tengah memandangi kursi sebelahnya yang kosong sambil mengusap pelan bangku itu, membuat Young-Seo tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ia paham betul apa yang dirasakan Se-Hun. Dan karena tidak ingin mengganggu Se-Hun atau memperburuk suasana hatinya sendiri, Young-Seo memilih kursi yang berada di sisi lain jendela.

Hujan yang belum reda juga, menciptakan embun tipis di jendela bus itu. Young-Seo tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya sekarang meski langit kota Seoul berwarna abu-abu. Ini kedua kalinya ia naik bus, dan pertama kalinya berpergian sendiri. Tidak ada lagi omelan eomma dan sebotol obat penghilang sakit yang selalu menemaninya. Ia sendirian—atau… setidaknya bersama Oh Se-Hun di sini.

Sekali lagi, Young-Seo menoleh ke Se-Hun. Tangan pria itu masih tergeletak di kursi kosong, di sebelahnya, sedangkan Se-Hun sendiri tengah melihat ke luar jendela. Tangan putih pucat itu selalu ingin Young-Seo genggam. Dan… sosok samping Se-Hun yang selalu ingin ia lihat, setiap hari.

Young-Seo, tanpa sepengetahuan Se-Hun, sering sekali memperhatikan sosok samping pria itu. Menurutnya, sosok samping Se-Hun lebih indah dari apapun di dunia ini. Ia bisa melihat rahangnya yang tegas serta tatapan mata dingin bercampur hangat itu dengan sedikit lebih leluasa daripada memandangnya dari depan. Young-Seo selalu ingin menyentuh garis rahang itu, menyetuh rambut halus Se-Hun, dan memainkan bulu mata Se-Hun.

Tapi sampai kapanpun, ia tidak akan mampu.

Baik dulu, maupun sekarang.

Ingin sekali Young-Seo menggenggam tangan Se-Hun lebih erat dari Se-Hun yang menggenggam tangannya. Memeluk Se-Hun selamanya dan mengklaim pria itu sebagai miliknya. Tapi Young-Seo sadar kemudian. Semakin ia memeluk, semakin Se-Hun terluka. Perasaan cemas tidak berujungnya ini, cepat atau lambat akan menjadi sesuatu hal yang nyata. Dan ia tidak ingin membuat Se-Hun jatuh lebih dalam dari ini.

Young-Seo menghela nafas keras untuk menghalau air mata yang sudah berada di ujung. Ia mengalihkan pandangannya ke kaca jendela yang buram karena embun. Perlahan ia menggerakkan ujung jari telunjuknya di sana. Menulis sebuah kata yang salalu ingin ia ucapkan pada Se-Hun.

Saranghae.

 

Were you too shy to say anything?

Did you not like me?

I still can’t figure it out

 

Young-Seo kembali mengulang kegiatannya sebelum mengikuti Se-Hun ke tempat ini—menendang-nendang udara di depannya sambil memainkan bibirnya. Ia menyenderkan tubuhnya ke kaca jendela toko buku tua di belakangnya. Se-Hun sedang berada di dalam, meninggalkan dirinya dan payung coklatnya di luar sini. Oke, sebenarnya Young-Seo bisa saja ikut masuk ke dalam, tapi… ia sedang tidak ingin.

Ia suka di sini, meski tidak tahu apa yang sebenarnya Se-Hun lakukan di dalam sana. Suasana tenang dengan iringan bunyi lonceng angin di depan toko buku. Udara dingin sehabis hujan tidak membuat Young-Seo langsung memaki. Sejujurnya, bagi Young-Seo ini sama saja. Dingin-hangat, hujan-panas menyengat, semua tampak indah—untuk saat ini.

Young-Seo melongokkan kepalanya ke dalam toko buku, memastikan Se-Hun sudah selesai atau belum. Entah apa yang tengah dicari pria itu, tapi mungkin itu adalah buku yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kalau hanya membeli novel biasa, Se-Hun tidak harus mendatangi toko buku tua ini, kan? Banyak toko buku modern yang menjual lebih lengkap daripada di sini.

Se-Hun keluar beberapa menit kemudian sambil membawa satu kantong plastik. Young-Seo buru-buru menegakkan tubuhnya dan kembali mengikuti langkah Se-Hun. Langkah kecil Young-Seo berusaha mengimbangi langkah Se-Hun agar tidak terlalu dekat dengan pria itu dan tidak juga sampai kehilangan jejaknya.

Se-Hun berhenti di depan toko bunga kecil. Dan pada saat itu pula Young-Seo ingin sekali meledak menjadi potongan confetti. Toko ini sangat indah! Ia pun tidak lagi mengikuti punggung Se-Hun. Young-Seo segera berlari kecil ke rumpunan bunga tulip kuning di depan toko. Tatapan matanya berkaca-kaca, antara terharu, bahagia, dan menganggumi. Ini sangat cantik, demi apapun!

Sejenak, Young-Seo melupakan apa yang dilakukan Se-Hun di sana. Perhatiaannya teralihkan dengan sempurna ke rumpunan bunga dan gaya bangunan ini, seolah benar-benar menggambarkan dirinya. Kalau saja ia bisa, ia pasti akan berteriak pada appa dan meminta beliau membeli bangunan toko ini bersama isinya.

“Kau ingin menyerahkannya untuk pacarmu?”

Suara itu sontak membuat Young-Seo mengangkat kepalanya dari bunga krisan putih yang tengah ia kagumi. Langkahnya mendekat ke dalam toko itu, menghampiri Se-Hun dan seorang ahjumma di sana.

Ne? Ah… bukan.”

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Se-Hun, Young-Seo hanya tersenyum. Entah ia tersenyum untuk menahan rasa kecewa atau senang karena Se-Hun tidak mengiyakannya. Bukankah itu berarti Se-Hun tidak terlalu tertekan dengan keadaan ini?

“Kau baru ingin menyatakannya?”

Kali ini Se-Hun tidak menjawab. Young-Seo tidak mengerti dengan dirinya sendiri sekarang. Satu sisi ia ingin sekali menangis karena perasaan sayangnya ini tidak dibalas Se-Hun, dan satu sisi ia senang karena Se-Hun tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia berada di antara jurang egoisme baik dan egoisme buruk.

Young-Seo mengangkat kepala lalu panik sendiri saat menyadari sosok Se-Hun sudah menghilang dari sana. Ia pun segera berbalik untuk mengejar Se-Hun. Ia kemudian menghela nafas—entah keberapa kalinya—melihat sosok Se-Hun yang belum jauh dari tempatnya. Ia sedikit bersyukur Se-Hun tidak menggunakan kaki panjangnya itu dengan benar saat ini.

 

You childish person

You try to take all of me

 

Young-Seo mengangkat alisnya saat melihat Se-Hun berhenti melangkah dan memukul kepalanya sendiri. Dan Young-Seo makin penasaran saat Se-Hun menolehkan kepalanya ke kanan-kiri, seolah mencari seseorang atau sesuatu. Dari jarak seperti ini pun You-Seo tahu kalau Se-Hun sedang panik.

Se-Hun terlihat menghela nafas dan kemudian berjalan ke arah yang lain dari sebelumnya. Young-Seo kembali mengikuti Se-Hun, kali ini dengan tatapannya saja. Young-Seo pun akhirnya terkekeh pelan saat tahu apa yang tengah Se-Hun cari.

Young-Seo mendekat ke arah stand cupcake itu, di mana ada tiga anak perempuan kecil dan Se-Hun, dengan langkah tenang. Ekspresi Se-Hun seperti baru saja menemukan anak anjingnya yang hilang saat melihat stand ini, dan itu membuat Young-Seo penasaran.

“Apa masih ada yang tersisa?”

Young-Seo sukses tertawa saat pertanyaan buru-buru Se-Hun malah dibalas ketiga anak itu dengan saling berpandangan, seolah sedang memutuskan sesuatu dengan tatapan mata. Belum lagi Se-Hun yang terlihat tidak sabar menunggu jawaban ketiga atau salah satu dari anak perempuan itu.

Mianhaeyo, Oppa. Tapi hanya tersisa satu.”

“Dan itu untuk kami.”

Ya! Yoo-Miya!”

Tawa Young-Seo makin keras. Ketiga anak perempuan ini sangat lucu, dan yang paling menggemaskan adalah eskpresi kecewa Se-Hun. Pria itu menunduk lemas sambil sedikit mengerucutkan bibirnya. Benar-benar kekanakan.

Dan menggemaskan.

Sungguh, Young-Seo ingin sekali mencubit pipi Se-Hun itu.

Young-Seo berdeham sekali sebelum akhirnya berpindah ke anak perempuan yang berada di tengah. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga anak itu. Young-Seo tidak tahan melihat ekspresi Se-Hun itu. Well, ia tidak mau tertawa sampai perutnya kram hanya gara-gara ini. Jadi, ia memutuskan untuk membantunya—sedikit.

“Kumohon, berikan cupcake itu padanya.”

Chankkamaneyo, Oppa. Temanku ini hanya bercanda,” dan Young-Seo berhasil! Anak itu mengulurkan cupcake di tangannya pada Se-Hun. “Harganya lima ratus Won.”

Saat Se-Hun merubah eskpresi sedihnya secepat kereta listrik bawah tanah, Young-Seo mau tidak mau tersenyum lebar. Meski Se-Hun memiliki wajah dingin yang dominan, senyum seorang Oh Se-Hun jauh lebih manis dari segala manisan di dunia ini—bagi Young-Seo.

***

You heartless person

This night tries to take all of me

You childish person

 

“Aku kembalikan ini pada dirimu. Bukannya aku tidak menghargaimu, tapi… Aku juga harus bangkit.”

Young-Seo tidak lagi menatap wajah Se-Hun, seperti yang ia lakukan beberapa jam sebelumnya. Tatapannya terpaku pada sebuah benda yang baru saja Se-Hun letakkan di atas marmer, di dekat bukit kecil itu. Mungkin inilah yang dirasakan Se-Hun saat menerima benda itu. Hancur, terluka, dan pedih.

Dan sekarang Young-Seo merasakan itu.

Entah apa yang berada di otaknya sekarang. Semua bergemuruh menjadi satu di kepala Young-Seo. Ada yang memaki Se-Hun, ada yang menangis keras, ada yang bersorak memberi semangat, bahkan ada yang mengutuk dirinya sendiri. Harusnya Young-Seo dari awal memang tidak memberikan benda itu pada Se-Hun.

Lihat, apa yang selama ini dialami Se-Hun! Pria ini pasti mengalami masa-masa yang sangat sulit karenanya. Kenapa Young-Seo harus ikut campur dalam kehidupan Se-Hun kalau tahu pada akhirnya dirinya sendiri tidak bisa membuat Se-Hun tersenyum. Ya, Young-Seo memang gadis bodoh!

“Kau mengajarkanku banyak hal, Young-Seoya. Dan kini saatnya aku melepasmu.”

Ya, termasuk mengajarkan hidup menderita, Young-Seo berteriak dalam hati. Air matanya tidak bisa terbendung lagi. Tidak seharusnya ia mengajarkan hal yang tidak baik kepada orang lain. Orangtuanya selalu berpesan untuk tersenyum kepada orang lain agar orang itu juga ikut tersenyum karena kita. Bukan membuat orang lain menangis dan menderita.

Young-Seo kira, setelah ini ia tidak akan lagi merasakan sakit itu. Tapi ia salah. Meski ia tidak lagi memiliki jantung atau bahkan detaknya, rasa sakit ini masih berasarang di dadanya. Bahkan ini jauh lebih pedih. Mengetahui fakta Se-Hun terluka karenanya, jauh lebih sakit dari semua rasa sakit yang pernah Young-Seo rasakan. Belum lagi saat Se-Hun harus mengembalikan CD itu agar bisa bangkit kembali.

Se-Hun bergerak untuk mencium batu nisan Young-Seo. Tepat saat itu, Young-Seo merasa dirinya menjadi sangat ringan. Tubuhnya menghangat, seolah Se-Hun benar-benar tengah mencium dan memeluk dirinya sangat erat. Jadi begini rasanya dilepaskan. Begitu hangat dan sakit.

“Selamat tinggal. Saranghae.”

Se-Hun berdiri kemudian, memasang segala penyamarannya kembali, dan meraih payungnya. Pria itu berbalik sambil tersenyum. Young-Seo tidak lagi mengikuti Se-Hun. Ia harus tetap di sini, dan selamanya begitu. Young-Seo melihat Se-Hun mengusap air matanya sedikit kasar saat angin musim semi berhembus pelan, membuat gadis itu lagi-lagi terkekeh pelan. Pria dingin yang hangat ini benar-benar melepasnya sekarang.

Young-Seo lega.

Sekaligus kehilangan.

Gomawo, Se-Hun Oppa.”

Se-Hun behenti tapi tidak berbalik. Young-Seo tersenyum lebar melihatnya. Pria itu sudah semakin kuat, dan bukankah Young-Seo juga harus begitu? Saat Se-Hun melepasnya, itu berarti Young-Seo bisa pergi dengan jauh lebih tenang lagi. Mungkin setelah ini, ia tidak harus ikut menangis saat Se-Hun menangisinya.

Young-Seo mengadahkan kepalanya. Awan kelabu mulai berarak menjauh dari langit Seoul. Oh Se-Hun benar-benar memberikan hadiah istimewa di hari ulang tahunnya. Sebuah salam keikhlasan yang dikemas sangat indah. Young-Seo berjanji, ia akan terus menunggu Se-Hun, meski itu berarti untuk di kehidupan selanjutnya.

 

Tonight, tomorrow night

And the night after that

I’ll wait forever

 

~End~

——————————–

 

Regards: Ziajung

Advertisements

30 responses to “My Old Story

  1. OMG spechless bacanya…jadi gini akhir firts love sehun ya ampun sedih ngrasainnya….sweet pokoknya

  2. kata2nya bikin kebawa suasana thor,sedih bgt bacanya 😦 tp keren serius ini keren bgt feel nya dapet bangeet.. daebak thor 🙂

  3. T-tunggu, jadi si Young Seo udah meninggal sebenernya /spechless/ awalnya masih bingung tapi batu nisan itu memperjelas semuanya… /tambah spechless/ Oh yaluhan kasian Sehunnya T.T Tapi tenang Hun, masih ada aku disini /diinjekbaekhyun/

    Okedeh sekian, author Ziajung keep writing^^

  4. Ya ampun, engga tega eonn bacanya :(( pas sehun ngomong begitu jadi ikutan nangis akunya.hikshiks T^T
    coba ke eonn, sehun ketemu orang yang mirip sama young seo, jadi engga begitu sakit eonn jadinya-..-
    oke keren banget, sampe terhuraT^T
    fighting eonn!!

  5. omgiii sedih banget bacanya, keren deh akhirnya dijelasin juga di povnya young seo. keep writing thor 🙂

  6. Aku kira young seo minjem raga orang gitu, eh ternyata enggak. Jadi ini see young side pas sehun beli hadiah ulang tahunnya itu ya?
    Feel-nya dapet banget, walaupun aku ngk dengerin lagu IU, tapi tau nadanya.
    Nice story eonn~~~

  7. berarti pcr ny sehun it hantu ny thor?? ini ff keren n sdih bgt thor ak dpt bngt feel nya

  8. waktu awal baca aku masih gak ngerti ini side story siapa, tapi waktu young seo flashback baru ngerti..
    jadi young seo ngikutin sehun selama ini? omo.. spechless..
    terharu thor bacanyaaa 😥 feel dapet banget!!
    keep writing zia!! *sok akrab dikit* ^^

  9. ini benar benar… TOp.. feel nya dapat banget.. jadi selama ini seo ngikutin sehun?? kk~~, keren.. keep writing!! Fighting..

  10. Sedih bngt,
    Feelx dapet,
    Sehun. . .
    Yeong-seo sll mengikuti sehun n mengetahui pa yg sehun lakukan,
    So sweettt. . .

  11. Omooo…
    Kereeen bangeet thoooorr…
    Huhuhuhu…
    Daebaak..
    Aku smpek nangis d kmar..
    Trkdang cnta tk hrus mmliki..
    Dan hrus sling mnguatkan stu sma lain..
    Mski dg mlepas..
    TT
    Kyaaa…
    Daebaaak thor nich ff nyaa…
    Gomawo
    ^-^

  12. dari awal baca sih udah bisa ditebak kalo yeongseonya tuh pasti cuma arwah,,
    tapi tetep nyesek bacanya,, sedih ngebayangin sehun kaya gitu

  13. aakhh…JEONGMAL DAEBAK (y)
    Sbnernya aqu udah baca smalem tpi krna komenqu gagal kpost aqu jadi balik lagi ksini..kkk…Lagian smalem mataqu udah lowbat minta merem scara bacanya jm 1’an gitu..hehee *malah curcol*
    Oiya awalnya qu kirain ini Flashback saat Yeonseo masih hdup..tpi ternyata dia udah jadi hantu O.o
    Jadi slama ini Yeonseo ngikutin Sehun lantaran dia blm bisa relain yeonseo sepenuhnya?? Omoo..serem juga nih kalo dibayangin..hmm..gimana ya kalo TAO yg diuntit sama hantu??? wkwkwk…
    Tapi aqu lega juga ternyata yeongseo tau dan liat kalo Sehun bliin dia hadian dan rayain ultah dia..itu mengharukan bgt!!! Dan yeongseo sadar kalo sehun emang harus bangkit dmi future dia…
    Sbnernya aqu nyesek juga baca ff ini,, ga tau deh dibagian mana aja..hehe
    Ini dpt bgt feel’nya thor DAEBAK (y)
    Ehh,, jadi waktu itu(pas sehun denger suara yeonseo yg bilang “Gumawo Sehun Oppa) Sehun gg salah denger dong?? jadi bukan sekedar halusinasi??..hmm..biarpun yeongseo udah tiada tapi keterikatan batin sehun ma dia masih erat yah??
    Oke,, mian komenqu kepanjangan thor padahal sbnernya udah speechles tapi gatau nih tangan betah bgt ngetiknya..heher
    Keep writing and FIGHTING^^

  14. sedihnya dapet bgt.. awalnya gaketebak gitu kalo cwenya udh meninggak tapi stlh diikutin lama2 kaya ketauan gt kalo cwenya udh menibggal tp msh gayakin gt.. daebak deh ceritanya.. soalnya bikin penasaran.. gangebosenin.. dan feelnya dapet.. keep writing yaaa!!

  15. story about love and death memang selau bikin terharu, apik thor, feelnya selalu dpet, ditunggu next chapnya

  16. astaga…….. q kira sequelnya sehun nnti endingnya happy tpi… knp hrs end.
    huhu…. jdi nyesek bgt bcanya bnr2 nyesek. diantara smua karya ziajung q plg ska eco first love sma 12 power of love.
    oh ya thor… buatin sequelnya exo first love lay dong kl gk gtu si do eman bgt thu itu bgs
    thehun smangat ya.. ..

  17. astaga…….. q kira sequelnya sehun nnti endingnya happy tpi… knp hrs end.
    huhu…. jdi nyesek bgt bcanya bnr2 nyesek. diantara smua karya ziajung q plg ska exo first love sma 12 power of love.
    oh ya thor… buatin sequelnya exo first love lay dong kl gk gtu si do eman bgt thu itu bgs
    thehun smangat ya.. ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s