[Freelance] Almost is Never Enough

almost-is-never-enough

Cr : poster by Princess Artwork

 

Title                 : Almost is Never Enough

Author                        : Ndkhrns (Twitter : @Nadiakhair)

Main Cast       : Xi Luhan (Exo-M)

                        Eun Hyori (OC)

Support Cast  : Kai (Exo-K)

                        Park Hana (OC / Hyori’s friend)

Genre              : Romance, Songfic, School Life, Sad

Rating            : PG-13

Length            : Oneshot

Disclaimer       :

Annyeong chingudeul! My name is Nadia. Ini ff pertama yang author kirim ke saykoreanfanfiction, bisa dibilang author ini masih anak baru. Kekeke… FF ini awalnya dibuat karena ada salah satu teman author yang request. FF ini diambil dari lagu Ariana Grande ft. Nathan Sykes – Almost is Never Enough. Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Mian kalau ceritanya kurang menarik, diminta kritik dan saran yang membangun dari para readers. Kamsahamnida^^

 

“Cinta memang membawa kebahagiaan, namun suatu saat kita juga akan menerima kenyataan bahwa cinta tak harus memiliki

 

                Seorang gadis duduk termenung di dalam sebuah bus kota. Menikmati hujan yang enggan berhenti sejak tadi. Sesekali ia melirik jam tangannya. Gadis bernama Eun Hyori itu nampak menikmati pemandangan di luar sana. Hujan. Ia suka hujan.

Almost, almost is never enough, so close to being in love…” ia bernyanyi dengan suara pelan mengikuti lagu yang sedang diputarnya.

Bus berhenti di depan sebuah Sekolah Menengah Atas. Hyori pun bergegas turun, kemudian melangkah dengan pasti masuk ke dalam tempat yang cukup megah itu. Tak lupa ia mengenakan payung, sedangkan sebuah headset tak lepas dari kedua telinganya. Tanpa ia sadari, seorang lelaki tengah menatapnya dari kejauhan.

Ia sudah datang, batin sosok tersebut.

“Hyori, kau sudah mengerjakan tugas Matematika?” tanya Hana, teman sebangkunya.

“Sudah,” jawab Hyori dengan singkat.

Suasana kelas sedang gaduh, kelas yang dijuluki Incredible Class ini berisi anak-anak dengan kualitas akademik yang ‘lebih’. Disinilah Hyori belajar, ia memang seorang gadis yang pintar. Pada saat guru mengajar, kelas akan sunyi, namun jika sedang jam kosong, semuanya akan berubah 180 derajat. Seperti pusat perbelanjaan yang sedang mengadakan diskon besar-besaran.

“Hyori,” panggil seseorang.

Hyori mengalihkan pandangannya. “Iya?”

“Maaf, semalam aku sudah tidur. Aku tidak sempat membalas chatmu.”

Wajah Hyori sedikit memerah, “Santai saja, Luhan.”

Lelaki bernama Luhan itu tersenyum, kemudian ia pergi. Sementara Hyori tengah berbunga-bunga mengingat chatnya dengan Luhan selama ini. Hyori menyukai Luhan. Tapi ia tak yakin, apakah Luhan akan merasakan hal yang sama?

 

                Bel pulang berbunyi, seluruh murid bergegas untuk pulang. Hyori keluar agak lambat karena ia harus menata ulang isi tasnya.

“Berat sekali,” keluhnya.

Setelah merasa tasnya rapi, ia pun melangkahkan kaki keluar kelas. Di halaman sekolah ia tak sengaja melihat Luhan sedang mengobrol dengan Eunmi, mereka nampak akrab.

“Apakah Eunmi yang dimaksud oleh teman-teman Luhan?” lirih Hyori. Ia merasa dadanya sesak, matanya mulai panas. Saat ia sedang memandangi Luhan dari kejauhan, sesuatu menimpanya.

BRUKK!!

Seseorang menabraknya secara tak sengaja, sehingga Hyori terjatuh, roknya pun kotor.

“Hyori! Mianhae! Kau tidak apa-apa? Aku tidak sengaja menabrakmu,” ucap Kai, seseorang yang baru saja menabrak Hyori.

“Ah, aku baik-baik saja,” jawab Hyori sembari mencoba berdiri. Namun ia tidak bisa, kakinya lecet.

“Kakimu terluka, kajja, kita ke UKS. Akan kuobati,” ajak Kai seraya mencoba untuk membantu Hyori berdiri.

Hyori pun berhasil berdiri berkat uluran tangan Kai. Dengan tertatih ia menuju ke UKS.

Sementara itu di sisi lain, Luhan yang tengah asyik mengobrol dengan Eunmi mendadak terpaku. Ia tak sengaja melihat Hyori terjatuh, ia ingin menolong namun tak bisa. Ada Kai disana. Dan kelanjutannya adalah, Hyori berjalan sembari memegang tangan Kai erat. Ada perasaan cemburu di hatinya.

“Luhan? Nan gwaenchana?” tanya Eunmi sambil mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajah Luhan.

“Engg… Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Luhan. Semoga dia baik-baik saja, batinnya dalam hati.

 

                Keesokan harinya Hyori kembali pulang agak terlambat karena ada urusan dengan salah seorang gurunya. Sekolah sudah sepi. Namun saat ia melewati ruang musik, terdengar suara petikan gitar. Hyori tertegun.

“Siapa yang berada di dalam?” herannya.

Sheera membuka pintu ruang musik perlahan, nampak seorang lelaki sedang bermain gitar. Dan sosok itu adalah…. Luhan, Xi Luhan!

“Luhan?”

Lelaki itu menghentian aktivitasnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

“K…kk…Kau? Masuklah,” Luhan menjawab dengan gugup.

Hyori memberanikan diri untuk mendekat. Ia memilih untuk duduk di depan piano, tak jauh dari tempat Luhan berada.

“Itu lagu Almost is Never Enough, kan? Bagaimana kalau aku bermain piano, kau yang bermain gitar. Yaa, semacam duet,” kata Sheera secara tiba-tiba.

Luhan terdiam.

Sial, aku lancang sekali! Bagaimana kalau ia tidak suka? Bagaimana kalau ternyata kehadiranku malah mengganggunya? Oh Tuhan, aku sangat malu, batin Hyori.

Ne…”

Luhan mulai memainkan gitarnya. Hyori pun langsung memainkan piano tersebut.

I’d like to say we gave it a try

I’d like to blame it all on life

Maybe we just weren’t right

But that’s a lie… That’s a lie

                And we can deny it as much as we want

                But in time our feelings will show

                Cause sooner or later, we’ll wonder why we gave up

                But truth is everyone know

Oh, almost… Almost is never enough

So close to being in love

If I would have known that you wanted me,

the way I wanted you….

Mereka nampak menghayati lagu tersebut. Terutama Hyori, karena ini adalah lagu favoritnya. Ia merasa kalau lagu ini sangat cocok untuk menggambarkan kisahnya dengan Luhan. Sebenarnya Hyori dan Luhan memiliki hubungan dekat, di dunia chatting. Di kehidupan nyata, mereka tak pernah terlihat akrab, mereka tak ingin orang-orang tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi diantara mereka. Mereka pun tidak tahu pasti, sudah berapa lama mereka dekat. Jika dikatakan sebagai ‘teman’, rasanya mereka sudah setingkat diatas itu. Namun mereka juga tidak bisa diatakan sebagai ‘sepasang kekasih’. Luhan adalah sosok yang hangat, Hyori merasa nyaman saat sedang chatting dengan Luhan. Mereka kerap bertukar cerita, dan mereka merasa ‘klik’. Oleh sebab itulah, seorang Eun Hyori bisa jatuh hati kepada seorang Xi Luhan, lelaki berparas tampan keturunan China-Korea itu.

Jam menunjukkan pukul 2 siang, mereka memutuskan untuk bergegas pulang. Mereka berjalan bersama menyusuri jalanan kota Seoul. Ini adalah pertama kalinya mereka bersama. Tak ada yang berani membuka suara, sunyi, hening. Hanya ada suara bising kendaraan.

5menit kemudian….

“Ternyata di dunia nyata pun, kau adalah pribadi yang menyenangkan,” Luhan akhirnya buka suara.

“Kau juga,” balas Hyori. Ia sedang gugup habis-habisan sekarang, jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya mungkin sedang memerah seperti kepiting rebus.

“Tadi kau terjatuh, ya? Kulihat Kai menabrakmu?” tanya Luhan.

“Iya, ia tidak sengaja menabrakku, lalu aku diobati di UKS. Entah kenapa, saat aku sedang tertimpa musibah, Kai pasti sedang berada di dekatku. Lalu ia membantuku,” jawab Hyori dengan wajah ceria.

“Mungkin ia adalah pahlawanmu, Hyori.”

Ne, itu benar! Kai is my superhero!”

Luhan langsung tertegun mendengar nada bicara Hyori yang sangat ceria. Seolah-olah itu adalah pertanda bahwa Kai telah berhasil mengisi relung hati Hyori. Hati kecilnya semakin yakin bahwa ia tidak pantas untuk mendapatkan gadis itu. Hyori terlalu sempurna untuknya.

“Kau tahu? Kai adalah tipe lelaki idaman, ia sangat baik, jago ngedance, dan sedikit konyol,” cerocos Hyori. “Tak banyak perempuan yang berhasil dekat dengannya.”

Luhan semakin tertunduk, pikirannya mulai tidak sinkron. Kakinya lemas, seperti ingin pingsan.

“Kau adalah tipeku,” Luhan tak sengaja melontarkan kalimat tersebut. Untung saja suaranya sangat pelan.

Hyori terkejut. “Eoh? Barusan kau bilang apa?” tanya Hyori.

Luhan menggeleng cepat, “Aa… Aniii…”

Tak terasa mereka sudah sampai di sebuah halte bus. Hyori pamit, karena bus sudah datang. Mereka pun berpisah di halte tersebut.

“Aku pulang dulu, hati-hati di jalan. Annyeong,” pamit Hyori.

Luhan hanya membalasnya dengan senyuman.

 

                Sesampainya di rumah, Luhan hanya mendapati adiknya yang sedang duduk di depan televisi. Menonton sinetron kesukaannya.

“Dasar ababil, dimana Eomma?” ucap Luhan tanpa ba-bi-bu.

Perempuan berusia 13tahun bernama Zhaoyi itu mengalihkan pandangannya pada sang kakak.

“Pergi arisan. Kenapa? Kau ini sudah besar, Oppa. Tidak perlu menyuruh Eomma untuk memandikanmu,” jawab Zhaoyi seenaknya.

“YA, siapa yang ingin dimandikan Eomma?! Berhenti menonton sinetron tidak penting, kau ini tidak sopan,” protes Luhan.

“Lewat sinetron, kau bisa belajar banyak tentang cinta.”

Luhan seperti tersengat listrik 1000 volt.

“Tau apa kau soal cinta?”

“Yaahh, setidaknya kisah cintaku tidak seburuk kau.”

BLAM!!

Luhan berlalu, kemudian menutup pintu kamarnya dengan kencang.

“Kapan sih, dia percaya padaku?” Zhaoyi mendengus melihat kelakuan kakak lelakinya itu.

Luhan bergegas mandi, kemudian ia beristirahat di tempat tidurnya. Ia memandangi pigura di atas pintu kamarnya. Fotonya dengan Zhaoyi, sang adik.

Lewat sinetron kau bisa belajar banyak tentang cinta

Luhan teringat akan kata-kata dongsaengnya barusan, mungkin ada benarnya. Tapi mana mungkin, Luhan yang sangat maskulin menonton sinetron secara rutin agar bisa belajar banyak tentang cinta? Itu konyol!

“Berhenti melamun, aku tau siapa yang kau pikirkan,” Zhaoyi duduk di depan Luhan dan membuat sang kakak terkejut.

“Hyori, kan? Teman chattingmu itu,” lanjutnya.

Luhan hanya mendengus kesal karena adiknya itu berhasil membaca isi chattingnya dengan Hyori.

“Kalau kau suka, nyatakan. Sebelum kau menyesali keadaan. Aku tahu, aku masih terlalu kecil, tapi percayalah padaku, ia juga suka padamu. Kumohon, turuti nasehatku sekali ini saja,” kata Zhaoyi.

Andwae,” tolak Luhan.

Wae? Aku yakin kok, dia pasti kepincut dengan ketampananmu itu.”

“Dia terlalu sempurna untukku.” Luhan menampakkan wajah lesu.

“Payah! Terserah padamu, aku sudah mengingatkan,” kesal Zhaoyi. Kemudian ia meninggalkan kakaknya seorang diri.

 

                Hari demi hari berlalu, hubungan Luhan dan Hyori semakin renggang. Entah atas dasar apa, Luhan memilih untuk menjauhi Hyori. Hyori merasa sedih karena ia kehilangan sosok Luhan yang hangat. Lelaki itu berhasil membuatnya jatuh hati, namun kini ia malah pergi begitu saja. Sebentar lagi, mungkin dua minggu lagi mereka akan melaksanakan wisuda. Hyori sangat takut jika hubungan ini terus renggang, bahkan sampai mereka lulus nanti.

Suatu hari di jam makan siang, Hyori pergi ke kantin dengan Hana.

“Bagaimana dengan Luhan?” bisik Hana saat ia dan Hyori sedang makan siang.

Molla, aku harus melupakannya.”

“Yakin? Melupakan seseorang itu sulit, sesulit perjuangan kita untuk berhasil memborong barang-barang branded saat big sale di Mall,” Hana berbicara dengan nada yang berlebihan.

Sejak kejadian malam itu… batin Hyori.

“Apa karena kejadian waktu itu?” tebakan Hana tepat sasaran.

Flashback

            Hyori melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kota. Ia baru pulang dari tempat lesnya. Hari sudah sore, jam menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit. Seperti biasa, ia pulang menggunakan bus kota. Halte sangat sepi, Hyori sendirian disana. Saat sedang menunggu bus, nampak sekawanan pria berjalan ke arah halte.

“Hallo, gadis manis. Kenapa kau sendirian?” sapa salah seorang dari mereka.

Hyori terdiam.

“Kami temani, ya,” seorang pria berkumis tebal mulai mendekatinya. Diiringi suara tawa menggelegar.

“Mau apa kalian?Jangan mendekat! Pergi, pergiiii!!!” Hyori mulai histeris.

Segerombolan pria tak dikenal itu mulai mendekati Hyori. Namun, saat mereka hampir menangkapnya, seseorang datang lalu memukul salah satu dari mereka.

BUGGGHH!!

DUKKK!!!

Sebuah tendangan di kaki, dan hantaman-hantaman lainnya mengenai segerombolan pria tersebut. Hyori yang sudah menangis sedari tadi memberanikan diri untuk membuka matanya.

Xi Luhan… batinnya.

Segerombolan pria itu sudah terkapar tak berdaya.

“Berhentilah menggoda seorang gadis tak berdosa, Tuan!” seru Luhan. Kemudian ia menghampiri Hyori yang sedang terduduk lemas. Luhan melepas jaket yang dikenakannya, kemudian ia pasangkan ke tubuh Hyori. Lelaki itu membantu Hyori berdiri.

“Harusnya kau lebih berhati-hati,” ucap Luhan lembut sambil membantu Hyori berjalan.

Hyori diam tak bergeming. Kedua tangan Luhan masih berada di kedua bahunya.

“Gomawo,” Hyori bicara dengan suara bergetar.

“Cheonma. Mian aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi,” kata Luhan.

“Apa maksudmu? Memangnya aku salah apa padamu?”

“Tak apa, Hyori. Sudahlah, bis sudah menunggumu,” jawab Luhan sambil melepaskan tangannya dari bahu Hyori. Lelaki itu tak memberi alasan yang jelas.

Memang benar, sebuah bus berhenti di depan halte. Dengan berat hati Hyori meninggalkan Luhan. Ia masuk ke dalam bus, kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Tak peduli dengan tatapan sekitar, lagipula hanya ada 5 orang penumpang. Luhan masih mematung di halte, hingga akhirnya ia tak dapat melihat bus yang ditumpangi pujaan hatinya itu.

 

“Itu sudah hampir 2bulan yang lalu. Aku yakin dia punya alasan. Tidak mungkin ia tiba-tiba menjauhimu,” kata Hana.

“Benar juga, tapi apa, ya?”

“Kau pernah bermesraan dengan lelaki lain di depannya?”

“Tidak.”

“Kentut saat berada di dekatnya?”

“Hey, yang benar saja!”

“Hmmm… Memuji seseorang di depan dia?”

“…….”

“Mungkin itu alasannya! Di drama-drama yang sering kutonton, orang yang tadinya suka, akan menyerah karena ia menganggap bahwa pujaan hatinya itu menyukai orang lain. Jika kau mau, berkunjunglah ke rumahku. Kita menonton drama itu bersama, agar kau lebih mengerti. Aktor utamanya sangat tampaaaannnn!!” Hana malah berbicara tak jelas.

“Kyaa, Park Hana! Aku butuh saran, bukan DVD. Menonton drama seperti itu akan membuatku makin gila,” omel Hyori.

Hana tertawa.

“Aku belum mengembalikan jaketnya,” lirih Hyori sambil mengaduk-aduk spaghettinya.

“Hey, sudah dua bulan kau belum mengembalikannya?! Temui dia sekarang, lalu kembalikan,” ujar Hana.

Hyori hanya diam. “Apa aku saja yang mengembalikannya? Jangan salahkan aku jika ia malah tertarik padaku,” gurau Hana sambil mengibaskan rambutnya.

“Hey, tidak! Andwae!” protes Hyori. Ia pun berdiri. “Baiklah, akan aku kembalikan, ji-geum!”

Hyori pun bangkit dari kursinya, kemudian melangkah pergi. Ia menuju ke kelasnya untuk mengambil jaket tersebut. Entah kenapa ia enggan untuk mengembalikannya pada Luhan, ia merasa nyaman mengenakan jaket itu. Kedengarannya memalukan, menahan barang seseorang selama 2 bulan, tapi jaket itu bukanlah jaket biasa bagi Hyori.

Setelah mengambil jaket itu, Hyori bergegas mencari Luhan. Biasanya lelaki itu menyendiri di ruang musik. Yap, ruang musik adalah dugaan pertama.

Hyori tak menemukan seorang pun di ruang musik. Ia mencoba untuk bertanya kepada beberapa murid lainnya. Namun tetap saja nihil. Pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.

Sementara itu di dalam kelas, dua orang lelaki tengah berbicara serius. Mereka adalah Luhan dan Kai.

Mworago? Amerika? Lalu Hyori?”

“Ini memang berat untukku. Tapi aku rasa dia tak akan…”

“Apa? Dia akan sangat terpukul, Luhan! Cepat nyatakan perasaanmu padanya,” Kai mulai naik pitam.

“Tidak, ia lebih pantas disandingkan denganmu,” elak Luhan.

Neo…”

“Silahkan jika kau ingin membenciku, kutitipkan Hyori padamu.” Luhan berjalan meninggalkan Kai yang masih terpaku.

BRUKK!!

Ia bertabrakan dengan Hyori di depan pintu kelas. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat, jantung Luhan berdetak lebih kencang, suatu keadaan yang sangat dibencinya.

“Aku ingin mengembalikan jaketmu,” Hyori bicara to the point. Lalu ia menyerahkan jaket berwarna biru tua itu pada Luhan.

“Aku ingin berterimakasih padamu, aku tidak tahu….” omongan Hyori segera dipotong oleh Luhan.

Ne, dan jangan cari aku lagi.” Luhan langsung berlalu dari hadapan Hyori. Sementara Hyori terpaku di tempat ia berdiri, cairan bening mulai membasahi pipinya. Ia menangis. Entah mimpi apa ia semalam, seorang Luhan yang sangat ia rindukan mencampakkannya begitu saja. Siapa yang bersalah? Luhan yang kurang ajar? Atau Hyori yang terlalu berharap?

 

-School Graduation Party at 6.30 p.m-

Malam ini seluruh murid kelas 3 tengah berbahagia. Hari ini adalah pesta kelulusan bagi mereka. Mengenakan pakaian terbaik, menghabiskan waktu dengan menyantap berbagai hidangan lezat, suasana yang sangat menggembirakan. Namun tidak bagi Hyori. Malam ini ia tidak merasa bahagia, bukan karena ia tidak lulus, tapi karena Luhan tidak datang. Ia tak tahu kemana Luhan, yang jelas mereka sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak hari pengembalian jaket. Dan beberapa hari setelahnya, Luhan tak pernah menampakkan diri di sekolah.

“Sudahlah, jangan bersedih. Jika kalian berjodoh, pasti kalian akan dipertemukan kembali,” Hana berusaha menghibur Hyori.

“Aku sengaja memakai gaun terbaikku, berdandan secantik mungkin, aku berharap ia akan datang. Aku ingin berbicara padanya, berharap ia akan melihatku dengan keadaan seperti ini, sebaik ini,” ujar Hyori sambil menahan tangis.

Gaun yang dikenakan Hyori malam ini adalah gaun yang sangat cantik. Dengan warna soft pink, ditambah dengan riasan yang natural namun tetap menampilkan kesan anggun. Hyori melakukan ini semua hanya untuk Luhan. Namun sayang, lelaki itu tak hadir malam ini. Saat Hyori dan Hana sedang larut dalam suasana galau, Kai datang dengan wajah yang kurang enak dilihat.

“Hyori, ini dari Luhan,” ucap Kai pelan. Ia menyerahkan sebuah amplop kepada Hyori.

Hyori terkejut, kemudian ia segera menyambar amplop tersebut. Lalu membacanya.

Dear Hyori,

Aku minta maaf karena aku sudah membuatmu sedih. Aku bersikap kasar padamu saat kau mengembalikan jaketku di hari itu. Saat itu aku sedang kalut, aku sedang bersedih, karena aku harus pergi, meninggalkanmu. Hari ini aku berangkat ke Amerika, aku akan melanjutkan sekolahku disana sampai lulus kuliah, lalu aku akan menjadi pemimpin perusahaan milik Appaku disana. Mianhae, karena aku terkesan mencampakkanmu. Jujur, aku menyukaimu, dari awal kita bertemu di kelas 3. Aku memang seorang pengecut, hanya bisa mengagumimu dari jauh, tanpa berani menyatakan perasaanku yang sesungguhnya. Dan kini aku harus berpisah denganmu…. Mianhae, jeongmal mianhae. Aku harap kau bisa menemukan seseorang yang bisa menjagamu dan menyayangimu setulus hati. Dan kumohon…. Jangan lupakan aku.

Saranghae, Eun Hyori.

Hyori pun kembali meneteskan airmata. Sekarang ia sudah tahu apa alasan Luhan tak pernah hadir di sekolah, dan ia tak hadir hari ini. Hati Hyori remuk seketika, ia merasa sedih sekaligus menyesal. Ia merasa belum pernah memberikan sesuatu yang berkesan untuk Luhan.

“Antarkan aku ke bandara,” pinta Hyori pada Kai.

Kai terdiam sesaat, kemudian ia menyetujui permintaan Hyori. Mereka pun bergegas menuju bandara menggunakan taxi.

Sesampainya di bandara, mereka berlari ke tempat keberangkatan internasional.Kai, Hyori, dan Hana masih mengenakan jas dan gaun. Mereka berlari dan terus berlari, berharap pesawat yang ditumpangi Luhan belum lepas landas. Hingga akhirnya mereka melihat ke sebuah layar besar, disitulah jadwal penerbangan terpampang dengan jelas. Dan pada saat itu juga, usaha mereka sia-sia, pesawat sudah lepas landas. Hyori terduduk sambil menangis.

Uljima,” Hana dan Kai memeluk Hyori.

Hyori tetap saja menangis tersedu-sedu, rasa sakit di hatinya bertambah dalam. Pedih, sangat pedih. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Namun kini Hyori mulai mengerti, cinta tak harus memiliki. Setidaknya ia beruntung karena sudah diberi kesempatan untuk mengenal Luhan, walaupun ia tidak bisa memilikinya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mendoakan agar Luhan selalu diberi kemudahan selama berada disana. Biarkan waktu yang akan menjawab, karena semua akan indah pada waktunya.

“If I could change the world overnight. There be no such things as goodbye.You’ll standing right where you were… We get the chance we deserve” –Ariana Grande ft. Nathan Sykes (Almost is Never Enough)-

-The End-

23 responses to “[Freelance] Almost is Never Enough

  1. Sedih banget…. Aku paling benci sama yang namanya perpisahan. Kasihan hyori. Kasi sequel donk thor aku maunya mereka jadian. Pls neh

  2. ahhh sediihhh, aku pernah gini soalnya sama sama suka terus nggak bisa jadian *curhat hehe. sequel yah thor, keep writing 🙂

  3. Jujur ini lagu favoritku.. aku suka bangt sama lagu ini.. dan aku seneng banget ada yg nulis lagu ini buat fanfic yg akhir2 ini sering aku baca… makasih thor…
    aku tau rasanya… almost is never enought… ;))

  4. Ini prnh d post d web nya author sndri kan..
    Hhehhe
    Thooorr.
    Sequel dooong…
    Pleaseee .
    Gomawo
    ^-^

    • Hi, GeeGee^^ di blog reinaizawa.wordpress.com ya? Itu blog punya teman author. Insyaallah akan dibuat sequelnya, tapi harus sabar yap:) lagi sibuk persiapan masuk SMA nih^^ gomawoo

  5. kerenn.. cerita.y bagus banget..
    emang cinta tak selama.y akan bersatu 😦
    bkinin sequel nih bagus thor 🙂

  6. Eonnniiii ini nyeseek pake banget *okelebay-_-
    Kalimatnya yang bagian akhir itu nge-jlebbb..
    Needed sequell eonnii #puppyeyesalasehun ;;)

  7. Thankyou all readers;) insyaallah bakal dibuat sequelnya^^ tapi sabar dulu ya, author lg sibuk persiapan masuk SMA. Terimakasih banyak, komentarnya positif semua;;) jeongmal kamsahamnida^^

  8. Kakak author ceritamu keren sekaleee , sampai mau nangis aku bacanya :’C
    Sequelnya dong kakak *ikutan tereak sequel

    note: sequel pertama harus di post di blog gue dulu yaaa,awkakka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s