Loveliness (Chapter 2) – Jae Bum or Camera?

loveliness

LOVELINESS (Chapter 2) – Jae Bum Or Camera?

 

Main Cast :

Kim Jong In a.k.a Kai (EXO)

Han Yurin (Oc)

Support Cast :

Lim Jae Bum a.k.a JB (GOT7)

EXO’s Member

You Can Find if you Read

Genre :

Romance & Drama

Ratting :

Pg-16

Poster By: FLAMINTSKLE16 @posterfanfictiondesign.wordpress.com

Loveliness| foreword | 1|

Sorry if you find typo and don’t forget to comment

 

Jadi Milikku” ucap Kai tersenyum lalu memeluk Yurin menenggelamkan kepalanya di leher Yurin, Kai tampak mengirup aroma tubuh Yurin yang sejak tadi ia cium dan sungguh membuatnya mabuk, aroma yang membuat Kai sedari tadi berperang dengan instingnya

Yurin terkesiap saat mendapati Kai mendekapnya, jantung Yurin berdetak dengan sangat kencang sekrang juga, tubuhnya lemas saat merasakan Kai menenggelamkan kepalanya di lehernya membuat mata gadis ini berbulat dengan sempurnah

Setelah mencoba melepaskan diri akhirnya Kai berhasil melepaskan dirinya pada Yurin, lalu menatap perempuan itu yang terdiam tak bergeming seperti patung, Kai lalu mengacak-acak rambut Yurin lalu berjalan pergi sambil membawa tas yang berisi kamera Yurin

Yurin langsung jatuh terduduk dnegan lemas, ia tak tau harus bagaimana. Ia bukanlah orang yang suka berurusan dengan sosok seperti Kai karena akan sangat merepotkan tapi apa sekarang karena hanya memotret laki-laki itu kini ia dalam masalah luar biasa. Kepalanya hampir pecah jika mengingat ucapan laki-laki itu

“Jadi milikku” ucapan Kai itu terus memutar-mutari kepala Yurin

“Apa yang harus aku lakukan pada laki-laki gila itu” Runtuk Yurin saraya mengacak-acak rambutnya Frustasi

 

“Kameraku” teriak Yurin Frustasi

 

……………..

 

Keadaan Yurin benar-benar hancur, dia seperti orang yang baru saja keluar dari hutan belantara. Rambutnya acak-acakan seperti singa, matanya sembab karena menangis bahkan saat ini Yurin tak cocok dibilang sosok manusia dia lebih cocok dengan sebutan Zombie

Yurin benar-benar tak peduli dengan pandangan orang-orang yang menatapnya aneh bahkan sekali-kali orang yang menatapnya sambil tertawa. Dengan jalan yang gontai Yurin membawa tubuhnya yang lemas memasuki toilet kampusnya

“YA TUHAN” teriak Yurin saat melihat keadaannya yang benar-benar hancur terpampang di cermin, bahkan Yurin tak mengira bahwa saat ini adalah dirinya

“Tak heran orang-orang memandangku aneh” gerutunya dan mulai memperbaiki penampilannya agar kembali normal namun tiba-tiba saja Yurin lagi-lagi mengigat kameranya dan itu membuatnya lagi-lagi frustasi

“Dia pikir, dia siapa?” Tanya Yurin pada sosok bayangannya, sebenarnya pertanyaan itu mengara ke arah Kai

“Menjadi miliknya? Bahkan aku jijik melihatnya” Yurin tak henti-hentinya menggerutu kesal jika mengingat perkataan Kai yang membuatnya kehabisan akal tapi ayolah Yurin hanya berani menggerutu di belakang laki-laki itu jika berhadapan langsung dengan laki-laki itu bahkan Yurin tak bisa menatapnya karena ketakutan

“Tapi kameraku?, EOMMA AKU HARUS BAGAIMANA?” Yurin mendesah berat, apapun harus ia lakukan demi kameranya karena kamera itu adalah peninggalan ibunya yang sangat berharga untuk Yurin

Yurin menarik nafasnya panjang lalu membuangnya dengan pelan, ia harus memikirkan cara agar kameranya terbebaskan dari laki-laki berbahaya seperti Kai, dan menjauh dari terkaman laki-laki itu karena dugaan Yurin ternyata selama ini salah. Awalnya Yurin kira Kai itu sosok dingin yang tidak mempermasahkan apapun namun ternyata itu jauh dari pikirannya bahkan Kai bahkan lebih berbahaya jika seseorang berurusan dengannya

……..

 

Kai sekarang tengah berada di apartemennya bersama teman-temannya. Suho tampak sibuk membaca majalah bisnis, Chanyeol, Sehun dan Baekhyun sibuk bermain PS, Dio sibuk memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam kulkas apartement Kai

“Kai, itu kamera siapa?” tanya Suho bingung saat melihat Kai kini mulai mengeluarkan kamera dari dalam tas dan mendengar pertanyaan Suho semua teman-teman Kai kini melirik kelakuan temannya itu

“Bukan urusan kalian” ucap Kai cepat menatap teman-temannya dengan pandangan dinginnya, oh ayolah Kai mereka itu teman-temanmu bagaimana mungkin kau tetap saja bersikap dingin seperti itu

“Dasar” umpat Chanyeol namun bukan Baekhyun dan Sehun kalau tidak segerah meracau ke arah Kai yang sibuk mengotak atik kamera seraya menyambungkannya menuju laptop dan kedua orang itu sekarang duduk tepat di samping Kai membuat Kai berada di tengah sekarang. Kai yang melihat tingka teman-temannya itu hanya bisa mendengus pelan membiarkan teman-temannya melihat apa yang ia lihat

“Wua, Hyung fotomu disini keren sekali” Sehun bergumam ke arah Chanyeol memuji hasil potret yang luar biasa dan Chanyeol langsung melesat pergi menuju ke arah Sehun dan benar saja saat ini Chanyeol melihat fotonya yang sedang menshoot bola dan itu sangat mengagumkan

“Wua Daebak, hasil potretnya luar biasa” kali ini si mulut besar Baekhyun yang kini berucap namun semua mulut bungkam saat mendapati foto Kai yang mendominasi terpampang di laptop itu membuat ketiganya mendengus

 

“Sudah kuduga, pasti pemeran utamanya ice prince itu” gerutu Chanyeol kemudian kembali ketempatnya semula diikuti oleh Sehun dan Baekhyun mereka bertiga tampak sangat kecewa karena foto mereka bisa dihitung dengan jari sedangkan foto Kai sangat banyak

Dio yang tak tau apa-apa hanya melirik Suho dan Suho hanya menaikkan bahunya tanda tak tau apa-apa mengenai hal ini

“Jadi siapa pemilik kamera itu?” Dio mulai bertanya seraya melihat hasil potretnya dan munafik jika Dio tak mengatakan bagus

“Han Yurin” jawab Kai singkat membuat teman-temannya kini menatapnya dengan pandangan tak percaya, karena baru kali ini Kai berurusan lagi dengan seorang perempuan setelah beberapa lama

“Siapa dia?” tanya Suho menyelidik namun Kai tak mengubrisnya, ia terlalu sibuk memandangi layar laptopnya yang kini menampakkan foto-fotonya tadi

“Kurasa Kai mulai tertarik” bisik Baekhyun pada Chanyeol dan Sehun sedangkan dua orang itu hanya mengangguk mengiyakan peryantaan Baekhyun

Karena lagi-lagi Kai tak mengubris pertanyaan Suho membuat laki-laki itu geram dan segerah mengambil hadphonenya mengecek sosok yang dimaksud Kai di database kampusnya.

“Han Yurin, mahasiswa jurusan seni grafis fotografi” ucap Suho membuat teman-temannya kini melirik ke arah Suho

“Kurasa dia lumayan Kai” tanggap Suho tersenyum miring ke arah sahabatnya itu sedangkan yang lainnya merebut handphone Suho lalu melihat foto gadis itu dan benar apa yang dikatakan Suho gadis ini sangat lumayan bahkan sangat cantik

“Dia cantik, bagaimana jika dia menjadi target ku selanjutnya” kini Sehun mulai mengutakan pendapatnya namun belum sempat teman-temannya menanggapinya tatapan tajam Kai kini sudah lebih dulu menerjang laki-laki berkulit susu itu

“Jangan sentuh dia, Dia milikku” ucap Kai posesif menatap tajam ke arah teman-temannya

Suho, Dio, Baekhyun, Sehun dan Chanyeol hanya diam saat mendengar ucapan Kai yang posesif itu yang berhasil menimbulkan beberapa pertanyaan di benak teman-temannya itu, karena Kai sebelumnya tak pernah mendokterin sesuatu menjadi miliknya jika tidak tertarik sama sekali namun kali ini berbeda seorang Kai kali ini berhasil mendokterin gadis ini miliknya dan berarti benar itu miliknya.

 

…………..

 

Yurin memasuki area rumahnya, wajahnya benar-benar kusut sekarang, saat memasuki ruang tamu ia tak menyadari sejak tadi ada mata yang terus melihat ke arahnya dnegan pandangan aneh

“HAN YURIN” panggil Seung Yun dengan nada yang kesal, bagaimana ia tak kesal karena baru saja ia pulang bukannya mendapatkan pelukan rindu dari adiknya itu melainkan Seung Yun mendapati raut wajah yang dibencinya

Mendengar panggilan itu Yurin berbalik dan matanya berbulat saat mendapati kakaknya kini berdiri seraya menggulung lengannya di depan dadanya

OPPA” teriak Yurin lalu menghambur menuju pelukan kakaknya itu

Bogoshipoyeo” Ucap Yurin sambil memeluk kakaknya dengan erat dan saat ini Seung Yun mengembangkan senyumanya bangga karena akhirnya dia bisa melihat sikap manja adiknya yang sekitar 3 tahun ia tak lihat

“Rin-ah, A..ku tak bisa bernafas bodoh” gerutu Seung Yun saat mendapati adiknya memeluknya dengan sangat erat

Yurin segerah melepaskan pelukannya sependetik kemudian, dia tertawa renyah di depan kakaknya saat mendapati raut wajah kakaknya memerah akibat ulahnya

“DASAR” Seung Yun langsung menjambak rambut panjang nan hitam milik Yurin itu

Yurin meringis kesakitan saat merasakan jambakan dari kakaknya, ia memancarkan pandangan kesalnya pada kakaknya itu sedangkan Seung Yun hanya tersenyum miring di depan adiknya tanpa dosa sama sekali

Nado Bogoshipeoyo nae yeodongsaeng” Seung Yun berucap seraya menarik adiknya dalam pelukannya kemudian mengangkatnya berputar-putar

OPPA, turunkan aku” Yurin berterian seraya tertawa terbahak-bahak saat merasakan Seung Yun membuatnya berputar-putar dalam pelukannya itu

“AIST OPPA” gerutu Yurin sambil memukul bahu Seung Yun. Seung Yun hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi adiknya itu tak pernah berubah jika ia mempermainkannya

“Kau kenapa kelihatan lesu tadi huh?” Seung Yun mulai bertanya saat Yurin lagi-lagi manatap sendu kakaknya

Sambil duduk di sofa Seung Yun dan Yurin saling berbincang sampai akhirnya Yurin menceritakan masalahnya mengenai kameranya yang ditahan oleh Kai, walaupun Seung Yun kesal mendengar adiknya di ganggu namun ada kesenangan tersendiri saat mendengar cerita Yurin yang mengatakan bahwa laki-laki itu mengatakan Yurin adalah miliknya

“Akhirnya adikku ada juga yang meliriknya” ejek Seung Yun

Oppa lupa aku punya pacar Oppa

Yurin mendengus kesal, ia tak habis pikir bagaimana kakaknya berpikir demikian padahal yang di khawatirkan Yurin adalah kamera pemberian mendiang ibunya

“Bukan itu yang jadi masalah Oppa, yang jadi masalah adalah Kamera pemberian Ibu” Yurin menarik nafas panjang membiarkan mencegah rasa frustasinya muncul lagi

“Aku yakin kamera itu akan baik-baik saja, yang harus kau pikirkan bagaimana cara agar permintaan maafmu diterima” Seung Yun memberi saran pada adiknya itu seraya mengusap-usap punggung adiknya

“Akan kupikirkan” balas Yurin lesu

“Bagaimana kabar Jae Bum?” Seung Yun mulai mengalihkan pertanyaan

Yurin hanya memutar bola matanya saat tau kakaknya mulai mengalihkan pembicaraan yang seharusnya mereka pikirkan bersama

“Dia baik” jawab Yurin singkat

Seung Yun tersenyum saat melihat adiknya menjawab pertanyaannya dengan jawaban seadanya. Sebenarnya banyak sekali yang Seung Yun ingin ceritakan pada adiknya itu setelah 3 tahun tak bertemu tapi karena keadaan Yurin yang benar-benar hancur saat ini ia mengurungkan niatnya lalu menyuruh Yurin pergi ke kemarnya untuk membersihkan diri dan istirahat

Yurin akhirnya berjalan gontai menuju kamarnya. Setelah itu Yurin berlalu menuju kamar mandi. Setelah beberapa lama Yurin-pun keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di kepalanya, sore ini Yurin memang sengaja mencuci rambutnya berharap demikian kepalanya jadi dingin dan bisa berpikir jernih mengenai kameranya. Kemudian Yurin duduk di depan cermin riasnya memandang dirinya dengan pandangan menyedihkan

“Aku bahkan bisa gila jika kehilangan kamera itu” desah Yurin

Tiba-tiba saja Handphone Yurin berbunyi menandakan saat ini ada yang menghubunginya, senyumnya mengembang saat tau ternyat yang menelponnya adalah kekasihnya

Yeoboseo Oppa” ucap Yurin dengan suara berusaha ia buat senang karena memang Yurin senang namun pikirannya saat ini masih dipenuhi oleh perkaranya dengan Kai

“Aku dengar Hyung sudah kembali?” tanya suara di balik sana, Yurin yang mendengar pertanyaan itu hanya memutar bola matanya bagaimana mungkin kekasihnya lebih memntingkan kakaknya sedangkan dirinya saja belum di tanyai kabarnya padahal mereka belum bertemu selama 3 hari karena Jae Bum atau di kenal JB itu tengah berada di Jeju mengurus bisnis keluarganya disana

“Bagaimana mungkin kau menanyakan Oppa, sedangkan kau lupa dengan ku huh?” Yurin merengguk kesal

Terdengar suara di balik sana tertawa renyah, karena menurut Jae Bum Yurin akan sangat lucu bila ia merengguk apalagi jika pipinya menggembung

Mianhe chagia, bagaimana kabarmu?” Jae Bum berusaha membuat kekasihnya itu agar berhenti kesal akibat dirinya

“Buruk Oppa” Jawab Yurin seraya merebahkan dirinya diatas kasur empuk miliknya

“Wae?” Tanya suara di seberang disana

Namun bukannya menjawab Jae Bum malah mendnegar desaan berat dari kekasihnya itu. Ia hafal kekasihnya itu bahwa ia akan mendesah jika ada masalah yang tak bisa dia selesaikan

“Aku bosan hanya mendengar desaanmu Yurin”

“Masalah yang sangat rumit Jae Bum” balas Yurin sambil memutar kedua bola matanya, karena Yurin bukan sosok yang mudah percaya jadi ia tak suka memceritakan masalahnya dengan orang lain, tapi hey bukankah Jae Bum adalah kekasihnya? Tapi tetap saja menurut Yurin orang yang ia percayai hanya 2 yaitu Min Ra sahabatnya dan kakaknya Seung Yun

Hubungan Yurin dan Jae Bum sudah berjalan sekitar 1 tahun, itulah mengapa Seung Yun kenal dnegan laki-laki itu karena Yurin yang suka bercerita di telpon mengenai sosok kekasihnya itu tapi entah mengapa Yurin merasa akhir-akhir ini Jae Bum lebih banya pergi meninggalkannya entah masalah perusahaanlah dan itu membuat Jae Bum jarang ke kampus yang berarti juga sangat jarang bertemu dengan Yurin

“Yasuda kalau kau tak mau cerita lagi” kini Jae Bum mulai membiarkan apapun yang ingin Yurin lakukan

“Kapan Oppa kembali?”

“Mungkin sebulan lagi” jawab Jae Bum santai

Yurin yang mendengarnya langsung bangun dari acara baringnya, matanya berbulat betul saat ini, ia tak menyangka kekasihnya harus meninggalkannya selama itu padahal Yurin saat ini benar-benar rindu dengan sosok Jae Bumnya

“KAU GILA?” pekik Yurin

Suara gelak tawa Jae Bum langsung memenuhi indra pendengaran Yurin sekaligus membuat kedua alis Yurin bertautan bingung

“Aku hanya bercanda, coba kau intip jendela kamarmu” ucap Jae Bum tatkala membuat dirinya tak terbawa hasil candaannya sendiri

Lagi-lagi alis Yurin bertautan karena bingung, untuk apa Jae Bum menyuruh Yurin mengintip jendelanya padahal Yurin tau Jae Bum sekarang tengan berada di Jeju. Dengan malas Yurin melangkah pelan menuju jendela kamarnya. Yurin menyibakkan gorden remang-remang kamarnya dengan sekali tarikan mata Yurin terbelalak saat melihat sosok Jae Bum kini tengah berada di depan rumahnya, tampak Jae Bum tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Yurin

“Apa kau melihatku” ucap Jae Bum masih di balik handphone Yurin.

Yurin awalnya diam berusaha membuat dirinya kembali sadar karena akhirnya Jae Bum pulang setelah seminggu pergi meninggalkannya, Yurin menjatuhkan handphonennya langsung berlari menuju luar rumah, Seung Yun yang melihat adiknya turun dengan berlari membuatnya menaikkan salah satu alisnya namun segerah ia tahu saat ia melihat kini Yurin menghambur memeluk sosok laki-laki yang menurut Seung Yun adalah seorang Lim Jae Bum

“Dasar” decak Seung Yun lalu berlalu kembali masuk menuju ruang keluarga

Yurin tak tau apa yang sedang ia lakukan sekarang namun ia tak peduli, saat ini dia hanya ingin memeluk figuran yang sangat ia rindukan ini. Aroma maskulin Jae Bum kini berhasil memenuhi indra penciuman Yurin

“Aku sangat merindukanmu Oppa” ucap Yurin disela-sela pelukannya dan Jae Bum hanya menangguk dan membalas pelukan dengan sangat erat

“Aku juga Chagi” balas Jae Bum

Yurin mulai merenggangkan pelukannya pada Jae Bum dan menatap wajah kekasihnya itu dengan sangat lekat membiarkan matanya menerawang wajah Jae Bum yang sangat ia rindukan

“Aku sangat merindukanmu Yurin” ucap Jae Bum lalu menarik Yurin mendekat ke arahnya lalu mencium puncuk kepala gadis itu dengan singkat kemudian menatap Yurin yang tampak kaget. Jae Bum terkekeh saat melihat reaksi kekasihnya itu bukankah hal yang lumrah jika sepasang kekasih begitu? Tapi Yurin selalu merasa kaget jika ada yang memperlakukan dirinya begitu

Mendengar kekehan Jae Bum, Yurin langsung mepot mulutnya lalu memukul ringan lengan Jae Bum karena lagi-lagi berhasil membuat atmosfer disekitar Yurin terasa panas dan entah Yurin sadari atau tidak kini wajahnya tampak rona-rona merah yang membuat Jae Bum semakin gemas dengan gadisnya itu

 

Aku tak bisa meninggalkan mu Yurin

…………

Yurin kini berada di kelasnya sekarang, pandangannya tak henti-hentinya memerhatikan dosen yang kini sedang menjelaskan mata kuliahnya, Yurin juga tampak sesekali mengangguk-angguk namun saat dosennya itu mengeluarkan sebuah kamera dengan lensa yang lumayan besar membuat konsentrasi Yurin langsung buyar, kini pikirannya lagi-lagi di penuhi dengan kameranya

Yurin menenggelamkan kepalnya di balik 2 lengannya, desaan sekali-kali terdengar membuat beberapa orang menatapnya dengan bingung termasuk Min Ra yang kini mengerutkan dahinya bingung dengan sikap sahabatnya itu

Setelah kelas berakhir Min Ra menyeret Yurin yang seperti tak bernyawa menuju ke kantin kampus mereka, Min Ra tak tau sama sekali tentang sikap Yurin yang lagi-lagi berbeda dengan hari kemarin

“Kau kenapa lagi huh?” tanya Min Ra seraya menuntun Yurin duduk di sampingnya

Desahan Yurin lagi-lagi terdengar, Min Ra saat ini menghipotesis bahwa masalah ini bahkan mungkin lebih para daripada perselisihannya dengan ayah Yurin namun tetap saja membuat Min Ra tak mengerti perubahan disetiap mood Yurin

“Kau kenal Kai kan?” bukannya menjawab Yurin malah kembali bertanya dan lagi-lagi membuat Min Ra memekik saat mendengar nama Kai

“Siapa yang tak kenal dengannya” jawab Min Ra santai lalu meminum jus apple miliknya

“Kameraku ada padanya” lirih Yurin seraya menatap Min Ra dengan tatapan sayunya

“MWO?” pekik Min Ra seraya berdiri dengan suara yang agak nyaring membuat seluruh perhatian kantin kini terpusat pada mereka sekarang, dengan kesadaran yang masih setengah Min Ra mengedarkan tatapannya menuju penjuru kantin yang menatapnya aneh, lalu seraya menggaruk teguknya ia tersenyum kecut kemudian kembali duduk

“kebiasaan” ucap Yurin sinis ke arah Min Ra

“Sorry”

“Tapi bagaimana bisa kameramu ada di tangan Kai?” tanya Min Ra menerawang

“Dia sadar aku memotretnya saat pertandingan kemarin” jawab Yurin dengan suara yang berat, karena jika mengingat tentang kameranya selalu membuat Yurin selalu ingin menangis

Min Ra terbelalak hampir saja menyemprotkan jus apel itu ke wajah Yurin jika ia tidak segerah menelannya

“Jadi objek foto mu yang kemarin itu DIA?” pekik Min Ra saat matanya lagi-lagi terbelalak dengan sangat sempurnah membuat Yurin lagi-lagi mendesah namun melihat tatapan Min Ra saat ini sudah tak mengarah padanya namun sosok di belakangnya dengan gerakan yang malas Yurin mengikuti arah pandang Min Ra dan matanya juga terbelalak saat melihat kini Kai berjalan menuju arahnya menatapnya dengan tajam

Satu tarikan membuat Yurin berdiri dan terseret-seret oleh Kai, semua yang di kantin melihat hal itu membuat suasana hening semua pasang mata tertuju pada sosok Kai dan Yurin yang sudah mulai menjauh dari kantin

“YAK” teriak Yurin seraya meronta untuk di lepaskan karena tangannya sangat sakit sedari tadi sudah di genggam erat oleh Kai

Namun seakan tuli Kai bahkan tetap menarik Yurin tak mempedulikan lirikan-lirikan aneh dari para mahasiswa yang menatap mereka dengan berbagai macam pandangan belum lagi histerisan dan bisik-bisik para mahasiswa

Mungkin Kai tak menyadari semua hal itu tapi berbeda dengan korban saat ini Yurin hanya bisa menunduk seraya di seret karena meronta-pun tak ada gunanya karena ia paham dia berhadapan dengan sosok robot tak berperasaan seperti Kai tapi Hey! bukankah robot memang tak berperasaan? Dan Yurin hanya bisa pasrah membiarkan laki-laki ini menyeretnya entah kemana

Yurin tampak mendongkak saat dirinya merasakan tengah berada disuatu ruangan, ruangan private EXO? Yah ruangan enam laki-laki yang sangat misterius yang berada tepat di samping ruang studio tari , tak ada yang pernah masuk disitu menatapnya-pun tak ada yang berani karena para fangirlsnya EXO menghargai hal-hal pribadi pria-pria idaman kampus ini dan sekarang? Seorang Yurin berhasil masuk ke dalam ruangan yang sangat ingin sebagian orang masuki, seorang Yurin hendaknya di beri sebuah pernghargaan atas kejadian ini

Kai menghempaskan tubuh Yurin ke sofa ruangan itu, menatap tajam Yurin. Tatapan tajam itu Yurin bisa menerawangnya tatapan yang kosong tatapan yang seakan tak mempunyai tujuan jelas untuk melihat ke arah depan

“Kau kekasih Jae Bum? Lim Jae Bum?” tanya Kai langsung, sosok itu masih berdiri matanya menyipit tajam ke arah figura Yurin yang sedang duduk di hadapannya

“Iya” jawab Yurin langsung menunduk ia tak sanggup menatap mata Kai, entah mengapa di balik mata tajam Kai, Yurin dapat merasakan ada hal aneh yang membuatnya takut

“Putuskan dia bila kau ingin kameramu kembali” jelas Kai masih menatap Yurin dan refleks Yurin mendongkak menatap Kai dengan pandangan tak percaya, bagaimana mungkin laki-laki ini menyuruhnya hal seperti hal yang tak masuk akal

“Kau gila” balas Yurin

Kai menunduk agar wajahnya dapat serata dengan wajah Yurin agar Yurin juga tak selalu mendongkak

“Ya” balasnya masih dengan tatapan yang tajam menusuk, tubuh Yurin terasa menengang dan gemetar saat merasakan Kai mulai mendekatkan kembali wajahnya ke arah wajahnya, Yurin berusaha untuk menghindar namun apadaya lagi-lagi dia harus terpojokkan akibat sofa yang dia duduki

Yurin menunduk, ingin sekali rasanya ia menampar laki-laki di depannya kemudian pergi dari tempat ini namun tubuhnya seperti patung jika harus berhadapan dengan Kai, lidahnya bahkan kelu tak bisa membalas kata-kata Kai

Kai menarik teguk Yurin dan mata mereka saling bertemu pandangan, tatapan Kai masih dingin dan tajam sedangkan Yurin tatapannya sangat sayu, ia sudah tak sanggup dengan keadaan seperti ini yang membuat jantungnya lagi-lagi berdetak dengan sangat kencang apalagi indra penciumannya saat ini bisa merasakan aroma papermint dari Kai yang sangat maskulin

“Jae Bum atau Kameramu?” Kai mengutarakn suatu pilihan yang sangat susah untuk seorang Yurin. Yurin diam tidak tau harus bagaimana matanya tak bisa menatap mata Kai yang hanya beberapa senti dari matanya

“Jae Bum atau Kameramu?” tanya lagi Kai, “dua-duanya” jawab Yurin singkat

“Pilih satu” perintah Kai

“Dua-duanya” Yurin mulai tegas namun tetap saja nada bicaranya masih seperti orang ketakutan

Kai menggelengkan kepalanya lalu mendekatkan wajahnya lagi, hingga dahi dan hidung mereka bersentuhan, Jantung Yurin benar-benar berkeja keras saat ini ia menggerutuki dirinya harus berurusan dengan laki-laki dingin dan gila ini

“Pilih satu” ucap Kai, bahkan nafas Kai berhasil menerpa wajah Yurin. Wangi papermint Kai bahkan menjadi alat yang membuat Yurin bungkam

Tatapan mereka terkunci, Yurin merasakan dirinya bodoh karena dapat jatuh dalam tatapan Kai yang menatap manik mata Yurin dengan lebih dalam membuat keduanya tak bisa memalingkan wajah mereka satu sama lain

Tak ada jawab dari Yurin membuat Kai kesal dan gerakan selanjutnya Kai membawa dirinya mencium bibir Yurin merasakan sekali lagi bibir Yurin yang selalu hangat untuknya dan entah bagaimana cara menjelaskannya Kai selalu ingin lebih jika berada di dekat gadis itu walaupun sebenarnya otaknya melarangnya tapi ia juga tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi dan perlu dicatat rasa itu muncul jika ia bersama Yurin. Mata Yurin terbelalak ia meronta seraya memukul-mukul dada bidang Kai namun tetap saja laki-laki robot ini tetap saja menciumnya bahkan dia melumat bibir Yurin membawa ciuman mereka lebih dalam lagi menindih Yurin di sofa.

Entah mengapa Kai melakukan itu, ia hanya tau ia takkan bisa mengontrol dirinya jika berhadapan dengan Yurin padahal baru kemarin ia mengenalnya namun tetap saja Kai merasakan ada sesuatu yang aneh pada gadis ini ada sesuatu yang dapat menarik perhatian Kai dengan satu hentakan. Ia terus melumat bibir Yurin ia tak peduli penolakan dari Yurin yang ia butuhkan adalah saat seperti ini

Yurin masih berusaha merontah atas tindakan senonoh Kai, ia benar-benar ketakutan tubuhnya bergetar karena ciuman Kai semakin dalam bahkan memaksa Yurin untuk membuka mulutnya. Yurin masih tetap berusaha untuk tak terbuai pada sentuhan Kai walau sejujurnya sejak awal ia sudah terbuai namun ia masih berpikir dengan akal sehatnya. Kekasihnya Jae Bum bahkan belum sempat mencium Yurin sedalam ini tapi laki-laki gila ini sudah merebutnya. Bohong jika Yurin tak merasakan hal yang berbeda, ciuman Kai memang gila buatnya tapi disaat bersamaan ia juga merasakan sentuhan Kai sangat nyaman namun detik berikutnya Yurin membiarkan air matanya jatuh karena pasrah pada Kai

Kenyataan yang membuat Kai semakin menginginkan Yurin walaupun hanya tubuhnya ia akan tetap mengambilnya walaupun Yurin telah mempunyai seorang kekasih tetap saja jika Kai sudah mendeklarasikan bahwa Yurin adalah miliknya berarti akan menjadi miliknya

Air mata Yurin mengalir membuat Kai menghentikan aktifitasnya menatap Yurin yang tengah terisak dalam diam, Kai hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan

“Putuskan Jae Bum” timpal Kai

“KAU GILA” serga Yurin, ia menangis sejadi-jadinya tabuhnya gemetaran, penampilannya berantakan rambut yang terurai tadi dengan rapi kini berantakan

“Memang aku gila dan itu karenamu” jawab Kai santai lalu duduk di samping Yurin, dengan gerakan cepat perempuan itu menjauh namun tidak berhasil tangan besar milik Kai menghalinganya dan membuatnya tersentak dan terjatuh pada pangkuan Kai. Yurin menyerka bekas-bekas air matanya dengan kasar tubuhnya lagi-lagi gemetaran karena berada di pangkuan Kai

“Sudah kubilang kau adalah milikku dan itu berarti kau hanya untukku” jelas Kai menatap Yurin intens

Yurin tak berani membalas ucapan Kai, sebenarnya bukan tak berani tapi memang tak berniat, mau di balas-pun Kai akan bersikukuh, jujur saja Yurin masih tak mengerti dengan ucapan ‘kau milikku’ dari Kai, ia beranggapan Kai hanya memanfaatkannya dengan motif yang belum Yurin tau apa tujuannya

“A..ku tak bisa melepaskan Jae Bum apalagi kameraku, 2 hal itu adalah hal yang berarti untukku Kai-ssi” Yurin seanggukan mencoba menahan tangisnya dengan tangan yang menyentuh bibinya, ia masih tak percaya ciuman pertanya di rebut oleh pria dingin dan menakutkan yang ada di depannya saat ini

“Baiklah jika itu mau mu, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya” Kai berkata dengan santai lalu berjalan menjauhi Yurin yang tegang, menuju sebuah jendela menatap kosong luar jendela itu

“A..pa a..ku bisa keluar sekarang?” tanya Yurin dengan nada yang masih ketakutan tanpa menjawab Kai hanya terus menatap ke arah jendela itu, tanpa banyak basa-basi ataupun mendengarkan jawaban Kai, Yurin berlari keluar dari ruangan itu dengan tangisan yang sudah tak terbendung lagi menutup pintu dengan kasar

 

“Pada akhirnya kau akan menjadi milikku seutuhnya” Ucap Kai masih pandangan kosong ke arah luar jendela

 

TBC

 

A/n : Halo,aku bawa FF ini keep care yah 🙂 after read don’t forget to comment ok ! go away silent reader 😛

Sorry if you find typo yah!

 

Advertisements

106 responses to “Loveliness (Chapter 2) – Jae Bum or Camera?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s