Unpredictable Marriage {Chapter 1} – Marshashinee

ds

| Title Unpredictable Marriage |

| Main Cast Oh Sehoon – Park Minyoung |

| Addictional Cast Park Chanyeol, Park Chorong, Byun Baekhyun |

| Genre Marriage Life, a little bit comedy, University Life |

| Rating Teenager |

WARNING! TYPO(s) BERTEBARAN

Poster by myself

Marshashine Present

Unpredictable Marriage

[ Chapter 1 ]

Previous :

[Teaser and Talk]

.

.

.

Hari Senin. Hari dimana para manusia kembali kepada kesibukannya. Yakni bekerja, sekolah, berdagang, dan lainnya.

Terlihat jalanan Seoul ramai dengan banyak kendaraan roda empat yang melaju dijalan raya. Sementara para manusia berjalan di trotoar dan disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Seperti menelfon, mengutak-atik ponsel, dan ada pula yang sibuk dengan lembar-lembar kerjanya. Entahlah.

“Kau bisa cepat tidak, Huh?”hardik seorang gadis yang sedaritadi mengomel kepada seorang pria yang duduk dikursi kemudi.

“Kau bisa diam tidak?”hardik balik si pria. Gadis itu mendengus kesal. “Dasar Dobi sialan. Dosen Jung pasti akan memarahiku kalau aku telat sedikit.”ocehnya. Pria itu tak menghiraukan ocehan sang gadis.

“Itu urusanmu, siluman harimau.”Pria itu berujar seperti meledek sang gadis. Kembali, sang gadis itu mendengus kesal.

“Kau tahu? Kau adalah Lelaki menyebalkan yang pernah kukenal. Dasar Dobi sialan.”ujar sang gadis. Lelaki yang dibully sang gadis hanya terkekeh kecil.

“Sayangnya, lelaki yang kau bilang menyebalkan dan Dobi sialan itu adalah kakakmu, Bodoh!”balas sang lelaki. “Dan kau, siluman harimau Park Minyoung.”

Gadis yang diketahui bernama Minyoung itu membulatkan matanya. “Dasar kau Park Dobi sialan!”tangan Minyoung beralih kepada rambut lelaki itu dan menjambaknya kuat. Lelaki itu meringis hebat.

“Hei sakit bodoh! Kau mau mati, Huh?! Dan namaku bukan Park Dobi! Namaku Park Chanyeol si Tampan.”kilah lelaki itu, Park Chanyeol.

“Persetan dengan itu! Rasakan ini!”

Minyoung tak mengindahkan perkataan Chanyeol. Justru ia jambakkannya semakin kuat dan membuat Chanyeol harus mengemudi sembari meringis kesakitan.

“Hentikan siluman harimau menyebalkan! KAU MAU MATI?!”

Minyoung berlari tergopoh dikoridor yang sepi dan mungkin hanya menyisakan beberapa orang saja. Minyoung khawatir. Dosen yang terkenal killer itu sedang berada dijam pelajarannya saat ini. Sedangkan Minyoung terlambat dan tidak masuk kelas.

Sebenarnya bisa saja Minyoung tidak ikut kelas. Tetapi jika mengingat Minyoung harus bergadang demi mengerjakan tugas makalah yang diberikan oleh Dosen Jung membuatnya harus mengurungkan niatnya untuk tidak mengikuti kelas. Semua perjuangannya akan sia-sia begitu saja.

Minyoung memberhentikan kakinya untuk tidak berlari lagi. Saat ini, ia sdah berada didepan kelasnya. Sedikit gugup untuk membuka pintu itu karena takut harus berhadapan dengan Dosen sialan itu, menurut Minyoung.

“Uhm.. permisi.”

Minyoung membungkuk sedikit karena diharuskan memberi hormat pada dosen didepannya yang tengah berhenti mengulaskan materinya karena kehadiran Minyoung. Sedikit takut karena dosen didepannya ini menatap sengit Minyoung. Dan hal itu membuat Minyoung menunduk menyesal.

“Ma-Maafkan saya, Dosen Jung. Tadi ada kemacetan dijalan.”

Dosen Jung hanya diam dengan tatapan sengit yang tidak memudar dari matanya. Sementara Minyoung setengah mati menahan ketakutan-nya karena ia berhadapan dengan Dosen mematikan ini.

“Baiklah, saya maafkan. Duduklah.”ucap sang Dosen. Minyoung mendongak. Apa? Dimaafkan? Sungguh Momen ajaib. Minyoung berfikir kalau hari ini hari terindahnya karena dimaafkan oleh si Dosen mematikan itu.

“Ba-baik.”Minyoung kembali membungkuk hormat lalu melangkahkan kakinya kearah kursi kosong disebelah gadis yang ia sangat kenal.

“Mengapa kau terlambat?’tanya gadis itu pelan saat Minyoung sudah duduk disebelahnya.

“Si Dobi sialan itu penyebabnya. Mengemudikan mobil saja tidak becus. Cih.”jawab Minyoung sambil mendecih.

“Cih, pasti kaulah penyebabnya. Iyakan? pasti saat itu kau menjambak Chanyeol sampai dia meringis kesakitan.”balas gadis itu. Sepertinya ia tahu betul kelakuan Minyoung.

“Terserah kau saja, Park Chorong si ceret.”hardik Minyoung pada gadis yang bernama Park Chorong itu.

“Yayaya, Siluman harimau kwalitas rendahan.”balas Chorong remeh.

“Tutup mulutmu bodoh!”

Mungkin perkiraan Minyoung tentang hari terindah itu salah. Pasalnya, hari ini Minyoung harus menerima hukuman karena lupa membawa tugas dari dosen menyebalkan itu, Dosen Jung. Cih, kalau seperti ini jadinya, lebih baik ia membolos.

Hukumannya? Hukumannya adalah, Minyoung harus merelakan tangannya karena harus membawa makalah-makalah yang diberikan Dosen Jung untuk dikembalikan disetiap kelas. Mungkin jikalau makalah itu tipis tidak masalah. Tetapi makalah ini tebal! Hei! bisa-bisa otot tangan Minyoung putus.

Karena tak mampu mengucapkan sumpah-serapahnya didepan Dosen Jung, ia harus mengucapkannya didalam hati dengan perasaan yang amat dongkol.

BRUK

Sibuk dengan sumpah-serapahnya, tak ia sangka ia bertabrakan dengan seseorang. Makalah itu.. berhamburan. Oh Shit! bagaimana ini?

“Dasar bodoh! Kalau jalan lihat-lihat!”gertak seseorang yang ia tabrak.

“Kau yang bodoh! Seharusnya kau melihat ada seorang gadis yang membawa makalah sebanyak ini! apa matamu itu sudah buta? Huh?!”balas Minyoung tak kalah geram. Sungguh, ini hari tersialnya.

“Bagaimana aku membereskan semua ini…?”gumamnya pelan. Minyoung mengacak rambutnya frustasi sebelum ia mengambil makalahnya satu persatu. “Hei kau kulkas berjalan! cepat bantu aku! kau kan yang menabrakku!”titah Minyoung.

“Cih, dasar siluman harimau gila.”sahut si lelaki itu. “Kau saja yang jalan tanpa melihat. Sekarang, rasakan penderitaan itu dengan membereskan semua ini. Ckck, dengan tingkah lakumu ini, pasti tidak ada pria yang mau menikah denganmu, Park Minyoung.”

Minyoung semakin geram. “Ck, dengan kepribadianmu yang dingin seperi kulkas berjalan, kuharap juga tak ada yang ingin menikah denganmu, Oh Sehun!”balas Minyoung tak kalah sengit. Lelaki itu, Sehun hanya terkekeh kecil.

“Benarkah? Kita lihat saja nanti!”Sehun menyeringai. Lalu dia pergi meninggalkan Minyoung dengan gaya sok coolnya itu, menurut Minyoung.

“Aku sumpahi kau Oh Sehun. Tidak ada wanita yang mau denganmu.”umpat Minyoung.

Who’s Know? How is your destiny?

 —

Seorang wanita paruh baya sedang berkutat dengan barang yang diyakininya rusak.

“Astaga, Microwave ini rusak.”keluh si wanita paruh baya itu. “Bagaimana ini?”

Wanita paruh baya itu terus melipat kedua tangannya didepan dada. Sesekali mendecak kecil karena matanya tertuju pada 3 barang yang diyakininya rusak.

Microwave, Mixer, Oven. Huh, menyusahkan. Bagaimana aku harus membuat kue untuk merayakan ulangtahun suamiku sendiri?”

Wanita itu mengeluarkan ponselnya dari saku dressnya. Tangannya dengan lincah menari-nari diatas layar ponsel. Setelah itu, dia menempelkan ponselnya ditelinga kanannya.

Yeoboseyo..“sapa Wanita itu saat telfonnya tersambung da diangkat oleh seseorang diluar sana. “Yeobo.. Bisakah nanti siang kau menemaniku untuk membeli peralatan dapur? Ah, sekaligus jalan0jalan bersama Minyoung dan juga Chanyeol.”pinta wanita itu.

“Baiklah, kebetulan hari ini aku tidak sibuk. Jam berapa, sayang?”

“Jam 4 sore ini. Bisakan?”

“Tentu. Aku akan pulang sekarang. Sampai jumpa dirumah, sayang.”

Lelaki itu, suaminya memtuskan sambungannya sepihak. Itu tidak jadi masalah buat istrinya. Karena itu sudah menjadi kebiasaan suaminya. Istrinya mengetahui hal itu.

Wanita itu melangkahkan kakinya keruang tamu dekat tangga.

“Minyoung, Chanyeol bersiap-siaplah. Hari ini kita akan pergi!”teriak wanita itu. Hal itu sukses membuat anaknya, Minyoung dan Chanyeol keluar dari kamarnya dan turu menemui ibunya, Ny. Park.

“Ada apa, Bu? Memangnya kita ada acara?”tanya Chanyeol kepada ibunya. Ibunya hanya menggeleng pelan.

“Tidak, Yeol. Hari ini kita hanya akan berjalan-jaln dengan ayahmu. Sudah lama kan kita tidak berjalan-jalan?”jawab Ny. Park.

“Apakah kita akan ke pantai?”tanya Minyoung antusias. Mendengar pertanyaan adiknya itu, Chanyeol juga ikut antusias menunggu jawaban Ibunya, berharap ibunya itu mengangguk dan mengatakan ‘iya’.

“Tidak.”jawab sang Ibu. Keduanya melemas setelah mendengar jawaban yang tidak diharapkan mereka. “Kita hanya akan berjalan-jalan di mall. Sekalian membeli peralatan untuk membuat kue.”tambah Ibunya.

“Ah, menyebalkan.”Minyoung mengerucutkan bibirnya. Tapi itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba senyumnya mengembang. “Ah, Aku juga ingin membeli komik edisi baru.”

“Setelah kau membelinya, aku akan merobeknya.”sahut Chanyeol. Minyoung mendelik sebal, “Benarkah? Kalau begitu, aku akan merobek semua poster-poster idolamu itu, Sandara Park.”tantang Minyoung.

“Coba saja kalau bisa!”Chanyeol langsung berlari kekamarnya dan menjulurkan lidahnya. “Aku akan merobek semua komikmu!”

“Dasar Dobi sialan! Kemari kau!”Minyoung mengejar Chanyeol dengan semua sumpah-serapah yang mencelos begitu saja dari mulutnya.

Nyonya Park hanya menggeleng melihat tingkah laku kedua anaknya itu.

“Mereka tidak berubah.”

Saat ini, Keluarga Park sedang dalam perjalanan ke Mall yang mereka tuju. Mereka hanya disibukkan oleh kegiatan masing-masing.

Tn. Park mengemudikan mobil, Ny. Park membaca majalah, Chanyeol yang mengutak-atik ponselnya, dan Minyoung yang sedang membaca komik Crayon Shincan miliknya. Sesekali Minyoung terkikik geli melihat gambar serrta balo kata yang tersusun rapi disetiap lembar komiknya.

“Berhenti tertawa!”sahut Chanyeol yang jengah karena Minyoung terus-terusan terkikik. Mendengar itu, Minyoung mengalihkan pandangannya dari komik dan menatap Chanyeol datar.

“Diam kau, Dobi.”

Minyoung kembali fokus pada komiknya. Sesaat kemudian, ia tertawa lagi. Oh baiklah, Chanyeol jengah. Chanyeol merebut paksa komik Minyoung lalu melemparnya kebawah. Hal itu berhasil membuat Minyoung geram.

Minyoung juga merebut paksa ponsel Chanyeol lalu melemparnya kebawah kakinya. Lalu Minyoung tersenyum mengejek kepada Chanyeol. “Kau puas?”

Chanyeol mendengus sebal sebelum Chanyeol merangkul paksa pundak Minyoung lalu menjatuhkan jitakannya kepada kepala Minyoung. “Rasakan ini, siluman harimau!”Chanyeol terus menjitak kepala Minyoung, sesekali dia memutar kepalan tangannya dipuncak kepala Minyoung.

Minyoung melepas rangkulan Chanyeol lalu menjambak rambut Chanyeol dengan kekuatan maksimal. “Rasakan ini, Dobi jelek!”. Chanyeol hanya bisa berusaha melepasnya dengan diiringi ringisan dari mulutnya.

“Hentikan Bodoh!”perintahnya. Minyoung tak memperdulikan ucapan Chanyeol dan terus menjambak rambut Chanyeol.

“Masa bodoh!”

Tn. dan Ny. Park hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa menghentikan perdebatan sengit kedua anaknya itu. Karena percuma. Sekeras apapun mereka, Minyoung dan Chanyeol pasti hanya akan menganggap teguran itu hanyalah sebatas angin lalu.

Tn. dan Ny. Park berjalan beriringan dengan posisi lengan Ny.Park mengalung di lengan Tn. Park. Mereka terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu. Sepertinya bisnis.

Sementara Chanyeol dan Minyoung berjalan beriringan dengan jarak yang berjauhan. Mereka masih dongkol dengan peristiwa dimobil tadi. Mereka hanya melempar tatapan sengit satu sama lain. Terkadang mereka memalingkan wajah. Tetapi mereka akan kembali melempar tatapan sengit lagi.

Sampai akhirnya, Ny. dan Tn. Park memasuki sebuah toko besar yang diyakini sebagai toko peralatan elektronik dan peralatan rumah. Ny dan Tn. Park memutuskan untuk masuk kedalam sementara Chanyeol dan Minyoung pisah tempat. Minyoung ke toko komik, dan Chanyeol ke toko Musik.

Ny. Park dan Tn. Park melangkahkan kakinya keseluruh penjuru tempat di toko itu. Ny. Park menemukan sebuah lorong yang memang tersediakan berbagai alat dapur. Seperti Oven, Kompor, Mixer, Blender, dan peralatan lainnya.

Tetapi Ny. Park terlihat kebingungan karena mencari Alat yang memiliki merk incarannya. Sampai Tn. Park bingung melihat tingkah istrinya itu.

“Ada apa, Sayang?”tanya Tn. Park. Nyonya Park menoleh kearah suaminya.

“Aku mencari merk yang biasa aku beli. Dimana ya? Kok tidak ada?”jawabnya dan kembali melihat-lhat deretan alat dapur yang tersedia disana.

“Ada yang bisa saya bantu?”sahut seseorang menawarkan diri untuk membantu Ny. serta Tn. Park. Nyonya dan Tuan Park menoleh ke sumber suara. Mereka meninjau pakaian yang dikenakan oleh lelaki itu. Dari pakaiannya saja, sudah bisa diteba bahwa dia bukan seorang pegawai. Tetapi, Tn dan Ny Park seperti mengenal orang itu.

“Kau.. Apakah kau. Oh Minjoon? Joonie?”tanya Tn. Park tampak ragu. Lelaki itu mengernyit lalu menyipitkan matanya yang memang sudah sipit.

“Kau..? DooDoo?”bukannya menjawab, orang itu melah balik bertanya. Seketika Tn. Park tersenyum sumringah melihat lelaki yang didepannya ini.

“Joonie? jadi benar kau Joonie?”tanya Tn. Park lagi. Lelaki itu tersenyum riang. “Ya, aku adalah Oh Minjoon. Jadi kau.. DooDoo-ku? Park Doshin?”tanya Lelaki itu.

Sedetik kemudian, Dua lelaki itu berpelukan seperti layaknya sahabat yang sudah tidak lama berjumpa.

“Aigoo, kau semakin tua, DooDoo.”ujar Lelaki itu riang saat melepas pelukannya. Lalu lelaki itu menoleh kepada Tn. Park, “Kau.. Heeyun kan?”tanya Tn. Oh memastikan.

“Aaah, kau Minjoon kan? Anak kelas 3-4 yang sering berkumpul di belakang sekolah bersama teman se-gengmu itu? Ah, aku lupa.. termasuk orang ini.”jawab Ny. Park lalu menatap Tn. Park.

Tn. Park hanya menyengir konyol lalu merangkul Tn. Oh, “Kau masih saja seperti ini. Tinggimu masih diatasku, Joonie.”

“Eish, tidak usah seperti itu. Memang sudah takdir kok.”kilah Tn. Oh. “Apa kau hanya berdua dengan Istrimu?”tanya Tn. Oh kemudian.

Tn. Park menggeleng. “Dengan anak lelaki dan anak peempuanku tentunya. Oh iya, Dimana Seojin?”

“Seojin dirumah bersama anakku. Mengapa? Oh iya, kapan kita akan mengadakan reuni lagi?”tanya Tn.Oh

Tn. Park nampak berfikir. “Kapan-kapan. Ah.. apa perjanjian kita masih berlaku, Minjoon?”

Tn. Oh tersenyum lantas mengangguk. “Tentu saja..”

Saat ini, Tn. Oh, Tn. Park serta istrinya telah duduk disalah satu restoran. Sebelumnya, Ny. Park sudah membeli peralatan masaknya itu. Setelah memesan makanan, Tn. Oh menatap Tn. Park serius.

“Dimana anak perempuanmu?”tanya Tn. Oh akhirnya.

“Dia sedang membeli komik. Dia memang agak lama dalam memilih-milih komik yang akan dibelinya. Dan kalau Chanyeol, dia segera sedang menuju kesini.”jawab Tn. Park.

Tn. Oh mengernyit, “Chanyeol?”Tn. Park megangguk. “Iya, Chanyeol. Kenapa?”

Belum sempat Tn. Oh menjawab, suara bariton terdengar di telinga mereka. “Ayah, maaf aku telat. Tad-“Chanyeol terdiam saat melihat orang yang ia kenal sedang duduk didepan kursi Ayahnya.

“Paman Minjoon?”tanya Chanyeol memastikan. Tn. Oh tersenyum. “Chanyeol.. ternyata kau anak dari Doshin?”

Chanyeol mengangguk, “Iya, Paman. Apa paman teman Ayahku?”

Tn. Oh mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol. Chanyeol yang mengerti hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu Chanyeol mendudukan badannya dikursi sebelah Ibunya.

“Ah, aku sudah datang. Duduklah.”sambut Tn Park kepada anaknya satu lagi, Park Minyoung. Minyoung hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun lalu duduk disebelah Tn. Oh. Minyoung tersenyum dan sedikit membungkuk setelah mendapati Tn. Oh disampingnya.

“Ini anakmu, Doshin?”tanya Tn Oh. Tn Park hanya mengangguk.

“A-Annyeonghaseyo. Namaku Park Minyoung. Senang bertemu dengan anda.”Minyoung tersenyum kepada Tn Oh.

Tn. Oh membalas senyuman Minyoung. “Sama-sama, Minyoung-ah.”

 Pagi sudah datang. Matahari mulai menampakkan sinarnya diperaduan, menggantikan tugas sang rembulan.

Terlihat seorang gadis yang masih meringkuk ditempat tidurnya. Sesekali menggeliat kecil dan kembal melanjutkan tidurnya.

KRIIING

Suara alarm yang bergetar diatas nakas samping ranjangnya begitu memekikkan telinga sang gadis. Hingga gadis itu terlonjak bangun dari tidurnya.

Rambut yang berantakan, mata yang sembab, serta aliran sungai kering di sudut bibirnya membuat gadis itu terlihat seperti gembelan dipasar tradisonal.

“Mengganggu saja!”gerutu si gadis it, Minyoung. Minyoung mengambil jam wekernya dari atas nakas. Matanya membulat hingga mungkin hampir keluar setelah melihat angka yang tertera di jam wekernya itu.

“Astaga..”Minyoung menyibakkan selimutnya dan berlari tergopoh menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamarnya.

.

.

Minyoung turun dari tangga dengan tergesa dan terlihat kerepotan karena membawa setumpuk buku di kedua tangannya.

“Pagi Ibu.. Ayah..”sapanya saat ia sudah berada diruang makan. Ibunya menatap aneh putri bungsunya itu.

“Mengapa kau terlihat terburu-buru?”tanya Ny. Park heran. Minyoung menoleh kepada ibunya.

“Ibu, Ayah, Dobi, aku berangkat dulu! Annyeong..”bukan menjawab pertanyaan ibunya, Minyoung malah langsung melesat pergi.

“Katamu Minyoung ada kuliah jam 9, kan? mengapa jam 6 sudah berangkat?”tanya Ny. Park pada Chanyeol. Sementara yang ditanya tertawa sendiri layaknya orang gila.

“Aku merubah jamnya, Ibu.”jawab Chanyeol diselingi kekehan kecil dari mulutnya. Ny. Park hanya menggeleng pelan mendengar ke-usilan anaknya itu kepada adiknya.

“Ayah.. Ibu.. Bolehkah aku bertanya?”Chanyeol menatap serius orang tuanya. “Apa aku boleh tahu? Mengapa kemarin ayah dan Paman Minjoon seperti membicarakan tentang.. Perjodohan?”

Tn. dan Ny. Park hanya tersenyum penuh arti setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol. Sementara Chanyeol kebingungan melihat ayah dan ibunya itu.

“Ayah?”panggil Chanyeol lagi. Tn. Park menaruh rotinya diatas piring kemudian menautkan ke-sepuluh jarinya. sembari tersenyum penuh arti.

“Kau akan tahu nanti, Chanyeol-ah.”jawab Ayahnya itu.

Minyoung keheranan menatap sekeliling kampusnya. Biasanya, saat Minyoung datang (kalau tidak terlambat) pasti selalu ramai. Tetapi kini? Sepi.

Minyoung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kampus. Matanya membelalak kaget saat melihat jam dinding yang besar terpsang didinding koridor kampusnya.

“Sialan!”umpatnya. Oh, Minyoung tahu. Dia dikerjai ole kakaknya itu. “Pasti dia sedang tertawa sekarang.”lanjutnya lagi. Minyoung mendengus kesal sebelum melangkahkan kakinya untuk meninggalkan koridor. Minyoung mengucapkan sumpah-serapahnya terhadap Chanyeol. Bisa-bisanya Chanyeol mengerjainya–Lagi. Terus terang, Minyoung sangat kesal jika diperlakukan seperti ini.

Minyoung membuka pintu kelasnya dengan kasar dan keras. Hingga menimbulkan dentuman antara pintu dan dinding yang bertabrakan. Dan mengenai hal itu Minyoung tidak perduli.

Minyoung meletakkan buku-bukunya dengan keras dimeja kursinya-mungkin bawaan suasana hatinya yang sedang dongkol. Gila! Sejak kapan Minyoung datang sepagi ini? (Walapun dia jarang terlambat). Pasti Chorong akan meledekinya habis-habisan. Membayangkannya saja sudah membuatnya kesal.

“Eoh? Siluman? Ada keajaiban apa kau datang sepagi ini?”

HEOL! Baru saja Minyoung membayangkan bahwa Chorong akan meledekinya, sekarang dia sudah datang. Shit.

“Aku dikerjai.”jawab Minyoung sekenanya dengan intonasi yang malas. Chorong terkekeh geli saat melihat raut wajah Minyoung yang kesal.

“Pati kerjaan si Dobi itu, kan?”tebak Chorong. “Aaah.. Seharusnya tak usah kutanyakan. Karena memang jelas bahwa Dobi itulah pelakunya. Kalau memang bukan, keajaiban apa yang mendatangi seorang Minyoung si Siluman Harimau?”

Minyoung yang dongkol makin dongkol dengan ledekan yang dilontarkan dari mulut Chorong.

“Diam kau, Park Ceret!”gertak Minyoung dengan tatapan sengit. Tetapi Chorong tidak gentar akan tatapan sengit yang diberikan Minyoung. Ia justru tertawa.

“Yayaya, terserah. dasar siluman harimau!”

“Tutup mulutmu, bodoh!”

“Kalian tahu? Tadi pagi aku sangat puas sehabis mengerjai si Siluman itu. Dia terlihat sangat konyol saat pagi tadi. Hahaha..”oceh Chanyeol mengenai Minyoung tadi pagi.

“Memangnya seperti apa?”tanya Baekhyun dan memakan sandwich-nya. Ya, saat ini mereka sedang dikantin.

“Penampilannya sangat berantakan. Yah, walaupun memang sebenarnya sudah berantakan dari dulu. Tetapi tetap saja, membuatku tertawa melihatnya.”

“Kau sangat konyol, Park Chanyeol.”komentar Sehun. “Yah, kuakui. Walaupun idemu itu konyol, tetapi bagus juga untuknya.”Sehun kembali memasukkan lilitan spaghetti bolognaise-nya kedalam mulutnya.

“Tentu saja! Aku sangat pintar, kan?”Chanyeol membanggakan dirinya. Sehun dan Baekhyun hanya terkekeh kecil melihat kelakuan sahabat mereka itu yang terbilang konyol.

Minyoung melangkahkan kakinya malas kedalam rumah.

“Aku pulang..”seru Minyoung pelan. Ibunya yang baru keluar dari ruang dapur menatap kehadiran putrinya yang baru pulang itu dengn kening mengkerut.

“Kau kenapa, Minyoung-ah?”tanya Ibunya itu sedikit khawatir. Minyoung menolehkan kepalanya kearah ibunya dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Ibu.”jawabnya kemudian.

“Yasudah, kau istirahat saja. Dan nanti malam kau harus bersiap-siap. Kia akan pergi menemui kerabat ayahmu.”ujar Ibunya lembut. Kening Minyoung mengkerut bingung. “Untuk apa?”

“Tak usah bertanya. Kau hanya perlu istirahat dan malamnya bersiap-siap. Oh iya, kau haus berdandan cantik, ya! Jangan berantakan seperti ini. Mengerti?”

Dengan malas Minyoung mengangguk. Ibunya tersenyum. Minyoung berjalan meninggalkan ibunya dan menaiki tangga. Sebenarnya, Minyoung sedikit heran. Berandan? Rapi? Cantik? Kata-kata itu adalah hal yang paling dihindari Minyoung. Sebenarnya kata ‘rapi’ hanya diperbolehkan untuk penataan komiknya. Itu saja.

.

.

.

“Apa?! Dijodohkan?!”pekik Sehun. Dia terkaget saat ayahnya mengatakan kalau dirinya akan dijodohkan oleh teman ayahnya itu. “Apa ayah gila?! Ayah, aku ini belum tamat kuliah dan belum menjadi sarjana. Belum lagi aku harus bekerja.”protesnya.

“Tidak ada penolakan, Oh Sehun.”tegas Ayahnya. “Malam ini, kita akan bertemu dengan calon istrimu. Dan ayah harap, kau bersikap baik padanya. Atau semua fasilitasmu ayah cabut.”

What?! Hello! Saat ini adalah zaman modern. Bukan zaman kerajaan yang seenaknya menjodohkan anaknya dengan anak temannya. Ini gila! Sehun hanya ingin menikah dengan wanita yang ia cintai. Bukan karena perjodohan!

“Ayah Aku-“

“Tidak ada penolakan, Oh Sehun. Turuti perintah ayah, atau semua fasilitasmu ayah cabut!”potong ayahnya cepat. Sehun mendengus kesal akan hal ini. Ini sungguh gila, pikirnya.

Minyoung memutar tubuhnya didepan cermin dan memperlihatkan pantulan dirinya. Sedikit terpukau oleh penampilan dirinya dicermin. Sangat jarang dirinya berpenampilan seperti ini sebelumnya. Karena biasanya, Minyoung hanya mengenakan celana levis panjang dengan kaos biasa yang melekat ditubuhnya.

“Sebenarnya ada apa semua ini? Mengapa aku harus berpakaian seperti ini?”gumamnya.

“Astaga, Minyoung. Kau sangat cantik, sayang.”puji Ibunya saat melihat Minyoung. Ibunya memutar-mutarkan tubuh Minyoung kedepan, kebelakang untuk melihat lebih jelas penampilan putrinya. “Kau hebat, Park Minyoung.”

“Ibu, kau kan sangat tahu aku tidak suka memakai dress seperti ini. Memakai celana jins dan kaos itu sudah cukup untukku.”ujar Minyoung. Ibunya menyipitkan matanya, “Sudah, tidak usah banyak bertanya. Ayo kebawah dan temui ayamu serta kakakmu.”Ibunya menarik lengan Minyoung dan menuntunnya untuk menuruni tangga. Sedikit kesusahan karena Minyoung tidak biasa memakai higheels. Dia lebih senang memakai sneakers.

Seperti ibunya, Ayah serta kakaknya juga terpukau melihat Minyoung. Ini pemandangan baru untuk mereka.

“Kau.. Lumayan”puji Chanyeol sembari mengusap daguya memakai telunjuk tangan kanannya. Sungguh, mungkin pemandangan ini langka untuknya. Mengingat adiknya yang penampilan serta kelakuannya yang seperti laki-laki. Yang membuat berbeda hanyalah rambut Minyoung yang panjang serta wajahnya yang membuktikan jikalau Minyoung itu perempuan. Hanya itu.

“Terserah.”sahut Minyoung jengah. “Well, kau juga lumayan.”puji Minyoung balik. Yah, pemandangan ini juga langka untuk Minyoung. Mengingat kakaknya yang hanya sering memakai jeans hitam panjang serta hoodie-nya itu. Sekarang, kakaknya memakai celana bahan dan tuxedo ang membalut tubuh tinggi kekarnya itu.

“Baiklah. Semuanya sudah siap, kan? Ayo kita jalan.”sahut ayahnya. Tetapi sebelumnya ayahnya itu berbalik dan menghadap Minyoung. “Ah, Minyoung. Jika ayah mengatakan sesuatu padamu, jawab saja ‘iya’. Atau ayah akan membakar semua koleksi komikmu itu. Mengerti?”

Minyoung hanya mengangguk. “Baik, ayah.” Yah, daripada Minyoung harus merelakan Koleksi komiknya itu dibakar ayahnya?

Minyoung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru restoran yang diyakininya sebagai restoran mahal. Dekorasinya yang berbau spanyol dipadui warna cat kuning keemasan campur putih yang membuat restoran ini tampak mewah. Belum lagi bangunannya yang memang luas serta pelanggannya yang berpakainya sedikit glamour. Hal itu yang meyakinkan Minyoung kalau restoran ini adalah restoran mahal.

Ibunya menuntun Minyoung untuk berjalan kearah dimana meja panjang yang mewah dan diduduki oleh keluarga kecil dikursinya.

“Joonie!”panggil ayanya itu. Orangyang dipanggil ‘Joonie’ itu menoleh kearah ayahnya.

“Doodoo!”serunya saat melihat ayah Minyoung. Terlihat seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki tinggi dan tampan dengan rahang yan keras berdiri serta membungkuk kearah keluarga Minyoung. Kening Minyoung mengkerut. Sepertinya ia mengenal lelaki itu dan orang yang dipanggil ‘Joonie’ oleh ayahnya. Minyoung menoleh kepada Chanyeol dengan raut bertanya.

“Hei Dobi!”panggil Minyoun pelan. Chanyeol menunduk kearah Minyoung. “Ada apa?”jawab Chanyeol datar.

“Bukankah itu.. Oh Sehun?”tunjuk Minyoung kearah lelaki yang ia rasa dikenalnya. Chanyeol mengangguk mengiyakan. “Iya, itu Sehun. Memangnya kenapa?”

“Sedang apa dia kesini?tanya Minyoung konyol.

“Tentu saja dia anak teman ayah kita, Siluman!”Chanyeol menjitak kepala Minyoung. Minyoung hanya meringis kecil.

“Sakit bodoh!”

Minyoung dan Chanyeol duduk dikursi yang berdampingan. Minyoung hanya menatap Sehun dengan pandangan bertanya.

Sebenarnya ada apa? Hei!

“Jadi, Joonie. Apakah anakmu siap dijodohkan oleh Anakku, Minyoung?”tanya Ayahnya kepada ayah Sehun.

DEG!

Apa?! PERJODOHAN?!

Minyoung menatap ayahnya spontan. Ia kaget. Perjodohan? Apa maksudnya?

“Hem!”Ayah Sehun mengangguk antusias. “Anakku Sehun menyetujuinya. Kalau anakmu?”

Ayah Minyoung menatap Minyoung seketika dengan senyuman penuh arti dan tatapan memaksa -ingat-apa-yang-ayah-bilang? Yah, seperti itu kira-kira. Minyoung yang gugup hanya menatap Ayah, Ibu, Chanyeol, serta Sehun bergantian dengan mulut yang tergagap.

“A-Aku..”ucapnya terputus. “Ak-Aku.. Tidak..”

| To BContinued |

Hai~ Kembali lagi dengan sayaaa HAHAHAHA *evil laugh*

Sebelumnya saya terimakasih banget buat yang udah komen di teaser and talknyaa. Sumpah demi apapun aku terharu banget pas liat komennya lebih dari 100 (/\)

Dan Untuk tokoh perempuannya, itu sekalilagi bukan TAEYEON! tapi Kang Seulgi SM Rookies. Soalnya ada yang bilang kalau dia mirip Taeyeon. Aku juga emang agak gimanaa gitu._. tapi entah kenapa aku gakmau aja kalau aku make cast Taeyeon 😀

Dan untuk Chapter-chapter depan aku pengennya post tiap minggu 1 chapter, Dan itu paslagi weekend. Jadi buat yang jomblo (Termasuk aku) kalau kesepian baca ini ajaa 😀 Sebagai buat temen gituu ._.

Kalau ada adegan yang rated-nya Mature, akan aku protect. Dan yang mau minta paswordnya lewat twitter aja yaa.

@Malmiira_

atau email juga boleh

mfiraidie@yahoo.co.id

Sekian yaa,

Marshashine

Advertisements

700 responses to “Unpredictable Marriage {Chapter 1} – Marshashinee

  1. Ya ampun chanyeol sama minyoung berantemnya kayak anak kecil wkwkwk
    Sehun sama Minyoung dijodohin ya ampun><

  2. penasaran sama jawaban minyoung itu julukan minyoung siluman harimau lucu banget dan nyeremin juga….next

  3. Liat hub kk adek kayak chnyeol sm minyoung sukaaa bgt
    Saling menjahili tp sayang

    Dan sehun sm minyoung gak bs berkutik karna diancam ayah mereka masing”
    Mereka udah saling kenal dan gak cocok tp mau dinikahin pulak
    Pasti seru
    Jd penasaran 🙂

  4. Kayaknya dulu aku udah baca deh chpater 1 nya.. cuman yg chapter selanjutnya belum hehehe lucu yaa chanyeol sama minyoung.. wkwkwkwk

    Duuh ancemannya komiknya mau dibakar semua kalau nolak.. pasti bakalan nerima tuh minyoung wkwkwkwk xD
    Aku baca chapter selanjutnya yaaa 😀

  5. Hallo… aku new reader. Baru nemu ff ini, baru tau juga baru baca. Seru, ternyata bener” gak terprediksi, penasaran. Next ke chap slanjutnya ya ^^

  6. Kirain mau bilang “Aku iya” Eh malah “Aku tidak” Aku tidak…. Apa?? Wah mangkin penasaran sma cerita selanjutnya 🙂

  7. astaga ngakak masa liat ceye sama minyoung lol mereka berdua kocak abisss udah gt ada panggilan “kesayangan”nya gt ya lol ffnya menghibur disiang hari puasa thor wkwlwk👍

  8. Waaah,kocak eonni….
    Pertengkaran Chanyeol Ama minyoung bikin ngakak…
    Tpi kok panggilan Chanyeol jdi dobi???tpi lucu…
    Apa lagi minyoung siluman harimau…
    Sehun kulkas berjalan…
    semangat ya eonni….

  9. ff nya keren eon apalagi sifat chanyeol-minyeong bkin rumah jadi kayak pasar 😄
    oh sehun tuh temen nya chanyeol trus mau d jodohin sama minyeong 😚
    waduh mau gk yah minyeong nya 😏

  10. haha baru nemu ff nya .. lucu ya minyoung sama chanyeol adik kakak gesrek kayanya..
    panggilan sehun sma minyoung kok aneh haha.. kayanya seru ceritanya . ijin baca

  11. woahhhh baru nemu ff nya.. kakak beradiknya kayanya gesrek nih. dobi sama siluman haaaha. terus sehun pangilannya aneh. tapi kayanya seru nih . ijin baca ..

  12. Pingback: Unpredictable Marriage {Chapter 8B-END} | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s