Unpredictable Marriage {Chapter 3} – Marshashinee “Morning Kiss?”

ds

| Title Unpredictable Marriage |

| Main Cast Oh Sehoon – Park Minyoung |

| Addictional Cast Park Chanyeol, Park Chorong, Byun Baekhyun |

| Genre Marriage Life, a little bit comedy, University Life |

| Rating PG-17 |

WARNING! TYPO(s) BERTEBARAN

Poster by myself

Marshashinee Present

Unpredictable Marriage

[ Chapter 3 ]

Review :

[Teaser and Talk] | [ Chapter 1 ] | [ Chapter 2 ]

Note : Chapter ini akan menuju ke konflik dan comedy scene nya akan berkurang.

 

Previous part :

Perlahan Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Minyoung. Menghapus jarak yang tercipta diantara keduanya. Nafas Sehun yang hangat menerpa wajah Minyoung. Sungguh, saat ini Minyoung gugup. Jantungnya berdebar.

 

Apa yang harus ia lakukan?!

 

-Unpredictable Marriage-

 

BUG!

 

“AAAAAAAKH!”

Sehun meringis lantaran merasakan sakit dan berdenyut di bagian kelaminnya. Tak hanya itu, ia juga tersungkur kebawah karena ditendang oleh Minyoung saat bibir Sehun hampir menempel di bibir Minyoung.

“Apa yang kau lakukan bodoh?!”pekik Sehun yang masih memegangi alat kelaminnya sesekali merintih kesakitan.

“Menendangmu.”jawab Minyoung datar. Minyoung sangat senang karena ekspresinya saat ini seperti apa yang diharapkannya. Ekspresi datar.

Sementara Sehun tetap meringis dibawah sembari memegangi alat kelaminnya. “Kau..”tunjuk Sehun. Dia tak mampu melanjutkan omongannya karena masih merasa sakit.

“Jangan macam-macam denganku. Atau kau akan mendapatkan lebih dari ini.”ancam Minyoung. Ia melipat tangannya di dada dan duduk ditepi ranjang. Sedikit kasihan melihat Sehun yang seperti ini.

“Maaf.”sesal Minyoung. “Itu reflek.”lanjutnya dan kemudian tertawa konyol. Sehun hanya mendelik lalu mencoba berdiri. Minyoung bangun dari duduknya lalu mencoba membantu Sehun berdiri.

“Apakah sakit sekali?”tanya Minyoung sedikit meringis. Sehun hanya diam tidak menjawab pertanyaan Minyoung. Ia masih dongkol dengan Minyoung.

Minyoung mendudukkan Sehun ditepi tempat tidur. “Akan ku ambilkan air.”Minyoung melangkahkan kakinya menuju pintu tetapi tangan Sehun sudah menahannya.

“Tidak usah.”cegah Sehun. “Aku hanya ingin tidur.”lalu Sehun membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Minyoung ingin sekali memarahi Sehun. Tetapi ia urungkan niatnya karena Sehun seperti ini disebabkan oleh perlakuan dia sendiri. Tetapi kalau ia tidak menendang Sehun, Minyoung tidak akan seperti ini. Mungkin ia sudah… Ah, memikirkannya saja sudah membuat Minyoung merinding.

“Aku akan tidur di sofa.”sahut Minyoung lalu beranjak ke sofa. Beruntungnya Minyoung karena sofa itu adalah sofa lipat. Yang berarti sofa itu bisa di jadikan tempat tidurnya. Belum lagi ada selimut dan bantal disitu.

Minyoung merebahkan badannya di sofa lipat tersebut lalu menarik selimutnya sampai ke dada. “Jaljayo, ma nampyeon.” Gumamnya lalu tertidur.

 

-Unpredictable Marriage-

 

Sinar matahari masuk menyelimap melewati celah-celah gorden. Terlihat 2 insan kini sedang meringkuk di tempat tidur. Terdengar dengkuran halus dari keduanya. Sang gadis menggeliat kecil lalu membuka matanya perlahan. Ia merasa aneh karena sentuhan nafas hangat menerpa keningnya.

Gadis itu mengerjab pelan menyesuaikan sinar yang seolah menusuk matanya. Tetapi ia langsung membelalakan matanya saat melihat lekuk sempurna wajah yang sangat ia kenal. Lelaki ini..

 

Oh Sehun?!

“KYAAAAAAAAAAA”

Gadis itu, Minyoung memekik dengan keras hingga membuat Sehun mau tak mau terbangun dari alam mimpinya.

“Ada apa?”tanya Sehun yang masih setengah sadar. Ia masih mengumpulkan nyawanya.

“Apa yang kau lakukan padaku?! Mengapa aku bisa disini?!”tanya Minyoung setengah memekik. Ia menyibak selimut dan bernafas lega karena ia masih mengenakan piyamanya.

“Seharusnya aku yang tanya, mengapa kau berada disini? Kau tahu? Mungkin kau mengalami sleep walking dan tidur di sampingku.”sahut Sehun kemudian. Sepertinya ia sudah sadar.

Minyoung makin di perbingung oleh semua itu. Pertama, mengapa ia bisa disini? Kedua, mengapa ia bisa tidur didalam rangkulan Sehun? Ketiga, mengapa dia mengalami sleep walking?

Merasa makin bingung, Minyoung pun beranjak dari kasur dan langsung menuju Pintu keluar. Ia menutup pintu dengan keras karena hatinya yang kesal, sebal, dongkol, bingung–apa saja yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini.

Sementara Sehun hanya tersenyum penuh arti sepeninggal Minyoung. Karena kronologisnya memang hanya Sehun yang tahu.

 

Flashback On

 

Sehun terbangun dari tidurnya. Sungguh, ia tidak bisa tertidur akibat nyeri di alat kelaminnya saat ini. Sakit? Tentu saja. Itu yang dirasakan Sehun saat ini.

Sehun menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang. Ia ingin keluar hanya sekedar mengambil segelas air putih. Tapi langkahnya terhenti saat dimana gadis yang sekarang telah menyandang status sebagai istrinya ini meringkuk manis di sofa lipat kamarnya.

Muncul niat Sehun untuk melihat wajah istrinya itu saat tertidur. Sehun melangkahkan kakinya kearah dimana Minyoung tertidur. Sehun berjongkok didepan wajah cantik istrinya itu. Entah kenapa rasa sakit itu menghilang setelah melihat wajah istrinya.

Manis, damai, cantik. 3 kata itu yang menggambarkan Minyoung saat ini dari perspektif Sehun.

PLAK!

Sehun memegang pipi kanannya yang terasa panas. Ia menarik kata-kata yan muncul dalam benaknya tadi soal Minyoung. Ternyata gadis ini tetaplah garang walaupun saat tertidur.

“Brengsek kau Oh Sehun. Mengapa kau hampir menciumku tadi?! Kau tahu, aku sangat malu… aku—hmmm..”racau Minyoung yang terputus karena ia sudah melanjutkan tidurnya. Sehun tersenyum tatkala melihat gadis ini.

Sehun menyibak pelan selimut yang tengah dipakai Minyoung lalu memapahnya ke tempat tidurnya. Ia merebahkan tubuh Minyoung pelan karena tidak mau gadisnya ini terbangun dari tidurnya, pikir Sehun. Tunggu..

Gadisnya?!

Apa Sehun sudah mencantumkan nama “Park Minyoung” dihatinya?

Sehun memegang dadanya yang dirasa jantungnya berdegup 3x lipat. Bahkan ia memikirkan suatu hal yang mengganjal di pikirannya.

Apa aku mulai menyukai…. Siluman ini?

Gila! Tidak. Sehun segera menampik pikirannya saat ini mengenai rasa-tertariknya-akan-Minyoung. Tidak mungkin ia menyukai Minyoung.

Karena tidak mau otaknya makin berkelebat memikirkan hal mustahil seperti itu, akhirnya Sehun lebih memilih tidur. Ia sengaja tidur di samping Minyoung agar paginya bisa menggodai Minyoung. Yah, mungkin menggoda Minyoung akan masuk dalam list rutinitasnya mulai saat ini.

Flashback off

 

 

Sehun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Rambutnya yang setengah basah dan berantak menambah kesan tampannya.

Sehun melihat Minyoung yang asik menonton tv dengan roti panggang serta susu di tangannya. Ia tampak serius menonton.

Sehun melangkahkan kaki jenjangnya ke meja makan mini –karena yang tinggal hanya mereka berdua- yang terletak di samping ruang dapur. Sehun mengernyit karena hanya mendapati gelas dan meja makan yang kosong.

“Kau tidak membuatkan ku sarapan? “tanya Sehun.

“Kau punya tangan kan? Mengapa tidak buat sendiri?”balas Minyoung tanpa menoleh kearah Sehun. Ia sangat malas dan sekaligus malu dengan peristiwa pagi tadi.

“Cih. Istri macam apa kau?”cibir Sehun. Tetapi Minyoung tetap bergeming. Itu membuat Sehun jengah. “Semoga nanti malam kau tidak tidur di pelukanku lagi.”pancing Sehun.

Minyoung berhenti mengunyah rotinya karena merasa wajahnya memanas saat ini. Sungguh, ia tidak ingin mengingatnya lagi!

“Diam kau Oh Sehun.”hardik Minyoung.

“Sayangnya tidak bisa,Nyonya Oh.”

Nyonya Oh? Panggilan macam apa itu?

“HEI! JANGAN PANGGIL AKU DENGAN PANGGILAN MENJIJIKAN SEPERTI ITU!”gertak Minyoung. Tetapi Sehun malah tambah senang menggodanya.

“Oh ya? Lalu apa yang akan kau lakukan?”tantang Sehun dan melipat kedua tangannya didepan dada.

“KAU—KEMARI KAU OH SEHOON!!”Minyoung mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke arah Sehun. Untungnya, Sehun yang cekatan pun bisa menghindar. Sungguh, kepribadiannya yang dingin ini berubah saat bertengkar dengan Minyoung. Ia berubah menjadi sosok yang jahil.

“AKU TIDAK TAKUT! BWEEEE”Sehun menjulurkan lidahnya kedepan lalu berlari menghindari Minyoung yang sedang berapi-api saat ini. Sehun pikir, Minyoung akan berubah menjadi Youngster (Minyoung Monster) sebentar lagi.

 

Sehun melangkahkan kakinya malas di sepanjang koridor menuju kelasnya. Ia mengelus tengkuknya yang sedikit panas karena terkena cekikan dari Mnyoung tadi pagi sampai ia kesulitan bernafas. Menyeramkan. Memikirkannya saja membuat Sehun bergidik ngeri.

“Hei, adik ipar.”sapa pria yang langsung merangkul Sehun. Pria yang lebih tinggi 4cm dari Sehun itu terus saja tersenyum konyol didepan Sehun saat ini. Panggilan adik ipar itu.. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol?!

“Jangan memanggilku seperti itu, Park Chanyeol.”

“Kenapa? Memang kenyataannya seperti itu, kan?”tanya Chanyeol. Well, itu memang benar kenyataannya. Bahwa Sehun adalah adik iparnya.

“Terserah kau saja, Park Chanyeol.”delik Sehun.

“Selamat pagi, pengantin baru.”sapa lelaki lain lagi. Kali ini lebih pendek dari Sehun. Yah, itu adalah pria bermata kecil besar di mulut, Byun Baekhyun. The Freak Boy Ever.

“Kumohon jangan memanggilku seperti itu, Freak Boy.”tampik Sehun yang merasa jengah.

“Loh, bukannya kau memang pengantin baru? Ah.. bagaimana malam pertamamu?”pertanyaan konyol terlontar dari si Freak boy itu. Sehun semakin jengah. Ia berhenti untuk melangkahkan kakinya lantas berbalik menghadap kepada dua konyol itu. Sehun mulai berfikir kalau ia salah dalam memilih teman.

“ Kalian tahu? Dia sangat kejam. Sampai membuat punggung serta juniorku sakit. Dia memang ganas.”tutur Sehun. Penuturannya itu membuat Baekhyun serta Chanyeol menganga. Mungkin mereka sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. Well, karena mereka tidak tahu kebenarannya.

Mendengar tidak ada jawaban atau tanggapan dari kedua sahabatnya –yang justru malah ternganga- Sehun yang dongkol pun berbalik dan melangkahkan kakinya sebal.

Sepeninggalan Sehun, Baekhyun dan Chanyeol saling menatap dengan keadaan yang masih ternganga.

“Apakah adikku se-ganas itu?”tanya Chanyeol pada Baekhyun. Baekhyun hanya menampakkan wajah horror-nya.

“Mungkin kau tahu jawabannya, Chanyeol.”balas Baekhyun.

Mereka kembali menatap kedepan dengan mulut yang masih menganga tidak percaya.

 

 

Minyoung dan Chorong berjalan menyusuri perpustakaan mencari sebuah buku. Mereka mencari buku yang berbeda. Chorong mencari novel, Minyoung mencari.. KOMIK.

Minyoung mencari komik Crayon Shincan volume 15 dengan teliti. Sebenarnya, ia sudah punya dirumah. Karena berhubung dia dan Chanyeol pernah bertengkar soal perebutan remote tv, ia dan Chanyeol berlomba untuk merusak barang-barang kesayangan mereka. Hingga yang menjadi korban beberapa komik berharga milik Minyoung dan poster 2NE1, Sandara Park milik Chanyeol. Yah, begitulah.

Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan sebuah komik yang di cari-carinya itu.

“Kau mencari komik ini, Minyoung?”

Suara itu, sepertinya Minyoung mengenalinya. Minyoung menggesel beberapa buku dan menundukkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang di balik rak buku itu.

Begitu Minyoung menyembulkan kepalanya di rak buku tersebut, matanya membelalak lebar saat mengetahui siapa orang yang dibalik rak buku.

“Myungsoo?”ucap Minyoung tanpa sadar.

Dia, Kim Myungsoo itu pun tersenyum ramah kepada Minyoung. “Ya, Kenapa?”

Minyoung tertegun. Bahkan nada bertanya-nya masih sama. “Kau.. Kuliah disini?”tanya Minyoung. Sebelumnya ia menjauhkan kepalanya dari rak buku.

“Ya, Aku kuliah disini. Wah, ternyata dunia sangat sempit. Kita bertemu lagi disini.”ujar Myungsoo riang. Minyoung hanya menganggut dan tersenyum simpul.

“Ternyata kau tidak berubah. Kau masih menyukai komik.”sahut Myungsoo. “Ini berapa kalinya kau membaca komik lama ini?”

“Sekitar… ke-tigapuluh kalinya.”jawab Minyoung diselingi senyum manisnya. Myungsoo tersenyum dan mengacak rambut Minyoung gemas.

“Mau membaca bersama?”tawar Myungsoo. Minyoung menganggukkan kepalanya antusias.

“Tentu..”

 

 

Saat ini, Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun sedang berada di kantin. Seperti biasa, 3 sejoli itu memesan makanan yang sudah biasa mereka pesan.

Sehun spaghetti bolognaise. Baekhyun Sandwich. Dan Chanyeol bibimbap kesukaannya. Setiap jam makan siang, 3 makanan itulah yang selalu mereka pesan. Serta orange juice/susu sebagai minumannya.

“Yak, Sehun-ah.”panggil Chanyeol. Sehun beralih dari makanannya ke Chanyeol.

“Apa?”balas Sehun datar.

“Apakah.. Minyoung benar-benar.. se-kejam itu?”tanya Chanyeol memastikan. Sehun hanya memanggutkan kepalanya. Ia tidak tahu maksud dari pertanyaan kakak ipar nya itu.

“Wah.. Minyoung benar-benar hebat! Sebentar lagi, aku akan mempunyai keponakan!”sambar Baekhyun antusias. Hal itu menciptakan sorotan tajam dari Chanyeol maupun Sehun.

Sehun yang jengah akan pembicaraan ini langsung melilitkan spaghetti-nya menggunakan garpu lalu memasukkannya kedalam mulut. Ia mengunyah spaghetti-nya itu dengan cepat.

Seketika ia berhenti mengunyah saat matanya menangkap 2 orang yang sedang tertawa bebas melewati meja yang Sehun tempati. Matanya terus mengekor kepada 2 orang itu yang wajahnya sangat familiar sampai kedua sosok itu hilang.

Entah apa yang Sehun rasakan saat ini. Hatinya panas, sebal, dongkol bercampur jadi satu. Nafsu makannya pun menghilang begitu saja. Ia berdiri dari duduknya dan mengamit ransel lalu pergi meninggalkan kantin tanpa alasan yang jelas, menurut Baekhyun dan Chanyeol.

“Hey, Sehun! Spaghetti-mu untukku ya!”teriak Baekhyun meminta izin. Dengan sigap Chanyeol menjitak puncak kepala Baekhyun.

“Sakit, bodoh!”ringis Baekhyun dan mengusap puncak kepalanya.

“Dasar mata kecil, fikiranmu hanya makanan saja!”Chanyeol mencibir Baekhyun.

“Dasar mata besar!”

“Jadi kau menikah dengan Sehun karena perjodohan?”

Myungsoo memulai ‘ke ingintahuan-nya’ setelah Minyoung menjelaskan semuanya. Tentang bagaimana ia menikah dengan Sehun karena perjanjian konyol yang di buat oleh Ayahnya dan Ayah Sehun.

“Yah, begitulah.”balas Minyoung dan mendesah pelan. “Kadang aku berfikir, mengapa mereka membuat perjanjian se-konyol itu?”

“Yah, mungkin itu salah satu cita-cita mereka, Young.”sahut Myungsoo dan kembali membaca buku-nya.

“Cita-cita? K O N Y O L !”decak Minyoung. “Apakah ada cita-cita yang harus mengorbankan anak mereka?”

“Entahlah.”Myungsoo kemudian menghela nafas panjang. “Terkadang kita tidak tahu takdir kita. Mungkin Sehun itu takdirmu. Bisa jadi, kan?”

“Aku tidak perduli. Aku tidak menyukainya.”sahut Minyoung. “Dia menyebalkan.”lanjut Minyoung.

Myungsoo terkekeh dengan penuturan Minyoung. “Kalau aku?”tanya Myungsoo kemudian. Minyoung mendongak.

“Kau sama saja menyebalkan. Memutuskanku karena kau harus pergi ke Jerman. Dan tidak pernah menghubungiku. Kau tahu? Aku sakit selama 1 minggu karena kau!”

Senyum Myungsoo melembut. Matanya meredup. “Aku tahu. Tapi aku tidak berani menghubungimu saat itu. Maaf.”sesalnya. “Aku ke Jerman karena paksaan orangtua-ku, Young. Sebenarnya aku tidak mau. Tetapi mereka memaksa. Mungkin kalau saat itu aku tidak pergi ke Jerman, kau sudah menjadi Nyonya Kim. Bukan Nyonya Oh. Kau tahu? Saat menerima undangan pernikahanmu, jujur aku menangis. Tetapi apa daya? Ku pikir kau sudah melupakanku lalu sudah mendapatkan penggantiku. ”

Minyoung tertegun mendengar penjelasan Myungsoo. “Kau.. masih menyukaiku?”tanya Minyoung hati-hati. Minyoung merasakan matanya memanas. Ia sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak meluncur keluar.

“Sebenarnya.. masih. Tapi kau sudah menjadi milik orang lain. Jadi kupikir, aku harus merelakanmu, Young.”

Air mata Minyoung meluncur bebas dari pelupuknya. Ia tak bisa menahan lagi. Ingin rasanya ia memutar waktu untuk merasakan kembali bagaimana ia melewati hari-harinya bersama Myungsoo kala itu. Ia sangat merindukan itu semua.

“Hey jangan menangis.”

Myungoo menghapus air mata Minyoung menggunakan ibu jarinya. “Kau sangat jelek kalau menangis.”canda Myungsoo.

Minyoung meninju pelan lengan Myungsoo dan kembali tersenyum. Hanya bersama Myungsoo lah Minyoung meninggalkan kebiasaan tomboy-nya.

Tanpa mereka ketahui, ada seorang laki-laki yang diam-diam melihat mereka dengan hati yang memanas. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas ia merasa ada yang mengganjil dalam hatinya.

 

 

“Habis dari mana kau?”tanya Sehun menginterupsi Minyoung saat ia baru datang. Sehun yang sedari tadi menunggunya pulang jengah karena tidak mendapatkan jawaban dari Minyoung.

“Hei siluman, kau tuli?”panggil Sehun lagi.

“Baiklah, baik. Aku habis jalan-jalan dengan Myungsoo. Kau puas, Kulkas berjalan?”jawab Minyoung akhirnya lalu memutar bola matanya.

“Myungsoo? Mengapa sampai malam begini? Apakah kau menceritakan tentang pernikahan ku dengan kau, lalu kau menangis dan Myungsoo menghusap air matamu menggunakan ibu jarinya, begitu?”ujar Sehun dengan emosi yang meluap. Ia sendiri tidak sadar apa yang dikatakannya.

“Kau… Mengikutiku?”tanya Minyoung. “Yak! Jawab!”

“Me-Mengikutimu? B-Buat apa?”Sehun tergagap lalu menggaruk tengkuknya yang panas.

Minyoung tersenyum jahil Oh, akhirnya ia bisa mempunyai bahan ejekan untuk menjahili Sehun.

“Kau mengikutiku.. kan?”tanya Minyoung dengan nada yang jahil. “Sehun mengikutiku.. Kulkas berjalan mengikutiku”selanjutnya Minyoung menari-nari tidak jelas sambil bersenandung ‘Kulkas berjalan mengikutiku’. Itu terdengar gila untuk Sehun.

“Kau gila?”tanya Sehun yang merasa aneh. “Ah, aku lupa. Kau memang sudah gila sebelumnya.”

Minyoung berhenti lalu memandang Sehun tajam. “KAU…! YAK KEMARI KAU!”teriaknya. Sehun yang kaget hanya bisa berlari tanpa arah karena Minyoung sudah mengejar-ngejarnya saat ini dengan sumpah-serapah yang diucapkan Minyoung pada Sehun.

 

 

Sehun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Rambutnya yang setengah basah dan berantak menambah kesan tampannya (yang memang wajahnya sudah tampan). Dan itu diakui Minyoung saat ini.

“Hah? Kau memasak?”sahut Sehun saat melihat Minyoung yang sedang berkutat dengan dapur.

“Tentu saja.”jawab Minyoung mantap. “Biar kelakuanku yang.. Yah, langka. Tetapi aku pernah mengikuti kelas tata boga saat Sekolah menegah pertama. Jadi mungkin aku sedikit mengetahui tentang memasak. Dan mungkin aku sedang berbaik hati karena Myungsoo menemaniku kemarin.”

Sehun kembali memasang wajah sebal mendengar nama ‘Myungsoo’ yang terlontar dari mulut Minyoung. Tetapi kemudian ia hanya terkekeh pelan melihat Minyoung saat sedang menaruh piring berisi makanan terakhir diaras meja makan.

“Nah sudah si—“

Perkataan Minyoung terputus karena saat ia mendongak, wajah Sehun sangat dekat dengannya. Mungkin hanya sekitar.. 3cm ?

Dan yang membuat Minyoung terkaget saat ini adalah pemberian..

 

Morning Kiss?

 

| To Be Contonued |

 

Haaai~~ aku kembali lagi dengan fanfic UM ini~ wkwkwk.

Makasih sama para readers ‘Unpredictable Marriage’ Ke 2 yaa~ karena udah bikin aku terharu sama jumlah komentarnya 🙂 Maaf karena aku gakbisa bales komentar kalian satu-persatu tapi aku tetep baca saran+tanggapan dari kalian kook 🙂

Dan mungkin Chapter ini absurd baget (/\) karena aku emang lagi ada masalah. Dan maaf banget karena dichapter ini gak dapet feel-nya.

Sertakan komentar kalian yaa~

Salam,

 

Marshashinee

 

Wanna See our new Cast? ^^

 

The 21 years old boy, Minyoung’s first love who had comeback into her marriage life with Sehun.

Kim Myungsoo

myungie{}

 

Advertisements

656 responses to “Unpredictable Marriage {Chapter 3} – Marshashinee “Morning Kiss?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s