Cry-Cry Chapter 6b – Choi Yura

cry-cry-poster-minswag

POSTER BY: MINSWAG (http://cafeposterart.wordpress.com)

Choi Yura © 2014

Cry-Cry Chapter 6b

Author: Choi Yura / @JuJuYChoiHan

Cast:

  • Xi Luhan (EXO-M)
  • Choi Yura / Xi Yura (OC)
  • Oh Sehun (EXO-K)

Other Cast:

  • Jang Eun Soo (OC)
  • Han Jang Mi (OC)
  • Park Hyera (OC)
  • EXO members

Genre: Romance, Family, Sad, Angts.

Rated: PG-17+ (DOSA TANGGUNG SENDIRI)

Length: Chaptered.

**

PREVIOUS: Chapter 1 ll Chapter 2 ll Chapter 3 diprotek dan berada di http://fishytelekinetics.wordpress.com ll Chapter 4 ll Chap 5 ll Chap 6a

**

 

Rapat perusahaan Luhan yang bernama Xiou Group sudah berjalan dari setengah jam yang lalu. Para karyawan yang terpilih juga sudah mempresentasikan hasil proposal mereka. Tepatnya proposal itu berisi tentang program kerja yang baru. Karyawan yang terpilih berjumlah lima orang yang di antaranya 3 orang wanita dan 2 orang lelaki. Perusahaan Luhan mengadakan rapat dan pembentukan proposal yang baru bertujuan untuk mengangkat jabatan kepada karyawan yang terpilih.

Luhan sejak tadi berdiri di depan podium untuk mengarahkan jalannya rapat. Rapat tersebut di hadiri banyak pihak seperti Direktur, Staf-staf dan juga beberapa karyawan tertinggi maupun karyawan biasa. Setelah menyampaikan tujuan rapat itu, Luhan segera turun dari podium dan mengambil posisi duduk di sebelah Direktur Cho. Meja rapat yang mereka gunakan memiliki bentuk ukuran seperti membentuk lingkaran yang lonjong. Bentuk meja itu membuat mereka duduk saling berjajar dan saling berhadapan.

Satu persatu para petinggi jabatan mulai maju dan berdiri di depan podium untuk menyampaikan kata sambutan mereka dalam rapat itu. Sementara Luhan yang duduk di kursinya hanya memasang raut wajah yang terlihat cemas. Luhan melirik arlojinya dan arlojinya menunjuk pukul 20.30. Dia masih memikirkan Jong In, namun ia masih bisa fokus selama rapat masih tetap berjalan. Meski rapat pertama sudah diadakan sekitar 8 jam yang lalu, Luhan masih membutuhkan Jong In untuk menentukan karyawan terbaik yang akan menggantikan posisi karyawan tertinggi yang tidak memiliki usaha kerja yang baik. Bagaimanapun juga Jong In merupakan satu bagian terpenting dalam persahaan Xiou Group. Kerja sama yang Luhan dan Jong In adakan sudah berjalan dan sekaranglah mereka akan membuat kedua perusahaan itu menjadi berkembang pesat.

Setelah Direktur Cho sudah selesai memberi kata sambutannya yang terakhir. Luhan selaku Presedir Xiou Grup kembali maju ke podium untuk menutup hasil rapat. Keputusan akan diumumkan detik itu juga. Sebenarnya, proposal itu sudah dibaca terlebih dulu oleh para petinggi jabatan lainnya, presentasi itu diadakan hanya manipulasi belaka.

Malam ini Luhan mengenakan tuksedo yang berwarna biru dongker dengan memadupadankan sepatu kulit berwarna hitam bersih. Juga hari ini dia merubah gaya rambutnya dari Overlay Long Bangs X Style menjadi potongan rambut ala Oblique Fringe X Style yang tetap berwarna hitam. Terkesan cuek namun terlihat rapi dan gagah.

Luhan menghela napas dan menatap setiap para hadirin rapat. Tanpa berlama-lama lagi dia ingin rapat ini cepat diselesaikan, sejujurnya dia telah lelah dan ingin beristirahat.

“Rapat ini akan saya tutup dengan mengumumkan proposal terbaik beserta presentasinya. Dalam nominasi karyawan terbaik berjumlah lima orang. Dalam hal ini, siapa yang akan menggantikan karyawan jabatan tertinggi jangan berkecil hati bila jabatan kalian akan digantikan oleh salah satu dari kelima karyawan tersebut.”

Salah satu karyawan yang berada di bawah podium memberikan sebuah berkas dokumen kepada Luhan. Luhan mengambilnya dan membuka dokumen itu. Sebelum membacanya ia memberanikan dirinya untuk tetap adil. Dia pun menghembuskan napas perlahan.

“Selamat untuk Jang Eun Soo. Kau pemenang untuk presenti proposal kali ini. Juga kau akan naik jabatan dari karyawan paruh waktu menjadi sekertaris pribadiku. Tentunya kau akan menggantikan posisi Park Hyera. Untuk Park Hyera akan dipindahkan ke bagian karyawan biasa.”

Luhan dan Eun Soo bertemu pandang. Di tempat duduknya yang terletak di deretan paling ujung Eun Soo tersenyum sumringah ke arah Luhan. Dia menatap Luhan senang dengan senyumannya yang terlihat santai.

Tentu Park Hyera tahu jika dia akan diperlakukan seperti itu. Kinerjanya dan prestasinya tak segemilang Jang Eun Soo. Meski Eun Soo hanyalah karyawan yang memiliki kontrak kerja selama setahun, tapi usaha kerjanya lebih di atas Hyera lagi. Secara tidak langsung Hyera sudah seperti orang bodoh karena dikalahkan oleh karyawan paruh waktu seperti Eun Soo. Jika dianalisis lebih cermat, mereka masuk ke perusahaan Luhan dengan waktu yang bersamaan. Hanya saja waktu itu Hyera lebih beruntung karena memiliki posisi menjadi sekertaris pribadi Luhan, sedangkan Eun Soo hanya mendapat posisi karyawan paruh waktu. Kini dunia sudah berbalik. Eun Soo bukanlah karyawan paruh waktu yang bisa diremehkan oleh karyawan petinggi lainnya.

Mata Hyera terpejam sesaat untuk menetralkan rasa malu dan emosinya. Tangannya yang berada di pangkuannya mengepal kuat. Sebenarnya dia cukup kesal karena masuk ke dalam nominasi karyawan terburuk untuk priode tahun ini. Padahal kerjanya menjadi sekertaris Luhan belum memasuki satu bulan penuh. Hanya karena cara kerjanya yang tidak beres, mau tidak mau Luhan harus memindahkan posisi Hyera selama wanita itu masih memiliki status karyawan tetap di perusahaannya.

Sementara Eun Soo yang duduk bersebrangan dengan Hyera hanya menyunggingkan senyum misteri di kedua sudut bibirnya. Setelah Hyera membuka pejaman matanya, kedua tatapan Hyera dan Eun Soo bertemu, mereka saling memandang dingin dan dari tatapan keduanya sangat sulit untuk dideskripsikan.

“Aku ucapkan selamat sekali lagi untuk Jang Eun Soo. Dan rapat kali ini selesai.” Luhan tersenyum lebar, kemudian ia membungkuk kecil dan mulai turun dari atas podium. Dia mulai pergi meninggalkan rapat itu dengan para petinggi jabatan lainnya yang juga mengikutinya dari belakang, Luhan dan para petinggi jabatan lainnya sudah keluar dari ruang rapat yang terbilang luas itu.

Semua karyawan yang masih berada di ruang rapat segera menghampiri Eun Soo dan memberikan ucapan selamat kepada wanita itu. Eksistensinya sekarang mulai dilirik banyak karyawan yang berada di ruang rapat semenjak Luhan baru saja mengumumkan perpindahan jabatan antara Hyera dan Eun Soo. Sekarang Hyera seperti orang yang di tak acuhkan. Bahkan teman-teman karyawannya yang lain tak ada yang menyemangatinya dan malah berjalan menuju kursi Eun Soo untuk juga ikut memberikan ucapan selamat.

Ini sudah terasa sakit bagi Hyera. Terlebih lagi wanita itu memberikan senyuman pada Hyera yang menurut Hyera senyuman Eun Soo itu sangatlah memuakkan dan tentunya juga menyeramkan.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Luhan duduk di kursi kerjanya. Dia merogoh saku tuksedonya untuk mengeluarkan ponsel persegi panjangnya yang berwarna hitam. Laki-laki 28 tahun itu menghidupkan ponselnya kembali yang tadinya sempat ia matikan agar tidak mengganggu jalannya rapat.

Setelah ponsel itu menyala. Begitu banyak panggilan yang tak terjawab, juga banyak pesan yang masuk. Luhan melihat kotak masuknya, ternyata sudah ada 10 pesan masuk yang belum sempat ia buka. Tentunya jam pesan masuk yang tertera di ponselnya menunjuk pukul setengah jam yang lalu. Tentu saja setengah jam lalu adalah jam selama berjalannya rapat.

Luhan membuka pesan itu. 10 pesan yang masuk, semuanya berasal dari Kim Jong In.

Sebelum Luhan membaca pesan itu. Ponselnya berbunyi dan ternyata Jong In menelponnya kembali. Luhan segera menyentuh tombol hijau pada ponsel hitamnya dan menempelkan ponsel itu di telinga kirinya.

“Halo?” Luhan segera menjawab.

“Luhan, maaf jika aku tidak datang ke rapat itu. Ada kendala yang membuatku tidak datang ke rapatmu itu. Yang pertama aku terlambat dan buru-buru untuk tetap hadir dalam rapat itu. Tapi saat aku berada dalam perjalanan – ” Luhan bisa mendengar jika Jong In menjeda uncapannya dengan cara menghela napas panjang, “Aku menabrak seseorang.”

Mata Luhan membelalak. Sebelumnya Jong In tidak pernah berkasus menabrak seseorang. Bisa dikatakan Jong In itu memiliki tabiat yang suka sembrono, tapi demi apapun, dia tidak pernah mencelakakan orang lain.

“Bagaimana bisa kau menabrak seseorang?” Tanya Luhan panik.

“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia melintas di tengah jalan dan membuatku mengeremkan mobilku dengan mendadak. Sekarang dia masih diperiksa oleh dokter pribadiku…” bisa terdengar jelas jika Jong In sedang cemas dengan diselingi rengekkan yang tetap stay cool.

“Sekarang kau di mana?”

“Aku ada di hotelku.”

“Kenapa kau tidak membawa orang itu ke rumah sakit?”

“Kau tahu sendiri kalau di Okinawa rumah sakit sangatlah jauh. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain membawanya ke hotelku.”

“Oke, Kau tetaplah di sana.” Luhan melirik arlojinya, “Sekitar 20 menit lagi aku akan datang ke hotelmu.”

Luhan segera menutup sambungan teleponnya. Dia bangkit dari duduknya dan bergegas menuju basement dengan langkah yang cukup lebar.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Sesampainya di hotel yang telah Jong In maksudkan, Luhan segera masuk ke hotel dan berjalan menuju lift. Sebelum ia menuju lift, lelaki itu terlebih dulu berjalan melewati lobi hotel yang terbilang cukup ramai. Saking khawatirnya dengan kasus Jong In, sampai-sampai ia tidak menyadari jika dia baru saja menabrak seseorang. Luhan terdiam di tempatnya berdiri dan menoleh ke samping kanan setelah baru saja menyadari ada senggolan kuat di tubuhnya. Yang ia tahu seseorang yang baru saja ia tabrak adalah seorang lelaki. Bisa dilihat dari setelan tuksedo dan juga sepatu kulit mahal yang lelaki itu kenakan.

“Maaf.” Luhan bergumam, samar-samar ia melihat lelaki itu tetap menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan eksistensinya.

Yang jelas lelaki itu memiliki kulit putih susu dan wajahnya terlihat begitu dingin. Dan sekarang lelaki itu berjalan meninggalkannya dengan langkah yang sedikit lebar. Luhan pikir lelaki itu mungkin sedang terburu-buru.

Luhan berjalan kembali. Selagi berjalan menuju lift ia masih terus-terusan mengingat wajah lelaki itu. Baginya wajah lelaki itu tidaklah asing.

Luhan berhenti dengan cepat setelah menemukan celah di ingatannya, “Lelaki itu?” bisik Luhan pada dirinya sendiri, Beberapa detik kemudian ia berbalik ke belakang dan mencari siluet lelaki yang baru saja ia tabrak. Ternyata lelaki itu sudah menghilang dan tidak terlihat lagi. Yang hanya tampak hanyalah orang-orang asing yang berlalu lalang.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Sehun berjalan masuk ke restoran. Dari banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitarnya, itu tidak menyulitkan Sehun untuk mencari meja restoran yang akan ia duduki. Dari kejauhan, Sehun bisa melihat Yi Xing duduk di salah satu meja restoran yang berada di samping kaca etalase, tanpa berlama-lama lagi dia segera menghampiri meja restoran yang Yi Xing tempati.

Sehun duduk di salah satu meja restoran hotel. Tepatnya dia duduk di hadapan Yi Xing dengan raut wajah yang terlihat stres. Sementara Yi Xing yang sejak tadi sudah duduk di kursinya hanya menatap Sehun tenang.

“Gadis itu menghilang. Besok pagi aku ingin kita kembali ke Seoul.” Sehun mulai angkat bicara sembari melonggarkan dasi kemejanya yang berwarna coklat.

Yi Xing menatap Sehun tidak percaya. Yang ia lihat Sehun bersandar di kursi dan mulai menatap etalase kaca restoran. Malam sudah semakin larut. Namun restoran itu masih terlihat ramai.

“Apa kau yakin? Perkejaanmu di Okinawa belum selesai. Dan masalah Yura,” Yi Xing menghela napas pasrah, “Tidak mungkin kita meninggalkannya begitu saja.”

“Aku tidak mau tahu. Dan tentang gadis itu yang menghilang, aku sudah menyuruh orang suruhanku untuk mencarinya. Besok pagi kita tetap akan pulang ke Seoul.” Sehun cepat-cepat menyangkal ucapan Yi Xing dengan ekspresi amarah yang tertahan.

“Ku harap kau masih ingat jika gadis itu sama sekali tidak memiliki passport. Yang anehnya lagi, tiba-tiba saja kau mengajaknya ikut bersama kita dengan menggunakan pesawat pribadimu. Lalu, lalu kau ingin meninggalkannya begitu saja?” suara Yi Xing sedikit meninggi untuk ucapannya yang tadi, kali ini dia berusaha mendesah pelan agar menetralkan emosinya, “Aku masih mengkhawatirkannya. Bagaimana jika dia tidak bisa kita temukan?”

“Sudahlah. Kau tenang saja. Tentang itu aku akan bertanggung jawab. Sudah ku katakan padamu jika aku akan mencarinya dimanapun itu.”

Yi Xing hanya bisa menghela napas berat, kemudian ia menyandarkan punggung badannya ke sandaran kursi dan menyilang kedua tangannya di depan dada.

“Baiklah aku akan menuruti semua ucapanmu.”

 

∞ Cry – Cry ∞

 

“Masuklah.” Setelah membuka pintu kamar hotelnya, Jong In segera menuntun Luhan masuk dan menutup pintu kamar hotelnya dengan cepat . Mereka berdiri di balik pintu yang tertutup dengan saling berhadapan.

“Di mana orang yang kau tabrak? Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit?” Luhan bertanya selagi mereka masih berada di balik pintu kamar hotel.

Jong In berdecak pelan dan memutar kedua bola matanya.

“Dia ada di kasurku. Lagi pula dokter pribadiku mengatakan dia baik-baik saja. Jadi aku benar-benar tidak bersalah dalam hal ini. Bahkan dia tidak memiliki goresan luka sedikitpun di tubuhnya.”

Luhan menghela napas, kemudian dia segera membuang pandangannya dari Jong In dan berlalu dari hadapan lelaki itu. Sementara Jong In yang tertinggal berupaya membuntuti Luhan dari belakang. Sesampainya di depan kasur Jong In, Luhan bisa melihat seorang gadis sedang tertidur di atas kasur ukuran king size dengan selimut putih tebal yang menyingkap di tubuhnya. Lelaki berambut hitam itu memasukkan kedua tangannya di saku celana hitamnya dan meninjau gadis yang tertidur itu dari arah depan kasur.

Tatapan Luhan tak bergeming ketika ia sudah menyadari gadis yang tertidur di atas kasur itu. Gadis berparas cantik dengan bentuk wajah yang mungil membuat Luhan mengingat sesuatu. Dia pun mengerutkan dahinya dan menatap lebih jelih lagi.

“Yura?”

Jong In yang berada di samping Luhan segera menoleh ke arah Luhan. Dia mengernyit ketika Luhan menghampiri gadis itu dengan langkah lebar.

“Apa kau benar-benar menabraknya, Jong In?” Luhan memasang raut wajah cemas dan juga panik. Dia duduk di tepi kasur yang gadis itu tiduri dan menindas Jong In dengan tatapan mengintimidasi. Jelas saja dia bertingkah seperti itu. Orang yang Jong In tabrak adalah Yura. Sekarang lelaki itu menatap Jong In lebih tajam lagi. Sementara Jong In yang berdiri di samping kasur hanya dapat mendesah lelah.

“Sudah ku katakan jika gadis itu baik-baik saja.” Jong In berujar dengan nada meyakinkan, kemudian dia menyilang kedua tangannya di depan dada dan menatap Luhan aneh, “Lalu kenapa sekarang kau yang terlihat panik? Memangnya siapa gadis itu bagimu? Apakah gadis itu orang yang kau kenal?” rentetan pertanyaan yang bertubi-tubi dari Jong In tidak diindahkan oleh Luhan. Luhan hanya menatap Yura iba dan mengelus puncak kepala gadis itu dengan sayang.

“Ya. Dan kau orang yang sudah membuatnya celaka.” Balas Luhan tenang, juga ucapannya itu terdengar begitu dingin.

“Hei Luhan. Memangnya gadis ini siapa? Kenapa kau benar-benar menyalahkan aku sepenuhnya atas kejadian yang tidak disengaja ini?”

“Dia keponakanku.”

Tentu saja Jong In tercengang atas penuturan Luhan yang menurutnya terdengar aneh. Sejak kapan Luhan mempunyai saudara? Setahu Jong In Luhan bahkan tidak memiliki sanak saudara lain setelah kedua orang tua Luhan sudah meninggal dunia.

“Keponakan?” ulang Jong In tidak percaya. Lelaki yang memiliki potongan rambut ala oblique bangs itu membelalak kaget.

“Ceritanya panjang.”

“Tidak, kau harus menceritakannya padaku sekarang juga.” Desak Jong In mantab.

Tanpa mau mendengar ocehan Jong In yang benar-benar sangat membuat Luhan lelah. Lebih baik Luhan bangkit dari tepi kasur dan berjalan duluan meninggalkan Jong In pergi. Mencari tempat teraman agar dapat menjelaskan semuanya pada Jong In.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Berada di restoran hotel dengan duduk saling berhadapan membuat Luhan dapat menceritakan semuanya dengan jelas. Mereka sudah berbicara mengenai latar belakang Yura selama 20 menit terakhir. Dan kini Jong In sedikit tidak percaya mengapa Luhan mengubah identitas gadis itu. Seingat Jong In, sewaktu Luhan memutuskan pindah ke Jepang, Luhan menemui Jong In terlebih dulu dan mereka bertemu kembali di Tokyo, tentunya juga Luhan membawa Yura ikut bersamanya. Tepatnya kejadian itu terjadi lima tahun yang lalu. Pada saat itu Yura masih berumur tiga belas tahun, tidak mungkin Jong In masih mengingat wajah gadis itu. Apalagi mereka hanya bertemu sekali dan setelah itu dengan cepat Luhan memutuskan pindah ke Okinawa dan menetap di sana bersama Yura yang selalu ikut dengannya.

Sekaranglah Jong In tahu tentang maksud Luhan merubah identitas gadis itu sebagai keponakan. Dengan penjelasan Luhan yang terbilang rinci, kini Jong In tidak perlu bingung lagi dengan semua itu.

“Benarkah gadis itu adalah gadis yang pernah kau bawa ketika kau menemuiku di Tokyo?”

Luhan mengangguk pelan.

Jong In mendesah dan menyandarkan punggung badannya ke sandaran kursi. Dia memang tahu alasan Luhan membawa gadis itu bersamanya. Tentu saja dia tahu tentang Luhan yang pernah melaporkan kejahatan Tuan Choi ke polisi. Sesungguhnya ia tidak tahu siapa itu Tuan Choi, ia hanya tahu jika Tuan Choi adalah orang yang pernah bekerjasama dengan perusahaan Luhan. Tentunya dia tahu semua cerita itu dari Luhan sendiri. Untungnya saja Jong In bukan orang yang bermulut lebar, dia orang yang sangat mudah dipercaya dan bisa menjaga semua rahasia.

“Tapi aku tidak tahu jika dia benar-benar sudah dewasa dan juga memiliki wajah yang begitu cantik.”

“Jangan pernah berbicara seperti itu tentangnya.”

“Kenapa? Bukankah dia benar-benar gadis yang cantik?”

Tanpa mengindahkan ucapan Jong In, cepat-cepat Luhan bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Jong In sendiri. Sementara Jong In yang masih duduk di kursi restoran hanya bisa mengedikkan bahunya tak acuh dan mengambil minumannya yang berada di atas meja lalu meminumnya dengan santai.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Bebarapa menit yang lalu, Luhan sempat berunding dengan Jong In mengenai hotel. Malam sudah semakin larut, Luhan tidak ada waktu lagi membawa Yura pergi dari hotel Jong In selama gadis itu masih saja pingsan. Jadi ketika Luhan berbicara dengan Jong In mengenai hotel Jong In itu, sedikit ada perdebatan sengit di antara mereka berdua. Sampai akhirnya Jong In yang mengalah karena memang dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Jelasnya Luhan menginginkan Yura cepat sadar dan tidak jatuh sakit. Maka itu Luhan mengancam Jong In agar dia merelakan hotelnya untuk Yura dan pindah sementara waktu ke hotelnya yang tentunya memiliki letak daerah yang berbeda. Dan kini Jong In sudah pergi ke hotel Luhan yang terletak hanya beberapa blok dari hotelnya. Dia membiarkan Yura dan Luhan untuk tidur di hotelnya agar kesalahannya dapat termaafkan.

Luhan segera berjalan menuju kasur yang Yura tiduri. Dia membuka tuksedonya, hanya mengenakan kemeja putih polosnya Luhan naik ke atas kasur dan duduk tepat di samping Yura yang tertidur. Dengan cepat Luhan menarik bantal tidur, meletakkanya di depan kepala tempat tidur dan menyandarkan kepala serta punggung badannya ke bantal itu. Luhan tidak ada niat untuk mematikan lampu kamar hotel dan menggantinya dengan lampu tidur. Dia sudah cukup tahu jika Yura sangat membenci kegelapan. Bisa-bisa gadis itu bermimpi buruk jika kamar hotel menjadi gelap gulita.

Yang ia lihat Yura benar-benar tertidur pulas, namun di sisi lain ia melihat Yura menggigil sembari mencengkram kuat selimut tebal yang sedang menyingkap di tubuhnya. Wajah gadis itu terlihat pucat pasih dengan peluh yang sudah bersarang di wajah serta dahinya. Tentu yang Luhan yakini jika gadis itu dalam keadaan yang tidak sehat. Buru-buru Luhan menarik tubuh gadis itu dan merengkuh kepalanya ke dalam dekapan tidur. Menenggelamkan kepala Yura di dadanya sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Yura. Benar saja, Luhan merasakan tubuh Yura bergetar hebat. Dia meyentuh dahi Yura dan menyeka peluh gadis itu. Ternyata Yura mengalami keringat dingin yang Luhan sendiri tidak tahu apa nama penyakit yang sekarang sedang Yura rasakan.

“Apa kau sakit?”

Kecemasan sudah tidak bisa lagi Luhan netralkan. Dia sudah sangat takut jika akan terjadi apa-apa pada Yura. Seharusnya memang Luhan tidak menyalahkan Jong In atas kecelakaan yang terjadi pada Yura. Jelas saja tadi Jong In mengatakan jika gadis itu baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun.

Terus-terusan tubuh Yura bergetar. Tanpa sadar juga, Yura telah mencengkram lengan serta kemeja Luhan dengan sangat kuat. Luhan tidak tahu apakah gadis itu sadar dengan pelukannya atau tidak. Yang jelas, Yura tidak terbangun dari tidurnya dan tetap mengeluh dengan napas yang terdengar seperti desahan.

Luhan tidak ingin mengambil resiko. Dia tidak ingin beranjak dari tempat tidur untuk membeli obat atau apalah itu. Dia hanya ingin selalu berada di samping Yura, apalagi gadis itu sekarang benar-benar tidak sehat.

“Tenang Yura, aku ada di sini.”

Tentu Luhan tidak tahu menahu tentang Yura yang mendengar semua ucapannya ataupun merasakan pelukannya. Gadis itu masih bergeming di pelukannya dengan tubuh yang bergetar kedinginan. Yang Luhan lihat juga, Yura sama sekali tidak membuka pejaman matanya.

Cepat-cepat Luhan menarik selimut putih tebal yang berada di pinggang Yura dan membalut seluruh tubuhnya dan tubuh Yura di dalam selimut putih tebal itu.

Tanpa Luhan sadari, perlahan namun pasti tubuh Yura mulai membaik. Tubuh Yura tidak lagi bergetar. Dan sekarangpun gadis itu sudah bisa tertidur dengan tenang kembali, dan juga napas gadis itu sudah mulai terdengar normal.

Tetap saja Luhan membelai rambut gadis itu dengan posisi yang masih tetap sama yaitu memeluknya dalam dekapan tidur. Dekapan tangannya yang erat tidak pernah renggang memeluk tubuh Yura. Meski jam sudah menunjuk pukul 2 pagi, Luhan tidak ada niatan untuk tidur. Dia masih mengingat rupa lelaki yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya sewaktu di lobi.

Tangan Luhan semakin erat memeluk tubuh Yura sembari menopang dagunya di puncak kepala gadis itu, “Pria yang bernama Oh Sehun kembali. Aku tidak mungkin lupa dengan wajahnya. Aku harap kau tidak pernah bertemu dengannya Yura.” Tatapan Luhan tersirat begitu banyak kekosongan yang di dalamnya juga ada kebencian yang orang lain tidak ketahui. Kemudian Luhan menjeda ucapannya dengan cara memejamkan kedua matanya lalu menghela napas dalam-dalam, “Aku mencintaimu.” Tentu saja, semua ucapan Luhan terdengar seperti gumaman yang benar-benar pelan.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Mentari sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Yura benar-benar dipaksa untuk bangun karena sinar mentari sudah mulai menerobos masuk ke kedua matanya yang masih terpejam. Sebenarnya dia sama sekali lelah dan tidak ingin terbangun, hanya karena ada tangan yang seperti memeluk tubuhnya erat, mau tidak mau Yura membuka matanya dengan perlahan. Silau mentari yang berada dari jendela kaca hotel membuat Yura megerjapkan matanya beberapa kali. Setelah sepenuhnya penglihatannya sudah menormal. Ia merasa jika posisi tidurnya tidaklah benar, dia merasakan posisi tidurnya seperti telungkup dengan adanya dada seseorang yang menjadi topangan kepalanya.

Matanya membelalak lebar setelah mencerna posisi tidurnya. Dia juga merasa asing dengan kamar itu. Tanpa berpikir banyak, Yura bangkit dari tidurnya dengan cara menyingkirkan kedua tangan seseorang yang berada di punggungnya.

Awalnya Yura ingin berteriak, namun ia cegah teriakannya dengan cara membungkam mulutnya tidak percaya. Matanya menatap sosok lelaki itu kaget. Apa dia salah lihat? Lelaki yang sedang memeluknya ketika tertidur adalah lelaki yang ia kenal? Ini tentu saja tidak mungkin.

Tangannya bergerak menggepal lalu mengucek-ngucek kedua matanya dengan cepat. Benar, dia tidak salah lihat. Yura merubah posisi tubuhnya dengan cara merangkak dan mendekati Luhan yang masih tertidur berbaring. Tepat, kini dia sudah berada di samping Luhan dengan posisi tubuh yang masih merangkak di atas kasur. Bahkan sisi-sisi wajahnya tertutupi oleh uraian rambut coklat tuanya.

“Ajeossi?” tangannya terangkat dan membelai pipi kanan Luhan dengan mata yang tetap terfokus ke wajah Luhan, “Apakah benar ini kau?”

Luhan masih tertidur pulas. Lelaki itu lelah setelah semalam ia hanya terjaga dari tidurnya karena harus terus memeluk tubuh Yura erat agar gadis itu tidak terjatuh sakit. Bisa dikatakan ia baru mulai tertidur setelah pukul 5 pagi dan kini jam yang tergantung di dinding sudah menunjuk pukul 8 pagi.

Tanpa berpikir banyak, Yura sudah yakin, pasti itu benar-benar Luhan. Seketika saja senyum lebar merekah di bibirnya dengan di selingi kekehan bahagia.

“Ajeossi aku merindukanmu.”

Yura segera memeluk tubuh Luhan dengan cara menelungkupkan badannya serta menenggelamkan pipinya di atas dada Luhan. Sementara Luhan yang merasakan gerakkan seseorang sedang memukul sesuatu benda di dadanya segera terbangun kaget.

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali, dan mengangkat kepalanya dari atas bantal agar melihat siapa orang yang telah berani mengusik tidurnya. Tentunya ia tidak akan marah, setelah tahu siapa gadis yang memeluk tubuhnya, Luhan hanya bisa menghembuskan napas lega. Dia pun meletakkan kepalanya kembali ke atas bantal.

“Apa kau sudah sehat?” Luhan bertanya dengan suara yang terdengar sedikit serak, khas suara orang yang baru terbangun dipagi hari.

“Apa?” Yura mengangkat kepalanya dari dada Luhan, kemudian dia menengadah dan menatap ke arah Luhan.

Luhan tersenyum damai dan merengkuh kepala Yura untuk kembali tertidur di dadanya.

“Semalam kau sakit. Yang ku rasakan tubuhmu gemetar kemudian napasmu terdengar memburu.”

“Apakah itu benar? Sungguh, aku tidak tahu menahu tentang itu. Yang ku ingat kemarin malam aku kecelakaan, setelah itu aku pingsan dan tidak mengingat apa-apa.” Suara Yura terdengar begitu polos.

“Tidak ada luka di tubuhmu. Dan aku senang karena kau sudah sehat.”

Yura bangkit dan duduk di samping Luhan yang terbaring. Dia menatap Luhan aneh, setelah itu ia mendesah kuat.

“Lalu bagaimana bisa kita bertemu lagi? Apakah orang yang menabrakku adalah kau?”

Untuk kali ini entah kenapa Luhan tidak ingin menjawab pertanyaan Yura. Sifat berlebihan gadis itu mulai muncul kembali. Tapi Luhan tidak bisa membohongi kalau ternyata ia merindukan sifat kekanakan itu. Luhan menelungkupkan badannya, kedua tangannya ia letakkan di bawah bantal yang kini sedang ia tiduri.

“Ajeossi!” Yura memanggil Luhan dengan suara rengekkan. Dia menarik-narik tubuh Luhan agar berbalik kembali ke arahnya. Namun tenaga yang ia punya tidak bisa ditandingin oleh tenaga Luhan yang notabennya memang seorang laki-laki.

Tentu saja Yura kesal dengan sifat Luhan yang sudah tidak asing lagi. Setiap saat dia bertanya, setiap saat juga Luhan mengacuhkannya seperti badut bodoh.

“Kau terlalu berlebihan.” Luhan mengucapkannya dengan mata yang terpejam. Dia sama sekali tidak berniat untuk berbalik ke arah Yura meski Yura kerap kali menarik-narik tubuhnya agar berbaring kembali.

Selagi Yura masih terus-terusan merengek sembari menarik kemeja serta memaksa tubuh Luhan berbalik. Luhan tentu tidak mengindahkan itu, sampai ia putuskan untuk berbalik cepat lalu menarik lengan kiri Yura spontan. Kini tubuh Yura terjatuh ke dalam dekapan Luhan, Luhan yang melihat Yura terkejut sembari mengerjapkan matanya beberapa kali hanya bisa menatap Yura nakal.

“Bukan aku yang menabrakmu.”

Yura mendesah pelan dan berniat bangkit dari atas dada Luhan. Namun Luhan dengan sigap menarik tubuh gadis itu kembali sehingga Yura tidak dapat beranjak dari posisinya yang sekarang.

“Kau tidak percaya?”

“Lepaskan, aku tidak mau mendengar apapun darimu.”

“Kenapa?”

“Karena tadi kau tidak ingin menjawabnya. Dan sekarang kau ingin menjelaskan apa lagi?”

Luhan menatap Yura jengah, kemudian tanpa aba-aba, dengan cepat Luhan merubah posisi tubuh mereka sehingga Yura kini yang berada di bawah. Tentu Yura kaget, gerakkan Luhan terbilang secepat kilat. Tanpa apapun Luhan sudah mengurung Yura di bawah tubuhnya meskipun Luhan tidak menindih tubuh Yura sepenuhnya. Luhan hanya berada di atas tubuh Yura yang berbaring dengan kedua tangannya yang menopang di sisi-sisi tubuh Yura.

“Kenapa? Apa kau takut?” semua ucapan Luhan itu terdengar pelan namun seperti ada siratan yang menggoda.

“Ti – ti – dak. Aku hanya marah padamu.” Yura berusaha untuk tetap tenang. Meski dia membuang tatapannya dari mata Luhan, namun kegugupan itu semakin terlihat jelas.

“Sudah ku katakan bukan aku yang menabrakmu.”

“Siapapun itu, aku tidak mau tahu.”

Yura berniat menyingkirkan tubuh Luhan dengan cara mendorong dada Luhan kuat. Ternyata tenaganya benar-benar lemah, untuk meyingkirkan tubuh Luhan saja dia tidak mampu sampai akhirnya Luhan bergerak cepat dan mencengkram kedua pergelangan tangannya kuat. Kemudian Luhan meletakkan kedua tangan gadis itu di sisi-sisi kepala Yura.

“Kau benar-benar tidak percaya?”

“Tidak! Dan sekarang menyingkirlah dari atas tubuhku.”

Sebelumnya Luhan tidak pernah melakukan itu pada Yura, kalau-kalau ia melakukan itu pada Yura. Pasti hanya untuk memberikan pelajaran saja pada gadis itu. Namun entah kenapa seperti ada rasa ingin dari pancaran kedua mata Luhan.

Yura terus-terusan bergeming dan menggeliat kuat. Sebelum ia menggerakkan kedua tangannya agar terlepas dari cengkraman Luhan, Luhan sudah terlebih dulu memajukan wajahnya dan membungkam bibir gadis itu dengan cepat. Luhan menekan bibir Yura dalam-dalam. Bahkan Luhan dengan sengaja menggigit bibir bawah Yura karena gadis itu belum sempat mengatup bibirnya rapat. Sehingga gigitan Luhan yang kuat membuat Yura melenguh tertahan. Sementara Yura hanya bisa memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Dia tidak berniat menatap mata Luhan yang dirasanya terlihat berbeda. Jelas itu bukan tatapan Luhan yang seperti biasa bila bersamanya. Bila dianalisa lebih dalam, Yura benar-benar seperti terhanyut, meski dia tetap menggeliat di bawah tindihan Luhan. Terlebih lagi bibirnya hanya diam saja seolah-olah membiarkan Luhan yang berkuasa dalam menjalankan ciuman mereka.

Pelan-pelan Luhan memberhentikan lumatannya pada bibir Yura. Dia mengangkat bibirnya dari atas bibir Yura perlahan namun terlihat tidak terburu-buru. Luhan menetralkan kembali napasnya yang kini terdengar memburu. Bahkan sama halnya, Yura merasakan napasnya juga tidak berjalan normal. Dada mereka terlihat naik turun tak menentu.

Kali ini Luhan tidak membungkam bibir Yura dengan terburu-buru. Dia menatap Yura lembut sembari membelai pipi gadis itu. Pelan-pelan dia bergerak maju dan ingin mencium Yura lagi. Sementara Yura hanya bisa pasrah dengan menatap Luhan polos. Namun suara pintu yang terbuka membuat Luhan memberhentikan gerakkan wajahnya ke wajah Yura. Dia menoleh ke belakang tepat ke arah pintu hotel yang kini sudah terbuka. Di sanalah dia dapat melihat Jong In berdiri di depan pintu hotel dengan menatap mereka kaget.

Memangnya siapa yang tidak terkejut? Mereka dalam posisi yang tidak lazim. Yura yang berbaring di kasur dengan Luhan yang berada di atas tubuhnya, lalu Luhan menindih tubuh gadis itu dengan penuh. Orang seperti Jong In saja terkejut, bagaimana orang lain yang juga ikut menyaksikan mereka dalam posisi yang seperti itu?

 

∞ Cry – Cry ∞

 

“Kau Luhan.” Jong In berbalik dengan telunjuk tangannya yang mengarah kewajah Luhan. Kemudian dia mengerang frustasi dan menjambak rambutnya pelan.

Luhan menyandarkan punggung badannya di depan pintu kamar hotel yang tertutup rapat. Dia menyilang kedua tangannya di depan dada dan menatap Jong In dengan tatapan yang tak bergairah. Tepatnya mereka berada di luar kamar hotel, tentunya Jong In yang mengajak Luhan untuk keluar kamar. Jong In ingin mendapat penjelasan lebih mengenai kejadian yang tadi.

“Kenapa?”

“Kau masih bilang mengapa?” Jong In terlihat serius dengan tatapannya yang seolah-olah sedang mengintimidasi Luhan, sementara Luhan terlihat tetap kalem.

“Apa kau mencintainya?”

“Maksudmu apa? Aku tidak mengerti. Dan sekarang aku ingin masuk. Mungkin Yura sudah selesai mandi.”

Sebelum Luhan memegang knop pintu, tangan Jong In sudah terlebih dulu memegang lengannya dan membuat Luhan berbalik kembali ke arahnya.

“Ayo jawab.” Setiap kalimat Jong In terdengar memaksa.

“Tidak ada yang perlu ku jawab dari pertanyaanmu itu.”

“Kalau kau mencintainya juga tidak apa-apa. Lagi pula kau dengan gadis itu tidak sedarah daging.”

Luhan mendesah letih, “Jangan sok tahu kau Jong In.”

“Ayolah Luhan, jangan pernah berbohong padaku. Selama aku mengenalmu, baru kali ini kau memperlakukan wanita meski aku tidak tahu apa yang sudah terjadi sebelumnya. Tenanglah, aku tidak akan membocori rahasiamu kepada siapapun.” Jong In menyeringai aneh dengan kedua alis yang terangkat berulang kali.

“Terserahmu saja mau menganggapku apa. Yang penting semua pemikiranmu itu adalah pemikiran yang bodoh.”

Luhan segera masuk kembali ke kamar hotel dan menutup pintu kamar hotel dengan meninggalkan Jong In sendiri di luar.

“Padahal terlihat jelas jika kau menyukai gadis yang telah kau rubah identitasnya itu. Kau benar-benar lelaki dengan pemikiran yang aneh Luhan.” Gumam Jong In kesal. Namun sedetik kemudian dia tersenyum senang.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Sejak tadi Luhan hanya menatap Yura dalam diam. Dia benar-benar lega karena melihat Yura duduk di hadapannya sembari memakan roti selainya dengan lahap. Luhan sengaja meluangkan waktunya agar dapat sarapan pagi dengan Yura. Lagi pula jam kerjanya akan dimulai sore hari nanti.

Mereka duduk di meja restoran yang berada di samping kaca etalase yang besar dan membuat mereka dapat melihat laut Okinawa yang indah dengan jelas.

“Apa kau benar-benar lapar?”

Yura mengangguk berulang kali dan memberi Luhan sebuah senyuman yang manis. Dia menyesap susu putihnya cepat setelah roti yang berada di tangannya sudah terlihat habis. Sementara Luhan tersenyum tulus ke arahnya dan menggapai puncak kepala gadis itu lalu mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas.

“Aku baru saja menyisir rambutku ajeossi. Kenapa kau mengacak-acaknya?” Yura meletakkan susu putihnya di meja dengan rasa kesal.

Tentu saja Yura terlihat kesal. Dengan sengaja Luhan mengacak-acak rambutnya, sampai akhirnya rambutnya yang tergurai menjadi berantakan.

“Kenapa kau tidak menguncir rambutmu menjadi kuncir dua?”

“Aku lagi tidak ingin menguncir rambutku karena bajuku adalah baju yang semalam aku kenakan.”

Luhan tertawa kecil dan menyandarkan punggung badannya ke sandaran kursi.

“Aku punya banyak karyawan wanita. Mungkin mereka ingin meminjamkan baju mereka untukmu.”

Raut wajah Yura berubah drastis. Dia merengut sembari mengerutkan kedua alisnya.

“Apa kau tidak berniat membelikanku baju? Mengapa harus meminjam baju kepada karyawan wanitamu? Tentu aku tidak akan mau menggunakannya.”

Luhan menghela napas dan mengambil sesendok nasi lalu menyodorkannya ke arah mulut Yura.

“Bukalah mulutmu.”

Yura memundurkan wajahnya ke belakang, lalu dia menatap sesendok nasi yang Luhan pegang dengan aneh.

“Aku tidak ingin makan nasi.” Tolak Yura kesal.

“Kau baru saja sakit. Apa kau ingin sakit lagi? Cepat, makanlah ini.”

Yura menghembuskan napas pasrah dan memakan suapan nasi dari Luhan dengan malas.

Luhan tersenyum kecil dan meletakkan sendok itu kembali ke atas piring nasinya.

“Masalah bajuku bagaimana, ajeossi?” Yura mengunyah makanannya secara perlahan sembari bertanya.

Luhan menatap Yura sekilas, kemudian dia menyuapkan sesendok nasi itu kemulutnya sendiri dan melihat laut Okinawa yang benar-benar indah melalui kaca etalase.

“Siang nanti aku akan mengajakmu pergi kebutik langganan perusahaanku.”

Yura tersenyum lebar dan menutup mulutnya tak percaya.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Tugas yang Jong In berikan kepada Hyera dan Eun Soo adalah mengobservasi lingkungan sekitar penduduk warga yang biasanya dijadikan tempat wisata. Tugas mereka ke tempat itu bertujuan untuk menganalisanya, apakah tempat itu layak untuk di datangi rekan bisnis Xiou Group dari Beijing atau tidak.

Ketika Hyera dan Eun Soo lagi sibuk-sibuknya berjalan beriringan dengan melihat daerah sekitar mereka yang begitu banyak semilir angin sejuk. Tiba-tiba saja Eun Soo yang membidik suatu objek yang terlihat jauh dari tempatnya segera tertegun dan menatap objek itu dengan sangat fokus. Sementara Hyera yang berada di sampingnya masih sibuk dengan tablet elektroniknya. Hyera juga tidak begitu peduli, dia lebih memilih duduk di salah satu bangku panjang dan sama sekali tidak ingin memperhatikan Eun Soo.

Eun Soo menurunkan kamera potographinya dari wajahnya, dia melihat seorang lelaki tampan berjalan beriringan dengan seorang gadis cantik. Lelaki itu benar-benar tak asing. Ternyata dia yakin bila itu adalah Luhan. Namun siapa gadis yang berada di samping Luhan? Sepertinya mereka saling mengenal, terlihat jelas bila gadis itu selalu berbicara dengan Luhan dan Luhan juga menanggapinya. Meski jarak Eun Soo dengan Luhan sangat jauh, Eun Soo yakin bila gadis itu dan Luhan saling tersenyum dan tertawa bersama.

“Kau melihat apa?”

Tanpa Eun Soo sadari Hyera sudah berdiri di sampingnya. Eun Soo tersentak dan menatap ke arah Hyera kaget. Sementara Hyera menatap Eun Soo malas dan memberi beberapa kertas hasil laporan kepada Eun Soo.

Cepat-cepat Eun Soo menerima hasil laporan itu.

“Tidak, aku tidak melihat apapun.” Sangkal Eun Soo cepat dengan gelagat yang terlihat gugup. Tujuannya seperti orang-orang pada umumnya. Dia hanya tidak ingin Hyera tahu bila dia baru saja melihat Luhan. Sebisa mungkin ia menutup-nutupinya.

Hyera menghela napas dan menyilang kedua tangannya di depan dada.

“Kau yang memimpin observasi ini. Lagi pula kau sudah menjadi sekretaris pribadi Tuan Luhan. Jadi kau yang akan memberi hasil laporan itu kepada Tuan Kim.” Secara tidak langsung Hyera sudah seperti menunjukkan rasa ketidak sukaannya pada Eun Soo. Ucapannya itu terdengar sangat dingin.

Eun Soo mengangguk paham dan menatap Hyera tenang. Sementara Hyera segera berlalu dari hadapan Eun Soo tanpa mau berlama-lama lagi. Sesungguhnya dia telah muak karena harus mendapat tugas yang sama dengan Eun Soo. Mengapa dia harus menerima kenyataan jika posisinya di kantor harus di renggut oleh orang seperti Eun Soo?

Sebelum Hyera benar-benar pergi, dia menyempatkan dirinya berhenti dan berbalik ke arah belakang. Dia bisa melihat Eun Soo lagi. Eun Soo terlihat membelakanginya yang seolah-olah sedang memandang suatu objek yang benar-benar menyedot perhatiannya. Akhirnya Hyera mengikuti arah pandang Eun Soo. Benar saja, apa yang Eun Soo lihat sudah dapat Hyera lihat. Ternyata Eun Soo melihat Luhan cermat yang berada sedikit jauh dari tempat mereka. Yang jelas Luhan duduk di sebuah bangku panjang yang berada di bawah pohon maple dengan seorang gadis cantik.

“Jelas sekali jika kau terlihat menginginkan Tuan Luhan. Kau benar-benar wanita berwajah topeng Eun Soo. Kau munafik.” Gumam Hyera pelan, setelah itu dia berbalik dan berjalan kembali meninggalkan tempat indah itu dengan raut wajah yang datar.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

“Aku mohon, dandankan Yura secantik mungkin dan berikan kado ini padanya.”

Hyera menerima bingkisan kotak besar yang berbalut pita cantik dari tangan Luhan. Wanita itu tersenyum meyakinkan pada Luhan dan segera membungkuk kecil.

“Baik Tuan, saya akan memberikan kado ini pada Nona Yura.”

“Aku percaya denganmu. Kau sudah bertemu dengan Yura walaupun hanya tadi siang. Dan Yura pasti benar-benar senang bila kau datang ke kamarnya.”

“Aku harap begitu.” Balas Hyera lembut.

Luhan menghela napas dan tersenyum kecil.

“Terimakasih Hyera.” Tangan Luhan terangkat dan memegang bahu Hyera pelan.

Kemudian Luhan memasukkan kedua tangannya di saku celana hitamnya dan berjalan pergi meninggalkan Hyera sendiri.

Tanpa berlama-lama lagi Hyera segera berjalan menuju lift. Berniat menghampiri kamar Yura yang terletak di lantai lima. Sebenarnya Hyera tak yakin jika dia bisa berteman baik dengan Yura. Meski mereka baru bertemu sekali, dia sudah dapat menyimpulkan jika Yura adalah gadis yang manis dan baik.

Sesampainya di depan pintu kamar hotel yang memiliki nomor 404, Hyera mengetuknya pelan dan menunggu Yura membukakan pintu. Pintu terbuka dan Hyera bisa melihat Yura mengenakan baju handuk yang menandakan gadis itu baru saja selesai mandi.

“Eonni?”

Hyera tersenyum ramah ke Yura, “Apakah aku boleh masuk?”

Yura mengangkat kedua alisnya bingung. Tidak lama setelah itu dia tertawa canggung dan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

Setelah Hyera masuk, Yura segera menutup pintu kamarnya dan menyusul Hyera yang sudah berada di depan cermin.

“Ini bingkisan dari Tuan Luhan. Dia menyuruhku untuk memberikan ini padamu. Apa kau baru saja ulang tahun?”

Yura mengangguk berulang kali dan tersenyum. Dia mengambil bingkisan dari tangan Hyera sembari membungkuk kecil.

“Benarkah?” Hyera bertanya dengan nada tak percaya, dia mendesis menyesal dan mengerutkan hidungnya, “Kalau begitu selamat. Maaf jika aku baru tahu sekarang Yura.” Hyera merubah raut wajahnya menjadi bersalah.

Yura berdecak, “Tidak apa-apa Eonni. Aku tidak mempermasalahkan itu. Lagi pula kita baru saja mengenal tadi sore. Jadi tidak ada salahnya bila kau mengucapkannya sekarang.”

Mereka saling tersenyum bersama.

“Sekarang bukalah hadiah dari Tuan Luhan.”

“Memangnya ini apa?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Hyera menggeleng kecil.

Yura berjalan menuju kasur dan duduk di tepi kasur. Pertama-tama dia melepaskan pita cantik itu, kemudian dia membuka tutup kotaknya dan melihat isinya dengan tatapan takjub.

“Cantik.”

“Memangnya isinya apa?” Hyera segera berjalan ke arah kasur dan duduk di samping Yura.

“Long dress, Eonni.” Yura mengeluarkan benda itu dari kotaknya dan menjerengnya di hadapan ia dan Hyera.

Long dress berwarna merah pastel yang berada di kotak itu benar-benar terlihat indah dengan adanya ornament-ornament kecil yang berada di sekitar pinggang. Tentu saja long dress itu memiliki model tanpa lengan.

“Ya, benar-benar cantik.”

Hyera melirik jam di dinding, jam sudah menunjuk pukul 19.00.

“Sekarang cepatlah kau pakai itu. Mungkin Tuan Luhan sudah menunggumu di luar.”

“Bukannya jam setengah delapan malam ia akan mengajakku keluar?”

Hyera menghembuskan napas dan merangkul Yura layaknya teman dekat.

“Kau tahu, bukankah kau baru saja berulang tahun? Mungkin saja Tuan Luhan akan mengajakmu ke suatu tempat yang tak kau duga.”

“Memang benar dia akan mengajakku ke suatu tempat. Tapi –” Yura terlihat ambigu.

“Sudahlah, cepat ganti bajumu. Setelah itu aku akan merias wajahmu.”

Hyera tersenyum menyemangati . dia bangkit dari duduknya dan menuntun Yura berdiri untuk berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit berlalu. Yura segera keluar dari kamar mandi dengan long dress merah pastelnya. Benar-benar terlihat cantik dan begitu anggun.

Seakan melihat pantulan Yura dari kaca cermin, Hyera segera berbalik ke belakang dan dia melihat penampilan Yura yang benar-benar sangat cantik.

“Kau cantik Yura.”

Hyera menatap Yura tak percaya sekaligus kagum. Lalu dia menepuk-nepuk kursi meja rias agar menyuruh Yura duduk di sana.

“Duduklah. Aku akan merubahmu menjadi seorang putri yang lebih cantik lagi.”

Pelan-pelan Yura berjalan, dia duduk di kursi itu dan menatap pantulan dirinya di cermin. Sementara Hyera cepat-cepat menyiapkan peralatan make up dan segera memonopoli wajah Yura. Kerjanya benar-benar cekatan, dia memulainya dari merias wajah lalu itu dia mulai menata rambut Yura dengan sangat rapi.

Beberapa menit berlalu dan Yura membuka matanya perlahan setelah Hyera menyuruhnya untuk membuka mata.

Yura tersenyum lebar dan menatap pantulan wajah di cermin dengan rasa tak percaya. Rambut yang tergerai panjang dengan sedikit bergelombang membuat dia semakin terlihat cantik. Juga poni pagarnya yang sangat dia banggakan sengaja di tata Hyera rapi. Juga wajahnya yang di beri make up tipis terlihat begitu simple. Matanya juga terlihat cantik dengan eye liner yang begitu tipis namun panjang. Matanya yang bulat terlihat sangat cantik.

“Eonni,”

“Ya?”

“Kau benar-benar sangat mahir dalam merias wajah. Ak – aku suka eonn.”

Hyera tertawa kecil dan memegang kedua bahu Yura dari belakang. Dia melihat tatapan mata Yura dari pantulan cermin.

“Bukankah Tuan Luhan adalah orang yang benar-benar baik? Bahkan kau memiliki seorang paman yang sangat mempedulikanmu.”

Senyum di wajah Yura memudar. Dia menatap cermin dengan tatapan menerawang.

“Aku pikir ajeossi tidak selamanya seperti itu. Kadang aku berpikir dia orang yang kaku dan juga dingin. Terkadang juga dia sering mengacuhkanku.” Keluh Yura dengan raut wajah sedih.

Senyuman Hyera di selingi oleh kekehan kecil.

“Oh ayolah Yura. Tersenyumlah. Memang Tuan Luhan memiliki tabiat yang seperti itu. Dia benar-benar orang yang dingin. Bahkan yang ku lihat dia tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Baru kali ini aku melihat dia berjalan dengan seorang wanita yang tidak lain adalah keponakannya,” Hyera menghela napas, “ Ku pikir dia benar-benar berubah bila berada di sampingmu. Dia benar-benar beruntung karena mempunyai seorang keponakan yang sangat cantik sepertimu.”

Yura tersenyum canggung dan berdiri dari kursinya.

“Terima kasih eonni.”

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Koridor hotel terlihat lengang. Dia berjalan seorang diri di lantai lima agar menuju lift. Sebelum menuju lift, pastinya Yura melewati kamar hotel Luhan yang berada di kamar nomor 337. Tentu saja dia berjalan sendiri, Hyera sudah terlebih dulu pergi dan meninggalkan Yura sendiri. Hyera sempat mengatakan jika dia memiliki perkerjaan lain yang harus ia tuntaskan.

“Ku harap ajeossi benar-benar memberikan kejutan yang special untukku.”

Yura menarik napas dalam-dalam dan tetap terus berjalan mengenakan high heels hitam. Dia benar-benar terlihat cantik dan juga anggun. Sesampainya di tikungan, Yura segera berhenti setelah melihat pintu kamar Luhan terbuka. Memang dia sedikit jauh dan berniat menghampiri kamar Luhan. Tapi langkahnya segera terhenti kembali, dia melihat Luhan keluar dari kamar hotelnya bersama dengan Eun Soo. Yang Yura tahu Eun Soo adalah orang yang tidak ramah. Bahkan wanita itu melihat Yura seperti seorang musuh. Tentu saja Yura masih mengingat itu. Bayangkan saja, mereka baru bertemu sekitar lima jam yang lalu. Itu semua tak mungkin Yura lupakan.

Yang Yura lihat. Luhan dan Eun Soo berdiri saling berhadapan di depan pintu kamar hotelnya yang tertutup rapat. Awalnya Yura terlihat biasa saja, sampai akhirnya dia terbelalak tak percaya. Dengan sengaja Eun Soo memegang kerah kemeja Luhan dengan tujuan membenarkannya lebih rapi.

Yura mendesis dengan raut wajah kesal. Dia segera berjalan menuju Luhan dan Eun Soo.

“Ajeossi.”

Eun Soo dan Luhan menoleh ke samping kanan. Mereka berdua melihat Yura kaget. Cepat-cepat Luhan mundur satu langkah ke belakang agar melepaskan pegangan Eun Soo pada kerah kemejanya secara tidak langsung. Sementara Eun Soo mau tidak mau menurunkan tangannya dan tersenyum ke arah Yura.

Luhan berdehem menormalkan, “Kau sudah siap?”

“Jika kalian masih mempunyai urusan. Aku akan menunggumu di lobi.” Yura menatap Eun Soo dan Luhan secara bergantian. Dia tersenyum kecil dan bergegas pergi dan sudah berlalu dari hadapan mereka berdua.

“Maafkan aku Tuan.” Eun Soo menunduk. Ucapannya terdengar seperti orang yang bersalah.

“Tidak apa-apa. Terima kasih karena kau sudah membantuku dalam menentukan baju yang akan aku kenakan malam ini.” Luhan tersenyum damai dan memegang bahu Eun Soo lembut.

“Ya.” Balas Eun Soo tak semangat.

Tanpa berlama-lama lagi, Luhan segera berlalu dari hadadapan Eun Soo dengan langkah lebar. Dia harus menyusul Yura, gadis itu terlihat kesal meski dia memaksakan satu senyuman.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

“Apa kau marah? Dari tadi kau hanya diam saja tanpa bicara.”

Kali ini Luhan berusaha menunjukkan kepeduliannya pada Yura. Yang jelas dia sudah tahu betul bagaimana tabiat Yura sesungguhnya.

Semilir angin pantai begitu sejuk. Benar-benar tempat yang romantis dan tak ada seorang pengunjung lainnya yang berada di sana. Ya benar, hanya mereka berdua saja yang terlihat di tempat itu. Tepatnya Luhan sudah mempersiapkan acara makan malam itu di sebuah meja persegi empat yang terletak tidak jauh dari pesisir pantai. Duduk saling berhadapan dengan di temani makanan khas Jepang yang tentunya makanan yang sangat Yura gemari.

Sama sekali Yura tak menjawab. Dia hanya memegang garpunya dengan menatap kosong kepiring makanannya.

Luhan tidak ingin hal ini terjadi. Bisa-bisa acara yang sudah dia persiapkan hancur begitu saja. Dia pun bangkit dari duduknya sembari merogoh saku celananya. Mengeluarkan kotak kecil yang berbentuk hati yang memiliki warna merah tua.

Segera Luhan mengambil posisi berdiri di belakang Yura yang masih terduduk. Luhan membuka kotak kecil itu dan mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang yang terbuat dari berlian. Kemudian dia membungkuk kecil dan memasang kalung itu di leher Yura. Sementara Yura tersentak kaget dengan bahu yang terlihat mengedik.

Cepat-cepat Yura menoleh ke kanan. Wajah Luhan begitu dekat dengan wajahnya. Yang ia tahu Luhan masih memasangkan sebuah kalung ke lehernya.

Setelah selesai, Luhan segera bertemu pandang dengan Yura.

“Apa kau suka?”

Yura menunduk dan melihat kalung pemberian Luhan yang sudah melingkar sempurna di lehernya.

“Ini apa?”

Luhan menghela napas, “Tentunya hadiah ulang tahunmu.”

Yura menggembungkan pipinya dan berniat bangkit dari duduknya. Hampir saja Yura berdiri, Luhan sudah terlebih dulu membuat gadis itu tidak dapat bangkit dari duduknya dengan cara memeluk leher gadis itu dengan lingkaran yang renggang. Memeluk dari belakang sembari menopang dagunya ke leher Yura.

Tentu saja itu membuat Yura kaget. Sejak kapan Luhan menjadi lelaki romantis seperti ini?

“Ajeossi?”

“Biarkan kita dalam posisi seperti ini.”

Selalu saja Luhan terlihat aneh. Setiap saat dia terlihat acuh pada Yura, setiap saat juga dia tampak tak acuh.

“Kau selalu seperti ini.” Ucap Yura datar.

“Tidak ada salahnya aku melakukan ini padamu.”

“Tidak salah bagaimana?” Yura menyikut perut Luhan pelan, sementara Luhan meringis kecil, “Aku ini keponakanmu. Bagaimana bisa kau selalu menciumku dan menyuruhku untuk selalu menuruti permintaanmu. Bahkan kau hanya menganggapku keponakan dan tak lebih.”

Luhan mengeratkan pelukannya dan melekatkan pipi kirinya ke pipi Yura.

“Kalau aku mengatakan aku mencintaimu. Apakah kau tidak merasa aneh?”

Yura mendengus dan berniat melepas pelukan Luhan. Namun Luhan tak membiarkannya, dia semakin mengeratkan lingkaran tangannya.

“Jangan di lepaskan.”

“Lepaslah. Aku ini bukan siapa-siapamu.” Tangan Yura terus saja berada di tangan Luhan agar lingkaran tangan itu terlepaskan.

“Kau ini keponakanku.”

“Lalu apa hubungannya dengan kebersamaan kita yang tidak biasa ini?”

“Maka itu aku memilih tempat yang jauh dari hotel agar kita bisa seperti ini.”

Luhan menyusupkan wajahnya ke leher Yura. Wangi melon manis menyeruak keluar dari tubuh Yura. Benar-benar sangat manis dan membuat Luhan hampir mabuk.

“Terserahmu saja.”

Kini Yura terlihat kesal, akhirnya dia pasrah dan diam saja dengan perbuatan Luhan yang terlihat aneh dan tak biasa.

“Lalu kenapa kau bisa berada di Jepang? Aku lupa menanyakan kenapa kau bisa berada di sini?”

Napas Yura tercekat. Dia menggigit bibir bawahnya gugup. Dari ekor matanya, Yura sudah bisa melihat Luhan menatap dirinya dengan serius.

“Ak – aku. Aku mengenakan uang tabunganku untuk datang ke sini.” Bohong Yura. Dia tidak mungkin mengaku jika dia pergi bersama Sehun dengan mengenakan pesawat pribadi yang tanpa passport.

“Mengapa kau bisa tertabrak oleh Jong In?” Luhan terus saja bertanya. Jawaban Yura terdengar sangat ganjal.

Yura mengatup bibirnya dan tak ingin melihat wajah Luhan yang berada di sampingnya. Bahkan wajah Luhan yang begitu dekat dengannya membuat Yura merasakan kehangatan pada pipi kanannya.

Yura berdecak, lalu dia melepas pelukan Luhan dan bangkit dari duduknya.

“Pada saat itu ada orang yang menyuri tasku dan semua passport dan barang-barang ku lenyap. Aku mengejar pencuri itu. Tapi aku malah tertabrak oleh temanmu yang bernama Jong In.” Sebenarnya Yura tidak terpikir mengucapkan semua ucapan itu. Tapi dia berpikir kembali, mungkin jawabannya yang itu terdengar cukup logis.

“Kau tidak berbohongkan?”

Raut wajah Luhan seolah-olah mengintrogasi.

“Sudah ku katakan itu benar.” Yura tetap bersikukuh dengan ekspresi keras kepala.

“Baiklah aku percaya. Ketika kita pulang kau akan menggunakan passport untuk sekali penerbangan. Setelah sampai di Korea kau harus mengurus passportmu kembali.”

Yura menghembuskan napas lega karena dengan mudah dia dapat membodohi Luhan. Sesungguhnya Luhan tidak mudah ditipu begitu saja. Luhan masih dapat berpikir jika pengakuan Yura terdengar konyol. Namun dia tidak ingin merubah suasana itu, sampai akhirnya dia mengucapkan kata percaya.

Satu-persatu rintikan hujan turun. Yura dapat merasakan jika air yang turun dari langit membasahi pipi kanannya. Dia menengadah, melihat langit malam yang benar-benar gelap. Air hujan detik kedetik semakin turun dan tak terhitung. Yura yang menyadari itu segera menatap Luhan, ternyata lelaki 28 tahun itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Tanpa berpikir banyak, Luhan segera menggenggam pergelangan tangan Yura dan menuntun gadis itu berlari. Mereka sampai ke sebuah teras motel yang terletak tidak jauh dari pesisir pantai.

Luhan menoleh, dia bisa melihat Yura memeluk tubuhnya seolah-olah gadis itu merasa dinginnya angin hujan. Luhan juga bisa melihat jika Yura terlihat sedikit basah. Yang jelas mereka berdua sama-sama terlihat sedikit basah akan air hujan.

Tanpa bertanya, Luhan melepas tuksedo coklatnya dan memasangnya kepundak Yura. Sementara Yura menatap Luhan bingung.

“Pakailah.”

Yura merapatkan tuksedo yang berada di pundaknya. Dia benar-benar terlihat menggigil, Luhan yang melihatnya merasa iba dan segera memeluk tubuh mungil gadis itu.

“Apa sudah merasa hangat?”

Yura bergumam. Luhan semakin merapatkan pelukannya dan merengkuh kepala gadis itu di dadanya.

“Sejak kapan badai hujan datang? Bukankah ini musim panas?” Ucapan Yura terdengar mengeluh dan tubuhnya semakin terasa dingin.

Luhan tahu jika gadis itu paling tidak bisa terkena apapun. Gadis itu mudah jatuh sakit dan Luhan tahu itu.

Luhan mengedarkan pandangannya. Dia melihat motel itu dan berniat menyewa sebuah kamar. Prediksi cuaca mungkin akan sangat buruk dan tidak bisa berhenti begitu saja, Luhan sangat yakin itu. Segera Luhan merangkul bahu Yura dan menuntun gadis itu memasuki lobi motel.

“Apa ada yang bisa saya bantu?”

Seorang wanita paruh baya yang berada di meja reseption segera bertanya dengan senyuman. Tentunya juga menggunakan bahasa Jepang yang fasih.

“Aku membutuhkan sebuah kamar.” Luhan juga menjawab dengan bahasa Jepang yang terdengar fasih.

“Maaf Tuan, kamar di sini hanya tinggal satu kamar lagi. Apakah anda masih ingin menyewanya?”

Luhan melirik Yura sekilas, setelah itu dia mengangguk pasti.

“Baiklah. Apakah dia istri anda? Sepertinya dia terlihat tidak sehat. Aku akan membuatkan ramuan teh untuknya agar istri anda sehat kembali, kalian benar-benar serasi. Kau dan istrimu terlihat sangat mudah.”

Meski wanita paruh baya itu menggunakan bahasa Jepang. Namun Luhan mengerti apa yang sejak tadi dikatakan wanita paruh baya itu.

“Benar dia istriku.” Jawab Luhan tenang.

Wanita paruh baya itu terkekeh kecil dan setelah itu memberikan sebuah kunci kamar kepada Luhan.

 

∞ Cry – Cry ∞

 

Luhan menyingkapkan selimut tebal berwarna putih ke tubuh Yura. Gadis itu berbaring di kasur sementara Luhan duduk di tepi kasur untuk memastikan gadis itu tertidur.

“Kau tidurlah di sini. Aku akan tidur di bawah.”

Baru saja Luhan ingin melangkah pergi, tangan Yura sudah terlebih dulu memegang pergelangan tangan Luhan lembut dan membuat Luhan duduk kembali.

“Tidurlah bersamaku.”

Raut wajah Yura terlihat memelas. Dia benar-benar tak mengizinkan Luhan untuk tidur di bawah. Terlebih lagi hujan di luar terdengar begitu deras. Juga sesekali petir menyambar keluar dengan di sertai suara gemuruh yang kuat.

Luhan menghela napas. Tanpa berlama-lama lagi dia bangkit dari tepi kasur dan berjalan menuju sisi kiri kasur. Segera Luhan naik ke kasur dan berbaring di samping Yura. Dia juga menyingkapkan selimut di tubuhnya. Pastinya mereka tertidur di satu kasur dan juga berbalut dengan selimut yang sama.

“Apa kau ingin aku mematikan lampu?”

Yura menggeleng pelan. Dia menatap Luhan sendu dan mulai berpaling menghadap ke kanan. Dia tertidur dengan meringkuk ke arah kanan.

“Tidak. Aku takut kegelapan. Kau tidurlah ajeossi. Ku harap kau tidak tidur di bawah karena aku tidak menginginkanmu sakit. Bila kau risih, aku tidak akan menghadap ke arahmu.”

Perlahan Yura memejamkan kedua matanya. Entah kenapa dia benar-benar merasa lelah. Badannya juga terasa sangat dingin. Mungkin long dress yang ia kenakan belum sempat ia ganti. Jelasnya Yura tak memiliki baju ganti apapun untuk ia kenakan.

Dengan sengaja Yura menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia menyembunyikan wajah serta tubuhnya di dalam selimut. Meski dia menyembunyikan tubuhnya. Luhan yakin jika gadis itu tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Bahkan Luhan bisa mendengar jika gadis itu terisak pelan, Luhan masih mampu mendengarnya walaupun suara gemuruh sering kali terdengar.

“Yura,”

Tidak ada jawaban, Yura masih berada di dalam selimut tebal itu dengan bergeming pelan. Selimutnya terlihat bergerak, isakan kecil itu semakin lama semakin terdengar dari arah samping kanan Luhan meski suara itu terdengar sangat-sangat pelan.

“Apa kau menangis?”

Satu jawabanpun tidak ada keluar dari mulut Yura. Ini sama saja dia menangis dalam diam seolah-olah menutupi rasa sakitnya seorang diri tanpa ingin Luhan tahu.

Cepat-cepat Luhan merubah posisi tidurnya menghadap ke kanan. Dia bergeser perlahan dan merapatkan tubuhnya ke punggung Yura. Luhan mengangkat kepala gadis itu dan menjadikan lengan kanannya sebagai bantal darurat untuk kepala Yura. Juga dia merengkuh kepala gadis itu ke dadanya dan menopang dagunya ke puncak kepala Yura.

“Jangan menangis.”

Tangan Luhan memeluk tubuh Yura erat. Mendekap tubuh gadis itu dalam pelukan tidur. Tentunya Yura masih menghadap kanan sementara Luhan memeluk tubuhnya dari belakang.

Yura menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya, “Aku teringat dengan ayah, ajeossi.”

Luhan tertegun, napasnya terasa tercekat dan ia melepaskan pelukannya pada Yura dan mulai berbaring kembali.

“Maafkan aku.”

Yura berhenti terisak. Dia menoleh ke belakang dan merubah posisi tidurnya menjadi berbaring. Yang jelas dia melihat Luhan memejamkan matanya dan bergumam pelan. Tentu Yura masih bisa mendengar gumaman Luhan yang terdengar asing.

Mengapa lelaki itu meminta maaf? Setahunya mereka tidak ada mempermasalahkan apapapun sejak tadi pagi.

“Minta maaf untuk apa?”

“Karena aku tidak pernah menjagamu dengan baik sehingga kau sering sekali mengingat ayahmu kembali.”
Luhan menoleh ke arah Yura. Tatapan keduanya saling bertemu. Saling menatap dalam diam dan tanpa sadar Yura menelungkupkan badannya dan mendekati wajah Luhan dengan cara blak-blakan. Tangannya mengeksplorasi dada Luhan hingga sampai kewajah lelaki itu. Kedua mata mereka seakan menghipnotis satu sama lain. Juga Yura menangkup kedua pipi Luhan dan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Pelan-pelanYura menyatukan bibirnya pada Luhan dan benar saja bibir Luhan dan Yura sudah menyatu.

Oh, ini tidak mungkin. Yura yang memulai ciuman itu terlebih dulu.

Tangan Luhan yang tergeletak di sisi-sisi tubuhnya mulai terangkat dan memegang pinggang gadis itu secara sempurna. Luhan tentu tahu memulai ciuman itu dari mana. Namun dia membiarkan Yura sendiri yang bergerak dalam ciuman mereka. Lumatan kecil itu Yura berikan pada bibir Luhan. Karena posisi Yura yang berada di atas Luhan otomatis rambutnya yang tergerai panjang menyibak ke wajah Luhan dan menutupi kedua wajah mereka.

Luhan berinisiatif merubah posisi tangannya yang berada di pinggang Yura menjadi mengeksplorasi sisi-sisi tubuh Yura yang hanya di balut oleh long dress tanpa lengan. Tangan Luhan berjalan di seluruh tubuh Yura dan menangkup kedua pipi gadis itu dan menyelipkan anak rambut Yura ke belakang telinganya. Luhan juga menarik leher gadis itu kebawah agar ciuman mereka semakin dalam. Dan Luhan mulai bermain dengan bibir Yura cepat. Mulai melumatnya cepat dan terkesan buru-buru.

 

 

-TBC-

 

PASTI PADA KEPPO BADAI NI… OK TENANG AJA MASIH ADA CHAPTER SELANJUTNYA. LAGI PULA KALIAN BILANG FF INI DI DIPRIORITASKAN? OK AKU SETUJU, KARENA AKU YANG NULIS JUGA KEPPO SAMA REAKSI KALIAN TENTANG LANJUTAN FF INI YANG TAK KAN TERDUGA. HEHEHE. GIMANA? KENA OBESITAS KALIAN KAN KARENA AKU SUGUHI DENGAN MOMENT YUHAN COUPLE YANG BIKIN ENVY…

 

OK AKU TUNGGU KOMENT KALIAN YANG PANJANG.

SARAN DAN KRITIK AKU TERIMA GUYSS..

KALO ADA TYPO BILANG LETAKNYA DIMANA, AKU KAGAK MAU BACA ULANG. MATAKU BISA BELERAN BACA ULANG CHAPTER INI YANG BENAR-BENAR PANJANG AMAT…

PAI..PAI.. SAMPAI JUMPADI  COMING SOON MY PERFECT GIRL…

 

_CHOI YURA_

 

 

 

16 responses to “Cry-Cry Chapter 6b – Choi Yura

  1. Astaghfirullah sahur baca ini tuh sesuatu banget emang ya. Sehun gimana sih masa Yura ditinggalin gitu aja sih di jepang? Walaupun dia udah nyuruh orang untuk nyari Yura tapi tetep aja kan harusnya dia gak boleh ninggalin Yura gitu aja apalagi Yura dibawa ke jepang dadakan kan, untung aja dia ketemu Luhan kalo enggak udah gak tau nasibnya Yura gimana deh. Tapi nih yaaaaa gak tau kenapa aku malah lebih dukung kalo Yura itu sama Sehun loh walaupun Sehun dingin gitu tapi aku dukung Sehun lah pokoknya

  2. ya ampun mulai panas nich jadi sebenarnya mereka saling mencintai dalam diam aduh makin gk sabar nunggu kelanjutannya sampai ending…
    keren keren chingu

  3. bener thor aku obesitas banget sama couple yuhan.. so sweet abisss..
    oh ya,, jangan bilang kalau eun soo itu jadi penghambat hubungan yuhan..
    aku benci banget deh sama karakternya eun soo..

  4. Hua puas banget bacanya panjaaaaang’-‘
    Nice chapter banget thor banyak yuhan moment omg so sweet bingit :3
    Disini yang bakal jadi pengganggu hubungan mereka so eun soo sama sehun yaa? -_-
    Okelah aku penasaran banget sama kelanjutannya, ditunggu yess^^

  5. wawawa eonni diabet jd ny pas baca adegn yura ama luhan so sweet bingittt ……
    si yura nya sadar ya eon klw dia cinta ama luhan? trus sehun kok tegaa amat sih plang duluan nggk pnya hati deh ..
    ya udh deh eon smpe sni aj kmn ny nggk tw mw ngomong apa lg .. keep writing aj deh ya

  6. rasa pnasaran di chap 6a sudah terjawab,,tp skrang jd penasaran lg gmna kelanjutanya,,,
    itu diawal emang kata presenti apa presentasi ya ?? trus ada yg kbalik juga penulisanya.
    yang penting sih ceritanya bagus,,luhan dan yura udah saling terbuka dengan perasaan mereka.
    tp sehun gmna tuh,,beneran dia balik ke korea??
    wah…ditunggu kelanjutnya ya

  7. ya ampun, kenapa mesti tbc sih ……
    beneran lagi asik-asiknya baca deh, ini serius
    ditunggu chapter lanjutannya

  8. wah ini baru luhan-yura moment itu jongin ganggu aja ya. trus sehun tega banget sama yura ditinggalin sendiri di jepang kasihan kan. ditunggu next chap ya thor

  9. Wahhh hubungan mereka udh mulai mesra nih, nah nasib sehun gimana tuh ya.. tegang thor bacanya. Lanjut

  10. Penasaran bgt sama chapt berikutnya. Lagi asik” baca tiba” tbc ‘-‘ . Eun soo disini suka sama luhan ya? Ditunggu chapt berikutnya ya

  11. yeay akhirnya luhan mengungkapkan bahwa ia menyukai yura dan apa reaksi yura jika sebenarnya luhan bukan pamannya.
    dan apa yang akan direncanakan eun soo untuk merebut luhan dari perhatian yura..
    mudah-mudahan luhan dan yura bisa bersama ..
    oh ya part sehhn disini sedikit sekali thor..
    next chapternya dibanyakkan lagi ya partnya..
    mungkin rahasia yura sebagai putri tuan choi tidak akan lama lagi..
    mungkin juga sehun akan merebut yura dari luhan..
    ceritanya semakin menarik dan membuat penasaran.next chapternya jangan lama-lama ya thor..
    keep writing

  12. yeay akhirnya luhan mengungkapkan bahwa ia menyukai yura dan apa reaksi yura jika sebenarnya luhan bukan pamannya.
    dan apa yang akan direncanakan eun soo untuk merebut luhan dari perhatian yura..
    mudah-mudahan luhan dan yura bisa bersama ..
    oh ya part sehun disini sedikit sekali thor..
    next chapternya dibanyakkan lagi ya partnya..
    mungkin rahasia yura sebagai putri tuan choi tidak akan lama lagi akan diketahui oleh sehun dan eun soo akan membuat yura jauh dari luhan..
    mungkin juga sehun akan merebut yura dari luhan..
    ceritanya semakin menarik dan membuat penasaran.next chapternya jangan lama-lama ya thor..
    keep writing

  13. owh my… yuhan couple momentnya bener”hot..
    bikin penasaran ama kelanjutannya ..udah tegang ama alur critanya eh malah tbc..
    hmm lanjut chap ditunggu thor…
    hehehe
    owh ea sehunnya kemna thor kok abis ngobrol ama yixing langsung hilang jach..
    hehehe
    next chap di tunggu
    miann kalau nyinggung koment q thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s