[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 17)

Devil Beside Me Chapter17_2

 

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 17)

Author :: Sangheera
Title :: Devil Beside Me (Chapter 17)
Cast :: Luhan of EXO as Angel, Kris of EXO as Devil andSera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao.
Genre :: Sad, Romance, Fantasy
Length :: Multi Chapter
Rating :: PG-17

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 || 11 || 12 || 13 || 14 a || 14 b || 15 || 16 ||

Note :: Sepertinya banyak reader yang masih menganggap Lucifer = iblis. Dalam cerita ini, Lucifer adalah malaikat. Jadi jangan bayangin Lucifernya punya sayap hitam yah! Lucifer hanya malaikat yang dihukum, bukan dikutuk menjadi iblis. Iblis itu udah diciptakan sendiri. Jadi dulu, Sang Maha Pencipta menciptakan 9 malaikat dan 1 iblis. Lalu kemudian barulah Adam diciptakan. Oiyaaa… tapi mohon untuk jangan mempercayai kisah ini sebagai kisah yang real. Lagi-lagi author ingetin, kalau kisah iblis dan malaikat ini Cuma karang-karangannya author aja. Kebetulan author-nya make nama-nama malaikat yang udah familiar. Oiya, chapter ini terinspirasi dari MV Overdose… hehe.

 

-o0o0o0o-

 

Even if there was just one, I suppose I wouldn’t have
one reason where I shouldn’t love you

 

Even on the hardest of days, even on the most sleepless of nights
I’m good as long as I have you

 

From the first moment we met without forgetting for even a single day…
I only love you

 

 

:: SERA POV ::

Kenapa semua gelap?

Berapa lama lagi aku harus berjalan? Semua gelap. Dimana jalan keluarnya??

Luhan?

Dimana Luhan?

Kenapa ia tidak ada disampingku? Kenapa ia meninggalkanku sendirian ditempat gelap ini?

Ahh… ada cahaya…

Aku mencoba membuka sedikit mataku yang terasa berat. Seolah ada beban ribuan ton yang mengganjal kelopak mataku. Kepalaku terasa pening. Namun aku merasakan tubuhku kebas dan sulit kugerakkan. Aku bahkan merasa sulit mengangkat tanganku sendiri. Kenapa aku seperti ini?? Ah iya, aku tadi hampir mati karena sakit.

Inderaku menangkap suara-suara berisik disekitarku. Mengeryit. Bau anyir menyergap indera penciumanku.

Penglihatanku kabur. Aku menangkap siluet seseorang berambut emas kecoklatan berdiri disampingku. Menunduk. Nampak sedang merapal mantra. Pipi pria itu berbercak merah darah.

Apa yang ia lakukan?

Aku mengedipkan mataku perlahan. Mencoba memperjelas pandanganku.

Pria itu nampak membungkuk untuk mengambil sesuatu yang ada diatas tubuhku—atau ditubuhku? Uh… aku tidak bisa melihat dengan jelas karena tidak bisa mengangkat kepalaku. Leherku seperti tertahan oleh sesuatu.

Saat kemudian pria itu menegakkan tubuhnya, samar-samar aku bisa melihat gumpalan berbalut darah kehitaman ditangan pria itu. Gumpalan berdenyut yang mengerikan. Gumpalan itu serupa jaringan organ tubuh yang mengkilap karena lumuran darah.

Tapi anehnya, aku merasakan dadaku nyeri melihat gumpalan itu. Ada perasaan tak rela saat pria itu membawa gumpalan itu pergi. Dan air mataku meleleh saat mataku terasa berat kembali.

Lalu semua kembali gelap. Aku terseret kembali kealam bawah sadarku.

 

:: LUHAN POV ::

Lucifer jatuh cinta pada Seraphim. Malaikat suci itu menodai dirinya dengan perasaan cinta menggebu pada malaikat sempurna bernama Seraphim.

Itu… salah satu petikan kalimat yang ada dibuku LUCIFER ‘Secret of the Fallen Angel’.

Kenapa kalimat itu dicetak tebal dengan warna merah menyala seperti itu? Seolah memintaku untuk membacanya. Iya. Iya. Aku membacanya sekarang. Lalu kenapa? Apa hubungan kalimat itu denganku? Apa sekarang kau sedang memintaku memecahkan sebuah misteri? OK. Aku ikuti permainanmu. Bagaimana jika satu petunjuk lagi, hm?

Lembaran buku itu tiba-tiba saja berubah menjadi wajah bulat, pipi tembam, mata sipit, bibir berlekuk dan rambut coklat yang mencuat disana-sini. Wajah Xiumin saat ini nampak begitu serius sebelum akhirnya berkata…

“Aku membisikkan cerita ini pada manusia dan dia menulisnya. Tidak kusangka buku ini sampai ketanganmu…”

Lalu pria yang berdiri didekat jendela itu bertanya. Uh… bukankah itu aku? “Kisah tentang apa?”

“Lucifer dan Seraphim…”

Ada jeda sejenak. Kebekuan yang ganjil. Hingga akhirnya diriku yang lain itu melontarkan pertanyaan.

“Dimana Lucifer berada?”

Wajah Xiumin datar, tapi matanya menatap dengan sinar misterius yang membuatku penasaran. Seperti sebuah bisikan didalam video yang dimode slow motion, petunjuk kedua diluncurkan. Lucifer sekarang terkunci disuatu tempat. Dan tidak ada yang boleh membebaskannya…

Terkunci disuatu tempat? Dimana itu? Apakah ditempat yang bisa aku jangkau??

Misalnya…

didalam ingatanku.

Aku tersentak bangun.

Aish… Dari bibirku keluar erangan pelan saat kurasakan tubuhku pegal dan nyeri luar biasa, ditambah kepalaku yang terasa pening dan seolah bisa meledak sewaktu-waktu. Aku mencoba mendudukkan tubuhku, terdengar suara seperti tulang-tulang patah saat engsel tubuhku kugerakkan. Sakiiiiit. Apalagi saat perutku tertekuk, aku merasa tersiksa dengan rasa nyeri didadaku. Ukh… pukulan Suho pasti meninggalkan bekas lebam.

Ah iya Suho… Suho meninju dadaku saat itu. Saat…

Memori diotakku memutar kembali kejadian saat di gereja Vaduz. Saat Visi Lay menjadi kenyataan.

Sera…

Namun baru saja tubuhku hendak bangkit, aku menyadari ada yang salah dengan diriku. Lebih tepatnya dengan tempat dimana diriku berada saat ini. Dibawah tubuhku, bukan lagi lantai marmer gereja yang dingin, tapi pasir. Lalu disekitarku, bukan lagi dinding gereja yang penuh warna dan ornamen—yah, walaupun mungkin setelah pertarungan kemarin semua dinding itu hancur—melainkan tembok-tembok berwarna abu-abu yang kusam. Aku mendongak dan mendapati langit-langit yang seluruhnya hitam. Tempat ini terlalu suram dan abu-abu. Tidak ada warna lain. Tempat apa ini? Tidak, bukan saatnya memikirkan dimana aku sekarang. Aku harus segera mencari Sera! Aku harus menemukan jalan kedunia bawah segera. Segera… sebelum hal yang semakin buruk terjadi pada gadisku.

Perlahan aku berdiri, tanganku menopang tubuhku dengan bertopang pada dinding disebelahku. Terseok, karena sakit yang begitu menusuk dibagian dada, aku berjalan menyusuri tempat aneh ini.

Rasa sakit yang mendera tubuhku bahkan tidak separah apa yang kurasakan dihatiku saat kembali memikirkan Sera. Apa yang sebenarnya terjadi? Saat aku tidak mengawasinya dan sibuk bertarung dengan Kris, apa yang sebenarnya Sera alami hingga ia kesakitan seperti itu? Apakah selama menyerangku Kris memberikan kutukannya pada Sera? Ataukah ini perbuatan Suho? Saat Suho memanggil Kris apakah saat itu ia memanggilnya karena Sera telah sukses ia lumpuhkan. Uh… aku tidak tahu.

Aku tidak melihat wajahnya. Aku hanya mendengarnya mengerang kesakitan dan terbatuk dengan darah berceceran dilantai. Tapi aku hampir-hampir tidak dapat melenyapkan bayangan Sera yang muncul dari visi Lay, saat Sera begitu kesakitan dan memanggilku. Tapi aku tidak menghampiri Sera. Aku tidak ada saat gadis itu terluka.

Brengsek! Kau benar-benar pria brengsek tak berguna, Luhan. Kau tidak bisa melindungi gadis yang kau cintai!

“Sss… sial!”desisku merutuki diriku sendiri.

Semua sel ditubuhku seolah berperang melawan diriku sendiri karena terus saja memunculkan rasa sakit setiap aku bergerak. Aku butuh Lay. Metabolisme tubuhku entah mengapa tidak segera menyembuhkan diri seperti biasa. Padahal aku butuh tubuh yang kuat jika ingin melawan Kris. Tidak. Bukan saatnya mengeluh dan merutuki dirimu yang menyedihkan ini, Lu. Kau harus segera menemukan Sera. Percepat langkahmu!!!

Tapi tempat ini aneh. Aku terus berputar, berbelok ketika kedua dinding dikanan-kiriku membentuk kelokan. Memilih salah satu jalan jika kedua dinding dikanan kiriku membelah menjadi dua dan membentuk pertigaan. Tapi jalan keluar tak juga kutemukan. Tidak ada cahaya. Semuanya remang dan terlihat sama. Aku berputar. Mungkinkah aku telah salah jalan? Apakah seharusnya aku mengambil jalan sebelah kanan bukannya sebelah kiri dipertigaan tadi?

Dengan masih menyeret kedua kakiku dan berpegangan pada dinding, aku berjalan kembali melewati jalan yang tadi telah kulalui. Tapi lama berselang, aku tidak lagi menemukan pertigaan tempat aku berbelok tadi. Aku kebingungan. Apa aku salah perhitungan? Apa bukan disini pertigaan itu tapi masih jauh didepan sana?

Terus dan terus kakiku melangkah menyusuri koridor abu-abu ini. Hingga akhirnya aku menghentikan langkah karena merasa tempat ini semakin tidak wajar. Berapa lama aku berjalan, tapi tidak ada hal yang berubah. Seolah aku hanya berputar-putar disuatu tempat. Koridor panjang ini tak berpintu. Saat aku memikirkan kemungkinan adanya pintu rahasia, aku mengawasi dengan teliti bentuk dinding disekitarku. Merabanya, karena mungkin pintu itu disamarkan agar serupa dengan dinding sehingga tidak mudah ditemukan. Tapi, aku tidak bisa menemukan apapun disini.

Perasaan panik mulai menyelimutiku. Jika terus seperti ini, aku akan terlambat menemui Sera. Gadis itu bisa lebih sakit jika aku tidak segera merebutnya dari tangan Kris. Kris bisa terus melukainya. Tidak… tidak boleh. Aku harus keluar dari sini segera. Harus!!

Tapi tempat ini benar-benar membuatku frustasi. Meski aku berteleport, aku akan mendarat ditempat yang persis sama. Lalu ketika aku dengan sisa tenagaku mencoba untuk terbang, aku hanya akan terus naik keatas. Terus menerus sementara dinding dikiri kananku juga seolah ikut memanjang keatas. Namun saat aku menengok kebawah, aku menyadari ternyata aku tidak meninggalkan daratan lebih dari 3 meter dibawahku. Apa-apaan ini??

“Labirin… ini labirin…”desisku, putus asa. Aku hampir saja menyerah jika saja aku tidak ingat bahwa aku harus segera keluar dari sini. Labirin ini pasti memiliki ujung. Ya, aku hanya perlu menemukan ujungnya dan keluar dari tempat ini.

Kakiku terus kulangkahkan, bahkan rasa sakit kini sudah tidak kupedulikan lagi hingga lambat laun hilang begitu saja. Metabolisme tubuhku sepertinya telah berhasil menyembuhkan luka-luka ditubuhku. Aku sekarang punya kekuatan untuk setidaknya mempercepat langkahku. Sembari memperhitungkan jalan mana yang harus kulalui agar tidak semakin terjebak masuk semakin dalam.

Namun aku harus menelan kekecewaan. Karena saat aku pikir aku akhirnya telah menemukan ujung, aku malah menemukan sebuah ruangan persegi enam yang kosong. Sial. Bukannya keluar, aku malah masuk hingga kepusat labirin.

Bukankah kemarin Suho yang membuatku pingsan, pasti dia juga yang membawaku ketempat ini. Ukh, bahkan sekarang aku tidak yakin lagi dengan kata ‘kemarin’. Berapa lama aku tidak sadarkan diri ditempat ini? Apakah Sera baik-baik saja sekarang?

“Ukh… Sera…”Aku menjatuhkan tubuhku kelantai pasir. Menumpu tubuhku dikedua kakiku yang tertekuk. Kepalaku seolah hendak meledak saat pikiran-pikiran buruk membombardirku. Kujambak rambutku kuat-kuat. Frustasi. “ARRRGGGGGHHHHH!!!!!!!”

Saat itulah aku merasakan udara disekitarku berubah. Aku masih dikuasai emosiku saat aku melihat, sepasang kaki melangkah mendekatiku. Dengan mata yang telah basah, aku mengarahkan mataku keatas, untuk melihat siapa orang yang dihadapanku sekarang.

Suho!

Sekuat tenaga, meski agak terhuyung, aku berdiri menghampiri Suho dan mencengkeram kerah bajunya kuat-kuat.

“Keluarkan aku dari sini atau aku akan membunuhmu!”

“Tidak, Lu. Bukan kehendakku untuk mengurungmu disini. Aku tidak bisa mengeluarkanmu…”

Tubuhku terhuyung. Genggaman tanganku terlepas. Jika bukan kehendak Suho, berarti…

“Tidak mungkin!”Aku menggeleng kuat-kuat. Yang Maha Kuasa tidak mungkin melakukan ini padaku. Beliau tidak boleh… tidak… aku tidak boleh ada disini. Aku harus mencari Sera.

“Lu…”Suho menangkap tanganku ketika aku berbalik hendak kabur. Mataku gagal mendapat fokus. Dunia seolah berputar. Ah ya… akhirnya aku dihukum. Tiba-tiba semua terasa begitu mengerikan. Labirin ini… dan kehilangan Sera… apalagi yang lebih buruk dari itu semua. Aku kehilangan daya, bahkan untuk sekedar menopang tubuhku.

“Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk melepas gadis itu…”sesal Suho sembari menurunkan tubuhnya agar sejajar denganku yang terpuruk dilantai. “Kau tidak boleh, Lu. Malaikat tidak boleh memiliki cinta seperti ini…”

Aku memandang Suho dengan tatapan sinis. “Karena aku akan berakhir seperti Lucifer? Apa kau pikir aku takut jika diusir dari surga?”

Suho nampak terperangah mendengar kata-kataku. Aku membuang muka dan memilih mencoba untuk berdiri kembali. Tangan Suho yang mencoba memegangiku, kutepis kasar.

“Kau hanya akan membunuhnya lagi jika terus saja berusaha menemuinya, Lu. Itulah mengapa kalian tidak boleh bersama…”

Langkah kakiku terhenti.

“Kau ingat kata-kata Kris, bahwa kau tidak boleh membunuh Seraphim… lagi. Dia benar. Kau tidak boleh, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena itu—”

Kalimat Suho terpotong, karena diriku yang tiba-tiba berpindah dengan cepat kehadapannya dan mencekik lehernya kuat. Mataku berkobar penuh amarah. Menatapnya nyalang. Aku merasakan tubuhku tidak berada sepenuhnya dalam kendaliku. Ada perasaan bergejolak yang aneh sekali didalam diriku.

“Apa maksud perkataanmu itu, Suho.”

Suho nampak mengeryit kesakitan karena cekikanku. Aku sendiri tidak mengerti darimana kekuatanku ini berasal. Melihat dari kastaku yang berada dibawah Suho, tentu akan mudah bagi Suho untuk menahan cekikanku dilehernya. Tapi Suho tak mampu. Aku terlalu kuat saat ini untuk ia hadapi.

“Kau yang menyebabkan Sera terluka.”

“Tidak…”elakku. “Aku tidak melakukan apapun. Kris yang melakukannya. Ia membenci Sera!”

“Tidak, Lu. Kris tidak—“

“JANGAN MEMBELANYA!!!”

“Kau yang membuat Sera sakit!!! SADARLAH!!!”

Tubuhku terlontar kebelakang. Menabrak dinding labirint sehingga menimbulkan suara bedebam keras. “Ukh… Sial….”desisku karena rasa sakit dipunggungku.

Kali ini nampaknya posisi telah berbalik.

Mataku masih kabur saat kulihat bayangan Suho mendekat dan tubuhku terangkat oleh cengkeraman tangan Suho dikerah bajuku. Aku mendesis saat Suho menabrakkan punggungku ketembok dan menahanku disana.

“Sera sakit parah, Lu. Dan itu karenamu. Malaikat dan Iblis diciptakan dengan bahan yang berbeda, Lu. Bagaimana bisa kau melupakan hal itu. Kau seharusnya tidak melewati batas itu. Kau tahu hukumannya bukan? Apa yang telah kau lakukan dengan Sera telah membuat gadis itu sakit. Jika saja kemarin tidak ada Kris disana, Sera pasti sudah mati sekarang…”

Aku menggertakkan gigiku. “Jangan bicara omong kosong, Suho. Aku tidak mungkin membuat Sera sakit. Aku tidak mungkin membunuh gadis yang aku cintai!”

“Tapi itu yang kau lakukan pada Seraphim!! Kau yang membunuhnya, Lu!!!!”

Mataku membelalak.

 

Dimana Lucifer terkurung??

Apakah mungkin… keberadaannya terkurung didalam ingatanku?

:: AUTHOR POV ::

Kris berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Dengan tatapan yang tajam bagaikan elang dan alis tegas. Bibir mengatup. Wajah yang keras dan dingin. Jubah hitam panjangnya yang mewah berkelebat seiring langkahnya. Siapapun akan merasakan aura kuat yang Kris miliki. Pria ini adalah Raja. Raja para Iblis.

Beberapa pengawal yang ia temui, menunduk hormat ketika ia lewat. Bahkan untuk iblis berkasta rendah yang menjadi budak didalam istana itu, menunduk saja dirasa belum cukup untuk menghormati sang raja. Mereka akan dengan suka rela menurunkan tubuhnya kelantai dan bersujud menyembah pada Kris.

Kris memasuki kamarnya, dan melangkah menuju tempat tidurnya yang tertutup kelambu sutra. Ia terkejut saat melihat gadis yang semula terbaring tak berdaya ditempat tidur itu, sedang menatap jendela dengan tatapan kosong. Siapa saja yang melihat gadis itu sekarang pasti mengira ia adalah mayat dengan mata terbuka.

Kris duduk disisi ranjang. “Kau sudah bangun?”tanya Kris dengan suara yang—astaga, kau tidak akan percaya ini—sangat lembut. Amat sangat lembut dan penuh simpatik, hingga membuat gadis yang ada dihadapannya ini, yang awalnya nampak tak bernyawa, menolehkan kepalanya dan mengerjap pelan. Suara rendah Kris dan tatapan matanya akan membuat semua wanita meleleh seketika. Tapi tidak untuk gadis itu. Ya, tidak untuk Sera.

Sambil menolehkan kepalanya kembali kearah jendela, Sera menjawab pelan. “Mm… seharusnya kau biarkan saja aku mati.”

“Kau benar-benar gadis tidak tahu terima kasih.”Kris kembali melontarkan kalimat dinginnya. Tapi kali ini tidak dengan intonasi kasar seperti biasa.

Sera tidak membalas kata-kata Kris. Gadis itu nampaknya telah kembali memasuki dunianya sendiri. Suasana dikamar itu kembali sunyi.

“Jadi, ternyata…”Sera mengarahkan matanya kembali kearah Kris. Mata yang penuh kesedihan itu kali ini kembali seolah hendak pecah. Selaput bening membuat pandangan Sera berkabut. “…aku hamil?”

“Kau tidak bisa menyebut itu sebagai sebuah kehamilan, Sera. Karena yang ada didalam tubuhmu itu penyakit, bukan janin…”jelas Kris.

Sera menaikkan sebelah sudut bibirnya. “Penyakit? Jadi kau menyebut buah cintaku dan Luhan sebagai penyakit?”

Wajah Kris mengeras. Kelihatan sekali ia tidak suka dengan pemilihan kata Sera. Buah cinta? Omong kosong. “Aku tidak tahu ternyata malaikat bisa melakukan hal rendahan seperti itu. Melakukan seks dengan iblis, eh? Malaikat gila!”

“Tuan Kris!!”Sera sontak bangun mendengar Kris menjelek-jelekkan Luhan didepannya. Tapi rasa perih tak tertahankan membuat Sera menekuk tubuhnya kedepan. “Akh…”erangnya pelan sambil memegangi perutnya. Ini ulah Kris! Karena pria itu telah membelah perutnya demi mengeluarkan gumpalan penyebab rasa sakit diperut Sera.

“Jangan banyak bergerak! Lukamu belum sembuh benar!”Kris memegangi bahu Sera, berusaha menidurkan Sera kembali ketempat tidur.

Tapi gadis itu menepis tangannya dan memilih beringsut menjauhkan tubuhnya dari Kris. Sera terengah dan menyandarkan tubuhnya keheadboard. Rasa nyeri diperutnya sedikit berkurang.

“Apa kau ini bodoh?! Bukankah hanya menyentuhnya saja membuat kulitmu terasa sakit. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu dengan malaikat, eo?”Kali ini Kris mengomel. Sera sendiri tidak mengerti mengapa Kris semarah itu padanya. Mata gadis itu memicing, memandang Kris seolah pria itu adalah bom yang harus diwaspadai karena bisa meledak sewaktu-waktu. Sera tidak pernah bisa menebak bagaimana jalan pikiran Kris. Pria itu sungguh memiliki sikap yang bisa berubah sangat drastis. Terbukti dari betapa bernafsunya Kris ingin membunuhnya kemarin, tapi saat Sera meregang nyawa, Kris jugalah yang menolongnya.

“Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa saat melakukan itu dengan Luhan. Rasa sakit yang kami rasakan hanya seperti tersengat listrik bagi manusia. Itu tidak ada apa-apanya—“

“Apa kau tidak terpikirkan ini?”potong Kris. “Bahwa sperma Luhan bisa meracuni tubuhmu. Itu yang ia lakukan padamu, Sera. Malaikat dan iblis tidak boleh bersatu, dalam hal apapun. Kita sudah diciptakan dengan bahan yang berbeda dan karena itu pula tubuh kita akan bereaksi menolak setiap ada kontak fisik.”

Sera terdiam dalam usahanya mencerna penjelasan Kris. Jadi… karena itu perutnya terasa sakit sekali dan gumpalan itu…

“Bukankah takdir ini lucu sekali? Jika memang benar kelahiranmu sebagai manusia setengah iblis bukan kesalahan seperti yang pernah kau bilang, maka ini akan menjadi jalan takdir yang hebat, Sera. Apapun yang terjadi kau dan Luhan tidak mungkin bisa bersama. Tidak dulu saat kalian sama-sama menjadi malaikat dan tidak pula sekarang ketika kau dilahirkan kembali.”

Kata-kata Kris membuat Sera terkejut. “Dulu? Apa maksudmu dengan ‘dulu’, tuan?”

“Coba tebak…”Kris menyeringai sambil memajukan kepalanya mendekat kearah Sera. “Jika Seraphim adalah dirimu, lalu siapa Lucifer sebenarnya, hm?”

Sera mengerjapkan matanya bingung.

“Lelucon apa ini, Suho?”ujar Luhan. Ada kesan berbahaya dinada suara Luhan. Seolah pria itu bisa menghabisi Suho kapan saja jika Suho berbicara hal yang membuatnya tidak suka. Luhan menggerakkan tubuhnya, berusaha lepas dari cengkeraman Suho, tapi pria itu terus saja menahannya sekuat tenaga.

“Ini bukan lelucon, Lu—”Suho berkata pelan. Ia menelan ludahnya sebelum melanjutkan kata-katanya yang terpotong. “—Lucifer…”

Luhan membeku. Ia benar-benar membeku dengan wajah syok mendengar nama itu disebut oleh Suho. Tidak. Tidak. Bukan hanya karena itu. Tapi karena Suho menyebut nama Lucifer sambil menatap lurus-lurus kearah Luhan. Seolah-olah Luhan-lah yang Lucifer disini. Ini lelucon apalagi sebenarnya? Apa Suho sudah kehilangan kewarasannya. Bagaimana mungkin Luhan adalah Lucifer? Bukankah Luhan lahir 1500 tahun lalu? Itu jaman ketika manusia telah mencapai peradabannya. Kerajaan-kerajaan telah berdiri dan menjamur disetiap belahan dunia. Lalu bukankah Lucifer sendiri diciptakan sebelum manusia lahir? Gap antara Luhan dan Lucifer terlalu jauh. Tidak mungkin mereka adalah makhluk yang sama.

“Suho, apa kau sudah tidak waras?”

“Jika kau pikir kau lahir 1500 tahun yang lalu, 504 masehi tahun manusia, maka kau salah, Lu. Kau tidak lahir ditanggal itu. Mungkin istilah yang tepat adalah kau DIBEBASKAN pada tahun itu.”

Mata Luhan membelalak mengerikan. “Kau sudah gila, Suho. Kau pasti sudah gila!! KAU GILA!!!”

Luhan berontak lagi dan Suho harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan Luhan agar tidak lepas. “Lu… dengarkan aku. Karena ini lah aku tidak bisa membiarkanmu bersama Sera. Dia titisan Seraphim dan kau—“

“Aku akan merobek mulutmu, Suho! Berhenti mengatakan hal konyol!! Lepaskan aku!!!”

Kali ini Luhan akhirnya berhasil melepaskan diri. Dengan kekuatannya ia mampu mendorong tubuh Suho hingga Sang Raja Malaikat itu jatuh terjengkang keatas pasir. Suho tidak sempat menghindar karena tiba-tiba Luhan menerjangnya. Erangan kesakitan keluar dari bibir Suho saat Luhan menekankan tangan kanannya didada Suho dan menduduki perutnya untuk menahan Suho agar tidak melepaskan diri.

“Katakan bahwa ini bohong! Katakan kalau kau membual hanya agar aku melepaskan Sera…”

Tapi bukan sifat Suho untuk cepat menyerah. “Dulu, saat Adam diciptakan…”

“SUHO!!!!”kali ini tangan kiri Luhan mencengkeram leher Suho kuat.

Tapi sepertinya hal itu tidak membuat nyali Suho menciut. “…kau membangkang perintah-Nya untuk bersujud pada Adam.”

“Diam…”desis Luhan. Meski Luhan berkata demikian, ada dorongan dalam dirinya untuk tidak menghentikan cerita Suho. Ya, dorongan keingintahuannya yang sulit ia tolak.

“Kau memiliki alasan yang tidak masuk akal untuk sikapmu itu. Karena bagimu tidak ada yang lebih sempurna dibandingkan Seraphim dan demi kesetiaanmu pada gadis itu, kau tidak akan memuja siapapun kecuali dirinya. Kau dibutakan cinta saat itu, Lu.”

Suho melanjutkan ceritanya saat dilihatnya Luhan mulai bersedia mendengarkan. “Ketika itu aku tahu, siapa oknum yang menghasutmu untuk membangkang. Maka aku melaporkannya ke Yang Maha Mulia. Tapi Yang Maha Mulia terlanjur kecewa padamu dan menjatuhimu hukuman. Sementara iblis diturunkan kebumi dengan tugas khususnya, aku diperintahkan untuk menangkapmu dan membawamu kepenjara.”

Suho terdiam. Mulai dari sini ada kisah yang tidak pernah ia ceritakan kembali. Bahkan tidak saat ia meminta Xiumin untuk membisikkan kisah ini pada manusia. Suho memilih untuk menyimpannya dan hari ini ia akan mengungkapkannya pada pemilik asli kisah ini. Untuk mengingatkannya kembali.

“Lalu kau kabur…”Suho memejamkan matanya. Memanggil kembali memorinya tentang kejadian itu. “Kau kabur dengan membawa Seraphim bersamamu…”

Luhan membelalakkan matanya.

“Coba tebak. Jika Seraphim adalah dirimu, lalu siapa Lucifer sebenarnya, hm?”

Sera mengerjapkan matanya. Memandang Kris sementara otaknya berpikir keras. “A-anda?”tebaknya.

Seringaian Kris semakin lebar dan akhirnya pria itu meledak dalam tawa. “Hahaha…”Kris merasa tebakan Sera begitu lucu. Memangnya ini fiksi fantasy? Bagaimana mungkin Lucifer yang diciptakan sebagai malaikat, berubah menjadi iblis abadi sepertinya? Hal itu akan menjadi berbeda jika Lucifer mati, dan dilahirkan sebagai iblis, seperti halnya Sera. Tapi Lucifer masih hidup, ia tidak pernah mati.

“Kau terlalu banyak mengkhayal, Sera… hahaha…”Kris memegangi keningnya sementara ia masih dalam tawanya. Lalu perlahan tawa itu menghilang. Ada sesuatu yang terasa membakar didadanya, tiap kali Kris mengingat apa yang terjadi jutaan tahun lalu. “Perasaan Lucifer pada Seraphim tidak pernah pudar. Bahkan meski ia tidak mengingat apapun dan Seraphim telah menitiskan dirinya padamu.”

Kris kembali menolehkan kepalanya kearah Sera. Sera sendiri, telah membeku ditempatnya. Hanya satu kalimat dan gadis itu telah mengerti. Tinggal menunggu konfirmasi dari Kris apakah yang ada diotaknya sekarang adalah benar atau tidak. “Begitu pula perasaanmu padanya. Bedanya sekarang kau tidak lagi mengenal rasa takut, Sera. Kau mengupayakan semuanya untuk bisa bersama lelaki itu…”

Sera menundukkan kepalanya. Matanya bergerak-gerak tidak fokus. Tidak mungkin…

“Itulah alasan utama mengapa aku dan Suho selalu berusaha memisahkan kalian berdua, karena mungkin ia akan kembali membunuhmu. Entah secara langsung atau tidak. Suho tidak ingin kau mengalami hal yang sama seperti dulu, dan ia juga tidak ingin Lucifer dihukum lagi.”Kris menghembuskan napas berat melihat reaksi Sera. Gadis itu syok, seperti dugaannya. “Sekarang kau tahu siapa Lucifer disini? Bukan aku, tapi—“

“Mengapa?”potong Sera. “Mengapa Lucifer membunuh Seraphim, dulu?”

Kris terdiam. Sejenak ia memejamkan matanya untuk menghadirkan kembali memori yang ia simpan jutaan tahun lamanya. Alasan mengapa Lucifer membunuh Seraphim? Ahh… apa hal itu bisa disebut membunuh? Tapi, karena Lucifer-lah Seraphim mati. Itu tidak ada bedanya dengan membunuh. Seandainya Lucifer tidak seegois itu…

“Kau kabur dengan membawa Seraphim bersamamu. Yang Maha Mengetahui tentu telah tahu akan hal ini dan dimana kau bersembunyi saat itu. Tapi Beliau diam. Ia ingin kau yang mengambil keputusan, Lu. Meski ternyata, kau mengambil keputusan yang salah. Kau terlalu dibutakan oleh cinta. Kau tidak melihat betapa Seraphim begitu takut jika kau menerima hukuman yang lebih berat, gadis itu terus memohon padamu agar kembali kesurga. Tapi kau mengabaikannya. Kau terlalu takut akan kehilangan Seraphim jika kembali ketempat itu. Hingga akhirnya, Sera memilih jalannya sendiri.”

Suho memalingkan wajahnya dari Luhan. “Ia memohon padaku dan Yang Maha Kuasa lewat doanya…”

Gabriel, kumohon tolong, bisakah kau menyampaikan ini pada Yang Maha Kuasa? Bahwa ketika aku menjatuhkan diri kejurang, maka tolong cabutlah nyawaku. Hilangkanlah keberadaanku didunia ini. Lalu bawalah Luhan kembali, biarkanlah ia melupakan segalanya tentangku dan jadikanlah ia malaikat yang dicintai manusia.

Luhan terperanjat, tubuhnya terhuyung kebelakang. Sehingga kuciannya ditubuh Suho terlepas.

Suho perlahan menegakkan tubuhnya. “Itulah permohonan Seraphim. Lalu apa yang Sera inginkan benar-benar terjadi. Saat Seraphim melompat kejurang, hari itu Azrael menerima tugas dari Yang Maha Mulia untuk mencabut nyawa Seraphim, melaksanakan tugasnya. Seraphim mati, untuk dirimu dan untuk pengabdiannya pada Yang Maha Kuasa.”

“Tugas pertama Azrael adalah mencabut nyawa Seraphim, bukan nyawa Habil—anak Adam yang mati dibunuh oleh saudaranya sendiri. Sejak hari itu pulalah Azrael memiliki tugas dan dikenal sebagai malaikat pencabut nyawa. Bukankah ini kebetulan yang menarik, Lu? Bahwa sekarang kau kembali sebagai malaikat klan Azrael. Pemimpin klan-mu dululah yang mencabut nyawa Seraphim…”

“Omong kosong semua-nya…”desis Luhan.

Suho menghela napas. “Selama jutaan tahun kau dipenjara dilabirin ini, hingga semua ingatanmu terkikis dan hilang. Lalu saat kau dibebaskan, akulah yang merawatmu.”

“Lu…”Suho mencoba untuk meraih Luhan, tapi pria itu menghindar. “Tidak bisakah kita hidup saja dengan damai seperti dulu? Lupakan Sera…”

Luhan memandang Suho dengan tatapan nanar. Oh Tuhan takdir apa ini sebenarnya…

“Aku bukan Lucifer, aku tidak mungkin—tidak mungkin laki-laki bodoh itu. Tidak… ini semua bohong…”

“Lu…”

“Jika benar aku Lucifer, lalu mengapa Tuhan mempertemukan aku lagi dengan Sera? Bukankah kami tidak diberi restu oleh-Nya? Lalu…”Luhan menutup wajahnya dengan tangan. Teringat lagi bagaimana ia dan Sera telah berjanji didepan altar, disaksikan warga Vadus, ayah, dan ibu Sera.

“I Luhan, take you Sera, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish ’till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness.”

“Apa artinya itu semua??”keluhnya merana.

Pada hakikatnya, semua takdir ini memang menjadi begitu menarik. Lihatlah sekarang bagaimana Luhan yang dulunya membenci manusia dan berani membangkang perintah Yang Maha Mulia untuk menyembah makhluk itu berubah setelah ingatannya dihapus. Lucifer yang namanya telah Suho ganti menjadi Luhan, berubah menjadi malaikat yang baik hati, penuh kasih dan dicintai oleh para manusia.

Bertolak belakang dengan Seraphim yang setelah menitis pada bayi Serafina, ternyata tumbuh menjadi seorang iblis yang jahat. Benci setengah mati pada para keturunan adam, menganggap mereka adalah makhluk rendahan yang bahkan tidak pantas menghuni bumi ini. Padahal hal Itu adalah pemikiran pertama Lucifer pada manusia saat melihat Adam.

Ada banyak sekali pertanyaan yang memenuhi pikiran Luhan.

Mengapa semua menjadi terbalik seperti ini? Mengapa Seraphim dititiskan pada anak manusia dan iblis? Mengapa Lucifer dan Seraphim dipertemukan lagi? Dan mengapa mereka akhirnya harus mencintai satu sama lain hingga sedalam ini? Sebenarnya, apa yang diinginkan Yang Maha Kuasa pada mereka berdua? Rencana apa yang Dia susun untuk Lucifer dan Seraphim?

Argh… Luhan bisa gila dengan semua pertanyaan yang terus terus dan terus berputar dikepalanya. Semua itu menyiksanya. Sangat.

Sera termenung. Dihadapannya, Kris juga berdiam diri sambil mengawasi perubahan ekspresi gadis itu. Seperti halnya Suho yang menceritakan kisah Lucifer dan Seraphim pada Luhan, Kris juga telah melakukan hal yang sama pada Sera.

Setengah tertunduk, rambut panjang Sera berjatuhan menutupi wajahnya. Lalu suara isakan itu terdengar.

“Sial…”desis Sera disela tangisnya. Tangannya meremas kuat-kuat kain pelapis tempat tidur yang terbuat dari sutra itu. Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaan seorang yang telah ditinggal kekasihnya pergi? Belum cukup sampai disitu, Sera juga harus kehilangan sesuatu yang ternyata tumbuh diperutnya, sesuatu yang ia yakini adalah buah cintanya dengan Luhan. Tidak peduli, buah cintanya itu adalah racun mematikan baginya.

Lalu, hal yang konyol dari ini semua, adalah bahwa selain iblis setengah manusia, Sera juga adalah titisan dari Seraphim. Ya, Seraphim sang malaikat, salah satu dari 9 malaikat pertama yang diciptakan. Itu sama artinya, didalam dirinya bersemayam sosok yang memiliki kisah cinta menyedihkan dimasa lalu.

Cinta sang Lucifer yang terlalu tak bertepi padanya, membuat Seraphim harus mengorbankan dirinya sendiri. Demi menyelamatkan Lucifer dari hukuman yang lebih berat, demi membuktikan kesetiaannya pada Sang Maha Pencipta.

Sera mendongakkan kepalanya, mengusap airmatanya dengan kasar. Seolah hal ini memang tidak pantas untuk ditangisi. Gadis itu terdiam sejenak, lalu sebuah tawa muncul dari bibirnya. Tawa sedih…

“Jadi karena Lucifer, Seraphim mati? Ahaha… bodoh sekali. Bodoh…”Sera berusaha untuk menertawakan kisah itu, tapi yang ada airmatanya-lah yang terus saja mengalir, ditambah rasa sesak didadanya yang begitu menyakitkan. Sera tak ayal mengerang sambil memegangi dadanya. Menangis sekeras yang ia mau. Ini terlalu menyakitkan. Semua kisah ini, semua hal yang terjadi padanya terlalu kejam. Sera tak sanggup lagi…

Kris mendesah pelan. Lalu ia beringsut mendekat kearah Sera dan meraih tubuh gadis itu. Memeluknya hangat. Sera sendiri, sudah terlalu lelah untuk melawan. Dan ia memang sedang membutuhkan tempat bersandar sekarang. Dibahu Kris, Sera menumpahkan airmatanya.

Dibagian paling gelap yang ada didunia atas, tempat labirin hukuman berada, Luhan tertunduk meremas butiran pasir. Airmatanya jatuh satu-satu. Lalu disini, dibagian paling terang, paling mewah, dan paling agung yag ada didunia bawah, dikediaman Sang Raja, Sera juga meratapi nasibnya.

 

Missing you… is worse than death

 

Ini sudah kedua kalinya, Sera kehilangan. Rasanya bahkan berkali-kali lipat lebih buruk daripada dulu. Sera rindu, tapi ia tahu bahwa tidak mungkin baginya untuk bertemu dengan Luhan lagi. Mereka telah kembali kedunia masing-masing.

Selain itu, tidak ada kabar apapun tentang Baekhyun. Setiap kali Sera bertanya pada Kris, Kris selalu saja bilang bahwa ia tidak tahu. Bohong besar. Mana mungkin Kris tidak tahu, bukankah selama ini Sang Raja Iblis itu selalu tahu akan segala hal? Sera sungguh mencemaskan Baekhyun. Mengingat bagaimana parahnya luka dipunggung Baekhyun, kemungkinan Baekhyun tidak terselamatkan membuat Sera takut. Jika Luhan pergi, apa Baekhyun juga meninggalkannya?

Dan sekarang Sera telah terlalu lelah untuk menangis. Ia merasa kebas, tidak merasakan apa-apa lagi, seolah jiwanya kosong. Tidak ada roman kehidupan diwajah gadis itu. Pucat, dengan kantung mata, bibir kering, tubuh lemah dan yang bisa Sera lakukan hanya berbaring diranjang besar dan mewah milik Kris sambil menatap kosong jendela.

Sedangkan Luhan, keadaanya bisa dibilang lebih buruk. Karena ia masih terkurung dilabirin. Setelah Suho pergi, keinginan Luhan untuk bebas dari tempat ini juga telah pergi meninggalkannya. Luhan tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Terpuruk, itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang ia rasakan sekarang.

Aku adalah Lucifer… Lucifer yang menyakiti Seraphim dan Sera…

Hal itulah yang terus-terusan mengganggu pikirannya. Ada rasa bersalah yang tak tertahankan didadanya. Membuat Luhan terkadang meluapkannya dengan membenturkan kepalanya kedinding atau berteriak dan menangis keras-keras.

Luhan membenci dirinya sendiri. Sangat benci.

Sera dan Luhan, iblis dan sang malaikat telah jatuh pada lingkaran nasib yang menyedihkan. Lalu bagaimana caranya keluar dari ini semua. Mati? Bisakah kematian menyelamatkan mereka berdua?

Sera sedikit mendongakkan kepalanya saat sesosok tubuh menghalangi pandangannya akan jendela yang ada dihadapannya.

“Mau sampai kapan kau akan seperti ini terus?”Kris yang nampak kesal, tanpa ampun menarik lengan Sera agar gadis itu bangun dari tidurnya. “Berhenti meratapi hal yang tidak pantas kau ratapi, gadis bodoh!”

Sera menarik tangannya agar lepas dari genggaman tangan Kris dan kembali menjatuhkan tubuhnya lagi ketempat tidur. Kris mengeryitkan dahinya tidak suka. Diraihnya bahu Sera, dan menariknya sekali lagi agar gadis itu bangun. Tubuh Sera yang lemah dengan mudahnya Kris tarik. Kris mengambil posisi didepan gadis itu, memegangi Sera agar tidak kembali berbaring.

Look at me when I talk to you!”perintah Kris sambil mengguncangkan tubuh Sera saat gadis itu menundukkan kepalanya. Seolah-oleh lehernya telah kehilangan tulang.

Sera mendongakkan kepalanya sedikit. Lagi-lagi Kris mendecak kesal dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah Sera dengan kasar. “Aku bosan melihatmu seperti ini? Apa tidak ada yang bisa kau lakukan selain bertingkah menyedihkan seperti ini, huh?”

“Lepaskan…”Sera berusaha memberontak, tapi pergerakannya terlalu lemah untuk mendorong tubuh Kris menjauh. Ya, ini efek dari tidak melakukan apapun selama beberapa hari dan dengan pikiran yang penuh konflik. Sera merasa kepalanya begitu berat hingga tubuhnya sendiri pun kesulitan menopangnya. Kris yang melihat Sera menjadi begitu merana seperti ini merasa jengah.

“Bukankah kau gadis yang kuat, eo? Aku menyelamatkan hidupmu bukan untuk melihatmu seperti ini, ara!!”

Sera menatap Kris dengan tatapan menantang. “Kalau begitu bunuh saja aku. Bukankah kau ingin membunuhku, kenapa tidak kau lakukan saja sekarang, tuan! Haebwa! Bunuh aku!”

PLAK!!

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Sera.

“Sadarlah! Pria yang sekarang kau ratapi itu adalah sumber dari nasib buruk yang menimpamu! Mengapa kau tidak juga mengerti?!”

Sera mematung. Benar. Pria itu-lah yang membuat kehidupannya berubah sulit akhir-akhir ini. Bahkan jauh sebelumnya, pria itu pula-lah yang membuatnya berakhir menjadi sesuatu yang dilenyapkan.

Tapi alih-alih merasa benci, Sera justru merasa hatinya begitu sakit. Ia tidak bisa menyalahkan pria yang mencintainya. Karena Sera sendiri tahu betul bagaimana gilanya perasaan cinta itu.

“Aku tidak peduli…”

Kris membelalakkan matanya.

Dengan pipi yang berdenyut sakit dan memerah, Sera kembali menatap Kris. Mata indahnya berkaca-kaca. “Aku tidak peduli. Seraphim-lah yang bodoh karena mengorbankan dirinya sendiri seperti itu. Dia yang membuat nasibnya sendiri menjadi begitu buruk. Jika ia mencintai Lucifer, kenapa ia tidak berani meraihnya? Gadis pengecut. Benar-benar pengecut…”

Kris mengguncangkan tubuh Sera kuat-kuat. “Kau sadar apa yang kau ucapkan sekarang, HUH?!”

“Ne!! Aku tidak takut pada apapun! Aku bukan Seraphim yang tidak berani mencintai. Aku iblis. Aku akan melakukan apapun yang kumau. Aku mencintai Luhan tidak peduli apapun yang terjadi—”

Kris merasa ada sesuatu yang digilas dan remuk didalam dadanya. Mata pria itu memandang tepat kekedalaman manik mata Sera. Terulang lagi. Kenapa selalu Luhan yang dipilih?

“Andwae…”Tatapan Kris berubah liar. Ia memajukan tubuhnya, membuat Sera reflek memundurkan tubuhnya demi menjaga jarak dengan Kris. Tapi Kris tidak membiarkannya begitu saja, pria itu menahan lengan Sera dan mencengkeramnya kuat. “Neo naekkeoya jigeum, Seraphim…”

Mata Sera membulat. Detik itu juga Kris menautkan bibirnya kebibir Sera. Melumatnya dengan begitu kasar. Sera berontak, mendorong dan memukul tubuh Kris sekuat tenaganya. Tapi tentu saja tenaga Sera tidak mampu mengimbangi tenaga Kris. Dengan mudah Kris menjatuhkan tubuh Sera ketempat tidur, tanpa sedikitpun melepaskan tautan bibirnya. Tubuh besar pria itu beringsut naik keatas tubuh Sera dan menindihnya.

Kris pasti telah kehilangan akalnya dan dikuasai oleh amarah dihatinya. Dulu, ia begitu mengagumi sang malaikat yang begitu baik padanya. Karenanya Kris tidak merasakan lagi yang namanya perbedaan. Ia merasa dihargai, disayangi. Tapi pada akhirnya, Seraphim toh jatuh ketangan Lucifer. Ia tetap lebih memilih bersama makhluk yang sederajat dengannya. Jika saja Seraphim lebih berani lagi menghadapi perasaannya. Bukan tidak mungkin, ia akan tetap kabur bersama Lucifer.

Lalu sekarang, setelah Lucifer dihukum dan Seraphim dititiskan pada makhluk setengah iblis setengah manusia sehingga kehilangan wujud malaikatnya, semua masih saja tidak berubah. Padahal sekarang Kris-lah yang berhak memiliki Seraphim karena wujud gadis itu, tapi buktinya ia tetap memilih Lucifer. Mengapa selalu dirinya yang patah hati?

Kris yang kecewa, tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bersikap kasar pada Sera. Seolah segala perlawanan dan jerit kesakitan gadis itu adalah kepuasan tersendiri baginya. Hingga saat akhirnya Sera menyerah dan hanya sanggup menangis, Kris masih terus saja menyiksanya.

You’re mine!”bisik Kris posesif sambil menghisap dan bahkan menggigiti leher Sera. Sera memejamkan matanya kuat, berusaha untuk tidak mendesah dengan perlakuan Kris pada tubuhnya. Jemari pria itu menjamah seluruh tubuhnya yang polos dan penuh bercak merah bahkan luka disana-sini karena sikap kasarnya. Bahkan saat Kris menyalurkan nafsunya hingga kepemenuhan akhir, ia tidak sedikitpun mengurangi pergerakannya menjadi lebih halus. Berkali-kali Kris meminta Sera untuk meneriakkan namanya, namun gadis itu tetap keukeuh untuk tidak kalah dengan nafsunya. Sera tidak ingin mengkhianati Luhan… tidak…

Namun hormon ditubuhnya-lah yang akhirnya mengkhianatinya. Sera tidak bisa menahannya lagi. Ini terlalu memusingkan. “Kriss…”panggil Sera disela desahan tertahannya. Jemari Sera mencengkeram lengan Kris kuat. Ini tidak benar. Sera tidak boleh… “Kumohon, hentikan…”Sera mengiba. Tapi Kris tidak menghiraukan Sera sama sekali. Pria itu menikmati itu semua, dan ia tidak sanggup lagi untuk berhenti.

Kris baru berhenti setelah ia mencapai klimaksnya. Ditengah napasnya yang memburu dan pandangan matanya yang perlahan-lahan mulai nampak lebih jernih, Kris tertegun saat melihat wajah Sera yang telah basah dengan airmata. Mata gadis itu menatapnya ngeri. Lalu suara isakan pelan keluar dari bibirnya. Kris menurunkan pandangannya dan terkejut melihat tubuh Sera yang penuh luka. Buah dari perbuatannya. Rasa menyesal perlahan menyusup kerelung hatinya.

“Maafkan aku… maaf…”Kris menurunkan tubuhnya dan mengecup kening Sera dengan sangat lembut. Dengan cara itu Kris menyalurkan energinya untuk menyembuhkan luka-luka ditubuh gadis itu. Setelah Sera agak tenang karena rasa sakit yang perlahan mulai menghilang, sang raja iblis itu menarik kepalanya sedikit dan menatap manik mata Sera. Jemarinya menyisir rambut gadis itu. Sikapnya kali ini begitu berlawanan dengan apa yang sebelumnya ia lakukan pada Sera.

“Tidak bisakah kau melihatku? Hanya aku. Seperti ini.”Kris berbisik dengan suara rendahnya. Jika saja Sera belum memiliki Luhan dihatinya, ia pasti akan jatuh pada pesona pria yang sedang mengurung tubuhnya itu.

“Aku akan membuatmu bahagia. Aku akan memberikan segala yang kau inginkan. Jika denganku, tidak akan ada yang berani memusuhimu, tidak akan ada yang berani melarangmu lagi. Kau tidak perlu terluka lagi, karena kau bisa bersamaku selama yang kau mau. Bukankah kau sudah lelah? Mencintai orang yang salah, lalu terluka parah seperti ini. Bersandarlah padaku, maka kau akan baik-baik saja.”

Sera menatap Kris masih dengan tatapan kosongnya yang menyedihkan. Airmatanya telah kering. Kris yang ditatap seperti itu, merasa kecewa dan sedih. Apa tawarannya tidak menarik? Apa gadis ini masih saja tidak bisa menerimanya? Kris mulai merasa putus asa. Dengan gerakan pelan, ia mengecup bibir Sera. Melumatnya lagi. Kali ini dengan segenap perasaannya pada gadis itu.

Ketika makhluk yang selalu menyombongkan kedigdayaan dan kekuatannya itu merasa tak berdaya, maka air mata akan mengalir dari matanya. Bukankah Luhan pernah mengatakan bahwa Iblis yang terbuat dari api pasti juga memiliki cahaya. Dia benar. Dan cahaya Kris adalah perasaannya pada gadis dihadapannya ini.

Sera begitu terkejut saat airmata Kris jatuh dan membasahi pipinya. Hati gadis itu tersentuh. Airmata mulai merebak dikelopak matanya lagi. Hatinya ikut merasa sakit. Perlahan Sera mulai memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya kepunggung Kris. Merasakan kulit Sang Raja Iblis yang ternyata begitu hangat saat Sera menyentuhnya. Bibir gadis itu juga tanpa ragu lagi membalas lumatan Kris dibibirnya.

Mereka berdua bergumul dalam ciuman yang dalam hingga akhirnya Kris menyudahi lumatannya dibibir Sera, pria itu memandang mata Sera dalam. “Maukah kau menjadi permaisuriku?”pintanya lembut.

Sera… oh, gadis itu begitu terkejut dengan permintaan Kris. Tenggorokannya terasa tersumbat dan ia seolah lupa bagaimana cara bernapas.

“Aku tidak menerima penolakan, kau tahu itu kan?”Kris merasakan dadanya sesak saat ia mengatakan hal itu. Apa tidak ada jalan lain selain memaksa? Tidak. Karena Sera tidak akan pernah menjadi miliknya kecuali ia melakukan hal ini.

“Kris, aku—”

Kris kembali melumat bibir Sera. Tidak. Kali ini ia tidak akan membiarkan Sera menolaknya. Ia tidak akan sanggup jika hal itu terjadi. Ini terlalu sulit, terlalu tak tertahankan. Perasaannya pada gadis itu adalah nyata. Bahkan jika seumur hidupnya Kris memungkiri hal itu dan berusaha mati-matian untuk menghindarinya. Tapi mata pria itu tetap hanya tertuju pada Sera. Pada seorang gadis setengah iblis setengah manusia yang begitu berani memberontak diusianya yang masih belia. Dan juga pada gadis yang bersemayam didiri gadis itu.

Itulah Kris. Sang Raja Iblis itu dianugerahi segalanya. Kekuasaan mutlak, kekayaan, dan kejayaan. Tapi tidak ada yang sempurna didunia ini. Dan yang membuat Kris tidak sempurna, hanya satu. Cintanya yang tak pernah berbalas.

Sera menurunkan kakinya dari atas ranjang. Merasakan dinginnya lantai dipermukaan kakinya. Gadis itu sejenak menoleh, memandangi wajah pria yang nampak tertidur pulas. Sera tersenyum, senyum pertama yang ia tunjukkan setelah beberapa hari ini begitu kacau karena kehilangan orang-orang yang ia cintai. Pelan, gadis itu menundukkan tubuhnya kearah Kris dan mencium pelipis pria itu lembut.

“Kumohon, berbahagialah, Kris. Maafkan aku…”bisiknya. Sera menarik kepalanya menjauh, menatap wajah Kris sedikit lebih lama lagi. Baru setelah itu, ia beranjak dari tempat tidurnya. Dengan sihir sederhana, sambil terus berjalan menuju beranda kamarnya, Sera melayangkan baju-bajunya yang berserakan dilantai dan mengenakannya kembali ketubuhnya.

Sesampainya diberanda, Sera mengedarkan pandangannya kehamparan penuh kegelapan didunia bawah. Disebelah timur istana, berdiri sebuah rumah megah yang telah ia tempati selama 90 tahun hidupnya didunia ini. Sera menajamkan penglihatannya. Berusaha memperbesar kemampuan pandangnya untuk melihat lebih dekat kerumah itu. Apa Baekhyun ada disana? Apa ia baik-baik saja?

Sera mendesah sedih.

Seluruh memorinya tentang apa yang terjadi padanya beberapa bulan ini terputar kembali didalam kepalanya. Seperti kaset video yang memainkan tiap adegan film. Lalu semua rahasia yang akhirnya terbongkar satu-satu. Sera memejamkan matanya. Hidupnya terlalu rumit dan ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi harinya setelah ini.

Sera tidak mungkin menerima tawaran Kris untuk menjadi permasuri pria itu. Sera tidak mencintai Kris dan ia tidak ingin membuat pria itu berharap padanya. Ini sudah cukup melelahkan bagi Kris untuk terus dibayangi masa lalunya dan cintanya pada dirinya yang tak berbalas. Akan lebih baik jika Sera tidak dimiliki olehnya dan oleh siapapun.

Sera bosan dengan rasa sakit dihatinya. Ia juga bosan menyakiti orang-orang disekitarnya.

Gadis itu penasaran. Sejak lama ia memikirkan hal ini. Apa yang terjadi jika dirinya mati?

Apakah takdir buruk akan tetap mengikutinya?

Kalian mungkin menganggap Sera telah gila saat melihat gadis itu memunculkan pedangnya dari udara kosong. Menggenggam gagangnya kuat-kuat, sebelum akhirnya melayangkan pedang itu dihadapanya. Dengan bilah tajamnya tepat menuju kearah jantungnya.

Jika pedang itu menembus tubuhnya, Sera akan mati.

Gadis itu memang sudah gila. Bahkan ia tersenyum memikirkan kematiannya. Benar, setelah ini ia akan terbebas. Untuk iblis sepertinya mati hari ini atau besok hasilnya akan sama saja. Pada akhirnya ia akan pergi keneraka.

Sera mendongakkan kepala keatas. Menatap langit dengan tatapan menantang. Bukankah Yang Maha Mulia yang menuliskan jalan takdir untuknya? Maka hari ini Sera akan memutus takdir itu. Yang Maha Mulia paling membenci makhluk yang lancang membunuh dirinya sendiri, maka Sera akan melakukan hal yang paling dibenci itu. Ia tidak takut sama sekali.

“Lihat aku… Seharusnya Kau tidak usah menciptakan makhluk seperti diriku, Yang Maha Mulia. Kau menyesal, bukan?”ujar Sera.

Senyum dibibir gadis itu masih tersungging meski nampak ganjil karena wajahnya yang nampak sedih.

Sera memandang pedang yang masih melayang-layang didepannya. Lalu kelopak mata itu menutup. Tidak perlu meneguhkan apapun, Sera bahkan tidak merasa perlu untuk berpikir 2 kali. Mati. Itu jalan yang ia inginkan sekarang.

Bayangan wajah pria itu tergambar jelas dibenak Sera. Begitu tampan. Menatap Sera lembut. Tersenyum. Mengulurkan tangan.

Sera, aku mencintaimu.

ZRASHHHH!!!!

Luhan tersentak dari lamunannya. Jantungnya berdebar tak terkendali. Dadanya bergemuruh. Luhan mengedarkan pandangannya keruangan segi enam tempatnya berada ini. Ia tiba-tiba merasa gelisah. Ada yang tidak beres.

Sera…

“Lu…”Xiumin, muncul dari balik dinding labirin. Berlari tergopoh mendekati Luhan. Ditangannya ada sebuah kotak persegi berwarna hitam. Wajah Xiumin yang nampak keruh membuat Luhan semakin gelisah. Apa ada hal yang buruk terjadi?

“Ada apa?”tanya Luhan sambil beranjak berdiri. Xiumin yang ada dihadapannya tidak sanggup mengatakan apapun, ia hanya menyerahkan kotak ditangannya pada Luhan.

Luhan yang tidak tahu apa isi kotak itu, nampak ragu menerimanya.

“Seseorang dari dunia bawah mengirimkan ini, Lu…”Xiumin berkata pelan. “Bukalah!”

Luhan, demi mendengar kata dunia bawah keluar dari bibir Xiumin, tergesa membuka kotak hitam ditangannya itu. Seketika keningnya mengeryit karena didalam kotak itu hanya berisi butiran-butiran pasir berwarna hitam mengkilat dan beberapa helai bulu sewarna.

Tapi mata Luhan seketika membelalak lebar saat bulu itu terkikis menjadi butiran-butiran pasir. Mendadak kesadaran itu menghampiri Luhan.

Isi kotak itu adalah Sera. Kekasihnya.

Is it the END??

Not yet…

Annyeong haseyooooo~~~jumpa lagi dengan dirikuuuuu~~!!!!!!!!!!!!

Wuahh, setelah beberapa bulan bareng-bareng ma reader mantengin kisah Sera dan Luhan, akhirnya kita hampir sampai dipenghujung. Yoi!! Chapter 18 adalah Chapter terakhir!!! Ada yang senang dengan kabar ini?? Hehe…

Mmm… btw, udah pada baca Immortal Love? Ehehe… beneran loh itu clue buat endingnya DBM ini. Ada yang bisa nebak kah akhirnya akan seperti apa? Happy ending? Atau sad ending??

Akhir-akhir ini aku lagi suka dengerin BEAST – No More, itu lagu artinya mak jleb banget. Apalagi semenjak Baekhyun… ehem… Ah, author patah hati, hiks. Untuk itu, buat reader yang pernah baca Lightheaven Story – When World Against Us, cerita tentang Baekhyun dan Sera itu, mohon untuk berbesar hati karena vixx banget author gak akan nerusin cerita itu. Joseonghamnidaaa… aku ngerasa konyol banget bikin cerita itu soalnya, jadi aku gak mau nerusin lagi. Huhuhu…

Ditunggu ya komen galau kalian, eheheh… dan maaf karena diriku gak pernah nyediain kalian tissue selama ini… 😛

Arigatou!!!

 

 

Regard,

Seara Sangheera

274 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 17)

  1. Ige mwoyaa? Sera meninggal? 😥 andwaee.. 😥 Luhan gmna? Baekhyun gmna? Gmna gmnaaa??? Duhhh lanjut ya eon.. Fighting~

  2. sad ending gilaaaa !! nyesek banget bacanya !!
    kenapaaaa ????? kenapa sera mati lagi ??? padahal dia bilang seraphim bodoh ! tp dia ngelakuin hal bodoh juga !
    ah kasian kris sampe nangis gtu , mungkin sangking cintanya kali ya sama seraphim ckck
    good ff

  3. entahlah tp kalo aku jdi sera mgkin aku juga milih mati aja sama halnya yg seraphim lakuin dulu huhuhuhu
    chap 18 pleaseeeee

  4. bener bener kagum sama author:’3
    detikdetik udah tinggal 1chap. lagi
    gak rela kalo udah mau selesai bacanya
    baekhyun apakaabarnya thor? 😦
    tapi.. kenapa sera, berakhir dengan, bunuh diri/?
    ntar, luhan sama baekhi gimana 😥
    kudu namatin hari ini, smgt!

    keep writing thor 😀

  5. Baru bisa lanjut sekarang baca’aa 😦 *abaikan*
    Aku terharu , sumpah terharu BGT!
    Bagian pas Kris ‘ge nyampaiin perasaan’aa sama Sera , dan raja iblis itu sampe nangis , Oh my 😦
    Entah kenapa jadi ngerasa Sera ada bagus’a juga milih Kris *digorokLuhan*
    Tapi beneran, Sangheera bener2 bisa ngubrak abrik/? Perasaan readersnya 😦
    Huaaa 😦 😦 😦

  6. kriiiiiiiis ama q ajaaa drpda ptah hati sma org yg sma lagi ckckckckck kshan kmu kris, sll cnta sma seraphim.

  7. Hancur,eon…hancur sudah. Hancur hatiku… 😥
    SAKIIIIIITTT….kenapa ?? Kenapa?? Kenapa ceritanya jadi begini?? Kenapa Sera metong? Kenapaaaa….pinter banget nih Author ngucek2(?) perasaanku?? Oh,please…I love LuSera. TT Daleeeeemmmm banget kisahnya. Subhanallah,telah menganugrahi author imajinasi deliar ini. Selama baca ff ini,dan apa lg chapter2 terakhir ini,aku sering bgt,berhenti trus bengong. Kadang2 pengen teriak ‘Ddaebakkkkk!!’tp ada org di depan aku. Kenapa si author bisa nyiptain kisah kaya gini. Ini tuh….so amazing. So wild…!!><

  8. Seraa bunuh diri… Tragis!!!!
    Gmna dgn luhan? Oh my god…
    Gak sadar sampe nangis bacanya…
    Ceritanya bagus bangeeet…. Jinjja daebak…!!!
    Ngena banget pokoknya, kaya lgi nonton drama bukan baca…#Maksutnya??? Hahahahaha
    Yaa pokoknya begitulah, eonni jjaaaaang!!!

  9. Gue yg ngeliat ini jd baper brayy…tp,btw kak authorx keren bingits dech…alurnya menarik and sbnrnya juga Gue pingin si sera ma kris jd satu…krna Gue kyak ngerasain cinta kris ke Sera tuh sbnrnya tulus…wkwkkw #readers_sotoy gkgkgk….hwaiting eonni!! Saranghae

  10. wah ceritanya gila kreatif bngt, imajinasi author keren bngt. aku nemuin lagi ff fantasi yang super duper keren abezzz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s