Over Bride [Chapter 2]

OverBride

Title      : Over Bride

Author  : Ima (@kaihyun0320)

Casts     : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Rating    : PG-15

Genre   : Romance, Fluff, Married Life.

Ch 1

© Ima @ SKF 2014

[Over Bride] Chapter 2

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika Chanyeol menemukan Ji Hyun berdiri di depan rumahnya. Membawa dua buah koper dan sebuah tas ransel besar di punggung. Chanyeol segera membawa sahabatnya untuk masuk dan bertemu dengan ibunya di ruang tengah. Ia memberitahu sesuatu pada ibunya sebelum wanita paruh baya itu beranjak pergi dari sana tanpa menoleh ke arah Ji Hyun sedikit pun.

Ji Hyun menghela napas panjang kemudian duduk di sofa setelah Chanyeol menaruh kopernya di dekat sofa. Pikirannya benar-benar tidak jernih sejak perbincangannya bersama Jong In selama sore hari tadi. Ketika meminta turun tadi Jong In malah membawanya ke sebuah cafe dan menelepon Baekhyun melalui ponsel laki-laki itu –karena telepon darinya malah tidak diangkat.

Banyak sekali yang mereka bicarakan sampai Ji Hyun hampir kehabisan tenaga untuk memarahi kakaknya. Namun pada akhirnya Baekhyun tetap pada pendiriannya untuk membantu Jong In dengan pernikahan itu. Termasuk dengan dirinya yang juga harus tinggal bersama Jong In di Cheongdam.

“Wajahmu kenapa?” Chanyeol menghempas tubuhnya di sebelah Ji Hyun lalu menyenggol bahu gadis itu.

“Baekhyun pergi. Tidak tahu kemana. Dan dia malah menyuruhku menikah dengan Jong In,” jawab Ji Hyun datar dengan pandangan kosong ke depan.

Mwoya?! Menikah?” tanya Chanyeol histeris. Ji Hyun mendorong kepala laki-laki itu untuk tidak terlalu histeris karena malah membuat kepalanya pusing.

“Aku pusing, Yeol-ah,” Ji Hyun menyandarkan kepalanya pada pundak Chanyeol lalu menghela napas panjang.

“Biar kutebak. Pasti Jong In yang kau maksud sudah tua bangka. Namanya saja Jong In, bagaimana bisa di zaman sekarang dia punya nama—.”

“Dia laki-laki yang tadi siang, bodoh. Laki-laki berambut cokelat dan berkulit hitam itu,” potong Ji Hyun cepat. Sementara Chanyeol terkekeh geli sedetik kemudian.

“Namanya Jong In? Astaga, aku tidak tahu bagaimana dia bisa hidup dengan nama itu di zaman sekarang,” Chanyeol meneruskan kembali ucapannya lalu melirik Ji Hyun yang tengah memberikan deathglare ke arahnya.

Dunia Ji Hyun rasanya akan hancur sebentar lagi. Hidup bersama seorang pria yang membuatnya tidak nyaman. Tinggal bersama pria tanpa ekspresi yang selalu berbicara dengan suara husky dan nada dingin itu. Namun rasanya benar jika Ji Hyun terlalu sering membantah kakaknya, ia selalu marah jika Baekhyun memaksanya –dan berakhir dengan Baekhyun yang menyerah.

Ji Hyun mengangkat kepalanya dari pundak Chanyeol, ia benar-benar tidak tahu harus tinggal dimana jika ia tidak menikah dengan Jong In. Kedua orangtua Chanyeol tidak menyukainya sama sekali dan ia tidak mungkin bisa tinggal di sana. Ji Hyun kemudian menghela napas, ia membuka ponselnya dan mencari nomor telepon Jong In yang diberikan Baekhyun tadi sore. Pilihan terakhir.

“Kau mau apa?” tanya Chanyeol seraya melirik layar ponsel sahabatnya.

“Jong In,” Ji Hyun menggumam pelan nama pria itu lalu menghela napas. “Baekhyun di skors dari pekerjaannya karena aku, dia bekerja untuk hidupku juga, tapi aku mengecewakannya, Yeol-ah.”

“Astaga. Apa kau benar-benar Byun Ji Hyun? Kau sembunyikan Ji Hyun diman- AAK! Jangan tarik kupingku, bodoh,” Chanyeol memekik pelan saat Ji Hyun malah menarik telinga besarnya dengan cukup keras.

“Jangan meledekku, Park Chanyeol. Aku serius,” Ji Hyun menurunkan tangannya kemudian melihat nama Jong In di layar ponselnya. “Mungkin aku bisa bekerja di rumah Jong In setelah menikah selama enam bulan nanti. Aku mau menuruti permintaan Baekhyun kali ini.”

“Tapi dia laki-laki, Ji Hyun-ah. Kau pasti tahu maksudku apalagi kalian menikah secara sah,” sahut Chanyeol cepat.

“Astaga, Park Chanyeol. Apa kau pernah lihat aku dilecehkan? Terakhir kali aku membuat Baekhyun diskors karena memukul laki-laki yang menggodaku. Tidak terkecuali Jong In, kalau dia melakukan hal yang aneh-aneh, kau akan menemukan ‘hiasan’ di tubuh laki-laki itu nanti,” jelas Ji Hyun sambil mengepalkan tangannya untuk memukul pelan sisi perut Chanyeol kemudian tertawa pelan.

Namun Chanyeol sama sekali tidak tertawa, ia benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya yang akan tinggal bersama laki-laki asing. Apalagi ia tidak tahu bagaimana latar belakang dan sifat laki-laki bernama Jong In itu. Kemudian Chanyeol mencekik leher gadis itu dengan lingkaran tangannya.

“Aku khawatir, Ji Hyunaaa. Nanti aku sewakan apartemen saja, kau tidak perlu tinggal di rumah Jong In,” Chanyeol mencoba memberikan solusi namun Ji Hyun menggeleng cepat.

“Tidak ada lagi peminjaman uang, tuan Park. Kau tidak percaya aku bisa menghajarnya?” tanya Ji Hyun seraya memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Chanyeol.

“Dasar bodoh. Tadi siang kau masih merengek-rengek pinjam uang, sekarang malah tidak mau,” Chanyeol menoyor kepala sahabatnya sambil menggelengkan kepala.

“Aku tidak tahu cara kembalikan uangmu, Yeol-ah. Ah ya, Jong In itu presiden direktur di perusahaan keluarganya, dia pasti sudah punya pacar di luar sana tapi tidak disetujui keluarganya,” ujar Ji Hyun berspekulasi sementara Chanyeol masih tenggelam dalam pikirannya.

Kekhawatiran terbesar yang ada di pikiran Chanyeol sebenarnya hanya perasaan gadis itu. Memang sulit jika Ji Hyun sudah membuat keputusan, ia sudah sangat tahu bagaimana sifat keras kepala gadis itu. Jika Ji Hyun menikah dengan Jong In –walaupun hanya sementara, Chanyeol yakin bahwa akan ada yang berubah di dalam persahabatan mereka. Rasanya akan sulit menerima Jong In ke dalam hidupnya.

***

Malam itu Jong In menemukan ibu dan ayahnya berada di apartemennya. Setelah mengantar Ji Hyun dan membeli makan malam di luar, ia kembali ke apartemen untuk memeriksa berkas perusahaan. Melihat bagaimana kedua orangtuanya datang ke sana –bersama seorang wanita membuat mood Jong In semakin buruk. Ia terpaksa harus ikut duduk di ruang tengah dan mendengarkan bagaimana nyonya Kim membanggakan prestasinya pada gadis itu.

Sementara tuan Kim terlihat tidak antusias –sama seperti dirinya. Memang ayahnya juga ikut menyuruh Jong In untuk menikah namun tidak menuntut dalam waktu dekat. Lagipula tuan Kim pasti tahu bagaimana rasanya dijodohkan, karena pernikahan kedua orangtuanya juga bagian dari hasil perjodohan. Dan ia sangat jarang menemukan tuan Kim berada di rumah bersama ibunya.

Eomma ke atas dulu, ya. Ayo appa,” seru nyonya Kim seraya menarik tangan tuan Kim menaiki tangga ke lantai dua. Mungkin lain kali ia akan membeli apartemen satu lantai saja.

Jong In memperhatkan gadis berparas cantik di hadapannya. Ia hanya bisa menghela napas panjang ketika gadis itu mengulas senyum yang cukup manis. Namun tidak membuat hati Jong In bergetar sama sekali. Baginya semua wanita yang dikenalkan ibunya sama saja, hanya melihat jabatan dan ketampanannya saja. Tidak peduli bagaimana ia mencapai itu semua dengan susah payah.

“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Jong In.

“Aku mau dijodohkan. Apalagi dengan presiden direktur termuda di Korea sepertimu,” jawab gadis berambut kecokelatan itu sama seperti dugaan Jong In.

Dwaesseo. Kau pulang saja, aku tidak mau menikah dengan wanita sepertimu,” jawab Jong In dingin seraya bangkit dari sofa.

Ya! Memangnya aku ini wanita apa?” gadis itu ikut berdiri dari sofa dan mencegah Jong In yang akan menaiki tangga.

Jong In baru saja akan membuka mulut ketika bel apartemennya berbunyi. Ia hanya melirik sekilas ke arah gadis itu lalu bergegas ke arah pintu. Dari layar intercom di dekat pintu ia melihat wajah gelisah Ji Hyun di luar sana. Jong In menyeringai pelan kemudian membuka pintunya untuk gadis itu. Ji Hyun datang di saat yang tepat.

“Kenapa baru datang?”

Eoh?” Ji Hyun bertanya heran dengan wajah polosnya.

“Kenapa kau baru datang, Byun Ji Hyun,” ulang Jong In dan Ji Hyun hanya terkekeh pelan.

“Aku dari rumah Chanyeol tadi, dia mengantarku kesini juga tadi. Memangnya kenap— Ya!” Ji Hyun memekik ketika Jong In menarik tangannya memasuki apartemen. “Ya! Lepaskan tanganku atau kau akan—.”

Ucapan Ji Hyun terhenti, ia menyadari bahwa bukan saat yang tepat untuk berteriak saat melihat pasangan suami istri paruh baya berada di ruang tengah bersama seorang wanita cantik. Penampilan mereka terlihat mewah, sangat berbeda dengan dirinya yang hanya memakai celana jeans dan kaus biasa. Bahkan rambut pendeknya tidak bisa dibuat bergelombang seperti wanita itu.

“Dia calon istriku,” ujar Jong In tiba-tiba. Ji Hyun menoleh dengan cepat dan Jong In hanya mempererat genggaman tangannya. Mungkin ini saatnya untuk membantu –seperti apa yang dikatakan Baekhyun.

Annyeonghaseyo. Aku Byun Ji Hyun, pacarnya Jong In,” Ji Hyun membungkuk dalam lalu tersenyum lebar pada ketiga orang yang berada di sofa dan menatap ke arahnya.

“Astaga, Jong In. Dimana kau menemukan wanita seperti ini?” tanya nyonya Kim, bernada meremehkan.

Jong In baru saja akan membuka mulut untuk menjawab ketika Ji Hyun sudah membuka mulut lebih dulu dan menjawab ibunya dengan lantang. Tanpa takut sedikit pun.

“Biar aku jelaskan ‘wanita sepertiku’ yang kau maksud, nyonya,” Ji Hyun melirik sekilas ke arah Jong In. “Aku mahasiswi jurusan Seni di Universitas Kyunghee dan tinggal bersama kakakku satu-satunya di Hongdae. Aku memang tidak punya orangtua, tapi masih memiliki etika dengan tidak meremehkan orang lain.”

Jawaban yang begitu sopan namun sangat menusuk. Jong In sedikit menyeringai ketika ibunya memasang ekspresi kaget, sementara tuan Kim tersenyum geli sambil menundukkan kepala. Gadis berambut kecokelatan di sofa itu pun mendengus pelan sebelum melangkah tergesa keluar dari sana.

“Kau keterlaluan, Jong In,” nyonya Kim berucap pelan sambil menatap Ji Hyun kemudian menyusul wanita tadi keluar. Tuan Kim hanya menepuk bahu Jong In dan Ji Hyun lalu meninggalkan ruang tengah itu tenggelam ke sebuah keheningan.

PLAK

Detik berikutnya terdengar suara tamparan yang berasal dari pertemuan antara tangan Ji Hyun dan pipi Jong In. Gadis itu segera melepaskan diri dari genggaman Jong In kemudian tersenyum miring mendengar rintihan kesakitan milik laki-laki itu.

“Itu bayarannya karena sudah memegang tanganku,” ujar Ji Hyun seraya berjalan ke pintu depan dan membawa masuk dua kopernya.

Ya! Kau sudah janji menolongku, bodoh. Jangan menamparku sembarangan,” protes Jong In dan Ji Hyun pura-pura tidak mendengarnya.

“Koperku dibawa kemana?” tanya Ji Hyun polos.

Jong In memutar bola matanya dan menunjuk lantai dua dengan dagunya. “Pintu putih di sebelah kanan.”

Tanpa mengatakan apapun Ji Hyun membawa kopernya secara bergantian menaiki tangga. Sementara Jong In hanya duduk di sofa sambil menonton televisi masih dengan setelan kemeja tadi siang. Setelah membawa kopernya ke kamar –tanpa sempat membereskan, Ji Hyun bergabung di ruang tengah bersama Jong In. Ia membawa amplop cokelat di tangannya lalu meletakkan benda itu di atas meja.

“Aku sudah tanda tangan di sana,” Ji Hyun berujar sambil memeriksa toples berisi makanan yang masih penuh di ruang tengah.

“Besok kau bisa ke kantor catatan sipil ‘kan? Aku selesai rapat jam 11,”  balas Jong In lalu memeriksa berkas-berkas di dalam amplop cokelat itu sebagai syarat pernikahan mereka.

“Jemput aku di kampus. Ah ya, tidak ada lagi pegang-pegang tangan seperti tadi. Aku akan mematahkan tanganmu kalau kau bertindak lebih dari itu, Kim Jong In,” ancam Ji Hyun dan Jong In hanya melirik ke arahnya, tidak percaya. “Aku serius, bodoh. Kau bisa tanya Chanyeol berapa orang yang sudah masuk rumah sakit karena aku.”

Aigoo. Kau tidak akan tega membuatku masuk rumah sakit,” balas Jong In santai.

“Tidak ada ampun untuk orang yang salah, bahkan Chanyeol sekali pun,” Ji Hyun menemukan satu toples wafer lalu menyuapkan kue manis itu ke dalam mulutnya.

“Chanyeol itu pacarmu?” Jong In mencoba membuat nada bicaranya sedatar mungkin.

“Bukan. Kami bersahabat sejak sekolah dasar, jadi yaa begitu,” jawab Ji Hyun masih sambil menghabiskan potongan wafer di dalam toples itu.

“Kalau kau lapar, masih ada satu bungkus ramen di lemari. Aku masuk kamar dulu,” Jong In mengambil jasnya dari sandaran sofa lalu beranjak dari sofa, meninggalkan Ji Hyun sendirian di sana. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Jong In bukan seseorang yang mudah membuka pembicaraan atau berbasa-basi, jadi ia lebih baik pergi dari sana daripada harus terjebak keheningan.

***

Jam kuliah sudah selesai satu jam yang lalu dan Ji Hyun terjebak di kampus. Pemukulan yang dilakukan olehnya dua hari yang lalu ternyata membuat masalah baru dan ia harus kembali menemui dekan. Baekhyun sedang pergi dan ia tidak mungkin membawa Chanyeol ke dalam sana. Pilihan terakhirnya hanya Jong In namun laki-laki itu belum juga datang untuk menjemputnya.

Ji Hyun hanya menatap Chanyeol yang berdiri di depannya dengan gelisah. Mereka berdiri di depan ruangan dekanat dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk. Rasanya Ji Hyun tidak bisa masuk ke sana sendirian, biasanya hanya Baekhyun yang masuk dan ia menunggu di luar.

“Dimana Jong In?” tanya Chanyeol akhirnya. Ji Hyun menurunkan ponselnya dari telinga lalu menghela napas panjang. Ponsel Jong In masih tidak bisa dihubungi.

“Tidak diangkat. Mungkin dia masih rapat. Aah, ottohke, Chanyeol-ah~,” Ji Hyun menggoyangkan kedua lengan Chanyeol sambil merengek.

“Sudah kubilang kendalikan emosi, jangan buat masalah lagi. Sekarang Baekhyun tidak ada dan kau yang pusing,” ujar Chanyeol menasehati seraya mengacak rambut Ji Hyun. Gadis di hadapannya itu masih bergerak gelisah dan kembali berusaha menghubungi Jong In.

“Sekarang aku sadar kenapa Baekhyun sering memarahiku tentang hal ini. Dia banyak berkorban karena kesalahanku, Chanyeol—Ya! Kau dimana? Kenapa belum datang?” tanya Ji Hyun dengan nada setengah berteriak lalu berjalan menjauhi Chanyeol. “Kau di depan gedung hukum? Gedung seni ada di belakangnya. Ppalli.

Tidak butuh waktu lama bagi Ji Hyun untuk menemukan Jong In berjalan di koridor dari arah gedung Hukum menuju ke arahnya. Pria itu memakai celana bahan berwarna abu dan kemeja putih yang kembali digulung sampai siku. Beberapa wanita mencoba melirik ke arah Jong In –yang terlihat kontras dengan mahasiswa lainnya itu. Dan Ji Hyun sadar bahwa postur tubuh Jong In sangat bagus dan pas sekali dengan balutan kemeja.

“Kau terlambat,” protes Ji Hyun dan Jong In hanya melirik jam tangannya.

“Rapatnya baru selesai setengah jam yang lalu,” jawab Jong In lalu melirik Chanyeol yang tengah memperhatikannya dari ujung kaki.

Ji Hyun yang menyadari tatapan keduanya kemudian berdehem pelan untuk mencairkan suasana. “Nanti saja perkenalannya. Kau masuk sekarang.”

“Kenapa aku harus masuk?” tanya Jong In heran. Ji Hyun menggeleng cepat kemudian mendorong Jong In segera memasuki ruangan dekanat.

Hampir 15 menit Jong In berada di dalam dan Ji Hyun terus menggigit ujung jarinya dengan gelisah, takut jika Jong In dimarahi habis-habisan oleh sang dekan. Setelah ini ia berjanji pada Jong In akan membuatkan makan malam yang enak. Oh atau lebih tepatnya membeli, karena ia tidak bisa memasak.

Entah apa yang akan terjadi pada Jong In ketika keluar nanti. Mungkin ia akan dimarahi balik –seperti Baekhyun biasanya setelah menemui dekan dan menasehatinya panjang lebar. Tapi sepertinya Jong In bukan tipe laki-laki yang seperti itu.

Pintu kayu berwarna cokelat di hadapannya itu tiba-tiba saja terbuka dan Ji Hyun segera menghampiri Jong In yang baru saja keluar. Begitu juga dengan Chanyeol yang mengekor di belakangnya.

“Dia bilang apa?” tanya Ji Hyun takut-takut. Ekspresi dingin Jong In sangat sulit ditebak saat ini.

“Menurutmu apa?” Jong In bertanya balik kemudian kembali melirik jam tangannya. “Aku harus kembali ke kantor jam dua. Ayo berangkat sekarang.”

“Tapi, Jong In-ssi –,” Ji Hyun menghentikan ucapannya ketika Jong In melangkah begitu saja meninggalkannya. Ia kemudian melirik Chanyeol yang tengah mendecak pelan. “Aku harus pergi, Yeol-ah.”

“Itu calon suamimu?” tanya Chanyeol meyakinkan.

“Mulai hari ini dia jadi suamiku,” Ji Hyun terkekeh pelan lalu memukul pelan lengan atas Chanyeol. “Aku pergi dulu. Annyeong.”

Dengan setengah berlari Ji Hyun segera menyusul Jong In yang melangkah cepat dengan kaki panjangnya. Ia memberi jarak di belakang Jong In dan hanya menatap punggung laki-laki itu. Satu hal lagi yang baru disadar olehnya, Jong In ternyata cukup tinggi juga. Hampir sama seperti Chanyeol namun postur tubuh Jong In lebih ideal dan enak dilihat. Ah ya, dengan paha yang sedikit besar dan pundak yang lebar.

Ji Hyun terkekeh pelan ketika malah mengamati postur tubuh Jong In. Namun tawaannya terhenti saat ia menabrak punggung Jong In –yang berhenti tiba-tiba. Ia memiringkan kepalanya lalu melangkah ke samping laki-laki itu. Jong In hanya menatap lurus ke arah seorang wanita yang tengah duduk dan membaca buku di kursi taman dekat gedung hukum.

“Kim Jong In? Kenapa berhenti? Katanya kau harus—.”

“Jangan patahkan tanganku. Ini terpaksa,” Jong In memotong ucapan gadis itu dengan cepat lalu merangkul bahu Ji Hyun agar semakin dekat dengannya.

Tepat ketika wanita itu menoleh ke arah mereka, Jong In segera menyeret Ji Hyun melewati jalan setapak di taman itu. Bahkan Jong In memberikan senyum hangatnya pada Ji Hyun lalu mengacak rambut gadis itu dengan lembut. Terlalu banyak perlakuan Jong In –yang membuat Ji Hyun ingin menghajar laki-laki itu sekarang.

“Kau mau mati hah? Lepaskan tanganmu sekarang,” protes Ji Hyun ketika mereka sudah memasuki parkiran. Ekspresi Jong In kembali menjadi dingin dan melepaskan tangannya dari tubuh pendek gadis itu.

Dwaesseo. Cepat masuk mobil,” Jong In bergegas menuju pintu sebelah kiri dan Ji Hyun memasuki pintu sebelah kanan.

Hanya ada keheningan –lagi setelah mobil melaju meninggalkan Kyung-hee. Ji Hyun sesekali melirik ke arah Jong In yang sedang fokus menyetir tanpa melihat ke arahnya. Rasanya bibirnya gatal sekali untuk bertanya mengenai wanita tadi, namun Jong In sudah lebih dulu membuka mulut.

“Kau memukul orang lagi?” tanya Jong In tiba-tiba.

Ji Hyun mengalihkan pandangannya keluar jendela. “Mereka yang cari masalah. Makan siangku jatuh ke lantai dan mereka tidak mau minta maaf. Ada alasan untuk tidak memukulnya?”

“Kau diliburkan seminggu,” ujar Jong In cepat.

Mwo?! Jinjja?” Ji Hyun membulatkan kedua matanya tidak percaya. “Yeheeet~, aku bisa tidur seharian.”

Berbeda dengan persepsi Jong In, gadis itu malah senang ketika mendapat hukuman libur dan sekarang tengah bernyanyi tidak jelas. Padahal Jong In sudah bingung setengah mati ketika masuk dekanat dan mendengar ucapan menusuk yang dilontarkan untuk Ji Hyun. Sebenarnya ia juga sudah berusaha agar Ji Hyun tidak dihukum berat hingga hanya diliburkan seminggu saja.

“Kenapa malah senang? Tadi kau hampir dikeluarkan dari sana, tapi aku memintanya memberikanmu kesempatan lagi,” jelas Jong In dan membuat Ji Hyun diam menatapnya. “Kalau kau membuat masalah lagi, mungkin kuliahmu selama tiga tahun ini akan sia-sia.”

Araseo. Gomawo, Jong In-ssi,” Ji Hyun hanya tersenyum polos sambil membungkuk singkat dibalik seatbeltnya.

“Ah, berhenti panggil aku seformal itu. Kita akan menikah sebentar lagi.”

***

Rasanya hidup Ji Hyun masih bisa dihabiskan untuk bersenang-senang di masa muda. Namun ia malah harus berhadapan dengan kenyataan lain bahwa ia sudah menjadi istri seorang presiden direktur perusahaan besar bernama Kim Jong In. Kantor catatan sipil sudah mengesahkan surat nikah mereka dan hanya tinggal menyiapkan resepsi saja.

Ji Hyun mengaduk-aduk makan malamnya dengan tidak selera. Ia terus memikirkan Baekhyun sejak pernikahannya dan Jong In disahkan tadi siang. Ia mulai merindukan sosok Baekhyun di sisinya. Setiap malam mereka akan menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita mengenai hari itu sebelum Baekhyun berangkat ke bar untuk bekerja lagi. Setiap harinya Baekhyun akan menghabiskan waktunya dengan bekerja di sebuah restoran jjangmyeon dekat apartemen mereka lalu malamnya berangkat ke bar. Kakaknya bekerja terlalu keras untuk kehidupan mereka dan Ji Hyun sering menghancurkan semua usaha laki-laki itu.

Pandangan Ji Hyun tertuju pada pintu apartemen yang terbuka. Jong In memasuki ruang tengah dengan langkah gontai kemudian menaiki tangga begitu saja tanpa melihat ke arahnya –yang tengah duduk di mini bar. Ia hanya mengendikkan bahu tak acuh lalu kembali menyantap bibimbap yang dibelinya di kaki lima sebelum pulang tadi.

Beberapa saat kemudian Ji Hyun melihat Jong In kembali menuruni tangga dengan wajah yang basah. Pria itu menghampirinya di dapur lalu membuka kulkas, meneguk sebotol air dingin tanpa menggunakan gelas. Ternyata Jong In hampir sama dengan Ji Hyun yang hampir tidak pernah menggunakan gelas untuk minum.

“Kau sudah makan?” tanya Ji Hyun berbasa-basi.

“Astaga. Aku lupa,” jawab Jong In seraya menepuk perutnya sendiri. “Pantas saja aku lapar. Tadi siang juga aku tidak sempat makan.”

Tiba-tiba saja Ji Hyun menyodorkan mangkuk berisi bibimbapnya pada Jong In. “Aku tidak lapar. Kau makan saja sisanya, aku mau tidur.”

Jong In menatap mangkuk itu dalam diam. Bibimbap di dalamnya sudah berbentuk tidak karuan dan mulut gadis itu penuh dengan sayuran yang belum sempat dikunyah. Jong In menggeleng pelan lalu menyodorkan kembali mangkuknya pada Ji Hyun.

“Aku masak ramen saja. Habiskan bibimbapnya,” Jong In segera membuka lemari di atas kepalanya dan masih menemukan satu bungkus ramen di sana. Sepertinya Ji Hyun tidak jadi memasak ramen itu tadi malam.

Sebenarnya Ji Hyun juga bingung harus memulai pembicaraan apa dengan laki-laki –yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Masih seperti mimpi rasanya, tinggal bersama laki-laki selain Baekhyun dan bahkan mereka akan saling berbagi bagian rumah mulai sekarang. Beruntung Jong In masih memberikannya kamar khusus tanpa perlu takut tidur bersama seperti pasangan suami-istri lainnya. Membayangkannya saja membuat Ji Hyun bergidik ngeri.

“Setiap hari kau pulang jam tujuh malam?” tanya Ji Hyun mencoba mencari informasi mengenai hidup suaminya. Suami, perut Ji Hyun bergejolak geli ketika mengingatnya.

“Kadang lebih malam. Setiap pulang kerja biasanya aku akan ke bar,” jawab Jong In, masih fokus dengan panci berisi ramen yang tengah dimasaknya.

“Bar tempat Baekhyun bekerja? Aaah, sekarang aku tahu kenapa kalian bisa kenal,” balas Ji Hyun, menyimpulkan sendiri ucapan singkat Jong In.

“Ah ya, kau tidak perlu menungguku setiap malam. Kadang aku bisa di kantor sampai jam 10,” Jong In beringsut duduk di mini bar tepat di samping Ji Hyun, menunggu ramennya masak sepenuhnya di atas kompor. “Ceritakan hidupmu.”

Ji Hyun menoleh cepat ke arah Jong In. “Tentang apa?”

“Apapun. Aku harus tahu masa lalu istriku,” jawab Jong In dan sukses membuat perut Ji Hyun kembali bergejolak geli. Sepertinya Ji Hyun  harus mulai terbiasa dengan sebutan-sebutan itu.

“Aku mahasiswa Jurusan Seni di Kyung-hee, sudah semester akhir, dan tinggal di apartemen dekat Hongdae bersama Baekhy—.”

“Bukan itu. Ceritakan yang lainnya,” potong Jong In seraya turun dari kursi dan mengangkat ramennya yang sudah matang, sambil memasang telinganya lebar-lebar.

“Jangan suka memotong pembicaraan, bodoh,” Ji Hyun menghela napas panjang untuk siap-siap menceritakan hidupnya. “Ayah dan ibuku meninggal ketika aku kelas dua SMP dan Baekhyun yang masih kelas satu SMA. Hidupku berubah drastis karena appa dan eomma meninggalkan banyak hutang dan membuat Baekhyun kelimpungan mencari uang.”

“Banyak yang meremehkan kami karena hal itu. Baekhyun tidak pernah protes tentang orang-orang itu, tapi aku paling tidak suka dan memukul siapa pun yang meremehkan keluargaku. Karena itu juga Baekhyun sering marah, aku sering diskors, banyak surat peringatan dari kampus, dan terakhir Baekhyun yang diskors dari pekerjaannya juga karena aku.”

“Tentang Chanyeol. Kami bersahabat sejak sekolah dasar karena aku menyelamatkannya dari anak-anak nakal. Dia mengikuti kemana pun aku sekolah, sampai universitas Kyung-hee, dan itu membuat orangtuanya membenciku, apalagi aku suka berkelahi. Setiap aku main ke rumah Chanyeol, ibunya tidak pernah membuatkan minum lalu pergi masuk ke kamar. “

Ji Hyun menarik napas panjang lalu melirik Jong In yang mendengarkannya sambil terus menyantap makan malamnya. Ekspresi laki-laki itu tidak berubah sama sekali sejak ia mulai cerita tentang hidupnya. Mungkin memang takdirnya menikah dengan pria dingin tanpa ekspresi seperti Jong In.

“Sekarang giliranmu. Aku yakin kau punya masa lalu yang hebat,” lanjut Ji Hyun seraya memperhatikan Jong In yang sibuk menghabiskan ramennya.

“Nanti saja. Aku sibuk,” balas Jong In kalem, namun Ji Hyun malah mencubit lengan atasnya. “Ya! Kenapa mencubitku?!”

“Tidak adil. Kau juga harus ceritakan semuanya,” protes gadis itu. Ia melihat Jong In hanya mendesis pelan kemudian menyelesaikan makan malamnya tanpa menghabiskan ramen itu.

“Aku tidak suka orang lain tahu tentang hidupku,” Jong In berkata dengan dingin dan membuat Ji Hyun bergidik ngeri. Tatapan Jong In terlihat sangat serius, bahkan Ji Hyun yang selalu melawan pun kini tidak berani membantah. “Aku tidur duluan.”

Kemudian Ji Hyun hanya memandangi punggung Jong In yang menjauh dan menghilang ke lantai dua. Ternyata Jong In lebih mudah marah, tidak seperti persepsinya selama ini. Padahal ia berharap bisa mengetahui hidup laki-laki itu untuk hidup bersama enam bulan ke depan. Ji Hyun mendengus pelan lalu melirik mangkuk ramen Jong In yang belum habis. Ia memastikan Jong In sudah benar-benar masuk kamar kemudian menggeser mangkuk itu ke hadapannya untuk dihabiskan.

“Kau selalu kelaparan, ya?”

“UHUK! Ya–Uhuk!”

Ji Hyun hampir mati tersedak ketika Jong In kembali muncul, membuka kulkas dan mengambil buah apel dari dalam sana. Rasa pedas ramen itu berhasil membuat kerongkongan Ji Hyun terasa sangat panas. Ia masih terbatuk heboh saat Jong In menaruh segelas air di hadapannya.

“Kalau masih lapar masih ada buah di kulkas,” Jong In menggigit buah apel itu lalu beranjak meninggalkan Ji Hyun. Benar-benar naik ke lantai dua dan memasuki kamarnya. Dan Ji Hyun masih merutuki kebodohannya karena sembarangan memakan ramen milik laki-laki itu.

***

Suasana kantor tidak begitu baik akhir-akhir ini dan membuat Jong In harus bekerja lebih keras lagi. Banyak karyawan yang menuntut padanya karena proyek-proyek yang sedang dikerjakan tidak memiliki status yang jelas. Jong In sudah mencoba menemui para pemilik proyek itu dan mereka sedang menimbang-nimbang tentang kinerja perusahaannya.

Jong In memeriksa berkas-berkas perkembangan proyek perusahannya lalu mendesah pelan. Banyak karyawannya yang sudah mengundurkan diri atas proyek itu. Jika proyek-proyek itu tidak kembali dijalankan, maka Jong In akan rugi lebih besar lagi. Dan ia tidak tahu bagaimana cara menutupi semua kerugian itu.

“Presdir Kim,” suara sekretarisnya menyeruak masuk ke telinga Jong In. Jong In mengangkat kepalanya dari sandaran kursi lalu menatap sekretarisnya dengan heran.

“Kau tidak mengetuk dulu?” tanyanya memastikan.

“Aku sudah mengetuk tadi, tapi tidak ada jawaban,” jawab gadis berparas cantik itu kemudian meletakkan beberapa map lagi di atas meja Jong In. “Ini laporan keuangan bulan lalu.”

“Ah, terima kasih sekretaris Lee,” balas Jong In seraya membuka satu map paling atas. “Kau bisa keluar sekarang.”

Chogi, presdir Kim, sekarang sudah waktunya makan siang,” ucap gadis itu lagi dan Jong In segera melirik jam tangannya untuk memastikan.

“Kau makan duluan saja, aku masih mau memeriksa berkasnya,” Jong In mencoba menolak, dengan kedua mata yang masih fokus memperhatikan deretan angka yang membuat kepalanya semakin pusing. “Aku titip roti dan ice americano saja.”

Algesseumnida. Aku permisi dulu.”

Jong In tidak memperhatikan langkah sekretarisnya dan tetap menelaah laporan keuangan. Kerugian perusahannya sudah sangat banyak namun Jong In akan berusaha menutupi itu semua dan meraih kejayaannya kembali. Pandangan Jong In teralihkan ketika ponselnya yang berada di atas meja bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Ia membuka ponselnya dan menemukan pesan dari Ji Hyun, istrinya.

From: Buin Ji Hyun

Apartemenmu sepi sekali T.T Karena bosan akhirnya aku jalan-jalan keluar kkk. Kau sudah makan siang? Mau kubelikan sesuatu?

Ji Hyun lebih terlihat sebagai teman daripada istrinya dan Jong In menyukai hal itu. Ketika ia mengatakan tidak suka bahwa kehidupan pribadinya diketahui orang lain maka Ji Hyun mulai membatasi untuk itu. Sudah tiga hari Ji Hyun melewati jatah skorsnya dengan berada di apartemen saja dan dihari keempat akhirnya gadis itu berjalan keluar juga. Dengan Jong In yang memberikan uang saku tentu saja karena Baekhyun sudah menitipkan adiknya itu sebagai bagian dari hidupnya.

Jong In mengetikkan pesan balasan untuk Ji Hyun kemudian kembali menekuni berkas-berkas lainnya. Setidaknya ia sudah punya seseorang yang mulai memperhatikan tentang jadwal makannya selain sekretaris Lee.

Tiga puluh menit kemudian Jong In menyerah menganalisis laporan keuangannya karena perut yang lapar kemudian beranjak ke sofa untuk berbaring. Meluruskan tulang-tulang punggungnya yang terasa pegal. Belum sempat Jong In menghela napas panjang ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. Ia hanya berdehem pelan sambil mengubah posisinya menjadi duduk kembali lalu memperhatikan sekretaris Lee yang berjalan menghampirinya.

“Ini roti dan ice americanonya,” ujar gadis itu seraya meletakkan tas plastik itu di meja di hadapan Jong In.

Gomawo, nanti uangnya aku ganti di gajimu saja, Hana-ssi,” Jong In hanya tersenyum simpul dan mulai membuka jatah makan siangnya. Namun sekretaris Lee tetap berdiri di sana dan membuat Jong In kembali menatap gadis itu. “Kenapa? Apa kau mau diganti sekarang?”

Anhi, presdir Kim. Emm, di depan ada tamu untukmu. Aku tidak yakin dia mengatakan hal yang benar atau terobsesi padamu saja karena dia terlihat seperti anak SMA labil yang suka membuat masalah. Dan wanita itu mengatakan dia adalah…. Istrimu. Padahal aku tahu hidupmu dan kau belum menikah selama ini,” ujar Hana panjang lebar.

Jong In menaikkan sebelah alisnya mendengar semua ucapan sekretarisnya lalu tersenyum simpul. Ia lupa mengatakan pada dunia bahwa statusnya sudah berubah menjadi milik orang lain sejak empat hari yang lalu.

“Maaf, Hana-ssi. Tapi wanita labil yang suka membuat masalah seperti ucapanmu itu memang istriku. Kami menikah empat hari yang lalu,” jelas Jong In dan membuat ekspresi Hana membeku seketika. “Dan dia bukan anak SMA.”

“A-ap-apa?”

“Tolong suruh Ji Hyun masuk,” titah Jong In.

Dalam beberapa detik Hana masih mematung dan belum mempercayai kenyataan yang ada. Bahwa presiden direktur favoritnya sudah menikah dengan orang lain, membuat hatinya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Padahal ia tidak pernah tahu bahwa Jong In memiliki kekasih di luar sana dan tiba-tiba saja sudah menikah. Memang kenyataan yang sangat pahit.

Jong In menatap punggung sekretarisnya yang menghilang dibalik pintu lalu digantikan oleh sosok Ji Hyun beberapa saat kemudian. Gadis itu tersenyum polos seraya melangkah menghampirinya dengan sebuah kotak bergambar ayam goreng. Ji Hyun duduk di sebelah Jong In lalu meletakkan kotak berisi beberapa potong ayam goreng –seperti pesanan laki-laki itu tadi.

Eoh? Kau sudah makan?” tanya Ji Hyun heran, melihat bungkus roti dan segelas ice americano di atas meja.

“Aku belum memakannya. Kau mau?” Jong In menyodorkan roti miliknya dan gadis itu hanya nyengir polos.

“Sepertinya enak, buatku saja, ya?” tanpa menunggu jawaban Jong In, Ji Hyun segera mengambil roti itu dan menyantapnya dalam diam.

Jong In mendengus pelan –sambil sedikit tersenyum lalu membuka kotak ayam kesukaannya. Ia tahu Ji Hyun sudah makan di restoran ayam tadi dan sekarang malah memakan rotinya juga. Setelah beberapa hari tinggal bersama gadis itu, ia menjadi tahu bahwa Ji Hyun sangat suka sekali dengan makan –tetapi tidak bertambah gendut sama sekali. Dan Jong In sedikit iri dengan hal itu sebenarnya.

“Kenapa kau tiba-tiba mau datang ke sini?” tanya Jong In tiba-tiba seraya menyantap ayam gorengnya.

“Daripada sendirian di apartemen. Chanyeol juga sedang kuliah jadi aku tidak bisa mengajaknya main. Memangnya kau tidak suka?” Ji Hyun berkata dengan cepat dan tiba-tiba saja membuat Jong In tersenyum simpul.

Perlu dicatat bahwa akhir-akhir ini Jong In sering sekali tersenyum simpul padanya seperti itu. Sedikit ada perubahan ekspresi daripada hanya menatapnya dengan ekspresi dingin dan susah ditebak itu.

Anhi. Kau harus sering datang ke sini agar orang-orang tahu statusku,” jawab Jong In seraya mengalihkan pandangannya kembali pada bagian tubuh ayam yang dilumuri tepung di dalam kotak itu. Ia mulai mengambil satu potong ayam lalu memakannya dengan cukup cepat.

Ji Hyun memperhatikan bagaimana Jong In menyantap jatah makan siangnya dengan cepat. Mungkin kegiatan favoritnya sekarang mengamati kesukaan Jong In agar ia tidak membuat laki-laki itu marah lagi. Ketika marah, ia tidak bisa membantah –dan berbeda sekali ketika bersama Baekhyun.

“Wanita tadi itu sekretarismu, ya?” tanya Ji Hyun akhirnya mencoba membuka pembicaraan. Dan Jong In hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Aigoo, aku hampir saja menamparnya tadi.”

“Memangnya dia bilang apa?” tanya Jong In balik.

Ji Hyun menegakkan duduknya dan membuat ekspresi seperti sekretaris Lee. “Maaf, tapi presdir Kim tidak pernah kenal apalagi menikah dengan wanita sepertimu, nona. Lebih baik kau pulang dan kembali ke sekolah daripada terus berkhayal untuk menjadi istrinya.

Jinjja?” Jong In menahan senyumnya agar tidak meledakkan tawa, melihat ekspresi Ji Hyun –yang mirip sekali dengan gaya Hana. Gadis itu hanya mengangguk lalu kembali memakan potongan roti.

“Aku puas sekali lihat wajahnya saat kau bilang aku ini benar-benar istrimu. Itu lebih dari tamparan keras milikku,” Ji Hyun tersenyum bangga seraya menepuk dada kirinya dan Jong In akhirnya terkekeh pelan sambil mengacak rambut gadis itu. Membuat Ji Hyun membeku seketika.

“Apa? Jangan patahkan tanganku, itu hanya refleks,” sahut Jong In cepat saat Ji Hyun menatap lurus ke arahnya.

“Sekali lagi kau menyentuhku, tanganmu tidak akan selamat, Kim Jong In.”

[Over Bride] Chapter 2 CUT__

Aaaa seneng banget ternyata responnya bagus, makasih buat yang udah komen di part sebelumnya ya /ciumbasahjongin/

Ini chapter duanya silakan dinikmati jangan lupa komennya ya~^^

 

Best Regards,

Ima

 

Advertisements

422 responses to “Over Bride [Chapter 2]

  1. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter part 2 | choihyunyoo·

  2. Ahhh so sweet…

    Ngakak pas yeol ngatain nama kim jongin, dasar emang…

    Suka sm persahabatan yeolyeol m ji hyun

  3. Haiiiiiii waaaah aku new readers. Ah paling suka tema married life kayak gini hehehehe ah suka deh. Alurnya bisa ngepas gitu seneng deh wkwk😊😊
    Pokoknya mau lanjut terus baca hehe ditunggu ff yang lain😊

  4. si jihyun lucu banget, tipe tipe cewek cewek gangster gitu, koplak banget. hahaha. seimbang lah ya jonginnya dingin jihyunnya bubbly gitu, jadi saling melengkapi lah. hehehe

  5. ya.. kekhawatiran chanyeol tentang perubahan dlm persahabatan mereka emang wajar sih…
    dan.. ya ampun jihyun berulah lagi
    hu.. emang ganas tu anak wkwk

  6. imaaaa XD aq liad ad ff qm nyempil d dftar rekomendasi, yauda deh baca aja smbil nungguin DM nya update :v
    oya aq lgaung komen d chap 2 krna tdi d chap 1 uda cba komen tp gbsa, mga” d chap 2 ini trkirim komennya :3
    ih greget bgt ama Baek tau” ngilang gtu -_- msa adeknya nikah jga dy gadateng, yah walopun katanya cma 6 blan tp kyanya bakal lebih deh :v
    eh siCeye itu g as prasaan khusus gtu ama Jihyun? kog dy g heboh gtu hahaa
    btw cewek yg d kampusnya Jihyun tu mantannya Jongin ya?
    Byun brsaudara emg ska apes :v sma” diskros -~-
    aq pling suka wktu Jihyun mkan ramennya Jongin teus tau” Jongin balik lgi ngambil apel, wkwkk ikutan keselek aq wktu bca part itu,,
    pke aq bca next nya Ima, fighting!!! :*

  7. jong in yang dingin dan ji hyun yang kasar, cocok sekaleeee 😀 mulai suka sama couple ini meski tak sesuka kaina couple. next chapter

  8. Mungkin tanganku udah patah dari dulu kali ya kalau temenan sama jihyun secara aku orangnya suka main tangan(?) :” dan btw siapa ya cewek yg dilihat jongin di kampus 😱

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s