Unpredictable Marriage {Chapter 7} – Marshashinee

Unpredictable-marriage

| Title Unpredictable Marriage |

| Main Cast Oh Sehoon – Park Minyoung |

| Addictional Cast Park Chanyeol, Park Jiyeon, Kim Myungsoo |

| Genre Marriage Life, a little bit comedy, University Life |

| Rating PG-17 |

Visit my blog : mfiraidie

WARNING! TYPO(s) BERTEBARAN

Poster by myself

Marshashinee Present

Unpredictable Marriage

[ Chapter 7 ]

Links to preview :

[Teaser and Talk] | [ Chapter 1 ] | [ Chapter 2 ] | [ Chapter 3 ] | [ Chapter 4 ] | [ Chapter 5 ] (Protected) | [ Chapter 6 ] (Protected)

.

.

.

“Hah?”sahut Sehun spontan. “Aku hanya melakukan hubungan suami-istri pada umumnya.”jawab Sehun kemudian—dengan nada tanpa dosa.

“Benarkah?”Baekhyun mulai tertarik dengan pengujaran Sehun. “Bagaimana kau melakukannya?”tanya Baekhyun antusias.

Sehun segera menghadiahkan jitakan di puncak kepala Baekhyun. “Itu adalah rahasia seorang.. suami.”jawab Sehun kemudian dengan senyuman yang terbilang—aneh.

“Apakah Minyoung.. ganas?”tanya Chanyeol sedikit ragu. “Maksudku.. yah—“

“Tidak juga.”potong Sehun cepat. “Dia hanya mengikuti instruksiku.. mungkin.”lanjutnya.

“Whah, Ke-pervert-an Sehun sudah keluar jika menyangkut—“ucap Baekhyun terpotong karena Dosen sudah datang.



Chapter 7

Minyoung memandang kalender yang menggantung di kamarnya. Ia terus menatap satu-persatu deretan angka yang tertera di kalender tersebut. Bola matanya berhenti tepat di angka yang sudah di lingkari oleh dirinya tempo hari.
“Sekarang sudah bulan Maret. Tidak terasa. Bahkan aku tidak tahu oernikahanku dengan Sehun sudah berapa lama. Dan.. tujuh hari lagi aku berulang tahun.”gumam Minyoung. “Sehun mengetahuinya tidak ya?”lanjutnya yang terdengar seperti bertanya.

Minyoung menghela nafas panjang. Perihal Sehun mengetahui tanggal lahirnya atau tidak ia pun juga tak tahu. Mungkin Sehun tidak mengetahuinya. Atau mungkin tidak ingin mengetahuinya?

“Ah, Molla.”ucapnya malas. Minyoung berbalik lalu berjalan ke tempat tidur. Minyoung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Minyoung mengeluarkan ponsel yang tadinya berada di saku celananya.

Minyoung menautkan alisnya tatkala melihat nomor tak di kenal yang tertera di layar ponselnya. Sejenak ia berfikir. Apakah Sehun mengganti nomornya? Atau Chanyeol meminjam ponsel temannya? Tetapi itu tidak mungkin.

Minyoung mengabaikan apa yang di pikirkannya lantas melihat isi pesan yang di kirim dari nomer tak di kenal tersebut.

From : 103896xxxxx

Apakah kau ada waktu? Temui aku di Delique Cafe jam 7 nanti. Ini penting! Oh iya, aku mengganti ponselku. Yang lama sudah rusak😦

-Myungsoo-

Myungsoo?

Minyoung melirik jam dinding kamarnya. Ia memutar bola matanya malas. Minyoung kembali menatap layar ponselnya. Jam 7?

Minyoung kembali melirik jam dinding dan ponselnya bergantian. Sekarang jam 18.00 KST? Oh tidak! Bahkan ia belum mandi sore!

Minyoung langsung turun dari ranjangnya dan bergegas mandi. Tak butuh waktu lama, ia sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai baju pergi simple tetapi tidak memudarkan wajah cantiknya.

Minyoung langsung berjalan dengan tergesa tak lupa ia mengamit tas selempangnya dan juga kunci mobilnya.


Minyoung memasuki dalam cafe sambil menolehkan kepalanya kesamping kiri-kanan demi mencari orang yang ingin menemuinya—Kim Myungsoo.

Sampai bola matanya berhenti tatkala menangkap sosok yang dicarinya sedang duduk di meja kafe. Minyoung mengernyit karena tempat yang dipilih Myungsoo adalah tempat yang dibilang.. sempit?

Minyoung menepis pikiran anehnya lalu melangkahkan kaki jenjangnya untuk menghampiri Myungsoo.

“Hei!”sapa Minyoung lalu ia duduk di kursi hadapan Myungsoo. Myungsoo hanya tersenyum mendapati Minyoung.

“Hei juga.”balas Myungsoo akhirnya. Myungsoo mengedarkan pandangannya guna mencari tahu apakah ia aman atau tidak.

“Minyoung-ah.”panggil Myungsoo. Minyoung mendongak. “apa?”

“Kau tahu apa alasanku untuk menyuruhmu datang ke sini?”tanya Myungsoo. Minyoung menggeleng pelan, “memangnya ada apa?”

“Aku.. Tadi pagi aku melihat Sehun dengan Jiyeon berbicara..”ujar Myungsoo. Minyoung memajukan badannya merasa tertarik dengan pengujaran Myungsoo.

“Entah apa yang di bicarakan mereka.. tetapi aku mendengar mereka akan ke cafe ini.”lanjut Myungsoo. “Kau.. sebaiknya hati-hati dengan Jiyeon noona. Kau ingat ‘kan apa yang ia lakukan padamu saat SMA dulu? Untungnya aku ada disitu.”tambah Myungsoo.

Minyoung tertohok mendengar pengujaran Myungsoo. Bahkan Myungsoo sama sekali tidak tahu-menahu bahwasanya Jiyeon dulu menyukainya.

“Ya, aku sudah tahu mengenai hal itu, Myungsoo. Bahkan—“ucapan Minyoung terpotong karena matanya menangkap dua sosok visual yang sangat ia kenal.

“Mereka datang!”seru Minyoung pelan. Minyoung mengambil buku menu lantas menutupi wajah mereka berdua dari samping agar tak kelihatan.

“Dasar bodoh! Apa yang kau pikirkan?! Kita seperti mata-mata Minyoung!”cerocos Myungso pelan.

“Bukankah itu misi kita?”tanya Minyoung pelan.

“Sejak kapan aku bilang bahwa kita akan memata-matai mereka?”balas Myungsoo.

“Aish!”delik Minyoung. “Sudah ikuti saja kataku!”titah Minyoung.

Wajah Minyoung dan Myungsoo merayap ke atas buku Menu. Mata mereka tak lepas dari dua sosok yang sedang mengobrol dengan pelayan yang berada di tengahnya. Sepertinya mereka sedang memesan sesuatu.

Ingin sekali rasanya Minyoung menghampiri lalu menarik Sehun untuk pulang lalu mengomelinya sampai rumah. Ugh!

Sampai sekarang mereka menjadi terlihat sebagai seorang penguntit karena ide bodoh dari Minyoung. Dari cafe, sekarang Sungai Han. Bahkan sempat-sempatnya Minyoung membelikan dua buah kaca mata hitam serta topi di pedangang kaki lima demi melancarkan aksi menguntitnya. Oh, sampai-sampai motor Myungsoo terpaksa menetap di parkiran cafe. Dan itu membuat Myungsoo terus mengoceh bahkan mendumel di Mobil Minyoung. Bahkan mereka tak henti-hentinya saling melempar ejekan satu-sama lain.

Minyoung dan Myungsoo berjalan mengendap-endap mengikuti Sehun serta Jiyeon. Myungsoo yang terpaksa pun harus mengikuti penitahan Minyoung. Sampai mereka berhenti melangkah dan memutuskan bersembunyi di balik pohon tak jauh dari Sehun dan Jiyeon yang tengah berdiri di tepi Sungai Han.

“Mereka mau apa?”tanya Myungsoo yang terdengar seperti menggumam. Minyoung hanya mengendikkan bahunya karena ia juga tidak tahu.

Minyoung terus memperhatikan gerak-gerik Sehun hingga Minyoung tak sadar kalau Jiyeon tengah melihatnya saat ini. Baru saja Sehun ingin menoleh ke arah dimana Jiyeon melihat sesuatu, Jiyeon yang sadarpun langsung memeluk Sehun.

Minyoung terperangah melihat mereka. Belum lagi melihat Sehun yang diam bukannya melepas. Dan itu cukup membuat Minyoung kesal—amat kesal. Tanpa ba-bi-bu, Minyoung pergi dari tempat itu—tak kuasa melihat pemadangan tersebut. Hingga membuat Myungsoo mendecak sebal lalu mengejarnya.
.
.
.
“Terima kasih, Sehun. Kau sudah mau menemaniku.”ucap Jiyeon di sela pelukannya. Sehun hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Terima kasih juga karena kau sudah membantuku mengerjakan skripsi dari Dosen Shin. Tapi kumohon, lepaskan aku.”balas Sehun. Jiyeon segera melepas pelukannya lalu menatap pohon yang berada di jarak sekitar 10 meter dari mereka. Jiyeon tersenyum puas tatkala melihat pemandangan kosong yang ditangkap matanya. Tidak ada lagi Minyoung yang menguntit seperti sebelumnya.

“Ah, tak apa.”sahut Jiyeon akhirnya. “Kuharap kita menjadi teman yang lebih baik, Sehun-ah.”lanjut Jiyeon.

“Yah, kuharap. Ah, aku harus pulang.”ucap Sehun setelah melirik jam tangannya. “Mungkin Minyoung sedang menungguku. Annyeong..”pamit Sehun tanpa mendengarkan jawaban Jiyeon.

Sedikit kecewa mendengarnya namun kekecewaan itu pudar saat ia mengingat Minyoung yang melihat dirinya bersama Sehun berpelukan.

“Ah, senangnya membuat orang menderita..”ucap Jiyeon dengan senyuman yang merekah. Tepatnya senyuman licik.

“MINYOUNG! TUNGGU!”teriak Myungsoo karena Minyoung berlari sangat cepat. Myungsoo menambah kecepatan larinya agar bisa menyamai Minyoung.
Myungsoo menahan lengan Minyoung memaksanya untuk berhadapan dengannya. Terlihat saat ini mata Minyoung yang sembab habis menangis. Belum lagi aliran sungai kecil yang seakan membelah pipinya.
“Minyoung-ah..”panggil Myungsoo lirih. Minyoung tak menjawabnya. Ia malah kembali menangis. Myungsoo segera menarik Minyoung ke dalam dekapannya. Membiarkan Minyoung menangis dan menumpahkan kekesalannya. Bahka Myungsoo sendiri tak perduli karena Minyoung yang terus memukul-mukul pelan dadanya.

“Dasar Sehun bodoh!”maki Minyoung di sela isakannya.

“Menangislah, Minyoung.. sampai kau benar-benar tenang..”ucap Myungsoo. Minyoung tidak mendengarkannya karena ia masih sibuk dengan tangisnya. (-_-)

 

Sehun baru saja sampai di apartement-nya. Sehun beranjak dari tempatnya lalu menekan saklar lampu. Sehun mengernyit tatkala melihat apartement-nya yang terlihat kosong.

“Minyoung..?”seru Sehun memanggil nama istrinya. Berkcali-kali Sehun memanggil Minyoung tetapi tetap tak ada sahutan. Bahkan ia sudah menge-check ruang demi ruang untuk mencari sosok istri-nya.

Sehun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kemudian mengusap wajahnya kasar. Sehun merogoh saku-nya lalu mengeluarkan ponselnya. Sehun membuka kunci layar ponsel lalu menekan beberapa digit nomor–yang diketahui bahwa itu nomor Minyoung.

Sehun menempelkan ponsel di telinga kanannya. Namun ia mengernyit karena panggilanya tidak di angkat oleh Minyoung.

Sehun mencoba menelfon Minyoung lagi. Tapi nihil, tak ada jawaban.

“Argh, dimana kau Minyoung?!”erang Sehun frustasi.

.

.

.

Sementara itu, Minyoung tengah berada di sebuah kedai kopi tak jauh dari Sungai Han. Minyoung terus menyeruput Americano nya tanpa henti. Bahkan ia tak memperhatikan ponselnya yang terus-terusan berdering–persetan dengan itu.

Myungsoo yang sedari tadi memperatikan Minyoung pun hanya bisa menganga. “Hey Minyoung. Sedari tadi ponselmu berdering!”sahut Myungsoo setengah memekik.

Tidak ada sahutan dari Minyoung. Ia terus menyeruput Americano-nya.

“YAK!”panggil Myungsoo–lagi. Berhasil. Minyoung mendongak menatap Myungsoo.

“Ada apa?”tanya Minyoung datar.

Myungsoo mendengus karena telah dibuat kesal oleh Minyoung. “Sedari tadi ponselmu berdering, Bodoh!”

“Benarkah?”Minyoung menolehkan kepalanya menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Seketika ia memutar bola matanya jengah tatkala melihat deretan huruf yang tertera di layar ponselnya. Ia kembali menyeruput Americano nya daripada mengangkat panggilan telfon.

“Mengapa tidak diangkat?”tanya Myungsoo heran.

“Malas.”jawab Minyoung singkat tanpa menoleh ke arah Myungsoo.

“Memangnya siapa yang menelfon?”Myungsoo memajukan kepalanya untuk melihat ponsel Minyoung. Myungsoo mengernyit saat mendapati nama Sehun yang tertera di layar ponsel milik Minyoung. “Sehun?”ucap Myungsoo.

“Kau harusnya mengangkat panggilan Sehun, Young-ah!”cerocos Myungsoo. Minyoung hanya diam tak menanggapi ocehan Myungsoo. Lebih tepatnya malas. Minyoung malas menanggapinya.

“Yak! Minyoung–“

“Kumohon Myungsoo.”potong Minyoung cepat. “Aku tak ingin membahas tentang Sehun.”Minyoung memelas.

Myungsoo hanya bisa membungkam melihat Minyoung saat ini. Mungkin keadaan hati Minyoung sedang kacau–setidaknya saat ini. Myungsoo menganga saat melihat Minyoung yang beranjak dari duduknya.

“Kau mau kemana?”tanya Myungsoo. “Siapa yang bayar kopi ini?”

“Kau saja. Aku sedang tidak mood.”bals Minyoung. Tanpa mendengar jawaban Myungsoo, Minyoung langsung berjalan pergi meniggalkan Myungsoo sendiri.

Minyoung melangkah masuk ke dalam apartement. Sedikit heran karena lampu masih dibiarkan mati sejak ia pergi. Minyoung meraba-raba dinding guma mencari saklar lampu.

CTEK

“Dari mana saja, kau?”

Minyoung menoleh ke arah sumber suara. Sedikit malsa menanggapi pria itu mengingat hal yang baru saja di alaminya. Jangankan menanggapi, melihatnya saja malas. Tanpa ingin menanggapi, Minyoung melangkah dengan santai ke dalam kamar.

Melihat itu, Sehun langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Minyoung. Sehun menahan lengan Minyoung memaksanya untuk menghadap Sehun.

“Ku tanya sekali lagi, Minyoung. Habis dari mana saja kau?”tanya Sehun lagi–dengan sedikit penekanan. Minyoung tak menjawab pertanyaan Sehun dan malah berusaha melepas tangan Sehun dari lengannya.

“Oh Minyoung, dari mana saja ka–“

“Jangan mencampuri urusanku, Oh Sehun. Kumohon. Aku ingin sendiri saat ini.”potong Minyoung. Minyoung melepas tangan Sehun lalu berjalan ke kamarnya.

Sudah hampir seminggu ini Minyoung dan Sehun di landa perang bisu. Mereka sama sekali tak berbicara. Jangankan bicara, menyapa saja tidak. Bahkan mungkin untuk melihat wajahnya pun tidak sudi–setidaknya Sehun tidak seperti itu.

Setiap kali Sehun ingin memulai pembicaraan, Minyoung langsung pergi ke kamar meninggalkan Sehun. Bahkan selama hampir seminggu ini mereka tidak tidur seranjang. Sehun tidur di tempat tidur, Minyoung tidur di sofa lipat lamanya.

Seperti halnya pagi ini.

Minyoung keluar kamar dengan wajah pucat bak  mayat hidup. Minyoung hanya menyiapkan susu serta roti panggang untuk sarapan pagi. Sehun yang melihatnya pun mengernyit sekaligus khawatir.

Sehun beranjak dari sofa kemudian menghampiri Minyoung. Sehun memutar badan Minyoung–memaksanya untuk menghadap Sehun. Kemudian Sehun menempelkan punggung tangannya di dahi Minyoung.

“Astaga Minyoung, badanmu panas.”ujar Sehun khawatir. Minyoung hanya diam tak ingin membalas Sehun saat ini.

“Sebaiknya kau tak usah pergi ke kampus. Aku akan meminta izin pada Chorong.”tambah Sehun. “Lebih baik kau istirahat, Young.”

Sehun berjalan menuntun Minyoung ke dalam kamar. Tetapi Minyoung berhenti tiba-tiba dan menutup mulutnya.

Samar-sama Sehun mendengar suara Minyoung yang seperti.. mual?

Minyoung berlari kecil ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya di wastafel. Sebenarnya Minyoung sedikit heran karena perutnya terasa mual tetapi ia tak mengeluarkan apapun dari mulutnya.

“Kau tak apa?”sahut Sehun yang baru saja di ambang pintu kamar mandi.

Minyoung hanya mengangguk kecil tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya.

“Apa kau yakin?”tanya Sehun sedikit tak percaya.

“Aku baik-baik saja.”balas Minyoung akhirnya.

Sehun melangkahkan kakinya di sepanjang koridor. Ia mengusap wajahnya kasar lalu menguap. Begitu seterusnya.

“Hey bro!”suara bariton menyapa Sehun. Sehun hanya mendengus setelah mendapati orang ini.

“Ada apa, Chanyeol?”tanya Sehun to the point.

“Kau sudah mengucapkan kepadanya?”

Sehun berhenti dan mendongak menatap Chanyeol. “Mengucapkan? Mengucapkan apa?”tanya Sehun heran.

Chanyeol memutar bola matanya jengah lalu mendengus. “Yak! Oh Sehun! Sudah 1 bulan lebih kau menikah dengan adikku, tetapi kau tidak tahu kapan dia berulang tahun?!”

Sehun menautkan alisnya bingung. “Ulangtahun? Ulang– astaga! Jangan bilang kalau hari ini Minyoung berulang tahun!”pekiknya heboh.

“Justru itu yang kubilang barusan.”delik Chanyeol.

“Astaga Chanyeol, bahkan aku belum mempersiapkan apapun. Mengucapkannya saja belum. Bahkan hari ini dia sakit..”rengut Sehun. Ia mengacak rambutnya frustasi. “Ah, bagaimana ini? Bodoh kau Sehun!”rutuknya.

“Ya, kau memang bodoh, Oh Sehun! Tunggu, sakit? Minyoung sakit? Sejak kapan Siluman itu bisa sakit?”sahut Chanyeol. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”tanya Chanyeol kemudian.

“Aku.. mungkin pertama-tama aku harus membelinya hadiah. Yang kedua..”ucapnya tertahan. “Ah! Kalau merayakannya di apartement kan tidak asik. Ah, mungkin aku harus mengajaknya keluar.”lanjut Sehun sedikit antusias.

“Well, mungkin itu tak terlalu buruk..”Chanyeol berargumen. “Semoga beruntung, Oh Sehun!”tambah Chanyeol sembari menepuk-nepuk pundak Sehun.

Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang mendengar pembicaraan mereka. Dengan memasang wajah tak sukanya ia mendumel.

“Ya.. mungkin itu tidak terlalu buruk.”ucap gadis itu. “Karena aku akan menghancurkannya.”

Minyoung beranjak dari tempat tidurnya. Ia sangat tidak nyaman tidur terus-menerus. Rasa mual terus saja menyerangnya. Berkali-kali ia bolak-balik dari kamar mandi dan kembali ke ranjang. Ia sangat tidak nyaman.

Minyoung melihat kalender yang menggantung di dinding kamarnya. Ia menghela nafas panjang mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Bahkan sampai sekarang Sehun belum tahu…”ucapnya lirih. “Kurasa ini adalah hari ulangtahun ter-menyebalkan!”lanjutnya dengan nada sedikit sebal. Minyoung menghentak-hentakan kakinya dongkol. Jangankan Sehun mengucapkannya, bahkan mengetahuinya pun tidak! HEOL!

“Ah, Molla!”dengus Minyoung. Minyoung langsung menghambur ke kamar mandi berniat untuk membersihkan badannya.

.

.

Jiyeon melangkahkan kakinya dengan langkah lebar. Begitu ia sampai di depan pintu apartement, tanpa ba-bi-bu ia langsung membukanya. Mungkin pintu ini tak diberi password? Atau bahkan di dalamnya ada orang lain?

Jiyeon menolehkan kepalanya ke kiri-kanan untuk mencari sesuatu. Minyoung tidak ada? Lalu kemana ia?

Molla! Baru saja Jiyeon akan melangkah, manik matanya menangkap benda persegi panjang yang tergeletak di atas meja bundar di ruang tv. Jiyeon segera mengambilnya lalu menekan layar ponsel itu dengan lincah. Terbuka..

“Cih, bahkan passwordnya belum di ganti.”cibir Jiyeon pelan. Jiyeon menekan layar di saat ada tanda 2 pesan masuk. Jiyeon membaca salah satu pesan itu.

From : Kulkas berjalan.

Apa kau sudah merasa lebih baik? Hari ini kau bersiap-siap. Berdandanlah dengan cantik. Pergilah ke taman kota dimana waktu itu kita menghabiskan waktu sore kita. Kutunggu^^

-Sehun-

Taman kota?

Sebenarnya Jiyeon ingin membaca pesan kedua. Tetapi ia urungkan niatnya begitu melihat nama Sehun yang tertera di pesannya. Mungkin itu pesan yang  sama, pikir Jiyeon.

Jiyeon menaruh kembali ponsel Minyoung di tempat semula lalu bergegas pergi ke luar apartement–takut bila tiba-tiba Minyoung datang.

.

.

.

Minyoung keluar dari kamarnya lalu menuju ruang tv. Mungkin dengan menonton bisa memperbaiki suasana hatinya yang sedang dongkol saat ini. Minyoung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu mengambil remote di sampingnya.

Ia membuka layar kunci ponselnya dan terkejut bahwa ia mendapatkan satu pesan tak terbaca. Minyoung membuka pesan itu lalu mata nya membelalak lebar. Ia langsung berlari terbirit-birit ke kamar dan mengganti bajunya.

Sedikit kesusahan mencari baju yang cocok dengannya. Berkali-kali ia mengobrak-abrik lemarinya tetapi ia tak menemukan baju yang sreg dengannya. Baiklah, kali ini berbeda. Biasanya Minyoung pergi dengan baju santai. Tetapi kali ini ia pergi dengan suaminya. Hey! Catat itu!

Akhirnya Minyoung pergi dengan baju lengan pendek sedikit tipis lalu di balut oleh cardigan berwarna krem. Serta memakai celana jeans hitam panjang. Minyoung pergi ke rak sepatu. Baru Minyoung ingin memakai sneakers nya tetapi ia urungkan. Minyoung lebih memilih memakai high heels ketimbang sneakers. Tak lupa ia menggerai rambut panjangnya agar lebih terkesan feminin.

Dengan langkah terpontang-panting serta buru-buru, Minyoung langsung melenggang pergi dari apartement menuju taman kota.

Minyoung berlari sedikit tergesa saat ia sudah sampai di taman kota (tempat dimana ia menghabiskan waktu sorenya bersama Sehun waktu itu). Ia membungkuk dengan kedua tangannya yang memegang lututnya. Sedikit terengah. Bahkan nafasnya terdengar satu-satu.

Minyoung kembali menegakkan kembali badannya lalu berjalan seperti biasanya. Minyoung melangkahkan kakinya menuju tempat dimana waktu itu ia menikmati sunset dengan Sehun. Oh baiklah, bukan sunst. Tapi.. ciuman. Ugh, mengingat itu bahkan Minyoung tersenyum-senyum sendiri.

Langkah Minyoung terhenti serta senyumannya memudar tatkala melihat suaminya dengan perempuan lain sedang tertawa bersama. Dan perempuan itu sangat ia kenali. Tapi.. mata Minyoung membulat kaget saat Jiyeon hampir jatuh karena tiba-tiba ada anak kecil yang berlari diantara mereka, lalu dengan cekatan Sehun menangkap tubuh Jiyeon.

Apakah Sehun menyuruh Minyoung datang kesini hanya untuk melihat kemesraan antara Sehun-Jiyeon?

Sungguh, kali ini Minyoung tidak kuat. Ia berlari dengan satu tangannya menutup mulutnya. Berlari meninggalkan mereka berdua. Berlari untuk tidak melihat pemandangan menyakitkan itu.

Minyoung terus berlari, berlari, dan berlari. Tak perduli orang-orang menatapnya aneh. Ia tidak perduli! HEY CATAT ITU! T-I-D-A-K P-E-R-D-U-L-I !

Sampai akhirnya Minyoung menabrak seseorang. Minyoung jatuh terduduk. Minyoung menangis sejadi-jadinya. Tak perduli orang  yang di tabraknya itu melihatnya. Dia tidak perduli.

“Minyoung?”panggil orang itu. Minyoug mendongak dan menatap orang itu.

“Myungsoo?”ucap Minyoung yang lebih terdengar seperti gumaman. Orang yang dipanggil Myungsoo itu membantu Minyoung berdiri. Sesaat hatinya seperti ter-iris saat melihat mata Minyoung yangg sembab dan berair.

“Kau kenapa?”tanya Myungsoo lembut lalu merengkuh wajah Minyoung. Minyoung tak menjawabnya tetapi malah menangis. Mengetahui itu, Myungsoo langsung mendekap Minyoung kuat. Membiarkan Minyoung menangis sejadi-jadinya. Membiarkan gadis ini merasa tenang.

“Kau jahat Sehun!”ucap Minyoung di sela isakannya. Minyoung memukul punggung Myungsoo pelan.

‘jadi karena Sehun?’ batin Myungsoo.

“Hey, jangan menangis. Masa yang ulangtahun hari ini menangis? Hm?”ucap Myungsoo lembut. Minyoung tetap menangis. Tidak perduli ucapan Myungsoo. Mungkin ia tak mendengarnya.

Kalau kau terus-terusan membuat hati Minyoung sakit dan menangis seperti ini, Aku tidak akan tinggal diam. Baiklah, aku akan merebut kembali Minyoung darimu, Oh Sehun!

.

Sehun menunggu Minyoung dengan memutar-mutarkan kunci mobilnya.  Sehun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak kecil yang dihiasi pita. Sehun membuka kotak itu dan tersenyum kecil. Terlihat jepit rambut indah berwarna pink dengan mutiara kecil sebagai ornament-nya. Sehun tersenyum-senyum sendiri mengingat bagaimana nanti Minyoung tersenyum lalu memeluknya.

“Sehun..?”

Terdengar suara wanita memanggilnya. Sehun berbalik dengan senyuman yang merekah namun perlahan memudar saat melihat sosok yang tak di harapkannya untuk datang. Park Jiyeon.

“Jiyeon?”ucap Sehun bingung. Sementara Jiyeon terkekeh kecil.

“Tadi aku menrima panggilan dari Minyoung. Dia bilang dia tak bisa datang. Dan ia memintaku untuk menggantikannya.”ujar Jiyeon lalu tersenyum kikuk.

Sedikit kecewa mendengarnya. Sehun berfikir kalau Minyoung pasti masih marah dengannya–walaupun alasan atas kemarahan Minyoung sama sekali tak diketahuinya dengan jelas.

“Ah.. begitu.”Sehun kembali memasukkan kotak kecil itu kedalam saku jaketnya. “Baiklah, kita habiskan saja waktu sore ini..”lanjut Sehun.

Mereka tertawa bersama saling melempar canda tawa. Sampai akhirnya ada anak kecil berlari di antara mereka dan membuat Jiyeon terhuyung kebelakang dan hampir jatuh. Untung dengan sigap Sehun menangkap pinggang Jiyeon agar dia tak terjatuh.

“Kau tak apa, Jiyeon-ah?”tanya Sehun sedikit khawatir.

“Tidak apa-apa..”balas Jiyeon lalu kembali berdiri tegak. “Ah, ayo kita ke sungai Han. Disitu ada kedai kopi yang sangat enak. Aku ingin sekali mencicipinya.”tambah Jiyeon.

“Baiklah, ayo!”

Saengil chukka hamnida, Saengil chukka hamnida, saranghaneun Minyoungie.. Saengil chukka hamnida! YEEEY!”sorak Myungsoo setelah menyanyikan lagu ulangtahun untuk Minyoung. “Make a wish lalu tiup lilinnya.”lanjut Myungsoo.

Minyoung menautkan sepuluh jarinya di depan dada dan memejamkan matanya. Setelah itu Minyoung meniup lilin yang menancap manis di atas kue tiramisu. Ah, kue itu baru saja di beli Myungsoo demi merayakan ulangtahun Minyoung.

“Jadi, Apa masalahmu dengan Sehun?”tanya Myungsoo kemudian. Minyoung diam tak menjawab pertanyaan Myungsoo.

Myungsoo tersenyum lembut. “Tak apa jika kau tak mau mencer–“

“Aku melihat Sehun dengan Jiyeon berpelukan lagi.. kali ini saat ulangtahunku, Myungsoo. Bahkan Sehun tak mengucapkannya padaku.”potong Minyoung.

“Ah begitu…”Myungsoo mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Sudahlah, ayo kita makan kuenya.”Myungsoo mencoba mencairkan suasana.

Minyoung mengganguk lalu tersenyum. Ia mengambil pisau plastik lalu memotong kue itu menjadi segitiga. Minyoung memberi potongan pertama kue itu kepada Myungsoo.

“Ah? Untukku? Gomawoo~“Myungsoo kegirangan. Minyoung terkekeh kecil melihatnya.

“Karena yang merayakannya hanya aku dan kau, bodoh!”cibir Minyoung. Myungsoo tertawa dan membuat Minyoung tertawa juga.

Senang melihatmu kembali tertawa,  Minyoung.

“Jiyeon-ah, mengapa kau tidak terlalu akrab dengan Minyoung?”tanya Sehun lalu menyeruput Coklat panasnya.

“Sebenarnya.. dulu aku dan Minyoung mempunyai masalah.”jawab Jiyeon.

Sehun menatap Jiyeon tidak percaya. “Masalah? masalah apa?”

Jiyeon menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sehun. “Myungsoo. Masalahnya adalah Myungsoo.”

Sehun mengernyit, Myungsoo? Jiyeon berhenti lalu menatap Sehun. Begitupun Sehun menatap Jiyeon dengan tatapan penasaran.

“Dulu aku dan Minyoung adalah adik-kakak yang sangat saling menyayangi. Tetapi itu berubah saat aku terang-terangan kepada Minyoung bahwa aku menyukai Myungsoo. Tetapi dengan niat liciknya Minyoung menghianatiku. Dia merebut Myungsoo dariku dan malah Mengklaim bahwa Myungsoo adalah miliknya.”jelas Jiyeon dengan kebohongan. HEY! Ceritanya tak seperti itu!

“Jadi, Minyoung menghianatimu?”tanya Sehun. Kemudian Sehun mendengus sebal. “Tidak bisa dipercaya!”lanjutnya.

Diam-diam Jiyeon tersenyum jahat. Sepertinya Sehun sudah masuk ke dalam perangkapnya, pikir Jiyeon. “Ayo, kita kembali berjalan..”ajak Jiyeon. Sehun tersenyum lalu berjalan kedepan bersama Jiyeon.

Langkah mereka terhenti saat melihat 2 sosok yang sangat mereka kenal sedang tertawa bersama. Bahkan si lelaki mengacak rambut si perempuan. Da perempuan itu membalasnya dengan menyerang si lelaki dengan cubitan di pinggang serta lengan lelaki itu.

“Bukanah itu Minyoung dan Myungsoo?”tunjuk Jiyeon pada kedua orang itu. Jiyeon mendo Sehun yang kini tengah menatap kedua orang itu dengan rahang yang mengeras. Sedikit takut melihat Sehun yang tampang menyeramkan saat ini. (ahelah biasanya lo cute bang-_-)

Sehun mengambil langkah lebar mendekati dua orang tersebut lalu menarik Minyoung. Myungsoo dan Minyoung terlonjak saat melihat Sehun saat ini.

“Lepaskan Minyoung!”teriak Myungsoo mencoba menarik Minyoung dari Sehun. Tetapi tenaga Sehun lebih kuat. Sehun menatap tajam Myungsoo.

“Aku suaminya dan aku berhak melakukan apapun padanya!”desis Sehun tajam. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Sehun menarik Minyoung dengan kasar tak perduli Minyoung merintih kesakitan meminta di lepaskan.

Lain dari itu, kini Jiyeon sedang melempar pandang dengan Myungsoo. Jiyeon yang menatap Myungsoo dengan mata redup, Myungsoo yang menatap Jiyeon dengan tajam.

Sehun langsung mengunci Minyoung di sudut dinding sehingga menimbulkan suara benturan cukup keras antara punggung Minyoung dengan tembok.

“Sehun sakit..”rintih Minyoung. “Mengapa kau seperti ini?”

“SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA! MENGAPA KAU SEPERTI INI?”balas Sehun dengan teriakan. Seketika itu membuat Minyoung bungkam.

“JADI KAU TIDAK DATANG KE TEMPAT ITU DAN LEBIH MEMILIH BERJALAN DENGAN SI BRENGSEK ITU?”tambah Sehun lagi.

“DIA PUNYA NAMA!”balas Minyoung. Tetapi hal itu ditanggapi oleh Sehun dengan tatapan tajam. Terlihat percikan atas kemarahan Sehun saat ini di matanya.

“Oh, jadi kau lebih membelanya daripada suami-mu sendiri?”sindir Sehun sedikit sinis.

“Apa maksudmu?”

“Ah.. sebaiknya aku tak usah bertanya seperti itu. Jelas saja, kau lebih membelanya. Si brengsek itu kan hasil rebutanmu dari Jiyeon.”lanjut Sehun. Minyoung mengernyit tidak mengerti.

“Apa maksudmu? HUH?”tanya Minyoung dengan sedikit penekanan. “Ah, dan satu kali lagi ku tekankan padamu, Namanya adalah Kim Myungsoo. Bukan BRENGSEK! Sepertinya kata BRENGSEK itu lebih cocok untukmu!”tambah Minyoung.

“PERSETAN DENGAN ITU AKU TIDAK PEDULI!”teriak Sehun. “MENGAPA KAU LEBIH MEMILIHNYA DARIPADA AKU?! HUH?!”

“Mengapa kau se-frustasi itu? Huh? Bukankah yang bertanya harusnya aku? Oh! Mungkin si Jiyeon wanita jalang itu yang sudah meghasutmu?”

PLAK!

“JANGAN MENYEBUTNYA WANITA JALANG!”

Minyoung memegang pipi kirinya yang terasa memanas. Minyoung menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca. Tak habis pikir dengan Sehun saat ini.

“Sehun…?”panggil Minyoung lirih.

Seakan tersengat ribuan volt listrik, Sehunt tersadar sepenuhnya apa yang ia lakukan tadi. wajah yang geram tadi perlahan memudar dan di gantikan gurat wajah yang penuh bersalah.

“Minyoung.. A-Aku–“

“Kau tahu, Sehun?”potong Minyoung cepat. “Seharusnya aku lebih memilih merelakan komik-ku yang di bakar oleh ayahku jika aku tak menerima perjodohan ini.”lanjut Minyoung lirih.

“Minyoung… Aku minta maaf.. sungguh..”ucap Sehun memohon.

“Aku.. kecewa denganmu, Oh Sehun.”ucap Minyoung lalu pergi meninggalkan Sehun yang masih terdiam terpaku.

Sepeninggal Minyoung, Sehun hanya menatap kosong dinding di depannya. Sehun terjatuh duduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Perlahan, butiran bening itu mencelos bebas dari pelupuk matanya. Isakan demi isakan keluar dari mulutnya. Sehun mengacak rambutnya frustasi.

“AAAAARRRGHHH!!”

| To Be Continued |

ADAKAH YANG MENUNGGU FANFIC INI DAN AUTHORNYAA?!

*krik krik krik* /bunyi jangkrik/

Okefine. Wkwkwk greget kagak konfliknya HAHAHA. Well, ini belum seberapa. Sebenernya aku udah nulis sampe Chap 10 tapi aku urungkan niatku untuk quickpost. HAHA /evil author/

ciedehcie~ oiyak, makasih yaww yang sudah komen di chapter 6~ Aku terharu loh walaupun di wp pribadi tapi yang komen ampe 300 orang lebih. HAHAHA. mungkin chapter 11-12 aku bakal proteksi lagi. hehehe. dan mungkin aku bakal post disini juga😀

Kemaren kan pervert sehunnya, terus banyakan adegan sweetnya kan? Sekarang konfliknya HEHE. Maaf yang kemaren nge-req banyakin moment sweet Sehun-Minyoung nya. Kan dalam pernikahan itu gak selamanya sweet. /bijak/

Ohiya, kalo FF UM udah selese, kalian mau aku bikinin fanfic genre apa? Marriage life-School life, atau Romance-School life, atau de el el.

wkakak. okedeh thanks yaah~Bubayy

Best Regards,

Marshashinee

497 responses to “Unpredictable Marriage {Chapter 7} – Marshashinee

  1. jiyeon licik banget ihhhh, ngeselinnn. sehun juga masa dia percaya aja kalo minyoung nyuruh jiyeon yang gantiin buat ke taman kota. ga masuk akal

  2. licik bener si Jiyeon. aduh… rumit banget sih. tuh, kan jd salah paham semua. aduh… kasihan banget Minyoung, dihari ultah nya harus dapat masalah gini

  3. Ah, mian thor baru sempet baca and comment sekarang. Uuhhh, resek banget sih jiyeon u,u
    pengen jambak rasanya gemes banget -_-
    duh si sehun juga gt! Kenapa gk mau dengerin Minyoung dulu.
    Ah, amutuen. Ff.nya jjang😉 aku mau nerusin baca :v hehee bye authotnim :v

  4. huaaaa aku mau gigit jiyeon haaaaa mulutnyaaaaaaaaa sumpah ngeselin banget
    thor aku syok sehun nampar minyoung sumpah yaaa ahh tau dehh nyesek ge kalo jadi minyoung ckckc daebak !!! LANJUTSSZZZ

  5. Author maaf baru bisa comment, di part 5 aku udah dikasih passwordnya tapi ga bisa kebuka udah dicoba kerkali2 jadi aku ga comment karna ga bisa kebuka bukan karna males comment dan part 6 diprotect lagi jadi percuma kalo aku minta pw lagi. Jadi aku commentnya di sini aja ya walaupun telat bgt.

  6. Thor gmn caranya dpt pw chap 5&6? Aku belum baca nih thor penasaran bgt sm ceritanyaa. Maaf baru bs komen di chap 7 ini ^^ pw nya tlg dikirim ke emailku ya thor, makasih ^^

  7. ish nyebelin bgt siih.. jiyeon licik.. nyebeliinn..
    sehun nuga pake nampar segala lagi.. waah konfliknya seru nih.. daebak!

  8. Duh agak ga nyambung nih:’3 karna aki ngelongkap chap 5 6, aku nunggu pw nya nih thor huhuuu
    Btw chap ini tetep menarik kok;D

  9. Seriusan thor, walaupun aku belum baca chapter5 dan 6 twpi pas baca chapter ini perasaan campur aduk , kesal.
    Kebawa emosi sampe nangis bacanya , seriusaan.
    Balas twitt aku dong thorㅠ___ㅠ
    Izin baca chapter selanjutnya ya thorrr

  10. thor~ aku waktu itu nge mention minta password yang author protek, tapi aku lupa nulis id komen aku… huhu T.T jadi ngga dapet duh pea banget baru liat persyaratannya harus ngasih tau id ken

  11. sori thor.. baru komen di chap ini.. baru nemu soal nya.. eh tau ny ff ny seru..
    hmzzz.. jdi ga nyambung deh.. ga baca yg chap 6 ny… ko di wp pribadi ny ga bisa dibuka thor??
    penasaran pen buka yg chap 6 tpi ga bisa😥

  12. yah walaupun kagak dapet password chap 6 dan walaupun bingung dgn jalan ceritanya… saya akan menikmatinya karena author sudah susah susah buat ff ini… makasih author … next chapter semoga tambah seru dan tambah banyak yang komen… dan nggak ada siders…

  13. yaakk.. ini chap 5-6 gk cuma di protekk, tp juga diapus yaa.. kok gk bs dbuka yaah.. kn pnsaran.. fb sm twiter autor jg kykny udh jarang update, gimana nih, pan pengen baca pan..

  14. ya Ampun, aku nggak nyangka Jiyeon it beneran kek Rubah! ihh jijik banget sama Jiyeon, Heol! ihh nyekik mau aku
    greget banget sama Jiyeong ish!

  15. ohh ya kokk chapter 6 gk ada ya… aku jadi bingung bacanya

    huaaa kelakuan jiyeon kaya rubah ngeselin bangetttt

    sedikit kecewa soalnya chaperter 5 sama 6 gk bisa ditemuan apa iyh dihapus

  16. Pingback: Unpredictable Marriage {Chapter 8B-END} | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. ya ampun jiyeon kamu jahat banget, merusak hubungan orang lain.
    author balas ya mention aku. aku penasaran bgt sama chapter 5 dan 6. nama twitter aku @ynii_ pcy92.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s