Over Bride [Chapter 4]

OverBride

Title    : Over Bride

Author   : Ima (@kaihyun0320)

Casts        : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Other casts     : Jung Soo Jung

Rating   : PG-15

Genre    : Romance, Fluff, Married Life.

Ch 1 ⌋ Ch 2 Ch 3

© Ima at SKF 2014

[Over Bride] Chapter 4

Banyak sekali komentar dan berita yang beredar setelah Jong In mengunggah fotonya bersama Ji Hyun di akun me2day miliknya. Ji Hyun juga membantunya dengan mengunggah di akun instagram baru dan sukses membuat berita menghebohkan. Perlahan Ji Hyun tahu bahwa tujuan Jong In menikahinya untuk membuat berita mengenai status pernikahannya. Entah tujuan lain di belakangnya apa, Ji Hyun hanya merasa bahwa ia belum mendapakan kerugian dengan semua itu –kecuali mendapat musuh mungkin.

Ji Hyun berterima kasih pada Jong In yang mengantarnya hingga depan gerbang lalu segera turun dari mobil CRZ milik laki-laki itu. Hari Senin pertama masuk kuliah setelah berita menghebohkan dari foto mereka tersebar dan hanya tinggal menghitung hari menuju resepsi. Beberapa pasang mata tertuju pada Ji Hyun yang melangkah memasuki halaman depan Kyung-hee. Tidak ada yang berani menegur atau bertanya mengenai berita itu –ketika tahu bagaimana tindak-tanduk gadis berusia 23 tahun itu.

“Byun Ji Hyun!” suara baritone Chanyeol membuat langkah Ji Hyun terhenti. Ia berbalik ke belakang dan mendapati laki-laki itu berlari ke arahnya.

“Kenap— AAK! Kenapa memukul kepalaku?” tanya Ji Hyun aneh karena kepalan tangan Chanyeol tiba-tiba mendarat cukup keras di puncak kepalanya.

“Kenapa berita pernikahanmu sudah tersebar sebelum waktunya? Ini baru tiga hari sejak Jong In bilang kau bebas jalan-jalan denganku,” protes Chanyeol sambil mencekik Ji Hyun dengan lingkaran lengannya –seperti biasa. Ji Hyun menyikut perut Chanyeol lalu mendengus pelan.

“Ini keputusan kami berdua, Yeol-ah.”

“Ah, dan tangan Jong In apa-apaan itu?” Chanyeol mengingat kembali foto heboh sahabatnya, ia masih ingat jelas bagaimana pose mesra keduanya. Dan ia sangat benci ketika mengakui bahwa keduanya terlihat serasi di dalam foto.

“Tenang saja. Aku sudah mencubit perut dan lengan atasnya karena sudah memanggilku sayang seenaknya dan merangkulku seperti itu,” ujar Ji Hyun setengah berbisik lalu tersenyum puas.

Chanyeol memutar bola matanya sambil melepaskan cekikannya dan beralih merangkul gadis itu –seperti biasanya. Ia tidak mau masuk berita karena sudah mencekik seorang istri dari presiden direktur terkenal bernama Kim Jong In. Mungkin sebentar lagi persahabatannya akan benar-benar berubah karena semua itu. Ia tidak bisa secara bebas lagi mencekik atau merangkul Ji Hyun di luar sana. Ji Hyun sudah menjadi milik orang lain –walaupun hanya sementara.

“Aku ke kelas duluan, Yeol-ah,” Ji Hyun memisahkan diri dari rangkulan Chanyeol lalu memukul lengan atas laki-laki itu sebagai salam perpisahan. Mereka harus berpisah sementara.

Kelas interpretasi seni pagi itu masih terisi oleh beberapa mahasiswa saja. Ji Hyun memilih tempat duduk di baris keempat kolom terakhir dekat jendela lalu segera memasang earphone ke telinganya. Chanyeol berpisah kelas dengannya sejak awal semester dan ia selalu benci menghadiri kelas itu sendirian. Duduk sendirian atau berjarak cukup jauh dari orang lain kadang membuat Ji Hyun jengah dan hampir mati kebosanan.

Ji Hyun menyadari bahwa tatapan seluruh mahasiswi di kelas itu tertuju padanya. Ia segera memperhatikan seluruh isi kelas dan membalas semua tatapan benci orang-orang itu. Heran sekali banyak orang yang suka mencampuri urusan orang lain dengan tatapan menilai padanya.

“Apa bangku ini kosong?” suara seorang wanita yang tersamarkan karena suara lagu di earphone membuat Ji Hyun mengernyit –heran.

“Aku boleh duduk di sini?” tanya wanita itu sekali lagi. Ji Hyun menangkap maksud telunjuk yang mengarah ke kursi di sebelahnya dan ia mengangguk singkat.

“Terima kasih,” ucap wanita itu sopan, namun Ji Hyun tidak mendengarnya lagi dan mengalihkan pandangan keluar jendela.

Terlalu banyak yang bermuka dua di Kyung-hee dan ia sudah pernah berhadapan dengan orang-orang itu beberapa kali. Ketika seorang wanita baik padanya, mungkin wanita itu memiliki maksud lain agar bisa mendekati Chanyeol. Lalu ketika ada yang baik padanya, entah itu wanita atau pria, mereka hanya mencoba membuat image mereka baik saja agar tidak terkena pukulan darinya. Ia sudah lelah menghadapi orang-orang semacam itu.

Tapi Ji Hyun segera membulatkan matanya ketika menyadari sesuatu. Ia kembali menoleh pada wanita di sebelahnya dan mendapati senyum –seindah malaikat yang terukir di bibir gadis itu. Wanita itu yang membuat Jong In bersikap aneh dengan tiba-tiba berhenti dan merangkulnya waktu itu. Wanita yang sama dengan yang duduk di kursi taman dekat gedung hukum sekitar dua minggu yang lalu.

“Aku Jung Soo Jung,” ujar gadis itu memperkenalkan diri. Dengan balutan blus berbahan chiffon berwarna merah, gadis bernama Soo Jung itu terlihat semakin bersinar dan cantik. Berbeda sekali dengan Ji Hyun yang –lagi-lagi hanya memakai celana jeans dan baju kaus abu-abu polos milik Jong In –yang tidak sengaja ditemukannya di ruang laundry tadi pagi.

“Dan kau Byun Ji Hyun. Siapa yang tidak tahu kau di Kyung-hee,” Soo Jung kembali berujar tanpa membiarkan Ji Hyun membuka mulutnya.

Ji Hyun melepaskan earphone dari telinganya dan tetap memperhatikan Soo Jung yang mulai mengeluarkan buku catatan dari dalam tas, “Kau anak seni?” tanyanya tidak yakin.

Keurae. Mungkin kau tidak pernah melihat sekeliling –selain Chanyeol padahal kita selalu sekelas di mata kuliah interpretasi dan teori pengembangan,” jawab Soo Jung  masih tetap menjaga kesopanannya. Ji Hyun benci mengakui bahwa Soo Jung bersikap sangat anggun dan selalu terlihat cantik dari sisi mana pun.

“Kenapa kau tiba-tiba duduk di sini?” tanya Ji Hyun akhirnya. Sepertinya ia mulai tertular sikap dingin Jong In.

“Ada yang salah? Aku ingin duduk dengan orang yang sedang populer di Naver,” Soo Jung menyimpulkan senyum –entah bermaksud mengejek atau mengaguminya. Yang jelas Ji Hyun tahu bahwa kecantikan gadis itu hanya semacam tameng dari sifat picik di dalamnya.

Gomawo,” Ji Hyun hanya membalas seadanya. Tidak mau terlibat pembicaraan lebih jauh dengan Soo Jung kemudian kembali memakai earphonenya. Ia tidak peduli bagaimana hubungan Jong In dan gadis itu sebelumnya, ia hanya tidak mau berurusan dengan orang-orang bermuka dua –termasuk Soo Jung. Bahkan dari gerak tubuh serta ekspresinya, Soo Jung sedikit meremahkannya –seolah ia wanita yang tidak pantas untuk Jong In.

“Aku tidak tahu kenapa Jong In bisa menikahimu,” suara Soo Jung kembali terdengar dan membuat Ji Hyun terpaksa melepas earphonenya kembali. “Jong In bukan seseorang yang meyukai wanita sepertimu.”

“Maaf, Soo Jung-ssi. Kenyataannya Jong In memilihku untuk menjadi istrinya,” Ji Hyun masih mencoba menahan kesabarannya agar tidak langsung mencakar wajah cantik Soo Jung. Ia menarik napas dalam-dalam saat Soo Jung tertawa hambar lalu menaikkan sebelah alisnya.

“Aku tahu ada yang tidak beres. Ini terlalu mendadak. Jong In tidak pernah punya pacar lagi setelah putus denganku,” ucapan Soo Jung terdengar semakin menyebalkan di telinga Ji Hyun.

“Berhenti mencampuri urusan orang lain, Soo Jung-ssi. Aku sedang malas bertengkar denganmu,” Ji Hyun menggeleng pelan sambil menghela napas panjang. Meredakan letupan emosi yang mulai keluar di dalam tubuhnya.

Aigoo, kau yakin bisa mengimbangi Jong In? Datang ke pesta perusahaan setiap satu bulan sekali dengan tampilan cantik dan anggun. Aku sudah pernah mendampingi Jong In ke setiap pesta mewah dan tidak pernah menemukan wanita sepertimu,” ujar Soo Jung panjang lebar. Sepertinya gadis itu bangga pernah mendampingi Jong In  dan membuat Ji Hyun merasa iba sebenarnya.

“Terima saja kalau Jong In memilihku,” sebenarnya Ji Hyun ingin sekali menghentikan pembicaraan itu sebelum emosinya meledak.

“Ah, atau Jong In tidak sengaja menidurimu? Kau hamil, lalu Jong In bertanggung jawab untuk itu dengan menikahimu?”

PLAK

Perhatian seluruh manusia yang berada di kelas itu segera tertuju pada suara keras yang berasal dari meja Ji Hyun. Mendengar ucapan Soo Jung yang merendahkan itu membuat telinga Ji Hyun terasa panas. Tangannya bergerak sendiri untuk menampar keras pipi Soo Jung dan membuat gadis itu terdiam seketika. Soo Jung kemudian menyeringai pelan saat bagian dalam bibirnya terasa perih dan asam karena berdarah.

“Dan kau kasar. Jong In tidak suka wanita kasar—AAK! JANGAN MENARIK RAMBUTKU!!” Soo Jung memekik ketika Ji Hyun menarik rambut belakangnya dengan kasar.

“Ini balasannya karena kau merendahkanku!!” balas Ji Hyun masih tetap menarik rambut halus Soo Jung dengan sekuat tenaga.

“Tapi itu memang kenyataannya, Byun Ji Hyun!” sahut Soo Jung tidak kalah keras berteriak. Membuat perhatian seluruh isi kelas benar-benar tertuju pada keduanya.

Aish! Kalau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam saja, Jung Soo Jung!” Ji Hyun melepas tangannya dari rambut Soo Jung kemudian mendorong gadis itu hingga terjatuh dari kursi dan mendarat dengan keras di lantai.

“BYUN JI HYUN!” teriakan seorang pria terdengar ke dalam telinga Ji Hyun. “IKUT KE RUANGANKU SEKARANG!”

***

Sudah dikatakan sebelumnya bahwa Ji Hyun tidak pernah takut pada apa dan siapapun. Ketika dosen interpretasi mendapatinya mendorong Soo Jung ke lantai, ia terpaksa ikut ke ruangan pria paruh baya itu dan mendengar nasehat panjang lebar. Terdapat cukup bukti karena sudut bibir Soo Jung sedikit membiru setelah ditampar olehnya tadi. Namun Ji Hyun tetap membela diri, ucapan Soo Jung benar-benar menyebalkan dan membuat emosinya tidak ditahan lagi. Ia heran kenapa Jong In bisa berpacaran dengan gadis se-menyebalkan itu dulu.

Menyangkut Jong In.

Ji Hyun terpaksa memberikan nomor telepon laki-laki itu sebagai walinya. Memang tidak ada lagi yang bisa menjadi walinya selain Jong In –yang sekarang berstatus sebagai suaminya. Dan ia tidak diperbolehkan keluar dari sana –bersama Soo Jung, sampai kedua wali mereka datang dan menjemput. Ia bahkan tidak yakin kapan Jong In akan datang, mengingat laki-laki itu harus menghadiri rapat.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan Ji Hyun sudah selama hampir dua jam menunggu di sana. Soo Jung di sebelahnya juga hanya diam saja mengingat ada dosen yang mengawasi di belakang meja. Ji Hyun mendesis pelan mengingat Soo Jung bersikap sangat anggun ketika berhadapan dengan orang lain. Sambil menunggu Jong In menjemput, Ji Hyun hanya memainkan ponsel dan saling mengirim kakao dengan Chanyeol untuk meluapkan kekesalannya.

Annyeonghaseyo,” suara husky seorang pria bersamaan dengan pintu yang terbuka membuat Ji Hyun menoleh dengan cepat. Tatapan Jong In tertuju padanya lalu pada Soo Jung sedetik kemudian.

“Ah, kau mau menjemput Ji Hyun?” tanya dosen Park seraya berdiri dari kursinya dan menjabat tangan Jong In.

“Maaf, istriku membuat masalah lagi,” jawab Jong In, secara sengaja menyebut Ji Hyun sebagai istrinya. Ji Hyun tersenyum puas ketika melihat Soo Jung mengalihkan pandangan ke arah lain, pura-pura tidak mendengar.

“Dia menampar, menarik rambut, dan mendorong Soo Jung ke lantai. Kurasa dia sedikit keterlaluan,” ujar dosen Park dan membuat Jong In melirik tajam ke arahnya. Ji Hyun mendengus pelan sambil melipat tangan di depan dada, tidak mau berkomentar apapun.

Jong In menghela napas berat. “Maafkan Ji Hyun, sonsaengnim. Aku janji dia tidak akan membuat masalah lagi.”

Algesseumnida. Kuharap kau mau menasehatinya lagi nanti,” dosen Park kemudian menoleh ke arah Ji Hyun. “Kau boleh keluar sekarang, Byun Ji Hyun. Dan Soo Jung masih harus menunggu walinya untuk bisa keluar.”

Ji Hyun segera berdiri dari kursi, membungkuk dalam pada dosen Park lalu keluar ruangan itu tanpa mau melihat ke arah Jong In. Harusnya Jong In mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak selalu salah. Soo Jung yang memulai semuanya dan ia hanya membela diri atas ucapan merendahkan wanita itu.

Ya, Ji Hyun-ah,” Jong In menarik tangan istrinya itu agar berhenti melangkah. “Ayo makan siang.”

Suara dingin Jong In terdengar menyeramkan dan Ji Hyun hanya bisa mengikuti tarikan tangan laki-laki itu melangkah di koridor Kyung-hee. Jong In masih memakai jas dan berpenampilan rapi, membuat tatapan civitas Kyung-hee tertuju pada mereka berdua. Berita sudah menyebar dan sekarang Jong In secara terang-terangan menjemputnya –walaupun harus bermasalah dulu.

“Ji Hyunaa,” suara Chanyeol terdengar dari kejauhan dan membuat Ji Hyun menarik tangan Jong In agar berhenti melangkah sebentar.

Chanyeol melirik Jong In sekilas sebelum memegang pundak Ji Hyun dan memeriksa setiap inchi tubuh gadis itu. “Kau tidak apa-apa? Dimana Soo Jung melukaimu?”

“Dia yang melukai Soo Jung,” sahut Jong In cepat dan Ji Hyun merasa ada nada kesal di dalam ucapan laki-laki itu.

“Aku kenal Ji Hyun sejak kecil. Dia tidak pernah memukul tanpa alasan kuat, Jong In-ssi,” jawab Chanyeol tak kalah dingin.

“Ayo pergi sekarang. Aku harus ke kantor satu jam lagi,” Jong In mengabaikan ucapan Chanyeol dan menatap Ji Hyun yang terdiam di sampingnya. “Hanya makan siang. Nanti aku antar kesini lagi.”

Mungkin memang ada yang harus dibicarakan oleh mereka karena masalah itu. “Aku pergi dulu, Yeol-ah. Kau tunggu di perpustakaan, nanti aku kesana.” Ujar Ji Hyun seraya menepuk pundak Chanyeol dan tersenyum simpul. Kemudian Jong In kembali menarik tangannya tanpa mau berpamitan pada sahabatnya.

Tidak tahu apa yang dipikirkan Jong In sebenarnya, mereka melangkah dengan cepat hingga ke tempat parkir lalu masuk ke mobil tanpa bicara apapun. Dan Jong In terdiam sebentar sambil menghela napas panjang sebelum menjalankan mobilnya. Ji Hyun tidak mau mengucapkan apapun dan membiarkan suasana mobil menjadi hening.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Jong In tiba-tiba. Ji Hyun memperhatikan Jong In dari samping kemudian mendengus pelan.

“Aku tahu dia mantan pacarmu, Jong In. Tapi aku tidak bisa diam saja saat dia merendahkanku. Kau tahu itu,” Ji Hyun mencoba mengimbangi Jong In dengan tidak berteriak.

“Tapi kau harus bisa menahan diri, Ji Hyun. Ini baru hari pertama masuk sejak kau diskors dan kau memukul Soo Jung,” balas Jong In, tetap membuat seolah-olah Ji Hyun salah sepenuhnya dalam masalah itu.

“Sudah kubilang itu hanya pembelaan diri.”

“Dia tidak punya wali siapapun di Korea, Byun Ji Hyun!” tiba-tiba saja Jong In berkata dengan nada tinggi dan membuat Ji Hyun kaget setengah mati.

Wae?! Kenapa kau berteriak seperti itu?!” tanya Ji Hyun tidak mau kalah.

“Kau sengaja memukulnya? Kau tahu Soo Jung tidak bisa berkelahi!” Jong In kembali membalas nada tinggi dan Ji Hyun jengah mendengar laki-laki itu selalu membela mantan kekasihnya.

“Kau masih menyukai Soo Jung?” tanya Ji Hyun sontak membuat Jong In sedikit tersentak. “Cih. Tertulis jelas di wajahmu, Kim Jong In. Bagaimana pun aku membela diri, kau akan tetap memihak  Soo Jung.”

“Aku tidak memihaknya,” elak Jong In.

Ji Hyun kembali mendecih. “Tanya pada dirimu sendiri. Kau berteriak padaku karena membela Soo Jung tadi.”

“Aku tidak membelanya!” Jong In kembali mengelak. Dan Ji Hyun sudah tidak tahan dengan semua sikap Jong In yang mudah berubah.

“Kau menyalahkanku! Eish. Tanya Soo Jung apa yang dia katakan sampai aku bisa menampar dan mendorongnya dari kursi,” Ji Hyun berkata dengan cepat seraya melipat tangan di depan dada.

Jong In terdiam sedetik kemudian. Ia menghentikan mobilnya ke sisi jalan lalu memijat pangkal hidungnya untuk meredakan pusing kepalanya. Mungkin ucapan Soo Jung memang sedikit keterlaluan dan wajar saja jika Ji Hyun melakukan hal itu. Ia merasa bersalah karena sudah berteriak pada istrinya tadi.

“Kepalaku pusing,” Jong In menatap wanita di sampingnya dan berkata dengan nada dingin.

“Sekarang kau menyalahkan kepalamu. Aku tidak lapar, jadi kau kembali ke kantor saja. Aku turun di sini. Dasar menyebalkan,” balas Ji Hyun seraya membuka pintu mobil dan turun begitu saja tanpa sempat dicegah oleh Jong In. Jong In mendesah napas pelan dan memandangi punggung Ji Hyun dari spion mobilnya. Ia merasa sudah sangat keterlaluan pada gadis itu tadi.

***

Berita yang menghebohkan dunia perbisnisan itu akhirnya tiba di telinga tuan dan nyonya Kim yang tengah mengurus cabang perusahaan di Jepang. Nyonya Kim hanya menghela napas panjang ketika banyak sekali komentar negatif memgenai berita itu. Banyak yang mengatakan bahwa pernikahan anaknya karena ‘kecelakaan’ dan atau hanya untuk menaikkan popularitas perusahaan yang sedang menurun.

Semuanya memang sudah diprediksi sejak ia merencanakan perjodohan itu. Namun ia sengaja mendesak Jong In menikah dengan salah satu kolega bisnis agar bisa menaikkan kembali citra perusahaan dan menambah investor bisnis keluarganya yang mulai menurun. Menikah dengan wanita miskin itu hanya meramaikan suasana saja tanpa membantu apapun.

Nyonya Kim menatap sosok laki-laki muda yang duduk manis di hadapannya. Ia sangat penasaran dengan keputusan Jong In menikah secepat itu padahal anaknya itu tidak punya kekasih selama dua tahun ini.

“Jadi… Bagaimana?” tanya nyonya Kim memastikan.

Pria di hadapannya itu membungkuk singkat sambil tersenyum.

“Apapun untukmu, eomonim.”

*© Ima at SKF 2014*

Sudah sangat larut bagi Ji Hyun untuk pulang dari rumah Chanyeol, namun gadis itu sama sekali tidak berniat untuk kembali ke rumah Jong In. Ia membenci Jong In yang menyalahkannya untuk satu hal yang sudah jelas alasannya. Soo Jung memang mantan kekasih Jong In, tapi harusnya laki-laki itu tidak membela gadis menyebalkan itu juga. Ji Hyun kembali mendengus pelan, ia mengabaikan segala macam telepon dan pesan dari Jong In sejak tadi siang.

Pintu kamar Chanyeol terbuka dan sosok pemilik kamar itu berjalan menghampiri Ji Hyun di tempat tidur. Chanyeol duduk di samping Ji Hyun yang mendengarkan lagu dari earphone sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur. Baru kali ini Ji Hyun marah pada seseorang dengan diam saja tanpa mengatakan langsung atau bahkan memukulnya langsung.

“Kau tidak mau pulang?” tanya Chanyeol membuat Ji Hyun menoleh dan melepas earphonenya.

“Kenapa?” tanya Ji Hyun heran. Chanyeol seperti mengusirnya dari sana.

“Sudah jam 12. Ibuku ribut sekali di bawah,” Chanyeol menghela napas panjang kemudian melihat Ji Hyun mengerucutkan bibir. “Mau aku sewakan hotel?”

“Tidak perlu. Aku bisa ke…” Ji Hyun menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa. Seluruh hidupnya benar-benar tergantung pada Jong In sekarang. “Apa aku tidak bisa tidur di sofa?”

“Ji Hyunaa,” Chanyeol mengusap rambut sahabatnya lalu menggeleng. “Ini masalah ibuku. Kusewakan hotel, ya?”

Ji Hyun mendesah napas pelan. Sebenarnya ia tidak mau merepotkan Chanyeol lagi karena tidak tahu cara mengganti semuanya. Namun dalam keadaan terdesak seperti itu, ia harus menghindar dulu dari Jong In. Biarkan laki-laki itu merasa bersalah dan mencarinya sendiri.

“Aku pinjam uangmu lagi ya, Yeol-ah. Maaf merepotkan,” Ji Hyun segera beranjak dari kasur. Ia merapikan semua barang-barangnya ke dalam tas dan menunggu Chanyeol yang tengah mengambil jaket dari lemari.

“Itu gunanya sahabat, sayang,” ujar Chanyeol seraya memakai jaket baseball miliknya lalu mengacak rambut Ji Hyun dengan gemas.

Ji Hyun memukul pelan perut laki-laki itu, tidak suka dengan panggilan sayang yang terdengar menggelikan. Ia kemudian beranjak meninggalkan kamar Chanyeol, menuruni anak tangga dengan hati-hati agar tidak membangunkan sang pemilik rumah. Chanyeol mengikutinya di belakang dengan membawa kunci mobil. Seharusnya ia memang tidak berlama-lama di sana mengingat bagaimana kebencian nyonya Park padanya.

Tepat ketika membuka pintu depan, Ji Hyun menemukan sosok lain berdiri di depan pintu. Menatapnya dengan nanar dan dengan penampilan yang sangat kusut. Laki-laki itu melirik Chanyeol yang berdiri di belakang Ji Hyun sambil menyeringai pelan.

“Kenapa kau…. bisa ada di sini?” tanya Ji Hyun heran pada sosok Jong In yang berdiri di depannya.

“Aku ragu kalian benar-benar sahabat,” ujar Jong In sambil memperhatikan Ji Hyun dan Chanyeol secara bergantian.

Ji Hyun mengibaskan tangannya di depan hidung. “Kau mabuk, Jong In.”

“Aku belum mabuk, Ji Hyun,” Jong In berucap dengan sedikit mengigau dan membuat Ji Hyun mendecak kesal.

“Chanyeol, antarkan Jong In pulang baru kita ke hotel, ya?” pintanya, namun Jong In malah menggeleng cepat.

“Ayo pulang denganku,” Jong In menarik tangan Ji Hyun agar mengikutinya menuju mobil di depan pagar.

Ya! Jangan tarik Ji Hyun,” seru Chanyeol seraya berlari mengejar keduanya lalu menarik tangan Ji Hyun yang lain agar Jong In berhenti.

Jong In mendecak kesal dan berbalik pada keduanya. “Dia menjadi tanggung jawabku sekarang. Aku harus menjaganya.”

“Tapi kau menyakitinya,” potong Chanyeol, dengan sedikit menyembunyikan Ji Hyun di belakang tubuhnya.

“Tapi dia memang membuat masalah, aku hanya memberitahunya.”

“Kau membela Soo Jung, Kim Jong In,” potong Ji Hyun tidak suka.

Jong In mengusap wajahnya frustasi, melihat bagaimana Chanyeol melindungi Ji Hyun membuatnya kesal. Susah sekali hanya untuk mendapatkan Ji Hyun kembali di sisinya. Rasanya ia ingin memukul Chanyeol agar tidak lagi membawa Ji Hyun seenaknya. Tapi itu hanya akan menambah masalah saja.

“Kau istriku, Byun Ji Hyun!” seru Jong In tidak bisa menahan emosinya lagi. Membuat Ji Hyun sedikit bergidik ngeri dan membiarkan Chanyeol menutupinya.

Chanyeol tertawa hambar mendengar pernyataan bodoh Jong In. “Kau hanya meminta tolong pada Ji Hyun dengan pernikahan ini. Status kalian tidak berarti apa-apa. Dan kau membela mantan pacarmu, bukan yang kau sebut ‘istrimu’ ini, Jong In-ssi.”

Tidak. Ji Hyun tidak pernah tahu bahwa Jong In memiliki sisi lain di dalam tubuhnya. Sikap dingin dan tanpa ekspresi itu berubah menjadi 180 derajat ketika sedang emosi. Namun laki-laki itu tetap menjunjung tinggi gengsinya dengan tidak mengakui kesalahannya pada Ji Hyun.

“Biarkan aku membawa Ji Hyun pulang. Baekhyun sudah menitipkannya padaku, jadi aku harus bertanggung jawab penuh,” Jong In mulai merendahkan nada suaranya agar tidak terpancing emosi lagi. Ia tahu bahwa kesadarannya sudah sedikit menghilang karena meminum alkohol terlalu banyak tadi. Ia benar-benar bingung, tidak tahu dimana keberadaan Ji Hyun sampai seorang wanita tua menelepon dan memberitahunya bahwa Ji Hyun ada di rumah Chanyeol. Dan itu membuatnya kesal.

“Malam ini dia tidak pulang dulu. Kau masih emosi,” balas Chanyeol seraya beranjak menuju garasi rumahnya, tempat dimana mobilnya diparkir.

“Byun Ji Hyun!”

Suara teriakan Jong In terdengar di belakang, namun Chanyeol masih saja menarik tangannya. Sebenarnya Ji Hyun sedikit merasa bersalah ketika melihat Jong In mabuk dan memintanya pulang dengan seperti itu. Harusnya mereka bisa menyelesaikan masalah berdua saja tanpa campur tangan Chanyeol.

“Yeol-ah, aku pula –YA!” kejadiannya begitu cepat ketika Jong In menarik bahu Chanyeol dan memukul laki-laki itu dengan cukup keras. Membuat sahabatnya itu tersungkur ke tanah.

Neo mwoya!

Ji Hyun segera mendorong dada Jong In agar tidak memukul lagi. Ia kemudian membalasnya dengan melayangkan sebuah kepalan tangan ke tulang pipi kiri Jong In. Lalu sebuah tamparan di pipi kanan laki-laki itu. Jong In benar-benar tidak sadar karena pengaruh alkohol. Dan pukulan itu akhirnya membuat Jong In sadar, pria itu menggerakkan mulutnya lalu menatap Ji Hyun nanar.

“Kenapa kau tidak memukulku?! Ini masalah kita, bodoh. Aku kesal karena kau membela Soo Jung, menyalahkanku, dan tidak mau mengakuinya. Lalu sekarang kau membuatku makin kesal karena memukul Chanyeol!” Ji Hyun berkata dengan tidak sabar sambil berteriak dan ia kembali mendorong dada bidang Jong In.

“Maaf,” ujar Jong In pelan. “Maaf karena aku membela Soo Jung. Maaf karena aku menyalahkanmu. Maaf karena aku memukul anak itu. Dan maaf untuk semuanya.”

Ji Hyun harus benar-benar menajamkan telinganya untuk mendengar suara Jong In yang sangat pelan. Pria itu menundukkan kepala, merasa bersalah atas semua kekacauan itu. Mereka bahkan belum genap dua minggu mendapat status pernikahan ketika Soo Jung tiba-tiba hadir dan mengacaukan semuanya.

“Namanya Chanyeol. Ayo minta maaf padanya,” titah Ji Hyun sambil membantu Chanyeol untuk berdiri.

Jong In mengangkat kepala untuk menatap Chanyeol yang sedikit lebih tinggi darinya. “Maaf.”

Sangat singkat, namun Ji Hyun merasa sedikit lega karena Jong In sudah bisa mengakui kesalahannya. Gengsi laki-laki itu memang diatas segala-galanya dan berhasil diturunkan karena masalah itu.

“Yeol-ah, aku pulang saja,” Ji Hyun mengusap sudut bibir Chanyeol yang lebam lalu tersenyum simpul ketika tatapan Chanyeol berubah khawatir. “Aku bisa memukulnya kalau dia macam-macam.”

***

Tiba di apartemen dengan selamat sudah membuat Ji Hyun merasa bersyukur sebenarnya. Selama berjalan dari basement ke lantai 14, ia harus memegangi lengan Jong In agar pria itu tidak terjatuh. Ia selalu benci laki-laki yang sedang mabuk, termasuk Baekhyun, karena kakaknya itu akan mengigau tidak jelas sampai pagi dan membuatnya tidak bisa tidur. Beruntung Jong In berpisah kamar dengannya hingga ia masih bisa tidur sampai pagi.

Ji Hyun membantu Jong In melepas jasnya lalu mendudukkan pria itu di sofa. Ia segera membuka kulkas dan mencari minuman penghilang mual karena mabuk dan membawanya pada Jong In di ruang tengah. Selama perjalanan tadi mereka terjebak keheningan walaupun sesekali Ji Hyun mengarahkan Jong In karena mabuk tadi.

Aish, pukulanmu keras sekali,” Jong In mengusap sudut bibirnya yang terluka, pipinya juga masih terasa panas karena tamparan yang sekuat tenaga itu. Ia memang tidak boleh macam-macam pada Ji Hyun.

“Sakit ya?” tanya Ji Hyun ragu seraya duduk di samping pria itu.

“Menurutmu? Aigoo, besok aku harus rapat direksi dengan wajah seperti ini,” Jong In masih mengusap sudut bibirnya ketika tangannya diturunkan oleh Ji Hyun dan digantikan oleh tangan lembut gadis itu. Membuat jantung Jong In hampir melompat keluar karena sentuhan Ji Hyun yang tiba-tiba.

Ji Hyun menghela napas panjang, memukul seorang presiden direktur –sekaligus suaminya adalah sebuah kesalahan terbesar. “Maaf ya. Salahmu juga kenapa memukul Chanyeol seperti itu, dia tidak salah apa-apa, bodoh.”

“Aku kesal karena dia membawamu pergi,” ujar Jong In pelan, sontak menghentikan tangan Ji Hyun di sudut bibirnya. “Baekhyun sudah memberikan tanggung jawabnya padaku setelah aku menandatangani surat pernikahan. Aku tidak mau Baekhyun membenciku, bodoh.”

Cish, Ji Hyun mendorong pelan wajah Jong In lalu mendengus pelan. “Ini semua karena SooJung. Aku heran kenapa kau bisa pacaran dengan gadis menyebalkan itu.”

“Memangnya dia bilang apa?” Jong In akhirnya bertanya hal yang sama seperti sebelumnya jika Ji Hyun emosi.

“Aku tidak cocok untukmu karena dia tidak pernah menemukan wanita sepertiku di pesta perusahaan saat mendampingimu dulu. Dia bilang kau meniduriku sampai hamil agar kau mau menikah denganku,” Ji Hyun mengangkat kedua tangannya ke udara, lagi-lagi ekspresi Jong In hanya datar memperhatikannya. “Apa yang akan kau lakukan kalau kau di posisiku?”

“Menghajarnya.”

Matda~, kau tahu alasannya kenapa aku menampar dan mendorongnya tadi. Mulutnya itu, eish,” Ji Hyun menggelengkan kepala dan rasanya masih belum puas hanya dengan menampar Soo Jung saja.

“Dia memang seperti itu. Dari kecil di Amerika, kalau tidak suka ya dia akan bilang langsung,” balas Jong In dan segera mendapat tatapan dingin dari Ji Hyun. “Wae?”

“Kau membelanya lagi,” protes Ji Hyun namun Jong In malah menahan senyumnya, tidak tahan dengan ekspresi dingin gadis itu.

“Aku hanya memberitahumu tentang Soo Jung, dia memang menyebalkan. Itu yang membuat kita berpisah,” papar Jong In seraya memiringkan wajahnya agar bisa menangkap ekspresi istrinya itu.

“Kau masih menyukainya ‘kan? Waktu itu kau pura-pura mesra denganku saat lewat di depannya. Kau mau membuatnya cemburu ‘kan? Kau juga tidak punya pacar lagi setelah putus dengannya. Ayo jujur,” Ji Hyun menyipitkan matanya yang kecil sambil menatap kedua mata Jong In, mendesak laki-laki itu agar mau jujur padanya.

“Jujur ya?” tanya Jong In memastikan namun Ji Hyun tidak menjawab dan hanya menatapnya. “Soo Jung selingkuh. Dia tidak suka karena aku sangat sibuk waktu itu, jadi aku memutuskannya. Soal tidak punya pacar lagi, aku terlalu sibuk dengan perusahaan jadi tidak bisa mencari pacar.”

Ji Hyun menangkap sedikit rasa sedih dan kecewa di wajah Jong In walaupun pria itu berkata dengan ekspresi dingin. Sedikit demi sedikit ia mulai mengetahui kehidupan Jong In. Tanpa disadari, Jong In menceritakan masa lalunya yang cukup menyedihkan. Sudah mengurus perusahaan di usia yang sangat muda membuat Ji Hyun merasa terharu. Jong In pasti membuat bangga kedua orangtuanya.

“Satu hal lagi,” ujar Ji Hyun, membuat Jong In kembali menoleh ke arahnya. “Tujuan sebenarnya kau menikahiku apa? Kenapa Baekhyun bisa mempercayaimu?”

Jong In terdiam. Belum saatnya Ji Hyun mengetahui yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun dan dirinya. “Baekhyun sudah menjelaskannya lewat video waktu itu.”

Ucapan Jong In membuat Ji Hyun bingung sebenarnya. Baekhyun hanya menyuruhnya untuk membantu Jong In entah dalam hal apa. Dan karena Jong In bisa memberikannya kehidupan yang lebih baik daripada hanya bergantung pada Baekhyun yang penghasilannya masih kurang dari cukup. Ia tidak tahu apa Jong In memang sebaik –seperti yang dijelaskan Baekhyun atau tidak.

“Bukan karena didesak untuk punya anak ‘kan?” tanya Ji Hyun akhirnya setelah menyimpan pertanyaan Chanyeol itu di dalam kepalanya selama beberapa hari ini.

Mwo?” tanya Jong In, memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

“Kalau kau menikahiku hanya untuk membantumu punya anak, sebaiknya kau cari yang lain saja,” Ji Hyun mengalihkan pandangannya kemudian berdiri dari sofa untuk menghindari Jong In. Namun kemudian Jong In malah menahan tangannya.

“Baekhyun menitipkanmu padaku selama dia pergi,” Jong In berdiri dari sofa lalu memutar tubuh Ji Hyun agar menghadap ke arahnya. “Bantu aku menghindar dari perjodohan sial itu. Hanya sampai ibuku puas dan Baekhyun pulang nanti.”

Tidak ada sorot ketidakseriusan di dalam mata Jong In. Benar semua dugaannya bahwa Jong In hanya menghindari perjodohan yang dibuat kedua orangtuanya dan karena Baekhyun yang menitipkan dirinya. Baekhyun yakin bahwa Jong In bisa memenuhi kebutuhannya selama kakaknya itu pergi entah kemana. Mutualisme.

[Over Bride] Chapter 4 CUT–

Ima’s note :

maafin aku Soo Jung di nistain di sini T.T Bukan maksud apa-apa, aku suka krystal kok sumpaah suka bangeeet hihi cuma no idea aja buat pengganggunya siapa. Mianhae~^^

Untuk kurang panjang maaf yaa, tapi ini udh jadi per chapter di laptop, trus emang agak pendek soalnya aku post ga lama lama dr yg kemaren hehe

Untuk yg protek nanti dikasitau kok caranya tenang aja hehe untuk siders mah yaa udh cape mau ngingetin, buat koreksi aku aja ke depannya mereka emang blm mau komen dan ngehargain hihi

makasih semuanyaa

love ya~^^

 

Best Regards,

Ima

 

Advertisements

485 responses to “Over Bride [Chapter 4]

  1. Itu siapa yang bicara sama ibunya jongin
    Akan ada konflik yang sebenarnya nih
    Soo jung ish gemes banget sama kata katanya jadi pengen jambak :v
    Next chap izin baca author 😀

  2. Yaelah si cenyol mah bikin kepelek2 yawlaa apelagi pas itu ngmong sayang subhanallah banget kalo gue digituan bisa mimisan 1ember itu wkwk , soojung anjir muka5 /digampar wkwk

  3. kok gue setuju2 aja ya jihyun nampar jambak sojung? itu cewek mulutnya ga sante banget, jongin juga ga tegas ih sebel gue

  4. Gila soojung… ngomongnya pedes. nusuk. gila, aku aja yang baca tersinggung… tapi keren gitu, dia orangnya jujur berarti #apaansiini. terus itu si kai cemburu atau begimana sih? agak gedeg ya sama ibunya chanyeol.. tapi ya ibu mana sih ya kalo anak laki-lakinya bawa cewek ke rumah ampe jam 12 malem, aku mengerti perasaanmu bu..

  5. tuhkann. apa yg belum harus dikerahui jihyun aishh Dan baekhyunku sayang pergi kemana sih?? BTW kapan mereka bisa sailing suka wkwk ya Kali aja praduga cunyul beneran kejadian qkwk

  6. okeeyy Authornim
    gw ucapkan makasih lu udah nistain dan juga selamat udah nistain Sojung disini
    karenaaaaaaaaaa….usaha lu buat nistain Soojung berbuah. gw menjadi kyak gimana gitu maksudnya lansung kagak suka sama2 dia *peace #diKroyok

    hihi 😀

  7. wah… mulut soojung emang bner harus d sekolahin tuh… ngomong seenaknya aja…
    duh jongin kliatan kyg msh suka ya ama soojung….
    lnjut eon…

  8. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter part 2 | choihyunyoo·

  9. Wah pengen banget mukulin soo jung 😀 greget minta ampun! Entah kenapa kalo pengganggunya soo jung kena banget karakternya 😀

  10. Ahhhh soojungnya disini jahat😢 tapi greget banget ditampar di dorong wkwkwk lagian songong banget. Dan jongin ah cinta keknya sama dia hehehe. Chanyeol kasihan ya😂 suka tak terbalaskan keknya…..

  11. Kaya nya akan ada kejutan nih..ibunya jong in punya niat apa yaa?? Aku mau jadi ji hyun ,kalo aku jadi dia,aku bakal nurut dehh sama suami nya heheh apalagi ganssnya se kai kurang apa cobaa..

  12. Oalaaahh,, jdi soo jung tu mantannya toh,, itu ibunya jongin ngerencanain apaan??
    Duuhh mkin bnyk aj musuhnya jihyun 😅

  13. Apa yang dilakukan jihyun wajar kok…
    Lagian soojung juga ngawur bicaranya…
    Semua orang pasti juva marah kalo digituin…

  14. duh iri banget sama hubungan chanyeol jihyun, lebih dari sahabat mereka kayak abang adek, chemistry nya dapet banget, aku malah ngedukung chanyeol jihyun jadinya (?) btw, ini bocah dua jihyun chanyeol pada songong banget ya manggil jongin pake nama doang. hahaha. padahal kalo ga salah inget deskripsi kakak di part awal bilang kalo jongin umurnya 26 otomatis jarak umurnya agak jauh dong sama jihyun chanyeol yang notabenenya masih kuliah. emang dasar tuh anak dua. wkwkwk

  15. aw.. pasti sakit bgt ya ditonjok eh.. diapain ya? kkk. pokokx pasti sakit.
    iyuh… salah sendiri.
    dan pertanyaan lucu jihyun ttg pux anak bikin geli. kkkkk… uda mikir sampe jauh gitu gegara cunyul

  16. woalah antagonisnya Soojung yaa, pdhal kn mereka real couple hyahyaa XD (hebring sndiri(KaiStalShipper))
    duh klo aq jdi Jihyun ya bakal ngehajar cewek yg mulut nya g djaga gtu deh, nyebelin bgt -_-
    btw aq penasaran sbenernya Baekhyun prgi kmna sih :v
    baca next aja deh,, fighting ima!! :*

  17. apa yang terjadi sama baekhyun?? memangnya apa yang terjadi antara baekhyun dan jong in???????? ini pertanyaan dari chapter 2—kalau tak salah—yang selalu aku pikirkan. next chapter

  18. Woah daebak kamu jihyun baru tau istri berani mukul sama nampar pipi suami sekaligus-,- btw plis jangan kasar2 ya sama jongin dia itu baik lhoo 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s