Over Bride [Chapter 6]

OverBride

Title     : Over Bride

Author      : Ima (@kaihyun0320)

Casts     : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Other    : Xi Luhan (EXO), Jung Soo Jung, Lee Taemin (SHINee)

Rating    : PG-15

Genre     : Romance, Fluff, Married Life.

Ch 1 ⌋ Ch 2 ⌋ Ch 3 ⌋ Ch 4 Ch 5

© Ima at SKF 2014

Review:

“Kau yang tidak sadar diri, Ji Hyun! Harusnya kau sadar bahwa pesta seperti ini hanya untuk orang-orang kaya yang mau bekerja keras. Bukan orang miskin yang menggoda pria kaya sepertimu!”

PLAK

Tidak. Ji Hyun sudah tidak bisa menahan emosinya lagi mendengar semua perkataan merendahkan itu. Ia memberikan sebuah tamparan keras pada pipi kiri Soo Jung, membuat sudut bibir gadis cantik itu mengeluarkan darah. Tidak sampai disitu saja, Ji Hyun menumpahkan wine ke wajah gadis itu lalu mendorongnya hingga terjatuh ke bawah.

Hingga suara husky Jong In yang berteriak terdengar di belakangnya.

[Over Bride] Chapter 6

“JI HYUN-AH!” suara husky Jong In terdengar keras di belakangnya. Hingga sedetik kemudian tuan Jung datang menghampiri dan membantu Soo Jung –yang sudah kacau itu agar bisa berdiri. Soo Jung terlihat berkaca-kaca sambil memeluk lengan besar ayahnya.

“Kukira kalian benar-benar berteman,” ujar tuan Jung dengan nada dingin tidak suka dan menatap Ji Hyun tajam. “Aku kecewa padamu, Jong In-ssi. Kau membuat rusuh pestaku dengan sikap istrimu ini.”

Tuan Jung memeluk anak gadisnya lalu meninggalkan Ji Hyun menuju sebuah pintu –entah kemana. Ji Hyun mengepalkan kedua tangannya lalu mendengus keras ketika Soo Jung membuatnya terlihat bersalah di mata orang-orang. Keadaan pesta benar-benar hening dan Ji Hyun sadar bahwa ia –dan Jong In menjadi pusat perhatian saat itu. Detik berikutnya Jong In sudah menarik tangannya, membawanya keluar dari pesta itu dengan langkah yang sangat cepat. Menghindari bisikan dan obrolan negatif dari orang-orang.

“Aku tidak mau pulang bersamamu!” pekik Ji Hyun seraya menghempaskan tangannya tepat sebelum menaiki mobil. “Kau jahat, Jong In.”

“Kau yang jahat, Ji Hyun!” balas Jong In tidak kalah keras sambil mengguncangkan kedua bahu Ji Hyun agar mau menatapnya. “Apa-apaan tadi? Kau menampar Soo Jung lagi? Kau tahu ini pesta besar dan harusnya bisa mengendalikan diri!”

Mwo? Kau bilang aku hanya perlu berdiri di sisimu selama pesta?! Tapi kau membiarkanku pergi bersama Soo Jung!” pekik Ji Hyun tidak terima, dengan kedua mata memerah menahan kesal.

“Lalu aku harus apa?! Menahanmu pergi? Tuan Jung pasti akan curiga!” jawab Jong In, semakin tidak bisa menahan emosinya dan menatap Ji Hyun nanar. Namun Ji Hyun mendecih pelan sambil memukul dadanya. Ekspresi gadis itu terlihat menyedihkan.

“Pikirkan saja hidupmu sendiri! Dasar egois.”

“Astaga,” Jong In mengusap wajahnya frustasi  melihat Ji Hyun yang menundukkan kepala. “Nama perusahaanku akan semakin hancur karena ini.”

Keurae. Aku memang bukan wanita baik-baik seperti Soo Jung,” Ji Hyun mengangkat kepalanya agar bisa menatap Jong In, dan mencoba menahan air matanya yang hampir meledak keluar. “Tapi ini Byun Ji Hyun yang kau kenal. Aku tidak bisa diam saja saat Soo Jung terus menginjak-injak harga diriku. Terima kasih, aku pulang sekarang.”

Mulut Jong In belum sempat terbuka ketika Ji Hyun mendorong dadanya kemudian berjalan cepat meninggalkan pelataran parkir –dengan sedikit terseok. Gadis itu sempat melepas hak tingginya sebelum berjalan semakin cepat meninggalkan Jong In yang masih berdiri di dekat pintu mobil. Jong In mengumpat pelan, ia mengacak rambut frustasi lalu segera masuk ke mobil. Melajukannya di jalanan dengan kecepatan tinggi, tanpa mau menoleh untuk Ji Hyun.

***

Satu  hal yang paling dibenci Ji Hyun di dunia ini.

Menangis.

Menumpahkan butiran-butiran bening dari matanya itu entah kenapa selalu membuatnya merasa lemah. Ia terakhir kali menangis ketika kepergian orang tuanya waktu itu. Ketika orang-orang meremehkannya dan Baekhyun, yang dilakukannya hanya membela diri. Bukan menangis dan meratapi nasib seperti yang orang lain lakukan. Setidaknya dengan membela diri, Ji Hyun menjadi lebih kuat dan tidak pernah takut pada siapa pun.

Ji Hyun menjinjing sepatu hak tingginya menyusuri pedestrian yang sudah sepi. Dengan baju ketat dan super mini yang dipakainya, Ji Hyun merasa kedinginan dan…. sendiri. Ia meninggalkan tas slempangnya di dalam mobil Jong In dan tidak sempat mengambilnya. Tidak bisa menelepon Chanyeol dan tidak punya uang, tanpa alas kaki juga. Ia bahkan masih menangis, merasa lelah dengan semua kehidupannya yang tidak pernah lepas dari cemoohan orang-orang. Ia merasa sendiri karena Baekhyun tidak ada di sisinya lagi. Bahkan Jong In merasa malu dengan kehidupan Ji Hyun yang sebenarnya.

“Aku membencimu, Jong In. Sangat.”

Akhir-akhir ini terlalu banyak yang mengganggu pikiran Ji Hyun hingga membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Ia akhirnya takut pada sesuatu juga setelah selalu menghadapi ketakutan lainnya sendirian. Ia takut dengan perasaannya sendiri. Ia takut jatuh cinta pada Jong In dan pada kenyataan bahwa Jong In hanya menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawab –yang diberikan Baekhyun. Ia takut bahwa Jong In tidak membalas perasaannya, lagipula tidak mungkin Jong In menyukai wanita miskin yang suka memukul sepertinya.

Ji Hyun memeluk tubuhnya sendiri ketika angin berhembus semakin kencang. Jika saja Baekhyun tidak pergi meninggalkannya, mungkin ia masih bisa hidup tenang tanpa takut dengan status istri Kim Jong In. Ia tidak harus menjaga sikap di hadapan banyak orang dan bisa bersahabat dengan Chanyeol seperti biasanya. Kehadiran Jong In sudah mengubah seluruh hidupnya.

“Ji Hyun?” suara seorang pria membuat Ji Hyun menghentikkan langkahnya dan melihat ke depan. Menatap seorang laki-laki berambut hitam yang berdiri beberapa langkah di depannya.

“Tae Min-ssi,” panggil Ji Hyun lemah seraya menghapus jejak air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain.

“Astaga,” Tae Min segera berlari menghampiri, melepas jaket baseball yang dipakainya dan memakaikannya di pundak Ji Hyun. Gadis itu terlihat hancur dengan rambut yang berantakan dan mata yang bengkak. “Aku antar kau pulang ke rumah Jong In, ya?”

Anhi,” Ji Hyun menyergah dengan cepat. “Aku tidak mau pulang sekarang.”

Tae Min menatap Ji Hyun bingung. Mungkin mereka sedang bertengkar hingga membuat Ji Hyun hancur seperti itu. “Ke apartemenku saja? Gedungnya ada di persimpangan jalan depan.”

.

Berada di ruang tengah apartemen Tae Min yang memberikannya sedikit kehangatan. Tae Min memberikan Ji Hyun baju yang lebih layak dan membuatkan gadis itu segelas cokelat hangat setelah menempuh angin malam sendirian. Walaupun tidak mengerti apa yang terjadi pada istri sahabatnya, Tae Min akan mencoba membantu dengan memberikan pertolongan seadanya. Ia sudah mengenal Jong In sejak lama dan sudah biasa melihat wanita-wanitanya menangis –seperti yang Ji Hyun lakukan tadi.

“Maaf merepotkan, Tae Min-ssi,” ujar Ji Hyun ragu.

“Kau istrinya sahabatku, jadi kau sahabatku juga,” Tae Min tersenyum simpul kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jong In ketika Ji Hyun menahan tangannya.

“Jangan telepon Jong In. Aku…. sedang menghindarinya,” sergah Ji Hyun dan Tae Min hanya menurut saja dengan meletakkan ponselnya ke atas meja.

“Kalian kenapa? Biar kuhajar Jong In kalau dia main wanita lain di luar sana,” ujar Tae Min berapi, namun Ji Hyun tidak bisa menahan senyum gelinya. Tae Min jauh lebih menyenangkan dan terbuka dibandingkan Jong In yang sering bersikap dingin –walaupun sudah mulai terbuka akhir-akhir ini.

Ji Hyun menghela napas panjang. Tidak ada salahnya jika Tae Min mengetahui yang sebenarnya, lagipula Jong In akan memberitahu sahabatnya itu cepat atau lambat. Daripada kesalahpahaman Tae Min semakin besar dengan kehadiran Ji Hyun di sana.

“Jong In memintaku menikah untuk membantunya,” Ji Hyun berkata jujur dengan tiba-tiba dan menarik perhatian Tae Min yang baru akan beranjak ke dapur.

Pria itu kembali duduk manis di sofa untuk mendengarkan kelanjutan cerita Ji Hyun. “Kalian tidak pacaran?”

Anhi,” Ji Hyun menggeleng pelan lalu menghembuskan napas dalam-dalam. “Kakakku berteman dengan Jong In dan menitipkanku pada Jong In selama dia pergi. Dengan pernikahan ini aku membantu Jong In dalam beberapa hal, termasuk dari perjodohan ibunya dan statusnya pada dunia.”

“Kau tidak bercanda?” tanya Tae Min tidak percaya. “Jadi kalian menikah karena itu?”

“Jong In menganggapku sebagai tanggung jawabnya selama Baekhyun pergi. Aku memang mau membantunya dengan menikah seperti ini, tapi aku tidak bisa mendengar orang lain meremehkanku. Bahkan Jong In membuat latar belakang keluarga yang hebat untukku,” Ji Hyun tersenyum miris, membayangkan bagaimana semua sikap Jong In yang dibencinya.

“Dia malu karena aku hanya anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak laki-lakinya di apartemen kumuh dekat Hongdae,” Ji Hyun melanjutkannya dengan sebuah butiran bening yang mengalir keluar dari matanya. Ia menghapusnya dengan cepat kemudian tertawa pelan. “Soo Jung benar. Hidupku sangat menyedihkan. Dan aku harusnya sadar tidak bisa mengimbangi Jong In dari segi apapun.”

“Jadi ini semua karena Soo Jung?” Tae Min langsung bertanya saat salah satu deretan mantan Jong In keluar dari bibir Ji Hyun. “Biar kutebak. Jong In pasti membelanya.”

Ji Hyun mengangguk ringan. “Dua kali. Aku dua kali menghajar Soo Jung karena dia meremehkanku dan Jong In tidak membelaku.”

“Astaga,” gumam Tae Min, sedikit merasa kaget karena Ji Hyun menghajar Soo Jung. Mungkin ganas yang dimaksud Jong In seperti itu.

“Mungkin Jong In tidak suka karena aku suka memukul orang sembarangan. Padahal dia tahu kalau itu hanya bagian dari pembelaan diri,” Ji Hyun melanjutkan kembali ceritanya dengan nada yang mulai melemah.

Cish, dasar Jong In bodoh. Dwaesseo, kau tidur saja di sini, besok aku antar kemana pun kau mau,” ujar Tae Min seraya menepuk bahu Ji Hyun kemudian beranjak dari sofa. “Kamarmu ada di pojok dekat kamar mandi.”

Gomawo, Tae Min-ssi,” setelah membungkuk pada Tae Min, Ji Hyun bergegas memasuki kamar tamu yang ditunjuk Tae Min. Ia duduk di sisi tempat tidur lalu meremas dada dimana jantungnya berada, merasakan sakit karena mengingat Jong In lagi. Jika berpisah dengan Jong In memang yang terbaik, mungkin ia harus melakukan hal itu secepatnya.

***

Larut malam dan Jong In masih terdiam di sofa ruang tengah apartemennya. Mengingat kejadian tadi yang terjadi begitu cepat dan membuat emosinya tidak tertahankan lagi. Sikap Ji Hyun jauh diluar dari perkiraannya, ia tidak pernah habis pikir bahwa Ji Hyun akan memukul Soo Jung –lagi di acara besar seperti itu. Banyak sekali wartawan yang hadir dan berita mengenai istrinya yang menampar anak tuan Jung pasti akan menyebar esok pagi.

Jong In meremas rambutnya ketika rasa pusing menyerang kepalanya. Masalah perusahaan dan masalah Ji Hyun benar-benar membebani pikirannya. Ternyata Baekhyun benar, kakaknya itu bahkan sudah merasa lelah dengan semua yang Ji Hyun lakukan selama ini. Dan Jong In juga sudah merasa lelah dengan semuanya, ia kira Ji Hyun akan mendengarnya dengan tidak berbuat kerusuhan di pesta besar dan menahan emosinya.

Tapi rasanya keterlaluan juga meninggalkan Ji Hyun di jalanan malam.

Jong In hanya merasa emosi karena sikap Ji Hyun dan meninggalkannya begitu saja. Namun ia tidak berpikir kemana Ji Hyun akan pergi dengan pakaian seperti itu. Apalagi ia baru saja menemukan tas milik gadis itu yang tertinggal di mobil, tanpa membawa ponsel dan uang. Sekarang Jong In merasa sangat bersalah karena meninggalkan istrinya hanya karena emosi sesaat.

“Astaga,” Jong In kembali menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya frustasi.

Dengan ragu Jong In membuka ponsel Ji Hyun. Mungkin gadis itu akan pergi ke rumah Chanyeol seperti biasanya dan ia akan menelepon laki-laki itu untuk memastikan.

‘Ne, Ji Hyunaa?’ suara Chanyeol terdengar ceria ketika ditelepon oleh ponsel Ji Hyun. Itu berarti Ji Hyun tidak ada di rumah laki-laki itu bukan?

“Apa Ji Hyun di sana?” tanya Jong In memastikan.

‘Tidak. Kenapa ponsel Ji Hyun ada di tanganmu? Dimana Ji Hyun?’

Jong In tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dan segera menutup telepon itu. Ia mengumpat pelan sebelum menyambar kunci mobilnya kembali kemudian turun ke lantai basement, tempat dimana mobilnya diparkir. Masa bodoh dengan jam yang hampir menunjuk angka satu malam, ia hanya butuh kejelasan mengenai keberadaan Ji Hyun di tengah malam seperti itu. Rasanya ia mulai menyia-nyiakan tanggung jawab yang sudah Baekhyun berikan.

Hyung,” Jong In segera menyambungkan teleponnya dengan Luhan dan tetap melirik kanan-kiri, mencari keberadaan Ji Hyun di pedestrian yang sudah sangat sepi.

‘Kenapa meneleponku tengah malam seperti ini?’ tanya Luhan dengan suara paraunya –seperti baru bangun tidur.

“Aku bodoh,” Jong In merutuki kebodohannya sendiri dan hanya dibalas decakan ringan dari Luhan di seberang sana. “Tolong bantu aku cari Ji Hyun. Aku…meninggalkannya di jalan tadi.”

‘Kau memang pria paling bodoh di dunia, Kim Jong In. Meninggalkan istrimu di jalanan tengah malam seperti ini. Aku akan ke cari ke sekitar bar, hubungi aku kalau Ji Hyun sudah ditemukan.’

Gomawo,” Jong In melepas earphonenya lalu memegang kemudinya erat-erat, pikirannya entah kenapa tiba-tiba menjadi kalut. Tengah malam bukan waktu yang tepat bagi seorang wanita berpakaian seperti Ji Hyun tadi untuk berjalan-jalan. Bagaimana jika Ji Hyun mendapatkan pelecehan yang lebih lagi di luar sana? Bagaimana pun Ji Hyun melawan, tenaga gadis itu pasti akan kalah dari tenaga laki-laki.

Setelah mencari ke jalanan dekat tempat pesta berlangsung, Jong In tetap tidak menemukan keberadaan gadis itu. Ia sudah bertanya pada pedagang kaki lima yang berada di sana dan tidak menemukan wanita seperti ciri-ciri yang Jong In berikan. Dan ia baru saja akan menjalankan mobilnya kembali saat mendengar ponselnya sendiri berbunyi.

Dari Lee Tae Min.

‘Aku tidak peduli dengan larangan dari Ji Hyun untuk tidak meneleponmu,’ suara  Tae Min langsung terdengar begitu Jong In menempelkan ponselnya ke telinga bahkan tanpa membiarkan Jong In mengucap ‘Halo’.

“Tae Min-ah, Ji Hyun ada di sana?” tanya Jong In panik dan Tae Min menghela napas panjang di seberang sana.

‘Aku sudah tahu kenapa kalian menikah. Dan aku kecewa padamu, Jong In-ssi.’

Ya. Lee Tae Min! Berikan alamat apartemen barumu, biar aku jemput Ji Hyun ke sana.”

‘Ji Hyun sedang tidak mau bertemu denganmu, Jong In. Besok pagi aku akan mengantarkannya ke rumah Chanyeol, jadi kau jemput saja sendiri di sana. Dia masih butuh ketenangan dan dia masih sangat shock dengan ucapan Soo Jung di pesta itu.’

“Tolong jaga Ji Hyun sampai besok pagi. Aku percaya padamu,” Jong In akhirnya hanya bisa pasrah, membiarkan sahabatnya menjaga Ji Hyun sampai besok pagi. Yang penting ia sudah merasa tenang karena Ji Hyun sudah berada di tempat yang aman.

Setelah Tae Min menutup teleponnya, Jong In masih terdiam di dalam mobil dan memukul kemudinya dengan cukup keras. Melampiaskan amarahnya karena lagi-lagi menyakiti Ji Hyun secara tidak sadar. Baekhyun pasti membencinya karena hal ini. Jong In segera memutar mobilnya di jalanan yang sepi dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju bar milik Luhan. Meminum alkohol akan menjadi tujuan akhirnya ketika ia merasa putus asa.

***

Dunia rasanya semakin berat bagi Ji Hyun ketika berita mengenai dirinya yang menampar Soo Jung beredar di dunia maya. Banyak netizen yang mengomentari negatif mengenai dirinya, mengutuknya, dan menyumpahinya dengan kata-kata kasar. Benar apa yang dikatakan Jong In, citra perusahaan keluarganya mulai memburuk karena dirinya. Sekarang ia malah merasa bersalah pada Jong In karena tidak mendengar ucapan laki-laki itu, padahal ia sendiri yang akan menerima cacian dari orang-orang.

Walaupun ucapan Soo Jung menginjak harga dirinya, namun gadis itu sepertinya memang menginginkan Ji Hyun emosi dan mengacaukan acara itu. Terlihat jelas dari cara Soo Jung terus menahannya tetap berada di sana hingga emosinya meledak. Harusnya ia tetap berada di sisi Jong In selama pesta berlangsung tanpa mengikuti ajakan gadis picik itu.

Ji Hyun menghela napas panjang seraya menatap piring sarapannya dalam diam. Semalaman tidak bisa tidur membuat kepalanya sangat pusing. Memikirkan Jong In dan Baekhyun secara bersamaan, memikirkan hidupnya yang masih tetap bersangkutan dengan Jong In selama kakaknya itu pergi.

“Kau mau ke rumah Chanyeol?” tanya Tae Min seraya duduk di hadapan Ji Hyun lalu memakan sarapan yang baru dibuatnya.

Ji Hyun mengangkat kepalanya untuk bisa menatap sosok –yang entah kenapa terlihat mirip Jong In di matanya. Mungkin matanya sedikit error karena kurang tidur semalam. “Aku pulang saja. Mungkin aku harus minta maaf pada Jong In juga.”

“Kenapa minta maaf?”

“Aku tidak mendengarkan ucapannya, Tae Min-ssi. Karena sikapku semalam, citra perusahaan Jong In mulai memburuk di mata orang lain. Aku merasa….bersalah,” jelas Ji Hyun lalu meletakkan sendoknya kembali tanpa menyentuh sarapan yang sudah dibuatkan Tae Min.

“Semalam kau masih mengutuk Jong In,” Tae Min tertawa renyah lalu menahan senyumannya saat Ji Hyun mendengus pelan.

“Jong In memang keterlaluan. Tapi kalau masalah ini berlanjut terus, akan semakin buruk ke depannya,” gadis berambut pendek itu kembali menghela napas, ternyata Tae Min memang sedikit mirip Jong In jika diperhatikan. Sosok Jong In memang selalu banyak berkeliaran di kepalanya akhir-akhir ini.

“Sepertinya Jong In menyukaimu,” ujar Tae Min tiba-tiba dan berhasil membuat Ji Hyun tersedak –suapan pertama nasi gorengnya.

“Ap-apa? UHUK! UHUK!” Ji Hyun segera meneguk air putih di dekat piringnya dan Tae Min malah tergelak di depannya.

“Dia sangat panik semalam. Aku tidak pernah mendengarnya sepanik itu pada seorang wanita jika tidak benar-benar menyukainya,” ucap Tae Min, dan membuat kedua mata Ji Hyun terbelalak.

“Kau menelepon Jong In semalam?” tanya Ji Hyun heran.

Tae Min menggaruk bagian belakang kepalanya, salah tingkah. “Luhan hyung meneleponku, dia bilang Jong In sudah meninggalkanmu dan merasa menyesal. Jadi sebelum Jong In semakin panik, aku meneleponnya.”

“Tapi aku serius tentang Jong In –mungkin menyukaimu.”

Hanya hembusan napas yang bisa Ji Hyun keluarkan untuk membalas ucapan Tae Min. Sebelumnya ia tidak pernah menduga itu dan tidak akan pernah mau bermimpi. Ia tidak merasa senang ketika Tae Min mengatakan itu dan malah sebaliknya, ia merasa semakin tidak pantas berada di sisi Jong In. Terlalu banyak yang dipertaruhkan oleh Jong In karena menikah dengan wanita –yang suka membuat masalah sepertinya.

“Jong In hanya menganggapku sebagai tanggung jawabnya selama Baekhyun pergi. Aku sudah memberitahumu semalam.”

***

Keadaan apartemen benar-benar jauh dari kata rapi seperti biasanya. Jas milik Jong In tergeletak begitu saja di atas sofa, sepatu yang tergeletak tidak beraturan dekat tangga, tas jinjing yang juga berada di atas meja ruang tengah, serta satu botol wine yang sudah habis di atas meja dekat tas. Lelaki berambut cokelat itu tidak peduli dengan apapun ketika tiba di apartemen semalam setelah dari bar dan memilih menghabiskan satu botol wine lagi.

Kepala Jong In rasanya sakit sekali, seperti dihantam sebuah batu keras setelah menghabiskan malamnya dengan alkohol. Apalagi terbangun tanpa suara Ji Hyun yang selalu membuat risih di pagi hari. Ia menyadari bahwa kesehariannya selama satu bulan lebih itu selalu diisi  dengan suara menyebalkan dan pukulan gadis itu. Ah, dan aroma anggur yang selalu tercium ketika Ji Hyun berada di jarak dekat dengannya. Sehari tanpa kehadiran Ji Hyun dan ia merindukan sosok itu di sekitar kehidupannya.

Baru beberapa menit kemudian Jong In mulai beranjak dari pembaringan, ia menyadari bahwa sudah terlalu siang untuk berangkat ke kantor dan ia tidak bisa datang ke kantor dengan keadaan kacau seperti itu. Masih dengan celana bahan abu dan kemeja putih kemarin –yang dua kancing teratasnya dibuka, Jong In keluar dari kamar untuk mengambil minuman penghilang mual di kulkas. Ia menuruni tangga dengan perlahan, takut salah langkah karena rasa pusing di kepalanya.

“Kau sudah bangun?”

Suara wanita yang tiba-tiba terdengar itu hampir membuat Jong In terpeleset di tangga. Namun ia berhasil mendapatkan keseimbangannya kembali ketika melihat sang pemilik suara sedang membereskan ruang tengah tanpa melihat ke arahnya.

“Aku tadi beli bubur di jalan untuk kita sarapan. Kau tidak—.”

Ji Hyun tidak bisa melanjutkan ucapannya sendiri ketika merasakan tubuh hangat Jong In yang memeluknya dari belakang. Tangan kekar laki-laki itu melingkar di perutnya dan ia bisa merasakan deru napas Jong In yang menyapu lembut lehernya. Sebenarnya Ji Hyun bisa saja mengelak dan memelintir lengan Jong In karena sudah memeluk seenaknya. Namun anehnya ia tidak bisa bergerak, seolah Jong In mengucapkan mantra lewat pelukan itu agar ia tidak bergerak.

“Dasar bodoh,” Jong In merutuk pelan dengan suara pelan hampir berbisik. “Kenapa kau menghilang semalam?”

“Kau yang meninggalkanku, Jong In,” Ji Hyun tetap tidak bisa berkutik untuk melepaskan lengan Jong In dan membiarkan jantungnya terus berlomba. “Beritanya sudah keluar tadi pagi. Mianhae. Maaf karena aku tidak mendengarkanmu semalam.” Ujarnya penuh dengan nada penyesalan.

Jong In tersenyum simpul dan menghirup banyak-banyak aroma istrinya. “Kau memang keras kepala, emosian, dan bodoh. Kau menampar Soo Jung lagi dan membuat perusahaanku terlihat buruk di mata orang-orang.”

Araseo, aku memang keterlaluan semalam. Maaf, Jong In-ah,”  Ji Hyun menambahkan lagi sembari menundukkan kepalanya.

“Aku yang harusnya minta maaf, Ji Hyun-ah. Aku tidak menjagamu dan membiarkan Soo Jung menghinamu seenaknya,” balas Jong In seraya melepaskan pelukan itu lalu membalikkan tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya. Entah karena pengaruh alkohol semalam atau memang kenyataan bahwa Ji Hyun terlihat sangat cantik pagi itu.

“Pasti perusahaanmu akan semakin buruk. Mianhae, Jong In-ah,” gumam Ji Hyun pelan tanpa mau berani menatap kedua mata Jong In. Rasa bersalah mulai menggerogoti perasaan Ji Hyun saat itu.

“Tenang saja, aku akan membereskannya secepat mungkin, eoh? Gwenchana,” Jong In menepuk puncak kepala Ji Hyun sambil tersenyum simpul. Tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena Ji Hyun kembali ke sana dan tidak benar-benar marah padanya.

.

“Jadi kenapa kau memukul Soo Jung?”

Mereka –Jong In dan Ji Hyun duduk saling berhadapan di atas sofa. Mencoba membicarakan lebih lanjut masalah semalam sambil menghabiskan bubur yang dibeli Ji Hyun tadi. Jong In terus memperhatikan Ji Hyun yang hanya mengaduk-aduk sarapannya dalam diam. Tidak mengerti kenapa seorang yang cerewet dan menyebalkan seperti Ji Hyun bisa diam seperti itu.

Wae?” tanya Jong In dengan nada sedikit khawatir.

“Kalau kita berpisah saja bagaimana? Aku akan mencari kerja dan menyewa apartemen di luar,” jawab Ji Hyun masih tetap menundukkan kepala ke dalam mangkuk sarapannya tanpa mau menatap Jong In.

“Tidak sampai Baekhyun kembali, Ji Hyun. Aku sudah memberitahumu kalau Baekhyun akan kembali beberapa bulan lagi,” Jong In menjawab dengan sedikit menekankan setiap kata dalam ucapannya.

“Baekhyun pasti akan mengerti. Aku terlalu banyak membuat masalah untukmu, Jong In. Selesaikan saja semuanya,” Ji Hyun mendesah napas pelan dan meletakkan bubur miliknya ke atas meja ruang tengah. Ia tidak benar-benar lapar karena sudah menghabiskan satu piring nasi goreng di apartemen Tae Min tadi.

“Berhenti menganggap dirimu sendiri masalah, Byun Ji Hyun. Aku akan selesaikan semuanya secepat mungkin tapi tidak dengan berpisah, ara?” sahut Jong In cepat lalu ikut meletakkan mangkuk buburnya ke atas meja, merasa kehilangan napsu makan karena ucapan Ji Hyun.

Waeyo? Aku tidak membawa keuntungan apapun padamu kecuali menghindar dari perjodohan itu,” Ji Hyun merasa tidak mengerti dengan kehidupan Jong In dan keputusan yang Baekhyun buat. “Aku tidak tahu kenapa Baekhyun pergi dan meninggalkanku bersamamu.”

“Dia sedang berusaha memperbaiki hidup kalian,” ucap Jong In dengan nada sangat pelan dan membuat Ji Hyun akhirnya berani mengangkat kepala untuk menatap laki-laki itu. “Dan aku sudah pernah bilang kalau ini semua hanya untuk menghindari perjodohan sial itu.”

“Lalu kenapa kau harus bohong semalam? Kau malu kalau aku ini hanya perempuan miskin yang tidak punya apa-apa?” tanya Ji Hyun tiba-tiba seraya mengerutkan kening tidak suka.

Jong In menangkup wajah Ji Hyun dengan kedua tangannya. “Ini masih permulaan, Ji Hyun. Aku tidak mau orang-orang memandangmu kecil. Dunia maya terkadang lebih kejam dari ucapan orang-orang di sekitarmu.”

“Kau malu, Jong In.”

Ya. Dengarkan aku, Byun Ji Hyun. Aku terpaksa harus memberitahumu,” Jong In menghela napas panjang kemudian memberanikan diri untuk menatap manik hitam gadis itu. “Baekhyun yang memintanya. Ia tidak mau orang luar mengetahui identitasmu dan merendahkanmu lagi.”

“Baekhyun lagi? Tapi dia lari saat melihatku kemarin,” tanya Ji Hyun tidak mengerti dan membiarkan tangan Jong In melingkar bebas di pinggangnya. Ia merasa bahwa perlakuan Jong In masih berada di batas wajar tanpa bermaksud bersikap kurang ajar.

“Banyak yang harus Baekhyun lakukan di luar sana,” Jong In mengusap puncak kepala Ji Hyun lalu kembali memeluknya. Kali ini lebih erat dan ia tidak akan membiarkan orang lain merendahkan Ji Hyun lagi apapun yang terjadi. “Jadi.. Tetap seperti ini sampai beberapa bulan lagi.”

Akan banyak hal dan rintangan yang harus dilalui selama Baekhyun pergi dan Jong In akan menepati janjinya untuk laki-laki itu.

***

Kesabaran nyonya Kim rasanya sudah hampir habis melihat tingkah anak laki-lakinya. Baru saja ditinggal untuk menghadiri pesta keluarga Jung, berita tidak mengenakkan sudah sampai di telinganya mengenai sikap menantunya. Ah ia bahkan malas menyebut Ji Hyun sebagai istri dari Jong In yang sudah menghancurkan nama baik perusahaannya. Nyonya Kim tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan anaknya.

Setelah berita tidak enak yang lain mulai bermunculan, Jong In malah membuat sebuah konferensi pers mendadak yang dihadiri para media agar tidak lagi menyebarkan berita buruk mengenai istrinya. Jong In menjelaskan bahwa itu hanya sebagai pembelaan diri atas apa yang Soo Jung katakan untuk merendahkan Ji Hyun. Walaupun masih meninggalkan beberapa pertanyaan mengenai berita itu, namun penjelasan Jong In dan permintaan maaf laki-laki itu sudah mulai meredakan berita heboh itu.

Nyonya Kim memijat pelipisnya yang terasa semakin pusing. Ia mematikan televisi yang berada di ruang kerja suaminya itu lalu menghela napas panjang. Beruntung tuan Kim tengah menghadiri rapat di luar Tokyo dan tidak harus mendengar berita tidak mengenakkan di dalam gedung.

“Nyonya besar, ada telepon dari Korea untukmu. Dia ada di saluran satu,” suara sekretaris Jang menginterupsi lamunan nyonya Kim siang itu. Ia menyuruh sekretarisnya itu untuk keluar lalu segera menerima telepon dari negeri asalnya.

“Halo.”

‘Eomonim. Aku sudah tahu tentang pernikahan Jong In.’

“Cepat sekali. Kau yakin informasimu tidak salah ‘kan?” tanya nyonya Kim meyakinkan. Dan sosok pria di seberang sana tertawa hambar mendengar ucapannya.

‘Detektif sewaanku masih mencari alasan sebenarnya pernikahan Jong In. Aku sudah mendapatkan sumber yang obyektif, eomonim, tenang saja. Jong In menikah untuk menghindari perjodohan yang sering kau buat. Intinya, Ji Hyun juga memenuhi permintaan kakaknya untuk membantu Jong In dengan pernikahan ini.’

“Keterlaluan.”

‘Jong In takut posisi presiden direkturnya akan kembali menjadi general manajer saja. Jadi dia cepat menikah ketika tahu Baekhyun mempunyai adik perempuan. Itu sedikit informasi yang kudapat dari detektif sewaanku.’

“Cari informasi lagi mengenai pernikahan Jong In. Terima kasih sudah mau membantuku,” nyonya Kim memijat pangkal hidungnya sambil menghela napas panjang begitu sang laki-laki muda di Korea sana mengakhiri teleponnya. Jika masih ada alasan lain di balik pernikahan anaknya, maka ia tidak akan segan-segan menghampiri Jong In ke Korea. Untuk sekarang, secara perlahan, ia akan membuat Ji Hyun sadar dimana seharusnya gadis itu berada. Bukan di sisi anak laki-laki satu-satunya yang tampan dan berprestasi banyak itu.

***

Rasanya hampir gila jika mengingat bagaimana kemarin Ji Hyun akhirnya bisa berbaikan dengan sebuah pelukan hangat dari Jong In. Setelah itu ia segera menyuruh Jong In berangkat kerja tanpa alasan apapun. Chanyeol juga meneleponnya pagi itu dan bertanya dengan sangat panik kenapa Jong In meneleponnya semalam dan Ji Hyun hanya menjawab seadanya tanpa membuat pria itu merasa khawatir. Melihat bagaimana Jong In berusaha membuat dunia kembali berpihak padanya dengan sebuah konferensi pers, Ji Hyun merasa bahwa ucapan Tae Min ada benarnya juga.

Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi itu ketika Jong In tengah membuatkan sarapan dan Ji Hyun duduk manis di mini bar sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya Jong In tidak pintar memasak juga sepertinya, namun laki-laki itu masih bisa membuatkan omelet untuk sarapan. Sementara Ji Hyun hanya memasukkan roti ke dalam toaster saja untuk dipanggang.

“Aku libur hari ini,” ujar Ji Hyun mencoba memecah keheningan di pagi hari seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana tidur. Ia melihat Jong In selesai membuat sarapan dan meletakkan sepiring omelet di hadapannya.

Jong In duduk di sebelah istrinya lalu mengangguk pelan menanggapi ucapan gadis itu. Melihat respon yang sangat biasa, Ji Hyun segera menepuk lengan atas Jong In. Tidak suka karena merasa diacuhkan oleh pria itu.

“Kenapa?” tanya Jong In dingin.

Ji Hyun mendengus pelan. “Kenapa diam saja? Aku libur hari ini, Kim Jong In.”

“Lalu apa?” tanya Jong In lagi. Pria itu sudah siap dengan celana bahan –yang tetap sedikit ketat berwarna biru tua garis-garis dan kemeja biru muda yang digulung sampai siku.

“Kau tetap ke kantor?” Ji Hyun kembali bertanya dengan ragu seraya menyuapkan satu sendok omelet ke dalam mulutnya.

“Tergantung. Kantor sedang sangat baik akhir-akhir ini, jadi aku bisa sedikit santai,” jawab Jong In masih tetap tidak menatap Ji Hyun dan menghabiskan sarapannya.

“Mau antar aku ke Incheon?”

Terlihat sebelah alis Jong In terangkat sambil menatapnya, seolah menanyakan maksud Ji Hyun pergi ke tempat yang harus ditempuh selama dua jam perjalanan itu. Berada di mobil selama dua jam terkadang membuat Jong In kesal, apalagi jika harus menempuh kemacetan. Dan Incheon berada cukup jauh dari Seoul.

“Aku mau jenguk appa dan eomma. Terakhir kali aku kesana bersama Baekhyun satu tahun yang lalu,” nada bicara Ji Hyun sedikit berubah menjadi lebih pelan dan sedih, membuat Jong In tidak sampai hati untuk menolak permintaan gadis itu.

Dan Jong In malah mengacak rambutnya dengan gemas. “Ayo pergi ke Incheon. Tapi tidak bisa lama-lama, aku harus datang ke rapat jam tiga sore nanti.”

Jinjja? Ne, aku janji tidak lama,” Ji Hyun tersenyum lebar kemudian menghabiskan sarapannya dengan cepat, tidak mau membuat Jong In menunggu lama dan segera bersiap-siap ke kamar.

Ketika turun dari lantai dua, Ji Hyun menemukan Jong In sudah berganti baju dengan celana jeans biru tua serta kaus putih polos yang dibalut dengan cardigan berwarna cokelat muda. Sementara Ji Hyun seperti biasanya hanya memakai celana jeans dan kaus kebesaran yang membuatnya nyaman. Mungkin karena postur tubuh yang bagus dan wajah yang tampan, Jong In selalu cocok memakai baju apapun.

“Jadi… Akhirnya kita kencan setelah satu bulan lebih menikah?” tanya Ji Hyun, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika naik ke mobil dan mereka yang mulai meninggalkan pelataran basement.

Jong In tersenyum simpul lalu menoleh sebentar untuk bisa melihat Ji Hyun. “Kita sudah sering kencan, bodoh.”

“Maksudku benar-benar kencan seharian. Aku bosan melihatmu pakai kemeja dan celana bahan terus,” Ji Hyun memutar bola matanya sambil melipat tangan di depan dada. Setidaknya ia bisa melihat sisi lain Jong In juga di luar rumah selain celana  bahan dan jas saja.

“Mereka sudah kulipat rapi di belakang,” ujar Jong In tidak bisa menahan senyumnya kemudian mencubit pipi Ji Hyun dengan gemas. Tidak peduli bagaimana Ji Hyun memekik dan memukul-mukul lengannya karena mencubit terlalu keras.

“Lama-lama kau mirip Chanyeol,” balas Ji Hyun kesal dengan tangan yang masih sibuk mengusap pipinya setelah dicubit keras oleh Jong In. “Suka mengataiku bodoh, memelukku seenaknya, dan sekarang mulai mencubit pipiku.”

“Aku tidak punya telinga besar seperti anak itu, Ji Hyun,” protes Jong In tidak suka.

Wae? Kenapa kau tidak mau memanggil namanya? Apa susahnya mengeja nama Chanyeol, itu kan lebih pendek daripada kau harus menyebutnya ‘anak itu’,” protes Ji Hyun dan Jong In hanya diam saja sambil memperhatikan jalanan. Ia baru saja akan memukul kepala Jong In ketika laki-laki itu berhasil menghindar lagi.

“Apa? Jangan pukul kepalaku, kalau kita mati karena kecelakaan sebelum sampai di Incheon, bagaimana?”

Sudah lama Ji Hyun tidak mendengar kata-kata yang selalu membuat bulu kuduknya meremang itu. Kejadian bertahun-tahun lalu yang membuat nyawa kedua orangtuanya hilang. Ji Hyun merasa sangat bersalah karena waktu itu menyuruh keduanya cepat pulang karena ia baru saja mendapat peringkat satu di kelas. Dan semuanya terjadi begitu cepat ketika ia mendengar bahwa keduanya meninggal karena sebuah tabrakan hebat. Lalu ia melewati kehidupan yang berat bersama Baekhyun setelah kejadian itu. Ia mulai membenci sekolah dan apapun yang bisa membuatnya menjadi juara kelas.

“Ji Hyun?” sentuhan tangan Jong In di tangannya membuat Ji Hyun tersadar dari ingatan masa lalunya.

Gwenchana. Ayo perhatikan jalan, aku belum mau mati sebelum lulus kuliah.”

Jong In tergelak mendengar jawaban Ji Hyun dan ia akhirnya fokus pada jalanan setelahnya. Hanya terdengar lagu dari siaran radio, mata elang Jong In sesekali melirik Ji Hyun yang terdiam sambil melihat keluar jendela. Entah kapan Baekhyun akan kembali untuk mengatakan semuanya pada Ji Hyun. Ia tidak yakin bahwa hatinya akan siap jika Ji Hyun berbalik meninggalkannya nanti.

Dua jam perjalanan yang cukup membosankan karena Jong In harus menyetir sendiri sementara Ji Hyun tertidur nyenyak di sampingnya. Ia juga berkali-kali mendorong kepala Ji Hyun yang hampir terjatuh ke arahnya dan menyandarkannya ke kaca mobil. Pertama kali melihat wajah polos Ji Hyun yang tertidur itu membuat Jong In merasa senang. Tidak tahu kenapa. Jong In hanya senang bisa memperhatikan wajah Ji Hyun dalam waktu yang lama.

Ya. Kita kemana lagi?” Jong In sedikit mengguncangkan tubuh Ji Hyun. Namun gadis itu tidak bergeming dan hanya bergumam tidak jelas.

“Byun Ji Hyun. Ya. Ayo bangun, aku tidak tahu jalannya lagi,” Jong In kembali mengguncang tubuh istrinya. Ji Hyun hanya membuka mata sedikit, melihat papan penunjuk jalan yang baru saja dilewati lalu menunjuk ke arah kiri.

Jong In hanya memutar bola matanya kemudian mengikuti petunjuk gadis itu. Dan pemakaman umum di Incheon ternyata tidak jauh setelah keluar dari tol hingga ia tidak harus kebingungan mencari jalan sendiri. Ia hanya memarkirkan mobilnya di area yang sudah disediakan, melepas seatbelt kemudian kembali membangunkan Ji Hyun.

Butuh beberapa menit bagi mereka untuk mencapai makam kedua orangtua Ji Hyun di blok F. Selama itu Jong In memegangi kedua pundak Ji Hyun dari belakang, takut jika saja gadis itu oleng karena baru bangun tidur.

Eoh? Kenapa ada bunga di sini?” tanya Ji Hyun heran seraya berjongkok di samping sebuah makam yang tertulis nama sepasang orang tuanya.

Jong In hanya berdiri di belakang gadis itu sambil memasukkan tangannya ke saku celana. “Kau punya kerabat lagi di Korea?”

Anhi. Baekhyun tadi ke sini,” Ji Hyun menghela napas panjang lalu meletakkan bunga –yang sempat dibelinya di depan tadi, bersebelahan dengan bunga yang dibawakan Baekhyun. Kenapa rasanya Baekhyun jahat sekali membiarkan Ji Hyun hidup sendirian dengan menghilang seperti itu.

Eomma, appa,” Ji Hyun bergumam pelan, tangan halus gadis itu mengusap batu nisan orangtuanya yang mulai terlihat kusam. “Baekhyun oppa meninggalkanku sendirian. Tidak ada kabar darinya. Dia jahat ya? Aku merasa dibodohi oleh Baekhyun.”

“Tapi karena Baekhyun juga, aku bisa bertemu Jong In dan hidup baik dengannya,” Ji Hyun menarik tangan Jong In agar berjongkok di sampingnya dan pria itu membungkuk singkat sambil melirik Ji Hyun ragu. “Eomma, appa, dia Kim Jong In, suamiku.”

A-annyeong, eomonim, abeonim,” sapa Jong In kaku, sukses membuat Ji Hyun memandang geram ke arahnya. “Aku berjanji pada Baekhyun akan menjaga Ji Hyun sebagai istriku. Mungkin ini terdengar jahat karena aku meminta bantuan pada Ji Hyun dengan pernikahan ini, tapi aku serius untuk menjaganya sampai Baekhyun kembali.”

Sorot mata Jong In terlihat penuh keseriusan dan itu membuat jantung Ji Hyun berdetak sangat gila. Melihat seorang pria –selain Baekhyun berusaha keras untuk melindunginya, berbicara serius di hadapan kedua orangtuanya, dan berkomitmen untuk menjaganya. Seems like forever. Tapi Ji Hyun sadar bahwa akhirnya Jong In hanya akan menjaga sampai Baekhyun kembali. Jong In hanya tengah menjadi sosok seorang kakak yang bertanggung jawab seperti Baekhyun dengan menjaganya.

“Terima kasih sudah melahirkan anak yang kuat dan suka memukul seperti Ji Hyun.”

“Kau mau mati hah?” sahut Ji Hyun cepat seraya mengangkat tangannya untuk memukul Jong In. Namun pria itu menyeringai pelan lalu menggenggam tangan Ji Hyun yang terkepal di udara itu.

“Tapi aku tahu dia tidak akan memukul kalau tidak ada yang memulai,” Jong In melanjutkan kembali ucapannya sambil menatap wanita—yang sedikit tersipu di hadapannya itu. Walaupun Ji Hyun mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tetap bisa melihat semburat merah di pipi gadis itu. Rasanya Jong In semakin jatuh ke dalam pesona Ji Hyun dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Baekhyun jika laki-laki itu mengetahuinya.

[Over Bride] Chapter 6 CUT—

Ima’s Note:

LOHAAA hihicepet bingits nih ngepostnyaa

gapapa sih emang seneng aja XD

yang minta romantisan J&J couple selanjutnya bakal banyaak

ampe bikin diabetes /ceilah/

okedeeh udahan yaa

jangan lupa komennya~^^

Gomawo~

 

Best Regards,

Ima

Advertisements

479 responses to “Over Bride [Chapter 6]

  1. kemanaaa baekhyunnnn??? wish jinjja Dan yg jadi mata2 nyonya Kim itu siapa?? astaga,, mereka makin sweet wkwk apa sih alasan baekhyun sama jongin asli aku penasaran bgt hiksss

  2. eaaaakkk..mereka kek couple yg sesungguhnya
    ada masalah dan baikan dengan bener-sbener di selesaikan dengan kepala dingin 😀

  3. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter part 2 | choihyunyoo·

  4. Ahhh seneng bangetttttt mereka tambah sweet aja ji hyun nya jarang mukul juga hihihibsian uri jonginie😂😂 dan siapa sih yg diminta tolongin nyonya kim?taemin?ih kesel abizzz

  5. Bingung harus komen apa…ini ff udah setahun lalu,dan aku baru nemu ini ff..ceritanya bikin ge err sendiri..heheh

  6. mereka udah mulai nyaman satu sama lain, jihyun jongin udah saling suka tuh. hehe. tapi pasti banyak banget deh rintangannya, terutama dari ibunya jongin. hhhh jadi makin penasaran kemana si cabekhyun, siapa informannya ibunya jongin dan rahasia apa yang kira-kira jongin sembunyiin. semangat ya kak, keep writing =)

  7. sebel itu pas jongin bela soojung
    huh.
    dan taemin ida tau klo jihyin ama jongin cuma nikah atas dasar kontrak yg……sdfgmcjcbnkzjcbnmzk
    tapi.. apa bener jongin suka ama jihyun? *sorak”

  8. sebel itu pas jongin bela soojung
    huh.
    dan taemin ida tau klo jihyin ama jongin cuma nikah atas dasar kontrak yg……sdfgmcjcbnkzjcbnmzk
    tapi.. apa bener jongin suka ama jihyun? *sorak”
    akhirx jj couple baikan

  9. Ehmehmm..ayo udh mulai benih2 cinta nigh heheheehe…itu siapa yg lapor ya…taem8n atw siapa…

  10. haduh mereka itu sbenernya sweet bgt, n aq suka sma kbiasaannya Jihyun yg make kaosnya Jongin, gw jga ska pake kaosnya si abang :v (gaada yg nanya)
    btw dftar penasarannya betambah nih, siapa cowok yg manggil ’emonim’ k mama nya Kamjong?
    smvah pngen teriak ‘BAEKHYUN WHERE ARE YOU?????!!’ hadeh..
    masih sanggup kog buat next partnya :v fighting ima!!!:*

  11. ehemm..udah mulai dagdigdug tuuh. tapi kenapa masih pakai alasan janji jagain karena baekhyun?? gimana jadinya ya J&J kalau harus pisah setelah BBH kembali?? kayaknya ngga akan pisah 😀

  12. Tuhkaaan bikin iri lihat jihyun sama jongin mesra gitu..tanpa sadar jihyun emang udah mau nerima ya disentuh dipeluk sama jongin :3 duuh sweet banget lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s