MISS ANNOYING [CHAPTER 7]

Miss Annoying 6B

 

 

Author : FanyByun(@afanya_)

Genre : School-life, AU!, Romance, Love-Hate, Friendship

Cast : Byun Baekhyun (E.X.O)| Choi Hyeyoung (OC/YOU) | Kim Jongin (E.X.O) | Do Kyungsoo (E.X.O)

Other Cast : Park Chanyeol (E.X.O) | Lee Minah (OC/YOU) | Mark Tuan (GOT7) | and other

Summary :Ice boy meet annoying girl, what will happen

Disclaimer : I own nothing but the story. Baekhyun, Jongin, and EXO member belong to themselves. OC’s belong to me, except Lee Minah—she’s belong to my bestfriend.

For : Teen (PG-15 !)

Length : Chapter

(TEASER | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 |CHAPTER 5CHAPTER 6A | CHAPTER 6B | CHAPTER 7)

Poster by me @byunbaek98hyun

 

Perhatian : tulisan yang di-italic itu merupakan ucapan dalam hati para karakter atau flashback 

2014©AFANYA PRESENT


~

Previous Chapter :

“Kau mencari Choi Hyeyoung kan, Byun Baekhyun?”

“Jika sampai sesuatu terjadi pada Hyeyoung, kau yang pertama kali aku temui, Hyeri Lee!”

Lalu Hyeri memberikan senyuman sinis, dan berlalu meninggalkan Baekhyun.

~

 

 

 

Feel me feel me,

Tell me tell me,

Love me love me

 

“Tolong!” pekik Hyeyoung untuk yang kesekian kalinya.

Tidak ada yang menyahut pun mendengar pekikannya tersebut. Hyeyoung pantang menyerah, ia berdiri dengan susah payah, berjalan menuju pintu keluar-masuk ruang olahraga itu. Dipandanginya pintu tersebut sebelum akhirnya menutup matanya, hendak mendobrak pintu tersebut. Gadis bermarga Choi itu sudah bersiap-siap memasang kuda-kuda, beberapa saat setelahnya berlari hendak menubrukkan tubuhnya dengan pintu. Hyeyoung sudah siap menerima rasa sakit karena bahunya yang beradu dengan pintu tersebut.

 

“KYA!”

 

Tapi, sejak kapan pintu menjadi seempuk ini?

 

Heol…

 

Dibukanya mata gadis itu, lalu mata gadis itu terbelalak. Apalagi ketika pandangan matanya bertemu dengan milik laki-laki itu. Gosh, Hyeyoung bahkan menahan nafasnya!

Belum lagi posisi mereka sekarang. Si laki-laki memegangi bahu Hyeyoung, memandangi gadis itu begitu intens, seperti tidak akan bertemu dengan gadis itu untuk waktu yang sangat lama.

“Baekhyun sunbae?”

Laki-laki itu—Byun Baekhyun—memberikan senyuman kecil, sebelum akhirnya menjitak kepala Hyeyoung tidak keras. Hyeyoung sampai di buat terbengong-bengong. Tidak mengerti mengapa Baekhyun bisa bertingkah seperti ini. Hey, bukannya Baekhyun seharusnya bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu? Apa baik baik saja?’. Tapi ini… ia malah menjitak Hyeyoung dan tersenyum seperti bayi tak punya dosa. Ugh, mau marahpun Hyeyoung tidak bisa.

“Apa sunbae terbentur sesuatu ketika berjalan kemari?” tanya Hyeyoung tanpa sadar.

“Apa kau sedang mengataiku, nona?” tanya Baekhyun.

Hyeyoung jadi malu sendiri. Ia membungkam mulutnya. Memandangi Baekhyun takut-takut. Hyeyoung ingat sesuatu, hal yang diperintahkan oleh Minah. Soal barang-barang kesukaan Chanyeol.

“Baekhyun sunbae, apa sunbae lapar?”

Gadis itu memandangi Baekhyun, lalu memberikan pandangan memohon.

“Sedikit.” Jawab Baekhyun, sembari mengalihkan pandangannya dari Hyeyoung. Sejatinya Baekhyun hanya sedang menetralkan detak jantungnya yang bertalu-talu.

Gadis Choi itu lalu beniat menggandeng tangan Baekhyun, tetapi ia baru ingat kalau tangannya masih diikat. Ia meringis merasakan sakit yang berasal dari tangannya. Ugh, kenapa sakitnya baru muncul sekarang? Hyeyoung tidak mau terlihat lemah di hadapan Baekhyun.

Baekhyun memandangi tangan Hyeyoung yang terikat tali. Tega sekali Hyeri itu. Ingin rasanya Baekhyun menghajar gadis itu—Hyeri—hingga membuat gadis itu sadar, bahwa ia tidak boleh melakukan hal-hal yang menyakiti kepunyaannya. Apa, tunggu, Baek, apa yang kau katakan?

Diam-diam Baekhyun tersenyum kecil, kemudian meraih tangan Hyeyoung. Dengan telaten membuka simpul ikatan tesebut. Hyeyoung memandangi kegiatan Baekhyun tanpa beniat untuk menghentikannya.

“Sudah, ayo ke kantin.”

Dengan tangan mereka yang betautan berjalan bersama-sama menuju kantin.

Tanpa mereka ketahui seseorang mengamati kegiatan mereka. Dengan pandangan menusuk dan penuh dengan kesedihan.

“Baekhyun, jadi sekarang kau sudah memilih gadis itu? Atau sebaiknya aku mengujimu?”

 

*

 

Di sebuah ruang musik 2. Minah berdiri mengamati Chanyeol, sementara yang diamati sedang fokus mengerjakan suatu hal.

“Chanyeol sunbae…”

Minah mengembungkan pipinya. Chanyeol sibuk dengan gitarnya. Lalu apa maksud Chanyeol mengatakan bahwa hari ini ia bisa bertemu dengan Minah?

Dan yang membuat Minah semakin kesal, karena Chanyeol mengacuhkannya!

“Bukankah sudah ku bilang untuk memanggilku oppa?” Chanyeol meletakkan gitarnya. Lalu berjalan santai menuju ke arah Minah. Meskipun dikatakan jalan santai, tapi Minah dapat merasakan intimidasi yang sedang dilakukan oleh Chanyeol.

Crap, Minah lupa ia harus memanggil Chanyeol dengan sebutan oppa.

“Maaf Chanyeol sun—oppa, aku lupa, lagipula aku habis masuk ruang detensi—“

“Dan aku menyelamatkanmu.” Potong Chanyeol.

Minah menghela napasnya, kini jarak tubuhnya dengan Chanyeol hanya tepaut beberapa sentimeter. Benar juga, Minah juga belum beterimakasih pada Chanyeol karena sudah membantunya terbebas dari detensi. Ah, Minah tidak suka berutang budi seperti ini.

“Terimakasih oppa.”

Chanyeol memandangi Minah dengan tatapan seriusnya. Minah mencuri pandang takut-takut.

“Tidak diterima.”

Minah seketika kesal. Bahkan kini Minah rasa asap sudah terlihat di atas kepalanya. Bercanda. Itu hanya imajinasi liar gadis itu, yang terlalu kecanduan drama. Minah hendak mendorong Chanyeol menjauh, tetapi kedua lengannya malah di cengkeram oleh Chanyeol. Kini tubuh Minah tehimpit antara Chanyeol dan tembok.

Gosh

Minah lupa. Chanyeol itu, bi-polar. Apa sekarang hal itu sedang kambuh?

Astaga. Semoga saja tidak seperti itu.

“Lalu, hal seperti apa yang oppa inginkan?”

Chanyeol memberikan senyuman singkat.

“Hal seperti ini..”

Bibir Chanyeol menyentuh dahi Minah. Minah terbelalak. Lidahnya kelu seketika. Seperti ada Godzilla yang memukul otaknya bertubi-tubi hingga tidak bisa berfungsi lagi. Seketika Minah seperti mendengar kembang api yang meletup-letup di kepalanya. Belum lagi detak jantungnya yang seperti genderang.

“Ch-chanyeol oppa?”

Dan Chanyeol hanya memberikan senyuman singkat sambil bertanya, “Jadi, bantuan seperti apa yang kau minta dariku?”

Oppa harus membantuku mendekatkan Baekhyun dengan Hyeyoung.”

Chanyeol tidak tersenyum, karena kini ia tertawa kencang memegangi perutnya. “Apa kau bercanda Minah-ya?”

Minah memasang wajah ditekuk. Buru-buru Chanyeol merubah ekspresinya menjadi normal kembali.

“Oke, tapi tidak gratis.” Ucap Chanyeol, wajahnya menampakan raut serius.

Mwo? Apa maksud oppa?”

Laki-laki Park itu menatap Minah intens. “Jadilah kekasihku.”

“APA?!”

 

*

 

Cheonsa membuka buku pelajarannya. Tidak seru, di hari Jumat seperti ini ia malah harus mengerjakan tugas sekolah. Ini karena Baekhyun oppa belum pulang juga. Padahal Cheonsa ingin mengajak kakaknya itu menonton film yang baru saja ia pinjam dari rentalan. Ditatapnya buku tulis fisikanya dengan pandangan bosan.

Secinta-cintanya ia pada fisika ia tidak akan menghabiskan Jumatnya yang berharga untuk berinteraksi dengan fisika. Tidak karena ia mengerti hal yang bisa ia lakukan di Jumatnya yang berharga.

Diambilnya jaket kainnya hendak keluar rumah menuju rumah keluarga Tuan. Tetapi baru sampai gerbang rumahnya, Cheonsa teringat hal yang terjadi tadi siang di sekolah. Pipinya bersemu merah sekali. Tidak, ia tidak boleh menemui Mark dalam keadaan yang seperti ini. Hey, Cheonsa tidak mau memalukan dirinya sendiri karena ledekan dari Joey yang keterlaluan.

“Demi Tuhan, aku tidak mau berpacaran dengan fisika!”

“Siapa bilang kau akan berpacaran dengan fisika?”

Suara Mark, crap!

Cheonsa menolehkan wajahnya, memberikan senyum singkat, lalu segera berlari menuju rumahnya. Mark memandangi gadis Byun itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh, mengapa Mark bisa menyukai gadis seperti itu? Padahal sudah ada Jessica Koh yang lebih anggun, lebih seksi, dan lebih baik yang siap untuk menerima cinta dari Mark. Mau bagaimana lagi?

Itu karena cinta bukan berasal dari logika otak manusia. Cinta asalnya dari hati, dan hatilah yang telah memilih orang yang dicintai.

Crap, kenapa Mark jadi se-flamboyan ini? Seperti bukan dirinya sendiri saja.

“Angel, tunggu. Ayo main ke rumahku!”

“Kapan-kapan saja, Mark!”

 

 

*

 

Hyeyoung mengamati jam tangannya, lalu pandangannya beralih pada Baekhyun yang sedang memakan ramyeonnya. Ramyeon Hyeyoung sendiri sudah tandas sedari tadi. Bagaimana ini? Hyeyoung ingin segera pulang ke kediamannya, tapi ia harus menyelesaikan hal ini telebih dahulu. Ia tidak mau Minah kerepotan mempersiapkan kado untuk Chanyeol. Karena ujung-ujungnya Hyeyoung juga akan direpotkan oleh Minah. Dan sungguh, Hyeyoung sedang banyak tugas dan tidak mungkin bisa membantu Minah di minggu-minggu berikutnya.

“Baekhyun sunbae?”

“Ya?”

Kemudian hening.

Baekhyun memandangi Hyeyoung, menanti kelanjutan kalimat gadis itu. Tetapi yang dipandangi malah mengalihkan pandangan ke luar kantin. Padahal tidak ada yang menarik. Dalam pikiran Hyeyoung ia harus memandangi hal lain. Asalkan bukan menatap Baekhyun. Karena kini Hyeyoung rasa perutnya sudah dipenuhi jutaan kupu-kupu.

“Sebenarnya…”

“Sebenarnya…”

Keduanya berpandangan, mengapa mereka bisa berbicara hal yang sama bersamaan? Ugh, kini Hyeyoung seperti melihat adegan seperti di drama-drama yang sering dilihat oleh Minah. Pipi Hyeyoung seketika bersemu merah. Tunggu, hal gila macam apa sebenarnya yang ada di otak Hyeyoung? Ia kan harus segera mengetahui hal-hal yang disukai oleh Chanyeol.

“Kau dulu.” Baekhyun mempersilahkan.

Gadis Choi itu mengangguk. “Sunbae kan bersaudara dengan Chanyeol sunbae, apa sunbae tahu barang-barang kesukaan Chanyeol sunbae?”

Laki-laki Byun itu mengerutkan dahinya. “Kau menyukai Chanyeol ya?”

“Tidak , tidak seperti itu, sungguh!” elak Hyeyoung.

Baekhyun memangguk-angguk. Lagipula ia juga mengharapkan jawaban seperti itu yang terucap dari bibir Hyeyoung. Ia tidak mau kalau sampai bersaing dengan sepupunya sendiri.

“Kalau boleh tahu, kenapa kau menanyakan hal seperti ini?”

Hyeyoung jadi bingung sendiri, apa tidak apa mengatakan kalau ia membantu Minah? Ah, bagaimana ini? Kalau tidak segera menjawab, Baekhyun pasti akan menganggapnya menyukai Chanyeol. Ia tidak mau seperti itu. Selain karena ia tidak mau menyukai orang yang bi-polar. Ia juga tidak mau Baekhyun menjauhinya.

Ehhh,, tunggu , apa yang baru saja kau bicarakan Hyeyoung?! 

“Itu…sebenarnya Minah menyukai Chanyeol sunbae dan hendak memberikan hadiah untuk Chanyeol sunbae.”

“Minah atau Kau?” tanya Baekhyun, dingin.

“Tentu saja Minah, sunbae.” Jawab Hyeyoung, tegas.

Baekhyun mengangguk-angguk.

“Lalu hal yang disukai oleh Chanyeol sunbae itu apa, Baekhyun sunbae?”

Baekhyun menunjuk dada Hyeyoung. Seketika Hyeyoung terbelalak. “Apa Chanyeol sunbae suka film porno?”

Pemuda Byun itu segera menyentil dahi Hyeyoung. Yang Baekhyun maksud itu adalah ketulusan hati. Itulah yang disukai oleh Chanyeol. Tetapi gadis ceroboh yang tenyata mesum ini malah menyalah artikan hal yang dimaksud oleh Baekhyun. Namun, itu salah Baekhyun juga karena memberikan clue yang tidak jelas.

“Bukan seperti itu, babo. Maksudku, Chanyeol itu suka dengan ketulusan hati.”

Hyeyoung mengangguk-angguk mengerti. Ia lalu meringis karena sempat berpikir hal yang tidak-tidak. Ya ampun, Hyeyoung rasa ia harus benar-benar pergi ke dokte setelah ini. Menyervis otaknya agar kembali suci lagi.

“Selain itu, sejenis barang-barang yang Chanyeol sunbae suka?”

“Ia suka dengan hal-hal aneh, seperti barang-barang antik.”

Gadis Choi itu kembali mengangguk mengerti. Lalu tersenyum manis ke arah Baekhyun.

“Terimakasih banyak, Baekhyun sunbae.”

 

*

 Jongin memandangi pintu ruang olahraga yang terbuka lebar, juga sebuah tali yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Matanya menyusuri setiap inci ruangan tersebut. Tetapi tidak ada satu orangpun disana. Jongin menghembuskan napasnya, ketara sekali ia sangat khawatir.

Lalu tidak lama setelah itu ponselnya bergetar. Panggilan dari ketua klub dance.

Laki-laki berkulit tan itu tidak berniat untuk mengangkat telepon tersebut.

Padahal hari ini adalah hari yang penting bagi Jongin karena laki-laki itu akan diberangkatkan ke Tokyo untuk mengikuti lomba dance mewakili sekolahnya. Tetapi, mana mungkin Jongin tega berangkat ke Tokyo disaat situasi seperti ini?

Jongin lebih memilih tidak mengikuti perlombaan daripada ia mengikuti perlombaan tetapi pikirannya teus diliputi oleh rasa khawatir akan keadaan Hyeyoung yang keberadaannya entah berantah saat ini. Panggilan itu berulang hingga tiga kali, lalu mati.

Cinta itu buta. Kau akan melakukan hal apapun demi sebuah kata penuh makna, cinta. Meskipun hal itu berarti akan menghambatmu meraih  mimpimu sendiri. 

Diraihnya ponsel tersebut, berusaha menghubungi Hyeyoung.

Satu detik, dua detik, enam…

 

Maaf telepon yang anda hubungi berada di luar jangkauan

 

Sambil menghembuskan napas kuat-kuat laki-laki bemarga Kim itu berlari meninggalkan depan ruang olahraga, menuju tempat lainnya, yang sekiranya sering Hyeyoung datangi.

 

“Aku tidak akan menyerah, aku pasti bisa menemukanmu, Hyeyoung.”

 

*

 

Minho membenarkan letak kacamata bacanya, kini ia tengah berada di klinik. Akhir-akhir ini banyak orang yang sakit hingga klinik tidak pernah sepi dari pasien. Yeah, perubahan musim yang cukup ekstrim juga mempengaruhi hal tersebut.

Seorang pasein urutan 27 memasuki ruang tersebut. Minho hendak menyapa dengan sopan, seperti biasanya. Tetapi, bibirnya tidak bisa digerakan. Lidahnya kelu sekedar menyapa orang tersebut.

Ia, orang itu. Masa lalunya, datang bersama seorang bayi di gendongannya. Ya, orang itu memang telah menikah, beberapa tahun yang lalu. Padahal orang itu sudah bejanji untuk menunggu Minho menyelesaikan study-nya lalu mereka akan menikah. Tetapi, apa daya. Hal tersebut hanyalah rencana kosong. Nyatanya gadis ini mengingkari janjinya dan malah menikah dengan laki-laki lain. Tanpa memberi tahu Minho.

“Minho-ya.”

“Maaf, silahkan menuju ruang sebelah.” Jawab Minho, tegas.

Minho bahkan mengalihkan pandangannya. Gadis itu—tidak kini ia harus memanggilnya wanita itu memandangi Minho dengan raut penyesalan yang telihat jelas. Tetapi wanita itu tidak memberikan komentar apapun, orang itu mengikuti perintah Minho untuk menuju ruang sebelah. Pemuda Choi itu menarik nafas panjang. Tatapannya tertuju pada langit-langit ruangannya.

Kenangan-kenangan yang pernah mereka buat seketika berputar di kepalanya, seperti kaset usang yang diputar teus menerus Minho hanya mengingat bagian dimana ia berjanji dengan gadis itu akan selalu setia hingga ajal menjemput.

Tapi takdir telah menjawabnya, ia tidak mungkin bersama dengan gadis itu lagi. Tidak akan pernah.

“Minho-ssi…”

Suara seorang gadis, Minho mengarahkan pandangannya ke asal suara tersebut. Menemukan Yuri yang memberikan senyuman manis sekali. Ya, Minho harus mengingat keputusannya yang lalu untuk kembali membuka hatinya.

Ia tidak boleh tepuruk terus menerus. Ia harus segera mengembalikan dirinya yang dahulu ceria. Dan membahagiakan orangtuanya dan juga Hyeyoung.

“Yuri-ah, sudah ku bilang panggil aku dengan ‘Minho-ya’ kita tidak sejauh itu untuk saling memanggil dengan tambahaan ‘-ssi’.”

Yuri tersenyum lagi, kali ini lebih manis. “Oke, Minho-ya, omong-omong ayo kita pergi makan.”

“Baiklah.”

Cinta itu seperti dua sisi mata koin, kadang bisa membuatmu mabuk kepayang, di lain sisi membuatmu merasakan kesedihan tiada akhir. Dan obat yang paling mujarab untuk orang-orang yang patah hati, adalah berani membuka hatinya untuk mencintai orang lain.

 

*

 

Baekhyun memandangi Hyeyoung dengan pandangan khawatir. Karena tiba-tiba Hyeyoung memegangi perutnya kencang, wajahnya menampakan raut penuh kesakitan. Apa ada yang salah dengan gadis tersebut? Apa gadis itu…

Tidak mau berpikir terlalu lama, Baekhyun segera membopong tubuh Hyeyoung. Berlari keluar dari kantin menuju parkiran mobil. Untuk masalah barang-barang Hyeyoung , ia bisa meminta Suzy atau Yura—anggota OSIS—untuk mengantarkannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Hyeyoung.

“Bertahanlah, Choi Hyeyoung…”

Hyeyoung menyenderkan kepalanya ke lekukan bahu Baekhyun. Perutnya sangat sakit. Padahal ini belum waktu bulananya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Mata Hyeyoung tertutup, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi saja. Di cengkramnya erat-erat jaket yang dikenakan oleh Baekhyun. Tuhan, apa penyakit mag-nya kambuh lagi? Tapi kenapa rasanya sakit sekali?

Baekhyun membuka mobilnya, meletakkan Hyeyoung di kursi sebelah pengemudi, memasangkan seat-belt, lalu ia sendiri berjalan menuju sisi lain mobil, masuk ke bagian pengemudi dan memasang seat-beltnya sendiri. Kepalanya pusing  bukan main, ia harus segera pulang ke rumah. Tetapi, tidak akan mungkin apabila meninggalkan Hyeyoung yang kesakitan begitu saja.

Di ambilnya ponsel miliknya, mengetikkan pesan singkat untuk Cheonsa. Mengatakan bahwa ia akan pulang telat.

Lalu mobil itu berjalan cepat membelah keramaian kota Seoul. Menuju klinik tedekat.

 

*

 

“Hyeyoung-ah.”

Minho memandangi tubuh adiknya yang kini terlentang di kasur pasien. Malam ini Hyeyoung harus menginap di klinik karena hasil pemeriksaannya baru akan keluar besok. Sementara itu, Hyeyoung juga sangat membutuhkan pengobatan. Hyeyoung memandangi kakaknya, memberikan senyuman singkat.

“Ini pasti karena kau memakan ramyeon terlalu banyak. Lalu tanganmu kenapa membiru seperti itu huh? Sudah berniat menjadi preman?” Omel Minho.

Ya, Hyeyoung punya riwayat sakit mag yang sudah parah. Oleh karena itu gadis bermarga Choi itu tidak boleh memakan ramyeon lebih dari satu buah selama sebulan. Tapi selama seminggu ini Hyeyoung bahkan sudah memakan 2 buah ramyeon.

“Maaf, oppa.” Lirih Hyeyoung.

Minho memberikan tatapan kesal. Lalu pandangannya dialihkan ke arah Baekhyun yang duduk tenang di kursi kamar pasien. Pandangan dua orang itu bertemu, lalu Minho memberikan senyuman lebar ke arah Baekhyun. Yang dibalas dengan senyuman singkat laki-laki Byun itu.

“Untung saja ada Baekhyun yang sudi mengantarkan kau ke sini. Kalau tidak, pasti kau sudah kesakitan di asrama dan tidak bisa pulang ke rumah. Eomma mengkhawatirkanmu tauk.”

Kalau sudah mengomel seperti ini Minho memang suka tidak ingat waktu. Jadi, Hyeyoung memilih untuk berdiam diri saja dan mendengarkan omelan tersebut. Memang ia salah karena memakan ramyeon sebanyak itu selama seminggu. Tapi mau bagaimana lagi? Keuangannya menipis dan yang bisa ia makan selama 2 hari ini hanyalah ramyeon.

“Kau pasti belum mengucapkan terimakasih pada Baekhyun kan?” tanya Minho, sakarstik.

Hyeyoung memberikan senyuman kecil, tanda kata-kata Minho memanglah benar.

“Baekhyun sunbae, terimakasih banyak atas bantuan sunbae.” Lirih Hyeyoung.

Baekhyun memandangi Hyeyoung, lalu mengangguk. Pada saat itulah pintu ruang pasien terbuka lebar. Nampak Minah dan Chanyeol yang datang memasuki ruangan dengan keadaan masih menggunakan seragam sekolah. Hyeyoung memberikan senyuman kecil, mereka sangat serasi.

“Ya Tuhan Hyeyoung, kenapa kau bisa sampai masuk klinik? Ya Tuhan, ini pasti karena kau memakan ramyeon banyak-banyak! Sudah ku bilang untuk ti—“

BRAK

Pintu ruang pasein terbuka lagi, kali ini Jongin yang memasuki ruangan, diikuti Kyungsoo. Mungkin keduanya datang bersamaan? Siapa tahu.

Minah sudah bersiap untuk menyemprot keduanya dengan amukannya, tetapi pintu kembali terbuka. Kali ini Cheonsa yang datang. Seluruh perhatian tertuju padanya, tak tekecuali Baekhyun. Bagaimana Cheonsa bisa tahu kalau Baekhyun ada di klinik?

Baekhyun memandangi Chanyeol tajam, yang dibalas dengan tatapan tidak besalah oleh Chanyeol.

“Baekhyun oppa jangan tanya mengapa! Semuanya kenalkan namaku Byun Cheonsa, adik dari Byun Baekhyun. Senang mengenal kalian. Untuk Hyeyoung eonni, semoga eonni cepat sembuh.” Ucap Cheonsa, lalu di sebelahnya ada Mark yang… menggenggam erat pergelangan tangan adik Baekhyun itu.

Baekhyun juga tak henti-hentinya menatap genggaman tangan Mark pada adiknya. Sepertinya Baekhyun ketinggalan satu kisah penting soal hal ini. Dan Cheonsa harus menjelaskan semuanya dengan segera.

“Oh, dan ini Mark Tuan. Dia—“

“Kekasih Cheonsa.” Potong Mark.

Sontak semua yang ada di ruang itu, minus Baekhyun bersorak sorai. Bertepuk tangan. Bahkan Chanyeol bersiul dengan kerasnya. Minho yang ada di pojok ruangan bahkan bertepuk tangan. Sepertinya mereka semua lupa jika ini adalah klinik.

Hyeyoung sadar terlebih dahulu dan menghentikan aksinya. Diikuti oleh yang lainnya. Tetapi mereka semua kembali tertawa bersama-sama setelahnya.

 

*

 

“Jadi, Minah dan Chanyeol juga berpacaran? Heol.. Minah kau tidak memberi tahuku!” omel Hyeyoung, gadis Choi itu memberikan tatapan tajam pada Minah.

Minah ingin mengelak tetapi tidak ada satupun yang memberikannya kesempatan. Jadi, dia memilih untuk terdiam. Pipinya yang bersemulah yang menjadi bukti bahwa hal itu memanglah benar.

“Hua, Minah eonni , pipinya memerah.” Timpal Cheonsa.

Sontak semuanya kembali bersorak.

Minho sudah kembali ke ruangannya, jadi kini yang ada di sana hanyalah anak-anak remaja yang masih sangat labil dalam segala hal.

“Omong-omong, kapan kalian memberikan kami pajak jadian?” tanya Jongin, jahil.

Semua orang minus dua pasang kekasih itu menyetujui hal itu, bahkan seorang Byun Baekhyun.

“Itu… bagaimana ya…” gumam Cheonsa.

“Setelah Hyeyoung sembuh dari magnya, aku akan menraktir kalian semua, rakyat jelata.” Itu suara Chanyeol, yang dibalas dengan lemparan kue oleh Hyeyoung dan suara ‘huuu’ oleh semua orang yang ada di sana.

Semuanya tertawa. Sejenak melupakan hal yang membuat mereka sakit selama beberapa hari ini.

Tetapi di dalam lubuk hati Hyeyoung yang paling dalam, Hyeyoung sebenarnya sedang memikirkan nasib hubungannya dengan Baekhyun yang seolah-olah berjalan di tempat. Tidak ada kemajuan. Pada saat itulah pandangan Baekhyun dan Hyeyoung bertemu. Mereka berdua terdiam.

Dan waktu seolah berhenti saat itu juga.

Di tengah-tengah orang-orang yang tegah tertawa bersama. Mereka berdua berbicara lewat tatapan mata masing-masing.

Sama-sama memendam perasaan yang sama, tetapi tidak bisa mengucapkannya.

Lalu, bagaimanakah kelanjutan kisah mereka?

These days, it feels like you’re mine, it seems like you’re mine but not
It feels like I’m yours, it seems like I’m yours but not
What are we? I’m confused, don’t be aloof

English translate—Soyu ft Junggigo ~ Some

To be Continue


Author Note : 

What you got?

I got Mark !!!!! /oposeh/

YEAAYYYY!!! Untuk pertama kalinya nge-post sesuai janji!!! YEHETTTTTT!!!! /cium readers via bias masing-masing/

Gamau banyak omong, maaf kalo banyak typo sama kesalah diksi disana-sini. Maaf kalo banyak kekurangan di part yang ini. Karena aku belum sempat ngedit. Maaf ya kalo nggak sesuai ekspektasi kalian.

Terakhir, jangan lupa ya baca fanfictionku yang lainnya.

Love You All~!!!!

 

 

Advertisements

175 responses to “MISS ANNOYING [CHAPTER 7]

  1. Woah, couple bertebaran di klinik Dr. Minho xD

    Mark-Cheonsa (pasangan1)

    Chanyeol-Minah (pasangan2)

    Jongin-Kyungsoo/? (pasangan3??) *nauzubillah -_-

    Baekhyun-Hyeyoung nya kapan? kode-kode mulu.. greget greget >_<

  2. Yo yo jongin kyungsoo mulai terabaikan
    Ahemm cheon-mark , min-yeol udah resmi waiting baek-young jangan lama” jadiannnya sesungguhnya nunggu itu gak enak *lah kok curhat* hehe mian

  3. Wuahhh daebak, dri chap 1 smpe skrg bener” bagus! Jjang!! Walaupun ad dikit yg ak krang ngerti dislah satu chap, tp over all , keren,bagus dan tep berkarya thor 😀

  4. Makin jatuh cinta sama ff yang satu ini…. serius deh, bahasanya itu mudah dicerna banget, dan enak buat bacanya

    Ngomong ngomong, kapan tuh baek sama hyeyoung jadian. Kalah tuh sama adeknya baek…. wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s