Unpredictable Marriage {Chapter 8B-END}

Unpredictable-Marriage-Marsha'sart

| Title  Unpredictable Marriage |

| Main Cast  Oh Sehoon – Park Minyoung |

| Genre  Marriage Life, a little bit comedy, University Life |

| Rating  PG-17 [!!] |

| Lenght  Chaptered (3300> words) |

Sorry for typos, guys!

Poster by myself

Marshashinee Present

Unpredictable Marriage

[ Chapter 8b ]

Links to preview :

[Teaser and Talk] | [ Chapter 1 ] | [ Chapter 2 ] | [ Chapter 3 ] | [ Chapter 4 ] | [ Chapter 5 ] (Protected)[ Chapter 6 ] (Protected) | [ Chapter 7 ] | [ Chapter 8a ]

Note : Mungkin chapter ini khusus Minyoung-Sehun. hoho~ happy reading! Sebelum baca, liat rating ! mungkinada beberapa scene yang membuat kalian gak nyaman.

.

.

Minyoung semakin mempertegas langkah kakinya. Oh sungguh! Ia telat kali ini dan Chorong tidak membangunkannya! Sial! Ia hanya tidur selama 4 jam karena gelisah—memikirkan sesuatu.

Sama gelisahnya seperti sekarang. Belum lagi ia membayangkan betapa menyebalkannya Dosen Jung nanti. Ugh, ia pasti akan di ceramahi lagi oleh Dosen killer itu.

Raut wajah khawatir, cemas, takut, tak luput dari wajahnya saat ia sudah sampai di depan kelasnya. Minyoung menarik nafas panjang lalu menghembuskannya—paling tidak itu membuatnya sedikit tenang.

Tok..Tok..

Minyoung membuka pintu kelas perlahan lalu sedikit menyembulkan kepalanya di celah pintu. Matanya sedikit melebar kala melihat Dosen Jung yang saat ini sedang menatapnya—dengan sedikit tajam.

Minyoung mengambil langkah untuk mendekati Dosen itu lalu membungkuk maaf.

“Maaf—“

“Kau terlambat, Oh Minyoung.”potong Dosen Jung cepat. Dan lagi! Dia memanggil Minyoung dengan marga ‘Oh’. Tidak tahukah Dosen Jung bahwa saat ini Minyoung dan Sehun sedang merajuk satu-sama-lain ?

“Ah ya..”sahut Minyoung sedikit meringis. Ia kembali membungkuk kepada Dosen Jung sebelum melanjutkan. “Sekali lagi maaf..”Ia pun berjalan ke arah sebaliknya.

“Ah, Minyoung-ssi.”panggil Dosen Jung. Minyoung berbalik dengan tatapan bertanya.

“Ada apa, Songsaenim?

“Ah.. Apa kau masih mempunyai ringkasan yang waktu itu pernah ku tugas kan kepadamu?”tanya Dosen Jung. Minyoung menatap Dosen Jung dengan mulut sedikit terbuka—mencoba mengingat.

“Ah…”ucap Minyoung singkat. ”Kurasa aku masih mempunyainya..”lanjut Minyoung kemudian.

“Bisakah besok kau berikan kepadaku? Kalau tidak bisa besok, lusa bisa? Aku harus mengulas materi itu pada saat presentasiku untuk pertemuan Dosen minggu depan.”ujar Dosen Jung sedikit memohon.

“Tentu saja, Jung Songsaenim.”ucap Minyoung menyanggupi—dengan senyuman simpul. Ia kembali berjalan menghampiri kursi kesayangannya yang sudah menemaninya selama beberapa bulan ini.

Minyoung menengok ke samping untuk melihat gadis menyebalkan—menurutnya. Gadis yang tidak membangunkan Minyoung dan menjadi salah satu penyebab ia telat.

“Mengapa kau tidak membangunkanku, bodoh?”tanya Minyoung sedikit sarkatis pada gadis di sebelahnya.

“Maaf. Kukira gadis yang tengah mengandung saat ini membutuhkan waktu tidur yang cukup. Jadi aku tidak mau membangunkanmu.”jawab gadis itu pelan—Chorong. Alasan yang tidak logis, menurut Minyoung.

“Dan karena alasan tidak logismu itu, aku telat bodoh!”desis Minyoung. Ia tengah mengucapkan sumpah serapahnya pada Chorong di hatinya kini.

“Maaf. Dan yang penting Dosen Jung tidak mengoceh padamu ‘kan? Justru ia meminta tolong padamu.”balas Chorong kemudian.

“Yah,Terserah.”ujarnya singkat.

.

.

.

Minyoung menaruh nampan yang berisi makan siangnya di atas meja kantin—dengan sedikit membanting. Menu yang di pesannya berbeda dengan sebelumnya. Jika kemarin-kemarin ia membeli sandwich, maka saat ini ia membeli salad buah. Entah apa yang di pikirannya saat ini. Ia sangat menginginkan salad buah dari kemarin malam. Pengaruh anak, mungkin?

“Mengapa kau memesan salad buah? Biasanya kan sandwich.”sahut Chorong bingung dengan sahabat karibnya ini.

Minyoung yang sedang asik memakan salad buah itu lalu menancapkan garpunya di potongan melon dengan kesal lalu menunjuk-nunjuk Chorong dengan tancapan buah itu.“Ada apa? Kau tidak suka? Yang jelas aku sedang menginginkan salad buah ini.”balas Minyoung sedikit ketus dengan mulutnya yang penuh buah.

Chorong memutar bola matanya malas. “Terserah.”lalu ia menyendokkan bibimbap kesukaannya ke dalam mulutnya.

 

—–

 

Minyoung melangkahkan kakinya di koridor yang sepi. Oh, pantas saja. Ia menghabiskan waktu 2 jam seusai pulang dengan bergelut di perpustakaan bersama buku-buku tua yang sudah usang. Oh, demi neptunus. Ia tidak suka dengan buku-buku tua itu. Apalagi dengan debu-debu yang membuat hidungnya gatal. Tapi, bagaimana lagi? Itu tugas dari si Model Gagal—Dosen Gong. Kalian mengingatnya, bukan?

Langkahnya terhenti kala melihat tubuh menjulang tinggi sedang berjalan dengan tatapan kosong seakan ia tak bernyawa. Melihat itu, hatinya seperti teriris pisau tajam. Ia tak tega melihat keadaan suami-nya yang seperti mayat hidup.

Sehun, lelaki itu berhenti saat ia merasakan ada orang yang berada beberapa langkah dari-nya. Tubunya terpaku. Tatapan yang kosong kini membulat kala melihat orang yang selama ini ia pikirkan berada di beberapa langkah darinya.

“Minyoung…”gumam Sehun dengan suara parau. Matanya menangkap mata hazel milik istrinya yang kini tengah menatapnya seakan-akan ia iba dengan kondisi Sehun.

Tetapi hancur sudah hatinya kala melihat Minyoung yang berlari menjauhinya. Ingin sekali ia mengejar istrinya. Tetapi kakinya terasa lemas hanya untuk sekedar berjalan. Mungkin, tak sanggup lagi untuk menopang bobot tubuhnya.

Hatinya terlalu sakit dengan melihat Minyoung yang berkali-kali menjauhinya. Dan ia juga kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu melakukan apapun selain diam mematung tak mengejar istrinya. Ia marah pada dirinya sendiri.

 

—-

 

Minyoung mengobrak-abrik isi tasnya. Hingga kamar tamu-nya itu berantakan oleh barang-barangnya. Minyoung mengacak rambutnya frustasi kala tidak menemukan barang yang di cari-carinya.

 

Flashdisk..

 

Benda itu yang menyimpan semua data-data Minyoung. Dari ia semenjak SMA sampai saat ini. Semua data-data yang ia punya telah ia simpan di benda itu. Bahkan sampai hasil scan akta-akta-nya terdapat di dalamnya.

“Oh tidak! Argh!”erangnya frustasi. “Dimana benda itu?!?!”

Minyoung kembali mengobrak-abrik isi tanya. Sesekali ia mengerang frustasi di buatnya. Ia kesal lantaran benda kecil itu tidak di temukan. Padahal, benda itu sangatlah penting. Mengingat Dosen Jung membutuhkannya.

Tetapi tubuhnya membeku seketika saat ia mengingat sesuatu. Minyoung mencoba mengingat dimana benda itu ia simpan sebelumnya. Tetapi.. matanya membulat setelah mengingat benda itu berada. Dan itu di..

 

Apartement-nya.

 

Tepatnya di laci kamarnya. Berarti, ia harus bertemu dengan Sehun. Oh tidak! Apa yang harus ia lakukan? Bukankah ia tidak ingin bertemu dengan Sehun dulu—Well, tidak untuk saat ini.

.

.

.

CKLEK

 

Minyoung menekan saklar lampu di apartement-nya. Saat lampu menyala, ia terbengong melihat keadaan apartement-nya sekarang. Tidak terbesit di otaknya untuk mengetahui hal ini. Mengenai seberapa parahnya kondisi Apartement-nya. “Astaga Oh Sehun. Apa yang kau lakukan dengan tempat ini?”

 

Mirip seperti kapal pecah, pikir Minyoung.

 

Minyoung kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartement-nya itu. Ia beranjak ke dalam kamarnya—dengan Sehun—lalu melangkahkan kakinya ke laci kamarnya. Sedikit lega kala tidak mendapati Sehun berada di dalam apartement. Itu tandanya ia aman untuk sementara waktu—paling tidak.

Minyoung mengobrak-abrik isi laci itu untuk mencari Flashdisk-nya. Setelah ketemu, ia mengambil flashdisk itu lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.

“Minyoung?”panggil sebuah suara yang sangat familiar untuk di dengar gadis itu. Kontan Minyoung membalikkan badannya dan terkejut setelah mendapati Sehun yang sedang berdiri menatapnya. Matanya menurun kebawah dan merasa bersalah dengan apa yang dibawa Sehun.

Sehun menggenggam kantong plastik bening yang sudah diketahui Minyoung isinya. Beberapa cup Ramyun terpampang jelas di balik plastik transparan itu. Minyoung tersenyum miris mendapatinya. Melihat keadaan lelaki itu yang tampang kusut.

“Ya..?”jawab Minyoung akhirnya. Dengan suara yang pelan tentunya. Dan sedikit nada yang bergetar. Ia menunduk tak berani menatap Sehun yang kini berjalan pelan menghampirinya.

Tubuh Minyoung membeku kala kedua tangan milik Sehun merengkuh wajahnya. Kedua tangan Sehun mengadahkan kepala Minyoung untuk sekedar menatap matanya. Sedikit rasa tenang saat ia bisa melihat dengan jelas iris Minyoung saat ini. Walaupun jika itu hanya sebentar, paling tidak ia sedikit lega dengan hanya mata yang saling bertemu pandang.

“Young…?”panggil Sehun lirih. “Kumohon, jangan tinggalkan aku.”lanjutnya dengan nada yang bergetar. “Aku tidak ingin kehilanganmu.. Aku minta maaf.. Aku—“

“Sssshhh..”potong Minyoung cepat lalu menaruh telunjuknya tepat di bibir Sehun. “Ini tidak sepenuhnya salahmu, Hun. Aku juga salah. Seharusnya aku tidak langsung meninggalkanmu. Aku—hmmpft.”ucapannya terpotong karena bibir Sehun lebih dulu membungkam bibirnya.

Hanya sebuah kecupan lama dari Sehun yang bisa membuat Minyoung bungkam—tanpa ada lumatan atau apapun.

Selama 20 detik Sehun menempelkan bibirnya tepat di bibir Minyoung dan setelah itu melepasnya. Matanya menatap Minyoung dengan tatapan lembut. “Aku mencintaimu, Minyoung. Sangat.”ucap Sehun setelahnya.

Minyoung mengerjab saat mendengar kata ‘cinta’ yang di lontarkan Sehun. Wajar, Sehun belum pernah mengungkapkan kata ‘cinta’ sebelumnya di depan Minyoung sendiri. Perlahan senyuman tulus terlukis di wajahnya. “Aku.. juga mencintaimu, Sehun.”

Lama mereka bertemu pandang, saling menatap dengan percikan kerinduan yang tersirat dari mata mereka masing-masing sebelum akhirnya Sehun kembali mencium bibir Minyoung.

Ciuman itu kali ini bukan hanya sebuah kecupan. Melainkan ciuman yang lebih intens dari yang sebelumnya. Ciuman yang menyalurkan kerinduan dari masing-masing pihak serta ciuman yang memberi kesan betapa mereka mencintai satu sama lain—bukan nafsu semata.

Ciuman intens itu perlahan berubah menjadi ciuman yang panas penuh gairah. Dengan sigap Sehun mengangkat tubuh Minyoung tanpa melepas pagutan bibir mereka. Dan menyadari hal itu, Minyoung melingkarkan kakinya di pinggang Sehun dengan tangan Sehun yang menahan kakinya agar tidak jatuh lalu dilingkarkannya pula kedua tangannya di leher jenjang lelaki itu.

Lalu di bawanya Minyoung ke ranjang dan menindihnya. Tanpa melepas ciumannya, tangan Sehun beralih ke kemeja yang Minyoung kenakan dan di lepasnya kancing kemeja itu satu-persatu lalu di lemparnya asal kemeja itu.

Tangan Sehun menuntun tangan Minyoung untuk melepas kaos yang membalut tubuhnya sehingga terlepaslah kaos itu dan dilemparnya asal—seperti halnya dengan kemeja Minyoung. Kini tangan Sehun beralih ke celana jeans Minyoung lalu melucutinya perlahan—tanpa melepas pagutan bibir mereka.

Puas dengan bibir, Sehun beralih menciumi leher Minyoung hingga membuat gadis itu sedikit menggelinjang dengan desahannya yang membuat nafsu Sehun bangkit. Sehun membuat tanda merah keunguan di leher Minyoung yang bertanda bahwa Minyoung itu adalah ‘miliknya’.

“Kau sepenuhnya milikku, Oh Minyoung.”ucapnya di sela kegiatan panasnya itu. Selanjutnya, ia kembali ke aktivitas sebelumnya yakni menciumi Minyoung—dari bibir, leher, hingga ke bagian terlarangnya.

Oh, Selanjutnya kalian bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi, kan?

 

-—-

 

Mentari bergantung di timur perlahan merangkak ke atas langit. Menghamburkan cahaya kehangatan bercampur sejuknya embun di pagi hari. Membuat siapa saja tenang.

Sinar matahari menyelinap masuk di celah-celah gorden kamar bercat putih-krem itu. Terlihat 2 insan masih meringkuk tidur di bawah selimut tebal tanpa sehelai benang pun membalut tubuh keduanya.

Hingga sang lelaki bangun lebih dulu karena sinar matahari menusut kelopak matanya. Sehingga mau tak mau lelaki itu bangun dengan setengah nyawa-nya.

Lelaki itu, Sehun tersenyum kala mendapati seorang gadis yang sangat ia cintai sedang tertidur pulas dan damai di sampingnya. Gadis yang selalu memenuhi pikiran serta hatinya akhir-akhir ini. Gadis yang membuatnya sebegitu frustasi di saat gadis itu pergi meninggalkannya.

Sehun memutuskan untuk membangunkan gadisnya itu dengan sebuah kecupan selamat pagi darinya. Sehun tak mau melepaskan ciumannya sampai gadis ini terbangun dari tidurnya. Hingga ia merasakan bibir yang bergerak-gerak di atas bibirnya.

Sehun melepas ciuman itu lalu menatap istrinya yang sedang melihatnya saat ini dengan tatapan muram. “Selamat pagi, Nyonya Oh.”sambut Sehun dengan senyum mengembang begitu melihat istrinya.

“Ya, selamat pagi, Tuan Oh.”balas istrinya itu—Minyoung. Minyoung hendak ingin duduk tetapi tangan Sehun menahan kepalanya dan memaksa untuk membenamkan kepala Minyoung di dada bidangnya.

“Sehun, aku ingin mandi.”rengut Minyoung yang masih berada di dalam dekapan Sehun.

“Nanti saja. Aku masih ingin bersamamu, Young.”cegah Sehun. “Kau tidak tahu rasanya tidur sendirian dengan hati yang sangat kacau. Belum lagi tak ada yang mengurusku selama 2 minggu ini.”lanjutnya dengan nada merengut.

“Maaf..”ucap Minyoung pelan. “Omong-omong, apa selama 2 minggu ini kau hanya memakan Ramyun?”tanya Minyoung kemudian.

“Begitulah.”jawab Sehun sekenanya.

Minyoung terlonjak lalu duduk menatap Sehun tajam—tak lupa dengan tangan kirinya yang memegangi selimutnya agar menutupi dadanya. “Dasar bodoh. Kalau kau sakit, bagaimana? Dan mengapa kau tidak memesan makanan dari restoran saja?”cerca Minyoung.

“Tsk.”decak Sehun sebal. “Kubilang tidak ada yang mengurusku, Young. Aku malas memakan masakan restoran. Karena aku hanya menyukai masakan buatanmu.”balas Sehun kemudian. Ia kembali menarik kepala Minyoung dan membenamkannya kembali di dada bidang miliknya.

“Selain masakan ibuku, tentunya.”tambah Sehun. Ia mencium puncak kepala istrinya itu dan menghirup aroma bunga lili yang menguar ke indra penciumannya. Wangi yang selama ini ia rindukan.

Mendengar tak ada sahutan dari istinya, Sehun kembali bertanya. “Young, apa yang membuatmu kemari?”

“Dosen Jung..”jawab Minyoung singkat. Sehun mengernyit ketika nama Dosenmenyebalkan itu di ucapkan Minyoung. Sehun ingin bertanya, namun Minyoung lebih dulu menginterupsi. “Dia yang membuatku mau tak mau kesini. Aku lupa membawa flashdisk ku. Dan dia meminta ringkasan materi yang ia tugaskan kepadaku. Malangnya, flashdisk itu ada disini.”lanjut Minyoung.

“Hmm.. kurasa aku harus mengucapkan terima kasih pada orang itu.”ujar Sehun tiba-tiba. Alhasil itu membuat Minyoung mendongak.

“Hah?”sahutnya spontan. “Berterima kasih? Untuk apa?”

“Kalau dia tidak menyuruhmu untuk memberikan ringkasan materi itu, tidak mungkin kau kesini. Dan tidak mungkin juga kita berada di dalam posisi ini. Haaah.. Aku sangat berterima kasih kepadanya. Kukira dia menyebalkan. Ternyata dia sedikit berguna.”

Mendengar itu Minyoung hanya terkekeh geli. Memang benar apa yang dikata Sehun barusan. Dosen Jung tidak terlalu begitu menyebalkan. Buktinya, jika Dosen Jung tidak memintanya untuk memberikan ringkasan materi itu, tidak mungkin ia dan Sehun berbaikan dan melakukan—ehem. Baiklah, itu tak seharusnya di ucapkan.

“Young..”panggil Sehun. Minyoung hanya menjawab Sehun dengan sebuah deheman tanpa menoleh ka arahnya. “Kau ada kelas pagi ini?”tanya Sehun kemudian.

Meskipun tidak menjawab, Sehun bisa merasakan di bagian dadanya bahwa kepala gadis itu menggeleng dan artinya mengatakan ‘tidak’.

Sehun tersenyum jahil kala mendapat jawaban itu. “Ah, kita sama. Kalau begitu…”ucapnya tertahan. “Kita masih mempunyai waktu.”lanjutnya.

Minyoung membulatkan matanya kala Sehun yang tiba-tiba menindih tubuhnya dengan smirk yang ia tampilkan di wajah tampannya itu. “A-Apa yang.. kau lakukan?”tanya Mnyoung bergetar.

“Tentu saja kau tahu..”balas Sehun dengan smirk yang masih terpampang jelas di wajahnya. Belum sempat Minyoung menjawab, bibir Sehun kini sudah meraup bibir Minyoung.

Baiklah, tak perlu di jelaskan. Kalian pasti tahu apa ang akan terjadi selanjutnya.

 

—-

 

Hari demi hari terus berganti. 11 April 2014.

Hari ini, dimana tepatnya sehari sebelum Sehun berulang tahun. Dan sampai saat ini juga, Sehun belum mengetahui kehamilan Minyoung. Bukannya ia tidak mau tau, tetapi Minyoung belum ingin memberitahu.

Minyoung ber-inisiatif untuk memberitahu kehamilannya saat suami-nya itu berulang tahun. Bukan hanya itu, ia juga telah menyiapkan sebuah hadiah untuk Sehun. Dan itu sebuah barang, okey?

Minyoung saat ini tengah menonton tv dengan segelas susu serta roti panggang yang menemaninya. Ia terlalu fokus dengan tv sampai tidak menyadari keberadaan Sehun di depannya—tidak benar-benar di hadapannya. (Kuharap kalian mengerti maksudku).

“Minyoung-ah, aku lapar.”rengek Sehun dan memegangi perutnya. Tak lupa dengan membuat raut wajah memelas berharap Minyoung akan membuatkannya sarapan.

“Kau punya tangan, kan? Kau buat saja sendiri. Lagi pula tinggal menuangkan susu ke gelas serta memanggang roti apa susahnya?”balas Minyoung cuek.

Sehun membalikkan badannya dengan bibir nya yang manyun akibat respon tak mengenakkan dari Minyoung. Sebelumnya, ia menghentak-hentakkan kakinya dahulu layaknya seorang anak kecil yang sedang kesal. Benar-benar kekanakan, pikir Minyoung lalu terkekeh.

Ini memang sebagian seperti rencana Minyoung. Sehari sebelum Sehun berulang tahun, ia sengaja menyueki Sehun sampai Sehun merasa jengkel. Sehabis itu, tepat pukul 12 malam Minyoung akan memberinya kejutan ulangtahun untuk Sehun.

Yah, rencana jahilnya akan dimulai sebentar lagi.

.

.

.

Berkali-kali Sehun mencoba mengajak Minyoung berbicara, namun Minyoung selalu memberikan respon yang cuek terhadapnya. Sehingga membuat Sehun sedikit kesal.

Sampai malam ini. Ia terus saja mengalihkan perhatian Minyoung agar beralih kepadanya. Dengan cara menggelitikinya, bergelayut manja di lengannya, bahkn sampai menciumi bibirnya pun tetapu gadis itu tetap saja memberikan respon cuek.

Hingga sampai ia kesal, Sehun memutuskan untuk pergi tidur—dengan hati yang masih sangat dongkol.

Minyoung mengintip wajah damai Sehun setelah sekiranya 2 jam lelaki itu memutuskan untuk pergi tidur. Sedikit kasihan melihat Sehun saat ini, merasa terabaikan oleh Minyoung. Tetapi Minyoung melakukan ini agar rencananya lancar.

Minyoung menyibakkan selimutnya lalu turun dari ranjangnya pelan agar tak membangunkan si tokoh utama-nya—Oh Sehun—. Minyoung mengambil sebuah kue dari tas pendinginnya lalu membuka kardus yang menutupi kue itu. Dengan hati-hati, Minyoung menancapkan lilin angka ‘23’ di atas kue itu—tanpa ingin merusak hiasan-hiasan kuenya.

Ia mengambil sebuah kotak kecil berpita biru dari dalam tas jinjingnya. Ia tersenyum sesaat membayangkan betapa bahagianya Sehun nanti. Atau mungkin Sehun masih kesal padanya sehingga melempar kotak itu—sehingga membuat senyum Minyoung memudar. Ia memasukkan kotak kecil itu ke dalam saku hoodie-nya.

Minyoung berdiri dengan kedua tangannya yang masih memegang kue itu dan berjalan pelan ke dalam kamar. Ia mengendap-endap layaknya pencuri untuk sekedar menemui suami-nya itu. Kemudian ia menjuk-nunjuk pipi Sehun menggunakan jari telunjuknya. Bermaksud untuk membangunkan lelaki itu–mengingat tepat pada jam ini suaminya itu berulangtahun.

Oppaaa~ Sehun oppaa~..”panggilnya pelan dengan nada–manja. Ia kembali mentoel-toel (?) pipi Sehun agar namja ini bangun dari tidurnya. Sehun mengerang pelan lalu menmbuka matanya perlahan. sedikit mengerjab karena nyawanya masih belum terkumpul.

Saengil chukka hamnida.. Saengil chukka hamnida.. Saranghaenun Sehunnie.. Saengil chukka hamnida!.”

Mata Sehun terbuka sempurna kala melihat Minyoung yang saat ini tersenyum kepadanya dengan sebuah kue yang bersimpuh di tangannya. Sangat beda dengan reaksi Minyoung pagi tadi hingga sesaat sebelum ia tertidur. Oh, sekarang Sehun paham. Minyoung mengerjai Sehun untuk mempesiapkan kejutan ulangtahunnya.

Sehun mendudukkan badannya di atas ranjang kemudian menatap Minyoung sebal. “Oh, jadi ini alasan kau menyuekiku sedari tadi!”ocehnya.

Minyoung terkekeh pelan mendapati suaminya yang saat ini sedang merajuk. Bena-benar seperti anak kecil. “Maaf.. Aku hanya ingin memberi kejutan kepadamu. Nah, sekarang make a wish lalu tiup lilinnya.”

Sehun berusaha menahan kesalnya kala melihat wajah Minyoung. Sehun memejamkan matanya lalu sesaat kemudian ia meniup lilinnya dan di sambut oleh tepuk tangan dari Minyoung.

Saengil Chukkae, Oh Sehun. Kau sudah semakin tua..”ujar Minyoung di akhiri dengan kekehan kecil dari mulutnya. Minyoung mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sakunya dan diberikanya kepada Sehun. Sehun mengernyit saat melihat hadiah pemberian Minyoung. Ia langsung memutuskan untuk membukanya dan sedikit terkejut mendapati sebuah Jam tangan yang saat ini menjadi trend di Korea–benda itu limited edition. Dan Sehun sangat menginginkannya. Tetapi sayangnya, barang itu sudah keburu habis sebelum Sehun memesannya.

“Terima kasih, Young..”ucap Sehun terharu. Ia memeluk tubuh gadis itu lalu mencium puncak kepalanya. Tidak terbesit di otaknya bahwa Minyoung akan memberi hadiah ini.

“Sehun oppa.”panggil Minyoung. Sehun agak sedikit terkejut dengan panggilan ‘oppa‘ yang terlontar dari bibir gadis itu.

Oppa? Sejak kapan kau memanggilku oppa?”

“Sejak tadi.”jawab Minyoung datar. Tetapi wajah datar itu kembali menampilkan sebuah senyuman manis yang terukir sempurna di wajahnya. “Aku mempunyai satu hadiah lagi.. Untukmu.”

Sehun mengernyit, “Apa?”tanya Sehun kemudian.

“Aku–“

“Ya?”

“Sedang–“

“Hmm?”

“Hamil.”

Mendengar kata ‘hamil’ yang terucap dai bibir gadis itu membuat Sehun terkejut. Hamil?

“Ha-Hamil?”ulang Sehun. Ia terkejut sekaligus bahagia. Terharu. Semua bercampur jadi satu. Sehun memeluk erat gadisnya yang tadinya hanya menggigit bibir bawahnya. Ia begitu senang karena Minyoung sedang mengandung anaknya.

“Tetapi, mengapa begitu cepat? Bukankah kita baru melakukannya 2 minggu yang lalu?”tanya Sehun kemudian–dengan nada polos.

“Sebenarnya, sudah lama. Aku sudah merasakan gejala kehamilanku ini sebelum kau dan aku–berpisah rumah.”balas Minyoung dengan kepala menunduk. “Maaf baru memberitahumu sekarang. Aku pikir, Aku akan baru memberitahumu saat kau berulang tahun dan menjadikanya hadiah untukmu..”

“Ya, kurasa kau benar.”ucap Sehun membenarkan. “Ini adalah hadiah yang sangat indah yang pernah ku dapatkan. Bahkan lebih indah daripada jam ini.”lanjut Sehun dengan nada serak. Mendengar itu, Minyoung tersenyum. Betapa bahagianya saat Sehun mengucapkannya. Bahkan hatinya tak dapat di bohongi saat Sehun yang kini tengah mengusap perutnya yang masih datar.

Sehun memiringkan wajahnya untuk mencium bibir Minyoung. Menyalurkan kasih sayang serta betapa bahagianya saat ini melewati ciuman itu. Dengan tangan yang tak berpindah posisi–yang masih mengelus perut dimana benihnya itu sedang menghinggap.

“Tetapi, kurasa aku harus meminta maaf pada bayi kita, Young.”ucap Sehun disela ciumannya. Minyoung melepaskan pagutan bibir mereka lalu menatap Sehun dengan tatapan bertanya. “Kenapa?”

“Karena.. aku akan menyerang ibunya saat ini.”balas Sehun dengan diakhiri dengan smirk andalannya. “Aku tidak menerima penolakan. Siapa suruh kau membuatku kesal? Heum?”

Belum Minyoung melontarkan cercaannya, Sehun sudah duluan membungkam bibir gadis itu lantas menindihnya.

Oh, aku berani bertaruh. Saat ini Minyoung sedang mengucapkan sumpah-serapahnya di dalam hatinya mengenai ini.

 

| TBC or END ? |

Huaaahahaha~ akhirnya ni fanfic kelar juga hehe~ ohiya, berhubung sebentar lagi lebaran, minal aidin wal faidzin yah. maafkan aku jika aku ada kesalahan pada kalian semua (/\) sebagai tanda permohonan maafku, aku gak mem-proteksi chapter END ini. Muehehe~

dan doain aku juga biar bisa selamat sampai tujuan. Soalnya tanggal 27 nanti aku bakalan ke palembang naik pesawat-_- dan aku deg-degan sumpah-_- daoin biar aku selamat yak._. amin~

Ohiya, aku ada rencana buat bikin sequel series fic Unpredictable Marriage. menceritakan betapa frustasi-nya Sehun menanggapi Minyoung yang ngidam gak karuan-_- hohoho~ itupun kalo kalian mau._. dan juga aku mau bikin side storynya 😀 JiSoo (Jiyeon-Myungsoo) dan ChanRong (Chaneyol-Chorong) couple 😀 ada yang mau? huahahaha~ kalo sempet, oke?

okedeh, sekali lagi aku minta maaf jika aku punya kesalahan. Maaf bila ada typo atau sebagainya-_-

Best Regards,

 

Marshashinee

 

382 responses to “Unpredictable Marriage {Chapter 8B-END}

  1. akhir’a end. wah moment ending so sweet bgt.
    lnjut thor q tnggu sequel’a.
    hrus ada lo sequel’a jgn ampe gg!!
    #hwaiting thor😀

  2. disini sehun minyoung semua ya, kemana tuh jiyeon??? tapi thor aku ga setuju jiyeon sama myungsoo. NO big NO, ahhh ga rela. tp aku dukung chan-rong🙂
    ditunggu series.nya yaaa. gimana nanti pas anak.nya udah lahir. kkkk

  3. Sequel??
    Sequel thor???
    Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    sequel thor please sequel…..
    Pasti makin seru ceritanya kalau author bikin sequel…….
    Keep writtinggg
    HWAITING…

  4. Ini ceritanya kereeennnn!!
    Maaf baru comment di part yang ini…
    Sequel nya sequel nyaaaaaaa
    Side storynya juga boleh buat chanyeol sama
    Chorongggg..
    Keep writing ya thorr

  5. Huuuaaaaaaaa! Akhirnya Happy Ending *Lapingus
    huhuuu u,u sequel” masih belum puas! Tolong dipertimbangin authornim nuat sequelnya😀 ato dilanjutin aja yang ini😀 hehee

  6. Akhirnya happy ending juga.
    Dibuat sequelnya tp ttg family series mrka ya dan ditambahin kisah percintaan teman2 sehun & minyoung ya. I love ur story ya saeng n keep writting ya

  7. loh? kan mereka baru 2 minggu yqng lalu ngelakuin ‘itu’ #plakk knp bisa sebulan yang lalu sudah hamil?? atau aku nya aja yang gak ngerti? .-. #lupakan
    dan, kenapa aku baru tau fanfic ini sudah di update 😵
    huaa gak apa2 deh..
    overall aku suka ^^
    keep writing ya!! ^-‘)9

  8. kyaaa akhirnya mereka baikan hahaha
    thor thor si sehun napsu banget yaa perasaan dia ehem terus sama minyoung haha lupakan
    kyaaa bayinya kapan lahirrrrr lanjut ke sequelnya aja ahh

  9. yeaaayy akhirnya mereka baikan.. setiap baikan pasti harus dikasur yak wkwk dasar sehun yadong.. bikin lanjutannya aja thoorr..

  10. Huuffftt..mereka baikan hatipun senang/ini apalah/ hahaha
    Ciyee..bentar lagi punya dedek bayi! kkk~
    Terhura banget itu Sehunnya :3
    Dan aku seneng banget di chap yang manis ini nggak ada Jiyeon :v soalnya masih dongkol banget nih ati gegara Jiyeon ish.
    Yaudah semoga Jiyeon dan Myungsoo bisa lancar. Dan untuk Chanyeol dan Chorong juga begitu.
    Oh ya, Sehun harus tabah dan sabar menghadapi silumanmu yang lagi mengandung itu :v

  11. end??? jangan thor
    next lagi thor………….🙂 atau sequel thor ya yaaaaaa
    wah sehun oppa kayak anak kecil niii….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s