Over Bride [Chapter 7] — by IMA

OverBride

Title      : Over Bride

Author      : Ima (@kaihyun0320)

Casts      : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Other    : Lee Tae Min (SHINee), Xi Luhan (EXO)

Rating   : PG-15

Genre       : Romance, Fluff, Married Life.

Ch 1 ⌋ Ch 2 ⌋ Ch 3 ⌋ Ch 4 ⌋ Ch 5 Ch 6

© Ima at SKF 2014

Review:

“Terima kasih sudah melahirkan anak yang kuat dan suka memukul seperti Ji Hyun.”

“Kau mau mati hah?” sahut Ji Hyun cepat seraya mengangkat tangannya untuk memukul Jong In. Namun pria itu malah menyeringai pelan lalu menggenggam tangan Ji Hyun yang terkepal di udara.

“Tapi aku tahu dia tidak akan memukul kalau tidak ada yang memulai,” Jong In melanjutkan kembali ucapannya sambil menatap wanita—yang sedikit tersipu di hadapannya itu. Walaupun Ji Hyun mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tetap bisa melihat semburat merah di pipi gadis itu. Rasanya Jong In semakin jatuh ke dalam pesona Ji Hyun dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Baekhyun jika laki-laki itu mengetahuinya.

[Over Bride] Chapter 7

Hari dimana Ji Hyun berhadapan dengan minggu ujian akhir semester yang membuatnya panik setengah mati. Ia terlalu asyik menikmati kehidupan pernikahannya hingga lupa dengan kuliah yang selalu menanti. Setelah meminta izin pada Jong In –walaupun sempat dimarahi sebelumnya, akhirnya Ji Hyun terpaksa berada di rumah Chanyeol seharian untuk belajar materi UAS.

Ji Hyun berbaring tengkurap sambil membaca materi dari laptop milik Chanyeol. Sementara sang pemilik laptop sedang tidur di sebelahnya, pria itu kelelahan setelah mengajarkannya berbagai macam hal sejak pagi. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam namun Ji Hyun belum menyelesaikan materi untuk ujian besok.

“Yeol-ah,” Ji Hyun memukul-mukul pipi Chanyeol, mencoba membangunkan sahabatnya. “Yeol-ah, aku tidak mengerti bagian ini. Park Chanyeol!”

“Astaga. Jangan berteriak di telingaku,” gerutu Chanyeol sambil menutup telinganya dengan bantal.

“Chanyeol-ah!” Ji Hyun segera bangkit dari posisi tidurnya dan menarik-narik bantal yang dipegangi laki-laki itu. “Bangun sebentar, aku janji ini terakhir!”

“Aah! Aku mau tidur, bodoh,” Chanyeol masih tetap mengelak dan menahan bantalnya di atas kepala.

Ya!” Ji Hyun beralih mencubit bagian perut laki-laki itu tanpa ampun. “Ya! Ayo bangun, Yeol-ah!”

Hanya terdengar pekikan dari Chanyeol karena perutnya terasa sakit setelah dicubit berkali-kali. Ia melepaskan bantalnya dari kepala dan akhirnya menangkap tangan Ji Hyun, menarik gadis itu hingga terjatuh ke pelukannya. Baiklah, Chanyeol mengakui bahwa ia sudah sangat sering memeluk Ji Hyun sejak kecil. Namun memeluk sambil menatap kedua mata gadis itu dari jarak yang sangat dekat, membuat jantungnya berdetak aneh. Ia seperti orang bodoh karena tidak bisa mengendalikan detak jantungnya sendiri.

Chanyeol tidak mungkin menyukai sahabatnya sendiri. Tidak. Ia sudah berjanji akan menjaga Ji Hyun hanya sebagai adiknya saja, bukan sebagai seorang wanita.

“Yeol-ah?”

“Apa yang kalian lakukan?” suara –yang sangat dihapal Ji Hyun itu membuatnya segera menjauh dari Chanyeol dan duduk di atas tempat tidur.

Ji Hyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian memukul lengan atas Chanyeol dengan cukup keras, menyuruh pria itu bangun dari tidur dan membantunya menghadapi Jong In. Tatapan dingin Jong In kembali dan Ji Hyun selalu membenci hal itu.

“Belajar,” jawab Ji Hyun tak acuh seraya mengendikkan bahu. Ia kemudian melihat nyonya Park yang berdiri di sebelah suaminya tengah menggelengkan kepala. Tidak percaya.

“Belajar apa? Berpelukan di atas tempat tidur?” tanya Jong In sarkastik lalu melipat kedua tangan di depan dada.

“Jangan berlebihan, Jong In. Aku tidak sengaja jatuh tadi,” jawab Ji Hyun malas lalu segera menutup laptop Chanyeol dan turun dari tempat tidur –setelah melihat nyonya Park menghilang dari sana.

Butuh beberapa menit bagi Jong In untuk meredakan emosinya dengan menghela napas panjang. Pemandangan tidak menyenangkan tadi membuat hawa di sekitarnya menjadi panas dan ia tidak suka jika Chanyeol selalu unggul lebih dulu darinya. Jong In memperhatikan istrinya yang tengah membereskan barang-barang lalu ke arah Chanyeol yang tengah beranjak dari tempat tidur. Pria itu merapikan rambut merahnya yang berantakan kemudian berjalan melewati Jong In begitu saja tanpa mengatakan apapun. Meninggalkannya di dalam kamar yang tidak terlalu luas itu bersama Ji Hyun.

Tatapan Ji Hyun kini beralih pada Jong In yang masih menatapnya dari ambang pintu. “Wae? Kenapa melihatku seperti itu?”

“Kalau aku tidak datang, kalian akan melakukan apa?” tanya Jong In sarkastik lagi.

Ji Hyun mendecih pelan sambil mengaitkan tali tas ransel pada kedua pundaknya. “Menurutmu apa? Cih, Chanyeol sudah sering memelukku, jadi aku tidak akan melakukan apapun dengannya.”

“Astaga,” Jong In kembali mendesah napas pelan. Kenapa ia bisa memiliki seorang istri yang sudah terlalu sering dipeluk oleh pria lain sebelumnya. Walaupun pria itu sahabat Ji Hyun, ia tetap saja merasa bodoh karena Chanyeol sudah menang banyak darinya.

“Dia laki-laki, Ji Hyun.”

“Lalu kenapa? Dia tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh, bodoh. Ayo pulang, aku lapar,” ajak Ji Hyun dengan polosnya seraya menarik lengan Jong In agar segera keluar dari sana.

Ketika menuruni tangga –masih sambil menarik tangan Jong In, Ji Hyun menemukan nyonya Park yang menyambutnya di dekat meja makan. Ia melihat banyak sekali makanan yang dihidangkan di atas meja, membuat cacing di dalam perutnya meraung hebat. Padahal ia menjunjung tinggi gengsinya karena nyonya Park tidak pernah memperlakukannya dengan baik selama ini dan berubah hanya karena Jong In. Ia tidak akan tergoda oleh makanan itu.

Dan Ji Hyun meneguk ludahnya sendiri ketika Jong In yang kini malah menariknya menuju meja makan.

“Kalian janji akan makan malam di sini, aku sudah siapkan semuanya,” ujar nyonya Park sumringah. Terlihat Jong In yang sedikit melirik ke arah Ji Hyun seolah bertanya. “Jangan sungkan, ayo makan sesuka kalian.”

Eomma, kenapa kau tidak pernah masak seenak ini sebelumnya?” Chanyeol tiba-tiba saja muncul dari kamar mandi dan akan menyentuh ikan bakar di atas meja makan ketika nyonya Park menepuk tangannya dengan cukup keras. “Aw! Kenapa memukulku?!”

“Ini untuk presdir Kim,” ujar wanita itu setengah berbisik namun bisa didengar jelas oleh Jong In dan Ji Hyun yang berdiri di seberang mereka.

Mwoya?! Kenapa eomma membuat makanan enak untuk Jong In? Anakmu saja tidak pernah dibuatkan seenak ini,” protes Chanyeol tidak suka kemudian menarik kursi untuk duduk, mencari tempat yang paling dekat dengan ikan bakar itu.

“Jangan protes, Park Chanyeol,” sahut nyonya Park lalu kembali menyunggingkan senyum ramahnya pada Jong In. “Ayo kita mulai makan malamnya.”

Jong In kembali melirik Ji Hyun dan mendapati tatapan tidak suka dari gadis itu. Ia hanya memiringkan kepala, menyuruh Ji Hyun untuk segera duduk di meja makan dengan sedikit mendorong bahu istrinya itu. Setelah mengucapkan terima kasih dan mengulas senyum simpul, Jong In memimpin doa lalu memulai makan malamnya. Tak lupa mengambilkan lauk yang jauh dari jangkauan Ji Hyun dan menaruhnya di mangkuk gadis itu.

“Kalian serasi sekali,” ujar nyonya Park tiba-tiba dan sukses membuat Chanyeol tersedak duri ikan bakar yang dimakannya.

Sementara Jong In hanya tersenyum simpul lalu melirik Ji Hyun –yang masih sibuk menyantap makan malamnya. “Terima kasih, eomonim. Pasti dia sering merepotkanmu sejak kecil.”

“Tidak juga. Istrimu itu anak yang baik, aku senang Chanyeol bisa bersahabat dengannya. Apalagi sekarang Ji Hyun bisa menikah denganmu, aku rela kalau kalian bisa menginap di sini sesekali,” ucap nyonya Park panjang lebar dan penuh dusta.

Ji Hyun menyeringai pelan –sambil menyeruput kuah sup rumput laut di dekat mangkuk nasinya. Membuat perhatian orang-orang di meja makan itu tertuju ke arahnya, namun ia mengabaikan hal itu. Ia sempat melirik Chanyeol lalu melihat lelaki itu mengendikkan bahu ke arahnya. Pasrah saja terhadap apa yang tengah dikatakan ibunya.

“Aah, terima kasih sudah merawat Ji Hyun dengan baik,” Jong In berkata dengan ramahnya sambil sedikit menundukkan kepala. Tidak bisa menyembunyikan rasa geli di perutnya karena apa yang dikatakan Ji Hyun tentang ibu Chanyeol ternyata tidak benar.

Ji Hyun malah mendecih pelan mendengar ucapan manis yang keluar dari bibir Jong In. Pria itu selalu bersikap manis di depan orang yang menyukainya atau di depan orang yang berpengaruh di hidupnya. Bahkan masih bisa dihitung berapa kali Jong In bersikap manis padanya dan berbicara dengan nada seperti itu. Jong In hanya akan berbicara dengan nada dingin dan tersenyum sesekali saja –walaupun akhir-akhir ini mereka sering melakukan skinship yang mulai berlebihan.

Tiba-tiba saja membuat wajah Ji Hyun memanas ketika mengingat kunjungan ke makam orangtuanya beberapa hari lalu.

“Apa supnya pedas? Wajahmu memerah,” suara nyonya Park menginterupsi dan Ji Hyun dengan cepat mengangkat kepalanya. Memperhatikan tiga pasang mata yang sedang memperhatikannya secara seksama.

Mati sudah.

“A—ah, tidak apa-apa. Sepertinya aku terlalu semangat karena supnya masih panas,” Ji Hyun menambahkannya dengan suara kekehan pelan yang terdengar sangat hambar.

Terlihat Chanyeol yang mendesis pelan sambil mendorong mangkuk sup rumput lautnya yang sudah kosong ke tengah meja. “Panas apanya? Aku sudah menghabiskan supnya sejak tadi.”

Mati kau Park Chanyeol.

“Ta—tapi supku panas kok,” Ji Hyun melirik takut-takut pada Jong In yang memperhatikannya dengan sebelah alis terangkat. “Aku akan menghabiskannya.” Lalu ia buru-buru menghabiskan makanan berkuah itu.

“Seingatku sup rumput lautnya tidak panas, Ji Hyun-ah. Tadi aku tidak sempat menghangatkannya,” ucapan nyonya Park menghentikan tangan Ji Hyun lagi. “Kau bahkan menghabiskannya dengan cepat.”

Baiklah, Ji Hyun merutuki kebodohannya –dan kesalah-tingkahannya saat itu dan berhasil mengundang tawa geli dari Chanyeol di seberang sana. Ia segera menendang kaki Chanyeol dari bawah meja dan menyuruh pria bertelinga besar itu untuk diam. Kenapa wajahnya malah semakin memanas karena dipermalukan seperti itu? Astaga, Ji Hyun tidak tahu bagaimana harus menghadapi Jong In ketika pulang nanti.

***

Malam semakin larut dan Ji Hyun masih bertahan membaca slide serta memahami materi yang akan menjadi ujiannya esok pagi. Setelah pulang dari rumah Chanyeol, ia segera masuk ke kamar dan begitu juga Jong In. Sepertinya lelaki itu juga masih banyak pekerjaan dan sedikit marah juga padanya karena kejadian tadi. Keadaan mobil benar-benar hening sepanjang perjalanan dan Ji Hyun tidak tahu dimana letak kesalahannya berada. Lagipula sebenarnya Ji Hyun mencoba menghindar juga karena kejadian memalukan di meja makan rumah Chanyeol tadi.

Ji Hyun menggaruk bagian belakang kepalanya yang tigak gatal, merasa bingung dengan semua materi yang dipelajarinya. Baiklah, Ji Hyun sebenarnya tidak bodoh karena sering menjadi juara kelas ketika SMP dulu, namun sekarang ia terlalu sering tidak mendengarkan dosen dan berakhir dengan tidak mengerti ketika ujian. Nilai-nilainya pun selalu jelek sampai tingkat tiga. Mungkin di tingkat akhir ia akan sedikit memperbaiki nilai. Hanya sedikit.

Tatapan Ji Hyun –dari laptop beralih pada pintu kamarnya yang terbuka. Ia tidak berniat sama sekali mengubah posisinya yang tengah tidur tengkurap ketika melihat Jong In melangkah masuk –sambil membawa laptop juga. Pria itu duduk di sampingnya lalu meletakkan laptop itu di samping laptopnya. Mengundang tatapan heran dari Ji Hyun –yang merasa sedikit risih sebenarnya. Ah, dan gugup juga tentu saja.

“Ke—kenapa kau ke sini?” tanya Ji Hyun heran.

Jong In mengerutkan keningnya kemudian mengikuti Ji Hyun juga –dengan tidur tengkurap menghadap laptop. “Ini apartemenku, bodoh. Memangnya kenapa?”

Cish~, ara ara. Terserah saja, Jong In,” balas Ji Hyun seadanya lalu mencoba kembali fokus pada materi kuliah Teori Pengembangan.

“Aliran seni gothic lahir pada tahun…. Aish,” Ji Hyun merutuk saat tahun-tahun keramat itu tidak bisa menempel di kepalanya. Ia kembali membuka slide sebelumnya dan menghapalkan urutan pengembangan teori tentang Seni, hingga suara tawa Jong In mengalihkan perhatiannya. Gelak tawa yang penuh dengan suara husky mulai terdengar –dan Jong In selalu terlihat manis ketika tertawa seperti itu.

“Kenapa? Kenapa tertawa hah?” tanya Ji Hyun tidak suka, terus memperhatikan Jong In yang menghadap ke arahnya –dan tertawa.

“Kau selalu menghapal seperti itu? Aku jamin besok pagi kau akan lupa,” jawab Jong In –masih sambil sedikit tertawa.

Ji Hyun memutar bola matanya sambil kembali membaca slide kuliahnya. “Ya, ya. Aku tahu kau pintar, Jong In. Kau pasti cepat lulus sampai bisa jadi presiden direktur semuda itu.”

Tawa Jong In terhenti. Ia berdehem pelan lalu memperhatikan Ji Hyun yang terlihat serius membaca materi. Rasanya keterlaluan juga meledek Ji Hyun seperti itu, padahal ia sendiri tidak pernah merasakan ujian di Universitas. Jangan tanya kenapa, karena Jong In tidak mau mengingat kembali masa lalunya. Dugaan Ji Hyun salah besar karena mengira dirinya cepat lulus padahal sebenarnya tidak.

“Kenapa melihatku terus? Fokus ke pekerjaanmu saja, Kim Jong In,” sahut Ji Hyun, merasa risih karena Jong In terus saja menatapnya. Membuatnya gugup setengah mati dan tidak bisa fokus membaca materi kuliahnya.

“Ji Hyun-ah.”

“Hmm?” Ji Hyun mencoba tak mengacuhkan Jong In dengan tetap membaca slide-slide keramat itu.

“Ibunya bocah itu tidak seburuk yang kau bilang,” Jong In menopang kepalanya dengan tangan dan berbaring menghadap gadis itu. Terlihat perubahan ekspresi di wajah Ji Hyun sedetik kemudian.

“Dia bohong, Jong In. Kau percaya saat dia bilang aku ini anak baik-baik? Cih, dia bahkan memukul tanganku karena mendorong Chanyeol waktu itu. Padahal Chanyeol tidak marah tapi malah ibunya yang marah padaku. Dia tidak pernah mengerti tentang persahabatanku dan Chanyeol =,=,” Ji Hyun berkata dengan berapi-api dan itu terlihat lucu di mata Jong In. Gadis itu bahkan sudah meremas tangan-tangannya sendiri menahan kesal.

“Tapi dia membuatkan kita makan malam yang enak tadi. Sekarang aku tidak percaya padamu,” ucapan Jong In berhasil membuat Ji Hyun menoleh dengan cepat. Ji Hyun segera menyentil kening sempit Jong In dengan sekuat tenaga. “YA! Aish, sakit, bodoh.”

“Jadi kau lebih percaya ibunya Chanyeol? Aigoo, sekarang kau lebih suka ahjumma-ahjumma, ya? Sepertinya rayuan nyonya Park mulai berpengaruh. Ck ck ck, aku kasihan sekali padamu, Jong In-ssi,” Ji Hyun mendramatisir keadaan sambil menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk kepala Jong In dengan ujung pensilnya.

Jong In mendesis pelan dan balas menyentil pipi Ji Hyun dengan gemas. “Kau cemburu, ya? Kau tidak suka aku menyukai ibunya Chanyeol?”

Cih, cemburu? Aku hanya tidak suka sikap manisnya saat kau datang ke sana,” Ji Hyun mengusap pipinya yang terasa sedikit sakit lalu mendengus pelan. “Dia jadi manis setelah kita menikah.”

“Bagus bukan? Kau jadi lebih bebas dekat dengan Chanyeol-mu ‘kan?” pertanyaan Jong In terdengar menggelikan di telinga Ji Hyun. Chanyeol-nya? Oh, yang benar saja.

“Kau menggelikan, Jong In. Dwaesseo! Aku mau belajar lagi,” jawab Ji Hyun lalu segera menyumpal kedua telinganya dengan earphone dan memilih lagu untuk mengalihkan perhatiannya.

Keurae. Aku tidak akan mengganggumu lagi,” balas Jong In malas –dengan sedkit melirik ke arah Ji Hyun. Gadis itu sepertinya tidak mendengar ucapannya lagi karena lagu yang diputar cukup keras –dan terdengar hingga keluar earphone. Jong In hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.

Sebenarnya ia masih sedikit kesal karena Chanyeol dan Ji Hyun –yang tidak sengaja berpelukan di atas tempat tidur tadi. Tapi sepertinya tidak akan berguna juga, toh Ji Hyun tidak peka dengan perasaannya. Oh astaga, memangnya Ji Hyun harus menghargai perasaannya yang seperti apa.

Ji Hyun melirik jam di layar laptopnya kemudian menguap lebar. Kedua matanya mulai lelah karena terlalu banyak membaca dari layar yang mengeluarkan radiasi dan membuat matanya perih itu. Ia sempat melirik Jong In –yang masih fokus mengerjakan laporan di sebelahnya lalu tanpa sadar memejamkan kedua matanya tanpa menutup laptop. Tenaga Ji Hyun sudah habis dan ia malah tenggelam dalam tidurnya sedetik kemudian.

“Ji Hyun-ah,” Jong In berseru tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop. Keningnya berkerut heran ketika tidak mendapatkan jawaban apapun.

“Byun Ji H—Astaga,” ucapan Jong In terhenti saat melihat Ji Hyun sudah tertidur dengan wajah yang tetap menghadap laptop. Tangan gadis itu masih berada di atas keyboard namun kedua matanya sudah menutup rapat dengan mulut yang setengah terbuka.

Jong In mendecih pelan –sambil sedikit tersenyum geli, ia mengubah posisinya menjadi duduk kemudian memindahkan laptop milik Ji Hyun ke atas pangkuannya. Niat awalnya untuk mematikan laptop gadis itu pun tiba-tiba berubah ketika membuka-buka folder di dalamnya. Tangannya dengan cekatan membuka setiap folder –yang separuh isinya berisi lagu dan referensi tugas, ia mencari folder lain yang berisi foto-foto atau apapun yang bisa disimpan olehnya.

Seulas senyum terukir di bibir Jong In ketika menemukan folder tersembunyi yang berisi foto-foto Ji Hyun. Namun senyumnya kembali berubah menjadi ekspresi dingin saat sebagian besar isinya foto bersama Chanyeol. Kebanyakan foto mereka saat sekolah menengah atas, selca hanya berdua saja bersama sahabatnya itu. Jong In bahkan mendengus pelan, tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya melihat bagaimana kedekatan keduanya –dengan foto bersama di dalam box. Keduanya lebih terlihat seperti sepasang kekasih.

Rasa kesal Jong In sudah tidak bisa ditahan lagi dan ia baru saja akan mengeluarkan folder foto itu ketika matanya tidak sengaja menangkap gambar lain. Ia memindahkan kursornya pada gambar itu dan membukanya. Foto selca dimana Baekhyun dan Ji Hyun tertawa bahagia dengan background pantai. Keduanya terlihat sangat bahagia.

Dan Jong In tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Ji Hyun ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Perjanjian bodoh yang dilakukannya bersama Baekhyun –dan sekarang sangat disesali oleh dirinya sendiri. Ji Hyun terlalu baik untuk berada di antara mereka.

Mianhae,” Jong In bergumam pelan lalu segera mematikan daya laptop Ji Hyun. Ia meletakkan laptop itu di atas nakas lalu segera beranjak dari tempat tidur.

“Baekhyun oppa, neo eodiya? Eodiga?” Ji Hyun bergumam pelan ketika Jong In berusaha memindahkan posisi tidur gadis itu agar lebih nyaman.

Jong In menyelimuti tubuh istrinya lalu mengusap rambut pendek Ji Hyun yang sedikit basah –habis mandi mungkin. Ia berjanji akan terus menjaga Ji Hyun hingga dimana saatnya Baekhyun kembali untuk mengambil kembali gadis itu dari sisinya. Sebuah kecupan mendarat di kening Ji Hyun sebagai ucapan selamat malam kemudian Jong In beranjak dari kamar itu sambil membawa laptopnya.

***

Tidak ada yang berbeda selain hujan yang turun sore itu dan para pejalan kaki yang sibuk membuka payung atau pun berteduh. Begitu juga dengan Ji Hyun yang terpaksa berteduh pada sebuah pelataran toko, menghindari petir yang menyambar. Tidak dengan Chanyeol –yang tadi pulang lebih dulu dan meninggalkannya. Dalam hidup Ji Hyun, masih bisa dihitung berapa kali Chanyeol membiarkannya pulang sendirian seperti itu. Biasanya laki-laki itu akan mengikutinya kemana pun, bahkan jika harus pulang ke rumah malam hari setelah memastikan ia tiba di apartemen dengan selamat.

Mungkin Chanyeol merasa bahwa sosoknya sudah mulai digantikan oleh Jong In. Akhir-akhir ini Ji Hyun selalu menceritakan perasaan aneh dan menggelikan yang datang ketika berdekatan dengan suaminya. Dan ekspresi Chanyeol hanya lurus, mengatakan bahwa itu hanya perasaan kagum saja pada Jong In. Padahal ia berharap sahabatnya itu sedikit memberikan saran atau apapun agar ia tidak merasa bingung dengan perasaannya sendiri.

Lagi-lagi perasaan rindu akan sosok Baekhyun kembali menyergap hatinya ketika tengah sendirian seperti itu. Terlalu banyak berpikir mengenai Jong In terkadang selalu bersangkutan dengan pikiran mengenai Baekhyun. Kakaknya benar-benar seperti ditelan bumi. Setelah kejadian melihat sosok –mirip Baekhyun waktu itu, Ji Hyun terus bertanya-tanya kenapa Baekhyun malah menghindarinya. Apa ia seburuk itu?

“Ji Hyun-ssi?” suara seorang pria mengalihkan perhatian Ji Hyun, ia melihat seorang pria dengan payung berwarna biru berdiri beberapa meter di depannya. Menatapnya –yang berdiri di teras sebuah toko dengan pakaian setengah kuyup.

“Luhan­-ssi.”

Di saat seperti itu, Ji Hyun merasa beruntung karena Jong In memiliki sahabat yang bisa muncul dimana saja dan memberikan pertolongan ketika sedang terdesak. Luhan kemudian berjalan mendekat, memperhatikan Ji Hyun yang terlihat sedikit menggigil.

“Kau tidak bersama Chanyeol?” tanya Luhan, masih tetap berhadapan dengan Ji Hyun tanpa peduli hujan yang semakin deras.

“Apa?!” tanya Ji Hyun, tidak mendengar jelas apa yang diucapkan pria itu karena suara hujan dan riuh orang-orang di dekatnya.

“Ayo ke barku saja, hanya tinggal menyeberang jalan,” Luhan menelengkan kepalanya, menyuruh Ji Hyun memakai payung bersamanya. Gadis itu mengerti dan segera bergegas memasuki payung Luhan lalu tersenyum polos.

Kemudian Ji Hyun dan Luhan berlari menyeberang jalan, menerobos hujan yang sangat deras dan membiarkan sebagian baju mereka tetap saja basah walaupun memakai payung. Ji Hyun merasakan kegaduhan dari musik yang diputar sangat kencang dan suara orang-orang yang berbincang dengan suara keras ketika masuk ke bar. Ia sebenarnya sudah cukup kenal dengan bagian dalam bar dan hanya mengikuti Luhan saja untuk membawanya ke ruang kerja laki-laki itu.

Ji Hyun segera duduk di sofa –setelah dipersilakan oleh Luhan. Setidaknya ruang kerja Luhan memiliki peredam suara hingga suara gaduh dari luar sana tidak begitu terdengar. Ia merogoh tasnya untuk mengecek ponsel sementara Luhan mengambilkan minum. Tidak ada pesan dari Jong In sejak tadi pagi, padahal ia berharap pria itu menanyakan keadaannya ketika hujan deras seperti itu. Dan rasa takut akan Jong In yang mungkin tidak memiliki perasaan yang sama itu pun kembali muncul dan membuat jantungnya mencelos.

“Dimana Chanyeol? Biasanya kalian selalu pergi berdua,” tanya Luhan seraya menaruh gelas berisi air putih di meja lalu duduk di sofa lain yang bersisian dengan sofa Ji Hyun.

“Dia pulang duluan. Menyebalkan. Lihat saja besok, aku akan minta traktir makan siang dan malam untuk membalas hari ini,” jawab Ji Hyun dengan berapi dan membuat sudut bibir Luhan terangkat membentuk senyum manis.

“Kalian lucu. Aku iri dengan persahabatan kalian,” ujar Luhan tiba-tiba.

Ji Hyun yang tengah mengusap-ngusap tangannya –kedinginan itu kemudian tertawa pelan. “Iri? Aku tidak tahu kau iri sebelah mana dari persahabatan kita. Tapi kau juga punya Jong In dan Tae Min.”

“Jong In dan Tae Min terlalu serius mengurus perusahaan sejak SMA. Aku jarang mengobrol dengan mereka lagi dan bersahabat seperti ini saja. Tidak pernah sedekat kau dan Chanyeol, saling meledek, saling mencaci, dan bahkan saling memukul. Tapi tidak pernah bermusuhan atau saling membenci,” ucapan Luhan terdengar seperti menceritakan kisah hidupnya sendiri. Terlihat jelas dari tatapan binar Luhan yang memudar saat mengucapkan kata-kata terakhir.

Ji Hyun mengerutkan keningnya. “Memangnya kau dan Jong In pernah kenapa?”

Anhi. Tidak ada apa-apa,” Luhan mencoba tersenyum, namun hal itu malah membuat Ji Hyun semakin penasaran.

“Kau pernah bertengkar hebat dengan Jong In? Atau dengan Tae Min?” tanya Ji Hyun memastikan sekali lagi. “Kau tidak bisa berbohong pada Byun Ji Hyun, Luhan –ssi.

Luhan merutuk dalam hati, istri dari sahabatnya itu bahkan bisa membaca gestur tubuhnya yang tengah berbohong. Padahal ia berjanji untuk tidak pernah mengungkit masalah itu lagi di masa depan. Namun sepertinya ia terpaksa menceritakannya pada Ji Hyun, atau ia yang akan berakhir dengan satu hiasan ringan yang diberikan gadis itu karena penasaran.

“Mereka berdua yang pernah bertengkar,” Luhan mencoba menggali ingatannya kembali ketika masa-masa setelah lulus SMA dulu.

“Jong In berhasil masuk universitas terbaik di Korea dan Tae Min yang tidak berhasil mendapat kursi di sana. Awalnya mereka baik-baik saja walaupun harus berpisah tempat kuliah. Namun ketika Jong In berbuat masalah dengan mengencani wanita bernama Soo Jung yang kuliah di Kyung-hee –adik kelas Tae Min, semuanya berubah.”

“Jong In tidak pernah masuk kuliah lagi dan lebih memilih mengantar-jemput Soo Jung setiap hari. Hal itu membuat Jong In dikeluarkan secara tak terhormat dari sana dan tidak melanjutkan kuliah lagi sampai sekarang. Permasalahannya, berita Jong In yang dikeluarkan membuat Tae Min kesal, selain karena perasaannya pada Soo Jung, ia kesal karena Jong In menyia-nyiakan bangku kuliah yang dulu sangat diinginkannya. Mereka bertengkar hebat karena saling beradu argumen dan kemudian bermusuhan untuk waktu yang lama.”

Luhan menghela napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. “Ketika sedang panas-panasnya permasalahan mereka, Jong In mendapati kenyataan bahwa Soo Jung sering jalan dengan Tae Min di belakangnya. Pada akhirnya Jong In berpisah dari Soo Jung dan lebih membenci Tae Min. Sampai aku harus turun tangan mendamaikan mereka. Setelah berbaikan, Tae Min memutuskan untuk berpisah dari Soo Jung juga lalu melanjutkan kuliah di luar negeri.”

Ji Hyun tidak percaya dengan apa yang baru saja diceritakan oleh Luhan. Ternyata masa lalu Jong In yang disembunyikan seperti itu. Seorang presiden direktur seperti Kim Jong In tidak menyelesaikan kuliahnya dan bertengkar dengan sahabat sendiri hanya karena wanita. Pantas saja Jong In tidak menceritakan lebih lanjut mengenai Soo Jung, karena gadis itu selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

“Jong In tidak pernah mau menceritakan hidupnya,” balas Ji Hyun.

“Dia memang tertutup. Dia juga bukan seseorang yang suka mengungkit masa lalu. Tapi dia jenius, tidak kuliah saja bisa mengurus perusahaan sebesar itu,” jawab Luhan lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. “Aku telepon Jong In dulu, dia harus menjemputmu ke sini.”

Ji Hyun tidak menjawab dan membiarkan Luhan berjalan menjauh ketika berbicara dengan Jong In. Sementara Ji Hyun kembali mengitarkan pandangannya ke seluruh ruang kerja Luhan. Ia melihat foto ketiga sahabat –Jong In, Luhan, dan Tae Min yang terpajang rapi di atas meja kerja, berlatar belakang menara Eiffel. Ia tidak pernah tahu bahwa sebelumnya persahabatan mereka serumit itu. Ternyata Soo Jung yang membuat persahabatan mereka hampir hancur, namun Luhan yang berhasil meredakan emosi kedua sahabatnya.

Jika saja Jong In lebih terbuka menceritakan kisah hidupnya, agar ia tidak perlu tahu dari orang lain. Oh atau mungkin ia berharap lebih pada Jong In, padahal laki-laki itu masih menganggapnya orang asing dan belum bisa menceritakan masa lalunya.

“Dia sudah di depan. Kebetulan dia memang mau ke sini tadi,” Luhan kembali duduk di sofa dan sedetik kemudian pintu ruangan laki-laki itu terbuka.

“Kenapa tidak meneleponku?” tanya Jong In tiba-tiba seraya duduk di samping Ji Hyun.

Ji Hyun mendesis pelan lalu mengalihkan pandangan pada meja di depannya. “Malas. Aku masih bisa pulang sendiri.”

Mwo? Kau tidak bersama anak itu ‘kan tadi?” tanya Jong In dengan nada dinginnya.

Dwaesseo. Kau mau apa ke sini? Mau mabuk lagi?” tanya Ji Hyun tiba-tiba dan Jong In mengangguk dengan polosnya. “Cish~, mulai sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kalau kau berani menyentuh alkohol itu.”

Wae~? Ini bar milik Luhan, aku memang suka datang ke sini,” elak Jong In, namun Ji Hyun menggeleng pelan tidak mau mendengar ucapannya.

“Luhan-ssi. Kalau Jong In datang ke sini untuk minum, kau harus telepon aku. Aku paling benci dengan orang mabuk,” protes Ji Hyun, sementara Jong In menatap tajam ke arahnya. “Apa? Atau kau mau aku pukul seperti waktu itu lagi supaya sadar?”

“Tidak,” tolak Jong In cepat. “Tapi aku mau minum sedikit saja.”

“Tidak sedikit pun, Kim Jong In,” Ji Hyun segera membalas lalu melirik Luhan yang terkikik pelan di sampingnya. “Ingat ya, Luhan-ssi. Kau harus telepon aku kalau dia mau menyentuh alkohol di sini.”

Jong In mendengus pelan dan secara refleks mencubit pipi Ji Hyun dengan cukup keras. Tidak peduli bagaimana gadis itu memekik cukup kencang. Ternyata memiliki seorang pendamping membuat hidupnya berubah hampir 180 derajat. Selalu ada yang memperhatikan hidup dan kesehatannya, selalu ada yang menyambutnya di pagi hari dan ketika pulang kerja, serta selalu ada yang bisa ia perhatikan –selain berkas perusahaan. Bisakah ia mendapatkan itu setelah enam bulan itu berakhir?

*© Ima at SKF 2014*

Ternyata benar apa yang dikatakan Jong In bahwa dunia maya jauh lebih kejam daripada dunia nyata. Akhir-akhir ini ada sebagian orang yang menyerang akun sosial Ji Hyun, mengatakan hal-hal yang tidak pantas dan bahkan mengancamnya secara terang-terangan. Apalagi setelah berita Soo Jung yang ditampar olehnya, walaupun sudah tidak ramai lagi, namun masih ada orang-orang yang membencinya dengan kasus itu.

Ji Hyun menaruh ponselnya secara asal ke samping bantal lalu mendesah napas panjang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan ia masih tetap bergelung di atas tempat tidurnya sejak pukul tujuh malam tadi sambil memainkan ponsel. Jong In mengatakan akan pulang lebih malam karena masih banyak pekerjaan di kantor. Ketika sendirian tanpa melakukan apapun, Ji Hyun merasa sangat kesepian. Ia benar-benar hanya memiliki Baekhyun, Chanyeol, dan Jong In untuk menemani hidupnya.

“Ji Hyun?” suara husky yang terdengar familiar itu tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam telinga Ji Hyun.

Ji Hyun bangkit dari tidurnya lalu menatap pintu kamarnya yang terbuka. Memang bukan yang pertama kali bagi Jong In memasuki kamarnya, namun rasanya aneh jika ia harus berdua saja di dalam kamar bersama suaminya seperti itu. Terlalu banyak hal yang bisa terjadi di dalam kamar dan Ji Hyun sudah menyiapkan ancang-ancang jika Jong In macam-macam padanya.

“Kenapa?” tanya Ji Hyun seraya menyilangkan kakinya lalu Jong In yang duduk di sisi tempat tidur di dekatnya. “Tidak jadi pulang malam?”

“Tidak. Aku bawa ke rumah pekerjaannya,” jawab Jong In seadanya. Ia kemudian memperhatikan Ji Hyun yang tengah mengusap tengkuknya, bingung harus melakukan apa. Padahal mereka tidak pernah terjebak dalam kecanggungan seperti itu.

“Jong In-ah.”

“Ji Hyun.”

Seperti di dalam drama-drama picisan ketika mereka berdua menyebutkan nama secara bersamaan. Ji Hyun mendecih pelan kemudian mengendikkan kepalanya. “Kau duluan saja.”

“Besok aku harus ke Busan,” ujar Jong In dan membuat Ji Hyun mengerutkan kening heran. “Tiga hari.”

Mwo?” tanya Ji Hyun memastikan. “Kau meninggalkanku selama tiga hari di apartemen ini?”

“Aku harus memantau perusahaan cabang di sana,” Jong In mengangkat kedua bahunya sambil menghela napas panjang. Merasa lelah dengan pekerjaan yang sangat menumpuk akhir-akhir ini. Padahal ia tidak pernah mau menginap di luar sana jika tidak terpaksa, namun lelah juga jika ia harus pulang ke Seoul setiap hari.

Ji Hyun kemudian menghela napas panjang, menyadari bahwa posisi Jong In tidak bisa digantikan oleh siapa pun di perusahaan. Apalagi pria itu susah mempercayai orang lain. “Aku ajak Chanyeol menginap di sini saja.”

Mwoya?!” protes Jong In. “Kau boleh pulang malam selama tiga hari besok, tapi tidak mengajak anak itu tidur di sini.”

Waeyo? Aku tidak mau tidur sendirian setiap malam, bodoh. Kau kira apartemenmu sekecil apa?” Ji Hyun mendengus pelan seraya memeluk bantal tidurnya, merasa kesal karena Jong In melarang sahabatnya tidur di sana.

“Tapi dia laki-laki, Ji Hyun.”

“Memangnya kenapa? Kau juga laki-laki. Chanyeol sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, aku juga sering mengajaknya menginap di apartemenku dulu.”

“MWO?!”

Telinga Ji Hyun rasanya sedikit mendengung ketika Jong In berteriak cukup keras saat menyahut ucapannya. Padahal Jong In tidak perlu sekaget itu karena Baekhyun sudah mengenal Chanyeol dan tidak pernah takut jika sahabatnya itu menginap. Lagipula mereka hanya tidur, tidak melakukan hal aneh-aneh seperti yang Jong In bayangkan –mungkin.

“Kau tidak punya teman perempuan?” tanya Jong In, kali ini pria itu ikut naik ke atas tempat tidur dan duduk bersila di hadapan Ji Hyun.

“Mereka semua munafik. Berteman denganku hanya karena Chanyeol,” Ji Hyun masih memeluk bantalnya sambil menatap iris berwarna hitam pekat milik Jong In. “Atau aku menginap di rumah Chanyeol saja.”

“Tidak, Byun Ji Hyun,” sahut Jong In cepat.

“Wae? Kenapa kau malah melarangku menginap di rumahnya juga?” protes Ji Hyun lagi. Ia melihat Jong In menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang.

“Kau sudah pernah tidur dengannya berapa kali?” tanya Jong In tiba-tiba, seolah menginterogasi istrinya –yang baru saja ketahuan selingkuh.

“Banyak. Dia sering menginap saat ayah dan ibunya dinas keluar kota, saat Baekhyun kerja lembur, saat aku sakit demam, dan setiap malam tahun baru. Kau bisa hitung berapa kali ‘kan?” Ji Hyun menjawab dengan polosnya sambil tersenyum simpul membayangkan setiap kejadian yang dilewatinya bersama Chanyeol sejak bertahun-tahun lalu.

Tidak sadar bahwa Jong In sedang berusaha menahan emosinya saat itu. Ia saja yang sudah jelas menikah dengan Ji Hyun, belum pernah tidur sekamar bersama gadis itu. Sekali pun bahkan setelah mereka hampir dua bulan menikah. Jong In tahu bahwa pernikahan mereka memang bukan atas dasar perasaan dan hanya saling membantu saja. Namun rasanya kesal juga ketika tahu istrinya sudah sering tidur bersama Chanyeol. Walaupun hanya tidur, Jong In tidak mau membayangkan bagaimana Chanyeol memeluk Ji Hyun ketika tidur bersama.

“Ah, dwaesseo. Aku mau bereskan baju di kamar,” ujar Jong In ketus kemudian beranjak dari ranjang Ji Hyun. Meninggalkan kamar itu dan membuat Ji Hyun mengernyit heran tidak mengerti.

Beberapa saat setelahnya Ji Hyun memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur lalu menyusul Jong In ke kamarnya. Padahal ia belum mengatakan apa yang ingin diberitahukannya pada Jong In tadi. Ketika membuka pintu kamar pria itu, Ji Hyun menemukan punggung kekar Jong In yang tengah memilah baju dari dalam lemari. Bahkan Jong In belum mau melepaskan kemeja hitamnya setelah seharian dipakai.

Ji Hyun duduk di sisi tempat tidur—tepat di belakang Jong In yang masih bergulat dengan pakaian di dalam lemari. Ia menyilangkan kakinya ke atas kasur lalu tidak lepas memperhatikan sosok suaminya. Dan Ji Hyun masih saja merasa geli menyebut Jong In sebagai suaminya, ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya –yang suka memukul dan mudah emosi itu bisa menikah juga.

“Kau marah ya?” tanya Ji Hyun tiba-tiba dan membuat tangan Jong In terhenti di udara seketika.

“Tidak—Yaish, kenapa melemparku?” Jong In menoleh cepat ketika sebuah bantal mendarat di bagian belakang kepalanya dan ia melihat gadis itu terkekeh pelan.

“Kenapa marah? Aku dan Chanyeol ‘kan memang bersahabat sejak kecil,” papar Ji Hyun seraya beranjak turun dari tempat tidur dan mengambil toples snack yang berada di atas meja kerja Jong In. Ia menarik kursi di meja kerja –yang berdampingan dengan lemari itu dan mulai menyantap wafer cokelat kesukaannya.

Jong In mencoba tidak mengacuhkan ucapan Ji Hyun dan kembali memilah kemeja untuk tiga hari ke depan. Namun Ji Hyun lagi-lagi melemparinya dengan potongan wafer kecil, awalnya Jong In mencoba tidak mengacuhkan namun lama-lama risih juga karena Ji Hyun selalu terkekeh setelah melemparnya.

“Neo mwo? Kau mau apa sebenarnya?” tanya Jong In gemas dan Ji Hyun lagi-lagi hanya tersenyum simpul. Sepertinya gadis itu tahu bahwa Jong In selalu menyukai senyuman manis itu.

“Jangan marah, bodoh. Kau cemburu ya?” Ji Hyun bertanya dengan sedikit menyipitkan mata, menginterogasi Jong In –yang mulai terlihat salah tingkah.

“Tidak. Jangan konyol, Ji Hyun. Aku tidak akan cemburu pada anak itu,” Jong In membawa beberapa kemeja untuk dimasukkan ke dalam koper –yang sudah dibuka di atas karpet dekat kaki Ji Hyun.

Ji Hyun tertawa pelan lalu bangkit dari kursi kerja Jong In, ia duduk di dekat Jong In yang tengah membereskan baju-bajunya di dalam koper. Namun Ji Hyun malah tidak sengaja menangkap kotak beludru berwarna merah yang terselip di kantung jaring-jaring di dalam koper itu. Ia melirik Jong In sekilas kemudian mengambil kotak itu dengan cepat lalu beranjak dari sana. Membuat Jong In tersadar dan segera mengejar Ji Hyun yang sudah berlari keluar kamar.

Ya! Jangan ambil kotaknya, bodoh!” seru Jong In seraya mengejar Ji Hyun yang turun ke lantai satu.

Ji Hyun mencoba menghindari dengan mengitari meja ruang tengah, mengecoh Jong In yang kebingungan menangkapnya. Masih tetap berusaha menghindar, Ji Hyun memasang mata elangnya mengawasi Jong In –yang bergerak ke kanan-kiri untuk menangkapnya. Ia membuka kotak beludru itu dan menemukan sepasang cincin di dalam sana.

Yaish! Jangan dibuka, Byun Ji Hyun!” pekik Jong In dan membuat Ji Hyun tersadar dari lamunan singkatnya.

Ji Hyun mendecih pelan sambil mengangkat kotak itu ke udara. “Ayo ambil sendiri, Kim Jong In.”

Sial. Jong In merutuk dalam hati ketika Ji Hyun kembali berlari mengitari seluruh sudut apartemennya di lantai satu. Mungkin karena pengaruh alkohol selama ini, Jong In rasanya mulai merasa kelelahan karena mengejar Ji Hyun yang tidak mau diam. Ia baru saja akan menyerah untuk mengejar ketika Ji Hyun terpojok di dekat lemari bawah tangga. Tanpa bisa kabur lagi karena Jong In –yang terengah sudah berjalan mendekat.

“Berikan kotaknya, bodoh,” ujar Jong In, namun Ji Hyun masih menyembunyikan kotak itu di belakang tubuhnya.

“Tidak mau. Kau sudah punya pacar ya? Pasti cincin ini untuk pacarmu,” ledek Ji Hyun dan tetap tidak menyerah walaupun Jong In semakin mendekat.

“Demi Tuhan, Ji Hyun. Ini semua bukan urusanmu, berikan kotaknya,” seru Jong In dengan nada dingin dan hanya menyisakan sedikit jarak saja dengan Ji Hyun.

Ji Hyun meneguk ludah gugup saat sosok tinggi Jong In menatapnya dan ia harus sedikit mendongak untuk itu. Jong In terlihat sangat serius, entah mantra apa yang digunakan pria itu karena Ji Hyun tiba-tiba saja menyerahkan kotaknya. Mungkin Ji Hyun harus mulai menghindari Jong In agar tidak cepat mati karena detak jantung yang menggila.

“Ini untuk seseorang.”

Ji Hyun mendengus pelan kemudian mendorong Jong In dari hadapannya. Mendengar seseorang, Ji Hyun malah membayangkan cincin itu akan diberikan pada Soo Jung namun tidak berhasil. “Ara ara. Kau harusnya memberikan cincin itu pada Soo Jung, Jong In.”

“Ah tidak, kami tidak pernah berpacaran,” ucapan Jong In membuat langkah Ji Hyun terhenti. Ia masih terdiam ketika Jong In sudah kembali berdiri di hadapannya dan Ji Hyun tidak berani mengangkat kepala untuk melihat wajah suaminya.

Jantung Ji Hyun rasanya hampir melompat keluar dari rongganya saat Jong In meraih tangan kanannya. Membuat Ji Hyun akhirnya mengangkat kepala, menatap Jong In sekilas lalu beralih pada jari manis tangan kanannya yang sudah dilingkari sebuah cincin berbahan emas putih. Dengan sebuah garis merah yang mengitari cincin itu dan deretan inisial J&J yang tidak terlalu besar di bagian atas cincinnya.

“Ini untuk istriku.”

Aigoo, kau tidak perlu repot-repot membeli cincin ini,” Ji Hyun mencoba mencairkan suasana yang mulai memanas ketika Jong In belum juga melepaskan tangannya. Apalagi pria itu terus menatapnya, seperti sedang melucuti persenjataan Ji Hyun –karena rasanya tenaga gadis itu habis untuk melawan.

Jangan salahkan Jong In atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena tangan besarnya yang lain sudah menyentuh dagu lancip Ji Hyun, mengangkat wajah gadis itu agar bisa bertatapan dengannya. Ia mengeratkan genggaman tangan Ji Hyun dan mulai mendekatkan wajahnya, tidak bisa menahan diri karena sosok Ji Hyun terlihat sangat bersinar di matanya malam itu. Mengingat apa yang sudah dilakukan Ji Hyun dan Chanyeol, setidaknya Jong In harus bisa berada satu tingkat di atas laki-laki bertelinga besar itu.

Ji Hyun tidak tahu kemana perginya semua keberanian untuk memukul dan menampar ketika deru napas Jong In semakin terasa di wajahnya. Hingga sedetik kemudian bibir tebal Jong In mendarat di permukaan bibirnya, memberikan sensasi aneh yang membuat perut Ji Hyun menggelinjang geli. Jong In melakukannya dengan sangat lembut, seolah mengerti bahwa Ji Hyun baru pertama kali melakukannya dan bisa saja terluka dengan ciuman itu. Ji Hyun bahkan hampir terhuyung ke belakang ketika Jong In mulai melumat dan menekan bibirnya, namun pria itu berhasil menangkap pinggangnya dan menarik dirinya semakin jatuh ke dalam pelukan pria berkulit hitam itu.

Dan Ji Hyun sadar bahwa apa yang diucapkan Chanyeol memang benar, tidak baik tinggal bersama seorang pria yang berstatus sah sebagai suaminya. Padahal Ji Hyun sudah mencoba tidak jatuh ke dalam pesona seorang laki-laki dengan mudahnya bahkan Jong In sekali pun.

BUGH

“Aw!” Jong In memekik pelan seraya menjauhkan wajahnya ketika pukulan cukup keras bersarang di perutnya. Ia memegangi perutnya yang terasa ngilu dan belum sempat membuka mulut saat telapak tangan Ji Hyun mendarat di pipi kanannya, meninggalkan rasa panas dan perih di sana.

“Aku membencimu, Jong In.”

Ji Hyun bahkan mendorongnya sebelum berlari ke lantai dua dan terdengar suara pintu yang dibanting sedetik kemudian. Jong In mengusap pipinya yang terasa semakin perih lalu beralih mengusap bibirnya. Bodohnya ia tidak bisa mengendalikan diri dan mencium Ji Hyun sembarangan. Padahal ia mati-matian membangun kepercayaan di hidup Ji Hyun selama ini dan malah ia sendiri yang menghancurkan tembok kepercayaan gadis itu. Jong In menjambak rambutnya sambil mengerang frustasi, Baekhyun pasti akan membencinya…

[Over Bride] Chapter 7 CUT—

Ima’s note:

Aku ga peduli lagi sama siders mau komen atau ngga heheh jangan salahin kalau nanti di protek dan kalian yg bingung 🙂

Otte? J&J couplenya?

Happy waiting~^^

 

Best Regards,

Ima

Advertisements

623 responses to “Over Bride [Chapter 7] — by IMA

  1. J&J
    joha joha 😀
    aahhh Jihyun merusak suasana :v
    kasian Jongin pan di pukul….ckckck, bener-bener gadis aneh hahaha -_-

  2. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter part 2 | choihyunyoo·

  3. Itu jihyun kenapa dah 😥 masa iya dicium ama suaminya aja nggak mau -_- kalo aku mah siap siap aja

  4. Aku readers baru..tapi aku gamau jadi siders heheh… aduuuhh..ada kissnya hahah kenapa pipi aku yg merah ngebayangin kai..nyium jihyun kkkk^^

  5. Astaga jongin !!
    Habis pegangan tangan, pelukan, dan sekarang CIUMAN??! 😲😲
    Besok apa lgiiii?? Main itu?
    Duuhh jongiiiinn jongin,,

  6. tuh kan kan kan chanyeol jihyun tuh squad goal banget deh ih iriii aku sama kayak luhan. hehehe. tapi kayaknya chanyeol naksir jihyun ya, andwaeee aku ga mau persahabatan mereka jadi kacau kak, aku suka banget interaksi chanyeol jihyun di ff ini soalnya T.T

  7. kkk… tadi komen tp gamasuk..
    kkkkk.. jongin cemburu ahem
    lol.. emang chanyeol menang banyak 😄😄
    dan.. masa lalu jongin ternyata gitu ya.. kaaian jg hm..
    dan… terakhir ini adeganx lagi romantis”x eh dirusak ama si jihyun
    wkwk jongin kelepasan 😄😳😳

  8. nahkan uda main nyosor aj kamjong :v
    tp sweet bgt wktu bilang ‘ini untuk istriku’ yaampun ‘istriku’nya itu loo bkin teriak” gaje (oke sbnernya ditahan kog teriaknya -_-)
    woo jdi selingkuhannya Soojung tu Taemin, tp kog Jongin bilang mereka gapernah pacaran?
    next ajadeh ya a, fighting!!:*

  9. ya! aish!! ngga tepat banget jihyuuuun…pas adegan manis-manisnya kenapa mesti mukul jongin siiiih..padahal aslinya juga suka kan–jihyun. aaaaiiiiihh…..

  10. Jihyun terlalu gengsi yaa kalau dia suka sama jonginnie.. Jongin aja udah terang2an kalau dari awal pun dia cemburu kalau jihyun sama chanyeol pfft sangat pelik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s