Over Bride [Chapter 8] — by IMA

OverBride

Title     : Over Bride

Author     : Ima (@kaihyun0320)

Casts      : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Other    : Lee Tae Min (SHINee), Xi Luhan (EXO)

Rating     : PG-15

Genre      : Romance, Fluff, Married Life.

Ch 1 ⌋ Ch 2 ⌋ Ch 3 ⌋ Ch 4 ⌋ Ch 5 ⌋ Ch 6 ⌋ Ch 7

© Ima at SKF 2014

Review:

 “Aku membencimu, Jong In.”

Ji Hyun bahkan mendorongnya sebelum berlari ke lantai dua dan terdengar suara pintu yang dibanting sedetik kemudian. Jong In mengusap pipinya yang terasa semakin perih lalu beralih mengusap bibirnya. Bodohnya ia tidak bisa mengendalikan diri dan mencium Ji Hyun sembarangan. Padahal ia mati-matian membangun kepercayaan di hidup Ji Hyun selama ini dan malah ia sendiri yang menghancurkan tembok kepercayaan gadis itu. Jong In menjambak rambutnya sambil mengerang frustasi, Baekhyun pasti akan membencinya…

[Over Bride] Chapter 8

Sebenarnya Ji Hyun tidak benar-benar tertidur semalaman, yang ia lakukan hanya berbaring menghadap langit-langit kamarnya dan memejamkan mata saja. Rasanya ia sudah kehilangan harta yang sudah sangat ia jaga selama ini karena berciuman dengan Jong In. Memberikan ciuman pertamanya pada seorang pria yang bahkan tidak mencintainya. Bahkan ia tidak berniat bangkit dari tempat tidur ketika Jong In mengetuk pintu di pagi hari untuk pamit berangkat ke Busan.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat ponselnya tidak berhenti berdering, menandakan telepon masuk dari Chanyeol. Harusnya ia masuk kuliah di jam sepuluh nanti, namun ia masih tetap terdiam di tempat tidur tanpa mau beranjak. Masa bodoh dengan kuliah, ia hanya ingin menyendiri karena masih shock atas apa yang sudah terjadi.

“Baekhyun-ah, palli dorawa,” Ji Hyun menggumam pelan lalu mengusap bibirnya –yang tiba-tiba terasa panas. Ia masih sangat ingat bagaimana jantungnya yang menggila dan sentuhan lembut Jong In di punggungnya. Ketika ingatan itu kembali, ia merasa bahwa sudah mengingkari janji yang sudah dibuatnya sendiri.

Ji Hyun beranjak dari tempat tidur, beringsut masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya mencoba menyegarkan diri. Setelah ini ia mungkin akan membuat toast bread untuk sarapan, menghabiskan waktu di kamar untuk bermain laptop saja. Kemudian Ji Hyun menghela napas panjang saat terdengar suara bel di apartemen Jong In, bahkan jarum-jarum jam belum menunjuk angka sepuluh dan ada tamu sepagi itu.

Chamkanman,” Ji Hyun bergumam pelan sambil berjalan gontai keluar dari kamar. Ia menuruni tangga dengan cukup cepat lalu membuka pintu depan –tanpa sempat melihat intercom.

“Kenapa tidak angkat teleponku?”

“Yeol-ah,” gumam Ji Hyun pelan.

Chanyeol mendesis pelan kemudian segera masuk ke dalam setelah mendorong Ji Hyun agar masuk juga. Gadis itu menunduk menghindari tatapannya, tidak biasanya Ji Hyun tidak bersemangat seperti itu. Chanyeol tahu ada yang tidak beres ketika sambungan teleponnya berujung dengan nada sibuk tadi pagi. Apalagi Ji Hyun tipe seseorang yang akan selalu membawa ponselnya kemana pun dan selalu mengangkat teleponnya apapun yang terjadi.

“Kau kenapa?” Chanyeol memegang kedua bahu Ji Hyun dan membuat gadis itu mengangkat kepalanya.

“Huhu Chanyeol~,” Ji Hyun malah merengek lalu memeluk Chanyeol dengan erat. Ia terus merengek kesal –tanpa mengeluarkan air mata tentu saja, ia hanya masih merasa bingung bagaimana melampiaskan kekesalannya.

Wae?” tanya Chanyeol sambil mengusap bagian belakang kepala Ji Hyun mencoba menenangkan. Ia lebih baik dipukul dan dicubit oleh Ji Hyun daripada melihat gadis itu merengek dalam pelukannya seperti itu.

“Kau menginap di sini, ya?” Ji Hyun mengangkat kepalanya lalu melepaskan pelukan itu setelah merasa puas merengek. “Jong In pergi ke Busan tiga hari.”

“Astaga. Jadi kau merengek karena Jong In pergi?” tanya Chanyeol jengah.

“Tidak. Aku sedang kesal dengan Jong In, semalam dia—..” Ji Hyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus mengatakannya pada Chanyeol atau tidak. Jika ia mengatakan secara jujur, mungkin riwayat Jong In akan habis di tangan sahabatnya itu. Oh bukan berkelahi tentu saja.

“Jong In kenapa?”

Dwaesseo. Aku hanya sedang kesal. Ya! Kenapa kau tidak kuliah?” Ji Hyun kembali bertanya sambil menarik tangan Chanyeol menuju ruang tengah.

Chanyeol sebenarnya ingin mendesak Ji Hyun agar mau menceritakan semuanya. Biasanya gadis itu tidak pernah menutupi apapun, termasuk munculnya perasaan aneh pada suaminya sendiri. Chanyeol tidak pernah menduga bahwa Ji Hyun akan secepat itu menyukai Jong In, sementara mereka bahkan bersahabat lebih dari sepuluh tahun dan Ji Hyun hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Dan yang menjadi pertanyaan Chanyeol –lagi, padahal Baekhyun mengenalnya dengan sangat baik namun malah menikahkan Ji Hyun dengan orang baru yang tidak diketahui asal-usulnya.

Beberapa saat kemudian setelah duduk di sofa, Chanyeol menyadari ada yang berubah dari sahabatnya. Ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kanan Ji Hyun serta pipi yang merona merah ketika melihat daerah sekitar ruang tengah. Apa yang sudah terjadi pada gadis itu sebenarnya.

Mwoya? Kenapa wajahmu merah begitu hah?” goda Chanyeol dan ia berhasil mendapat sebuah pukulan keras di tangannya. “Ya! Cish, pasti kau ingat cara Jong In memberikan cincin itu ‘kan?”

Molla,” jawab Ji Hyun singkat seraya menyalakan televisi di ruang tengah. Ingatan menyebalkan –dan memalukan itu kembali memporak-porandakan kepalanya dan membuat wajahnya memanas lagi.

Ji Hyun kemudian mengangkat tangan kanannya, memperhatikan detail cincin yang sangat pas di jarinya itu. Lingkaran garis merah di bagian tengah cincin itu  terlihat bukan sebagai hiasan saja, ia berpikir bahwa garis merah itu adalah darah milik Jong In. Oh, mungkin ia terlalu banyak berkhayal mengingat bagaimana Jong In sedikit mengurangi sikap dinginnya akhir-akhir ini. Pria itu lebih sering mencubit pipinya –juga dan tertawa karena sedikit lelucon yang dibuatnya. Kenapa ia malah memikirkan pria menyebalkan itu?

Aigoo, sekarang kau malah senyum-senyum sendiri. Astaga~, sahabatku sudah gila—Aduh, ya! A—ah jangan cubit tanganku, bodoh,” pekik Chanyeol ketika Ji Hyun memelintir kulit lengannya dengan sekuat tenaga.

“Jangan meledekku terus!”  seru Ji Hyun lalu melepaskan tangannya.

Chanyeol masih meringis sambil mengusap lengan atasnya. Tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Ji Hyun sejak tadi. Padahal mereka jarang mendapat waktu berdua seperti itu lagi dan pikiran gadis itu tidak berada di sana bersamanya. Mungkin memang telah terjadi sesuatu pada Jong In dan Ji Hyun semalam, atau Jong In yang mengutarakan perasaannya juga sembari menyerahkan cincin tu. Entahlah, Chanyeol malas membayangkannya.

“Ah iya,” Ji Hyun kembali menoleh pada Chanyeol dan membuat pria itu mengangkat kedua alisnya –bertanya. “Kenapa kau tidak kuliah? Aku ‘kan mau titip absen, Yeol-ah.”

Dwaesseo. Kau baru pertama kali tidak masuk di kelas ini. Kau belum dapat surat peringatan seperti mata kuliah yang lainnya.”

Ji Hyun hanya menghela napas panjang ketika ia tidak bisa membolos lagi pada mata kuliah yang lain dan itu berarti ia harus masuk kuliah besok. Untuk kuliah siang nanti ia akan titip absen saja pada Chanyeol, ia masih belum siap keluar rumah dan tersenyum pada orang-orang di luar sana. Rasanya ia ingin tenggelam ke laut saja daripada harus bertemu Jong In tiga hari lagi dan membuat ingatan itu kembali.

“Kau menyukai Jong In?” tanya Chanyeol tiba-tiba, membuat Ji Hyun kembali menatap sahabatnya.

“Tidak. Kenapa aku menyukainya? Dia menyebalkan,” jawab Ji Hyun seadanya sambil mengalihkan pandangan dan mengambil toples snack di atas meja.

“Menyebalkan? Tapi wajahmu tidak menunjukkannya,” sahut Chanyeol saat ia malah menemukan semburat merah yang muncul di sana. “Kau sendiri yang bilang kalau jantungmu berdetak aneh saat dekat dengan Jong In. Kau menyukainya?”

“Tidak, Park Chanyeol. Kau bilang aku hanya mengaguminya, mungkin itu lebih tepat. Aku tidak mau menyukainya.”

“Tidak mau?” Chanyeol mengulang kembali ucapan sahabatnya. “Itu berarti kau mulai menyukai Jong In, bodoh.”

“Jangan mendesakku, Yeol-ah!” Ji Hyun memukul pelan lengan atas Chanyeol seraya mendesis pelan tidak suka.

“Apa kalian sudah berciuman?”

“Kau mau mati hah?” tanya Ji Hyun kesal sambil mengangkat tangannya yang berisi toples untuk memukul Chanyeol. Tanpa sadar wajahnya malah memanas, kejadian semalam itu masih terekam jelas dan ia tidak bisa melupakan wajah tampan Jong In yang menatapnya dalam jarak dekat. Astaga, apa ia baru saja memuji ketampanan Jong In?

Chanyeol mendapati Ji Hyun yang malah melamun dan menggantungkan tangannya di udara. “Kenapa diam? Kalian sudah pernah bercium—.”

DUAK

YA!” Chanyeol memekik hebat saat toples plastik itu membentur kepalanya. Ia hanya bisa meringis dan mengusap kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Sementara Ji Hyun meletakkan kembali toples itu di atas meja dengan anggun dan polosnya seolah tidak terjadi apa pun.

“Kalau kau masih mau hidup, jangan menggodaku lagi.”

***

Jalanan kota Seoul tidak begitu padat sore itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu terlihat melaju di jalanan Cheongdam dengan hati-hati. Sang penumpangnya memakai kacamata hitam bermerk internasional serta pakaian mewah yang baru dibelinya dari peragaan busana di Paris beberapa hari lalu. Bukan sesuatu yang mahal bagi wanita paruh baya bermarga Kwon yang menikah dengan seorang pengusaha besar Korea Selatan. Kim Jae Hyun.

Nyonya Kim menghirup napasnya dalam-dalam setelah memutuskan untuk sejenak meninggalkan Tokyo dan menjenguk anaknya. Walaupun ia tahu bahwa Jong In sedang pergi ke Busan untuk memantau proyek yang sedang dijalankan di sana. Sebenarnya nyonya Kim ingin bertemu dan bertatap muka dengan istri dari anak semata wayangnya, hanya berdua saja. Jika ada Jong In, maka anaknya itu akan berusaha melindungi istrinya dan malah memojokkan nyonya Kim. Sebuah kesempatan langka ketika ia berhasil mengirim Jong In ke Busan dan ia bisa leluasa berbicara dengan gadis itu.

Langkah nyonya Kim terhenti di depan pintu apartemen Jong In. Sambil membetulkan posisi kacamata hitamnya, nyonya Kim menekan bel dan menunggu beberapa menit sampai pintu di hadapannya itu terbuka. Ia melihat wanita dengan celana pendek dan kaus lusuh tengah berdiri di hadapannya, rambut hitam gadis itu dikuncir satu dan mulut yang penuh dengan makanan.

Eoh,” Ji Hyun dengan cepat menelan semua wafer cokelat di mulutnya lalu membungkuk dalam pada nyonya Kim. “Annyeonghaseyo, eomonim. Silakan masuk.”

Tanpa mengucapkan apapun, nyonya Kim melangkah masuk melewati Ji Hyun di ambang pintu. Keningnya berkerut tidak suka ketika menemukan meja ruang tengah apartemen berantakan oleh bungkus snack.

Eomonim mau minum apa?” tanya Ji Hyun mencoba menjaga sopan santunnya lalu menahan napas kaget ketika melihat ruang tengah yang berantakan. Ia segera membereskan sampah-sampah di meja dan sofa lalu membawanya ke tempat sampah.

Selama dua hari ditinggal Jong In, Ji Hyun tidak beranjak dari sofa dan menghabiskan harinya dengan menonton film saja. Oh kecuali tadi pagi dan siang ketika ia harus datang ke kampus untuk menghadiri kelas lalu segera kembali ke apartemen untuk melanjutkan kegiatannya lagi. Chanyeol tidak bisa menginap karena ibunya sedang sakit, jadi ia menguasai ruang tengah sejak kemarin.

“Air putih saja,” jawab nyonya Kim lalu duduk di sofa setelah sampah-sampah dibereskan dari sana.

Ji Hyun mengangguk singkat kemudian mengambil segelas air putih dari dapur. Ia berkali-kali menghela napas panjang, mempersiapkan diri agar tidak terpancing emosi saat berbincang dengan ibunya Jong In itu. Mengingat bagaimana sikap dingin nyonya Kim yang tidak pernah menyukainya sejak pertama kali bertemu. Ia duduk bersebelahan dengan nyonya Kim setelah meletakkan gelas berisi air di atas meja ruang tengah itu.

“Jong In sedang pergi ke Busan sejak kemarin. Eomonim ada perlu apa?” tanya Ji Hyun mencoba bersikap ramah.

Nyonya Kim melepas kacamata hitamnya, ia menatap Ji Hyun sekilas lalu mendecih pelan. “Aku bukan mau bertemu Jong In. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Apa ada hal penting?”

“Banyak, Ji Hyun-ssi. Aku tidak suka Jong In ada di sini dan selalu membelamu. Aku ingin mengatakannya langsung agar kau sadar.”

Ji Hyun tahu bahwa sampai kapan pun nyonya Kim tidak akan pernah menyukainya karena pernikahan itu. Wanita miskin sepertinya selalu tidak pantas bersanding dengan pria kaya yang seorang presiden direktur seperti Jong In. Lagipula ia hanya menikah sementara dengan Jong In, hanya enam bulan saja.

“Kau tahu kalau Jong In membuat identitas baru tentangmu di luar sana,” nyonya Kim menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa lalu memperhatikan Ji Hyun yang tengah melihat ke arah lain. “Aku bukan seseorang yang akan pura-pura tidak tahu dan diam saja karena masalah ini. Banyak yang sudah kulakukan untuk menyelidiki kalian.”

“Aku tahu kau membantu Jong In karena permintaan kakakmu. Tapi aku heran kenapa wanita miskin sepertimu mau menerima pernikahan yang jelas-jelas akan sangat merugikan Jong In dari berbagai sisi. Karenamu banyak berita buruk tentang perusahaan kami, apalagi sejak kau memukul anak tuan Jung waktu itu. Sejak awal aku tahu kalau kedatanganmu hanya akan membawa bencana.”

“Berhenti mengganggu hidup Jong In dari sekarang. Aku janji akan mencari kakakmu secepat mungkin dan memberikanmu uang banyak agar kalian bisa hidup di luar sana. Jangan besar kepala, aku hanya mencoba menyelamatkan perusahaanku agar tidak semakin terpuruk karenamu.”

Ucapan nyonya Kim bahkan tanpa basa-basi dan membuat hati Ji Hyun mencelos. Nyonya Kim bahkan akan membayarnya agar pergi dari hidup Jong In. Apa ia terlihat semurahan itu? Kenapa dunia tidak pernah berpihak padanya?

“Ah atau Jong In sudah membayarmu agar mau menjadi istrinya? Aku akan berikan uang sebanyak yang kau minta,” ujar nyonya Kim menambahkan.

“Kenapa kau sangat membenciku?” tanya Ji Hyun akhirnya. Merasa jengah karena nyonya Kim terus mendesaknya untuk meninggalkan Jong In.

“Pertanyaan yang sangat bagus, Ji Hyun­-ssi,” jawab nyonya Kim seraya tersenyum simpul. “Aku tidak tahu kenapa Jong In memilih wanita miskin sepertimu dibandingkan wanita cantik dan elegan yang selalu aku tawarkan. Karenamu, perusahaanku semakin tidak maju dan terpaksa melepaskan para investor yang kecewa atas keputusan Jong In. Kalau memang pernikahan ini agar ia tidak diturunkan menjadi general manager, lebih baik dia tidak menikah saja dan posisinya tetap seperti sekarang. Dan karena sikapmu yang temperamental dan suka memukul orang lain.”

“Terlalu banyak yang harus dijabarkan jika aku menyebutkan semua alasannya. Karena aku tidak pernah tahu apa alasan sebenarnya Jong In menikahimu.”

Mungkin apa yang dikatakan nyonya Kim tidak ada yang salah mengenai dirinya. Padahal ia hanya mau memenuhi permintaan Baekhyun dan membantu Jong In saja. Namun ia tidak pernah menyadari bahwa masih banyak yang memperhatikannya di luar sana selain Jong In dan Baekhyun. Terlalu banyak yang dipertaruhkan karena pernikahan mereka.

“Aku tidak akan pergi sampai Jong In yang memintanya,” ujar Ji Hyun cepat. Ia harus tetap kuat berdiri sampai akhir.

Tch. Apa kau mulai menyukai Jong In sekarang? Kau harus sadar dimana posisimu, nona Byun. Walaupun Jong In yang membawamu dan walaupun Jong In menyukaimu, aku tetap tidak akan menerima pernikahan kalian apapun yang terjadi. Sadarlah dimana harusnya kau berdiri, bukan di sisi anakku,” ucap nyonya Kim dingin.

“Aku tidak akan mengingkari janji yang kubuat sendiri. Kalau belum ada alasan untukku pergi dari sini sebelum semuanya berakhir, aku tidak akan meninggalkan Jong In,” Ji Hyun tidak mengerti kenapa bibirnya mengucapkan hal yang berlawanan dengan otaknya. Padahal ia bisa saja mengatakan bahwa ia dengan senang hati pergi dari sana dan tidak terikat lagi dengan Jong In. Namun semuanya berbeda.

Nyonya Kim memakai kacamata hitamnya kembali lalu berdiri dari sofa bahkan tanpa sempat menyentuh minumnya. “Aku hanya mengingatkan. Jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu padamu atau bahkan Baekhyun suatu saat nanti.”

Mwo? Kenapa kau bisa tahu Baekhyun?” tanya Ji Hyun tidak sabar seraya berdiri dan mencoba menatap nyonya Kim di balik kacamata hitamnya.

“Aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa kau bayangkan, Ji Hyun-ssi. Mungkin aku bisa menemukan Baekhyun besok pagi, jadi tolong pikirkan ucapanku tadi.”

“Jangan pernah sentuh Baekhyun! Dia keluargaku satu-satunya, tolong jangan sakiti dia, eomonim,” Ji Hyun tahu bahwa ia tidak seharusnya memohon pada orang yang sudah meremehkannya. Namun ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara melindungi Baekhyun di luar sana. Ia takut jika Baekhyun meninggalkannya dan tidak kembali lagi.

“Aku tidak janji.”

Detik berikutnya nyonya Kim berjalan melewatinya dan menuju pintu depan tanpa mengucapkan apapun. Ji Hyun menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa lalu mengusap wajah frustasi. Bagaimana bisa ia masuk ke dalam jerat kehidupan Jong In yang sangat penuh dengan ancaman. Kenapa Baekhyun tidak memberitahunya mengenai hal ini lebih awal? Ia tidak harus terjebak dengan janji yang sudah dibuatnya dan keselamatan Baekhyun di luar sana.

*© Ima at SKF 2014*

Sudah lewat dari tengah malam ketika Ji Hyun tidak bisa tidur di dalam kamarnya sendiri. Ia sudah mencoba menghubungi Chanyeol agar menemaninya, namun sepertinya pria itu sudah tidur lebih awal. Jadi Ji Hyun hanya terduduk sambil bersandar di kepala tempat tidur, meratapi ponselnya yang bahkan tidak ada satu pun pesan dari orang lain. Bahkan Jong In sekali pun. Walaupun ia sedang marah pada pria itu, harusnya Jong In berusaha menghubunginya dan meminta maaf.

Ji Hyun mendengus pelan saat rasa amarahnya perlahan luntur dan mulai merindukan kehadiran Jong In di apartemen itu setelah dua hari merasa sendirian di sana. Mengingat ucapan nyonya Kim tadi sore, rasanya ia belum bisa meninggalkan Jong In jika Baekhyun belum benar-benar kembali. Mungkin benar bahwa ia mulai menyukai kehadiran Jong In –seperti Baekhyun dan Chanyeol di hidupnya. Entahlah, Ji Hyun tidak pernah mengerti dengan perasaannya sendiri.

Ji Hyun kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas lalu beringsut menuruni tempat tidur. Ia berjalan pelan keluar dari kamar lalu menatap pintu lain yang berseberangan dengan kamarnya. Kamar dimana Jong In harusnya beristirahat dan menghabiskan sisa waktu di malam hari setelah bekerja. Biasanya ia akan mengajak Jong In berbincang mengenai bermacam hal di dalam sana hingga hampir larut dan Ji Hyun yang kembali ke kamarnya.

Tanpa sadar Ji Hyun membuka pintu kamar itu, ia menyalakan saklar lampu dan memperhatikan setiap sudut kamar yang terlihat sangat rapi. Bahkan tempat tidur berseprai abu itu terlihat rapi tanpa kerutan sedikit pun. Menggoda Ji Hyun berjalan mendekat lalu segera berbaring di atas kasur Jong In dan menatap langit-langit kamar yang dipenuhi tempelan bintang-bintang yang bisa menyala dalam gelap. Tidak bisakah Jong In segera kembali ke sana, Ji Hyun berjanji akan melupakan kejadian dua hari lalu dan tidak marah lagi pada pria itu. Ia seperti orang bodoh karena merasa kesepian sendiri.

Entah kenapa Ji Hyun mulai merasakan kantuk ketika menyentuh bantal yang dipenuhi wangi tubuh Jong In itu. Ia menghirupnya dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan tidak mengingat ancaman dari nyonya Kim. Hingga sedetik kemudian rasa kantuk itu berubah menjadi alam mimpi yang membuatnya nyaman, tanpa peduli lampu yang masih menyala dan suara berisik entah dari mana.

“Ji Hyun?” suara berat dan husky yang amat familiar itu tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam kamar. Sosok sang pemilik kamar itu berdiri di ambang pintu, menatap seorang wanita yang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.

Jong In menarik kopernya ke dekat lemari, ia segera mengganti pakaian kerjanya dengan kaus dan celana pendek selutut. Sebenarnya ia masih harus berada di Busan satu hari lagi, namun rasanya tidak enak meninggalkan Ji Hyun dalam keadaan marah seperti itu. Jadi ia menitipkannya pada orang kepercayaan di kantor pusat setelah menyelesaikan tugas utamanya di sana.

“Apa kau benar-benar tidur?” tanya Jong In seraya duduk di sisi tempat tidur dan menatap wajah polos Ji Hyun.

Mungkin Ji Hyun akan semakin marah ketika menemukan Jong In yang sudah berbaring berhadapan dengan gadis itu. Tangan Jong In perlahan terangkat untuk menyibakkan helaian rambut pendek yang menutupi sebagian wajah Ji Hyun. Ketika sedang tidur seperti itu, mungkin orang lain tidak akan menyangka bahwa gadis itu termasuk temperamental dan suka memukul orang lain.

Jong In tidak peduli lagi Ji Hyun akan semakin marah atau tidak, ia hanya merindukan gadis itu setelah dua hari pergi dan meninggalkan apartemen. Ia semakin mendekat agar bisa memeluk tubuh kecil Ji Hyun dan menaruh kepala gadis itu di dada bidangnya. Biarkan ia menghabiskan malamnya bersama Ji Hyun untuk menebus rasa bersalahnya karena mencium sembarangan kemarin.

“Kau pasti masih marah padaku,” gumam Jong In seraya mengusap punggung Ji Hyun dengan lembut, menyalurkan ketenangan agar gadis itu semakin nyaman. Ia tidak ingat kapan terakhir kali memiliki rasa ingin melindungi seperti itu selain pada Soo Jung beberapa tahun lalu. Sampai sekarang ia tidak mengerti, perlindungan yang diberikannya pada Ji Hyun hanya sebagai pertanggung jawaban pada Baekhyun atau sebagai seorang suami terhadap istrinya. Jong In masih tidak mengerti.

“J-Jong In?” tanya Ji Hyun ragu dan membuat Jong In terkesiap kaget. Ia segera melepaskan pelukannya dan menjauhkan diri –walaupun masih berbaring bersama gadis itu. “Kau sudah pulang?”

Keurae.

Ji Hyun mengubah posisinya menjadi duduk sambil mengusap kedua matanya yang terasa kering. Mungkin ia harus mencubit diri sendiri karena bermimpi Jong In sudah pulang malam itu dan memeluknya tadi. Jika tidur di kamarnya sendiri mungkin ia tidak akan berhalusinasi tidur bersama Jong In lagi.

“Kau mau kemana?” tanya Jong In heran ketika melihat Ji Hyun akan turun dari tempat tidur. Gadis itu menoleh masih sambil membuka setengah matanya.

“Kamar. Sepertinya aku bermimpi kau pulang,” ucap Ji Hyun melantur dan baru saja akan beranjak dari sana saat Jong In bergerak cepat memeluk gadis itu dari belakang. Melingkarkan tangannya pada perut Ji Hyun yang sudah berdiri membelakanginya sementara ia berlutut di atas tempat tidur.

“Maaf, Ji Hyun-ah. Aku tidak bisa mengendalikan diri,” ujar Jong In tulus.

Terselip nada bersalah di dalam nada bicara Jong In dan entah kenapa membuat Ji Hyun merasa tersentuh juga. Saat itu ia sadar bahwa kedatangan Jong In bukan hanya di dalam mimpi. Bagaimana mungkin hangatnya tubuh Jong In sangat terasa di dalam pelukan itu jika bukan kenyataan.

“Tolong jawab, Ji Hyun. Aku benci kau yang diam seperti ini, ayo pukul atau tampar aku saja kalau itu bisa membuat kata maafku berguna,” titah Jong In ketika tidak mendapatkan jawaban apapun dari istrinya.

“Aku membencimu, Jong In.”

“Aku juga membencimu, Ji Hyun. Terima kasih sudah memaafkanku,” Jong In mengabaikan semua ucapan Ji Hyun dan ia segera berpijak ke atas karpet kamarnya untuk menyetarakan tinggi dengan Ji Hyun. Ia memutar tubuh gadis itu menghadapnya dan menemukan kedua mata yang berkaca-kaca di sana. “Neo wae?”

PLAK

Jihyun tidak benar-benar menampar Jong In sebenarnya. Ia heran kenapa pria berambut cokelat di hadapannya itu selalu tidak bisa membuatnya benar-benar marah. Pada akhirnya ia akan kembali patuh dan memaafkan Jong In atas semua yang sudah dilakukannya. Ia melihat Jong In tersenyum miring lalu mencubit kedua pipinya dengan cukup keras. Membuat Ji Hyun mau—tidak—mau tersenyum lebar dan balas mencubit kedua lengan kekar pria itu.

.

“Kenapa kau pulang cepat hah?”

Jong In dan Ji Hyun sudah duduk berhadapan di atas tempat tidur dengan tangan yang saling bertautan. Jong In memainkan cincin yang melingkar di jari manis Ji Hyun dan terkadang menaruhnya bersebelahan dengan tangan kanannya yang juga memiliki cincin yang sama.

“Karena kau marah. Jadi aku tidak bisa bekerja dengan baik di sana,” jawab Jong In datar.

“Ibumu tadi datang,” ucapan Ji Hyun berhasil membuat Jong In mengangkat kepala dan menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Bertanya secara non verbal.

“Dia sudah tahu semuanya tentang pernikahan kita. Dan dia menyuruhku untuk segera pergi dari sini sebelum sesuatu terjadi padaku atau Baekhyun. Dia mengancam akan mengganggu hidup Baekhyun kalau aku tidak cepat pergi dari hidupmu,” sejak dulu Ji Hyun tidak pernah mau memendam apa yang dirasakannya, jadi ia mengatakannya secara terang-terangan pada Jong In.

Terlihat kening berkerut yang muncul di wajah Jong In dan sebuah helaan napas panjang. Ternyata ibunya tidak pernah mau menyerah dan sengaja menyerang Ji Hyun ketika ia sedang tidak berada di rumah. Beruntung Ji Hyun bukan seseorang yang lemah dan bisa melawan nyonya Kim tanpa rasa takut. Walaupun ia khawatir jika Ji Hyun melakukan hal aneh-aneh pada ibunya itu.

“Aku tidak memukulnya, Jong In. Tenang saja,” ujar Ji Hyun seolah tahu arti dari raut kekhawatiran Jong In. “Aku takut ibumu benar-benar melukai Baekhyun.”

Anhi, maldo andwae. Aku akan pastikan eomma tidak melakukan hal aneh pada Baekhyun atau dirimu, Ji Hyun-ah,” Jong In menepuk puncak kepala Ji Hyun dengan sebuah senyuman simpul yang bisa menenangkan hati.

Selalu saja. Senyuman bak malaikat yang dimiliki Jong In selalu bisa meredakan amarah dan kekhawatirannya. Begitu pun sebaliknya, tatapan tajam Jong In selalu bisa menahan emosinya agar tidak meledak dan selalu patuh pada laki-laki itu. Mungkin Jong In memang benar-benar diciptakan untuknya.

***

Hari yang terasa sibuk bagi Jong In ketika berita lain mengenai Ji Hyun mulai terungkap ke media. Sudah banyak yang menduga-duga bahwa Ji Hyun bukanlah seorang anak pengusaha China –seperti yang Jong In katakan. Banyak yang mengaku teman kampus gadis itu dan mengatakan bahwa Ji Hyun hanya seorang berandalan yang suka memukul orang. Namun lagi-lagi, berita itu menghilang beberapa hari kemudian tanpa ada kejelasan apapun. Hal itu berpengaruh terhadap para investor perusahaannya yang mulai terlihat ragu untuk mempercayai perusahaan Jong In.

Tapi bukan seorang Kim Jong In jika ia menyerah begitu saja.

Upaya yang dikerahkannya berhasil menarik para investor itu kembali. Bahkan ada beberapa investor baru yang mengetahui prestasi perusahannya –walaupun harus melalui berita buruk menyangkut Ji Hyun dulu. Ia semakin merasa bahwa Ji Hyun ternyata tidak memberikan pengaruh buruk apapun, kecuali hubungannya dengan Tuan Jung dan hubungan perusahaan mereka. Jong In hanya mengambil positifnya saja tanpa mau mempermasalahkan laki-laki paruh baya itu.

Jong In tidak benar-benar menekuni berkas perusahaannya ketika pintu ruangannya diketuk dari luar. Ia bergumam pelan menyuruh sosok itu masuk, dan keningnya berkerut heran saat melihat Tae Min dan Luhan muncul dari sana. Membawa sebuah tas plastik besar berisi makanan yang ditaruh di meja, disusul tubuh mereka yang juga terhempas di sofa. Jong In melipat mapnya kembali lalu menghampiri kedua sahabatnya itu.

Mwo? Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?” tanya Jong In heran lalu duduk di sofa single yang disiapkan untuk dirinya bersebelahan dengan sofa yang kedua sahabatnya duduki.

“Di apartemenmu tidak ada orang, jadi kita ke sini daripada harus sia-sia keluar rumah,” jawab Tae Min seraya menghembuskan napas panjang.

“Kata Tae Min, Ji Hyun suka makan. Jadi kita beli banyak makanan untuknya,” tambah Luhan, namun Jong In hanya menatap dingin ke arahnya. “Ah, untukmu juga. Hehe.”

Gomawo. Kebetulan aku tidak sempat makan siang tadi,” Jong In tersenyum simpul lalu mengambil tas plastik itu dan mengambil makanan apapun yang ia temukan.

Ya. Itu untuk Ji Hyun, Jong In-ah,” protes Tae Min, berusaha merebut tas plastik itu namun Jong In menjauhkannya agar tidak dijangkau oleh sahabatnya.

“Ji Hyun ‘kan istriku, miliknya jadi milikku juga. Wae? Kau tidak suka?” Jong In bertanya dengan nada dinginnya dan Tae Min hanya mendengus pelan sambil duduk kembali di sofa.

“Tapi ‘kan hanya untuk status saja. Kau juga hanya menganggap Ji Hyun sebagai tanggung jawab selama Baekhyun pergi,” Tae Min mengerucutkan bibirnya sambil mengomel pelan, sedangkan Jong In pura-pura tidak mendengar ucapan itu dan memakan roti yang berhasil ditemukannya.

Luhan menoleh sebentar ke arah Tae Min, merasa kaget karena Tae Min sudah tahu tentang semuanya. Namun melihat Jong In yang biasa saja, sepertinya laki-laki itu sudah tidak mempermasalahkannya.

“Kau menyukai Ji Hyun ‘kan?”

“UHUK! UHUK!” Jong In segera memukul-mukul dadanya karena terdesak roti ketika ucapan Tae Min terlontar padanya. Ia bergegas ke meja kerjanya dan meneguk air putih yang selalu tersedia di sana.

Apa sifatnya begitu mudah terbaca di mata Tae Min? Padahal ia selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu dengan tidak terlalu memberi perhatian pada Ji Hyun. “Tidak.”

“Bohong. Kau tidak pernah sepanik itu saat pacarmu hilang dulu. Ayo jujur,” desak Tae Min, sementara Luhan hanya menopang sikunya pada paha sambil memperhatikan sang presiden direktur itu. Mengingatkan kembali pada kejadian pesta perusahaan dimana Ji Hyun menghilang dan membuat Jong In kalang kabut.

Jong In menggeleng pelan, mengelak. “Aku bertanggung jawab karena Baekhyun, Lee Tae Min. Tidak lebih.”

“Kenapa kau sangat menghormati Baekhyun? Kita bahkan tidak kenal siapa laki-laki itu,” Tae Min melipat tangan di depan dada, tidak mengerti kenapa Jong In sangat bersikeras dengan ucapannya.

“Aku kenal. Dia kerja di barku,” ralat Luhan dan Tae Min memutar bola matanya.

Keurae. Hanya aku yang tidak kenal di sini. Jadi…. Kenapa kau bersikeras kalau Ji Hyun adalah tanggung jawabmu karena Baekhyun?” tanya Tae Min, membuat Jong In hanya bisa menghela napas panjang. Tae Min terlalu pintar untuk dibohongi olehnya dan ia tidak pintar menyembunyikan rahasia pada kedua sahabatnya itu. Menghabiskan masa kecil bersama Tae Min dan Luhan memang membuatnya menjadi bagian hidup mereka juga.

Jong In kembali menghela napas. “Aku memberikan Baekhyun sejumlah uang agar dia mau menyerahkan adiknya. Baekhyun tidak menolaknya karena ia sedang membutuhkan uang juga waktu itu .”

“Kau membeli Ji Hyun?” tanya Luhan tidak percaya.

Hanya anggukan pelan yang bisa Jong In berikan. “Aku membayar Baekhyun agar Ji Hyun bisa menjadi istriku, ia juga bilang sudah tidak sanggup merawat Ji Hyun lagi karena sikap gadis itu yang sudah kelewatan. Mungkin menyewa lebih tepat, Baekhyun akan kembali lagi untuk menggantikan uangku enam bulan lagi. Dengan perjanjian bahwa Baekhyun akan membawa adiknya nanti tanpa ada luka atau penolakan setelah ia melunasi hutangnya.”

“Ji Hyun pasti akan membencimu saat tahu ini, Jong In,” ujar Luhan kemudian seraya menggelengkan kepala. “Kau menghargai Ji Hyun yang sangat baik hanya dengan uang.”

“Jadi… Kau ingin menjaga Ji Hyun karena ingin uangmu kembali dengan utuh?” Tae Min kembali bertanya, kali ini dengan nada tajam tidak suka. Tidak habis pikir bahwa sahabatnya berubah menjadi sangat picik seperti itu.

“Aku sangat terdesak. Kalian tahu bagaimana ancaman ibuku waktu itu dan hanya Ji Hyun yang kutemukan,” ujar Jong In membela diri.

“Kau egois, Jong In. Sangat egois,” Luhan merasa bahwa Jong In yang dikenalnya sekarang sangat tamak dan hanya memikirkan jabatan di perusahaan saja. “Itu sama saja kau merendahkan Ji Hyun.”

“Tolong jangan beritahu Ji Hyun tentang ini. Biar aku yang memberitahunya nanti.”

“Ini salah, Jong In,” Tae Min menyela dengan cepat lalu mengusap wajahnya frustasi. “Ji Hyun menyukaimu, dia menangis saat kau membela Soo Jung waktu itu, dan kau hanya menganggapnya sebagai tanggung jawab karena Baekhyun.”

Jong In hampir kehilangan momen untuk menarik napas ketika mengetahui kenyataan lain yang didengarnya dari Tae Min.

“Kau akan sangat menyakitinya, bodoh,” tambah Luhan lalu beranjak dari sofa bersama Tae Min.

“Kita akan tutup mulut mengenai masalah ini. Kau yang bertanggung jawab memberitahu Ji Hyun,” Tae Min menghela napas panjang kemudian segera meninggalkan Jong In sendirian di dalam ruang kerjanya.

Mungkin jika ada predikat orang paling jahat di Korea, Jong In bisa masuk ke dalam kategori itu. Terlalu cepat bagi Jong In untuk menerima kenyataan bahwa wanita seperti Ji Hyun menyukai pria dingin sepertinya. Padahal ia sudah berusaha untuk menolak mati-matian perasaan aneh yang selalu muncul di dadanya saat melihat gadis itu. Namun ternyata Ji Hyun memiliki perasaan yang sama.

Jong In mengacak rambutnya sambil menggeram pelan. Kenapa perjanjiannya dengan Baekhyun terasa semakin sulit? Ia tidak mau menyakiti Ji Hyun dengan keadaan yang sebenarnya. Belum lagi emosi Ji Hyun yang sangat labil dan bisa dipastikan bahwa di antaranya atau Baekhyun bisa masuk rumah sakit ketika gadis itu mengetahuinya. Tapi bukan itu masalahnya. Ia sudah bersumpah dan berjanji akan melepaskan Ji Hyun saat enam bulannya berakhir dan tidak akan menyukai gadis itu.

Tentu akan menjadi hal yang sulit bagi Jong In nanti dengan kenyataan seperti itu.

***

Melewati hari terakhir ujian dengan kepala pening dan blank. Ji Hyun tidak pernah menduga bahwa soalnya akan sesulit itu hingga membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa dan mengisi seadanya saja. Mungkin jika beruntung ia akan mendapatkan nilai C pada mata kuliah Interpretasi itu. Salahkan Chanyeol yang tidak bisa sekelas padanya hingga ia harus berusaha sendirian mengisi jawaban sambil menahan kesal karena Soo Jung yang duduk di hadapannya.

Yang membuatnya semakin kesal adalah karena Jong In akan pulang malam dan meninggalkannya sendirian lagi di apartemen. Jadi Ji Hyun akan menghabiskan malam itu dengan jalan-jalan bersama Chanyeol saja. Hanya sahabatnya yang setia menemani saat Ji Hyun butuh hiburan setelah melewati dua minggu masa ujian akhir.

“Ayo ke Hongdae,” ajak Ji Hyun cepat seraya menggamit lengan Chanyeol di sebelahnya.

“Tidak mau,” Chanyeol melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, mereka masih berjalan-jalan di sekitar Kyung-hee dan ia tidak membawa mobilnya tadi siang.

Terdengar suara dengusan pelan yang dikeluarkan Ji Hyun. “Kau tega membiarkanku jalan sendirian? Kau tidak menyayangiku lagi.”

“Aku tidak akan tergoda lagi, Ji Hyunaa,” jawab Chanyeol seraya memutar bola matanya. Gadis itu terdengar menyebalkan ketika sedang merajuk dan mungkin sebentar lagi akan memberikan cubitan keras di perutnya.

“Aku anggap itu setuju,” Ji Hyun tetap memaksakan keinginannya sambil menyeret Chanyeol berbelok ke sebuah jalan kecil. “Ini jalan pintas ke Hongdae, kita akan keluar di dekat gallery cafe nanti.”

Ya! Kenapa kita tidak naik taksi saja? Kenapa harus lewat jalan gelap ini?” protes Chanyeol, saat Ji Hyun tetap menariknya melewat gang kecil yang banyak tergenang air dan hanya mendapat penerangan dari cahaya bulan saja.

“Aku sering lewat sini dulu. Tenang saja, tidak ada apa-apa, Park Chanyeol,” Ji Hyun mengatakan dengan santai namun tetap tidak membuat Chanyeol tenang. Pria itu selalu benci dengan jalan sempit dan gelap yang membuat dadanya terasa sesak. Dan mungkin Ji Hyun belum pernah mengetahui keadaannya yang seperti itu.

Bulu kuduk Chanyeol meremang ketika mendengar suara benturan besi di belakang tubuhnya, bersamaan dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Namun Ji Hyun tetap berjalan dengan santai sambil menarik tangannya melewati genangan-genangan air dan beberapa tumpukan sampah. Chanyeol hanya bisa menelan ludah gugup saat terlihat bayangan –selain mereka dari belakang. Firasatnya mengatakan hal buruk.

“Ji Hyun-ah—.”

Aigoo, kalian terburu-buru sekali.”

Langkah kecil Ji Hyun terhenti, gadis itu memperhatikan seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya bersama beberapa temannya di belakang. Ji Hyun mendecih pelan, ia baru saja akan berbalik ketika menemukan gerombolan pria juga di belakang tubuh Chanyeol. Mereka dikepung oleh pria-pria yang tidak diketahui identitasnya.

“Kalian mau apa? Aku tidak punya uang,” ujar Ji Hyun jujur.

Seorang pria yang berdiri di hadapan Ji Hyun itu hanya bersiul pelan. “Jinjja? Aku yakin presdir Kim Jong In akan memberikan banyak uang untuk menebus istrinya.”

Rasanya Chanyeol ingin segera mengajak Ji Hyun berlari dari sana dan menghindari perkelahian –yang mungkin akan terjadi. “Aku punya uang, kalian mau berapa?”

Pfft,” pria lainnya di belakang Chanyeol segera menarik kerah kaus polo laki-laki itu hingga genggaman tangannya pada Ji Hyun terlepas. “Jangan jadi pahlawan, Park Chanyeol.”

Ya! Lepaskan Chanyeol— AAK!” Ji Hyun memekik keras saat rambutnya ditarik dengan cukup keras dari belakang. Ia segera menginjak kaki pria itu hingga rambutnya terlepas dan ia berjalan cepat menghampiri Chanyeol.

“Dua lawan banyak. Kalian tidak adil,” gumam Ji Hyun seraya merapikan rambutnya dan berdiri di hadapan Chanyeol.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah Chanyeol yang memutar tubuh Ji Hyun hingga berada di belakang tubuhnya. Ia membiarkan Ji Hyun bersandar pada tembok sementara ia menghadapi pria –yang berjumlah delapan orang itu. Baiklah, Chanyeol mengakui bahwa ia sangat payah dalam hal berkelahi. Tapi ia akan tetap mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi Ji Hyun, apapun yang terjadi.

“Yeol-ah.”

BUGH

Sebuah pukulan mendarat telak di tulang pipi kanan Chanyeol hingga membuat pria itu terhuyung beberapa langkah. Chanyeol mengabaikan rasa sakit itu dan mendorong pria yang sudah memukulnya hingga menabrak tembok. Ia baru saja akan mengambil napas ketika seorang pria lain kembali melayangkan tendangan pada perutnya. Membuat Chanyeol tersungkur dan meringis kesakitan.

Butuh beberapa saat bagi Ji Hyun untuk mencerna apa yang terjadi. Ia segera menghampiri Chanyeol yang sudah tergeletak tidak berdaya di atas lumpur itu, namun kedua tangannya ditahan dari belakang. Ji Hyun menyikut perut –siapapun yang menahannya itu lalu segera membantu Chanyeol untuk bangun.

Eish, aku tidak mau bermain-main. Habisi dia!”

Andwae!” Ji Hyun refleks menendang selangkangan salah satu pria yang menghampirinya. Ia kemudian melayangkan tendangan pada perut pria lainnya yang juga mencoba mendekat. Mereka terlalu banyak. Dan Ji Hyun tidak yakin bisa mengalahkan semuanya.

Ish! Kalian bodoh atau apa! Cepat amankan gadis ini dan habisi laki-laki itu!” seru seorang laki-laki yang sepertinya pemimpin dari kelompok berandalan itu.

Dua orang pria yang masih berdiri tegak pun segera menarik Ji Hyun menjauh dari Chanyeol. Tidak peduli bagaimana Ji Hyun berteriak dan menghentakkan kaki mencoba melepaskan diri. Sementara kelima pria lainnya mengerubungi Chanyeol dan memberikan pukulan serta tendangan yang bertubi. Hingga Chanyeol meringkuk di atas aspal basah itu, pasrah saja atas semua rasa sakit yang mendera tubuhnya.

“YEOL-AH!”

Ji Hyun menangis –lagi. Ia tidak sanggup melihat sahabatnya dipukuli tanpa ampun seperti itu sementara dirinya tidak bisa melakukan apapun. Kerongkongannya terasa sangat sakit karena terus berteriak agar menghentikan semuanya. Namun lagi-lagi suaranya tidak didengar dan ia dibawa semakin menjauh dari Chanyeol. Kenapa ia tidak bisa melakukan apapun untuk membela sahabatnya? Kemana perginya semua keberanian Ji Hyun dalam memukul orang lain selama ini?

Itu semua tidak berguna ketika ia sudah terjebak ke dalam perkelahian sebenarnya. Ji Hyun tidak ingat apa yang terjadi ketika sebuah kain menutup mulutnya dan kesadarannya yang perlahan mulai menghilang. Sebelum kehilangan kesadaran, Ji Hyun berdoa agar Chanyeol bisa selamat dan Jong In juga baik-baik saja.

[Over Bride] Chapter 8 CUT—

Ima’s note :

HOLAA!! GET READY FOR THE REAL CONFLICT! /smirkKai/

Sebenernya aku udh bosen sama konflik orang ketiga, jadi disini lebih dibikin misteri jongin dan baekhyun/?/ gatau deh wahahah

Part 9 nya diprotek yaaaa!! hihi nanti dikasitau caranya kok tenang aja xoxo

Rating naik ke part-part selanjutnya juga.. Keep watching:D

Minal aidin juga yaa mau lebaran nih, minta maaf buat kesalahan aku /?/

 

Best Regards,

Ima

Advertisements

568 responses to “Over Bride [Chapter 8] — by IMA

  1. Eh kok kampret ya itu yang mukulin Chanyeol sama Ji Hyun -_- siapa sih yang mukulin ? Kalo Jongin tahu bakalan dihabisin ama jongin

  2. WUAAAH GILAK GILAK JANGAN GITU DONG JONGIN HUHU😢😢 dia jahat banget. Dan ji hyun harusnya denger kata chanyeol ah siam chanyeol banyak masalah huhuhu😭

  3. Itu emang preman2 biasa atau orang suruhan seseorang??? Jihyun sama jongin memiliki perasaan yg sama… jgan pisahkan mereka thor…

  4. Chanyeol ga dibuat mati disini kan thor? Aku deg degan bacanya. Ini rencana ibunya kai atau emang preman jalanan itu yg sengaja nyulik jihyun?

  5. Ini perasaanku atw apa, kok pendek amat ya 😂😂😂
    Dudududuu kemana nih jihyun yg suka kelahi,, chanyeol mah mana bisa berantem 😂😂😁

  6. oh jadi itu toh rahasianya jongin sama baekhyun. hehe. iya aku setuju banget kak imaaaa, konflik orang ketiga udah kelewat mainstream *padahalmahgarelaliathubunganchanyeoljihyunrusak hehehe. semangat terus kak ima =)

  7. Ya Ampun 😨😱 kasihan Bang Chanyeol ku huhuhu 😭😭😭 Oppaku dipukuli, kakaknya tega sama Chanyeol /bercanda kak/ 😂😂
    Jongin sama jihyun masih jaga gengsi mereka hyang ketinggian. Agak sebel sih ngelihat mereka nutupin perasaan mereka masing2. Pingin pukul2 dinding 😑😑

    Izin baca next chap kak,
    From,
    Cantikapark61

  8. eh apa ini?? knpa Jihyun n Jongin uda ber’taut’an tangan gtu??? aish
    n Chanyeol digebukin, itu bukan ulah mamanya Jongin kn? brharapnya sih bkan,,
    nahlo bneran Johyun dijual, eh bkan dijual dink tp digadai ckck
    Jihyun bkal marah besar tuh, tp siapa tau dy bkal luluj krna cinta nya Jongin cielah,, next bsok deh ima, uda ngntuk hehe fighting!!! :*

  9. aiiih..ji hyun masih tak mau mengakui perasaannya pada jong in ke chanyeol atau memang belum sadar kalau suka sama jong in??? next chapter

  10. Yaampun itu kenapa jihyun sama chanyeol dipukulin? Eehh pasti ada masalah ini dan pasti ada yang nyuruh buat mukulin mereka :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s