Miss Parakeet

miss parakeet-poster

Side story of She’s Mine

Ziajung’s Storyline©

Comedy, Romance || PG-15 || Zhang Yixing (Lay)—Lee Jieun (IU)

Note: Kalau ada yang gak tau artinya ‘parakeet’, artinya ‘burung parkit’

—————————————————-

Miss Parakeet

 

                      “Kau sudah lihat Skyscraper’s Eyes?”

                      “Eoh? Maksudmu trilogi terakhir The Skyscraper? Tentu saja sudah!”

                      “Jinjja! Aku tidak mengerti kenapa mereka bisa memukul sehebat itu.”

                      Lay hanya menggigit sedotan milkshake coklatnya sambil menatap dua teman yang duduk di hadapannya penuh minat sekaligus bingung. Oke, ini bukan masalah bahasa, atau mereka yang berbicara terlalu cepat. Lay juga sangat tahu topik yang sedang mereka bicarakan. The Skyscraper—film bertemakan baseball sekaligus perkelahian Yakuza ala Jepang. Lay, Jong-In, Min-Hyuk, dan Tae-Min sudah mengikuti film itu sejak diliris di Korea, dan bersubtitlekan bahasa Korea.

                      Hanya saja ia tidak tahu. Dari sekian film The Skyscraper, seingatnya, belum ada yang berjudul Skyscraper’s Eyes. Apa mungkin ada tapi dia lupa?

                      “Ya, menurutmu, apa Kyousuke akan hidup kembali?”

                      Min-Hyuk memukul belakang kepala Tae-Min sampai pria itu terhuyung ke depan.

                      “Kau kira itu film fantasi—“

                      “APA?! KYOUSUKE MATI?!”

                      Seakan baru menyadari perkataan Tae-Min, Lay langsung memekik—hampir menyiram milkshake di tangannya ke wajah Tae-Min. Ran Kyousuke adalah pemeran pembantu sekaligus karakter kesukaan Lay. Sifat Kyousuke yang—menurut Lay—mirip dirinya, membuat Lay langsung mengklaim kalau Kyousuke sangat style-nya. Hei! Bukankah Kyousuke masih bermain di pertandingan final, di Tokyo Dome, bersama Uchida Kudou—sang pemeran utama? Sejak kapan Kyousuke mati?!

                      “T-tunggu,” Min-Hyuk memicingkan matanya pada Lay. “Kau belum menontonnya?”

                      “Menonton? Memangnya ada yang baru?”

                      Tae-Min dan Min-Hyuk memutar bola mata mereka bersamaan. Sedikit tidak percaya, si maniak film Jepang ini, melewatkan trilogi terakhir film favoritnya. Dan sisanya merasa jengah dengan ekspresi Lay yang kelewat bodoh.

                      “Hi! Watsup!”

                      Lay sukses menyembur milkshake-nya saat Jong-In datang dan menepuk punggungnya keras-keras, hampir membuatnya terhuyung. Untung saja Tae-Min bergerak cepat, ia menghindar sebelum wajahnya dipenuhi milkshake bercampur liur Lay—entah yang keberapa kalinya (well, Tae-Min sering kali menjadi korban di sini). Min-Hyuk sendiri sudah berlindung di bawah meja sebelum Jong-In sampai di tempat, karena ia tahu refleks Lay akan seperti apa.

                      “Kebiasaan.” Jong-In meringis sambil mengambil duduk di sebelah Lay.

                      Lay tidak membalas. Hanya menatap Jong-In jengkel dan membersihkan mulutnya. Lay sedikit menyesal karena mempunyai refleks kaget yang aneh seperti ini. Ya… walaupun sedikit berguna saat gadis-teman-kencan-Jong-In berusaha untuk menarik perhatiannya juga. Setidaknya dia bisa membuat baju atau wajah penuh make up gadis-gadis itu ternodai air liurnya.

                     “Ya, kau sudah menonton Skyscraper’s Eyes?” tanya Tae-Min setelah kembali ke posisinya semula, pada Jong-In.

                      Jong-In meraih gelas Iced Moccachino Tae-Min, tanpa peduli pemiliknya berteriak tidak terima. “Sudah,” jawabnya singkat. “Di bioskop, bersama Jun-Hee.”

                      Sebenarnya, Jong-In tidak perlu menjelaskan sedetail itu, tapi satu sisi pria itu sedang ingin menyombongkan hubungannya dengan Jun-Hee di depan teman-temannya. Jun-Hee memang tidak suka film action, tapi gadis itu tidak pernah menolak saat Jong-In memintanya untuk menemani. Meskipun pada akhirnya, gadis itu hanya mengikuti tidak lebih dari seperempat film saja.

                      Sesuai dugaan Jong-In, Tae-Min dan Min-Hyuk langsung membulatkan mulutnya. Mata mereka juga terbuka tidak kalah lebar. Dan kemudian, satu tangan mereka terangkat untuk menunjuk Jong-In.

                      “Kau menontonnya bersama Choi Jun-Hee?!”

                      Jong-In mengangkat bahu, berpura-pura menganggap hal ini enteng. “Memangnya kenapa?”

                      “Ya!” Tae-Min menggebrak meja. “Film itu kan ada adegan ‘itu’…”

                      “Lalu?”

                      “Kau bersama Jun-Hee saat menontonnya!” kini giliran Min-Hyuk yang menggebrak meja.

                      Ini akan jauh lebih normal kalau Choi Jun-Hee adalah gadis biasa, dan Jong-In bukan manusia yang tingkat kemesumannya melebihi para pembuat film porno. Oke, tidak masalah kalau Jong-In melakukan—hm… apa ya namanya… pelecehan?—terhadap gadis lain yang mungkin jauh lebih seksi dari Choi Jun-Hee. Tapi Jun-Hee adalah gadis polos, dan makluk-haus-Choi-Jun-Hee (dimana Tae-Min dan Min-Hyuk masuk di dalamnya) tidak akan rela kalau Jong-In menyentuhnya. Apalagi dengan keadaan ‘mencuri kesempatan’.

                      “Ya… ke—“

                      “Adegan ‘itu’?”

                      Otak Lay baru mengerti dengan arah topik yang sedang dibicarakan. Ia mengerutkan dahi sambil menggigit sedotan milkshake-nya, dan menatap ketiga temannya bergantian.

                      “Siapa yang melakukan itu?” tanya Lay selanjutnya.

                      Min-Hyuk memajukan tubuhnya, seakan obrolan ini sangat sangat rahasia. “Kyousuke bersama Hana-chan.”

                      “MWO?!”

                      Min-Hyuk tidak sempat memundurkan tubuhnya kembali, hingga wajahnya sukses mendapat semburan Lay. Beruntung tidak ada milkshake yang mengumpul di mulut pria itu. Tapi tetap saja, air liur Lay menyiprat di wajah Min-Hyuk. Min-Hyuk memejamkan matanya jengkel. Perlahan, ia kembali duduk sambil mengusap wajahnya, menahan untuk tidak menyiram Lay dengan Americano panasnya. Jong-In hanya menatap iba Min-Hyuk dari tempatnya, sedangkan Tae-Min langsung sibuk menenangkan Min-Hyuk agar tidak membalik meja.

                      Hana-chan adalah tokoh utama wanita di film itu, dan tentu saja harus dipasangkan dengan tokoh pria utama. Lay sangat tidak menduga, peran Kyousuke bisa melakukan adegan seperti itu dengan pemeran utama. Sang penulis skrip memang tidak bisa ditebak jalan pikirannya.

                      “Aku harus menontonnya!”

                      Lay berdiri sambil menggebrak kecil meja di hadapannya, membuat ketiga orang yang juga duduk di sana menatapnya aneh. Ekspresi Lay saat ini seperti baru saja mendeklarasikan kemerdekaan negara. Sangat berapi-api.

                      “Tapi, di mana aku menontonnya?”

                      Lay menatap ketiga temannya bergantian, dengan ekspresi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ia terlihat sangat bodoh. Ketiga orang itu tidak bisa menahan untuk tidak memutar bola matanya malas. Lay bukanlah orang yang ketinggalan jaman. Tapi sekalinya ia ketinggalan berita, ia terlihat seperti orang idiot. Bertanya kepada setiap orang sampai ia mendapatkan berita versi penuhnya.

                      “Di bioskop saja.” Jong-In menyarankan dengan nada malas.

                      “Aku malas kalau hanya sendiri.”

                      “Sewa saja di rental film, dekat universitas. Aku juga menyewa di sana waktu itu,” ujar Min-Hyuk.

                      “Memangnya sudah ada?”

                      “Pembajak di negara kita sudah sangat canggih, Zhang Yi-Xing…”

                      Kini giliran Tae-Min yang menjawab dengan nada malas. Sangat menjengkelkan saat seorang Lay berlagak seperti pria polos. Padahal sudah seringkali ia menyewa film (yang bahkan baru diliris di Korea hari itu) dari rental itu.

                      “Baiklah! Sudah kuputuskan!”

                      Bunyi drum dan terompet seperti menjadi background sound saat Lay mengucapkan kalimat itu. Lay memang sedikit susah ditebak. Terkadang ia sangat pendiam dan polos serta bodoh, terkadang ia benar-benar over acting. Bersyukur Lay bukan termasuk jajaran makhluk populer seperti Jong-In. Well, meskipun terkenal, mereka mengenalnya sebagai sahabat Jong-In, bukan sebagai dirinya. Kalaupun Lay memang pria populer, para penggemarnya pasti langsung kabur saat melihat segala tingkah bodoh nan tidak kerennya.

                      “Aku, Zhang Yi-Xing, akan menyewa Skyscraper’s Eyes di K.L.A Rental!”

***

                      Lay membuka pintu toko rental yang terbuat dari kaca, dengan senyuman kelewat lebar. Sang penjaga toko yang sedang membaca koran hari ini, hanya meliriknya dari ujung mata,tanpa sekalipun berniat beramah-tamah kepada pelanggan satu ini. Bukan apa-apa, tapi dia mempunyai pengalaman yang buruk dengan Lay.

                      Dengan mengabaikan sang penjaga toko yang masih diam-diam meliriknya, Lay segera menulusuri rak-rak kaset. Ia menghirup aroma plastik bercampur aroma pewangi ruangan, kuat-kuat di sana. Seolah dirinya baru diberi kesempatan bernafas oleh Tuhan.

                      Tanpa bertanya atau menengok ke papan penunjuk, Lay segera melangkah menuju lorong film action. Suasana di toko ini sangat lenggang, membuat Lay lebih leluasa dan tidak harus terburu-buru mencari film itu. Ia pun tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, terlebih dengan denting kecil tanda seorang pelanggan masuk. Sesekali ia berhenti saat melihat cover film menarik, namun segera ia kembalikan lagi. Tujuannya adalah Skyscraper’s Eyes! Tidak boleh melirik yang lain.

                      Lay sampai diurutan alphabet T—untuk The Skyscraper. Jarinya menyusuri setiap judul film yang berawalan huruf T. Ia menemukan The Skyscaper, tapi belum menemukan untuk trilogi terakhirnya. Apa mungkin mereka menaruhnya di rak S? Lay pun kembali menyusuri rak huruf T dari awal.

                      “Ah!”

                      Lay memekik senang, bersamaan dengan seseorang di sebelahnya. Tangan kanan Lay sudah meraih Skyscaper’s Eyes yang tersisa, ternyata bukan tangan satu-satunya yang mengincar film itu. Lay dan orang-bertangan-kurus itu sama-sama menoleh, membuat mata mereka saling bertubrukan lalu membulat.

                      “Seonbae?”

                      “Teman Choi Jun-Hee?”

                      Mereka berdua langsung menarik tangan masing-masing yang bersatu di atas case film Skyscraper’s Eyes. Keduanya lalu saling memalingkan wajah, menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. Lee Ji-Eun memang sering melihat Lay bersama Jong-In, tapi belum pernah sekalipun mencoba berinteraksi secara intensif. Paling hanya sekadar mengucapkan ‘hai’.

                      “U-Untukmu saja. Kau duluan yang mengambilnya.”

                      Mendengar suara Lay, Ji-Eun segera mengalihkan pandangannya untuk menatap pria itu. Ia mengerutkan dahi sambil memicingkan matanya, menyakinkan dirinya sendiri kalau ia tidak salah dengar. Lay meliriknya sekilas, sebelum kembali membuang pandangan sambil menggaruk tengkuknya. Ada perasaan canggung yang semakin membesar saat melihat ekspresi Ji-Eun itu.

                      Merasa Lay tidak juga memberi respon yang berarti, Ji-Eun pun hanya mengangkat bahu dan menyambar case film itu. Ia meneliti sejenak cover-nya sebelum membungkuk kecil pada Lay.

                      “Gamsahamnida, Seonbae.”

                      Dan Ji-Eun beranjak dari sana.

                      Meninggalkan Lay dengan wajah bodohnya.

                      Tangan Lay terulur dan mulutnya terbuka untuk memanggil Ji-Eun, namun tidak ada suara apapun yang keluar. Ji-Eun semakin menjauh, dan saat itu pula kaki Lay serasa baru terlepas dari tali yang membelit. Ia berlari kecil untuk meraih pundak Ji-Eun.

                      “Chankkaman!”

                      Ji-Eun berbalik dan kembali mengerutkan dahinya. “Waeyo?”

                      “Mau diapakan film itu?”

                      “Tentu saja ingin kusewa.” Jawab Ji-Eun dengan nada kau-pasti-bodoh-tidak-tahu-hal-semacam-itu.”Seonbae bilang, aku bisa memilikinya, kan?”

                      Lay terdiam sejenak, memutar ingatannya ke beberapa detik yang lalu. Benarkah dia mengatakan itu? Seingatnya, ia hanya menyapa Ji-Eun dan… mengatakan kalau Ji-Eun bisa mengambil film itu—

                      Aish!

                      Lay bodoh!

                      Ji-Eun tidak bisa tahan kalau terus-terusan melihat wajah bodoh Lay, jadi ia berbalik kembali menuju meja kasir—untuk menyewa film itu. Toh, Lay sudah mengizinkannya, bukankah sekarang film itu menjadi miliknya.

                      “YA!”

                      Lay tiba-tiba berteriak saat mengetahui Ji-Eun sudah tidak ada di depannya. Pria itu mencari Ji-Eun ke meja kasir, dan benar Ji-Eun ada di sana. Ji-Eun sudah berada di posisi di mana akan menyerahkan uang dan ID. Lay langsung berlari dan hampir terpeleset kalau saja ia tidak menyeimbangkan tubuhnya dengan benar.

                      Lay menyenggol tubuh Ji-Eun sampai terhuyung, membuat uang dan ID yang baru ingin berpindah tangan ke penjaga kasir, jatuh berserakan di lantai. Ji-Eun memekik, tapi tidak dipedulikan Lay. Lay mencengkram meja kasir kuat-kuat, seolah takut Ji-Eun juga mengambil meja kasir itu.

                Nafas Lay belum benar, tapi ia mencoba untuk tetap berbicara. “A-Aku… akan… membayar sewa… dua… kali lipat… jika kau… memberikan kaset… ini… padaku, Lee Jung-Shin.”

                “Mwo?!” Ji-Eun memekik sekali lagi. Kali ini lebih nyaring. “Ya! Seonbae!”

                “Maaf, tapi nona ini yang pertama kali—“

                “Kau berani membantahku, Lee Jung-Shin?”

                Lee Jung-Shin sempat goyah saat melihat Lay merapatkan rahangnya. Tapi gadis di sebelahnya juga tidak bisa diabaikan. Dua pelanggan ini benar-benar ancaman besar di rental film milik kakaknya ini—terlebih saat Jung-Shin yang menjaganya. Oke, mereka memang mengembalikan film tepat waktu, sebelum Jung-Shin meneror mereka dengan telepon sepanjang hari. Hanya saja… dua pelanggan ini paling sering membuat toko rental ini seperti pasar malam. Berisik, ramai, dan… seperti itu. Bahkan tidak jarang mereka berebut film dengan pelanggan lainnya.

                Dan sekarang, dua pelanggan super heboh ini, saling berebut.

                Ya, Tuhan! Cabut nyawa Jung-Shin sekarang juga!

                “Oppa! Aku kan duluan yang meminjam!” Ji-Eun memekik. Meski jaraknya terpisah oleh meja, Jung-Shin merasa kalau Ji-Eun benar-benar berteriak tepat di gendang telinganya.

                “Lagipula kau kan sudah menyerahkan film itu padaku!” lanjut Ji-Eun, untuk Lay. Ia pun melupakan segala bahasa formalnya.

                “Tadi itu kan tidak sengaja,” Lay mencoba mengelak. “Aku yang pertama kali melihatnya.”

                “Aku juga melihatnya!”

                “Tapi aku lebih dulu!”

                “YA!”

                “MWO?!”
                Jung-Shin ingin sekali menjedutkan kepalanya ke tembok saat kedua makhluk itu tidak berhenti saling berteriak. Untung saja film itu ada di tangan Jung-Shin. Bisa-bisa film itu sudah berubah wujud menjadi Sashimi kalau berada di salah satu tangan mereka.

                “Pokoknya, kau harus menyerahkan itu padaku, Jung-Shina,” Lay menunjuk Jung-Shin sambil menatapnya tajam. “Ini perintah Jong-In.”

                Well, faktanya, Jung-Shin pernah satu sekolah dengan Lay dan Jong-In—tepatnya saat SMA. Jong-In si pembuat onar, dan bisa juga disebut sebagai berandalan-sekolah-dengan-wajah-super-menggoda, ditakuti sekaligus dikagumi seluruh sekolah. Dan Jung-Shin adalah sasaran empuk Jong-In dan Lay saat itu. Bagaimana tidak. Tinggi di atas rata-rata, pintar, serta uang jajan banyak.

                Itulah kenapa Lay menggunakan nama Jong-In untuk mengancamnya sekarang.

                Sedangkan Ji-Eun, gadis ini sudah menjadi pelanggan rental film ini sejak pertama kali dibuka. Jung-Shin pun—sedikit—mengakui kalau ia menyukai gadis bawel ini. Ya… walaupun rasa sukanya tidak sebesar kepada teman Ji-Eun—Choi Jun-Hee. Jung-Shin tentu harus berbaik-baik pada Ji-Eun kalau mau menarik perhatian Jun-Hee (begitulah yang tercetak di otak Jung-Shin).

                “Aku akan memberikan nomor Jun-Hee padamu kalau kau menyerahkan itu padaku.”

                “Baiklah, Ji-Euna!”

Mata Jung-Shin langsung berbinar mendengar nama Jun-Hee. Tanpa menoleh ke Lay, Jung-Shin mengambil uang dan ID Ji-Eun serta mengecek komputernya. Ia pun berdendang kecil, mengabaikan Lay yang menatapnya tidak percaya.

                Oke, Lay kalah.

                Choi Jun-Hee memang godaan besar. Lay pun bersumpah akan melakukan hal yang sama kalau ia berada di posisi Jung-Shin. Sayangnya, Lay sudah punya nomor Jun-Hee.

                “Gomawo, Oppa!”

                “Ne…”

                Lay kembali tersadar saat suara cempreng Ji-Eun kembali memenuhi telinganya. Ia menoleh, tapi Ji-Eun sudah berada di luar toko. Jung-Shin pun tengah kesenangan dengan secarik kertas berisikan nomor Jun-Hee yang diberikan Ji-Eun—tanpa peduli apakah itu benar-benar nomor Jun-Hee atau bukan. Lay menunjuk Ji-Eun yang sudah beranjak dengan sepeda lipatnya dan Jung-Shin bergantian, tidak habis pikir dengan tingkah kedua orang itu.

                “Aish!”

                Dan akhirnya, Lay hanya bisa mengerang dan keluar dari toko rental itu. Tidak ada gunanya lagi berbicara pada pria yang tengah kecanduan Choi Jun-Hee. Jong-In pun sama tidak warasnya saat menceritakan kalau Jun-Hee baru saja melakukan hal manis untuknya. Aish! Jong-In bahkan tidak peduli kalau Lay iri berat padanya.

                Lay mengacak rambutnya kesal. Sekarang pilihannya hanya tinggal tiga; menonton di bioskop, mencari Ji-Eun, atau menghack komputer untuk mendapat film itu dari internet. Tapi pilihan ketiga sepertinya sulit dilakukan, meskipun ia kuliah di jurusan informatika. Pilihan pertama pun malas ia lakukan—Lay bukan tipe orang yang suka menonton film sendirian di bioskop. Jadi… pilihan kedua.

                Mencari makhluk bawel itu.

***

                Dengan kacamata hitam itu, Lay lebih terlihat seperti ahjussi mesum daripada seorang detektif. Pada akhirnya, Lay berhasil menemukan Ji-Eun, walaupun belum melakukan apa-apa untuk mendapatkan film itu kembali. Malah sekarang bertingkah seperti detektif dengan kacamata yang ia beli di kios kecil. Entah apa yang ada di pikirannya,

                Ji-Eun berada di dalam sebuah kafe, duduk tenang sambil menikmati semangkuk es krim besar. Di sebelahnya, terdapat tiga paper bag berisi pakaian dan beberapa aksesoris. Hari Minggu ini memang jadwal Ji-Eun berbelanja. Biasanya ia akan pergi bersama Jun-Hee. Namun si playboy-yang-tidak-playboy-lagi itu sedang memonopoli sahabatnya.

                Ji-Eun mengangkat kepala, dan langsung memiringkan kepalanya saat matanya menemukan sosok pria yang tengah menatapnya di balik kacamata hitam. Pria itu memakan es krim—sama sepertinya—tapi matanya hanya fokus menatap Ji-Eun. Ji-Eun sempat menengok ke belakang tubuhnya, tapi ia tidak menemukan apa-apa.

                Saat pria itu menurunkan kacamatanya, Ji-Eun langsung tersedak. Seonbae itu… kenapa tidak menyerah juga? Ia tahu, Lay bukanlah pria yang mengejar dirinya hanya untuk mendapatkan nomor Choi Jun-Hee (well, kosekuensinya adalah Lay bisa dibunuh Jong-In kalau benar-benar melakukan itu). Lay juga tidak terlihat tertarik pada Ji-Eun. Satu-satunya alasan adalah film yang baru Ji-Eun sewa.

                Jujur, Ji-Eun tidak tahu itu film apa. Ia hanya merasa judulnya bagus dan pria di cover-nya keren. Ji-Eun juga ingat samar-samar kalau Jun-Hee pernah menceritakan sebuah film yang judulnya sama. Mungkin saja film itu bagus.

                Ji-Eun membersihkan mulut, lalu beranjak dari tempatnya. Ia menyambar paper bag-nya buru-buru, dan keluar dari kafe. Bisa bahaya kalau Lay menangkapnya. Setidak tahu apapun Ji-Eun dengan film itu, tetap saja ia tidak mau menyerahkannya. Ji-Eun merupakan gadis yang keras kepala. Apapun yang inginkan, maka harus ia dapatkan, apapun resikonya.

                “Ya, Teman Choi Jun-Hee! Berhenti!”

                Ji-Eun mendengar jelas suara itu, tapi ia tidak berhenti mengayuh sepedanya. Jalanan yang cukup padat oleh kendaraan, membuat Ji-Eun tidak bisa mengayuh sepeda cepat-cepat. Bahkan sesekali Ji-Eun hampir menabrak pejalan kaki yang berdiri dekat trotoar.

                “YA!”

                Entah keajaiban darimana (atau memang Lay pelari yang hebat), tangan Lay berhasil meraih rambut pirang-panjang Ji-Eun, dan menariknya. Ji-Eun mau tidak mau mengerem mendadak sepedanya sambil memekik.

                “WAE GEURAE?!”

                Lay berdiri di hadapan Ji-Eun dengan nafas terengah-engah. Ia mengangkat sebelah tangannya, memberi tanda untuk Ji-Eun untuk menunggu sebentar sementara dia mengatur nafasnya. Ji-Eun pun hanya melipat tangannya di depan dada, menunggu dengan perasaan jengkel setengah hati.

                “Bisakah… aku meminjam film itu terlebih—“

                “SHI-REO!”

                Ji-Eun menekan setiap suku kata yang ia ucapkan sambil mendorong sepedanya ke depan hingga menabrak kaki Lay. Lay meringis, namun tidak serta merta melepaskan Ji-Eun. Ia mencengkram erat bagian stang sepeda gadis itu.

                “Pputakkiya…”

              “Sekali tidak, tetap tidak, Seonbae,” Ji-Eun sama sekali tidak merubah nada bicaranya. “Aku kan yang lebih du—YA!”

                Ji-Eun tidak tahan untuk tidak berteriak saat Lay merogoh salah satu paper bag-nya. Ia pun tidak segan-segan memukuli tangan Lay. Lay tetap tidak berhenti memeriksa setiap paper bag Ji-Eun, meski tatapan orang-orang di sekitarnya tampak menyelidik. Lay persis seorang perampok sekarang!

                “Ya! Seonbae!”

                “Ya! Apa yang kaulakukan?!”

                Lay berhenti merogoh paper bag Ji-Eun (padahal ia merasa sudah memegang case film itu di dalam sana) saat seseorang menarik kerah belakang kemejanya. Lay menelan air liurnya yang terasa sangat pahit. Kalau hanya didengar dari suaranya, sudah pasti pria di belakangnya adalah pria tinggi dengan badan besar dan kumis banyak. Suaranya sangat berat dan tegas, persis seorang polisi yang menilangnya di Incheon.

                “A-Annyeong…”

                Lay tersenyum kaku saat pria di belakangnya sama persis dengan apa yang ia pikirkan. Terlebih dengan seragam polisi itu.

                “Ahjussi! Dia mencoba mencuri barang-barangku!” Ji-Eun menunjuk Lay dengan gaya seperti anak kecil.

                “Mwo?! A-aniyo…”

                “Lalu kenapa tanganmu ada di sana?” Polisi itu menunjuk tangan Lay yang masih ada di dalam paper bagi Ji-Eun, dengan tatapan matanya.

                “Eh!” Lay langsung saja mengeluarkan tangannya dari sana. “Ah… t-tadi itu tersangkut.”

                “Ikut aku, Anak muda.”

                Dengan diiringi tatapan kasihan bercampur kesal para pejalan kaki, dan ditambah dengan tatapan mengejek dari Ji-Eun, Lay pun ditarik paksa oleh polisi gendut itu—masih dengan kerah belakangnya yang ditarik. Lay mengulurkan tangannya pada Ji-Eun, seolah tidak rela dirinya jauh dari film itu dan meminta bantuan pada Ji-Eun. Tapi gadis itu malah memeletkan lidahnya lalu kembali mengayuh sepeda.

                Sial!

                Ia kalah dua kali dari gadis bawel itu!

***

                “Yeoboseyo?

                “Jun-Hee—hmp!” Lay membekap mulutnya sendiri karena hampir saja ia memekik kesenangan saat Jun-Hee menjawab teleponnya. Lay menghela nafas sekali, mencoba tidak terlalu excited. “Kau ada dimana?”

                “Aku?” Lay mengangguk, padahal ia tahu Jun-Hee tidak bisa melihatnya. “Aku sedang bersama Jong-In oppa. Waeyo?

                “Apa kau sibuk?”

                Ada jeda beberapa detik sebelum Jun-Hee menjawab. “Aniyo.”

                “Begini, Jun-Heeya,” Lay melongokkan kepala ke balik pohon, melihat Ji-Eun yang tengah duduk di bangku taman yang cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Gadis itu tampak asik memainkan gadget-nya sambil sesekali mengambil selfie. “Apa kelemahan temanmu itu?”

                “Teman? Siapa?

                “Aish…” Lay kembali menegakkan tubuhnya sambil mengacak rambut. Sedikit menyesal dia tidak tahu nama teman Jun-Hee yang bawel itu. “Yang bawel itu. Kau tidak ingat?”

                “Ah… maksudmu Ji-Eun?

                “Benarkah? Ah! Mungkin.”

Lay merancau tidak jelas dengan wajah bodoh. Gadis-gadis yang kebetulan melihatnya tampak memandangnya jijik sekaligus mengagumi. Well, meskipun bodoh, wajah Lay bisa menjadi saingan untuk Jong-In.

Memangnya kenapa?

Seakan baru ingat tujuan awalnya menelepon Jun-Hee, Lay meringis sendiri. Ia melihat Ji-Eun sekali lagi, memastikan gadis itu belum beranjak dari tempatnya.

“Aku hanya ingin tahu apa kelemahannya.”

Kenapa menanyakan itu?

Sungguh, kalau saja Jun-Hee bukan gadis yang disukai hampir seluruh pria di Inha, Lay pasti akan membakar ponselnya, mendatangi Jun-Hee, dan langsung mencekik gadis itu sampai wajahnya membiru. Apa susahnya hanya menjawab, sih?

“A-Aku hanya—“

Siapa, Chagiya?

Oh, Sial! Si Pangeran Kegelapan mulai mengusik pembicaraan ini.

Lay seonbae.”

Dan, sial lagi, ia melupakan kalau Choi Jun-Hee adalah gadis terpolos abad dua puluh satu.

Terdengar gemerisik dari seberang telepon sana untuk beberapa detik, sampai akhirnya suara Jong-In membuat telinganya mati rasa. “UNTUK APA KAU MENELEPON JUN-HEE, HAH?!

Lay menghela nafas berat. “Ini urusanku dengan Jun-Hee, Jong-Ina.”

Tidak boleh!” Trek!

Oke, sambungan terputus.

Entah apa yang sedang dilakukan kedua makhluk itu sampai-sampai suara Jong-In terdengar sangat terganggu. Lay memandangi layar ponselnya sambil menggerutu tidak jelas. Ia tahu Jong-In menyebalkan, tapi ia baru menyadari kalau tingkat menyebalkan Jong-In sampai setinggi ini. Ayolah… Lay tidak sedang menggoda Choi Jun-Hee. ia hanya mencoba mendapatkan haknya yang sedang berada di tangan orang lain.

Baiklah, Lay berlebihan.

Itu hanya sebuah film, yang bahkan masih bisa ditonton di bioskop.

Lay baru saja ingin menyerah saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Jun-Hee. Sedikit tidak berminat, Lay membuka pesan dari Jun-Hee itu. Matanya langsung membulat lebar saat tahu apa isi pesan Jun-Hee.

Kena kau, Lee Ji-Eun!

***

                      Sebuah bayangan besar baru saja menutupi jalan cahaya yang menyorot tubuh Ji-Eun. Dengan sedikit jengkel bercampur senang (karena ia tidak harus terbakar sinar matahari lebih lama lagi), Ji-Eun mengangkat kepalanya. Hal pertama yang ia lihat adalah siluet seseorang, atau monster, atau apalah itu—intinya sangat tidak jelas! Tingginya seperti manusia normal, tapi sosoknya lebih seperti badut.

                      Saat orang di depannya menunduk, Ji-Eun langsung mendesah sekaligus terkejut. Ia tidak tahu kalau Lay segigih ini. Tapi belum Ji-Eun sempat memprotes, Lay sudah mengangkat kedua tangannya—menunjukkan sesuatu yang sedaritadi ia bawa.

                      Mulut Ji-Eun terbuka lebar.

Oh.. tidak…

                      Teddy Bear?!

                      “Berikan padaku!”

                      Lay tersenyum miring sambil menjauhkan teddy bear berukuran besar dari jangkauan tangan Ji-Eun. Oh… Choi Jun-Hee memang berhati malaikat (meski dalam kasus ini, sebenarnya Jun-Hee adalah iblis berwajah malaikat). Cara ini memang ampuh membuat Ji-Eun mau bertekuk lutut padanya. Lay bahkan belum melakukan negosiasi, tapi ia sudah yakin kalau dirinyalah yang menang.

                      Ji-Eun masih mengulurkan tangannya, mencoba meraih teddy bear berwarna coklat dengan pita merah itu. Ia pun berdiri, tapi Lay jauh lebih cepat. Pria itu benar-benar membuat Ji-Eun naik darah sekaligus kesenangan setengah mati. Ia harus mendapatkan teddy bear itu!

                      “Seonbae… berikan padaku…”

                      Ji-Eun mulai mengeluarkan aegyo-nya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, sambil tersenyum manis. Tidak lupa kedua tangannya ia sedekapkan di depan dada. Cara seperti ini selalu berhasil membuat Jun-Hee atau photograper yang memarahinya, bersikap lembut. Ia juga berhasil membuat ibunya memberi uang jajan tambahan, dengan cara ini.

                      “Baiklah,” Lay menurunkan tangannya, namun tidak serta merta menyerahkannya pada Ji-Eun. “Tapi dengan satu syarat.”

                      Ji-Eun bukanlah gadis bodoh, ia tahu betul apa syarat yang akan diajukan Lay. Ia pun segera merubah ekspresinya dan membereskan barang-barangnya. Semua pria sama saja! Memangnya dengan menyogok wanita dengan barang-barang kesukaannya, ia bisa mendapatkan segalanya?! Maaf saja, Ji-Eun bukanlah tipe wanita yang seperti itu.

                      “Y-ya. Mau kemana?” pekik Lay saat Ji-Eun malah mengabaikannya dan memilih beranjak dari tempat itu.

                      Ji-Eun berbalik sambil sedikit mengibaskan rambutnya. “Apapun yang seonbae berikan, aku tetap tidak akan menyerahkan film itu.”

                      Lay langsung berlutut di hadapan Ji-Eun dengan menyodorkan teddy bear-nya. Ji-Eun tidak bisa untuk tidak terkejut saat Lay meraih sebelah tangannya dan memasang wajah memohon. Orang-orang yang melewati mereka mulai menatap kagum Lay dan memberikan tatapan menggoda. Sepasang lansia yang duduk tak jauh dari tempat mereka, malah memberikan semangat terang-terangan kepada Lay. Astaga… semua orang sudah salah mengerti keadaan ini!

                      “S-Seonbae…”

                      “Kumohon, Nona Lee, izinkan aku menontonnya terlebih dulu…”

                      Ji-Eun mencoba melepaskan genggaman tangan Lay, tapi terlalu kuat. Posisi Lay benar-benar seperti pria yang sedang melamar kekasihnya. Hanya sebuah cincin yang kurang untuk membuat itu menjadi kenyataan.

                      “S-Seonbae bisa meminjamnya setelah aku,” Ji-Eun menatap orang-orang yang memperhatikan mereka sambil meringis. “A-Aku langsung menontonnya hari ini, kok.”

                      Lay menggeleng kuat-kuat. “Ani. Tidak bisa. Aku sibuk.”

                      Melihat Ji-Eun tidak paham dengan ucapannya, Lay menambahkan. “Besok aku ada pertandingan. Dan setelah itu, aku harus menyelesaikan skripsiku—pasti sangat sibuk. Belum lagi bibiku akan melangsungkan pernikahan bulan depan. Aku tidak ada waktu!”

                      Ji-Eun mengerjap beberapa kali setelah Lay menyelesaikan ucapannya. Heol… ia tidak menyangka teman Kim Jong-In ternyata seabsurd ini. Padahal dari luar, ia terlihat sangat mempesona, tidak kalah dari Jong-In. Dan akhirnya Ji-Eun tahu, kenapa Lay bisa kalah pamor dari Jong-In.

                      Kepribadiannya sangat aneh.

                      “Jadi, Kumohon, Nona Lee… biarkan aku menonton terlebih dulu…”

                      Ji-Eun terlihat menimbang sejenak. Ia cukup tersentuh dengan tatapan Lay dan segala penjelasan itu. Tapi di satu sisi, ia juga sangat ingin menontonnya hari ini. Meskipun tidak sepadat jadwal seorang idol, Ji-Eun masih memiliki jadwal pemotretan untuk online shop selama beberapa hari ke depan. Beberapa tugas kuliahnya juga belum ia selesaikan. Selain itu, ibunya meminta ia datang untuk membantunya pada acara arisan bersama teman-temannya, di rumah, besok lusa. Ia pun sama sibuknya dengan Lay.

                      “Aku tidak bisa, Seonbae…” jawab Ji-Eun dengan nada bicara yang sudah melembut.

                      Orang-orang di sekitar mereka mendesah kasihan. Mereka lagi-lagi salah mengartikan.

                      Lay mengeratkan genggaman tangannya, membuat Ji-Eun meringis. “Kumohon…”

                      “Ta—“

                      “Ah… bagaimana kalau kita menonton ber—“

                      Lay dan Ji-Eun sama-sama terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya saling menatap. Ucapan Lay yang terputus di tengah jalan, memberikan pencerahan kepada mereka berdua. Benar juga. Kenapa harus menonton dalam waktu berlainan, kalau menonton bersama lebih menghemat waktu dan energi. Cara ini lebih intensif daripada harus beradu mulut. Lay dan Ji-Eun pun melebarkan senyum mereka. Ya, mereka sudah memutuskan sesuatu.

***

                      Lay benar-benar ingin menyumpal kedua telinganya dengan sepasang sepatu bau Tae-Min saat gadis di sebelahnya tidak berhenti mengoceh. Setiap adegan yang terjadi di film itu selalu dikomentarinya—tidak ada yang terlewatkan. Bahkan adegan buang sampah pun Ji-Eun komentari dengan macam-macam.

                      “Akan lebih bagus kalau tong sampahnya lebih kotor.”

                      Lay menggelengkan kepala, tahu kalau usulnya ini ternyata menghasilkan sesuatu yang bisa membuatnya menjadi gila. Well, setelah negosiasi di taman, Lay dan Ji-Eun memutuskan untuk menonton film itu bersama. Tapi tidak ada yang menduga, kalau Lay mengajak Ji-Eun ke rumahnya, terlebih ke kamarnya.

                      “Kenapa harus di rumah seonbae?”

                      Masih membekas jelas pertanyaan bodoh itu di telinga Lay. Lay memang tidak memberitahu mereka akan menonton di mana, Ji-Eun pun hanya diam saja selama perjalanan. Sampai akhirnya mereka sampai di halaman rumah Lay, di mana adik perempuan Lay langsung memberondongnya dengan pertanyaan saat melihat kakaknya pulang bersama seorang gadis.

                      “Tolong jangan beritahu mama. Aku hanya menonton film di kamar.”

                      Zhang Yi-Hua hanya mengangguk tidak paham dan membiarkan kakaknya masuk. Bocah sebelas tahun itu sudah cukup tahu dengan kata ‘pacaran’, namun tidak mengerti benar apa yang akan dilakukan seorang pria dan seorang gadis di dalam kamar. Apa benar hanya menonton film? Teman-temannya sering sekali bercerita kalau ibu mereka tidak memperbolehkan membawa teman laki-laki ke dalam kamar. Tapi… kakaknya kali ini melakukannya.

                      Kembali ke waktu sekarang.

                      Lay sama sekali tidak bisa menikmati film-nya, meskipun Kyousuke terlihat sangat keren di sana. Kemunculan Kyousuke jauh lebih sering dari trilogi sebelumnya. Tapi itu sama sekali tidak membuat Lay terkagum-kagum, ia malah bertambah jengkel. Penyebabnya adalah Ji-Eun selalu mengomentari setiap gerakkan menganggumkan yang Kyousuke lakukan.

                      “Aih… efeknya sangat bagus.”

                      Itu Ji-Eun ucapkan saat Kyousuke mendapat luka memar.

                      “Ck, kenapa dia harus memukul dia.”

                      Dan itu, saat Kyousuke memukul Uchida Kudou—si pemeran utama—karena sebuah salah paham.

                      “Ah… tampan sekali…”

                      Yang satu ini, saat Kudou membersihkan darah di sudut bibirnya.

                      Intinya, tidak ada satupun adegan yang tidak Ji-Eun komentari. Mulut gadis itu tidak berhenti menyerocos, tanpa memperdulikan telinga pria di sebelahnya bisa benar-benar lepas dari tengkorak. Sungguh, kalau Lay tidak ingat dirinyalah yang membawa Ji-Eun ke sini, ia pasti sudah membuang Ji-Eun jauh-jauh. Kalau perlu ia tenggelamkan di Segitiga Bermuda.

                      “Mwo?! Kenapa Hana-chan bisa dengan Kyousuke—“

                      “Astaga… bisakah kau diam?!”

                      Dan, pada akhirnya, Lay tidak tahan. Ia mendesah jengkel sambil memukul bantal di pangkuannya. Lay melemparkan tatapan menusuk ke Ji-Eun. Ia sangat tidak bisa mendengar suara apapun selain suara dari film, saat menonton film. Dan manusia di sebelahnya ini, sangat tidak bisa menutup mulutnya, barang dua detik saja.

                      “Waeyo? Aku hanya mengutarakan apa yang ada di otakku.”

                      Lay menggeleng tidak habis pikir. Ia tidak bisa membayangkan suara-suara yang tercipta di otak Ji-Eun. Mungkin lebih berisik dari mulutnya.

                      “Tapi kau tidak perlu berbicara sepanjang waktu, kan?”

                      “Seonbae berisik sekali,” Ji-Eun mengibaskan tangannya dengan mata fokus ke film. “Lihat! Hana-chan memeluk Kyousuke!”

                      Lay mengepalkan tangannya. Siapa yang sebenarnya berisik di sini?! Kamar yang awalnya penuh dengan aura ketenangan, kini diisi aura-aura pembunuh dari tubuh Lay. Lay benar-benar bersumpah, kalau pembunuhan dilegalkan di negara ini, ia sudah menikam Ji-Eun dengan tombak saat pertama kali Ji-Eun dilahirkan.

                      Lay pun menghela nafas panjang. Tidak ada gunanya beradu mulut dengan manusia bawel satu ini. Ia sudah kalah dua kali, Lay tidak mau mengaku kalah untuk ketiga kalinya. Dan ia pun menyesali telah melakukan negosiasi. Harusnya ia membiarkan Ji-Eun menonton ini terlebih dulu.

                      Ji-Eun memalingkan kepalanya tiba-tiba, membuat Lay mau tidak mau menatapnya bingung. Mulut itu tidak lagi berkomentar macam-macam, matanya pun tidak terfokus ke layar tv. Dan selanjutnya, tanpa melihat tv, Lay tahu apa penyebab Ji-Eun bertingkah seperti ini.

                      Suara erangan.

Desahan

Kecapan

Dan… ah—sudahlah! Ia tidak mau menjelaskannya.

                      Lay menolehkan kepalanya takut-takut. Benar saja, adegan yang Min-Hyuk dan Tae-Min ceritakan, benar-benar terpampang jelas di depan Lay. Hana-chan dan Kyousuke melakukannya. Lay sungguh ingin melihatnya dari awal. Oke, bukan masalah otaknya semesum Jong-In, tapi ini lebih untuk memenuhi rasa penasarannya. Maksudnya—apa benar mereka melakukannya? Di depan para kru?

                      Tapi ada satu sisi yang menahannya. Ya, Lee Ji-Eun. Gadis itu berubah menjadi gadis pendiam, bahkan cenderung suram. Ia terus memalingkan pandangannya dan menutup mata. Ia terlihat ingin sekali menutup telinga, tapi mengingat Lay ada di sebelahnya, Ji-Eun menahan sekuat mungkin.

                      Ji-Eun menggigit bibirnya. Jadi Jun-Hee benar-benar menonton film ini? Bersama Jong-In? Astaga… Choi Jun-Hee tidak sepolos yang Ji-Eun kenal dulu. Mengingat ini film action, ditambah adegan ‘itu’, sangat mustahil kalau Jun-Hee mau menontonnya dari awal sampai akhir.

                      “S-Seonbae… sepertinya sudah selesai menontonnya…”

                      Ji-Eun merancau tidak jelas sambil bangun dari sofa. Ia berjalan ke DVD player, dan berniat menghentikan film. Meski ia sudah berumur dua puluh satu tahun, ia tetap tidak berani menonton film seperti itu. Bukan apa-apa, ia hanya tidak tahu harus mengomentari apa adegan-adegan erotis. Rasanya terlalu vulgar kalau diucapkan dengan kata-kata.

                      “Y-Ya! Aku belum selesai!”

                      Lay ikut bangun dan menahan tangan Ji-Eun. Ji-Eun menelan air liurnya sendiri saat tangan Lay menyentuh tangannya. Ini sangat aneh! Kenapa udara di sekitarnya terasa memanas?! Apalagi ditambah dengan suara-suara itu. Aduh… apa mereka tidak lelah mendesah seperti itu? Ji-Eun butuh oksigen!

                      “A-Aniyo, Seonbae. Aku harus pulang.”

                      Lay, yang selama beberapa detik tadi fokus ke tv, kembali menatap Ji-Eun. Genggaman tangannya menguat, ditambah dengan sentakkan ke belakang. Ini adegan yang tidak boleh dilewatkan, dan Ji-Eun berniat menghentikannya? Tidak! Tidak boleh! Ini bahkan sudah memasuki tiga perempat film, Lay tentu tidak rela kalau makhluk bawel ini menghentikannya begitu saja.

                      “Seonbae!”

                      “Sabarlah, Nona Lee, sedikit lagi!”

                      “Tapi aku mau pulang!” Ji-Eun mencoba mematikan DVD dengan tangan satunya, tapi tangan Lay yang bebas dengan cepat menahannya. “Lepaskan aku!”

                      “Tunggu sampai ini selesai, kumo—Aw!”

                      Ji-Eun sukses menendang kaki Lay, tapi tidak membuat Lay lepas dari tubuhnya. Malah yang sekarang terjadi adalah Lay jatuh di atas tubuh Ji-Eun. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, dengan tangan Lay masih menggenggam kedua pergelangan tangan Ji-Eun. Mata mereka saling menatap lurus ke orang di hadapannya, memancarkan sesuatu yang sama-sama belum mereka mengerti. Pegangan tangan Lay pun perlahan mengendur, tapi Ji-Eun masih diam di posisinya, tidak berniat bergerak sedikit pun. Tanpa mereka sadari, nafas panas itu masing-masing membentur wajah mereka. Semakin berat… semakin panas…

                      Braakk!

                      “Astaga! Zhang Yi-Xing!”

***

                      “Jadi, siapa namamu?”

                      “Lee Ji-Eun.”

                      “Kau mahasiswa atau murid SMA.”

                      “Aku mahasiswa. Di Inha.”

                      “Sudah berapa lama mengenal Yi-Xing?”

                      “Mama!”

                      Nyonya Kim langsung mendelik, membuat Lay mau tidak mau kembali menundukkan kepalanya. Posisi tidak terduga tadi ternyata membuahkan masalah baru. Nyonya Kim—ibu Lay—tiba-tiba membuka lebar pintu kamar Lay saat suara-suara dari film dan posisi mereka berdua sangat tepat. Ia langsung berteriak, masuk ke kamar, lalu menarik telinga Lay dan menyuruhnya bangun. Masih membekas jelas telinga Lay yang memerah itu.

                      Nyonya Kim tidak habis pikir, anak sulungnya yang polos dan berwajah manis itu bisa juga menjadi laki-laki. Oke, bukan artinya selama ini Lay tidak bertingkah layaknya laki-laki. Lay hanya tidak terlalu menunjukkan ketertarikannya kepada wanita, dan itu membuat Nyonya Kim sangat khawatir. Terlebih ia selalu berdua bersama Jong-In. Nyonya Kim hampir membawa Lay ke psikiater kalau saja suaminya tidak menceramahinya habis-habisan.

                      “Berapa lama kau mengenal Yi-Xing?” Nyonya Kim mengulang pertanyaannya. Ia menatap Ji-Eun penuh selidik, meski tidak ada aura tidak suka di sana.

                      “Yi-Xing?”

                      “Iya. Yi-Xing,” Nyonya Kim menegakkan tubuhnya sejenak, lalu menunjuk Lay yang duduk di sebelah Ji-Eun. “Pacarmu.”

                      “Dia bukan pacarku, Mama!”

                      “Tapi Xing Oppa membawanya ke kamar.”

                      Kemunculan Yi-Hua tiba-tiba dari balik sofa yang ia duduki, terlebih sambil mengucapkan pernyataan itu, membuat ketiga orang lainnya tidak bisa untuk tidak terkejut. Yi-Hua muncul dengan wajah polos, seolah ia lupa kalau Lay menyuruhnya untuk menutup mulut. Lay juga mencurigai Yi-Hua yang telah memberitahu ibunya itu.

                      Nyonya Kim memijit pelipisnya ketika selesai dengan rasa terkejutnya. “Untung saja aku datang pada saat yang tepat.” Gumamnya pelan.

                    “Mama, dia bukan pacarku, sungguh,” Lay pun mendelik Ji-Eun sambil menyikut lengannya. “Ya! Ayo bantu aku!”

                      Ji-Eun segera tersadar dan mengangguk. “N-Ne, Ahjumma.”

                      Ji-Eun tidak percaya kalau sekarang dia duduk berhadapan dengan orangtua seonbae ini, ditambah dengan tuduhan ia sebagai kekasih Lay. Ia pun cukup terkejut saat ibu Lay memberondongnya dengan pertanyaan, jadi ia hanya menjawab apa yang melintas di otaknya. Dan satu lagi yang membuatnya terus terbayang.

                      Yi-Xing?

                      Jadi itu nama asli Lay?

                      Ji-Eun kira, Lay keturunan Amerika. Dan nama ‘Lay’ adalah nama aslinya. Tapi nama itu terdengar seperti nama orang Cina.

                      Nyonya Kim berdecak sambil mengibaskan sebelah tangannya. “Jangan mengelak terus,” ucapnya. “Dan kau, Ji-Euna, panggil saja aku ‘Mama’. Otte?”

                      “Mama!”

                     “Diam kau, Yi-Xing! Kau bahkan sudah berani membawa seorang gadis ke rumah!” Nyonya Kim kembali ke Ji-Eun, dengan senyuman super manis. “Yi-Xing memang agak manja. Kau harus memakluminya, ya, Ji-Euna.”

                      Pada akhirnya, Nyonya Kim tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat anak laki-lakinya membawa seorang gadis juga ke rumah (meski sedikit tidak percaya juga). Terlepas dari persoalan Ji-Eun pacar Lay atau bukan. Ia sudah cukup senang mengetahui Lay bisa juga berinteraksi dengan para gadis.

                      “Oh iya, jangan terlalu formal padaku,” Nyonya Kim tersenyum makin lebar.

                      “Mama, geumanhae!”

                      “Arraseo, Mama.”

                      “Ya!”

                      Lay melemparkan pandangan ke ibunya dan Ji-Eun bergantian, saat kedua wanita itu tidak mau mendengarkannya. Aish… harusnya ia menyadari kalau sifat ibunya tidak jauh dari Ji-Eun. Mungkin hanya tingkat kecerewetan Ji-Eun masih sedikit di bawah ibunya. Dan lihatlah sekarang! Mereka malah mengobrol tidak jelas sambil cekikikan.

                      Oh, Tuhan!

                      Bolehkah Lay meminta diturunkan hujan batu yang bisa langsung menghancurkan mulut-mulut bawel ini?!

                      “Nah, Ji-Euna, aku minta nomor telepon ibumu.”

                      “Eoh? Waeyo?

                      Nyonya Kim tersenyum jahil. Lay, yang tahu apa yang akan ibunya katakan selanjutnya, memilih untuk mengalihkan pandangannya ke Yi-Hua, yang tengah menari ala Sistar di ruang tv. Ia mendengus kecil-kecil. Sial! Kenapa hari ini sangat sial untuk Lay?!

                      Ji-Eun mengerutkan dahinya saat Nyonya Kim tidak langsung meneruskan ucapannya. Wanita itu malah menatap Lay—yang tengah menatap ke arah lain—dan dirinya bergantian. Senyuman itu makin nampak di wajahnya, membuat wajah Nyonya Kim jauh lebih cerah dari pertama kali mereka bertatap wajah.

                      “Waeyo, Mama?” ulang Ji-Eun.

                      “Bukan apa-apa,” Nyonya Kim terkekeh sendiri, dan Ji-Eun bisa mendengar Lay begumam tidak jelas di sebelahnya. “Hanya antisipasi, sebelum kejadian seperti itu terulang.”

 

 

~End~

—————————————–

*gak ngerti lagi deh sama Jieun-Lay -___- mamanya juga. Ini bisa disebut ff kumpulan orang absurd. Termasuk authornya juga absurd. Mianhae kalau kalian kecewa dengan side story ini *bow* dan maaf juga aku jarang update. Well, aku bukan tipe author yang suka update cepet-cepet muehehehe. Idenya juga jarang-jarangan. Jadi kalau ada yang lelah-dengan-semua-ini *apa ini!!* aku memakluminya *eaaa

Oh iya, aku mau ucapin, Selamat hari raya Idul Fitri—untuk yang merayakannya. Mohon maaf lahir batin, Cupcakes. Maafin aku ya yang suka bikin cerita absurd nan gaje nan membosankan *bow* aku doain semoga uang lebarannya pada banyak yaaaa

*ps semua yang ada diatas hasil karangan aku -_- tolong jangan diambil serius ya

 

Regards: Ziajung

47 responses to “Miss Parakeet

  1. Lebih ke lucunya sih menurutku tapi tetep keren ko’ Thor. . ini ada kelanjutannya kah.. ?? penasaran sama kelanjutan hubungan ‘kocak’ Lay-Jieun 😉
    oh ya ff author yang ‘She is Mine’ dilanjutlagi kah.. ditunggu hlo Thor. . hhehe.. 😀
    ~·♥·~ KEEP WRITING AND FIGHTING..!!! ~·♥·~

  2. Ziajung……. bagus. . keren…. lucu….
    dilanjut aja couple ini… jabgan sekedar side story…..

    ditunggu juga lanjutan jongin – junhee
    luv….

  3. Lol, gabisa ngebayangin sekocak apa muka lay kalo lgi tampang bodoh hahahah

    aduh2, aku smpet ngakak ini baca ffnya😁
    menghibur banget hehe

    lain kali post ff yg lebih absurd lgi ya authornim. haha

    Fighting!

  4. lucu thor sifat dan tingkahnya Yixing dan Ji Eun bikin ketawa 😀 biasanya aku krg ska kalo ff main castnya sama” artis, tpi pas bca ff ini rasanya beda aku jdi lsg ska sma couple ini 🙂 author bikin sequelnya plisssss 🙂

  5. hahaha. ngakak banget baca nih FF.
    dari sekian member exo yang imut2 bin cantik2, cuma lay aja yang mukanya outstanding. gak ngebayangin ternyata exo punya national treasure kayak dia. wajah oon-nya maksudnya. liat lay brasa liat lee joon kalo lagi tampang oon. hehehe *piss.

    jadi baca nih FF aku jadi bisa bayangin scenenya. apalagi IU kalo di drama perannya slalu jd gadis polos dan sedikit crewet. heheheh.

    yang absurd emang lebih menarik kok. jarang2 lagi ada ff absurd kayak gini. idenya simpel, tp cara bawainnya yang bagus. so gak bikin bosen buat baca sampe akhir.

  6. hahaha. seneng deh nemu ff yang cast sm critanya cocok sm karakter mreka aslinya ato di drama.
    bagiku lay itu wajah outstanding dr semua member exo. kirain exo tuh laki-laki imut2 yang berwajah cantik, tp ternyata ada juga yang wajah cantik+imutnya masih kalah sm ekspresi oon-nya itu. semacam kayak liat lee joon versi muda. wkwkwkw.

    apalagi ji eun yang kalo maen di drama slalu polos dan sedikit crewet. cocoklah disini karakternya gt. hihihi

    yang absurd emang lebih menarik kok, apalagi ff gini tuh jarang-jarang lho..
    idenya simpel tapi cara bawainya yang bikin aku tertarik buat baca smpe slesai.

    thanks for author. jangan ada sequel deh. gak bisa ngebayangin wajah polos bin oon mreka kalo dibikin sequel. hehehe. gak maksud meremehkan sih, cuma takutnya malah gak menarik lagi buat dibaca. tapi kalo ada ide yg lbh gokil dan absurd buat nih cast, bolehlah… hehehe

  7. ngakak deh baca ff ini, apalagi pas adegan lay nyembur minhyuk/? Kebayang banget itu muka minhyuk nya wkwkwk xD

  8. Hahahaaa 😀
    Layaaah >0<!! Akuubisaapaa sama muka polos lay yang keinosen2an*(?)
    Ngakak banget ini yampuuun
    Kadar kepolosannya udh kelewat batas aampuun,
    Hahaa dan ituu apaa endingnyaa wkwkkwk, gak anaknya gak emaknya
    Keep writing author-nim 😀 ini keren

  9. eh? kalo semuanya karangan author.. berarti film the skyscrapernya juga bohongan dong? yah, padahal aku beneran mau cari filmnya, mau liat seru apa engga._. /jadi ikutan bodoh kaya lay/
    tapi biarlah, mau ada atau engga itu film aku ga peduli (meskipun masih penasaran) yang penting aku suka sama ceritanya ❤ hehe. ditunggu series yang lainnyaaa 🙂

    • iya -_- maaf ya
      soalnya aku bukan penggemar film, jadinya gak tau film-film action yg bagus dan sejenis itu. jadinya ngarang deh

  10. Hy eon.. ^^ ini Lay ya ampun >< ya ampun itu pasti cute bgt… trus pasang wajah bodohh aaahhh ya ampuunn… eonn diseries'kan?? Kyk she's mine 😀

  11. side storynya she mine kocak abis dech
    lay gk nyangka sebegitu anehnya dirimu wajah innoncentmu bikin melted dan sial terus
    cuma karna sebuah DVD metjuanginnya sampai segitunya dan mereka emang cocok ji eun yang bawel ma lay yang absurd
    mama lay asik banget pasti bakal punya rencana aneh minta nomer telpon mamanya ji eun.

  12. Lucu, muka Lay nya kebayang banget hehehe. Aku suka side story she’s mine nya^^ ngomong-ngomong ini jadi series juga kaya she’s mine kan? Aku masih penasaran sama hubungan Lay-Jieun masalahnya. Kutunggu cerita ka zia selanjutnya 🙂

  13. AAA~
    Akhirnya kakak buat juga .hoho.
    Ini series.kan kak?
    Bagus banget, huwa ^^
    Aku suka !!!!!!
    Good Job kak 😀

  14. uwaaaaahhhhhhhhhhh
    icing jadian aja sama jieun
    udah direstui mama gitu tampaknya
    XD

    nice nice nice
    ngakak bolak-balik tiap baca adegan absurd yg authornim sajikan /apa ini/
    XD

  15. hahahahahaha ini adalah ff absurd terkeren yang pernah aku bca, ikh lay minta dicubit, aku seneng authornim pke cast ji eun soalnya aku suka diaa wkwkwk geli sendiri ngebayangin muka lay yg bego bego tampan itu u.u
    dan penggambaran situasi nya jelas bnget aku jdi bisa ngebayangin scene demi scene nya

  16. Lay yang oon bin sedeng dipasangin sama Jieun yang polos bin cerewet, bener bener pasangan yang ajaib, wkwk XD

    Ini side story She’s Mine kah? Baru tau kalo She’s Mine punya side story Lay-Jieun, couple favorite aku 😀

  17. Pingback: [She’s Mine] Emotion is Important | SAY - Korean Fanfiction·

  18. Hahahahaha sebenernya lay itu pintar apa pintar sih ahahhaaaa nonton adegan itu sama cewekk wahahaha parahhh koplakkk gege gege hohooo , semangat thor

  19. baru baca side story ini pdhl ngikutin terus she’s mine hahaha
    dan ini kocaaakk bangeett!! XD
    suka banget sama couple ini. duo pasangan bodoh, konyol dan cerewet hahaha :p
    semoga mereka cepet nyadar dan cepet jadian yaaaa 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s