My Granddaughter

grandiecr Kiyorel @XOXOArtDesign.wp.com (terimakasih!^^)

Author Little Thief

Title My Granddaughter

Cast Chanyeol, cucunya, dan Sooyoung.

Genre drama.

Length oneshot

Rate PG-13

Summary Ini aku, Chanyeol. Kau mengingatku?

Disclaimer Pernah dipost di situs lain.

Tubuh Chanyeol tidak lagi bugar seperti masa mudanya. Kulitnya mengeriput, dia semakin renta, makin lama punggungnya membungkuk, tapi untunglah dia belum harus menggunakan tongkat. Kadang dia bersyukur melakukan banyak aktivitas di masa muda, jadi dia masih terlampau kuat di umur delapan puluh lima. Dia bahkan masih sering lari pagi di umur hampir seabad tersebut.

“Kakek, hari ini adalah hari ulangtahunku. Apakah Kakek mau memberikan aku hadiah sedikit saja?”

Chanyeol yang sedang merenung di teras menoleh, dengan suara serak tertawa, memeluk cucu perempuannya.

“Wah, betulkah hari ini hari ulangtahunmu? Kakek bahkan tidak ingat.”

“Ih, bagaimana Kakek bisa tidak ingat?” Jaena memberengut, “Ini hari ulangtahunku yang ke delapan, lho, Kakek.”

“Kakek minta maaf soal itu. Kita ke danau buatan dekat rumah saja, ya? Disitu ada banyak yang menjual makanan, kamu bisa meminta apa saja yang kamu mau.”

Jaena bersorak senang, lantas masuk ke kamar Ibunya, ribut bilang dia akan ke danau bersama Kakeknya. Chanyeol dengan lambat bangkit dari kursinya, kemudian masuk ke kamarnya. Dia memakai kemejanya yang kebesaran karena tubuhnya yang semakin kurus. Lantas memakai celana yang sudah sepuluh tahun setia menemaninya, dan sepatu cokelat tua yang dibelinya saat pernikahan dengan almarhumah istrinya.

Anaknya, Park Jaewoong, dan istrinya, memang memilih tinggal di rumah lama Jaewoong. Chanyeol punya empat anak dan mereka semua sudah tinggal mandiri di kota masing-masing. Hanya Jaewoong yang memilih tinggal di rumahnya, menemani sang Ayah yang makin lama makin tua dan nyaris dikategorikan sebagai penduduk panti jompo. Dia tinggal bersama istrinya yang cantik, Hyeju, dan anaknya, Park Jaena.

Karena sehari-hari tinggal bersama Kakeknya, Jaena adalah cucu paling dekat. Biasanya sepupu lain hanya mengunjungi Chanyeol ketika libur Natal atau acara keluarga saja. Chanyeol sering menghabiskan tabungan masa mudanya untuk membelikan Jaena apa saja, asal cucu yang paling disayanginya itu senang. Jaena menawan seperti kedua orangtuanya. Rambutnya cokelat dan akan berkibar indah bila diterpa angin, mata hitam gelap yang menusuk dan kulit seputih susu. Membuat Chanyeol mengingat tentang seorang putri kayangan.

“Ayo, Kakek!” Jaena menarik tangan Kakeknya, dalam hati kesal karena Kakeknya berjalan seperti kura-kura.

“Sebentar, Kakek susah berjalan,” Chanyeol menanggapinya dengan sabar, lantas menatap danau buatan yang tertutup oleh pepohonan dedalu yang rindang. Walaupun berada di dekat rumahnya, Chanyeol jarang sekali mengunjunginya. Terakhir kali waktu dia masih berumur tujuh puluh. Lima belas tahun yang lalu. Danau itu sudah ada semenjak puluhan dekade yang lalu, dan menjadi tempat menenangkan hati yang tepat.

“Wah, pohon dedalu yang ini sudah tinggi sekali, ya!” Chanyeol menunjuk pohon dedalu di tepian danau, hanya itu ingatan yang terlintas saat lima belas tahun yang lalu. Pohon dedalu itu saat ditemuinya bahkan masih berbentuk kecambah.

“Ayo, Kakek, ayo!” Jaena menarik tangannya lagi, membuat Chanyeol berusaha mempercepat langkahnya. Mereka kini sampai ke tepi danau, dan kemudian bersenandung riang sampai Jaena terhenti di suatu tempat, beberapa meter di dekat pohon dedalu.

Terjadi keheningan panjang, sampai Chanyeol memegang bahu Jaena, bingung kenapa cucunya hanya membeku saja. “Jaena, ada apa?”

Jaena diam sekali lagi. Pandangan tepi danau di depan tempatnya berpijak jelas bukan hal yang asing. Jaena berpeluh dingin, kemudian mencengkram ujung kemeja Chanyeol sampai lusuh, dengan wajah pucat berkata, “Kakek, tolong jangan dorong aku.”

***

Setelah mereka tidak jadi ke danau buatan saat ulangtahun Jaena tersebut, cucunya menjadi sangat aneh. Dia sering berbicara sendiri dan terlihat mengingat detail tak penting. Kadang dia bisa mengingat sesuatu sampai tidak makan siang, membuat orangtuanya keheranan, dan mereka enggan menggangunya.

Sepulang sekolah, Jaena langsung berlari ke tepi danau, lantas berdiri tepat di tempat yang seolah menariknya dalam mesin waktu. Jaena menatap air tepi danau yang sedalam tiga meter. Jaena merinding, kemudian bayangan melintas di benaknya. Seorang pria yang mendorongnya, teriakannya, dan teriakan seorang pria lagi. Air yang masuk ke paru-paru dan membuatnya sulit bernapas, kulit yang membiru, dan asinnya air danau.

“Jaena!”

Jaena berteriak kencang sekali, sangat kaget, sampai ia baru sadar bahwa Leo yang baru saja menepuk punggungnya. Dia takut sekali akan didorong ke dalam danau yang dalam tersebut. Leo, teman sekelasnya yang jahil itu, tertawa melihatnya. “Kamu kenapa kaget seperti itu?”

“LEO!” Jerit Jaena kesal, kemudian memukul anak laki-laki itu, “Aku sangat kaget!”

“Ya ampun, kamu tidak perlu takut denganku! Aku hanya ingin membeli takoyaki di sekitar sini, kok. Kebetulan aku melihatmu diam saja di tepi danau begitu,” ucap Leo.

“Aku pulang!” Teriak Jaena, berjalan cepat seraya menyikut Leo kasar, “Kau kerjakan saja dulu PR dari Guru Yang!”

“Jaena!” teriak Leo, menatap temannya yang sudah pergi kembali ke rumah, “Ya ampun, padahal aku ingin mentraktirnya takoyaki.”

***

Hyera hanya diam di tepi danau malam itu, menunggu seseorang yang sudah ada janji dengannya. Ini sudah nyaris jam sembilan malam. Kalau sampai pukul setengah sembilan, dia harus pulang dan membatalkan janjinya.
“Chanyeol, bukankah kamu sudah berjanji?”

Hyera terus diam menunggu, sampai dia tak memperhatikan seseorang dengan gerak mencurigakan di belakangnya. Hyera terlalu serius untuk menunggu. Tiba-tiba Hyera merasa mulutnya disekap dengan sebuah tangan kekar, membuatnya meronta dan tidak bisa bicara. Ia memukul lengan kekar yang menyekap mulutnya, dan menggigitnya. Si pemilik tangan itu mengibaskan tangannya kesakitan. Hyera hanya bisa melihat wajah memakai masker hitam, dan sebelum dia membalas, tiba-tiba pria tersebut mendorongnya karena kesal, membuatnya terjatuh ke tepi danau yang sebetulnya dalam sekali.

Hyera tidak bisa berenang. Dia phobia air. Terlebih, dia punya penyakit asma akut. Hyera kehabisan napas, dia berusaha mengepakkan kakinya, tapi tidak bisa. Kemana perginya orang yang mendorongnya tadi? Apakah dia sengaja atau tidak? Hyera tidak bisa berbuat apapun sekarang, lantas tangan kanannya menggapai dasar danau, bermaksud meminta tolong. Dia benar-benar tidak bisa bernapas lagi ketika didengarnya suara terakhir yang sangat keras, menembus lapisan air danau.

“Hyera! Jung Hyera!”
Hyeratersenyum mendengar suara terakhir Chanyeol yang memanggilnya, lantas kemudian, ia pergi.

***

“Kakek, apakah Kakek pernah kenal pria bermasker hitam?” tanya Jaena, memainkan bonekanya, tapi terlihat risau dan tak tenang.

“Yang itu banyak, Jae,” Chanyeol menyeruput tehnya santai, “Kan bisa saja dia kena polusi udara, atau mungkin seorang atlet anggar atau ninja yang tampan.”

“Apakah mereka semua jahat?”

“Tidak juga, polisi banyak yang pakai itu, tapi mereka berbaikhati mengurus kita sebagai warga negara.”

“Apakah mulut Kakek pernah disekap?” tanya Jaena, lebih khawatir lagi nadanya.

“Pernah, oleh teman Kakek karena Kakek terlalu banyak bicara,” Chanyeol tertawa.

“Kalau Kakek menggigit tangannya, dia melakukan apa?”

“Dia hanya akan marah sebentar, kemudian kami berbaikan kembali,” Chanyeol menanggapi pertanyaan keempat dengan heran, “Memangnya kenapa?”

Jaena malah tidak menjawab, berbalik ke kamarnya. Sungguh, dia tahu ada yang tidak beres. Ingatan tentang seorang gadis yang didorong ke danau sampai tewas menghantuinya. Bahkan dia sendiri merasa seperti gadis tersebut. Memang dia siapa? Jangankan mengenal, melihat satu detik pun mana mungkin. Lantas, kenapa?
***

Park Jaena sangat berbeda dari cucu-cucu Chanyeol yang lain. Biasanya, anak dan cucu Chanyeol menurunkan bakat musik yang ditanamkan Chanyeol pada keturunannya. Anak-anaknya banyak yang menang ikut kejuaraan musik, dan cucunya sama hebat dengan orangtua beserta Kakeknya. Mereka tipe orang yang membenci ilmu pasti atau logika seperti matematika dan sains. Otak mereka hanya terhubung dengan musik dan bahasa.

Tapi Jaena lain—sangat lain. Dia justru mencintai matematika dan sains, namun tak menyukai musik dan bahasa. Ketika Jaewoong menjanjikannya dibelikan sebuah gitar, Jaena malah protes dan memilih pergi ke toko buku, lalu membeli buku ilmiah. Pikirannya sangat cerdas dan terbuka. Dia juga phobia dengan air, menderita asma (padahal dalam silsilahnya belum ada yang menderita penyakit itu sama sekali), dan matanya berwarna hitam gelap, sedangkan para saudaranya berwarna cokelat terang.

Chanyeol mencintai perbedaan cucunya. Walaupun terkadang kaget, dia beruntung memliki cucu sepintar Jaena. Dia juga bingung dengan warna matanya, penyakit asmanya, atau ketakutannya yang aneh. Dia juga kadang aneh melihat cucunya alergi terhadap telur ayam, padahal itu makanan favorit nomor satu bagi Ayahnya, Jaewoong. Tapi Chanyeol tidak akan pernah peduli, bagaimanapun juga, dia sayang dengan cucu favoritnya itu.

Lebih dari apapun.

****

Jaena kembali lagi ke tepi danau. Astaga, apa yang mendorongnya hingga ke sini? Danau itu sangat menghantuinya, bahkan di malam hari jam sebelas ini dia nekat kesini karena tak bisa tidur. Dia tidak takut dengan suasana sepi mencekam, lagipula masih ada sekelompok pria di dekat pohon dedalu besar. Dia harus kembali! Kakek dan orangtuanya pasti cemas kalau melihat dia tidak ada di tempat tidur. Tapi anak berpiyama itu tetap diam di tempat, tidak sadar bahwa satu dari sekelompok pria itu melakukan gerak-gerik mencurigakan.

Ini sungguh langka. Mereka menemukan mangsa mereka—anak-anak, di malam gelap seperti ini. Mereka adalah kelompok yang biasa menculik anak kecil untuk ‘perdagangan’ dan mendapat keuntungan besar. Jaena tidak menyadari ketika pria tersebut semakin mendekat, lantas menyekap mulutnya,  meronta dan tidak bisa bicara. Ia memukul lengan kekar yang menyekap mulutnya, dan menggigitnya. Si pemilik tangan itu mengibaskan tangannya kesakitan. Jaena hanya bisa melihat mata cokelatnya menyala dalam gelap, dan dia berteriak, “Bocah sialan!”

Pria itu mendorong Jaena keras karena kesal. Tubuh kecil Jaena dengan mudah terlempar ke tepi danau, dan membuatnya tenggelam di dalam air. Jaena mengepak-kepakkan kakinya, meminta pertolongan. Dia berhasil menyembulkan kepalanya ke dasar air, dengan tersengal berteriak keras sekali, “KAKEK!”

Jaena berusaha sekuat tenaga…kuat sekali…sampai seluruh tenaganya tak bersisa. Tapi tubuhnya sudah membiru dan paru-parunya penuh dengan air, asmanya kambuh di saat tak tepat, membuat napasnya tinggal satu-dua. Sekelompok pria itu malah kabur secepat yang mereka bisa, dan Jaena tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Sampai dia mendengar suara kedua orangtuanya yang ternyata daritadi sibuk mencarinya.

“Jaena!” Ibunya menjerit keras, menangis terisak menemukan anaknya sudah membiru dan nyaris mengambang di tepi danau.

***

Chanyeol tersenyum, ketika menyadari bahwa Hyera masuk ke perpustakaan sekolah. Chanyeol menelaah rak buku musik itu dengan seksama lagi, mencari buku yang tepat. Setelah mengambil sebuah buku, dia duduk di salah satu meja yang masih tersisa di perpustakaan yang penuh. Dia memperhatikan Hyera dari rak buku bagian sains, dan tersenyum kembali. Kini dengan sedikit rona merah.

Park Chanyeol sangat menyukai Jung Hyera. Tidak ada gadis lain sehebat dia yang mampu bertahan terus di hatinya. Sudah satu tahun perasaan itu ia pendam, dan sangat sulit mengajaknya kencan. Dia adalah gadis jenius yang cantik sekali. Dia tidak populer. Bahkan dia terhitung penyendiri, dia tidak pernah makan siang bersama teman-temannya di kantin, dia selalu pulang sendiri, begitupun ke perpustakaan ini. Bagaimanapun, tempat penuh buku membosankan ini menjadi tempat pertama Chanyeol jatuh cinta padanya.

Tapi Chanyeol, dia dicap bodoh oleh teman-temannya. Tapi kemampuan musiknya luar biasa, dia juga pandai pidato dan debat. Walaupun nilai sainsnya anjlok, nilai musiknya selalu sempurna. Dan, dia populer. Dia populer sekali dengan ketampanannya, dan permainan musik yang membuat meleleh. Tapi Chanyeol telah memilih Hyera untuk tambatan hatinya.

“Aku masih heran dengan orang yang suka dengan musik,” Chanyeol terlonjak ketika Hyera, tersenyum ramah, duduk di hadapannya. Dia memberi isyarat bahwa dia harus duduk di situ karena tempat duduk sudah penuh sekali.

Chanyeol hanya tersenyum malu-malu, menutupi pipi merahnya di balik buku bersampul biru tersebut.

“Apa yang kau baca?” tanya Hyera, membuka bukunya yang super-tebal.

“Not,” Chanyeol berkata berkumur-kumur, terlalu gugup.

“Memang asyik, ya, belajar musik itu?”

Chanyeol mengangguk, tidak mau bicara.

“Apa saja yang kau pelajari?”

“Melodi, nada, ketukan, kunci, banyak,” tutur Chanyeol belepotan.

“Kau suka sains?”

Chanyeol menggeleng. Dia bersumpah tak akan menyukai pelajaran membosankan itu sampai tua nanti.

Hyera tertawa kecil, “Aku sendiri sangat suka teori tentang Charles Darwin. Suatu hari, aku juga akan membuat teori baru nanti. Untuk musik, aku tidak pernah tahu banyak sebetulnya…tapi tahukah kau dengan band Metallica?”

Chanyeol kini mendongakkan kepala, lantas mendengarkan ocehan Hyera dengan saksama mengenai band musik kesukaan mereka. Dalam satu jam, mereka mengenal lebih banyak. Bahkan Chanyeol sudah berani mengajukan pertanyaan. Sampai mereka tidak menyadari perpustakaan mulai sepi, dan Hyera harusnya pindah tempat duduk saat itu.

***

Hyera sangat menyukai Park Chanyeol. Tidak ada pria lain sehebat dia yang mampu bertahan terus di hatinya. Sudah satu tahun perasaan itu ia pendam, dan sangat sulit mendekatinya sedikit saja. Dia adalah pria tampan yang pandai bermain musik. Dia populer. Bahkan dia terhitung punya klub fans khusus, dia selalu makan siang bersama teman-temannya di kantin, dia selalu pulang pun dikerubungi, tapi ia selalu datang sendiri ke perpustakaan. Bagaimanapun, tempat penuh buku menyenangkan ini menjadi tempat pertama Hyera jatuh cinta padanya.

Semulanya berawal ketika mereka tidak sengaja saling tatap, kemudian saling bertukar senyum, dan mencintai dalam diam. Hyera selalu menguntit pria itu kapan saja yang ia bisa. Dia sangat menyukainya, apapun itu. Tidak bisa dilepas. Hyera tidak peduli apakah dia memilih tambatan hati yang benar atau tidak.

Sampai kali ini, Chanyeol berhasil mengajaknya untuk kencan kedua, dia senang sekali. Setelah obrolan panjang tentang band Metallica dan hal lain, Chanyeol akhirnya mengajaknya berjalan-jalan di sebuah restoran, lantas kini ke N Seoul Tower yang sangat diidamkannya.

Mereka menelusuri menara sambil tertawa dan berbincang hangat, bahkan Chanyeol menyediakan lengannya untuk dipeluk olehnya, dan diterimanya dengan canggung. Chanyeol tersenyum dan berkata tidak masalah. Bahkan mereka memasang gembok cinta masing-masing, dan Hyera tersenyum menatap gemboknya dan gembok Chanyeol yang bersebelahan.

“Kita akan berkencan lagi, besok,” Chanyeol menjentikkan jarinya, tersenyum, “Kau tahu danau buatan baru di dekat rumahku bukan? Aku yakin itu tempat kencan yang bagus.”

Hyera hanya mengangguk. Kalau Chanyeol yang memutuskan, apa saja bisa disetujuinya.

****

Hyera tidak bisa tidur karena perasaan melayangnya. Tadi siang, tepat sebelum mereka pulang dari sekolah, Chanyeol menciumnya. Oh…lupakan soal itu, yang jelas itu ciuman pertama dalam seumur hidupnya. Membuatnya tidak bisa berkutik lebih banyak. Ciuman lembut singkat itu tidak menuntut, dan Chanyeol tersenyum manis sekali ketika tahu wajah Hyera memerah malu.

Dia akan berkencan dengan Chanyeol di tepi danau malam ini. Maka dia berjalan kaki menuju ke danau yang tak jauh dari rumah, kemudian menunggu. Entahlah kenapa Chanyeol mengajaknya kencan malam-malam, katanya dia akan mengatakan sesuatu. Dia menunggu lima belas menit, dua puluh menit, hingga rasanya satu jam, pria itu tak kunjung datang. Jajanan-jajanan di pinggir danau pun mulai sepi dan akhirnya danau itu menjadi sunyi, hanya meninggalkan Hyera disana.

Hyera hanya diam di tepi danau malam itu, menunggu Chanyeol. Ini sudah nyaris jam sembilan malam. Kalau sampai pukul setengah sembilan, dia harus pulang dan membatalkan janjinya.

“Chanyeol, bukankah kamu sudah berjanji?”

Hyera terus diam menunggu, sampai dia tak memperhatikan seseorang dengan gerak mencurigakan di belakangnya. Hyera terlalu serius untuk menunggu. Tiba-tiba Hyera merasa mulutnya disekap dengan sebuah tangan kekar, membuatnya meronta dan tidak bisa bicara. Ia memukul lengan kekar yang menyekap mulutnya, dan menggigitnya. Si pemilik tangan itu mengibaskan tangannya kesakitan. Hyera hanya bisa melihat wajah memakai masker hitam, dan sebelum dia membalas, tiba-tiba pria tersebut mendorongnya karena kesal, membuatnya terjatuh ke tepi danau yang sebetulnya dalam sekali.

Hyera tidak bisa berenang. Dia phobia air. Terlebih, dia punya penyakit asma akut. Hyera kehabisan napas, dia berusaha mengepakkan kakinya, tapi tidak bisa. Kemana perginya orang yang mendorongnya tadi? Apakah dia sengaja atau tidak? Hyera tidak bisa berbuat apapun sekarang, lantas tangan kanannya menggapai dasar danau, bermaksud meminta tolong. Dia benar-benar tidak bisa bernapas lagi ketika didengarnya suara terakhir yang sangat keras, menembus lapisan air danau.

“Hyera! Junh Hyera!”
Hyera tersenyum mendengar suara terakhir Chanyeol yang memanggilnya, lantas kemudian, ia pergi.

***

Chanyeol terbangun dari mimpinya, berpeluh dan itu seperti kejadian yang sangat nyata. Astaga, dia jelas kenal dengan gadis itu. Jung Hyera. Gadis yang selalu tertambat di hatinya kapanpun. Usianya yang semakin renta memaksanya agar melupakan namanya. Walaupun telah memiliki anak, istri dan cucu, Sooyoung adalah cinta sejatinya kapanpun, walaupun Chanyeol sudah benar-benar lupa tentangnya saat umur ke tujuh puluh tujuh kemarin. Chanyeol kini ingat betul.

Chanyeol kini ingat kembali!

Dia masih ingat bahwa di malam itu, dia harusnya berkata padanya. Bahwa orangtuanya sudah menjodohkannya dengan seorang putri dari keluarga kaya. Tapi putri orang kaya tersebut kini malah menjadi istrinya, sampai maut menjemputnya pada umur enam puluh tahun. Chanyeol kini merasa sesak di dada, untuk pertama kalinya dalam usia tua, dia menangis. Chanyeol tak pernah menangis semenjak puluhan tahun yang lalu. Astaga, apa yang dia lakukan? Bagaimana bisa dia sampai membuat seorang gadis yang dicintainya tenggelam dan tewas?

“Ayah!” Jaewoon masuk ke kamarnya, mendobrak pintu dengan airmata berlinang, “Jaena! Jaena! Dia tenggelam di tepi danau! Kritis! Dengan tubuh membiru!”

***

Berbagai selang memasuki tubuh kecilnya yang tidak berdaya. Tapi Jaena tidak peduli. Dia hanya ingin orang yang dicintainya—Park Chanyeol, datang. Entahlah dia mencintainya sebagai Kakek atau sebagai—seorang Jung Hyera.

“Jaena!” Chanyeol menangis tersedu melihat tubuhnya tergeletak di tempat tidur. Dia terisak melihatnya, kemudian Jaena membuka mulutnya.

“Chanyeol? Kaukah itu?”

Chanyeol mendongak, lantas mendekat ke arah cucunya, berusaha mendengarkan suaranya yang serak sekali.

“Ini aku, Chanyeol. Apakah kau mengingatku?”

“Hyera?”

Kini Chanyeol menatapnya lamat-lamat. Lama sekali. Dia baru menyadari—binar mata Jaena yang sama, rambut cokelat, kulit, bentuk wajah, bentuk mata, minatnya terhadap sains—sama dengan seorang Hyera.

Kini Chanyeol tidak lagi melihat seorang anak kecil di tempat tidurnya—penglihatannya melihat seorang gadis cantik nan pintar tergeletak di tempat tidur.

Ia mengangguk, airmatanya menetes, menggenggam tangan keriput Chanyeol yang bengkok.

“Aku bahagia sekali…”

***

Chanyeol sembilan puluh tahun merasakan terpaan angin lembut. Sampai hingga kini, dia masih beruntung dapat merasakan angin sepoi-sepoi di usianya yang tinggal menunggu untuk satu abad. Dia tidak lagi bugar, dan dua tahun lalu dia harus duduk di kursi roda. Saat merasakan terpaan angin, dia merasakan berada di akhir kehidupan. Bayangan kematian Jaena lima tahun lalu—sebagai seorang Jung Hyera, membuatnya tidak lagi dapat memahami kehidupan.

Lagipula dia sudah hidup sendiri kini. Jaewoong dan Hyeju sudah meninggalkan rumahnya semenjak dua tahun kematian putri sulung mereka. Chanyeol hanya seorang pria tua yang diurus oleh tetangga sebelahnya, membuat repot. Maka Chanyeol tersenyum, memejamkan mata, merasakan akhir kehidupan menghampiri dirinya.

Hyera…biarkan reinkarnasi lain akan menyatukan kita nanti. Aku berjanji.”

***

Errrr….sebetulnya ceritanya lebih dari ini, cuma gara-gara aku bingung menyampaikan kata-katanya ya jadilah begini -_- errrrr abal maksimaaal. Absurd banget pokoknta. Dan kalau bisa komen ya? Dalam bentuk apapun diterima dengan senang hati kok, hehehe…

Terimakasih sudah menyempatkan membaca!^^

12 responses to “My Granddaughter

  1. Ceritanya bagus eon , menyentuh 🙂
    Chanyeol 90thn wajahnya kaya gimana ya ? Haha ga bisa bayangin. Tetep ganteng kah ? Hehe
    Tapi di beberapa scene aku agak bingung sama cast nya. Hehe

  2. ceritanya bgus 🙂 walaupun pertama”nya aku agak krg mengerti tpi pas bca sampai hbis aku jd ngerti 🙂 dan author aku suka ide crita ffnya yg bda, dan agak susah sih ngebayangin Chanyeol jdi lansia yg umurnya udah 90 thn :3 keep writing author fighting ! ^^

  3. Bagus,agk bngung wktu bca dawal tpi stlah bca ampe akhr bru tau…gk bsa byangin chanyeol lansia umur 90th..dtnggu ff slnjutnya..

  4. Chanyeol jadi kakek2? Tidak bisa membayangkan aku bagaimana wajah tampannya sekarang kelak keriput :3
    Jaena reinkarnasi Hyera ya?

  5. sumpah absurd tapi keren thorrrrr sukaaa bangetyy
    buat sequelnya dong pas udh renkarnasinya hehehhe
    hwaiting thor

  6. huwa chanyeol jadi kakek
    itu jaena reinkarnasi hyera
    imajinasinya tu bagus deh
    hehe 🙂
    keep writing

  7. yaampun .. bagus banget ceritanyaa :):) kasian hyera nungguin chanyeol nya kelamaan .. kenapa chanyeol baru inget hyera dan baru sadar kalo jaena itu titisannya (?) hyera . pdhal udah bertaun-taun .. haisssh

  8. bingung mo commentnya gimana sedih sich gk nyangka jaena akhirnya meninggal juga seperti hyera mungkin semuanya salah chanyeol yng gk nepatin janji dan akhirnya hyera menagih janjinya didalam sosok jaena sebagai reinkarnasinya miris juga menurutku…

    bagus banget ceritanya chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s