As Time Went By (Chapter 2)

as-time-went-by-vanillaritrin-wo-tao-revisi

Author : vanillaritrin (@HY_hyera) | Genre : AU, Romance, Sad, Drama, Friendship | Length : Chaptered | Rating : PG – 13 | Main Cast : Cho Jung Yeon (OC/You), Kim Jongin (Kai) | Support Cast : EXO – K, Park Yoo Rin, Song Hye Jin, and the others | Poster : missfishyjazz

Disclaimer : The plot is mine!

Prolog | Chapter 1

“You might feel like dying. Maybe.”— Kai (cr: hourae)

*****

”Memangnya kau pindah darimana?”

“Aku sebelumnya tinggal di China.” Jung Yeon menjawab pelan. Kyungsoo menganggukkan kepalanya mengerti.

“Apa yang membuatmu pindah?” Sehun mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Ia mengabaikan tayangan TV dan membiarkan snacknya dirampok Kyungsoo.

“Umm…” Jung Yeon memikirkan jawaban yang tepat.”Aku diterima di Universitas Konkuk jadi aku pindah.”

“Benarkah? Konkuk? Sama dengan Kai?” Suho menaikkan sebelah alisnya. Apa itu berarti… Kai sudah bertemu Jung Yeon sebelum kepindahannya ke apartemen 264?

“Ya.” Jung Yeon mengingat kejadian kemarin seusai nama Kai disebut. Suho sudah mendapat satu asumsi baru di benaknya. Thickmark.

“Kami juga di Konkuk!” Pekik Baekhyun sembari merekahkan senyum hangatnya. Jung Yeon tertawa pelan.

“Orang tuamu tinggal di China juga?” Chanyeol melebarkan kelopak matanya. Jung Yeon mengangguk kecil. Beberapa menit keheningan mengisi ruang – ruang kosong diantara mereka. Spekulasi bermunculan—memenuhi otak kelima lelaki di ruang tamu.

“Kalian—,” Kata – kata Jung Yeon menarik kelima lelaki itu dari lamunan,”Tinggal disini? Aku akan sangat senang punya tetangga seperti kalian.” Jung Yeon mengambil kesimpulan sendiri.

Kecuali Kai, Imbuh Jung Yeon dalam hati.

“Ini apartemen Kai. Kami hanya sering berkunjung,” Suho tersenyum simpul lalu melihat Jung Yeon agak merengut,”Tapi kami hampir setiap hari kesini.”

“Ah, melegakan sekali.” Jung Yeon mengelus dadanya pelan sembari memamerkan giginya.

Pintu kamar utama berderit disusul oleh sosok Kai yang muncul dari balik pintu. Rambutnya masih agak basah dan berantakan. Ia menutup pintu kamar kemudian menempelkan jari – jarinya ke rambut—mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Jung Yeon—entah kenapa—sangat sulit mengalihkan pandangannya ke arah lain melihat Kai dengan penampilan seperti itu. Ia memakai kaos hijau dan celana selutut sambil melangkah pelan menuju dapur. Ketika sampai di meja makan, Ia menuang air putih dalam gelas kecil lalu meletakkan gelas itu di dekat rak piring. Sekali lagi, Jung Yeon tidak bisa mengelak memandang punggung Kai saat lelaki itu membelakanginya. Ada sesuatu yang tak beres di otaknya—yang tak membiarkannya kehilangan moment itu.

Jung Yeon menangkap tatapan aneh dari ekor matanya. Ia langsung menoleh ke lima lelaki di ruang tamu tapi tidak ada yang sedang menatapnya. Mereka sedang asyik dengan kesibukannya masing – masing; Sehun sedang menonton TV; Kyungsoo menikmati snack; Suho membalik halaman buku; Chanyeol juga ikut menonton TV, dan Baekhyun memainkan logam di tangannya. Mungkin perasaannya saja tentang tatapan tadi.

Dari balik bukunya, Suho menahan senyumnya. Ia mengamati gerak – gerik dan bahasa tubuh Jung Yeon lewat kamuflasenya. Sangat sempurna.

Jung Yeon berdehem pelan.”Sepertinya aku harus kembali ke apartemen.”

“Tunggu!” Kelima lelaki itu serempak melarang. Jung Yeon menatap mereka tidak mengerti.

Yaaa~ Coba kau tebak lagi dimana koinnya!” Baekhyun menjulurkan kedua tangannya lagi pada Jung Yeon.”Tadi kau gagal, sekarang harus berhasil.”

Jung Yeon dengan saksama memperhatikan perpindahan koin dari kepalan tangan kanan ke kiri, kiri ke kanan, dan seterusnya semakin cepat sampai Baekhyun mengepal kedua telapak tangannya. Jung Yeon berpikir sebentar—mengingat letak terakhir koin itu. Memorinya menyimpan gambar koin di genggaman tangan kiri Baekhyun. Jung Yeon menunjuk kepalan tangan kiri Baekhyun dan… Kosong.

Eoh?” Jung Yeon membulatkan matanya. Sepertinya ada yang tidak sinkron di otaknya karena mengalihkan pandangan pada lelaki berkulit gelap itu.

Baekhyun terkikik memandang ekspresi bingung dan terkejut Jung Yeon seraya membuka kepalan tangan kanannya. Kosong juga.

Kai menyusuri ruang tengah kemudian mendekati pintu kamar utama kembali. Kyungsoo dari pinggir sofa menahannya,”Kai, bergabunglah.”

Langkah Kai sempat tertahan karena ucapan D.O. Ia juga ingin bergabung dengan teman – temannya tapi kehadiran Jung Yeon disana hanya membuatnya teringat pada Miri dan perasaan campur aduk akan kembali menguasai dirinya. Ia memutuskan untuk menghilang di balik pintu kamar.

Jung Yeon merasa begitu buruk karena kehadirannya membuat Kai menolak bergabung dengan yang lainnya. Ia beranjak dari tempatnya sambil membungkuk ke arah Suho.

”Aku harus kembali. Terima kasih untuk hari ini. Menyenangkan sekali punya teman – teman baru seperti kalian.”

Mereka memaklumi Jung Yeon sembari mengamati cara Jung Yeon meninggalkan apartemen Kai. Ada ekspresi yang sulit ditebak di raut wajah Jung Yeon. Mereka tersadar ketika bunyi unlock apartemen terdengar lembut seusai kepergian gadis itu.

“Ayo, kita makan siang.” Chanyeol berdiri di tempatnya.”Untuk kali ini Kyungsoo tidak perlu memasak.” Ia memamerkan senyum konyolnya kemudian menghampiri pintu kamar Kai.

“Kai, kau mau ikut makan dengan kami?” Chanyeol mengeraskan suaranya. Tidak ada jawaban. Sehun, Suho, Baekhyun, dan Kyungsoo beranjak.

“Aku disini saja.” Bahkan suaranya terdengar mendung.

Geurom, kami pergi.” Chanyeol menatap keempat lelaki lainnya dengan tatapan ‘succeed’.

*****

Sehun, Suho, D.O, Baekhyun, dan Chanyeol duduk berhadapan di sebuah restoran Jepang. Mereka sudah memesan makanan dan sedang menunggu pesanan datang. Baekhyun menopang dagunya dengan tangan kanan. Suho mengetuk – ngetukkan jemarinya di atas meja—antara menunggu seseorang angkat bicara dan bimbang. Sehun memberi kode nonverbal pada Kyungsoo dan Chanyeol untuk memecah keheningan.

“Kalau aku jadi Kai,” Kyungsoo memulai pembicaraan,”Aku pasti sudah gila.”

“Dia memang sudah gila.” Suho meringis disambut tawa pelan Baekhyun dan Chanyeol.

“Kalau tunanganmu tewas di satu mobil yang sama denganmu tapi kau hidup dan kau tidak gila—,” Sehun meneguk ludahnya,”Kau bukan manusia.”

“Mereka… Benar – benar serupa.” Mata Baekhyun menerawang ke langit – langit restoran.

“Sulit sekali membedakan mereka.” Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Yaaa. Bukankah itu sangat jelas?” Lengkungan tipis kemenangan terukir di bibir Suho. Keempat namja lainnya langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Suho. Suho ikut mencondongkan tubuhnya ke tengah – tengah mereka—mempersempit jarak.”Dia terkagum – kagum melihat magic-mu!” Suho mengarahkan telunjuknya tepat di hidung Baekhyun.

“Jika dia memang Miri, paling – paling dia hanya akan tertawa tanpa suara sambil menundukkan kepalanya.” Suho menirukan sikap Miri ketika Baekhyun dan Chanyeol melakukan hal – hal aneh yang membuat keempat lelaki lainnya geleng – geleng kepala.

“Tapi dia menepuk tangannya dan memujimu dengan ‘daebak’. Kata yang seharusnya tidak diucapkan karena trik sulapmu sangat mudah ditebak.” Suho mereka ulang tepuk tangan Jung Yeon seraya tertawa meremehkan. Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal.

“Apa itu artinya… Pikiran Jung Yeon pendek?” Kyungsoo mencoba memahami arah perkataan Suho.

“Ada dua kemungkinan.” Suho berkata misterius.”Ia tidak bisa membaca trik itu dalam waktu singkat atau—,” Suho menatap empat lelaki yang tengah serius menatapnya,”Ia tidak pernah melihat sulap.”

Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun spontan menjauhkan tubuhnya kembali ke posisi mereka. Opsi kedua itu sangat irrasional untuk mereka.

“Lagipula,” Kyungsoo melipat tangannya di depan dada,”Ia tinggal di China sebelumnya. Ia benar – benar bukan Miri. Itu sudah pasti.”

“Apapun bisa terjadi, Kyungsoo-ya.” Baekhyun mengoreksi sembari menepuk pundak kiri Kyungsoo.

“Haaah… sangat sulit menarik Kai bergabung padahal akan lebih mudah jika dia mendengar sendiri penuturan Mi—,” Chanyeol dihujani tatapan tajam Sehun, Suho, dan Kyungsoo,”Jung Yeon.” Ia bergidik ngeri.

“Harus ada yang menarik Kai.” Sehun melebarkan pandangan ke sekitar mereka. Suasana restoran mulai ramai karena jam makan siang.

“Maksudmu?” Baekhyun mengerutkan dahinya.

“Mungkin,” Sehun menatap keempat lelaki di hadapannya yakin,”Kita harus memancingnya dengan obrolan seru atau games atau apapun yang memaksanya bergabung.”

Suho, Kyungsoo, Chanyeol, dan Baekhyun terdiam sejenak. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi—mengelak dari pikiran yang terlintas di benaknya—tapi pandangan Suho, Kyungsoo, Baekhyun, dan Sehun malah mengarah padanya.

Waeyo?” Chanyeol menatap keempat lelaki lain bergantian.

“Kau ada ide? Baekhyun?” Suho menatap lurus kedua lelaki yang duduk bersebelahan itu.

“Aku rasa ada baiknya membawa Jung Yeon lebih sering datang ke apartemen hingga Kai terbiasa dengan kehadirannya.” Chanyeol melirik yang lain ragu. Sehun, Suho, dan Kyungsoo mengangguk pelan menyetujui saran Chanyeol.

“Kai pasti akan merutuki aku ketika sampai di apartemen.” Ujar Baekhyun pelan namun masih dapat didengar Chanyeol. Chanyeol tertawa kecil membayangkan Kai akan berteriak sepanjang hari karena telah mengundang Jung Yeon ke apartemennya.

*****

Seusai melanjutkan tidurnya yang tertunda karena harus ke apartemen 265, Jung Yeon menggeliat malas di sofa putihnya. Ia memandang kosong pada tayangan TV yang tidak terlalu menarik menurutnya. Pikirannya malah tersita oleh lelaki itu.

Lelaki itu sukses membuat jantung Jung Yeon berdebar sejak awal mereka bertemu. Entah kenapa, matanya yang kelam seperti mencari sesuatu dalam bola mata Jung Yeon pertama kali. Sangat sulit mengartikan tatapan Kai hanya dengan sekali bertemu.

Tapi selanjutnya ketika ia mencoba tersenyum ramah, Kai malah membuang muka. Ia enggan melihat Jung Yeon dan menghindarinya. Karena kehadirannya, Kai menolak bergabung dengan teman – temannya. Mungkin lain kali ia harus mengelak jika mereka mengajaknya ke apartemen Kai lagi. Ia hanya akan mengganggu kebersamaan mereka.

Jung Yeon berjalan lesu ke balkon—tempatnya menghilangkan suntuk dan penat. Ia melihat citylight Apgujeong yang indah dari ketinggian. Ini adalah relaksasi yang tepat atas semua pikiran yang mengganggunya.

Kai juga sedang memandangi citylight dari balkonnya. Ia agaknya diliputi rasa bersalah karena terkesan memperlakukan Jung Yeon dengan buruk. Tapi sangat sulit menepis kenangan masa lalunya dengan Miri yang membuat kepalanya seperti ditimpa bongkahan batu besar ketika melihat sorot mata Jung Yeon yang hangat.

Jung Yeon baru ingat bahwa ia belum masak untuk makan malam. Ia berbalik untuk menyusuri ruang tengah menuju dapur saat ekor matanya menangkap sosok Kai di balkonnya. Ada rasa sedih, iba, dan sakit pada waktu bersamaan melihat bola mata gelap itu. Seolah ia tidak pernah menyentuh kehangatan apapun dalam hidupnya.

Jung Yeon dilanda kebimbangan antara pergi begitu saja ke dapur atau menyapa Kai. Ia ingin menjalin hubungan baik dengan siapapun—apalagi Kai adalah pemilik apartemen sebelahnya. Ia pasti akan menjadi yang paling sering berada disana, bukan?

Jung Yeon mengumpulkan suaranya dari nafas yang sempat tercekat. Ia mengerahkan segenap keberanian dan mentalnya.”Hai.”

Suara lembut itu menyeruak masuk ke pendengaran Kai. Perlahan tapi pasti, ia menoleh ke sampingnya dan menemukan Jung Yeon sedang berdiri menghadapnya.

“Aku Jung Yeon.” Jung Yeon tersenyum simpul. Kai hanya menatapnya sesaat lalu melempar pandangan pada citylight lagi.

Jung Yeon menarik nafas panjang sebelum mengucapkan sesuatu yang tertahan di bibirnya.

“Aku benar – benar minta maaf. Mungkin kehadiranku disini mengganggumu tapi aku sama sekali tidak berniat membuat siapapun kesal. Orang tuaku menyewakan apartemen ini untukku jadi aku tidak tahu apa – apa tentang tetanggaku. Ini semua memang kebetulan. Jadi aku minta maaf kalau kehadiranku membuatmu jengkel.” Jung Yeon menundukkan wajahnya.”Dan tadi pagi aku hanya ingin berkenalan dengan teman – temanmu karena aku belum punya banyak teman di Seoul. Aku juga ingin menjalin hubungan yang baik denganmu karena kita tetangga, benar?

Kai tidak bergeming meski ia menyerap semua kata – kata yang dilontarkan Jung Yeon dalam pikirannya.

“Aku hanya ingin punya banyak teman disini. Apalagi kita sama – sama kuliah di Konkuk.” Jung Yeon menepis memori pertemuan pertamanya dengan Kai dan menyunggingkan senyum terbaiknya. Kai meletakkan kedua tangannya yang bergenggaman di atas pagar besi balkon.

Geurom, aku masuk dulu.” Baru beberapa detik ia melangkah, suara berat Kai menahannya.

“Kenapa kau pindah?” Tanya Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari kerlipan lampu malam.

“Aku—,” Jung Yeon sedikit terhisap aura Kai lagi,”Kuliah di Konkuk tentu saja harus pindah. Tidak mungkin setiap hari aku menempuh perjalanan Korea – China.” Ia menyelipkan tawa diantara kata – katanya.”Aku masuk dulu.”

Kai melirik Jung Yeon dari ujung matanya. Gadis itu ternyata banyak bicara. Ia mudah mengutarakan isi hatinya dan hal itu berbanding terbalik dengan Miri. Miri dan Kai begitu mirip sehingga Kai akhirnya bisa menerima pertunangan mereka. Miri dengan mudah menyusup ke hatinya karena kepribadiannya yang lembut dan perhatian. Kai menghela nafas sambil memejamkan mata—merasakan semilir angin musim gugur menerpa wajahnya.

*****

Dua minggu berturut – turut Baekhyun dan Chanyeol mengetuk pintu apartemen Jung Yeon untuk menunjukkan progress sulap mereka. Chanyeol—mau tidak mau—akhirnya belajar beberapa trik sulap sebagai alibi kemudian mengajari Baekhyun ketika Jung Yeon ada di apartemen Kai.

Dan dua minggu itu juga Kai tidak pernah keluar dari kamarnya.

Jung Yeon tertawa renyah saat kartu yang dipilih Chanyeol dari tumpukan kartu di tangannya adalah As hati. Tebakannya benar. Kartu itu adalah yang ia pilih sebelumnya.

“Kemampuan sulap kalian meningkat pesat.” Jung Yeon menepukkan tangannya kagum. Baekhyun dan Chanyeol tertawa bersamaan menyadari kepolosan Jung Yeon. Bukankah trik itu sudah digunakan lebih dari sejuta orang di dunia? Opsi kedua yang dikatakan Suho bisa jadi benar.

“Jung Yeon, kau mengambil jurusan seni, kan’? Kau pasti sangat pandai menari.” Kyungsoo kini mengambil posisi di samping Baekhyun duduk di karpet merah.

“Tidak. Aku mengambil jurusan teater.” Jung Yeon tertawa pelan.”Sebenarnya aku lebih suka… berdansa.”

Sehun langsung meluncur dari pojok ruangan—mengandalkan kelicinan lantai kayu apartemen Kai.”Oh, sungguh?”

Jung Yeon mengangguk sembari menahan tawanya. Sehun sangat gesit—dalam gerakan cepat ia meluncur dan menghampiri mereka di tengah – tengah karpet.

“Kau bisa mengajariku dansa?” Suho yang baru keluar dari kamar Kai langsung duduk bersila di samping Kyungsoo.

“Tentu!” Jung Yeon setengah berteriak. Ia terlalu bungah karena selama ini tidak pernah ada yang memintanya mengajari dansa.

“Kai sangat mahir menari.” Baekhyun tiba – tiba keluar dari topik. Menyadari ditatap sengit bertubi – tubi, ia meralat.”Maksudku, kau pasti mahir menari karena mengambil jurusan teater.” Ia menundukkan kepalanya takut. Tawa pelan tergelincir dari mulut Baekhyun. Otak Chanyeol sepertinya sedang tidak ada di tempatnya.

Kesunyian menyesap setelah ucapan terakhir Baekhyun. Mendengar nama Kai membuat sesuatu dalam diri Jung Yeon mengingat bagaimana ia berusaha melepaskan diri dari aura Kai yang membayanginya dua minggu terakhir. Jung Yeon buru – buru menggelengkan kepalanya—melawan semua hal yang tidak beres di otaknya.

“Kyungsoo-ya, bukankah ini jadwalmu memasak?” Sehun memegangi perutnya seolah belum makan dua minggu. Kyungsoo berdecak kecil tak habis pikir dengan tingkah laku teman – temannya.

“Kau sering memasak untuk mereka?” Jung Yeon nyaris tidak percaya namun sedetik kemudian senyum tipis Kyungsoo mengusir ketidakpercayaannya.

“Ah, biar aku yang masak malam ini.” Jung Yeon beranjak menuju dapur.

“Terima kasih, Jung Yeon.” Chanyeol mengangkat jempolnya tinggi ke udara. Kyungsoo ikut menyusul Jung Yeon ke dapur.

“Apa yang ada di kul—,” Tangan Jung Yeon terhenti di udara melihat sebuah post-it yang ditempel di kulkas. Ia mencabut post-it itu dan melihatnya lebih dekat.

Eat well. ^^

Jung Yeon mengamati sederet tulisan Bahasa Inggris itu. Ada perasaan aneh yang membuat nafasnya tercekat ketika membacanya dari jarak dekat.

“Jung Yeon, kita mau masak ap—“

Kyungsoo tertegun memandangi Jung Yeon yang mematung dengan selembar post-it di tangannya. Ia mendekati Jung Yeon—berusaha membaca post-it di tangannya—kemudian berdehem pelan.

“Dari ibunya.” Kyungsoo meluruskan pikiran Jung Yeon meski ia juga tidak jujur. Post-it itu ditempel di kulkas rumah Kai oleh Miri sebelum ia dan Kai berangkat ke London untuk liburan musim dingin. Ternyata Kai membawanya saat pindah ke apartemen dan menempelkannya di kulkas juga.

Jung Yeon segera menarik diri ke dunia nyata. Ada apa dengan dirinya belakangan ini? Ia langsung menempelkan kembali post-it itu dengan kikuk dan membuka pintu kulkas—mencari bahan makanan untuk dimasak bersama Kyungsoo.

*****

Kelima lelaki yang akan membuat semua gadis megap – megap di dekat mereka kini melingkar dengan bahagia di meja makan. Suho—sebagai pengunjung tetap apartemen dan paling mengenal letak barang – barang-mengambil dua kursi tambahan sekaligus. Mereka berkali – kali melempar pujian pada hasil karya Jung Yeon dan Kyungsoo yang fantastik, menurut mereka.

Fantastic. Marvelous. Unusual.” Suara Baekhyun tertahan oleh makanan yang memenuhi mulutnya.

Out of box.” Suara Chanyeol teredam oleh makanan yang belum habis.

“Di luar kotak maksudmu?” Suho menelan habis makanannya sebelum meledek Chanyeol. Keenam orang di meja makan spontan tertawa mendengar lelucon Suho.

“Tapi,” Sehun menyesap air di gelasnya,”Kemana Kai? Tidak biasanya belum pulang.”

Jung Yeon melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan. Ia menghembuskan nafasnya perlahan—merasa bersalah karena kehadirannya mungkin yang membuat Kai malas pulang.

“Ini bukan salahmu.” Kyungsoo menyadarkan Jung Yeon dari lamunan. Jung Yeon hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Bunyi unlock apartemen membuat aktivitas orang – orang di meja makan terinterup. Mereka melongok ke arah pintu utama—mencari sosok lelaki berkulit gelap itu menampakkan diri. Tak lama, kepala Kai menyembul dari balik pintu dan postur tubuhnya mulai terlihat seiring dengan masuknya ia.

Tapi ia tidak sendiri.

Sebuah suara lain khas Ahjumma mengikuti di belakangnya. Kelima teman Kai menautkan alisnya—menerka siapa Ahjumma itu. Mungkinkah Kai bermasalah dengan seorang Ahjumma?

“KAU SEHARUSNYA LEBIH MENJAGA KESEHATANMU. APA AKIBATNYA SEKARANG? KAU HARUS BANYAK ISTIRAHAT, KIM JONGIN!” Seorang Ahjumma muncul dari balik punggung Kai yang kokoh. Suho, Sehun, Kyungsoo, Baekhyun, dan Chanyeol berdiri bersamaan tanpa diberi aba – aba lalu membungkukkan tubuh.

“Apa kabar, Ahjumma?” Satu persatu dari mereka kembali berdiri tegak. Jung Yeon menyimpulkan sepertinya ini ibunya Kai.

“Ah, kalian. Kesehatan Jongin menurun drastis dua minggu terakhir. Dia makan teratur, bukan?” Gurat kekhawatiran tampak nyata di wajah Nyonya Kim. Kai menghilang di balik pintu kamarnya sebelum mendengar lebih lanjut keluhan ibunya.

“Ya, Ahjumma. Dia selalu makan malam denganku.” Suho meyakinkan. Kecemasan itu berangsur – angsur berkurang dari raut wajah Nyonya Kim.

“Kalian sedang makan malam? Aigoo… Pasti Kyungsoo lagi yang memasak.” Pandangan Nyonya Kim tiba – tiba tertuju pada satu point. Jung Yeon buru – buru membungkukkan badannya.

Annyeonghaseyo, Ahjumma.” Ia tersenyum ramah. Nyonya Kim membeku di tempatnya tanpa sedetikpun mengalihkan pandangan. Sehun, Suho, Kyungsoo, Chanyeol, dan Baekhyun saling bertatapan serba salah.

“J-Jongin-ah, ikutlah makan malam dengan yang lain.” Perintah Nyonya Kim terbata – bata sambil berjalan gusar menuju tempat Jung Yeon berdiri. Di satu sisi, Jung Yeon sangat canggung dengan kondisi ini tapi di sisi lain ia tidak mungkin menjauhi Nyonya Kim.

Nyonya Kim menatap ke dalam bola mata Jung Yeon lekat – lekat lalu memerhatikannya dari ujung kaki hingga kepala. Matanya mulai berkaca – kaca. Ia merengkuh pipi Jung Yeon dengan bulir air mata jatuh di pipinya.

“Miri-ya…” Ia berkata lirih. Kelima lelaki yang berdiri di ruang tengah langsung menengok ke meja makan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Ahjumma—,”

“Miri-ya, kau kembali.” Nyonya Kim memotong ucapan Jung Yeon dengan pelukan hangat seorang ibu. Jung Yeon terenyuh sesaat. Dalam sekejap kehangatan membalut setiap lekuk tubuhnya karena sikap Nyonya Kim yang warm-hearted dan secara refleks membalas pelukan wanita itu.

“Aku sangat senang kau kembali.” Jung Yeon merasakan pundaknya basah dihujani air mata Nyonya Kim. Ia menepuk pundak Nyonya Kim dengan irama menenangkan.

Kai keluar dari kamar dan menatap lurus pemandangan di meja makan. Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya sebelum menghampiri kedua orang yang sedang berpelukan itu.

Nyonya Kim masih tertegun dengan kehadiran seseorang yang sangat serupa dengan calon menantunya dulu. Ia mulai berspekulasi tentang Miri. Mungkinkah gadis yang berdiri di depannya adalah Miri? Ataukah ini reinkarnasi? Tapi sangat kecil kemungkinan reinkarnasi dalam zaman dan masa yang sama. Satu hal yang ia yakini: perasaan kehilangan itu telah luntur.

Eomma, ayo makan.” Ucap Kai datar di samping ibunya. Jung Yeon melihat wajah Kai sekilas yang seketika menjadi mendung. Nyonya Kim merenggangkan pelukannya dengan Jung Yeon dan masih merasa takjub akan kehadiran gadis itu.

“Dimana orang tuamu?” Nyonya Kim menghapus air mata yang membanjir di pipinya.

Eomma.”

Jung Yeon menundukkan kepalanya takut. Kai pasti sedang melempar tatapan membunuhnya pada Jung Yeon. Jika ia mengucapkan satu kata saja, ia pasti mati.

“Dimana mereka?” Nyonya Kim mendesak lembut. Ia mengelus pundak Jung Yeon lembut untuk menenangkan.

“Mereka—,” Jung Yeon merasakan hidung dan tenggorokannya sakit. Ia harus menahan air mata agar tidak jatuh,”Ada di Shanghai.”

“Shanghai?” Nyonya Kim terkejut tapi sedetik kemudian ia tersenyum.”Biarkan aku mengenal mereka.”

Jung Yeon mendongak tidak percaya.”Ahjumma.

“Jongin tidak pernah cerita kau ada disini.” Nyonya Kim berkata frontal sambil menatap Kai dengan tatapan menuduh. Kini ia memahami penyebab kondisi Kai yang drop belakangan.

“Aku… tinggal di apartemen sebelah.” Jung Yeon meralat ragu.

“Benarkah? Ah, takdir yang ajaib.” Nyonya Kim menarik satu kursi di samping tempat Jung Yeon.”Ayo, kita makan.”

Suho, Kyungsoo, Chanyeol, Sehun, dan Baekhyun ikut kembali ke posisinya semula. Mereka melanjutkan makan dalam diam. Sesekali Kyungsoo melirik Suho tapi Suho tak pernah mengangkat wajahnya. Sehun memberikan tatapan ‘what-should-we-do?’ pada Baekhyun dan Chanyeol tapi sia – sia. Mereka juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang.

“Ini lezat sekali.” Nyonya Kim menyeruput sup ayam ginseng di mangkuknya.

“Ini hasil karya Kyungsoo dan Jung Yeon, Ahjumma.” Tambah Baekhyun. Nyonya Kim membulatkan matanya seraya menengok pada Jung Yeon.

“Kau yang membuatnya?”

“Ya, Ahjumma.” Pipi Jung Yeon merona merah.

“Kau pandai sekali memasak.” Puji Nyonya Kim.”Tadi siapa namamu?”

“Namaku Cho Jung Yeon.” Jung Yeon tersipu malu karena pujian berulang kali yang meluncur dari mulut Nyonya Kim.

“Cho Jung Yeon? Apa itu nama koreamu?” Nyonya Kim mengerutkan dahi.

“Benar, Ahjumma. Orang tuaku warga Korea asli. Mereka tinggal di Apgujeong sebelum pindah ke Shanghai.” Jelas Jung Yeon.

“Ah, sungguh kebetulan yang menyenangkan.” Nyonya Kim menatap santapan lain di atas meja.”Ayahmu bekerja di Shanghai juga, Sweety?

Pipi Jung Yeon memamerkan semburat merahnya. Ia sangat canggung dengan panggilan ‘sweety’.”Abeoji bekerja di perusahaan agrikultura. Tapi Beliau tidak selalu ada di Shanghai.”

“Perusahaan agrikultur?” Nyonya Kim seperti teringat sesuatu.”Dulu aku juga pernah bekerja di perusahaan agrikultura… Korea.” Ia menggoda Jung Yeon. Jung Yeon menahan senyumnya melihat perubahan mood Nyonya Kim.

Jung Yeon mengalihkan pandangannya ke dapur karena duduk berhadapan dengan Kai membuatnya harus menahan nafas berkali – kali. Pandangannya menyapu seisi dapur dan berhenti tepat di kulkas. Post-it yang dibuat Nyonya Kim untuk puteranya. Mereka pasti sangat dekat.

Kyungsoo yang mendapati Jung Yeon sedang menatap post-it yang ia bilang dari Ibu Kai diterpa kepanikan. Ia mencari cara untuk mengalihkan pandangan Jung Yeon dari kulkas agar gadis itu cepat melupakan post-it itu.

“Jung Yeon, bisakah kau bawa beberapa bahan makanan dari apartemenmu besok? Sepertinya mereka menyukai masakanmu dan bahan makanan sudah menipis.” Kyungsoo berkata canggung.

“Menipis?” Nyonya Kim mengalihkan tatapannya pada Jung Yeon di sebelahnya.”Kau mau berbelanja denganku besok?”

 

 

 

TBC

 

Note:

HALOOOOOOO AMISYU GUISEEEE!

aku takut besok gasempet ngepost jadi hari ini aku post. lebih cepet kan? ahahaha

pokoknya sabar yaa ikutin alur atwb. aku buka pelan2 ceritanya okaaay? sekian XD

146 responses to “As Time Went By (Chapter 2)

  1. Kenapa pas lihat post it itu Jung yeon jd ngerasa ada yg aneh, apa Jung yeon itu Miri? Aaah penasaran 😦

  2. Kok Jung Yeon kaya ngerasa” gimana gitu yg berhubungan sama Miri ya? Apa jangan” dia itu Miri atau gimana ya? penasaran thooor >.<

  3. ya ampun sebenarnya jung yoen itu ada kaitan apa sama miri y???
    atau jangan” jung yeon memang miri???
    aduhhh makin sru aja ceritanya 🙂

  4. Huaaa seru bangett, wah eommanya jongin kayaknya mulai2 menginterogasi jungyeon =))
    Kai jangann jutekkk dong TT kasiann jungyeonnya :”) heheee bener2 yaa jangan2 jungyeon itu miri:”) tp gatau dehhh wkwk
    Hehe next ya:D

  5. Akhhh… Penasaran jungyeon itu siapa sih sbenernyaaa??? Kok dia ngerasa aneh gimana gitu sm post-it nya? Trs jg merasa ketrik dalam dunianya jongin pas meliahat matanya jongin… Akkhhh cerita mu keren chinguu jd penasaran bgt next chap 3. Aku lanjut baca yaa…

    고마워요 🙂

  6. Koq JungYeon rada” gimana gitu sih pas lihat post-it nya? Apa mereka orang yang sama? JungYeon-MiRi?
    Huftt.. Penasaran ni ><
    Lanjut ne kak, semangkaa!!~

  7. Jungyeon itu miri bukan nya? Penasaran banget. Tapi aku mau nya dia org yg berbeda. Heheh. Dasar -_- menarik kak ceritanya

  8. Eiiyy msh bingung deh itu nyonya kim udh ngeuh itu jeon yeon atau msh nyangka minri ??
    Suka deh sm karakter kai disini ..

  9. mian thor aku lngsng komen di chap 2 hehe ya ampun itu si miri hidup lg atau emng gak meninggal? jd makin penasaran deh. kyknya lngsng ngebut aja nih bacanya wkwk

  10. Pingback: As Time Went By (Chapter 14) | SAY - Korean Fanfiction·

  11. Pingback: As Time Went By (Epilog) | SAY - Korean Fanfiction·

  12. Authornim…aku berharap sih mereka org yg berbeda…biar daebak ceritanya thor..
    tp itu saran sih…semuanya terserah author..
    thankz author dah bikin cerita daebak..
    #pelukciumdarichenchen *nyengirkuda

  13. Kenapa pas lihat post it itu Jung Yeon jd ngerasa ada yg aneh, apa Jung yeon itu
    Miri? Aaah penasaran >_<

  14. kai nya jutek bat ih! najong -..-
    tumben saat itu pemikiran chanyeol ama baek lg bener.. wkwkwk 😀 daebak eonn

  15. Waaaa ibunya kai warm hearted bgt smp cepet akrabnya sm jungyeon! Bagus lagi kalo mereka dijodohin nih kedepannya wkwk

  16. benar” takdir yg gak pernah disangka”, jungyeon membawa warna tersndri bagi smua . Tpi kai masi blum bsa buka diri, yah mw gmna lg smua hanya bsa mengalir gt aja.
    Oke next

  17. Aaaaaa…
    akhirnya jung yeon tatapan muka jga sm kaii..
    omg hellooww ibu kai welcome bgtzz sm jung yeon…
    wah mrk mw masak bersama yaa bagai calon mantu dan mertua….

  18. woahh si Jung Yeon ketemu namja* tampan dong setiap hari (?) senengnyaaa -_- duuh emaknya Kai keknya seneng banget sama si Jung Yeon, Kai lagi* mendung (?) ada apa dengan post-it ‘Eat Well^^’ ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s