Over Bride [Chapter 10] — by IMA

OverBride

Title     : Over Bride

Author                : Ima (@kaihyun0320)

Casts      : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Other    : Lee Tae Min (SHINee), Byun Baekhyun is back.

Rating     : PG-17!!

Genre      : Romance, Fluff, Married Life.

Ch 1 ⌋ Ch 2 ⌋ Ch 3 ⌋ Ch 4 ⌋ Ch 5 ⌋ Ch 6 ⌋ Ch 7 

Ch 8 ⌋ Ch 9

© Ima at SKF 2014

Review:

“Kenapa malah bertanya balik? Aku ‘kan sudah selesai ujian akhir semester, Jong In. Liburanku baru saja dimulai,” Ji Hyun mengendikkan bahu tak acuh namun Jong In malah mencubit pipinya dengan cukup keras.

“Baiklah, aku juga libur hari ini. Ayo tidur lagi,” Jong In menaruh kepalanya dekat leher Ji Hyun, tidak peduli bagaimana gadis itu terus memberontak dan menyuruhnya pergi ke kantor. Jong In sedang malas bahkan untuk beranjak dari tempat tidur. Tidur bersama Ji Hyun lebih membuatnya bersemangat daripada harus pergi seharian dan membuat kepalanya pusing karena mengurus masalah perusahaan. Mengambil jatah libur sehari –yang hampir tidak pernah diambil oleh presiden direktur sepertinya mungkin baik juga. Apalagi ia hanya berada di atas tempat tidur seharian bersama wanita yang membuat kerja otaknya hancur.

 [Over Bride] Chapter 10

Siang harinya, Jong In memutuskan mengajak Ji Hyun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Chanyeol. Mereka –Jong In dan Ji Hyun membeli satu keranjang buah-buahan di supermarket dekat rumah sakit –dan berhasil menarik perhatian beberapa orang di sana. Melihat Jong In –yang menjadi headline berita akhir-akhir ini berada di luar bersama istrinya. Hubungan mereka mengalami kemajuan yang cukup pesat, ya setelah ciuman panas tadi pagi. Bahkan Ji Hyun harus menutupi lehernya dengan syal untuk menyembunyikan –kejadian semalam dan apa yang sudah dilakukan Jong In tadi pagi.

Ji Hyun melangkah hati-hati ketika membuka pintu kamar rawat Chanyeol dan menemukan sahabatnya itu tengah menyantap makan siangnya sambil membaca sebuah majalah. Ji Hyun tersenyum lebar kemudian berlari ke arah pria itu dengan teriakan heboh, membuat Chanyeol hampir tersedak namun berhasil mengendalikannya.

“Yeol-ah~!!” Ji Hyun berdiri di samping tempat tidur Chanyeol lalu memeluk laki-laki itu dengan sangat erat. Tidak peduli dengan selang infus yang tidak sengaja tertarik dan membuat tiang berisi kantung infusnya hampir terjatuh. Namun Jong In yang baru datang berhasil mencegah tiang infus itu untuk tidak terjatuh.

Untuk kali ini saja Jong In membiarkan Ji Hyun memeluk Chanyeol seperti itu.

“Syukurlah kau tidak apa-apa,” gumam Chanyeol setelah pelukan itu terlepas lalu mengacak rambut Ji Hyun dengan gemas.

Ji Hyun mendecih pelan. “Harusnya aku yang mengatakan itu, Chanyeol. Mereka menyerangmu dengan brutal waktu itu, aku kira kau akan mati. Tapi ternyata kau masih sehat-sehat saja.”

Tangan Ji Hyun dengan jahil mencubiti lengan, perut, dan wajah Chanyeol tanpa ampun. Ia merindukan sahabatnya. Ia tidak akan membiarkan sahabatnya itu meregang nyawa lagi karena sebuah perkelahian. Ia berjanji untuk tidak membawa Chanyeol ke dalam masalah pribadinya yang akan membahayakan nyawa laki-laki itu.

YA! YA! Sakit, bodoh. Jangan mencubit badanku!” protes Chanyeol, namun Ji Hyun masih saja terkekeh geli sambil mencubit kecil bagian-bagian tertentu pada tubuh Chanyeol.

Hingga suara berdehem dari Jong In menghentikan tangan Ji Hyun seketika.

“Oh, hai, Jong In,” sapa Chanyeol kaku sambil melebarkan senyum jenakanya. Dan sekali lagi, Chanyeol membenci kenyataan bahwa mereka berdua terlihat serasi saat berdiri berdampingan seperti itu.

“Terima kasih,” ucap Jong In dengan nada dingin dan membuat Ji Hyun menoleh dengan cepat. Jong In cepat-cepat menyunggingkan seulas senyum simpul, memenuhi permintaan gadis itu sebelum masuk ke kamar rawat Chanyeol tadi.

“Itu lebih bagus ‘kan? Kubilang kau lebih tampan kalau tersenyum,” ujar Ji Hyun jujur. Sebenarnya Ji Hyun memang seseorang yang jujur –dan kadang kelewat polos dan tidak peka juga. Namun ia memang suka mengatakan langsung pada seseorang, entah itu disukai atau tidak disukai.

“Jangan merayuku, Ji Hyun.”

Cih, siapa yang merayu? Semua orang memang lebih bagus kalau tersenyum,” elak Ji Hyun sambil mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Berharap Jong In tidak melihat wajahnya yang mulai memerah.

Chanyeol menyadari ada yang berbeda dari sahabatnya siang itu. Interaksi diantara Jong In dan Ji Hyun terlihat berbeda, ia tidak tahu kenapa. Ia hanya merasa bahwa keduanya terlihat semakin dekat, interaksi alami seperti sepasang kekasih yang baru saja menjalin cinta. Ia bahkan tidak pernah melihat Ji Hyun memakai syal di akhir musim panas seperti itu, entah apa yang disembunyikan di dalamnya karena ia tidak mau membayangkannya. Apalagi Ji Hyun yang tidak bisa berhenti tersenyum ketika Jong In dengan sengaja menggodanya agar mengakui pujian tampan tadi. Ji Hyun benar-benar menemukan kebahagiaannya.

Ya. Ya. Kalau mau bermesraan di apartemen saja, jangan di kamar rawatku, eish,” protes Chanyeol dengan suara baritonenya.

Ji Hyun menyadari kebodohannya lalu segera menepuk-nepuk kepala Chanyeol. “Maaf ya, Yeol-ah.”

“Kalian mau menjengukku atau tidak? Malah sibuk berdua seperti itu,” sahut Chanyeol tidak suka. Namun Ji Hyun malah terkekeh dan duduk di sisi tempat tidur Chanyeol, menggamit lengan laki-laki itu dan menyandarkan kepala di bahu sahabatnya. Membuat Jong In harus kembali menguji kesabarannya.

“Kau yang terbaik, Chanyeol. Yang terbaik,” gumam Ji Hyun.

Memang membutuhkan waktu yang lama awalnya untuk menerima Chanyeol sebagai sahabatnya. Ketika kecil dulu, Ji Hyun sangat membenci Chanyeol yang selalu mengikutinya kemana pun setelah diselamatkan dari anak-anak nakal itu. Namun di saat yang bersamaan, Ji Hyun merasa senang karena pada akhirnya ada seseorang yang mau berteman dengannya –yang suka berkelahi. Hingga mereka sebesar itu, Ji Hyun merasa bahwa Chanyeol sudah menjadi kakak yang baik seperti Baekhyun.

Jong In mendesah napas pelan kemudian beranjak keluar dari kamar rawat itu. Meninggalkan keduanya untuk mendapatkan privasi serta meredakan rasa cemburu yang mulai menggerogoti perasaannya. Ia tahu Ji Hyun menyayangi Chanyeol hanya sebagai seorang kakak, namun Jong In memang seorang yang posesif terhadap apapun yang menjadi miliknya. Jadi ia lebih memilih berjalan-jalan di koridor dan taman belakang rumah sakit, mencari udara segar yang bisa meredakan amarahnya.

Hingga pandangan Jong In terhenti pada satu titik.

“Baekhyun?” tanyanya tidak percaya. Ia melihat Baekhyun –yang menggunakan kacamata hitam tengah duduk di sebuah bangku taman rumah sakit.

Bagaimana jika Ji Hyun bertemu dengan Baekhyun?

Tidak. Jong In belum siap jika keduanya bertemu dan Baekhyun akan membawa Ji Hyun dari sisinya sesuai perjanjian mereka. Waktu masih tersisa dua bulan lagi dan harusnya Baekhyun tidak mengingkari perjanjian mereka. Semoga Baekhyun tidak mengambil Ji Hyun untuk sementara ini.

“Hei, adik ipar,” lamunan Jong In terjatuh kembali ke bumi ketika sosok Baekhyun sudah berdiri hanya beberapa langkah saja di depannya. Baekhyun menurunkan kacamata hitamnya dan menatap Jong In dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Kenapa kau tidak pergi jauh?” tanya Jong In to the point. Seingatnya ia memberikan uang yang sangat banyak pada Baekhyun, menyuruh pria itu perg jauh selama enam bulan dan memulai usaha untuk menggantikan uangnya.

“Aku sudah membuka usaha di Gyeonggi-do dan sedang liburan di sini. Tenang saja, uangmu akan kembali tepat waktu,” Baekhyun memakai kembali kacamata hitamnya.

“Ji Hyun bilang bertemu denganmu di Seoul. Tapi kau malah masuk ke mobil dan meninggalkannya,” balas Jong In. Keduanya masih berdiri di taman belakang dengan jarak yang tidak begitu dekat, namun Jong In melihat sedikit perubahan ekspresi Baekhyun.

“Itu hanya bagian dari perjanjian. Kau yang menyuruhku untuk tidak muncul di depan Ji Hyun sampai waktunya tiba,” Baekhyun menoleh sebentar untuk mengambil napas karena tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. “Aaah, apa kau menjaga Ji Hyun dengan baik? Kuharap begitu karena aku tidak mau menemukan adikku terluka saat perjanjian kita berakhir nanti,” papar Baekhyun cukup panjang lebar dan baru saja akan pergi ketika Jong In menahan lengannya.

“Apa kita tidak bisa mengubah perjanjiannya?”

“Tidak bisa, Jong In. Hitam di atas putih. Kita sudah sepakat dan aku tidak mau berurusan dengan pengadilan karena masalah ini.”

Ucapan Baekhyun kembali membuat kepala Jong In terasa pening. Jong In melepaskan lengan Baekhyun dan membiarkan kakak laki-laki dari istrinya itu berjalan menjauh. Jika perjanjiannya tidak bisa berubah, maka ia akan benar-benar kehilangan Ji Hyun dari hidupnya. Dan bahkan Baekhyun akan membawa adiknya pergi jauh karena ternyata perjanjian yang mereka buat tidak semudah itu.

*© Ima at SKF 2014*

Langit sudah hampir kehilangan sinar matahari sore itu dan Ji Hyun merasa senang karena bisa berjalan-jalan bersama Jong In. Layaknya pasangan pada umumnya, saling mengaitkan lengan dan tertawa bahagia. Ji Hyun tidak pernah merasakan debaran jantung yang menggila seumur hidupnya ketika seorang pria menatapnya dalam jarak yang dekat. Ia hanya seorang yang awam dalam masalah percintaan dan apapun yang berhubungan dengan Jong In selalu membuat hidupnya lebih menyenangkan.

“Jong In.”

Hm?”

Mereka –Jong In dan Ji Hyun sedang berjalan dari basement gedung apartemen sambil menggenggam tangan satu sama lain. Ji Hyun menoleh sebentar untuk memperhatikan Jong In yang cukup jauh lebih tinggi darinya lalu tersenyum simpul. Seperti mimpi rasanya ketika Jong In bisa menyayanginya, tidak membuat Ji Hyun khawatir tentang perasaan anehnya sendirian.

“Kalau Baekhyun kembali…. Bagaimana?” Ji Hyun terdengar ragu untuk bertanya dan ekspresi Jong In sedikit berubah karena pertanyaannya.

“Kenapa?”

“Dia tidak akan memisahkan kita ‘kan?” tanya Ji Hyun, berharap banyak pada jawaban Jong In selanjutnya. Harusnya tidak akan menjadi masalah jika mereka memang saling menyayangi bukan?

Mwo? Kau takut berpisah denganku?” Jong In malah menggoda Ji Hyun dan berhasil membuat lengan atasnya mendapat cubitan keras dari gadis itu. “Ya! Aish, kau masih suka mencubit, eoh?”

“Kau menyebalkan,” sahut Ji Hyun jengkel.

Jong In hanya tertawa pelan lalu mengacak rambut Ji Hyun dengan lembut. Ia tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan dan biarkan saja seperti itu. Menikmati hari-harinya bersama Ji Hyun hingga perjanjiannya dengan Baekhyun berakhir. Mungkin akan terasa sulit di masa depan ketika perpisahan itu terjadi dan Jong In bahkan tidak mampu membayangkan hal itu.

“Aku siapkan makan malamnya,” Ji Hyun mengangkat tas plastik di tangannya –makan malam yang dibeli di restoran—seraya berlalu ke dapur. “Kau mandi duluan saja, Jong In-ah.”

Araseo.

Ji Hyun memandangi punggung Jong In yang menghilang ke lantai dua dari belakang meja mini bar. Ternyata hidup dengan seorang suami tidak seburuk yang dibayangkannya. Ia kira hidupnya akan terpuruk karena menikah dengan pria dingin yang memiliki banyak uang seperti Jong In. Seperti dalam drama yang sering dibicarakan Chanyeol. Awalnya memang menyebalkan, namun ia malah menikmati perannya sebagai seorang istri dan jatuh cinta pada Jong In.

Hampir dua puluh menit kemudian setelah Ji Hyun menghangatkan makan malam yang dibelinya, ia melihat sosok Jong In yang menuruni tangga. Pria itu hanya memakai celana selutut dan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan lengan kekarnya. Membuat Ji Hyun harus menarik napas dalam-dalam, meredakan detak jantungnya karena Jong In terlihat keren dengan rambut yang basah dan berantakan juga.

“Kau kenapa? Terpesona?” tanya Jong In dan Ji Hyun hanya memutar bola matanya ke arah lain. Jong In menarik kursi di samping Ji Hyun dan memperhatikan istrinya yang tengah membuat ekspresi seperti orang muntah.

Aigoo, ternyata orang dingin sepertimu punya percaya diri yang tinggi juga,” jawab Ji Hyun tanpa mau menoleh ke arah Jong In. Rasanya Jong In memang pantas bersikap seperti itu, lelaki itu memang sempurna dari berbagai sisi dan membuat wanita mana pun terpesona.

Cish, wanita mana yang tidak terpesona, hah?”

Dwaesseo, ayo makan. Jal mokgeusseumnida,” ujar Ji Hyun semangat –mengabaikan pertanyaan Jong In lalu mulai menyantap makan malamnya.

Sementara Jong In sempat tertawa pelan melihat tingkah gadis itu sebelum memulai makan. Sepertinya ia memang merindukan seorang pendamping yang bisa mengisi hari-harinya. Dan Ji Hyun –walaupun berbeda dari mantan-mantan kekasihnya dulu, ia tetap menyayangi gadis itu apa adanya. Seorang Byun Ji Hyun memang unik, kadang bersikap sangat dingin dan bar-bar, namun di dalamnya sangat manja.

Dan sebenarnya Ji Hyun merasa sedikit risih ketika Jong In selalu memperhatikannya dari samping. Seolah ia adalah santapan makan malam yang lebih menggiurkan –dan akan dimakan oleh pria itu. Padahal makanan di meja terlihat sangat menggoda –menurutnya dan Ji Hyun tidak berhenti mengunyah sejak tadi, untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Sejak saling mengungkapkan perasaan masing-masing dan tidur bersama semalam, Ji Hyun malah merasa lebih canggung. Entah kenapa.

“Besok mau ikut aku ke kantor?” Jong In tiba-tiba bertanya di tengah-tengah makan malam. Dan Ji Hyun mau—tidak—mau menoleh untuk menatap suaminya.

“Memangnya ada apa?” tanya Ji Hyun heran. Tidak biasanya Jong In mengajaknya ke kantor seperti itu.

“Hanya menemaniku saja. Mau tidak?” tanya Jong In sekali lagi, memastikan. Padahal sebenarnya besok akan ada rapat perusahaan –yang mengundang ibunya datang dan ia ingin Ji Hyun mendampinginya.

Anhi. Besok Chanyeol sudah bisa pulang, jadi aku akan menjemputnya,” jawab Ji Hyun dan terlihat kerutan di kening Jong In.

“Secepat itu? Aku kira dia masih akan di rumah sakit seminggu lagi. Keadaannya sangat parah waktu itu,” Jong In mengalihkan pandangan pada mangkuk makanannya kembali. Merasa sedikit kesal karena Ji Hyun ternyata lebih mementingkan sahabatnya. Oh ya, Ji Hyun tentu saja akan memilih Chanyeol.

“Daya tahan tubuh Chanyeol memang bagus, dia selalu lebih cepat sembuh dari yang lain. Dan dia tidak suka rumah sakit,” balas Ji Hyun –masih tetap memandangi Jong In dari samping.

Dwaesseo,” jawab Jong In singkat lalu hanya terdengar suara mangkuk yang beradu dengan sumpit besi sedetik kemudian. Sepertinya Ji Hyun tidak cukup peka untuk menyadari perubahan moodnya.

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Jong In menaruh mangkuk kotornya ke tempat cuci piring kemudian berlalu ke lantai dua begitu saja –dan masuk ke kamar tanpa mengatakan apapun pada Ji Hyun. Jong In membawa laptopnya ke atas tempat tidur, bersandar pada kepala ranjang dan segera membuka email, mencari pekerjaan yang sudah dikirim melalui email setelah ditinggalkan seharian. Memang sudah konsekuensinya sebagai seorang presiden direktur tentu saja.

Jong In menghela napas panjang ketika masih banyak yang harus dibenahi dari proyek-proyeknya. Ada beberapa proyek yang sudah selesai dan bermasalah karena hasilnya tidak sesuai dengan permintaan. Membuat sang pemilik proyek meminta pertanggung jawaban untuk meminta sisa uangnya kembali. Itulah alasan Jong In sulit mempercayai orang lain –walaupun kadang terpaksa harus menitipkannya pada salah satu orang kantor.

Dan sebenarnya uang yang diberikan Jong In pada Baekhyun waktu itu terbilang sangat besar. Bahkan Baekhyun bisa sampai ke Gyeonggi untuk membuka usaha dan memiliki mobil mewah. Jika bisa memilih antara Ji Hyun dan uang yang sudah dipinjamkannya, maka Jong In akan memilih Ji Hyun tentu saja. Namun perjanjian yang sudah dibuatnya bersama Baekhyun waktu itu tidak semudah yang dibayangkannya, karena mau—tidak—mau uang yang Baekhyun kembalikan akan membantunya juga.

“Jong In. Kau marah ya?” suara Ji Hyun tiba-tiba muncul dari balik pintu dan disusul suara ketukan pintu sedetik kemudian.

Molla,” jawab Jong In seadanya. Ketika mengingat Ji Hyun, kepalanya kembali terasa pening. Ia sangat tidak siap untuk kehilangan gadis itu.

“Jong In-ah,” kepala Ji Hyun tiba-tba tiba-tiba menyembul dari pintu, namun tidak membuat Jong In mengangkat kepala dari laptopnya. Ji Hyun mendengus pelan kemudian segera menghampiri Jong In di atas tempat tidur, ia ikut bersandar pada kepala ranjang dan duduk di sebelah suaminya.

Konsentrasi Jong In terpecah saat aroma anggur memasuki indra penciumannya. Sepertinya Ji Hyun baru saja selesai mandi dan langsung mendatanginya di kamar. Astaga, kepala Jong In mulai dipenuhi pikiran aneh ketika Ji Hyun mulai mendorong-dorong lengan atasnya seolah mencari perhatian. Jong In bahkan tidak sanggup untuk melihat istrinya –yang rambutnya masih basah setelah keramas dan ia harus menghela napas untuk meredakan pikiran aneh di kepalanya.

“Besok aku minta tolong Luhan untuk menjemput Chanyeol juga. Tidak apa-apa ‘kan?” tiba-tiba saja pertanyaan Ji Hyun membuat Jong In –akhirnya menoleh dan menatap Ji Hyun yang berjarak tidak cukup jauh.

Jong In merutuk dalam hati sambil menghela napas panjang. Harusnya ia mengantar Ji Hyun untuk menjemput Chanyeol, namun rapat penting di kantor tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Tiba-tiba ia merasa tidak pantas cemburu dan harusnya meminta maaf karena tidak bisa mengantar. Bahkan Ji Hyun sudah menghubungi Luhan untuk menemani menjemput Chanyeol di rumah sakit.

Jong In tiba-tiba saja merangkul Ji Hyun dengan tangan kirinya lalu menghirup aroma anggur dari rambut basah istrinya itu. “Mian, aku tidak bisa mengantarmu besok. Ada rapat penting.”

“Kau tidak marah?” Ji Hyun mencoba mengangkat kepala namun kepala Jong In menghalanginya untuk sekedar melihat ke atas. “Gwaenchana. Kukira kau marah tadi, makanya aku ke sini.”

“Tidak, sayang—AAK! Kenapa mencubitku?!” Jong In meringis pelan ketika pinggangnya terasa sedikit ngilu karena Ji Hyun mendaratkan cubitan mautnya di sana.

“Geli, Jong In! Aku tidak suka dipanggil sayang!” protes Ji Hyun lalu menjauhkan diri dan melepaskan rangkulan Jong In. Ia melihat suaminya masih meringis sambil mengusap bagian pinggang dan melemparkan tatapan dingin –penuh ancaman padanya. “Kenapa? Dwaesseo, aku mau tidur duluan.”

Jong In segera mencegah lengan Ji Hyun yang akan beranjak turun dari tempat tidurnya. Tidak mengerti kenapa gadis itu malah mau pergi dari sana. “Mau kemana?”

“Ke kamarku. Memangnya kemana lagi?” Ji Hyun bertanya dengan polos sambil menatap heran ke arah suaminya.

Ya! Kenapa masih mau tidur di sana?” tanya Jong In aneh, ia kira kejadian semalam –dan tadi pagi sudah mengubah semuanya. “Temani aku di sini, aku harus mengecek pekerjaan sebentar.”

Keurae. Habis itu aku ke kamar, ya,” tambah Ji Hyun lalu kembali duduk bersandar di sebelah Jong In kembali.

“Kita tidur bersama di sini.”

“Apa?”

Ji Hyun bahkan terlalu kaget dengan apa yang akan terjadi. Semalam saja ia tidak bisa menyembunyikan detak jantungnya yang sangat cepat saat tidur bersama Jong In. Ji Hyun bahkan tidak bisa membayangkan ciuman panas tadi pagi yang mungkin akan terulang esok pagi dan setiap paginya. Tidur bersama Jong In bisa membuatnya cepat mati. Jantungnya pasti akan meledak karena terlalu cepat berdetak ketika tidur di pelukan lelaki itu.

Untuk beberapa menit Ji Hyun masih bersandar pada kepala tempat tidur sambil memperhatikan Jong In yang tengah bekerja di sampingnya. Pria itu terlihat sangat serius menyusun laporan dan membuat presentasi untuk rapat besok –sepertinya, Ji Hyun tidak mengerti. Ji Hyun kemudian menggamit lengan Jong In lalu menjatuhkan kepalanya pada bahu lelaki bersurai kecokelatan itu. Menghirup wangi maskulin Jong In yang membuatnya mabuk semalam.

“Bagaimana rasanya jadi presiden direktur, Jong In-ah? Pasti lelah, ya?” Ji Hyun bertanya dengan pelan seraya menaruh dagunya pada bahu Jong In dan menatap suaminya itu dari samping dengan jarak yang sangat dekat.

“Tidak juga. Sebenarnya pekerjaanku tidak banyak, hanya menerima laporan, memeriksanya, dan mengevaluasi proyek yang sudah jadi. Kecuali kalau ada masalah perusahaan, pekerjaanku akan meningkat dua kali lipat,” jawab Jong In, masih berusaha fokus pada pekerjaannya –karena Ji Hyun berjarak terlalu dekat. Bahkan ia bisa merasakan napas Ji Hyun yang mendarat di kulit lehernya.

“Tapi kau selalu tidur larut malam akhir-akhir ini. Sedang ada masalah perusahaan, ya?” Ji Hyun kembali bertanya dan tetap bertahan memperhatikan Jong In dengan jarak sedekat itu.

“Hanya sedikit masalah,” Jong In menjawab seadanya lalu menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas, tidak sanggup melanjutkannya lagi karena Ji Hyun ternyata lebih menggoda dari pekerjaan itu.

“Sudah selesai? Sepertinya kau—.”

Ucapan Ji Hyun terhenti ketika bibirnya dibungkam secara paksa oleh bibir laki-laki di hadapannya. Ji Hyun tersenyum sekilas lalu membalas bibir Jong In yang mulai melumat lembut bibirnya. Lelaki itu kembali menyusupkan tangannya ke bagian belakang kepala Ji Hyun, mencegah gadis itu untuk mundur dan melepaskan ciuman mereka. Jong In menggigit bibir bawah Ji Hyun, memberikan akses bagi lidahnya untuk bermain di dalam mulut istrinya. Bahkan tanpa disadari Jong In sudah menindih Ji Hyun di bawah tubuhnya, terlihat sekali bahwa Jong In mulai menguasai permainan panas itu.

Jong In masih terus menjelajahi bibir dan berperang dengan lidah Ji Hyun, mulai meningkatkan ritme permainan yang semakin memanas. Diingatkan kembali bahwa Jong In tidak akan pernah bisa berhenti sebelum Ji Hyun yang menghentikannya. Ia sudah gila karena menginginkan gadis itu sekarang. Tangan kiri Jong In yang bebas bahkan mulai meraba pinggang Ji Hyun dan baru saja akan mengangkat kaus yang dipakai gadis itu.

“J-Jong In,” Ji Hyun berucap pelan seraya mendorong dada Jong In –yang berada di atas tubuhnya. Memberikan celah untuknya mengambil napas karena pria itu tidak melepaskan bibirnya sejak hampir sepuluh menit yang lalu.

Namun Jong In kembali mengecup bibir Ji Hyun, cukup lama. “Kenapa, Ji Hyun-ah?”

“Ap—apa yang kau lakukan?” Ji Hyun bertanya dengan gugup karena tubuh Jong In benar-benar menempel dengan tubuhnya –walaupun mereka masih memakai baju. Tangan Jong In bahkan dengan nakalnya mulai bermain di pinggang dan hampir mengangkat kaus yang dipakainya tadi. Demi apapun, Ji Hyun tidak siap dengan apa yang akan dilakukan Jong In selanjutnya.

“Oh, astaga,” Jong In mengutuk dirinya sendiri karena hampir kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Ia mengecup kening Ji Hyun, cukup lama menempelkan bibirnya di sana lalu segera menyingkir dari atas tubuh gadis itu. Beralih ke samping dan memeluk tubuh Ji Hyun untuk melanjutkan kegiatan yang harusnya mereka lakukan. Jong In kembali mengecup kening Ji Hyun, mengusap rambut gadis itu, dan berbisik pelan menyuruh gadis di pelukannya itu untuk tidur.

***

Hari-hari berlalu dan rasanya Ji Hyun semakin gila karena setiap malam atau bahkan di pagi hari, Jong In selalu memberikannya ciuman panas yang memabukkan. Ji Hyun bahkan harus mencubit pinggang dan atau menjambak Jong In agar pria itu menghentikan ciumannya agar tidak berlanjut ke hal-hal yang menakutkan. Mereka memang suami-istri dan harusnya melakukan yang seperti ‘itu’, namun Ji Hyun masih belum siap. Ia takut mati ketika Jong In menjamah setiap inchi tubuhnya nanti.

Ji Hyun merasakan wajahnya memanas saat mengingat Jong In yang selalu mengisi hidupnya setiap hari. Membuat Chanyeol –yang berada di hadapan Ji Hyun, menyadari perubahan ekspresi gadis itu. Chanyeol mendesis pelan lalu memukul pelan kepala Ji Hyun yang duduk di sisi tempat tidurnya.

“Kau mau menjagaku atau mengingat Jong In hah? Aigoo,” Chanyeol merutuk lalu menghela napas panjang.

Ji Hyun terkekeh pelan kemudian mengangkat mangkuk berisi bubur milik Chanyeol di tangannya. “Kau makan saja sendiri, Yeol-ah. Tanganmu masih berfungsi ‘kan?”

Cih, harusnya aku terima saja tawaran Yura noona untuk ke sini. Kau tega melihatku makan sendiri hah?” tanya Chanyeol sedikit kesal karena Yura tidak jadi datang ke sana saat Ji Hyun juga akan datang ke sana. Ia kira Ji Hyun akan memanjakannya, namun gadis itu sejak tadi malah diam saja dengan wajah yang selalu memerah.

“Tidak mau. Makan saja sendiri, aku juga mau makan, Yeol-ah,” Ji Hyun meletakkan mangkuk bubur di atas pangkuan Chanyeol lalu mengambil bubur miliknya sendiri di atas nakas.

“Tanganku sakit,” Chanyeol berbohong sambil menunjukkan telapak tangannya yang di perban –karena perkelahian waktu itu.

“Jangan berbohong, Park Chanyeol. Kau sudah sehat sejak pulang dari rumah sakit waktu itu,” Ji Hyun menjulurkan lidahnya lalu menyantap bubur miliknya dalam diam. Membiarkan Chanyeol dengan susah payah menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya.

Ji Hyun sesekali melirik Chanyeol yang memakan buburnya dengan sedikit kesusahan. Wajah Chanyeol yang terdapat luka-luka kecil dan sebuah perban di kening itu membuat wajah polos pria itu semakin terlihat lucu saat mencoba menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Ji Hyun tergelak sedetik kemudian. Sepertinya suara tawa Ji Hyun cukup keras hingga membuat Chanyeol menoleh ke arah wanita yang duduk di dekatnya itu.

“Kenapa tertawa?” tanya Chanyeol heran seraya menyipitkan matanya, menginterogasi.

Ji Hyun menghentikan tawanya. “Kau lucu, Yeol-ah. Jinjja kwiyeopta, aigoo.

“Lucu?” Chanyeol menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal lalu ikut tertawa pelan saat tawa Ji Hyun semakin keras. Sepertinya Ji Hyun lebih banyak tertawa akhir-akhir ini.

Beberapa saat kemudian Ji Hyun sudah menyelesaikan makan siangnya lalu menumpuk mangkuk bekasnya bersama mangkuk milik Chanyeol. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jaket kemudian tersenyum simpul saat sebuah pesan dari Jong In muncul di layarnya. Lelaki itu menyuruhnya agar tidak melewatkan makan siang dan segera pulang jika sudah selesai menjaga Chanyeol. Dengan cepat Ji Hyun membalas pesan dari suaminya itu.

“Ji Hyunaa, kau pacaran dengan Jong In, ya?”

Eoh?”

“Pacaran dengan Jong In.”

Pertanyaan skak mat dari Chanyeol itu berhasil membuat Ji Hyun membeku seketika. Ji Hyun hanya menatap lurus ke arah Chanyeol. Sahabatnya itu tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya dan Jong In –setelah kejadian penculikan waktu itu. Dan Ji Hyun merasa sedikit merasa bersalah sebenarnya, karena ia tidak memberitahu kabar bahagia itu pada sahabatnya. Tapi ia hanya tidak mau persahabatannya dengan Chanyeol berubah karena hubungannya dan Jong In. Ia tidak mau Chanyeol merasa tidak enak karena ia sudah menjadi milik orang lain.

“Sejak kapan?” Chanyeol kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih rendah. Dan terdengar menyedihkan.

Ji Hyun menundukkan kepalanya seraya menghela napas panjang. Melihat tatapan yang memudar menjadi sedih itu membuat perasaan Ji Hyun semakin merasa bersalah. “Satu minggu yang lalu.”

“Setelah penculikan itu, eoh?” Chanyeol terus menginterogasi, berharap mendapat kejelasan lebih lanjut.

Dada Chanyeol terasa sesak entah kenapa. Mungkin karena mereka terlalu sering bersama sejak kecil, saling melengkapi satu sama lain, dan saling membahagiakan satu sama lain. Hingga tidak sadar bahwa mereka sudah cukup dewasa untuk mencari cinta, Chanyeol bahkan tidak sadar bahwa perasaanya pada Ji Hyun mulai berubah. Bukan perasaan seorang kakak terhadap adiknya lagi. Ia baru menyadari bahwa cintanya terhadap Ji Hyun layaknya seorang pria terhadap seorang wanita. Mungkin itu juga yang membuat Chanyeol mencegah siapa pun lelaki yang berani mendekati Ji Hyun sejak SMA.

Chanyeol mencintai sahabatnya sendiri. Terdengar menggelikan.

“Yeol-ah, mianhae,” ujar Ji Hyun pelan seraya menggenggam kedua  tangan Chanyeol. Padahal ia selalu melarang siapa pun wanita yang berani mendekati Chanyeol sejak dulu. Namun sekarang malah ia yang meninggalkan Chanyeol lebih dulu dengan mencintai Jong In. Rasanya tidak adil.

M-mwo, kenapa minta maaf?” Chanyeol terkekeh pelan lalu menoyor kepala Ji Hyun. Ia kembali tertawa heboh sambil memukul-mukul seprai tempat tidurnya, hingga terhenti sedetik kemudian karena rasa ngilu yang tiba-tiba menyerang perutnya.

Ish, nappeun. Aku kira kau marah karena tiba-tiba diam seperti itu!” Ji Hyun mencubit paha Chanyeol dengan gemas, tidak peduli bagaimana sahabatnya itu berteriak kesakitan dan mendorong kepalanya agar menghentikan tindakan kekerasan itu.

“A—AAK! Sakit bodoh! Lepaskan tanganmu!” pekik Chanyeol saat cubitan keras Ji Hyun tetap mendarat di pahanya. “Byun Ji Hyun!”

“Bhuahaha,” Ji Hyun tertawa sedetik kemudian setelah melepaskan cubitannya, tidak tahan dengan ekspresi Chanyeol yang sedang meringis kesakitan itu.

Ji Hyun segera beranjak ke tempat tidur Chanyeol dan duduk di sebelah sahabatnya. Ia menggamit lengan Chanyeol dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Mungkin ke depannya ia akan sulit merasakan kehangatan Chanyeol lagi karena statusnya dengan Jong In. Namun ia berjanji tidak akan ada yang berubah dari persahabatan mereka selain statusnya saja.

“Aku menyayangimu, Chanyeol. Tetap jadi sahabatku, ya?” Ji Hyun berujar pelan sambil menepuk-nepuk lengan atas Chanyeol dengan pelan.

Chanyeol mendecih pelan kemudian menepuk kepala Ji Hyun dengan lembut. “Aku juga menyayangimu, Ji Hyun. Kita tetap sahabat sampai kapan pun.”

Ya, sahabat.

“Lapor padaku kalau Jong In menyakitimu sedikit pun. Aku akan menghajarnya.”

“Kau tidak bisa berkelahi, Chanyeol. Jong In lebih unggul.”

“Ah, matda. Baiklah, aku akan membawamu pergi.”

“Jong In bisa mencariku ke mana pun.”

Dwaesseo. Yang jelas aku tidak akan tinggal diam kalau Jong In menyakitimu.”

Gomawo, Yeol-ah. Kau tetap yang terbaik!”

***

Rumah milik keluarga Kim di daerah Cheongdam itu tampak lengang, tidak ada keramaian yang berarti apa-apa. Hanya terdengar gemericik air yang berasal dari kolam kecil yang terdapat air mancur di halaman belakang. Begitu juga dengan nyonya Kim yang sedang menikmati gemericik air itu sambil bersandar pada kursi malas dan secangkir teh hangat. Merilekskan otaknya yang terlalu dipenuhi dengan berbagai macam masalah akhir-akhir ini. Apalagi menyangkut anak laki-laki semata wayangnya yang kembali membuka sebuah fakta baru.

Nyonya Kim sudah mengetahui bahwa Jong In membayar sejumlah yang yang cukup besar pada Baekhyun agar mau menyerahkan adiknya untuk dinikahi. Dengan perjanjian tertentu yang akan berakhir dalam enam bulan. Kepala nyonya Kim terasa sakit sekali ketika memikirkannya, tidak menduga bahwa anaknya sepicik itu hanya untuk sebuah jabatan tertinggi di perusahaan dan bahkan menggunakan uang perusahaan untuk itu. Untuk sekarang ia membiarkan anaknya bahagia. Hanya sementara karena ia akan bertindak lagi setelah ini.

Eomonim.”

Suara lembut seorang pria membuat kedua mata nyonya Kim terbuka. Ia menegakkan duduknya lalu menatap seorang pria muda yang membungkuk dalam lalu beranjak ke kursi malas di depannya. Duduk berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Ia sengaja memanggil pria itu ke rumahnya untuk membahas beberapa hal yang menyangkut anaknya.

“Ada apa, eomonim?” tanya lelaki bersurai hitam itu dan nyonya Kim menyunggingkan senyum simpulnya.

“Ah, jangan terburu-buru. Kau mau minum apa, Tae Min-ah?” tanya nyonya Kim seraya tersenyum lembut pada sahabat anaknya itu.

“Apa saja, eomonim,” jawab Tae Min, tetap menjaga kesopanannya pada wanita baya itu.

Nyonya Kim memanggil kepala pelayan di rumahnya dan meminta teh hangat juga untuk Tae Min. Wanita itu kemudian kembali menatap Tae Min yang duduk di hadapannya.

“Tolong beritahu Ji Hyun tentang hal itu secepatnya. Aku tidak tahan melihat Ji Hyun tetap berkeliaran di internet sebagai istrinya Jong In,” nyonya Kim berujar tanpa berniat basa-basi –setelah meminta minuman tadi.

Tae Min tampak menimbang-nimbang lalu mengendikkan bahu tak acuh. “Kapan saja. Aku siap memberitahunya sesuai perintahmu, eomonim.

“Tentang penculikan itu, kau tenang saja. Aku sudah menutup mulut Min Woo dengan uang, nama kita masih bersih dari kepolisian,” nyonya Kim menepuk pundak lelaki bertubuh kurus di depannya itu dengan seulas senyum simpul.

Kamsahamnida. Jadi sekarang aku hanya harus memberitahu Ji Hyun tentang Jong In yang membelinya dari Baekhyun?” Tae Min kembali memastikan, takut jika salah langkah atau bersikap di luar sana.

“Ya, tapi jangan terlalu terburu-buru juga. Sepertinya Jong In sedang menikmati masa jatuh cintanya dengan gadis itu. Biarkan saja seperti itu dulu sampai minggu depan,” tambah nyonya Kim lalu berterima kasih pada kepala pelayan yang mengantarkan teh hangat pada Tae Min. “Ayo minum dulu, Tae Min-ah.”

“Terima kasih, eomonim. Tapi aku harus cepat pulang, Jong In mengundangku dan Luhan makan malam di apartemennya,” Tae Min berdiri dari duduknya lalu membungkuk dalam pada wanita paruh baya di depannya.

“Ah satu lagi,” suara nyonya Kim mencegah Tae Min yang akan meninggalkannya. “Buat Ji Hyun tutup mulut tentang masalah ini kalau mereka berpisah. Jangan ada berita tentang Jong In yang mengeluarkan uang untuk Ji Hyun sama sekali. Bahkan aku lebih suka kalau berita tentang Ji Hyun yang menjual diri beredar di luar sana.”

Tae Min meneguk ludahnya sendiri ketika mendengar suara nyonya Kim di belakangnya. Ia hanya mengangguk ringan lalu melangkahkan kaki-kaki kurusnya meninggalkan halaman belakang rumah itu. Kadang Tae Min berpikir lagi mengenai sikapnya yang menggunakan nyonya Kim untuk membalaskan dendam pada Jong In. Mungkin apa yang dilakukannya akan lebih banyak menyakiti Ji Hyun dan bukan sahabatnya sendiri. Dan Tae Min bukan lelaki sebodoh itu karena manyakiti seorang wanita karena ia akan tetap membalas dendam pada Jong In.

***

Ide makan malam bersama yang dicetuskan Jong In tadi siang menjadi mimpi buruk bagi Ji Hyun. Padahal ia ingin menghabiskan akhir pekannya dengan bersantai saja, namun Jong In mengancamnya dengan sebuah ciuman jika ia tidak mau menerima makan malam itu. Dan lebih buruknya Jong In menyuruhnya untuk memasak nasi sendiri sementara Jong In membeli lauknya di luar sana. Setidaknya ia tidak akan membuat sahabat-sahabat Jong In keracunan hanya dengan nasi.

Ji Hyun duduk di meja makan sambil membuka ponselnya, mencari tutorial untuk membuat nasi. Mulutnya mulai merutuk pelan ketika semua tutorial itu menggunakan rice cooker dan sialnya Jong In tidak memiliki rice cooker yang serba canggih itu di apartemennya. Mungkin karena Jong In jarang berada di apartemen, tidak pernah memasak nasi, dan bahkan ia yang sudah menikah pun hampir tidak pernah memasak sarapan pagi.

“Sudah selesai?” Jong In tiba-tiba saja sudah kembali dengan beberapa tas plastik di tangannya dan menghampiri Ji Hyun di meja makan.

“Aah Jong In, nasinya beli saja, eoh? Aku tidak bisa memasaknya~. Kau tidak punya rice cooker,” ujar Ji Hyun setengah merajuk. Ia menatap Jong In yang duduk di sebelahnya, namun pria itu lagi-lagi hanya memasang ekspresi dinginnya.

“Aku pinjam rice cookernya ke tetangga saja. Kau harus tetap memasaknya sendirian,” Jong In beranjak dari tempat duduknya lalu menghilang ke arah pintu depan.

Meninggalkan Ji Hyun yang langsung menaruh kepala di meja makan dan menghembuskan napas panjang. Ia hanya bisa berdoa semoga dapur apartemen Jong In baik-baik saja setelah dipakai memasak nasi olehnya. Seumur hidupnya ia hanya bisa memasak air, ramen, dan toast bread. Lalu sekarang ia akan belajar membuat nasi di dalam hidupnya. Selamat Ji Hyun, kau akan belajar banyak lagi.

“Jangan merajuk. Kau mau aku cium hah?” Jong In sudah kembali dan meletakkan rice cooker yang tidak begitu besar di depan wajah Ji Hyun.

Keurae, aku akan memasak nasinya sekarang,” Ji Hyun dengan cepat bergegas ke dapur, menghindari Jong In –yang akan menciumnya.

Menurut tutorial yang ditontonnya tadi, Ji Hyun hanya perlu menyiapkan sebuah mangkuk besar untuk mencuci dan tentu saja berasnya. Ji Hyun membuka setiap lemari di dapur, mencari beras yang dimasak untuk menjadi nasi. Seulas senyum muncul di bibirnya ketika tidak menemukan beras sedikit pun di setiap lemari. Itu berarti Jong In akan membeli nasi dan ia tidak harus belajar memasak—

“Kau lupa bawa berasnya, sayang,” ujar Jong In –membuat Ji Hyun bergidik ngeri. Kemudian tangan Jong In muncul dari sisi kanan tubuhnya, menaruh sekarung kecil beras di dekat mangkuk –yang sudah disiapkannya. Namun Jong In malah memeluknya dari belakang sedetik kemudian.

“Kalau dapurmu meledak bagaimana? Aku belum pernah masak nasi seumur hidup, Jong In,” Ji Hyun mencoba meyakinkan Jong In kembali agar ia tidak harus susah payah membuat nasi. Tapi membayangkan Jong In yang menciumnya…. err, mungkin Ji Hyun akan berpikir dua kali.

“Terserah. Kau tidak harus membuat nasi, tapi kau tidak akan selamat di kamar,” Jong In berbisik pelan di telinga Ji Hyun –masih dengan kedua tangan yang melingkari perut gadis itu.

Ji Hyun bergidik ngeri lalu melepaskan tangan Jong In dari perutnya. “Ara ara. Aku akan memasaknya, kau tunggu di meja makan saja.”

Good girl. Belajar jadi istri yang baik, eoh? Hanya membuat nasi ‘kan?” Jong In menepuk puncak kepala Ji Hyun sambil tersenyum simpul lalu berlalu meninggalkan area dapur.

Ji Hyun menghela napas panjang, ia menggulung lengan kausnya –yang sudah pendek kemudian menggunting karung kecil beras itu. Menumpahkan beras secukupnya untuk empat orang ke dalam mangkuk besar.  Setelahnya Ji Hyun mencuci beras itu di bawah kran air dengan hati-hati, tidak mau menumpahkan sedikit saja beras yang ada. Ia tahu sulitnya mencari makan dan tidak mau menyia-nyiakan satu biji beras pun.

“Jong In-ah, tolong ambilkan rice cookernya!” seru Ji Hyun setelah merasa cukup bersih mencuci berasnya. Sedetik kemudian Jong In masuk ke dapur sambil membawa rice cooker, menaruhnya di dekat steker lalu membuka tutupnya.

“Pelan-pelan,” ujar Jong In memperingati karena Ji Hyun hampir menumpahkan beras itu keluar dari tempatnya di dalam rice cooker.

“Iya cerewet,” balas Ji Hyun seadanya dan kembali berkonsentrasi memasukkan beras-beras itu. Helaan napas keluar dari bibirnya  saat sudah selesai dan ia segera menutup rice cooker itu, bersiap menyalakan dayanya sebelum suara Jong In menginterupsi.

“Kau yakin sudah selesai? Kenapa semudah itu?” Jong In bertanya dengan heran, merasa bingung karena ia tidak pernah memasak nasi juga sebelumnya. Sementara Ji Hyun dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana tidur, menonton ulang tutorial yang tadi sempat terhenti.

“Ah, matda. Aku harus menambahkan air,” Ji Hyun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu mengisi mangkuk yang tadi dipakainya dengan air. Ia kembali membuka penutup rice cooker dan menambahkan air secukupnya saja hingga berada di batas beras. “Sekarang tutup, nyalakan powernya, lalu atur untuk memasak nasi. Kkeutna! Aigoo, uri Ji Hyunie neomu meotjaengi!”

Jong In tidak bisa menyembunyikan tawa gelinya ketika mendengar gadis itu memuji dirinya sendiri. Tangannya mengacak lembut rambut Ji Hyun,  sekarang ia semakin mengerti kenapa begitu menyayangi Ji Hyun dalam beberapa bulan terakhir ini. Ji Hyun selalu menyebarkan kebahagiaan dan berusaha tidak terlihat sedih di depan orang-orang. Hanya menangis beberapa kali saja dalam hidup –setelah Chanyeol bercerita padanya— dan bahkan mencoba terlihat baik-baik saja saat sakit.

.

Sembari menunggu nasi yang belum juga matang, mereka –Jong In dan Ji Hyun hanya duduk bersebelahan di sofa sambil menonton televisi. Jam masih menunjukkan pukul lima sore dan masih memiliki banyak waktu hingga waktu makan malam tiba. Ji Hyun menyandarkan kepalanya pada bahu Jong In sementara tangan lelaki itu melingkari pinggangnya. Rasanya mereka terlalu banyak melakukan skinship sejak saling mengungkapkan perasaan waktu itu.

“Baekhyun pasti senang kita hidup bahagia seperti ini. Dia yang memintaku menikahimu ‘kan?” Ji Hyun memainkan telapak tangan Jong In yang bebas sambil tersenyum simpul.

Keurae,” jawab Jong In singkat. Tidak mau berkomentar banyak mengenai sosok laki-laki itu.

“Baekhyun menyayangiku. Dia pasti senang melihatku bahagia bersamamu sama seperti Chanyeol,” balas Ji Hyun tidak bisa menyembunyikan rasa senang di dalam hatinya. Ketika Baekhyun pulang nanti, ia akan meminta doa restu secara resmi untuk melanjutkan pernikahan itu.

Kali ini Jong In benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Menyakiti hati Ji Hyun maka akan menyakiti hatinya juga. Jika waktunya tiba dimana semua kebohongannya terbongkar, Jong In tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika Ji Hyun membenci dan meninggalkannya, mungkin ia lebih baik mati saja. Ia terlalu malu untuk berdiri di depan Ji Hyun dan mengakui kesalahannya.

“Ibumu… bagaimana?” Ji Hyun bertanya dengan ragu dan hati-hati. “Dia sangat membenciku.”

“Aku tidak peduli eomma mau setuju atau tidak. Yang penting kita bersama-sama ‘kan?”  jawab Jong In, tetap mencoba tersenyum pada wanita di sebelahnya. “Ji Hyun-ah.”

“Hmm?”

“Kalau aku punya kesalahan besar dalam hidup, kau akan memaafkannya ‘kan?” Jong In bertanya lagi, membuat Ji Hyun menoleh dan menatapnya dalam jarak yang sangat dekat.

Ji Hyun menyipitkan matanya. “Apa? Kau pernah menghamili wanita lain? Atau kau sudah punya anak di luar sana? Apa kau membohongiku dengan pura-pura menjadi presiden direktur perusahaan Kim? Oh tidak, jangan-jangan kau—.”

Kecupan ringan di bibir membuat Ji Hyun menghentikan ucapannya secara tiba-tiba. Jong In menyeringai pelan lalu kembali mengecup bibir Ji Hyun, cukup lama hingga gadis itu kembali menjambak rambut belakangnya –sebelum berlanjut lebih jauh.

“Dimaafkan atau tidak?” tanya Jong In lagi, masih tetap menempelkan keningnya pada kening Ji Hyun.

“Tergantung masalahnya. Kalau tidak membunuh atau korupsi, mungkin aku akan memaafkannya,” jawab Ji Hyun seraya mengalihkan pandangannya agar tidak terjebak dalam tatapan mematikan itu.

Gomawo,” Jong In merapatkan tubuh Ji Hyun padanya lalu mengecup pipi gadis itu. “Aku menyayangimu, Ji Hyun-ah.”

“Iya~, aku juga membencimu,” Ji Hyun mengusap pipinya –yang habis dicium Jong In lalu tersenyum simpul. Namun Jong In malah semakin merapatkan tubuhnya hingga dagu pria itu bisa bersandar di bahunya.

Marhae,” bisik Jong In, membuat Ji Hyun menggelinjang geli.  Mulut pria itu bahkan menyentuh daun telinganya hingga menimbulkan sensasi aneh di perut Ji Hyun.

“Aku membencimu, Jong In. Kau selalu merusak kerja jantung dan aliran darahku, araseo? Jadi, aku tetap membencimu,” Ji Hyun hanya terkekeh pelan untuk menambahkan ucapannya.

Ish, dasar bodoh,” Jong In menyandarkan kepalanya pada bahu Ji Hyun –dan tetap melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu.

Terlalu sering menghabiskan waktu berdua bersama Ji Hyun membuat Jong In merasa semakin frustasi. Ia terlalu menginginkan gadis itu, namun ia sadar bahwa Baekhyun tidak akan mengampuninya jika berani menyentuh adiknya lebih jauh. Dan menyangkut perjanjiannya bersama Baekhyun yang masa tenggangnya semakin dekat. Ia sangat tidak siap untuk kehilangan Ji Hyun. Sangat tidak siap.

[Over Bride] Chapter 10 CUT—

Ima’s note:

sorry for late post and typos here heheh

silakan komennya heheh

 

Best Regards,

Ima♥

Advertisements

484 responses to “Over Bride [Chapter 10] — by IMA

  1. Iiissshhh taem !!!!! :/
    Ini udh oke bgt !! Ini udh manis bgt !!! Ga mau baca part berikutny… takut nangiiisss… tp penasaraaaaannn… aaaaa otokhae ???!!! :”(

  2. heollll ternytaaaa taeminn selama ini??? wahhhh daebakk gg nyangka bgt ternyta dblik smua ini taemin dan ibunya kai

  3. Aku dari awal udah punya firasat kalo si taemi yang jadi suruhan ibunya jongin , eh ternyata bener tetem jahat , ga siap kalo kebenarannya harus terungkap pasti si jihyun kecewa banget
    Next chap izin baca , makin seru konfliknya

  4. Udah nebak mesti taemin hahaha :D. Tjieee tjieee romantis romantisan, yang baca gk diajak? Yang baca jadi obat nyamuk? Oke cukup tau 😐 /plakk xD

  5. anjirr… taemin kejem bat sumvah…..munafik lu jadi orang… bavetss sekalihhh dia.. ibunya kai juga keterlaluan sih ya.. itu bapaknya kagak tau sih…. yah si kai gundah… takut ketauan tuh… lagian bikin perjanjian aneh aneh si lu -_- bingung sendiri kan kalo udah baper…. ckckck

  6. Sebelumnya udah mulai curiga sama Tae min….. eh ternyata bener, diungkap di chap ini…..
    Baekhyun kemana sih? Dia udah sukses kali ya?

  7. napeun sekiyaaaaa,, yaaa.. jadi taemin yg jadi mata2 maknya jongin. astaga, waeeeee.. astaga, dia gak puas ngerebut soojung. astaagaa astagaa aku kudu otohkee. aku mulai gemesh pas tau taemin yg bener2 jahat gitu. yaaaaa.. lagian itu adegan nanggung bingit wkwk *plakk

  8. eohh!! jadi pria yan ngasih tau semua hal tentan Jihyun ke Ny.Kim itu si Taemin. ck, gw kira mereka baik-baik saja. pasti kalo Jongin dan Luhan tau mereka kecewa itu pasti, tetep nggak nyangka gw -_-

  9. Ih dasar taemin iblis kembali lah kenera,oke kak ini q over bgt kyknya.. Tp sumpah .. Aaa taemin jahat,q awalnya emng nebak taemin yg ngelaporin itu,trnyata e taemin..aaa dasar .. Oke kak next aja deh

  10. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter part 2 | choihyunyoo·

  11. Huaaaah bener kan taem jahat banget tapi kayaknya gak sejahat itu deh apalagi sama jihyun ah semoga dan plis dibuat baik2 aja huhu gak tega rasanya😂

  12. Aku udah yakin kemunculan taemin pasti ada hubungannya sama ibunya jongin.. aduhhh aku ko garela ya taemin jadi mata mata gituu….WOW sekarang kisscene nya udah banyak… makin suka j&j heheh^^

  13. Sudah kuduga…
    Si taemin emang rada aneh sikapnya…
    Jahat banget lah…
    Kasian juga si jihyun…
    Ntar jongin pasti dimusuin jihyun…

  14. taemin ya ampun bang, ga nyangka lo ada di balik semua ini sama ibunya jongin. bodohnya aku, harusnya udah langsung bisa tebak kalo ibunya jongin ada dibalik ini semua -,,- btw, bener kan firasatku kalo ternyata chanyeol suka sama jihyun, dimana di dunia ini ada persahabatan antara pria dan wanita yang tidak melibatkan perasaan. wkwkw tapi seneng deh pas chanyeol bilang akan tetep jadi sahabatnya jihyun, dia dewasa banget dengan ga bodoh ngebiarin hubungannya sama jihyun hancur karena rasa sukanya dia. aigoo kak, sampe ini ff tamat jangan biarin hubungan chanyeol jihyun bubar ya, aku seriusan tim horenya mereka soalnya. wkwkwk ini apa sih. oke, semangat terus nulisnya ya kak. aku fix penggemar tulisan kakak :*

  15. Tuch khan taemin..ko dia msh adja balas dendam ma jongin sichh…
    Ihhhh kalian berdua so sweet bgt sich..udh g siap ma konflik2 mendatang..

  16. ya ampun.. jd taemin yg sekongkol ama ibux jongin n ngelakuin semuax demi dendam yg asdfghjkcnnx
    ih.. benci bgt ama tu org

  17. OH taemin dendam apaan lg sih masa cuma grgr sojung doang ishhh
    Aiaaa mereka makin sweet aja

  18. nahkan beneran Taemin, hbis timmiing nya pas, wktu mamanya Jongin ngutus cowok misterius itu pas jga Taemin muncul,,
    msa Baekhyun tega sih misahin Jihyun ama Jongin 😥
    aplgi ama rencana balas dendamnya Taemin aduh berabe ni msalah,,
    next chapt ajalah,, fighting ima!!!:*

  19. ya!! ternyata taemin yang selama ini bersama(?) nyonya kim. ku kira Luhan :-v untung bukan Luhan karena Luhan tak pantas jika harus berlaku seperti itu dengan baby face-nya itu *apaan cobak 😀
    aigo..ikutan merinding(?) atas perlakuan jong in ke ji hyun, berasa geli2 gimana gitu 😀 tapi suuuuka, suka sangat

  20. Oke dari awal aku udah curiga kalau taemin itu dalang dari informasi tentang jihyun-,- apalagi ditambah ibunya jongin hff masalah terbesar mereka bakal datang sebentar lagi 😞 yaahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s