Love is Sweet [Act. 1]

 

sweetlove

LOVE IS SWEET ACT. 1

 

Story by Chakyuyoungster

Jo Ah Ri | Song  Eun Jin | Park Nan Hee|
Zhang Yixing | Oh Sehun | Kim Jongdae || Fluff |
Romance | Friendship | School life ||  Chaptered  || Teenager

 

 

*

Who’s the players? | Act. 1 |

Poster:  sifixo

 

*

 

Ini adalah kisah seorang gadis kelas 1  SMU yang berulang kali jatuh cinta karena begitu mendambakan percintaan yang indah.

 

 

 

*

 

Ayah bilang cinta itu manis. Ayah bilang aku harus berulang kali jatuh cinta  untuk jadi gadis yang baik. Tak peduli berapa kali aku harus merasakan sakitnya. Ayah bilang jika sakit  karena cinta itu hal yang wajar, karena jika aku kembali jatuh cinta maka rasa sakit yang sempat ku rasakan akan hilang. Ayah memang benar. Hanya saja… lama kelamaan aku menjadi lelah. Cinta yang dikatakan ayah manis itu malah sangat rumit dan memusingkan. Kapan aku bisa bertemu dengan pelabuhan terakhirku?

 

 

—-

 

 

Ahri  mengunci  pintu  mansion  tempat  ia  tinggal. Semenjak menginjak babak baru di bangku SMU,  gadis yang telah genap berusia 16 tahun ini telah tinggal sendirian.

 

Hal ini ada alasannya—

 

 

“Aku pergi dulu,”

 

“Hati–hati di jalan,”

 

 

Suara  yang begitu familiar dengannya  membuat Ahri  menoleh ke arah  ruang mansion sebelahnya. Ia  menghampiri kedua insan  paru baya yang  sedang berciuman dan bermesraan tidak pada tempatnya. Dengan deheman kecil ia berusaha menghentikan keduanya.

 

 

Jo  Kwanghee dan Jo Rumi.

 

 

“Aigo. Kenapa  appa dan eomma mesra-mesraan di depan pintu? Kalau ada yang lihat bagaimana?” Ahri menatap malas.

 

Kedua pasangan suami istri itu menghentikan kegiatannya dan tertawa mendengar tuturan putri mereka.

 

“Wah, gawat. Sepertinya eomma akan terlambat. Ah, baiklah  eomma pergi…”

 

Rumi mencium pipi suaminya dan mencium pipi  putrinya, Ahri.

 

“Saranghae,”

 

Ahri mengangguk. “Hati-hati di jalan,”

 

 

Rumi  memberikan lambaian kecil kepada suami dan putrinya, sebelum benar-benar menghilang di dalam lift.

 

 

“Tumben Rumi berangkat pagi?  Biasanya ‘kan  siang” Ahri bertanya.

 

“Dia harus dinas ke Busan,”

 

“Oh…” Ahri mengangguk.

 

 “Appa juga tumben bangun pagi?”

 

Kwanghee tertawa pelan. “Appa sudah bangun dan mulai bekerja  subuh tadi. Sekarang baru mau tidur lagi,”

Uapan kecil  Kwanghee membuat Ahri menatap appanya sedikit  kurang mengenakkan.

 

“Aku juga harus pergi. Dahh appa,”

 

Ahra menyalam punggung tangan Kwanghee.

 

“Hati-hati di jalan. Ingat. Kamu harus mengalami indahnya cinta untuk jadi gadis yang baik,” pesan Kwanghee.

 

Ahri mengangguk dan tersenyum sumringah.

 

“Tentu saja. Sudah ya. Bye,”

 

Ahri melambai pada Kwanghee kemudian berlari kecil.

 

 

—-

 

 

Nama lengkapnya adalah Jo Ahri. Beberapa minggu yang lalu telah genap berusia 16. Appanya adalah  Jo Kwanghee, seorang novelis misteri. Sedangkan  Eommanya  adalah  Han Rumi —yang telah berganti marga menjadi  Jo Rumi, seorang editor.

 

Ahri tidak memanggil Rumi dengan sebutan ‘eomma’ atas keinginannya. Rumi tidak keberatan. Kwanghee pun begitu.

 

Kwanghee dan Rumi baru saja menikah.  Sehingga Ahri yang tidak ingin mengganggu pasangan suami istri baru itu memilih untuk pindah tempat. Tidak jauh. Mereka hanya di batasi oleh sebuah dinding tebal.

 

Ruangan sebelah mansion mereka kebetulan kosong.  Jadi, Ahri meminta Kwanghee  agar menyewa  ruangan  itu untuknya.

 

 

Sejak dirinya masih kecil, Kwanghee selalu  menyuruhnya untuk  jadi gadis baik dengan cara  merasakan indahnya cinta. Dan akibat amanat itu, ia selalu mempunyai keinginan mengalami sebuah kisah percintaan  yang  indah.

 

Dia ingin. Namun… ternyata harapannya susah jadi kenyataan…

 

 

—-

 

 

“Eh?  Putus dengan  Jongin?”

 

Ahri mengangguk. Ia menatap Eunjin  dan Yixing  bergantian.

 

Eunjin  bersedekap. “Kau tak bilang apa-apa tentang ini? Kapan kalian putus?”

 

“Sebelum upacara kelulusan,”  jawab Ahri ogah-ogahan.

 

“Memangnya ada apa? Jongin selingkuh?” Kali ini dari Yixing.

 

Ahri mengangguk. Menyenderkan tubuh pada  dinding belakang.

 

“Dia main mata sama gadis lain. Dia  ketahuan  suka  dengan guru privatnya yang mahasiswa cantik. Saat kutegur dia malah marah-marah,” gerutu Ahri kesal.

 

“Untung sekolah kami beda. Jadi, aku tak perlu melihat wajah playboynya,”

 

 

“Oh, begitu… Yasudah. Tinggal cari yang baru saja, kan? Aku yakin Ahri bisa dapat pacar baru. Walaupun sedikit sayang. Jongin kan tampan,”

 

Ahri  semakin  menggerutu, sementara  Eunjin  tertawa melihat respon itu.

 

“Yixing. Bagaimana dengan pacarmu? Sejak lulus, bukannya kalian jadi jarang bertemu?”

 

“Yah.. begitulah,” Yixing mengangguk. “Tapi kami tetap menjaga baik komunikasi. Aku dan Sina  masih saling menghubungi,”

 

Ahri  mendengar dengan sedikit perasaan iri.

 

“Kau bagaimana?” tunjuk Ahri pada Eunjin. “Masih bersama mahasiswa universitas Kyunghee itu?”

 

 

Eunjin  mengibas-ibas pergelangannya. “Tidak. Dia  sudah tidak berlaku lagi. Pacarku sekarang mahasiswa SNU. Hubungan kami lagi hangat-hangatnya sekarang,”

 

Ahri  mendengus. Eunjin yang sedang berbunga-bunga—Yixing yang hubungan jarak jauhnya masih harmonis  berbanding   terbalik dengan kisah percintaannya.

 

Ahri mengedarkan pandangan pada sekeliling kelas. Kemudian tersenyum kala melihat Nanhee  yang baru tiba. Ia meninggalkan kedua orang  yang malah mengacuhkannya dengan berbincang berdua saja—menghampiri Nanhee.

 

 

“Pagi, Nanhee,”  sapanya  riang.

 

 

“Ah?” Nanhee mendongak saat telah meletakkan tas pada kursinya. Tersenyum saat tahu yang menyapanya adalah Ahri.

 

 

“Pagi, Ahri-ssi,”

 

“Panggil Ahri saja. Pagi ini kamu tak ada latihan? Mau main ke rumahku? Nginap juga boleh. Tidak usah sungkan. Aku tinggal sendirian jadi kita bisa lebih santai,”

 

 

Nanhee  menatap bingung. Ahri memberikan penuturan yang tidak ia mengerti.

 

“Bukannya Ahri dekat dengan Eunjin-ssi? Kenapa tiba-tiba aku yang  di undang?” tanyanya kemudian.

 

Ahri tersenyum. “Aku suka Nanhee, sih”

 

“Eh?”

 

“Iya. Nanhee itu cantik tapi keren. Saat pertama melihatmu, aku pikir kamu itu anak yang baik. Jadi mungkin kita bisa akrab. Benar kan?”

 

Nanhee bernafas lega. Ia sempat berpikir jika Ahri penyuka sesama. Tapi ternyata tidak. Gadis Jo  ternyata hanya  ingin  berteman  dengannya.

 

“Aku senang. Tapi…”

 

“Serius? Syukurlah. Kalu gitu, secepatnya kau harus main ke rumahku,”

 

Nanhee  menghela sambil tersenyum. Ahri sangat bersemangat mengajaknya. Pemaksa juga. Senyum gadis  Jo membuatnya tak bisa menolak. Benar-benar hebat.

 

 

—-

 

 

Song Eun Jin adalah teman dekat Ahri sejak mereka masih duduk di bangku menengah pertama. Eun Jin adalah sahabat yang baik dan setia. Tapi tidak sebagai kekasih. Eun Jin termasuk tipe gadis yang hobi gonta ganti pacar.

 

 

Zhang  Yixing  juga teman  dekat Ahri sejak masih SMP.  Satu-satunya sahabat laki-laki  yang sangat nyaman di ajak  berbicara.

 

 

Dan  Park Nan Hee si anak klub basket. Berbeda dengan Ahri  dan  Eun Jin yang berambut panjang dan sedikit bergelombang, Nanhee justru  memiliki rambut yang pendek.  Namun, meskipun begitu gadis Park sangat cantik dan jago dalam bidang olahraga. Dimata Ahri itu sangatlah keren. Di tambah sikap Nanhee yang sedikit pemalu membuat Ahri ingin menjadikan Nanhee sebagai salah satu teman dekatnya juga. Seperti Eunjin dan Yixing.

 

 

Di SMU, Ahri  merasa begitu nyaman dan bebas. Ia merasakan pertemanan  yang  lebih luwes.

 

Dia suka  dan menyayangi yang ia miliki sekarang. Suka dengan statusnya yang sebagai murid SMU. Sayang dengan appa dan  Rumi. Dan sayang dengan teman-temannya.

 

 

 

Hanya saja…

Pastilah di setiap kesempurnaan yang tampak selalu ada titik kecil kekurangan.

 

Cinta…

 

Ahri sampai sekarang belum bertemu dengan orang yang benar-benar di cintainya. Sosok laki-laki yang akan membuatnya  melupakan apapun, kecuali dirinya.

 

Akankah Ahri bisa menemukannya?

 

 

—-

 

 

 

 

‘Praaak’

 

‘Pluk’

 

“Ukhh….” Ahri menggerutu kesal. Ia menghentak-hentak  kaki dan hampir melempar stik golf yang di genggamnya jika tidak mengingat mereka sedang di ruang latihan.

 

Ahri  akhir-akhir ini ingin sekali mahir bermain golf. Ia meminta Kwanghee untuk mengajarinya berlatih. Dan di sinilah mereka sekarang—Tempat berlatih golf bagi pemula.

 

“Kenapa begitu susah….”

 

Kwanghee tertawa. “Ayunanmu masih kurang luwes. Seharusnya putri appa harus rajin lebih rajin berlatih jika ingin mahir,”

 

“Tapi kan—“

 

 

“Kwanghee? Kau Jo Kwanghee kan?”

 

Ahri dan Kwanghee serempak menoleh.  Seorang pria paru baya seusia Kwanghee berjalan mendekati mereka sambil tersenyum sumringah.

 

 

“Ryu?” Kwanghee memastikan.

 

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini,”

 

Kedua pria paru baya itu saling memeluk dan menepukkan kedua telapak mereka. Membunyikan hentakan senada dengan nada riang yang  terdengar  dari masing-masing pihak.

 

Ahri  menaikkan sebelah alisnya.

 

“Teman appa?”

 

Kwanghee  menggerakkan jemarinya menyuruh Ahri mendekat pada mereka.

 

“Perkenalkan dirimu pada Ryu ahjussi,” titah Kwanghee. Sebelah lengannya di taruh di pundak pria bernama Ryu.

 

 

“Ah? Oh, baiklah.”

 

“Jo  Ahri imnida. Bangapseumnida ahjussi,”  Ahri membungkuk  memperkenalkan diri pada pria paru baya di sebelah Kwanghee.

 

 

 “Oh Ryuta imnida. Bangapseumnida Ahri-ssi,” Pria itu balik memperkenalkan diri dengan  cara yang sama dengan Ahri. Sangat ramah. Kesan pertama  yang  cukup baik.

 

“Oh Ryuta? Ah. aku tahu. Anda novelis  misteri best seller, kan? Wah, hebat bisa kenal dengan appa  yang  tidak terlalu hebat ini…”  Ahri  bermaksud mencibir Kwanghee. Membuat kedua orangtua itu tertawa dengan cara Ahri.

 

 

“Sekarang   bukannya malam minggu? Kenapa  putri Kwanghee malah berkencan dengan appanya?”

 

 “Aku baru saja putus,”

 

Ryu mengernyit. Ahri menjawab tanpa beban. Membuat perkiraannya yang ingin menggoda gadis muda  itu meleset. Ia pikir Ahri akan malu-malu mengakui. Namun, ternyata tidak.

 

“Wah. Kwang putrimu ternyata tidak malu-malu yah,”

 

Pujian kecil dari Ryu membuat tawa Ahri dan Kwanghee  terdengar.

“Tentu saja. Ahri sudah SMA. Hal seperti itu bukankah wajar di tanyakan?”

 

Ryu mengangguk.

 

“Ahri  sekolah di SMU mana?”

 

 

“SMU Hannyoung,”  jawab Ahri sambil meletakkan stik golfnya. Bermaksud ingin beristirahat, meninggalkan appa dan temannya. Tapi kata-kata terakhir  pria paru baya—Ryu mengusiknya.

 

“Benarkah?  Berarti sama dengan putraku,”

 

Ahri menoleh ke belakang.

 

“Jinjayeo?”

 

 

 

—-

 

 

 

 

“Apa?”  pekikan Ahri  membuat  Eunjin menutup kedua indra pendengarnya.

 

Ahri  mendelik kesal pada Eunjin. Gadis  Song telah membuat gadis Jo marah. Ya—marah. Tentu saja.

 

Ahri bersidekap dada.

 

“Apa maksudmu? Aku tidak mau ikut-ikutan. Kalau tahu begini, sejak awal  aku tidak akan mau diajak olehmu,”  omelan Ahri membuat  Eunjin  mendengus.

 

“Oh, ayolah. Sekali saja, Ahri-ah” bujuk Eunjin—lagi.

 

 

Ahri  menghela.  Tidak. Ia tidak setuju dengan cara Eunjin.

 

Eunjin  mengajaknya  jalan-jalan. Itu rencana awalnya. Eunjin mengajaknya ke karaoke. Ia juga setuju. Tapi tidak  dengan  merayu  pria  di  jalan seperti   ide  yang  baru  saja  dilontarkan Eunjin.

 

 

Merayu. Bernyanyi sampai puas di karaoke.  Setelah itu pura-pura  ke  toilet  dan  kabur.  Meninggalkan para pria agar  membayar  biaya selama di karaoke.

 

 

Tidak. Ahri jelas-jelas tidak setuju. Tidak suka. Tidak ingin. Dan tidak yang menggambarkan penolakan lainnya. Menurutnya tindakan itu terlalu jahat.

 

Seorang murid SMU tidak pantas  bertindak  begitu. Namun ternyata Eunjin—suatu hal tidak disangkanya—sering berbuat seperti ini. Benar-benar….

 

Ahri  bermaksud  ingin memarahi  Eunjin  lagi, tapi   kedatangan  dua orang laki-laki seusia  mereka  menginterupsi—lebih tepatnya menyapa.

 

 

“Lagi  iseng  ya? Mau  karaoke  bersama?”

 

 

Ahri  dan  Eunjin  sama-sama  menoleh.  Dua orang laki-laki yang  bisa  di  kategorikan  tampan  sedang  berdiri  di  depan  mereka. 

 

Yang  menyapa  adalah  seorang  berkacamata  dengan  rambut  hitam  yang  helaiannya  sedikit  berantakan.

 

Seorang lagi  memiliki  postur  lebih tinggi sedikit  dengan  helaian  coklat  kehitaman. Ahri  akui, dari segi wajah  masih  lebih  baik  dari  si  kacamata. Meskipun yang kacamata juga  tampan.

 

Ia  terpesona  untuk  beberapa  saat—bukan dia saja  sebenarnya. Tapi Eunjin  juga  begitu.

 

 

Eunjin  beringsut  mendekati  Ahri. Berbisik pelan pada indra pedengaran gadis Jo.

 

‘Ini  kesempatan. Tolonglah Ahri. Kali ini berkompromilah,’

 

Ahri  menghembuskan  nafas  pasrah  bercampur  kesal.  Ia  tidak  ingin  melakukan  hal ini. Tentu  saja.

 

Namun, seperti  yang  Eunjin  katakan. Ini adalah kesempatan. Ya—kedua laki-laki  yang  menghampiri  mereka  cukup  bagus. Jadi… mungkin  melakukan  perbuatan  yang   tidak  mengenakkan  untuk  sesekali  tidak  masalah.

 

Toh—mungkin mereka  telah  sama-sama senang  setelahnya.

 

Walau  ragu  tapi  tetap  saja  Ahri  mengangguk—pertanda  ia  setuju.

 

Oh tidak. Jo Ahri.  Sisimu telah  dirusak Eunjin…

 

 

 

 

 

 

Nama  mereka  adalah  Jongdae dan Sehun  mahasiswa  universitas Korea. Itulah  yang  mereka  katakan. Jongdae adalah  si  kacamata, dan Sehun  yang satunya  lagi.

 

Dari  segi tipe  laki-laki  kesukaan, Ahri  lebih menyukai  Sehun. jadi sebelum Eunjin  melangkahi, ia sudah  memperingatkan—sebagai upah  ketidakinginannya  di  awal.

 

 

Eunjin  setuju.  Ia  tidak  masalah  harus  bersama  Jongdae. Pria berkacamata itu cukup keren dan kelihatan  cerdas menurutnya.

 

Lagipula  ini hanya semacam kencan buta. Jadi—tidak   perlu  wajah  yang terlalu tampan—Prinsip Eunjin jika saat kencan buta.

 

 

Sama halnya  dengan  anak  muda  yang  lain. Ternyata  bukan  hanya mereka anak sekolah yang  berkunjung  ke karaoke. Ruangan hampir penuh. Untungnya sisa satu. Meskipun  letaknya cukup jauh karena berada di bagian ujung.

 

Tidak  masalah. Yang penting  bersenang-senang—Prinsip  Eunjin  dalam  keadaan apapun.

 

Di  dalam  ruangan  keempatnya  memulai acara  bersenang-senang  mereka. 

 

Jongdae  dan Eunjin yang paling bersemangat. Sementara  Ahri  dan  Sehun  tampak  tenang  di  kursi, menonton  aksi  teman mereka.

 

Keduanya  tampak   berbincang  ringan. Sesekali tertawa bersama.

 

Ahri  menemukan  fakta. Dirinya  dan Sehun punya banyak kesamaan.  Dimulai dari makanan, genre lagu, sampai selera berpakaian  pun begitu. Menurutnya itu manis—dan itu berarti  mereka cocok.

 

 

Dan sepertinya  ini kesempatan  baik untuk  melanjutkan  kencan buta ini. Jika berhasil— mungkin dirinya dan Sehun bisa berhubungan sebagai kekasih.

 

Itupun jika Sehun masih dalam keadaan sendiri.

 

 

“Oppa… kamu sudah punya pacar?”

 

Ahri memberikan diri bertanya. Sekalipun sedikit khawatir tentang berbagai hal.

 

Namun, jika tidak dicoba untuk memulai kapan dirinya bisa melanjutkan kencan ini dengan Sehun? kira-kira begitulah.

 

 

Tampak Sehun sedang berpikir, membuat Ahri pun harap-harap sedikit cemas.

 

 Memperhatikan secara seksama perubahan raut wajah lelaki bermarga Oh itu, Ahri mendapati secercah senyum riang  di sana. Selantun dengan gelengan pelan.

 

“Belum,”

 

 

Ahri  merasa  dirinya  sedikit melega.

 

“Jinjayeo?”

 

Pekikannya hampir saja terdengar.  Untung  saja dia masih dalam batas kewajarannya, sehingga intonasi yang keluar  terdengar bagai rasa penasaran yang tertahan saja.

 

Dirinya yakin  Sehun tidak menyadari  rasa senang  yang  terselubung di sana.

 

 

 

“Tapi bohong… aku punya banyak,”

 

Ahri hampir memerosot.  Rasa senangnya seketika meluntur.

 

“Mwo?” Ahri  tidak bisa menahan pekikannya. Kali ini bukan dengan rasa senang, melainkan keterkejutan.

 

Sehun  tiba-tiba  tertawa membuat Ahri  tidak  mengerti.

 

“Kenapa  kau  tertawa?”tanya  Ahri  penasaran.

 

Tawa Sehun  semakin  tidak  terkendali. Wajah Ahri  tampak aneh dan itu lucu dalam jarak pandang Sehun.

 

 

“Ani…” Sehun  menggeleng.

 

“Tidak kusangka kau semudah itu percaya. Aku hanya bercanda,”

 

Kedua  jemari  Sehun berada  di pipi Ahri. Memberikan  cubitan  kecil. Selayaknya Ahri adalah anak kecil yang begitu  menggemaskan.

 

 

Ahri  melongo.  Merasa  memanas, sejalan dengan semburat rona manis telah  bersemu  pada pipinya.

 

 

“Ah manisnya,” Sehun mengacak pelan helaian  Ahri.

 

Ahri tidak keberatan. Justru dirinya merasa senang. Awal mula yang sangat baik dalam memulai suatu hubungan.

 

Dengan  hal yang telah terjadi  sekarang, tentunya timbul rasa  penasaran lebih akan sosok  laki-laki  yang  masih  tertawa  ini.

 

Ingin bertemu berdua. Berkencan. Dan saling mengenal kepribadian  masing-masing.

 

Sepertinya  akan sangat menyenangkan.

 

 

 

 

 

Suasana  yang  semula  ramai dengan teriakan yang masih terdengar beberapa saat yang lalu kini hanya menyisakan tarik ulur dari nafas kelelahan keempatnya.

 

Song Eunjin mengamati  wajah Sehun dan Jongdae yang memejamkan mata. Kemudian ia beralih kepada Ahri, gadis Jo juga sedang melihat ke arahnya.

 

Eunjin langsung memberikan  isyarat singkat melalui tangan dan matanya. Ia melakukannya dengan cepat, takut jika salah satu dari kedua pria itu mengetahuinya.

 

 

Ahri    mengerti isyarat dari Eunjin. Karena sebelumnya Eunjin sudah menjelaskan  trik kabur padanya.

 

Semula Ahri setuju untuk kabur. Tapi, ia masih menjadi bimbang. Jika mereka pergi sekarang, bagaimana bisa ia dan Sehun berjumpa lagi?

 

Ahri tidak ingin hal itu terjadi. Ia akan membujuk Eunjin agar tetap tinggal melanjutkan kencan buta mereka ini.

 

 

Ahri membalas Eunjin dengan gerakan tangan singkat,  namun Eunjin tidak melihatnya dan malah langsung berdiri.

 

Ck. Yasudahlah. Nanti saja dia membujuk Eunjin.

 

 

“Oppa,” panggil Eunjin.

 

Jongdae dan Sehun bersamaan membuka mata. Membetulkan posisi duduk mereka yang semula bersenderan pada punggung sofa.

 

 

“Wae?” balas Jongdae.

 

 

Eunjin tersenyum cerah. “Aku mau ke toilet,”

 

Jongdae mengangguk sebagai jawaban.

 

Eunjin tersenyum pada Ahri. Secara tidak langsung memaksa Ahri untuk segera melaksanakan tugasnya.

 

“Eunjin-ah, tunggu sebentar. Aku ikut,”

 

Ahri  ingin beranjak  berdiri, tapi  lengan  seseorang mengunci pergerakannya.

 

“Tidak bisa. Kau tidak  boleh pergi,”

 

Ia menoleh ke belakang. Sehun sedang menatapnya  dengan senyum yang sedari tadi di perlihatkannya.

 

 

“Tidak harus pergi berdua, kan? Tunggu saja sampai Eunjin kembali,”

 

Ahri ingin menjawab perkataan Sehun, namun seseorang  yang mendahuluinya  membuatnya  terkejut.

 

“Jangan-jangan  ke toilet hanya alasan? Karena kalian mau meninggalkan kami?”

 

Eunjin menatap Jongdae tidak percaya.  Bagaimana bisa…?

 

“Kemarin teman-teman kami diajak ke tempat karaoke oleh siswi kelas 1 SMU Hannyoung, tapi mereka kabur sebelum tagihan datang. Mereka bilang, gadis itu bernama Song Eunjin,”

 

Eunjin  terdiam. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa.

 

“Tingginya kira-kira 168 dengan rambut  berombak dan sedikit kecoklatan. Begitu melihatmu, aku langsung tahu itu kau,”

 

 

Keringat dingin  mulai mengucur di sekitar pelipis Eunjin. Merasa ketakutan karena Jongdae mendekat, mengira pria berkacamata itu akan berbuat sesuatu padanya.

 

“Meski  mereka memang berniat mentraktirmu, tapi siapapun akan marah jika ditinggal diam-diam. Siapapun pasti akan membalasmu jika terus berbuat begitu,” lanjut Jongdae, membuat Eunjin menunduk.

 

 

“Ya. Kalau terlalu meremehkan laki-laki, nanti kalian bisa celaka,”

 

Ahri bergidik. Bisikan Sehun tepat pada indra pendengarannya membuatnya  spontan memejamkan mata. Pelan, namun sangat menusuk.

 

Saat Sehun melepaskan pelukan pada pinggangnya dan beranjak, kedua  manik mereka saling bersitatap.

 

“Sudah, ya,”

 

Sehun memberikan senyumnya kembali pada Ahri yang menahan rasa malu sekaligus bersalah.

 

“Hari ini kalian yang harus bayar. Jangan ulangi lagi sikap buruk kalian,”

 

‘Blam’

 

Ucapan terakhir Jongdae  mengakhiri kencan buta mereka. Ditambah dengan benturan pintu tertutup membuat kesan kencan buta ini menjadi sangatlah buruk.

 

 

“Yaakkkkk! Apa-apaan mereka!”

 

 

Ahri  menghembuskan nafas kasar mendengar teriakan tidak terima Eunjin.

 

“Apa boleh buat. Eunjin-ah memang kau yang salah. Lebih baik jangan berbuat seperti ini lagi,”

 

Eunjin merenggut. Menghentak-hentak  lantai ruang karaoke  dengan  perasaan kesal yang telah berpadu dengan rasa malu.

 

 

Sehun pasti mengiranya sudah sering  melakukan hal seperti ini, batin Ahri sedih.

 

Ahri menunduk. Menelan rasa kecewa, akibat  kejadian ini.

 

 

 

 

Eunjin berjalan pada koridor lantai 1 SMU Hannyeong.  Berkali-kali  gadi Song menghembuskan nafas kesal. Ia masih terbayang-bayang insiden diirnya yang tertangkap basah dan dipermalukan secara bersamaan oleh Jongdae dan Sehun.

 

 

Kapan ia  bisa bertemu dan membalas perbuatan kedua laki-laki itu? Pekikan  kesal yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri berkali-kali terlontar.

 

Eunjin  hampir saja tersandung. Memikirkan Jongdae dan Sehun membuatnya tidak memperhatikan jalanan secara benar.

 

Untung saja seseorang berbaik hati menahan tubuhnya.

 

“Gwaenchanayeo?”

 

 

Eunjin ingin mengucap terima kasih, tapi   sungguh   hal yang  tak disangka ataupun terbersit olehnya. Ia langsung melompat saking terkejutnya.

 

Jongdae. Seorang Kim Jongdae yang menyelamatkannya. Dan yang lebih tidak disangkanya, saat pria Kim mengenakan seragam Hannyoung.

 

“Neo!” tunjuknya kesal.

 

“Apa-apaan ini! Mahasiswa universitas Korea  darimana! Ternyata kalian juga murid Hannyoung!” Eunjin berucap kasar.

 

“Kami hanya ingin menangkap basah kalian.  Memangnya kalian mau terjebak jika kami mengaku siswa Hanyyoung? Seharusnya kalian berterima kasih karena kami mau menyadarkan kalian,”

 

Eunjin tertawa mengejek mendengar  mendengar penuturan Jongdae yang  seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.

 

“Kau sendiri  juga berbohong, kan?  Mengaku mahasiswa padahal masih SMU. Kau itu lebih memalukan,” balas Eunjin. Tak mau kalah dengan Jongdae.

 

Sungguh ia ingin sekali membalas perbuatan Jongdae.

 

“Dasar bodoh. Salahmu sendiri tidak mengenali seniormu,”

 

Eunjin ingin membalas Jongdae, namun pria berkacamata itu malah langsung berbalik meninggalkannya.  Membuatnya mengumpat dan merasa bodoh sendirian.

 

“Ahkkk… Kim Jongdae awas kau!” pekiknya tak terima.

 

 

—-

 

 

“Apa?”

 

Ahri  sontak terpejam akibat teriakan terkejut Nanhee.

 

“Pantas saja mereka marah. Untung saja mereka tidak berbuat macam-macam. Jika kalian sedang sial, bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan,”

 

Ahri mengangguk. “Aku tahu,”

 

“Pokoknya jangan ulangi lagi,”

 

“Iya. Aku mengerti, Nanhee-ah,”

 

Ahri menghembuskan nafas lemas. Sementara Nanhee menepuk-nepuk pundak temannya itu.

 

“Jangan terlalu bersedih,” ujar Nanhee yang mengerti apa yang membebani Ahri.

 

Ahri tersenyum dan mengangguk.

 

“Aku…”

 

“Ahri-ah! Nanhee-ah!”

 

Teriak Eunjin yang  lumayan keras membuat Ahri dan Nanhee  langsung memandang  gadis Song  yang sedang berlari ke arah mereka bingung.

 

 

“Anak laki-laki yang kemarin itu! Jongdae dan Sehun! Ternyata mereka bukan mahasiswa universitas Korea, tapi siswa kelas 2 SMU Hannyeong!” pekik Eunjin tergesa-gesa.

 

 

“Benarkah?”

 

 

Eunjin mengangguk.

 

“Tadi aku ketemu sama si kacamata di koridor. Dia bilang… dia bilang aku…”

 

“Tunggu  sebentar Eunjin-ah,”  Ahri memotong perkataan Eunjin.

 

“Kau bilang  bertemu Jongdae? Benarkah? Kau tidak salah mengenali?”

 

Eunjin menggeleng cepat.

 

“Tidak. Aku bahkan sempat bercekco…. Ya..ya…yakk Ahri-ah. Kau mau kemana?” teriak Eunjin kesal.

 

Sebelum dia ingin bercerita  Ahri  malah pergi meninggalkannya. Itu membuat gadis Song semakin memberenggut.

 

“Nanhee-ah, kau akan mendengarkanku kan?” tanyanya  dengan wajah memohon.

 

Sementara Nanhee  yang  ditatap seperti itu hanya mengangguk pasrah.

 

Ia harus siap-siap menjadi objek kekesalan Eunjin.

 

Sungguh sial nasibnya hari ini.

 

 

—-

 

 

Ahri berlari dengan tergesa-gesa di koridor lantai 2 SMU Hannyeong. Pandangannya berpendar mengitari setiap kelas murid kelas 2, mencari sosok yang sedari kemarin selalu berbayang-bayang dalam benaknya.

 

Ia merasa tidak tenang sekarang. Perasaan tak sabaran sangat menggebu-gebu.

 

Jika Eunjin benar bertemu dengan Jongdae yang katanya senior yang setingkat di atas mereka, berarti bukan tidak mustahil jika Sehun juga  murid kelas 2 Hannyeong.

 

Ahri sangat yakin. Dan ia memang punya firasat kuat, jika Sehun adalah sosok yang tepat.

 

Langkahnya terhenti. Sosok jangkung yang sedari tadi dicarinya akhirnya ketemu.

 

Dengan lamat ia melangkah mendekat. Bingung ingin mengatakan apa sebagai sapaan.

 

Apalagi saat ini pria Oh itu sedang tidak sendirian, melainkan bersama kedua gadis yang ia yakini adalah sesama kelas 2.

 

Ia hanya berharap jika pria Oh itu akan menoleh dan pandangan mereka pun bertemu.

 

Dan ternyata harapan gadis Jo terkabul. Sehun menoleh ke arah Ahri, akibat merasa  seseorang sedang memperhatikannya.

 

 

“Ahri-ah?”

 

Ahri mengangguk kemudian perlahan mulai mendekat.

 

“Bisa tinggalkan kami sebentar,” ucap Sehun pada kedua gadis seangkatannya itu.

 

“Oppa…ani sunbaenim… apakah appamu adalah Oh Ryuta yang novelis itu?”

 

 

Ahri bertanya dengan tidak sabaran, membuat Sehun tersenyum dengan tingkah  gadis Jo itu.

 

“Emm,”

 

Sehun mengangguk sebagai jawaban, membuat Ahri tersenyum sumringah.  Pipinya tiba-tiba dihinggapi  semburat kemerahan.

 

 

Pasti dia orangnya. Pasti dia yang bisa mengisi hari-hariku.

 

 

 

 

I just said ‘Hai…’

Well, maaf karena hanya bisa hadir dgn fic sederhana ini ^^

Aku bingung harus mengatakan apa sama kalian semua. Yg pasti aku sangat senang krn kalian mau memberikan reaksi atas fic” sebelumnya.

Dan aku cuma mau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan ke nmr ponselku.. Jujur ya aku bkn gk mau jawab tapi bertepatan di situ aku gak ada pulsa, dan pas udh diisi semua pesan” kalian ke hps. Aku cuma inget beberapa, jdi jika ada yg nanya tapi gk aku jwb di sni maaf krn aku lupa.

 

 

‘Kak, bond kapan dilanjut?’

— maaf banget yah aku blm bisa mastiin ttg ini. Tapi pasti aku lanjut kok tenang aja. 🙂

 

‘Kak, knp selalu mosting fanfic tengah malam?’

— krn aku bisa ngetik file pas mlm” doang 🙂 makanya mostingnya jg tengah mlm

 

‘Och, katanya kamu sibuk tapi d fb kok aktif?’

— ini perlu diklarifikasi buat semua. Iya aku emg sibuk tapi d sni bkn sibuk hal” aneh. Aku cuma sibuk sekolah. Gini bkn mau ngeanu atau apa, tapi semenjak kelas 2 jadwalku sekolah itu padat. Mulai dari senin-sabtu aku sekolah dari jam 7 pagi-7 mlm. Kalo mau buka wp masih bisa dr hp tapi lama, trus kalo mau buat fic aku nyuri” waktu tiap jam istirahat, makanya fic yg aku kerjain itu selesainya lama. Dulu waktu masih kls 1 jadwal dr jam 7 ke jam 7 itu cma senin sampe kamis, tpi semenjak sekolah make k13 jadi padat banget. Dan buat make fb itu kn dr hp dan itu simple, beda kalo ngetik, repot nunggu lp loading dulu.

 

‘Ka Och sebenarnya Seulki bakal dikopelin sama siapa? Sehun atau Luhan”

— Aku udh jawab ini beberapa kali, tapi yasudahlah. Sehun maupun Luhan itu tokoh utama. Entah itu sama Hun ataupun Han. krn sejak awal aku gk mematok Seulki sama siapa. Itu tergantung kalian. Suka Sehun teriakin sehun sebanyak mungkin,suka Luhan teriakin luhan sebanyak mungkin (pas chap berikutnya di rilis)

 

‘Dek, terkadang aku ngebaca fanficmu itu bahasanya terlalu berat, bisa lbh disederhanakan?’

— kak maaf jika kamu gak ngerti cara penulisanku. Tapi aku sendiri jga bingung dgn gayaku menulis. Apa mmg bahasanya seberat itu? Mungkin di lnjutan berikutnya aku bakal menanyakan respon temen”ku dulu baru aku publish ^^

 

 

Sebelumnya terimakasih, mungkin aku gak bisa jawab komentar” kalian satu persatu tapi aku janji kalo kalian punya pertanyaan yg penting buat aku jwb kalian bisa komen ‘tolong di jawab’ di kolom komentar atau langsung sms. Aku orgnya nyantai kok gak gigit org :3

 

and what do you think about this fic?

Give your respond, please 🙂

 

Saranghamnida #hug

19 responses to “Love is Sweet [Act. 1]

  1. ahahahahahahaha malu abis kalo jadi eunjin, adudu jongdae nya skak mat si eunjin aduh coolnya, aku sukaaa^^
    sehun sama ahri cocok bgt di couple in, berarti tinggal yixing dan nanhee nih.
    rumi ibu tirinya yah, wah kwanghe appa bukan kaya appanya tp kaya temen nya ahri.
    next chap next chap kekeke
    author aku belum dapet pass bond chap 2 loh, wktu itu aku udah sms 😦 apa authornya udah bles tapi gak masuk ya ?

  2. Kasian ahriiiiii, padahal kan dia baru sekali dan dipaksaaaaaaa
    Byw, ga suka ahri yg ngebet banget dpt pacar baru. Hahahhahaha
    Liat sehun aja lgsg fitu.
    Ditunggu next chapternyaaaa, fighting!

  3. Eunjin pasti malu banget, hahaha..
    Ahri segitunya suka sama Sehun..
    Tapi Sehun suka juga kah sama Ahri??
    Ditunggu next chapternya, ditunggu juga next chapter Bond..
    Aku suka banget ff Bond, dan ff Bond yang kemarin di akhirnya bikin penasaran, jadi harus secepatnya di post..
    Thank you

  4. Kasian lah si ahri baru pertama kayak gitu udh dipermalukan sama sehun-_- eunjin sih malu maluin wkwk xD
    Mulai tertarik nih sama ff ini 😀 aku tunggu kelanjutannya^^

  5. hahaha Keren..
    Ahri suka tuh sama Sehun apalagi ortu mreka saling kenal. Berharap dijodohin itu yaa.. kekeke
    Yg tntng BOND Seulki sama Sehun aja,, hehehe

  6. Tuh kan papanya ahri, papa salah gaul-_- masa iya hubungan dia ama ahri kek temen akrab, bukan hubungan papa-anak-_-

    Jongdae ngomongnya nge-jleb banget, kasian tuh si Eunjin pasti malu tujuh turunan, wkwkw XD

    Eccie, udah ada benih benih cinta antara Sehun sama Ahri cciie XD

  7. Yeyy ahri sama sehun… kkkkkkk ~~
    Kirain bakalan sama yixing ternyata yixing sahabatnya…. hehe ^^

  8. Kasian ahri,bru prtma ikut udh ktahuan,..ahri udh suka ma sehun,apkh sehun jga suka ma ahri?next..

  9. waa seeu idenya kabur dr karoke itu bisa jadi inspirasi gw wkwk gokil gokil next nya ditunggu :))

  10. Jangan-jangan mereka dijodohin sama ortu mereka????
    buktinya dy yakin kalo sehun bakal ngisi hari-harinya
    ditunggu next chapternya ya

  11. Lucu ficx, ahri pede bngt langsung nanya, untung orangx tepat,
    Lw salah gimna???
    Hahahah. . .
    Sumpah eunji bner” dah. . .
    Cuman pengen karaoke sampek kyk gtu,
    Next thor,

  12. Waaa…
    Kyaknya bkalan tmbh seru nih…
    Khdpn anak sma pun sgra d mulaai…
    Kyaa..
    Daebak thoor…
    Jjang..
    Keep writing nee…
    Semangaaaat..
    ^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s