ONLY I DIDN’T KNOW (XIUMIN PART 1)

images

Author : ataly46

Cast : – Park Bo Young

  • Xiumin
  • The Secret Man

 

Genre : Hurt, Angst, friend

Lenght  : Chapter

 

Rating : PG

 

Disclaimer : ini asli dari pikiran saya. Don’t Copy and bash .

Banyak ranjau typo dimana-mana.

So, bagi yang gak suka langsung back ajah. ^^

 

ONLY I DIDN’T KNOW

‘Pada saat itu, aku sudah menjadi bagian dari akhirmu.

Apakah cerita ini hanya aku yang tak tahu?’- Park Bo Young

 

Berwajah innocent, dengan segala kesempurnaan fisik yang dimilikinya menjadi sebuah point A. Belum lagi gadis cubby ini merupakan keturunan dari keluarga chaebol. Siapapun yang melihatnya akan iri dan akan mengira gadis ini salah satu manusia yang sempurna, jika hanya dilihat dari luar segi fisiknya. Sayangnya, dia memiliki kekurangan yang membuat semua yang mengetahuinya menaruh rasa simpatik dan iba padanya.

 

Park Bo Young, anak dari salah satu chaebol ini tak memiliki mata yang hidup. Matanya redup sejak dia lahir. Buta, yah itulah lebih tepatnya. Awalnya dia marah, dia sedih, selalu menyalahkan tuhan yang membuatnya terlahir buta. Tak adil, itulah yang ia rasakan.

 

Hidup dengan segala kemewahan yang dimilikinya tak bisa membuatnya bisa merasakan rasanya melihat. Kedua orang tuanya tentu selalu berusaha mencari-cari cara agar anak gadis mereka bisa melihat seperti anak perempuan lainnya. Apapun, bahkan mereka sudah mengeluarkan banyak uang untuk itu. Tapi sayang tuhan berkehendak lain.

 

Mereka selalu berakhir mati atau menipu. Yah, orang-orang yang terpilih menjadi donor mata untuk Park Bo Young selalu berakhir mati atau mereka hanya menipu. Sudah lima kali Park Bo Young akan melakukan operasi mata. Tapi, mereka mati sebelum itu terjadi. Ada yang tiba-tiba tertabrak, saat operasi berjalan sang pengdonor mengalami serangan jantung mendadak karena syok dan ketakutan, ada yang melarikan diri, dan yang terakhir adalah mata berhasil diangkat sayang mata itu rusak dan mati.

 

Dilahirkan buta maka akhir hidupnya pun diharus buta. Kepasrahan yang menjadi pilihannya. Bukan pilihan tepatnya tapi keharusan. Dia sudah lelah selalu mengharapkan ketidakpastian. Dia hanya ingin melakukan hal yang sama seperti anak-anak lainnya. Dia akan berusaha walaupun menyakitkan.

 

*

*

 

Alunan irama mengalun merdu disetiap tekanan jari lentik itu pada tuts piano. Jari-jarinya bergerak lincah memainkan not-not lagu yang menciptakan sebuah irama. Mengalunkan lagu yang mendengarnya bahagia. Tentu, semua akan berpikir dia bahagia jika hanya mendengar. Lihat dan rasakan. Alunan musik itu memang terdengar ceria tetapi tidak dengan sang pianis.

 

Tatapannya kosong, sendu dan menerawang banyak angan dibenaknya. Sang pianis berusaha menyelami alunan musik yang dimainkannya.

 

CTAR.. CTAR

 

“BERMAIN DENGAN BENAR!!” teriak pria itu marah. Bahkan tak segan memukuli sang pianis dengan stick musiknya.

 

“miannata.. aku akan mengu-.”

 

“apa? Mengulanginya lagi, bagaimana kau bisa menyampaikan pesan musikmu jika permainanmu seperti ini.” potongnya kesal.

“maafkan aku. Aku sudah berusaha.” Jawab sang pianis takut dengan kepala menunduk.

“ah, sudahlah aku lelah mengajari mu. Anak sepertimu bisa apa? Dasar buta.” Setelah mengatakan kata-kata kasar itu, pria tua itu pergi dengan sebongkah kepahitan di jiwanya.

Hiks… hiks.

Menangis. lagi-lagi itulah yang bisa dilakukannya. Menumpah ruahkan pedihnya dalam linangan air mata yang hambar. Usahanya akan berakhir gagal. Selalu. Dia tak bisa mendapatkan apa yang diinginkan ayahnya itu. Yah, orang yang mengatainya buta adalah appa-nya sendiri. Sudah dari kecil dia diajari bermain piano. Jari-jarinya memang lincah mengalunkan irama merdu. Tapi tidak dengan hatinya. Mengalunkan melodi hambar sebab tak ada rasa yang terbentuk dalam sebuah penghayatan.

Hal sama, kesalahan yang sama dan berakhir makian yang sama setiap harinya. Tangannya dikatakan tangan dingin, kenapa? Dia, gadis pianis ini tak pernah bisa menyampaikan pesan dari melodi yang dimainkannya. Katanya adalah karena gadis ini tak pernah memakai hatinya, penghayatannya. Dia sudah berusaha tapi tetap tak bisa.

Hatinya telah buta sejak ia ditetapkan lahir. Hatinya hitam. Lalu, bagaimana caranya menggunakan hati yang pria itu bilang untuk penghayatan? Adakah seseorang yang bisa memberitahunya? Hatinya tak pernah memiliki rasa, tak berwarna. Hatinya kelam kelabu.

“wae? Hiks wae?” suaranya pecah akibat menangis tersedu-sedu.

“apa aku tak bisa melakukan apapun dengan benar?” ucapnya sambil terus memukuli kepalanya dengan kepalan tangan yang biasa menekan tuts piano.

“mianhe.. hiks.. mian.. hiks.”

Gadis pianis itu, Park Bo Young hanya bisa menangis dan menangis. Gadis ini hanya bisa termenung dalam keterpurukannya. Dia sakit, hatinya sakit dan terus bertambah sakit. Semakin tenggelam dalam kemelut hati dan latar hidup suramnya.

 

*

 

“aku? jjinjayo? Waahh.” Teriaknya bahagia mendengar berita yang baru saja didengarnya.

“selamat. Aku senang kalau kau senang mendengarnya.” Ucap ibu dari pemuda tersebut.

“tapi,bukankah pianis lain yang akan bermain solo dikonsermu nanti?” tanya abbeoji pemuda tersebut.

“benar, bukannya begitu ahjussi?” tanya pemuda itu bingung.

Pria tua yang ditanya tersebut hanya melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Dia meneguk coffee latte-nya sesaat sebelum menjawab pertanyaan yang menampar mukanya sendiri.

“mungkin sudah menjadi keberuntunganmu. Yang terpenting kau bermain dengan baik dengan hati yang tulus.”

“sekali lagi aku mengucapkan terimakasih ahjussi. Bisa diikut sertakan dalam konser tunggal mu tahun ini.”

Pria tua itu menepuk pelan bahu sang pria muda tersebut dan mereka kembali kedalam percakapan ringan.

 

*

 

“honey, ayo makan.” Nyonya Park terus meminta gadis cantik dihadapannya untuk makan.

Park Bo Young hanya menunduk, dia hanya mengaduk-ngaduk makanannya tanpa berminat untuk memakannya sama sekali. Dia hanya merenung dan terus mengaduk makanannya tanpa minat. Nyonya Park yang melihatnya turut sedih. Dia harus berbicara dengan suaminya. Bagaimanapun dia tak mau melihat anak semata wayangnya terus bersedih. Wanita tua ini selalu berusaha selama ini untuk membuat anak semata wayangnya bahagia. Park Bo Young, anak gadisnya ini tak pernah tersenyum tulus, tak pernah merasa bahagia. Walaupun selama ini Park Bo Young selalu tampak ceria dihadapan semuanya.

“ayolah honey. Nanti kau sakit, sesuap saja.” Nyonya Park mengambil sendok yang dipegang Bo Young dan berusaha untuk menyuapi anaknya.

“yeobo, aku pulang.” Teriak tuan Park yang baru saja pulang. Nyonya Park yang mengetahuinya langsung menghampiri suaminya.

“sayang, bagaimana ini? Young-ie tidak mau makan sama sekali dan dia terus bersedih.” Adu nyonya Park kepada tuan Park.

“biarkan saja dia sudah besar.” Ujar tuan Park acuh.

“kau ini bagaimana. Anakmu sedang bersedih bukannya menghibur malah mengacuhkannya.” Ujar nyonya Park kesal.

Prang.

Nyonya dan tuan Park yang mendengarnya langsung berlari kearah sumber suara. Nyonya Park langsung mendekati anaknya dan membantunya. Sedangkan tuan Park hanya diam tanpa melakukan apapun. Beliau hanya menatap anak gadis semata wayangnya.

“aigoo honey. Apa yang terjadi?” tanya nyonya Park yang sedang membantu Bo Young untuk berdiri.

“mianhae eomma. Aku akan membersihkannya.” Ujar Bo Young yang sedang mengambil pecahan piring yang tak sengaja disenggolnya saat hendak beranjak menuju kamarnya.

“biarkan saja anak itu yang melakukannya.” Ujar tuan Park dingin terus menatap Bo Young dengan ekspresi yang tak bisa terbaca.

“sudahlah youngie, biarkan han ahjumma saja yang membersihkan ini semua.” Nyonya Park menulikan telinganya.

“arrgh…” darah segar setetes demi setetes mengalir keluar dari jari telunjuk kiri Bo Young.

“lihat apa yang bisa anak buta ini lakukan.” Ujar tuan Park marah.

“Park Il Sung” teriak nyonya Park kesal.

“sudahlah eomma, aku baik-baik saja.” Ujar Bo Young berusaha menenangkan eommanya dengan tersenyum. Hati nyonya Park mencelos melihat senyum hambar gadis cantik dihadapannya.

“yeobo, kenapa kau harus berkata sekasar itu? Wae?” tanya nyonya Park berkaca-kaca. Acuh,Tuan Park hanya memperlihatkan raut datar.

“sudahlah. Inilah akibatnya jika kau memanjakannya.” Ujar tuan Park dan berlalu pergi.

“YEOBO!!!!.” Teriak nyonya Park kembali. Amarahnya sudah memuncak dia sudah tak tahan dengan perilaku suaminya terhadap anaknya sendiri. Camkan itu anak kandungnya sendiri. Tuan Park langsung menghentikan langkahnya tanpa berniat untuk memutar tubuhnya.

“kau ini kenapa? kenapa harus bersikap sekasar itu kepada Bo Young. Dia Park Bo Young anakmu sendiri. Kau dengar ada marga Park didepan namanya.” Ujar nyonya Park- Shim Mira yang sudah mulai menangis.

Tuan Park yang mendengarnya tahu kalau istrinya menangis. Dia hanya diam tak melakukan apapun. Park Bo Young teriris mendengarnya. Sembilu dihatinya semakin menyayat, lukanya semakin dalam dan berdarah. Lagi-lagi bo young harus mendengar ini semua. Mereka akan mulai berteriak dan membuatnya semakin terpuruk dikubangan kepedihan yang tak surut. Kedua orang itu hanya terus menambah kepedihannya secara perlahan-lahan.

Tanpa disadari Bo Young dia mencengkram pecahan beling dengan kuat. Darah-darah segar mengalir sebagai bukti pesakitannya, amarahnya, kesedihannya, dan segala yang mebawanya semakin terpuruk kedalam lubang hitam hidupnya.

“anak seperti dia, apa yang bisa diperbuatnya? Dia tak pernah bisa melakukan apapun dengan benar.” Ujar tuan Park membalas ucapan Nyonya Park tetap memasang raut datar.

“HENTIKAN.” Teriak Bo Young, dia sudah tak tahan selalu harus mendengarkan adu mulut kedua orangtuanya. Selalu bertengkar karena alasan yang sama, dirinya.

Tuan dan nyonya Park serempak menoleh dan mereka terkejut. Mereka tak menyangka akan seperti ini. Tatapan tuan Park berubah, dia khawatir. Ada penyesalan dalam raut wajahnya. Dia menatap Bo Young dengan tatapan cinta dan sayangnya.

“aigoo, youngie…” nyonya Park langsung berlari dan menyentuh tangan Bo Young yang berdarah.

“sudahlah eomma aku tak apa-apa.” Ujarnya tersenyum hambar dan menepis sentuhan eommanya dengan lembut dan berlalu pergi.

“youngie… youngie.” Nyonya Park terus memanggil Bo Young dan mengejar Bo Young. Tapi langkahnya tertahan karena cengkraman lembut tuan Park dilengan kirinya.

“lepaskan aku.. lepaskan. Kasihan anakku di-“ tuan Park langsung memeluk Nyonya Park. Dia menatap kepergian anaknya, Park Bo Young. Menatapnya sampai punggung cantik itu menghilang dibalik tangga.

*

Darah segar terus mengalir dari telapak tangannya. Dia tak merasakan sakit apapun di permukaan kulitnya. Membiarkannya terus mengalir meninggalkan jejak tetesan darah disetiap langkahnya. Langkahnya terhenti disebuah tempat berair.

Menenggelamkan kedua kakinya dan menundukkan kepalanya. Hanya itu yang selalu bisa ia lakukan. Aliran air matanya mengalir menyusul dengan darah segar yang keluar dari tangan melodinya. Dia menangis. Dia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tak perduli bahwa akan ada noda darah diwajah cantiknya.

“argghh…” dengan mengibaskan tangannya pada permukaan air yang menimbulkan cipratan besar.

“hiks… hiks… hiks.”

“wae? Wae? WAEEEE?” jeritnya frustasi dengan menjambak rambut indahnya.

“aku anak- hiks hiks- yang tak berguna.. hiks.” Tangisnya

“lebih baik aku mati.”

*

*

Seorang pria muda sedang melihat langit malam dari balik jendelanya. Senyumnya terus terukir dari bibirnya. Dia terus berpikir semenjak pertemuannya dengan seorang dirigen ternama di Korea Selatan. Dia tak tahu mimpi apa dia sehingga bisa ikut andil dalam orkes tunggal sang dirigen ternama Park Il Sung yang sudah sering tampil diberbagai belahan dunia.

“wah.. aku harus berlatih lebih giat lagi.” Ucapnya pada diri sendiri dengan tetap menatap langit malam yang gemerlap baginya.

“hwaiting Xiumin.. hwaiting.” Ujar pria muda tersebut yang ternyata adalah Xiumin.

“adeul-ah. Cepat tidur ini sudah malam.” Teriak ibu Xiumin dari lantai bawah.

“ne. Eomma.”

“tuhan. Semoga ini mimpi yang indah dan jangan pernah bangunkan aku dari mimpi indah ini.” setelah itu Xiumin menutup kedua matanya dan terlelap dalam angan indah dibenaknya.

*

“morning eomma, abbeoji.” Sapa Xiumin dan melanjutkan dengan mencium kedua pipi eommanya.

“kenapa abbeoji tidak?” rajuk appa Xiumin yang tak mendapatkan kecupan dari Xiumin seperti ibunya.

“aish…. aku tak mau disebut pria tak normal.” Jawabnya dan langsung memakan roti yang sudah diolesi selai oleh ibunya.

“sudahlah kalian ini. Jangan memperdebatkan hal yang tak penting sepagi ini. oh ya Xiumin jangan lupa sepulang sekolah nanti kau harus berlatih dikediaman Tuan Park.” Ujar ibu Xiumin

“Ye, eomma. Arraseo.”

*

Dengan hati yang riang pria berwajah innocent itu terus melangkah menuju tempat awal mimpinya. Dia terus berkata kalau ini mustahil dan pria innocent itu merasa dia sedang amat beruntung. Langkahnya berhenti setelah tiba di kediamaan Tuan Park. Dia mengkerutkan dahi, bingung.

“sepi…” ujarnya bergumam.

Xiumin mencoba melihat ke kediaman tuan park dengan meloncat-loncat agar kepalanya melebihi pagar yang tingginya 2 meter dari tubuhnya. Xiumin melirik kanan dan kirinya. Sepi, tak ada orang satu pun. Dengan nekad, xiumin menaiki sedikit pagarnya agar bisa lebih leluasa melihat kediamaan Tuan Park.

“apa semuanya sedang pergi?” ujarnya dengan berpegangan erat pada besi diantara pagar-pagar tersebut.

“aish… bagaimana ini?” xiumin terus berceloteh dengan posisi tetap memanjat pagar yang tingginya melebihi tubuhnya.

“hei, anak muda apa yang kau lakukan?” tegur wanita tua yang melihat perilaku Xiumin dengan curiga.

“oh.” Xiumin terkejut dan langsung melompat turun dengan segera. Dia menatap ahjumma tersebut dan membungkukkan badannya.

“jeongsohamnida. Aku tidak berniat jahat sama sekali. Aku hanya melihat kondisi pekarangan rumah Tuan Park. Karena terlihat sepi.” Ujarnya mencoba menjelaskan.

“memangnya apa masalahmu jika penghuni rumah tidak ada?” tetap dengan raut curiga terhadap Xiumin.

“begini. Aku dan tuan Park sudah membuat janji akan berlatih piano dirumahnya. Tapi kelihatannya tidak ada siapa-siapa dirumahnya jadi aku berusaha melihat. Sungguh, aku tidak berniat jahat sama sekali.” Ucap xiumin panjang lebar dengan mengibas-ngibaskan tangannya membuat tanda aku bukan maling.

“lalu, kenapa kau tidak menekan bel ?” ujar ahjumma itu lagi sambil menunjuk bel rumah tuan Park di sebelah kiri tubuh Xiumin yang sedang menghadapnya.

Tanpa diperintah telapak tangan kanan Xiumin memukul jidatnya dan berujar, “pabbo.”

“ah, itu aku tidak ingat. Sama sekali tak terpikir olehku.” Ujar Xiumin mulai tak nyaman karena dicurigai yang tidak-tidak oleh ahjumma dihadapannya.

“jinjja? Aish sudahlah aku tak ada waktu meladeni anak sepertimu.” Ujar wanita tua itu pergi.

“ahjumma… ahjummaa…” panggil Xiumin mengejar Ahjumma yang sudah mencurigainya dan menyamakan langkah diantara mereka.

“wae?” balasnya ketus.

“ah mian.. aku hanya ingin bertanya apakah ahjumma tahu kemana perginya keluarga Tuan Park?” tanya Xiumin dengan wajah memohon.

“sepertinya mereka kerumah sakit karena tadi pagi aku melihat ambulance di pekarangan rumah Tuan Park.”

“oh, begitu. Gamsahamnida ahjumma.” Ujar Xiumin dengan membungkukkan badan sebagai tanda terimakasih.

“aish-menyebalkan.” Dengan mengacak-ngacak rambutnya kesal.

*

*

Tanda garis pada monitor pengukur detak jantung itu masih belum memberikan tanda-tanda. Terus bergerak lambat dan berinterval rendah membuktikan denyut jantungnya lemah, belum stabil. Belum cukup dengan alat pengukur detak jantung sebagai tolak ukur hidupnya. Ditangan kirinya pun menancap sebuah jarum infus dan selang oksigen yang melekat erat di sekitar hidungnya.

Akibat percobaan bunuh dirinya. Semua alat medis itu menempel indah di tubuhnya. Dia diam tak bisa menolak karena raganya belumlah sadar. Gadis yang terlentang tidur di kasur pesakitan itu harus menelan kegagalan lagi. Yah, gagal kembali. Karena dia tak jadi merenggang nyawa.

“ya tuhan. Tolong selamatkan putriku. Sadarkanlah dia.” Doa wanita tua paruh baya yang sudah menangis berjam-jam. Tuan Park dengan setia menunggu dan menenangkan istrinya walaupun hatinya sendiri gelisah dan kalut. Tapi Park Il Sung, ayahanda Park Bo Young itu berhasil menutupinya.

“Cho uisa bolehkah aku masuk? Aku ingin menemani anakku.” Pinta nyonya Park kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD tersebut.

“aku mengerti perasaanmu nyonya. Tapi maaf untuk sekarang ini pasien belum boleh dijenguk oleh siapapun. Jika ruangannya sudah dipindahkan ke ruang inap anda sekeluarga baru boleh menemani pasien.” Ujar Cho uisanim menjelaskan dengan bijak.

“gamsahamnida uisanim. Anda sudah melakukan yang terbaik untuk putriku.” Ujar Tuan Park memberi hormat kepada dokter dihadapannya.

“jangan seperti itu. Dia masih bisa kami selamatkan karena kehendak tuhan. Kalau begitu aku permisi.” Lalu pergi meninggalkan kedua orang tua Park Bo Young.

*

 

^Bo Young POV^

Akhirnya kebahagiaanku datang kembali. Kegiatan yang selalu membuatku tenang dengan segala keterpurukan hidup. Keterpurukan karena tak sesempurna mereka. Aku benci saat mata ini terbuka karena mataku tidaklah benar-benar terbuka.

Keengganan mentari yang hangat dalam wujud sinarnya menyambangiku berakhir malapetaka. Bahkan sinar bias pun enggan. Saat sinar menyambangi lensa matamu maka akan membentuk bayangan dan merangsang gambaran dalam penglihatanmu. Entah keengganan sinarnya atau kesiapanku dalam menerima bayangan hitam dan putihnya kehidupan yang menahanku memiliki indera penglihatan.

Sudahlah, aku akan menggenggam yang nyata dan tampak dihadapanku sekarang. Terpejam merupakan surga bagiku. Surga duniaku, mungkin? Aku tak bisa mengatakan surga fana juga karena aku belum merasakannya dan bisa dikatakan aku gagal menyambangi dunia abadi disana.

Apa itu melihatmu? Biar kutebak, melihatmu adalah saat menyaksikan segalanya dengan matamu. Dengan matamu yang benar-benar terbuka. Membiarkan warna matamu bekerja, benar bukan? Sedangkan melihatku adalah saat mataku terpejam. Aneh? Jangan mencelaku karena kau tak merasakannya. Aku melihat saat mataku terpejam. Membiarkan kelopak mata ini menutup dan menyambut ayang-ayang. Ayang-ayang dalam wujud mimpi.

Saat itulah aku merasa hidup. Saat itulah aku merasa sama dengan kalian semua. Aku bermimpi dan bisa melihat semua khayalku. Aku adalah pemimpi, sebutlah aku begitu. Setiap hari aku hanya bermimpi. Karena penglihatan yang bersifat fana ini aku merasakan mataku. Merasakan apa itu sakit, bentuk, dan warna. Aku bisa menggambarkan semuanya dalam anganku.

Terbukalah,aku menangis. Duniaku hilang, kebahagiaanku hilang. Karena kelopak mata ini terbuka. Aku terbangun dari tidurku. Memaksaku untuk berkamuflase. Aku melakukan semua kegiatan yang sama seperti kalian. Aku sekolah, sarapan, berjalan-jalan didalam dunia yang hitam.

Suram. Dialah perasaan yang berwarna kelam yang setia menyambangi hidupku saat terbukanya kelopak mata ini. Hitamnya selalu kugenggam dan kujadikan pondasi. Pondasi dalam gambaran dunia indah. Indah tak berwarna, indah tak beraneka ragam, indah tak berwujud, indah tak berbayang. Indah dengan ketetapan dalam keterbukaan mata-mataku.

Bersyukurlah aku? Kata mereka yang benar-benar terbuka matanya. Kenapa? Sebab aku tak perlu menyaksikan sisi gelap hidup diantara manusia yang lain. Perilaku yang menimbulkan amarah dan benci, menimbulkan air mata, siksaan batin karena menyaksikannya dengan mata.

Haruskah aku mensyukurinya? Dengar, aku yang tak benar-benar melihat ini berkata tidak. Aku memang buta tapi bukan berarti aku buta segalanya. Aku masih bisa mendengarnya, merasakannya, dan membayangkannya.

Kebutaan ini membuatku semakin tertarik kedalam jurang tak berdasar. Aku tahu benci, marah, kesal, senang, berbohong, sakit dan segala ekspresi. Semuanya cukup dengan mendengar dan merasakannya. Saat mereka saling berteriak, saling menghujat dan membenci membuatku sakit karena tak bisa melerai. Tak melihat membuatku tak bisa menolong banyak karena tak memiliki bukti nyata dalam bentuk gambaran yang terjadi jika aku melihat.

Aku berharap aku tak pernah membuka mata. Biarkan aku terus terpejam tuhan. Terpejam dan mendatangkan hal yang selama ini ingin kumiliki saat membuka mata.

“keterpejamanku kebahagiaanku, derai air mata bagi mereka.” Batinku.

*

*

Pria berwajah innocent itu merasa bosan dan bisa dibilang kejenuhannya itu berawal dari kekesalannya. Dia kesal karena hal yang diharapkannya dari kemarin malam gagal terwujud. Dia memang tak bisa menyalahkan tuan Park Il Sung karena kejadian ini bukanlah kesalahannya. Salah satu keluarganya baru saja terkena musibah dan mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Jadi, latihannya bersama tuan Park harus gagal terelokasikan.

“huh.” Dengusnya tetap diposisi terlentang diatas kasur empuknya.

“apa yang harus kulakukan?hmm…” pria itu nampak berpikir.

“aku sudah berlatih piano tadi, mengerjakan PR. Lalu apalagi?”

Xiumin terus berpikir membuat tubuhnya secara spontan bergelung-gelung dalam balutan selimut. Xiumin terus bergelung dan mencoba berpikir harus melakukan apa? Tapi tak jua mendapatkan ide. Matanya mencoba untuk terpejam tapi sia-sia belaka karena dia belum ingin tidur.

“Xiumin…” panggil eommanya dari balik pintu kamar.

“ne eomma.” Jawabnya setelah membangunkan diri dari kegiatannya bergelung diatas selimut.

“adeul-ah. Ayo kita pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bo Young.” Ujar Xiumin eomma

“Bo Young?” jawabnya bingung.

“ne, Par Bo Young. Anak tuan Park Il Sung. Dia masuk rumah sakit tadi pagi.” Jelas Xiumin eomma.

“ouh..” ujar Xiumin dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“arraseo. Aku akan bersia-siap dulu. Eomma tunggulah diluar.”

“arraseo. Cepatlah.” Balas eomma Xiumin yang melenggang pergi dari kamar Xiumin.

*

Xiumin memparkirkan audi hitamnya dan mematikan mesinnya. Setelah itu melenggang keluar dari mobil tersebut bersamaan dengan eommanya. Mereka berjalan menuju lift di ujung koridor parkiran luas tersebut.

“eomma apakah anak tuan Park itu perempuan?” tanya Xiumin dengan polosnya.

“aish jinjja. Dari namanya saja sudah jelas dia itu perempuan.” Ujar Xiumin eomma dengan kesal saat menjawab pertanyaan anaknya itu.

“aku kan hanya bertanya apa salahnya? Lagipula bisa sajakan dia laki-laki walaupun namanya seperti perempuan.” Jawab Xiumin memberenggut.

“sudahlah.” Jawab Xiumin eomma setelah lift berhenti dilantai 5 dan mereka keluar saat memang mereka telah sampai ditujuan.

“eomma, apakah Park Bo Young itu lebih tua dariku atau lebih muda dariku atau mungkin dia seumuran denganku?” Tanya Xiumin kembali tanpa ada tanda jeda disetiap perkataannya.

“aigoo. Kau ini benar-benar, mana eomma tahu eomma juga belum pernah bertemu dengannya.” Jawab Xiumin eomma yang sedang mencari telepon genggamnya didalam tas kebanggaannya.

“eomma menurutmu ap-”

“aish jinjja. Kau ini cerewet sekali.” Ujar Xiumin eomma yang kesal karena Xiumin terus mengocehkan hal yang eomma Xiumin sendiri tak tahu. Xiumin kesal dan lebih memilih bungkam.

“yeobboseyo nyonya Park, dikamar nomor berapa anakmu dirawat?”

“…..”

“oh ne. Aku dan Xiumin sekarang sudah berada dilantai 7.”

Flip..

“kajja adeul-ah.”

*

Sreek.

 

“annyeong haseyo..” ujar Xiumin eomma setelah menggeser pintu rumah sakit disusul dengan Xiumin.

“oh nyonya Kim kau sudah datang. Silahkan masuk.” Ujar Nyonya Park mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.

“bagaimana keadaanmu?” tanya Nyonya Kim, Xiumin eomma. Kim? Tentu Xiumin hanyalah nama kecilnya saat di china dan nama aslinya yaitu Kim Min Seok.

“begitulah. Keadaanku tidak terlalu baik sekarang.” Ujar nyonya Park menjawab.

Xiumin melirik kearah kasur rumah sakit itu dihuni. Dia terus melihatnya dengan mengabaikan kedua wanita dewasa yang sedang bercengkrama tersebut.

Xiumin terus memerhatikan gadis yang berbaring di kasur rumah sakit itu. Entah mengapa ada sesuatu hal yang menariknya untuk tak berpaling barang sedetik saja.

“xiumin.” Panggil eommanya.

“ ne? Ah mianhamnida.” Ujar Xiumin merasa kikuk dan membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf.

“tidak apa-apa. Ah benar kalian belum saling mengenalkan?” ujar Nyonya Park yang memerhatikan Xiumin terus memerhatikan putrinya.

“kalau begitu mari aku kenalkan pada kalian.” Ujarnya kembali.

“perkenalkan ini putriku satu-satunya. Namanya Park Bo Young.” Ujar Nyonya Park.

“annyeong Kim Min Seok imnida Bo Yong-ssi. Biasanya aku dipanggil Xiumin. Aku harap kita bisa menjalin hubungan yang baik dan menjadi teman.” Ujar Xiumin memperkenalkan diri dihadapan Bo Young yang masih enggan untuk menyahut dan lebih memilih memejamkan matanya.

“benarkah? Berarti kau adalah teman pertamanya Xiumin-ssi.” Ujar nyonya Park menanggapi perkataan Xiumin tadi.

“mwo? Jinjjayo?” tanya Xiumin dan Xiumin eomma serempak.

“begitulah. Ah maaf memperkenalkan anakku dalam keadaan yang seperti ini.” sesal nyonya Park yang memang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

“aigoo. Jangan terlalu kau pikirkan. Ngomong-ngomong Young-ie kau sangat cantik.” Ujar Xiumin eomma yang melihat sendu keadaan Bo Young dengan tetap memperlihatkan senyuman.

“gomawo.” Ujar nyonya Park mendengar penuturan Xiumin eomma.

“ahjumma, jika aku boleh tahu berapa usia Bo Young-si?” tanya Xiumin yang memang tidak pernah bisa menghilangkan rasa penasarannya.

“usianya sama sepertimu Xiumin-ssi.” Jawab Nyonya Park sembari tersenyum.

“maaf, apakah dia-aargggggh.” Jerit Xiumin saat hendak bertanya kembali. Hal tersebut karena perlakuan sepatu indah eommanya yang menginjak kaki kanannya.

“ha ha ha.. aigoo. Biarkan saja anakmu jika dia hanya ingin bertanya nyonya Kim?” ujar Nyonya Park sambil terkekeh melihat reaksi Xiumin yang hendak bertanya padanya tetapi dihentikan oleh eommanya.

“harus kau tahu Mira-ah jika dia sudah sekali bertanya maka dia akan terus bertanya. Terkadang aku juga tak mengerti kenapa dia begitu cerewet seperti ayahnya.” Keluh Xiumin eomma terhadap perilaku anaknya.

“haha.. sudahlah itu wajarkan. Lagipula dia memang mirip sekali dengan appa-nya.” Ujar Nyonya Park.

“aish eomma, jinjja.” Keluh Xiumin yang mendengar pengaduan eommanya pada nyonya Park. Tentu saja itu membuatnya malu.

 

“yeoppoda….. kau hal pertama yang membuatku tertarik selain kepada piano.” Batin Xiumin.

TBC

setiap cast aku buat twoshot. tetapi itu pun tergantung hidayah hehe ^^. Cerita ini aku mash dari 2 lagu IU-ONLY I DIDN’T KNOW and GONE … (aku lupa yg nyanyinya).

HOPE ENJOY IT AND LIKE IT ^^

12 responses to “ONLY I DIDN’T KNOW (XIUMIN PART 1)

  1. ter haru bnget dngn cerita nya…
    buat paek bo young bsa sembuh dri penyakitnya donq, ak penggin lhat reaksinya saat melihat xiumin oppa… ak bca nya sedh bnget…
    sepaetinya xiumin oppa udh ad tanda bkalan suka dngn bo young nh…
    chap selanjutnya d tnggu…

  2. Pasti sedih banget kalo jadi Bo young 😥
    Keadaan’a udah buta, tapi appa’a malah nambahin sakit hati’a dengan ngata”in anak nya

    Huhuhuh

  3. Seduh bgt idup bo young..yang sabar yah bo young kan ada xiumin yg mw jg temen kamu…..suka bgt sama karakter xiumin di ff ini…
    Bagus cerutanya thor….

  4. haaaaa kasian bo young 😥 hidupnya nelangsa ya, percuma juga chaebol tpi menderita begitu 😥 btw aku suka sma cast ceweknya karena aku suka bo young unnie kekekeke #abaikangakadaygnanya dan dan dan itu xiumin wkwkwk aku suka karakter dia cerewet begituuuu cuteeee
    gmana reaksi xiumin pas tau bo young itu buta ? semoga dia gak jadi simpatik dan iba ya kan kasian bo young dia pasti gk suka kalo di ibain kya gtu. cieee udah suka ya xiumin pda pandangan pertama haha
    next chap di tunggu^^

  5. Pingback: ONLY I DIDN’T KNOW (XIUMIN’S PART 2) | SAY - Korean Fanfiction·

  6. yaampun kesian bgt si bo young koq ngenes bgt yaa tiap ada yg mau donorin mata pasti orangnya meninggal tris bpknya koq gitu bgt sih kyk gk ngarepin si bo young lahir yaa pasti xiumin suka sm bo young nih smoga dgn adanya xiumin bo young bisa mengenal warna-warni dunia yeaa next thor next jgn lama” ne aku penasaran dgn kisah mereka selanjutnya
    #KeepWritingNFighting

  7. Pingback: Only I Didn’t Know (Part 4) | Ataly 46's Blog·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s