[Freelance] Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : Three]

Camera 360

Title                 :   Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : Three]

Author                        :   Safira Bella/@fira_bella

Genre              :   Sad, Romance, Angts, Marriage life, Etc.

Cast                 :  

  • Xi Luhan (EXO)
  • Kim Jongin (EXO)
  • Alexandra Wu/Xi (OC)
  • Xi Ziyo (OC)
  • And Others.

Rated              :     PG-17  

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J Jika ada saran atau kritik, kalian bisa hubungi 085386919610. Twitter, Line, atau Instagram : @fira_bella

 

Happy Reading \(^o^)/

“Ka—Kai….”

 

Mata Alex tertuju pada sosok laki-laki di depannya. Apakah ini nyata? Ini bukan mimpi kan? Mata, hidung, senyum, rahang yang tegas, kulit yang eksotis, serta postur tubuhnya semua sama. Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Kai sudah….

 

“Kau tidak menyuruhku masuk?”

 

Alex dengan pandangan kosong menggeser tubuhnya sehingga Kai bisa masuk ke dalam apartemennya. Kai tersenyum lalu masuk begitu saja dan duduk di sofa ruang tamu.

 

Alex yang benar-benar belum bisa menyerap situasi berjalan menuju dapur dan duduk kaku di kursi. Dia bahkan tidak peduli laki-laki itu sedang menunggunya di ruang tamu. Bahkan suara Ziyo yang merengek-rengek minta di gendong ia abaikan. Ia hanya tidak percaya. Tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat. Kai. Bagaimana bisa?

 

“Rupanya kau disini. Bagaimana bisa kau meninggalkan tamu Lex?” Kai tertawa kecil. Lalu pandangannya tertuju pada bayi yang sedang merengek pada Alex. Seketika tatapan Kai berubah gelap. Tidak ada cahaya di matanya.

 

“Apakah ini…. anakmu Lex?” Alex dengan acuh mengangguk. Sesungguhnya dia tidak menyimak pembicaraan Kai.

 

“Begitu,”

 

Sesaat Kai terdiam. Ia memandangi wajah Alex dan bayi itu bergantian. Mirip. Alex tidak mungkin berbohong bahwa bayi ini adalah anaknya. Untuk apa dia berbohong.

 

Kai berjongkok. Tangannya terulur mengelus kepala bayi laki-laki itu. Dan usapan tangan Kai mampu membuat bayi laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari ibunya. Mata bulatnya memperhatikan Kai yang sedang menatapnya sendu. Semakin ia menatap bayi itu semakin mengingatkannya bahwa bayi itu merupakan darah daging hasil buah cinta Alex dan Luhan. Mereka memiliki kemiripan yang sangat jelas. Hanya dengan menatap matanya saja Kai seperti melihat sosok Luhan.

 

“Sstt jangan merengek lagi bayi kecil. Ada paman disini.”

 

Tidak seperti biasanya, Ziyo hanya diam. Dalam keadaan normal, Ziyo akan menangis karena melihat orang asing di dekatnya. Tapi untuk Kai sepertinya tidak berlaku. Secara logis, Ziyo belum pernah berkontak fisik atau bertemu dengan Kai. Jadi apa yang membuat Ziyo terlihat tenang di dekat Kai.

 

“Ziyo ayo kita pergi. Ibu sudah terlambat.”

 

Kai mengangkat kepalanya begitu Ziyo di angkat dan di gendong oleh Alex. Tatapan Alex sangat dingin berbeda dari sebelumnya. Nada suaranya pun sama dinginnya dengan tatapan matanya. Kai menelan ludah hanya karena melihat tatapan tak bersahabat Alex.

 

“Kau mau kemana Lex?”

 

Kai mengikuti Alex yang berjalan menuju kamar dan keluar kembali dengan tas dan Ziyo yang berada di kereta bayi.

 

“Lex kita perlu bicara. Izinkan aku menjelaskannya.”

 

Kai yang sadar telah melakukan kesalahan langsung melepas genggaman tangannya. Ia lupa bahwa gadis yang ada di depannya sudah menjadi milik orang lain. Ia tidak boleh sembarangan menyentuh atau berkontak fisik dengannya. Sekarang saja sudah menjadi kesalahan karena ia bertamu ke apartemen tanpa adanya Luhan di sana.

 

“Maaf tuan aku sibuk. Kita bicara lain kali saja.” Ucapnya dingin. Membuat Kai bergidik karena perubahan sikap gadis itu.

 

“Tapi Lex ini—“

 

“Kau tidak dengar apa yang ku katakan? Pergilah. Aku sibuk sekali.” Alex yang sudah berdiri di luar menatap Kai untuk segera keluar juga dari apartemennya. Kai menurut dan hendak membuka mulutnya lagi ketika sudah berhadapan dengan Alex namun segera di potong dengan gadis itu.

 

“Pergilah! Aku tidak ada waktu untuk mendengar penjelasan anda.” Setelah itu Alex melangkah pergi meninggalkan Kai yang termangu di sana. Kai tidak menyangka. Hanya dalam waktu beberapa bulan Alex berubah menjadi gadis dingin. Dia praktis bukan Alex yang ia kenal dulu. Alex yang dia kenal sangat hangat dan ceria. Entah apa yang membuat sinar kebahagiaan itu redup. Namun Kai hanya berharap ini semua bukan karena ulah Luhan.

 

Begitu berbalik Alex sudah tidak bisa menahan luapan emosinya. Dengan lancangnya air mata itu turun dari kedua matanya. Dia menangis. Bukan karena air mata kebahagiaan melainkan air mata kepedihan. Bagaimana bisa dia di permainkan. Luhan meninggalkannya dengan alasan yang membuatnya tidak bisa tidur semalam. Dan sekarang seseorang yang tidak di harapkan kehadirannya justru muncul di hadapannya. Dia marah. Seakan dunia mempermainkannya hingga kapan saja ia bisa kehilangan akal sehatnya.

 

Ini bukan mimpi. Ia sudah menampar pipinya dan merasakan perih di pipinya. Ini bukan mimpi. Lalu siapa sebenarnya lelaki itu? Secara fisik mereka memang sangat mirip. Tapi Alex tidak yakin lelaki itu adalah sosok Kai yang ia kenal. Kai sudah mati. Ia sudah meninggalkannya terlebih dahulu dengan berjuta rasa sakit di dadanya. Lalu untuk apa dia kembali? Menjelaskan apa?

 

“Gangnam blok barat A2.”

 

Taksi itu pun melaju menuju alamat yang di tujukan. Setelah memposisikan Ziyo berada dalam posisi yang benar Alex kembali merenung. Memikirkan masalah yang belakang ini mengganggunya. Ini bukan semata-mata karena keresahannya. Namun keberlangsungan rumah tangganya di pertaruhkan di sini. Alex bukannya ingin menyalahkan lelaki itu tapi semenjak kehadirannya rumah tangganya perlahan namun pasti mulai goyah. Luhan berubah seperti itu karena Alex melihat sosok lelaki itu.

 

Walaupun Alex belum bisa menitipkan sepenuhnya perasaannya pada Luhan tapi Alex tidak berniat untuk berpisah dengan Luhan. Ini bukan karena alasan balas budi melainkan ada alasan lain yang membuat Alex enggan berpisah dengan Luhan. Ziyo butuh sosok ayah. Dan selama ini sosok ayah yang ia idamankan hanya Luhan seorang. Luhan sangat penyayang dan perhatian. Walaupun Luhan tidak setiap saat ada untuk Ziyo. Tapi sosok Luhan sudah sangat melekat bagi Ziyo.

 

“Sudah sampai nona.” Suara supir mengagetkannya. Rupanya mereka sudah sampai.

 

Alex segera keluar. Tak lupa memberi sejumlah uang dan kembali mendorong kereta Ziyo menuju bangunan di depannya.

 

KRING

 

“Oh Alex kau datang?” Suara Minseok menyambutnya. Alex tersenyum dan berjalan mendekat ke arah lelaki yang sedang mengelap gelas-gelas.

 

“Mau menitipkan Ziyo lagi Lex?” Alex mengangguk lalu mengitari pandangannya ke segala arah.

 

“Yang lain kemana oppa?”

 

“Yixing dan Kyungsoo sedang ke supermarket. Beberapa bahan ada yang sudah habis.” Alex kembali mengangguk.

 

“Kalau begitu aku langsung ke atas saja oppa.”

 

Minseok mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum. Kembali lelaki itu melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

 

Alex mendudukan Ziyo di atas ranjang begitu sampai di kamarnya di lantai dua. Gadis itu juga ikut mendudukan dirinya di ranjang sambil bersandar di head board.

 

“Ziyo kemari. Kita minum susu dulu.” Alex tersenyum gemas karena putranya itu tidak mendengar ucapannya. Justru asyik bermain dengan boneka carsnya. Maka dengan gemas Alex menarik Ziyo hingga bayi itu duduk di pangkuannya.

 

“Minum susu dulu pangeran. Ibu harus pergi sebentar lagi.” Alex membuka satu persatu kancing kemejanya lalu setelah itu memposisikan Ziyo untuk menyusu padanya. Sebelum meninggalkan Ziyo, Alex terlebih dahulu menyusui Ziyo agar kelak putranya itu tidak rewel.

 

Selagi Ziyo menyusu padanya. Tangan Alex bergerak memainkan ponselnya. Matanya menjelajahi setiap aplikasi yang ada pada ponselnya. Sampai matanya tertuju pada pesan yang baru saja masuk. Alex menggeser pesan itu dan mulai membacanya. Setelah itu hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya. Ia bosan.

 

Baru saja ia berniat masuk dan mendengarkan celotehan dosen. Seseorang mengirimnya pesan dan mengatakan dosen hari ini sedang sibuk dan tidak bisa masuk kelas. Kalau sudah begini apa yang harus ia lakukan untuk mengusir rasa bosannya. Jalan-jalan pun ia bingung harus kemana. Lebih baik dia disini dan menemani Ziyo bermain.

 

Karena begitu larut dalam pikirannya perlahan mata Alex mengatup. Bersamaan dengan nafas teratur yang keluar dari hidungnya di ikuti Ziyo yang juga terlelap dan dekapan sang ibu.

 

 

Paginya Luhan di sambut dengan sakit kepala hebat. Lelaki berumur 24 tahun itu mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya sekitarnya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya ada, Luhan masih bisa mengenali sekitarnya. Ini bukan kamarnya. Karena kamar yang biasa ia tempati bersama Alex berwarna kecoklatan sedangkan ini berwarna abu-abu.

 

Mengingat Alex, Luhan kembali mengukir senyum getir. Ia belum mengabari istrinya itu semenjak kejadian semalam. Luhan bukannya tidak mau mendengar suara istrinya itu. Ia hanya ingin menghindar sementara saja. Jika ia menghubunginya, kemungkinan besar Alex memohon padanya untuk kembali ke apartemen. Luhan tak sanggup. Karena hanya mendengar suara menyedihkan Alex, Luhan dapat luluh dalam hitungan detik. Pesona Alex tidak dapat Luhan tepis hingga hari ini.

 

“Kau sudah bangun hyung?”

 

Sehun dengan rambut basahnya menghampiri Luhan selagi mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Lelaki itu baru saja selesai mandi.

 

Luhan mengangguk. Lelaki itu tidak berniat untuk banyak bicara hari ini. Ia hanya tidak ingin berbicara yang tidak-tidak di saat emosinya masih tak terkendali. Semalam saja ia sempat meracau tidak jelas di apartemen Sehun akibat hangover. Ya saat ini Luhan berada di apartemen Sehun. Semalam Sehun terpaksa harus mengangkut Luhan ke apartemennya karena melihat Luhan berprilaku ugal-ugalan di bar dengan berbotol-botol minum keras di dekatnya. Namun bukan itu yang membuat Sehun jengah. Di bawah alam sadarnya Luhan bercumbu dengan salah satu wanita penghibur di bar. Karena tidak tahan Sehun segera saja menarik Luhan. Untunglah Sehun berada disana. Kalau tidak, mungkin Luhan berakhir frustasi karena paginya ia menemukan dirinya tertidur di tempat asing dengan wanita asing yang memeluk tubuh naked nya.

 

“Apa kau merasa lebih baik sekarang?”

 

Luhan kembali mengangguk. Dia tidak sanggup menatap Sehun karena merasa bersalah pada lelaki itu. Dia telah mematahkan kepercayaan Sehun karena telah berkontak fisik dengan wanita lain selain Alex. Semalam Sehun sudah mewanti-wantinya untuk dapat mengendalikan dirinya walaupun dalam keadaan mabuk sekalipun. Sehun juga terpaksa menghadiahkan pukulan keras di wajah Luhan agar berhenti menyebut-nyebut nama Alex di sela racauannya. Maka tidak heran pagi ini Luhan masih dapat merasakan nyeri di pipinya yang ia yakin terdapat lebam disana. Sehun paling sensitive jika menyangkut Alex. Terlebih Luhan telah melakukan sebuah kesalahan.

 

“Hyung mandilah. Aku akan siapkan sarapan.”

 

Sehun berlalu meninggalkan Luhan dengan perasaan campur aduk. Ia berterima kasih pada Sehun karena telah membuatnya lolos dari nafsu semalam. Ia juga berterima kasih pada Sehun karena mau menampungnya sementara di apartemen. Jujur saja Luhan bingung hendak pergi kemana semenjak memutuskan pergi sementara dari rumah. Awalnya ia ingin ke rumah Kris. Tapi sepertinya itu pilihan yang buruk. Karena Kris pasti akan menghabisinya karena telah meninggalkan Alex di apartemen.

 

Luhan menghembuskan nafasnya. Mencoba menetralisir pasokan udara di dadanya. Setelah itu bangkit menuju kamar mandi. Mungkin mengguyur kepalanya dengan air dingin menjadi solusi yang tepat.

 

 

Sehun yang baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi, di kejutkan dengan kehadiran Luhan. Penampilan pria itu jauh lebih baik di bandingkan semalam. Walaupun wajahnya yang masih berantakan belum hilang sepenuhnya.

 

“Makanlah hyung,” Sehun meletakan sepiring omelet dan bacon setelah Luhan duduk di meja makan.

 

Luhan mengucapkan terima kasih lalu mulai menyuapkan sarapannya.

 

“Darimana kau belajar memasak Sehun-ah. Masakan mu enak sekali.” Luhan memakannya dengan lahap. Sehun yang berdiri membelakanginya tersenyum kecil. Itu artinya tidak sia-sia ia belajar memasak.

 

“Hidup di apartemen seorang diri menuntutku untuk berlaku mandiri hyung. Aku tidak mungkin mengonsumsi mie instan atau fast food setiap hari jadi aku memutuskan untuk belajar. Dan orang yang mengajariku adalah Alex.” Sehun menangkap ekpresi sedih dari Luhan setelah menyebutkan nama Alex. Kali ini ia sangat yakin bahwa Luhan sedang memiliki masalah serius dengan Alex. Kalau tidak, mustahil Luhan angkat kaki dari apartemen.

 

“Sebenarnya apa yang membuat hyung kembali ke bar semalam?” Sehun meletakan 2 gelas berisi orange juice di meja lalu mengambil posisi duduk tepat di hadapan Luhan yang sedang berusaha menelan makanannya.

 

Sehun sudah tidak bisa memendam rasa penasarannya. Perbuatan Luhan semalam sangat mengganggu jalan pikirannya hingga ia sulit memejamkan matanya. Beberapa bulan yang lalu Sehun sudah memberi peringatan pada Luhan untuk melindungi Alex dengan sepenuh hati. Jangan sampai Luhan mencoba untuk menyakitinya karena Alex sudah terlalu banyak menderita selama hidupnya. Luhan menyanggupi dengan mantap. Maka itu Sehun memutuskan untuk merestui Luhan untuk menikahi Alex. Karena pada saat itu, hanya Sehun yang belum memberi restu pada Luhan.

 

Namun mengingat perbuatan Luhan semalam, membuat Sehun ragu bahwa Luhan masih ingat dengan janjinya. Selama Alex menikah dengan Luhan, Sehun belum pernah mendengar keluhan dari Alex. Alex mengaku Luhan sangat perhatian dan sayang padanya. Dia memperlakukan Alex dengan baik. Namun belakangan ini ada yang sedikit mengganjal dalam hubungan Alex dan Luhan. Sehun tidak berani mengambil keputusan jika belum ada bukti yang jelas. Tapi Sehun meyakini bahwa sebab Luhan mabuk-mabukan hingga Alex yang lebih sering menghabiskan waktu di café karena kemunculan sosok yang di katakan mirip dengan Kai. Karena selama ini hubungan rumah tangga Luhan dan Alex baik-baik saja tapi tidak hingga hari itu.

 

“Kau tidak mau bercerita denganku hyung?” Sehun memperhatikan Luhan yang sedang mengunyah makanannya tanpa minat. Sehun hanya bisa menunggu di balik sikap tenangnya.

 

“Aku bertengkar dengannya.” Suara datar Luhan nyaris membuat Sehun menyemburkan orange juice dari mulutnya. Suara Luhan yang datar di tambah perkataannya tadi membuat Sehun kelabakan untuk menghirup udara. Dugaannya benar.

 

“Bagaimana bisa hyung? Bukankah kau menyayangi Alex?”

 

Luhan meletakan garpunya dengan kasar. Membuat Sehun mau tidak mau kembali di kejutkan dengan sikap Luhan.

 

“Aku memang menyayanginya. Kau tidak perlu meragukan rasa sayangku pada Alex!”

 

“Lalu?”

 

“Dia belum bisa melupakan Kai,”

 

“Lalu kenapa? Bukankah kau tidak mempermasalahkan itu hyung!”

 

“Kau benar. Aku memang tidak pernah memaksa Alex untuk segera melupakan Kai. Aku tahu itu bukan perkara yang mudah mengingat Kai adalah cinta pertamanya. Tapi aku tidak tahan. Aku tidak masalah jika Alex mengacuhkanku. Tapi aku tidak suka jika Alex ikut mengabaikan Ziyo. Kau tahu sendiri betapa Alex melindungi bayi itu dulu hingga aku tidak boleh mengetahui keberadaannya. Tapi sekarang ia bertingkah seolah-olah Ziyo tidak ada. Kau masih mau membelanya?”

 

Sehun meremas tangannya berusaha meredam emosinya. Memang selama ini Sehun selalu membela Alex dan melindunginya dengan baik. Tapi saat ini ia ingin bertindak seperti sudah seharusnya. Kali ini Alex tidak pantas untuk mendapat pembelaan darinya. Alex bersalah. Ini sudah menyangkut masalah Ziyo. Bayi itu tidak tahu apa-apa mengenai masalah orang tuanya. Mengapa ia justru mendapat hal yang sama seperti Luhan?

 

“Jadi apa rencanamu sekarang hyung?”

 

“Menenangkan pikiranku. Aku ingin membuatnya berpikir sebelum bertindak. Jika ia sudah menemukan jawabannya aku akan kembali padanya. Jika tidak? Aku juga tidak akan bergerak.”

 

Keputusan Luhan sudah final. Sehun tidak ingin mengusik keputusan Luhan karena itu bukan haknya. Biarlah Alex merenungi kesalahannya. Sehun ingin Alex bersikap dewasa tanpa adanya campur tangan darinya.

 

“Kalau itu sudah keputusanmu hyung, aku tidak bisa berbuat banyak. Tapi aku harap kau tidak melupakan mereka.”

 

“Tentu tidak. Aku masih berstatus sebagai suami Alex dan ayah Ziyo. Kewajibanku untuk menafkahi dan melindungi mereka masih harus ku jalankan Sehun-ah.”

 

“Aku senang hyung sangat dewasa dalam hal ini.”

 

“Kau mengerti aku Sehun-ah. Dan aku ingin minta tolong agar masalah ini tidak sampai terdengar oleh Kris.”

 

“Kau bisa mengandalkan ku hyung.”

 

 

Alex segera merapikan alat tulisnya begitu bel berbunyi. Ia harus segera menjemput Ziyo di café sebelum hari gelap. Karena di malam hari ketiga pria itu –Yixing Minseok Kyungsoo- sibuk mengurus restoran mereka yang sangat ramai. Kemungkinan Ziyo akan di telantarkan. Dan ia tidak mau itu terjadi.

 

Setelah memastikan semua barangnya telah masuk ke dalam tas, Alex bergegas menuju halte bus. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan bus. Ia sedang sangat terburu-buru sekarang. Jam di tangannya menunjukan pukul 17.20 sore. Restoran akan di buka 40 menit lagi. Jika saja professor Han baik, dosennya itu tidak mungkin mendikte semua mahasiswanya untuk selalu mencatat apa saja yang di terangkan di dalam materi. Dosen satu itu memang sedikit berbeda dengan yang lain.

 

10 menit ia menunggu, akhirnya bus itu datang. Alex segera mencari tempat duduk setelah membayar uang kepada supir bus. Pilihannya jatuh ke kursi di ujung sana. Karena hanya itu satu-satunya kursi yang kosong. Alex tersenyum lega begitu duduk di kursi. Karena jujur saja ia hampir tidak merasakan bokongnya karena terlalu lama duduk di kursi kampus yang seperti mengikatnya. Kalau sudah begini ia jadi tidak sabar untuk sampai di café dan membawa pulang Ziyo untuk tidur bersama di kasur besar di kamarnya. Karena semenjak Luhan memilih pergi, Alex tidak pernah ingin membawa Ziyo ke kamarnya sendiri. Sehingga bayi kecil itu kembali ke tempat awalnya yaitu tidur di kamar orang tuanya.

 

Mengingat semua itu, Alex kembali teringat dengan Luhan. Ia sangat merindukan Luhan. Ia butuh sosok Luhan yang dapat mengurai rasa lelahnya setelah penat menyergapnya selama di kampus dengan memeluknya penuh kasih sayang. Alex pun juga ingin menjadi sosok sandaran Luhan yang selalu mengeluh lelah karena pekerjaan di kantor. Ini masih terhitung 1 hari Luhan meninggalkannya. Tapi Alex merasa, Luhan sudah meninggalkannya selama 1 tahun. Alex hampa. Ia butuh sosok Luhan.

 

Tapi itu tidak bisa terjadi sekarang. Mengingat Alex belum bisa memutuskan jawaban dari pertanyaan yang Luhan ajukan tempo hari. Ia bisa saja mengatakan bahwa ia siap dengan jawabannya tapi Alex tidak dapat memungkiri hati kecilnya. Bagaimana pun pertanyaan Luhan bukan hanya sekedar pertanyaan. Luhan membutuhkan jawaban yang murni hasil kerja sama hati dan pikirannya. Sedangkan hati dan pikiran Alex sangat berantakan karena kelelahan yang menerpanya.

 

Alex kembali menghela nafasnya. Entah sudah berapa kali ia menghela nafas hari ini. Alex menyandarkan punggungnya pada kursi. Mencoba menghilangkan beban pikirannya dengan cara bermain game komersial di psp yang selalu ia bawa di tasnya. Berjaga-jaga jika Ziyo membutuhkan mainan dalam perjalanan atau seperti saat ini untuk mengusir bosan.

 

“Aku tidak tahu kau suka bermain game Lex?” Suara di sampingnya memaksa Alex untuk mengangkat kepalanya dari layar psp. Alex membulatkan matanya melihat lelaki itu kembali muncul di hadapannya.

 

“Mau apa kau kemari?”

 

“Kau pasti menuduhku mengikutimu Lex tapi itu tidak benar. Kau yang mengikutiku duduk disini.” Kai membuka tudung hoodie nya hingga wajahnya yang penuh senyuman itu terlihat jelas oleh mata Alex.

 

“Aku tidak mengikutimu. Ini semua kebetulan saja.” Alex menyimpan psp nya ke dalam tas. Dan memilih duduk diam tanpa harus repot membalas pertanyaan dari namja berwajah serupa dengan Kai.

 

“Tapi nyatanya kau sekarang duduk di sampingku nyonya Xi,” Kai harus bisa menahan sesak di dadanya begitu menyebut Alex sebagai nyonya Xi. Itu semua membuatnya sadar bahwa Alex bukan miliknya lagi melainkan milik Luhan. Hanya Luhan.

 

“Aku sudah bilang ini semua kebetulan saja. Lagipula ini semua karenamu yang selalu muncul di tempat aku berada.”

 

“Itu karena aku di takdirkan denganmu Lex.”

 

Alex menatap Kai yang ada di sampingnya. Alex hanya menatapnya lirih. Ucapan Kai membuatnya semakin bertambah buruk. Ia mengatakan bahwa Kai di takdirkan untuknya. Tapi menurutnya itu tidak benar. Kalau saja ucapan Kai benar, mungkin lelaki yang menyematkan cincin di jemarinya waktu itu adalah Kai. Takdir tidak semuanya manis. Buktinya Alex mengalami takdir penuh luka dan tangisan. Jika dalam sebuah perumpaan, Alex berada dalam posisi bawah jika dalam roda kehidupan. Ia menunggu roda itu berputar dan membawanya dalam posisi atas dalam sebuah puncak kebahagiaan yang tiada tara. Ia ingin tahu siapa yang akan menemaninya pada puncak kebahagiaan itu.

 

“Miss you Lex….” Desahnya pelan.

 

“I miss you so much that it even hurts me just to think about you.” Suaranya yang rendah, dalam, dan menyiratkan setiap kata yang di ucapkannya mampu membuat Alex mematung.

 

We have same feeling Kai. I miss you and it hurts..

 

Alex membiarkan tangan Kai menyapu pipinya yang merona. Bukan karena malu namun lebih ke rasa ingin menangis. Dia sangat merindukan Kai dan itu membuatnya sakit. Kabar Kai yang pergi meninggalkannya karena pendonoran itu membuatnya harus di rawat selama berminggu-minggu di rumah sakit. Ini bukan semata-mata karena luka fisik paska pendonoran jantung dan melahirkannya. Ini lebih ke luka batin yang membuat Alex sedikit trauma untuk membuka lembaran baru dengan pria lain. Walaupun itu Luhan sekali pun. Rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya masih membayanginya hingga detik ini.

 

“So do I,” Alex memberanikan dirinya untuk menjawab. “The word want to say is, I miss you so badly.”

 

Perlahan cahaya di mata tajam itu kembali melebur menjadi tatapan penuh cinta seperti dahulu. Sebuah senyum simpul perlahan ia lukiskan di wajahnya. Tanpa ragu Kai meraih tubuh Alex untuk masuk ke dalam dekapannya. Alex tak mampu menolaknya. Walaupun pikirannya menolak untuk menerima, namun hati kecilnya selalu berkata untuk menerimanya.

 

Alex balas memeluk Kai. Menghirup aroma musk dari tubuh Kai. Dia sangat merindukan pria ini. Namun perasaan asing terselip di antara celah kebahagiaannya. Rasa ini berbeda. Masih hangat seperti dulu tapi ini berbeda. Alex merasa sangat asing dengan pelukan ini. Kehangatan ini sangat berbeda jika Luhan yang memeluknya. Pelukan Luhan membuatnya tenang dan nyaman. Alex kerap kali tertidur dalam pelukan Luhan karena begitu menikmati lingkaran tangan Luhan di tubuhnya. Tanpa sadar, Alex mulai membanding-bandingkan kedua pria itu.

 

“Apa kabarmu Lex?” Tanya Kai begitu melepas pelukannya.

 

“Baik.” Sangat tidak baik “Kau?”

 

“Tidak lebih baik sampai detik ini.” Alex tersenyum mendengar jawaban Kai. “Good.”

 

Untuk beberapa saat lamanya tidak ada yang berbicara diantara mereka. Alex yang kembali duduk manis di kursinya dan menikmati pemandangan di luar yang seakan berjalan mundur. Kai yang sibuk mengamati wajah Alex yang lebih cantik di banding terakhir kali ia melihatnya.

 

Tiba-tiba Kai berdehem untuk memecah suasana. “Lexa..” Panggilan itu. Alex merindukan saat Kai memanggil namanya dengan panggilan itu. Alex kembali menatapnya, lagi.

 

“Tentang kepergianku waktu itu,” Kai diam sejenak, melihat reaksi Alex. “Aku akan menjelaskannya padamu.”

 

Alex mengangguk. “Tidak sekarang kai.” Jawabnya singkat.

 

Kai mengikuti Alex turun dari bus. Perbincangan kecil mereka rupanya membawa mereka atau lebih tepatnya Alex ke tempat tujuan.

 

“Kenapa Alexandra?”

 

Untuk beberapa saat, dunia di sekeliling Alex seakan berhenti berputar. Perasaan aneh melingkupinya begitu Kai memanggilnya dengan nama lengkapnya.

 

“Aku harus menjemput Ziyo. Kau tunggu disini. Aku akan segera kembali.” Sebelum Alex sempat berlari Kai terlebih dahulu menahan tangan Alex.

 

“Aku ikut oke?”

 

Alex menggeleng. “Tidak sekarang Kai. Aku tidak ingin membuat yang lain shock karena kemunculanmu yang tiba-tiba. Bagaimanapun, di pikiran mereka kau sudah meninggal.”

 

Alex menjadi merasa bersalah pada Kai. Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Tapi jika tidak, Kai akan memaksanya untuk ikut dan membuat keonaran disana. Itu tidak boleh terjadi.

 

Alex meraih tangan Kai dan mengelusnya. Dia paham, Kai pasti sedih karena belum bisa menampakan dirinya di depan semua orang.

 

“Semua ada waktunya Kai. Kau hanya perlu bersabar.” Kai tersenyum mendengar kalimat penenang Alex. Alex pun balas tersenyum. Namun tak berlangsung lama, Alex kembali melanjutkan langkahnya.

 

Kai merasa hampa saat Alex melepas tangannya. Seketika angin dingin menyeruak di sekitarnya. Alex tetaplah Alex. Gadis yang selalu membawa kehangatan di tengah kertersesatannya.

 

 

KRING

 

“Aku datang!” Alex sengaja menaikan volume suaranya agar penghuni restoran dapat mendengar suaranya. Dan itu berhasil karena Kyungsoo langsung menghampirinya dengan wajah cerah. Rupanya hanya Kyungsoo yang mendengarnya.

 

“Kau sudah datang Lex.” Kyungsoo dengan pakain chef pastry nya langsung memeluk Alex. Diantara Kyungsoo, Yixing, dan Minseok, Alex lebih dekat dengan Kyungsoo. Jadi jangan heran perlakuan Kyungsoo pada Alex sangat berbeda.

 

“Seperti yang kau lihat. Maaf kali ini aku tidak bisa terlalu lama karena tugas kampus menungguku.” Alex tidak sepenuhnya berbohong. Tujuannya ingin segera enyah dari sini karena ingin lekas menyelesaikan tugas kampus. Tidak banyak juga sebenarnya, tapi ini salah satu alasan yang ampuh untuk menahan Kyungsoo yang ingin memaksanya tetap disini sampai salah satu dari mereka mengantar pulang ke apartemen.

 

“Begitu. Ya sudah, Ziyo di atas. Cepatlah, pangeran kecil itu merindukanmu.” Kyungsoo menepuk pundak Alex lalu tersenyum padanya. Alex ikut tersenyum lalu berlarian menuju lantai atas untuk mengambil Ziyo.

 

Tak berapa lama kemudian Alex turun dengan Ziyo dan tas perlengkapan Ziyo.

 

“Yakin tidak ingin mampir? Kau tidak ingin menyicipi strawberry cheese cake buatanku?”

 

Alex menggeleng. “No Kyungsoo. Ziyo butuh kasur mungilnya sekarang.” Tolak Alex halus. Kyungsoo menghela nafasnya. Ia harus rela Alex tidak bisa stay di restoran untuk malam ini.

 

“Kau tidak ingin ku antar Lex? Sepertinya akan hujan. Aku khawatir kau kehujanan.” Yixing menghampiri Alex dengan pakaian yang hampir sama dengan Kyungsoo. Lelaki itu baru saja akan meraih kunci mobil yang tergantung di dekat meja kasir sebelum suara Alex kembali terdengar.

 

“Tidak oppa. Aku akan naik taksi nanti. Kalau begitu aku pulang dulu oppa.” Alex pamit dan baru saja akan membuka pintu sebelum pintu itu terdorong dan menampilkan sosok yang membuatnya salah tingkah.

 

KRING

 

“Aku datang….” Suara Luhan tiba-tiba melemah melihat Alex berdiri di depannya.

 

Suasana berubah canggung. Tidak ada satu pun dari Alex dan Luhan yang mencoba membuka suaranya. Mereka hanya terdiam menatap wajah masing-masing. Mencoba melepas rindu yang selama ini mempersulit jalan pernafasan mereka.

 

“Luhan kau datang.” Kali ini Minseok datang dan menyapa Luhan yang masih tercenung di tempatnya.

 

“Sebenarnya kalian kenapa?” Minseok merupakan tipe pria yang sangat paham dengan situasi. Hanya dengan melihat sikap Alex dan Luhan, ia bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara pasangan itu.

 

“Kami baik-baik saja oppa.” Alex menjawab cepat. Tak lama Luhan mulai tersadar dan tersenyum canggung pada Minseok.

 

“Ya kami baik-baik saja Minseok-ah,” Walaupun Luhan tersenyum, kecurigaan Minseok tetap tak luntur. Buktinya mata pria itu memicing melihat Luhan dan Alex bergantian.

 

Luhan hanya dapat menampilkan senyum palsunya. Namun sepertinya senyum itu tidak mempan untuk menutupi kecurigaan Minseok pada hubungan rumah tangganya dan Alex. Dia baru menyadari, bahwa tidak ada yang tahu perihal rapuhnya rumah tangga mereka. Hanya Sehun yang tahu dan sampai saat ini Sehun benar-benar menepati janjinya. Karena sudah terlanjur tertangkap, lebih baik Luhan menceritakannya pada Minseok nanti. Siapa tahu sahabatnya itu bisa memberi solusi untuk menghilangkan kerisauan hatinya. Karena bercerita dengan Sehun tidaklah cukup untuk Luhan.

 

“Kalau begitu aku pulang dulu oppa.” Entah untuk siapa ucapan itu tapi Luhan merasa terpanggil bahwa Alex mengucapkan salam untuknya.

 

“Maaf dear tidak bisa mengantarmu pulang. Kita bertemu di rumah nanti.” Luhan mendaratkan kecupan singkat di keningnya lalu beralih mencium Ziyo yang sedang menikmati susunya.

 

Alex tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Ini merupakan kontak fisik pertama mereka setelah 1 hari tidak bertemu. Untung saja posisi Alex membelakangi yang lain. Jadi Alex tidak perlu panik melihat ekspresi aneh dari ketiga pria itu. Entah drama apa yang tengah di buat Luhan. Tapi Alex paham bahwa tujuan Luhan melakukannya karena ingin menghilangkan rasa curiga dari yang lain.

 

“Tidak apa-apa oppa. Aku pulang.” Kali ini Alex benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan tanda tanya besar bagi yang lain. Aneh saja. Biasanya Luhan akan pulang bersama Alex walaupun mempunyai kegiatan lain. Luhan pasti dengan senang hati mengantar Alex pulang dan mengenyampingkan pekerjaannya.

 

“Hyung kau bertengkar dengan Alex?” Kyungsoo mulai bertanya. Karena sedari tadi dia sangat penasaran dengan sikap canggung Alex terhadap Luhan.

 

“Kami baik-baik saja Kyungsoo.” Senyum Luhan justru membuat Kyungsoo gelisah. Pria itu memperhatikan Luhan yang menaiki anak tangga dan menghilang begitu saja. Luhan memang tidak mau memberitahunya tapi mungkin Alex mau memberitahunya. Mungkin ia akan mampir dan bertanya langsung pada Alex.

 

 

Angin malam langsung menyapa Alex begitu ia keluar dari restoran. Gadis itu merasakan dingin di tubuhnya. Dia tidak tahu malam ini bisa sedingin ini. Atau itu hanya perasaannya saja. Apakah hatinya yang dingin mulai mengambil alih peredaran darah tubuhnya? Alex pun tidak tahu.

 

Alex melirik jam tangannya dan terlonjak setelah itu. Gadis itu dengan gesit segera mendorong kereta bayi Ziyo ke tempat dimana Kai menunggunya. Kai bisa saja mati kedinginan karena menunggunya disana.

 

“Lex….” Alex berbalik dan menemukan Sehun dengan setelan jas kantor di tubuhnya sama seperti Luhan.

 

“Oppa….” Jawabnya. Alex cuma mampu tertunduk karena tiba-tiba suaranya mendadak parau. Dia takut dengan tatapan tajam Sehun.

 

“Kau mau kemana?” Suara Sehun terdengar dekat. Rupanya Sehun berada tepat di depannya.

 

“Aku mau pulang oppa,”

 

“Mau ku antar?”

 

“Ah tidak. Aku bisa sendiri oppa. Lagipula aku tidak ingin merepotkan oppa.” Alex tiba-tiba gugup berhadapan dengan Sehun. Entah apa yang membuat Sehun seperti itu yang jelas Alex takut. Kemana senyuman yang biasa Sehun tunjukan padanya.

 

“Aku tidak pernah merasa di repotkan Lex? Kau adikku.”

 

“Tapi tetap saja aku merasa tidak enak,”

 

“Begitukah? Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu Lex?”

 

Alex mengangkat kepalanya ragu. “Ap—apa?”

 

“Apa yang sudah mengganggumu?”

 

Alex kembali tertunduk. Inilah yang paling ia takutkan. Dimana Sehun dengan mudahnya membaca gerak-geriknya. Entah karena ia yang terlalu bodoh menutupinya atau Sehun yang terlalu pintar menyadarinya. Entahlah. Dan ini benar-benar mengganggunya. Dia tidak mau menjadi bulan-bulanan Sehun karena masalah yang di hadapinya. Sehun memang tidak memarahinya seperti yang Kris lakukan tapi ia memilih mengacuhkannya dan itu membuatnya semakin merasa terpojok. Dan Alex benci itu.

 

“Kau tidak ingin bercerita padaku?”

 

“A—aku tidak apa-apa oppa—“

 

Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal masuk ke gendang telinga Alex. Dan sepertinya itu berlaku pada Sehun juga. Buktinya Sehun mengalihkan pandangannya ke sebuah mobil sport berwarna hitam yang terparkir di depan mereka.

 

Alex memicingkan matanya. Dia belum pernah menemukan pemilik mobil ini diantara teman-temannya. Jika ini mobil pelanggan, tidak mungkin mobil ini dengan seenaknya terparkir di depan restoran. Seharusnya mobil ini berada dalam basement yang sudah di sediakan jika pemiliknya merupakan pelanggan restoran. Tapi sepertinya pikiran Alex menduga mobil ini merupakan mobil pelanggan salah. Buktinya mobil itu tidak berniat bergerak dan malah diam saja disana. Membuat Alex sedikit bingung.

 

Tapi hanya melihat mobil ini dapat mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang selalu mengajaknya pergi bersama dan menyuruhnya duduk manis di kursi penumpang. Mobil ini mirip dengan mobil yang lelaki itu gunakan. Hanya saja Alex tidak yakin dengan itu. Sampai ia harus memastikan sendiri sehingga membuat matanya melebar melihat lelaki itu. Mengapa dia nekat sekali?

 

Lexa kenapa kau lama sekali? Aku menunggumu.”

 

Kai dengan santainya keluar dari mobil dan mendekatinya dengan senyumnya. Alex tidak membalas senyum itu dan hanya menatap lurus ke arah Kai.

 

“Aku pikir kau lupa dengan janji kita.” Kai tanpa ragu melingkarkan jaketnya ke tubuh Alex. Alex tidak merasakan kehangatan. Udara semakin dingin dan seperti akan mencekiknya.

 

“Oh Sehun senang bertemu denganmu.” Alex melirik takut-takut Sehun. Lelaki itu hanya diam dengan tatapan datarnya. Tapi Alex menangkap sesuatu yang lain dari Sehun. Ia yakin lelaki itu tidak percaya bahwa Kai masih hidup. Alex pun sama tapi inilah yang terjadi. Kai masih hidup dan berdiri tepat di depannya.

 

“Kau masih hidup rupanya,”

 

“Seperti yang kau lihat. Aku sehat.” Sehun tersenyum dan Alex yakin itu bukan senyum bahagia karena kehadiran Kai. Dan benar saja. Setelah itu tatapan mata Sehun seperti ingin menelan hidup-hidup orang di sekitarnya. Itu tatapan tak bersahabat. Dan ia yakin Sehun tidak senang dengan pertemuan tak terduga ini.

 

“Untuk apa kau kembali?”

 

“Aku ingin kembali pada gadisku.”

 

“Kau tahu dia sudah berkeluarga kan?”

 

“Aku tahu. Tapi aku yakin Alex tidak benar-benar mencintai Luhan. Benar kan Lexa?” Kai menarik pinggang Alex mesra. Sehun yang melihatnya berusaha mengontrol emosinya yang kian menguap.

 

Alex tak mampu menjawab. Dia juga bingung harus menjawab apa. Karena ia butuh waktu untuk memikirkan itu semua. Dan itu berakibat fatal bagi kelangsungan rumah tangganya, karena menganggap sikap diam Alex sebagai kata ‘iya’ atas pertanyaannya.

 

“Dia tidak menjawab apapun.”

 

“Dia hanya malu. Ayo Lex kita pergi dari sini.”

 

“Kau jangan macam-macam Kai!”

 

“Kau diamlah!”

 

Tatapan Kai dan Sehun seperti memancarkan sebuah permusuhan yang kentara. Mereka sama-sama melemparkan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk Alex meremang. Dia tidak akan membiarkan kedua lelaki itu baku hantam di depan matanya. Maka Alex memilih untuk membawa Kai ke mobil dan Kai mengikutinya. Setelah Ziyo di pindahkan di kursi belakang, Kai segera meninggalkan tempat itu tanpa pamit.

 

Sehun yang melihat Alex lebih memilih membela Kai, seketika meledak. Lelaki itu berteriak frustasi dan menendang udara kosong di sekitarnya. Dia marah. Dan sebab kemarahannya karena Kai. Mengapa lelaki itu harus muncul di saat suasana genting seperti ini. Kedatangan Kai justru membuat masalah semakin bertambah rumit. Alex pasti terombang-ambing dengan hatinya jika Kai terus muncul di dekatnya dan akibatnya kelangsungan rumah tangga mereka terancam.

 

Sehun terduduk di cap mobilnya. Mencoba mengendalikan emosinya dengan cara menghebuskan nafasnya berkali-kali. Begitu emosinya kembali stabil, Sehun berniat masuk untuk bertemu yang lain. Namun pandangan mata Sehun bertemu dengan mata Luhan di atas sana. Sehun hanya mampu meneguk ludahnya. Entah sejak kapan Luhan sudah berdiri disana yang jelas ini pertanda tidak baik. Ia yakin Luhan melihat semuanya dan menyebabkan wajah Luhan kian gelap di tutupi emosi.

 

“Hyung….”

 

“Biarkan mereka pergi.”

 

 

To Be Continued….

115 responses to “[Freelance] Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : Three]

  1. akhirnya…. aku udh nunggu lama T_T btw Alex kok labil sih kan kasian Luhan trus si kai nyebelin bgt dulu Alex dibuang sekarang malah dateng lagi, Luhan sama aku aja deh haha 😀

  2. akhirny drimu comeback chingu. .alex ni labl bgt ya. .tp ngrti sh,lw d posisi kya gt pasti bkalan ragu. .hanya bsa brharap ini happy ending. .fighting chingu!

  3. akhirnya keluar juga ya tuhaaaan
    penasaran sampe sesek dada
    kai oppa jahat ! kasian luhan oppa
    lexa juha plin plan
    ziyo itu kan anaknya luhan oppa
    seharusnya lexa sadar kai berarti kabur waktu dia mau meninggal !
    jd emosii sendiri bacanya astagaaa !!

    kereen unnie thor
    sukses bikin emosi meluap luap !
    next chap unnie jebbaaaall

  4. Kayaknya bakal complicated banget nih hubungan kai alex sama luhan… semoga hubungan luhan sama alex bakal baik2 aja deh

  5. Aigoo..
    Aku baru baca ff ini dan ff nya daebak !!
    tpi kasian uri luhan aaah 😥
    nyesek bgt disini luhan huhu 😦
    Keep writing thor

  6. Aku seneng kai masih hidup dan balik lagi , tp ngga dengan ngancurin rumah tangga alex .. Udh cukup dulu kayanya bikin alex kesiksa .. Ngga sekarang ..
    Kentara bgt disini kai mulai egois .. Dia ngga mikir kemaren selama dia ngga ada , alex berjuang sm siapa ?? Aihh jd kesel jg sm kai ..

  7. kedatangan kai bener2 emosi kemana aja dulu sekarang dateng dan niat untuk ambil alex, come on alex wake up dont be so selfish, emosi saya bacax, i know you love him but this is not right

  8. Aaahh elah alex plin plan bgtzzz dahh…
    mudah2an sm luhan ajj…
    jgn sm kai….
    ditunggu thorr kelanjutannya…

  9. yaaa ampun kenapa si kai hrus ngerusak rumah tangga luhan dan alex…
    alex nya jugaa udh tau udh punya suami and anak masih ajh bimbang. .
    huaa kasian luhan dy udh terlalu sabar jd suami
    penasaran sm kelanjutan nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s