Over Bride [Chapter 12] — by IMA

OverBride

Title     : Over Bride

Author      : Ima (@kaihyun0320)

Casts      : Kim Jong In (EXO), Byun Ji Hyun (OC), Park Chanyeol (EXO)

Other    : Byun Baekhyun (EXO), Lee Tae Min (SHINee)

Rating     : PG-15

Genre      : Romance, Fluff, Married Life, Sad.

Ch 1 ⌋ Ch 2 ⌋ Ch 3 ⌋ Ch 4 ⌋ Ch 5 ⌋ Ch 6 ⌋ Ch 7 

Ch 8 ⌋ Ch 9 ⌋ Ch 10 ⌋ Ch 11

© Ima at SKF 2014

Review :

Tiba-tiba saja Ji Hyun merasa bodoh karena menunggu Jong In yang baru saja keluar dari sana. Pria itu benar-benar tidak kembali melihatnya padahal biasanya Jong In akan memberikan kecupan di kening –atau bibir sebelum pergi ke kantor. Ji Hyun mendengus pelan lalu berbalik untuk memasuki ruang tengah ketika mendengar suara pintu yang kembali terbuka. Kepalanya baru saja menoleh untuk melihat –siapa—yang—datang saat Jong In tiba-tiba menariknya ke dalam dekapan lelaki itu. Lihat siapa yang bersikap manja sekarang.

“Hampir lupa,” Jong In mendaratkan sebuah kecupan hangat di puncak kepala Ji Hyun, cukup lama menempelkan bibirnya di sana. “Aku berangkat dulu, Buin Ji hyun.”

 [Over Bride] Chapter 12

Sepeninggal Jong In, Ji Hyun hanya duduk di sofa sambil menonton televisi. Sesekali ia melirik ponselnya dan sedikit berharap bahwa Chanyeol akan menghubunginya. Rasanya ia mulai merindukan pria bodoh itu di hidupnya, selama bertahun-tahun hidup bersama dan masih bisa dihitung oleh jari berapa kali mereka bertengkar serius seperti itu. Ah bahkan ini yang paling parah. Ia sampai membentak Chanyeol dengan keterlaluan kemarin.

Ji Hyun tidak habis pikir darimana asal ucapan Chanyeol yang seperti itu. Ia bahkan tidak bisa membayangkan Jong In berperan jahat dengan membelinya dari Baekhyun. Lelaki itu terlalu baik padanya selama beberapa bulan ini dan ia tidak bisa percaya begitu saja pada Chanyeol. Ya, walaupun di awal-awal Jong In sangat menyebalkan tapi pria berkulit tan itu baik juga. Ia bahkan masih ingat bagaimana Jong In meredakan isu yang beredar dengan sebuah konferensi pers agar orang-orang tidak membencinya. Bagi Ji Hyun, itu terlihat keren.

Apalagi ketika mengingat kejadian semalam. Tanpa sadar wajah Ji Hyun kembali memanas dan ia tersenyum sendiri ketika membayangkannya. Jong In sangat seksi dengan peluh dan suara husky yang memanggil namanya. Dan Jong In benar-benar melakukannya dengan lembut, seolah ia memang sangat rapuh –walaupun ia hampir menyerah semalam karena rasa sakit itu.

Aigoo! Dasar byuntae, Ji Hyun!” Ji Hyun merutuki diri sendiri sambil memukul-mukul kepalanya. Mencoba melupakan apa yang mereka lakukan semalam. Sekarang ia hanya berharap Baekhyun akan menerima rasa sayangnya pada Jong In dan begitu pun sebaliknya.

Tiba-tiba saja ucapan Chanyeol kembali terngiang di kepalanya. Ji Hyun kembali menggelengkan kepala lalu menghela napas panjang. Mungkin ia harus banyak bergerak dan tidak sering berdiam diri agar tidak sering berpikir juga.

“Baiklah, ayo beres-beres, Byun Ji Hyun.”

Ji Hyun melipat lengan pendek bajunya sampai ke pundak lalu dengan setengah berlari menaiki tangga menuju kamar Jong In. Wajahnya kembali memanas dan ingatan mesum itu kembali merasuki kepalanya saat melihat kamar Jong In yang sudah seperti kapal pecah. Baju miliknya dan milik Jong In masih tergeletak bebas di atas karpet kamar lelaki itu dan lihat bagaimana pakaian dalam miliknya juga berada di antara baju-baju itu. Sepertinya Jong In benar-benar tidak sempat membereskannya.

Dengan mencoba mengabaikan pikiran aneh di kepalanya, Ji Hyun memunguti pakaian itu satu per satu. Menaruhnya ke dalam keranjang kotor di dekat kamar mandi. Masalah laundry, biasanya Ji Hyun akan memanggil ahjumma yang menawarkan jasa mencuci agar datang ke apartemen Jong In dan mencuci semua baju di sana. Ji Hyun tidak pernah mau repot mengurus cucian karena dulu Baekhyun yang selalu mengerjakannya.

Aigoo, kenapa bisa se-berantakan ini?” tanya Ji Hyun tidak percaya ketika bantal di kasur Jong In juga berserakan di karpet, sprei yang tidak pada tempatnya, selimut yang tergulung di tengah kasur, dan lemari yang terbuka begitu saja.

Kemudian Ji Hyun hanya membereskan seadanya dan melepas sprei yang berantakan. Setelah memastikan kamar Jong In sudah sedikit rapi, Ji Hyun segera mencari sprei dari lemari yang ada di sana. Membuka setiap pintu lemari namun ia –lagi-lagi hanya melihat jas dan kemeja yang digantung saja. Hingga pada akhirnya di pintu terakhir, ia menemukan baju-baju tidur milik lelaki itu bersama beberapa buah sprei –sepertinya. Ia hanya menarik asal sprei berwarna hitam putih yang ditemukannya lalu akan kembali untuk memasang sprei itu ketika matanya menangkap sesuatu di bagian bawah baju. Keningnya berkerut heran, tidak biasanya Jong In menaruh sebuah dokumen di dalam lemari.

Tangan Ji Hyun perlahan menarik dokumen itu dari bagian bawah baju lalu membolak-balik amplop berwarna cokelat itu. Ia mengendikkan bahu tak acuh kemudian membawanya ke meja kerja Jong In, namun sepertinya amplop itu tidak tertutup rapat karena kertas di dalamnya terjatuh begitu saja ketika ia membawanya. Ji Hyun yang berjongkok untuk mengambilnya pun tiba-tiba membeku. Matanya membaca setiap deretan yang menjadi headline kertas tersebut.

‘Perjanjian, Byun Baekhyun—Kim Jong In.’

Tangan Ji Hyun mulai bergetar mengambilnya dan membaca apapun yang bisa ditemukannya di dalam sana. Ia membutuhkan penjelasan atas semua yang dibacanya.

***

Rapat direksi baru saja selesai beberapa menit yang lalu, Jong In membungkuk pada orang-orang yang sudah hadir di dalam ruang rapat itu dengan seulas senyum hangat dan terkadang berjabat tangan dengan beberapa orang. Ia masih membungkuk berkali-kali mengiringi kepergian orang-orang itu. Dan tubuhnya langsung terhempas ke kursi tepat setelah pintu ruang rapat itu tertutup dan ia segera memijat pangkal hidungnya. Berakting seolah semuanya baik-baik saja terasa berat bagi Jong In. Karena pada kenyataannya, perusahaannya benar-benar membutuhkan banyak uang untuk memperbaiki semuanya dan ia tidak mungkin pinjam ke bank lagi.

Perlu diketahui bahwa uang perusahaan berbeda dengan uang miliknya –dan uang kedua orangtuanya tentu saja. Setelah perusahaan itu diserahkan padanya, maka kedua orangtuanya akan lepas tangan dari masalah perusahaan dan tidak akan membantu secara materiil –dan hanya memberikan solusi saja. Begitu juga dengan Jong In yang sebisa mungkin tidak menggunakan uang tabungan hasil jerih payahnya untuk membantu perusahaan. Ia lebih suka meminjam ke bank untuk menutupi kekurangan di masa sekarang dan digantikan oleh kelebihan di masa yang akan datang. Namun ia sudah terlalu banyak meminjam uang ke bank akhir-akhir ini.

Sajangnim,” suara wanita yang berasal dari sisi tubuhnya itu membuat Jong In mendongakkan kepala untuk melihat sang sekretaris.

“Mau kubuatkan kopi atau teh hangat?” tanya gadis bermarga Lee itu dengan suara lembutnya.

Jong In hanya mengangguk singkat seraya bangkit dari kursi. “Kopi saja. Tolong antarkan ke ruanganku, Hana-ssi.

Jong In melewati sekretarisnya lalu membuka pintu ruang rapat dengan helaan napas panjang. Kepalanya masih terasa sangat pening setelah rapat yang sangat panjang membahas kinerja perusahaannya yang semakin menurun. Jong In sendiri merasa bahwa ia sudah melakukan yang terbaik selama ini, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Langkahnya yang akan berbelok menuju ruang kerjanya tiba-tiba terhenti saat matanya menangkan sosok seseorang yang baru saja keluar lift dan berjalan di lorong yang sama –menuju ke arahnya.

Byun Baekhyun.

Pria itu menghentikan langkah tepat di hadapannya. “Apa kabar, Jong In-ssi?”

“A—ah, silakan masuk, Baekhyun-ssi,” Jong In membungkuk singkat –seraya memperhatikan beberapa karyawan yang melihat ke arah mereka lalu membuka pintu menuju ruang kerjanya.

Jong In mengambil tempat duduk di sofa single yang bersebelahan dengan sofa panjang dan menyuruh Baekhyun duduk di sana. “Jadi… Kenapa kau mau bertemu denganku? Perjanjian kita masih satu bulan lagi ‘kan?”

“Kau menyayangi adikku?” Baekhyun bertanya–tanpa berbasa-basi seraya merogoh map yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja. Ia melihat ekspresi Jong In sedikit kosong saat ucapan itu terlontar dari bibirnya. “Sudah tertulis di perjanjiannya kalau kau tidak akan mencintai adikku dan akan melepasnya dalam waktu enam bulan.”

“Aku lupa dengan perjanjiannya,” elak Jong In lalu meraih kertas itu dan membacanya dengan seksama.

  1. Menikahi Ji Hyun hanya untuk membantu Jong In selama enam bulan setelah sejumlah uang diberikan pada Baekhyun sebagai syaratnya.
  2. Uang yang diberikan akan dikembalikan dalam waktu enam bulan secara utuh jika Ji Hyun baik-baik saja.
  3. Selama enam bulan Baekhyun akan pergi jauh dan membiarkan Ji Hyun tinggal bersama dengan Jong In.
  4. Jong In tidak boleh jatuh cinta pada Ji Hyun, begitu pun sebaliknya. Jika itu terjadi, maka salah satu dari mereka harus meninggalkan yang lain.
  5. Tidak boleh ada skinship berlebihan pada Ji Hyun.
  6. Tidak ada penolakan setelah perjanjian berakhir dan Baekhyun akan membawa Ji Hyun kembali lalu mengurus surat perceraian

“Masih kurang jelas?” tanya Baekhyun seraya menaikkan sebelah alisnya ketika tidak mendapati ekspresi apapun di wajah Jong In. Lelaki itu hanya memasang ekspresi dinginnya lalu meletakkan kertas itu kembali di atas meja.

“Lalu apa? Kau juga melanggar perjanjian nomor dua dan tiga,” jawab Jong In, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya karena ia melanggar hampir semua perjanjian yang ada di sana. Dan ia melihat sendiri tanda tangannya terbubuh di atas materai di bagian bawah bagian surat perjanjian itu dan juga tanda tangan Baekhyun yang ada di sana.

“Aku yakin kau melanggar hampir semuanya,” Baekhyun mendecih pelan seraya mengeluarkan kertas lainnya dari map dan meletakkan di hadapan Jong In. “Surat perceraian. Aku ingin mengakhiri perjanjiannya sekarang juga.”

“Mwo? Kenapa kau melanggar perjanjian lagi?” tanya Jong In tidak mengerti.

“Kita sama-sama melanggar perjanjiannya, Jong In,” jawab Baekhyun cepat dan kembali mengendikkan dagunya ke arah surat perceraian yang sudah diambilnya dari kantor sipil. “Aku menyesal karena membuat Ji Hyun terjebak di sini. Aku akan membayar hutangnya setelah kau menandatangani surat ini.”

“Tapi aku tidak mau meninggalkan Ji Hyun, Baekhyun-ssi,” balas Jong In seraya menatap kosong ke arah kertas-kertas di meja. “Aku menyayanginya.”

“Jangan membuat ini semakin sulit, Jong In. Aku lebih baik hidup miskin bersama Ji Hyun daripada hidup kaya sendirian. Aku sangat menyesal karena menjual Ji Hyun padamu, dia adikku satu-satunya yang sangat baik dan tidak pantas bersamamu,” Baekhyun mengucapkan dengan emosi yang mulai meninggi karena Jong In tetap pada pendiriannya.

“Baekhyun-ssi,” Jong In tidak tahu kenapa kepalanya terasa pening sekali menghadapi semuanya. Karena sebenarnya uang yang diberikan Baekhyun –untuk mengganti uang perusahaan akan membantu perusahaan juga agar tidak harus meminjam ke bank. Sekarang tolong bantu Jong In untuk memilih pilihan sulit dalam hidupnya.

Membiarkan Ji Hyun pergi dan perusahaannya akan kembali bangkit.

Atau tetap bersikeras memilih Ji Hyun dan perusahaannya akan semakin terpuruk.

Perjanjiannya memang berakhir dengan tidak mudah karena Jong In tidak pernah menduga bahwa perusahaannya akan semakin buruk di akhir perjanjian mereka. Dan ia tidak mungkin bertindak bodoh dengan memberikan Baekhyun uang lagi agar Ji Hyun tetap di sisinya. Kedua tangannya terangkat, meremas rambut cokelatnya untuk meredakan rasa pusing itu. Mungkin ia harus memikirkan keputusannya matang-matang.

Jong In menggeleng cepat. “Aku harus berpikir panjang, Baekhyun-ssi. Karena aku tidak bisa melepaskan Ji Hyun.”

“Aku tahu perusahaanmu sedang tidak baik. Pasti uang yang kukembalikan akan membantu,” Baekhyun mengucapkannya sambil mengendikkan bahu tak acuh. Ia sudah mencari seluruh informasi mengenai perusahaan Kim dan sedikit terkejut karena ternyata keadaan Jong In sangat pas dengan keinginannya untuk mengakhiri perjanjian itu.

Dan Jong In tidak tahu bahwa Baekhyun mengetahui titik kelemahannya. “Tapi aku tidak mau melepas Ji Hyun.”

“Kau terlalu egois, Jong In,” Baekhyun menggelengkan kepala tidak mengerti. “Kau mau aku membayar hutangnya ‘kan? Aku tahu kau sangat membutuhkan uang. Jadi setelah hutangku lunas, aku harus membawa Ji Hyun pergi.”

“Tapi Ji Hyun menyayangiku juga. Kau tega memisahkan kami?” tanya Jong In lagi. Membuat Baekhyun terdiam beberapa saat dan akhirnya menghembuskan napas panjang.

“Ji Hyun pasti bisa melupakanmu saat tahu hal ini, Jong In. Kau sudah membelinya dariku. Dia pasti akan sangat membencimu.”

“Tapi dia akan membencimu juga. Kau juga peran utama dalam perjanjian ini, Baekhyun-ssi,” balas Jong In cepat.

Bibirnya tiba-tiba saja tertutup rapat ketika melihat pintu ruangannya terbuka dan sosok sekretarisnya muncul dari sana dengan sebuah nampan kecil berisi cangkir di atasnya. Namun yang membuat napasnya tercekat adalah ketika ia melihat Ji Hyun juga masuk ke dalam dengan kedua mata berkaca-kaca dan tangan yang memegang secarik kertas.

Jong In dan Baekhyun saling melirik kemudian berdiri cepat dari kursi. Memandang Ji Hyun yang terlihat kacau sekali dengan rambut berantakan dan kaus kebesaran serta celana jeans belel berwarna biru muda yang robek di lutut serta paha. Sekretarisnya hanya meletakkan kopi di atas meja lalu berdiri di antara ketiga orang yang terjebak dalam perang tatapan dingin itu.

“Istrimu sudah berdiri di depan pintu saat aku datang membawa kopi tadi. Dia sudah lama berada di sana. Aku permisi dulu,” Hana membungkuk singkat pada ketiganya kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Merasa agak shock dengan kenyataan buruk yang didengar dari kedua lelaki itu bersama Ji Hyun tadi.

Jantung Ji Hyun berdetak dengan sangat cepat –hingga membuat dadanya terasa sesak dan sangat sulit untuk sekedar mengambil napas. Kedua matanya sudah memanas dan ia rasanya tidak sanggup lagi berdiri untuk mengahadapi kedua pria yang berdiri di hadapannya. Mengetahui kenyataan pahit yang membuat hidupnya berubah detik itu juga.

Detik dimana ia mendengar percakapan di antara dua lelaki yang amat disayanginya.

“Kenapa kau di sini?” tanya Ji Hyun lemah pada sosok Baekhyun, mencoba menahan air mata agar tidak tumpah dari kedua matanya.

“Ji Hyun-ah.”

“Apa kalian sering bertemu selama ini?” tanya Ji Hyun lagi, mengabaikan panggilan Baekhyun dan kini mengalihkan tatapannya pada Jong In. Jantungnya seperti diremas dengan kuat ketika orang-orang yang dipercayainya malah mengkhianatinya seperti itu. Ia tidak tahu bahwa Jong In benar-benar membelinya dari Baekhyun.

“Ini tidak seperti yang kau dengar, Ji Hyun-ah. Dengarkan aku dulu, eoh?” ucap Jong In panik seraya berjalan mendekat ke arah Ji Hyun, namun wanita itu mengangkat tangan ke udara agar menyuruhnya berhenti. Langkah Ji Hyun mundur satu ke belakang untuk menghindarinya.

“Lalu jelaskan apa yang aku baca dari sini,” Ji Hyun mengangkat kertas di tangan kanannya dengan bergetar. Hingga akhirnya setitik cairan bening menetes dari kedua matanya dan membuat napasnya semakin sulit untuk diambil. “Apa aku semurah itu sampai bisa dibeli dengan uang, Jong In-ssi?”

“Ji Hyun, dengarkan aku dulu,” Jong In kembali mendekat dan Ji Hyun kembali mundur ke belakang. Air mata masih terus mengalir dari ekspresi blank Ji Hyun dan itu membuat Jong In merasa semakin bersalah. Dadanya tiba-tiba terasa sesak ketika Ji Hyun menundukkan kepala dan menghindari tatapannya.

Cih, kenapa aku harus menangis,” Ji Hyun dengan cepat menyeka kedua matanya lalu mengangkat kepala kembali untuk menatap Baekhyun. “Apa kau sangat membenci adikmu satu-satunya yang suka memukul ini sampai menjualnya ke laki-laki brengsek di depanku?” tanyanya seraya menatap Jong In nanar.

“Aku tidak brengsek, Ji Hyun. Aku benar-benar menyayangimu,” Jong In menyela dengan cepat namun Ji Hyun malah mendecih pelan. Wanita itu meremas kertas di tangannya kemudian melemparkannya ke dada Jong In dengan sekuat tenaga.

“Aku tidak peduli dengan itu, Jong In. Kau hanya ingin uangmu kembali dengan utuh,” Ji Hyun tersenyum miring –mencoba menahan sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya. Kedua matanya kembali memanas dan ia rasanya sudah tidak sanggup untuk menatap lelaki –yang mulai dicintainya itu. Ia sangat kecewa pada Jong In.

“Apa kalian memikirkan perasaanku saat membuat perjanjian ini?” tanya Ji Hyun dengan suara yang bergetar menahan tangis. “Apa kalian tahu apa yang kurasakan selama lima bulan ini?”

Jong In menahan langkahnya agar berhenti mendekati Ji Hyun. Sekitar mata wanita itu mulai memerah, benar-benar menahan tangis yang akan meledak dan berkali-kali wanita di hadapannya itu meneguk ludah. Rasa sesak itu kembali menjalari dada Jong In ketika setitik air mata kembali menetes dari kedua mata wanita yang disayanginya. Dengan jarak yang cukup dekat Jong In berusaha memegang kedua bahu Ji Hyun, namun gadis itu menepisnya dengan cepat.

“Kakakku sendiri menghilang dan aku hidup bersama pria asing yang selalu bersikap dingin,” Ji Hyun memberikan jeda pada ucapannya sambil mengusap pipinya dengan kasar mencoba menghapus air mata itu. Kedua matanya menatap nanar pada Jong In yang berdiri di hadapannya. “Awalnya aku membenci keadaan itu. Tapi aku tahu kalau Jong In tidak seburuk yang kubayangkan dan aku mulai menyukai kehadirannya.”

“Ji Hyun, kumohon jangan seperti ini,” Jong In merasa semakin sulit untuk mengambil napas ketika ingatan-ingatan manis bersama Ji Hyun kembali diputar di dalam kepalanya. Berbagai hal yang mereka lakukan selama lima bulan ini dan berakhir dengan kejadian –tidak terduga yang terjadi hari itu. Dan rasanya ia baru saja merasa sangat bahagia semalam karena bisa memiliki Ji Hyun seutuhnya.

“Dia bilang menyayangiku. Dan aku dengan bodohnya percaya pada ucapan lelaki itu. Bahkan aku bertengkar dengan sahabatku sendiri untuk membelanya,” Ji Hyun meneguk ludahnya lagi agar tidak menangis –walaupun hidungnya mulai terasa sakit karena menahan tangis. “Tapi kalau tahu akhirnya seperti ini, mungkin aku menolak dari awal dan tidak ikut campur dalam perjanjian bodoh kalian.”

“Ji Hyun-ah, kau harus dengarkan dulu. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan. Waktu itu aku—.”

PLAK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Jong In –diiringi suara isak tangis Ji Hyun. Pukulan yang cukup keras karena rasa perih itu sampai terasa ke dalam dada Jong In. Melihat Ji Hyun menangis karenanya adalah hal yang paling dibencinya. Seharusnya ia menjaga wanita yang disayanginya dan bukan menyakiti seperti itu.

Ji Hyun merasa sangat menyesal karena percaya begitu saja pada Jong In dan memberikan mahkota berharganya pada lelaki itu semalam. “Harusnya aku tahu kalau Chanyeol memang laki-laki terbaik di dunia. Bahkan kakakku sendiri –yang hidup bersama selama 23 tahun, menjualku dan mengecewakanku.”

“Ji Hyun. Maaf—.”

“Berhenti!” Ji Hyun kembali mengabaikan panggilan Jong In lalu menyeka kedua matanya dengan kasar. Ia melihat Baekhyun hanya menundukkan kepala tanpa berani melihat ke arahnya. Ia tersenyum miris pada Jong In kemudian maju selangkah, ia baru saja mengangkat tangannya untuk –kembali memukul Jong In. Ketika ia malah mengepalkan tangannya lalu menurunkannya kembali.

Ji Hyun hanya menunjuk dada Jong In dengan telunjuknya. “Aku membencimu, Jong In. Aku membenci kalian berdua.”

Kedua bibir Jong In terkatup rapat ketika mata Ji Hyun kembali mengeluarkan air mata dan sosok wanita itu berbalik memunggunginya. Tungkai kurus milik Ji Hyun melangkah dengan cepat keluar dari sana, meninggalkannya dalam rasa bersalah yang sangat mendalam.

“Ji Hyun kumohon.”

Jong In tidak tahu bahwa kepergian Ji Hyun semakin membuat dadanya terasa semakin sesak. Kerongkongannya terasa tercekat saat Ji Hyun benar-benar tidak kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Mimpi buruknya benar-benar terjadi karena Ji Hyun berbalik meninggalkannya dengan kebencian.

“Baekhyun-ssi,” Jong In berucap pelan sambil berbalik menghadap Baekhyun.

Baekhyun terlihat menghempas ke sofa seraya meremas rambutnya. “Dasar bodoh! Kau membuat adikmu sendiri menangis, Baekhyun!”

Jong In masih terlalu kaget dengan keadaan ketika Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Jong In dengan kedua mata yang memerah. “Sekarang apa?”

“Ini salahmu,” Jong In perlahan mundur dengan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya.

“Kita berdua sama-sama salah, Jong In!”

“Aku akan mengejar Ji Hyun,” sahut Jong In cepat kemudian berbalik memunggungi Baekhyun. Ia segera berlari keluar dari ruangannya, meninggalkan Baekhyun di sana dan mengejar orang yang disayanginya. Tidak peduli bagaimana Ji Hyun membencinya, Jong In tidak akan membiarkan gadis itu pergi dari hidupnya.

*© Ima at SKF 2014*

Langkah Ji Hyun tidak berhenti. Ia tidak tahu sudah seberapa jauh berjalan dari kantor Jong In dengan kedua mata yang perih –karena menangis dan dada yang terasa sesak karena kesulitan mengambil napas. Tidak peduli tatapan aneh dari orang-orang, karena Ji Hyun merasa hampir tidak memikirkan apapun selain cepat sampai di apartemen Jong In dan membereskan semua barang-barangnya dari sana. Ia tidak akan mau berlama-lama lagi di sana karena ia benar-benar membenci pria itu.

Ji Hyun membuka pintu apartemen Jong In dengan cepat, melangkahkan tungkai kurusnya menuju lantai dua dan bahkan melangkahi dua anak tangga sekaligus. Ia tidak tahu kenapa tidak merasa lelah sama sekali, amarah dan rasa kesalnya lebih mendominasi hingga ia hampir tidak menyadari jarak yang ditempuh dari kantor Jong In dengan berjalan kaki. Oh atau mungkin setengah berlari, Ji Hyun tidak ingat sama sekali.

“Ji Hyun-ah!”

Tangan Ji Hyun baru saja mengeluarkan koper dari bawah tempat tidurnya ketika suara teriakan Jong In terdengar dari ruang tengah. Ji Hyun mencoba menulikan pendengarannya, ia membuka lemari dan segera membereskan baju-bajunya secara asal ke dalam koper.

“Byun Ji Hyun! Astaga,” pintu kamar Ji Hyun –yang sedikit terbuka itu di dorong dengan kasar oleh Jong In. Jong In menghentikan langkahnya tepat di belakang Ji Hyun yang sibuk membereskan baju ke dalam koper. “Kau mau kemana?”

Ji Hyun bahkan rasanya tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Jong In. Ia baru saja menaruh potongan baju –yang terakhir ke dalam koper ketika tangannya ditahan oleh Jong In. Ia menatap sinis ke arah pria itu –dengan kedua mata yang kembali terasa panas dan dada yang sesak. Melihat Jong In terasa menyakitkan sekarang.

“Lepas Jong In!” seru Ji Hyun namun Jong In mencengkeram pergelangan tangannya –dengan cukup kencang.

“Dengarkan aku dulu!” balas Jong In, tidak kalah keras.

Ji Hyun mendecih pelan sambil mengalihkan matanya ke arah lain. Ia segera melayangkan tangannya yang bebas dalam bentuk kepalan ke arah rahang pria itu. Namun Jong In bergerak cepat menangkap tangannya. Lelaki itu sekarang bahkan mengunci kedua tangannya agar tidak bisa bergerak kemana pun.

“Brengsek! Lepaskan aku!” Ji Hyun berteriak kencang, cairan bening kembali tergenang di dalam matanya dan ia membenci hal itu. Ia berusaha melepaskan diri dengan memberontak, namun tenaga Jong In masih jauh lebih besar darinya.

“Aku menyesalinya,” Jong In berujar pelan sambil menatap manik hitam milik Ji Hyun. “Aku menyesal karena menyetujui perjanjian bodoh itu bersama Baekhyun, Ji Hyun-ah.”

“Cih,” Ji Hyun memutar bola matanya dan membiarkan air mata kembali mengaliri pipinya. “Aku tidak butuh penyesalan. Sekarang aku tahu kalau kau sama saja dengan laki-laki lain di luar sana, Jong In. Lepaskan aku!”

“Tidak akan, Ji Hyun,” Jong In masih bersikeras menahan kedua lengan Ji Hyun. Namun bukan seorang Ji Hyun jika menyerah begitu saja, dengan sekuat tenaga Ji Hyun menendang tulang kering Jong In hingga membuat lelaki itu mengaduh kesakitan dan melepaskan kunci di tangannya.

Ji Hyun menyeka matanya dengan cepat lalu menutup resleting kopernya. Ia tidak ingin menangis namun ia tetap tidak bisa menghentikan matanya mengeluarkan cairan bening itu. Ia membenci dirinya sendiri yang terlihat lemah di hadapan Jong In.

“Ji Hyun-ah, kumohon jangan seperti ini,” Jong In kembali meraih lengan Ji Hyun, namun wanita itu bergerak cepat dengan menghempaskan tangannya. Melihat kedua mata Ji Hyun yang membengkak membuat hati Jong In berkedut, terasa sakit dan sesak hingga napasnya pun terasa sulit untuk diambil.

“Aku tidak perlu penjelasan apapun darimu, sungguh,” Ji Hyun menurunkan kopernya dari atas tempat tidur. Ia kembali menyeka air mata yang tidak berhenti mengalir dan menatap Jong In dengan nanar. Astaga, Ji Hyun rasanya tidak sanggup untuk melihat wajah pria itu lagi.

“Aku menyayangimu,” Jong In tidak tahu apa ia pantas mengucapkan itu semua di saat seperti itu. Namun ia tidak sanggup melihat Ji Hyun meninggalkannya di saat perasaannya membuncah senang setelah bisa memiliki wanita itu seutuhnya.

“Ah ya, terima kasih karena sudah berbohong padaku,” Ji Hyun mengulas senyum –mirisnya lalu menyeret kopernya melewati Jong In. Tapi detik berikutnya ia merasakan tangannya kembali ditahan oleh Jong In. Ji Hyun memutar tubuhnya, Jong In bahkan hanya menatapnya tanpa membuka mulut sedikit pun. “Kau hanya mau uangmu kembali. Kau pikir aku sebodoh itu hah?!”

“Ji Hyun, kau harus deng—.”

“Tidak ada yang harus aku dengar lagi, Kim Jong In. Lepaskan aku sekarang!” Ji Hyun kembali menghempaskan tangannya.

Tepat setelah tangannya terlepas, Ji Hyun segera menarik kopernya dengan langkah besar meninggalkan kamar itu. Menuruni tangga tanpa peduli kopernya akan rusak karena ia ingin cepat-cepat pergi dari sana. Kakinya baru saja menapaki lantai satu ketika Jong In tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan menghalangi jalannya.

“Kita bisa bicarakan baik-baik, Byun Ji Hyun. Tolong jangan pergi seperti ini,” entah sejak kapan Jong In menjatuhkan harga dirinya dan memohon pada Ji Hyun. Baginya kehilangan Ji Hyun akan sama saja menghilangkan separuh bagian dari hidupnya.

Ji Hyun kembali terisak, tidak tahu kenapa. Ia mengepalkan kedua tangannya lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi pada dada bidang Jong In. Mengerahkan seluruh tenaganya dan tidak peduli bagaimana Jong In mengaduh kesakitan. Ia bahkan mengakhirinya dengan sebuah tamparan di pipi kiri lelaki itu. Namun sedetik kemudian Jong In malah menarik tubuhnya hingga menabrak tubuh tinggi pria itu dan ia merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang hangat.

Jong In menciumnya.

Hal itu terasa menyakitkan dan semakin melukai perasaan Ji Hyun. Ji Hyun mendorong Jong In dengan cepat dan melayangkan sebuah tamparan lagi di pipi lelaki itu. “Kau memang brengsek!”

Ciuman yang terasa asin karena bercampur air mata itu terasa perih bagi Jong In. Ia mengusap pipinya yang masih terasa panas dan melihat sorot mata Ji Hyun menusuknya. Oh, ia mungkin sangat salah karena mencium Ji Hyun di saat yang sangat tidak tepat. Pukulan dan tamparan yang dilayangkan Ji Hyun berhasil membuat bagian dalam bibirnya terasa amis.

Ji Hyun mengusap bibirnya dengan bagian ujung mantelnya. “Aku sangat menyesal karena mempercayaimu semalam dan menyerahkan semuanya padamu. Harusnya aku lebih percaya pada Chanyeol, sahabat yang tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku menyesal karena sudah terjebak ke dalam permainan kalian berdua.”

“Aku juga menyesal, Ji Hyun. Mianhae. Tolong maafkan aku.”

“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku!” Ji Hyun mengalihkan pandangannya kemudian kembali meraih kopernya. “Hanya orang bodoh yang jatuh ke lubang yang sama, Jong In. Dan aku tidak bisa percaya untuk yang kedua kalinya.”

Ucapan Ji Hyun terdengar begitu menusuk dan membuat napas Jong In tertahan untuk beberapa saat. Bibirnya terasa kelu untuk membantah ucapan wanita itu lagi. Dan bahkan tubuhnya ikut terasa kaku hingga tidak bisa mencegah kepergian Ji Hyun dari hadapannya. Ia sempat melihat setitik cairan bening mengaliri pipi putih Ji Hyun sebelum sosok wanita itu berjalan cepat meninggalkannya.

“Ji Hyun-ah.”

Suara lirih Jong In bercampur dengan suara pintu apartemen yang tertutup keras di belakangnya. Dan ia jatuh bertumpu pada lututnya sendiri dengan kedua mata yang dipenuhi cairan bening. Ia tidak ingat kapan terakhir kali menangis untuk seorang wanita dalam hidupnya. Dan Ji Hyun yang membuatnya kembali mencatat sejarah baru. Kehilangan seorang wanita yang disayanginya pasti akan terasa menyakitkan hingga entah sampai kapan. Jong In bahkan tidak yakin bisa mencintai wanita lain setelah Ji Hyun.

Karma terlalu jahat padanya bukan?

***

Hari sudah beranjak sore dan angin berhembus kencang di pertengahan musim gugur sore itu. Seorang wanita terlihat duduk sambil memeluk lututnya di depan sebuah pagar rumah mewah. Berkali-kali tangannya menekan bel dan berharap sang pemilik rumah keluar untuk menemuinya. Namun ia tidak menemukan jawaban apapun dan memutuskan untuk menunggu sahabatnya di sana. Beberapa orang yang lewat menatapnya aneh dan miris sekaligus. Pasti Ji Hyun terlihat sangat menyedihkan di mata orang-orang sekarang.

Kedua tangannya terangkat, meremas kaus tepat di bagian jantungnya –dan merasakan sakit di sana. Terlalu banyak menangis membuat dadanya terasa semakin sesak dan ia selalu membenci hal itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasa sangat kecewa seperti itu. Dua orang yang dipercaya –dalam hidupnya malah mengkhianatinya dengan cara yang sangat menyakitkan. Bagaimana bisa kedua lelaki itu menggunakan dirinya dalam perjanjian bodoh dan ia bisa dijual-belikan dengan harga tertentu. Sejak dulu ia paling tidak suka diremehkan dengan sejumlah uang dan itu bahkan dilakukan oleh kakak –dan suaminya sendiri.

Bahkan ia merasa jijik memanggil lelaki itu sebagai suaminya. Oh dan Ji Hyun bahkan benci menghadapi kenyataan bahwa ia sudah melakukan hubungan suami-istri bersama Jong In semalam. Harusnya ia percaya pada ucapan Chanyeol karena sahabatnya itu tetap laki-laki paling baik di dunia.

“Ji Hyun?” suara baritone yang dirindukannya itu terdengar dan membuat Ji Hyun mengangkat kepalanya. Ji Hyun melihat sosok tinggi bersurai kemerahan yang berdiri sambil membawa beberapa tas plastik di tangannya. “Astaga! Kenapa matamu bengkak, bodoh.”

Chanyeol dengan cepat menaruh tas plastiknya dan membantu wanita itu berdiri. Ia tetap memegangi lengan Ji Hyun –sembari mencoba membuka pagar rumahnya. Namun lengan Ji Hyun menahan tangannya dan malah menarik tubuhnya agar bisa dipeluk oleh wanita itu. Ia sedikit terlonjak kaget namun suara tangisan Ji Hyun menghentikannya yang akan memprotes pelukan itu.

“Ayo masuk dulu, Ji Hyun-ah,” ujar Chanyeol seraya mengusap lembut punggung Ji Hyun, mencoba menenangkan sahabatnya agar tidak menangis seperti itu. “Ssh, tenangkan dirimu dulu, Ji Hyun.”

“Kenapa kau masih baik padaku? Aku sudah memarahimu kemarin, bodoh. Kenapa kau tidak membenciku?” tanya Ji Hyun cepat sambil memukul pelan punggung lelaki itu.

Chanyeol menghembuskan napas pelan. “Walaupun kau membunuhku sekali pun, aku tidak akan membencimu, Ji Hyun.”

Chanyeol memang laki-laki terbaik yang pernah hadir di hidupnya.

“Ayo masuk dulu. Orang-orang melihat kita, Ji Hyun-ah.”

.

Rasanya seperti mengalami Deja Vu. Berkali-kali Ji Hyun duduk di dalam kamar Chanyeol ketika ia menghadapi masalah dengan Jong In. Sejak pertama kali Jong In mengajaknya menikah, ia diusir dari apartemen kecilnya dan harus pergi ke sana. Ketika masalah Soo Jung membuatnya kesal setengah mati pada Jong In, ia juga di sana bersama Chanyeol. Oh dan sekarang Chanyeol bahkan mau menerimanya kembali di sana setelah kejadian kemarin dan ketika ia meninggalkan Jong In tadi.

Tangisan Ji Hyun mulai berhenti ketika Chanyeol membawanya ke kamar. Ia hanya bersandar pada kepala tempat tidur sementara Chanyeol sibuk membuat –entah apa di lantai satu. Terlalu banyak yang Ji Hyun pikirkan juga sejak tadi, mengenai hidupnya, Baekhyun, dan juga Jong In. Baekhyun hanya satu-satunya keluarga yang tersisa dan Ji Hyun tidak tahu pantas memaafkan pria itu atau tidak. Terlalu berat untuk menerima Baekhyun kembali, karena menurutnya, kakaknya itu sama saja seperti Jong In. Dan ia membenci Baekhyun karena kenyataan itu.

“Ini cokelat hangat untukmu,” suara Chanyeol menyeruak masuk seiring dengan sosok tingginya yang melangkah mendekati Ji Hyun. Lelaki itu duduk di sisi tempat tidur lalu menyerahkan segelas cokelat hangat ke hadapan Ji Hyun.

Cokelat hangat.

Ji Hyun malah tenggelam dalam ingatannya sendiri ketika melihat minuman kental berwarna cokelat itu. Ia seperti mengalami dejavu juga. Bersandar pada kepala tempat tidur dan sosok Jong In yang memberikan kehangatan dari cokelat hangat. Tepat di malam setelah ia diselamatkan dari penculikan dan malam dimana Jong In mengutarakan perasaannya. Ingatan itu malah membuat kerongkongannya tercekat.

“Ji Hyun?” Chanyeol menempelkan gelas itu ke lengan atas Ji Hyun, membuat wanita itu tersadar dan segera mengambil gelas di tangannya. Ji Hyun terlihat buruk sekali.

Beberapa saat keduanya tenggelam dalam keheningan dan Ji Hyun lagi-lagi hanya menatap ke dalam cokelat hangatnya. Membuat Chanyeol semakin tidak mengerti. Hingga terdengar suara hembusan napas dari Ji Hyun dan kepala wanita itu terangkat untuk menatapnya. Kedua mata Ji Hyun terlihat mulai berair lagi.

“Kenapa harus Jong In dan Baekhyun yang mengkhianatiku?” tanya Ji Hyun sambil mempererat tangannya yang melingkari gelas hangat di tangannya. “Jong In bilang dia tidak akan pernah meninggalkanku. Tapi kenapa dia menyakitiku seperti ini?”

Kedua mata Chanyeol membulat. Terlalu kaget dengan ucapan Ji Hyun –yang ternyata sudah mengetahui kenyataan sebenarnya. Pantas saja Ji Hyun menangis hingga membuat mata kecilnya terlihat membengkak. Pasti wanita itu menangis seharian. “Kau sudah tahu semuanya?”

“Aku jahat, ya? Harusnya aku mempercayaimu,” Ji Hyun berucap pelan sambil menundukkan kepala, tidak berani untuk sekedar menatap sahabatnya karena terlalu malu setelah membentak kemarin. Ji Hyun bahkan hampir menangis lagi. “Aku tahu kau memang yang terbaik, Yeol-ah. Kau tidak pernah mengkhianatiku dan selalu menyayangiku. Kenapa aku malah menyayangi dua laki-laki brengsek seperti mereka?”

“Kau tahu dari mana?” Chanyeol menyelidik. Sebenarnya ia memang tidak mempercayai ucapan Tae Min setelah bertengkar dengan Ji Hyun kemarin dan ia berencana meminta maaf pada wanita itu. Namun ternyata Tae Min memang memberitahu kejadian sebenarnya.

“Aku mendapatkan barang bukti dan bahkan mendengarnya langsung. Maaf, Chanyeol-ah. Rasanya aku malu karena mendatangimu setelah membentakmu seperti kemarin,” Ji Hyun mengangkat kepala, menyeka air mata –yang masih saja keluar lalu mengulas senyum tipis di bibirnya. “Kau sudah memberitahuku, tapi aku malah menuduhmu yang tidak-tidak. Kau benar tentang Jong In, dia tidak sebaik apa yang aku lihat selama ini.”

Dwaesseo,” Chanyeol melebarkan senyumnya sambil mengusap kepala wanita itu. “Sekarang kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau.”

“Terima kasih, Yeol-ah,” Ji Hyun kembali tersenyum kemudian menyesap cokelat hangat buatan Chanyeol. Dan rasanya tidak seenak milik Jong In. Rasanya Ji Hyun lebih baik lupa ingatan saja daripada harus merasa sakit setiap kali mengingat lelaki itu.

***

Malam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam dan  Jong In masih saja terdiam di sofa ruang tengah apartemennya, menyandarkan kepala sambil menatap langit-langit dengan kosong. Nyawanya seperti hilang setengah. Ia tidak bisa menangisi kepergian Ji Hyun lagi dan itu membuat dadanya terasa semakin sakit. Harusnya ia tidak melakukan hal bodoh sejak dulu. Dan ia sangat menyesali semuanya sekarang.

Kedua mata Jong In terpejam, mencoba meredakan rasa sesak itu, namun yang didapatinya hanya kenangan indah bersama Ji Hyun selama lima bulan ini. Jong In membuka kedua matanya dengan cepat lalu menghembuskan napas panjang. Entah apa yang akan terjadi padanya, ia mungkin tidak akan pernah mau mencari wanita lagi setelah ini. Ia selalu lelah dengan rasa sakit karena perpisahan, sudah dua kali wanita yang sangat dicintainya pergi dengan kebencian.

Namun Soo Jung dan Ji Hyun berbeda. Rasanya melihat punggung Ji Hyun jauh lebih menyakitkan dibandingkan melihat Soo Jung bersama Tae Min waktu itu. Hati Ji Hyun pasti terasa sangat sakit karena kenyataan itu. Harusnya Jong In menjelaskan semuanya dari awal sebelum perasaannya jatuh terlalu dalam untuk wanita itu.

Cih, anakku bahkan terlihat seperti orang gila hanya karena wanita itu.”

Suara wanita tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam telinga Jong In. Jong In membuka matanya kemudian berdiri menghadap pintu masuk apartemennya dan melihat sosok nyonya Kim berdiri di sana. Menatap Jong In dengan remeh. Memang pantas nyonya Kim menyebut Jong In seperti orang gila, lihat bagaimana jas milik Jong In tergeletak begitu saja di lantai serta rambut dan kemeja lelaki itu yang sangat berantakan.

“Kenapa eomma di sini? Sekarang sudah malam,” Jong In sangat malas menanggapi ucapan ibunya karena ia memang benar-benar tidak mood untuk itu.

“Hanya memastikan keadaanmu,” nyonya Kim mengendikkan bahu tak acuh lalu tersenyum pada seseorang yang berada di balik pintu –yang sedikit terbuka.

Kedua alis Jong In bertaut heran ketika muncul sosok lain dari balik pintu apartemennya lalu berdiri di samping nyonya Kim. Sosok sahabatnya. Lee Tae Min. Jong In hampir saja kehilangan momen menarik napas ketika Tae Min tersenyum menyeringai ke arahnya sambil melipat tangan di depan dada. Apa yang terjadi pada dunia sebenarnya.

“Sekarang kau tahu rasanya disakiti ‘kan? Itu yang aku rasakan saat kau menyia-nyiakan bangku kuliah yang sangat aku inginkan dan saat Soo Jung lebih memilihmu,” ujar Tae Min dan nyonya Kim terlihat hanya diam saja.

“Apa maksudmu?” tanya Jong In tidak mengerti.

“Bagaimana rasanya ditinggal Ji Hyun? Cih, kau ternyata jauh lebih lemah dari dugaanku,”  Tae Min kembali menyeringai pelan dan menatap Jong In dengan sebelah alis terangkat. “Kita impas sekarang. Ah, dan kupastikan namamu akan menjadi headline di setiap berita nanti malam. Oh atau mungkin sekarang.”

“Apa?” Jong In bertanya dengan heran lalu segera melihat ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja. Terlihat beberapa pesan dari email maupun social media yang masuk ke sana.

Tae Min  mengikuti langkah nyonya Kim menuju ruang tengah. “Presdir perusahaan Kim yang membeli seorang wanita untuk dijadikan istrinya,” ucapan Tae Min membuat nyonya Kim menoleh dengan cepat –dengan kedua mata membulat dan menghentikan langkah bahkan sebelum mencapai ruang tengah apartemen Jong In.

“Maaf nyonya Kim, aku bukan mau menyakiti Ji Hyun dan hanya mau balas dendam pada Jong In.”

“Tae Min-ssi,” ujar nyonya Kim tidak percaya dan terlihat Jong In yang mulai mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.

“Aku yang membuat perusahaanmu lemah dengan merayu para investor untuk meninggalkan perusahaan Kim,” Tae Min kembali menjelaskan semua hal yang dilakukannya –dalam rangka membalas dendam pada pria itu. “Aku yang mengusulkan untuk menculik Ji Hyun. Aku juga yang menghasut Soo Jung tentang Ji Hyun –yang menjual diri padamu. Ah dan aku yang memberitahu Chanyeol dan membuatnya terlihat baik di mata Ji Hyun –sekarang.”

Aish, neo saekkiya!” Jong In berjalan cepat menghampiri Tae Min lalu mendaratkan sebuah pukulan keras di rahang laki-laki itu. Tae Min sedikit terhuyung namun berhasil mengembalikan keseimbangannya kembali dengan seulas senyum miring.

“Tapi aku sudah puas membuatmu hancur seperti ini,” Tae Min mengusap sudut bibirnya yang mulai terasa amis. “Sekarang kau tahu apa yang kurasakan dulu.”

Jinjja neo!” Jong In baru saja akan memukul Tae Min lagi ketika nyonya Kim menahan tangannya yang lain.

“Aku yang meminta Tae Min untuk mengusir Ji Hyun dari hidupmu, Jong In,” sahut nyonya Kim dan membuat Jong In menoleh cepat. “Aku tidak suka karena kau membelinya dan membuat ia terlihat baik di mata orang-orang.”

“Eomma!“ gumam Jong In tidak percaya. “Kenapa kau melakukannya? Aku menyayangi Ji Hyun!”

“Dia tidak cocok untukmu, Jong In! Sudah kubilang tidak ada yang namanya cinta di dalam perusahaan keluarga,” nyonya Kim melepaskan pergelangan tangan Jong In dari cengkeramannya lalu berdehem pelan. “Terkadang perjodohan terpaksa dilakukan untuk membantu perusahaan.”

“Aku yang akan memilihnya sendiri, eomma. Dan aku bisa menyelesaikan masalah perusahaan tanpa perjodohan,” Jong In berkata dengan kedua mata yang mulai memanas menahan amarah. Tidak percaya bahwa ibunya berusaha merusak hidupnya lagi.

“Kau tidak membuktikanya, Kim Jong In,” potong nyonya Kim cepat. “Perusahaan malah semakin buruk setelah kau menikahinya. Kalau kau memang tidak mau jabatanmu diturunkan, kau harusnya menuruti keinginanku agar tidak harus sakit seperti ini.”

“Ini semua karena Tae Min ‘kan?!” Jong In sempat melemparkan tatapan sinis pada Tae Min lalu menatap ibunya kembali sedetik kemudian. “Berhenti mengurusi hidupku, eomma. Aku sudah bisa memilih jalan sendiri,”

“Kau masih presiden direktur perusahaan keluarga kita, Jong In. Tolong pikirkan itu juga! Ji Hyun tidak pantas untukmu!” seru nyonya Kim dan Jong In hanya menghempaskan tangannya agar tidak lagi dipegangi oleh ibunya.

Sepertinya Tae Min akan lebih bahagia jika ia bertengkar dengan ibunya. “Kalau aku harus keluar dari perusahaan agar bisa bersama Ji Hyun, aku akan melakukannya.”

“Astaga, Jong In!” nyonya Kim menutup mulutnya tidak percaya. Ia bahkan akan kehilangan anak lelaki semata wayangnya hanya karena seorang wanita.

Jong In menggelengkan kepalanya. “Kalian memang mau menghancurkan hidupku ‘kan? Jadi aku yang akan mengabulkan keinginan kalian. Aku keluar dari perusahaan sekarang.”

***

Jarum-jarum jam di rumah Chanyeol sudah menunjukkan pukul enam pagi ketika Ji Hyun masih terjaga sambil berbaring menghadap Chanyeol –yang tertidur pulas di sofa kamar. Pria tinggi itu melipat kaki panjangnya karena tidak muat di sofa dan hanya memakai bantal –tanpa selimut saja. Tiba-tiba ia merasa tidak pantas untuk merepotkan Chanyeol lagi. Chanyeol sudah terlalu baik padanya selama ini, tapi ia malah lebih sering menyakiti lelaki itu.

Tadi malam sekitar pukul satu pagi, Ji Hyun tidak sengaja mendengar percakapan antara Chanyeol dan nyonya Park di ruang tengah. Ia sebenarnya tidak bermaksud menguping karena tidak sengaja mendengarnya ketika akan mengambil minum ke lantai satu. Ia terpaksa harus menahan langkahnya di sebelum anak tangga dan mendengar percakapan mereka –yang sedikit keras.

“Ji Hyun itu sudah bersuami, kenapa dia bisa menginap di sini? Kenapa kau mengijinkannya?”

“Eomma, dia sedang bertengkar dengan Jong In. Jadi dia harus tinggal di sini selama beberapa hari.”

“Park Chanyeol, kau harusnya tidak ikut campur dalam masalah mereka lagi. Ji Hyun dan Jong In bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.”

“Tapi ini masalah serius, eomma. Astaga~, aku tidak bisa menjelaskannya padamu tapi Ji Hyun tidak bisa bertemu Jong In lagi.”

“Aku tidak peduli apa masalah mereka, Chanyeol. Yang jelas aku tidak suka Ji Hyun menginap di sini, dia sudah bersuami, tahu?”

“Aku tidak mau orang yang aku sayangi disakiti seperti ini, eomma. Jong In sering menyakiti Ji Hyun dan aku tidak suka.”

“Kau menyayanginya?”

“Keurae. Aku menyayangi Ji Hyun, lebih dari sekedar sahabat.”

“Park Chanyeol!”

Kedua mata Ji Hyun kembali tergenang ketika mengingat semuanya. Chanyeol menyayanginya lebih dari sekedar sahabat? Dan Ji Hyun bahkan menceritakan semua kehidupannya bersama Jong In pada lelaki itu. Ia yakin Chanyeol banyak menyimpan rasa sakitnya sendiri sementara ia berbahagia bersama Jong In. Lalu ketika ia merasa sakit karena perjanjian Jong In-Baekhyun, ia malah kembali pada Chanyeol.

Sahabat macam apa Ji Hyun sebenarnya.

“Ji Hyun-ah.”

Ji Hyun cepat-cepat mengerjap dan menghapus jejak air matanya ketika melihat Chanyeol menggeliat pelan di sofa sambil menggumamkan namanya. Sedetik kemudian Chanyeol beringsut duduk dan menatapnya dengan mata setengah terbuka. Senyum jenaka muncul di bibir Chanyeol dan itu berhasil membuat Ji Hyun tersenyum juga.

“Kenapa tidak membangunkanku?” Chanyeol mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi –menggeliat pelan lalu melangkah gontai menghampiri Ji Hyun. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil menepuk pelan puncak kepala Ji Hyun. “Sudah lebih baik?”

Belum Chanyeol, batin Ji Hyun dalam hati namun ia hanya menganggukkan kepala. Tidak mau membuat Chanyeol khawatir lagi. “Gomawo, Yeol-ah.

Cheonmaneyo, Ji Hyun-ah,” Chanyeol mengusap pelan kepala Ji Hyun lalu melirik jam dinding di kamarnya. “Aku harus antar eomma ke kantor appa. Kau mau sarapan apa? Biar aku beli di jalan nanti.”

“Terserah saja. Aku masih mau tidur lagi,” Ji Hyun kembali bergelung di dalam selimut dan Chanyeol hanya terkekeh geli.

Keurae, aku siap-siap dulu ya.”

Chanyeol beranjak dari sisi tempat tidur kemudian melangkah keluar kamar sambil membawa jaket baseball miliknya di belakang pintu. Mungkin Chanyeol akan memakai kamar mandi di luar dan Ji Hyun tidak harus berpura-pura tidur selama sahabatnya itu pergi. Jadi Ji Hyun segera menyingkap selimutnya dan turun dari tempat tidur, membuka koper miliknya untuk mencari baju yang lebih layak.

Setelah ini ia akan meminta maaf sedalam-dalamnya pada Chanyeol.

*

Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik di garasi rumah, Chanyeol segera turun dari mobil dan melangkah dengan santai memasuki rumahnya. Tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena bisa melihat Ji Hyun –setiap hari lagi. Apalagi Ji Hyun menginap entah sampai kapan di sana dan ia hanya berharap bahwa wanita itu bisa membalas rasa sayangnya suatu saat nanti. Tidak ada lagi Jong In yang bisa menghalanginya bukan?

Kening Chanyeol berkerut ketika baru saja memasuki pintu depan. Ia tidak menemukan sepatu Ji Hyun –yang kemarin sore diletakkan di sana. Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya dengan lebar menuju lantai dua. Dengan cepat juga ia membuka pintu kamarnya dan tidak menemukan sosok Ji Hyun di sana.

Bahkan koper yang ia letakkan di dekat pintu pun tidak ada.

“Ji Hyun-ah!” seru Chanyeol dengan suara baritone miliknya seraya membuka pintu kamar mandi di kamarnya. Namun tetap tidak menemukan wanita itu di sana.

Chanyeol baru saja berbalik ketika matanya menangkap sesuatu di atas meja nakas kamarnya. Ia mengambil selembar kertas yang ada di nakas itu dan membaca setiap deretan huruf yang dituliskan Ji Hyun di sana. Look-like a drama.

‘Yeol-ah, mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tidak mau merepotkanmu lagi. Hufft, sebenarnya susah juga karena aku selalu lari ke rumahmu sejak dulu, tapi aku akan berusaha sendiri sekarang. Ibumu masih membenciku kalau tidak ada Jong In ‘kan? Dwaesseo, kau tidak perlu melawan ibumu sendiri Chanyeol-ah. Ah aku juga dengar pembicaraan kalian semalam. Maaf TT.TT

Aku harus pergi sekarang sebelum kau pulang kkkk. Tolong jangan cari aku kemana pun dan kalau Jong In atau Baekhyun mencariku ke sini, bilang saja kita tidak pernah bertemu lagi. Terima kasih sudah menyayangiku, aku juga menyayangimu walaupun masih sebatas sahabat. Kau tetap yang terbaik, Yeol-ah.

With love,

Byun Ji Hyun.’

Dan Chanyeol sadar bahwa dunianya juga akan ikut berubah setelah Ji Hyun meninggalkannya.

[Over Bride] Chapter 12—CUT

Ima’s note:

Buin itu artinya istri. 

Bukan typo heheh, maaf yaa buat yang bingung.

Dan maaf post nya ngaret juga soalnya aku lagi sibuk ngospek adek kelas/?/

hihi Maaf juga taemin dinistain disini/?/ Aku suka taemin jugaa, ga benci sama diaa hahah maafin yaa

silakan berkomentar yaa~^^

Best Regards, 

Ima♥

414 responses to “Over Bride [Chapter 12] — by IMA

  1. Jihyun mau kemana ? Jangan pergi jauh jauh 😥 kasihan Jongin 😥 aduh itu beneran jongin keluar ?

  2. Ini chapternya nyesek banget semua jahat sama jihyun huhu pada tega banget sama dia huhu plisplis chapter lanjutnya yg seneng2 aja huhuvgak tega liatnya😢😢

  3. Kasian juga si jihyun…
    Menanggung beban hidup seorang diri…
    Padahal dia baru sedikit merasaan kebahagiaan…
    Tapi langsung hancur berkeping keping…

  4. setelah manis-manisan sama jongin semalem #eaaa tapi aku setuju kalo selain perjanjian itu, selebihnya jongin bukan pria yang brengsek. dan Chanyeolll aaa, ahh jjinjja >.< kakak kapan-kapan bikin ff yang main cast nya chanyeol ya. heheheee. aku harap hubungan chanyeol sama jihyun ke depannya tetep baik-baik aja meskipun si jihyun udah tau perasaannya si pcy.

  5. Akhir y masa2 pahit terjadi…kmn jihyun pergi..taemin bnr2 jahat dech..masa msh dendam adja dech..

  6. oalah kak.. aku komen di part 11 ko gabisa” sih..
    aku komen disini aja y..
    btw baca part 11 bikin tegang di awal… terus panas dingin gegara dua sejoli itu
    pokokx sip deh

    part ini.. gabisa ngomong apa”
    akhirx jihyun tau jg
    btw itu mau kmn jihyun?

  7. Taemin jahat amat sih ya cuma grgr itu tp pembalasannya lebih dari itu
    Kesel jg ama baekhyun malah diem aja bukannya ngomong apa gitu tega bgt ama adik sendiri
    Kasian kan jongin jihyunnn aishhh :””

  8. woalah jdi Buin tu g typo ya, kirain typo tp uda 2kali aq bca Buin Jihyun hihii
    nahkan Jihyun ngamuk, Jongin malah main cium aj, jdi image ‘brengsek’nya kn brtmbah,,
    prgi kmna lgi tu Jihyun, dy jgn hamil dlu ya mengingat mereka uda nananana, pkoknya jgn hamil dlu sblm baikan lgi ama Jongin :v

  9. TT.TT kasihan banget ji hyun nya. Semoga saja ia bertemu BBH atau jong in atau siapapun yang bener2 peduli sama ji hyun. Taemin bikin gregetsss

  10. Huaaa aku mewek baca iniii, astagaaa aku mungkin ga sanggup di posisi jihyun sumpah hidup dia yang tadinya beringsut membaik tapi malah dapet rahasia besar yang menyakitkan T.T aku gatau mau ngomong apa, dadaku juga ngilu ikutan ngerasain apa yg dirasain jihyun. Ah dan jongin juga kasiaaan :”(( itu taemin balas dendam kejam amat ya tuhan! Semoga lekas berbaikan, aku ga sanggup kalau harus sad ending 😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s