[Freelance] I’m Sorry

i'm sorry

Author: Vinvinyen

Main cast:

Oh Sehun EXO

Prak Yura (OC)

Choi Jinri F(X)

Genre: Romance, School life, Sad

Rating: PG

“Kau masih menyimpan fotonya?” Sehun menolehkan kepalanya ke asal suara itu berada. Dia mendapati Luhan yang tengah berdiri di depan pintu balkon sambil membawa segelas yah.. yang diyakini sehun itu adalah kopi kesukaan Luhan.

Sehun hanya bisa diam, lalu memandangi lagi foto seorang gadis yang ada di tanganya. Tanpa mengindahkan pertanyaan Luhan barusan.

“Apa kau masih mencintainya Oh Sehun?” Lagi-lagi Luhan bertanya kepada Sehun, ia memandang Sehun sendu, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

Ne.. aku bahkan masih sangat mencintainya hyeong” Sehun menghembuskan napas beratnya, pandangannya lurus menatap langit yang sedikit mendung, entah mengapa cuaca saat ini seakan menggambarkan suasana hatinya.

“Lalu kenapa kau melepasnya? dan membiarkannya pergi?“

“Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang untuknya hyeong. menjadi pianis terkenal adalah cita-citanya dari kecil” Sehun tersenyum kecil, mengingat betapa gadisnya dulu sangat memimpikan menjadi seorang pianis terkenal. Dia bahkan rela mengahabiskan waktunya untuk berlatih bermain piano dan mengorbankan waktu bermainnya.

“Lalu bagai mana dengan Jinri? Jika kau selalu memikirkan Yura, dan bahkan kau masih mencintainya. Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Jinri jika ia tahu kalau kau belum bisa melupakan Yura”

Sehun menolehkan kepalanya kepada Luhan, menatap luhan sendu, ya luhan benar bagaimana perasaan Jinri jika ia tau bahwa Sehun memang masih mencintai Yura dan bahkan ia tidak yakin akan benar-benar melupakan Yura. Terlalu sulit bagi Sehun untuk benar-benar menghapus nama Yura di hatinya.

Bahkan waktu 4 tahun tidaklah sebentar bagi Sehun untuk ia benar-benar bisa melupakan gadisnya, seberapa besarpun usaha Sehun Untuk melupakan Yura, ia tetap tidak bisa. Yura begitu sulit untuk ia lupakan. Begitu banyak kenangan yang ia ciptakan bersamanya.

Yura adalah gadis yang membawa pengarus besar bagi kehidupan Sehun. Bahkan disaat Sehun benar-benar terpuruk, karna kehidupan keluarganya yang bisa dibilang sangat berantakan. Ayahnya yang selalu mabuk-mabukan, membawa sembarang wanita keluar masuk rumah seenaknya. Ibunya pergi begitu saja karna tidak tahan atas perlakuan Tuan Oh, dan lebih memilih pergi dengan lelaki lain tanpa memikirkan keadaan Sehun.

Sehun sangat membenci kedua orang tuanya, yang dengan mudahnya mencampakannya begitu saja. Semenjak kejadiian itu Sehun berubah menjadi sosok Oh Sehun yang dingin, dan bahkan tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Dia bahkan tidak sudi untuk menginjakan kakinya dirumah Ayahnya lagi. Sehun benar-benar berusaha untuk tidak berurusan dengan keluarganya dan memilih hidup sendiri tanpa adanya bayang-banyang kedua orang tuanya di kehidupannya saat ini.

Dan semenjak Sehun mengenal Yura. Hidup Sehun perlahan berubah. Yura terlalu banyak memberikan perubahanan untuk hidupnya, termasuk membuat Sehun merasakan arti sebuah ketulusan yang sesungguhnya, kehangatan, kebahagiaan, bahkan dia lah yang membuat Sehun merasakan dan mengenal cinta untuk pertama kalinya. Termasuk merasakan kehilangan yang begitu besar untuknya. Dia benar-benar tidak yakin untuk melupakan dan menghapus nama Yura dari hidupnya.

“Ya, kau benar hyeong” Sehun menghela napasnya “ Seharusnya aku tidak egois dengan perasaan ku sendiri, aku bahkan tidak sempat berfikir bagaimana dengan perasaan Jinri jika mengetahui perasaanku pada Yura” Sehun menjeda perkataanya sebelum ia melanjutkannya kembali. “tapi aku tidak bisa janji untuk benar-benar bisa melupakannya hyeong. Dia sangat berarti untuk hidupku, dia adalah orang yang sangat berpengaruh untuku hyeoung.”

Luhan menepuk pundak Sehun seolah memberikan semangat untuk dongsaengnya. “Aku tau sulit bagimu untuk melupakan cinta pertamamu itu Sehunna, tapi kau tidak boleh terus-terusan seperti ini. Kau malah akan semakin menyakiti dirimu sendiri. Berusahalah untuk membuka hati mu untuk Jinri. Aku yakin dengan seiringnya waku perlahan kau akan bisa merelakannya, dan menerima Jinri dihati mu.”

“Aku akan mencobanya hyeong” Sehun berajak dan pergi meninggalkan Luhan. Entah lah dia bahkan tidak yakin benar-benar akan melakukannya. Tapi disisi lain ia tidak mau menyakiti hati Jinri yang selama beberapa bulan ini telah resmi menjadi kekasihnya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menjadikan Jinri kekasihnya, tapi mengingat desakan Suho hyeong dan Luhan hyeong untuk menerima cinta Jinri. ketika dengan beraninya Jinri menyatakan perasaanya kepada Sehun. Terlebih lagi karna memang selama ini Jinri terlalu baik kepadanya. Membuat Sehun tidak tega untuk menolak cintanya.

Iam Sorry

Suara alunan melodi piano dari arah ruang musik terdengar sangat indah, bahkan siapapun yang mendengarkannya akan merasakan hal yang sama, terhanyut dalam alunan melodi yang dimainkan. Begitupun dengan Sehun. Sehun tau siapa yang memainkan alunan melodi itu. Ya.. dia adalah Park Yura ‘Kekasihnya’

Perlahan ia buka kenop berdaun dua itu. Seolah terpaku dengan apa yang ia lihat. Sehun hanya bisa terdian di ambang pintu, melihat sesosok gadis, berambut panjang bergelombang dengan wajah yang terbilang sangat cantik. Memejamkan matanya seolah meresapi apa yang ia mainkan. Jari-jari indahnya dengan lincah bermain diatas tuts piano. Berusaha untuk membentuk sebuah lantunan melodi yang indah. Sedetik kemudian Sehun tersenyum, lalu perlahan matanya tertutup, seolah ikut terhanyut dengan permainan gadisnya.

Hatinya begitu tenang dan nyaman ketika melihat Yura bermain piano. Seakan ada perasaan hangat yang menjalar dalam dirinya. Sehun suka saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana gadis itu memainkan pianonya, melihat wajah tenangnya, mendengar suara indahnya mengiringi alunan yang ia mainkan “begitu indah”. Batin sehun.

Merasa dirinya di perhatikan Yura menghentikan permainannya, ia menolehkan kepalanya kearah pintu. Lalu ia tersenyum begitu tau siapa yang ia lihat sekarang. Oh Sehun. –Kekasihnya, tengah berdiri diambang pintu dengan mata yang tertutup, meresapi permainan yang Yura mainkan barusan.

Sadar akan hal itu Sehun perlahan membuka matanya. Tersenyum kepada gadisnya, lalu menduduki tubuhnya di samping Yura.

“Permainanmu semakin bagus” ujar Sehun. Lalu ia tersenyum.

“Benar kah?” tanya Yura senang.

“Eeemm” Sehun mengagukan kepalanya kecil, mengagkat tangannya lalu mengelus rambut Yura sayang.

“Menurutmu apa aku bisa menjadi seorang pianis terkenal?” tanya Yura, lalu ia memposisikan kepalanya diatas bahu sehun, tangan kanannya melingkar pada tangan kekar Sehun. Yura sangat senang melakukan kegiatan ini jika ia tengah duduk disamping kekasinynya itu.

“Tentu saja.. aku yakin suatu saat nanti kau pasti aka menjadi seorang pianis terkenal. Dan kau akan membuat ku dan kedua orang tuamu bangga melihatnya” Sehun memeluk Yura erat. Dan menjatukan kepalanya diatas kepala Yura. Menghirup aroma shampo yang Yura gunakan. Entah mengapa ia sangat suka dengan aroma ini, aroma Stoberi. Gadis ini memang sangat menyukai hal yang berbau Stoberi.

“Terimakasih” Yura semakin mempererat pelukannya kepada Sehun “ Karana selama ini kau selalu mendukung ku Oppah” Ia tersenyum bahagia akan ucapan Sehun barusan. Beruntungnya ia karna memiliki kekasih yang begitu mencintai dan menyayanginya. Selalu menjadi penyemangat untuknya dalam mencapai cita-citanya menjadi seorang pianis terkenal, sehun bahkan tidak pernah mengeluh sedikitpun, ketika waktunya dengan Yura menjadi singkat dikarnakan Yura yang mesti memperbanyak latihannya untuk mengikuti kompetisi internasionalnya yang akan di selenggarakan dua bulan lagi.

“Aku mencintaimu”

Sehun terkeke atas apa yang kekasihnya ucapkan “ Aku lebih mencintaimu Park Yura” ujar Sehun, lalu ia mencium puncak kepala Yura. “ Selama itu baik dan membuatmu bahagia, aku pasti akan selalu mendukungmu”

“Ne… aku tau Tuan Oh” Yura terkekeh kecil, di dalam pelukan sehun. Rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukannya dari Sehun barang sedikitpun, ini sangat nyaman baginya, bahkan lebih nyaman dari hal apapun yang pernah Yura rasakan.

Selama beberapa menit mereka hanya terdiam, merasakan kehangatan dari pelukan masing-masing. Saling menyalurkan rasa kasih sayang melalui pelukan satu sama lain, merasakan kenyamanan dan kebahagiaan dari dalam hati mereka. Ya kebahagiaan, kebahagiaan yang bisa dinamakan ‘Cinta’. Sehun bersumpah, jika saja ia bisa memberhentikan waktu saat ini. Mungkin ia akan bisa lebih lama lagi mendekap tubuh kekasihnya ini dan tidak akan melepaskannya.

Merasakan suatu getaran dari dalam saku celana seragamnya, sehun perlahan merenggangkan pelukannya kepada Yura, jujur ia merasa kesal dan terganggu. Perlahan ia merogok saku celananya berusaha mengambil benda tipis yang berbentuk kotak itu, lalu ia berdecak kesal ketika menlihat sebuah nama yang tertera di layar Iphonenya.

“Siapa?” tanya Yura, karna merasa heran dengan perubahan ekspresi di wajah Sehun.

“Bukan siapa-siapa” jawab Sehun sekenannya, lalu ia memasukan lagi Iphone itu kedalam saku celana seragamnya.

“Heeyy!… Kau tidak boleh seperti itu, ayo cepat angkat teleponnya! Bagaiman jika itu penting!” pekik Yura, lalu tangannya berusaha merampas Iphone yang ada di saku celana Sehun. Ketika Yura berhasil mengambilnya dan melihat siapa yang menghubungi Sehun. Yura pun mendelik sebal kepada Sehun. “ini Ayahmu, kenapa kau tidak mau mengangkatnya eoh?”

“Itu tidak penting!” jawab Sehun datar. Sungguh Sehun sangat malas berurusan dengan Ayahnya, mengingat Ayahnya lah sumber utama yang membuat keluarganya menjandi hancur, membuat ibunya pergi dan memilih meninggalkannya dalam situasi yang sangat menyedihkan. Sehun sudah cukup senang dengan kehidupannya sekarang, terbebas dari Ayahnya dan bahkan Ibunya. Dan sekarang apalagi yang Ayahnya inginkan darinya.

Yura menghela napasnya, menatap Sehun sendu tangannya mengusap punggung Sehun. Ia tau apa yang dirasakan Sehun sekarang. Tapi ini tidak benar, sebesar apapun kesalahan Ayahnya dia tetaplah orangtuannya. Yura tidak ingin melihat Sehun terus-terusan seperti ini, memendam dendam kepada orang tuanya sendiri.

“Oppah” lirih Yura, masih dengan kegiatannya mengusap punggung Sehun.

Sehun menghela napasnya, mencoba menetralkan perasaannya. Kepalanya menoleh kearah Yura lalu sedetik kemudian ia tesenyum. Mencoba meyakini Yura bahwa ia tidak apa-apa.

“Aku tidak apa-apa, kau tenang saja”

“Jangan bohong” Yura menatap mata Sehun “Aku tau perasaanmu Oppah… tapi bagaimanapun juga dia tetap Ayahmu. Sebesar apapun kesalahannya dia tetap orang tua mu. Sampai kapan kau akan seperti ini eoh? Selalu mengabaikan orang tua mu. Membiarkan perasaanmu jauh lebih sakit lagi dengan berpura-pura kau tidak perduli terhadap mereka. Aku tau, aku tau, kau tidak bisa melakukannya. Jauh dari lubuk hatimu kau sangat perduli kepada mereka”

“Yura… kau tidak mengerti!” Sehun sedikit menaikan suaranya mencoba menghentikan Yura.

“Apa? apa yang tidak aku mengerti?” lirih Yura, “Aku tau perasaanmu, aku tau.. kau menderita. Tapi kau akan jauh menderita dengan tersus bersikap seperti ini Oppah. Bersikap seolah-olah kau hidup sendiri tanpa ada orang tua di kehidupanmu” Yura memeluk tubuh Sehun. Mencoba menenangkannya. Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan ini kepada Sehun, dan membuat sehun jauh lebih sedih. Tapi ia hanya ingin menyadarkan Sehun. Menyadarkan bahwa ini tidak benar, ia hanya tidak ingin melihat Sehun lebih menderita dengan sikapnya seperti ini.

“Tidak bisakah kau memaafkan Ayahmu? Aku yakin ia menyesal dan berusaha ingin memperbaiki semuannya” Yura melepas pelukannya, menatap wajah Sehun. Mencoba meyakini pemuda itu, akan apa yang ia katakan. “ Aku mohon, berbicaralah dengan Ayahmu dan jangan lagi menghindarinya”

******

Seorang namja paruh baya berperawakan tinggi, tanpa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Seakan mencari sosok yang akan ditemuinya saat ini. Wajahnya masih terlihat tampan, walau diusiannya yang sudah menginjak kepala empat itu. Sesekali ia menyesap kopi panasnya dalam diam. Ia menolehkan kepalannya begitu mendengar suara bel pintu cafe yang menandakan bahwa ada pengunjung lain yang datang, senyumannya mengembang begitu tau orang yang ia tunggu sedari tadi sudah datang.

Tangannya melambai kecil memberi isyarat kepada orang itu, pelahan matanya mengikuti gerak pemuda yang tengah berjalan kearahnya dan menduduki tubuhnya tepat di hadapannya.

Sehun pemuda itu hanya terdiam tanpa berniat mengeluarkan satu katapun kepada orang yang sedari tadi menunggunya. Tatapannya tajam seakan mengisyaratkan kebencian dalam dirinya. Sampai akhirnya suara yang ada di hadapannya memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

“Kau terlihat sangat baik?” ujar namja paruh baya itu mencoba memecahkan keheningan diantara mereka. Sorot matanya seakan memancarkan kerinduan kepada sosok yang ada di hadapannya ini.

Sehun yang dipandangnya hanya menampakan senyum miringnya seolah meremehkan apa yang dikatakan Namja paruh baya itu.

“Kau bertemu denganku hanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja eoh?” jawabnya, nada bicaranya terdengar dingin.

Namja paruh baya itu hanya tersenyum kecil, ia tau anak semata wayangnya pasti akan bersikap seperti ini padanya. Ia mengerti mengapa Sehun begitu membencinya, mengingat betapa besar kesalahnya dulu yang ia buat kepada anak beserta istrinya. Sehun wajar membencinya, ia tau itu. Tapi sungguh ia sangat menyesali semua kebodohan yang perna ia buat dulu kepada keluarganya. Ia ingin mencoba memperbaikinya, ya walupun ia tau semua itu tidak mudah. Ia tau sebanyak apapun ia meminta maaf kepada mereka, itu semua tidak akan merubah semuanya seperti semula. Walaupun seperti itu, ia masih sangat berharap Sehun bisa memaafkannya, menerimannya lagi sebagai ayahnya, dan dapat tinggal bersamanya kembali. Ia sangat senang begitu Sehun mau menerima panggilannya ketika siang tadi ia mencoba untuk menghubunginya lagi, dan bahkan anaknya ini bersedia untuk bertemu dengannya. Ia tidak tau hal apa yang bisa membuat Sehun mau bertemu dengannya seperti ini. Mengingat selama ini Sehun tidak pernah mau menerima panggilannya dan bahkan untuk bertemu dengannya saja ia tidak sudi. Tapi itu semu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah Sehun anaknya menerima ajakannya utuk bertemu. Ini kesempatan bagus untuknya meminta maaf kepada Sehun dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan anaknya ini.

“Ne, itu adalah salah satunya”                                                                          

“Ck.. sejak kapan kau memperdulikan ku”

“Aku tau selama ini aku selalu mengabaikanmu dan bahkan tidak pernah perduli kepadamu sehunna, tapi sunggu Ayah menyesal atas apa yang Ayah lakukan kepada kalin berdua. Ayah ingin memperbaiki semuanya”

“Setelah apa yang kau perbuat selama ini dengan mudahnya kau mengatakan ingin memperbaikinya hah?!” Pekik Sehun. Pandangannya tajam. Dadanya terasa sesak berusaha menahan emosi yang telah menguasai dirinya saat ini.

“Aku tau perbuatan ku teramat besar untuk kalian maafkan. Tapi tidak bisakah kau memberi ku satu kesempatan untuk menebus kesalahan yang sudah aku perbuat selama ini?”

“Sudah cukup! semuanya sudah terlambat.. Tak ada gunanya kau meminta maaf kepadaku. Kau pikir dengan kau meminta maaf dan menyesali perbuatanmu. Kau bisa mengembalikan semuanya dan bembuat ibuku kembali lagi!”

Tuan Oh terdiam. Ia sudah tidak tau apa yang harus ia katakan kepada anaknya ini. Semua penyataan anaknya itu memang benar, ia memang tidak pantas untuk dimaafkan. Ia sudah telalu dalam menyakiti hati anak beserta istrinya. Jika saja ia bisa mengulangi waktu pada saat dimana ia melakukan kesalahan itu. Yang membuat istrinya pergi dan membuat Sehun anaknya menderita dengan apa yang ia perbuat. ia bersumpah ia benar-benar tidak akan melalukannya dan berusaha untuk selalu menjaga keluarganya. Tapi apa daya, semuanya sudah terlambat, ia hanya bisa menyesali semuanya. Menyesali kebodohan yang ia perbuat dulu. Dan menerima semua prilaku yang anaknya berikan padanya.

“Aku harus pergi..! masih banyak hal yang jau lebih penting yang harus aku kerjakan. Aku harap apa yang aku katakan tadi semuanya sudah jelas. Dan kumohon jangan ganggu hidupku lagi. Karna dengan kau melakukan ini, kau malah membuatku semakin tersiksa!”

Sehun beranjak dari tempat duduknya, ia melangkahkan kakinya dan meninggalkan Ayahnya tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun kepada Tuan Oh, yang kini memandang kepergiannya dalam diam.

******

Sehun mengemudikan mobil sport hitamnya dengan kecepatan tinggi, pandanganya fokus menatap kearah depan. Pikirannya masih melayang pada pertemuan dengan ayahnya di cafe tadi. Sungguh ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, ia begitu membenci Ayahnya tapi disisin lain ia juga merasa bersalah dengan sikapnya. Hatinya menginginkan untuk ia menerima ayhnya kembali tapi egonya berkata sebaliknya. Yura benar, ia memang benar-benar menderita terus berada disituasi seperti ini. Tapi ia tidak bisa, ia tidak bisa menerima Ayahnya begitu saja setelah apa yang Ayahnya perbuat.

Sehun memarkirkan mobilnya di depan apartemen Yura dan bergegan menuju lift yang membawanya ke lantai 8. Ia sangat membutukan Yura saat ini, entah mengapa hanya dengan bertemu dengan gadisnya ia akan merasa lebih tenang. Yura selalu membuatnya nyaman hingga membuat permasalahan yang sehun hadapi bisa hilang begitu saja. Hanya dengan berada di sisi kekasihnynya.

Ketika Sehun sudah berada didepan pintu apartemen Yura, Sehun langsung memasukan kode pengaman apartemen. Pintu itu pun terbuka. Ketika ia memasuki apartemen Yura, ia pun mendapati Yura tengah duduk di sofa menonton televisi. “Chagi” seru Sehun menghampiri Yura dan memposisikan duduknya di sebelah kekasihnya itu. “Oppah, kau kemari?” Yura tersenyum begitu Sehun memanggil dan menghampirinya.

“Hhmm” Sehun mengangguk lalu tersenyum. Ia menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Yura.

Yura hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, ia lalu mengelus rambut Sehun yang tengah tertidur diatas pangkuanya. “Kau kenapa Hhmm?” tanya Yura lembut.

“Tidak ada, aku hanya lelah” jawab Sehun masih dengan mata tertutup. Mencoba merasakan sentuhan lembut dari tangan kekasihnya itu. ‘Begitu nyaman’.

“Baiklah, kalau begitu kau tidur saja”

Yura tau Sehun sedang tidak dengan keadaan baik-baik saja,. Karna ia mengetahui jika pulang Sekolah tadi Sehun akan bertemu dengan Ayahnya. Tapi sepertinya ia lebih memilih diam dan membiarkan Sehun tenang terlebih dahulu.

******

Sehun mengerjapkan matanya begitu mendengar suara dari arah dapur. Dengan malas ia bangkit dari atas sofa, ia sedikit meringis saat ia merasakan pusing dikepalanya. Matanya menatap jam dingding yang sudah menunjukan pukul delapan malam, apa karena ia tidur terlalu lama sehingga membuat kepalanya sedikit pening. “Kau sudah bangun?” Sehun menoleh begitu mendapati suara Yura yang tengah mempersiapkan makan malam dari arah meja makan.

Sehun mengangguk, lalu menghampiri Yura yang tengah sibuk menata masakannya. “Mengapa kau tidak membangunkan ku?” ia lalu mendudukan tubuhnya di salah satu bangku sembari memperhatikan Yura yang tengah asik dengan kegiatannya.

“Aku tidak tega mebangunkan mu, kau terlihat sangat pulas oppah”

“Aku tertidur terlalu lama chagi.. kepala ku sedikit pusing”

“Apa kau sakit? Yura memandang Sehun cemas, ia menghampiri Sehun lalu menempelkan punggung tangannya di atas dahi Sehun. “Badanmu panas oppah”

“Aku tidak apa-apa chagi. Kepalaku hanya sedikit pusing saja” jawab Sehun dengan suara yang sedikit serak.

“Badanmu panas oppah, wajahmu juga pucat. Biar aku ambilkan obat untukmu” Yura lalu bergegas mengambil obat untuk Sehun dikamarnya. Tidak butuh lama ia lalu kembali dan menyuruh Sehun untuk meminumnya. “Oppah minumlah obat ini, tapi sebelum kau meminumnya kau harus makan terlebih dahulu” ujarnya sembari menaruh nasi dan beberapa makanan diatas piring Sehun.

“Ne gomawo chagi” Sehun hanya menurut dan tersenyum melihat perhatian yang diberikan Yura untuknya.

Yura lalu menduduki bangku di hadapan Sehun, matanya memperhatikan Sehun yang tengah mengunyah makanannya dengan tidak semangat. Wajahnya terlihat sangat pucat. “Lebih baik kau menginap disini Oppah, aku tidak tega jika membiarkanmu sendirian di apartemenmu dengan kondisi seperti ini”

“Kau tenang saja, aku tidak apa-apa” Sehun berusahan meyakini Yura, dia hanya tidak ingin membuat kekasihnya ini kahwatir dengan kondisinya.

“Aniyo…!” wajah Yura sedikit cemberut mendengar jawaban dari Sehun lalu tangannya dilipat diatas dada. Berusaha menunjukan ekspresi jika ia sedang marah. “Pokonya kau harus disini Oppah! aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu! sebentar lagi kita akan menghadapi Ujian Kelulusan. Bagaimana kau akan mempersiapkan Ujian itu jika kau sakit seperti ini. Jadi kau harus tetap disini sampai kau sembuh dan aku akan mengurusmu” Yura sedikit menyengir ketika mengatakan akhir dari kalimatnya.

Sehun hanya terkekeh melihat ekspresi Yura dan mengangguk setuju “Baiklah, baiklah”

Mendengar jawaban dari Sehun, seketika senyuman Yura mengembang. Menandakan bahwa ia puas dengan jawaban Sehun barusan.

 

TBC

Haaiii… Hallo… 😀 ini adalah ff pertama saya, jadi maaf ya kalo banyak kekurangannya. Dari bahasa maupun alurnya, dan maaf juga kalo ceritanya bikin kalian jenuh. Oh ya.. saya juga mohon keritik dan sarannya buat ff saya ini. Gpp ko mau kritiknya pedas atau gimana yang terpenting itu bisa biki ff saya lebih baik lagi untuk selanjutnya J oh ya, kalo responnya juga baik saya bakalan usahain buat ngepost kelajutan ff ini secepatnya 😀 itu juga kalo ada yang nunggu ff saya.. hhe… dan makasih juga buat yang udah baca ff saya yang jelek ini. ^^ Jangan lupa komentarnya ya ^^

23 responses to “[Freelance] I’m Sorry

  1. huhhh dari judulnya aja kayaknya bakal jadi emosional banget nich banyak sedihnya
    ditunggu kelanjutannya chingu

  2. ini maksud nya sehun ngeduain yura ya thor?? atau yura nya pergi terus sehun pacaran sama jinri??
    tapi bagus kok. aku suka 🙂 fighting.

    • Itu maksudnya yang saya kasih judul I’m Sorry, dan tulisanya tanda garis miring maksudnya flashback’a Sehun dan Yura sebelum Sehun pacaran sama Jinri 🙂 Makasih ya sudah baca dan komen ^^

  3. itu yang part sehun sama yura flashback kan??
    ini udah bagus untuk seorang pemula, paling EYD-nya aja yg kurang bener dikit.
    selebihnya i like it,,ditunggu kelanjutanya ya

    • iya itu flashback’a 🙂 Terimakasih sudah baca dan komen ff aku ya ^^ untuk EYD-nya nanti bakal aku perbaikin di ff selanjutnya.^^ ditunggu kelanjutannya ya 🙂

  4. Wahhh so sweet bngt,
    Lalu apa yura akan kembali thor???
    Kenapa yura pergi?
    Apa yura tdk memikirkan perasaan sehun???
    Next thor,

  5. kayanya ceritanya bakal full conflik dan sedih nih.. tapi kalo aku saranin sih ceritanya jgn full conflik yah.. diselingi apa ke gitu pokonya jangan kebanyakan masalah biar ga jenuh.. tp ini bagus ko udh bagus buat awal.. ditunggu kelanjutannya jgn lama2 yaa.. penasaran nih wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s