[Freelance] Do Kyungsoo! Accept My Love!!! (8/?)

kyungmin 3

Title     : Do Kyungsoo! Accept My Love!!! (8/?)

Cast     : Min Hyosun (OC) & Do Kyungsoo

Other’s            : Find by yourself, yes? Hehe~

Genre  : Sad, Romance, School Life

Rating : PG

Length : Chapter

Author : Song Hye Neul

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 ||

 

Chapter 7 Preview…

“Jadi, sampai kapan kau akan berdiri disitu dan mengabaikan tugas kelompok ini?”

“Baiklah, aku naik… sepuluh menit lagi aku turun.” Jawab Hyosun lalu melangkah lebar menuju lantai atas sambil menghentakkan kakinya kesal.

Dia pikir dia siapa? Membentakku seenaknya, huh… mengapa Tuhan bisa berpikiran untuk menganugerahkan orang tuanya anak semenyebalkan dia… batin Hyosun sambil mengganti pakaiannya.

*

*

“Aish, mengapa ini sangat rumit? Aku tidak sanggup lagi.” Gerutu Hyosun lalu merenggut kesal memandang kertas-kertas folio yang berceceran di hadapannya, tidak lupa Kyungsoo yang masih sibuk mencatat dari buku-buku tebal bacaannya.

“Hey! Do Kyungsoo… apakah kau tidak merasa jenuh membaca buku setebal itu?” tanya Hyosun yang kemudian memandang Kyungsoo datar.

“Bahkan kita baru mengerjakan tugas ini selama tiga puluh menit dan kau sudah mengeluh? Dasar yeoja manja.”

“YA! Aku tidak manja!!!”

“Kalau begitu lanjutkan mencatatnya, padahal kau sudah kuberi keringanan, masih saja mengeluh.”

“Keringanan kau bilang? Hey namja menyebalkan, aku tidak tahu tangannya nyaris putus menuliskan semua yang kau garis bawahi di buku ini… kau gila ya? Ini bukan merangkum lagi namanya, tapi menyalin satu buku penuh!” gerutu Hyosun lalu melempar pulpennya asal ke atas meja.

“Berhentilah mengeluh yeoja manja!”

“Jangan sebut aku manja!”

“Kalau kau tak mau kusebut manja, segeralah kau tulis! Masih ada tujuh halaman lagi yang harus kau lanjutkan untuk nomor dua.”

“MWORAGO?”

*

*

“Kyungsoo benar-benar gila, baiklah aku berterima kasih padanya karena ia mampu mendapatkan semua jawaban tugas kelompok kita dalam waktu kurang dari tiga jam, tapi kau harus tahu perjuanganku sejak pukul empat sore sampai pukul sebelas malam menuliskan jawaban yang ia temukan. Ia benar-benar makhluk menyebalkan yang pernah kukenal.” Gerutu Hyosun sepanjang jalan menuju kantin bersama dengan Mikan dan Jongdae.

“Hahaha, benarkah? Pantas saja selama jam pelajaran Sooyoung seonsaengnim kau enggan mencatat apa yang dijelaskan olehnya, ternyata…” sahut Mikan.

“Kau yakin kau sangat membenci Do Kyungsoo?” tanya Jongdae tiba-tiba

“Tentu saja, dia menyebalkan.”

“Seumur hidupmu kau akan menghabiskan waktu untuk membencinya?” tambah Jongdae lagi.

“Tentu saj… ya! Mengapa ka uterus menanyakan hal itu, ada apa denganmu?”

“Harusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu.” Balas Jongdae yang kemudian disikut oleh Mikan di lengannya.

“Aw! Ya! Chagiy—”

“Jangan dengarkan dia, abaikan saja, oh iya… bagaimana keadaan kepalamu? Apakah masih terasa pusing?”

“Tidak sama sekali, aku merasa jauh lebih baik sekarang.”

“Mungkin berkat mengenal Kyungsoo.” Sambung Jongdae lagi.

“Ya! Kim Chen! Hentikan omong kosongmu!” bentak Mikan.

“Omong kosong? Itu kenyataan, bukan?”

“Sudahlah, hey… mengapa kalian jadi berisik begini, ayo kita harus segera mencari tempat duduk dan memesan makanan.” Ujar Hyosun mendahului sepasang kekasih yang selalu ramai dengan pertengkaran itu.

“Kau gila? Kau mau membuatnya kembali mengingat Kyungsoo?” bisik Mikan kemudian.

“Memangnya kenapa? Kyungsoo juga berhak untuk kembali diingat.” Balas Jondae cuek.

“Sejak kapan kau peduli pada Kyungsoo dan Hyosun?”

“Memangnya sampai kapan kalian akan menutupi identitas Kyungsoo di depan Hyosun.”

“Hyosun sudah mengenalnya, Do Kyungsoo tetangganya, tidak ada yang kurang.”

“Jelas ada.”

“Apa?”

“Do Kyungsoo adalah bagian masa lalu yang penting dalam memori Hyosun.”

“Tapi kan Minseok oppa mengatakan kal—”

“Kau lebih memihak pada oppa idolamu itu daripada perasaan temanmu sendiri?”

“Bukan begitu, Chen…. Hanya saj—”

“Ayolah teman-teman, apakah kalian masih mendebatkan makhluk menyebalkan itu? Segeralah memesan, tidak lama lagi bel masuk akan berbunyi!” pinta Hyosun yang sudah mendapatkan tempat duduk dan membawa makanan pesanannya.

Jongdae dan Mikan langsung pergi memesan makan dan tak lama kemudian mambawa pesanan mereka dan duduk di hadapan Hyosun.

*

*

“Junmyeon oppa…”

“Ne?”

“Semalam…”

“Waeyo?”

“Semalam aku…”

“Waeyo Hyosun-ah? Ada apa semalam?”

“Aku memimpikan Kyungsoo lagi.”

“Mwo? Kau memimpikan Kyungsoo?”

“Di dalam mimpi aku bersepeda dengannya, aku melewatinya dan ia kemudian meninggalkanku, kemudian aku terbangun dan kepalaku tersa sangat pening, mengapa ia harus hadir dalam mimpiku, huh… tidak cukupkah ia mengganggu hidupku selama aku membuka mata?” gerutu Hyosun lalu menyesap lattenya.

Junmyoen yang duduk di hadapannya hanya bisa menghembuskan napasnya berat,

 

Flashback

“Menurutmu kapan ingatan Hyosun akan Kyungsoo kembali?” tanya Junmyeon pada Minseok saat keduanya baru keluar dari kelas Jaesuk seonsaengnim.

“Entahlah, wae?”

“Aku mulai khawatir, aku belum bisa dekat sekali dengannya namun Kyungsoo dengan mudahnya masuk ke dalam lembaran baru hidup Hyosun yang secara tak sengaja melupakannya karena insiden kecelakaan beberapa saat yang lalu.”

“Eomma dan appa juga mengusahakan ingatan Hyosun kembali meski secara perlahan, mereka kasihan pada Kyungsoo, padahal kalau kulihat ah ani… memang Kyungsoo juga menunjukkan tanda-tanda mendekati Hyosun agar Hyosun kembali mengingatnya.”

“Maksudmu?”

“Aku tak bisa memihak pada siapapun disini, kalaupun kalian berdua mati-matian mengejar Hyosun, aku angkat tangan dan tidak ikut campur, pada akhirnya hati Hyosunlah yang akan memilih.”

“Itu tandanya kau menerima salah satu diantara kita menjadi kekasih adikmu?”

“Tentu saja, siapapun pilihan Hyosun, asal itu membuatnya bahagia, aku akan mendukungnya. Hey bro, sekalipun kau tidak akan terpilih nantinya, kau tetap akan menjadi oppa untuk Hyosun, bukan?”

“Tapi, aku…”

“Jangan menyerah, perjuangkan cintamu. Bila perlu utarakan secepatnya kalau kau tidak mau didahului oleh Kyungsoo.”

“Bagaimana kalau aku ditolak?”

“Bro, sebagai namja kita harus menerima penolakan, jangan menjadi pengecut dan menciut hanya karena ditolak. Bukankah itu yang kau katakan padaku saat berulang kali aku ditolak oleh Min Ah?” tutur Minseok lalu merangkul bahu Junmyeon, menyalurkan semangat untuk teman sepermainannya itu.

Flashback End

 

“Oppa…” panggil Hyosun.

“…”

“Ya! Oppa! Junmyeon oppa…” panggil Hyosun lagi sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Junmyeon.

“Ah? Ne?”

“Kau tak mendengarkan ceritaku? Kau malah melamun, huh.” Hyosun langsung mempoutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Ah, mian Hyosun-ah. Tapi sekarang kau baik-baik saja, kan? Maksudku, kepalamu tidak sakit lagi, kan?” tanya Junmyeon lalu membelai lembut kepala Hyosun.

“Hm, gwenchana oppa, ah iya aku harus segera pulang, hari semakin sore, oppa.”

“Ne, kajja…” Junmyeon lalu berdiri dan berjalan menuju ke kasir untuk membayar pesanan mereka.

“Ini kembaliannya…”

“Ne, terima kasih ahjumma.”

“Ah, apakah kalian sepasang kekasih?” tanya bibi pelayan café saat Junmyeon hendak melenggang pergi bersama Hyosun.

“Ne?” tanya Junmyeon.

“Ah, kalian pasangan yang serasi. Kau tampan dan kau juga sangat manis nona.” Puji bibi pelayan toko disusul tatapan kaget kedua orang di hadapannya.

“Ah, begitukah?” Junmyeon kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aih, kekasihmu manis sekali nona, lihat, dia tersenyum malu dan wajahnya mulai memerah.” Goda bibi pelayan tersebut.

“Hahaha, Junmyeon oppa memang namja yang pemalu ahjumma, tapi… ahjumma jangan salah paham, dia ini adalah kakakku, bukan kekasihmu.” Jelas Hyosun yang langsung mendapatkan tatapan terkejut dari bibi pelayan café tersebut juga Junmyeon.

“Apakah itu benar anak muda? Ah, aku salah paham tampaknya, maaf…”

“Ah e… gwenchana ahjumma, kami… kami pergi dulu, permisi.” Junmyeon menunduk dan berjalan mendahului Hyosun.

“Oppa… ya! Oppa… tunggu aku.” Pekik Hyosun yang berlari mengejar langkah Junmyeon.

Mobil yang diparkir oleh Junmyeon ada di seberang jalan, sementara Hyosun masih tertinggal jauh di belakang Junmyeon tanpa Junmyeon sadari, ada perasaan kesal ketika Hyosun secara terang-terangan berkata hanya menganggap dirinya sebatas seorang kakak, tidak lebih.

Hyosun masih mencoba menembus kerumuman orang yang berlalu lalang di sekitarnya, keadaan jalan raya sedang padat-padatnya dengan orang yang baru pulang dari kantor juga anak sekolahan yang baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler di sekolah mereka juga beberapa pasang anak muda yang menghabiskan waktu mereka berdua sampai sore hari.

Lampu penyeberangan menandakan warna merah bagi pejalan kaki untuk berhenti, namun tidak dengan Hyosun, ia tak memperhatikan lampu penyeberangan dan terus berlari menembus kerumunan orang yang mulai berhenti di tempat pemberhentian, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kencang tak jauh dari tempat Hyosun berlari dan menyebabkan semua orang meneriaki Hyosun untuk berlari kembali namun terlambat…

Tiba-tiba saja…

BRAKKK…

 

 

“Neo gwenchana?” Hyosun terjatuh dalam pelukan… Kyungsoo (>,<)

“Kyu…Kyungsoo… Do Kyungsoo?”

Beberapa orang mengerumuni mereka,juga Junmyeon yang tiba-tiba juga sudah berdiri di depan mereka berdua, tanpa berkata sepatah katapun.

Sial, bagaimana bisa aku melupakan Hyosun, batin Junmyeon lalu meremas tangannya kuat.

“Ah, nona untung kau selamat…”

“Kau baik-baik saja, kan nona?”

“Untung namja tampan ini segera menolongmu.”

“Tapi, sepedanya rusak…”

“Ah, namja malang, tapi kau seorang pahlawan.”

Begitulah beberapa pujian juga ungkapan kasihan yang keluar dari mulut beberapa orang di tempat tersebut.

*

*

“Ah, lenganmu terluka Kyungsoo-ya, maafkan aku. Gara-gara aku…”

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, aku baik-baik saja, lain kali kalau menyebrang lihatlah lampu penyeberangan, jangan asal menyeberang saja. Menyusahkan.”

Hyosun hanya bisa menunduk sedih, ia tidak dapat melakukan protes karena ini memang salahnya, ia dan Kyungsoo dan jangan lupakan Junmyeon kini berada di sebuah klinik dekat café yang tadi didatangi olehnya dan Junmyeon.

“Aku yang salah, gara-gara berjalan dengan terburu-buru, aku jadi melupakan Hyosun di belakang.”

“Jadi begitu caramu memperlakukan wanita? Astaga, aku bahkan tidak mengerti betapa baik hatinya Hyosun kalau masih mau bepergian dengan namja sepertimu.” Balas Kyungsoo geram.

“Ya! Lagipula aku tidak sengaja melupakannya.”

“Tidak sengaja kau bilang? Bayangkan kalau kau sedang berjalan dengan ibumu sendiri, mana ada alasan kau tidak sengaja melupakan ibumu? Cih.”

“Sudahlah kalian berdua, Kyungsoo-ya, kita berdua sama-sama mengaku bersalah sekarang, kau sudah puas? Jangan mentang-mentang kau sudah menyelamatkan nyawaku kau jadi merasa sok pahlawan begitu.”

“Siapa yang sok pahlawan? Gara-gara menyelamatkanmu aku harus kehilangan sepedaku. Itu lebih menyedihkan.”

“Mwo? Jadi kau menolongku karena terpaksa begitu?”

“Tentu saja, pikirkan juga tugas kelompok kita, masih banyak yang harus kau catat. Bayangkan kalau tadi kau tak kuselamatkan, pasti kau sekarang berada di rumah sakit lagi dan akhirnya merepotkanku untuk menyelesaikan tugas itu sendirian.”

“Aish jinjja, bahkan di saat seperti ini yang kau pikirkan adalah pelajaran? Ckckck, bahkan Albert Einstein tidak seperfeksionis dirimu!”

“Sudahlah hey… bisakah kalian berdua akur dalam waktu sehari saja?” tanya Junmyeon malas.

Kyungsoo dan Hyosun saling membuang muka.

“Cepatlah obati lukamu! Kita harus segera kembali, hari semakin gelap.”

“Aku bisa naik bus, kau saja yang pulang sana!”

“Ya sudah kalau begitu, ayo oppa… jangan membuang-buang waktu menunggu namja menyebalkan seperti dirinya.”

“Eh, kau benar akan kembali dengan bus?” tanya Junmyeon sedikit khawatir, mengingat keadaan Kyungsoo yang tidak begitu baik dengan celana seragam yang cukup kotor dan lengan yang terluka.

“Tidak perlu sok peduli, pergilah bawa yeoja cerewet ini pulang, pastikan kau bisa menjaganya dengan baik, tidak seperti tadi.”

Hyosun lalu merenggut sebal dan keluar dari klinik tersebut disusul oleh Junmyeon.

*

*

“Lalu bagaimana keadaan Kyungsoo sekarang?” tanya Minseok pada Hyosun.

“Molla…”

“Ya! Bukankah dia yang menyelamatkanmu? Harusnya kau tahu kondisinya sekarang.”

“Aku tidak peduli, oppa.”

“Aigo, kau bahkan tak berterima kasih padanya, coba kalau tidak ada Kyungsoo disana, kau pasti sekarang sudah dirawat lagi di rumah sakit.” Celoteh Minseok sambil menghabiskan satu box roti yang ia bawa dari ruang makan (baozi dasar -_-).

“Aku sudah minta maaf…”

“Berterima kasih!”

“Emm… itu…”

“Lihatlah kelakuanmu pada tetanggamu sendiri, aigo aigo…”

“Oppa… mengapa kau malah membelanya?”

“Aku tidak membelanya, bukankah eomma mengajarkan kita untuk berterima kasih atas pertolongan dari orang sekecil apapun itu?”

“Ne, aku tahu, tapi—”

“Temui dia dan berterima kasihlah, mungkin dengan begitu hubungan kalian berdua akan lebih membaik dari sebelumnya.” Ujar Minseok bijak.

“Shireo…”

“Ya! Wae? Hanya berkata terima kasih, kan?”

“Dia pasti akan menertawakanku setelah aku mengucapkan terima kasih, atau mungkin ia malah tidak memaafkanku.”

“Kau belum mencoba dan sudah berspekulasi yang tidak-tidak, yeoja aneh.” Cibir Minseok lalu keluar dari kamar Hyosun.

*

*

Hari Minggu, hari dimana Hyosun (sebelum mengalami amnesia) uring-uringan tak jelas di kamarnya karena ia membenci hari itu, hari dimana ia tak bisa melihat Kyungsoo seharian (padahal mereka bertetangga -_-), hari dimana ia harus menahan rindu setengah mati akan pujaan hatinya (alay maksimal emang Hyosunnya) kini malah berubah menjadi hari dimana dirinya masih bermalas-malasan di kasur empuknya, mengabaikan pekikan Minseok yang mengajaknya untuk jogging (rencananya Minseok mau diet gitu karena dikatain gendut sama Min Ah, hahaLOL), mengabaikan teriakan ibunya untuk membantu membuat sarapan di dapur dan mengabaikan bunyi alarmnya yang sudah berdering untuk yang ke-dua belas kalinya (itu kuping kebal banget sama suara alarm sumpah).

“Hoaaam…” ia baru membuka matanya saat angka di jam wekernya menunjukkan pukul sepuluh pagi.

“…eung, mengapa sepi sekali di bawah?” tuturnya sambil mengucek matanya dan berjalan turun ke lantai bawah.

“Eomma…” panggilnya namun tidak ada sahutan dari dapur.

“Minseok oppa…” pekiknya ke ruang keluarga namun tidak mendapat jawaban.

“Ap…eh?” Hyosun menemukan sticky note yang menempel di kulkas, sebuah pesan dari ibunya.

 

Eomma dan appa Kim berkunjung ke rumah teman eomma, sarapan sudah tersedia di meja makan, jangan lupa ajak oppamu makan, ne.

 

“Aish, eomma… Minseok oppa bahkan tidak ada di rumah.” Gerutunya lalu membuang catatan memo ibunya ke tempat sampah dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci wajahnya yang masih kusut dan mengantuk (astaga WASTAFEL -_-).

Usai mencuci mukanya Hyosun memandang rumah Kyungsoo dari jendela dapurnya.

“Sedang apa dia?” gumam Hyosun yang mendapati Kyungsoo sedang membawa obeng juga beberapa perkakas di tangan kiri dan kanannya.

Hyosun menuju ke meja makan dan mengambil sepotong roti bakar lalu berjalan keluar rumahnya, menghampiri tetangganya yang tampak sibuk pagi itu.

“Kau sedang apa?” tanya Hyosun yang menyembulkan kepalanya dari pagar pembatas rumahnya dan rumah Kyungsoo.

“Kau mau tahu sekali, ya?”

“Aku bertanya baik-baik Kyungsoo-ya, jangan membuat keributan di pagi hari!”

“Memangnya aku mengajakmu untuk bertengkar?” balas Kyungsoo kemudian.

“Mengapa kau tidak membeli sepeda baru saja? Itu benar-benar sudah tidak layak pakai.”

“Seharusnya orang yang merasa bersalah atas pertolonganku kemarin yang membelikan.”

“Kau menyindirku?”

“Baguslah kalau kau tahu diri.”

“Berapa, sih harganya? Paling tidak semahal tab baru milik Minseok oppa.”

“Ini bukan masalah harganya…”

“Lalu?”

“Ini satu-satunya pemberian dari appaku sebelum beliau meninggal.” Ujar Kyungsoo kemudian.

Appa Kyungsoo sudah men…tunggu dulu, bukankah suami dari bibi Do juga…ah dia bukannya keponakan dari bibi Do? Mungkin dia sudah menganggap paman Do sebagai ayahnya sendiri, ya pasti begitu. Batin Hyosun kemudian.

“Bisakah kau pergi?”

“Ya! Kau mengusirku? Bahkan aku berdiri di tanah milikku sendiri, bukan di depan rumahmu.”

“Kau membuat pekerjaanku tidak selesai.”

“Ya! Aku bahkan tidak mengganggumu!”

“Suaramu sangat bising, mengganggu pendengaranku, kau tahu polusi suara, kan?”

“Ya! Suaraku tidak sampai menimbulkan polusi namja menyebalkan!”

“Itu terhitung polusi…”

“Huh!” Hyosun merenggut lalu berbalik menuju rumahnya, meninggalkan Kyungsoo yang malah terkekeh geli melihat tingkah kekanakan Hyosun.

“Aw! Ya! Roti selai milik siapa ini, aish jinjja… aku bahkan baru mencuci rambutku pagi ini.” Gerutu Kyungsoo kemudian.

“Rasakan kau!” gumam Hyosun lalu berlari masuk ke dalam rumahnya.

*

*

“Oppa…” rengek Hyosun yang sedang uring-uringan di pangkuan Minseok di depan televisi.

“Hm?”

“Kapan eomma kembali?”

“Molla.”

“Aku lapar, oppa…” rengek Hyosun dengan aegyo andalannya yang hanya ditanggapi dengan hembusan nafas geram Minseok.

“Lalu?”

“Bagaimana jadinya kalau aku mati kelaparan nanti?”

“Ya sudah, mau bagaimana lagi.”

“Ya! Oppa! Kau sud—”

Ting Tong (anggap aja suara bel rumah kayak gitu)

“Eh, ada tamu! Atau jangan-jangan kau memesan makanan di luar ya, oppa?”

“Tidak, buka sana pintunya!”

Hyosun segera berlari secepat kilat (?) menyambar gagang pintu depan dan…

“Kau?”

“Ini… kau pasti belum makan.”

“Whoa… pasti rasanya lezat.”

“Tentu saja, apalagi untuk perut orang kelaparan seperti dirimu.” Cibir Kyungsoo yang membawakan semangkuk besar samgyupsal untuk tetangganya itu.

“Kau repot-repot memasakkan untukku dan Minseok oppa? Kau tetangga yang lumayan baik ternyata.” Puji Hyosun lalu mengambil mangkuk tersebut dari tangan Kyungsoo.

“Bukan aku yang memasaknya…”

“Siapa Hyosun-ah?” pekik Minseok dari dalam.

“Bukan orang penting oppa!”

“Ya! Bukan orang penting? Apa maksudmu?”

“Baiklah, kau orang penting karena telah menyelamatkan nyawaku di siang ini dengan membawakan hmm…” Hyosun membaui makanan yang ada di tangannya.

“…eh? Mengapa kau tidak kembali juga?”

“Menurutmu?”

“Ah, kau menunggu ucapan terima kasih, ya? Cih… ternyata masih mengharapkan pamrih, baiklah… terima kasih tetanggaku Do Kyungsoo yang lumayan baik hati hari ini.” Ujar Hyosun disertai senyuman terpaksa.

“Bukan itu yang kubutuhkan.”

“Lalu?”

“Setelah kau memakan samgyupsalmu, kita langsung menyelesaikan essay yang kemarin. Beberapa hari lagi sudah harus dikumpulkan.”

“Aish, bisakah kau melupakan itu dalam sehari saja? Bukankah masih ada waktu empat hari lagi? Itu masih sangat lama Kyungsoo-ya.”

“Bukankah katamu—”

“Baiklah, arraseo… lebih cepat lebih baik, kalau begitu tunggu di luar, aku akan kembali tiga puluh menit lagi.”

“Apakah harus selama itu kau menghabiskan makanannya, huh?”

“Huh, namja menyebalkan, baiklaaaah aku akan kembali secepatnya!” gerutu Hyosun lalu masuk ke dalam rumahnya.

Kyungsoo hanya terkekeh lalu duduk di bangku teras rumah Hyosun.

“Kuharap ingatannya segera kembali.” Ujar Kyungsoo pelan.

*

*

“Ah, akhirnya selesai juga…” ujar Hyosun lega lalu merengganggkan otot mata dan tangan tak lupa lehernya yang ia paksakan menunduk selama tiga jam menyelesaikan tugas kelompoknya bersama dengan Kyungsoo.

“Ini masih salah.” Tutur Kyungsoo menunjuk halaman terakhir yang dituliskan oleh Hyosun.

“Mwo? Apanya yang salah?”

“Penulisan nama ilmiahnya salah, bacalah ini… dan lihat apa yang kau tulis di kertas folio itu.” Kata Kyungsoo lalu menyodorkan buku tebalnya yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Hyosun.

“Tidak terima kasih.”

“Ya!”

“Kau kan sejak tadi hanya membaca dan tidak merasakan sensasi lelahnya menulis berlembar-lembar folio itu, jadi kalau ada salah kau saja yang memperbaikinya.”

“Enak saja, nanti tulisannya akan berbeda.”

“Aku tidak mau! Aku sudah lelah!”

“Ayolah, hanya memperbaiki delapan baris saja.” Bujuk Kyungsoo akhirnya.

“Kau gila? Baiklah, kalau delapan baris hanya beberapa kalimat, tapi ini sudah menyerupai paragraph, tidak mau! Kau saja!”

“Ya! Min Hyosun!”

“Apa Tuan Do Kyungsoo yang menyebalkan?”

“Aish, baiklah aku yang akan memperbaikinya.”

“Baguslah, sudah selesai, kan? Aku mau masuk, kau segeralah pulang.” Usir Hyosun lalu berdiri dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah.

“Ehm Hyosun-ah…” panggil Kyungsoo yang juga ikut berdiri dari duduknya.

Hyosun menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Apa lagi?”

“Anieyo… masuklah, aku kembali dulu.”

“Huh, dasar namja aneh.” Gumam Hyosun lalu masuk ke dalam rumahnya.

*

*

“Berhenti memperhatikanku!”

“Ah, kau pasti gugup ya kupandangi terus?”

“Aku tidak suka.”

“Karena kau gugup, itu tandanya kau juga suka padaku Kyungsoo-ya.”

“Bisakah kau keluar? Kau sangat menggangguku.”

“Tapi aku tidak merasa mengganggumu, aku sejak tadi diam saja mengamatimu, kau saja yang terus mengajakku berbicara.”

“Aku mengusirmu, bukan mengajakmu bicara, bodoh!”

“Kau harusnya khawatir padaku, menanyakan kondisiku setelah kejadian tadi pagi.”

“Tampaknya kau sudah baikan, ah tidak… kau semakin tidak normal.”

“Kyungsoo-ya… apakah kau terbiasa membaca dengan keadaan seperti itu?”

“Demi Tuhan, bisa diam tidak sih kau ini!?”

“Tapi, itu… bukumu, terbalik.”

Gotcha!’ Hyosun tersenyum licik.

“Apa?”

“Ada dua hal yang semakin meyakinkanku kalau kau tampaknya mulai menyukaiku, pertama… kau gugup saat kupandang dan kedua… kau sampai salah tingkah dan membaca buku bacaanmu dalam keadaan terbalik.”

 

Hyosun terbangun dari tidurnya, setelah mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Kyungsoo ia langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan diri di atas kasur dan tertidur pulas, ia memegang kepalanya sambil meringis.

“Mengapa ia harus datang di dalam mimpiku?” gumamnya lalu mencoba berdiri namun ia kehilangan keseimbangannya dan terduduk lagi.

“Tapi… mengapa terasa seperti aku pernah mengalaminya? Aw… kepalaku.” Gumamnya lagi lalu memegang kepalanya yang terasa semakin pening.

 

“Hai Do Kyungsoo! Apakah harimu menyenangkan?”

“Kau lagi.”

“Aku tidak tahu kalau sekarang kau senang sekali bersepeda di siang yang sepanas ini.”

“Kau sendiri?”

“Ah, aku tadi sebenarnya malas sekali keluar, tapi saat kulihat kau keluar dari rumah membawa sepedamu, aku jadi ingin mengikutimu, deh.”

“Kau selalu memperhatikanku, ya?”

“Selalu!”

“Kau tak bosan?”

“Tidak sama sekali…”

“Kau baru bangun dan langsung mengejarku?”

“Eo?”

“Kau masih memakai baju tidur dibalik blazermu, bodoh!”

“Ah, hehe… kau memperhatikanku sampai sebegitu detailnya, aku jadi malu.”

“Menjijikkan.”

“Oh iya, bagaimana kalau kita ke taman, membeli es krim, lalu duduk berdua di bawah pohon yang rindang, ah… aku juga membawa ponsel, kita bisa mengambil gambar berdua, waaah sangat romantis, bukan?”

“Lakukan saja dengan namja lain, aku tidak ada waktu.”

“Tapi kau ada waktu untuk bersepeda.”

“Tidak untuk hal bodoh seperti itu.”

“Kyungsoo-ya… jebal, jadilah orang yang romantis sekaliiii saja. Jebal!”

“Shireo! Untuk apa juga aku romantis dengan seseorang yang bukan kekasihku.”

“Anggap saja aku kekasihmu, otte?”

“Shireo!”

“Ish, ya sudah, kalau begitu kita bersepeda saja, aku akan menemanimu sampai kau lelah.”

“Terserah…”

“Ya! Do Kyungsoo! Tunggu aku!”

 

“Aw… mengapa kepalaku jadi pusing begini?” ucap Hyosun tak kuat lagi lalu terlihat beberapa kali memukuli kepalanya sendiri, menjambak rambutnya lalu kembali mencoba berdiri dan kemudian terduduk di lantai.

“Mengapa dia selalu hadir di dalam pikiranku? Aw… jinjja, ini benar-benar sakit.” Gumamnya semakin rintih, perlahan pertahanannya roboh, semua yang ada dalam jarak pandangannya terlihat kabur dan kemudian gelap.

 

To be Continued…

 

Ceritanya makin absurd gak siih -_-

Aku berniat hiatuslah setelah ini, hiatus dari ff chapter aja sih, heheu…

Abisnya, duh setelah part ini tuh bener-bener hopeless banget…

Bingung mau ngelanjut gimana, bener-bener kehilangan feel sama sekali pada Kyungsoo (diceburin EXO-L ke danau). Terus ottokhae dong~ mana yang komen segitu-segitu mulu~ kan sedih… makin gak semangat ngelanjutinnya. #deepsigh

Makasih yaa kalian masih ada yang mau komen bahkan nunggu padahal lama banget part-part yang sebelumnya di publish bahkan kalian sampe lupa jalan ceritanya.

Maaf kalo isinya masih belum memuaskan, ini dikarenakan mood aku yang naik turun gaje, heheu.

Oke sekian cuap-cuapnya, sampai jumpa suatu waktu nanti, saat feel buat aku ngelanjutin ff ini datang lagi~

72 responses to “[Freelance] Do Kyungsoo! Accept My Love!!! (8/?)

  1. Author….lanjutin dong plisss huhuhu masi seru biar uda aku baca berkali” huaaa
    Gimana kelanjutan mreka authorr hiks
    Authorr smangaat ayo dong d lanjut ampe tamat , pasti readers yg laen juga penasaran ^^ smangat

  2. lanjutin ff nya dong please… kan gak enak kalau di gantung.. #nunjuk hati. aaaaa!!! jebal… udh satu tahun lo,,, kan gk lucu bgt kalo harus nunggu ampe 2016? beneran deh penasaran setengah mati.. jadi kuhomon dengan amat sangattttt,,, lanjutkan ff anda agar saya tdk kecewa dgn tulisan2 anda selama ini atau setelahnya.

  3. Author lanjutin dong pleasee, penasaran banget nih sama kelanjutannya apa ingetan hyosun bakal balik lagii? Terus kyungsoo bakal lebih terbuka lagi sama hyosun? please lanjutin ya thor

  4. thor lanjut dong… uda nunggu lebih 5 bulan nihhh… cetitanya daebakkk!!!! ngantung bngt nihh thor.. 😥

  5. helllooo tes”,,,
    kmna kau Autor ? kpn akan menunaikan kewajibanmu melanjutkan chapter selanjutnya ?? hehehehe
    ayoooo dong lanjutin thorrr,
    se-ma-ngat!!se-ma-ngat!semaaangat!!!!!!! ><

  6. yah yah padahal masih seru kok hiatus? duh ini ceritanya keren lho.. ayo dong dilanjut ya ya.. *bujuksiauthornya hehehe

  7. Tolong kak dilanjutkan, kalau chapter seterusnya ending kok enggak papa kerna aku suka sama ff ini!!!!! Min, tolong lanjutin min pleaseee

  8. Huuuuuu,!!! Author ku sayang.. *Alay bener* Aku mohon lanjutin yea ceritanya sampe chapter sebanyak_banyaknya, Sangat di sayangkan kalo chapter nya nggk di lanjutin. Soalnya ceritanya, Huuuh, DAEBAK bangeeet Authorniem.. Jadi permintaan ku cuma satu please di lanjutin ya, untuk chapter 8 nya.. Soalnya aku udah terlanjur OVERDOSE sama Ceritanya..
    Aku suka sama jalan ceritanya saat hyesun hilang ingatan, bagus lah, itu akan membuat kyungsoo menyadari betapa berartinya hyesun,yg ngejar_ngejar dirinya selama INI !!!!
    thor please,please,PLEASE..!!! Lanjutin yaaa??
    Kalo nggk di lanjutin,aku akan DEMO ke rumahnya Author. Anggep ajja cuma iklan berlalu *Plak*..
    Aku serius thor,di lanjutin yaah.. Aku akan senantiasa menanti chapter Selanjut nya. Keep Writing And Fighting. Bye,bye.
    Love you ..

  9. Huuuuuu,!!! Author ku sayang.. *Alay bener* Aku mohon lanjutin yea ceritanya sampe chapter sebanyak_banyaknya, Sangat di sayangkan kalo chapter nya nggk di lanjutin. Soalnya ceritanya, Huuuh, DAEBAK bangeeet Authorniem.. Jadi permintaan ku cuma satu please di lanjutin ya, untuk chapter 8 nya.. Soalnya aku udah terlanjur OVERDOSE sama Ceritanya..
    Aku suka sama jalan ceritanya saat hyesun hilang ingatan, bagus lah, itu akan membuat kyungsoo menyadari betapa berartinya hyesun,yg ngejar_ngejar dirinya selama INI !!!!
    thor please,please,PLEASE..!!! Lanjutin yaaa??
    Kalo nggk di lanjutin,aku akan DEMO ke rumahnya Author. Anggep ajja cuma iklan berlalu *Plak*..
    Aku serius thor,di lanjutin yaah.. Aku akan senantiasa menanti chapter Selanjut nya. Keep Writing And Fighting. Bye,bye.
    Love you so much.. heheh

  10. Huuuuuu,!!! Author ku sayang.. *Alay bener* Aku mohon lanjutin yea ceritanya sampe chapter sebanyak_banyaknya, Sangat di sayangkan kalo chapter nya nggk di lanjutin. Soalnya ceritanya, Huuuh, DAEBAK bangeeet Authorniem.. Jadi permintaan ku cuma satu please di lanjutin ya, untuk chapter 8 nya.. Soalnya aku udah terlanjur OVERDOSE sama Ceritanya..
    Aku suka sama jalan ceritanya saat hyesun hilang ingatan, bagus lah, itu akan membuat kyungsoo menyadari betapa berartinya hyesun,yg ngejar_ngejar dirinya selama INI !!!!
    thor please,please,PLEASE..!!! Lanjutin yaaa??
    Kalo nggk di lanjutin,aku akan DEMO ke rumahnya Author. Anggep ajja cuma iklan berlalu *Plak*..
    Aku serius thor,di lanjutin yaah.. Aku akan senantiasa menanti chapter Selanjut nya. Keep Writing And Fighting. Bye,bye.
    Love you so much.. heheheh

  11. Udah sampe JAMURAN aku nunggu Ni FF di lanjutin ke chapter 9 Nya, eeeeh tapi nggk kunjung2 di lanjutin *Kagak ada tanda tanda : (
    Thor, knapa siiih, gantungin perasaan nya aku. : (
    Lanjutin donk, udah bertahun_tahun Nunggu Nya niiih
    : ( :C 😀

  12. authornim,,,,ayo donk di lanjut,,,accep my love,,Kyung-soon nya,,,!!sampe finish,!!!jd kn ga penasaran!!!! kn bnyak yg nunggu!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s