[Freelance] [EVENTUALLY] From The Past Be The Last (Chapter 4)

EVENTUALLY--From The Past Be The Last [Chap 4]

Title:

[EVENTUALLY] From The Past Be The Last (Chapter 4)

Author/Twitter:

WhiteFlow/@nisrinaap

Main Cast:

Kris (EXO-M) as Kevin Wu | Shin Luna (OC)

Other Cast:

Baekhyun (EXO-K) as Byun Baekhyun | Luhan (EXO-M) as Xi Luhan | Baek Hana (OC) | Coming Soon

Genre:

Romance, Life

Rating:

Teen

Length:

Chapter

Disclaimer:

The story pure written by myself, so don’t do plagiarism to this fanfiction. Let’s check it out! 😉

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 →

Kevin POV

Dengan lemas aku membuka pintu ruang kerjaku. Hari ini benar-benar super sibuk, pemotretan sudah di mulai dari jam 12 siang tadi hingga nanti jam 7 sore. Ini hanya 1 proyek saja, 1 pemotretan photobook album terbaru Lee Jieun, penyanyi solo wanita yang biasa dikenal sebagai IU. Sungguh aku bersyukur bahwa pihak agensi IU menyerahkan pengaturan jadwal pemotretannya padaku, jadi aku bisa menuliskan jam istirahat semauku. Di jadwal itu ku tuliskan pada jam 3 siang waktu istirahat dengan durasi 60 menit, cukup untukku makan siang dan berbaring di kursi kerjaku.

 

Aku menatap langit-langit ruang kerjaku sambil memejamkan kedua mataku. Ruang kerjaku tentu tak seperti ruang kerja pemilik perusahaan yang bergerak di bidang perindustrian musik dengan meja kerja mewah, kursi kerja yang eksekutif, sofa mewah yang mewah, dan lemari koleksi benda kesayangan yang terletak di sepanjang dinding sebelah meja kerjaku seperti milik Yang Hyunsuk. Perabotannya memang itu, tetapi tak semewah milik mereka tanpa lemari koleksi benda kesayangan. Di tempatku memang terdapat lemari yang terletak di sepanjang dinding sebelah meja kerjaku, tapi lemari itu berisikan portofolio hasil jepretanku dan para fotografer yang bekerja di studioku sejak studio foto ini berdiri.

 

Tiba-tiba teringat olehku kejadian tadi saat aku memeluk Luna di bandara. Apa aku benar-benar masih kehilangan diriku sebagai Kevin Wu? Ini semua benar-benar di luar dugaanku. Di satu sisi aku merasa aku benar telah melakukan itu, tetapi di sisi lain aku mengatakan itu tindakan yang salah. Saat tadi memeluk Luna dalam diriku benar-benar tak ada penolakan, tapi mengapa sekarang aku merasa benci terhadap diriku sendiri karena tadi aku memeluk Luna. Entahlah aku sendiri tak paham dengan sikapku. Aku merasa benci pada diriku akhir-akhir ini. Sekarang aku lebih sering berperang dengan dengan diriku sendiri mempermasalahkan apa yang aku lakukan sendiri.

 

Kubuka kedua kelopak mataku untuk menghilangkan bayang-bayang kejadian saat di bandara tadi. Kenapa itu bisa dengan seenaknya muncul di pikiranku? Apa aku mengkhawatirkan sesuatu yang berkaitan dengan kejadian itu?

 

 

Author POV

Pandangan Luna tak pernah lepas dari pemandangan yang ada di sebelah kirinya. Dengan diiringi lagu penghantar tidur, itu tak membuat Luna terpejam memasuki alam bawah sadarnya. Tatapannya seakan kosong memandangi pemandangan itu. Sedetik pun ia bisa saja tak berkedip. Ia bukan merenungi keindahan pemandangan yang ada di hadapannya sekarang, melainkan sesuatu yang lain. Seolah meminta jawaban kepada awan-awan itu, tetapi sayang mereka tak bisa menjawabnya dan Luna pun memutuskan untuk memalingkan wajahnya mengacuhkan awan-awan yang tak berkutik sedikit pun itu.

 

Sejak kejadian itu Luna lebih memilih untuk irit bicara. Entah apa yang sedang ia pikirkan, yang pasti ia sekarang lebih tak banyak bicara dari sebelumnya. Ia juga sekarang sering melamun dengan jangka waktu yang cukup lama. Tak jarang Baekhyun mengajaknya bercanda seperti biasanya, tapi responnya dapat membuat Baekhyun cukup bungkam dan memilih untuk mendiamkan Luna. Dia hanya akan merespon dengan berkata “benarkah?” lalu “seperti itu kah?” atau “oh, begitu…” dan lebih parahnya lagi hanya seulas senyuman tanpa mengucap satu kata pun.

 

SREKK

 

Luna menoleh ke arah kanannya dan mendapati seorang Byun Baekhyun yang tenang sedang tertidur di bahunya. Tanpa sadar ia menyunggingkan seulas senyum. Cukup lama ia memandangi Baekhyun hingga ia memutuskan untuk mengikuti Baekhyun masuk ke dalam dunia mimpi.

 

 

Ja!! Ini untuk oppa!”

 

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan mendapati Luna dengan 2 gelas minuman ditangannya. Ia membalik badan menghadap Luna lalu mengambil gelas yang berada di tangan Luna yang terulur. Diminumnya minuman itu tanpa bertanya minuman apa itu kepada Luna.

 

“Pelan―”

 

“Ah! Ya! Lun, kau mau membuat lidahku mati rasa?”

 

“Aku sudah akan mengingatkan oppa, tapi oppa tidak mempedulikanku.”

 

Luna menyeruput minumannya sambil menggerakkan kakinya menuju kursi tunggu yang berada di sebelah Baekhyun lalu duduk. Seolah tak peduli, tak sedikitpun Luna melirik Baekhyun. Ia terus saja menyeruput minumannya hingga tak bersisa.

 

“Mana Manajer Lee?”

 

“Setelah kita sampai di New York kau baru saja menanyakannya?”

 

Baekhyun yang tadinya masih sedang menyeruput minumannya hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Luna.

 

Eoh, kenapa? Bukankah kita duduk di sini untuk menunggu Manajer Lee?”

 

“Manajer Lee tak bisa ikut bersama kita, anaknya sedang sakit dan harus opname.”

 

Dengan santainya Baekhyun menjelaskan perihal ketiadaan Manajer Lee kepada Luna. Dan seketika jawaban Baekhyun berhasil membuat Luna membulatkan matanya dengan menatap Baekhyun sangat tajam. Baekhyun yang merasa menerima tatapan tajam dari Luna tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan kegiatan meminumnya.

 

“APA?!? Ja..ja..jadi hanya kita berdua saja?”

 

Suara Luna seketika naik 3 oktaf dan sukses membuat semua orang yang sedang berada dalam jangkauan 5 meter dari tempatnya duduk menoleh padanya yang disertai dengan tatapan tajam mereka. Baekhyun yang duduk tepat di sampingnya menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya ketika suara Luna yang naik 3 oktaf itu keluar dari mulut Luna. Dan mereka berdua pun diam sejenak setelah menyadari banyak pasang mata yang sedang menatap mereka tajam.

 

“Bisakah kita menyingkir dari tempat ini untuk langsung menuju apartemenku?”

 

Bisik Baekhyun kepada Luna tanpa melepaskan tatapan was-wasnya terhadap banyak pasang mata yang sedang memandangi mereka berdua dengan tajam.

 

 

Luna POV

Rehearsal pertama fashion show New York Fashion Week akan diadakan pada jam 8 malam ini. Sebenarnya ini sulit bagi kami berdua harus pergi ke tempat pagelaran malam ini karena kami mengalami jetlag setelah berjam-jam naik pesawat dari Seoul menuju New York. Aku tak masalah dengan diriku karena aku hanya mengalami jetlag yang masih bisa kuatasi, sedangkan Baekhyun, aku tak begitu yakin dengan kondisinya. Sejak turun dari pesawat, ia mengeluh pusing dan tak kuat untuk berjalan. Bahkan sejak masuk apartemen, dia benar-benar langsung masuk kamarnya dan berbaring sepanjang hari.

 

Aku tak bisa tidur, insomnia karena sekarang aku berada di tempat yang memiliki zona waktu yang berbeda dengan Korea Selatan. Aku terus saja berjalan mondar-mandir di ruang tamu mencoba untuk mencari sesuatu yang dapat kulakukan sekarang. Sudah hampir 5 jam aku terjaga di sini tanpa melakukan apapun.

 

“Lun, kau tak tidur?”

 

Seketika aku menoleh ke arah sumber suara.

 

Oppa sudah baikan?”

 

Tentu saja aku menemukan seorang Byun Baekhyun di tempat sumber suara itu. Dengan wajah khas orang bangun tidur, ia tersenyum kepadaku. Aku berani bersumpah bahwa ia benar-benar mempesona sekarang.

 

“Hem..”

 

Baekhyun mengangguk padaku menandakan bahwa ia sudah baikan. Lalu ia berjalan ke arahku dan memegang kedua pundakku dengan mata bangun tidurnya yang masih menghiasi wajahnya yang mempesona. Di sini aku benar-benar lupa cara bernapas. Jarak kami terlalu dekat. Jangan salahkan aku jika sekarang degupan jantungku terdengar berpacu begitu cepat. Kali ini lagi, kumohon jangan biarkan Baekhyun mendengarnya.

 

“Perutku merengek, Lun..”

 

Ia memasang puppy-eyesnya kepadaku sambil masih memegang kedua pundakku. Seketika aku ingin menertawakannya karena ia memasang puppy-eyesnya di saat mata bangun tidurnya masih terpasang.

 

“Lun..berhenti menertawakanku, aku lapar..”

 

“Ahahahahaha, setelah menghabiskan waktu selama 5 jam untuk berhibernasi, oppa masih bisa lapar? Hmm..aku mau tidur, karena dari 5 jam yang lalu aku terjaga. Annyeong, oppa!”

 

Akhirnya aku bisa menertawakannya lepas setelah tadi aku mencoba untuk menahannya. Aku melepaskan diri dari Baekhyun untuk menghindarinya agar ia tak mendengar jantungku yang berdegup begitu kencang. Kubuat alasan serasional mungkin agar Baekhyun bisa begitu mudah untuk percaya padaku. Bukannya ingin membohonginya, tetapi tak baik untukku jika aku tertangkap basah.

 

 

Jika ditanya “tak apa-apa?” aku akan menjawabnya dengan jawaban “tidak”. Baru saja aku dan Baekhyun sampai di gedung pagelaran, rasa sakit di kepalaku saat itu terulang kembali. Saat ini aku tak bisa memberitahunya bahwa aku sakit, aku tak mau membuatnya khawatir terhadapku. Hal terbaik yang harus kulakukan saat ini hanya berpura-pura tak ada yang terjadi dengan diriku maupun tubuhku.

 

Aku berhenti berjalan karena pusing di kepalaku terasa sangat mencekat. Ini untuk menghindari hal yang tak kuinginkan, pingsan seperti saat itu.

 

Baekhyun yang menyadari bahwa aku tak lagi menguntit di belakangnya mulai menengok ke segala arah untuk mencariku. Begitu ia menemukanku yang berada jauh di belakangnya, ia berlari kecil ke arahku dan menempatkan wajahnya sekitar 30 senti dari wajahku.

 

“Lun, kau baik-baik saja, kan?”

 

Ia mulai menanyaiku memastikan bahwa tak terjadi apa-apa padaku dan menjauhkan wajahnya dari wajahku. Kedua pundakku ia pegang dan ia juga menatap wajahku dengan intens untuk mencari kebenaran dari air mukaku. Aku segera tersenyum untuk menghindari kecurigaan Baekhyun.

 

“Hah…oppa memang lelaki terjahat yang pernah kukenal. Setega itu oppa menyuruhku membawa seluruh bawaan ini? Aku tak sekuat Manajer Lee.”

 

Kuangkat semampuku seluruh bawaan Baekhyun yang kubawa untuk memperlihatkan padanya berapa banyak bawaannya yang harus kubawa dengan kedua tanganku. Aku memanipulasinya. Sebenarnya aku mampu membawa seluruhnya, tapi ini demi diriku dan Baekhyun. Aku tak mau dianggap bahwa aku lemah, dan juga aku tak mau Baekhyun terlalu mengkhawatirkanku karena sebagian besar orang jika sedang mengkhawatirkan sesuatu akan terganggu konsentrasinya.

 

“Dasar anak kecil, begitu saja tak kuat.”

 

Baekhyun menggerutu sambil mengambil sebagian dari bawaanku untuk ia bawa. Aku tersenyum kecil melihatnya. Kali ini aku bisa bernapas lega, karena Baekhyun tak mencurigai sesuatu dariku. Setelah mengambil sebagian dari bawaanku, ia kembali berjalan mendahului dan dengan seluruh kemampuanku aku menguntit di belakangnya mengikuti langkah kakinya menuju kemana pun yang ia mau.

 

Backstage rehearsal New York Fashion Week ini benar-benar ramai. Banyak orang yang berlalu-lalang kesana-kemari mempersiapkan seluruhnya. Di sana terlihat juga sub-group dari Girls’ Generation, TaeTiSeo. Baekhyun menarikku ke tempat mereka―TaeTiSeo―berada, dan ia memperkenalkanku kepada mereka. Kubungkukkan badanku 90 derajat untuk memberikan salam perkenalan untuk mereka lalu aku tersenyum tipis. Mereka bertiga cantik, secantik mereka saat di foto yang beredar luas di internet. Salah satu dari mereka, Seo Joohyun―dikenal sebagai Seohyun―yang terlihat lebih tinggi dariku sekitar 3 senti, dia seperti seorang yang pendiam saat baru berkenalan dengan seseorang.

 

“Saya Shin Luna, fashion stylish baru Baekhyun-ssi. Senang berkenalan dengan anda bertiga.”

 

Aku mulai memperkenalkan diriku di hadapan mereka bertiga sebagai fashion stylish Baekhyun. Aku hampir saja terkikik harus menyebut Baekhyun dengan embel-embel “ssi” di belakang namanya. Aku hampir tak pernah memanggilnya dengan embel-embel “ssi” di belakang namanya. Aku selalu bersikap informal kepadanya, bahkan dengan beraninya aku menyebutnya dengan sebutan “anak kecil”.

 

“Aku Hwang Miyoung, panggil aku Miyoung saja.”

 

Tiffany, begitu orang-orang memanggilnya, ia memperkenalkan dirinya padaku dengan nama aslinya. Tarikan senyumnya yang membuat matanya juga tertarik sehingga matanya hanya terlihat segaris memberikan kesan cantik padanya.

 

“Aku Kim Taeyeon, panggil aku Taeyeon.”

 

Setelah Miyoung memperkenalkan dirinya padaku, Taeyeon yang berdiri di sebelah kiri Miyoung memperkenalkan dirinya padaku. Dia benar-benar tersenyum dengan sangat ramah padaku.

 

“Aku Seo Joohyun, panggil saja aku Joohyun.”

 

Sudah kukatakan sebelumnya, sejak awal aku membungkukkan badanku kepada mereka, ia yang paling menonjol karena ia terlihat menutup dirinya. Suaranya begitu lembut dan volumenya lebih kecil dari suara kedua eonni yang sebelumnya memperkenalkan diri padaku. Ia juga tersenyum padaku, tetapi senyumnya lebih terlihat seperti senyum yang kaku karena mungkin ia merasa canggung padaku, orang yang baru ia kenal.

 

Setelah aku mendengarkan mereka memperkenalkan diri masing-masing, aku izin undur diri karena aku harus meletakkan barang-barang yang kubawa ini di tempat yang sudah disediakan oleh panitia untuk Baekhyun. Tak lupa aku juga mengambil barang yang tadi dibawa oleh Baekhyun. Sebenarnya membawa barang-barang ini bukan tugasku, ini tugas Manajer Lee. Berhubung Manajer Lee tak datang, maka aku harus merangkap sebagai manajernya juga.

 

Aku mendengus kesal sambil membawa barang-barang milik Baekhyun di kedua tanganku menjauh dari tempat Baekhyun dan rekan satu agensinya―TaeTiSeo―itu berbincang.

 

Ia bahkan tak menambah gajiku, huh!

 

 

Kevin POV

Apa aku sudah gila? Di saat seperti ini aku mengkhawatirkannya. Sedaritadi aku bimbang untuk memutuskan sesuatu. Ponselku terus saja ku genggam. Berkali-kali ibu jariku berputar di sekitar keypad pada angka 1. Itu akan kulakukan, tetapi pada akhirnya selalu saja ku urungkan.

 

Berkali-kali aku menarik napas lalu menghembuskannya perlahan mencoba memikirkan sebuah cara, atau lebih tepatnya merangkai kalimat. Ini buruk bagiku. Mengkhawatirkannya tanpa alasan.

 

Apa sebaiknya aku mengirimkan pesan singkat saja?

 

Tidak, tidak, itu buruk.

 

To: Luna

Malam ini eomma pulang ke Kanada

 

Message Sent!

 

Sungguh buruk. Aku menggunakan eomma agar aku bisa mengirimkannya pesan singkat. Kenapa tak jujur saja dan katakan padanya bahwa kau sangat mengkhawatirkan keadaannya. Apa susahnya bertanya pada adikmu sendiri, astaga!!!

 

Selama ini tak ada balasan pesan singkat dari Luna. Dia sibuk? Atau dia sudah tidur? Kuletakkan kepalaku di atas meja dan kupejamkan mataku untuk meredam seluruh kesalku pada awal hari yang sangat cerah ini. Kota Seoul cuacanya memang sedang cerah hari ini, tapi aku dan ruanganku tidak mendapatkan kecerahan yang seharusnya dirasakan oleh seluruh penduduk Seoul. Sudah seminggu aku seperti ini, tak ada perubahan yang berarti.

 

Kuputuskan untuk melanjutkan pekerjaanku untuk menyeleksi foto-foto hasil jepretan kemarin karena besok sudah harus kuserahkan ke bagian editor untuk di edit.

 

 

Author POV

Akhirnya rehearsal pertama berakhir dengan sangat baik. Seluruh staff yang turut ikut dalam pengaturan rehearsal itu bertepuk tangan dengan sangat meriah karena mereka puas dengan hasilnya. Walaupun baru pertama, seluruh model telah bekerja dengan baik. Seluruh setting panggung catwalk dan urutan kapan para model harus keluar sudah tuntas selesai dalam satu pertemuan. Terlihat dari ujung tempat model keluar panggung Baekhyun yang dengan wajah gembiranya melambai-lambaikan kedua tangannya kepada Luna lalu berlari kecil menghampiri Luna.

 

Baekhyun mengangkat kedua tangannya lalu berputar layaknya anak kecil di depan Luna. Bukannya memberikan komentarnya, Luna justru menertawakannya hingga Luna memegangi perutnya akibat terlalu banyak tertawa.

 

“Hahaha lihat, oppa lucu sekali.”

 

“Lucu? Bukannya aku tampan dengan pakaian ini?”

 

Dengan percaya dirinya yang tinggi, Baekhyun memuji dirinya sendiri. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan bergaya ala model yang sedang melakukan photo shoot. Luna yang masih betah tertawa seketika lebih mengencangkan tawanya hingga ia berjongkok karena tak kuat menahan tawanya yang sudah terlalu lepas.

 

Oppa, ini bukan acara lawak, ahahaha, berhentilah bersikap melawak, ahahaha. Perutku benar-benar sudah sakit, ahahaha.”

 

“Siapa yang menyuruhmu tertawa? Bahkan tak ada yang bisa ditertawakan.”

 

Baekhyun yang sedikit kesal dengan Luna mendudukkan dirinya di kursi yang berada tak jauh darinya dan memulai untuk berpose lagi. Kali ini Luna memilih untuk menahan tawanya karena perutnya sudah cukup menderita.

 

Ya, oppa, baju itu tak boleh kusut. Lepaskan itu dulu, oppa, sebelum kau duduk.”

 

“Bantu aku hehe.”

 

Baekhyun berdiri dan merentangkan kedua tangannya menghadap Luna. Luna yang ada di hadapannya hanya bisa pasrah dan terus mengomel menggerutu sambil membantu Baekhyun melepaskan pakaiannya. Setelah melepaskannya, Luna membawanya untuk diserahkan kepada pihak penyelenggara New York Fashion Week.

 

 

Berbagai macam lampu mulai menyoroti panggung catwalk. Yang tadinya panggung itu hanya terlihat sederhana, kini terlihat begitu mewah dengan adanya berbagai macam sorotan lampu. Sebagian besar kursi tamu VIP sudah terisi. Dari balik panggung, Luna terus saja mengintip ke arah kursi para tamu VIP. Luna mulai mendengus kesal dengan kelakuan Baekhyun yang terus saja meminta ini itu.

 

Selagi Baekhyun belum meperbolehkan Luna untuk pergi ke tempat acara berlangsung, ia hanya bisa duduk sambil bertopang dagu. Bagaimana tidak, Baekhyun yang menyuruhnya untuk tetap berada di sana, tetapi sosok Baekhyun meninggalkannya sendirian terduduk di tempat yang penuh dengan orang asing. Ia sudah mulai bosan dan ingin segera menuju kursi tamu VIP. Manik matanya mengedar ke segala arah. Dilihatnya para staff yang kesana-kemari sibuk mengurus berbagai hal sebelum acaranya benar-benar di mulai.

 

Tiba-tiba seorang wanita berjalan menghampirinya. Wajahnya sangat oriental, tetapi dengan polesan make up di wajahnya membuat wajah orientalnya tak begitu terlihat. Luna menghentikan acara bertopang dagunya dan mulai duduk tegak. Wanita itu semakin mendekat ke arahnya dengan tersenyum seperti telah mengenal Luna.

 

“Tak ku sangka kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu?”

 

Luna berdiri dari duduknya dan mencoba memberi salam pada wanita itu dengan membungkukkan badannya 90 derajat. Sebenarnya bukannya ia sudah tahu siapa wanita itu, tetapi sekedar sikap keformalannya saja ia memberikan salam hormatnya. Ia masih mencoba memutar kembali memorinya untuk mengingat wanita yang sekarang ada di hadapannya.

 

Memori ingatan Luna sungguh buruk terhadap mengingat orang yang hanya sekali-dua kali ia temui. Tak jarang orang yang ia temui sekali-dua kali itu yang menyapanya terlebih dahulu, seperti ini.

 

“Ah, aku Baek Hana.”

 

Dengan senyumnya ia seolah mengerti bahwa Luna masih sedang mencoba untuk mengingat siapa dirinya sehingga ia memperkenalkan dirinya kembali.

 

Luna yang tadi sempat bingung untuk mengingat siapa wanita itu langsung tersenyum kikuk mengetahui siapa wanita yang ada di depannya ini. Ia sempat terhenyak setelah menyadari bahwa wanita yang menghampirinya itu adalah mantan kekasih Kevin. Ia mencoba untuk menutupi rasa terkejutnya itu dengan tersenyum yang hasilnya terlihat sangat kikuk.

 

“Ah, senang bertemu denganmu lagi.”

 

Sebenarnya Luna sedikit bingung harus memanggil Baek Hana dengan sebutan apa mengingat ia 3 tahun lebih muda dari wanita itu. Akhirnya ia memutuskan hanya berbicara secara formal saja karena ia rasa ia belum pantas memanggilnya dengan sebutan “eonni“.

 

“Lun!!!”

 

Seseorang yang sedaritadi membuat Luna kesal datang di saat yang tak tepat. Kembali lagi Luna mendengus kesal. Memang tadinya ia mengharapkan kehadiran orang itu, tapi di saat ini ia lebih memilih untuk tak mengharapkan kehadiran orang itu. Wajah Hana terlihat begitu terkejut setelah melihat kedatangan Baekhyun. Di sini Luna mulai khawatir dengan sikap Hana yang terkejut begitu melihat Baekhyun datang menghampirinya.

 

“Kau tak bersama Kevin? Tadi kukira kau di sini bersama Kevin..”

 

Luna mulai merutuki dirinya sendiri ketika 2 kalimat itu keluar dari mulut Hana. Ia memang tak bisa mencegah Hana mengatakannya.

 

Baekhyun yang baru saja datang seketika menoleh ke arah Luna begitu mendengar ucapan Hana.

 

“Lun, ada apa kau dengan Kevin hyung?”

 

“Kau tak tahu? Mereka berpacaran.”

 

Sungguh Baekhyun beribu-ribu kali merasa terkejut ketika wanita yang tak dikenalnya itu mengatakan bahwa hyungnya adalah pacar Luna. Bagaimana tidak? Selama ini dia kira Luna adalah saudara hyungnya, entah saudara dekat atau jauhnya mengingat marga mereka berbeda.

 

Sebelum Baekhyun sempat meloloskan sepatah kata lagi, Luna sudah terlebih dulu mengambil tindakan untuk membungkam mulut Baekhyun. Dengan penuh tenaga ia menginjak kaki kiri Baekhyun dengan heelnya.

 

“Lun, apa yang kau lakukan―aww”

 

Untuk kedua kalinya Baekhyun akan meloloskan kata-katanya, tetapi Luna sudah terlebih dahulu mengambil tindakan untuk menutup mulut Baekhyun.

 

Akhirnya Baekhyun diam akibat takut mendapat ancaman secara fisik dari Luna. Bukannya Luna kejam, tetapi jika ia tak melakukannya semuanya akan kacau. Tidak hanya dirinya yang akan dirugikan, kakaknya―Kevin―pun akan dirugikan juga, justru akan mendapatkan kerugian yang lebih besar darinya.

 

“Ah, aku di sini sedang bekerja, jadi tidak bersamanya.”

 

Luna menjawab pertanyaan Hana dengan sedikit menundukkan kepalanya, takut Hana akan melihat sorotan matanya dan mengetahui semuanya.

 

“Begitukah? Kalau begitu kita perlu makan bersama lain kali, maksudku aku bersama Sunghyun dan kau bersama Kevin.”

 

“Itu…tak buruk juga.”

 

“Tentu. Masih banyak yang harus aku selesaikan, jadi sampai jumpa lain waktu.”

 

Ye, mannaseo bangapsumnida.

 

 

Luna POV

Hiruk-pikuk kota New York memang tak bisa dipungkiri dan juga tak bisa dibandingkan dengan hiruk-pikuk kota Seoul. Terlihat orang-orang hilir mudik melintas di sepanjang trotoar. Malam hari terasa seperti siang hari, sangat ramai. Menurutku New York pada siang hari lebih sepi dibanding malam hari. Di sini penduduknya lebih aktif pada malam hari, entah mereka mengerjakan apa.

 

Supir taksi itu mengijak pedal remnya dan mempersilahkan aku turun. Sebelum aku turun, tak lupa ku bayar argo taksinya. Sebenarnya aku masih ingin sekali untuk berkeliling kota New York untuk menikmati indahnya keramaian malam di kota ini, tetapi biaya taksi di sini jauh lebih mahal dan aku harus segera berkemas karena beberapa jam lagi adalah jadwal penerbanganku untuk kembali ke Seoul.

 

Aku bersyukur sebelum berangkat tadi aku meminta kunci cadangan apartemen Baekhyun, jika tidak sudah dipastikan sekarang aku terkunci di luar dan harus menunggu hingga Baekhyun datang. Aku memilih pulang terlebih dahulu meninggalkan Baekhyun yang entah ia sedang menyelesaikan “urusan” pribadinya. Dia selalu saja melakukan apa saja yang ia kehendaki, apapun itu.

 

Ku rogoh tas tentengku untuk mendapatkan kunci apartemen yang tadi ku selipkan di dalam tasku.

 

CKLEK

 

Apartemen ini sepi sekali, melebihi sepinya apartementku ketika hanya ada aku dan Kevin. Maklum, daerah apartemen ini jauh dari jalan raya dan hiruk pikuk kota walau letaknya di tengah kota. Baekhyun pernah berkata padaku bahwa ia membeli apartemen di kawasan ini karena suasananya menenangkan.

 

Kulepaskan kedua sepatu heelsku dan ku taruh di rak sepatu yang berada di samping pintu masuk. Rasanya penat telah menguasai raga dan pikiranku. Dengan langkah lesuku aku segera beranjak ke dapur untuk sekedar mengambil segelas air mineral untuk membasahi kerongkonganku yang semakin mengering.

 

CKLEK

 

Tak ada respon apapun dariku ketika terdengar suara pintu apartemen. Terus saja aku duduk berdiam diri di meja makan. Kini ku lipat kedua tanganku di atas meja dan kubenamkan wajahku di sana.

 

Itu pasti Baekhyun.

 

Tapakan kakinya yang lesu terdengar olehku dengan jelas. Semakin lama suara tapakan kaki itu semakin mendekat ke arahku. Bisa dikatakan Baekhyun telah menemui jejakku. Bagaimana tidak, lampu di apartemennya yang ku nyalakan hanya lampu dari ujung pintu masuk sampai dapur saja yang ku nyalakan, lainnya masih dalam keadaan mati. Tentu dengan mudah ia menemukanku dengan memasuki ruang-ruang yang lampunya telah ku nyalakan.

 

TAP

 

SRET

 

Ku rasakan hembusan udara panas di depanku dan terdengar suara-suara efek dari ketukan lalu geseran benda. Suara efek dari hembusan napas pun juga terdengar olehku. Maksudku bukan milikku, tetapi milik Baekhyun yang kuyakini sekarang ia telah duduk di hadapanku. Ingin rasanya aku mengangkat kepalaku dan meneriakkan seluruh sumpah serapah yang ku punya saat ini di hadapannya.

 

“Lun, mengapa kau pulang terlebih dahulu tanpa izinku?”

 

Karena aku benar-benar muak melihatmu.

 

“Dan, mengapa kau mematikan ponselmu sedangkan aku khawatir akan keadaanmu?”

 

Dan mengapa kau membohongiku?

 

Aku diam. Tak sepatah kata pun ku ucapkan untuk membalas 2 pertanyaannya itu. Bahkan aku tak mengangkat kepalaku untuk sekedar menatapnya. Aku hanya bisa menjawabnya dalam hati beserta mengeluarkan seluruh perkataan pedasku dalam hati juga.

 

“Lun, kau marah padaku?”

 

Tentu saja. Kau kira aku siapamu bisa seenaknya kau suruh untuk menungguimu yang sedang berciuman di belakang gedung bersama wanita itu?

 

“Kepalaku tiba-tiba pusing kembali, oppa.”

 

Singkat. Tak ada sumpah serapah di dalamnya. Aku memilih mengurungkan niatku untuk meneriakinya dengan segala sumpah serapah yang aku punya saat ini. Ku putuskan untuk mengubur niatku itu sedalam-dalamnya dan beranjak menjauhkan diriku dari hadapannya sebelum semuanya terlambat.

 

 

Kevin POV

Bandara begitu ramai dan penuh dengan sesak hari ini. Para wanita yang masing-masing membawa banner bertuliskan nama Baekhyun beserta pujian-pujian mulai menyerbu ruang kedatangan internasional. Mereka mulai bersahut-sahutan meneriaki nama Baekhyun dengan suara melengking mereka yang menurutku itu dapat merusak indera pendengaranku. Dengan tinggi badanku yang cukup membantu ini aku mencoba menerobos para fangirl itu untuk mendapatkan barisan terdepan. Bukannya aku mengikuti langkah mereka, tetapi aku harus stand by di tempat yang mudah untuk dilihat oleh Luna.

 

Pintu otomatis kedatangan internasional mulai terbuka. Dan tentu saja, suara-suara para fangirl yang sedang kelaparan itu semakin histeris. Meskipun tinggi badanku setinggi tiang, tetapi suara-suara melengking itu masih saja menjangkau letak telingaku ini. Jika bukan demi Luna, saat ini aku sudah meloloskan diri dari kumpulan para fangirl kelaparan ini tak peduli apapun halangannya.

 

Begitu pintu otomatis itu terbuka, Luna yang berada di urutan paling depan seperti berusaha melarikan diri dari seseorang. Ia berjalan cepat membelah lautan para fans yang dengan segera menyerbu Baekhyun yang berjalan tepat di belakang Luna. Terlihat Baekhyun berusaha keluar dari kerumunan fansnya itu. Apa mungkin ia mengejar Luna? Mereka ada masalah? Aku tak memaafkannya jika dia bermasalah dengan Luna.

 

Karena terlalu memperhatikan Baekhyun dan terlalu lama menerobos para fangirl, aku jadi kehilangan jejak Luna. Aku masih berusaha menerobos para fangirl ini yang membuat keadaan semakin lama semakin sesak. Bandara ini bagaikan pasar yang sedang ramai dikunjungi orang. Di sana dan di situ, mereka selalu mendesakku tidak memberikanku secelah pun jalan yang longgar.

 

Akhirnya setelah berjuang bermenit-menit aku pun bisa lolos dari desakan itu. Aku segera berlari menuju ruang tunggu bandara yang letaknya tak jauh dari ruang kedatangan internasional. Kedua bola mataku tak henti-hentinya mengedar ke segala sudut yang ada di bandara ini sambil terus berlari kecil untuk mempersingkat waktu.

 

BUKK

 

“Aww―”

 

“Aww, sakit―”

 

Sebuah insiden tak terduga telah datang padaku. Tak sengaja menabrak seseorang yang ada di bandara ini. Tapi tunggu, itu seperti suara Luna.

 

Tak segan-segan aku menoleh ke arah orang yang tadi ku tabrak. Benar saja, seorang Shin Luna dengan tangannya yang menggenggam pegangan kopernya berdiri mematung melihatku yang sangat konyol ini. Benar-benar memalukan.

 

Sebisa mungkin ku pasang wajah yang biasa ku pamerkan kepadanya, wajah dingin seorang Kevin Wu.

 

“Ayo pulang.”

 

Aku mengambil alih kopernya dengan tangan kananku. Ku panjangkan pegangannya dan ku miringkan kopernya untuk siap ku tarik. Sedangkan tangan kiriku menggenggam tangan kanannya yang terasa begitu dingin.

 

 

“Lun, kau ada masalah dengan Baekhyun?”

 

Setelah lama aku dan Luna saling diam, aku memilih untuk membuka percakapan. Ada beberapa alasan mengapa saat ini aku memilih untuk berbicara lebih dulu. Aku penasaran dengan sikap Luna yang tadi terlihat seperti menghindar dari Baekhyun, itu alasan pertama. Alasan kedua, sejak eomma pulang sepanjang hari aku berdiam diri kecuali saat di studio, itu pun saat di studio tak sering aku berbicara.

 

“Tidak oppa, aku hanya lelah..”

 

Suaranya lesu dan lebih terdengar seperti sedang menutupi sesuatu.

 

Aku mengenal dengan baik Luna. Aku tahu kapan ia marah, sedih, gembira, dan seluruh perasaannya yang lain walau ia menutupinya dengan rapat dariku. Bagiku, manik matanya selalu menunjukkan semuanya yang ia simpan dalam hatinya.

 

Aku tak berniat untuk melanjutkan percakapan ini, takut Luna akan semakin kalut dengan kesedihan yang ia simpan. Semua manusia pasti memiliki rahasia, bukan? Dan mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.

 

 

Dengan terburu-buru aku masuk ke dalam studio. Luhan hyung bilang ada klien yang sedang menungguku. Mereka ingin melakukan kerja sama dengan studioku untuk melakukan sesi pemotretan. Ini terkesan mendadak karena sebelumnya mereka tak menelpon Luhan hyung terlebih dahulu sebelum bertemu denganku. Tetapi apa boleh buat, mereka bilang sebenarnya sudah berkali-kali menelpon tetapi selalu saja sibuk.

 

Di ujung pintu ruang meeting aku bertemu dengan Luhan hyung yang menyuruhku untuk cepat masuk.

 

Hyung, bertemu Baekhyun, tidak?”

 

Di sela-sela meetingku bersama klien ini, aku berbisik kepada Luhan hyung.

 

Dengan hati-hati Luhan hyung mendekatkan kepalanya dan ia berbisik, “tadi aku bertemu dia di cafe studio, wae?”

 

“Nggg hyung, bisa susul dia? Suruh dia menemuiku di ruanganku setelah ini.”

 

“Tenang saja, akan ku susul dia sekarang.”

 

 

Tok…tok…tok…

 

Hyung?”

 

Sebelum mulutku terbuka untuk mempersilakannya masuk, ia sudah terlebih dahulu membuka pintu dan seenaknya masuk. Dengan santai ia melesat menuju depan meja kerjaku dan bersikap seperti biasa, tersenyum layaknya anak yang sangat polos di hadapanku. Tanpa menatapnya sedikit pun, aku menelusupkan tanganku ke loker meja kerjaku untuk mendapatkan sesuatu yang ingin ku berikan pada Baekhyun.

 

“Ini dari Luna.”

 

Ku lemparkan amplop berwarna cokelat mudah ke atas mejaku dan membiarkan Baekhyun mengambil dan mengintip isinya.

 

“Surat pengunduran kerja?”

 

Tanyanya setelah berhasil mengintip isi dari amplop itu.

 

“Dia hanya menitipkan itu untukmu.”

 

Segera setelah ia mendapatkan jawaban tak memuaskan dariku, ia berbalik untuk keluar dari ruanganku dengan langkah cepat.

 

“Kau ada masalah dengannya?”

 

Sahutku sebelum Baekhyun berhasil meraih pegangan pintu ruang kerjaku. Ia berbalik ke arahku dengan wajahnya yang penuh dengan rasa khawatir.

 

“Dia sepanjang hari ini selalu saja mengunci kamarnya. Ia tak keluar sama sekali untuk sekedar mengambil air mineral. Kau ada masalah dengannya?”

 

Hyung, aku harus pergi.”

To Be Continued…

 

 

EPILOG:

Luna POV

Tepuk tangan riuh meramaikan seisi gedung seusai pembawa acara menutup acara. Satu per satu tamu undangan VIP meninggalkan kursinya untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Beberapa dari mereka ada yang lebih memilih untuk sekedar berbincang bersama rekan mereka. Sedangkan aku yang tak kenal siapa pun hanya bisa berlalu melewati mereka―para tamu yang sedang berbincang―menoleh kesana-kemari mencari keberadaan seorang Byun Baekhyun. Ku rasa dia belum keluar dari ruangannya. Aku pun memutuskan untuk menuju sisi belakang gedung menunggu Baekhyun di sana.

 

Tak banyak orang yang berlalu-lalang di sini. Sistem penerangannya pun begitu redup, membuat orang-orang enggan melalui jalan ini walau letaknya lebih dekat dengan parking area. Ku pikir begitu sebelum terlalu banyak staff yang melewati jalan ini. Beberapa dari mereka yang tentu mengenalku―termasuk Baek Hana―menyapaku dan mencoba untuk menawariku tumpangan. Dengan sopan aku menolaknya dan memberikan alasan bahwa aku akan kembali bersama Baekhyun.

 

Semakin lama jalanan ini semakin sepi. Tak ada satupun staff lagi yang melewati jalan ini. Sepertinya di dalam sudah tak ada staff lagi. Dengan di temani lampu yang redup diiringi kesunyian dan hawa dingin yang menusuk, aku setia menunggu Baekhyun di sini. Aku tak yakin Baekhyun masih berada di dalam. Apa dia melupakan dan meninggalkanku?

 

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tapakan kaki. Semakin lama suara itu mendekat dengan perlahan. Aku tak berani mengintip karena tempat di mana suara itu berasal begitu gelap gulita. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada diriku sendiri karena hawa dingin malam semakin menyerangku tanpa menghiraukan suara tapakan kaki itu.

 

To: Baekhyun

Oppa, di mana?

 

Aku memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat kepada Baekhyun.

 

Suara tapakan kaki itu tak terdengar lagi, tetapi kini digantikan oleh suara decakan yang tak henti-hentinya menyapa gendang telingaku. Selang beberapa detik, suara decakan itu diiringi dengan suara lenguhan. Kali ini ku beranikan diri untuk menoleh ke arah suara itu berasal.

 

Pemandangan itu berhasil membuat dadaku begitu sesak.

 

Bersamaan dengan peristiwa aku menemukan Baekhyun dan Taeyeon sedang bercumbu ria, ponselku bergetar tanda ada pesan masuk.

 

From: Baekhyun

Tunggu 5 menit lagi, kau di mana?

 

Dia terlalu menikmati kegiatan bercumbunya dengan eonni yang baru ku kenal beberapa jam yang lalu sampai-sampai ia tak menyadari keberadaanku yang hanya 5 meter dari tempatnya bercumbu dengan Taeyeon sekarang. Semua laki-laki memang sama saja.

 

Aku berlari sekencang yang aku mampu. Tak peduli mereka mengetahui bahwa aku telah memergoki mereka telah bercumbu, tak peduli aku dengan heelsku. Aku hanya peduli dengan bagaimana sesaknya dadaku setelah melihat itu semua di hadapanku. Dengan terburu-buru aku memanggil taksi dengan melambaikan tanganku lalu masuk ke dalamnya tanpa menghiraukan Baekhyun yang tengah berlari mengejarku sambil meneriaki namaku. Aku tak mendengar apapun, telingaku seakan tuli dengan segala teriakan Baekhyun. Ucapan terakhir yang mengetuk gendang telingaku hanya teriakan Baekhyun yang memanggil namaku.

 

Sir, Harlem Apartement, please.

 

Hatiku benar-benar sakit.

 

 

 

NOTE:

Finally chapter 4 selesai!!! Makasih banyak yang udah ngebuang waktu berharganya buat baca ff ini hehe duh ff aneh ini kok gak selesai-selesai sih―maaf 😦 yaaa gini deh seadanya. Maaf banget kl ffnya jelek, bahasanya kurang rapi, typo di mana-mana, gak selesai-selesai, ceritanya pasaran, kurang ngefeel, dan apa itulah yang mengenai kekurangan dari ff ini, sekali lagi maaf 😦 ff ini sebagai bukti penyaluran inspirasiku, jadi maaf kl jelek soalnya aku newbie, masih blm bisa menata kata-katanya dengan baik 😦 sekali lagi makasih banget yang udah mau baca xoxo ❤

5 responses to “[Freelance] [EVENTUALLY] From The Past Be The Last (Chapter 4)

  1. Akhirnya ff ini di publish juga..
    Baekhyun ciuman sama Taeyeon, apa mereka di ff ini pacaran juga??
    Buat Baekhyun cemburu sama Kris dong author, Baekhyun suka ga sih sama Luna??
    Aku penasaran sama kelanjutannya
    Ditunggu next chapternya ya author, jangan lama2 di postnya..
    Jujur aku sempet lupa sama ff ini hhe..

  2. Kevin udah tanda-tanda suka sama Luna ini mah, masa iya dia jadi salting gitu sih pas Luna-nya pergi. Dan Baekhyun apa dia jangan-jangan suka juga sama Luna? Terus gimana sama Luna nya? Patut dicurigai nih

  3. Pingback: [Freelance] [EVENTUALLY] From The Past Be The Last (Chapter 5) | SAY - Korean Fanfiction·

  4. kris itu sbnrnya gimana sih perasaan nya ke luna..aku bingung -,-
    lah? luna knpa marah? dia gak suka baekhyun kan? dan baekhyun ngapain sama taeyeon?
    hufthhh luna sama kris aja udah :>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s