[Freelance] Falling Love with a Rich Man (Chapter 3)

falling-love-with-a-rich-man-copy1

Falling Love with a Rich Man (Chapter 3)

 

Cr : poster by springsabila by http://cafeposterart.wordpress.com)

 

Title                 : Falling Love with a Rich Man

Author                        : Ndkhrns (Twitter : @Nadiakhair_)

Main Cast       : Kim Joon Myun a.k.a Suho (Exo-K)

                        Lee Jieun (IU) as Park Jieun

Support Cast  : Exo-K members

                        Find by yourself^^

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : PG-15

Length            : Chaptered

Disclaimer       : Annyeong chingudeul, maaf menunggu lama. Karena aku lagi sibuk baru masuk SMA. Hehehe… Tapi alhamdulillah, akhirnya chapter 3 selesai juga. Please don’t be a silent readers, dan author selalu mengingatkan, jangan lupa komentar atau sarannya yaaa. Cerita ini murni hasil imajinasi author, jangan plagiat yaaa^^ CHECK THIS OUT!!

Chapter sebelumnya >> Teaser Chapter1 Chapter2

 

-Chapter Two review-

Hingga tak terasa hari sudah sore, Suho memutuskan untuk segera pulang. Sebelumnya ia berpamitan terlebih dahulu kepada Jieun dan keempat temannya, dan juga kepada anak-anak panti. Jieun mengantar Suho sampai ke parkiran.

“Suho-ya, terimakasih untuk hari ini. Aku sangat senang,” ucap Jieun tulus.

Suho tersenyum penuh arti. “Aku yang berterimakasih padamu, kau bersedia membantuku.”

“Sama-sama, itu sudah tugasku.”

Suho menelan ludahnya, ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Jieun. Dengan segenap tenaga yang ia miliki sekarang, ia berusaha untuk membuka mulutnya.

“Jieun…”

Ne?

“Aku ingin bicara… Aku…” Suho memperdekat jaraknya dengan Jieun. Jieun merasa aneh, namun ia berusaha berpikir hal yang positif. Hingga akhirnya…

GREPP!!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~00~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

GREPP!!

Suho menarik Jieun kedalam pelukannya. Jieun terkejut, jantungnya serasa berhenti berdetak. Suho dapat menghirup aroma tubuh Jieun yang membuatnya makin jatuh hati. Namun pelukan itu tak berlangsung lama, karena Suho segera melepaskan kontak mereka, takut bila Jieun berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.

“Sebuah pelukan hangat sebagai ucapan terimakasih. Terimakasih karena telah membantuku, Jieun-ah,” ucap Suho dengan segera.

Jieun yang masih shock hanya mengangguk pelan, berusaha mengembalikan degup jantungnya. Wajahnya kini sudah merah seperti kepiting rebus. Mimpi apa aku semalam? Batinnya.

“Aku pulang dulu, ne?” suara Suho membuyarkan lamunan Jieun barusan. “E… Eh? Ne, hati-hati di jalan.”

Suho berjalan menuju mobilnya, kemudian ia melambaikan tangannya pada Jieun sebelum ia masuk. Jieun membalas lambaian tangan Suho sambil tersenyum. Tak lama kemudian mobil itu sudah lenyap dari hadapan Jieun.

 

                Jieun menghempaskan dirinya di kasur. Ia merasa sangat lelah hari ini, seharian menemani Suho, lalu membimbing anak-anak panti untuk latihan. Jieun menghela nafas. Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian tadi sore. Saat Suho tiba-tiba memeluknya, sebuah pelukan hangat dan tulus. Ia dapat merasakan degup jantung Suho yang berdetak sangat cepat. Wangi khas maskulin, ia sangat menyukainya. “Apa aku mulai menyukainya?” tanya Jieun pada dirinya sendiri. Ia akui bahwa akhir-akhir ini ia sering salah tingkah saat berhadapan dengan Suho. Padahal ia sudah biasa berteman dengan laki-laki.

“Jieun-ah,” suara seseorang dibalik pintu kamarnya membuyarkan lamunan Jieun. Jieun bergegas bangkit untuk membukakan pintu. Nampak sang Nenek yang tengah memakai celemek.

Halmoeni? Apa kau perlu bantuanku?” tanya Jieun yang sudah ‘peka’.

Neneknya tertawa, “Kau pengertian sekali, cucuku. Jika tidak keberatan, bantu aku membuat kue kering untuk pesanan.”

Jieun tersenyum lembut pada neneknya. Ia menjawabnya dengan anggukan. Kemudian ia mengikuti neneknya menuju dapur. Disana ia membantu untuk membuat adonan, juga mencetak kue. Sementara kakeknya bertugas untuk memanggang kue.

“Jieun, siapa laki-laki yang tadi siang menjemputmu?” tanya kakeknya.

Jieun terkejut, bagaimana kakeknya bisa tahu?

“Itu… Temanku,” jawab Jieun gugup.

“Dia tampan sekali, sepertinya dia anak orang kaya. Siapa namanya? Apakah kalian sudah lama kenal? Bagaimana kau bisa kenal dengannya?” kini giliran neneknya yang menghujani Jieun dengan berbagai pertanyaan.

“Namanya Suho, ayahnya adalah seorang profesor sedangkan ibunya seorang desainer. Yaa… Dia sangat kaya. Kami baru kenal seminggu mungkin. Aku kenal dengannya di panti asuhan.” Kemudian Jieun menjelaskan dengan detail bagaimana pertemuannya dengan Suho.

Setelah Jieun bercerita suasana menjadi hening. Jieun merasa sedikit aneh, namun ia berpikir bahwa penjelasannya barusan sudah cukup sehingga kakek dan neneknya tidak perlu bertanya-tanya lagi. Jieun berusaha untuk tak peduli, ia terus berkonsentrasi untuk mencetak kue-kuenya. Dua puluh toples adalah jumlah yang cukup banyak.

“Jieun-ah, bolehkah aku memberimu sedikit nasihat?” Tiba-tiba kakek Jieun bersuara.

“Tentu saja, aku akan menghormati nasihatmu.”

Sang Kakek mendekati Jieun perlahan, kemudian beliau mengelus rambut Jieun. “Bukannya aku hendak membatasi pergaulanmu. Tapi aku ingin kau berhati-hati dengan orang kaya seperti temanmu itu. Kau sudah tahu tentang cerita ayahmu, kan? Maafkan kata-kataku ini, tapi aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama.”

Jieun merasa dadanya seperti ditusuk. Perkataan kakeknya barusan menyadarkannya, bahwa ia tidak boleh memiliki perasaan lebih pada Suho. Bagaimanapun juga, ia menyimpan sedikit rasa takut dan sakit hati kepada orang-orang kaya. Orang kaya mengingatkan dirinya dengan sang Ayah. Seketika ia tertunduk lesu, “Mianhae… Jeongmal mianhae…” ucap Jieun parau.

Gwenchana, kau tidak bersalah. Bukan maksudku untuk menyalahkanmu, Jieun,” ujar kakeknya.

Nenek Jieun pun ikut menenangkan Jieun. Beliau memeluk cucu semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang. “Jieun-ah, kau boleh berteman dengannya. Asalkan kau harus benar-benar memastikan bahwa ia adalah orang baik-baik. Jangan terlibat terlalu jauh, arra?”

Ditengah isakan kecilnya, Jieun mengangguk lemah. Ia memeluk neneknya erat.

 

                Sementara itu kediaman Suho kini tengah ramai karena kelima makhluk tak diundang sedang menginap di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Kai, dan Kyungsoo. Kini mereka sedang asyik menonton pertandingan bola di kamar Suho. Ditemani dengan soda dan snack yang beraneka ragam.

“Sudah lama ya, kita tidak menginap seperti ini. Kita terakhir melakukannya hampir 10 tahun lalu,” ujar Baekhyun.

“Sebenarnya kalian boleh menginap kapanpun, asal tidak merepotkan dan tidak minta yang aneh-aneh,” ucap Suho sambil mengotak-atik ponselnya. Ia sedang menanti pesan singkat dari Jieun, entah kenapa ia begitu yakin bahwa Jieun akan menghubunginya malam ini. Walaupun tim yang sedang bertanding malam ini adalah tim jagoannya, ia tetap tak peduli. Matanya tetap fokus pada layar ponselnya.

Hyung, aku paham,” bisik Sehun tiba-tiba.

“Apa maksudmu?”

“Jieun, kan? Kau sedang galau karena Jieun tak kunjung menghubungimu, kan?” selidik Sehun.

Suho menatap Sehun tajam, dia tak mengira kalau Sehun bisa membaca pikirannya. “Mworago?

HAP! Ponsel di genggaman Suho seketika lenyap, Baekhyun dengan cekatan mengambil ponsel itu saat Suho sedang lengah. Chanyeol, Baekhyun, Kai, dan Kyungsoo tertawa puas. Suho yang baru sadar langsung merebut ponselnya kembali, namun gagal.

“Kembalikan ponselku!”

Hyung, kau ini benar-benar, ya! Tega sekali menyembunyikan semuanya dari kami,” protes Kai.

“Padahal kami sangat bersedia untuk membantumu, hyung.”

“Jadi benar, ya, Jieun orangnya? Seleramu unik sekali.”

Suho seketika malu, kesal, dan juga bingung. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat kini terbongkar karena ulah Sehun. Walaupun rahasia itu diketahui oleh sahabatnya sendiri, tetap saja ia merasa malu, sangat malu. Bagaimana jika mereka membocorkan semua ini pada Jieun? Tamat sudah riwayatku, pikir Suho. “Awas jika kalian membocorkan hal ini ke publik!” ancam Suho. Kelima kawannya itu hanya mengangguk-angguk sambil tertawa.

“Kau dapat foto-fotonya darimana?” tanya Kyungsoo.

“Sudahlah, jangan kepo. Cepat kembalikan ponselku,” sinis Suho. Kyungsoo menyerahkan benda tipis itu kepada pemilik aslinya. Namun mata Suho membulat seketika.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA JIEUN?!!!”

Kring! Sebuah pesan singkat masuk.

“JIEUN!” koor mereka. Dengan cekatan Suho mengecek pesan masuk itu, memang benar itu adalah pesan dari Jieun. Ia bilang kalau besok jadwal latihan di panti asuhan adalah pagi hari, jam 8. “Apa yang kau katakan di SMS sebelumnya, Kyungsoo?”

“Aku hanya menanyakan jadwal latihan panti, dan… Menawarinya jalan-jalan. Besok tidak ada jadwal kuliah, kok. Gunakan saja waktu luangmu untuk mendekatinya lebih gencar,” jawab Kyungsoo santai.

Suho mendengus sebal, mau ditaruh dimana mukanya nanti saat bertemu Jieun? Benar-benar memalukan. “Tapi aku harus mengajaknya kemana?”

Lotte World,” usul Chanyeol.

“Ke pusat perbelanjaan paling mewah di Seoul,” tambah Baekhyun. “Manjakan dia dengan tas, baju, sepatu, dan barang-barang mahal lainnya,” lanjut Kai.

“Jangan, itu nanti saja. Menjelang hari H.”

Tiba-tiba Sehun bersuara, “Atau kau datang saja ke toko kuenya. Bilang saja kau ingin kenal dengan keluarganya.”

Suasana hening seketika. Suho menatap Sehun dalam-dalam, sementara otaknya kini sedang mencerna omongan Sehun barusan. Keluarga? Apakah ia harus melakukan hal itu? Apakah Jieun benar-benar wanita yang menjadi idamannya?

“Itu juga kalau kau mau, aku hanya usul. Kalau kau benar-benar serius, dekati juga keluarganya. Sering menjemput tapi tak pernah mampir, nanti susah direstui, hyung,” Sehun menyelesaikan ucapannya yang tadi.

“Ada benarnya, sih.” Chanyeol menepuk bahu Suho pelan, “Coba saja, hyung. Siapa tahu kalian memang cocok. Aku yakin keluarga Jieun akan menyambutmu dengan hangat,” ujarnya.

“Benar itu, hyung. Anggap saja bertamu ke rumah teman, niatnya kan, baik,” Kai ikut mendukung.

Apa kucoba saja, ya? Pikir Suho. Timbul keyakinan di hati Suho, lagipula niatnya memang baik. Toh dia hanya ingin mengenal keluarga Jieun, bukan bermaksud untuk macam-macam. Dia juga harus mengakui bahwa Jieun telah memikat hatinya. Tidak ada salahnya untuk melakukan pendekatan lebih intens. Segera ia mengetik balasan untuk Jieun. Ya, besok mereka akan bertemu di panti jam 8 pagi.

 

                Suho sudah duduk manis bersama anak-anak panti di ruang seni. Ada Minseok, Taeyeon, dan Jongdae juga disana. Mereka sedang asyik berbincang-bincang.

“Sudah lama kau tidak mampir kesini. Anak-anak merindukanmu, lho,” goda Taeyeon.

Ne, kami rindu dengan wajah tampanmu, oppa,” dengan polosnya seorang anak yang berambut pendek sebahu bernama Jinri itu memuji Suho.

Suho, Taeyeon, Jongdae, Minseok, dan yang lainnya pun tertawa. “Jinjja? Aku benar-benar tampan, ya?” tanya Suho.

Jinri pun mengangguk. “Kau memang tampan, hyung. Setiap orang kaya kan, tampan,” tambah seorang anak laki-laki bernama Yong Ae.

“Tidak harus kaya untuk menjadi tampan. Kalau kalian rajin mandi dan merawat diri, kalian akan menjadi orang-orang yang tampan dan cantik,” nasehat Suho. Dengan polosnya anak-anak polos tak berdosa itu mengangguk.

“Seperti aku,” gurau Jongdae. Mereka pun kembali tertawa.

Annyeonghaseyo,” terdengar suara merdu seorang wanita. Dengan serempak mereka menoleh ke sumber suara. Jieun berdiri di pintu dengan senyuman di bibirnya, Suho kembali terpana melihatnya. Walaupun Jieun berpenampilan sederhana, rok jeans, kaos putih dibalut dengan jaket varsity berwarna biru dongker dan putih, serta sepatu kets berwarna putih, Jieun tetap terlihat cantik di mata Suho.

“Bintang utama kita sudah datang,” ucap Minseok. Jieun tertawa lalu melangkah mendekat. Ia duduk di seberang Suho. “Maaf aku terlambat, aku terjebak macet.”

Gwenchana, sekarang kita langsung latihan saja,” kata Jongdae. Lalu mereka pun mengatur anak-anak panti untuk latihan. Acaranya sebentar lagi, dan persiapan yang dilakukan pun semakin matang. Suho berniat untuk mengajak ibunya kemari, namun ibunya sangat sibuk, dan terbesit sedikit keraguan dalam hatinya. Ia ingin memperkenalkan Jieun ke keluarganya, namun ia tak siap menerima tanggapan kedua orangtuanya. Bisa saja mereka marah saat tahu bahwa dia menyukai Jieun. Lagipula keluarga Jieun pun tak mungkin semudah itu menerima kehadiran orang baru, apalagi orang yang seperti dirinya.

“Suho-ya, apa kau baik-baik saja?” tegur Taeyeon.

Suho terkejut, lamunannya pun buyar. “Tentu, aku hanya… terlalu serius memperhatikan mereka,” ujar Suho sambil menunjuk tim paduan suara. Beruntung Taeyeon tidak curiga padanya. Ia hanya mengangguk lalu kembali mengajar.

                Waktu menunjukkan pukul 10, latihan sudah selesai. Anak-anak kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Sementara Suho, Jieun, Jongdae, Taeyeon, dan Minseok masih mengobrol di ruang seni. Mereka membicarakan tentang teknis acara. Suho dengan gamblang menjelaskan rentetan acara yang akan ditampilkan, dan mereka akan melakukan gladi resik di aula pribadi milik keluarga Suho.

“Acaranya dibuat besar-besaran, ya?” tanya Minseok.

Suho mengangguk, “Ibuku adalah tipe orang yang suka dengan kesempurnaan. Segalanya harus apik. Apalagi ini acara amal, beliau tidak mau mengecewakan para tamu penting. Menurutnya, jika kita memang niat membantu, jangan setengah-setengah. Apalagi kami tergolong orang-orang mampu.”

Jieun merasa terenyuh dengan penjelasan Suho barusan, ternyata Suho tidak seperti yang Jieun pikirkan. Selain tampan, ia juga berhati lembut. Eh, tunggu, ini kelewatan. Seharusnya Jieun tidak boleh memuji Suho seperti ini, kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran Suho. Kelihatannya saja sempurna, tapi siapa yang tahu kalau dia bagaikan serigala berbulu domba. Jieun segera menghentikan acara ‘memuji dalam hati’nya.

“Nanti aku, Jieun, dan Sena akan datang ke lokasi untuk melihat-lihat.”

“Sekarang juga bisa,” tawar Suho.

“Sena berhalangan hadir, ia sedang ada acara keluarga. Mungkin lusa,” kata Taeyeon. Suho pun menyetujuinya. Sementara Jieun masih diam seribu bahasa, hal itu membuat Suho curiga. Tidak biasanya Jieun seperti ini. “Jieun?” ucap Suho pelan. Jieun terkejut dan spontan menatap ke arah Suho.

“Kau kenapa diam saja?” tanya Suho.

“Aku… Aku sakit perut. Sepertinya aku harus ke dalam untuk mengambil minyak kayu putih,” ucap Jieun gugup. Ia langsung berdiri dan melangkah keluar ruang seni. Suho dan yang lainnya pun merasa aneh dengan tingkah Jieun. Suho merasa sedikit sedih, padahal hari ini ia ingin mengajak Jieun jalan-jalan. Tetapi Jieun malah sedang kurang fit.

“Aku ambilkan minum dulu,” giliran Taeyeon yang pamit untuk ke dalam.

 

                Jieun bergegas menuju dapur, disinilah tempat yang sepi dan aman untuk merenung. Ia benar-benar gugup tadi. Ia takut Suho curiga padanya. Seharusnya ia tidak boleh melamun di depan Suho, kini Jieun tengah sibuk merutuki dirinya sendiri.

“Ehem…”

Jieun menoleh, dihadapannya sudah berdiri Taeyeon dengan senyum mencurigakan. Jieun sudah sadar, pasti Taeyeon menyadari tingkah anehnya tadi. “Aku hanya…”

“Aku mengerti sekarang. Tatapannya, senyumnya, semuanya berbeda. Dan kini kau sedang dilanda kegalauan yang berlipat-lipat, begitu, kan?” Taeyeon mulai memojokkan Jieun.

“Tidak, aku hanya…”

“Suka tapi ragu.”

Jieun tidak berani melanjutkan, takut Taeyeon semakin memojokkannya. Ia pun harus mengakui kalau Suho sedikit demi sedikit telah berhasil mencuri hatinya. Namun ia takut, berkaca dari pengalaman sang Ibu yang sangat pedih. Ia tak ingin merasakan hal yang sama. “Eonnie, aku rasa kau sudah mengerti…”

Taeyeon berjalan mendekat, kemudian ia merangkul Jieun dengan hangat. Seulas senyuman terukir di bibirnya. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, apa yang kau takutkan. Aku sangat mengerti. Perasaan itu memang tak terduga, bisa datang kapan saja. Kalau sudah soal hati, tidak bisa dibohongi lagi.”

Jieun tertunduk lesu, ia sedang bingung menghadapi perasaannya sendiri. Rasa itu semakin hari semakin kuat, rasa itu adalah… Cinta.

“Jalani saja, jangan berpikir terlalu jauh dulu.” Taeyeon mengusap bahu Jieun lembut. Jieun pun merasa sedikit lega, perkataan Taeyeon ada benarnya. Lagipula setelah acara amal selesai, mereka tidak akan bertemu lagi.

“Terimakasih banyak, eonnie,” ucap Jieun tulus.

“Sama-sama,” balas Taeyeon. “Sekarang bantu aku membawa makanan dan minuman ini ke ruang seni,” lanjutnya. Lalu Jieun pun membantu Taeyeon.

 

                Suho, Jongdae, dan Minseok masih asyik mengobrol di ruang seni. Mereka hampir tidak menyadari kehadiran Jieun dan Taeyeon yang membawakan cemilan untuk mereka.

“Sepertinya asyik sekali,” komentar Jieun. Sontak hal itu membuat Suho menoleh ke arahnya. Suho merasa senang karena wajah Jieun sudah lebih ceria. Dia berharap supaya rencananya akan berhasil.

“Whoaa… Kalian baik sekali,” puji Jongdae yang nampak antusias melihat toples-toples berisi makanan ringan. Taeyeon membalasnya dengan sebuah cibiran. Sekarang Jieun berada tepat di sebelah Suho. Tentu saja hal itu mempermudah Suho untuk melaksanakan misi pertamanya.

“Jieun…”

Jieun pun menoleh dengan wajah polosnya. Neomu yeppo, batin Suho.

“Bagaimana kalau hari ini kau membantuku?” pinta Suho.

“Membantu apa?” Jieun nampak bingung.

“Mmmm… Bantu aku membeli souvenir untuk anak-anak panti.”

Jieun terdiam sejenak, ini sudah H-7 dan Suho belum membeli souvenir. Sepikun itukah seorang Kim Suho?

“Kenapa kau tidak mengajak Minseok-oppa atau Jongdae saja?”

Sial. Sepertinya Jieun mulai curiga, gerutu Suho dalam hati. “Oh…Ya… Mereka juga boleh ikut.”

Andwae,” Minseok dan Jongdae menolak dengan serempak(?). “Aku ada janji menemani anak-anak menonton film Frozen,” kata Jongdae.

“Aku juga tidak bisa, aku ada janji membantu Hyunji-ahjumma membeli beberapa bahan makanan. Iya kan, Tae?” Minseok ikut-ikutan menolak.

Taeyeon membalasnya dengan anggukan. Setelah mengetahui bahwa ketiga partnernya tidak bisa ikut menemani, Jieun merasa sedikit kecewa. Dan Suho… Tentu saja dia sangat senang, karena rencananya untuk mengajak Jieun kencan berhasil. Walaupun dengan dalih ‘temani aku membeli souvenir’.

“Huh, kalian ini ada saja alasannya. Baiklah, aku akan menemanimu,” ujar Jieun.

“Nah, bagus. Lagipula kau yang paling mengerti selera anak-anak panti,” kata Jongdae.

“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang saja,” ajak Suho. Mereka pun pamit, kemudian pergi untuk hunting souvenir.

                Mereka pergi ke sebuah toko khusus untuk anak-anak. Bangunannya dicat warna-warni dan penuh dengan aksesoris yang cerah ceria. Hal itu membuat mood Jieun naik, karena ia suka dengan hal-hal yang ceria. “Tidak usah berlebihan seperti itu,” ledek Suho.

“Siapa yang berlebihan? Biasa saja kok,” Jieun membela diri.

“Permisi, apa ada yang bisa saya bantu?” suara seorang pelayan toko menghentikan perdebatan Suho dan Jieun.

“Tentu, saya sedang mencari souvenir yang cocok untuk acara…”

“Ulangtahun? Tenang saja, saya bisa memberikan referensi yang cocok untuk acara ulang tahun buah hati anda. Toko kami ini sudah terpercaya, saya yakin anda dan istri anda tidak akan kecewa,” pelayan itu memotong omongan Suho dengan seenaknya.

“Buah hati?”

“Istri?”

Suho dan Jieun saling pandang, mereka tidak mengerti maksud pelayan toko itu. Siapa yang akan mengadakan pesta ulang tahun? Lalu siapa itu ‘anda dan istri anda’?

“Anda salah paham, kami bukan pasangan suami istri. Dan kami juga tidak mencari souvenir untuk acara ulang tahun. Tidak, bukan, bukan,” Suho yang sadar lebih dulu segera meluruskan agar pelayan toko itu tidak salah persepsi lagi. “Kami sedang mencari souvenir yang cocok untuk bingkisan acara amal. Kebetulan acara amal itu mengundak anak-anak panti asuhan.”

“Oohh… Tapi kalian berdua cocok, lho.”

Suho memutar bola matanya, “Ya, terimakasih. Sekarang, bisakah anda membantu saya?”

Pelayan toko ini konyol dan menyebalkan, pikir Jieun. Kemudian pelayan toko itu menggiring mereka menuju ke meja kasir. Disana mereka disuguhi sebuah katalog. Jieun menyikut lengan Suho pelan, “Wae?” tanya Suho.

“Cari saja yang warnanya netral, bisa untuk laki-laki dan perempuan.” Suho hanya membalasnya dengan anggukan, tanpa mengalihkan pandangannya dari katalog.

“Anda bisa memilih yang ini. Berisi tas dan alat tulis, atau bisa juga satu set alat makan beserta tasnya. Atau yang lebih lengkap, satu set alat tulis, alat makan, beserta tasnya masing-masing.”

“Saya pilih yang paling lengkap, warna dan motifnya disamakan saja, yang netral. Bisa untuk laki-laki atau perempuan.”

Pelayan toko itu segera mencatat apa saja yang Suho pesan. Tidak lupa Suho meninggalkan kartu namanya dan meminta nomor telepon toko. Acara hunting pun selesai. Mereka kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.

“Kau ini pikun sekali ya, padahal kau masih muda. H-7 kau baru ingat tentang souvenir?”

“Aku hanya manusia biasa, jadi wajar kalau aku lupa. Belum lagi aku punya banyak tugas kuliah.”

“Bahkan kau tidak meminta pendapatku sama sekali. Seharusnya aku tidak usah ikut,” omel Jieun tiba-tiba.

Suho hanya tertawa kecil, “Hey, ada apa denganmu? Biasanya kau anteng-anteng saja saat kuajak pergi.”

Jieun hanya diam, ia hanya merasa sedikit kesal karena ia harus pergi berdua saja dengan Suho. Hal itu akan membuat perasaannya makin menjadi-jadi, dan dia tak mau itu terjadi. Melihat Jieun yang diam seperti itu, membuat Suho merasa bersalah. Ia pun berinisiatif untuk mengajak Jieun makan eskrim, siapa tahu idenya itu berhasil.

Creamy Dreamy.

Begitu tulisan yang tertera di sebuah cafe bernuansa warna-warna pastel. Ini adalah salah satu cafe berkelas di Seoul dan kerap dikunjungi rombongan keluarga, juga pasangan-pasangan muda. Cafe ini menjual berbagai macam dessert termasuk eskrim. Di belakang cafe terdapat taman yang sangat luas. Cafe ini selalu ramai, terutama saat akhir pekan.

“Ayo, turun,” Suho melepas seatbelt-nya. Jieun nampak kebingungan, “Untuk apa kita kemari?” tanyanya. Suho hanya tersenyum kecil, kemudian keluar dari mobil. Jieun semakin bingung, ia pun segera keluar dari mobil menyusul Suho.

“Suho…” Jieun memanggil Suho untuk meminta penjelasan. Akan tetapi, ia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba karena takjub dengan pemandangan di hadapannya.

“Kali ini kau boleh menunjukkan ekspresi kagum yang berlebihan,” ujar Suho.

Jieun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, bangunan, halaman depan, dan taman yang luas, menarik, dan apik. Ia belum pernah melihat tempat sebagus ini.

“Kau jalan-jalan saja di taman, nanti aku menyusul. Aku ingin membeli sesuatu dulu.” Jieun pun mulai tersadar dari keterpukauannya(?) ia mengangguk, kemudian berjalan menuju taman. Jieun merasa sangat senang, ia bisa melihat bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni, duduk di ayunan, melihat kolam ikan, dan duduk-duduk di bangku taman. Beruntung hari ini taman sedang tidak terlalu ramai, jadi Jieun bisa menikmati keindahan taman sepuasnya. Setelah puas melihat-lihat, ia pun duduk di sebuah ayunan sambil menunggu Suho datang.

“Benar-benar indah, seandainya aku punya rumah dengan halaman seindah ini,” Jieun berbicara sendiri.

“Kau akan mendapatkannya jika kau menikah denganku.”

Suho tiba-tiba datang dan duduk di samping Jieun, bangku ayunan ini memang cukup untuk 2 orang. Tangan kanan Suho terulur, dengan satu mangkuk eskrim. “Apa maksudmu barusan?” Jieun menatap Suho tajam.

“Sudahlah, ambil dulu eskrimnya.”

Jieun menerima eskrim dari Suho, eskrim coklat dan vanilla bertabur kacang, remahan biskuit, saus coklat, dihiasi dengan astor dan buah strawberry, sungguh menggugah selera. “Ucapanku tadi hanya gurauan, tapi memang benar, kok. Jika kau menikah denganku, kau bisa mendapatkan apa saja yang kau mau. Hahaha.”

“Cih, siapa juga yang mau menikah denganmu?” cibir Jieun.

“Jangan salah, diluar sana ada banyak wanita yang ingin mendapatkanku. Ketampananku ini sudah tidak diragukan lagi,” Suho semakin membangga-banggakan dirinya sendiri. “Tapi aku tidak termasuk.”

Aigoo… Yah, kita tunggu saja. Kau akan jatuh hati padaku.”

Tidak, aku sudah jatuh hati padamu, Suho-ssi, batin Jieun. Ia menatap hamparan bunga di depannya dengan tatapan sendu. Bagaimana jika perasaannya semakin menjadi-jadi? Bagaimana kalau nanti Suho semakin sering memberinya perlakuan spesial seperti sekarang ini? Bagaimana kalau nanti ia menjadi semakin berharap pada Suho? Ibu, kakek, nenek, apakah mereka akan setuju? Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran dalam benak Jieun, dan itu sangat mengganggu.

“Jieun, kenapa eskrimnya tidak dimakan? Kau tak suka?”

Jieun segera menghentikan lamunannya, ia pun sadar kalau ia belum menyentuh eskrimnya samasekali. “Bukan, aku… Aku hanya bingung kenapa kau tiba-tiba membelikanku eskrim? Darimana kau tahu kalau aku suka eskrim?”

Suho tersenyum, “Aku merasa bersalah karena membuatmu kesal saat di toko souvenir. Mianhae.” Suho menatap Jieun dalam-dalam, Jieun pun dapat melihat ketulusan Suho. Kini justru ia yang merasa bersalah pada Suho.

“Aku yang seharusnya minta maaf, tidak sepantasnya aku protes seperti tadi. Itu kan, acaramu, jadi kau yang berhak memilih. Aku sungguh menyesal, kau juga seharusnya tidak usah repot-repot mentraktirku seperti ini.”

“Tidak-tidak, aku ikhlas. Lagipula kau suka eskrim, kan? Berarti strategiku benar.”

Jieun hanya tertawa pelan, kemudian ia mulai menyendokkan eskrim ke mulutnya. Rasa eskrimnya benar-benar lezat, Jieun yakin pasti harga eskrim ini mahal. Siang itu mereka menghabiskan waktu duduk di ayunan dan melakukan pembicaraan ringan. Mereka merasa sangat senang, sepertinya hari itu adalah hari yang paling mengesankan untuk mereka berdua.

“Terimakasih sudah membuatku senang hari ini,” ucap Jieun tulus saat Suho mengantarnya sampai rumah.

Cheonmaneyo, aku juga senang jika kau senang.”

“Pulanglah, kau butuh istirahat.”

“Jadi kau mulai perhatian padaku, ya?” goda Suho.

Kedua pipi Jieun merona seketika, ia tidak menyadari kalau barusan ia mengucapkan kata-kata yang… Ah, Jieun benar-benar malu. “Aku perhatian pada semua orang, kok,” elak Jieun. Tingkah Jieun membuat Suho tertawa puas.

“Jangan mentertawakanku!”

“Hahaha… Oke, oke, aku pulang dulu. Lain kali aku akan mengajakmu bersenang-senang lagi.”

“Park Jieun.”

Jieun membeku seketika setelah mendengar seseorang memanggilnya. Suara itu adalah suara yang sangat familiar baginya, itu adalah suara sang Ibu. Jieun menolehkan kepalanya perlahan, “Eomma…” lirihnya.

 

-To be continue-

 

Fyuuhh! Akhirnya selesai juga, nih. Gimana? Seru? Romantis? Kurang greget? Biasa saja? Gaje? Author minta maaf sebanyak-banyaknya jika kalian kurang puas L oleh karena itu author butuh kritik dan saran yang membangun. Maaf juga kalau lama updatenya, karena author lagi sibuk dengan tugas sekolah. Hehehe… Thanks for read^^

32 responses to “[Freelance] Falling Love with a Rich Man (Chapter 3)

  1. Hwa gimana tanggapan Jieun Eomma ketika lihat anaknya berdua dengan Kim Suho? Aaaaaaaaaaaaak jadi penasaran. Cepet dilanjut ya author^^

  2. Bgaimana reaksi eomma ji eun liat suho?kyak bner jieun ma suho ad hubngan kluarga,bgmana ksah cinta mereka?bkin pnasaran bnget,dtnggu next chap…fighting!!

  3. jangan bilang ayah suho ayahnya jieun juga? ckck ini kasian jieun nya kalo harus bingung sama perasaannya.. next chapter gk perlu cepet2 kok, santai aja thor. kita para readers masih mau nunggu kok, dan ngarepnya di chapter depan bakal muncul konflik yg lebih besar 🙂 semangat ya buat sekolahnya ^^

  4. Tuh eommanya Jieun muncul dari mana..??
    apa nantinya eomma jieun gak bakalan setuju kalo jieun sama Suho??
    lanjut deh, penasaran nih

  5. suho kalo cinta buruan bilang ntar keburu disambar cowok lain uuuu sweetnya mereka berdua
    ayo dilanjut lagi chingu
    itu eomma jieun dah balik lagi

  6. Wah sehun peka bgt ea.jadi ketahuan kan suho klu suka ama jieun.aq suka suho so sweet bgt jdi namja.tapi akankah keluarga masing2 akan setuju.saksikan chapter selanjut-a.hehe.aq tunggu ea thor.

  7. suho aaaaaaaaaaa romantiiiis sekalee kekekeke aku suka kenarsisan nya hahay. jieun nya malu malu aduuuh jadi ikutan malu bacanya. tapi… tapi yaaaah kok keluarganya gk setuju 😥
    si 5 tuyul itu lucuu wkwkwk bguslah mreka nge dukung suho.
    jongdae i love you :-*
    kyanya bkal ada konflik keluarga T.T
    next chap fighting^^

  8. Cieee suho oppa romantis banget~
    Cie orang kaya lagi falling in love… kekekeke
    aku penasaran gimana reaksi keluarga suha tau hubungan dekat antara suho dengan jieun… adakah hubungannya dengan masa lalu jieun?
    ditunggu next cahpter aja deh 🙂

  9. apakah jieun dan suho punya hubungan keluarga????

    aku penasarn apa reaksi ibunya jieun nantinya….

    next…
    keep writing

  10. Aduh itu bneran ga ada hubungannya sama appanya suho kaan?? (Ttg siapa appanya jieun) trs itu eomma nya jieun knapa? Gimana reaksinya chingu?? *feeling gw kok ga enak yaa??*Omg kok jd gw yg panic??*wheww… -_-

    Pdhal si suho udh niat bgt deketin jieunnya… Si jieunnya jg mau tp ragu gara2 latar belakang dia + eommanya dulu…. (Nasihat kake + neneknya)

    Fiuhhh…. Semoga aja pikiran gw ga bener. And please jgn bikin eomma-nya suho kya eomma2 yg di drama2. Please…. (Eomma2 kaya yg kejam + suka ngatur sana sini).

    Ditunggu kelanjutannya next chap 4 ya chingu… See u soon!!
    Keep writing (ง’̀⌣’́)ง 화이팅!!!

  11. Pingback: [Freelance] Falling Love with a Rich Man (Chapter 4) | SAY - Korean Fanfiction·

  12. Woohh sisuho bener” suka sama jieun yah??jieun juga?? Tapi….klo si suho ngenalin jieun ke orang tuanya gimana ekspresi ortu suho?semoga setuju deh

  13. Ciee suho sama jieun ngedate ceritanya :p wah ketauan taeyeon tu kalau suka sama suho 😀
    Udah nikah aja beneran-_- (tetep di dunia ff)
    Suho beneran yaaa suka banget sma jieun-_-
    Itu eommanya jieun pasti gasuka TT
    Next2

  14. Ibunya Jieun mau ngapain? duh,bener-bener bikin penasaran! Makin bagus ceritanya,tapi entah kenapa aku ngerasa agak kecepetan. Tapi tetep bagus kok ^^

  15. Pingback: [Freelance] Falling Love with a Rich Man (Chapter 10) – END | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s