[Freelance] Sequel : Baby, are you okay? (Part 1)

akak

Sequel : Baby, are you okay? part 1

Author : babylulu || @lulubeib

Main cast : Oh Sehun

Park Hye Min

Kang Yura

Genre : romance, sad, friendship

Rating : 15+

Previous : Baby, are you okay?

HAPPY READING…;D

Sorak sorai penuh kemenenangan ramai terdengar dari dalam aula Seoul University. Raut wajah kebahagiaan terpancar dari para mahasiswa dengan pakaian khas wisuda yang mereka kenakan. Rasa senang bercampur haru sedang mereka rasakan saat ini, hari dimana mereka akan menerima gelar sebagai sarjana setelah perjuangan mereka bertahun-tahun. Senyum bahagia tak henti-hentinya terukir di wajah para mahasiswa mahasisiwi yang sebentar lagi akan memperoleh gelar dibelakang nama mereka. Kecuali seorang namja yang duduk dibarisan paling depan, yang memilih untuk diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Sehun-ah, tak bisakah kau berbahagia dihari kelulusanmu ini nak?”. Nyonya Oh berujar lirih melihat putra satu-satunya yang hanya terdiam di hari penting seperti sekarang ini.

“aku bahagia eomma, tapi aku sedang tidak ingin tersenyum”. Jawab Sehun dingin seakan tak menghiraukan ucapan eommanya barusan.

“setidaknya berpura-puralah untuk tersenyum didepan dosen dan rektor yang sebentar lagi akan mengesahkanmu sebagai sarjana”. Ada banyak hal yang membuat Sehun bersikap dingin kepada eommanya, dan sepertinya nyonya Oh lebih tahu kenapa anak semata wayangnya itu sekarang berubah menjadi anak pendiam.

 

***

 

Ya, sejak kepergian Hye Min beberapa hari yang lalu, Sehun menjadi pendiam seperti ini. Lebih tepatnya dia seperti mayat hidup. Jangan lupakan wajah pucat dengan kantung mata layaknya seekor panda yang kini tampak mendominasi wajah tampannya. Tak ayal membuat siapapun yang melihatnya merasa kasihan.

Tak henti-hentinya Sehun menyalahkan eomma dan appanya atas kepergian Hye Min dan nyonya Park. Terlebih eomma Sehun yang mengatakan bahwa ia akan dipindahkan ke Jepang dan dijodohkan dengan anak teman appa Sehun disana. Membuatnya semakin frustasi memikirkan penderitaan yang tengah ia rasakan. Bahkan appanya saja belum memberikan klarifikasi lebih langsung karena samapi sekarang ia masih berada di Jepang.

 

***

 

Sehun POV

“Minnie, lihatlah aku sudah lulus sekarang”. Ucapku yang tengah terbaring di ranjang Hye Min, sambil menatap lekat foto kami berdua. Berharap dia bisa mendengarkan ucapanku dari sini.

“harusnya kau juga berdiri disana tadi, bersamaku”. Kuusap perlahan wajahnya yang masih dan masih kuperhatikan dengan seksama.

Please, tell me why, I want to become strong

I don’t want to lose you without even knowing the reason

 

“dan harusnya hari ini aku juga melamarmu, memintamu untuk jadi pasangan hidupku selamanya”. Hatiku kembali bergetar mengingat hari-hari yang kami lalui bersama.

“apa yang sedang kau lakukan Minnie? Apakah kau juga sama hancurnya denganku? Atau malah sebaliknya?”. Kupejamkan mataku, mendekap erat lembaran foto yang menjadi teman bicaraku belakangan ini.

Like the stars in the sky, you shine on me

If you leave, I’m trapped in darkness

 

Hanya cahaya redup dari lampu tidur yang setia menemaniku sampai sekarang. Kulirik jam di nakas samping tempat tidur, sudah jam 2 pagi rupanya. Sayangnya rasa kantuk tak kunjung datang menghampiriku, tak ada keinginan untuk tidur, sekedar mengistirahatkan tubuhku yang semakin melemah ini.

 

Wanna go touch wanna get tips

Give me a chance

Please don’t say you can’t, I beg you

Hariku seakan hancur tanpa kehadirannya lagi. Ingin sekali kuputar waktu dan kembali disaat kami masih bersama.

A tiny dream that hasn’t bloomed

A tiny dream that has stopped

Why can’t I? I want to keep going

It’s my path, make a dream

Don’t block me, make a dream

Who can dare to end it?

Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasihku untuknya, atau membalas semua kebaikannya padaku selama ini.

It’s frustrating, tell me why, help me understand please

There are things you can’t have even if you want it

I want to make this crooked love straight again
If you just leave, I might go crazy

( toheart – tell me why )

 

 

Aku tahu dia sekarang di Jeju, rumah halmonienya. Tapi aku tak bisa menyusulnya kesana sebelum bertemu dengan appa. Mendengar semua penjelasan darinya, aku tak mau bertindak gegabah.

Setelah kejadian dimana aku menyusul Hye Min di bandara 3 minggu lalu, eomma menyembunyikan semua kunci mobil dan motor, takut sewaktu-waktu aku akan kabur mencari Hye Min. Bukan tanpa alasan eomma melarangku, kaki kananku cedera akibat kecelakaan kecil yang ku alami sehari setelah kepergian Hye Min. Dan ini membuatku semakin merasa lemah karena tak bisa menemukan Hye Min, untuk memperjuangkan cinta kami.

 

****

Author POV

 

Seorang lelaki paruh baya sedang asyik memperhatikan koran paginya sambil menyesap secangkir kopi yang masih mengepul di pagi yang cerah ini.

“Hun-ah, kemarilah, ada yang ingin appa bicarakan padamu”. Ujar appa Sehun, sambil menunjuk kursi kosong disebelahnya menggunakan dagunya, mengisyaratkan pada Sehun untuk segera duduk disana.

“ne appa, aku juga ingin bertanya banyak padamu”. Sehun berangsur menghampiri appanya, bukannya duduk disamping Tuan Oh, Sehun justru lebih memilih duduk berhadapan dengan appanya di meja makan.

“eommamu bilang kalau akhir-akhir ini kau jadi lebih sering diam dan bersikap dingin padanya, apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini Hun-ah?”. Tuan Oh berujar dengan begitu tenang, lain halnya dengan Sehun yang sekarang memasang wajah seolah ingin menginterogasi seorang penjahat.

“ harusnya aku yang bertanya, apa yang appa lakukan sehingga membuat Hye Min dan eomeonim pergi dari sini?”. Ucap Sehun tak sabaran, pikirannya sudah cukup dibuat kalut dan ia ingin segera menemukan jawabannya.

“jadi karena ini kau bertingkah kekanakan, seperti anak TK yang kehilangan mainannya saja”. Sebenarnya tuan Oh sudah tahu hal ini dari istrinya, tapi ia hanya ingin mendengarkanya langsung dari mulut Sehun sendiri.

“jawab saja pertanyaanku appa, aku sedang tidak ingin berdebat”. Nada suaranya sedikit meninggi. Kesabarannya sedang diuji.

“tidak ada yang appa lakukan Hun-ah, semua ini memang sudah keinginan nyonya Park sendiri untuk pergi dari rumah kita”. Tuan Oh berusaha memberi penjelasan kepada Sehun.

“lalu kenapa mereka tiba-tiba pergi tanpa berpamitan padaku, dan kenapa eomma bilang kalau aku akan dipindahan ke Jepang untuk dijodohkan dengan anak teman appa disana? Apa semua itu benar?”. Sehun semakin geram, amarahnya sudah tak terbendung lagi.

“nyonya Park sudah sejak dulu ingin pergi dari rumah ini, dia merasa terlalu banyak berhutang budi pada kita jika terus menerus berada disini. Tapi appa melarangnya, appa tetap ingin membantu mereka hingga Hye Min menyelesaikan pendidikannya, mengingat kematian tuan Park juga terjadi karena kelalaian appa”. Tuan Oh menghela nafas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya lebih lanjut.

“dan tentang perjodohan itu, appa berubah pikiran. Appa memang akan segera membawamu ke Jepang untuk menggarap proyek baru appa dengan Tuan Kang. Dia memiliki anak perempuan yang masih kuliah, dan ingin menjodohkannya denganmu. Awalnya appa menyetujui usulan beliau, tapi setelah appa pikir lagi, appa bukanlah seorang yang jahat yang tega menukar kebahagiaan anaknya demi uang. Appa akan membiarkan kalian saling mengenal satu sama lain, setelah itu kalian bisa menentukan sendiri jalan hidup kalian”. Jelas appa Sehun panjang kali lebar sama dengan luas (hehe…mian).

“jadi?”. Raut wajah Sehun seketika berubah, perasaan lega sekaligus kecewa ia rasakan sekaligus. Lega karena ia tak jadi dijodohkan, tapi juga kecewa karena ia yakin Hye Min pasti salah paham karena berita ini.

“eomma belum mengetahuinya, jadi berhentilah bersikap seperti itu”. Tuan Oh mengakhiri penjelasannya dan kembali meneguk sisa kopi dalam cangkirnya yang sudah dingin.

“gomawo appa”. Sehun berujar cepat yang kemudian berlari kecil menuju kamarnya di lantai dua. Ada sesuatu yang baru dia ingat, kebodohan yang baru ia sadari sekarang.

 

****

 

Chanyeol terlihat mengendap-endap didepan rumah Sehun, layaknya seorang stalker yang sedang menunggu idolanya keluar rumah. Dan benar saja, sejenak kemudian Sehun menampakkan dirinya dengan style yang aneh, jaket, celana, kacamata, sepatu, backpack semua dengan warna hitam. Chanyeol bergumam pelan melihat kelakuan sahabatnya yang ia anggap kurang waras ini.

“tak usah banyak tanya yeol, cepat ambil mobilnya sebelum appa dan eomma pulang”. Sehun memberikan kunci mobilnya pada Chanyeol. Kunci cadangan lebih tepatnya, ia hampir lupa kalau ia pernah menduplikat kunci mobilnya dulu.

Hari ini, entah ada angin apa Chanyeol langsung setuju saat Sehun meminta bantuannya untuk mengantarkannya ke Jeju, menyusul Hye Min. Tak Mungkin bagi Sehun untuk membawa sendiri mobilnya, mengingat kondisi kakinya yang belum sembuh total.

Sebenarnya ia bisa saja membeli tiket pesawat untuk mempersingkat waktu perjalanannya, tapi dengan berat hati ia urungkan niatnya. Sehun tak ingin bertemu orang tuanya di bandara, karena hari ini secara kebetulan orang tuanya sedang berada disana untuk menjemput teman appanya dari Jepang.

Agaknya dewi fortuna sedang berpihak pada Sehun. Dimulai dari perjodohan konyol yang dibatalkan appanya, kunci cadangan yang ia temukan, lalu orang tuanya yang pergi dari rumah dan terakhir Chanyeol yang dengan senang hati mau menjadi supir pribadinya. Benar-benar sempurna.

‘Hye Min, tunggu aku disana’

Jalanan kota yang sepi membuat Sehun semakin melebarkan senyumnya, artinya perjalanannya akan berjalan lancar. Tak henti-hentinya ia mengintruksi Chanyeol untuk menambah kecepatan laju mobilnya itu. Nampaknya ia sudah tak sabar ingin segera bertemu Hye Min.

“Yeol, lebih cepat lagi”. Pinta Sehun sambil memainkan ponselnya, mencari jejak Hye Min dari semua media sosial yang ia punya.

“oke”. Chanyeol mengangguk mengiyakan permintaan Sehun.

“Yeol, bisa lebih cepat lagi tidak?”. Sehun menghempaskan punggungnya pada sandaran jok yang ia duduki. Ia mulai kesal karena Chanyeol membawa mobilnya dengan sangat pelan.

“kau gila Hun, aku tak ingin tertangkap polisi karena melaju dengan kecepatan diluar batas”. Chanyeol masih memfokuskan pandangannya ke depan. Tak menghiraukan Sehun yang mulai memberontak. Meminta Chanyeol untuk berganti posisi agar dia bisa memegang kendali.

“kalau kau tak berniat membantuku biar aku saja yang membawa mobilnya”. Ucap Sehun yang mulai kehilangan kesabarannya.

“Hun…!!! Jebal, jangan ganggu konsentrasiku sekarang”. Seru Chanyeol tak kalah kerasnya.

“aku ingin segera sampai ke Jeju Yeol !, kau tak tahu bagaimana perasaanku sekarang”. Sehun kembali mencerca Chanyeol dengan segala alasannya.

“ Tak bisakah kau bersabar sebentar, aku tau perasaanmu, tapi lihatlah untuk berjalan saja kau masih kesusahan, jangan harap aku akan membiarkanmu membawa mobil sendiri”. Chanyeol menjawabnya dengan penuh penekanan.

“ kalau jalanmu saja seperti ini, kapan kita sampai Jeju hah?”. Emosi Sehun benar-benar menuncak.

“terserah..!!!, aku tak peduli”. Dan Chanyeol benar-benar menuruti apa kata Sehun dengan menginjak pedal gasnya sekuat tenaga.

“YEOL….!!!! BERHEN..”

BRAKKK……..!!!!!!!

Benturan itu serasa meremukkan seluruh tulang belulang Sehun. Darah segar mengalir dari pelipisnya. Tak jauh berbeda dengan Chanyeol yang tergeletak lemas disebelah kiri Sehun.

Chanyeol kehilangan konsentrasi saat beradu mulut dengan Sehun, dan sialnya ia tak menyadari lampu merah menyala saat mereka melewati sebuah perempatan, berbarengan dengan datangnya mobil truk pengangkut barang dari arah kanan yang melaju dengan cepat. Tabrakan itu pun tak bisa dihindari.

Kaki kanan Sehun retak, benturan dikepalanya cukup parah, dan luka disekujur tubuhnya bahkan tak terhitung. Beruntung karena Chanyeol tak mengalami luka separah Sehun, tapi itu cukup membuatnya merasakan dinginya kamar operasi karena lengannya yang sobek.

 

****

 

Sinar matahari sore terasa begitu indah, menggelitik mata setiap orang yang memandangnya. Apalagi deru ombak yang saling bersautan menambah suasana hati menjadi tenang dan damai. Gadis itu sepertinya tak ingin beranjak dari tempatnya saat ini. Dibawah pohon rindang tepat di tepi pantai Hamdeok yang begitu mempesona. Dengan balutan kemeja putih dan rok hitam selutut, bahkan ia belum sempat mengganti baju kerjanya. Terlalu lelah jika harus pulang kerumah lalu kembali ke tempat favoritnya beberapa hari terakhir ini.

Hye Min memang lebih sering menghabiskan waktu senggangnya untuk sekedar duduk ditepi pantai seperti sekarang ini. Menumpahkan semua perasaanya pada laut yang terhampar luas didepannya. Tak ada keberanian dalam dirinya untuk berbagi cerita dengan orang-orang yang baru ia kenal di resort tempatnya bekerja. Hye Min hanya tak ingin dianggap gadis lemah, dan untuk urusan tutup menutupi sepertinya Hye Min memang ahli. Dia bisa bersikap seolah-olah dia baik-baik saja didepan pegawai lain, bahkan dia dikenal sebagai gadis si murah senyum oleh teman-temannya di resort. Tanpa mereka ketahui bahwa senyum yang selama ini mereka lihat hanyalah kebohongan yang sangat menyakitkan.

Hye Min POV

“Hye Min-ah, apa yang kau lakukan disana?”. Kudengar seseorang memanggilku dari belakang, mengejutkanku dari lamunan panjang yang sedang ku nikmati ini.

“a.. Jin-ah, aku hanya sedang menikmati sunset”. Dia Soo Jin, teman kerjaku di resort. Dan dialah satu-satunya orang yang dekat denganku selama 3 minggu aku menetap disini. Kulihat dia semakin mendekat dan duduk tepat disampingku.

“apakah ini hobi barumu Min-ah, melihat sunset sambil melamun?”. Pertanyaanya bahkan terdengar seperti pernyataan untukku.

“ aniyo…aku hanya sedang ingin menikmati angin sore, tak ada salahnya kan”. Aku kembali memberikan jawaban palsu untuknya, bahkan ini sudah ketiga kalinya Soo Jin memergokiku yang sedang melamun disini.

“oke, aku terima jawabanmu kali ini. Tapi kau harus tau Min-ah, aku ini temanmu, kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya”. Senyum tulus terpancar dari wajahnya, ia benar-benar teman yang baik. Tapi mungkin tidak untuk sekarang Soo Jin, aku belum siap untuk membagi cerita sedihku kepada siapapun.

“gomawo Jin-ah, kau memang teman yang baik”. Dia berdiri lalu menepuk bahuku pelan, berjalan meninggalkanku yang masih terduduk disini sambil sesekali melambaikan tangannya kearahku.

Kulanjutkan kegiatanku yang sempat terhenti tadi, apalagi kalau bukan melamun. Dengan obyek yang selalu sama dari hari ke hari, Oh Se Hun. Hanya satu nama itu yang selalu memenuhi ruang hati dan otakku saat ini. Satu hal yang aku sadari setelah pergi meninggalkannya, melupakan itu tak semudah kedengarannya. Ku pikir dengan menyibukkan diri dengan bekerja akan mengalihkan pikiranku tentangnya. Tapi nyatanya nol besar yang kudapat, alih-alih bisa melupakannya aku justru semakin terjerumus dalam ingatanku tentangnya. Tentang dia yang selama ini ada untukku, menjadi teman berbagi, menjagaku, menyayangiku dan mencintaiku.

Masih jelas teringat dalam benakku bagaimana raut wajahnya saat kesal, atau saat marah karena aku terlambat membangunkannya dipagi hari. Terlebih saat dia membuat jantungku berdetak lebih cepat karena tindakannya yang kurang ajar. Dan tak bisa ku pungkiri aku merindukan kekurang ajarannya itu. Bagaimana ia menggenggam tanganku, menyandarkan kepalanya di bahuku, memelukku secara tiba-tiba, dan juga menciumku.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?”. Air mataku kembali menetes, entah sudah berapa kali cairan itu lolos dari pelupuk mataku. Terlalu sesak dada ini mengingat semua kenangan yang kami lalui bersama. Ternyata benar omongan mereka, melupakan kenangan manis bahkan lebih sulit daripada menciptakannya sendiri.

Ingin sekali kurasakan pelukan hangat itu sekali lagi, pelukan yang sangat menenangkan dari orang yang sangat aku rindukan keberadaanya. Aku benar-benar telah hancur, tak tahu harus bagaimana untuk kembali menata kepingan hatiku yang sudah tak berbentuk ini.

 

****

 

Nyonya Oh tak henti-hentinya menangis histeris, mendapati putra kesayangannya tergolek lemah di dalam sana. Tiga jam berlalu sejak Sehun masuk kedalam kamar operasi dan belum ada tanda-tanda apapun dari dokter yang menanganinya.

Hal ini kontan membuat nyonya dan tuan Oh semakin khawatir dengan keadaan Sehun. Bahkan tuan Kang dan putrinya yang baru datang dari Jepang ikut menunggui Sehun yang sedang memperjuangkan hidup dan matinya.

CEKLEK

Beberapa orang dengan pakaian serba putih dan masker yang menutup mulut mereka, keluar dari dalam ruangan bertuliskan kamar operasi itu. Tuan dan nyonya Oh segera menghampiri mereka dengan tatapan penuh pengharapan.

“Bagaimana keadaan anak kami dok?”. Tanya nyonya Oh tak sabaran, dengan sorot mata kesedihan yang terpancar jelas dari wajahnya.

“hhh…..anak anda mengalami trauma di kepala yang cukup hebat karena kehilangan banyak darah, tapi dia berhasil melewati masa kritisnya. Dan untuk fraktur di kaki kanannya, masih ada kemungkinan untuk sembuh, hanya butuh waktu yang cukup lama. Anda harus banyak bersabar dan terus memberikannya dukungan”. Dokter Byun mengakhiri penjelasaanya lalu berpamitan kepada tuan dan nyonya Oh.

 

****

 

Sehun masih terlihat lemah sepulangnya dari rumah sakit 2 minggu yang lalu. Trauma di kepalanya sudah berangsur membaik, hanya saja ia harus merelakan kaki kanannya dipasangi alat penyangga. Sedangkan Chanyeol, ia bahkan sudah kembali berkeliaran seperti dulu lagi. Sesekali menjenguk Sehun yang sekarang harus menggunakan kursi roda, walau Sehun yakin niatnya tak lebih untuk mendekati gadis yang sekarang menjaganya, Kang Yura. Putri dari teman appa Sehun yang memilih untuk tinggal bersamanya sejak sebulan yang lalu.

Yura sendiri yang menawarkan dirinya pada nyonya Oh untuk menjaga Sehun yang masih sakit, sejak dari rumah sakit sampai sekarang. Appanya bahkan sudah kembali ke Jepang bersama tuan Oh untuk menyelesaikan proyek baru mereka yang sedikit terbengkalai pasca kecelakaan yang menimpa Sehun. Dan dengan senang hati nyonya Oh menerima tawaran itu.

Sehun POV

“oppa…kenapa buburnya belum dimakan?”. Dia kembali masuk ke kamarku, memahariku karena makanan yang dari tadi tergeletak di meja sama sekali tak kusentuh.

“aku bosan tiap hari selalu makan makanan yang sama”. Ucapku dengan nada yang dingin, berusaha acuh kepadanya yang bahkan teralu baik padaku.

“lalu oppa mau makan apa?, biar aku ambilkan”. Wajahnya kembali mengulas senyum manis, sangat cantik dengan rambut hitamnya yan dibiarkan tergerai.

“aku sedang tidak ingin makan”. Jawabku singkat masih dengan nada dingin. Aku hanya tidak ingin kami menjadi lebih dekat, aku takut hatiku akan berpaling padanya.

“kalau begitu ayo kita jalan-jalan”. Tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung mendorong kursi rodaku keluar rumah, membawaku berjalan-jalan hingga akhirnya kami sampai disebuah taman. Taman yang menjadi saksi bisu kebersamaanku dengan Hye Min dulu.

Aku sendiri dibuat bingung dengan perasaanku saat ini. Aku yakin aku masih mencintai Hye Min, sangat. Tapi gadis yang selalu menemaniku dengan senyum manisnya akhir- akhir ini, membuatku sedikit ragu dengan perasaanku sendiri.

Ku akui Yura gadis yang baik, wajahnya yang cantik begitu mendominasi, dan jangan lupakan senyum manis yang tercetak dibibirnya. Dengan pribadinya yang menyenangkan, aku yakin banyak namja yang tergila-gila padanya. Termasuk orang yang saat ini sedang berjalan menghampiri kami dengan deretan giginya yang begitu rapi.

“hahh…hahh…ternyata…kalian..disini..hahh”. Chanyeol datang dengan nafas yang terengah-tengah, ku lihat tadi dia sedikit berlari saat menuju kesini.

“Chanyeol oppa?”. Yura kaget mendapati Chanyeol yang sudah berdiri disampingnya. Sepertinya hari ini nasib sial sedang menghampirinya.

“ne chagiya, aku datang untukmu. Pasti kau bahagia kan?”. Chanyeol kembali berulah, sepertinya dia benar-benar menyukai Yura. Lihat saja tingkah konyolnya itu, mengejar-ngejar Yura berusaha untuk memeluknya.

Pemandangan ini mengingatkanku pada sosok Hye Min, dulu kami sering sekali bermain kejar-kejaran saat masih di sekolah dasar. Menghabiskan waktu kami sehari penuh untuk bermain di taman ini.

 

Hye Min, apa kau baik baik saja?. Aku begitu merindukanmu ‘

 

“Yeol, hentikan..!”. Aku menarik lengan Yura yang berlari disampingku, menghentikan permainan mereka.

“kau tak lihat Yura kelelahan seperti itu…!”. Ujarku pada Chanyeol sambil menunjuk keringat yang menetes dari dahinya.

“aku tau. Yura, biarkan aku mengusap keringatmu”. Chanyeol beranjak mendekati Yura yang bersembunyi si sampingku.

“oppa…andweee….!!!”. Dia terlihat sangat ketakutan saat Chanyeol berusaha meraih dahinya.

“Hun-ah, lepaskan tangan Yura. Kau apa-apaan sih sembarangan pegang tangan orang, dia calon istriku..!!!”. Ucap Chanyeol sarkastik sambil melepas tautan tangan kami. Dan baru aku sadari sejak tadi aku masih menggenggam tangannya. Kulihat wajahnya Yura yang sedikit merona, mungkin juga aku.

“oppa, aku tidak mau menikah denganmu”. Ucap Yura sambil menjulurkan lidahnya ke arah Chanyeol, mendorong kursi rodaku dan meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri seperti patung.

“lalu kau mau menikah dengan siapa chagiya? Yak…tunggu aku”.

Chanyeol menyusul kami yang telah jauh berada didepannya, sedikit berusaha meraih tangan Yura yang terus menerus menghindarinya.

“gomawo oppa, kau sudah menyelamatkanku tadi”. Yura sedikit berbisik ditelingaku saat kami barusaja tiba dirumah. Membuatku merasakan getaran aneh yang mengusik hatiku.

 

****

 

Hari-hari kulalui begitu menyenangkan dengan kehadiran Yura disampingku. Sepertinya aku tak bisa menolak pesonannya yang selalu saja menggodaku. Salahkan dia yang datang disaat aku benar-benar terpuruk karena kepergian Hye Min. Seperti meminum paracetamol saat tubuhmu terasa panas. Membuatku merasa nyaman dengan semua yang ia berikan padaku.

Bahkan ia sendiri rela mengambil cuti kuliah demi merawatku yang lemah ini. Menemaniku saat harus check up di rumah sakit, mengambilkan buku bacaan untukku yang sering merasa bosan, bermain game bersama walau tak pernah sekalipun ia menang. Dan satu hal yang paling kusuka darinya selama 3 bulan kebersamaan kami, kesabarannya yang begitu besar saat mengajariku berjalan. Seperti sekarang ini, bahkan sudah lima kali aku terjatuh, tapi dia seperti tak punya rasa lelah untuk kembali menuntunku melewati lintasan kecil yang ia buat sendiri.

Author POV

“oppa fighting…!!! Sedikit lagi finish”. Tak henti-hentinya Yura menyemangati Sehun, menunggu Sehun digaris finish, sambil merentangkan kedua tangannya lebar layaknya seorang kiper, takut sewaktu-waktu Sehun jatuh lagi.

BRUK..!!!

Benar saja, Sehun terjatuh setelah berhasil mencapai finish. Dan posisi mereka sekarang ini sungguh menghawatirkan. Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana jadinya Sehun yang ambruk kedepan sedang Yura berada tepat dihadapannya.

“ akh…”. Yura merintih kesakitan saat dirasakan beban tubuh Sehun yang berpindah menindihnya. Apalagi dengan keadaan Sehun yang seperti ini membuatnya pasrah saat tubuhnya limbung menghantam Yura.

“mianhae Yura, aku kehilangan keseimbangan. Gwaenchana?”. Ujar Sehun sambil berusaha bangun dengan sisa tenaganya yang sudah terkuras.

“Gwaenchana, oppa sendiri bagaimana?”. Yura berusaha menutupi rasa sakitnya sebisa mungkin, bohong besar jika dia tidak apa-apa.

Sehun hampir berhasil mengangkat tubuhnya sebelum akhirnya ia terjatuh lagi, tapi kali ini ia bisa menggunakan tangannya sebagai sandaran. Membuat sedikit jarak antara dia dan Yura yang memejamkan matanya rapat, takut Sehun kembali menindihnya.

Saat dirasa ketakutannya tak benar terjadi, Yura membuka matanya perlahan. Ia sontak kaget saat melihat Sehun tengah memandanginya dengan jarak sedekat ini. Tatapan mereka bertemu, intens. Sepertinya Sehun tak sadar jika ia terus menatap lekat manik mata yang cantik itu. Begitu juga dengan Yura yang masih setia memandangi pahatan sempurna dihadapannya ini.

Waktu seperti berhenti berputar, membiarkan dua orang ini saling menatap satu sama lain. Menyelami lebih dalam tentang perasaan mereka masing-masing. Atau mungkin mencari jawaban atas pertanyaan mereka selama ini lewat sorot mata itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang tersenyum lebar melihat mereka saat ini dari celah pintu kamar Sehun, nyonya Oh.

Entah setan mana yang merasuki Sehun kali ini. Dengan beraninya dia mengikis jarak antara dirinya dan Yura melalui sentuhan kecil bibirnya pada bibir Yura. Membuat jantung keduanya yang sedari tadi sudah terdengar gaduh semakin menjadi.

Yura membelalakan matanya lebar-lebar, ia terlalu shock dengan perlakuan Sehun yang tiba-tiba.

“oppa…kakiku sakit”. Yura berucap lirih sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah memerah.

“ah….ne, mianhae Yura, aku tak bermaksud…”.

“tak apa oppa, aku tahu oppa pasti lelah, istirahatlah”. Yura terlebih dulu memotong pembicaraan Sehun, lalu menolongnya berdiri dan menuntunya sampai ke ranjang.

“anneyong oppa, aku pergi dulu”. Yura pergi begitu saja tanpa mempedulikan Sehun yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Yura, maafkan aku karena terlalu terbawa suasana”. Sehun bergumam dalam hati sambil memandang punggung Yura yang semakin jauh dari jangkauannya.

 

*****

 

Makan malam kali ini begitu istimewa bagi Yura, karena appanya baru saja tiba dari Jepang bersama appa Sehun. Sejak ia tinggal dirumah keluarga Oh, baru dua kali appanya datang berkunjung. Itupun tidak lebih dari 2 hari, jadi bisa ia pastikan bahwa besok appanya akan kembali ke Jepang.

“Ra-ya, kapan kau akan kembali ke Jepang ?”. Tuan Kang mulai membuka percakapannya dengan Yura.

“mmm….sebentar lagi appa, aku masih ingin tinggal disini. Boleh kan?”. Ucapnya dengan nada yang manja, membuat semua orang tersenyum melihat wajahnya yang begitu menggemaskan. Termasuk Sehun yang duduk disebelah Yura.

“Biarkan Yura tinggal disini lebih lama sunbae, tak ada salahnya. Lagipula dia pasti kesepian kalau kau sendiri tak bisa menemaninya dirumah”. Ujar nyonya Oh dengan suara khasnya yang begitu halus. Yura kehilangan eommanya saat berusia 7 tahun, jadi selama ini ia hanya tinggal bersama appanya.

“ Benar, biarkan Yura dan Sehun mengenal lebih jauh. Kau seperti tidak pernah muda saja”. Tuan Oh sedikit memberikan masukan, yang kemudian disusul gelak tawa dari para orang tua itu karena ucapan tuan Oh barusan. Berbeda degan dua orang yang hanya bisa menunduk malu saat ini. Sehun dan Yura, mereka baru sadar kalau tujuan tuan Kang kembali ke korea adalah untuk memperkenalkanya pada Sehun.

“baiklah, terserah kau saja. Yang penting jangan merepotkan Sehun dan eommanya, arra?”. Tuan Kang menyetujuinya, lalu kembali melahap sisa makan malamnya. Diselingi beberapa obrolan bersama keluarga Oh yang terdengar sangat menyenangkan.

 

****

 

Setelah mengantarkan appanya ke kamar, Yura memilih untuk duduk di balkon dekat kamarnya. Matanya masih terasa segar, entah karena hari ini appanya datang sehingga dia terlalu bersemangat. Atau mungkin karena ucapan tuan Oh saat makan malam tadi yang membuatnya tidak merasakan kantuk sedikitpun.

Udara diluar begitu dingin, tapi tak lantas membuat Yura beranjak dari tempatnya duduk saat ini. Sekedar memandang langit malam hari mungkin bisa menjernihkan pikirannya yang selalu labil.

Yura POV

Sret..sret…sret…(suara langkah kaki)

“oppa..?”. Kulihat Sehun oppa berjalan kearahku dengan langkah tertatih.

“apa yang kau lakukan disini Ra-ya?”. Segera kuraih pergelangan tangannya, membantunya berjalan.

“aku hanya sedang menikmati angin malam, oppa kenapa belum tidur?”.

“aku belum ngantuk, apa kau sedang memikirkan tentang ucapan appa tadi?”. Sepertinya Sehun oppa bisa membaca pikiranku, aku bahkan belum memberitahunya.

“mungkin”. Jawabku singkat

“kau bisa menolaknya jika keberatan”.

“aku tidak merasa keberatan, tapi aku juga tidak pernah mengiyakannya. Kurasa kalau memang aku harus menikah dengan oppa, itu karena kita saling mencintai, bukan karena kita dijodohkan”. Entah kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku sendiri belum yakin dengan perasaan Sehun oppa padaku.

“Ra-ya…”. Kudengar Sehun oppa memanggilku pelan, lalu beralih menatapku yang ada disampingnya.

“ne ….”. Tiba-tiba saja Sehun oppa memelukku, erat, sangat erat.

“biarkan aku memelukmu sebentar saja”. Dengan senang hati oppa, aku bahkan bersedia kalau harus selamannya berada dalam pelukanmu.

“ne, oppa…”. Aku bahkan kehilangan kata-kata. Apa aku terlalu bahagia?

“benar apa katamu, kita harusnya menikah karena kita saling mencintai, bukan karena paksaan”. Apa itu artinya kau juga memiliki perasaan yang sama denganku oppa?. Perlahan aku pun membalas pelukan Sehun oppa dengan melingkarkan lenganku di punggungnya. Cukup lama kami bertahan dalam posisi ini, hingga Sehun oppa melepaskan pelukannya lalu.

CUPP

Kurasakan sesuatu yang lembut melekat di keningku, cukup lama. Membuatku yakin kalau Sehun oppa sedang menciumku. Lagi ???. Apa ini kedua kalinya Sehun oppa menciumku?

“tidurlah, sudah malam”. Sehun oppa tersenyum begitu manis, mengacak rambutku pelan, lalu beranjak pergi menuju kamarnya masih dengan langkah yang tertatih.

Sedangkan aku?? Hanya bisa terdiam seperti patung, dengan wajah yang mungkin lebih merah dari udang rebus atau kepiting panggang. Apa sekarang aku punya sayap?, kenapa rasanya seperti ingin terbang.

“aaaaa………micheoso”. Aku berlari menuju kamar sambil mengacak rambutku asal. Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Oppa, tak bisakah kau tak menunjukkan senyum sialan itu yang membuatku amat frustasi. Aku benar-benar menyukainya, tak ada keraguan sedikitpun dalam diriku. Beruntungnya aku karena menuruti keinginan appa kembali ke korea.

Aku masih berguling-guling diatas kasurku sambil bersenandung tak jelas, meluapkan semua kebahagiaanku yang tak terbendung ini. Sampai seseorang membuka pintu kamarku tiba-tiba, membuatku sedikit terjungkal karena kaget.

Tidaaaak….!!! ternyata Sehun oppa yang membuka pintu kamarku.

“ OPPA…!!!”. Aku meneriakkan namanya begitu keras, terlalu malu pada Sehun oppa yang mungkin saja melihatku sedang….bernyanyi.

“ah…kau sedang konser rupanya, mianhae aku tidak tau kau sedang au…au…appo”. Tak henti-hentinya aku memukul Sehun oppa menggunakan guling yang sedari tadi menemaniku.

“oppa…!! Kenapa kau mengintipku? Apa yang kau lihat tadi? aku kan malu?”. Ucapku tanpa jeda, membuat Sehun oppa membekap mulutku tiba-tiba dengan tangannya. Dan satu tangannya lagi menahan tengkukku.

“aku hanya melihatmu bernyanyi saja, kenapa harus malu”. Jawabnya sambil terkekeh geli, menahan tawanya yang mungkin sebentar lagi meledak.

“yak…andwae…aaaa…..aaaa..”. Tanganku beralih menggelitik pinggang Sehun oppa yang masih membekap mulutku. Tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan ketika jari-jariku tanpa ampun menyerang bagian sensitifnya itu.

“ha..ha…rasakan pembalasanku oppa, siapa suruh masuk kamarku tanpa ijin”. Aku kembali menyerangnya saat Sehun oppa melepaskan tautan tangannya padaku. Membuatnya semakin tersiksa dengan aksi balas dendamku yang tak main-main ini.

BRUKK

Kurasakan punggunggku membentur sesuatu, tapi sama sekali tak terasa sakit. Kasur, ini kasurku sendiri. Apa oppa yang mendorongku? ini seperti de javu, aku seperti pernah mengalaminya. Otakku terlalu lambat untuk berpikir, sampai tak kusadari kalau oppa masih berada diatasku dengan dua sikunya yang menyandar disamping kepalaku.

“oppa…”. Ucapku sangat lirih.

“sstt…jangan bicara”. Satu jari telunjuknya diletakkan tepat dibibirku. Darahku berdesir sangat kencang, mungkin melebihi kecepatan kereta listrik yang biasa kutumpangi saat di Jepang dulu.

“aku hanya mengingatkan, besok hari terakhir check up di rumah sakit. Kau tidak akan lupa mengantarkan oppa kesayanganmu ini kan, arraseo?”. Dia berujar begitu lembut, membuat seluruh tubuhku meremang mendengarnya.

“ne…arraseo…oppa”. Ucapku begitu pelan, seperti siput. Aku tak bisa mengontrol detak jantungku yang terlampau liar ini.

Seketika kurasakan jantungku ingin terlepas saat kulihat Sehun oppa memejamkan matanya, dan semakin mendekat kearahku. Satu tangannya digunakan untuk menangkup sebelah pipiku. Oppa jebal, jangan lakukan itu, atau aku bisa mati kaku sekarang juga.

Dekat, dekat, semakin mendekat, hingga dapat kudengar deru nafasnya yang teratur itu. Entah sejak kapan aku mulai memejamkan mataku, mempersiapkan diriku jika sewaktu-waktu oksigen di kamarku semakin menipis. Dan kemudian, Sehun oppa benar-benar menciumku, lagi. Hanya saja kali ini tebakanku meleset. Dia hanya mencium pipiku, bukan seperti yang kubayangkan sebelumnya.

“good night”.

Sehun oppa beranjak bangun, lalu meninggalkanku yang masih terdiam membisu. Entah mengapa ada sedikit rasa kecewa saat melihatnya pergi.

 

****

 

Author POV

Genap 5 bulan sudah Yura dan Sehun hidup dalam kebersamaan. Dan selama itu pula masing-masing dari mereka merasakan ketertarikan yang sama. Yura yang notabene belum pernah memiliki kekasih di usianya yang menginjak 19 tahun, begitu nyaman saat bersama Sehun yang sebenarnya juga tidak berpengalaman dalam urusan cinta.

Tentang perasaan Sehun kepada Yura, dia sendiri bingung harus menyebutnya apa. Terlalu dini untuk menyebutnya cinta. Sehun bukanlah tipikal orang yang mudah jatuh cinta, terlebih dihatinya masih ada satu nama yang sampai sekarang belum hilang bekasnya, Hye Min.

Hye Min dan Yura, dua orang yang sama-sama berarti bagi Sehun. Hye Min dengan kedewasaannya yang bisa membuat Sehun merasa nyaman dengan segala perhatian yang diberikannya. Dan Yura, gadis kecil yang berhasil memberikan hari-hari penuh senyum bagi Sehun saat dirinya benar-benar terpuruk. Sehun benar-benar dalam masalah besar sekarang. Jika ia menerima keberadaan Yura sama artinya dia menerima perjodohan itu. Sehun belum siap untuk itu semua, karena separuh hatinya masih tersimpan untuk Hye Min.

Mengingat Hye Min seperti membuka kembali luka lamanya. Sampai sekarang pun Sehun masih mengharapkan Hye Min kembali. Kalau saja waktu itu ia bisa sedikit bersabar, kecelakaan itu pasti tidak terjadi. Dan mungkin sekarang Hye Min sudah mengisi hari-harinya kembali, seperti dulu. Bukannya Sehun tak mau mencari Hye Min, ia sangat sangat ingin sekali menemukan keberadaan Hye Min sekarang juga. Tapi ketidak berdayaanya menjadi penghalang yang amat ia benci.

 

****

 

“Min-ah, kemari sebentar ini penting”. Soojin berteriak memanggil nama Hye Min yang masih sibuk membereskan lokernya.

“sebentar Jin-ah, lokerku berantakan sekali seperti tempat sampah”. Min-ah masih tak bergeming mendengar Soo Jin yang bertingkah aneh sambil menatap layar tablet PC dalam genggamannya itu.

“cepat Min-ah, bukanya ini Se..Sehun?”. Mendengar nama itu, Min-ah kontan menutup pintu lokernya keras lalu berlari menuju ruang ganti menghampiri Soo Jin.

“mana??”. Ucap Min-ah tak sabaran sambil merebut tablet itu dari genggaman Soo Jin. Seketika tubuhnya merosot, lalu duduk bersimpuh dilantai. Melihat postingan foto di akun Instagram milik Soo Jin itu benar-benar Sehun, bersama gadis lain.

“Se……hun…”. Perlahan setetes demi setetes air mata Hye Min mulai mengalir membasahi pipinya. Seperti inikah rasanya melihat orang yang begitu kita cintai bersama orang lain. Kenapa begitu menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan daripada saat dulu ia pergi meninggalkan Sehun.

“Hye Min-ah, itu benar Sehun?”. Soo Jin memeluk Hye Min erat, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu perlahan. Ia tahu benar bagaimana perasaan Hye Min sekarang.

Soo Jin telah banyak mendengar cerita tentang Sehun dari Hye Min sendiri. Bagaimana mereka menghabiskan kebersamaan mereka dulu. Bahkan Soo Jin mengingat wajah Sehun diluar kepalanya, terlalau banyak foto Sehun yang tersimpan di handphone Hye Min yang ia lihat.

“benar, ini Sehun”. Hye Min semakin mengeratkan pelukannya pada Soo Jin, tak kuasa menahan rasa sakit yang begitu mendera hatinya saat ini.

(ceritanya foto yang dilihat Hye Min kayak gini nih pemirsah…)

“kuatkan hatimu Hye Min-ah, Sehun pasti sedih jika melihatmu seperti ini”. Soo Jin menggenggam tangan Hye Min kuat-kuat. Berusaha memberikan kekuatan pada Hye Min, padahal dirinya sendiri justru ikut menangis melihat sahabatnya begitu tersakiti.

Beberapa saat berlalu, tangis Hye Min mulai mereda. Hanya isakan kecil yang sesekali terdengar darinya. Mereka memilih duduk di beranda dekat resort, mengurungkan niat mereka untuk membeli tteokpokki di kedai sebelah.

“apa dia orang yang dijodohkan dengan Sehun?”. Tanya Soo Jin masih dengan tanganya yang sibuk mengutak atik layar tablet didepannya.

“mungkin, aku sendiri tak tahu. Tapi bagaimana kau bisa mendapat foto itu Jin-ah? Kau kenal gadis itu?”. Rasa penasaran mulai menjalari kepala Hye Min. Ia sangat ingin tahu tentang gadis itu sekarang juga.

“dia Kang Yura, putri pemilik lama resort ini. Dulu resort ini milik tuan Kang, tapi karena ada masalah sengketa perebutan lahan dengan pihak lain, resort ini diambil alih oleh tuan Shin, presdir kita sekarang”. Tutur Soo Jin penuh semangat, sambil memperlihatkan foto-foto Yura di akun instagram miliknya.

“dia cantik, cocok dengan Sehun”. Ujar Hye Min pelan dengan tatapan yang sulit diartikan.

“tapi kau bilang Sehun akan dijodohkan dengan orang Jepang, Yura orang Korea sama seperti kita”. Soo Jin mengambil alih tabletnya lalu memasukkanya kedalam tas.

“entahlah, aku tidak tau dan tidak mau tau”. Hye Min menundukkan kepalanya yang terasa berdenyut tak karuan, hari ini sungguh melelahkan baginya dan juga hatinya.

“kajja…aku tahu tempat yang bisa membuatmu sedikit terhibur”. Soo Jin menarik lengan Hye Min dan membawanya ke suatu tempat yang semoga saja bisa membuatnya benar-benar terhibur.

Hye Min ingat dulu dia sering sekali mempostingkan foto-foto kebersamaan mereka di akun instagram Sehun maupun Hye Min. Tapi sekarang Hye Min sudah menghapus semua akun media sosial miliknya, ia sudah berniat melupakan Sehun. Menghapus semua ingatannya tentang Sehun dalam memori otaknya. Meskipun sangat sulit baginya, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

 

 

***

Masih author POV

 

Pagi ini Hye Min dan para pegawai lainya begitu disibukkan dengan acara resepsi pernikahan yang diadakan di resort mereka. Menata buket-buket bunga yang begitu banyak hingga mengecek tiap hidangan yang akan di sajikan kepada para tamu undangan. Acara ini begitu megah, pihak resort sampai menyewa tenaga tambahan dari luar karena staff mereka tak cukup untuk menangani pekerjaan yang begitu banyak ini.

“Jin-ah, kau tahu siapa yang mengadakan pesta ini?”. Hye Min berucap pelan sambil merapikan deretan alat makan didepannya.

“kudengar yang menikah itu putra salah satu pengusaha terkaya di korea, dari Seoul”. Soo Jin tak kalah pelan menjawab pertanyaan Hye Min, takut manager mereka mendengar.

“Hye Min-ah, bisakah kau letakkan bunga ini di dekat kamar VIP?”. Ucap salah seorang manager resort.

“baik banjangnim”. Hye Min bergegas mengambil rangkaian bunga mawar merah itu, lalu pergi meninggalkan Soo Jin untuk menjalankan tugasnya.

Hye Min POV

“hahhh….siapa sih yang menikah, kenapa tempat ini harus disulap jadi taman bunga”. Aku terus mengumpat dalam hati, menyumpahi si pemilik acara yang membuatku lelah menata ribuan bunga dari tadi pagi.

“paling juga nanti semua bunga-bunga ini dibuang, sayang kan”. Aku masih saja bergumam tak jelas, sambil membawa rangkaian bunga yang besarnya hampir sama dengan tubuhku.

BRUKK

“joesonghamnida ahjussi, saya tidak melihat anda barusan”. Sialnya aku karena menabrak seseorang saat melewati belokan tadi. Salahkan bunga ini yang terlalu besar ukurannya, membuatku tak melihat ada orang didepanku.

“ne, gwaenchana”.

DEG

Jatungku berdetak sangat cepat mendengar suara itu, seperti sangat familiar ditelingaku. Sedikit kusibak bunga-bunga ini agar bisa melihat pemilik suara itu yang masih berdiri didepanku.

“Se….sehun”. Mataku membelalak lebar melihat orang dengan setelan tuksedo lengkap yang barusaja ku tabrak ini adalah Sehun. Apa aku sedang berhalusinasi?, ku kerjapkan mataku berkali-kali, tapi wajah yang ada dihadapanku ini tak sedikitpun berubah.

“Hye Mi”. Kudengar dia memanggil namaku, dan aku yakin 100% kalau orang ini adalah Sehun. Terlihat dari raut mukanya yang sama-sama menunjukkan keterkejutan sepertiku.

“oppa…sebentar lagi acaranya dimulai”. Kulihat seseorang menghampirinya dari belakang. Gadis dengan dress putih panjang dan hiasan bunga-bunga kecil di rambutnya. Dia datang lalu melingkarkan tanganya pada lengan Sehun, bergelayut manja seakan tak ada orang lain yang melihatnya sekarang. Gadis yang ku ketahui bernama Kang Yura itu, membawa Sehun pergi dari hadapanku. Setelah hampir 1 tahun perpisahan kami, seperti inikah caranya kami dipertemukan kembali?.

 

-TBC-

 

Halo teman-teman, author tua kembali dengan sequel dari oneshoot pertama yang berhasil ditulis, (halah ribet).

Sebelumnya aku ucapin terimakasih buat semua reader yang mau baca+kasih komen buat ff aku.

Aku sungguh terharu, teryata responya bagus.

Dan karena kebanyakan reader minta sequel, jadi aku putusin buat sequelnya.

Apapun komentar kalian, sangat aku tunggu.

Semoga terhibur

Bye….^_^

106 responses to “[Freelance] Sequel : Baby, are you okay? (Part 1)

  1. Feelnya dapet bngt kak, aku ikut sedih.
    Gimana kisah Sehun-Hye Min.
    Masa Sehun lebih milih Yura dari pada Hye Min 😦

  2. Gak mau… Gak mau.. . Sedih banget ngliat sehun sama yura.. Padahal selama 21 tahun sehun sama hyemi. Masak mau melupakan secepat da segampang itu sih sehun? ??? Aaaaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s