More Than Just Love Chapter 8

mtjl 8 2

MORE THAN JUST LOVE Chapter 8

 

Author Reyri ; Cast Jung Hye Ah (OC), Byun Baekhyun (EXO K), Kim Jong In aka Kai (EXO K), Wu Yifan aka Kris (EXO M) ; Support Taemin (Shinee), Jonghyun (Shinee), Kim Seok Jin aka Jin (BTS), Joen Jungkook (BTS), Xi Luhan (EXO M), *Mungkin bertambah tergantung ceritanya* ; Genre School life, Romance, Free Intercourse ; Rating PG 16 ; Length Multi Chapter ; Declaimer This is original from my brain. Please don’t Plagiat. Don’t silent reader. I need your comment Thank you

Chapter 8

Happy Reading

“Sial, gara-gara Hye Ah kita benar-benar dalam masalah besar, sial” menggretakkan gigi, menampakkan wajah garangnya. Aira sedang mengeluarkan segala sumpah serapah terhadap Hye Ah yang menurutnya adalah biang masalah yang ia hadapi ini, sementara itu Taemin yang sedang bersandar diawang pintu hanya terdiam dengan tatapan kosong tak bergerak sedikitpun, seolah tak ada suara yang sedang mengajaknya bicara, ia mengabaikan Aira yang sekarang benar-benar dalam level 1 kekesalannya dan mungkin saja naik. Sebuah kilatan peristiwa yang kontras dengan putih membayanginya bahkan tadi malam sempat terbawa mimpi. “Jangan, jangan sampai kejadian itu terjadi lagi” pikirnya sambil menggelengkan kepala.

Tak disadarinya dari kasur tempat Aira dirawat melesat sebuah bantal tepat dikepala Taemin.

BUKK

Betapa kagetnya Taemin mendapat sebuah timpukan mendadak, ia menoleh kesumbernya alhasil matanya bertemu dengan mata Aira yang sedang tersulut amarah. “Sial, aku melamun saat yang tidak tepat” pikirnya khawatir.

“A―” belum sempat Taemin melanjutkan kata AKU, sudah terlebih dulu dipotong dengan kibasan tangan “Ck, sudahlah, pergi sana!” mengusir tanpa berfikir. Tapi bukan Taemin namanya kalau harus diam dan direndahkan “Kau yang pergi bukan aku”, Aira memberinya sebuah death glare “Maksudmu?”, “Diam kau” kini keadaan sudah berbalik, Taemin lebih emosional dari biasanya, lebih agresif, sejak kejadian kemarin Aira dan Taemin mulai sering bertengkar karena masalah kecil, kata-kata Taemin juga semakin kasar pada Aira, entah apa yang terjadi tetapi pasti sesuatu telah terjadi pada Taemin hingga sifatnya berubah.

“Kenapa sifatmu jadi berubah seperti ini? Sejak kemarin kau selalu emosional, membentakku bahkan mengusirku seperti tadi, ada apa denganmu?” berdiri melontarkan kalimat yang selama beberapa hari ini ia tahan dan mungkin sekarang saatnya mengeluarkan unek-uneknya beberapa hari ini.

“Kau mau tau?” menghentikan kalimatnya “Kau ingin tau?” mengulangi lagi kalimat itu, Aira hanya mengangguk kecil. Taemin mengeluarkan senyum ambigunya “Karena aku muak denganmu”.

Seolah halilintar telah menyambarnya, ia hanya bisa diam terpaku tak bisa berkata apapun, mengedipkan berkali-kali matanya, dengan ekspresi tak percaya ia berusaha bertanya ditengah putaran hitam difikirannya “A a apa? Kau k kau bisa ulangi lagi?”. Dengan ekspresi datarnya memandang Aira dengan tatapan kosong kemudian mengulangi pernyataannya tadi “Aku sudah muak denganmu”.

Aira tak percaya, Taemin yang selama ini ia anggap seorang yang tulus mencintainya hingga Aira mengorbankan semua yang ia punya untuk Taemin. Kemudian berkata dengan lantang didepannya tanpa ragu “Aku sudah muak denganmu”. Lalu, apa gunanya selama ini pengorbanannya? Apa gunanya? Apa hanya pelarian? Lalu, apa tujuan Taemin memberinya pengharapan besar selama ini?. SIA-SIA adalah kata yang pantas diberikan pada Aira dalam keadaannya selama ini.

“Sudah muak ya? Sudah muak? Hahahaha” tawa ambigunya memenuhi ruangan. “Lalu apa gunanya selama ini? Kau anggap apa aku? Kau anggap apa aku?” air matanya tak hanya menggenang tapi sudah mengalir menuruni pipi, bibir, dagunya, aliran yang semakin deras yang sepertinya sulit dibendung hanya dengan usapan.

Aira berlari mendekat pada Taemin mengguncangi tubuhnya meminta penjelasan “Haaaaahhhh” mendorong tubuh Aira hingga kebelakang, tak menyerah ia kembali mendekati Taemin yang sedang terselubungi emosi, tapi sial untuk Aira karena Taemin mengibaskan tangannya tak sengaja menyikut Aira tepat pada perut. “Akhhh…” memegangi perutnya, mulai kesakitan karena kondisi masih belum pulih apalagi mentalnya masih sangat terganggu semenjak keguguran, ditambah dengan perubahan sifat Taemin yang membuatnya berfikir. Pandangannya mulai kabur, segala disekitarnya tak jelas, hanya bayangan dan suara-suara yang mengkhawatirkannya, kemudian terlelap dalam hitamnya ketidaksadaran.

“Hye Ah?”

“Gwenchana?” Baekhyun menepuk pundak Hye Ah memastikan ia baik-baik saja, karena sejak ia datang hingga sekarang hanya diam dengan tatapan sendu walau tersenyum yang pastinya Baekhyun tau itu fake smile. “Ada apa lagi denganmu?” pikirnya khawatir.

“Apa aku harus berbicara sebenarnya? Tapi ia menyukai Baekhyun, aku takut kau tak bisa menerima kenyataannya” pikir Kris sembari menelan salivanya sendiri.

“Hei?” panggil Kai pada Hye Ah dengan senyum tulusnya, Hye Ah menoleh dengan diam. “Ada apa? Beritahu kami kalau ada masalah, kau tidak inginkan kami merasa tersiksa dengan sifatmu seperti ini? Kau taukan kalau kami sangat menyayangimu?” Kai mencoba membujuk.

Kris dan Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Kai menuntut kejelasan, ia hanya tersenyum. Pandangan Hye Ah sekarang tertuju pada Kai kemudian pada Baekhyun dan Baekhyun tersenyum mengangguk, lalu diikuti Kris tersenyum mengangguk “Kau harus menerimanya”.

“Jadi, ceritakan pada kami” lanjut Kai meyakinkan.

“Aku bingung harus bersikap seperti apa pada Aira dan menanggapi yang lain tentang Aira, aku sudah menganggapnya keluargaku sendiri, ini sebenarnya mimpikan?, bukan kenyataankan? Aku berharap ini mimpi, aku tak bisa menerimanya jika ini kenyataan” Menutupi wajahnya dengan tangan. Kris meraihnya kemudian menariknya perlahan sampai terlihat wajah cantik Hye Ah. Yang pertama muncul adalah rasa dingin menusuk kulitnya hingga tulangnya seperti sebuah musim dingin menyengatnya, tetapi begitu nyaman tak berapa lama senyum tulus terlukis dibibir tipis Kris dengan angin berhembus menerbangkan rambutnya. “Ini kah Kris?” pikirnya tanpa berucap. Tubuhnya lemas mengikuti arahan tangan Kris. Dan

Chu~~

Hye Ah membeku, matanya mendelik shock, darahnya berdesir deras, jantungnya berdebar dengan kecepatan max, nafasnya telah hilang seperti telah diambil, dikuras hingga menyisakan perasaan aneh, hidup tak bernafas, itu yang dirasakannya sekarang.

Kris melepas ciuman singkatnya itu, kemudian tersenyum “Ini tidak mimpi, kau bisa merasakannya bukan? Dan kau harus menerima kenyataan ini”

Tak ada respon sama sekali, hanya ekspresi Hye Ah yang menurutnya aneh, Kris mulai memenaik turunkan telapak tangannya menyadarkan Hye Ah, tapi gagal tetap tak ada respon. “Sebenarnya di….a” menghentikan pertanyaanya melihat Baekhyun ikut terpaku, dengan cepat menoleh ada Kai, mendapati ekspresi ragu.

Diperjalanan pulang melewati lorong sekolah mereka ber-4 saling beridam, tak ada yang memulai berbicara, sibuk dengan fikiran masing-masing. “Aishh, sial apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku tidak sadar? Ahhhhh Kris kau bodoh” pikirnya sambil memukuli kepalanya sendiri.

“Kris ! mencium Hye Ah? First kissnya? Huh” fikir Baekhyun memandang Kris yang bertingkah aneh.

“Sepertinya aku harus segera berlatih melupakannya” fikir Kai memandang Hye Ah yang masih shock. “Untuknya” lanjut Kai tersenyum memandang Kris yang sedang bertingkah abstrak itu.

“Aku? Kris? First kiss? Apa? Tidak tidak” sembari membayangkan kejadiannya tadi, lama kelamaan mulai merasakan bagaimana perasaan dan menikmatinya, kemudian tersadar lagi “Tidak tidak tidak” fikirnya, menggelengkan kepala.

Disarankan mendengarkan lagu All Night- f(x)

“Huh” Hye Ah telah sampai dirumah pukul 9 malam setelah belajar kelompok, berlari kekamar, menguncinya kemudian membuang tasnya sembarang,menghempaskan tubuhnya keranjang tak sengaja tertidur. Pukul 11 malam terjaga. Tangannya mencari-cari ponsel, setelah membuka lock ada 1 pemberitahuan dari line.

“Dari Kris?” terbangun dari tidurnya. Membaca pesannya “Sudah tidur?” dengan Icon tidur. “Baru 15 menit” pikirnya. Jemarinya mulai mengetik “Sudah” ―kirim

Kling

“Tidur memangnya bisa membalas pesan?” dengan icon tertawa

“Hah? Aku lupa” memukuli kepalanya sendiri. Jemarinya mulai mengetik lagi “Maksudku sudah tadi, memang kenapa?” icon cuek ―kirim

Kling

“Tidak, hanya lucu saja”

“Hah? Hanya dibalas begini?” protesnya

“Owh”― kirim

Kling

“Joesong-hamnida”

“Untuk apa?” ―kirim

Kling

“Untuk kemarin, maaf apa itu first kissmu?” icon malu

“Bagaimana bisa tau?” batinnya

“Ne” icon malu ―kirim

Kling

“Mianhe, aku benar-benar tidak sadar waktu itu” icon menyesal

“Ne” ―kirim

Kling

“Masih marah?”

“Aniya” ―kirim

Kling

“Actually, that is my first kiss, GOOD NIGHT” icon malu dan tidur

“What?” Hye Ah mengucek-ucek matanya sendiri, mencari apakah Kris salah mengirimkan padanya, tapi tidak, itu untuk dia, oh sial pipinya mulai memerah dadanya terasa berkembang, darahnya kembali berdesir deras jantungnya berdebar dengan cepat. Ini dirumah? Oh tidak Hye Ah bisa hilang kendali, kini ia mulai meloncat-loncat diatas kasur, menghamburkan barang-barang seperti menghamburkan pasir, “YES― ups” menutup mulutnya sendiri tertawa sepuasnya walau hanya mengeluarkan sedikit suara, kemudian berguling-gulingan diatas kasur. Sudah sulit dideskripsikan lagi, intinya atau to the point aja, seperti ulat digoreng, kebingungan melakukan sesuatu. *aku bahagia*

Berhari-hari mereka ber-4 berkumpul tetapi Hye Ah dan Kris masih belum berbicara satu sama lain. Saling melirik sekilas tanpa mau menyelesaikannya. Kai hanya menggelengkan kepalanya mengerti tingkah kedua orang yang ia sayang seperti ini “Sepertinya masih butuh proses” batinnya.

“Kalian kenapa? Kalian bisu? Kenapa tidak saling bicara?” dengan santainya cas-cis-cius mengeluarkan suara “Apa gara-gara ciuman kemarin?”. Seketika Hye Ah dan Kris merona, ya mereka malu, bagaimana bisa seorang Baekhyun dengan lantang bicara terang-terangan, yah… itulah Baekhyun, maklumi aja. -_-

“First kiss kaliankan?” melipat kedua tangannya kedepan. Disaat itu juga Hye Ah dan Kris salah tingkah, “Ayolah kalau kalian suka, bicarakan baik-baik” menarik mereka hingga jarak mereka berdua tak ada, mereka saling membuang muka, tak ada yang berani menatap, diam seribu bahasa.

“Hye Ah, perlu kau tau aku sudah menyukai orang lain” spontan Hye Ah menoleh pada Baekhyun, kecewa, iya dia kecewa. “Aku sudah meresmikannya jadi pacarku” menunjukkan cincinnya. Matanya membelalak, mengambil oksigen sebanyak mungkin dari ruangan itu, menghembuskannya pelan, membuatnya lemas tapi apa daya ia harus terus berdiri dan tersenyum walau itu fake smile. “Aku tau itu fake smile” batinnya, ikut tersenyum mengimbangi Hye Ah. “Chukkae” “Gamsahamnida”

Kris ikut melihat Baekhyun “Dia?” batinnya. Kemudian beralih pada Hye Ah “faker” batinnya. Kai pun sama, ia memandang miris sahabatnya ini, walau begitu ia mencoba mendinginkan suasana ini.

BRAK!

“Kau kenapa? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini? Kau bodoh” mendorong keras badan Baekhyun kepintu kayu hingga berbunyi. Baekhyun hanya tersenyum miris “Aku ingin dia bahagia”. “Bagaimana dia bisa bahagia? Dia menyukaimu” teriak Kris.

“Percuma” balas teriak Baekhyun. “Kenapa? Kenapa percuma? Dia menyukaimu kau tau itu, tapi kenapa kau tega?” kembali berteriak. “Karena dia tidak menyukaiku sepernuhnya, dia hanya menyukaiku sebagai Wu Yifan, teman masa kecil Hye Ah, dia hanya menyayangi Wu Yifan, dan aku bukan Wu Yifan” Baekhyun meneteskan airmatanya yang ia tahan sedari tadi, ia merasa harus melakukan ini, bagaimana ia bisa bahagia sedangkan orang yang disukai bahkan disayangi menyukai seseorang yang dianggap dirinya.

Kris diam termenung, “Baekhyun benar, selama ini Hye Ah menganggap Baekhyun sebagai Wu Yifan, aku sendiri”

“Kejar Hye Ah” suara serah Baekhyun membangunkan Kris dari lamunannya. “Kejar dia, dia butuh dirimu”

“Tapi ―” ragu Kris “Cepat” teriak Baekhyun

“Baiklah, jaga dirimu” Kris pergi meninggalkan Baekhyun sendiri. Suara isakkan terdengar disegala penjuru ruangan yang semakin lama makin keras. Ya … Baekhyun menangis, untuk kali ini ia tersakiti kedua kalinya, ia harus menerima kenyataan gadis yang dari kecil ia cintai bahkan sekarang ia sayangi harus ia relakan pada orang yang sama sahabatnya sendiri Wu Yifan. Tangisnya terus terdengar, ia tak bisa mengontrol tangisnya, begitu sakit, begitu perih, dadanya terasa sesak mengingat bagaimana ia sangat menyayangi Hye Ah, kenangannya, semua tentangnya, begitu meyedihkan. Ia membenturkan sendiri kepala kedinding, ia berusaha melupakannya. Sekarang ia acak-acakan ―sangat.

Selain itu ditempat yang sama tapi ruangan berbeda seorang mendengarkan Kris dan Baekhyun berdebat merasakan sesak didadanya, bulir-bulir airmatanya sudah lebih dulu berjatuhan, memegangi dadanya, memukulinya tanpa terasa ia menangis tanpa bersuara, hatinya remuk. Ia membuka ponselnya dan memunculkan 2 foto gadis berwajah sama tetapi berbeda dimensi.

“Kenapa kalian begitu berbeda? Kenapa kau tak kembali padaku?” batinnya miris

Sementara itu Kris merasa bersalah kerena mengetahui Baekhyun menderita. Membiarkan seseorang yang Baekhyun sayangi beberapa bulan ini harus ia relakan. “Aku tak akan membiarkan pengorbananmu sia-sia” batinnya, masih dengan mencari Hye Ah.

Ruangan kesukaannya itu…

Kris telah sampai didepan perpustakaan sekolah

Kris menyusuri setiap sela antar rak buku, mencari sesuatu, eh bukan tetapi seorang gadis yang benar-benar ia rindukan, sangat ingin ia jaga selama ini, cinta pertamanya. Dari rak buku pertama tentang Matematika, kemudian IPA, Biologi, Fisika, Kimia, Astronomi, sampai dengan Sosiologi, ia baru menemukan sebuah suara isakan yang cukup keras, ia berjalan menelusuri terus mata dan telinganya terus aktif mencari suara itu. Dan sampai dirak buku bagian Psikologi.

Ia melihat gadis sedang menangis terduduk dipojok rak, ya… rak buku bagian Psikologi terdapat paling belakang, tapi ini adalah tempat yang digunakan Hye Ah untuk menghilangkan keluh kesahnya, dalam kesepian, sendiri, tenang, tempat yang cocok ia gunakan untuk membaca buku-buku kesukaanya yaitu tentang psikologi, memang ia belum tau betul apa itu psikologi, tapi dari kecil ia sangat suka membaca buku seperti itu. Tapi dia sudah mulai mengerti akhir-akhir ini, walaupun hanya setengahnya saja.

Kris berjalan dengan hati-hati hingga tanpa suara “Hye Ah”

Isak tangisnya terhenti, ia mengenali suara itu “Bagaimana dia tau aku disini?” batinnya. Hye Ah membalikkan badannnya mendapati Kris sudah duduk menyamainya.

“Pergi!” usir Hye Ah kembali pada posisinya.

“Tidak”

“Pergi”

“Tidak” keukuh Kris.

“Ha?” merasa kaget karena Kris tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Mian” “Lepas” berontak Hye Ah, terus hingga mulai lelah hingga tak ingin berontak lagi karena tenaganya telah terkuras.

“Hye Ah” panggil Kris pelan. Ia hanya melirik Kris. “Aku anggap kau sudah mendengarku”

“Sebenarnya aku Wu Yifan” pengakuan yang membuatnya membelalak

“Aku teman masa kecilmu, Baekhyun adalah temanku yang pernah kuajak bermain denganmu, dia menyayangimu dari beberapa bulan lalu, menyerahkanmu padaku. Kau pasti bertanya-tanya kenapa seperti itu, itu karena kau mencintainya sebagai Wu Yifan bukan sebagai Baekhyun”. Airmatanya mulai menetes lagi membasahi tangan Kris yang dingin, kepekaannya tinggi ia mengeratkan pelukannya pada Hye Ah. “Menangislah, aku Wu Yifan berjanji sekuat tenaga dan semampuku menjagamu”

Hye Ah terus menangis hingga hampir 1 jam, tangannya mulai memeluk tangan Kris “Tanganmu dingin” dengan suaranya yang serak. Membalikkan tubuhnya menghadap Kris. Matanya yang sembab, rambutnya yang acak-acakan baju yang beberapa kancingnya terlepas, dasi yang longgar menandakan betapa frustasinya Hye Ah. “Kau kacau sekali” sambil merapikan penampilan Hye Ah. Setelah itu mengusap airmata Hye Ah walau sudah ada yang kering. Tatapannya tak pernah lepas dari mata Kris “ Wu Yifan?”. Kris hanya mengangguk.

Tangan Hye Ah menelusup mengalung dileher Kris, mendekatkan wajahnya menghapus jarak antara mereka, Kris yang tadinya tak ingin merespon tapi kini ia ikut terdorong suasana mendekatkan wajah mereka, menyatukan bantalan lembut bibir. Terdiam beberapa detik, lumatan-lumatan kecil mulai terjadi. Air mata Hye Ah yang telah berhenti kini mulai menetes lagi. “I miss you” disela ciuman lembut mereka, Kris membalas dengan senyuman diselanya. Kecapan sedikit demi sedikit mulai terdengar tapi tak sampai ¼ ruangan.

Dilain tempat Kai dan Baekhyun meratapi nasibnya…

TBC…..

Hweehehehehe

Annyeonghaseo…..

Wah gimana kabar kalian? Baik-baikkan?

Hehehehehe gimana? Udah agak panjangkan? Udah mending belum kalau aku ngirim? Kelamaan gak? Gak kan? Gak kan?

Hehehehe Terima kasih untuk para Readers ffku, semua deh gak ada kecuali, terimakasih telah membaca karyaku, aku berharap sih mau koment biar tau siapa aja 🙂

Maaf ya kalau ada typo, kesalahan-kesalahan dehc, pokok kalau ada salah koment ya supaya aku bisa lebih baik lagi buat ff…

Regards

A

15 responses to “More Than Just Love Chapter 8

  1. semua jatuh cinta ma hye ah semua tapi yang dicintai hye ah itu baekhyun cuma dengan nama wu yifan
    yahhh akhirnya kris juga yang dapet first kissnya hye ah
    taemin ma aira akhirnya jadi musuhan lagikan

  2. kok gini ya alurnya jadi rada bingungin ckck sebenernya bakal sama baekhyun atau kris sih? dari chap pertama aja udah sama baekhyun kok tiba2 sekarang malah sama kris? jadi bingung sama alurnya ih >_< di tunggu next chapternya jangan lama2 ya thor 🙂

  3. Aku kok gak ngerti ya, soalnya di awal2 cerita sepertinya gak ada Baekhyun kecil yang main bareng Kris/Hye ah deh. Kok sekarang jadi ada Baekhyun nya?

  4. Cinta segitiga,
    Semuax suka hye ah,
    Tp sebenarx siapa yg dicintai hye ah?
    Bnarkah kris yg dicintai hye ah?
    Miris bngt. Nasib baekhyun,
    Aku kira akhirx sama baekhyun????
    Kasihan bngt aira dicampakkan gitu z ma taemin,
    Next,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s