[Freelance] You’re My Star (Chapter 3)

you're my star chap 3

Title : You’re My Star chapter 3.

Author : alphaphoenix (twitter @mlidna)

Main cast : Do Kyungsoo a.k.a D.O (EXO) | Jang Hyunji (OC/You) | Jang Hyeri |

Genre : Drama, romance, comedy

Rating : PG-15

Length : chapter

Disclaimer : cerita ini terinspirasi dari film disney channel ‘starstruck’ tapi saya kembangkan berdasarkan pikiran sendiri. Tolong tinggalkan jejak dengan memberi komentar ^^. DON’T BE A SILENT READERS!

Chapter 1 || Chapter 2 ||

*PREVIEW*

D.O POV

“Aku akan segera pulang.” Kataku

“Jangan pulang ke dorm, hyung! Diluar banyak wartawan yang meliput. Tepat diluar dorm kita. Jangan pulang sekarang!” kata Kai memperingatkan.

“Ahh.. jinja. Baiklah. Aku akan pulang nanti.” Balasku.

“Tapi jangan pulang besok pagi. Ingat besok pagi adalah jadwal kuliah kita pertama.” Kata Kai.

“Arra..arra. Sudah kututup dulu.” Kataku.

“Jaga dirimu, hyung!” kata Kai sebelum menutup handphonenya.

“Waeyo? Bagaimana?” tanya Hyunji langsung.

 

CHAPTER 3

D.O POV

Aku menghela nafas panjang dan berdiam sejenak lalu memandang 2 gadis yang memiliki perwatakan bagaikan air dan api.

Aku mengumpulkan kata-kata yang harus dikatakan kepada mereka berdua, tak mau diantara mereka berdua ada yang tersakiti.

Tapi itu tidak mungkin. Itu seperti Hyunji yang tiba-tiba menjadi wanita yang baik, tidak mengomeliku dan tidak marah kepadaku. Jika hal itu terjadi, dunia pasti sudah mau kiamat.

Intinya, aku tak tahu harus bilang apa.

Aku memandang mereka, kakak beradik yang sangat berbeda sifatnya. Mereka berdua tampak penasaran dengan pembicaraan yang barusan aku selesaikan dengan Kai. Aku memandang lekat-lekat Hyunji, dia tampak cemas. Tapi yah, bukan dalam arti mencemaskanku. Aku menatapnya lama. Berusaha mencari celah dia sedang mencemaskanku.

Tapi tampaknya tidak ada. Dia memang mencemaskan dirinya sendiri.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”tanya Hyunji sontak membuyarkan lamunanku.

“A..a..aku tidak tahu harus mulai darimana.”Kataku.

“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Hyunji mulai jengkel. Dia mulai memasang wajah cemberutnya yang aneh.

Tapi cantik.

“Kau ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba senyum-senyum sendiri? Kau suka melihatku marah begini?” tanya Hyunji.

Oh. Jadi tadi aku tersenyum.

Aku langsung memasang wajah datar dan cool-ku.

“Hyunji-ah. Bisakah kau sopan sedikit?”tegur Hyeri sambil memukul kepalanya.

“Aww!! Unnie. Itu sakit.” Kata Hyunji sambil memegang kepalanya.

“Intinya. Aku akan membawa kabar baik… dan kabar buruk.”kataku.

“Mwo?”kata Hyeri bingung.

“Akan ada yang senang dan ada yang marah.” Kataku sambil menekankan kata ‘marah’ dan menatap Hyunji.

Hyunji terkekeh pelan.

“Oh. Perasaanku aneh sekarang. Pasti aku yang akan marah.” Kata Hyunji.

“Tapi aku berharap kau senang.”kataku.

“Kita lihat dulu. Sebenarnya ada apa? Wae? Oppa, jangan buat kami penasaran” kata Hyeri.

“Aku tak tahu pastinya berapa banyak, Tapi tadi Kai bilang padaku ada banyak wartawan di depan dorm kami dan aku tidak tahu arti banyak itu sebanyak apa.” Kataku.

“Lalu?Masalahnya?” kata Hyunji.

“Jika ada wartawan, itu artinya bukan pertanda baik. Apalagi dengan keadaan EXO seperti ini.” Sambung Hyeri.

“Mwo? Maksudnya?” tanya Hyunji bingung.

“Artinya Oppa tidak bisa pulang ke dorm.” Sambung Hyeri dengan wajah datar.

“Dan?” tanya Hyunji lagi berusaha mencari penjelasan lagi.

“Oppa akan menginap disini.” Kata Hyeri. Wajahnya langsung cerah.

“Benar sekali.” Kataku.

“MWO? Andwaeyo!! “ Pekik Hyunji.

“Sudah kuduga.” Kataku pelan.

“Hyunji-ah.” Kata Hyeri.

“Shireo! Aku tidak mau. Unnie, Ini bukan hotel. Suruh dia cari hotel diluar sana. Dia kan artis, pasti banyak uangnya.” Kata Hyunji.

“Hyunji-ah. Kalau Oppa menginap diluar, dia akan ketahuan kalau sedang berada diluar dorm. Dan wartawan akan mengejarnya. Lebih baik dia disini. Ayolah.” Kata Hyeri memohon.

“Tolonglah, hyunji. Aku hanya menumpang disini satu malam.” Kataku ikut memohon.

Hyunji berdiam diri. Dia tampak bingung dan sedang berpikir keras.

“Ahh!! Kenapa aku harus ikut campur dalam urusan dunia artis yang gila ini!” kata Hyunji sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Aku akan membayarmu. Tolonglah. Aku bisa mati kalau berada diluar sana.” Kataku masih memohon.

“Kau mau memberiku pekerjaan atau menolongmu?” tanya Hyunji.

“Mwo?” kataku bingung.

“Bukan menolong namanya kalau kau membayarku.” Jelas Hyunji tegas.

Aku terdiam seribu kata. Wanita ini bukan tipe cewek murahan.

Hyunji menghembuskan nafas panjang.

“Baiklah. Kau boleh menginap..” kata Hyunji akhirnya. Dia tampak susah mengeluarkan kalimat tersebut. Seperti ada yang menahan mulutnya untuk berbicara.

Hyeri langsung memekik kesenangan dan meloncat kegirangan.

Aku tersenyum bahagia.

“Oppa. Kau boleh tidur dikamarku. Aku akan tidur dengan Hyunji.” Kata Hyeri.

“Aku tidak tidur malam ini, unnie. Aku mau begadang mengerjakan tugasku. Oh iya. Kopi pesananku mana?” tanya Hyunji.

“Kopi? Omo!!” kata Hyeri sambil memukul kepalanya sendiri.

“Wae?” tanya Hyunji.

“Aku lupa. Mian. Tadi aku buru-buru mau pulang.” Kata Hyeri.

“Unnie. Malam ini aku banyak tugas. Bagaimana aku menyelesaikannya? Aku harus begadang malam ini.” Kata Hyunji.

“Mianhae.” Kata Hyeri.

“Sudahlah. Jangan ganggu aku selama mengerjakan tugasku.” Kata Hyunji lesu lalu duduk kembali di depan komputer.

“Eh.. Aku tidur di sofa saja. Aku tidak biasa tidur di kamar yeoja.” Kataku.

“Tapi Oppa, nanti badanmu sakit..” kata Hyeri.

“Sudahlah, unnie. Dia ingin tidur di sofa. Turuti saja kemauannya.” Sambung Hyunji.

“Kau yakin,oppa?” tanya Hyeri.

“Aku sudah terbiasa tidur di sofa. Lagi pula, sofa kalian nyaman kok.” Kataku sambil tersenyum.

“Yah. Hyunji sering tidur di sofa juga kalau dia sedang mengerjakan tugasnya malam-malam. Sebentar,oppa. Aku akan mengambilkan bantal dan selimut.” Kata Hyeri.

Lalu ia menghilang.

Jadi, Hyunji sering tidur disini.

Aku lalu menengok Hyunji yang sedang serius belajar. Dia sungguh berbeda jika sedang serius.

Tapi dia memang selalu serius, tidak pernah bercanda.

Aku terkekeh pelan. Bagaimana bisa aku bertemu orang seperti dia?

Tak lama Hyeri muncul dengan membawa selimut dan bantal.

“Ini oppa. Ada hal lain yang kau inginkan? Oppa ingin minum sesuatu yang hangat?” tanya Hyeri.

“Tidak usah. Ini sudah cukup. Aku hanya ingin istirahat saja. Gomawo.” Kataku sambil tersenyum.

Hyeri tersipu malu.

“Oppa istirahat saja. Jika ada perlu apa-apa ketok saja pintu kamarku.” Kata Hyeri.

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Hyunji-ah. Kau jangan memancing keributan. Kerjakan saja tugasmu.” Kata Hyeri.

“Arra. Unnie tau kan aku tidak pernah bicara jika sedang belajar.” Kata Hyunji.

“Oppa. Jaljayo. Mimpi yang indah.” Kata Hyeri.

“Kamu juga. Mimpi yang indah.” Kataku.

Hyeri lagi-lagi tersipu malu.

“Annyeong, oppa.” Kata Hyeri lalu masuk ke kamarnya.

Aku melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.

Seketika ruangan menjadi semakin dingin. Awalnya ruangan ini penuh dengan suara keributan, ocehan, cacian, dan sebagainya. Kini hanya tersisa suara deru nafasku sendiri.

Dan sekarang yang tersisa hanya aku dan Hyunji.

Tapi mungkin Hyunji menganggapku tidak ada.

Dia tetap saja fokus ke layar komputer. Suasana sangat hening. Hanya ada suara ketikan keyboard dari jari Hyunji.

“Ehem.” Kataku berusaha mencairkan suasana.

“Tidurlah. Kau dengar kan tadi? Unnie menyuruhku diam. Kalau sampai aku memancing keributan, aku akan disalahkan meskipun yang memancing keributan itu sebenarnya kamu.” Kata Hyunji yang masih membelakangiku.

“Tak bisakah kita mengobrol dulu? Aku tidak bisa tidur kalau belum ngobrol.” Rengekku seperti seorang bayi.

“Aish!” kata Hyunji jengkel. Dia mengetik keyboard sampai kedengaran olehku. Betapa kuatnya dia menekan tombol keyboard sebelum akhirnya dia berbalik kearahku.

“Itukah tradisi seorang artis? Harus diajak ngobrol dulu sebelum tidur? Disini kau hanya orang biasa. Aku tidak menganggapmu artis. Tidur sajalah.” Kata Hyunji.

“Tapi kakakmu menganggapku artis.” Kataku.

“Disini yang tersisa hanya aku dan kamu. Sudahlah, tidur saja.” Kata Hyunji lagi lalu berbalik menghadap komputer lagi.

Baiklah, aku menyerah. Dia memang wanita yang paling egois yang pernah kutemui.

Aku memperbaiki posisi selimut dan bantalku untuk mendapatkan posisi yang nyaman untuk tidur. Sejenak aku berdiam diri mengingat kejadian hari ini.

Hari ini rasanya panjang sekali. Pagi-pagi tadi aku sudah disibukkan dengan berita yang menghebohkan. Pantas saja Baekhyun tidak pulang semalam. Kupastikan dia memang sudah mengetahui bakalan terjadi hal ini. Baekhyun memang dekat dengan Taeyeon sunbae, tapi aku tak pernah menyangka bahwa mereka sudah berpacaran.

Apakah Baekhyun ada di dorm? Apakah dia sudah mempersiapkan semacam pidato untuk fansnya? Meminta maaf kepada mereka? Dan mengingat besok pagi aku, Kai dan Sehun akan memulai kuliah perdana dan aku belum mepersiapkan apapun. Dan tentu saja persiapan soal skandal ini. Besok pasti orang-orang bakalan mengikuti kami kemanapun hanya untuk bertanya tentang skandal Baekhyun dan Kris.

Dan malamnya aku diserang oleh wanita perkasa yang pemarah, tertahan dirumahnya dan terpaksa menginap dirumahnya.

Mungkin besok hari bakalan lebih parah. Bisa jadi besok Hyunji meledak karena muak.

Aku perlahan menutup mataku dan mencoba tenang. Melupakan semua kejadian mengerikan hari ini.

Suasana semakin malam semakin hening dan dingin. Kaca jendela didekat komputerpun mulai berembun. Tak tahu bagaimana dinginnya diluar sana. Aku hanya meringkuk dibawah selimut sambil menggunakan jaket hitamku. Aku sebenarnya tidak terlalu mengantuk, tapi aku harus tidur.

Tak sengaja aku melihat bayangan Hyunji di kaca jendela. Dia mengantuk berat. Matanya sayu-sayu menatap layar komputer, sesekali dia menepuk-nepukkan wajahnya sendiri dan membelalakkan matanya sendiri.Dia berbicara sendiri, sepertinya berusaha untuk menyemangati dirinya. Hebatnya, dia masih bisa mengetik keyboard dengan cepat.

“Kau belum tidur?” tanya Hyunji

“eh.. iya. Dari mana kau tahu aku belum tidur?” tanyaku balik.

“Kau terus menatapku. Tuh.” Kata Hyunji sambil memandang ke kaca jendela.

“Kau belum mengantuk?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Tidurlah. Tidak baik sering begadang. “ kataku.

“Aku sudah terbiasa. Terbiasa sih, kalau aku sambil minum kopi. Aku tak yakin aku tahan sampai jam berapa malam ini.” Kata Hyunji sambil menguap.

Sambil menguap, dia merenggangkan otot-ototnya dan sesekali menggoyangkan kepalanya.

Hyunji sepertinya merasa pegal. Aku merasa cemas padanya.

“Haruskah kau melakukan semua ini?” tanyaku.

“Ini satu-satunya yang membuatku senang. Malam hari, ketika suasana hening dan aku bisa tenang. Sambil memandang langit.” Kata Hyunji.

Lalu ia beranjak dari kursinya dan mengambil air putih. Meneguknya langsung sampai habis. Sepertinya dia kehausan. Dia kemudian duduk kembali di kursi komputer namun dengan arah menyamping.

“Ngomong-ngomong. Tempatku ini adalah tempat yang paling bagus untuk melihat langit. Apalagi langit musim dingin. Sekarang kau bisa melihat bintang yang paling terang dilangit.” Kata Hyunji sambil menunjuk jendela luar.

Pandanganku mengarah ke jendela. Benar saja, sekarang langit dihiasi oleh taburan bintang dan ada satu bintang yang benar-benar terang diantara bintang lain. Bintang tersebut berkerlap-kerlip, cemerlang dan gemerlap.

“Woa!” kataku.

“Keren kan? Sering-seringlah bermain diluar ketika malam. Jangan keseringan di studio musik.” Kata Hyunji sambil terkekeh pelan.

Seperti mood Hyunji lagi bagus.

“Itu bintang apa? Punya nama?” tanyaku polos.

“Itu namanya bintang Sirius, terletak di rasi Canis Mayor. Dan merupakan bintang paling terang dilangit malam.” Kata Hyunji.

“Langit malam?” tanyaku bingung.

“Kalau langit siang ya mataharilah yang paling terang.” Jelas Hyunji.

“Oh iya.hehehehe..” kataku.

Jujur aku malu sekali tadi. Aku pasti terlihat sangat bodoh dan hal itu terjadi di depan wanita.

“Tadi katamu di rasi apa? Bukannya rasi itu hanya ada 12? Rasi zodiak? Aquarius, Pisces.. yang seperti itu, bukan?” tanyaku lagi.

“itu namanya rasi zodiak. Aslinya ada 88 rasi. Rasi zodiak itu rasi yang selalu menjadi latar matahari.” Kata Hyunji.

“Oh…” kataku sambil membentuk mulut huruf O.

Hyunji terlihat pintar sekali. Aku jadi merasa manusia paling bodoh.

“Ilmumu pasti banyak. Aku suka terkagum-kagum dengan orang yang punya banyak ilmu.” Kataku.

“Ini tidak banyak. Tiap orang punya ilmunya sendiri sesuai dengan kemampuannya.” Kata Hyunji.

Aku mengangguk pelan. Setuju.

“Tidurlah. Besok pasti kalian punya jadwal.” Kata Hyunji.

Tak tahu kenapa setelah Hyunji berbicara begitu, aku tiba-tiba saja merasa ngantuk. Seperti sihir, mataku mulai berat. Atau mungkin aku baru sadar betapa melelahkannya hari ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidur.

“Kau jangan terlalu malam tidur. Besok bukan cuma aku yang punya kegiatan, kau pasti punya,kan?” kataku sambil menarik selimut.

Hyunji mengangguk pelan sambil menguap.

“Sebentar lagi ini selesai kok. Kau tidurlah duluan. Selamat malam.” Kata Hyunji singkat.

Meskipun aku merasa kecewa dengan ucapan ‘selamat malam’ nya yang datar saja, aku tetap membalasnya..

“Selamat malam juga. Cepatlah tidur agar aku tidak memikirkanmu dan mengkhatirkanmu.” Kataku.

Aku sudah menutup mataku dan mulai memasuki dunia mimpiku.

“Tak perlu mengkhawatirkanku.” Kata Hyunji.

Itu adalah kata-kata terakhir yang terdengar jelas. Setelah itu, yang kudengar hanyalah suara ketikan keyboard.

Dan suara alunan suara seorang wanita yang lembut dan menenangkan.

‘Itu nyanyian Hyunji?’ batinku.

Ahh.. mungkin itu hanya mimpi saja. Mana mungkin suara Hyunji selembut itu..

* * *

Aku berdiri sendirian di ruangan serba putih. Seperti ruang studio foto. Namun anehnya disini sangat-sangat kosong.

Disitu aku bersama Kai, Sehun, Baekhyun, Suho dan Chanyeol. Mereka tersenyum kepadaku.

Aku membalas senyum mereka.

“Aku sayang kalian.” Kataku pada mereka.

Namun tiba-tiba wajah mereka berubah drastis. Mereka semua memasang wajah marah dan kesal.

Akupun bingung.

“Ada apa?” tanyaku pada mereka.

Aku berlari kearah mereka, dan orang pertama yang kuhampiri adalah Suho.

Namun ketika aku mencapainya, Suho hyung menghilang.

Aku menggapai udara bebas.

Hal tersebut kulakukan pada semua member. Dan hasilnya pun sama, mereka menghilang.

Dan akhirnya hanya aku sendiri yang berada disini.

Aku takut, cemas dan panik. Mengapa mereka meninggalkanku? Apa salahku?

Tanganku gemetaran.

Dan aku hampir saja berteriak, sebelum akhirnya aku membuka mataku dengan tiba-tiba dan terbangun dari tidurku dengan tanganku yang benar-benar berkeringat. Suaraku tadi seperti tercekik.

Itu tadi mimpi yang buruk. Sangat-sangat buruk.

Aku mengatur nafasku dan mengelus-elus dadaku sendiri untuk menenangkan diriku sendiri.

Itu hanya mimpi. Hanya mimpi.” Batinku dalam hati.

Setelah jantungku kembali berdetak normal, aku bangun dari posisi tidurku dan duduk di sofa. Kulihat jam tanganku, sekarang pukul 3 pagi.

Aku berpikir untuk pulang ke dorm, mengingat nanti pagi aku harus kuliah. Tapi apakah para wartawan masih di sana? Haruskah aku bertahan disini sampai pagi datang?

Aku melirik ke arah komputer. Layar komputer Hyunji masih menyala, namun aku tidak mendengar ada suara ketikan keyboard. Kurasakan juga tidak ada gerakan tubuh Hyunji yang terdengar, dia tidak bergerak sama sekali. Layar komputerpun tidak berubah dari tadi, mousenya tidak bergerak.

Apakah dia masih hidup?

Karena cemas, perlahan aku bangkit dari sofa dan jalan berjinjit ke arah Hyunji, aku takut mengeluarkan suara sedikit pun.

“Ahh…” kata Hyunji, dia mengerang pelan.

Kuhentikan langkahku sebentar, kuhitung sampai 10. Jika terdengar suara dari Hyunji lagi, aku akan kembali tidur.

Tapi ternyata tidak. Akhirnya aku berjalan kembali dan sekitar 10 detik aku sampai di meja komputer.

Aku melihat Hyunji dengan sedikit tawa yang pelan.

Hyunji sedang tertidur pulas dengan posisi kepala disandarkan di punggung kursi dan buku yang bertuliskan ‘Fundamental Astrodinamic’ yang terbuka berada pangkuannya.

Ketika Hyunji tidur, dia tidak terlihat seperti wanita pemarah yang barusan kukenal. Dia seperti wanita pendiam yang tidak banyak omong, memiliki sifat yang tenang dan rajin. Sesekali dia menggerakkan kepalanya kesamping kanan dan kiri.

Aku memandangnya lekat-lekat. Mencoba untuk melihatnya yang sedang tenang, bukan sedang marah-marah dan banyak omong.

Mencoba untuk menikmati kecantikannya.

“Ah.. kenapa harus begini?” kata Hyunji tiba-tiba.

Aku kaget, tentu saja.

Namun ternyata dia sedang mengigau. Lucu sekali. Aku terkekeh pelan.

Pasti dia sedang kesal dengan kejadian bertemu denganku. Sampai-sampai terbawa di mimpinya.

Mungkinkah, Hyunji memimpikanku?

Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia.

Hyunji sekali lagi menolehkan kepalanya ke arah kiri, dan kejadian itu membuatnya mau terjatuh dari kursi.

Aku dengan sigap menahannya. Syukurlah, Hyunji sempat ku tahan. Dia berada di pelukanku sekarang. Wajahnya berada di pundakku dan yang bagusnya lagi, dia tidak terbangun.

Secara tiba-tiba tanganku Hyunji melingkar di pinggangku.

“Apa-apaan ini?” batinku dalam hati.

Aku tidak berani melepas pelukannya, tau-tau nanti Hyunji tiba-tiba bangun dan menamparku. Menuduhku bahwa aku sedang melakukan hal macam-macam dengannya.

Namun nyatanya, dia semakin erat memelukku. Mungkin karena dia merasa nyaman.

Terdengar suara tangisan. Aku kaget. Apakah itu hantu?

Aku melihat sekeliling kami. Sejauh aku memandang, aku hanya melihat cahaya remang-remang dari lampu luar dan lampu dari komputer Hyunji.

Aku mendapati punggungku agak basah.

Hyunji menangis?

Dia seperti sedang bermimpi buruk, yang membuatnya menangis. Tangisannya tidak nyaring, hanya saja terdengar horor dan menyentuh hati.

Aku seketika merasa simpati padanya. Ada apa dengan dia?

Tak kusadar bahwa cukup lama aku menahan Hyunji dari bawah agar ia tidak jatuh. Dan itu membuatku cukup pegal. Hyunji berat juga.

Kuputuskan untuk menggendongnya dan mengantarnya ke kamar tidurnya. Pelan-pelan kugendong dia dan membawanya ke kamarnya.

Kubuka pintu kamarnya. Kamarnya masih gelap. Agak susah mencari tombol untuk menyalakan lampu. Aku bersusah payah mencarinya sambil menggendong Hyunji yang sepertinya semakin nyaman di pelukanku. Setelah lumayan lama, akhirnya aku menemukan tombolnya dan kamar Hyunji sekarang terang.

Tidak beda jauh dengan kamar wanita pada umumnya. Ada unsur pink, foto-foto disana-sini. Peralatan make up, kumpulan buku-buku.

Aku perlahan-lahan menempatkan posisi tidur Hyunji, dan menyelimutinya. Matanya masih agak basah akibat tangisannya.

Setelah itu, aku berkeliling kamarnya.

Kamarnya bersih dan rapi. Di dekat jendela ada rak buku yang berisikan buku novel dan buku sains. Dan bisa diketahui bahwa kebanyakkanadalah buku sains astronomi. Disamping kanan jendela pula ada meja rias Hyunji. Ada peralatan make up dan beberapa foto yang dibingkai.

Ada foto Hyunji dan kakaknya, dan aku bisa menebak foto yang satunya adalah foto ayah ibunya.

Ngomong-ngomong, aku belum bertemu dengan orangtua mereka. Mereka tidak tinggal disini?

Dan foto-foto lainnya seperti Hyunji yang bersama temannya dan foto-foto Hyunji dengan piala dan medali.

Di dekat ranjangnya, disitulah piala dan medalinya dan beberapa miniatur gitar, miniatur Namsan tower, hiasan rubik, dan…

Pick gitar?

Aku mengambil pick gitar tersebut. Agak berdebu, ini pasti sudah lama tidak digunakan. Pandanganku menyapu seluruh ruangan, anehnya tidak ada gitar disini.

Wanita ini benar-benar penuh misteri. Kuletakkan kembali pick gitar tersebut.

Hyunji menggeliat pelan lalu berpindah posisi menyamping.

Seketika aku membeku. Sepertinya aku harus cepat-cepat keluar.

Kuputuskan untuk mengakhiri turku mengelilingi kamar Hyunji dan kemudian aku mematikan lampu dan cepat-cepat melangkah keluar dan menutup pintu secara perlahan.

Aku menghela nafas panjang, setelah itu aku merogoh handphone di kantong jaket. Menghubungi Kai.

“Kai, apakah masih ada wartawan di dorm?”

* * *

Hyunji POV

Semalam aku bermimpi bertemu dengan anggota EXO yang memiliki mata paling besar diantara yang lain, lalu aku menghajarnya dan mengobatinya. Setelah itu, aku membiarkan tidur dirumahku.

Ini adalah mimpi yang paling aneh yang pernah kumimpikan.

“HYUNJI-AH! YA!! BANGUN!”

Mataku tiba-tiba terbelalak dan kaget. Kenapa sih unnie pagi-pagi sudah teriak-teriak?

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka,suara derit pintu sampai menusuk telingaku.

Tunggu, pintu kamarku?

“Kyungsoo oppa kemana? Dia kabur? Dia ketahuan?” tanya Unnie dengan wajah yang sangat sangat sangat cemas.

“Kenapa aku bisa disini?” tanyaku bingung.

“YA! Aku bertanya padamu. Kemana Kyungsoo oppa? Kau apakan dia?” tanya unnie lagi.

“Ah. Molla.. mungkin dia harus balik pagi-pagi. Mungkin dia punya jadwal.” Kataku lalu bangun dari tempat tidurku.

“Padahal aku sudah memillih resep memasak buat sarapan.” Kata unnie.

“Ya sudah. Cepat unnie masak sana. Aku lapar. Semalam aku hanya makan spagetti. Seharusnya kemarin itu jadwal unnie yang masak.” Kataku.

“Mian. Oke. Aku yang masak. Tapi aku masih agak sedih belum sempat mengucapkan salam perpisahan dengan oppa. Aku belum sempat meminta tanda tangannya, berfoto dengannya, atau mungkin meminta nomor teleponnya.” Kata unnie.

“Sudahlah unnie. D.O tidak akan pernah bertemu dengan kita lagi. Ayu yakin.” Kataku, cukup yakin.

“Tidak, tidak. Aku yakin kita akan menjadi bagian dari kehidupan oppa. Pasti kita akan bertemu oppa lagi.” Kata unnie sedikit berlebihan.

“Kau saja, aku tidak mau menjadi bagian dari kehidupannya.” Kataku.

“Ah. Terserahlah.” Kata unnie lalu pergi ke dapur.

Aku berjalan ke arah meja komputer. Anehnya, meja komputerku rapi. Buku-buku sudah terususun rapi di samping layar komputer.

Mengapa aku bisa tidur di kamar?

Aku mendapati kertas tertempel di layar komputer.

To: Hyunji

Maaf aku tidak bisa mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf pada kalian. Secara langsung. Aku harus kembali ke dorm. Pagi ini aku punya jadwal. Jangan khawatir, di dorm sudah tidak ada wartawan dan aku pulang di jemput Kai. Aku tidak akan bicara tentang kalian, khsususnya kamu.Aku janji akan tutup mulut. Aku punya feeling bahwa kita akan bertemu lagi ^^.

Sampai jumpa lagi kalau begitu.

Idola kesayanganmu

Do Kyungsoo

NB: Maaf soal ini, aku menukar jaketku dengan jaketmu. Jadi, aku meninggalkan jaket hitamku dan meminjam jaket birumu. Untuk penyamaran. Kalau kita bertemu lagi akan kukembalikan.

Jaket biruku?

Aku berlari ke kamarku dan membuka lemariku. Benar saja, jaket biru kesayanganku tidak ada, digantikan oleh jaket hitam punya D.O.

Ah. Orang itu benar-benar….

Dan tadi apa bilangnya, Idola kesayanganmu? Sejak kapan aku bilang mengidolakannya?

Dan dia juga bilang punya feeling akan bertemu denganku lagi.

Aku saja berharap bahwa orang itu jauh-jauh pergi dari kehidupanku.

Dan aku sebenarnya masih mengantuk.

Astaga..

Tugasku belum selesai. Mati aku!

Kenapa aku harus ketiduran tadi malam?

Cepat-cepat kukerjakan kembali tugasku. Masih cukup lama. Jam 10 aku baru kuliah, masih ada 2 jam.

Andaikan tadi malam aku tidak tertidur, tidak akan begini jadinya.

* * *

Dengan tergesa-gesa aku berjalan cepat kearah kelas. Aku tidak bisa berlari dengan keadaan tangan kiriku yang menggendong setumpuk buku dan tangan kananku yang memegang hot cappucino. Suasana kampus juga sedang ramai, tak seperti biasanya begini.

“Annyeong haseyo, sunbae.” Kata juniorku yang tak ku tahu siapa namanya.

Aku hanya bisa tersenyum karena aku sambil meminum hot cappucino.

Keadaan tadi pagi kacau sekali. Sejujurnya, aku tidak ingin memberitahu kemana perginya D.O tadi malam. Tapi karena unnie tidak bisa berhenti ngomong dan terus bilang bahwa dia cemas, aku jadi muak. Lalu kuberikan surat dari D.O. bukannya tambah diam, unnie semakin histeris membaca surat tersebut.

Unnie benar-benar tersentuh ketika D.O bilang dia punya perasaan akan bertemu dengannya lagi.

Sebenarnya, itu untukku. Nyata-nyatanya surat itu ditujukan kepadaku. Jadi, perkataan D.O itu untukku.

Tapi aku diam saja.

Semakin dekat dengan fakultasku, keadaannya semakin ramai saja. Aku bingung, tak pernah fakultasku seramai ini.

Hingga akhirnya aku mendapati titik keramaian itu, tepat di depan kelasku orang-orang banyak berkerumun. Kebanyakkan para wanita.

Aku bingung setengah mati.

“Annyeong haseyo, sunbae. Maaf membuatmu bingung pagi-pagi, tapi mungkin kau tidak akan menyukai hal ini.” Kata Haeyeon, adik tingkatku.

“Sebenarnya ada apa sih?” tanyaku bingung, semakin bingung.

“Sudah saya bilang, sunbae mungkin tidak menyukai hal ini.” Kata Haeyeon.

Karena kesal, akhirnya aku berjalan ke arah kelas untuk mencari tahu sendiri penyebab keributan ini.

“YA! Nuguseyo?” tanya seorang wanita yang mencegahku masuk ke kelas.

“Ini kelasku. Aku kuliah disini.” Kataku tegas.

“Jangan berbohong, banyak yang bilang begitu dan itu hanya modusmu saja kan untuk bertemu oppa.” Kata wanita itu.

“Oppa?” tanyaku.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Kau pasti sudah tahu,kan kalau oppa kuliah disini?” tanya wanita itu.

Aku jengkel. Sebenarnya ada apa sih.

“YA! Aku tidak tahu siapa Oppa yang kalian maksud. Aku memang kuliah disini. Silahkan cari namaku jika kalian tidak percaya.” Kataku lalu mencoba menerobos mereka.

“YA!! Andwaeyo! Kami tak percaya.” Kata wanita itu diikuti perkataan setuju dengan wanita-wanita lainnya.

“Hyunji-ssi.” Kata seseorang dari dalam ruangan.

Aku menoleh, syukurlah. Jungkook sudah berada dikelas.

“Jungkook-ssi. Bantu aku. Aku dicegah masuk kelas.” Kataku.

“Lepaskan dia. Wanita ini memang kuliah disini, aku mengenalnya.” Kata Jungkook.

Pegangan tangan wanita itu lalu lepas dari tanganku. Aku lalu memandang mereka sinis.

“Gomawo, jungkook-ssi. Sebenanrnya apa sih yang terjadi?” tanyaku.

“Kau mungkin akan membencinya.” Kata Jungkook.

“Jadi, dia sunbaenya?”

Suara itu aku kenal. Dan suara itu merupakan suara yang tidak ingin aku dengarkan lagi seumur hidupku. Cukup tadi malam saja aku mendengar suaranya yang terakhir kali.

Aku melihat Kai menatapku sambil tersenyum kagum. Sehun memandangku dengan pandangan penasaran.

Dan orang itu memandangku dengan penuh suka cita. Dia tampak bahagia sekali ketika memandangku.

Kai.

Sehun.

Dan Do Kyungsoo.

To Be Continued.

Hai Hai Hai… author kembali dengan chapter 3 nih. Gimana menurut kalian? Kepanjangan gak? Atau gimana?

Tetep kasih komentar yah. Buat silent readers, aku berharap kalian cepat-cepat tobat dan cepat-cepat berada di jalan yang benar.

Gomawo.

27 responses to “[Freelance] You’re My Star (Chapter 3)

  1. ah….aku suka.ngepostnya g terlalu lama dan juga cukup panjang.aku udh menduga ini.aku yakin ntar lamakelamaan hyunji suka ama kyungsoo.di jamin.nexr y thor.jgn lama2.#serius nih aku yg pertama???

  2. aku lupa d’chpter sblumnya cment taw ga 🙂
    ceritanya makin seru N bkin pnasaran..
    ditunggu lnjutannya ya, jgn lama2, keep writting..

  3. Lucu,mkin seru,d.o udh suka dluan ma hyunji kah?..udh pnjang,puas bcanya…dtnggu next chap..

  4. satu kampus sama hyunji ya ampun ngga nyangka pasti ntar lama” cinta sama sayang semoga aja begitu next chap ya thorr

  5. author-nim seru ceritanya
    tapi apa yang terjadi nanti sama uri sehun -,-??
    good job author-nim
    yeahh aku duluan dari chanyeol future commentnya hahaha

  6. kyungsoo udah mulai suka ya sama hyujin ,kyungsoo perhatian sama hyunjin
    mereka satu kampus .
    makin seru ceritanya lanjut thor

  7. Uwaaaa.. Psti dyo sneng tuh bsa sekampus sma hyunji.. Wahaha.. Si hyunji psti kesel stengah mampus itu ktemu dyo lgi..:3 sabar aja deh yah.. Eh aku prnah nnton tuh film starstruck.. Ckep bgt si sterling knightnya..muehehe.. Tpi ttep ckepan abang gua kok..*lirikdyo* ohya aku bru komen dsini thor.. Maap yah.. Tdinya aku siders.. Gegara aku kgk bsa ngomen../kgk ngerti mksudnya../ mklum kudet.. Tpi nti2 aku bakalan ngomen trus kok.. :3 huh.. Yaudah deh Next ajalah thor..(y)

  8. Ciyee kyungsoo udah mulai ada perasaan sama hyunji. Takutnya sih ya mungkin nanti malah jadi rebutan sama unnie nya, jadi cinta segitiga deh._. *korban sinetron*

    satu kampus, kyungsoo jadi hoobae
    hyunji? Jadi sebenernya siapa yang
    sunbae dan siapa yg hoobae(?)
    Bukannya hyunji lebih muda/? Unni nya aja manggil kyungsoo oppa, lah hyunji/? *bingung._.*

    yaudahlah, ikutin aja ceritanya XD
    next chap di tunggu…

  9. Hah?! Jadi mereka satu kampus?! Luar biasa! Lanjut author-nim. Hey kau LunarCygnus, skrg ane udh comment hahahah

  10. cieeee..
    dyo sekelas sma hyunji.. sneng tuh.. :3
    si dyo pan udh ada rasa kan sma hyunji..? /soktau/
    eh author.. gua prnah tuh nnton film starstruck.. ckep tuh si sterling knight nya..wahaha..:3 tpi ttep ckepan abang gua kok../lirikdyo/
    thor maap yah bru komen di chap ini.. awalnya gua siders..hhe..
    tpi nti chap seterusnya gua komen trus deh..
    next lah thor..
    ditunggu..:)

  11. eonni ini panjang ^^ ,aigooo eonni feelingnya ngena banget ,aku suka eonni aigoooo… suka suka suka banget ff ini, aku tunggu kelanjutannya eonn :*

  12. Keren thor ceritanya,lanjut terus ya.jgn phpin kami para readers:v ditunggu chap selanjutnya thor.semoga d.o cepet jadian;;)

  13. Pingback: [Freelance] You’re My Star (Chapter 4) | SAY - Korean Fanfiction·

  14. Wkwkwkwk aduh mereka sekelas kan…jhahahaa yaampun kalau aku sekelas sama mereka udah pingsan terus gk bisa ngomong apa” lagi #lebaykambuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s