Egoistic (Chapter 4)

egoisticshaza22

Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah “egois“. Lawan dari egoisme adalah altruisme.

Sesaat setelahnya, Jinri berpikir keras. Apakah aku terlalu egois?

.

.

shaza proudly present

Egoistic (Chapter 3)
Authored by : Shaza (@shazapark)

Choi Sulli — Park Chanyeol

Romance, Hurt/Comfort
Multichaptered

Credit poster : Lee Yong Mi

READ PREVIOUS — [Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3]

.

.

Sebenarnya Chanyeol lebih banyak merenung di tengah-tengah desaknya transportasi umum yang ia tumpangi pagi itu. Bus kota yang selalu padat tiap paginya, membawa nyaris separuh murid sekolah menengah yang hendak melajur ke sekolah.

Chanyeol sebenarnya bisa saja membuka garasi apartemen dan membawa mobilnya ke sekolah, namun dirinya jauh lebih senang berbaur dengan manusia lain di dalam bus, berinteraksi kecil pada seorang kakek, katakanlah Chanyeol adalah pria yang senang bersosialiasi.

Namun, rutintas itu entah mengapa tidak ia terapkan khusus pagi ini. Kepalanya tengah tersiram air penuh imajinasi yang menuntunnya demi merancang seutas rencana mengenai masa depannya dengan Jinri.

Jinri, Jinri, Jinri. Chanyeol menghela napas. Gadis yang tak bisa lepas dari kepalanya, tentu. Ia membenturkan kepala di atas besi penyangga atap bus, sementara tangannya yang lain tengah menjaga keseimbangan ketika bobot bus besar yang membawa sejumlah penumpang itu berjalan mulus.

Ia mengangkat kepalanya ketika merasa bus yang ia tumpangi terhenti sejenak. Lampu merah menghadang perjalanan, meski hanya beberapa menit. Dan di kala itulah, maniknya bergulir ke arah luar jendela bus, menelaah setiap spanduk iklan yang terbabar di setiap susur jalan.

Gadis sensitif memiliki tanda besar mencintai pasangannya.”

Chanyeol tidak memperhatikan produk apa yang tengah dipromosikan di atas spanduk tersebut, yang ia lihat hanyalah kutipan yang tergores rapi di sana. Ia kembali merenung, ia paham dengan kata-kata sensitif yang dimaksud oleh kutipan tersebut.

Apakah sensitif masuk ke dalam kategori cemburu?” ia membatin selagi roda bus kembali berputar, menjauhi spanduk iklan dengan kutipan kata yang membuatnya merenung hampir selama perjalanan menuju sekolah.

.

.

Pria itu tersadar dari segala pemikiran yang tengah tersunsun di kepalanya ketika bus yang ia tumpangi berhenti tepat di dekat gerbang sekolah, ia melangkah maju menyisi selajur yang diapit oleh bangku-bangku bus perlahan.

Setelah menyapa sopir bus dengan senyuman, Chanyeol melangkahi anak tangga yang menuntunnya menuju pintu luar bus. Ia mengusa kepala, melepas topi dan memasukkannya ke dalam tas punggung.

Pagi yang cerah, tentu saja. Jika tadi malam adalah malam yang dingin, maka pagi ini adalah masa yang hangat kendati murid-murid di kisaran depan sekolah telah memadat. Chanyeol yang diketahui sebagai anggota organisasi sekolah sudah lazim mendengar teriakan bernada sopran dari gadis-gadis penggila pria tampan macam dia di pagi hari.

Ia tersenyum maklum ke arah gadis-gadis itu, meski dirinya sedikit-banyak terganggu—apalagi gadis-gadis itu sebenarnya telah memahami hubungannya dengan seorang adik kelas bernama Jinri, bahkan sejak ia masih menjadi junior terbawah di sekolah ini.

Setelah meraih kertas tugas di dalam tas, ia kembali menyampirkan tas itu di bahu dengan benar. Langkah kaki membawanya menuju kawasan dalam sekolah, koridor yang setiap susurnya diisi oleh loker, serta kantin yang menguat aroma masakan pagi.

Chanyeol, meskipun dirinya selalu sarapan di apartemen, tetap saja tak dapat menghalau bahwa aroma itu turut merangsangnya untuk melangkah mendekati kantin tanpa mengalihkan mata pada kertas tugas organisasi sekolah yang harus ia tangani.

Ia membenahi posisi tas yang menyampir di sebelah bahunya, lantas mulai mengedarkan pandangan ke sekitar kantin. Untuk sesaat, maniknya berusaha membelit di antara puluhan murid yang tengah bergumul di kawasan kantin.

Senyumnya terukir sempurna ketika maniknya menangkap siluet seorang gadis jangkung yang tengah terduduk manis di sebelah gadis bermata bundar. Jinri. Ia memaku pandangan pada sosok itu lebih lama, hingga dirinya menyadari adanya guncangan kecil di bahunya.

“Chanyeol-ah!” suara melengking itu. Chanyeol hampir melupakannya. Jung Soojung. Ia memalingkan wajah tepat ke arah kiri, sosok yang saat ini tengah mengulas senyum bersama seorang Jongin di sampingnya. Diam-diam Chanyeol menyembunyikan rapat-rapat letupan bahagia ketika dirinya memandang Jinri beberapa detik yang lalu.

“Hm, ya? Ada apa?” tanyanya gagap, sejenak memandangi paras Soojung.

“Sudah lama tak bertemu, kau tak mau makan bersama kami?” gadis itu bertanya, membuat Chanyeol mengangkat alisnya heran. “Apa? Makan?” sementara Soojung di sana tersenyum lebar, seperti menertawakan ekspresi bingung Chanyeol, gadis itu mengacungkan tangan, menarik lengan milik Chanyeol.

“Iya, Chanyeolie. Sarapan.” Menghela sosok Chanyeol menuju satu meja makan yang tersedia di muatan kantin, hingga pria itu sendiri menggores kerutan samar di kening. Tidak nyaman dengan perlakuan gadis yang terkenal dingin itu.

Soojung terduduk di salah satu bangku panjang, sementara Jongin yang sejak tadi mengekori dengan tenang turut terduduk di hadapan Soojung. Ia memandang Soojung dengan sekotak susu yang tergenggam di telapak tangan gadis itu, lantas mengalih bola mata ke arah Jongin yang hanya menatapnya.

“Duduklah. Kau tak mau hanya berdiri di sana bukan?” tegur Jongin tak acuh, mengangkat bahunya kilas, lantas kembali merajut kesibukan dengan ponselnya. Agaknya, kehadiran Chanyeol di antara mereka cukup merubah atmosfer.

“Baiklah.” Sesaat setelahnya, ia memilih untuk duduk. Mengamati Soojung yang lebih sering menyesap susunya, dan Jongin yang sibuk dengan ponsel. Sementara riuh kantin tak kunjung mereda, Chanyeol hendak mengeping kebisuan.

“Soojung-ah, kau ingat ‘kan, masih ada tugas organisasi sekolah? Bagaimana kalau—” kalimat Chanyeol terpaksa terpenggal ketika Soojung memandangnya dengan sepasang kelopak yang melebar.

“Oh God! Park Chanyeol, kau memikirkan tugas organisasi sekolah di saat-saat pagi seperti ini?” pertanyaan Soojung banyak menghunjam Chanyeol dengan ribuan tanda tanya. Tidak paham dengan sepasang mata yang terbeliak itu dan tidak mengerti makna pertanyaannya.

Chanyeol mengangkat bahu takzim. “Apa salahnya?” sesaat, bola matanya bergulir ke arah tempat duduk Jinri yang terpisah jauh dari tempatnya saat ini. Gadis itu tengah tertawa lebar bersama Jiyoung, agaknya Chanyeol turut mengukir senyum.

Heuh, baiklah-baiklah. Mana bagianku?” Soojung mengangsurkan tangan, mengirim gestur meminta pada Chanyeol yang masih memandangi Jinri, namun dengan terburu-buru ia mengalihkan pandangan ke arah Soojung.

Ia menyadari wajah Soojung telah begitu lama tak singgah dalam pandagannya. Seketika bayangan-bayangan mengenai rencana yang ia susun sejak berada di dalam bus kembali memahat bangunan ke dalam kepalanaya. Ia mengerjap, buru-buru mengorek isi tas untuk mengambil kertas yang manjadi bagian tugas Soojung.

Di masa itulah, sepasang mata Jinri memandang ke arah Chanyeol dengan ribu tusukan sakit yang menancap hati. Di masa itulah, Park Chanyeol kembali menyusun rencana baru.

.

.

Seperti yang telah Jiyoung perkirakan, senyuman Jinri tak akan bertahan lama—setidaknya itu opini yang tumbuh di kepalanya ketika dirinya menyadari sosok Chanyeol yang merupakan satu-satunya pemapah senyum Jinri telah melakukan hal yang tak disukai gadisnya.

Jiyoung memandang Jinri prihatin, hampir selama jam pelajaran berlangsung, hal yang dilakukan oleh Jinri hanyalah merenung. Menopang dagu sembari menunduk, mengukir garis-garis acak di atas kertas putih pada buku, sepertinya gadis itu bahkan tak mendengarkan Jang-seonsaengnim.

“Jinri-ya, masih ada empat jam pelajaran terakhir.” Jiyoung menegur Jinri yang masih menulis sebuah nama di buku. Gadis itu tak terusik sedikitpun, meski Jiyoung telah mengguncang bahunya.

Jinri melukis kerutan samar di dahi, membiarkan sahabatnya terus berceloteh di dekatnya, mengalahkan bising kelas yang umumnya terjadi pada jam istirahat. Jinri, jauh di dalam sana berusaha menopang gertakan perasaan yang terus menciptakan cabang di dadanya, menggetil setiap relung hati lantas membuat senyum sosok itu pudar perlahan-lahan.

“Jiyoung-ah, kau tidak perlu menemaniku terus.” Jiyoung membeliakkan mata, takjub dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh sahabat baiknya itu. Ia hendak membantah, namun dirinya sempat menilik wajah Jinri.

Wajah cerianya tak lagi sama seperti pagi tadi, kini wajahnya lebih menyerupai sosok dingin yang seolah sering tertancap beban. Senyumnya diliputi kabut paksaan.

“Aku baik-baik saja, Jiyoung-ah.” Dan Jiyoung ingin—kalimat itu bukanlah sebuah dusta yang terpaksa dibuat oleh Jinri demi melaminating kesedihannya. Dan, nyatanya—Jiyoung mengetahui adanya air yang menodai pipi sahabatnya.

Hatinya kembali lelah menyaksikan sahabatnya.

.

.

Kala lampau adalah kala yang menunjuk kepada sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau. Kala ini menerangkan suatu pekerjaan atau perbuatan telah terjadi dan selesai dilakukan pada waktu yang telah berlalu. Kala ini memiliki perbedaan yang kontras dengan kala kini atau kala akan datang.

Jinri mempercayai itu. Masa silamnya dengan masa kini sangat berbeda. Tidak, ia tidak melabeli setiap masa yang ia lompati selalu sama, karena—nyatanya ia masih mendapati perasaan tertekan seperti masa lalu yang dulu menghantuinya.

Ketika hatinya teremas saat melihat sosok yang ia cintai berada di dekat gadis lain. Hanya yang membedakan adalah, cara Jinri yang menyikapi hal itu.

.

.

flashback; a long years ago.

Oh Sehun. Sekilas kau mendengar nama itu, kau akan tahu bahwa si pemilik nama adalah sosok yang tampan. Jika benar kau menerka seperti itu, maka aku berani meneriakimu serta menghunjammu dengan berbagai kalimat persetujuan.

Aku dan Sehun adalah sepasang kekasih. Mungkin jika kau mendengar mengenai sepasang murid sekolah menengah pertama yang telah menjalin hubungan spesial akan terdengar lucu, tapi itulah kenyataannya. Aku dan Sehun merajut kisah berkenang di mulai pada bulan Desember, kala kristal es menghujani permukaan tanah.

Cinta berarti banyak bagiku. Bukan sekedar kalimat adjective yang berarti sayang, suka sekali, kasih, dan barang kali rindu. Ibu banyak mengajariku arti cinta, Ibu tak pernah melarangku untuk belajar banyak, apalagi demi masa depanku.

Dan dengan berbekal sebuah kenyataan itulah, Ibu sering kali memberikanku novel romansa. Aku tidak yakin, tetapi—lambat laun, mataku yang kala itu masih bundar menawan dihiasi kerlip mengilau selalu terpana oleh kalimat-kalimat cinta yang tergores rapi di atas kertas novel. Aku memahami cinta melalui Sehun.

Sehun, teman sekelasku. Sebaya denganku. Orang-orang mengiranya sebagai pemuda dingin, namun akulah yang lebih mengenalnya. Ia sosok pemuda yang hangat, itulah mengapa aku tak pernah menyesal telah memilikinya.

Sosok yang mengenalkanku akan cinta. Seseorang yang akan selalu berada di atas pikiranku, mengambang, dan mengukir status bahwa dirinyalah satu-satunya cinta pertamaku.

Chanyeol-ah, bolehkah… bolehkah aku tetap menomorsatukan Sehun? Karena ia adalah cinta pertamaku?

.

.

“Jinri-ya, kau melupakan tas tanganmu!” seseorang meneriaki namaku dari arah belakang. Spontan aku menoleh cepat, di sana—di ujung koridor yang dipadati oleh loker alumunium, berdiri tegak seorang Oh Sehun.

Aku mengulas senyum. Wajahnya yang mengukir garis V yang tegas tampak bersinar ditimpa sinar matahari sore yang tak sengaja terselip di antara celah jendela koridor. Aku menilik sepasang mata kecil Sehun yang kian menyipit kala dirinya mengalunkan tawa halus selagi diriku menghampirinya dengan berlari.

“Kau ceroboh sekali!” Sehun mengacak rambutku dengan senyum yang belum lepas dari bibirnya, seketika itu aku merampas tasku daro genggaman Sehun. Sehun hanya terkekeh geli, menjejalkan jemarinya di antara saku celana sergam sekolah menengah pertama.

“Aku terburu-buru tadi!” gerutuku marapikan anakan rambut yang terusak oleh jemari Sehun tadi. Masa itu adalah masa yang dingin karena es salju masih mengiring detik, begitu pula dengan angin yang tiada henti meski siang hari menyapa.

Namun, semua terasa hangat ketika aku berada di dekat Sehun. Aku meliriknya yang tengah memasang earphone—kebiasaannya ketika sedang berjalan pulang. “Hun-ah, aku juga ingin mendengarkan!” rengekku, yang jelas tak akan pernah ia tolak. Ia memberi sebelah earphone-nya, dan memasangkan ke telingaku.

Kami berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Menanti bus di bawah naungan halte dengan alunan musik romantis yang mengiring. Aku merasa—tak ada yang perlu kubutuhkan selain berada di dekat Sehun. Itu saja.

.

.

Mungkin terdengar tak nyaman jika aku kerap mengikut sertakan Ibu dalam kisahku. Namun, biar bagaimanapun juga, Ibu adalah satu-satunya sosok yang terus memantauku baik dari dekat maupun dari jauh.

Aku tidak pernah menyebar luaskan hal yang berbau keluarga pada segelintir temanku. Mereka tidak tahu jika aku adalah anak tunggal dari pasangan Choi yang bekerja di bawah kantor ternama. Kantor yang banyak diwanti oleh beberapa calon pekerja.

Teman-teman juga tidak mengetahui bahwa Ayahku telah lama raib di dunia ini. Meninggal dunia ketika diriku baru saja menginjakkan kaki di sekolah dasr, itu adalah tahun terakhirku menjadi murid sekolah dasar.

Ibu riang membuka percakapan di kala malam mulai menutup langit, bulan menggantikan tugas matahari menyinari bumi. Menyantap makan malam tak akan terasa lengang ketika Ibu menyodorkan sepiring nasi, membangun percakapan hangat yang tak pernah aku bosan dengarkan.

“Jadi, kau dan Sehun bagaimana?”

Jika Ibu bertanya dan aku menjawabnya, maka biasanya percakapan panjang itu akan ditutup oleh petuah bijak Ibu. Beliau penerang hidupku, jadi—apa salahnya aku menuruti perintahnya selama ini?

“Aku dan Sehun baik, Bu. Aku yakin, tidak akan ada yang bisa merecoki hubungan kami.” Aku berseru, terpatah-patah meraih botol air mineral di samping piring, lantas menenggaknya hingga tandas. Ibu terkekeh, berangsur bangkit dari duduknya dan merapikan meja makan yang sempat tersinggah menu makan malam beberapa menit yang lalu.

“Kau yakin?” aku tertawa lebar, memandangi punggung Ibu yang menjauh mendekati pintu dapur. Mendengar pertanyaan Ibu saat itu adalah hal yang patut kutertawai, bagaimana mungkin Ibu bertanya seperti itu?

“Aku yakin seratus persen, Bu.” Seruanku terdengar sampai ke dalam ruang dapur. Sementara aku turut membantu Ibu merapikan meja makan. Ibu di dalam ruang dapur kembali tertawa.

“Ketahuilah, Sayang. Cinta bukan masalah yakin. Tapi, ikhlas atau tidaknya orang itu. Jangan-jangan kau yakin seratus persen dengan harapan agar dapat melebih-lebihkan kisah cintamu.” Ibu membalas lagi kali ini ditemani gemericik air karena beliau sedang mencuci piring.

Aku merenung kala itu, benarkah? Benarkah suatu saat pasti ada yang mengganggu hubungan kami? Jika cinta tidak mempermasalahkan keyakinan, maka—untuk apa saling mencintai?

Aku masih berusia sangat belia, tak begitu memahami arti perkataan Ibu. Namun, lambat laun—ketika detik mulai merangkak menjadi masa-masa yang baru, aku memahaminya.

“Sehun cinta pertamaku, aku tidak akan berganti kekasih. Ibu tahu, cinta pertama tak pernah terlupakan.” Aku melangkah mendekati Ibu, menaruh piring-piring kotor di atas bak, lantas turut meraih spons berbusa.

“Cinta pertama ya? Jadi karena Sehun cinta pertamamu, maka kau tak akan melupakannya? Kau tahu istilah cinta monyet ‘kan Jinri? Apa kau tak merasa kalian seperti—”

“Ibu!” aku menyela ucapannya. Memahami sudah apa maksud dari kata ‘cinta monyet’ yang akan dilempar oleh Ibuku. Aku memandang beliau dengan kilat tajam—percayalah, aku tidak serius memandang Ibu seperti orang jahat. “Kami bukan cinta monyet.” Tukasku, tiba-tiba tak berniat membantu Ibu membersihkan piring.

Terkadang aku merasa—Ibu seperti layaknya seorang teman bagiku. Tempat berbagi curahan hati, tempat bertopang selama aku memiliki masalah, dan beliau tak pernah sungkan untuk menggodaku. Aku senang mendapati fakta ini.

“Ayolah, Jinri Sayang. Kau akan menemukan cinta sejati suatu saat nanti. Bukannya cinta monyet seperti ini.” Aku tak mendengarkan Ibu, lebih memilih untuk menruncingkan bibir kesal dengan ujaran tak yakin itu.

“Ibu lihat saja, aku dan Sehun akan menikah suatu saat nanti.”

Dan, Jinri yang tak tahu-menahu lebih soal cinta kala itu hanya dapat memaku janji lancang yang tak tulen, fana. Kalimat Ibu selalu menjadi penuntun hal ke depan yang aku langkahi, namun untuk saat ini—sungguh, aku tidak bisa menerimanya sama sekali.

.

.

Sehun selalu menemaniku ke sekolah, mengisi waktu luang dengan kebersamaan. Tak peduli dengan cibiran dan nasihat guru untuk lebih menjaga moral. Aku hanya merasa—berada di dekat Sehun adalah sesuatu yang tak dapat kuganti dengan apapun.

Bolehkah aku mengecap Sehun sebagai cinta pertama dan terakhir untukku? Dulu, aku serius berkata seperti itu, ingin rasanya mengukir janji itu pada bucket yang akan kukerjakan di masa-masa hidup, namun sayang, aku bukanlah pemegang janji yang baik.

Sore itu adalah sore yang dingin, menginjak hari-hari di bulan Desember seperti kemarin. Butiran es salju tak kunjung menghentikan pergerakannya yang jatuh teratur mengikuti arah gravitasi, dan angin dingin yang mengalir bebas di udara, memaksa seluruh penduduk kota Seoul untuk mengenakan pakaian tebal yang hangat.

Aku melangkah riang menuju kelas, hendak menghampiri Sehun dan memintanya untuk menemaniku ke kantin seperti biasanya. Kala ini adalah masa yang semestinya diisi oleh kepulangan para siswa, mengingat bel telah berdenting sejak lima belas menit yang lalu.

Jemariku terkepal kuat, barusan aku hilir sejenak ke kamar mandi demi membuang air. Entahlah, aku selalu buang air kecil jika bel yang menunjukkan pelepasan mata ajar telah usai.

Kini, pintu geser kelas telah berada di depanku. Aku tak banyak memilih waktu untuk meragu lebih lama, memangnya apa yang aku ragukan? Sejenak, setelah pintu tergeser beberapa sentimeter, manikku menilik area dalam di kelas.

Sehun terduduk di sana, di bangkunya yang paling belakang, bersama Hayoung di sampingnya. Melempar senyum dan tampak mengukir kesibukan di atas ponsel yang tengah mereka genggam bersama. Apa yang mereka lakukan? Bermain game barang kali?

Tanpa sadar, alisku mengernyit dalam. Tak memedulikan lagi segelintir angin yang menggelitik pori-pori kulit dan menggetarkan bulu kuduk. Yang aku rasakan hanyalah remasan panas nan pedih yang menyiksa hatiku.

Dan, di sanalah pertama kalinya aku mengenal kata cemburu. Hal pasif yang menjadikanku sebagai gadis tak sempurna, begitu berambisi untuk memiliki Sehun. Aku tak tahu jika egoisme yang merenggut seluruh perasaanku kala itu.

.

.

Rerintik hujan membasuh kota. Sepertinya kata rerintik tidak pantas menggambarkan suasana sesungguhnya yang tersaji di luar kelas Jinri. Hujan itu membungkus seluruh kota, ganas. Menghentak air dingin yang terlepas dari kandungan awan mendung.

Jinri menyadari bahwa seluruh air yang jatuh dari langit itu bukanlah pertanda mengenai kesetiakawanan cuaca terhadap hatinya. Matanya panas, jika orang berkata bahwa mata panas disebabkan oleh iritasi, maka Jinri menolak itu.

Matanya panas, terlalu lelah menopang rasa sakit. Sakit yang membuatnya sesak dan bingung di waktu yang bersamaan. Bingung ingin meluapkannya dengan cara apa, selain menitikkan cairan bening tak bermakna lebih—air mata.

Hujan mengiring detik menyakitkan seorang Jinri. Untuk kedua kalinya, ia merasakan hal serupa di dunia ini, begitu meremukkan hatinya.

.

.

Sakit yang menggerogot perasaanku teraduk bersamaan dengan kerutan samar di keningku. Tidak suka namun tak pantas juga dilabeli membenci, karena sesungguhnya aku hanya berambisi untuk memiliki Sehun.

Langkahku patah-patah mendekati keduanya, Sehun—kekasihku—dan Hayoung. Mereka tampak tak terusik sama sekali, membuatku dapat lebih berleluasa menapaki ubin kelas demi menghampiri mereka.

Sesaat, aku memandang wajah Sehun. Tidak menyangka bahwa kekasihku ini juga tak menutup pergaulannya pada gadis selain diriku. Sejak dulu, Sehun yang kukenal adalah Sehun yang berwajah dingin dan cenderung menudung hubungan sosialnya dengan seorang gadis.

Hatiku panas, tercambuk tali berlabel egoisme yang menjadikanku begitu tak suka melihatnya bersama. Sepasang kakiku telah menopang tubuh tepat di hadapan mereka, dengan mata yang mendesakkan air menyakitkan, aku memanggil Sehun.

“Sehun-ah, apa yang kau lakukan?” gentar melingkupiku ketika manik mereka teralih dari ponsel lantas menudingku dengan tatapan yang sirat akan kejut. Sehun spontan menyembunyikan ponselnya ke dalam saku celana, sementara Hayoung di sebelahnya justru mengerjap bingung.

“Jinri-ya, kau sudah selesai berurusan dengan toilet? Kalau begitu, ayo kita pulang!” Sehun berseru, meraih tas yang ia letakkan di atas meja—terlantas dengan sigap menyampirkan tas itu di bahunya. Sehun melirik Hayoung, tak memedulikan mataku yang telah tergores corak merah dan hati yang teremas sakit.

“Aku pulang duluan, ya, Hayoung-ah!” Sehun pamit, mengusak anakan rambut Hayoung sesaat, hal yang acap dilakukan Sehun kepadaku. Aku menjerit dalam hati, memaki Hayoung yang telah merebut peranku dalam mendapatkan perhatian Sehun.

“Baiklah. Sehun-ah, Jinri-ya, hati-hati di jalan, ne? Aku masih harus menunggu kakakku di sini.” Ujaran Hayoung tak aku indahkan, jemariku lebih memilih untuk menghela lengan Sehun dan membawanya ke luar kelas.

Di detik awal, Sehun segera menggandrungiku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tak penting, seperti; ‘Kau ini kenapa?’ atau ‘Yak! Kenapa matamu merah?’.

Namun, langkahku banyak mengunci bibir Sehun. Suara tapak kaki kami terdengar menggema hingga ujung koridor, sekolah telah sepi—dan Sehun juga telah menghentikan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sejujurnya ingin sekali kubalas dengan jeritan,

“Kau salah! Untuk apa kau mendekati Hayoung?” namun jeritan itu seolah tertelan bulat-bulat di ujung tenggorokanku, menyisakan seulir embusan napas yang tergesa akibat perasaan sakit yang menekan masih terus membekas di lubuk hatiku.

Aku melirik Sehun yang lagi-lagi telah bersiap memasang earphone dan mencetak ekspresi tenang di wajahnya. Aku memalingkan wajah, tak ingin banyak terlarut dalam kesedihan, namun nyatanya ambisi untuk mempertahankan Sehun tetap bersemayam di lubuk hati.

Langkah-langkah ringan yang membawa kami menuju gerbang sekolah ditemani dengan kesunyian ini adalah momen di mana diriku mengukir janji semu, Sehun-ah, aku tak akan membiarkanmu lepas dariku lagi.

Aku mengulas senyum pahit.

.

.

Malam yang lazim aku dan Ibu lakukan kembali berlangsung. Petuahnya mengalihkan segala rasa sedihku, beliau kembali menuai nasihat bermakna.

“Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang. Orang – orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan hatinya sendiri.” Ibu berujar di sela-sela kegiatannya dalam menata piring makan malam, kala itu, aku yang baru saja tamat membaca buku novel cinta segera bertanya mengenai opini Ibu.

“Maksud Ibu apa?” Ibu tersenyum manis, sembari memperhatikanku yang tengah terduduk di bangku ruang makan dengan sepasang kaki yang tertekuk di depan dada serta buku novel di genggaman tangan.

“Kau tadi bilang bahwa novel itu menceritakan seorang gadis yang begitu percaya diri bukan?” aku mengangguk mengiyakan, selagi jemariku berusaha merapatkan lengan sweter hingga menutup sebagian jemariku.

“Gadis itu terlalu percaya diri. Ketika seorang pria menatapnya, tiba-tiba saja gadis itu berkata dengan percaya diri bahwa pria tadi jatuh cinta padanya. Coba kaubayangkan, Jin. Bukti kuat mana yang menunjukkan bahwa pria itu jatuh cinta pada si gadis percaya diri ini?” Ibu bertanya sembari mendudukkan diri di atas bangku, aku menatap beliau lamat-lamat, lantas meluncurkan tawa kecil.

“Ibu benar. Gadis itu terlalu percaya diri.” Tawaku mengalun ringan, menumbuk udara di sekitar ruang makan. Sementara Ibu mengulum senyum kecil, beliau menyuruhku untuk segera bergabung dalam acara makan malam yang khidmat.

“Ilusi seorang gadis terkadang terlalu besar Jin. Maka dari itu, gadis bisa dibilang sebagai makhluk yang sensitif. Ia bisa menarik kesimpulan dengan cepat, hingga tak jarang terjadi sebuah kesalahpahaman di antara hubungan.” Ibu menerangkan sembari memisah-misah porsi nasi yang tengah Ibu bagi untukku.

Aku mengerutkan kening, tak begitu menyetujui pendapat yang satu itu. Entahlah, apapun yang berkaitan dengan ‘hubungan’, maka kepalaku akan membuat jalur lurus mengenai hubunganku dengan Sehun.

Kesalahpahaman? Memangnya aku pernah terlihat sensitif jika sedang salah paham?

Aku menyentakkan kepala demi menggeleng, lagi-lagi seketika tak menyetujui pendapat Ibu. Aku tak pernah salah paham dengan Sehun—setidaknya itulah perasaan yang terbisik ke hatiku saat ini.

Ibu mengangkat bahunya kilas sebelum melahap sesendok nasi. “Terserah padamu, Jin.” Kejap selanjutnya, aku merasa sesuatu menekan setiap relung hati. Memahami detik-detik yang nantinya akan membawaku menuju jurang dalam tak berlabel.

Aku tidak tahu, yang kuyakini saat ini adalah—seutas kalimat Ibu seperti mendesakku untuk tersadar dari suatu hal yang salah. Salah? Apa yang salah?

Mengusir segala ganjalan resah di hati, aku memutuskan untuk menyendok sesuap makan malam Ibu yang tak pernah gagal membuat lidahku terlena.

.

.

Aku merasakan hal yang mengganjal di hati ini sejak seminggu yang lalu, ketika matahari menyembul dari peraduannya. Ketika pada malam harinya Ibu menyuarakan petuahnya mengenai kesalahpahaman. Aku tidak pernah lebih banyak melakukan hal aneh selain berusaha mengenyahkan pikiran itu, namun, beberapa hari setelahnya, kejadian buruk memang benar menimpaku.

Sehun semakin sering berdekatan dengan gadis lain di kelas, seperti Hayoung, Sohyun, dan Suzy. Aku tak paham dengan maksudnya mendekati gadis-gadis itu, namun—yang baru saja kudengar adalah… mereka teman satu kerja kelompok Hyun-seonsaengnim.

Aku tahu ini berlebihan, tetapi—Sehun tidak semestinya berada lebih dekat dengan tiga gadis seperti mereka, Sehun yang bengis tak pernah tahukah ia akan hatiku yang terus tercekik akibat ulahnya?

“Jinri-ya, kau harus dengar… aku mendekati mereka karena ini memang tugas kelompok, Jin. Aku bisa apa? Menentang aturan Hyun-seonsaengnim?” tanya Sehun ketika diriku memaksa menjauhkan Sehun di antara tiga gadis lain yang tengah duduk melingkari kertas tugas.

Mataku memanas, pertanyaan Sehun seolah tidak menggores kesan peduli padaku. Ia—tak memedulikan perasaanku, hal yang mengganjal di hatiku kian memberat ketika mendengar pertanyaan Sehun barusan.

“Kau tak mengerti, Hun. Kau selalu mendekati mereka tanpa mengawasi hatiku juga?” suaraku terdengar menyelip di antara semilir angin taman belakang sekolah yang sunyi. Sehun memandangku dengan dagu yang sedikit terangkat, memandangku dengan wajah heran.

“Kau sakit hati, Jin?” sesaat setelahnya, Sehun merangkul pundakku, membawa kepalaku di antara bahu tegapnya, seolah membiarkan seluruh bebanku terangkat sesaat.

“Aku mencintaimu, Jinri. Seandainya kau mengetahui perasaan terdalamku, kau akan menemukan banyak cinta di sana.” Sehun mengusap kepalaku, perasaan nyaman kian merasukiku kala ini.

“Sehun-ah, jika kau mencintaiku. Kenapa kau mendekati gadis lain?” pertanyaan untuk yang kesekian kalinya itu kulempar kembali pada Sehun. Sehun membuang napasnya, kemudian memaksa wajahku untuk menyisi tepat di depan wajahnya.

“Lihat ya, Jinri. Aku mencintaimu, bukan gadis-gadis itu. Kau paham tidak? Jadi jangan ragu-ragu lagi, oke?” dari jarak yang amat dekat ini, aku dapat melihat sepasang bola mata Sehun yang tergores warna merah. Sepertinya ia terlalu lelah belajar, atau—memikirkan hal lain?

Kepalaku menggeleng meski tatapan Sehun seolah mengintimidasiku. “Aku tetap tidak akan membiarkanmu mendekati siapapun.” Aku hendak bangkit meninggalkan Sehun di bangku taman belakanmg sekolah, namun tangan besar Sehun menahanku.

“Kau telah lama mengekangku selama ini, Jin. Kau benar-benar tak percaya kah, jika aku mencintaimu?” ucapan lirih Sehun seolah menyadarkanku, aku telah terlalu banyak menahan Sehun, membuatnya seperti terkurung dalam keterjagaanku.

“Aku ingin dibebaskan, Jinri. Bisakah kita akhiri hubungan melelahkan ini?”

Dan untuk pertama kalinya, Oh Sehun, cinta pertamaku meruntuhka ketidaksukaannya terhadap sikap egoismeku. Ibu benar. Selama ini Ibu mengatakan fakta tunggal.

Air mataku nyaris tak terbendung, bersamaan dengan rintik salju yang mendarat di atas sepatuku. Hati ini menjerit, menahan perih, tidak menduga Sehun akan berkata seperti itu.

“Maafkan aku, Jinri.”

.

.

“TO BE CONTINUED—”

.

.

Jadi inilah masa lalunya Sulli yang bikin dia trauma dan gak mau jadi cewek egois lagi. Makasih buat kalian yang udah baca dan memahami cerita ini 😉

18 responses to “Egoistic (Chapter 4)

  1. sedih juga cerita masa lalu jinri,kyk nya jinri nya terlalu overprotctive deh,maka nya sehun nya pngn akhiri hubungan nya
    ditunggu kelanjutan nya…
    FIGHTING!!!

  2. kasian banget jinri ngekang sehun sehun gamau dikekakang. gak ngekang chanyeol, chnyeol pengen jinri cemburu. aa ditunggu next chap keep writing yaa penasaran gimana chanyeol jinri nantinyaa

  3. kasian jinri, karna itu dia jadi trauma gak mau keliatan egois, padahal dianya cemburu liat chayeol sama soojung tapi dia gak mau nunjukkan karna takut kisahnya berakhir kayak waktu sama sehun 😦
    thor, sehun nya cuma ada di flashback aja? kalau sehun tiba” muncul lagi dikehidupan jinri kayaknya seru tuh 😀 lanjut ya thor, hwaiting!! ^_^

  4. Pantesan dulu jinri begitu egois, seorang oh sehun jadi namjachingu nya”’apaan sigh””’. Gimana kalo d chaptet2 selanjutnya sehun di munculin,boat seru thor. Hanya usul wkwkwk. Fighting

  5. Jadi itu thor yg bkin Jinri hati2 jaga hubungannya aigoo~ sedih bngt msa lalu jinri, Next chapter 5 nya thor (:

  6. yah, akhirnya kita tahu apa yg membuat jinri trauma.. emang sih huhuhu menyakitkan, dri dulu ataupun sekarang jinri tetaplah gadis naif tapi trauma itu yg membuat dia menjalani hubungan yg sangat hati” sama chanyeol.
    sehun mungkin memang sangat terkekang oleh jinri ya? iya jinri dulu sangat egois dan trlalu terobsesi dengan sehun.
    yah, gak heran klo sekarang dia sama chanyeol kayak gitu.

    pdhal aku suka bnget sama moment” krystal jongin yg love hate relatioship gitu, sayang disini dikit banget. ya kan mau ceritain trauma jinri. wkwkwk

    penasaran sama apa yg akan dilakukan chanyeol kali ini.

  7. omo! jinri! sakit amat. nyesek bacanya. emang pantas kan cemburu, kalo ngak cemburu bukan perempuan namanya plak! next jangan kelamaan

  8. oalah iya baru faham aku thor 😀
    ualalla ceritanya seru banget jooahh dech 🙂
    makanya kok sampek dia ke chanyeol kayak gitu 😀
    semangat yaa thor FFnya joaahh 🙂

  9. Sedih jg yάά masa laalu si jinri . Penasaran bgt sm hubungan chanyeol n jinri .
    Ditunggu next chap yάά thor .
    Fighting !!!

  10. Pingback: Egoistic (Chapter 6) | SAY - Korean Fanfiction·

  11. Kasihan jinri tpi dy jg egois itu kn gegara tugas jd gk masalah kecuali tanpa ada acara apa2 mereka ketemu gtu baru dech jinri marah…..
    Tpi gpp sich kn nmnya pacaran memng terkadang hrs egois hehehe

  12. Yaampun padahal awalnya itu gak kentara gitu loh kalo Jinri ngekang Sehun dan aku pikir malah Sehun duluan gitu yang ngejauhin Jinri tapi ternyata malah sebaliknya, oke. Tapi Chanyeol gimana? Dia maunya itu kan Jinri nunjukin rasa sayangnya dia ke Chanyeol dengan pancingan Chanyeol deketin Soojung tapi kan Jinri punya trauma gitu mana mungkin dia mau nunjukin perlakuan yang sama kayak dulu nanti kalo kejadian lagi gimana? Huhuhu sedihhhh

  13. oh jadi begitu toh makanya jinri trauma, sehun gak salah , jinri yg salah makanya jinri jadi trauma wkwkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s