I GET YOU BACK | Chap 14

I Get You Back chap 14

 

Tittle

 I GET YOU BACK (Chapter 14)

Author

 Fee13 Park

Cast

Kim Kai (EXO) | Han Sora (oc) | Xi Luhan (EXO) | Jang Haerin (oc) | Lee Minhyuk (BTOB)

And other cast

Rating

PG -17

Length

 Chaptered

Genre

 Romance |  School life |  little life free (?) | Action | angst

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 | Chap 5 | Chap 6 | Chap 7 | Chap 8 | Chap 9 | Chap 10 | Chap 11 | Chap 12Chap 13

 

PREVIOUS

 

“Hae-ya, Kai dimana?” Sora menatap Haerin dengan sorot memohon, seolah olah gadis itu tau dimana keberadaan Kai-nya.

Haerin tidak bisa membendung air matanya. Gadis itu benar benar prihatin. Apakah Sora benar benar mencintai Kai?

Hati Sora hancur ketika ia hanya dihadapkan oleh jawaban yang sama. Pria nya itu telah menghilang..

Sora tidak bisa menyembunyikan raut terlukanya. Isakan telah berganti menjadi tangis pilu. “Haerin, apa aku terlambat? Apa aku terlambat mengatakan bahwa aku begitu mencintainya?! Atau aku yang terlalu bodoh karena menganggapnya juga mencintaiku?! Beri aku jawabannya Haein!”

Sora kembali tersedu. Haerin yang tidak bisa menjawab Sora hanya mampu memeluk gadis itu, mencoba memberi kekuatan. “sshh… aku menyayangimu Sora, begitu pun Luhan oppa.. kami tidak akan meninggalkanmu..” Haerin ikut larut dalam tangisnya.

“aku menginginkannya, Haerin… aku membutuhkannya untuk tetap hidup…” oh.. sampai sedalam itulah cinta Sora untuk Kai. Dulu ketika gadis itu sangat membenci Kai, saat itulah cupid menanamkan benih cinta pada Sora. Dan ketika gadis itu telah menyadari bahwa ia mencintai Kim Kai, ternyata cinta itu telah bertumbuh dan menancapkan akarnya begitu dalam.

Bahkan kini rasanya setengah nyawa Sora sudah pergi dibawa seorang Kai.

Lalu bagaimana nanti Sora akan hidup tanpa setengah nyawanya?

 

-Chapter 14-

 

“Nona Han Sora sudah lebih dari dua minggu dirawat disini, dan saya dapat melihat bahwa psikisnya tidak stabil.”

Luhan dan Haerin mengerutkan kening. Mereka tidak begitu mengerti maksud dari sang lawan bicara, salah satu dokter di CM Chungmu Hospital yang menangani Sora.

Melihat reaksi Luhan dan Haerin, dokter melanjutkan, “sepertinya nona Han Sora mengalami depresi  sedang. Namun, ada baiknya diantisipasi dari sekarang karena bisa saja depresi itu memburuk dan meningkat menjadi depresi berat.”

Luhan tercekat, begitu pun Haerin.

a- apa?

Depresi berat?

Ini semua benar benar diluar ekspektasi keduanya. Mereka tidak menyangka bahwa Sora sampai mengalami depresi. Tapi jika kita memutar waktu ke belakang, bukankah semua ini masuk akal?

Pada usia delapan tahun, Sora melihat aksi pembunuhan terhadap ibunya. Pada saat itu psikis Sora sudah terluka. Bahkan gadis kecil itu tidak mau berbicara hingga beberapa waktu hingga Luhan datang dalam kehidupannya.

Dan kesalahan Luhan adalah melupakan fakta itu. Ia tidak tau jika semua yang selama ini tidak sengaja ia lakukan pada Sora mampu membuat gadis itu semakin terluka.

Ah… jangan lupakan tentang aksi brutal Minhyuk. Lelaki yang hanya tinggal nama itu— beserta teman temannya, pernah melecehkan harga diri Sora. Mengoyak mental gadis itu.

Lalu kini, ditinggalkan oleh orang terkasih juga menjadi sebab depresi Sora kian parah. tinggal selangkah gadis itu mencapai kebahagiaan dan secara otomatis menyembuhkan sakit batinnya, namun satu fakta mengerikan mematahkan kedua kakinya. Lantas bagaimana Sora bisa menggapai kebahagiaan?

Luhan hanya mampu menundukan kepalanya dalam setelah keluar dari ruangan dokter. Lelaki itu memikirkan semua tindakan gegabah yang ia lakukan. bagaimana ia bisa melupakan bahwa Sora pernah mengalami trauma hebat karena melihat sebuah pembunuhan? Apalagi korban itu adalah ibunya sendiri.

Oh.. sungguh, saat ini Luhan ingin menghabisi dirinya sendiri. Ia bukanlah kakak yang baik untuk Sora!

“kumohon jangan menyalahkan dirimu, oppa.” seolah dapat membaca kerisauan Luhan, Haerin mengulurkan tangannya untuk memeluk lelaki itu.

“bukan kau saja yang patut disalahkan. Aku juga ikut andil. Kita menyakitinya secara tidak langsung..“ kini Haerin lebih tegar. Ia tidak bisa terus saja menangis. Tugasnya disini adalah menjadi penyokong untuk sahabat dan kekasihnya ini.

“Sora mengalami depresi Hae-ya.. dan aku tak bisa melakukan apa pun.” Luhan merasakan rasa bersalahnya semakin dalam ketika menyadari bahwa kata katanya benar.

“tidak, oppa.. dengan beberapa terapi, Sora akan kembali seperti sebelumnya.” Haerin kembali menguatkan Luhan. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama seperti Luhan, tapi ia tidak boleh pesimis. Ia yakin Sora akan sembuh..

 

###

 

Sama seperti hari hari sebelumnya, semua terasa hampa bagi Sora. Beberapa waktu yang lalu berbagai alat medis yang menancap ditubuhnya sudah dilepas, namun gadis itu hanya diam dan tidak pernah berbicara. Tatapan mata yang kosong terkadang sangat menakutkan.

Yeah.. ia sudah tidak mendengar suara suara aneh dikepalanya lagi, namun ini teralu hening. Dan gadis itu lebih takut dalam kesunyian. Walau begitu ia hanya diam. Tidak melakukan interaksi apa pun untuk mengenyahkan keheningan itu. Ia terlalu lelah untuk sekedar membuat kericuhan. Jiwanya lelah, dan pernah beberapa kali— bahkan sering ‘tubuhnya’ memaksa untuk mengakhiri hidup. Ya, hal itu diluar kesadarannya. Contoh saja, seperti saat ia menghancurkan barang barang disekitar hanya untuk memecah kesunyian dan berakhir dengan beberapa luka yang harus dijahit karena ia menginjak pecahan pecahan beling.

Sepatutnya gadis itu bersyukur karena ia tidak dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Lagipula itu tidak mungkin karena Luhan sudah pasti menolaknya dengan keras.

Dan bukan hanya itu. Sora akan ‘menggila’ jika ia bercermin. Entah mengapa ia muak pada wajahnya yang saat ini terlihat begitu buruk. Seperti saat ini, rasa rasanya ia ingin menghancurkan kaca yang sekarang sedang memantulkan wajahnya.

Sora menatap datar cermin itu. Miris melihat betapa indah rambutnya, namun berbanding terbalik dengan parasnya sendiri. Untuk apa surai indah jika wajahnya terlihat seperti monster?

Hal ini membuat Sora tambah muak akan dirinya.

Oh… kesalahan besar. Darimana Sora mendapatkan sebuah gunting? Kesalahan besar meletakkan gunting itu di atas nakas.

Tangan Sora yang menggenggam gunting itu terangkat, dan sebelah lagi mengambil sejumput rambut kecoklatannya. Apa lagi yang akan dilakukan Sora?

Beberapa kilasan membutakan matanya dalam waktu yang singkat. Kilasan yang menampilkan memori masa masa indah itu.. disaat seorang lelaki membelai rambutnya yang panjang untuk sekedar memberinya ketenangan, lalu ketika lelaki yang sama itu memeluknya dengan hangat di atas ranjang…

Oh.. hal ini membuatnya tambah benci dengan surai indahnya. Bukan, bukan surainya ini yang membuatnya geram. Melainkan semua kenangan yang tersirat disetiap helainya. Bagaimana semua hal yang dilakukan lelaki itu mampu membuat emosinya naik turun.

Diraihnya sejumput rambut dengan asal, gunting di tangannya yang lain terangkat dan…

Krek

Segenggam surai coklat yang indah tergeletak tak berdaya dilantai, diikuti ratusan helai lainnya.

Sora masih setia menatap cermin. Yeah.. baginya ini lebih baik. Rambut panjang kecoklatan yang tadinya hampir mencapai pinggang itu, kini hanya mencapai tepat pada atas bahunya.

Sungguh sayang, hal yang tersisa darinya bahkan kini sudah ia rusak. Dan— oh Tuhan, gadis itu memotong rambutnya dengan asal!

Berbanding terbalik, wajah yang terpantul di cermin itu tampak menarik salah satu sudut bibirnya. Merasa puas dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Ya, Sora sangat puas. Ia benci dengan gadis pemilik rambut panjang ini, gadis yang lemah, diremehkan, dan tidak berharga. Ia benci dengan gadis yang saat ini sedang menatapnya balik lewat kaca itu, benci melihat rupa yang mengenaskan.

Ia benci menjadi Han Sora.

Setidaknya saat ini ia sudah mengambil keputusan yang jauh lebih baik.

Menanggalkan makhota yang sangat identik dengan dirinya, sama artinya meninggalkan Han Sora. kini ia bukan lagi Han Sora yang menyedihkan itu. Karena ia bersumpah untuk berhenti menjadi seseorang yang mudah di tindas.

Singkatnya, ia lebih memilih mati daripada hidup menjadi Han Sora.

 

###

 

Senyum Haerin masih setia diwajah saat gadis itu menyusuri lorong rumah sakit. Mengapa Haerin bisa seceria ini?

Itu karena ia dikagetkan oleh sebuah pesan yang masuk diponselnya. Haerin sendiri begitu terkejut ketika ditengah tengah pelajaran ia mendapati sebuah pesan dari sahabatnya, Sora.

Dan yang membuat Haerin senang, Sora telah kembali. Mereka saling melemparkan lelucon lewat pesan dan percakapan singkat mereka itu ditutup dengan sebuah permintaan dari Sora.

Gadis itu meminta cotton candy.

Oh.. tentu saja Haerin dengan senang hati mengabulkannya. Apa pun untuk membuat sahabatnya itu tidak mengalami depresi.

Bahkan Luhan pun yang ada disampingnya sama sekali tidak dihiraukan. Gadis itu ingin segera menemui Sora.

Luhan tersenyum geli melihat Haerin yang begitu antusias, Luhan pun bersyukur dalam hati kalau memang Sora sudah kembali.

Haerin mendorong pintu kamar rawat  yang sangat ia hafal, “Sora-ya! aku bawakan cotton candy yang—“

Haerin diam begitu disambut pemandangan yang menurutnya sangat aneh. Kedua mata gadis itu menyusuri setiap sudut kamar VVIP ini.

Mengapa semua begitu rapi?

“Haerin, ada apa?” Luhan langsung tangggap melihat Haerin yang hanya diam.

Luhan membuka pintu itu lebih lebar. Mengamati apa gerangan yang membuat Haerin membeku seperti ini.

Ruang rawat ini terlalu bersih.

Penghuni kamar ini sudah meninggalkannya.

Luhan tau ada yang tidak beres.

“oppa,” Haerin menatap Luhan dengan tatapan bingung.

“aku juga tidak tahu, Hae.” Luhan memutar kembali otaknya, berusaha berpikir dengan tenang. Ia tidak boleh panik dulu.

Oke, pertama yang harus dilakukan Luhan adalah mencari informasi dari pihak rumah sakit. lagipula bukankah ia adalah wali dari Sora? seharusnya apa pun yang terjadi pada Sora, ia adalah orang pertama yang dihubungi.

Luhan menarik tangan Haerin untuk ikut bersamanya. Ya, paling tidak ia harus menemui dokter yang menangani Sora.

###

 

Dan apa yang Luhan dapat ketika menemui sang dokter?

Beliau mengatakan bahwa seseorang yang lebih berhak menjadi wali Sora datang.

Guess who?

Luhan sendiri tidak menyangka ketika dipikirannya terpikir satu nama dan ternyata yang terlintas itu malah dibenarkan oleh sang dokter.

Mr. Han.

Sebut saja pengusaha sukses Han Sang Woo. Lelaki paruh baya yang pernah menjadi the most search diberbagai berita online karena peristiwa besar yang menyerang istrinya.

“apa benar Han Sang Woo yang menjemput Sora?” Luhan tidak kuasa untuk kembali memastikan.

“Mr. Han dengan khusus datang menemui saya, nak Luhan.”

Oh.. Luhan tidak bisa berkata apa apa lagi.

Luhan ternganga begitu mendapat informasi ini. ayah Sora, seorang workaholic dan super sibuk itu bahkan datang langsung ke Korea untuk menjemput Sora. Satu pertanyaan yang masih menyumbat laju jalannya otak Luhan, kemana Sora dibawa pergi oleh ayahnya? Kembali ke Jepang, kah?

Haerin yang tadinya hanya duduk diluar menunggu Luhan berbicara dengan sang dokter, langsung bangkit begitu melihat Luhan membuka pintu.

Haerin menghampiri Luhan yang raut wajahnya sulit ditebak, “bagaimana, oppa?” tanya Haerin penuh harap.

“ayahnya datang..”

Haerin tidak tahu harus berkomentar apa tentang hal ini, jujur, ia sendiri tidak begitu mengenal orang tua sahabatnya. Ia hanya tau bahwa ayah Sora adalah seorang pengusaha.

“lalu Sora sekarang dimana, oppa?” inilah yang dari tadi ingin Haerin ketahui. Ia masih belum tenang, karena ia sendiri tau, emosi Sora masih belum stabil.

“itulah yang saat ini sedang coba kupecahkan, Hae-ya” jawab Luhan lesu.

Haerin bisa melihat bahwa lelaki itu lelah. Lelaki itu juga pasti sangat mengkhawatirkan Sora. Haerin pun berusaha memeras otaknya. Mencoba membantu Luhan untuk menerka dimana kiranya saat ini Sora berada.

Dan hal paling sederhana melintas dikepala Haerin.

“oppa, bagaimana jika kita ke rumah Sora?”

Untuk beberapa saat Luhan merasa sangat bodoh.

Bagaimana mungkin hal itu tidak terfikrikan sama sekali olehnya?

Tanpa banyak bicara, Luhan segera menarik Haerin lagi dan pergi menuju kawasan Yongsan-gu.

 

###

 

And here they are.

Berdiam didalam mobil sambil menatap pagar besi yang menghalagi. Sebenarnya Luhan sedang menyusun kata kata yang akan ia ucapkan ketika bertemu dengan Mr. Han. Luhan mulai menyadari bahwa ada seberkas ketakutan. Yeah… bisa dibilang ia tidak menjalankan amanat dari Mr. Han dengan baik.

Ia gagal menjaga Sora.

Bagaimana ia tidak gagal jika Sora saja sampai masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi yang memakan waktu berjam jam. Belum lagi luka diwajah Sora…

Sungguh, Luhan tidak mampu membayangkan bagaimana nanti ia akan dicaci maki oleh ayah Sora.

Tapi ini memang konsekwensinya. Karena kebodohannya sendiri, dan sebagai seorang lelaki sejati, ia tidak akan pernah lari dari masalah.

Disaat Luhan masih berkutat dengan pikirannya, tiba tiba pagar terbuka. Seseorang membiarkan Luhan masuk.

Sejenak Luhan dan Haerin saling  bertukar pandang sebelum Luhan kembali menjalankan Audi putihnya masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Han.

Dan ada yang membuat Luhan lebih ternganga.

Beberapa pria memakai Black Suit berkeliaran dengan tampang seram. Tapi Luhan mengerti, ini bentuk sistem keamanan standar bagi Han Sang Woo.

Luhan bersyukur karena ini tidak terlihat seperti kebanyakan drama melankolis, ketika para pria bersetelan hitam itu tidak memperbolehkannya masuk dan terjadilah aksi baku hantam.

Yeah.. setidaknya itu tidak terjadi.

Luhan mengambil nafas dalam sebelum mengangguk pasti pada Haerin untuk keputusannya ini dan segera turun dari mobil. Luhan bisa melihat ada dua pria yang berjaga didepan pintu, namun sepertinya mereka tidak diperintah untuk mencegat Luhan.

Ketika Luhan berhenti didepan pintu—  seolah kedua pria itu memang menunggu kedatangan Luhan, mereka membukakan daun pintu untuk Luhan.

Luhan sendiri masih tidak tahu bagaimana Mr. Han bisa datang ke Korea dengan tidak terduga dan menjemput Sora dirumah sakit. Oh, dan tentu saja tentang para penjaga yang tampak mengerikan ini.

Luhan masuk dengan langkah perlahan, diikuti Haerin yang tak pernah lupa ia genggam jemarinya. Menarik gadis itu masuk lebih dalam bersamanya.

Luhan tahu lelaki paruh baya itu pasti ada disini, lantas kedua matanya menyusuri sekelilingnya.

Dan disanalah, ia melihat sebuah punggung yang dibalut dengan kemeja hitam terlihat kekar meski usianya sudah tidak lagi muda. Kepalanya sedikit mendongak untuk mengamati sebuah objek yang menarik indra penglihatannya. Lelaki itu memunggingi Luhan dan masih setia menatap sebuah pigora besar diatas.

Luhan harus menemui lelaki paruh baya itu.

Dengan pelan, Luhan melepaskan kaitan antara jemarinya dengan jemari Haerin. Gadis itu mengerti apa yang akan Luhan lakukan, lantas ia memberikan senyum kecil untuk memberi Luhan semangat seadanya.

“Outosan (ayah),” sapa Luhan dengan penuh hormat. Ya.. baginya ayah Sora adalah ayahnya juga. sudah menjadi kebiasaan sejak kecil.

Pria itu berbalik perlahan, Luhan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

“Luhan,” sapa balik pria itu.

Gomenasai (maaf), Outosan.” Luhan tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah pria ini. Apalagi menatap mata beliau.

“saya sungguh menyesal tidak bisa melindungi Sora. Anda boleh menghukum saya.” Luhan masih setia menunduk.

Namun tidak seperti prediksi Luhan.

Suara kekehan meluncur dari bibir pria paruh baya itu.

Han Sang Woo menyentuh bahu Luhan, membuat lelaki itu mengangkat wajahnya.

Senyum hangat khas seorang ayah terlihat disana, “Lu, kau menjaga Sora dengan baik. Aku senang  selama beberapa bulan ini kau mau menjaganya disini.”

“tidak, ayah. Aku—“

“jangan menyalahkan dirimu sendiri. Bukan kau yang harus meminta maaf atas apa yang menimpa Sora.” interupsi dari Han Sang Woo mampu membuat hati Luhan lega.

Luhan tahu ayah Sora pria yang sangat baik, namun ia tidak menyangka setelah kejadian ini, pria itu masih begitu baik padanya yang jelas jelas tidak becus menjaga Sora.

“terima kasih, ayah.” Ucapan itu keluar dengan tulus dari bibir Luhan. Han Sang Woo memang ayah keduanya yang sangat ia sayangi dan tentu saja ia hormati.

Sang Woo hanya tersenyum pengertian pada lelaki muda dihadapannya ini.

“ayah, lalu Sora dimana? Aku masih khawatir dengan keadaannya.” Inilah yang sedari tadi ingin Luhan tanyakan.

“ditempat yang ia inginkan.” Jawaban yang ambigu dari Han Sang Woo.

Luhan mengerutkan keningnya “dimana maksud ayah? Aku ingin melihatnya dan memastikan bahwa ia baik baik saja, ayah.”

“terima kasih kau selalu memperlakukan  Sora seperti adik perempuanmu sendiri. Ayah sungguh berterima kasih, Lu.” Ujar Sang Woo sambil tersenyum teduh.

“tidak, ayah. Untuk apa ucapan terima kasih itu, ayah? Sora memanglah adik yang harus kulindungi.”

Han Sang Woo masih tersenyum, “aku tahu. Selama ini kau telah menjadi kakak yang hebat untuk Sora.”

“tapi , ayah. Apakah Sora sudah kembali ke Jepang?” Luhan menahan napas menunggu jawaban ‘ayah’nya itu.

“Lu, biarkan ia pergi ke tempat yang ia impikan. Biarkan adik perempuanmu itu terbang dengan sayapnya sendiri, melindungi dirinya dengan sayap yang telah ia rentangkan. Biarkan ia menentukan hidupnya, Lu.”

Jadi, dimana Sora sekarang?

Kemana kiranya Sora akan terbang dengan sayapnya?

Apakah kedua sayapnya sudah sembuh?

Pertayaan pertanyaan itulah yang terus berputar diotak Luhan.

Ah.. dan ini, “apa aku bisa bertemu dengannya?” tanya Luhan hati hati.

Sang Woo menjawab dengan tenang, “tidak sekarang, Lu.”

Dan ini cukup membuat Luhan bungkam dan menyimpan segala pertayaan di memori otaknya.

Dan disinilah, ia hanya mampu mematung sambil menatap belasan pigura yang tertata rapi di atas buffet. Segala momen Sora bersama dirinya sewaktu di Jepang.

Beberapa menit yang lalu Han Sang Woo meninggalkannya sendiri. Lelaki paruh baya itu sudah memberikan pengertian kepada Luhan yang intinya dapat Luhan tangkap seperti ini; Sora tidak ingin ditemui siapapun.

Dan itu benar benar menohok Luhan. Mungkin rasa sayangnya pada gadis itu tak terlihat, tapi Luhan benar benar menyadari perasaannya kepada Sora ketika ia pertama kali bertemu seorang gadis kecil yang dikenalkan ayahnya.

Gadis kecil dengan rambut panjang kecoklatan yang indah—  menatapnya dengan sorot mata takut tapi juga penasaran, sedang bersembunyi dibelakang Sang Woo ahjusshi, begitulah dulu ia memanggil beliau.

Sebuah senyum Luhan hadiahkan untuk gadis kecil itu.

Dan ajaibnya, seulas senyum malu malu terukir diwajah Sora kecil.

Sejak saat itu, Luhan bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi gadis kecil itu, gadis kecil yang ia anggap sebagai adik perempuannya.

Luhan sadar bahwa ia benar benar tidak pantas berkata bahwa saat ini ia masih ingin menjaga Sora. tentu perasaan ini tidak bisa hilang dengan mudah. Dari usia sembilan tahun, ia sudah menjalankan tugas sebagai kakak yang selalu ada disamping Sora, jelas bahwa kasih sayangnya begitu besar pada gadis itu.

Tapi ini menyakitkan ketika Sora ingin terbang dengan sayapnya sendiri.

Yang berarti ia sudah tidak membutuhkan sayap Luhan lagi untuk membantunya meraih awan. Yeah.. sekalipun Luhan menawarkan tubuhnya sendiri sekedar untuk menjadi tameng.

Karena gadis itu ingin terbang SENDIRI.

Luhan tahu kini percuma menyesal pada apapun. Beribu kata ‘seandainya’ sama sekali tidak berguna untuk membuatnya memaafkan dirinya sendiri.

Namun jemari jemari hangat menyusup ke dalam kepalan tangannya yang terasa dingin. Kedua mata Luhan turun dan menemukan sebelah tangannya telah digenggam oleh sebuah tangan.

“she’s hurt. We’re get hurting. Dan kita hanya perlu menghargai keputusannya.” Ujar Haerin dengan suaranya yang lirih.

Ya.. Sora terluka, begitu pun mereka berdua. Namun apa pun yang Sora pilih sebagai jalannya, Luhan dan Haerin hanya bisa mendo’akan kebahagiaan gadis itu.

 

 

###

 

A FEW HOURS EARLIER….

At CM Chungmu Hospital

 

Suara ketukan dari balik pintu kamar rawat sampai ke telinga Sora. Gadis itu meletakkan gunting yang baru saja ia pakai untuk memangkas rambut indahnya.

Yeah.. seseorang yang saat ini mengetuk pintu kamar ini adalah buah dari keputusannya. Setelah yakin dengan apa yang ia inginkan, Sora akhirnya menghubungi ayahnya.

Dan beliau benar benar datang.

Sora keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk ‘tamu’nya.

Disana, berdiri tiga laki laki. Dua orang yang berstatus sebagai body guard berdiri disamping kanan dan kiri, menandakan bahwa seseorang yang berada diposisi tengahlah yang harus mereka lindungi.

Sora menatap lekat pria paruh baya yang selalu melemparkan sorot teduh untuknya.

Pria itu menatap Sora dengan penuh rindu selama beberapa detik karena pada detik selanjutnya, Sora sudah menghambur ke dalam pelukan hangat pria itu, sang ayah.

Ya. Mungkin bagi Luhan kedatangan Han Sang Woo sangat tiba tiba dan mengejutkan. Tapi sebenarnya tidak.

Sora sendiri yang menghubungi ayahnya, mengutarakan poin penting yang membuat ayahnya bersedia datang ke Korea dan mendengarkan seluruh ceritanya.

Dan tentu saja sebuah permintaan.

Permintaan yang sudah di’iya’kan oleh ayahnya.

 

###

 

Beberapa hari setelah insiden ‘pengusiran’ di rumah Sora, Luhan dan Haerin masih berusaha mencari waktu yang tepat untuk kembali kesana. Keduanya juga masih bersekolah seperti biasa, namun rasa kehilangan tentu saja masih menyelimuti.

Sama halnya dengan pagi ini, Seoul International SHS sudah mulai dipadati murid muridnya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari hari itu, namun yang membuatnya terlihat berbeda adalah sebuah Mercedez hitam mewah yang sebelumnya tidak pernah terlihat ‘menyambangi’ High School itu terparkir tepat didepan gerbang. Tentu saja hal ini menghalangi akses masuk ke dalam sehingga menarik perhatian.

Ketika beberapa murid sedang menerka nerka siapa pemilik Mercedez yang kacanya sama sekali tidak dapat ditembus oleh indra penglihatan itu, tiba tiba pintu mobil terbuka.

Sebuah kaki jenjang yang dibalut boot tinggi melangkah keluar dari Mercedez hitam. Seorang gadis yang tubuhnya terbalut mantel hitam  dan wajahnya ditutupi masker itu cukup menarik perhatian. Belum lagi kacamata yang masih menutupi kedua hazelnya. Membuat banyak murid menghentikkan langkah hanya untuk memperhatikan.

Gadis itu menutup pintu mobil dan mulai melangkah memasuki Seoul International SHS. Berpasang pasang mata pasti memikirkan satu pertanyaan yang sama.

Siapa gerangan gadis misterius ini?

Namun mereka tidak sadar bahwa gadis yang dianggap misterius itu juga berstatus sebagai siswi di Seoul International SHS. Well, setidaknya MASIH. Dan predikat itu tidak lama lagi akan menghilang.

Dan tidak ada yang menyangka bahwa gadis yang saat ini saat ini berusaha mengingat semua kenangan dengan ‘laki laki itu’ adalah Han Sora.

Ya.. gadis itu dengan berani melangkahkan kembali kakinya ke dalam Seoul International SHS dan menghadapi wajah wajah manusia yang membuatnya sangat muak. Namun bukankah ia sudah memilih? Ya inilah yang harus ia hadapi.

Suara heels yang berbentur dengan lantai menemani Sora melangkah di lorong itu. Berbagai  kenangan kembali menyusup ke dalam syarafnya, dulu ketika Kai dengan lancang memeluknya dari belakang. Oh.. hati Sora berdenyut. Namun memang ini tujuannya. Mengenang segala memori indah disekolah ini untuk terakhir kali.

Ups.. tentu bukan hal remeh itu yang menjadi tujuan utamanya.

Sora membuka kacamata hitamnya dan masuk ke sebuah ruangan.

“apa tidak ingin difikirkan ulang? Mengapa harus drop out?” tanya seorang perempuan yang adalah salah satu staff sekolah.

Gadis itu menampilkan ‘fake smile’ nya, “saya harus pindah ke luar Korea.” Katanya datar.

“ah, begitu. Ini berkas berkasnya, semua sudah lengkap. Semoga berhasil disekolah yang baru.” Sora membungkukkan badannya sekilas dan melenggang keluar dari ruangan.

“Sora!”

Ups.. ternyata sudah ada yang bisa mengenali Sora. Dan gadis ini melakukan hal yang dulu pernah ia lakukan. Ia mendegar, namun sama sekali tidak menolehkan kepalanya. Perbedaannya, kini gadis itu berhenti.

Seorang gadis yang tadi berteriak nampak terengah setelah berlari cukup kencang untuk segera mencapai Sora. gadis itu adalah Haerin.

“Sora?” Haerin tau gadis di depannya ini adalah Sora, namun yang tidak ia percayai adalah surai gadis itu yang hanya mencapai bahu.

“bagaimana kabarmu, Hae-ya?” tanya Sora, seolah bukan dia yang patut dikhawatirkan.

“bagaimana keadaanmu? Kau baik baik saja? Ada apa dengan rambutmu?” Haerin tidak mengacuhkan pertanyaan tidak penting Sora. Ia lebih khawatir pada gadis itu. Dengan keadaan seperti itu— wajah yang masih terbalut kain kasa, masuk ke dalam lingkungan sekolah.

“kondisiku tidak seburuk itu, Hae-ya. Dan rambut ini, aku hanya ingin memotongnya.” jawab Sora kalem.

Tidak buruk bagaimana? Bahkan gadis itu pernah berniat untuk bunuh diri dan ia berkata ‘tidak seburuk itu’?

Haerin masih waswas dengan kehadiran Sora yang begitu tiba tiba disekolah. “mungkin memang tidak seburuk itu, namun aku tetap saja khawatir, So-ya.” yeah.. Sora dapat melihat kekhawatiran dalam kedua bola mata Haerin.

“aku tahu. Tapi sungguh, aku baik baik saja.” Jawab Sora mencoba menenangkan Haerin.

“syukurlah..” Haerin memeluk Sora. gadis itu dapat merasakan bagaimana sahabatnya yang satu ini juga sangat menyayanginya.

“Hae, aku akan pergi.”

Haerin yang masih memeluk Sora mengendurkan pelukannya.

“aku tidak mengerti.” Ujar Haerin jujur.

“aku sudah drop out dari Seoul International SHS. Aku akan pergi meninggalkan Korea.”

Haerin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Apa Luhan tau akan hal ini?

“kau akan kembali ke Jepang?” tebak Haerin.

Sora mengangguk. “ya. aku kembali kesana. Tempat dimana aku seharusnya tinggal.”

“mengapa sangat mendadak?”

“sama sekali tidak, Hae-ya. Aku sudah memikirkannya ribuan kali.”

“kau tidak berangkat sekarang, kan?” Haerin berdoa semoga yang ia ucapkan tidak benar dan Sora akan memukul lengannya sambil berkata, ‘tentu saja tidak’. Tapi sepertinya harapan itu hanya bisa menguap…

“pagi ini aku akan take off.”

“a- apa?”

“siapa yang akan take off?” suara itu berasal dari belakang Sora. suara yang tentu saja Sora hafal mati.

Luhan menatap Sora lamat. “yak! Kamu mau pergi kemana?” tanya Luhan yang berpura pura kesal. Ia tidak ingin Sora pergi, tapi jika keputusan itu adalah yang terbaik, Luhan harus rela melepas adiknya ini.

Sora tersenyum, yeah.. ia mendapatkan kembali kakaknya. Oppa-nya. “maaf, oppa, aku tahu ini sangat mendadak. Tapi akan lebih baik jika aku kembali kesana. Tinggal bersama ayah.”

“kau itu.. “ Luhan menampakkan wajah geramnya, Sora hanya tersenyum kecil.

“kami akan mengantarmu.” Ujar Luhan cepat.

“jad kalian akan membolos?” Sora mengangkat sebelah alisnya. Yeah.. dua manusia didepannya ini kan murid murid yang rajin -.,-

“sekali ini saja.”

Sora terkekeh, “baiklah.”

Sora kembali masuk ke dalam Mercedez yang masih menunggunya dengan koper yang nanti akan ia bawa. Sedangkan Luhan dan Haerin mengikuti dari belakang menggunakan Audi putih milik Luhan.

Sora seperti merasakan deja vu ketika kakinya ini kembali menapaki Incheon Airport. Ia ingat, saat itu Luhan menggenggam tangannya, berusaha membuat suasana hatinya lebih baik ketika baru saja sampai di Korea. Negara yang sama sekali tidak ingin Sora kunjungi.

Dan sekarang hal itu terulang.

Luhan menggenggam tangannya, tapi untuk mengantar. Mengucapkan salam perpisahan. Memeluknya terakhir kali sebelum semuanya benar benar berakhir.

“hei.. sebentar lagi pesawatku akan take off, jadi lepaskan pelukanmu, oppa.” Sora tertawa pelan melihat wajah Luhan dan Haerin yang masih setia menampakkan wajah tidak relanya.

“tidak bisakah kau tetap disini?” tanya Haerin dengan begitu polos.

Sora tersenyum kecil menanggapi. “kenapa kalian seperti ini? kalian bisa mengunjungiku setiap akhir bulan di Jepang. Tidak ada yang berubah, sungguh.” Sora meyakinkan kedua orang yang sangat ia sayangi ini.

“lima belas menit lagi JAL Japan Airlines take off. Aku harus segera pergi. Jaga diri kalian.” Sora kembali memeluk Luhan dan Haerin sebentar, lalu beranjak dengan kopernya.

Sora meraih ponselnya didalam saku, lantas gadis itu menekan sebuah kalimat singkat.

‘lakukan sesuai rencana’

Sora menekan tombol send.

Ya. Sora memang sudah menentukan keputusan nya. Her final decision has gain.

Sora menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang tepat dimana sahabat dan ‘kakak’nya berdiri. Gadis itu tersenyum hangat, bukan lagi senyum palsu yang sering ia tunjukkan. Sora melambai ke arah Luhan dan Haerin. mereka membalasnya.

Sora kembali melurusnya arah pandangnya.

“selamat tinggal Korea. Selamat tinggal Han Sora.” Gadis itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan menghilang diantara banyaknya kerumunan.

This is the ending?

With this happy ending?

Tidak.

Ketika Luhan dan Haerin berfikir bahwa inilah akhir dari semua penderitaan Sora—  walau akhirnya gadis itu harus pergi ke Jepang,  nyatanya tidak seperti yang diharapkan bahwa Sora akan kembali mendapatkan kebahagiaannya disana.

Eitss.. itu hanya pemikiran mereka saja.

Sepulang dari bandara, Luhan dan Haerin masih berusaha merelakan Sora  yang lebih memilih tinggal di Jepang. Namun tentu saja mereka tidak rela jika Sora harus pergi, pergi meninggalkan dunia ini.

Yeah.. baru satu jam setelah pesawat take off, sebuah berita mengejutkan menohok Luhan dan Haerin. Sebuah berita online yang pertama kali memuatnya.

‘Penerbangan Japan  Airlines International Co, Ltd atau JAL Japan Airlines dari Seoul, Korea Selatan menuju Narita, Jepang yang berangkat pukul enam waktu Korea Selatan mengalami kecelakaan dan jatuh di Laut Jepang. Sebagian besar penumpang selamat, namun masih ada yang belum ditemukan dan sekitar sepuluh orang dinyatakan meninggal—  ‘

Haerin merasa jantungnya seperti dirampas secara paksa. Oh Tuhan.. bukankah Sora ada dipesawat itu?

Keduanya panik, apalagi mendengar bahwa ada korban yang tewas dan belum ditemukan.

Luhan kalang kabut, ia berusaha memakai ‘kekuasaan’nya untuk mencari keberadaan Sora. Namun bodohnya Luhan, mengapa lelaki itu tak terlintas bahwa ayah Sora pasti mendapat informasi lebih cepat dari dirinya?

Dengan terburu Luhan mengirimkan pesan dengan berbagai alat komunikasi yang bisa menghubungkan dirinya dengan Ayah Sora di Jepang sana. Sayang, hasilnya nihil. Ayah Sora sama sekali tidak membalasnya.

Luhan dan Haerin hanya bisa menunggu. Selama dua minggu berita jatuhnya pesawat dari salah satu maskapai besar ini memenuhi segala situs media internasional. Keduanya sudah putus harapan dengan keberadaan Sora yang masih tidak ada kabar. Menurut laporan yang Luhan terima, masih ada beberapa yang belum ditemukan. Kemungkinan besar korban korban itu tidak selamat karena posisi jatuhnya pesawat adalah di tengah laut.

Namun yang mengherankan, tidak ada satu pun media yang menyorot tentang Han Sora yang berpredikat sebagai anak tunggal dari Han Sang Woo. Ayah Sora pun juga tidak melakukan upacara kematian untuk Sora— tentu saja jika gadis itu dinyatakan telah meninggal. Namun semua terlalu tenang diantara berita mengejutkan itu. Tidak ada reaksi mencolok dari pihak Han’s Group. Inilah yang membuat Luhan bertanya tanya.

Dan ini hampir dua bulan setelah peristiwa itu, ayah Sora sama sekali tidak memberikan kejelasan. Keadaan ini terlalu ambigu untuk Luhan dan Haerin mengerti.

Hingga pada titik dimana keduanya lelah dan merelakan apa yang sudah terjadi. Jika Sora tidak selamat dalam kecelakaan pesawat itu, mereka akan menerimanya. Walau sebutir harapan akan selamatnya Sora masih tersimpan.

 

###

 

**AFTER 3 YEARS**

AT Los Angeles, California, U.S.

 

enjoy the party, man!” seorang lelaki dengan rambut coklat yang tak pernah berubah itu menepuk bahu sahabatnya yang masih dengan setia duduk didekat meja bar.

Lelaki dengan rambut blonde berantakan itu sedang memainkan bibir gelasnya yang berisikan martini, sama sekali tidak terpengaruh dengan riuh Club saat ini.

“hei, aku mengajakmu kemari bukan untuk melihat wajah kusutmu itu.” Bahasa Korea terdengar kontras diantara puluhan manusia disana.

shut up.” Lelaki blonde itu— seorang Kim Kai, sama sekali tidak menghiraukan sahabatnya.

“apa lagi? Kau masih memikirkannya? Kau masih memikirkan perempuan yang hilang ditengah laut selama tiga tahun itu?”

Secepat kilat Kai bangkit dan menarik kerah kemeja sahabatnya yang sekarang sedang memasang smirk. Merasa menang bahwa umpannya dimakan mentah mentah oleh Kai.

Shut the fu*k up.” Desis Kai.

“kenapa? Kenapa kau meninggalkan gadis itu jika kau tetap tidak bisa melepaskannya? Jika kau saja merasa terluka karena pergi, apalagi dia yang kau tinggalkan? Separah apa sakit yang ia alami?” kata kata sahabatnya—  Oh Sehun, benar benar menohok hatinya.

Kai tidak ingin membuat gadis itu lebih terluka, ia hanya ingin mengabulkan satu keinginan tulus gadis itu—  bahagia. Dan menurut Kai, Sora bisa bahagia bila gadis itu jauh dari sumber masalah. Ya.. Kai sendiri. Maka dari itu Kai memilih pergi dengan harapan Sora akan bisa bahagia tanpa dirinya.

Namun semua yang terjadi sama sekali diluar dugaan. Diluar rencana.

Saat itu pesawat dari maskapai besar milik Jepang dinyatakan jatuh. Dan Kai mendapat laporan bahwa Sora memutuskan untuk drop out dari Seoul International SHS dan ingin kembali ke Jepang.

Mendengar hal ini Kai merasa lebih tenang . Itu berarti Sora hampir mendapat kebahagiaan dengan sekembalinya gadis itu ke Jepang.

Tetapi seuatu peristiwa mengerikan terjadi.

Pesawat yang ditumpangi Sora jatuh ditengah Laut Jepang. sebagian besar penumpangnya  hanya nmengalami luka luka yang tidak terlalu serius. Dan beberapa dinyatakan tewas dan belum ditemukan.

Bahkan sampai tiga tahun peristiwa itu, nama Han Sora masih didalam kategori korban yang belum ditemukan.

Atau mungkin TIDAK ditemukan.

Hilang dan meninggal.

Inilah yang membuat Kai gila. Semua pemikiran ini yang membunuhnya secara tidak langsung setiap hari.

Kai melepas cengkramannya pada kerah Sehun. Ya, sahabatnya itu benar. Semua ini memang salahnya. Dan kini biarlah ia menangisi dirinya sendiri.

“pergilah.” Kai kembali ke tempat duduknya dan kembali menyesap martini.

Sehun menghela nafasnya. Ia tahu kata katanya tadi pasti seperti garam yang semakin melukai luka Kai, tapi bukankah hal ini cukup untuk menyadarkan lelaki itu?

Sehun menghampiri Kai, ia ikut duduk disamping lelaki itu dan memesan satu gelas tequilla pada seorang pelayan. “Come on, it’s party. Bring your smile out.”

Shut up. Mainkan saja musikmu.”

Sehun meletakkan gelas berisi Tequilla nya yang baru saja ia tegak. “hari ini bukan aku. Seorang gadis cantik menguasai tempat Disk Jockey.”

“kau dikalahkan oleh seorang gadis? Memalukan.”

“hei… siapa yang mengalahkan siapa?. Aku belum pernah melihatnya disini. Dan, oh.. sungguh dia sangat cantik.”

Kai tersenyum remeh mendengar penuturan Sehun yang dirasanya sangat berlebihan.

“Kau membiarkannya bermain hari ini karena dia cantik? Ah.. lalu kau punya kesempatan untuk melakukan flirting padanya. Kerja bagus Oh Sehun.”

my bro, aku selalu menghargai wanita, Right?

Kai terkekeh, atau lebih tepatnya tertawa meremehkan— mendengar guyonan sahabatnya. Ia memukul bahu Sehun pelan. “that’s why you  called playboy.”

“Itu berbeda, tuan Kim.” Sanggah Sehun yang tidak terima dirinya disebut playboy. “tapi sungguh, tidakkah kau mendengar permainannya? Aku akui, musiknya terasa hidup.”

Entahlah, kalau boleh jujur Kai sama sekali buta dan tuli dengan tempatnya berada sekarang. Karena didalam dirinya, hanya Sora yang terus terbayang, dan musik yang menjadi backsound-nya adalah lagu ballad. Menyedihkan sekali dirinya.

Ditempat Disc Jockey, seorang gadis tampak sangat menikmati kegiatannya. Tak jarang jemarinya bergerak lincah diatas turntable. Beberapa teknik yang biasa sampai yang masih jarang dipakai oleh Disc Jockey telah dikuasai dan di aplikasikannya pada malam ini. Malam pertama ia di California setelah resmi pindah dari Australia.

Seperti yang dikatakan Sehun tadi, gadis itu memang luar biasa cantik. Kulitnya putih, tubuhnya bak super model— tinggi dan S line, dan rambut panjangnya bewarna merah terang.

How beautiful she is.

Dan apa kalian ingat ketika Sehun menyebut ini Party? Ya.. ini pesta yang diadakan untuk menyambut gadis itu. Seseorang yang mengadakannya….

Jo! Let get drunk!” seorang gadis dengan rambut panjang blonde berteriak pada gadis yang tengah -asik memainkan turntable-nya.

Gadis cantik itu mengangkat ibu jarinya, tanda ia mendengar si gadis blonde— Jessica, sang empunya pesta.

Gadis yang dipanggil dengan kata singkat Jo itu melepas headphone yang sedari tadi ia kenakan dan mulai turun dari meja Disc Jockey. Langkahnya jelas ke arah Jessica.  Sampai sesuatu menubruk gadis itu dari belakang dan membuatnya berhenti. Cukup keras, namun terasa hangat.

Yeah.. sebuah pelukan.

“Chagi.. aku merindukanmu.” Suara lelaki yang terdengar setengah melamun menyergap telinga gadis itu. Kental dengan bahasa korea yang tentu saja membuat gadis itu mengerutkan alis.

How dare you!” dengan kasar gadis cantik itu melepaskan lingkaran kedua lengan orang asing ini pada pinggangnya. Kim Kai.

Dan seseorang datang. Oh Sehun.

oh.. shit. Sorry, he was drunk.”

“hey.. what’s going on?” Jessica menghampiri keributan kecil itu.

ow.. Hi Jess. Yeah… hangover. Like before.” Jessica melirik laki laki yang saat ini sedang dipapah Sehun. Seakan biasa melihat hal itu, Jessica menampilkan wajah malasnya.

It’s oke, Sehun. Ah… it’s my friend, Josephine.” Sehun mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang baru saja dikenalkan Jessica. Sehun tak salah akan penilaian awalnya. Gadis ini memang begitu cantik. Matanya lebar, wajahnya seperti orang luar kebanyakan namun terlihat sedikit oriental disana.

“Josephine.” Sapa gadis itu. Suaranya terdengar ramah, namun matanya begitu tegas dan tajam.

Sehun menganggukkan kepalanya. “Sehun. Oh Sehun.”

She’s from Sidney. She will join in our University.”

oh yeah? Good luck, Josephine.” Josephine tersenyum miring menanggapi Sehun.

oke, I have to go.” Sehun segera beranjak dengan masih memapah Kai.

*(biar gampang, Fee pakek bahasa Indonesia aja ya ^^ anggep aja percapakan mereka disini semua pakek bahasa Inggris karena latarnya emang di California ^^V)*

you rocking this club with your music.” Puji Jessica.

thanks. Tapi itu bukan apa apa.” Wajah cantik gadis itu terlihat begitu angkuh.

“kau ingin kembali?” Josephine menoleh ke arah temannya itu, Jessica.

“aku ingin istirahat.” Jawabnya singkat.

“oh, oke. Aku akan tinggal untuk beberapa jam lagi.” Jessica mengedipkan sebelah matanya.

I see.” Josephine memutar bola matanya malas.

Jessica terlebih dahulu pergi ke meja Disc Jockey menggantikan Josephine. Dan gadis itu melanjutkan langkahnya keluar dari club. Tak jarang banyak berpasang mata lelaki yang menatapnya. Tapi gadis itu tetap memasang ekspresi yang terkesan dingin. Sorot matanya tidak hanya tajam tapi juga cerdas.

Josephine menghampiri mobil putih berharga miliaran yang terparkir dibasement. Sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil, kedua bola matanya yang terlapis lensa mengamati sebuah mobil Jaguar XKR— mobil Kai yang dikendarai oleh Sehun, baru saja keluar dari basement.

Sebuah senyum licik terbentuk diwajah Josephine. Sebelah tangan gadis itu membelai tattoo yang menghiasi lengan kirinya. “Kim Kai. Samureki. My target.”

Siapa gadis misterius ini?

Siapa gerangan gadis yang memiliki tattoo ditangan dan mengetahui latar belakang yang paling dibenci oleh Kai?

Dan apa maksud dari target itu sendiri?

 

TBC

Hi! ^o^/ Fee kangen kalian, readers T^T

Tolong Fee jangan ditimpukin karena publish ini lama banget -,-V

Fee dua minggu terakhir ini UTS, dan deadline semua tugas itu gak kira kira. Jadi mohon maklum ya, readers huhu.. T^T

Chapter ini memang lebih pendek dari chapter sebelumnya, tapi juga gak pendek pendek amat. Gak papa kan? ^^

Dan maaf kalau masih banyaaaak typo, karena Fee gak melakukan pengeditan sama sekali. Fee tau ini lama banget, jadi pas Fee ada waktu luang Fee pakek buat publish IGYB Chap 14. Jadi maaf ya kalau  typo nya bercecer -.,-V

Fee gak mau jelasin apa apa deh buat chapter ini. Fee pengen kalian menebak sendiri ^^

Oh iya.. buat project fanfic kedepan…kayanya Fee harus menghapus satu kandidat fanfic nih. Maaf ya buat kalian yang memilih genre Fantasy dengan main cast Luhan.

Maaaaaafff banget ToT

Jujur nih, Fee juga kaget denger kabar itu. Iya.. itu, yang Luhan keluar T^T miris banget deh Exo harus kayak gini. Tapi ya… kalau itu yang terbaik ya Cuma bisa mendukung, iya gak? –o-

Tapi kalau bikin fanfic dengan main cast Luhan itu, Fee gak dapet feelnya. Mungkin faktor berita itu kali ya, jadi mood Fee sering hilang.

Mungkin kalau Fee udah siap untuk mengerjakan kembali fanfic dengan main cast Luhan, Fee juga akan publish di SKF J

Jadi gimana kalau next fanfic Kai-Ra couple aja? ^^

Oke deh, segitu dulu cuap cuapnya ^^

Regards,

Fee

 

 

 

 

 

159 responses to “I GET YOU BACK | Chap 14

  1. kya crita.y mkin sru ajah…. huuu udh gk sbar ama ending.y tpi gk rela low ending kyaaaa….. GEGANA dehhhhhh
    next….. hwaiting

  2. si sora tadi sempet bilang “lakukan sesuai rencana” gua rasa berita pesawat jatoh itu bohong, josephine itu pasti sora! ya pasti sora! :v *soktaubanget*

  3. Okk, first, aku baru baca ff ini dan jujur bacanya ngebut banget sampe gk sempet komen. Aku bingung mau manggil apa, kl fee, ak kan lebih muda dari kamu #okeabaikan–. Ak juga gak masalahin kok km yg nulis ffny pendek krn it bs buat ak cepet bcnya.
    Kykny ak tau ceritanya ff ini #evilsmilee hahahaha…

    Yahh walaupun ni epep udah final, ak mau akhirnya kainya it seneng #eaqq/?? Yaa setidaknya dia gak terpuruk lah… 😀

    Untuk chapter ini, kyknya akhirnya udh aku tebak deh 😀

    Ak it bkn reader yg pinter ngomenin ff org… Nah ak skrg bignung mau komen apa lagi ^^v
    Intinya, ini ffnya keren beuddd elahh

    Okk. Semangat yaa Fee lanjutin epep nyaa 😀

  4. Aku rasa Josephine itu Sora dahh.. soalnya waktu di bandara sora bilang lakukan sesuai rencana wkwkwkwk sotoyy dah sotoyy ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s