[Intro] HUNCH-by vanillaritrin

http%3A%2F%2F37.media.tumblr.com%2F71e730ee8c9ca78732a5753da6b115c0%2Ftumblr_mzqgjrdEkB1qfgwcko1_1280Author : vanillaritrin | Genre : AU, Romance, Surrealism, Fantasy | Length : Chaptered | Rating : PG – 17 | Main Cast : Go Nahyun (OC/You), Oh Sehun

Disclaimer : The plot is mine!

Thank you jungsangneul and pinkeunmazing for beta-ing!

~~~

Nahyun’s POV

Langit terlalu kelam. Kabut tipis tampak memburamkan arah pandang. Dalam kegelapan, bangunan – bangunan tinggi menjulang berdiri kokoh di sisiku. Mungkin mereka ingin melindungiku dari jeritan malam. Mungkin juga mereka ingin menyembunyikan sesuatu dari jangkauan mata manusia.

Aku tidak tahu dimana aku berada. Namun, kesunyian yang mencekam ini tidak lantas membuatku berbalik. Aku tidak peduli jika aku tersesat karena aku memang tidak punya tujuan. Yang aku tahu hanyalah menjauh dari segerombol pria dengan tubuh gempal yang sempat kutemui ketika aku membeli esen cokelat di toko Paman Kang.

“Cokelat hangat, manis?”

Begitulah kira – kira caranya mengundang beberapa pria gempal lain. Kuakui, sandi yang bagus. Sampai aku terpaku beberapa sekon. Sewaktu kesadaranku kembali, aku tidak ragu mengambil langkah besar – besar dari mereka.

Tidak kupedulikan pakaian tipis yang dibalut jubah cokelatku. Yeah, aku hanya memakai celana tidur super pendek dan kaos longgar yang nyaman. Mulanya kukira tidak akan lama, mengingat aku hanya akan membeli esen. Tapi kerumunan pria tadi benar – benar mengubah seluruh rencanaku.

Kedua tungkaiku terus menuntun menuju jalan sempit. Sedari tadi aku hanya mengikuti naluri untuk menyusuri lorong demi lorong yang minim penerangan. Aku sama sekali tidak berniat untuk menoleh. Setidaknya, masih ada sedikit cahaya sehingga aku bisa melihat bayangan siapapun di belakangku jika mereka membuntutiku.

Sialan.

Kenapa semakin gelap?

Samar – samar kudengar derap langkah seseorang di belakangku. Siluetnya hampir digapai oleh temaram cahaya di sekitarku. Aku menelan ludah panik. Mataku menjelajah setiap tempat yang sekiranya cukup untuk menutupi tubuhku. Aku berjingkat menuju sebuah ruang persegi bekas tempat sampah. Percayalah, baunya sangat tidak mengenakkan. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain bersembunyi.

Aku memberanikan diri untuk sedikit mengintip. Seorang pria gempal diantara kerumunan pria tadi mendekat ke arahku. Tanganku terangkat membekap mulut sambil terus berdoa dalam hati semoga pria ini tidak menemukanku.

Dia berhenti tepat di depan tempat sampah dan aku kehilangan nafas beberapa detik.

Dia sempat mengitari tempat sampah, mungkin memeriksa kejanggalan di tempatku bersembunyi ini. Entah apa yang terjadi, yang kudengar selanjutnya adalah langkahnya yang terajut begitu cepat. Kusimpulkan ia setengah berlari kemudian benar – benar berlari meninggalkan gang sempit ini.

Perlahan, kepalaku muncul ke permukaan. Aku mengamati keadaan sekitar dan langsung terperangah. Tak kusangka bangunan – bangunan tua ini ternyata amat kusam. Dinding – dindingnya lapuk dan catnya sudah mengelupas. Tempat ini tidak lebih dari sebuah kawasan bekas perindustrian dengan cerobong asap yang tinggi dan sebagian asap yang—seharusnya—membumbung tinggi dari dalam sana.

Aku penasaran dengan sesuatu yang membuat pria gempal tadi mengambil langkah seribu.

Yeah, aku tahu seharusnya aku pergi karena pria tadi sudah tidak mengejarku. Seharusnya aku tidak menuruti rasa ingin tahu yang memukul dadaku. Seharusnya aku bisa meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.

Namun, aku menangkap bayangan seseorang di ujung gang.

Lantas aku menapak tanpa berusaha menimbulkan suara gesekan apapun. Kakiku agak berlumpur sesudah menginjak kubangan air kotor di belokan terakhir. Bebatuan di samping jalan masih berbau basah. Sebelumnya, hujan deras mengguyur kota ini dan jubahku sedikit lembap karena rintik hujan.

“Aku memang tidak menginginkannya, Tuan. Tolong lepaskan aku.”

Aku menghentikan langkah tepat di balik sebuah dinding. Entah mengapa aku tertarik untuk mendengarkan lebih jauh pembicaraan kedua orang ini. Aku menoleh ke kanan dan kiri—mengira – ngira penyebab pria gempal tadi terbirit – birit. Namun tidak ada siapapun di gang ini kecuali mereka.

Ya, mereka. Seorang pria paruh baya dengan kemeja hijau yang berkerut hampir di seluruh permukaan. Sebagian bajunya tidak dimasukkan ke dalam celana bahan—oh, atau mungkin sepertinya dia sudah tidak peduli dengan penampilannya. Sebab kerah kemejanya sedang dicengkeram oleh seorang pria yang—

“Aku hanya menjalankan tugas.”

—Sangat dingin.

Bulu kudukku meremang seketika. Nada bicaranya sangat tajam dan menusuk. Aku merasakan dingin yang berlebihan sewaktu dia mengeluarkan suaranya. Tubuh pria itu sangat tinggi namun aku tak dapat melihat wajahnya. Dia membelakangiku dan kurasa pria di hadapannya tidak melihatku.

Pria berambut cokelat itu menutupi sebagian wajahnya dengan masker dan snapback. Aku tidak mengerti mengapa pria paruh baya di hadapannya terlihat sangat ketakutan saat pria dingin itu merogoh saku mantel. Mulut pria paruh baya itu terbuka lebar, begitu pula dengan matanya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi.

Semuanya berlangsung cepat sekali.

Pria berambut cokelat itu mengambil sesuatu yang kelihatannya seperti pemantik. Dia sempat menunjukkan pemantik itu tepat di depan mata pria paruh baya sebelum menyalakannya. Apinya berwarna keunguan dan tampaknya ada yang salah di mataku kala melihat api itu memantulkan wajah sang pria yang ketakutan. Sang pria masih terlihat takjub dengan pantulan wajahnya disana hingga—

Boom!

—Aku sudah tidak melihat Si Pria Paruh Baya.

Mataku mengedar ke sekitar pria berambut cokelat itu tapi sia – sia. Satu – satunya yang dapat kulihat adalah dia. Tidak ada siapapun disana.

Apa barusan aku berhalusinasi?

Tidak, tidak. Semuanya kusaksikan sendiri dengan mataku. Aku benar – benar mengingat semuanya dengan baik.

Tapi…

Mengapa tidak ada jejak pria paruh baya itu? Bagaimana bisa dia menghilang hanya dalam hitungan detik?

Mataku menangkap bayangan pria dingin itu berjalan ke arahku. Aku mulai bergegas dan mempercepat langkah menjauh. Ya, seharusnya aku tidak melihat ini dari awal. Sungguh, aku benar – benar bodoh tidak pergi dari tempat ini dengan segera.

Aku hampir sampai di flat sederhanaku sewaktu ekor mataku mendapati bayangan lain di belakang. Aku menoleh tanpa ragu sampai akhirnya memutar tubuh. Pandanganku menyapu trotoar yang sepi dan redup. Deretan pertokoan di sisi kananku hanya menghidupkan lampu seadanya. Ketika aku sudah memastikan tidak ada siapapun yang mengikutiku, kusibakkan jubahku dan kunaikkan tudungnya. Aku menggeleng sekali sebelum melanjutkan perjalanan menuju flat.

Esen cokelat di tanganku jatuh sewaktu aku berbalik tiba – tiba. Ujung mataku menemukan bayangan sekilas dan kali ini aku bersumpah ada yang membuntutiku. Bayangannya terlalu sering muncul hingga aku benar – benar curiga.

Tidak ada siapapun.

Ketika aku berbalik, tubuhku tiba – tiba dihantam ke dinding salah satu toko. Ayolah, tidak lucu. Aku hampir sampai di flat-ku yang hangat. Sekarang seseorang yang membuntutiku hendak mengancamku? Aku bisa saja berteriak dan para penjaga flat akan membawanya ke kantor polisi.

Aku membeku.

Dia…

“Aku tidak pernah memberi toleransi pada penguntit.”

Aku kenal suara itu.

Dia menyudutkanku ke dinding hingga menghilangkan setiap jarak diantara kami. Aroma tubuhnya sangat menancap indera penciumanku. Terlalu kuat, terlalu kental. Aku yakin ini bukan parfum, ini adalah wewangian alami yang menguar dari dalam dirinya. Dan aku hampir saja terbuai olehnya.

“Tapi karena kau cantik—,”

Aku semakin kehilangan udara bebas lantaran wajahnya semakin maju. Nafas kami saling bertautan hingga aku hampir kehilangan akal sehat. Aku tidak tahu, aku benar – benar tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Tangannya yang sedingin es meraih daguku dan ibu jarinya berjalan di bibirku.

Dalam jarak sedekat ini, yang dapat kulihat hanya bentuk matanya yang sayu namun tertutup oleh alis dan rahangnya yang tegas. Juga… For God’s sake! Bola matanya merah! Ini bukan pertanda baik.

“—Aku jamin, ini tidak akan jadi pertemuan kita yang terakhir.”

Bibirnya nyaris menyentuh bibirku jika suara tapak sepatu seseorang tidak bergema di telinga kami. Dia mengumpat pelan sebelum menyeringai padaku. Selanjutnya, ia mengibaskan mantel lalu berjalan santai hingga pandangku melepas punggungnya.

Aku masih mematung. Bahkan setelah sepasang ibu-anak melewatiku dengan tatapan heran. Tentu mereka bingung dengan posisiku yang bersandar di dinding dengan jemari meremas ujung kaosku.

Tunggu. Sejak kapan jubahku terbuka?

Mataku berkelebat mencari sosok pria tadi. Pria yang sudah mengacaukan pikiranku selagi berada di dekatnya. Pria yang sudah membuka mantelku tanpa kusadari juga, barangkali.

Nihil.

Sosoknya hilang diantara pekatnya asap. Akupun beranjak dari tempatku setelah mengeratkan jubah. Kuratapi botol esen cokelat yang sudah hancur berkeping – keping sebelum benar – benar pergi.

Meskipun aku sudah berbaring di ranjangku yang nyaman, kata – kata pria itu masih berdengung di telingaku. Entah mengapa, aku takut namun juga terpikat di saat yang sama. Setidaknya, kalau kata – katanya tadi hanya omong kosong aku dapat mengingat beberapa hal tentangnya.

Setelah semua yang kualami malam ini, kuharap besok ketika aku terbangun aku tahu kalau ini semua hanya mimpi.

 

TBC

 

Note:

Sebelumnya aku minta maaf kalau ada kesamaan dalam unsur cerita; baik dari cast, genre, dan mungkin plot. Itu semua karena ketidaksengajaan, beberapa juga karena inspirasi fanfiction dengan genre sama yang aku baca.

Aku mau ngucapin terima kasih sebesar – besarnya buat lia di atwb (kelupaan, padahal ini beta reader pertama maapkeun^^) dan buat respon fic aku sebelumnya, as time went by. Thank you for up to 200 comments on 13th and 14th chapter. Thank you, really thank you for your appreciation 🙂

Kalo banyak yang bilang ending atwb kemaren gantung, sebenernya ada untungnya juga gantung jadi aku bisa bikin lanjutannya hehe tapi rencanaku bukan sekuel. Jadi nanti mungkin aku mau bikin series lepas gitu buat kaijung. Idenya udah ada kok, judul serinya juga udah ada, summarynya udah ada. Tinggal aku ngumpulin feeling sama ngetik dan rikues poster 😀

Yang ngikutin aku dari jaman if only pasti tau aku bukan orang yang suka setengah – setengah 😀 Untuk saat ini aku mau fokus ke hunch/kalo responnya bagus/dan nanti kalo aku lagi kuat feelingnya ke kai mungkin aku mulai cicil buat serinya 😀 Buat saat ini aku bener2 lagi ngumpulin feel buat sehun jadi mungkin nanti yaa kaijung series-nya 😀

Warning aku buat chap 1 kalo respon hunch bagus adalah: Jangan kejebak plot. Perhatikan genre. Kata – kata mungkin frontal. Hati – hati.

Fic ini bakal beda sama atwb, sesuai genre yaa. Buat ke depannya aku pake sudut pandang orang ketiga/author POV. Aku baru pertama kali nulis fantasi/surealis jadi maaf kalo gagal, masih belajar.

Kalo kalian gasuka, tolong jangan bash aku. Kalo responnya bagus, aku lanjutin.

Love,

vanillaritrin

217 responses to “[Intro] HUNCH-by vanillaritrin

  1. annyeong author-nim.. ^^
    aku readers baru author.. 😀
    aku dapet rekomendasi ff ini… dan baru baca intronya aja uda tertarik, 😀
    ga sabar baca next chapter jadinya.. 😀
    oh ya, cowok yang rambutnya warna coklat itu sehun ya… 😀
    keep writing thorr.. !!!
    fighting!! ^^

  2. Hmmm itu sehun vampire? Makhluk astral apaan dia matanya merah??? IIn baca kak thor. Fantasy gimana gitu kah? Okedeh aku langsung baca aja yaa hehe

  3. hi kak, ijin baca ya! maaf blm bisa cerewet komen haha 😀 tp dari prolognya aja aku udh suka!

  4. wow ini baru intro ya tapi udah se-menegangkan ini.. XD penasaran sebenernya sehun itu siapa ?????????? manusia atau malaikat atau jin atau apalah.. XD penasaran banget kak. aku lanjut ke chap 1 ya^^

  5. Baru pertama baca fiksi-nya mulai dari intro udah menarik berhubung aku lagi demen(?) baca yang fantasy gitu ketemu sama HUNCH . Itu Sehun makhluk apa? bawa pemantik pula lalu tiba-tiba BUSHH paman itu hilang. aku kira Nahyun bakal sama kayak paman tadi langsung hilang ternyata. “Tapi karena kau cantik—,” “—Aku jamin, ini tidak akan jadi pertemuan kita yang terakhir.” Sehun giliran wanita cantik-_-” Mungkin masih Intro jadi masih banyak rahasiannya. Okey Next>_<

  6. CKck. Nemu di recomended ff. Dan maincastnya si cadel, jadi pingin baca. Heheheee, izin yaa Authooor 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s