Little Shocking!

little shocking!

Little Shocking!

~~~

DeerLit present (@Dreesya)

Xi Lu Han, Kwon Shi Na, Chris Ye Ziyu ( Lu Ziyu ), Oh Sehun

Romance, lil fluff, family, marriage-life

Oneshot

Sequel of The One With A Pantofel

Di pagi hari yang cerah serta suara burung yang bersahut-sahutan tidak membuat pria dan wanita yang masih terlelap dalam balutan selimut hangat mereka itu terbangun. Lihat lah posisi tidur mereka yang berantakan, tangan wanita yang terletak di atas wajah pria tersebut serta kaki pria yang menindih badan wanita tersebut.

Ayolah! Siapa yang akan menyia-nyiakan hari libur seperti ini? Tentu saja menyia-nyiakan hari libur tidak terdapat di dalam kamus pria dan wanita yang sedang terlelap tersebut, hari libur sangatlah berarti bagi mereka.

“Ughh.. sayang, singkirkan tanganmu dari wajah tampanku!”

“Nghh…”

Karena tidak mendapatkan jawaban, pria tersebut segera mengangkat tangan wanita tersebut dari wajahnya, lalu mulai beranjak bangun dari tidurnya dan terduduk di samping wanita yang sedang di bawah alam mimpi tersebut.

“Sayang, bangunlah” Luhan mengguncang-guncangkan tubuh wanita yang sudah 7 tahun terakhir ini mengisi hidupnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Lu Shi Na.

“Hei! Kau harus membangunkan Ziyu”

“Han, tak bisakah kau yang membangunkan ziyu hari ini? Aku masih mengantuk” Shi Na semakin mengeratkan selimutnya dan membalikkan badannya.

“Baiklah”

Luhan beranjak dari kasurnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya berniat membangunkan si kecil ziyu. Hari libur seperti ini memang seharusnya dia yang mengurus Ziyu, mengingat hari-hari sebelumnya istrinya lah yang mengurus anaklelakinya tersebut.

Luhan

“Ziyu buka pintunya! Kenapa kau menguncinya? Apa kau sudah bangun?”

Tidak ada suara sama sekali, kemana ziyu?

Sepertinya aku tidak mengunci kamarnya tadi malam, kenapa bisa terkunci.

“Ziyu! Ziyu!”

“Ayah! Aku ada di bawah!”

Oh, dia ada di bawah.

Aku berjalan menuruni tangga dan berlari kecil ke arahnya yang sedang menonton tv di ruang tengah. Ah tidak lebih tepatnya mengerjakan tugas sekolahnya. Televisi memang dia hidupkan tetapi dia sama sekali tidak melihat ke arah televisi, dia lebih memilih menyoret-nyoret bukunya untuk menghitung angka-angka yang ada di bukunya. Sepertinya itu tugas matematika.

“Kau sudah bangun daritadi?” Ziyu menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arahku yang duduk di atas sofa dekatnya.

“Tentu saja, ini sudah jam 9 pagi. Apa ibu lupa membangunkanku?”

“Tidak, dia tidak lupa tapi kesiangan. Makanya ibumu menyuruh ayah untuk membangunkanmu. Tapi, kau malah sudah bangun terlebih dahulu- hei! jangan menggigit pensilmu” Aku menarik tangan ziyu yang mencoba memasukkan ujung pensil ke dalam mulutnya.

Dia hanya mengerucutkan bibirnya kemudian kembali mengerjakan tugas matematikanya yang sempat terlupakan.

Aku hanya tersenyum kecil melihatnya kemudian mengambil remote tv di atas meja dan menggonta-ganti channel mencari acara tv kesukaanku.

“Ya! Xi Lu Han! Kenapa kau tidak membangunkanku?”

Ah, suara melengking ini. Kurasa, aku tak perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berteriak seperti ini.

“Aku sudah membangunkan mu tadi, apa kau lupa?” Jawabku tanpa mengalihkan sedikitpun pandanganku dari televisi yang menayangkan acara bola kesukaanku.

“Hfftt” Ah! Dia menghela nafas.

Seperti seorang maniak aku langsung menoleh ke belakang untuk melihat rupanya saat sedang menghela nafas, pasti sangat- shit!

“Ibu! Kau sudah bangun?”

“Ziyu, maafkan ibu. Ibu tak sempat membuatkanmu sarapan”

Shi Na mengambil tempat di sebelah Ziyu, kemudian melihat ke arahku yang daritadi menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.

“Ada apa?” Shi Na menatapku heran, kemudian merampas remote tv yang ada di tanganku.

“Kau- aku- maksudku, kau memakai piyama yang ku belikan untukmu?” Aku mencoba menelan ludahku dengan susah payah.

Dia memang tidak pernah memakai piyama yang ku belikan untuknya, jadi ini hal yang sangat wajar ketika aku terkejut. Tapi, yang membuatku lebih terkejut adalah dia memakai piyama yang tembus pandang, astaga! Aku bahkan baru menyadari jika aku menahan nafas daritadi.

“Ya, memangnya ada yang salah?”

“Kau tak seharusnya memakainya” Mataku mencoba mencari-cari benda yang tepat. Lalu, melemparkannya ke arah Shi Na.

BUG

“Sakit bodoh!” Shi Na mengusap pelan wajahnya yang ku lempari bantal sofa kemudian mengambil kembali bantal tersebut berniat membalas lemparanku tadi.

“Bantal itu untuk menutupi tubuhmu bodoh”

“Hah? Memangnya kenapa?”

“Ck! Piyamamu itu sangat transparan”

“Salah sendiri membelikan piyama seperti ini untukku, lagipula biasanya kau yang memaksaku untuk menggunakan piyama ini dan sekarang kau malah menceramahiku”

Ziyu hanya memperhatikan kami yang daritadi berdebat tidak karuan. Lalu, berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan kesukaannya. Mungkin baginya pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi setiap pagi di hari libur.

“Ya, tapi jangan memakainya di pagi hari juga. Maksudku kau memakainya saat ingin tidur denganku” Aku mengedipkan sebelah mataku ke arahnya dan mencium pipinya sekilas.

“Aissh, bedebah ini. Aku sudah memakai piyama ini dari tadi malam saat ingin tidur, kau saja yang baru menyadarinya” Shi Na mendorong kepalaku pelan untuk menjauhinya, dia memang sering risih jika aku mencium pipinya. Cute, right?

“Kau lupa? Aku bahkan baru pulang pukul 11 malam, dan saat aku memasuki kamar kau sudah bergelut dengan selimut. Bagaimana aku bisa melihat tubuhmu?”

“Jauhkan kata-kata kotormu dari Ziyu!”

“Cih! Kau harus ganti baju, sekarang!” Aku mendorong-dorong Shi Na supaya beranjak dari sofa dan mengganti bajunya menjadi baju yang lebih seksi- maksudku sopan.

“Tidak mau! Aku tidak-“

“Hyung! Noona! Annyeong!”

“Ah! Dia sudah datang, aku harus menemuinya”

Aku mencoba menghalangi jalan Shi Na kemudian menarik tangannya untuk mengikutiku ke kamar.

“Luhan, lepaskan. Aku ingin menemui sehun dahulu”

“Tidak dengan baju seperti ini!”

“Luhan!”

“Shi Na!”

“Baiklah, aku akan mengganti ba-“

”Hyung, noona. Aku masuk yaa~”

Ah, sepertinya tidak ada waktu lagi. Aku harus mengambil langkah ini.

“Hei! Kenapa kau membuka bajumu?” Shi Na menutupi wajahnya yang merona merah saat melihatku dengan tiba-tiba membuka bajuku di hadapannya.

“Pakai ini! Cepat!”

“Hei- tunggu dulu.. ya! kepalaku sakit bodoh.. kau belum membuka kancing bajumu, bagaimana bisa kepalaku masuk… jangan menarik rambutku! Luh- argggh!”

Ups! Kami terjatuh.

“Hyung, noona- apa yang kalian lakukan?”

Author

Sehun melebarkan matanya melihat pemandangan di depannya, jujur dia sempat menyesal tidak membawa kamera di saat-saat seperti ini. Jika kalian melihat posisi Luhan dan Shina saat ini pasti kalian akan menjadi salah paham seperti sehun saat ini.
Bagaimana tidak? Saat ini posisi Luhan sedang menindih tubuh Shina yang berada di atas sofa. Lalu, Shina yang berada di bawahnya memakai baju Luhan yang sedikit kebesaran dan di bagian atas bajunya tidak dikancingkan sehingga memperlihatkan piyama transparan milik Shina serta Luhan yang berada di atasnya tidak memakai baju atasan sama sekali alias naked!

“Astaga! Keponakanku yang manis, tutup matamu! Kau tidak seharusnya melihat adegan seperti ini” Sehun berjalan ke arah Ziyu yang dari tadi sudah mematung di dekat tangga.

Sehun menatap tajam ke arah dua orang yang duduk di hadapannya meminta penjelasan tentang kejadian tadi. Setidaknya sekarang semuanya sudah lumayan normal, Luhan dan Shina yang sudah mandi serta memakai pakaian yang lebih enak di pandang dan Ziyu yang duduk diatas pangkuan Sehun sambil memainkan game yang ada di ponsel milik Sehun.

“Jadi, apa kalian tidak mempunyai kamar untuk melakukan ‘itu’?” Sehun mulai membuka suara untuk memecahkan keheningan.

“Ya! Apa yang kau maksud dengan ‘itu’ ?” Shina memukul pelan kepala adiknya, kemudian mencolek lengan Luhan menyuruh pria tersebut menjelaskan semuanya kepada Sehun.

“Sehun, tadi kami hanya sedang ber-“

“Bergulat?” Sehun memicingkan kedua matanya.

“Emm y-ya” Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian kembali menatap sehun yang sedang menatap keduanya intens.

“Di atas sofa?”

“y- eh tid- maksudku ya” Luhan mengusap wajahnya kasar.

Sehun terdiam mencoba mencerna semua jawaban Luhan atas pertanyaannya.

“APA? KALIAN BERGULAT DI ATAS SOFA?!!”

Shina yang sedang membaca majalah sontak menjatuhkan majalahnya, sedangkan Luhan terlihat sedang tersedak ludahnya sendiri.

“Bukan! Ma-maksudku kami ber-bergulat emm… normal! Iya maksudku kami bergulat dalam arti normal bukan bergulat yang ‘itu’ “

“Ah! Maksud hyung berkelahi?”

“I-iya”

“Aku kira hyung benar-benar melakukannya di atas sofa bersama Shina noona” Sehun hanya cengengesan mendapatkan tatapan tajam dari Luhan dan Shina.

“Memangnya kenapa kau datang kesini?” Luhan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Hey, dude! Aku ini adik iparmu. Lagipula aku kesini untuk menjaga Ziyu saat kalian berdua pergi nanti”

Luhan mengangkat sebelah alisnya, kemudian melihat ke arah Shina yang juga melihat ke arahnya.

“Pergi?”

“Ya, persediaan makanan kita sudah hampir habis. Jadi, aku ingin mengajakmu berbelanja dan aku yang menelfon sehun tadi malam untuk menemani Ziyu di rumah selagi kita berbelanja”

“Oh, begitu” Luhan menganggukkan kepalanya mengerti.

“Yasudah kalau begitu aku akan mengajak Ziyu jalan-jalan di taman depan rumah ya hyung. Ayo Ziyu! Paman akan membelikanmu es krim di depan rumah” Sehun mengangkat tubuh Ziyu yang berada di pangkuannya kemudian menggenggam tangannya menuju keluar rumah.

“Ibu, ayah. Ziyu bermain dulu bersama paman”

“Iya hati-hati! Jangan membuat bajumu kotor”

Ziyu hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Sehun yang menarik tangannya menuju taman depan rumahnya.

“Jadi, kapan kita pergi berbelanja?”

“Tentu saja sekarang, tolong kunci pintu belakang dekat dapur dan siapkan mobil. Aku akan menunggumu di luar. Oiya Luhan, kau keluar lewat pintu samping saja dan jangan lupa menguncinya, aku akan keluar lewat pintu depan dan menguncinya juga”

“Baiklah”

“Han, tolong bawakan yang ini, ini dan itu. Aku akan menunggumu di kasir”

Shina berjalan mendahului Luhan yang terlihat sedang repot membawa barang-barang belanjaan milik Shina. Orang-orang di sekitar mereka pun banyak yang memperhatikan mereka, lebih tepatnya memandang iba ke Luhan. Selain itu, ada juga yang memandang Shina iri sekaligus kaget karena pasalnya sekarang Shina sedang berjalan berdua bersama Luhan si pemilik geukjo international art school tapi beberapa di antara mereka juga ada yang tidak tahu siapa luhan. Dan yah, sebenarnya Luhan juga pemilik perusahaan mainan terkenal yang cabangnya sudah ada di beberapa negara eropa. Tidak ada yang tahu itu kecuali Shina, keluarga Shina dan keluarga Luhan serta beberapa pengusaha-pengusaha kaya di berbagai negara eropa dan korea.

Sebagian dari mereka pasti akan mengira Shina adalah saudara dari Luhan, ah mungkin semuanya yang akan mengira seperti itu karena sampai sekarang pernikahan Luhan dan Shina masih di rahasia kan.

“Ya! Kenapa belanjaan kita isinya makanan ringan semua?” Luhan menyamakan langkahnya dengan Shina, kemudian ikut mengantri di belakang Shina.

“Itu untuk Ziyu, karena Ziyu sangat suka memakan cemilan jika sedang belajar jadi aku membelikannya banyak cemilan”

“Oh begitu”

Shi Na

Aku merogoh pelan kantongku mencari-cari dompetku, kurasa tadi aku membawanya. Apa ketinggalan di mobil? Ck! Aku sangat ceroboh.

“Kenapa?” Luhan bertanya sambil menatapku heran.

“Aku lupa membawa dompetku”

“Dasar ceroboh! Ini” Luhan membuka dompetnya kemudian memberikan sebuah card kepadaku.

“Apa tidak ada uang tunai? Aku tidak suka kartu kredit”

“Tidak”

“Dasar sombong!”

“Hei! Aku memang tidak mempunyainya”

Aku hanya memutar kedua bola mataku malas kemudian mengangkat semua barang belanjaanku ke atas meja kasir.

Aku memasukkan semua barang-barang belanjaanku ke dalam bagasi mobil dibantu oleh Luhan dan salah satu petugas keamanan. Sepertinya barang belanjaan kami sangat banyak sampai-sampai harus meminta bantuan petugas keamanan.

Setelah semua selesai aku memasuki mobilku diikuti dengan Luhan yang baru saja membuka pintu mobil.

“Luhan, tolong telfon sehun sekarang”

“Kenapa?”

“Aku ingin mengajak sehun dan ziyu ketemuan di resto milikku, ziyu kan belum makan apa-apa daritadi pagi. Sehun juga pasti belum makan apa-apa di rumah, karena ayah dan ibuku tidak ada dirumah dia pasti jadi malas makan dirumah”

“Baiklah”

At Shina’s Restaurant

“Noona, ayo duduk di sini” Sehun menggeser bangkunya lalu menyuruhku duduk di sampingnya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan memberi kode bahwa aku harus memesan makanan. Sehun hanya mengerucutkan bibirnya dan menatapku sebal, aku tahu dia tidak suka di tinggal sendirian. Sedangkan Luhan dan Ziyu tadi pergi sebentar ke toko buku sebrang jalan untuk membelikan buku yang di inginkan Ziyu.

“Ah, ada ibu Ziyu”

Aku sontak menolehkan kepalaku ke sekumpulan ibu-ibu yang terlihat sedang membicarakan sesuatu dan oh! Di sana ada ibu jinyoung. Aku hanya menghela nafasku kasar lalu berjalan menuju Sora mencoba mengabaikan mereka semua.

“Ah ibu! Sejak kapan kau disini? Maafkan kami yang mengabaikanmu” Sora membungkukkan badannya meminta maaf kepadaku.

“Tidak apa-apa. Oiya Sora, tolong buatkan kami makanan ya. Untuk Ziyu jangan makanan yang terdaftar dalam menu di sini, tapi makanan rumahan saja karena biasanya dia susah makan kalau bukan makan makanan yang biasa ku buatkan di rumah. Untukku, Luhan dan Sehun buatkan kami mie dingin ya”

“Baiklah, tunggu sebentar bu”

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum. Lalu, berniat kembali ke tempat dudukku berasama Sehun, Luhan dan Ziyu. Ah, aku serasa menjadi lebih tua di panggil ibu seperti itu padahalkan aku sudah menyuruh Sora memanggilku kakak saja. Mengingat jarak yang terpaut di antara kami hanya 3 tahun, aku 26 tahun sedangkan dia 23 tahun.

“Hei ibu Ziyu! Kukira kau kesini untuk mencari pekerjaan tambahan untuk menghidupi anakmu” Aku menghentikan langkahku lalu menatap ke arah ibu-ibu yang sedang berkumpul disudut restaurant.

“Tidak mungkin, ibu Ziyu mencari pekerjaan tambahan. Kan dia sudah mempunyai direktur sekolah kita, aku bahkan tadi melihat direktur sekolah kita memberikan black cardnya kepada ibu Ziyu di pusat perbelanjaan terbesar di seoul”

“Benarkah?”

“Iya, kalau tidak percaya cek saja dompetnya”

Ibu jinyoung berdiri dari tempat duduknya dan mencoba menarik dompet di tanganku, aku mencoba menahannya.

“A-apa yang kalian lakukan?!”

Aku terus mencoba menarik dompetku dari genggaman ibu jinyoung, sehingga terjadi tarik menarik antara kami. Karena keributan yang kami perbuat seisi restoran memandang ke arah kami tak terkecuali Sehun dan para pekerja disini.

“Ya! Apa yang kalian lakukan kepada noona?”

Sehun segera membantuku menarik dompetku yang berada di tangan wanita sialan ini.

“Kau tidak perlu mencampuri urusan kami anak muda! Ah, jangan-jangan kau salah satu pria kaya yang ibu Ziyu goda?” Ibu jinyoung melepaskan genggamannya sehingga membuatku sedikit terpental ke belakang.

Para pekerja yang melihat itu segera membantuku berdiri. Aku hanya tersenyum kemudian mengatakan bahwa aku tidak apa-apa.

“Enak saja! Aku ini adiknya!” Ugh! Sepertinya mulut anak satu ini tidak bisa dijaga.

“Apa? Yang benar saja!”

“Ibu jinyoung, sebaiknya kit-“

“Diam kau!”

BUG!

“Arghh”

Ku rasa pantatku mendarat dengan sangat keras. Dasar wanita sialan! Aku hanya ingin berbicara baik-baik dengannya, tapi dia malah mendorongku.

“Ada apa ini?!”

Ah, dia datang.

“Luhan/direktur/hyung?”

Luhan yang sedang menggendong Ziyu segera menyerahkan Ziyu ke Sehun menyuruh anak itu untuk menggantikannya menggendong Ziyu. Lalu, berjalan mendekatiku dan membantuku berdiri.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mendorong Shina?”

“A- itu aku hanya- Dia ingin mengambil hartamu makanya aku mencoba bicara kepadanya supaya tidak mendekatimu lagi. Seharusnya kau berterima kasih kepadaku” Ibu jinyoung tersenyum sinis ke arahku seakan-akan dia berhasil membuka rahasiaku.

“Atas dasar apa kau berbicara seperti itu hah?!” Ibu jinyoung terdiam melihat Luhan membentaknya di depan semua pengunjung restoranku.

“Kenapa kau begitu marah? Benar kata ibu jinyoung seharusnya kau berterima kasih kepadanya karena dia ingin membuat pelacur yang hanya ingin harta kekayaanmu itu menjauhimu” Salah satu teman ibu jinyoung akhirnya angkat bicara, dan di setujui oleh yang lainnya.

Luhan menggeram kemudian menarik tanganku dan mencium bibirku sekilas, membuat seisi restoran menatap ke arahku takjub seakan-akan berbicara ‘Astaga! Kau baru saja di cium oleh Luhan si tampan kaya raya’

“Asal kalian tahu..

Oh tidak.

… Shina adalah istriku”

END

Alohaaa ini nihh sekuelnyaa, gimanaaa? Masih kurang memuaskan yaa? Apa mau sekuel lagii? Wkwk :v, untuk komen kalian di cerita sebelumnya terima kasih banget yaa maaf gak bisa balesin karena kalo aku balesin pasti gak bakal semuanya aku balesin jadi biar adil gak aku bales dehh. Kalo yang mau ngobrol sama aku hayukk bisa lewat :

Facebook : Retno Putri

Twitter : @Dreesya

Dan follow juga ya instagramku : @Deerlit

Insyaallah aku bakal folback dan confirm kalian semuaaa 🙂

73 responses to “Little Shocking!

  1. Ini msh butuh sekuel loh,,,masih pengen liat reaksinya itu emak2 rempong,,,Nah tau kan klo Shina itu istrinya Luhan…Cengo2 dech tuch emak2..

  2. Itu emaknya Jinyoung minta dicabein kali yak mulutnya 😼
    Pada nganga dah tu pas tau klo Shina trnyata istri Luhan 😁😁
    Eh, tapi masi bingung thor, knp ga ada yg tau prnikahan mreka, pdhl kan udh 7thn
    Trus Shina jg kyknya ga suka yak pakai barang2 mewah, mkanya Lulu masi suka shock+sumringah bahagia stengah mati klo liat istrinya make barang2 yg dia beliin 😃
    Ini mah masi need sequel lg thor, klo perlu jd series muehehe 😁

  3. kyaknya butuh sequel lagi nih, masih pnasaran knapa shina sma luhan ngrahasiain prnikahannya….
    masih ttep keren, kyak yg sbelumnya..ditunggu next storynya 🙂

  4. dasar ibu2 rumpi…sock kan tau kenyataan bhwa sina adlah istri luhan wkwk kgak kebyang muka malu ibu2 rumpi itu huffft

  5. hiiiiii dasar si ibu jinyoung itu tuhh pngn di cabein kli yya pke cabe”an haha peace 😀 lgian asal ajh ngomong nya hihhh nyebelin -_- ..
    haaaahhh udh gaada tuhh typo nya hehe 😉 di lnjut ne 😉
    mau squel lgii jebal 😉

  6. Sequel lagi thoorr ini masih nge gantungg huhuhu TT gimana kelanjutan critanyaa kenapa juga pernikahannya mereka di tutup-tutupi? Pokoknya harus dilanjut lagii^^

  7. Sequel lagi!! Mungkin agak rakus, cma pas end nya kya gtu kejang sndiri.. Nge-gantung bgt…
    Please please.. Deg-degan bacanya…
    Heheh.. Klo ga gpp kok, terserahh (tapi maunya ad sequel lgi)..

    Ditunggu next sequel/ff, fighting

  8. thor, jadiin chapter, jebal … luhannya itu kabapakan banget(bukanberartitua), lucu, feelnya dapet banget, ziyu pasti seneng banget punya keluarga kaya mereka, happy family. Bikin chapter, jebal.

  9. Kayanya harus ada sequel lagi deh, pengen tau reaksi ibu-ibu rempong ketika tau Shina Isrti Luhan, keep writing!

  10. Btw, knapa mreka merahasiakan pernikahannya? Trs kyanya si shina itu org yg sederhana bgt ya… Dan tertutup. Makanya org2 atau ibu2 tukang gosip itu ngira dia cm mau morotin luhan…? Ђαϑϱђ (¬˛¬) .. Dasar ibu2 rempong tukang gosip!!

    Dilanjut lagi dong chingu… Sequel or series gituu… Ehehhhee
    Gomawoyo….
    Keep writing, (ง’̀⌣’́)ง 화이팅!!
    See u later~
    Pai pai~

  11. U/ mslh lanjut atau engganya itu terserah kamu aja~
    Tp hal” yg mendasar dr ceritanya memang blm terbongkar, seperti.. knp pernikahan mereka dirahasiakan :/

    Typo-nya ada, tp gpp 🙂
    Diksinya msh perlu perhatian n perbaikan ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s