Mr. Detective First Love – Chapter 1

AAAAAAAAD

a precious poster made by Harururu98 at http://cafeposterart.wordpress.com

Mr. Detective’s First Love

Author : Haneulie

Genre : Mystery, Thriller

Rate : PG-15

Author’s Note : Hai readers! Maaf ya aku udah agak lama gak ngepost FF disini. Hehe^^ maklum, aku ikut menjadi Panitia Hari Guru disekolah 🙂 Harap maklum yaa,

Oh iya, ini aku sempetin posting FF (sekarang lagi nongkrong di lab komputer sekolah dan nyuri sinyal Wi-Fi) abaikan  

Seperti biasanya, jika sudah membaca, harap memberi feedback 🙂


Oh Sehun, parter kerja ter-sentimental yang pernah kutemui. Dia seorang pemikir yang aku herankan, bagai komputer dengan sirkuit yang sangat rumit, tetapi ternyata takluk pada naluri kebinatangan manusia. Takluk kepada seorang wanita. Bagi Sehun, dia, wanita itu, adalah si- Femme Seduisante[1]. Entah mengapa, dia lebih memilih menyebut wanita itu dengan Bahasa Perancis yang terdengar tidak awam di kuping orang Korea. Di bola mata Oh Sehun, wanita itulah yang memiliki aura terkuat diantara kaum nya. Tunggu dulu, mari kita luruskan opini kita. Walau begitu, bukan berarti kalau Oh Sehun mencintai wanita itu, Kim Haneul.

            Namanya hati, siapakah yang dapat mengetahuinya? Maaf. Maksudku, kita memang bisa mengetahui isi hati orang lain, namun tetap saja teman, kita tidak bisa mengendalikan nya. Oh Sehun, yang menurutku adalah pengamat terbaik di abad ke-21 ternyata punya hati juga. Menurut orang lain, asmara adalah hal yang indah, membuat kita tersenyum-senyum sendiri, tetapi.. asmara hanya akan mengacaukan hidup Oh Sehun. Ia tidak akan makan. Yang ia lakukan hanya menyesap 2 gelas soju dan duduk termenung dikamarnya. Bayangkan saja, menurutnya, Haneul masih lebih mengganggu daripada kucing yang selalu buang air kecil di tempat tidurnya. Itulah cinta. Jika kita bermain cinta, maka kita juga harus siap dipermainkan oleh cinta itu.

            Ah maaf, aku sibuk berbicara mengenai Sehun. Hmm.. akhir-akhir ini aku jarang minum soju bersama dengannya. Kami jarang bertemu. Pernikahanku telah membuatku sibuk dengan kebahagiaanku. Sedangkan Sehun? Yang jiwa melankolisnya tidak menyukai bergaul dengan siapapun tetap termenung di dalam rumah nya di sudut kota Busan. Diam dengan kekuatan berpikirnya yang aku selalu kagumi.

            Suatu tanggal di sebuah kalender, malam itu, tanggal 15 Mei 2014. Aku sedang mengemasi obatku dan akan pulang dari rumah pasien (aku seorang dokter), dan aku lewat Anseong, Desa tempat Sehun tinggal. Terlintas di benakku untuk melihat keadaannya. Aku berjalan ke terasnya, dan betapa terkejutnya aku. Pintu rumah itu sedikit terbuka! Aku bergegas kedalam. Lampu dimatikan di tingkat 1. Kulihat keatas, ada bayangan nya yang sedang mondar-mandir. Itu berarti lampu atas dinyalakan, pikirku.

            Aku terbiasa memahami tingkah lakunya. Kalau sudah seperti itu, berarti ia sedang berpikir keras dan berusaha memecahkan suatu masalah. Tanpa permisi, aku menaiki tangga untuk menemuinya bersama dengan rasa penasaranku ini.

            Dia melihatku tetapi tidak terkejut sedikitpun. Dia memang jarang terjekut. Tanpa sepatah katapun, dia langsung menuju perapian dan mengambilkan sebotol soju.

            “Pernikahan memang rumit ya.” Komentarnya tiba-tiba. “Kurasa, kita jarang bertemu dan berat badanmu naik tiga kilo ya? Apa kau bersenang-senang dengan istrimu?’ katanya seraya tersenyum simpul

            “Cuma naik dua setengah kilo.” Kataku dengan perasaan janggal terhadap kata ‘bersenang-senang’ yang diucapkan Sehun tadi.

            “Seharusnya perkiraanku tepat. Ah tak apa, cuma selisih sedikit.” Sehun bergumam, kemudian ia menatapku lagi “Kau habis praktek ya? Ayo minum dulu, tidak merasa lelah? Kenapa tidak memberitahuuku dulu? Hmmh..”

            “Tahu darimana?” Kataku sambil menenggak ludahku. Bingo! Sehun bisa mengetahui semuanya.

            “Mudah. Bisa disimpulkan. Kau bau Amoxycilin[2], bodoh dan ditanganmu ada sisa kapas dan bercak Betadine[3]!” Sehun tertawa tiba-tiba dan berkata lagi “ Kau tak ingin makan Dainagon[4] dulu sebelum aku bercerita?”

            “Tidak.”

            “Maaf bila menyinggung teman, kelihatannya istrimu lahir bulan November akhir, bergolongan darah B, dan.. orangnya pasti agak ceroboh kan? Kali ini pasti akurat. Oh iya, tidak lupa, kau habis kehujanan ya?” Sehun memegangi dagunya seakan ada janggut disana dan tergelak pertanda sebuah keberhasilan menebak istriku.

            “Karibku, Sehun.” Ucapku. “Gila! Kalau saja banyak orang mengenalmu, kau mungkin akan digantung karena dikira seorang Ahli Nujum [5]oleh masyarakat. Iya, istriku memang ceroboh. Ia sering terlambat bangun, dan.. tidak terlalu bersih sebagai seorang perempuan. Tapi aku mencintainya! Dia begitu hidup dan sangat menyenangkan ketika bersamanya, tidak seperti denganmu” lanjutku dengan ketus

            Sehun menatapku tajam.        

            Lanjutku lagi, “ Oh iya, soal kehujanan itu, memang kemarin hujan datang dan aku keluar rumah, pulang dengan keadaan marah karena kehujanan dan baru saja menghadapi perdebatan. Tebakanmu benar semua kali ini. Tetapi, tunggu dulu. Aku kan sudah mengganti bajuku! Bagaimana kau bisa menyimpulkan nya?”

            “Mudah.” Katanya

            Ia tertawa sebentar, lalu menatap perapian dan melanjutkan nya lagi “ Orang yang lahir di bulan November akhir dan bergolongan darah B adalah orang yang ceroboh. Mataku menangkap ada bekas percikan lumpur di sepatumu, padahal hari ini tidak terjadi hujan dan alas sepatumu sudah mau lepas teman! Itu berarti istrimu tidak memperhatikan nya. Aku menyimpulkan nya dengan kata ceroboh. Alangkah bodohnya aku jika tidak mengetahui semua itu”

            Aku tidak bisa menahan rasa geliku mendengar penjelasan nya tadi. “Caramu membuat alasan..” komentarku “Kelihatannya begitu gampang ya, sehingga aku merasa mampu melakukan nya. Yang aku bencikan adalah kenyataan bahwa aku selalu terheran-heran mendengarmu berbicara, sampai akhirnya kau harus menjelaskan nya lagi kepadaku. Tapi aku yakin, mata kita sama baiknya Sehun.”

            “Aishh..” katanya sambil menjatuhkan diri ke sofa di depan perapian

            “Betul. Mata kita sama. Kau melihat, tetapi tidak mengamati. Bedanya jauh sekali, teman. Mau aku berikan contoh?” kata Oh Sehun padaku dengan nada mengejek

            “Silahkan”

            “Kau sudah sering melihat tangga menuju lantai atas ini, bukan?” tanya Oh Sehun

            “Aku baru saja melewatinya” jawabku

            “Kalau begitu, berapa jumlah anak tangganya?”

            “Berapa katamu? Aku tidak tahu.” Jawabku lagi

            “Itu buktinya. Kau melihat, tetapi tidak mengamati. Ada 17 anak tangga disitu, karena aku mengamatinya. Oh iya, aku punya berita untukmu, kau mungkin akan tertarik” katanya sambil berjalan

            Sehun mengambil secarik kertas tebal berwarna abu-abu yang sedari tadi tergeletak di meja, dan melemparkan nya kepadaku sambil berkata “Baru datang tadi dan coba baca dengan keras!”

            Asing, aneh. Surat itu bahkan tidak ada tanggalnya, tanpa tanda tangan, dan alamat pengirim. Begini isi suratnya :

            Siapkan kopi 2 gelas. Jam delapan kurang seperempat, seorang keturunan adam akan menemui anda. Tolong bukakan pintu secepat mungkin. Ada masalah yang sangat mendesak. Saya dengar anda adalah seorang pemikir yang ulung. Saya percaya kepada anda untuk menangani masalah penting yang tidak boleh disebarluaskan ini. Tunggu saja dirumah dan jangan takut apabila tamu itu memakai topeng nantinya.

            “Misteri..” komentarku “Kau punya penafsiran akan ini?”

            “Lagi-lagi kau begitu bodoh temanku. Aku belum punya data apapun terkait dengan ini. Salah besar mengemukakan teori tanpa data. Tapi, ada kesimpulan yang bisa kau tarik dari surat itu?” gumam Oh Sehun

            Aku mengamati surat itu dan menirukan gaya Sehun saat sedang berpikir, yaitu memegangi dagunya.

            “Dia punya uang yang banyak pastinya” komentarku “Kertas surat ini tebal, dan sulit robek”

            “Jangan salah. Belum tentu orang kaya teman, tepatnya disebut bahwa Surat ini dan pengirimnya bukan orang biasa.” Kata Sehun. “Dan satu lagi, kertasnya bukan buatan Korea, dan coba dekatkan surat itu ke cahaya”

            Aku turuti perintahnya, dan tampak huruf Y besar, k kecil, P besar, dan ada huruf T besar yang diikuti oleh huruf t kecil, teranyam secara halus pada permukaan kertas itu.

            “Sudah mendapat titik terang?” tanya Sehun

            “Mungkin itu nama pabrik kertasnya, mungkin, ahh pasti nama singkatan dari pabrik kertas itu.”

            “Betul-betul tidak mengamati. Huruf Y dan k adalah singkatan dari Yakashimin Kaisha, yaitu Bahasa Jepang dari PT, atau Perseroan Terbatas. Huruf P besar itu, tentu saja, kemungkinan besar adalah singkatan dari Paper. Lalu, huruf T besar dan t kecil yang berdempetan itu..”

            Sehun berlari ke rak bukunya dan mengambil buku tebal daftar nama-nama kota di dunia.

            “Tokkaido, Tokyo. Ini dia singkatan Tt itu.” Kata Sehun seraya melanjutkan pernyataan nya lagi “Tokkaido terkenal dengan Pabrik Kaca, dan Pabrik Kertasnya.” Mata Sehun berbinar dan dipukulnya meja, seraya tersenyum sinis kepadaku

            “Ha ha ha.. sobatku, apa pendapatmu?” tanyanya kepadaku

            “ Kertasnya buatan Jepang.” Jawabku.

            “ Satu hal penting lagi, Penulisnya pasti orang Korea. Mengapa aku katakan begitu? Di amplopnya ada tulisan hangeul yang menandakan merk amplop tersebut. Nah, itu masih hanya kemungkinan besar sobat. Kita tinggal mencari tahu saja, apa yang diinginkan orang ini dengan membeli kertas dari Jepang dan dikatakan lebih suka memakai topeng saat datang kesini. Ha ha ha, aku ramal sekali lagi, dia sebentar lagi akan sampai”

            Betul saja! Saat dia baru selesai berbicara, ada bunyi langkah kaki diteras seraya diikuti bunyi bel pintu.

            Entah dengan maksud apa, Sehun berlari ke jendela dan mengintip pria itu. “Topinya pasti berharga mahal. Kita akan mendapat uang banyak dari orang ini” kata Sehun sambil menatap pria itu tajam.

            “Sebaiknya aku pulang saja ya, Sehun?” ucapku dengan janggal.

            “Ayolah pak Dokter, tinggal lah disini sebentar saja. Aku bingung jika berbicara tanpa pendamping. Dan kasus ini nampaknya menarik, sayang untuk dilewatkan.” Kata Sehun menganggapi perkataanku

            “Tapi.. klienmu bagaimana? Kurasa ia akan terganggu.”

            “Tak apa Mark, akan aku beritahukan kalau dia pasti butuh bantuanmu. Nah, sepertinya kita harus membukakan pintu. Ingat, tidak usah ikut campur. cukup dengarkan percakapan kami dengan seksama.” Ucap temanku yang pertama kali menyebut namaku hari ini.         

            Aku ingat betul bahwa ketukan pintu yang dibuat si pria itu begitu berwibawa. Dan tak lupa, aku sudah menyiapkan kopi dengan bubuk yang termahal seperti yang ia pesankan di surat tadi.

            “Masuk.” Kata Sehun setengah berbisik ketika membukakan pintu untuk pria itu.

            Aku heran, begitu heran. Seorang pria berbadan tinggi tegap muncul. Wajahnya rupawan, namun berpakaian murahan. Maaf, aku menyebutnya murahan karena warna pakaian itu sudah pudar dan kerahnya berwarna kecoklatan karena keringat. Tidak hanya itu, karet celananya juga sudah kendor. Namun tunggu dulu, bibir orang ini sedikit tebal dan dagunya tirus. Pertanda ia adalah orang yang tegar dan keras kepala.

            “Apa anda menerima surat saya?” ucapnya dengan suara parau, dengan aksen orang kaya yang amat kental didengar. Kemudian lanjutnya lagi “Saya lihat disini ada dua orang, tetapi saya ingin menemui Detektif Sehun saja.”

      “Ha ha ha, silahkan duduk tuan.” Kata Sehun mencairkan suasana. “Dia teman saya melaksanakan tugas, Mark namanya. Saya harus memanggil anda dengan apa tuan?” ucap Sehun lagi.

            “Wu Yi Fan. Pemilik saham tunggal dari seluruh Perusahaan Kertas dan Kaca di Tokkaido, dan juga pemilik saham tunggal Hotel Eunsung. Tamu kami berbicara seperti itu seraya memiringkan kepalanya seakan ingin membunyikan lehernya.

            “Kelihatanya Dewi Fortuna bersama anda, Mr.Yi Fan.” tanggap Sehun dingin.

            “Ehem, ini menyangkut masalah keluarga. Kami adalah anak konglomerat. Saya adalah keturunan Marga Wu, marga termashyur di Cina dan Jepang, dan saya masih keturunan bangsawan. Maaf, saya lebih suka bekerja sama dengan anda saja.” Ucap Wu Yi Fan angkuh.

            Aku bergegas ingin keluar, tetapi Sehun mengamit tanganku dan mendorongku agar duduk kembali, dan berkata kepada tamu kami itu“Maaf, apa yang saya ketahui, harus diketahuinya juga. Kalau anda keberatan, lebih baik, kami berdua tidak usah mengetahui masalah anda.”

            Bangsawan itu mengangkat bahunya yang lebar “Baik jika begitu. Tetapi saya mohon, agar anda berdua merahasiakan ini selama 2 tahun. Selewat itu, terserah anda. Ini begitu penting dan mengancam ketentraman keluarga kami.

            “Janji.” Kata Sehun dingin.

            “Saya juga.” Sahutku dengan janggal

            “Oh, maaf, topeng ini,” lanjut Mr.Yifan itu sambil membuka topengnya.

            Kemudian ia berbicara lagi “Anda tentunya bisa membantu saya bukan?” sambil duduk dan memegangi dagunya yang tirus itu.

            “Saya tidak pernah terlibat masalah seperti ini sebelumnya. Parahnya, saya tidak ingin siapapun tahu tentang masalah ini, sehingga saya kesini secara diam-diam.”

            “Silahkan bercerita.” Sahut Sehun dengan  mengerjap-erjapkan matanya.

Mr. Yi Fan memperbaiki posisi duduknya dan mulai bercerita “Jadi begini..”

TBC


Footnote :

[1] Bahasa Perancis yang berarti : Wanita Sexy, Wanita cantik, ataupun Wanita memikat.

[2] Sejenis Obat Generik yang berupa antibiotik

[3] Antiseptik cair berwarna cokelat

[4] Sejenis Kacang Merah kecil yang biasanya digunakan di kudapan Jepang berharga mahal

[5] Peramal takdir seseorang


Jangan lupa memberi feedback yaa!

22 responses to “Mr. Detective First Love – Chapter 1

  1. heyyyy,,,,,ini soal app yh???? q kok gk ngerti awal2 nya,,,,d sni jg castny gk d cantumin??? ap qt y nebak siapa castnya??? okehhh jd bintangnya adlah SEHUN???? nah cewenya y dsni KIM HANEUL???? siapa dy??? MARK??? trus KRIS???? ap mrka cma numpang lewat????
    chingu boleh saran sptnya ini kli pertma q baca tulisan kya gni hehhe buat org awam kya q bsa gk tar d chap selnjutnya per tahapnya itu d jelasn skrng bgian siapa?? biar penggunaan kata “AKU” nya ngena…klo dr td q y ampe bingung sendiri ini “AKU”nya siapa gtu hehehe,,,,,
    dr alurnya sehh udh keceh badai q suka,,,semoga d kljutan chapnya bisa lbh d jelasn biar rinci hehehhe maaf yh kbnyakan mintanya heheh ……

    • Wah, terimakasih atas komentar dan masukan kamu yaa, begini nih komentar yang aku suka. Iya^^ di chapter selanjutnya bakalan aku perbaikin kok 😊
      oh ya, tbh aku buat chap 1 nya begini, supaya readers penasaran kok 😸

  2. Sumpah ini keren pake banget! Tapi tapi, masih rada bingung bacanya pas di awal.. tapi pas tau kalo “aku”-nya itu Mark.. bisa ngerti dikit lah. Btw, Kim Haneul nya entar di ceritain kan? Mau liat detektif pintar jadi kacau.. hihihi ^^

    • Kekeke.. masih bingung yaa? Wahh.. berarti gaya penulisan aku masih perlu diperbaiki ☺
      Ditunggu chapter selanjutnya yaa^^

    • Aduh maaf ya sudah buat kamu bingung ^^
      Waah, berarti aku masih prlu memperbaiki gaya penulisan dong ya ☺
      ditunggu chap selanjutnya yaa😉

  3. aku nya sapa? kirain kris, eh salah hehe…
    ck sehun buset deh pinter amat, semua diamati ama dy, serem lah punya cowo semacem ini haha…

  4. kok aku jadi bingung ya bacanya … tapi kalau di baca ampe bawa lama lama menarik juga .cuman agak bingung cast nya siapa …

    tapi untuk semuanya sih dah bagus ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s