Amour, Obsédé (How it all started)

ao

How it all started.

Rating : +17

Genre : Psychology-thriller, Dark Romance, Angst, Tragedy

Start : A

It started with a love. Then ended up with hatred.

——–

Pertama kali Jiyoon melewati pintu rumah ini, dia sudah memiliki perasaan bahwa dia tidak akan mampu keluar.

Dia membuka matanya beberapa saat yang lalu dan mendapati dirinya di sebuah ruangan gelap dengan udara dingin. Tubuhnya terlentang diatas sebuah tempat tidur bangsal, ketika dia mencoba begerak, semuanya terasa kaku. Dia baru menyadari bahwa kedua tangannya terikat kencang keatas, lehernya di hadang oleh sesuatu sehingga itu mencekeknya ketika dia mencoba bangkit, rasa takut kelewat menguasainya kali ini, mencapai ubun-ubun, akan tetapi ketika dia mencoba berteriak meminta tolong, hanya ringisan tidak seberapa yang keluar karena mulutnya tertutup lakban.

Ringisan itu semakin menjadi ketika dia mendengar pintu ruangan ini terbuka, memasukkan sedikit cahaya dari arah sana dan sesosok lelaki yang tidak bisa dia lihat dengan jelas. Jiyoon menggerakkan tangannya sekuat yang ia bisa, berharap mampu lepaskan itu. Tapi sayangnya sama sekali tidak membuat perubahan yang signifikan.

Lelaki yang baru masuk dengan sebuah lilin di tangannya itu tersenyum menyeringai. Dia ingin tertawa melihat hal yang bisa gadis itu lakukan hanyalah menunjukkan rasa takutnya yang luar biasa dengan mata terbelalak, teriakkan yang tidak bisa ia tumpahkan dan tubuh yang meronta sekuat mungkin tetapi tak bisa bergerak banyak.

“Kau tertidur lebih lama dari dugaanku. Mimpi indah, eh?”

Jiyoon menggeleng-gelengkan kepalanya, ketakutan karena pria itu semakin mendekat dan memohon dalam hati agar pria itu segera bebaskan dia dari sini. Akan tetapi yang pria itu lakukan adalah memegang bajunya, membuka beberapa kancing teratas dengan paksa, membuat pemerontakkan dan takut gadis itu semakin menjadi. Demi apapun, dia tidak pernah rasakan hal yang lebih menakutkan dari ini. Terror yang terus berlalu-lalang di benaknya begitu menyiksa dirinya ditambah keadaan sekarang yang begitu memungkinkan hal-hal yang ia takutkan bisa terjadi.

“Kenapa? Kau kedinginan?” tanyanya dengan nada suara yang begitu lembut, seperti sama sekali tidak berniat jahat. Jiyoon mengangguk, akan tetapi pria itu memberikan dirinya senyuman yang begitu menakutkan. Yang dilakukan pria itu selanjutnya sama sekali tidak terduga olehnya. Pria itu menumpahkan carian lilin panas itu ke bagian dada Jiyoon yang terekpos. Membuatnya reflek mengeluarkan pekikan yang sekali lagi hanya berupa ringisan.

Pria itu kemudian mengusap airmata Jiyoon yang telah membanjiri wajahnya sedari tadi, “kau sudah melupakanku, Song Jiyoon?”

Jiyoon menatap ngeri kearahnya, mencoba perhatikan. Dengan pandangan yang dihalangi air mata, dia dapat melihat pria ini mengenakan kemeja hitam, rambutnya bewarna gelap, dan wajahnya sama sekali tidak se-creepy wajah-wajah penjahat sinting yang terbayang oleh Jiyoon sebelumnya.

Dalam hati ia berteriak, “Kim Jongin? Mana mungkin!”

“Kau sepertinya benar-benar sudah lupa.” Dia mengelus lembut rambut Jiyoon, bagaikan penuh kasih sayang. Tapi kemudian dia menjambaknya kuat sembari berkata, “kuharap kau tetap sama. Wanita murahan yang tidak tahu diri.”

Jiyoon sadar bahwa tebakkannya tidak salah. Pria ini benar Kim Jongin, dia dapat mengetahui itu dari melihat mata sayunya yang gelap. Tetapi yang tidak ia mengerti adalah, bagaimana dia bisa berada disini? Apa yang diinginkan Jongin? Kenapa Jongin melakukan ini kepadanya? Kenapa Jongin tidak lain seperti seorang pria psikopat? Dan lagi, Jiyoon sama sekali tidak mengerti dengan ucapan terakhir yang keluar dari bibir pria itu. terlihat jelas bahwa Jongin begitu membencinya.

“Kau hanya boleh bertanya satu pertanyaan.”

Jongin melepaskan lakban pada mulut Jiyoon dengan tarikkan paksa, membuat nyeri tertinggal pada kulit sekitar bibirnya disertai dengan teriakkan yang sedari tadi tertahan keluar begitu saja. Jongin kemudian mencengkram kuat mulut gadis itu dengan tangannya, “aku tidak menyuruhmu berteriak!” desisnya tajam. “what’s your question?”

Jiyoon berpikir sebentar. Jongin memperingatinya hanya ada satu pertanyaan. Sedangkan yang ingin dia ketahui jawabannya begitu banyak.

“Keluarkan aku dari sini, Kim Jongin!” dia bersuara frustasi, nyaris memohon. Jongin mengeluarkan seringainya, ternyata gadis itu mampu mengingat dirinya pada akhirnya. “Kau gila!” dan setelah Jiyoon mengeluarkan serapahnya itu, dia mendapati tamparan kuat pada pipinya.

That’s for your stupidity.” Tamparan itu tidak berlangsung hanya sekali, Jongin melakukannya lagi dan lagi hingga sudut bibir gadis itu mengeluarkan sedikit darah, “and this is what will you get if you talk back to me.” Napas Jiyoon semakin memburu, dia mengap-mengap mencari udara, tamparan Jongin yang bertubi-tubi serta penghalang pada lehernya betul-betul membuatnya tersiksa dan kesulitan bernapas. Airmatanya yang terlalu banyak ia habiskan nyaris tak bisa keluar lagi.

“For your information, Song Jiyoon. From now on you are mine. I have the rights to do whatever I want. To destroy you, to hurt you, to make you do something I want, to trash you. So, you have to know that from now on, you can not do anything without my permission. Understand?”

Jiyoon menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kalimat demi kalimat yang keluar begitu dingin dari mulut Jongin barusan. Apa-apaan? Apakah Jongin betul-betul menjadikannya sebagai benda mati yang bisa ia gunakan seenaknya?

“kau gila Kim Jongin, aku sama sekali bukan barang!” Jiyoon berteriak marah, dia masih berani membalas.

Sementara Jongin mengeluarkan senyum jahatnya. “Kuharap kau tidak menyesal telah mengatakan itu.”

Setelahnya, dia mensobek seluruh pakaian yang menempel pada tubuh gadis itu. Jongin melakukannya, melakukan sesuatu yang tidak akan mungkin dilupakan Song Jiyoon seumur hidup. Trauma, rasa sakit, marah, kesal, penghinaan yang akan selalu dikenangnya sebagai kenyataan terburuk yang ingin sekali ia hapus dan buang jauh-jauh.

Jongin berhasil membuat Jiyoon menuruti semua kata-katanya walau dengan terpaksa, berhasil mengambil alih seluruh kehidupan gadis itu. Berhasil membuat gadis itu ketakutan bukan main. Jongin sama sekali tak lebih dari seorang monster kejam yang baru saja menghancurkan kehidupannya.

“Kau tahu? Kau baru saja dibuang oleh ayah kesayanganmu.”

Hal yang baru saja diberitahu oleh Jongin sama sekali tidak bisa ia percayai begitu saja. Bagaimana bisa dia percaya dengan psikopat tidak punya hati ini?

Beberapa tahun yang lalu, Jiyoon pernah mengenal Jongin. Mereka berada dalam sekolah yang sama. Satu hal yang dia pelajari dari diri anak itu beberapa tahun yang lalu. Dia merupakan pria cerdas dan baik hati yang tidak akan mungkin melakukan hal sekeji ini.

————-

Flashback

Dunia itu berputar. Tidak selamanya kau berada diatas ataupun dibawah. Dengan kata lain hidup-mu tidak akan makmur selamanya ataupun sebaliknya. Tetapi lelaki tua seperti Song Joohyung tidak pernah menduga jika perusahaan yang dia besarkan dengan susah payah berakhir Pailit sehingga dia harus mengganti semua kerugian yang ia sebabkan.

“Aku tidak memiliki apa-apa lagi.” dia berkata dengan suara yang tidak selantang biasanya. Munafik jika dia tidak merasa malu, tapi memang tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain mengemis.

“Aku tidak perduli. Bagaimana-pun caranya kau harus ganti rugi.” Lawan bicaranya menjawab dengan suara yang begitu santai. Majalah bisnis yang sedang dia baca jauh lebih menarik dari pria tua yang hampir menangis di hadapannya sekarang.

Well, andai saja 8 tahun yang lalu Song Joohyung tidak memperlakukannya seperti sampah, mungkin dia akan sedikit memiliki belas kasihan terhadap lelaki tua bodoh itu. Tapi bagaimanapun, dia bukan-lah orang baik hati yang akan memaafkan segala yang diperbuat Song Joohyung terhadap kehidupannya.

Lelaki itu melipat majalah-nya dan berdiri, mendekati Joohyung yang sudah berlutut dilantai marmer lantai 48 gedung megah ini.

Demi apapun, dia tidak bisa sembunyikan tawa senangnya menyaksikan lelaki tua ini tidak dapat berkutik lagi. Pada akhirnya ketamakkan akan menghancurkan tuannya sendiri, bukan?

“Sebenarnya aku sangat ingin melihat-mu menangis. Tetapi kurasa ini sudah lebih dari cukup.” Dia tersenyum licik menyaksikan pria tua yang biasa berjalan dengan dagu terangkat tinggi itu menunduk dengan harga diri yang terinjak-injak, oleh orang sepertinya pula. “Baiklah, aku akan memberikan-mu penawaran.”

Joohyung mendongakkan kepalanya, menatap penuh harap pria muda yang berdiri tegap dihadapannya. Ayolah, dia sudah benar-benar tidak ada harapan lagi dan pria muda ini merupakan harapan terakhir untuknya. Jika tetap tidak berhasil, dia akan segera bunuh diri. Begitulah niat yang dia utarakan dalam hati sebelum tubuh kotornya memasuki ruangan CEO perusahaan ekstraktif tersebut.

“Anak perempuan-mu, berikan dia untuk-ku dan aku akan membantu semua hutang-hutangmu. Aku juga akan menginvestasikan modal jika kau berniat membangun perusahaan baru.”

Mata sipit Joohyung yang kantung matanya sudah menghitam tentu saja terbelalak sempurna mendengar penawaran itu. Anak perempuannya bernama Song Jiyoon, dia berumur hampir 25 tahun, seumuran dengan pria muda bertopeng malaikat di hadapannya. Dan penawaran itu berhasil membuat Joohyung tersenyum senang. Well, anak perempuannya itu ternyata berguna.

“Baiklah Kim Jongin. Aku akan memberikannya pada-mu. Terimakasih. Terimakasih banyak.” Dia bahkan memegang tangan Jongin kemudian mencium-cium-nya pertanda dia begitu bahagia dengan bantuan yang akan diberikan anak itu, dan tentu saja berjuta terima kasih.

Jongin hanya menatapnya penuh rasa jijik. Oh ayolah, pria serakah ini memang sama sekali tidak berubah. Jongin sempat berpikir bahwa dia begitu menyayangi anak perempuannya, ternyata tidak sama sekali, eh?

Karena dunia itu berputar, maka tidak seharusnya kau berlaku sombong.

*****

Jiyoon mengetuk pintu Flat sederhana itu dengan terburu-buru, kepalanya sesekali melihat ke-belakang dengan raut ketakutan, seperti sedang dikejar hantu.

“Ada apa?” seorang lelaki tua membuka pintu itu dan menatap anak gadisnya dengan tatapan khawatir, atau hal itu lah yang di harapkan Jiyoon.

Gadis itu langsung masuk ke dalam sana dan mengunci pintu rapat-rapat.

“Bagaimana bisa kau masih berada disini?” tanya ayahnya yang berhasil membuat Jiyoon sedikit kaget.

“Maksud ayah?”

Ayahnya buru-buru menggeleng, “apa yang terjadi dengan-mu?” tanyanya basa-basi. Walaupun dia tahu pasti apa yang tengah menimpa anak gadisnya tersebut.

“Aku seperti sedang diikuti oleh seseorang.” Dia menjawab dengan wajah yang masih pucat pasih dan suara yang tidak terkontrol.

“Kau selalu paranoid, Jiyoon.” Ucap ayahnya acuh.

Suara ribut mereka berdua membuat Seungyoon terbangun dari tidur nyenyaknya. Anak lelaki kecil itu langsung berlari kearah mereka dan mendekap erat ayahnya. Beberapa minggu terakhir Seungyoon selalu dibuat ketakutan, entah itu karena ayahnya yang marah-marah, ibu-nya yang tidak tahu pergi kemana atau pria-pria berbaju hitam yang terus-terusan mengancam untuk membunuh ayahnya. Ditambah tempat tinggal baru mereka yang sama sekali membuatnya tak nyaman.

Joohyung tersenyum hangat untuk putra kecilnya, “tidak ada apa-apa lagi, sayang. Noona-mu hanya sedikit berlebihan.” Dia menenangkan Seungyoon sembari menggendong pria kecil berkulit putih itu. Salah satu alasan kenapa dia sama sekali tidak keberatan dengan tawaran Jongin untuk membuang Jiyoon, itu karena dia masih memiliki anak laki-laki, yang berkemungkinan besar jauh lebih berguna daripada kakak perempuannya.

“Sebaiknya kau tidur sekarang, Jiyoon.”

Jiyoon membantah, selama ini dia selalu menjadi anak yang penurut untuk ayahnya. Itu tidak lebih karena dia takut dengan ancaman-ancaman yang ayahnya berikan untuknya. Dan dia muak dengan perbuatan ayahnya yang pilih kasih. tetapi saat ini sang ayah tidak bisa berbuat banyak lagi untuk membuatnya menjadi patuh, bahkan terhadap sesuatu yang tidak masuk akal sekali-pun. “Aku akan menginap di rumah Jinwoo.” Jiyoon kembali membuka pintu dan menutup-nya. Dia meninggalkan ayah serta adiknya tanpa perkataan lagi.

“Kuharap kau bisa sampai ke rumah pacar-mu itu dengan selamat, putri-ku tersayang.” Gumam Joohyung disertai senyum liciknya.

——

Ketika Jiyoon keluar dari gedung flat serderhana itu, tangannya ditarik kasar oleh seseorang dan belum sempat dia berteriak ataupun berontak, hidungnya lebih dulu menghirup banyak kloroform.

Setelah dia membuka mata setelah kejadian itu, dia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

 

End of Flashback

****

Jongin meminum sedikit demi sedikit kopi amerikanya, dia tidak terlalu menyukai kopi, akan tetapi dia belum mau tertidur walau tubuhnya sudah begitu lelah. Dia duduk di salah satu kursi living room rumah mewahnya, pikirannya mengingat seorang gadis yang dia kurung di sebuah rumah ukuran sedang jauh dari peradaban kota Seoul.

Dia berhasil sekali lagi. dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan sekarang. Dan Jiyoon adalah salah satu yang ia inginkan sejak dulu.

9 tahun yang lalu dia memang tak lebih dari seonggok sampah yang tak memiliki apa-apa. Seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan dan bisa bersekolah di sekolah elit karena beasiswa. Dia jatuh cinta secara diam-diam dengan seorang anak orang kaya yang cantik, baik hati, pintar, gadis idaman satu sekolah. Walau alasannya jatuh cinta kepada gadis itu bukan karena hal-hal tersebut. Saat itu, dia begitu percaya bahwa cintanya begitu tulus dan murni, meskipun dia belum dewasa. Dia jatuh cinta sejak pandangan pertama dan harinya akan menjadi begitu indah jika matanya mendapati sosok gadis itu. Dia bahkan selalu berjanji dalam hati bahwa ia akan melakukan apapun untuk membuat gadis itu tersenyum dan bahagia.

Beberapa saat setelahnya, terdapat sayembara bodoh yang menyatakan siapa-pun yang bisa memenangkan lomba balap kuda pada festival sekolah, akan menjadi pacar Jiyoon. Sayembara itu dibuat oleh teman-teman dekat gadis itu, entahlah apakah dirinya sendiri setujuh atau tidak. Jongin sama sekali tidak bisa menunggang kuda, dia belum pernah melakukan itu sebelumnya. Akan tetapi dia berkerja begitu keras hingga akhirnya bisa meminjam kuda seorang petani rakus dan berlatih begitu gigih. Tujuannya sama sekali bukan menjadi pacar Jiyoon, dia hanya ingin menunjukkan pada gadis itu bahwa dia akan melakukan apa-pun untuknya.

Kerja kerasnya terbayar. Dia berhasil memenangkan di peringkat pertama, tanpa ada yang menduga hal tersebut sebelumnya, peringkat di belakangnya adalah Jung Daehyun, si pangeran sekolah yang sombong dan semua tahu dia juga memiliki rasa untuk Jiyoon.

Bagaikan sebuah scenario yang di rancang sempurna, mereka mengatakan bahwa yang akan menjadi pacar Jiyoon adalah Kim Jongin dengan nada mengejek, penuh hinaan. Itu tidak mungkin terjadi sebetulnya. Dan benar saja, yang terpilih adalah Jung Daehyun dengan alasan mereka berada dalam kelas social yang sama.

Tetapi itu tidak terlalu menghancurkan hati Jongin, hingga gadis itu sendiri-lah yang menolaknya mentah-mentah dan mempermalukannya didepan umum. Jongin tidak pernah lupa sedikitpun perkataan-perkataan yang keluar dari bibir manis gadis itu.

Kau miskin, kau sama sekali tidak pantas denganku.”

“Apakah kau tidak punya kaca? Dasar tidak tahu malu.”

“Aku tidak mungkin menyukaimu. Apakah kau tidak sadar itu? Jadi berhenti menggangguku, pria miskin yang idiot.”

“Orang miskin adalah sampah. Tidak bisa melakukan apa-apa”

Dan masih banyak lagi. Jongin juga mengingat gadis itu tertawa dengan teman-temannya setelah mengatakan hal tersebut, tidak perduli sama sekali tentang perasaannya.

Jadi wajar jika sekarang dia sama sekali tidak perduli dengan perasaan gadis itu. Dia tidak lagi miskin, mendapatkan beasiswa kuliah di Stanford dan sudah di kontrak perusahaan-perusahaan besar semenjak masih kuliah, ditambah dia pernah mencicipi beberapa bangku direktur setelah sarjana. Dan sekarang-dia bahkan sudah menjadi Presdir dari sebuah perusahaan cabang Amerika yang berada di Korea. Sahamnya sudah dititipkan dimana-mana, oh tentu saja nasibnya berubah drastis.

Dia melakukan semuanya masih untuk seseorang yang sama. Song Jiyoon. Tapi dengan tujuan yang berbeda. Karena hanya dendam dan kebencian yang tersisa dalam dirinya.

It started with a love. Then ended up with hatred.

————-

so, how was it? i know that kai of exo wouldnt do such a shit things like this but imagine his face became a psycho was really beautiful. anyway, i didnt give explanation weither this ff was continued or justending lyk this. it s all….tergantung my mood. tapi seharusnya lanjut.

oke thanks for reading and much thanks if you mind to give me your comment.

327 responses to “Amour, Obsédé (How it all started)

  1. Waah jong in kayanya sakit hati bgt ya, bukan kayanya lagi tapi udah sakit hati bgt itu digituin mah. jangankan dipermaluin didepan orang banyak jatuh tersandung yg liatnya cuman 5 orang aja malunya udah minta ampun. Apalagi itu yg didepan orang banyak,penyebab dendamnya benerbener itu mah.. Dan aduh itu si bapa tega amat sama anaknya-,- masa anaknya kaya dijual kaya gt-.-

  2. Sumpah demi apa babenya jiyoon jahat bgt yak. Kasihan si jiyoon kan T.T Duh jongin juga jahatnya kebangetan, kalo dia suka sama jiyoon kok bisa sih dia setega itu nyiksa jiyoon huhu T.T

  3. ewh. hidup itu ternyaata bisa berubah derastis ya. yakalo ada niaat dan usaha mcem jongin gitu:c tapi kalo dipikir jongin sukses gegara dendam/? wk. brarti dendam juga bisa ngerubah hidup juga dong :c yakalo orangnya pinter.

  4. Oooh jongin dendam karna dulu pernah dipermalukan jiyoong yaaa, panteslah, kasar banget dia maki” jongin
    Pdhl awalnya dia suka sm jiyoong, akhirnya jadi dendam gt

    Dan jongin sadis banget nyiksa jiyoong ya
    Kasian
    Gak kebayang gmna jadi jiyoong

  5. ahh jadi jongin bles dendam sma jiyoon …. kasian jiyoonnya disiksa ampe kyak gitu …. next …fighting author

  6. Ini ff tahun 2014, tapi ada kata “creepy” & “monster” .. haha keren ya kebetulan nya.. .
    Lagu Monster jg cocok buqt didengerin untuk ini FF *menurut aku sih

  7. Pingback: Rekomendasi Fanfiction – 2 4 h o u r s·

  8. Pingback: (Jongin-Jiyoon) Between Good and Evil | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Bapanya jiyoon jahat bngt gila ngejual anak sendiri 😭😭😭 hati hati loh jongin, cinta & benci beda tipis. Dulu bisa cinta, skrng boleh benci, tapi kedepannya?;3;

  10. aduh demi apa deh author aku sakit kepala bolak balik nyari Amour Obsede part 1 yg mana?? haha krn pas diliat kok bxk yg mncul n ga ada tulisan ud xmpe chap brp wkwk.. Ooh jd q tau skrg, Jongin nglakuin semua it krn rsa sakitx dimasa lalu.. hiks sedih bgt 😦 mw tau lnjutannya….. 😀

  11. Let see the different between this and the old ones…. disini lebih detail dibanding AO. Sisahnya sama, jalan ceritanya ttp sama. Walaupun byk yg ku skip skip tp tetep aja ff ini selalu nagih buat dibaca!

  12. author emg bener bgttt, aku ngebayangin muka jongin jadi pyscho emg atuhlaaa gakuat bgt wkwkwk aku sukaa bgt karakter jongin disinii, gimana yaa feel karakternya masuk bgt wkwkwk lope u thor🙆🏻

  13. Aaaaa tegang banget bacanya kak suka sama karakter kai disini dan udah bisa ngebayangin gimana muka kai kalo jadi psycho. Feelnya pun dapt bgt kak makin semangat aku baca chpter2 selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s