Scene 1: Beginning

BdIWmr3CcAA8fZ4

Tittle: Scene 1: Beginning  | Scriptwriter: Shining Star | Staring: Kim Jongin-OC-Luhan | Genre: Romance, Hurt

Jongin Kim.

Matahari tak begitu terik siang ini. Angin pun bersemilir, menggoyangkan dedaunan musim gugur. Langit tak begitu biru. Awan-awan hitam mulai menyembul sedikit demi sedikit di ujung timur. Sebentar lagi turun hujan, gumam pemuda berperawakan tegap, berkulit legam. Sesekali menatap kondisi cuaca di luar melalui celah-celah jendela di ruang kerja. Lelaki itu melirik arlojinya, jarum-jarum di sana menunjuk angka 12.00. Kalau saja profesornya tidak menyuruhnya untuk mendata apa saja yang terjadi pada pergerakan tubuh hiu melalui barcode yang di pasang di badannya, ia akan memilih tidur. Namun otak warasnya masih berfungsi dengan baik, sehingga dengan sedikit enggan, mau tidak mau ia harus menyelesaikan proyek DNA Barcoding pada tubuh hewan berkelas Elasmobranchii tersebut.

Angin kembali menyentilnya. Kali ini awan pekat tidak malu-malu lagi menampakkan diri. Ia dengan berani menyelimuti matahari, membuat sinarnya berubah menjadi temaram. Suara gemuruh yang memekakkan telinga. Hujan pun turun dengan perlahan. Tetes demi tetes membasahi keringnya tanah sehabis musim panas. Bau aspal menyeruak.

Petir menyambar-nyambar, menghiasi langit dengan kilatnya yang berwarna keperakan. Hujan turun semakin deras. Tanpa aba-aba, seseorang tiba-tiba saja memasuki ruang kerjanya. Pakaiannya basah, nafasnya terengah-engah, tubuhnya terlihat menggigil,–kedinginan dan berantakan. Sepertinya ada sesuatu yang amat penting yang perlu ia sampaikan kepada lelaki di hadapannya.

Lelaki itu memperhatikannya sekilas. Kegugupan terlihat jelas dari kedua sorot matanya. Namun lelaki itu tidak terlalu ambil pusing, ia hanya perlu memasang telinga untuk mendengarkan penjelasan dari bibir mungil si gadis.

Setelah mengambil, kemudian membuang nafasnya secara perlahan, gadis itu segera menyusun kata-kata yang sebelumnya telah ia persiapkan.

“Mari kita batalkan semuanya.” Ucap gadis berambut sebahu tersebut, membuat lelaki berpostur 184 cm di hadapannya sedikit tersentak. Namun ia kembali memasang ekspresinya yang tenang, atau bahkan terlihat sangat acuh. Atmosfer kecanggungan sempat menyelimuti keduanya, tapi tidak berselang lama kemudian sang lelaki berbicara,

“Maksudmu?” Ia berpura-pura tidak mengerti.

“Kita batalkan pernikahan ini. Bukankah kau juga tidak menginginkannya?” Gadis itu justru balik bertanya, membuat kening sang lelaki berkerut. Tindakan bodoh macam apa lagi yang dilakukan gadis berusia dua puluh dua tahun di hadapannya kini? Tanpa sepengetahuannya, lelaki yang memiliki mata elang itu tengah menahan debuman keras di dalam rongga dadanya.

“Kau gila? Dua minggu lagi kita akan menikah.”

Lelaki itu mencengkeram bahu gadisnya, ditatapnya mata hazel itu dengan tajam. Ia mendorong sang gadis, hingga badan mungilnya bertubrukan dengan tembok di belakangnya.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan,hah?” Sekali lagi, lelaki itu menggoyangkan bahu gadis mungil itu, mencoba meminta penjelasan.

“Bukankah kau sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini?” Gadis itu tersenyum miring. Sementara lelaki itu merasa tersinggung. Gadis itu melepaskan tangan lelaki itu yang masih bertengger di bahunya, secara perlahan.

Masih dengan kondisi yang berantakan, gadis itu membalas tatapan tajam dari lelaki di hadapannya.

“Kau itu dingin.”

Baiklah, lelaki tadi menyadari bahwa sikapnya selama ini memang dingin. Tapi oh ayolah, siapapun mengenal lelaki ini karena ke”dingin”annya, kan?

“Kau itu kaku.”

Gadis itu –sekali lagi—tersenyum sinis. Tersirat suatu kebencian dan kesedihan di sana. Sepertinya gadis itu telah meredam emosinya begitu lama. Begitukah selama ini pandangan gadis itu terhadapnya?

“Apakah kau ingat bahwa hari ini kita seharusnya vitting baju pernikahan?”

Pertanyaan sarkatis itu tepat menusuk ke ulu hati lelaki berkulit legam tersebut. Dan sukses juga membuat lelaki itu membelalakan mata. Vitting baju pernikahan. Bagaimana bisa ia melupakan hal yang satu ini? Bodoh.

“Apakah kau tahu di mana kita akan menggelar pesta?”

Pesta? Bukankah ia hanya ingin merayakannya di gereja? Astaga. Gadis ini memang pernah memintanya untuk menggelar pesta pernikahan setelah pemberkatan di gereja. Jadi, tanpa ia tahu atau ketidaktahuannya, pernikahan mereka berdua akan dirayakan selain di gereja?

“Kau tahu siapa event organizernya?”

Apalagi tentang ini, lelaki itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Tidak, Kim Jongin.”

Kali ini giliran gadis itu berusaha mendorong bahu bidang milik lelaki itu.

“Kau tidak pernah tahu.”

“Karena kau tidak pernah mengingat aku.”

Derunya ombak.

Tegapnya karang.

Kepada dua bola mata itu.

Benarkah kau, tempatku berlabuh?

—–

Hai………… aku tau ini aneh. Banget. Dan aku nge-remake ini berkali-kali wkwkwkwk….

pssst, ini masih lanjut kok. tunggu di scene 2 ya :)))

12 responses to “Scene 1: Beginning

  1. msh blm ngerti deh sma alur ceritnya,,,,mkin d chap 2 tar km crtain yhh,,,q berharap lbh dr ff ini,,,solanya q suka heheheh add Kai nya wkwkkwkw,,,, d tunggu chap 2 nya,,,, d rinci lg yakkk dn jelasin mkudnya ok ok oko

  2. Ini chap 1 atau prolog chingu?? Kok pendek bgt…. Lagian ga ktawan alur ceritanya kmana…. Msh blm jelas jg. Liat aja deh nanti postingan kamu selanjutnya…. Hehhe ditunggu yaa~

    Tp aku suka bahasa kamu…. Ahahhaha agak2 puitis gimana gituu… Ehhehehee

    Keep writing, (ง’̀⌣’́)ง 화이팅!!
    See u soon~
    Pai pai~

  3. uhhh..masih kurang paham jalan ceritanya gimana..tp bikin penasaran..ditunggu scene 2 nya..semoga lebih jelas..hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s