Triple Rain- SangHun’s Story Series by bluelu bird

PicsArt_1416661205002[1]

| Title : Triple Rain | Author : bluelu bird | Cast : Kim Sang Eun <OC> , Oh Sehun <EXO> , etc | Genre : Romance, Marriage life , Comedy ( failed ) | Rating : PG 17 | Length : Series |

List : Sleeping Photoshoot | Pervert Devil Game | Saturday Night | Jealous Eun | Peeking Day | Triple Rain

Note : Perubahan genre dari school life jadi marrriage life, aku harap pada berkenan sama perubahan genre ini. Mohon maaf sebesar-besarnya dan kalau gak keberatan tolong baca pidato di bawah. Makasih. Typo bertaburan xd

Personal blog : www.icrecreamlibrary.wordpress.com

Disclaimer : Storyline is pure mine. Don’t be plagiator, please.

                                                                                                                                    

Enjoy reading~

.

Why are you so good to make me blush?

.

Sang eun bersenandung kecil sambil tersenyum riang. Tangan gadis itu memegang selang air yang tentu saja memancarkaan air bukan batu. Well, singkatnya gadis itu sedang menyirami tanaman dan rumput di halaman rumahnya dan Sehun. Tapi tidakkah itu kurang wajar? Menggunakan selang besar untuk menyiram tanaman. Saat Sehun mencibir istirnya itu, gadis itu hanya menjawab ‘Biar saja. Sama-sama mengeluarkan air kok!’.

“Sang-“

Byurr

Sehun menelan amarahnya saat mendapati dirinya sudah basah kuyup dalam kurung waktu tidak lebih dari 1 menit- sudah kubilang Sang eun menggunakan selang air yang besar sehingga air yang dikeluarkan juga dalam skala besar. Sang eun menatap Sehun dengan mulut menganga. Gadis itu menelan air liurnya dengan susah payah, ia berani bersumpah kalau ia tidak sengaja menyiram Sehun. Tadi itu hanya gerakan reflek, ya reflek kaget sekaligus reflek menghindari perampok yang ingin merampok rumahnya, siapa tahu saja ada perampok di pagi hari.

“Oh Sehun, maafkan aku” Sang eun berjalan mendekati Sehun untuk meminta maaf pada pria itu. Keadaannya terlihat cukup mengenaskan saat ini. Baru saja gadis itu akan mengeluarkan suara lagi tapi tertahan karena Sehun merampas selang di tangannya.

Byurr

Sehun tertawa terbahak melihat wajah datar Sang eun yang menyimpan beribu kekesalan untuk Sehun. Dia juga menurunkan hujan dadakan untuk Sehun tapi itu berbeda. Sehun sengaja dan dia tidak.

Sehun menyebalkan

“Oh Sehun!” Sang eun meraih selang di tangan Sehun. Dan mengarahkan selang itu ke arah Sehun. Berakhir dengan kejar-kejaran dan hujan dadakan yang mereka buat sendiri. Minggu pagi dengan mandi dua kali padahal biasanya orang-orang malas mandi dan mereka dengan rajinnya mandi di pagi hari dua kali berturut-turut. Sungguh menakjubkan.

-SangHun-

Sang eun keluar dengan menggunakan kaos putih dan celana training hitam selutut. Rambut gadis itu masih basah dibiarkan tergerai begitu saja. Gadis, ah, apa aku harus mulai menyebutnya wanita? Well, bagaimanapun dia sudah menyandang status nyonya Oh. Baiklah, wanita itu mendekati Sehun yang sedang berbaring di atas rumput dengan badan basahnya.

“Ganti bajumu HunSehun tersenyum senang melihat Sang eun, lalu mengambil kaos yang disodorkan wanita itu. Dengan cepat pria itu mencopot kaos basah yang dipakainya.

Ya, aku tidak menyuruhmu ganti baju di sini!” Sang eun menutup kedua matanya rapat-rapat, sedangkan Sehun yang masih dalam keadaan toples tersenyum jahil padanya.

“Memangnya kenapa, hemmm? Kita kan sudah menikahSehun menarik pinggang Sang eun sehingga mau tidak mau wanita itu membuka matanya lebar-lebar. Apa Sehun tidak punya malu? Bagaimana kalau tetangganya melihat mereka? Ugh, sepertinya pria itu benar-benar punya gangguan jiwa.

“Ah! Baby eun!” Sehun melepaskan tangannya dari pinggang Sang eun dan mengibas-ngibaskannya di udara. Gigitan Sang eun bahkan lebih sakit daripada gigitan anjing di rumah orang tua Sehun.

“Jangan berkata macam-macam! Cepat pakai bajumu!” Sang eun berkacak pinggang dengan menatap Sehun garang. Dengan bibir mengerucut pria itu memakai kaos yang tadi diberikan Sang eun.

Sehun duduk di tempatnya dan Sang eun duduk di samping Sehun. Pria itu masih mengerucutkan bibirnya kesal. Oh ayolah, tidak bisakah dia bermanja-manja pada Sang eun? Mereka berdua sangat sibuk akhir-akhir ini.

“Sehun, besok ikut aku ke rumah sakit ya?” Sehun menolehkan wajahnya pada Sang eun dengan wajah berbinar.

“Kau hamil sayang?”

“Tidak”

“Lalu?”

“Memeriksakan otakmu. Sepertinya penyakitmu semakin parah” Sehun menatap bingung istrinya. Penyakit? Apa dia punya penyakit?

“Penyakit jiwa maksudku. Sepertinya kau semakin aneh” Sehun membelalakkan matanya. Menatap garang istrinya, mendekatkan wajahnya hingga ini wajah mereka hanya berjarak 2 inci.

Chup

Sehun mengecup cepat bibir Sang eun. Lalu menatap wanita itu dengan jarak yang cukup dekat dengan tatapan intens nya.

“Aku tidak sakit jiwa. Itu buktinya nyonya Oh” Sehun tersenyum kecil. Oh, apa jiwa dewasa Sehun bangkit saat ini? Mungkin bagi para wanita lain mereka akan bertekuk lutut dan memuji seberapa mempesonanya Sehun saat ini, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untu Sang eun.

Sang eun mencubit gemas pipi Sehun.

“Kau tidak pantas bertingkah seperti orang dewasa Sehun sayang” Lihat bahkan pria itu yang tadinya mengerucutkan bibirnya, kini tersenyum senang saat mendengar panggilan ‘sayang’ dari Sang eun. Labil.

Tes Tes Tes

“Oh? Hujan turun” Sehun dan Sang eun sama-sama tersenyum senang. Mereka sama-sama menyukai hujan. Semasa Sehun dan Sang eun masih sekolah, keduanya selalu berhujan-hujan diam-diam, lalu kembali dengan mendapat jeweran dan ceramah lebar dari ibu masing-masing.

Keduanya berdiri. Sang eun mengadahkan kepalanya dan merentangkan tangannya. Merasakan hujan mengguyur tubuhnya. Sedangkan Sehun lebih memilih memeluk gadis itu dari belakang.

“Tidak bisakah kau tidak mencuri kesempatan dalam kesempitan?” cibir Sang eun pelan, Sehun hanya menggedikkan bahunya sekilas tanpa berniat membuka mata.

“Bukan mencuri kesempatan dalam kesempitan. Tapi mengambil kesempatan yang telah diberikan” Sehun menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sang eun dan aroma hujan yang sama-sama menenangkan dan ia sukai.

“Aku tidak pernah memberimu kesempatan”

“Aku tahu. Hujan yang memberikannya kepadaku” Sang eun hanya terkekeh kecil mendengar ocehan Sehun. Benarkah orang yang sedang memeluknya ini seorang direktur perusahaan besar? Dia lebih mirip anak kecil yang selalu menempel pada tubuh ibunya bagi Sang eun.

“I love rain” bisik Sehun di telinga Sang eun.

“I love rain more” balas wanita itu sambil tersenyum polos.

“I love you” bisik Sehun lagi dengan senyuman manisnya yang ya meskipun Sang eun tidak bisa melihatnya.

“I know it” Sehun serasa disambar petir saat mendapat jawaban sesimple itu dari Sang eun. Sehun meniupi leher Sang eun sebagai hukuman bagi gadis itu. Sang eun tertawa geli saat merasakan udara menghembus di lehernya.

“I love you too, Hun. Stop it now” Sehun tersenyum senang, lalu menghentikan tiupannya. Perlahan hujan yang mengguyur tubuh mereka berhenti. Sehun tidak berniat melepas pelukannya di pinggang Sang eun, pria itu hanya membalikkan tubuh Sang eun agar berhadapan dengannya. Tetap melingkarkan tangannya di pinggang Sang eun dengan posesif.

“Kau basah kuyup, Hun” Sang eun menata pelan rambut Sehun yang kini basah kuyup dan berantakan karena air hujan yang tadi mengguyurnya. Sehun menggelinjang senang lalu mengecup bibir Sang eun kilat.

“Kita sudah terguyur hujan tiga kali pagi ini” Sehun mengerutkan keningnya. Tiga kali? Bukankah hujan baru turun sekali pagi ini? Apa wanitanya itu tidak bisa berhitung?

“Hujan di kamar mandi, ya mandi pagi maksudku. Hujan air keran. Dan hujan sesungguhnya yang digunakan Sehun mencari kesempatan dalam kesempitan” Sehun tertawa mendengar ocehan polos Sang eun. Tapi beberapa detik kemudian tawa pria itu berhenti, diacaknya rambut Sang eun gemas.

“Kenapa kau manis sekali?” Pipi Sang eun mulai memerah. Rasanya mudah sekali pria itu membuatnya tersipu.

“Kenapa kau lihai sekali membuat pipiku memerah?” gumam Sang eun pelan. Sehun mengerutkan alisnya, tidak dapat mendengar ocehan Sang eun dengan jelas atau hanya berpura-pura tidak mendengarnya.

“Apa kau bilang?”

“Tidak ada”

“Hei, jangan berbohong”

“Tidak penting”

“Tapi aku ingin tahu!” Sehun menghentikan langkahnya engejar Sang eun yang berusaha melarikan diri darinya.

“Kdnapa kau lucu dan manis sekali seperti anak kecil?”

***

Hello~

Maaf banyak kekurangannya karena jujur aku masih perlu banyak belajar lagi.

Thanks for reading

Regards,

bluelu bird

104 responses to “Triple Rain- SangHun’s Story Series by bluelu bird

  1. Pingback: Airport and Plane- SangHun’s Story Series by bluelu bird | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: Hug In Baby Carrier- SangHun’s Story Series by bluelu bird | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s