HUNCH [Chapter 2] — by vanillaritrin

1414394516078Author : vanillaritrin | Genre : AU, Romance, Fantasy, Surrealism | Length : Chaptered | Rating : PG – 17 | Main Cast : Go Nahyun (OC/You), Oh Sehun | Support Cast : Kang Yura (OC), Park Chanyeol, Hong Jonghyun, Huang Zitao, and the others | Poster : pinkfairy

Disclaimer : The plot is mine!

Warning : Jangan kejebak plot. Perhatikan genre. Perhatikan rating. Kata – kata mungkin frontal. Hati – hati.

Thank you jungsangneul for beta-ing

Intro | Ch 1

~~~

Hari tidak cukup baik sewaktu Nahyun menghampiri ruang kuliah. Dosen Jung sudah berdiri di depan kelas sambil menjelaskan materi pertemuan kali ini. Diintipnya sedikit ruangan itu, teman – temannya sudah duduk manis disana dengan pemandangan seperti biasa: Yura sibuk mencatat, Jonghyun memerhatikan slide yang baru diganti oleh Dosen Jung, dan Chanyeol setengah tidur mendengarkan materi yang baginya membosankan.

Nahyun membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan. Dia mengirim SMS pada Chanyeol—memberitahu dia menunggu di kafetaria kampus. Sengaja dikirimnya pada Chanyeol supaya anak itu tidak benar – benar tidur dan berakhir dikeluarkan dari kelas Dosen Jung. Nahyun terkikik membayangkan wajah cemberut Chanyeol yang merasa tidurnya diganggu oleh pesan singkat darinya.

Yeah, setidaknya hari ini tidak berlalu begitu buruk.

Nahyun memesan Green tea latte dan roti kering sesampainya di kafetaria. Suasana tidak terlalu ramai—beberapa mahasiswa tampak berdiskusi santai, penjaga kasir tersenyum ringan, dan alunan musik blues agaknya menjadi pemanis kehadirannya. Kafetaria memang pilihan yang tepat.

Green tea latte tidak pernah senikmat ini. Nahyun bahkan mengerjap berkali – kali sewaktu gurih mengecap lidahnya. Matahari belum terlalu tinggi dan sebagian sinarnya terhalang oleh kanopi. Kafetaria pagi ini seratus kali lipat lebih menyenangkan daripada gulali di pasar Dongdaemun.

Sayangnya kenikmatan duniawi itu harus disela oleh SMS dari Chanyeol.

From: Chanfreak

KAU KEMANAAAA? KENAPA TIDAK MASUK SAJAAAA?

Tanpa berpikir dua kali, Nahyun langsung membalasnya.

To: Chanfreak

 Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri. Hei, mencatatlah. Ujian sudah dekat.

From: Chanfreak

 AKU MAU ROTI KERING DAN SUP JAGUUUUNG

To: Chanfreak

Aku sedang makan roti kering. Kau tahu, aku sedang menikmati hidup 🙂

From: Chanfreak

PESANKAN UNTUKKUUUU

To: Chanfreak

GEEZ, BISA TIDAK JANGAN MERENGEK SEPERTI ITU. MENGGELIKAN.

 From: Chanfreak

 Aku lapar T_T

Nahyun memutuskan untuk menyudahi pembicaraan mereka sebelum Chanyeol ditegur Dosen Jung. Dia memesan makanan yang diminta Chanyeol sembari memperkirakan waktu mereka keluar kelas. Oh, yang benar saja. Chanyeol bilang seharusnya dia masuk saja ke kelas sementara dia baru hadir setengah jam sebelum kelas berakhir. Itu sama saja dengan merebus dirinya hidup – hidup.

~~~

Dengan mata terpejam Sehun berjalan gontai ke dapur. Kaki yang biasanya melangkah mulus dan aman, kini tersandung barang – barang di lantai. Dia mengutuk semua benda yang menghalangi niatnya untuk mengambil segelas air. Menggunakan sisa tenaga yang ada, dia bangkit dan kali ini sedikit membuka mata agar tidak jatuh lagi.

Sesudah beberapa gelas air membasahi kerongkongan, Sehun meneliti keadaan rumah atapnya. Kacau balau. Ditambah selembar kertas terbang ditiup angin. Sehun mengacak rambutnya gemas. Dia menutup jendela hingga menimbulkan bunyi bedebum kencang. Sehun lalu beranjak ke kamar mandi.

Persetan dengan keadaan rumah atapnya.

Malam ini dia harus mencari wanita jalang lagi untuk merapikan rumahnya. Juga, mungkin dia harus melebihkan bayaran untuk wanita itu. Walau berapapun dia membayar tidak akan cukup untuk orang seperti itu. Yeah, paling tidak wanita itu perlu dihargai karena membereskan rumahnya.

Sehun menyisir rambutnya menggunakan jari setelah sebelumnya mandi. Dia hanya asal menyambar blue stripped shirt dan celana selutut di lemari. Tepat sebelum dia mengunci pintu rumah, sebuah chat masuk ke Kakao talk-nya.

Man, kau di rumah?

Sehun segera membalasnya dengan singkat. Mungkin teman satu – satunya itu ingin berkunjung. Dia memersilakannya datang sekaligus ingin memerlihatkan apa saja yang telah wanita jalang itu perbuat.

~~~

Tao terkesima dengan keadaan rumah atap Sehun. Rumah itu memang hampir selalu berantakan sewaktu didatanginya namun ini yang terparah. Tampaknya Sehun tidak berniat menata beberapa benda agar tidak membuatnya tersandung—misalnya buku. Sehun justru menendang buku itu hingga menabrak dinding kemudian melenggang enteng ke dapur.

“Hebat sekali, Man. Apa yang kalian lakukan sampai ruang tamu tidak beraturan begini?” Tao memungut kertas – kertas yang berhamburan di lantai. Dia menjadikannya dalam satu tumpukan lalu meletakkannya di rak buku.

That fuckin’ bitch took my money away.

Fuckin’ bitch—what?

Sehun menuangkan susu ke dalam mangkuk berisi serealnya. Tao masih tak berkedip menatapnya. Sehun sedikit melongok ke belakang Tao—kondisi ruang tamu sedikit lebih baik. Sehun memilih mengambil satu mangkuk sereal lagi untuk Tao daripada pusing – pusing menjawabnya. Well, Tao sudah membantunya membereskan ruang tamu walaupun keadaannya hanya sedikit sekali berubah.

Dia menghampiri Tao dengan dua mangkuk sereal kemudian menjejalkannya ke tangan Tao. Tanpa dosa dia menghempaskan diri ke sofa empuknya. Dia menyalakan televisi kemudian menyantap sereal seolah tidak ada yang salah dari ucapannya barusan.

“Dan kau bisa sesantai itu?” Tao mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Sehun—agak menghalangi pandangan Sehun ke televisi. Sehun berdecak kecil lalu menepis tangan Tao dengan kesal.

Tao menjatuhkan diri ke sofa dengan ekspresi tidak percaya. Dia menoleh pada Sehun di sebelahnya yang sedang asyik mengunyah sereal sembari menonton acara tv yang random.

“Kau punya tabungan?” Tao bertanya pelan. Sehun mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari tv dan Tao menghela nafas lega.

Sesudah menelan makanannya Sehun menambahkan, ”Asuransi juga ada.”

Tao menarik napas dalam setelah sempat terkena serangan jantung tadi. Meskipun harta yang diinvestasikan orang tuanya lebih dari cukup, anak itu tetap membutuhkan seseorang untuk berbagi dan bersandar. Dan Tao adalah satu – satunya orang yang dipercayainya, satu – satunya teman yang dimiliknya, satu – satunya orang yang mengerti dirinya.

“Dia mengambil uang cash?” Tao mengaduk sereal lalu mulai melahapnya. Sepertinya pembicaraan mereka tidak akan terlalu serius hingga dia turut mengarahkan pandangan ke acara tv yang—hei, itu acara anak – anak. Sesame Street.

Sehun menggumam sejenak. ”Hanya itu yang dia tahu.”

“Kalau sudah tahu begini, jangan bawa wanita lagi ke rumahmu. Kau bisa sewa motel atau kamar – kamar murah di pinggir bar. Jadi tidak ada resiko seperti ini lagi.” Tao menyuapkan sereal madu itu ke dalam mulutnya. Perpaduan yang sempurna dengan susu segar full cream.

“Lalu siapa yang merapikan rumahku? Aku tidak perlu membayar pembantu. Dia bisa membereskan rumah sekaligus melayaniku,” sahut Sehun cepat. Dia bangkit sesudah menghabiskan serealnya hingga tak bersisa kemudian berjalan kembali ke dapur.

“Rapikan rumahmu sendiri, bodoh!” Tao mengeraskan suaranya. “Kau beruntung wanita itu tidak tahu akun bank-mu. Kalau saat mabuk kau kelepasan bicara lalu dia membobol uangmu di bank, kau punya apalagi?”

Tangan Sehun berhenti di udara beberapa detik. Mungkin kalau dia kehilangan kesadaran, mangkuknya akan jatuh berkeping – keping dan satu pekerjaan rumah bertambah.

“Atau setelah dia berhasil memuaskan nafsumu, dia menanyakan semua aset yang kau punya. Kau—dengan senang hati—memberitahunya daftar kekayaan orang tuamu. Dalam hitungan minggu, kau datang ke apartemen kecilku tanpa uang sepeserpun.” Tao berandai – andai. Dia melihat Sehun mematung namun tak dapat melihat ekspresinya lantaran pria itu memunggunginya.

Sehun berdehem sekilas lalu membilas mangkuknya. “Itu tidak akan terjadi.”

Tao memutar bola matanya.

“Aku bukan orang yang ceroboh,” tegasnya sembari meletakkan piring yang sudah bersih di rak khusus. Dia mengeringkan tangannya dengan handuk lalu melangkah ke sofa lagi.

“Lama sekali kau makan,” ledek Sehun. Dia mengatakannya sembari menyandarkan punggung ke sofa.

Tao menghadapkan tubuhnya pada Sehun. “Man, aku serius soal tadi. Jangan bawa wanita lagi ke rumahmu.”

Sehun baru ingin menyanggah sebelum Tao berkata dengan nada menggantung. ”Kecuali—”

Sebelah alis Sehun terangkat—menunggu.

“—kau serius dengannya.”

Sehun mendengus kasar. Hell, omong kosong macam apa yang Tao bicarakan?

“Tidakkah kau berpikir suatu saat kau akan bertemu gadis yang tepat?” Tao mendelik pada Sehun. Sehun hanya menatapnya balik dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kau akan jatuh cinta, kau berusaha mendapatkan cintanya hingga kau berhasil menjadikannya milikmu. Saat itulah kau boleh membawanya ke rumah. Tidak sembarang wanita bisa kau bawa kesini, Sehun-ah. Hanya yang terpilih, hanya yang kau cintai. Bukan sekadar yang kau tiduri.”

Sehun terbahak sesaat setelahnya. Semua yang Tao katakan terlalu lucu untuknya hingga dia ingin menangis saat ini juga.

“Kenapa kau tertawa, heh?” Tao harus menahan dirinya agar tidak mengeluarkan jurus wushu-nya sekarang. Dia memilih untuk menyuapkan sereal madunya hingga tandas kemudian melangkahi tungkai Sehun menuju dapur.

Jangan harap Tao akan mencuci piringnya sesudah Sehun menertawai ucapannya. Tidak ada yang salah, bukan? Dia laki – laki dan normal. Sehun pun begitu. Atau… Sehun tidak normal?

“Tao,” Sehun tiba – tiba sudah berdiri di dekat Tao. Dia berdiri menyamping dengan Tao lalu berdesis pelan sebelum melanjutkan, “Aku tidak berpikir aku akan… jatuh cinta dalam waktu dekat.”

Kening Tao berkerut samar. Jangan – jangan firasatnya mengenai Sehun tadi benar.

Sehun tertawa kecil. “Bukan itu maksudku, Man! Aku masih melakukannya dengan wanita!”

Kadar kecurigaan Tao sedikit berkurang. Meski begitu, dia tetap waspada.

“Aku hanya menjalani hidupku apa adanya, seperti sekarang. Hidupku tidak terencana, Tao. Aku tidak pernah tahu apa yang harus kuhadapi nantinya.” Sehun tertawa lagi. Tapi Tao sadar, tawa Sehun barusan semata – mata untuk menutupi kesedihannya.

“Aku bahkan tidak berpikir aku pantas untuk seseorang. Aku tidak berani memikirkan akan bertemu gadis yang tepat, jatuh cinta, berkomitmen untuk pacaran, menikah, hidup bahagia selamanya… selayaknya orang pada umumnya. Aku tidak akan tega pada pasanganku nantinya kalau itu sampai terjadi.”

Tao memutar tubuhnya menghadap Sehun sepenuhnya.

“Aku sudah tahu aku akan menjadi apa tapi aku tidak pernah tahu bahaya yang kuhadapi. Seperti dilema, kau tahu.” Sehun mengembuskan napas panjang. Tao mengangguk meski sejujurnya tidak terlalu paham maksud Sehun.

“Bukankah karena itu kita seharusnya punya pasangan?”

Sehun menoleh pada Tao—menanti kelanjutan ucapan pria itu.

“Kita tidak pernah tahu apa yang kita hadapi. Dengan adanya pasangan, kita akan menghadapi semua rintangan hidup bersama – sama. Kita punya tangan lain untuk digenggam, kita punya bahu untuk bersandar,” Tao mendesah pelan, “mungkin sekarang hidup kita masih tidak tertata, kita masih hidup hanya untuk hari ini tanpa ingin repot memikirkan masa depan. Tapi saat kita bertemu orang yang tepat, kita akan berusaha yang terbaik untuk melakukan semuanya bersama – sama.”

“Kau pikir orang macam aku pantas untuk gadis seperti apa?” Tao terkekeh sementara Sehun termenung. “Tapi kalau aku menemukan orang yang tepat, orang itu akan mampu mengubahku menjadi seseorang yang berbeda. Menjadi seseorang yang diinginkannya. Menjadi seseorang yang pantas berada di sisinya. Aku tidak tahu kapan itu terjadi tapi fase itu pasti akan dialami oleh manusia. Itulah yang dinamakan titik balik kehidupan, kau tahu.”

Sehun terdiam—menyerap setiap kata yang meluncur dari bibir temannya. Meski tidak tahu maksud tersirat di balik ucapan Sehun barusan, namun sepertinya Tao berhasil membuka pikirannya. Sedikit.

Sebab dia sedikit goyah sekarang. Namun terlalu keras kepala untuk merenungkan kembali perkataan Tao.

“Ah, kenapa kita jadi bicara sejauh ini?” Sehun tertawa renyah untuk mencairkan suasana namun Tao masih ingin membahas ini.

“Sehun-ah, aku ini bukan temanmu di saat senang saja, kan’?” tembak Tao lirih. Sehun menggeleng cepat.

“Kalau begitu, berbagilah di saat kau juga punya masalah. Jika kau sudah tidak mampu menanggung semuanya sendiri,” sambungnya dengan suara pelan, “kalau kau hanya ingin aku datang untuk bersenang – senang sementara kau punya masalah, itu hanya bersifat sementara. Setidaknya, kau perlu didengarkan. Aku mungkin tidak bisa memberi jalan keluar tapi kalau dengan mendengarkanmu aku bisa membuatmu lebih lega, kenapa tidak?”

Sehun membisu.

“Kau tidak pernah benar – benar menyelesaikan masalahmu. Kau hanya ingin menutupinya. Dan rasa sakit itu semakin ditumpuk akan semakin menyiksa,” Tao menyerang Sehun bertubi – tubi hingga pria itu tak berkutik, “itulah juga gunanya punya pasangan. Kalau ada hal – hal yang tidak nyaman kau bagi padaku, kau bisa berbagi dengannya.”

Sehun memejamkan matanya rapat – rapat. Tao tidak pernah benar – benar mengetahui dirinya karena dia memang tidak bisa memberitahu segalanya. Sehun ingin ada seseorang yang mengerti dirinya, yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah, yang bisa menjadi bahu untuknya menangis saat semua sudah tidak tertahankan.

Tapi ini pilihannya. Dan pilihannya sudah melarang orang lain untuk mengetahui hal – hal mendalam tentangnya. Sekalipun itu pada teman terbaiknya sejak SMA.

“Aku mengantuk.”

Sehun meninggalkan Tao di dapur dan berjalan ke kamar. Sesaat sesudah merapatkan pintu kamar, dia memijat kepalanya yang terasa pening. Lebih baik begini. Lebih baik dia membunuh keinginannya, mematikan perasaannya, melawan setiap hal manusiawi yang menjadi kodratnya.

Dia tidak pernah setengah – setengah melakukan sesuatu. Dia sudah memilih untuk menjalani takdirnya seperti ini, maka dia harus mengikuti setiap konsekuensi dari tindakan yang diambilnya.

Di balik pintu, Tao menghela napas dalam. Sesudah mencuci piring, dia mengembalikan semua benda yang berserakan di lantai ruang tamu ke tempatnya. Walau tidak tahu persis tempatnya, setidaknya kondisi ruang tamu lebih rapi daripada sebelumnya.

Sewaktu menjejalkan buku ke dalam rak, tidak sengaja ujung mata Tao menangkap sesuatu terjatuh. Dia mengambil sesuatu—yang ternyata selembar foto—itu lalu menelisiknya beberapa saat. Tao terenyuh melihatnya.

Di sana ada seorang anak laki – laki berusia balita dan sepasang suami – istri. Ketiganya terlihat bahagia disana dengan sang anak duduk di pangkuan ibunya. Tao tersenyum tipis. Wajah anak itu sama sekali tidak berubah sejak kecil.

Sesudah Sehun bangun nanti, dia harus segera pulang. Yeah, Tao harus memberi Sehun waktu setelah menceramahinya panjang lebar tadi.

~~~

“Kau masih takut?” Yura menguap malas di tempat tidur. Nahyun berbaring di sebelahnya sambil memeluk boneka gajah kecil berwarna kuning.

Lagi, Yura termakan rayuan Nahyun untuk bermalam di flat-nya. Bukan Yura tidak senang tapi—ayolah, Nahyun tidak perlu paranoid begitu.

“Ra.”

“Hm.”

“Apa… tadi dia masuk?” Nahyun bertanya ragu. Dia menggigit bibir bawahnya membayangkan reaksi Yura.

Benar saja, Yura—yang tadinya hampir terbawa ke alam mimpi—sontak membuka mata lalu merubah posisi menjadi duduk dalam gerakan cepat. Matanya memicing pada Nahyun.

“Jangan bilang—”

Nahyun menaikkan sebelah alisnya selagi Yura memberi jeda.

“—kau menyukainya?”

Mendadak oksigen di sekitar Nahyun lenyap. Dia mungkin bisa saja membohongi Chanyeol dan Jonghyun tapi tidak dengan Yura.

Nahyun mengalihkan tatapannya ke arah lain sebelum Yura mendesaknya lebih jauh. “Aku hanya penasaran.”

Yeah, itu baru permulaan. Nantinya kau akan semakin tertarik padanya, mulai memperhatikannya, mencari tahu nomor ponselnya. Memang seperti itu siklusnya.” Yura kembali bersiap untuk tidur dan hendak menutup telinga dari bantahan Nahyun.

“Kau bilang dia jarang masuk, aku hanya bertanya. Lagipula ujian sudah dekat. Seharusnya dia lebih rajin sedikit.” Bahu Nahyun terangkat sambil lalu. Masih dengan boneka gajah di pelukan, Nahyun memejamkan mata.

Yura berbaring menyamping memunggungi Nahyun. Dia berdecih sebelum mendebat pembelaan diri Nahyun.

“Kau peduli padanya?” Yura mengatur emosinya sehingga hanya nada datar yang dapat ditangkap Nahyun. Meski kalau ditelisik ada kesinisan di dalamnya.

Nahyun terdiam beberapa jenak. “Separah itukah aku? Kau kira aku tidak punya perasaan?”

Tubuh Yura membalik pada Nahyun. Gadis bermarga Go itu menerawang jauh menembus langit – langit kamar.

“Bukan begitu, Nahyun-a. Aku hanya—,” Yura mencari kata yang tepat, ”—entahlah aku rasanya agak tidak terima kau memedulikannya. Kau bahkan jarang menunjukkan kepedulianmu padaku, Jonghyun, dan Chanyeol.”

Nahyun menoleh dan menemukan wajah Yura yang ditekuk sekaligus mendung. Nahyun terkekeh. Diletakkannya boneka gajah di dekat bantal lalu tangannya beralih memeluk Yura.

“Aku sangat menyayangimu, Ra. Juga Chanyeol dan Jonghyun. Kalian semua keluargaku.” Nahyun melepas pelukannya setelah dirasanya cukup. Yura masih menunduk—tidak berani menatap Nahyun langsung di matanya.

Namun tiba – tiba sebuah pikiran melintasi benak Yura hingga dia mendongak. Maniknya menatap lurus ke dalam bola mata Nahyun. Aura kecemasan melingkupi keduanya sebelum terlelap malam ini.

“Nahyun-a.” Yura meyakinkan diri untuk mengatakan ini. Sekali lagi, ditatapnya iris Nahyun. Begitu intens hingga Nahyun tidak bisa melirik ke arah lain. “Dia berbahaya. Sungguh. Menjauhlah sekarang sebelum kau tidak bisa menjauh selamanya.”

~~~

Bunyi kelenting timbul akibat gelas kaca yang dibanting Sehun ke meja porselen. Musik berdentam dengan volume bass yang melampaui batas kewajaran, wanita berpakaian minim bertebaran—menari mengikuti irama di depan pria yang butuh hiburan. Para bartender sibuk meracik minuman yang dipesan orang yang berjalan limbung. Sehun tak bergeming di depan minibar. Sedang tidak berminat menari, dia meminta seorang bartender menuangkan segelas lagi untuknya.

Shit! Kenapa sedikit sekali?

“Hei,” Sehun memanggil bartender tadi dengan pandangan mengabur, “kau mengurangi takarannya, ya? Tuangkan lagi!”

Bartender itu mengangguk—sudah terlalu hafal dengan tingkah orang mabuk. Dia menuangkan minuman keemasan hampir penuh ke dalam gelas Sehun dan dihabiskan dalam beberapa teguk oleh Sehun.

Sehun meletakkan gelas tanpa tenaga di dekatnya. Dia tergolong pria yang kuat minum dan saat ini bukan alkohol yang membuatnya terkulai lemas. Ucapan Tao tadi siang berputar – putar memenuhi kepalanya. Saling menubruk, saling menindih, saling bersinggungan.

“Tidakkah kau berpikir suatu saat kau akan bertemu gadis yang tepat?”

“Kau akan jatuh cinta, kau berusaha mendapatkan cintanya hingga kau berhasil menjadikannya milikmu.”

“Kita tidak pernah tahu apa yang kita hadapi. Dengan adanya pasangan, kita akan menghadapi semua rintangan hidup bersama – sama. Kita punya tangan lain untuk digenggam, kita punya bahu untuk bersandar.”

Sehun menyeringai. Apa yang dikatakan Tao adalah hal yang amat lumrah. Meski Tao adalah orang yang paling dekat dengannya sejak SMA, dia tidak mengetahui satu hal yang dirahasiakan Sehun. Satu hal yang tidak boleh diketahui siapapun termasuk Tao.

Jadi dia tidak bisa menyalahkan Tao karena mengatakan hal tersebut. Sebelum mengambil pilihan, Sehun sudah mempertimbangkan segalanya. Bukan Sehun tidak memikirkan hal – hal yang wajar dialami seorang remaja atau dewasa sepertinya, namun Sehun terlalu asyik dengan apa yang dia kerjakan. Dia merasa tidak butuh cinta.

Sebab apa yang dilakukannya sama sekali tidak berjiwa cinta kasih. Pekerjaannya tidak membutuhkan cinta. Pekerjaannya mengikis perasaannya sedikit demi sedikit hingga kekejaman dan kebengisanlah yang tersisa dalam dirinya.

“Sendirian?”

Sehun melirik ke arah suara itu. Di sampingnya seorang wanita sudah duduk dengan kaki menyilang. Heels-nya cukup tinggi, berwarna keperakan. Gaunnya—oh, apa itu masih bisa disebut gaun? Sehun rasa itu hanya underware yang sedikit dimodifikasi sehingga tidak terlalu terlihat seperti seharusnya. Yeah, apapun itu yang dipakainya berwarna toska. Gaya berpakaiannya kampungan, begitu pula dengan dandanannya. Hanya rambutnya yang tergerai menjadikannya sedikit, err… menarik.

Gumaman kecil meluncur dari kedua belah bibir Sehun. Dia mengangkat gelasnya yang sudah kosong ke udara. “Mau minum?”

Wanita itu terkekeh. Dia meraih tangan Sehun lalu menurunkannya kembali ke meja. Sehun dapat melihat jelas bagaimana cat kuku merah terpoles cukup rapi disana.

“Peminum baru,” tawanya ringan. Dia memesan segelas Vodka pada bartender lalu mengganti gelas di tangan Sehun dengan yang baru.

“Jangan asal bicara. Aku masih sadar.” Sehun menenggak Vodka hingga tandas. Dia kemudian melempar beberapa lembar puluhan ribu won dengan asal pada bartender.

Sehun ingin beranjak namun untuk bangkit saja rasanya agak sulit. Tubuhnya mulai limbung, dia berjalan sempoyongan. Ucapan Tao rupanya berimbas besar pada dirinya. Buktinya pikiran Sehun kalut saat ini. Suara Tao berdengung di telinganya, mengulang kalimat – kalimat yang sama sampai dia muak. Dia ingin berteriak namun seseorang sudah membawanya keluar dari kerumunan.

Sehun tidak tahu siapa dan kemana dia dibawa. Dia hanya menangkap suara kunci, pintu yang dibuka, dan harum pewangi ruangan yang lembut. Begitu tenang hingga dia terlarut dalam suasana. Dia bahkan menikmati bibir yang sekarang melekat di bibirnya.

Dia pun semakin tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi ketika wanita itu melepas semua pakaiannya. Decapan dan lenguhan mendominasi ruangan. Sehun merasa wanita itu cukup baik dalam merespon.

Sehun terus melampiaskan seluruh kekesalannya pada wanita itu. Terkadang wanita itu meringis kesakitan namun apa pedulinya. Bukankah untuk itu dia dibayar? Maka terimalah semua perlakuan Sehun padanya.

Ketika keduanya sampai pada titik tertentu, Sehun menghentikan aktivitasnya. Dia turun dari tubuh sang wanita lalu menyandarkan kepala ke bantal. Wanita itu masih terus membelai wajah Sehun.

“Kau mau lagi, hm?” suara cemprengnya sarat godaan. Tubuh sang wanita berada di atas Sehun.

Biasanya Sehun akan terus mengikuti permainan para wanita jalang. Kadang sampai wanita itu sudah terkapar tak berdaya barulah dia mengakhirinya. Biasanya suara cempreng kekanakkan wanita terdengar begitu seksi di telinganya, menggelitik hasratnya.

Namun lagi – lagi suara Tao bergema di kepalanya. Seribu kali lebih memusingkan daripada sebelumnya. Sungguh, dia sudah lama sekali tidak mengangkat topik itu dengan siapapun. Tidak pernah ada yang berani menyentuh hidupnya sejauh itu.

Mungkin Tao berbeda.

Tao adalah tipikal sahabat yang sangat pemerhati. Dia mengamati mengapa dari dulu Sehun tidak punya kekasih, dia hanya sibuk mempermainkan mereka dan meniduri mereka. Tidak lebih dan tidak pernah lebih.

Wajar jika Tao mempertanyakan orientasinya. Sehun sendiri sulit menceritakan pada Tao mengapa dia tidak punya kekasih. Dia mungkin tidak akan pernah jatuh cinta. Tapi Tao pasti akan semakin curiga padanya. Yeah, walau setidaknya dia sudah tahu Sehun normal. Tao akan menuntut penjelasan lebih jauh.

Sehun masih diam dengan pikirannya yang sedang bertarung selagi sang wanita mulai tidak sabar. Dia memilih untuk mendorong tubuhnya sambil menyadarkan Sehun bahwa dia menunggu. Well, tidak apa dia menyukai posisi itu.

Sehun akhirnya mengikuti kemauan wanita itu hingga mereka berada pada titik puncak kedua. Mereka kelelahan dan tertidur.

Pagi menjemput Sehun dengan pancaran hangat mentari. Cukup aneh dia bisa bangun dengan sinar hangat bukan menyengat. Mungkin karena pengaruh ucapan Tao yang sampai detik ini masih bersarang di benaknya.

Sehun memakai seluruh pakaiannya kemudian melempar beberapa puluhan ribu won ke ranjang. Wanita itu membalut tubuhnya dengan selimut sampai sebatas dada. Sehun berbalik untuk memastikan wanita itu belum bangun saat dia benar – benar meninggalkan motel.

~~~

Malam ini Yura protes lantaran seminggu penuh menginap di flat Nahyun. Bukan dia tidak senang namun dia ingin membiasakan Nahyun untuk tidak terlalu khawatir. Sehun sudah tidak pernah masuk kelas mereka lagi jadi tidak ada alasan bagi Nahyun untuk berlebihan.

Nahyun terlalu sibuk mengingat di mana dia pernah bertemu dengan Sehun. Sekitar tiga puluh menit lalu, Jonghyun dan Chanyeol memberitahu tugas pengantar ekonomi—yeah, tumben Chanyeol mengingat tugas—harus dikumpulkan besok dan itu mengejutkan. Nahyun melupakan tugas – tugas yang deadline-nya tinggal beberapa jam lagi karena pria itu.

Dan tugas merangkum itu merepotkan. Dia harus mencari sumber sebanyak lima buku.

Akhirnya Nahyun membeli buku bekas di toko kecil yang letaknya tidak jauh dari SMA-nya. Gulitanya malam menyebabkan pikirannya memanggil memori lama malam itu. Terlalu rumit, lagi – lagi Nahyun tenggelam dalam pikirannya mengenai kejadian aneh itu.

Nahyun bersenandung sepanjang perjalanan—mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua baik – baik saja. Kekuatan pikiran memang hebat. Sugesti itu merasuki dirinya hingga dia bisa sedikit melompat riang karena mendapat keberanian.

Tiba – tiba Nahyun berhenti. Di jalan kecil yang jarang dilalui ini, suara seorang pria mengusik pendengarannya. Dia menyandarkan punggung ke dinding—sedikit mengintip dua orang pria di ujung jalan buntu.

“Kumohon, Tuan. Maaf karena aku tidak menginginkannya. Aku tidak akan seperti itu lagi, aku berjanji.” Seorang pria dengan kemeja lusuh berkata dengan nada ketakutan. Di hadapannya, seorang pria dengan snapback dan masker tidak membalas ucapannya.

Dia mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Sepertinya Nahyun pernah melihat benda serupa di suatu tempat.

Nahyun membekap mulutnya ketika sesuatu yang ternyata pemantik itu menyala. Apinya berwarna keunguan dan memantulkan bayangan sang pria berbaju lusuh. Dia terhenyak beberapa detik hingga suara berat pria di hadapannya membawa kesadarannya kembali.

“Aku hanya menjalankan tugas.”

Boom!

Nahyun tidak percaya. Kejadian ini persis seperti malam itu. Tadinya disana ada dua orang tapi setelah pemantik itu dinyalakan beberapa detik, satu orang menghilang. Menyisakan seorang pria yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker dan snapback.

Nahyun begitu kalut. Kakinya terasa sangat berat namun dia tetap mengupayakannya untuk melangkah. Perlahan, langkahnya semakin cepat. Hingga dia merasa terempas lalu punggungnya menabrak dinding. Nyeri menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Kau sudah terlalu banyak tahu.”

Nahyun tak berkutik. Napasnya kian memburu, degup jantungnya memacu lebih cepat hingga nyaris kehilangan udara. Bola mata merah pria itu menatap lurus mata Nahyun—mengintimidasinya lewat tatapan. Seakan tidak memberi jeda pada diri mereka, begitu mematikan.

Jika malam itu pria itu nyaris menyentuh bibirnya, malam ini dia berhasil menyapukan bibirnya dengan sempurna di bibir Nahyun. Agak memaksa namun ada sensasi aneh dalam diri Nahyun. Seperti tersengat listrik—mengejutkan tapi menyenangkan.

Seharusnya Nahyun mendorongnya sekuat tenaga tapi dia tidak melakukannya. Kakinya lemas dan mungkin jika pria itu mempertahankan posisi mereka lebih lama, Nahyun akan berubah menjadi agar – agar atau seonggok daging tak bertulang. Ciuman mereka begitu menyenangkan hingga Nahyun tidak merasa takut padanya.

Pria itu menarik dirinya kembali—melepaskan pagutannya dari bibir Nahyun—kemudian tersenyum miring. Pria itu telah benar – benar menyadarkan Nahyun bahwa dialah orang yang ditemui Nahyun malam itu. Cara pria itu tersenyum, bola matanya semerah darah, dan bagaimana dia selalu melepas masker—membiarkan Nahyun menemukan ekspresinya—sudah cukup menjadi bukti untuk mengambil kesimpulan.

“Sudah kubilang, itu tidak akan jadi pertemuan kita yang terakhir.” Pria itu menarik satu sudut bibirnya ke atas. Dia memandangi Nahyun yang masih merutuki kebodohannya dalam hati.

Nahyun sudah tahu siapa dia.

Suaranya sangat khas, berat dan dalam. Bentuk punggungnya kokoh, tubuhnya tegap, dan detail wajahnya… sama. Hanya bola mata merahnya saja yang menjadi pembeda.

Nahyun menyebutkan namanya dalam hati ketika pria itu memunggunginya. Berjalan menjauh dan hilang diantara pekat malam.

Tidak salah lagi.

Oh Sehun.

~~~

Nahyun tidak pernah melihat Sehun lagi sejak hari itu. Dia tidak pernah hadir di kelas bisnis internasional atau mata kuliah lain. Mungkin benar yang Yura katakan, dia tidak berubah. Nahyun tidak ingin ambil pusing dengan hal itu.

Yang membuatnya pusing adalah malamnya selalu terasa panjang dan mencekam.

Belakangan ini dia sering mendapat mimpi buruk. Terlalu buruk sampai dia merasa mimpi itu nyata. Dia pernah bermimpi dikejar para pria gempal dan salah seorang dari mereka menarik pergelangannya. Nahyun terbangun dengan keringat dingin dan napas tak teratur. Ketika dia hendak pergi tidur lagi, tak sengaja dia menangkap bekas kemerahan di pergelangannya.

Mungkin dia mencengkeram pergelangan tangannya sendiri. Yeah, sederhananya seperti itu.

Tapi itu hanya satu di antara deretan mimpi buruknya yang terasa nyata. Satu kali dia memimpikan Bibi Geum yang diincar orang kemudian ketika Nahyun nyaris mendobrak pintu flat wanita itu, Bibi Geum membuka pintunya lalu menangis. Dia mengatakan seseorang hampir mencelakainya tadi.

Terlalu banyak kebetulan.

Nahyun menyesap teh hangat di dekat jendela. Gordennya tersibak sedikit, dia memandang jauh menembus langit senja yang kelabu. Mentari bersembunyi di balik awan – awan hitam. Membuat siapapun yang melihatnya merindukan pancarannya yang hangat dan menenangkan, di sisi lain menikmati hawa sejuk yang dibawa air hujan.

Pandangannya turun ke flat Bibi Geum. Sesudah kejadian itu, semuanya jauh lebih tenang. Namun Bibi Geum semakin mengunci rapat rumahnya dari siapapun hingga sebagian orang kian menganggapnya aneh. Nahyun paham, wanita itu pasti ketakutan. Bibi Geum juga mengatakan, kalau Nahyun ingin berkunjung beritahu dulu lewat SMS. Bibi Geum akan semakin jarang membukakan pintu untuk orang asing, menutup dirinya dari dunia luar.

Suara petir menggelegar hebat. Nahyun memutuskan untuk menutup gordennya dan beristirahat dengan tenang. Sesaat setelahnya, sebuah ketukan mendarat di pintunya. Alis Nahyun hampir bertemu di tengah. Dia meletakkan gelasnya di meja makan kemudian berjalan pelan menuju pintu.

Nahyun tak mengerjap sewaktu dia sedikit membuka celah pintu.

Disana Sehun berdiri. Seluruh tubuhnya basah kuyup, wajahnya tidak ditutup dengan topi dan masker serta tangan kanannya memegang lengan kirinya. Ada sobekan kecil di sudut bibirnya dan matanya agak lebam. Sungguh memprihatinkan.

“Hei,” Sehun memanggil dengan suara nyaris berbisik, “boleh aku berteduh sebentar?” Nadanya memelas. Dia sangat kesakitan.

Nahyun bingung harus mendahulukan sisi perempuannya atau logika. Sehun sudah menghilangkan seseorang dua kali di depan matanya. Sehun sudah mengancam Nahyun. Dan Sehun sudah menciumnya dengan agak kasar.

Nahyun langsung membanting pintunya dengan kencang. Dia memejamkan matanya sementara suara petir terus menyambar. Dia mendengar Sehun memanggil namanya—entah darimana pria itu mengetahuinya—tapi dia menutup kedua telinganya rapat – rapat.

“Kau orang jahat!! Pergi!!” Nahyun tidak ingin suaranya dikalahkan oleh suara guntur ataupun hujan lebat. Dia berteriak lantang—seolah Sehun berada di blok terakhir kawasan flat-nya.

Nahyun menjauhi pintu kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengguyur kepalanya dengan air hangat.

Di balik pintu, Sehun terduduk lemas. Punggungnya disandarkan pada daun pintu berwarna putih milik Nahyun. Lengan kirinya mengalami nyeri yang luar biasa ditambah darah di sepanjang lengan kirinya. Beruntung masih ada jaket yang melapisi lengannya. Andai tidak, dia pasti tidak sanggup melihat lengannya sendiri.

Sehun memejamkan matanya rapat – rapat sewaktu suara petir saling bersahutan. Tubuhnya menggigil hebat, lengannya berdenyut tidak karuan, dan bibirnya memucat. Pandangannya mengabur, flat Nahyun seketika berputar – putar memusingkan kepalanya.

Nahyun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut. Aroma segar serta merta memenuhi ruangan. Dengan handuk kecil di tangan, Nahyun menyibakkan sedikit tirai untuk memastikan Sehun sudah pergi.

Tidak. Dia masih disana.

Bahkan sekarang Nahyun mendengarnya terbatuk pelan.

Nahyun menggigit bibir bawahnya. Ragu sekali untuk mengusirnya lagi. Pria itu kenyataannya masih berada disana, bukan pergi setelah Nahyun membentaknya. Tapi mungkin saja itu hanya siasatnya agar Nahyun merasa kasihan.

Berjalan mondar – mandir di depan jendela, Nahyun gundah. Mungkin sebaiknya dia mengatakan baik – baik agar Sehun pergi atau pulang. Sejujurnya ada perasaan takut yang menyelimuti dirinya sedari tadi. Sehun bisa melakukan apa saja, bukan? Mengingat Nahyun sudah dua kali memergokinya sedang menghilangkan orang lain.

Tapi kalau Sehun memang orang jahat, mengapa dia tidak mendobrak pintu Nahyun sejak tadi? Mengapa dia tidak menerobos masuk? Kalau dia memang jahat, tidak peduli seburuk apa kondisinya dia akan tetap melakukan kejahatan, bukan?

Nahyun menarik nafas dalam berulang kali. Dia memantapkan hatinya sesudah menggigiti kuku bermenit – menit. Perlahan, tangan Nahyun terangkat meraih kenop pintu.

Sehun terkejut sewaktu pintu yang menjadi sandarannya dibuka dari dalam. Tubuhnya nyaris terjungkal kalau tidak cukup kuat menahan bobot tubuhnya. Sehun mendongak—mendapati Nahyun berdiri di ambang pintu.

“Masuk.”

TBC

Note:

Hellaw! Sawwwrryyyy for late update kekeke^^

Sorry for any typos huhu aku ga ngecek lagi maaf yaaa kalo ada yang kurang enak dibaca atau gimaneu

Part ini bahaya banget gasih? Wkwk maaf yaa buat yang under 17 boleh diskip kalo mau diskip, dibaca juga gapapa wkekekke soalnya yang review ini juga masih 15 tapi kata dia ini ga ensi sooooo it’s up to yoouuuu XD /sesat/jangan dicontoh

Makasi banyak buat respon hunch ch 1 sampe jadi top post 😀 tbh aku ganyangka bisa masuk top post :”) dan waaaah aku juga ganyangka kalian penasaran sama plotnya walopun disini ratingnya bahaya banget. Di part ini apalagi pfftttt

Aku kaget baca komenan loooccchhhh masa kalian bisa banget nebaknya? Aku ampe geleng2 kepala sendiri saking kagetnya. Mayan banyak yang udah bener bgt nebaknya :”) padahal aku kira ini ga ketebak wkwk

Ohyaaa aku baru tau ada anime yang ceritanya mirip kaya hunch, aku gatau ahaha kalo kalian jadi kebayang sama cerita intinya lebih gampang kan buat dibayangin 😉 ini juga terinspirasi dari banyak fanfic yang aku baca terus juga movie/drama2 yg aku tonton tapi ga semua sama juga 😀

Beteweeehh mungkin chapter depan gabakal sebahaya ini, masih pg-17 tapi ga bold merah yaaa mungkin pg-17 biasa 😀

Interaksi sehun nahyun udah mulai keliatan yaa disini. Dan maksud kalimat terakhir sehun nanti dijelasin di part2 belakang 😀 selamat tebak2an lagi and drop your thought here, please XD

vanillaritrin ❤

P.S. : sehun bukan pesulap toloooong XD

P.S. : soal morgan nama peliharaan bibi geum itu beneran loh, tanteku namain kucingnya morgan masa >.<

Say hello to HZT!

216 responses to “HUNCH [Chapter 2] — by vanillaritrin

  1. Keren…aq sk bgt sma kta2’a si tao.biar hun mkir.aq kepo hun kerja apaan si?ngilangin utang gtu?apa dia debt collector tp pnya kekuatan super?hihi

  2. Aaaaa kakakkkkk suka banget sama ceritanya.. Sehun tuh pembunuh bayaran apa gimana sih? Penasaran sama alat pematik ajaib sehun wkwkw tapi pematiknya bisa matiin orang , coba pemantikanya itu alat yang bisa teleportasi kek kai. Lumayan bisa ke koriya //abaikan//

  3. Omo,sbnrny sehun itu sp sh?bkin penasaran bgt..
    Trus sehun ngpain ya krmh nahyun?modus nh ya?hehe..

  4. sebentar, Sehun itu apaan sih? pembunuh? ngilangin orang pakek pemantik? penemuan luar biasa..
    trus ngapain kerumah Nahyun? mau modus ya.. hehe
    Tao jadi peceramah disini, hahah
    .
    keep writing ya!

  5. Z.Tao sejak kapan kau sebijak itu0_0 ;Dhahaha . Sehun mah emang cocok kalu jadi peran badboy gitu. Dan Nahyun itu keliatan gak peka/gak peduli sekitar tapi sebenarnya punya rasa empati dan Sehun telah berhasil buat Nahyun jadi merhatiinnya. pas bagian akhir itu kenapa Sehun bisa ujul-ujul(?) ada di depan flat-nya Nahyun-maksudnya bisa tahu gitu alamatnya padahalkan baru kenal beberapa kali dan bukan pertemuan yang menyenangkan pula…

  6. Daebak.. ff ny tambah seru ..ah kat” tao aku st7 skli.. biar sehun bs mikir dikitlah bhw ddnia ni tdk akn hs hdp tnp org lain…
    Hihihi alu sk udh ada dikit momen sehun nahyun

  7. Shock… And, (maybe) stress, wkwk
    Sehun punya kembaran kah??
    Aku binggunggggggggggggggg… Sehun itu siapa dan apa?? o_o

  8. aku sampai mikirin sampai sekarang sampai pusing lihat sehun yg ganteng #Plakkk (salah pokus) sehun itu kerjaannya apa dan dia kenapa terus tao ngomong apa #Lalieur….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s