Nerdy Little Liar [1] – Mischance

tumblr_mldtb7nea11s9j8ldo1_500

T’s Present

 

“NERDY LITTLE LIAR”

 

Starring :

Lee Ji Moon – Original Character

Kim Jong In – EXO

Oh Sehun – EXO

Kim Jong Dae – EXO

Also Starring :

TaeYong || Do Kyungsoo || Xi Luhan || Wu Yifan

and many more.

 

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, School Life, AU, etc.

Rating :

17+

Disclaimer :

© OC’s name and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention :

Typo. No SIDER. This story might be contains rant and ‘hot scene’ (PG – 17). One Comment for One Smile.

 

Recommended Song :

David Guetta & Showtek – Bad ft. Vassy

David Guetta – Little Bad Girl ft Taio Cruz, Ludacris

Flo Rida – Club Can’t Handle Me ft. David Guetta

Previously on Nerdy Little Liar : [Prologue] – Night Life & Day Life ||

She might be bitch.

She might be nerdy.

Well, she might be a liar too.

So, prepare yourself when you greets her.

 

======

 

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

Ji Moon masih memfokuskan pandangan pada layar ponselnya. Ia ‘sibuk’ membalas pesan singkat dari TaeYong. Baiklah, seharusnya ia lebih berfokus pada langkahnya atau jika tidak. . .

Bruk!

Seperti yang telah diduga, Ji Moon menabrak seseorang. Dan yang ia tabrak adalah seorang namja –jelas saja ia yang jatuh terduduk di lantai sekolah. But, that’s not the problem is. Masalahnya, yang ia tabrak barusan adalah seorang Kim Jong In.

1st rank on ‘popular boys in Hannyoung High School’.

A best casanova ever.

Totally selfish and pervert person too

And a. . .

Cukup. Terlalu banyak hal yang bisa diungkapkan untuk mendeskripsikan seorang Kim Jong In. Kembali ke diri Ji Moon, ia kini tampak masih tertunduk sambil mengusap kasar bokongnya yang mendarat duluan akibat ‘kecelakaan kecil’ tadi.

“Aw. . . bokongku. . .”

Ia meringgis lalu membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit turun. Sungguh, Ji Moon masih belum sadar akan ‘bahaya’ yang sedang datang padanya. Alright Ji Moon, you are so dead.

Shit! What’s your problem nerd?

Seketika Ji Moon mendongakkan kepalanya –menatap orang yang berdiri di hadapannya. Matanya membelalak kaget saat melihat Jong In. Ia reflek bangkit berdiri dan tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun, ia berlari pergi. Jangan heran dengan sikap Ji Moon. Ini semata-mata hanya karena Ji Moon tidak ingin punya masalah dengan makhluk populer seperti Jong In. Oh come on, nerd seperti Ji Moon harus menghindari hal semacam ini atau para ‘penggemar’ Jong In akan ‘memakan’nya hidup-hidup.

YA! YA! HEI!”

Jong In berteriak pada Ji Moon –berharap yeoja itu akan menghentikan langkahnya. Oh, tapi Ji Moon tidak akan berhenti, suara teriakan Jong In barusan justru membuatnya semakin menambah kecepatan berlarinya. Ia bahkan terlihat sesekali menubruk para murid Hannyoung High School yang lewat disekitarnya. Satu hal yang ia pikirkan sekarang,

‘Fuck! Gosh, wish he get amnesia and forget me.’

Jong In masih menggerutu di depan kedua sahabatnya, Oh Sehun dan Kim Jong Dae –yang juga masuk dalam jajaran ‘popular boys in Hannyong High School’.

“Sudahlah Jong In, lagipula ia tidak sengaja,” ujar Jong Dae.

“Aku tidak perduli. Dia pikir dengan siapa ia berurusan sekarang, huh? Lihat saja, ia akan menyesalinya. You’re dead, nerd.

Oh no, it seems you can’t run away from your problem, Lee Ji Moon.

.

.

.

Seperti biasa, setiap jam istirahat, Ji Moon pasti akan selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan. Tempat duduk paling pinggir dan bersebelahan dengan jendela yang mengarahkan pandangan langsung ke lapangan basket Hannyoung High School ini adalah tempat favoritnya. Kali ini ia sedang membaca buku dengan posisi buku yang ‘berdiri’ di atas meja. Baiklah, bukan. Ia sedang bermain game di ponselnya di balik buku yang sedang baca –pegang.

“Apa membaca buku secara terbalik adalah keahlianmu?”

Ji Moon terlonjak kaget saat suara seseorang terdengar oleh telinganya. Ia lantas melirik ke arah depannya dan seorang Jong Dae –salah satu teman Jong In yang juga populer ini, duduk didepannya. Namja bernama lengkap Kim Jong Dae ini berada di urutan ketiga pada jajaran ‘popular boys in Hannyoung High School’. Sikapnya yang humble, friendly, dan murah senyum ini membuatnya cukup dikenal di kalangan para gadis HHS. Tapi, dibalik itu semua Jong Dae juga seseorang yang pemalu.

Merasa tidak terlalu mendengar ucapan Jong Dae dengan jelas tadi, Ji Moon mengerutkan dahinya. “Mianhe. Tapi, tadi kau bilang apa?”

Jong Dae tertawa pelan sambil menunjuk ke arah buku yang ‘berdiri’ di atas meja dengan tangan Ji Moon memegang sisi kanan-kiri buku itu. Ji Moon semakin membuat alisnya bertautan. Ia tidak mengerti maksud Jong Dae.

“Bukumu terbalik.”

“Huh?”

Ji Moon melirik ke arah sampul bukunya dan ya. . . judul buku itu mengarah ke bawah –terbalik. Lalu, hanya tampang bodoh dan tawa ragu yang keluar dari mulutnya. Ia lantas mengubah posisi buku menjadi ‘seharusnya’ dan buru-buru memasukkan ponselnya ke saku seragamnya. Awkward moment.

“Kau yang menabrak Jong In tadi pagi, bukan?”

Ah, Jong Dae mengingat dirinya. Sial. Baiklah, tidak heran jika Jong Dae bisa mengingatnya, ia adalah satu-satunya yeoja berpenampilan nerd disekolahnya. Mungkin nama ‘Ji Moon’ memang tidak terlalu dikenal di Hannyoung High School tapi saat kata ‘nerd’ yang diucapkan, seluruh murid HHS pasti tau apa yang dimaksud. It’s like a keyword, isn’t it?

“Itu tidak disengaja. Apa dia marah padaku?”

“Tenang saja, ia tidak akan mengganggumu.”

“Kau benar. Mana mungkin Jong In yang begitu tampan dan terkenal, mau berurusan dengan gadis kutu buku dan jelek sepertiku.”

Ugh, jujur saja, Ji Moon ingin muntah saat ia mengatakan ‘tampan’ tadi. Tapi, hei, ia sekarang sedang menjadi seorang ‘Lee Ji Moon’ bukan seorang ‘Red’.

“Jelek? Bagiku kau cantik, Ji Moon-ssi,” ucap Jong Dae sambil membaca name-tag milik Ji Moon.

Tentu saja, Jong Dae memang tidak mengenal Ji Moon. Sudah dibilang kan jika nama ‘Ji Moon’ itu tidak terkenal di HHS.

“Lelucon yang bagus, Jong Dae,” sahut Ji Moon sambil tertawa kecil.

“Itu bukan lelucon. Jujur saja, aku sudah sering melihatmu berada di perpustakaan tapi aku tidak berani menyapamu.”

Jong Dae lalu menundukkan kepalanya. Ia malu. Lihat saja, telinganya memerah. Sangat lucu dimata Ji Moon.

“Hei, apa aku terlihat seperti Sadako hingga kau tidak mau menyapaku? Ah, apa karena kau ‘Jong Dae’ si urutan ketiga ‘popular boys in Hannyoung High School’ makanya kau tidak mau menyapaku?”

Jong Dae sontak menatap ke arah Ji Moon sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Anio.”

Tawa Ji Moon meledak. Jong Dae terlihat lucu baginya. Detik selanjutnya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya tepat saat pikirannya mengatakan jika ia sedang berada di perpustakaan.

“Kau membuatku malu,” lirih Jong Dae sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Sorry. Baiklah aku akan kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi. Bye.”

“Tunggu.”

Jong Dae membuat Ji Moon mengurungkan niatnya untuk berdiri dari posisi duduknya. Baru saja Ji Moon akan mengatakan sesuatu, suara Jong Dae telah terdengar lebih dulu.

“Aku ingin mengantarmu pulang.”

‘Eh?’

‘Apa? Mengantarku pulang?’

Baru pikiran Ji Moon yang merespon ucapan Jong Dae. Sampai akhirnya mulutnya ‘bergerak’ merespon.

“Tidak! Ti –tidak perlu. A –aku dijemput. . . appa. Benar, appa-ku akan menjemputku hari ini.”

Sebuah penolakan terlontar dari mulutnya. Tentu saja, sepulang sekolah Ji Moon jarang langsung menuju rumah. Ia lebih sering ‘pulang’ ke klub atau menemui ‘pelanggan’nya daripada pulang kerumah. Dan hari ini ia akan dijemput oleh ‘pelanggan’nya. Bisa hancur semua rahasia yang disimpan rapi oleh Ji Moon jika saja ia meng’iya’kan tawaran Jong Dae tadi.

“Ah, begitu ya. Baiklah, kalau begitu. . . aku minta nomor ponselmu saja. Bolehkah?”

“Oh, tentu.”

 

======

 

Ah. . . Ah. . . Ahh. . . Seungri –Ahhh. . . faster. . . Ah. . .

Jarum jam yang pendek menunjuk ke angka 8. Ini berarti sejam lagi seorang gadis yang tengah bercinta itu akan bertugas menjadi DJ di Club ELLUI. Ia, Red. ‘Pelanggan’nya hari ini adalah seorang anggota dari boyband naungan YG Entertainment, BigBang. Seungri. Ini bukan pertama kalinya Red bercinta dengan artis seperti Seungri. Ia sudah sering mendapat ‘panggilan’ dari para idola masyarakat Korea ini. Oh ayolah, seorang artis kenamaan seperti Seungri pasti berani membayar mahal dirinya.

Shit! Ah. . . Ah. . . Ah. . . I like your body, Red.”

Seungri mendesah dalam nikmat. Ia sesekali menciumi bibir Red sambil terus menggerakkan ‘bagian bawah’nya dengan cepat.

Yeah. . . Yeah. . . Mmmmnn. . . Fuck me, Seungri! Fuck me harder –Aaahhhh. . .”

Semakin cepat tempo pergerakan yang dibuat Seungri, semakin keras desahan yang keluar dari mulut Red. Tubuh Red bahkan tampak tersentak kuat karena ‘permainan’ Seungri. Seungri bermain liar –seperti biasanya.

Drrrrtt.

Drrrrtt.

Getaran ponsel di atas nakas membuat Red lantas menolehkan kepalanya ke arah nakas. Itu ponselnya. Red lalu memukul lengan Seungri dengan pelan –bermaksud menyuruh Seungri berhenti sesaat. Dan itu berhasil.

Drrrrtt.

Drrrrtt.

Drrrrtt.

Getaran itu seolah memaksa. Ji Moon tampak menunjuk ponselnya dengan dagu. Seungri tampak mendesak kesal lalu melepas ‘kontak’ dan bangkit dari tubuh Red.

“5 menit,” ucap Seungri sambil memasang wajah kesalnya.

Ji Moon tersenyum sekilas lalu merangkak di atas ranjang menuju meja yang berada di samping ranjang tidur itu. Setelah menggapai ponselnya, ia terlihat mengernyit. Ada nomor asing yang tertera di layar ponselnya. Selanjutnya, ia mengangkat panggilan itu.

Yeoboseyo?”

“Ah, hai, Ji Moon. Ini aku, Jong Dae.”

Ji Moon memutar bola matanya dengan malas. Ia baru ingat jika tadi pagi ia baru saja bertukar nomor ponsel dengan  Jong Dae.

“Oh, ada apa, Jong Dae-ssi?”

“Be –begini, aku ke toko buku tadi. Aku tiba-tiba ingat padamu, dan aku membelikan sebuah buku untukmu. Bagaimana jika besok kita bertemu di perpustakaan lagi?”

Damn. Untuk inikah, Jong Dae menelponnya? Dude, ia bahkan membenci buku. Soal membaca di perpustakaan itu hanyalah sebagai pelarian dari pem-bully-an yang akan dilakukan para murid Hannyoung High School jika ia berada di kelas atau kantin.

“Benarkah? Baiklah, besok aku –Ahhhh!

Red mendesah tiba-tiba. Ini karena tangan Seungri yang meremas buah dadanya dari belakang. Seungri bahkan menciumi punggung Red hingga muncul kissmark disana. Red melempar death-glare ke arah Seungri lalu memukul pelan dada bidang Seungri.

“Ji Moon? Are you okay?”

Suara Jong Dae samar-samar terdengar membuat Red teringat jika ia sedang berbicara dengan seseorang ditelepon.

Ne. Mianhe, Jong Dae-ssi aku harus menutup telepon ini duluan. Aku punya tugas sekolah yang harus kuselesaikan. Sampai jumpa besok. Bye.”

Dan Red mengakhiri sambungan telepon. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas kemudian menatap Seungri dengan kesal. Bukannya merasa bersalah, Seungri malah ikut memasang wajah kesal.

“Kau lewat dari waktu yang kuberikan.”

Red hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan Seungri. Detik selanjutnya, Red menarik sudut bibirnya. Ia lalu menatap seduktif ke arah Seungri sambil menggerakkan tangannya ke abs milik Seungri.

“Kau tidak sabaran sekali, oppa.”

Disertai desahan yang sexy, Red mengucapkan kata itu. Tangannya tak hanya bergerak di abs Seungri tapi mulai bergerak menuju ke bawah. Red menyentuh ‘sesuatu’ yang menegang disana.

“Gadis nakal.”

Seungri mendesis pelan lalu mendorong tubuh Red –menindihnya. Red terdengar tertawa kecil sebelum akhirnya tawa itu berganti menjadi desahan dan erangan yang begitu ‘panas’.

.

.

.

You late, Red.”

Suara kesal TaeYong terdengar diantara bunyi dentuman musik dan suara-suara orang yang berbicara.

“Kau bisa salahkan Seungri.”

Kali ini suara kesal dari Red yang terdengar. TaeYong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Cepat ganti kostum-mu sana. Kau tahu, Wu juga kesal padamu.”

Tanpa ingin mengubris ucapan TaeYong lagi, Red langsung berlari menembus ‘lautan’ manusia yang tengah menari di lantai dansa. Ia tengah diburu waktu. Ia harus secepatnya menggantikan posisi DJ Wu di stage DJ atau namja bernama lengkap Wu Yi Fan itu akan ‘mencekik’ lehernya.

Dengan tergesa, Red memasuki toilet dan menuju sebuah bilik toilet yang paling ujung. Ia bahkan lupa mengunci pintu bilik toilet itu. Dengan gerakan yang cukup cepat, Red melucuti seluruh pakaiannya –terkecuali underwear-nya. Ia kemudian membuka ranselnya yang tadi ia letakkan diatas toilet duduk –yang telah terlebih dulu ia tutup dengan penutup toilet duduk itu. Posisi Red kini jadi tampak ‘menunggingi’ pintu toilet.

Kriet.

Bunyi pintu bilik toilet yang dibuka tiba-tiba membuat Red reflek menoleh ke arah belakang. Mata Red membelalak kaget saat melihat sosok namja berdiri dibelakangnya. Dan sialnya, namja itu tampak mengamati bokong Red yang terekspos sempurna –mengingat posisi Red tengah menunggingi pintu bilik toilet tadi.

“Bokong yang indah.”

Ucapan namja itu membuat Red tersadar lalu menegakkan tubuhnya. Tapi, tunggu dulu. Red sepertinya tidak asing dengan suara ini. Bukankah ini. . .

Shit.

Jong In. Dia, Kim Jong In. What the heck.

“Hei! What da fuck ya doing? Apa kau sedang mengintipku?”

Red mencoba pura-pura marah dan tidak menunjukkan ekspresi yang seolah mengenal Jong In. Mari berharap Jong In tidak mengenalinya.

Jong In mendengus. “Pertama, aku tidak mengintip dan yang kedua, its man’s toilet.”

Toilet pria? Oh tentu saja, karena terlalu terburu-buru tadi, Red tidak sadar jika ia salah masuk toilet. Bodoh sekali.

“Kalau begitu aku akan —HEI! Apa yang kau lakukan? Ja –jangan mendekat.”

Tiba-tiba saja Jong In ikut masuk ke dalam bilik toilet. Jong In juga mengunci pintu toilet itu. Perlahan, Jong In mendekat ke arah Red. Reflek, kaki Red melangkah mundur. Tapi, sial, dinding toilet menghentikan langkahnya. Sekarang Red tersudut. Tersudut oleh dinding dan kedua tangan Jong In yang berada di samping kanan dan kirinya.

“Ma –mau apa kau?”

Jong In tampak menyeringai sambil mengamati tubuh half naked Red. Well, Red saat ini hanya mengenakan bra berwarna hitam dan celana dalam yang berwarna senada. Sungguh pemandangan yang ‘indah’.

‘Sial. Seharusnya aku sudah berpakaian lengkap sedari tadi.’

Red menggerutu didalam batinnya. Ia hanya bisa menutupi bagian tubuh atasnya dengan kedua tangannya. Kini wajah Jong In terlihat mendekat ke wajah Red. Jong In tampak memiringkan kepalanya. Spontan, Red menutup kedua matanya dengan erat. Baiklah, ia memang gadis ‘nakal’ tapi bukan berarti ia tidak bisa merasa gugup menghadapi situasi semacam ini, bukan?

“Kau si nerd yang menabrakku disekolah pagi tadi, kan?”

Shit. Bukan ‘sesuatu’ seperti yang pikiran Red bayangkan. Jong In hanya berbisik padanya. Tapi tunggu dulu. . . Jong In bilang apa tadi?

“Huh?”

“Aku bisa mengenali wajah seseorang hanya dalam sekali tatap.”

“Hu –huh?”

“Kau. Nerd. Dan yang mengejutkan, ternyata kau adalah Red, female DJ di ELLUI. Sungguh, mengagetkan.”

What are you talkin’ about, dude?”

Red sungguh tidak mengerti. Otaknya belum bisa mengerti arah pembicaraan Jong In.

“Hanya orang bodoh yang tidak bisa menyimpulkan ini semua.”

What?

Shit. Apa kau mencoba berakting didepanku? Aku tau kalau kau itu adalah ‘si-kutu-buku’ HHS. Dan aku juga tau –bukan, tepatnya baru tau, jika kau adalah Red. DJ di ELLUI.”

Oh, crap. Sekarang Red baru mengerti apa yang terjadi. Jadi intinya, Jong In sudah tahu identitasnya. Yeah. . . Jong In tahu identitasnya. Jong In tahu akan rahasianya. Jong In —APA?!

“Ap –apa? Kau tau si –siapa aku?”

Jong In memutar bola matanya dengan malas. Gadis ini kelewat bodoh, begitu pikirnya.

Hell, whatever. Well, for your information, aku memegang kartu AS-mu. Ingat itu, nerd.”

Jong In kemudian keluar dari bilik toilet, meninggalkan Red yang masih dengan tatapan kosong-nya. Semuanya terjadi begitu cepat. Seingatnya tadi ia sedang berpura-pura menyembunyikan identitas-nya tapi Jong In malah. . . Jong In, dia. . . Jong In. . .

MOTHERFUCKER! SHIT! FUCK! Arrrghh!

Seketika Red mengerang frustasi. Jong In sudah mengetahui rahasianya. Tidak, rahasianya tidak boleh terbongkar. Tidak boleh. Dengan gerakan yang dipercepat, Red mengambil pakaiannya di dalam ransel dan memakai-nya. Tanpa pikir panjang lagi, Red segera berlari keluar dari toilet. Ia kemudian mengedarkan pandangannya –mencari sosok Jong In. Ia berlari ke segala sudut ELLUI. Red harus menemukan Jong In. Harus.

Plak!

Sebuah pukulan ringan mendarat di kepala bagian belakangnya. Ia lantas memalingkan tubuhnya ke arah belakang. Sial, itu TaeYong.

Ya! Apa yang kau lakukan, donkey?”

“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau belum berada di stage DJ, huh?”

Astaga. Red lupa akan tugasnya. Oh, ini hari tersial dalam hidupnya. Kenapa rasanya semua hal buruk datang padanya berturut-turut sejak tadi pagi. Dan yang paling parah adalah malam ini.

Oh no, TaeYong! I’m so dead! Salah satu teman sekolah-ku mengetahui identitasku.”

Red akhirnya tak bisa lagi membendung rasa paniknya. Ia benar-benar frustasi sekarang. Pikirannya kalut.

Bagaimana jika Jong In yang populer itu memberi tahu rahasia-ku pada seluruh murid?

Pertanyaan itu terus menghantui pikiran Red. Ingin sekali rasanya ia menenggelamkan kepalanya di kloset toilet tadi. Tapi untung saja, otaknya masih bisa dipergunakan.

So, what will you do now? What will you do to make him ‘shut-his-mouth-up’?

Pertanyaan TaeYong membuyarkan lamunan Red. Red lantas melirik ke arah TaeYong lalu menggeleng lemah.

Oh, gosh,” desis TaeYong.

YOU! BITCH! I’LL KILL YOU, Red!”

Tiba-tiba saja suara sesorang yang memekik di antara kerumunan orang terdengar. Beberapa orang yang tengah menari tampak menghentikan aktifitas mereka lalu menatap ke arah orang yang berteriak itu.

Mata Red seketika membulat saat melihat seseorang dengan raut wajah yang terlihat kesal menghampirinya. Oh no, itu Wu. DJ Wu. Kesialan berikutnya.

“Wu oppa, aku—“

Damn you! Apa kau menyuruhku lembur hari ini, huh? Kenapa kau tidak bertugas hari ini? Kau tahu, aku sudah 5 jam berdiri di stage DJ sana!”

TaeYong tampak menahan tawanya. Red tampak tersenyum kaku ke arah Wu. Sedangkan Wu, jangan tanyakan lagi. Ia berada di level teratas kemarahannya.

I’m sorry, Wu oppa.”

Hanya itu yang mampu diucapkan Red. Goddammit. Bagaimana mungkin? Kenapa semua orang –khususnya namja,  yang Red temui hari ini semuanya membawa bencana untuknya? Aneh.

======

Pagi ini Ji Moon sedang murung di kelasnya. Penyebabnya tak lain adalah kejadian semalam. Ia frustasi. Sangat frustasi. Bahkan semalam akhirnya ia malah memilih pulang ke rumah dan tidak bertugas menjadi DJ.

“Kau sial. Sungguh sial.”

Ji Moon berbisik pada dirinya sendiri. Ia lalu menelungkupkan kepalanya diatas meja. Sesekali ia juga menghentukkan kepalanya dengan pelan dimeja. Ia juga tidak perduli meski beberapa teman sekelasnya menatapnya heran atau mengejek dirinya.

“Dimana nerd itu?”

Dari arah depan kelas, terdengar suara seseorang yang lantas menimbulkan pekikan histeris dari para yeoja. Ji Moon merasa dirinya ‘terpanggil’ lalu mengangkat sedikit kepala-nya.

“Disana kau rupanya. Ikut aku.”

Itu Jong In. Pantas saja seketika kelas Ji Moon menjadi penuh dengan pekikan histeris para yeoja. Ji Moon sudah pasrah, ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan Jong In lakukan padanya. Percuma saja mengelak atau berbohong, Jong In sudah menangkap basah dirinya. Seolah patuh, kaki Ji Moon melangkah menuju Jong In. Sialnya, setiap langkah Ji Moon selalu diselingi dengan bisikan –yang sungguh bisa terdengar dengan jelas di telinga Ji Moon.

“Sial. Kenapa Jong In mencarinya?”

“Awas saja jika ia berani menyentuh Jong In kita.”

“Dasar jelek. Nerd. Dia pasti merasa senang sekarang.”

Dan beberapa tatapan tajam seolah ingin membunuh juga mengiringi langkahnya menuju Jong In. Tepat saat ia berada di depan Jong In, Ji Moon menghela napasnya dengan berat. Baru saja bibir Ji Moon akan bergerak untuk mengucapkan sesuatu, Jong In telah berucap lebih dulu.

“Ikut aku atau kartu AS-mu akan kubuka sekarang.”

Deg.

Ji Moon hanya berani mengangguk pelan. Jong In tampak menyeringai sesaat sebelum menarik paksa tangan Ji Moon. Para teman sekelas Ji Moon –terlebih para yeoja, tampak membelalakan matanya. Tak percaya atas yang mereka lihat. Ji Moon, masalah-mu bertambah lagi.

.

.

.

“Aku akan melakukan apa saja asal kau tidak membocorkan identitasku pada siapapun.”

Mereka –Jong In dan Ji Moon, telah berada di atap sekolah. Ji Moon benar-benar menyerahkan seluruh ‘keselamatan hidup’nya di sekolah pada Jong In.

Are you sure? Anything?

Ji Moon menganggukan kepalanya.

Be my slave ‘till I bored with you.

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

[To Be Continued]

 


Next on Nerdy Little Liar :

“Tugas pertamamu. Kiss me.”

“I’m not helping you. I just hates when they do bullying.”

“Hai. Kita bertemu lagi.”

“Show me your body, nerd.”

“Wanna fuck with me?”

“Geez. Liar.”


A/N : Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii *error*. Mbah iklan lewat bentar : www.welcomeintkingdom.wordpress.com . Saya ingin menyampaikan rasa terharu saya atas respon yang diberikan. Saya sampe nangis paku semen pasir kerikil lohhhh. Makasih banyakkkkkkkkkkkkkkkk yaaaaaaaaaaa. Speechless abis.

Mau nanya dong. Dijawab ya?

Chap 1-nya gimana? Jelek ya?

Membosankan?

Kepanjangan gak?

Kurang hot ya?

Nah, kalo sempet harap dijawab yaaa. Kalo sempet loh. Kalo gak ya jangan dipaksain ntar kamunya sakit lagi *apaini*. Oke itu aja. Komen sama like sama pacar harap dibagi ya *tolongygdigarisituabaikan*.

Sekian.

Terima kekasih.

T’s ♥

 

321 responses to “Nerdy Little Liar [1] – Mischance

  1. Oomoo, seru konfliknya deh, bgus chap 1 kok kak, pas, gk kependekan gk kepanjangan, keep fighting ya… 😃

  2. Baru first chapter tapi jongin udah langsung tau kalo ji moon itu si red..
    Kesian ji moon pasti jongin bakalan minta yg aneh” kkkk~

  3. Oh God !
    Ini benar2 mengguras ?/ segalanya 😮 hahaha

    chap 1 ? Kurang panjang ? Ya, kurang hot ? Yaa juga hahahaha

    pada intinya dari prolog aja dah menarik apalagi sterusnya 😉 ckckck
    Fighting k ‘T’ 😮 🙂 😀

  4. gimana terus an nya hidupnya ji moon kalo jadi slave nya jongin.. baru episode 1 udah terbongkar… tapi daebakk ffnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s